Sabtu, 06 Desember 2008

my dear dad.... beloving dad (by kana riwu kaho, Australia)

Dear sahabat blogger,




Selamat jalan bapa!

Sampaikan salam paling manis buat


Tuhan Allah


di ujung matahari

sana...



12 komentar:

Anonim mengatakan...

kaka @bm, trims su pasang foto.

saat beta edit ini foto, yg ada di kapala kaka @bm. jadi sebenarnya ini buat kaka.

bagitu sa kaka.

Bigmike mengatakan...

hooiii kana,

Ini foto sebenarnya bapa sendiri su buang-buang.....baitua sendiri kurang suka...tapi beta yang ngotot simpan. Waktu pilih foto untuk taro di dekat peti, baitua King kurang sreg dengan foto ini. Keliatan begis katanya he he he he... tapi beta yang agak ngotot...di foto ini "aura Guru" dari bapatua kuat sekali...beta sendiri sekarang malah sonde punya negatifnya. Ada satu gagasan dari beta tapi bt nlom brani bilang. nanti sa....

Salam buta angela dan bura "bryan". Shalom

Anonim mengatakan...

kaka @bm,

lia sa, "sang cahaya" abadi itu sedang menunggu bapa, tapi bapa pingin nengok ke belakang buat "inspeksi" mama, katong anak-anak, dan semua keluarga yg masih disini.

bae kaka, salam hangat juga buat susi dan 'kode kapar' dong diruma.

Anonim mengatakan...

Inilah Drs. Robert Riwu Kaho, mantan Kakanwil PK pada tahun 1990-an, yang keras tapi amat cemerlang. Ketika itu, saya adalah pelajar SMA di Atambua yang harus belajar keras sejak kelas 1 karena oleh guru-guru selalu diingatkan bahwa Pak Robert akan keras dalam ujian akhir. Puji Tuhan saya lulus 1 kali ujian ketika ada sekolah yang kelulusan 0%. Tanpa perlu tusuk hidung dari pusat peringkat pendidikan NTT naik mencapai, kalau tidak salah peringkat 7 nasional. Kami yang mendengarnya amat bangga.

Sayang sekali, program pak Robert tidak diikuti oleh penerusnya. Semakin parah di masa otda ketika pendidikan menjadi urusan daerah. Lantas, pendidikan NTT menjadi semacam urusan lawakan ketika mantan gubernur PAT menempatkan "badut-badut" untuk mengurus pendidikan di NTT. Tahun lalu, peringkat pendidikan NTT ada pada urutan k3 34 nasional.

Saya yakin pak Robert meninggalkan duna pendidikan NTT dengan hati sedih. Mudah-mudahan beliau tidak menangis dari surga melihat pendidikan NTT yang sudah kacau-balau sekarang ini.

Saya, dan kami semua, kehilangan sosok pendidik yang hebat ini. Tidak berlebihan jika saya mengusulkan Pak Robert ditetapkan sebaga pahlawan pendidikan NTT. Nama beliau pantas diabadikan di salah satu monumen pendidikan di NTT. Mungkin lapangan Robert riwu Kaho atau gedung Robert Riwu Kaho atau apa saalah.

Bigmike, saya kagum sama pak Robert. Sekarang saya mulai kagum sama anda.

Saudara Kana, terima kasih atas fotonya. Saya copy dan paste untuk disimpan dalam file saya (Julius, CN)

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Saya bangga terhadap Opa Robert almarhum. Di jamannya pendidikan NTT diperhitungkan di tingkat nasional. Kapan NTT punya tokoh seperti opa Robert lagi. Bagaimana dengan pak Mike sendiri? (Sony)

poempuisi mengatakan...

Apakah Kana adalah NK?

Mas Kana, saya memposting sebuah puisi klasik dari khazanah puisi khalil gibran. Judulnya, Ibu. Nggak nyana di blog BM di psot gkiriman dari anda tengang ayahanda mas Kana Almrahum. Wuiiihhhh..kebetulan yang menyenangkan.

Saya menegutipkan sebagian lriknya yang indah:

"Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa"

Sekarang cobalah mas Kana menggantikan kata "ibu" dengan kata "ayah". Percayalah spirit cinta yang merangkum semua (gw ngutip BM), akan snagat terasa.

BTW, foto yang bagus

Anonim mengatakan...

@ Kana dan Bigmike,

Foto yang menarik. Pak RObert terlihat smart, visioner dan pekerja keras. Dan faktanya, beliau memang seperti itu. Saya setuu dengan rekan Julisu bahwa NTT kehilangan figur pendidik yang setia seperti beliau. Saya juga setuju bahwa perlu ada monumen atau yang sejenisnya agar spirit perjuangan Pak Robert dapat dijadikan contoh (Eman)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Dahulu saya punya buku kecil cetakan berwarna biru tua yang ditulis PaK Robert. Buku yang sangat bagus. Sayang, ketika saya "merantau" buku itu hilang.

Kalau tidak salah judulnya tri bajik ekacita. Apakah bigmike masih punya buku itu? Jika ada tolong beri sedikit ulasan untuk berbagi dengan kami (Eman)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Wuuueeeccchhhh...ternyata ayahanda bigmike jauhlebih mbagusi kebanding BM ...soale BM kebanyakan mabookkk....wakakakakekekek.....oleeeee...oleeee mabok....eh, MU menang biar kate cuman 1-0 dan maen nggak bagus-bagus amat.....hallaaaaahhhh....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

inter milan masih unggul 1-0 tapi maennya jelek....dasar hoki....wakakakekekek...oleeeeee....oleeee....hoki.....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

ha ha ha proxy73 juga njelex komentarnyeee, h he he apa hubungannya mannn......??? wecckec#cv kecekek yah mas??

dtn=

Anonim mengatakan...

buku kecil biru itu terlihat kecil, usang dan tak berarti di mata para orang2 seprti yang dikatakan bung julius, tapi bagaikan setetes embun yang kecil dan tak terlihat namun menutup rasa dahaga bagi yang mencari perubahan dan perbaikan diri. bukan sekedar untuk dunia Pendidikan semata, tetapi untuk semua. sebuah karya yang sangat berdasarkan pengalaman dan fakta yang beliau temui untuk mencari perbaikan dunianya, dunia Pendidikan. lugas, apa adanya, keras dan tanpa basa-basi menjadi sebagian besar isinya. TELAK MAN...
saya SETUJU kalau BM segera memuat suatu telaah tentang buku ini... (INGAT KATA-KATA JANJI bm KEPADA ALMARHUM DAN KITA SEMUA YANG ADA WAKTU ITU UNTUK bm MELANJUTKAN KARYA2 EMAS SANG GURU TUA.)
SETUJU SEMUAAAAAA..?????

dtn=