Sabtu, 31 Mei 2008

Bigmike yang terhormat: .....Boleh saya menulis di sini?. Nggak minta bayaran kok. Gratis. Boleh yaaa.....

Ke Kiri? ’Nggak Ah, Serem.
Ke Kanan
? Ogah Ah
, ...atttuuuuttttt....
Jadi
? (ppssstttt....tidur ajaaahhh yuuuukkkk....)

Sahabat blogger yang terhormat,

Saya senang. Amat senang karena hari ini, untuk pertama kali, hadir sudah seorang penulis tamu. Sesuatu yang sudah lama saya rindukan karena, pertama-tama, blog ini pada dasarnya adalah milik kita juga. Saya hanyalah salah seorang pemegang saham. Dan Anda, para sahabat sekalian, adalah pemilik saham yang lainnya. Kedua, saya paham betul bahwa antara ide dan mengekspresikan ide adalah 2 hal yang berbeda kendati keduanya berhubungan erat. Soal ide, jangan anda kuatir. Saya punya banyak. Segudang. Tetapi untuk mengubah ide tersebut menjadi tulisan yang dapat dibaca orang lain maka harus ada prasyarat lain seperti waktu, kondisi kesehatan, kesibukan dan seterusnya-dan seterusnya. Nah, perkara-perkara itulah yang terkadang membatasi saya untuk bisa secara lancar mem-posting artikel ke dalam blog kesayangan kita bersama ini. Oleh karena itu, saya menyambut dengan gembira dan tangan terbuka kehadiran penulis-penulis tamu untuk menghiasi lembar blog bigmike-savannaland. Hari ini, harapan lama itu terwujud sudah.


Siapa penulis tamu kali ini? Dia bukan orang lain. Sahabat anda juga. Dia merupakan salah satu pengunjung paling setia Cafe Permenungan kita ini. Anda bisa menemukan dia hampir di setiap posting saya. Khususnya pada kolom komentar. Ah, anda tidak salah kalau menduga dia adalah salah satu di antara Wilmana atau NK (nyong kupang). Tetapi itu baru 50% benar. Anda baru benar 100% jika menebak NK sebagai penulisnya. Sayangnya, yang bersangkutan tidak ingin namanya disebut secara lugas. Katanya: biarkan saya dikenal sebagaimana apa adanya. OK Broer. But, let’s I say it: NK sekarang bermukim di Brisbane, Australia setelah baru saja melanglang buana ke Amerika Serikat hampir 3 tahun lamanya. Perjumpaannya dengan budaya Barat adalah perjumpaan yang intensif. Dia memang tinggal tidak di Indonesia setamatnya dari SMA 1 Kupang. Lalu, mari kita simak baik-baik apa yang mau dikatakan oleh NK kali ini. INI DIA


Ini akhir pekan, tidak ada kegiatan yang berarti. Untuk itu, saya ingin meluangkan waktu di sini menulis tentang beberapa pokok pikiran yang saya harapkan bisa didiskusikan, bahkan perdebatkan. Dalam pokok pikiran saya ini saya hendak mengkaitkan 2 hal sekaligus, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan moralitas 'kiri-kanan' dengan perubahan 'lahan persemaian' yang dapat menjadi tempat bertumbuhnya nilai-nilai baru positif. Pokok pikiran ini sangat revelan dengan tema wacana hidup berkebangsaan di blog ini.

Karena saya tidak paham artian terminologi kiri-kanan dalam konteks ke-Indonesiaan, maka saya memakai model Amerika sebagai sample yang mana dari-padanya saya berharap kita bisa belajar.
Begini.

'Lahan persemaian' Amerika memiliki 2 unsur moralitas, moralitas kiri dan kanan. Kiri kita sebut liberal sedangkan kanan, konservatif. Konservatisme ala Amerika berbeda dengan konservatisme di Inggris. Seperti yg saya sampaikan dalam komentar sebelumnya, konservatisme Inggris adalah paham yg berkiblat pada nilai-nilai lama, yaitu tahta dan altar, monarki dan gereja.
Konservatisme Amerika pada dasarnya merupakan bentuk revolusi dari konservatisme ala Inggris. Imigran Inggris di tanah yang baru -New England- muak dengan nilai-nilai lama mereka dan merindukan kebebasan.

Tradisi moralitas kiri-kanan Amerika dari mulanya sangat kuat dan gaungnya hingga sekarang masih terdengar. Saat ini rakyat Amerika sedang bersiap-siap memasuki masa kampanye pemilihan Presiden yang baru.
Dus, perdebatan sengit 2 moralitas ini, kiri dan kanan, begitu terasa. Partai Republik berbasis nilai-nilai kanan, konservatif, sedang bertarung melawan Partai Demokrat yang berbasis nilai-nilai kiri, liberal.

Dalam sejarahnya, moralitas kanan adalah yang paling tua. Nilai-nilai kanan/konservatif yang menekankan pada security negara dari ancaman dalam maupun luar negeri pada gilirannya 'melahirkan' paham kiri/liberal yg memberi penakanan sangat kuat pada kebebasan individu. Yang kiri berkata kepada yg kanan, 'elu boleh-boleh aja mengawasi setiap warga negara tetapi tidak boleh menganggu kebebasan individu kami.' Luar biasa! Inilah nilai-nilai klasik konservatisme dan liberalisme ala Amerika. Dan dari sini kita bisa tahu bahwa kiri dan kanan tidak berarti pertarungan antara si 'jahat' dan si 'baik' seperti yang saya tangkap dalam konteks kiri-kanan ke-Indonesiaan. Yang kanan katanya konservatif -saya tidak tahu nilai-nilainya- sedang yg kiri revolutif cenderung tanpa arah.

Dalam kaitannya dengan 'lahan persemaian,' lahan Amerika jelas unggul karena dari jaman ke jaman, perbaikan negara berdasar pada debat 2 moralitas ini. Rakyat Amerika diberi kebebasan memilih salah satu -atas dasar keunggulan- dari 2 moralitas ini. Mengatur hidup orang banyak, maka perdebatan kita tidak bisa tidak adalah perdebatan moralitas. Bagaimana dengan 'lahan' ke-Indonesiaan? Apakah kami beri 'pupuk' moralitas atau pupuk keculasan seperti yang disampaikan salah satu sahabat blogger disini? Jawabnya adalah dari 'buah-buahnya' kami tahu bahwa bukan pupuk moralitas melainkan pupuk culas, dengki, angkuh dll.....dlsb.......

Pertanyaan amat penting, bagaimana menyiapkan lahan persemaian yang bermoral sehingga benih-benih Indonesia Baru yg dicita-citakan itu bertumbuh? Dalam sistem demokrasi, kami, rakyatlah, yang berkuasa. Rakyat harus mulai menuntut debat-debat publik menjadi debat moral bukan debat kosong. Kebijakan publik haruslah berdasar pada moralitas yg jelas. Moralitas apa dan yang bagaimana? Karena tidak jelas apakah ada moralitas kiri-kanan ala Amerika, maka mungkin moralitasnya adalah, misalkan saja, Islam dan Nasionalisme. Apapun, sebuah kebejakan publik HARUS dipertanggungjawabkan, bermoral demi kepentingan rakyat atau tidak bermoral.

Terakhir, mari kita lihat salah satu debat moral yg paling sengit dalam debat publik Amerika. Silahkan nanti sdr/sdri menilainya sendiri. Ini juga bisa menjadi semacam tes, apakah sdr/sdri berada di paham kiri atau kanan. Salah satu debat yg paling sengit di Amerika adalah soal pajak. Buat orang-orang berpaham kanan, pajak haruslah kecil. Dengan pajak yang kecil, bisnis akan tumbuh pesat karena ada banyak tabungan yang dapat dipakai untuk memperlebar usaha yang gilirannya akan memberi lapangan kerja luas bagi rakyat. Bagi orang-orang kiri, pajak harus tinggi karena dalam negara harus menanggung beban derita org-org miskin dan orang-orang yang kurang beruntung lainnya. Analoginya begini.

Skenario 1: Bayangkan anda sedang berjalan sambil makan pisang goreng. Lalu datanglah seorang pengemis dan meminta pisang goreng anda. Anda beri dengan sukarela.
Skenario ke-2: Datanglah si pengemis itu dan memaksa anda untuk memberi pisang goreng anda. Dengan terpaksa anda berikan juga pisang goreng anda.

Dari dua skenario ini, jelas anda memberi pisang goreng anda kepada si pengemis, tetapi menurut anda, manakah yg sebut kebaikan (virtue) itu? Bagi orang konservatif, kebaikan (virtue) yg dipaksa adalah bukan kebaikan namanya. Demikian juga dengan hal pajak. Kalau penghasilan seseorang dipajak tinggi oleh negara, maka org tersebut, hakekatnya, dipaksa untuk berbagi, dus kebijakan pajak tinggi oleh orang kiri dianggap tidak bermoral oleh orang kanan.
Apa moralitas anda ???

Tarakhir... nasionalisme 'right or wrong my country' ala 'anak NKRI' masuk ke dalam moralitas kanan walau ia adalah bagian ektrim dari paham kanan itu.

Selamat berdebat.

-nyong kupang-

Brisbane, Sabtu, 31 Mei, 2008


Keterangan:

Artikel ini telah melewati proses editing untuk perbaikan tanda baca, kelangkapan kata dan kesalahan pengetikan. Tidak ada pengubahan substansi apapun-Bigmike. Judul tulisan dan insert gambar dilakukan oleh Bigmike. Sumber gambar: google search

atuuuttt = takut

Jumat, 30 Mei 2008

Ini Urusan Pribadi....Jangan Campur....Makan Nasi Campur, Nasi Campur Dongkol......Pake Bensin Campur, Bensin Campur Dorong .....apa hubungannya???

Tak pasti apakah 29 atau 30 tetapi saya yakin adalah 5 dan 39
Bingung?
Begini:
Saya tidak pasti apakah tanggal 29 atau 30 tetapi yang pasti
pada bulan 5 tahun 2008 ini salah seorang adik laki-laki saya,
namanya memang Laki,
Bertemu dengan Ulang Tahunnya yang ke- 39...
So, tidak ada pilihan lain selain ini:

Tetapi ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya
Tahun ini tidak ada lagi ucapan Selamat Ulang Tahun dari
Sang Guru Tua
Karena sekarang dia sudah Damai Bersama YESUS di Surga
dan dari ketinggian itu, dia tersenyum melihat Laki telah menjadi laki-laki
yang lebih baik

makin baik
dari waktu ke waktu

dari

Mama Agustin Sabartinah, Bigmike dan Keluarga, Yonakal...eeehhh sorry....Yonathan dan keluarga
KUPANG

Kamis, 29 Mei 2008

Internasional.....Inter Milan.....eeehhh........INTERUPSI BOssZZZ........

@d@ Y@ng H@ru$ DiJel@$k@n

Tak disangka, tak dinyana. Para pengunjung Cafe Permenungan saya ternyata permintaannya banyak, macam-macam dan bikin repot. Dihidangkan teh manis, minta di tambah gula. Sudah gulanya ditambah, ehhhh....minta ditambah susu krim. Busyeeetttt deeechhh...baru saja dihidangkan teh manis pake susu sekarang mereka pada minta dicampur kopi lagi. Tidak tanggung-tanggung, kopinya haruslah kopi Alaska (eeehhh, di Alaska ada kebun kopi nggak yaaa????). Wuuuuuaaaaahhhh.....dan yang bikin gondok...selesai minum, itu tamu-tamu pada ngeloyor pergi zondern mau bayar.... Begitu ditagih...ramai ramai mengatup 2 tangan rapat-rapat lalu diacungkan ke depan wajahnya. Bangkit dari duduk, lantas kaki melangkah perlahan berputar-putar sambil mulutnya komat-kamit mengujarkan mantra........sedang merenung.....sedang merenung......sedang.........merenung.....sedang merenung kok ditagih biaya......sedang merenung....sedang merenung.......ha ha ha ha....

Tapi tak apalah, inilah gambaran sahabat blogger saya. Menjengkelkan tetapi tanpa mereka Cafe saya akan bangk
rut. Pasti bangkrut. Karena sesungguhnya komentar-komentar mereka itulah yang merupakan bayaran atas penatalayanan yang saya kerjakan dalam Cafe saya ini. Tak apalah. Tak apalah. Sabar. Sabar. Sabar. Tagal perkara permintaan yang macam-macam itu maka terpaksa saya harus memposting beberapa penjelasan yang perlu agar supaya sahabat blogger menjadi jelas tentang preposisi saya dalam menulis. Terutama pada topik posting terakhir: Indonesia Negara Gagal. Besar harapan saya, terlepas dari setuju tidaknya sahabat-sahabat atas penjelasan saya, sudilah kiranya pakuda ...eehh keliru ding...paduka tuan sahabat sekalian tidak lagi mempersalahkan saya ketika "bertengkar".

Pasca posting terakhir (Negara Gagal) saya menuai badai kecaman. Dikatakan bahwa saya tidak memberikan sesuatu yang baru. Saya setuju, tetapi harap dimaafkan karena bagi saya istilah negara gagal (failed state) adalah topik hangat di kalangan pemerhati politik se Nusantara. Sayapun terhisab dalam pusaran wacana yang sama dan kagetlah saya ketika di suatu kala saya ditanyakan tentang apa itu negara gagal. Dalam keadaan gelagapan, ketika itu, saya berusaha menjawab sekenanya. Ngalor ngidul tak keruan. Si penanya terlihat men
ganggukkan kepala, entah mengerti entah heran sambil berpikir: .....heiii...si bigmike sedang teeeepuuuutttaaarrrr...(kosakata Melayu Kupang untuk menyatakan berbohong). Sayapun merasa ketidakpercayaan di mata orang itu dan cepat-cepat saya memindahkan topik pembicaraan mengenai isu kebakaran hutan dan lahan kritis di NTT yang sangat tinggi. Nah, kalau menyangkut topik yang satu ini maka percakapan selama sehari semalampun akan saya lakoni. Anda silakan bercakap-cakap, saya tidur ngorok sebagai musik pengiring percakapan....ha ha ha....

Ya, sudahlah: karena negara gagal adalah isu baru bagi saya maka saya memaksakan diri juga untuk mempelajarinya. Dan momentum untuk menulis, sekaligus pamer pengetahuan baru itupun datang. Ya, ketika peringatan 1 abad Kebangkitan Nasional dan Hari Jadi Pancasila. Pasca posting tulisan tersebut saya mendapat masalah baru lagi. Saya diduga telah membuat ukuran-ukuran sendiri tentang negara gagal lalu mendiskreditkan Indonesia dengan menyebutkannya sebagai Indonesia yang gagal. Jika disingkat menjadi Indonesial. Agar supaya saya terhindarkan dari kesalahapahaman maka ijinkan saya untuk menjelaskan bahwa pengkategorian Indonesia sebagai negara gagal bukan dilakukan oleh saya. Saya cuma mengutip....sekali lagi....cuma mengutip....hasil survei yang dilakukan oleh majalah Amerika Serikat, Foreign Policy, tentang peringkat negara-negera di dunia berdasarkan keberhasilan dan atau kegagalan mereka.

Mengapa saya tertarik mengutip publikasi ini? Begini: agak berbeda dari kebiasaan para politisi praktis yang sering membuat pernyataan asbun tanpa ukuran yang jelas, dalam survai ini saya menemukan adan
ya ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif. Sesuatu yang sudah menjadi habit saya sebagai ilmuwan kelompok bidang ilmu eksakta. Apa ukuran-ukuran dan bagaimana cara mengukurnya, kita sebut saja sebagai metode survei, disampaikan secara jelas. Nah, saya coba menguraikan langkah-langkah dalam metode yang dilakukan sampai dihasilkannya kesimpulan Indenesia sebagai negara gagal.


1. Penentuan indikator-indikator penilaian berdasarkan gagasan tentang teori tata kelola bernegara. Hasilnya adalah tersusunnya 12 kriteria indikator tingkat kegagalan suatu negara. Berikut adalah terjemahan bebas dari indikator-indikator tersebut:

I. Social indicators

1.Tekanan masalah demografi

2.masalah pengungsi;

3.Konfliks sosial/SARA;

4.Arus orang yang mencari suaka keluar;

II.Economic indicators

5.Ketimpanangan;

6.Tajam tidaknya penurunan ekonomi;

III.Political indicators

7.Kriminalitas dan ketidakmampuan negara mengontrol rakyatnya;

8.Kemerosotan pelayanan publik;

9.Penegakan hukum atas pelanggaran atau kejahatan terhadap hak azasi manusia;

10.Kesewenangan aparat militer dan lembaga-lembaga non-sipil;

11.Meningkatnya perpecahan elit;

12.Intervensi pihak luar dalam urusan dalam negeri.

2. Mengumpulkan data dari 12 variabel di atas yang bersumber dari sumber0sumber resmi milsanya dari badan statistik nasional dan sumber resmi lainnya;

3. Memberikan skor terhadap setiap variabel dalam skala interval 0 – 10. Pada kedaan tanpa masalah pada suatu variabel tertentu maka suatu negara akan mendaptkan nilai 0. Sebaliknya jika terjadi total bermasalah dan negara gagal mengatasinya maka skor yang diberikan adalah 10. Semakin tinggi skor, semakin gagal. Sebaliknya, semakin kecil skor berarti semakin berhasil. Contoh, pada variabel nomor 3, yaitu konflik karena isu SARA. Jika jumlah kasus SARA suatu negara sangat besar maka skor yang diperoleh akan besar mendekati 10. Sebaliknya, jika penduduk suatu negara hampir tidak pernah terlibat perkelahian karena perbedaan SARA maka skornya akan kecil mendekati 0;

4. Setelah semua variabel diberikan skor dengan cara yang sama maka akan dilakukan perhitungan total skor dari semua (12 buah) variabel. Contoh: jika semua variabel mendapat skor 10 maka total skor adalah 10+10+10+10+10+10+10+10+10+10=120;

5. Skor yang diperoleh suatu negara di susun ke dalam suatu satu tabel dan diurutkan berdasarkan besar kecilnya skor. Negara dengan skor paling besar diletakkan pada bagian atas tabel yang berarti negara tersebut adalah negara gagal. Sebaliknya, negara-negara dengan skor yang rendah tertera pada bagian bawah tabel yang berarti bahwa negara tersebut adalah negara yang tidak gagal.

Karena soal ukuran tabel dan ketersediaan ruang blog maka saya tidak dapat memasukkan tabel yang berisikan daftar 177 negara hasil survei tentang negara gagal. Tapi, lihatlah gambar peta sebaran negara gagal di seluruh dunia. Di situ akan terlihat bahwa 177 negera yang disurvei dikelompokkan ke dalam 4 kategori yang dibedakan berdasarkan warna arsiran pada peta. Kategori berbahaya (alert) diarsir warna merah tua/merah hati, peringatan (warning) diarsir berwarna orange, biasa-biasa saja (moderate) berwarna kuning dan mantap/berkelanjutan (sustainable) berwarna hijau. Dua kelompok, yaitu kelompok berbahaya dan peringatan dikategorikan sebagai negara gagal. Sedangkan kelompok moderat dan berkelanjutan terkategori sebagai bukan negara gagal. Dari peta terlihat jelas bahwa Indonesia diarsir dengan warna orange (atau coklat sih ya????). Artinya, Indonesia tergolong negara gagal. Indonesia gagal = INDONESIAL. Anda mungkin tidak suka, sayapun tidak, tetapi itulah fakta analisis.

Hal berikut yang perlu saya jelaskan adalah apa yang saya maksudkan dengan negara. Lalu mengapa saya mengatakan kegagalan negara harus merupakan tanggungjawab seluruh bangsa dan tidak sekedar negara. Pertama-tama harus dipahami bahwa dalam 12 variabel indikator negara gagal terdapat beberapa variabel yang menunjukkan bahwa yang berperan terhadap kegagalan bukan cuma negara atau pemerintah tetapi juga seluruh masyarakat. Misalnya, perpecahan elit, demografi dan SARA. Kedua, konsekuensi defenisi. Begini bossZZ....

Negara: terdapat 2 pengertian, yaitu: 1) wilayah yang harus memiliki organisasi yang berkuasa dalam bidang politik, milter, ekonomi, sosial dan budaya; dan 2) organisasi yang terdiri atas wilayah sebagai lokus negara, rakyat yg menerima keberadaan organisasi negara, dan keadulatan dimana rakyat mengakui adanya negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka di lokus tertentu.
Pemerintah
: organisasi yang ada di dalam negara yang memiliki kekuasaan untuk mengatur jalannya organisasi negara (wilayah, masyarakat dan kedaulatan).
Bangsa
:kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama dan memiliki kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya dan/atau sejarah. Berdasarkan asumsi/anggapan bahwa manusia dapat dibeda-bedakan atas kelompok bangsa-bangsa maka salah satu ciri lain dari bangsa adalah adanya kesamaan keturunan. Pengajaran atau keyakinan atau doktrin bahwa suatu bangsa tersusun atas ciri-ciri kesamaan tersebut disebut sebagai ideologi nasionalisme yg berakar dari suatu tatasistem ideologi dan filsafat tertentu.

Dari defenisi di atas terlihat sudah apa preposisi saya tentang bangsa gagal. Ya, karena wilayah dan kedaulatan sebagai elemen negara bukanlah benda-benda biotik yang memiliki niat, kehendak, nalar dan kerja yang dapat membawanya kepada posisi sebagai subyek hukum. Hanya orang Indonesia yang suka mengatakan bahwa kegagalan panen disebabkan kekeringan sementara orang Israel mampu memproduksikan anggur dan buah-buahan lainnya, yang berkualitas kelas satu dan dieksport ke Eropa, dari ......padang gurun. Ingatkah anda bahwa dahulu ketika bertindak sebagai pembela Akbar Tandjung, duo pengacara the Sitompul’s (Hotma dan Ruhut) pernah mengatakan begini.....heiiiii.....pemberian uang ke Bang Akbar memang terjadi tetapi ketika itu Bang Akbar tidak menerimanya. Uang itu diletakkan oleh si pemberi di atas meja.....Whhuuuiiihhhh....apa maunya si Raja Minyak dari Medan ini dengan mengatakan itu........Ya, rupa-rupanya the Si Tompul’s ingin agar Si Meja yang ditetapkan sebagai tersangka, terdakwa, terpenjara dan lain sebagainya? Dapatkah anda membayangkan bahwa si Meja terpenjara? Jika tidak maka anda tampaknya harus menerima penilaian bahwa kegagalan yang terjadi di Indonesia bukan sekadar kegagalan negara melainkan kegagalan seluruh bangsa. Sekali lagi, bangsa INDONESIAL

Tabe' Tuan. Tabe' Puan

(mengenai Etika Protestan dan yang sejenisnya itu akan saya masukkan sebagai bagian integral dalam lanjutan posting tentang Indonesia Bangkit)

Senin, 26 Mei 2008

Indonesia Bangkit. Indonesia Bisa. Indonesia Bisa Bangkit? (Episode Negara Gagal)

Entah mimpi apa dokter Sutomo dkk. Pada tahun 1908. Entah salah apa yang dibuat oleh Bung Karno dkk. pada tahun 1945. Rasanya menjadi tidak berguna ketika beberapa orang mahasiswa di tahun 1998 berkalang tanah. Mati dihajar peluru, tak tahu peluru siapa, ketika memperjuangkan apa yang belakangan kita sebut sebagai reformasi. Ketika itu, para pendahulu itu, membayangkan lahirnya Indonesia yang Merdeka karena adanya jiwa dan badan yang bangkit. Adanya Indonesia yang Jaya dalam kemerdekaannya. Adanya Indonesia yang bermartabat karena sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bertanah air telah direformasi. Semua menjadi tak karuan lagi karena Indonesia yang terwujud hari ini per 26 Mei 2008, adalah Indonesia yang berantakan. Indonesia yang kacau dalam kemelut. Pemerintahnya adalah pemerintah yang gamang. Tidak ke sini tidak pula ke situ. Maju 2 langkah mundurnya-pun 2 langkah. Ketika dikritik oleh Megawati sebagai pemerintahan yang sedang menari poco-poco, malah marah. Parlemennya hobi main ancam atas nama hak interpelasi, hak angket dan hak-hak yang lainnya. Beringasnya bukan kepalang ketika Pemerintah memutuskan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak udel-nya parlemen. Tetapi begitu diajak pertemuan bareng pemerintah, melalui lobi-lobi di hotel, di istana atau dimana-mana, ehhh yaaa ammpuuunnn....keberingasan itu lenyap tak berbekas. Kembali ke titik nihil. Anggota parlemen bukannya melakukan proses legislasi dengan baik... eeealaaahhh.....malah menerima suap untuk konversi hutan, main perempuan, main narkoba...pokoknya......main-main saja-lah para bos itu dengan tugas legislasi mereka. Swastanya adalah swasta yang tetap didominasi oleh para pelaku swasta kroni yang terus mengemplang hutang BLBI. Swasta yang menyebabkan bencana lumpur di Porong, Sidoarjo zonder suka bertanggungjawab. Bencana nasional, kata mereka, sambil meminta pemerintah yang menanggulangi. Tak jelas lagi siapa penguasa siapa pengusaha. Menko + pengusaha = penguasaha ha ha ha ha.....

Masyarakatnya adalah masyarakat yang pasrah narimo ing pandum. Bahkan ketika sudah ditempiling habis-habisan sampai bonyok. Anehnya, inilah masyarakat narimo tetapi amat gemar mengumbar kemunafikan dan kemarahan. Suka mengaku miskin ketika ada BLT (bantuan langsung tunai). Bayangkan, ini terjadi di kampung saya di Kupang, ada pemilik bengkel yang asetnya jutaan rupiah tetapi saya ketemukan sedang mengantri di kantor Pos.
Woooiii, bekin apa di sini ni. Lagi terima BLT, jawabnya. Ketika BLT dibagikan ....eeeellaaaddhhhaaallhhhh....BLT-nya segera berubah menjadi Bantuan Langsung Tawuran karena terjadi rebut-rebutan untuk dulu-duluan menerima. Insani, injak sana injak sini. Setelah diterima BLT-nya, maka BLT berubah lagi menjadi Bantuan Langsung Tapaleuk, yaitu kosa kata bahasa Melayu Kupang yang artinya take pleasure. Gilaaaaa....uang BLT-nya dipakai untuk cuci mata ke Mall. Di lain waktu terjadi juga hal-hal berikut ini. Aliran agama berbeda disikapi dengan sikap: tumpas. Bakar. Bunuh. Pendapat berbeda: ancam dan maki. Saya melakukan survei kecil-kecilan di portal-portal berita seperti di detik.com, okezone.com, kompas.com dan lain sebagainya. Hasilnya, 83.2% pemberi komentar selalu menyertakan kata-kata makian ketika terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Bahkan hanya karena berbeda jagoan Moto GP atau Formula 1 atau Liga Inggris. Bertengkarnya begitu serius, sambil memaki-maki, meskipun Si Rossi tidak mengenal mereka. Hamilton mana tahu mereka. Christiano Ronaldo sama sekali enggak pernah liat batang hidung mereka. Sungguh-sungguh masyarakat yang lucu. Aneh. Ajaib. Konyol. Tragis.

Lalu, dalam suasana euforia p
esta peringatan 1 abad HARKITNAS (entah artinya hari kebangkitan nasional atau hari kesakitan nasional) prseiden SBY dengan gagah berteriak: moto kita, slogan kita adalah INDONESIA BISA. Nah lho, bisa ape emangnyeeeee?????? Nah, sekarang mari kita coba menyimak pendapat beberapa pihak tentang Indonesia dewasa ini. Apa kata dunia-lah kata si Naga Bonar.

Prof. Dr. Budi Winarno (UGM)
:
Untuk bisa
survive, dan sekaligus tidak menjadi pecundang (the looser), negara harus kuat dan tangguh dalam pengertian memiliki power and wealth. Namun dalam kenyataannya, Indonesia telah menjadi negara yang sangat lemah (a very weak state), padahal mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah. I
ni karena buruknya kinerja sistem politik dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa dan negara. Dalam pandangan Chomsky, Indonesia bisa dimasukkan ke dalam apa yang disebutnya sebagai negara yang gagal atau a failed state.

Prof Dr. Meutia Gani-Rochman (UI)
:

Negara gagal sangat potensial mengembangkan lebih lanjut wilayah ekonomi ilegal. Muasalnya, penegakan hukum gagal melakukan pekerjaannya. Dengan keadaan inilah pelaku ekonomi ilegal menancapkan kukunya, yang jika dibiarkan kelamaan akan mendistorsi perencanaan pembangunan nasional dan merusak moralitas ekonomi bangsa. Rakyat miskin akan sangat tergoda untuk membeli barang serta jasa maupun bekerja di wilayah ekonomi ilegal. Jika semakin besar, terciptalah kultur hubungan ekonomi yang didasarkan pada kerangka ilegalitas. Misalnya, tidak membayar pajak, pemerasan dan bukan persaingan produk, ketidakpercayaan yang tinggi hingga menciptakan batas-batas sempit fleksibilitas membuat hubungan baru (eksklusivisme), profesionalisme yang tidak berkembang, dan sebagainya. Yang mengerikan adalah dalam situasi kegagalan yang berlanjut, pelaku ekonomi ilegal bisa mentransformasi dirinya masuk ke dalam ekonomi legal serta memberi warna dominan pada lingkungan (niche) perekonomian. Itulah yang melatarbelakangi fenomena mengapa pada situasi kegagalan negara yang berkepanjangan, batas-batas antara yang legal dan ilegal menjadi kabur. Salah satu contoh yang kuat adalah cara-cara premanisme yang dipakai bank-bank terkemuka dalam penagihan utang. Contoh lain, berkembangnya bisnis keamanan dan bisnis intel (Tempo, 24/3/ 2008).


Cukup????? Ah, jangan dululah. Mari kita simak lagi fakta berikut ini:

Majalah AS (Amerika Serikat), Foreign Policy, menerbitkan Indeks Negara Gagal 2007. Indeks ini menggunakan 12 indikator instabilitas politik, ekonomi, militer, dan sosial sebagai alat ukur. Menurut studi yang dilakukan oleh majalah ini, karakteristik negara gagal, antara lain, adalah tingginya angka kriminalitas dan kekerasan, korupsi yang merajalela, miskinnya opini publik, serta suasana ketidakpastian yang tinggi. Negara gagal pada awalnya banyak karena kegagalan di bidang ekonomi, yaitu ketidakefisienan yang parah dalam mengatur modal dan tenaga kerja dan ketidakmampuan melakukan distribusi/pengadaan pelayanan dan barang dasar bagi penduduk ekonomi lemah. Akibat selanjutnya adalah kemiskinan dan pengangguran yang berkepanjangan.

Dalam daftar Indeks dimaksud terdapat daftar 177 negara dengan peringkat kegagalannya masing-masing. Makin ke arah atas dari daftar indeks, maka kedudukan suatau negara disebut makin gagal. Sebaliknya, jika kedudukan suatu negara dalam daftar indeks semakin kearah bawah maka negara tersebut disebut makin kurang gagal atau disebut juga sebagai negara berhasil. Lima negara yang disebut paling gagal adalah seperti ini. Negara dengan nomor urut 1 sebagai negara gagal adalah Sudan dengan skor 113.7. Lalu menyusul, Irak (111.4), Somalia (111.1), Zimbabwe (110.1) dan Chad (108.8). Sekelompok dengan negara-negara super gagal ini adalah Timor Leste yang berada pada urutan ke 20 dengan skor 94.9.


Di mana posisi Indonesia dalam daftar ini? Ini nih: RI berada di urutan 55 dengan skor 84,4 sekelompok dengan negara yang namanya jarang terdengar, yaitu Guinea Ekuatorial, Kirgistan, Turkmenistan, Eritrea, atau Moldova. Di ASEAN RI sekelompok dengan negara ASEAN gagal lainnya, yaitu Myanmar (97.0), Laos (87.2) dan Filipina (83.2). Banyak persamaan kultural antara bangsa gagal RI, Myanmar, Laos dan Filipina.


Bagaimana jika posisi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara yang tergolong kurang gagal. Mari kita amati di mana posisi Amerika Serikat, Australia, dan negeri kecil tetangga kita, Singapura di dalam daftar indeks dimaksud. Amerika Serikat berada di urutan 160 (skor 33.6). Australia lebih hebat lagi, di urutan 169 (23.3). Singapura berada di urutan 161 yang berarti satu tingkat lebih baik dibandingkan Amerika Serikat (skor 33.0). Dan akhirnya, 3 negara yang paling berhasil adalah Norwegia (177 dengan skor paling rendah, 17.1), Finlandia (176 dengan skor 18.5), dan Swedia (175 dengan skor 19.3). (Dalam konteks diskursus antara Wilmana dan NK, saya memberi catatan khusus bahwa 3 negara paling berhasil ini adalah negara-negara yang menetapkan Agama Kristen Protestan sebagai Agama Negara).

Sekarang, apa komentar kita terhadap fakta-fakta yang dikatakan oleh dunia ini? Terserah anda. Tetapi saya sendiri berpendapat, dengan mengutip penyanyi asal NTT Obie Messkah: .....maluuuu akuuu maluuuuu pada semut merahhhh........... oooouuuoooouuuuoooo......What’s up????? Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap ketidaksenonoh-an ini?

Kegagalan negara bukanlah semata kegagalan pemerintah, melainkan semua aktor yang terlibat dalam distorsi kebijakan publik (pemerintah, swasta dan masayarakat) yang dibutuhkan untuk menyejahterakan masyarakat. Merekalah yang memberikan kemiskinan kepada rakyat dan mengembangkan ketidakadaban (Meutia Ganie-Rochman, 2008). Singkat kata: semua elemen bangsa telah membuat bangsa ini gagal. Jadi, kegagalan yang terjadi bukan sekedar kegagalan negara Indonesia mengingat defenisi negara gagal adalah negara di mana pemerintah pusat tidak mampu mengontrol atau menguasai seluruh wilayahnya. Kegagalan yang terjadi sekarang ini melebihi defenisi itu karena telah berada pada tahap: kegagalan seluruh bangsa. Bangsa Indonesia.

Jika semuanya benar maka, dengan berlinang air mata, saya harus mengatakan ini: Indonesia kita Tercinta sungguh-sungguh telah berubah menjadi sebuah bangsa gagal yang bernama INDONESIAL.

Tabik Tuan. Tabik Puan

(To Be Continued)

Keterangan gambar peta:
Failed States according to the "Failed States Index 2007" of Foreign Policy

██ Alert ██ Warning ██ No Information / Dependent Territory ██ Moderate ██ Sustainable

Kamis, 22 Mei 2008

1 Bulan Sudah Sang Guru Tua Pergi. Kami Ikhlas Meski Tak Susut Jua Air Mata Kami (Puisi ini Untukmu)

Sahabat Blogger yang budiman. Seperti yang anda ketahui, 1 bulan lalu saya kehilangan Ayahanda tercinta. Ketika itu saya menyebutkannya sebagai sang Guru Tua. Karena dia memang Guru. Guru sejati.

Kami, saya dan saudara-saudara, ingin mengenangnya meskipun sedih. Kami sebenarnya ingin melanjutkan hidup secara normal tanpa perlu terlalu mengenangnya, Tetapi sayang, kami punya segudang alasan untuk tetap mengenangnya. Dia memang tak mudah dilupakan. Tak mungkin dilupakan. Biarkanlah kami mengenangnya sejenak meski hanya lewat puisi.

Maafkan saya karena di sini saya tidak dapat memberikan alasan mengapa puisi-puisi ini yang dipilih. Saya hanya ingin mengatakan ini: Silakan sahabat sekalian merasakan, tidak perlu terlalu dipikirkan (karena cinta memang kadang-kadang melintasi akal) keberartian orang-orang tercinta di sekitar kita. Lalu, cintailah mereka apa adanya. Jangan sampai terlambat. Jangan sampai penyesalan itu datang ketika mereka tiba-tiba menghilang dan tiada.

Mencintai orang-orang terdekat seperti itu mungkin merupakan salah satu cara terbaik untuk mulai mengerjakan KASIH. Siapapun Anda. Mungkin pula dapat menjadi salah satu cara terbaik untuk mulai memperbaiki cinta kepada Indonesia. Kepada Ibu Pertiwi, yang sedang lara. Di dalam sebuah buku tua ada tercatat begini: barang siapa setia dalam perkara kecil maka dia dapat setia dalam perkara besar.

Selamat menikmati.

Pantun Duka Cita
(Petikan dari Pantun Melayu)

Kayu jati bertimbal jalan
Turun angin patahlah dahan
Bapak mati Ibu tak berdaya
Kemana untung diserahkan

Besar buahnya pisang batu
Jatuh melayang selaranya
Saya ini anak piatu
Sanak saudara tidak punya

Tanya Sang Anak
(Petikan dari Khalil Gibran)

Dan kau adalah segalanya buat kami.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.
Tawamu adalah tawa kami.
Tangismu adalah air mata kami.
Dan cintamu adalah cinta kami.
Dan sang anak pun kembali bertanya!
Apa itu Cinta, Ayah?
Apa itu cinta, Ibu?
Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab,"Kau, kau adalah cinta kami sayang.."


Sang Anak
(Khalil Gibran)

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Dad
(Judy Burnette)

Dad...so many images come to mind
whenever I speak your name;
It seems without you in my life
things have never been the same.

What happened to those lazy days
when I was just a child;
When my life was consumed in you
in your love, and in your smile.

What happened to all those times
when I always looked to you;
No matter what happened in my life
you could make my gray skies blue.

Dad, some days I hear your voice
and turn to see your face;
Yet in my turning...it seems
the sound has been erased.

Dad, who will I turn to for answers
when life does not make sense;
Who will be there to hold me close
when the pieces just don't fit.

Oh, Dad, if I could turn back time
and once more hear your voice;
I'd tell you that out of all the dads
you would still be my choice.

Please always know I love you
and no one can take your place;
Years may come and go
but your memory will never be erased.

Today, Jesus, as You are listening
in your home above;
Would you go and find my dad
and give him all my love.


I Love You Daddy
(Ricardo & Friends)

Daddy
You know how much I love you
I need you forever
I 'll stay by your side
Daddy oh Daddy
I want always bliss you
But I never stop trying
to be your number one

You understand me....
You teach me how to pray..
And you play the game I love to play
I have no fear here when you are near
You guard me through the darkest night

I love you Daddy...
You are my hero (and you always in my dream)
I love you daddy oh daddy
You are my superstar

Daddy
You know how much I love you
I want you to help me
Please show me the way
Daddy oh Daddy
Sometimes I might do wrong
But I never stop trying
To be your number one

I wanna show you
I'll be as strong as you
When I grow up I still look up to you
So have no fear here I believe here
I will be my daddy's boy

I love you Daddy...
You are my hero (and you always in my dream)
I love you daddy oh daddy
You are my superstar

The one in a million and a million in one
Forever I want to be by your side
You're in a million
Show me the way
Guide me through my night

Tears In Heaven
(Eric Clapton
)

Would you know my name
if I saw you in heaven?
Would it be the same
if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on,
'Cause I know I don't belong
here in heaven.

Would you hold my hand
if I saw you in heaven?
Would you help me stand
if I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day,
'Cause I know I just can't stay
here in heaven.

Time can bring you down,
time can bend your knees.
Time can break your heart,
have you begging please, begging please.

Beyond the door
there's peace I'm sure,
And I know there'll be no more
tears in heaven.

Would you know my name
if I saw you in heaven?
Would it be the same
if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on,
'Cause I know I don't belong
here in heaven.

'Cause I know I don't belong
here in heaven.

(Terima kasih untuk NK yang telah mengirimkan Puisi "Dad". Also tHanx for Wilmana atas kiriman lirik "I Love You Daddy")

Selasa, 20 Mei 2008

Indonesia Bangkit. Indonesia Bisa. Indonesia Bisa Bangkit? (Part 1)

Sahabat Blogger yang terhormat,

Hari ini, selasa 20 Mei 2008, genap 1 abad atau 100 tahun, Kebangkitan Nasional Indonesia. Seharusnya saya gegap gempita mensyukurinya. Tetapi, entahlah. Rasanya, ada sesuatu yang membuat saya lebih baik menahan diri dari euforia. Ada yang terasa mengganjal di dalam hati dan pikiran. Ada yang ingin saya katakan. Tetapi sebelumnya, mungkin ada baiknya jika sahabat bloggers mengijinkan saya untuk memposting sebuah tulisan lama. Tulisan ini sudah pernah dimuat di koran lokal (H.U. Timor Express, 18 Agustus 2007) di Kupang. Di situ, ada yang ingin saya keluhkan. Dan, ini penting: sebenarnya posting tentang Kasih dan juga Indonesia Bangkit, sudah merupakan bagian dari "sesuatu" yang ingin saya renungkan. Sejak awal.

Sahabat blogger yang budiman, nikmati dahulu tulisan lama saya tersebut. Oh, iya, menyangkut tulisan ini, ada kenangan yang ingin saya ceriterakan. Ketika membaca tulisan ini, Ayahanda saya almarhum, sang Guru Tua itu, secara khusus menelepon saya yang ketika itu berada di Jakarta dan mengatakan bahwa: "saya sangat bangga dan terharu dengan tulisan mu. Inti tulisanmu adalah tentang HARGA DIRI. Sesuatu yang menjadi pegangan dan sikap hidup saya serta seluruh ba'i leluhur mu". Turun temurun. Posting ini juga untuk mengenang sang Guru Tua.

Di Depan Kain Merah Putih Nan Lusuh itu Saya Tercenung:

Apakah Kami, Orang NTT, Sudah Tidak Punya Apa-Apa Lagi?

(Renungan 62 Tahun Republik Indonesia Tercinta)

Ludji Michael Riwu Kaho[1]

Sidang pembaca yang terkasih, kejadian yang saya tulis dalam artikel ini adalah sungguh sebuah kisah nyata. Pengalaman pribadi saya. Bukan rekayasa atau yang sejenisnya. Hari itu, tanggal 15 Agustus 2007. Pagi-pagi sekali saya sudah dibangunkan oleh isteri saya untuk menyiapkan diri berangkat ke tempat tugas. Ada janji untuk bertemu dengan orang-orang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bersama-sama menuju ke tempat penangkaran Rusa Timor dan melihat perkembangan tanaman cendana yang ditanam di kampus Universitas Nusa Cendana. Setelah mempersiapkan diri seperlunya maka berangkatlah saya ke tempat tujuan dan bertemu dengan tamu-tamu terhormat tersebut. Sambil melihat-lihat dan berdiskusi, berceriteralah kami kesana-kemari tentang rusa Timor, tanaman cendana dan segala kekayaan yang dimiliki oleh nusa archipelago NTT tercinta. Setelah sehari sebelumnya (14 Agustus 2007) kami berlokakarya bersama-sama tamu dari LIPI tersebut tentang potensi tumbuhan gewang yang luar biasa maka diskusi lepas pada pagi hari tanggal 15 Agustus itu menghasilkan kesepakatan intelektual di antara kami bahwa NTT adalah negeri semi ringkai (semi arid) yang pola-pola ekosistemnya unik. Satu-satunya di Indonesia. Ada banyak daerah kering di Indonesia tetapi daerah kering yang berpulau-pulau dengan tipologi klimatik, edafik dan lanskap seperti di NTT memang Cuma NTT. Saya teringat pengalaman ketika menjalani ujian Disertasi di depan Dewan Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Jogjakarta. Seorang Guru saya, Profesor dalam Bidang Ilmu Kehutanan membisikan kepada saya: dik, saya itu belum pernah lho melihat savana dan ketika gambar penelitianmu tadi ditayangkan saya segera menjadi jatuh cinta karena dahsyatnya. Ada banyak kekayan di savana NTT seperti komodo, rusa Timor, cendana, lontar, gewang, kayu merah, tanaman obat, rumput kakirik mahappu dan Sorghum timorensis dan banyak lagi. Bukan main, dan memang bukan main-main rasa hati kami dan kawan-kawan dari Undana mendengar kesimpulan intelektual seperti itu walaupun diiringi dengan tantangan bagi kami yang ada di NTT. Bagaimana mengembangkan semua itu sehingga bukan hanya sebatas potensi sumberdaya alam tetapi dapat diubah menjadi kesejahteraan masyarakat NTT seluruhnya. NTT yang kuat adalah Indonesia yang mantap. Merdeka. Puji Tuhan.

Sekitar pukul setengah 10, pertemuan usai sudah. Kami lalu berpisah dengan beberapa janji dan agenda ke depan. Saya lalu dipanggil oleh DR. Fred Benu, ketua Lembaga Penelitian Undana, untuk meminta kesediaan saya mewakili beliau, yang sebelumnya sudah mendapat disposisi dari Rektor Undana agar mewakili institusi kami menghadiri pertemuan di kantor Setda NTT. Pertemuan itu adalah untuk membahas evaluasi pelaksanaan program Gerhan tahun-tahun yang lewat dan rencana kerja program keja Gerhan tahun 2007. Setelah mendengar permintaan Dr Fred maka saya menyatakan kesediaan dan berangkatlah saya. Lalu, sampailah saya di tempat pertemuan dimaksud. Kemudian, dengan takzim dan masih diliputi rasa berbunga-bunga pascapertemuan dengan sahabat-sahabat dari LIPI, saya mengikuti pembicaraan dalam pertemuan dimaksud. Normal saja. Seperti biasa. Evaluasi diberikan dan rencana kerja ke depan dibahas. Dan, sampailah saat yang sangat mendongkolkan hati saya. Saya tidak tahu dan memang ketika itu bersikap tidak mau tahu mengenai suasana hati peserta rapat lainnya yang terhormat. Pokoknya, hati saya dongkol karena tersinggung. Entah yang lain. Kacau sudah kebahagiaan yang saya dapatkan sebelumnya. Saya terpekur sejenak. Lalu, saya mengucapkan dalam hati: Maha Benar Engkau Tuhanku ketika engkau mengingatkan kami bahwa hidup kami ini ibarat perjalanan melintasi padang berumput hijau dan air tenang tetapi dapat segera berganti situasi untuk berada dalam lembah kekelaman (Mazmur 23).

Gerangan apa sehingga hati saya menjadi tidak lagi tenteram Begini sidang pembaca. Salah seorang di antara beberapa bos-bos yang hadir dan berbicara dalam rapat menyatakan begini Terus terang saja, NTT ini tidak punya apa-apa di sektor kehutanan. Beruntung Departemen Kehutanan (dalam hal ini pihak pusat) menyediakan dana ratusan milyar yang berasal dari dana reboisasi yang diberikan kepada NTT (tidak persis begitu akan tetapi itulah intisarinya). Oh my God. Betulkah kami di NTT tidak punya apa-apa? Lalu, dana besar dari Pusat itu harus dimengerti sebagai apa: hadiah dari pusat-kah?. Kemurahan hati dari pusat-kah? Pak Boss tadi su batul ko? Sidang pembaca yang terhormat, seketika niat saya untuk duduk berlama-lama di ruang itu terbang melayang entah ke mana. Mula-mula karena sedih. Lalu berkembang menjadi rasa dongkol dan akhirnya berubah menjadi marah. Tetapi saya tetap diam KDH (kalongko dalam hati) saja. Dan, beruntunglah siksaan itu tidak berlangsung lama karena pimpinan rapat tak lama kemudian menutup rapat itu dengan beberapa kesimpulan. Dan pulanglah saya menenteng 1 kotak snack, 1 kotak nasi + lauk pauknya dan uang rapat. Semua yang ditenteng tersebut saya syukuri sebagai berkat saya hari itu. Tengkyu Tete Manis.

Meskipun demikian rasa tersinggung, dongkol dan marah itu masih saja ada. Betapa tidak. Pagi-pagi saya masih membanggakan NTT yang unik dan kaya dalam keunikannya tersebut. Eh, ya ampuuunnn kok ya tega amat kebahagian itu disapu oleh kata-kata bahwa: NTT tidak punya apa-apa dan semua yang diberikan dari pusat seolah-olah hadiah dan belas kasihan pusat kepada kami di NTT yang tidak punya apa-apa ini. Pak Boss tadi sonde bisa mangarti ko bahwa kekayaan hutan di NTT jangan dibayangkan tangible (bisa dihitung) macam ke hutan di Kalimantan sana. Pak Boss lupa ko bahwa memang kayu hebat-hebat seperti di Sumatera deng Irian sonde ada di sini tetapi karmana deng cendana, lontar, gewang, ampupu, kabesak putih dan kabesak hitam, rumput kume dan kakirik mahappu, aneka tumbuhan obat (pharmaceutical plants), komodo, rusa Timor, ikan di laut, paus, penyu hijau, burung bayan, burung kol ulan dan lain sebagainya yang kalo pi taro harga maka dia pung nilai tafi’i nae pi udara. Pak Boss mungkin sonde ingat bahwa biar kata NTT sonde punya apa-apa tetapi NTT punya tanah, punya air, punya pohon dan punya orang. Dan, NTT adalah bagian yang sah dari NKRI tercinta. Oleh karena itu, jangankan ratusan milyar, ratusan trilyun rupiahpun adalah sah diberikan kepada NTT karena itulah harga yang harus dibayar oleh Republik untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan congkak dengan bantuan, hadiah atau kemurahan hatimu itu. Lihatlah yang terjadi di Timor-Timur. Belajarlah dari sana. Ketika harga yang dibayarkan dianggap sebagai hadiah dan kemurahan hati semata maka yang terjadi adalah bangkitnya harga diri orang-orang yang merasa dihina karena hadiah yang diberikan.

Haru biru logika seperti itu menghantar perjalanan pulang saya dari kantor Gubernur. Dari bagian belakang kantor gubernur, saya berputar ke arah depan kantor yang sama. Sampailah saya di depan larikan kain merah putih yang diikatkan di pagar-pagar deretan kantor yang ada di sepanjang jalan El Tari itu. Tersedaklah tenggorokan saya karena menyadari adanya pemandangan yang sama dari larikan panjang kain-kain itu. Bukan warna merah putihnya. Bukan itu. Melainkan lusuhnya larikan kain tersebut. Sekali lagi, merah putih yang tergantung di sana tampak lusuh. Amat lusuh. Maka, menepilah saya di situ dan menghampiri larikan kain itu. Sambil menyentuh kain lusuh itu, sayapun tercenung. Tidak adakah kain yang lebih baik dari ini? Pragmatisme-kah? Anti-simbolisme-kah? Anti-totemistik-kah? Penghematan-kah? Kurang perduli-kah? Apa adanya-kah? Keprihatinan-kah? Atau, jangan-jangan memang benar seperti yang dikatakan orang di dalam rapat yang baru saja berlalu bahwa kita di NTT memang tidak punya apa-apa lagi. Wahai merah putih, entah berapa ribu nyawa yang meregang karena mu. Cukup-kah kain lusuh ini dipakai untuk mengenang mereka? Wahai merah putih tercinta, apakah engkau sendiri merasa cukup untuk dipajang lusuh seperti ini? Jangan-jangan memang karena kelusuhan mu ini sehingga di Maluku orang ingin menggantikan mu dengan bendera RMS. Di Papua, ada orang yang lebih bangga mengibarkan bendera bintang kejora. Orang di Aceh melucuti dan menurunkanmu ketika engkau dikibarkan untuk memperingati HUT negeri yang engkau simbolkan ini.

Tanpa terasa, sekitar 5 menit saya berada di situ dan menangislah saya di dalam hati. Hilang sudah rasa tersinggung dan marah. Lalu, berlalulah saya sambil mencoba memberikan makna kepada apa yang saya alami sepanjang pagi sampai siang itu. Senang ketika pagi, marah ketika lewat pagi dan menangis menjelang tengah hari. Nusa Tenggara Timut adalah Indonesia di letak lintangnya. Dia sama dengan Sumatera, Jawa, Kalimantan. Sulawesi, Maluku, Irian, Bali dan daerah lain di letak lintangnya masing-masing dalam wilayah Indonesia. NTT ada sebagaimana apa adanya. Lalu, kalau ingin Indonesia menjadi kuat maka semua yang berada di letak lintang ini harus bekerja sekeras mungkin. Jangan bekerja seadanya, malas, harap gampang sambil mengintip peluang untuk bertindak korupsi. Bekerja sebaik-baiknya. Bekerja sekeras-kerasnya. Bekerja sepintar-pintarnya. Bekerja sejujur-jujurnya. Bekerja setulus-tulusnya. Itulah harga yang harus dibayar agar NTT menjadi lebih maju dan sejahtera. Dengan demikian maka Indonesia akan maju dan jaya. Seumpama empat kaki sebuah kursi maka lemah salah satu kakinya akan melemahkan tumpuan kursi tersebut. Putra-putri Indonesia yang lahir, hidup dan akan mati di bumi savana ini bekerjalah kuat supaya tidak dipandang sebelah mata oleh siapapun juga. Duduklah sama rendah dan berdirilah sama tinggi dengan saudara-saudara Indonesiamu yang berasal dari letak lintang lain. Tegakkan harga dirimu, bukan dengan tersinggung dan marah. Tak berguna itu. Tunjukkanlah prestasi terbaikmu. Dari sanalah penghargaan itu akan datang. Kain kita boleh lusuh tetapi harga diri kita mengkilat. Prestasi kita menjulang. Gampang? Tidak. Tetapi jika kita sungguh bekerja maka Tuhan akan berbelas kasih kepada kita.

Sesampainya di rumah, saya menghampir laptop dan menulis artikel ini. Di luar dugaan, anak saya yang sulung menghidupkan lagu dari mesin pemutar musik. Samar-samar terdengarlah sebuah. Lagu itu adalah lagu Bendera gubahan Eros (gitaris Sheila on 7) yang dinyanyikan oleh kelompok Band Coklat dengan vokalisnya Kikan yang memiliki suara khas. Lirik lagu yang terdengar berulang-ulang dan mengiringi artikel ini berbunyi demikian:

Merah Putih teruslah kau berkibar

di tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Merah Putih teruslah kau berkibar

Aku akan selalu menjagamu

Sambil terus mengetik, diam-diam saya ikut berdendang di dalam hati lagu itu menurut versi saya sendiri:

Merah Putih teruslah kau berkibar

di pagar jalan El Tari meskipun engkau lusuh

Merah putih teruslah kau berkibar

Aku akan selalu menjagamu
Selamat HUT Indonesia. Merdeka. Tuhan Memberkati.

BERSAMBUNG.....


[1] Dosen Undana. Doktor dalam Bidang Ilmu Kehutanan

Sabtu, 17 Mei 2008

Kasih Itu Kuat. Kuat Belum Tentu Kasih. Lemah Lembut Merupakan Gambaran Kasih. Kasih Tidak Berarti Lemah Lunglai. Kasih Kok Repot? (The Last)

Sahabat bloggers yang saya hormati, akhirnya sampailah kita pada bagian akhir seri penulisan kali ini. Sebenarnya saya kurang sehat tetapi saya coba untuk sejenak melupakan kepenatan saya guna melanjutkan “tugas” saya ini.

Saya akan memulai dari sini. Anda tentu sekali waktu, entah kapan itu, pernah menyaksikan film dengan adegan seorang raksasa kuat yang membiarkan dirinya ditinju oleh lawannya yang kecil dan lemah. Ketika pipi kirinya ditampar dia lalu menyodorkan pipi kanannya juga untuk ditonjok. Lalu dibiarkan juga perutnya, kakinya, …dan............ akhirnya seluruh bagian tubuhnya dihajar... chhhiiiiaaatttttt…..hhhiaatattt….bbbuukkkhhh….plllaaakkkhhhh…buuukkkhhhh…..
ngekkhhhh
……berdebam hujan pukulan ke arah si Raksasa. Apa yang terjadi, Robohkah sang raksasa????? Sialnya, Tidak. Dia malah tertawa-tawa sambil mengejek si kecil. Pukul lagi….Pukul lagiiii….tabok terus ..sesukamulah…kata si Raksasa mengejek. Asiknya lagi, sambil menerima hantaman si kecil, sang raksasa terus berusaha mengisap rokok, minum angggur makan roti, isep-isep gula sabu….dan ….pokoknya nyante amat bro. Hujan pukulan tidak dirasakannya sama sekali. Bahkan akhirnya, si kecil itulah yang termenggeh-menggeh kecapaian dan akhirnya, ….. roboh berkalang bumi. Tidak perduli apakah betul ada film seperti itu tetapi ijinkan saya bertanya. Apakah sikap si Raksasa adalah suatu kelemahan? Menurut saya tidak.

Sikap ini mungkin sedikit memberikan ilustrasi bahwa membiarkan pipi kiri dan kanan ditampar orang tidak selalu harus merupakan pertanda kelemahan. Kalah. Konyol dan Pecundang. Tidak. Tetapi apakah iman seperti itu merupakan contoh baik? Saya pernah punya pengalaman. Di tahun 1998, bulan November. Ketika itu, di Kupang, sekelompok pemuda, atas nama komunitas Kristiani yang teraniaya di tempat lain lalu berencana mengadakan hari solidaritas. Yang direncanakan adalah diadakannya do’a di jalan-jalan. Didirikannya posko-posko keprihatinan di sepanjang jalan seluruh kota. Rencananya, posko-posko tersebut akan didatangi oleh kelompok pemuda tadi lalu akan diserahkan karangan bunga berduka cita sebagai tanda prihatin atas dibakarnya dan dirusaknya gereja-gereja di tempat lain di Indonesia. Ketika itu, ada yang menertawakan rencana seperti itu. ….Ah, apaan tuh…saudara-saudara kita di tempat lain dianiaya malah kita cuma berprihatin, berdoa, dan mengirimkan karangan bunga duka cita. Lemah. Tidak Praktis. Sontoloyo. Pecundang. Akan tetapi, lihatlah...di belakang semua itu.... saya menyaksikan adanya berpasang-pasang mata yang berkilat-kilat. Tangan yang terkepal menggenggam tinju. Dengus nafas yang keras menahan amarah. Dan.....bbbblllllaaaaammmmmmmm......3 hari Kota Kupang membara. Api. Bakar. Hantam. Rusak. Lempar. Pukul. Cincang. Jarah......Kupang Rusuh. Satu minggu kemudian, kota Kupang seperti kota mati. Satu bulan berikutnya, orang tidak berani pergi ke mana-mana. Satu tahun sesudah itu, orang Kupang kesulitan bepergian ke mana-mana di atas jam 7 malam karena tidak ada kendaraan umum yang bersedia beroperasi di atas jam 6 petang. Pernikahan salah seoarang adik saya pada bulan Desember 1998, satu bulan setelah Kupang membara, kocar-kacir karena tamu-tamu undangan pada takut datang ke tempat acara. What’s up?

Itulah contoh, ketika si kuat menggunakan kekuatannya. Demi alasan keadilan maka dendam perlu dibalaskan. Di tempat lain ente kuat dan ente boleh menang. Tetapi di sini. kamilah sang raksasanya. Maka mengamuklah sang raksasa. Si kecil yang tadinya dibiarkan memukul lalu gantian dihajar habis-habisan. Sampai mabuk dan, akhirnya, rebah memeluk dan dipeluk bumi. Sukakah Yesus? Maaf, Yesus sama sekali tidak menyukai iman yang sombong. Kasih yang jumawa. Mentang-mentang besar, bertindak seenaknya. Iman Kasih menurut Kristus adalah Iman yang tidak bermegah diri dan mengandalkan diri tetapi berserah penuh kepada Allah. Sebaliknya dari nafsu ingin membalas dendam, Kasih rindu untuk mengampuni. Apakah ini kelemahan? Apakah ini sontoloyo? Apakah ini pecundang?

Sampai di sini, kita mungkin kembali ragu. Apakah Kasih adalah fatalistis. Atau, seperti dugaan Nietzsche, suicidal? Ternyata dari kisah sang raksasa dapatlah kita belajar bahwa sikap nrimo ternyata bisa datang, justru dari kekuatan. Berasal dari kepercayaan diri yang tinggi. Lalu, apakah memang kita diminta Yesus untuk terus menerus menerima tamparan? Apakah kita diminta untuk bersikap mentolir kejahatan? Apakah Kasih adalah pembiaran (laize faire)? Perhatikan ini: ketika Yesus, dengan mata tertutup, ditampar oleh horodadu (Sabu = serdadu) Romawi. Apakah Dia menyodorkan pipi-Nya untuk ditampar lagi sambil berkata, nih pipi gua yang satunya. Tampar lagi dong. Saya kira tidak ada satupun ayat Alkitab yang mengkonfirmasi hal itu. Jika begitu maka apakah Yesus tidak konsisten dengan ucapan-Nya sendiri? Jika kita mengatakan demikian maka kita tergolong S3, yaitu sungguh sangat salah. Esensi ucapan Yesus tidaklah menyangkut tampar menampar. Kita bicara esensi bung. Esensi. Misalnya, ketika Yesus mengatakan harus menjala manusia, apakah Petrus dkk. lalu berkeliling menebar jala ke atas kepala orang-orang? Tidak. Karena bukan itu esensinya. Lalu, apa esensi yang ingin dikatakan Yesus lewat ucapannya tentang tampar menampar. Adalah ini.

Ketika Yesus ditampar, Dia tidak menyodorkan dirinya untuk ditampar lagi secara mengenaskan. Sebaliknya, dengan penuh wibawa,Yesus berkata: Apa sebabnya?, apa salah-Ku sehingga kalian menampar Aku? Luar biasa, Yesus yang sedang dieksekusi sebagai terdakwa malah berbalik menjadi hakim yang meminta pertanggungjawaban penganiaya-Nya atas apa yang dilakukan mereka terhadap Yesus. Dalam keadaan hampir mati disiksa, Yesus tidak merengek meminta diampuni. Yesus tidak menjilat-jilat supaya aman. Yesus tidak menghindar, tidak berameliorasi dan atau tidak menyamarkan diri-Nya terhadap dunia hanya agar selamat. Yesus tidak menjual keyakinan supaya disenangi banyak orang. Tidak menukar keyakinan dengan kedudukan. Dalam keadaan begitu lemah, Dia malah berteriak: di mana keadilan. Oiiiihhh, dahsyatnya. Yesus tidak menyerah. Kitapun seharusnya begitu. Tidak menyerah kepada kejahatan. Terus tegar meneriakkan keadilan meskipun menderita. Meskipun ditampar.

Jikalau tidak menyerah maka apa alternatifnya? Menurut hukum dunia, ketika ditekan maka manusia memiliki dua naluri kodrati, yaitu menyerah dan, satu lagi: membalas. Inilah naluri asali (basic instinck) setiap organisme ketika dicekam. Inilah naluri kodrati. Sikap membalas, menurut hukum dunia, sungguh terpuji. Ada 3 jenis keadilan dunia dan salah satunya adalah keadilan retributif, yaitu setiap orang memperoleh setimpal dengan apa yang dilakukannya. Yang baik diberi pengharagaan yang salah dihukum setimpal dengan kesalahannya. Oh, prinsip yang sangat manusiawi. Sangat kodrati. Yesus sendiri tidak menafikkan prinsip keadilan semacam ini. Salah satunya, ketika Dia berbicara tentang talenta. Setiap kita akan diganjar berdasarkan perbuatan kita.

Lalu, di sinilah ”keajaiban” Yesus. Di sinilah keutamaan Yesus di banding siapapun juga. Yaitu, ketika Yesus menawarkan alternatif lain yang bersifat adi-kodrati. Yang ilahi. Sesuatu yang sebelumnya hanya dimiliki oleh Yesus sendiri. Apa itu? Dibandingkan membalas, Yesus lebih suka mengampuni. Ketimbang membalas, Yesus lebih suka mengasihi. Ketika kita mampu mengendalikan naluri kodrati kita untuk membalas maka itu berarti kita mampu mengontrol nafsu kita sendiri. Anda Tahu apa yang menjadi esensi perkataan Yesus tentang kewajiban warga Kerajaan Allah untuk memikul Salib? Yes, anda benar. Kita wajib mengendalikan nafsu kita. Nafsu kita itu adalah Salib kita. Kalau ini kita lakukan maka kita sungguh berhak memiliki sesuatu yang menjadi milik semua warga Kerajaan Allah, yaitu KASIH sejati. Yang adi-kodrati. Yang Ilahi.

Akhirnya, sebagaimana memikul Salib adalah tindakan yang sungguh sangat repot dan berat maka mengendalikan hawa nafsu juga tidak kalah repot dan beratnya Kalau begitu , apakah melaksanakan Kasih sungguh merepotkan? Betul sekali: sungguh repot. Tetapi, adakah yang lebih mulia dari pada mengasihi? Dengan Kasih, kita menunjukkan kepada dunia, bagaimana kita memanfaatkan kekuatan yang kita miliki. Bukan untuk melanggengkan permusuhan, tapi mendatangkan perdamaian. Bukan untuk melukai, tapi menyembuhkan. Ah, dahsyatnya sifat Kasih yang ilahi ini. Dan sungguh-sungguh: anda, dan juga saya, yang kodrati ini, dapat memiliki Kasih Ilahi itu. Syaratnya, lagi-lagi, cuma 1. Hanya 1: Pikul Salibmu.

That's All Folks.

Selamat berhari Minggu. Tuhan Memberkati

Jumat, 16 Mei 2008

Kasih Itu Kuat. Kuat Belum Tentu Kasih. Lemah Lembut Merupakan Gambaran Kasih. Kasih Tidak Berarti Lemah Lunglai. Kasih Kok Repot? (Part II)

Yesus berkata, ”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39).

Inilah kata-kata yang sangat terkenal yang dikatakan oleh Yesus kepada pengikut-pengikut-Nya. Inilah pula frasa kata yang kerap disalah-artikan oleh pembaca Alkitab. Friedrich Nietzsche (1844-1900), seoarang filsuf raksasa asal Jerman, yang berayahkan seorang Pendeta Gereja Lutheran, mengecam tradisi Kristiani yang menurutnya adalah tradisi kaum penakut. Para pecundang. Sebuah tradisi yang dibangun dari Iman yang lemah karena didasarkan pada kepercayaan terhadap adanya kehidupan setelah mati. Oleh karena itu, bersifat anti terhadap kehidupan. Pesimis terhadap kehidupan sambil bertamengkan Kasih. Lihatlah, betapa bodoh, konyol dan penakutnya manusia yang diajarkan untuk menyerahkan pipi kiri dan kanannya kepada musuhnya untuk ditampar tanpa melawan. Diam saja menunggu nasib untuk mati. Nietzsche mengatakan bahwa sikap lemaH seperti itu adalah sikap bunuh diri (suicidal). Mula-mula menghancurkan diri sendiri. Akhirnya, meluluh-lantakkan seluruh peradaban dunia.

Oleh karena itu, Nietzsche memprovokasi masyarakat di Barat, ketika itu, dengan filsafat: Tuhan Sudah Mati (Gott ist Tot = God is Dead). Ungkapan ini pertama kali muncul dalam bukunya Die fohhliche Wissenschaft dan juga dimunculkan kembali dalam buka lainnya, Also Sprach Zarathrustra. Gagasan ini disampaikan melalui narasi tokoh rekaan dalam bukunya, yaitu The Madman.


Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri.... Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu (pembunuhan Tuhan)?

Tagal gagasanya ini maka Nietzsche dijuluki sebagai sang pembunuh Tuhan. Nietzsche, yang menyebut dirinya sendiri sebagai bukan manusia tetapi dinamit, mengajarkan bahwa dunia yang punya banyak problem ini tidak memerlukan orang lemah tetapi Uebermensch atau Super-human. Orang-orang perkasa ini diperlukan untuk menghadapi hantaman badai dunia. Bahkan,
bila perlu, membunuh Tuhan yang amat perkasa itu. Manusia super ini sudah pasti bukan golongan sontoloyo yang nrimo meskipun dikuyo-kuyo. Mereka adalah antitesis dari manusia lemah yang diam saja meski ditindas dan malah minta untuk ditampar lagi pipi kirinya setelah pipi kanannya ditabok dan diludahi. Tragis. Masih ingat kelakuan sebagian terbesar masayrakkat Indonesia di Zaman Orde Baru-nya Bang Harto? Mereka diam dan tiarap saja tatkala di tindas. Tetapi, lihatlah ...amboooiiii....mamma miaaaa......ketika Mas Harto jatuh, atau dijatuhkan, mereka yang tiarap tadi , bangkit dengan tegak lalu membalas dendam. Dendam dibayar lunas sekalian dengan bunga plus bonusnya. Kejam dan bengis.


Budaya seperti itulah yang amat dibenci Nietzsche. Mau jadi apa dunia ini kalau dunia dipenuhi orang-orang dengan mental pecundang itu? Bayangkan, bila di tengah persaingan usaha yang tajam tiba-tiba seorang pengusaha datang dan berkata: ah, saya mengalah saja. Ambilah proyek itu untuk anda? Atau, di tengah kancah pertempuran yang dahsyat tiba-tiba, tanpa ada hujan dan angin, seorang panglima pasukan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan berkata: ambil saja wilayah kami. Kami mau pergi. Ah, kacau. Lebih kacau lagi, jika di tengah kemelut tekanan kejahatan, orang percaya berujar: ah, biar saja kejahatan berpesta pora. Mari kita masuk ke dalam kamar, berdoa dan bernyanyi saja. Kejahatan tidak usah dilawan. Bukankah hal ini cocok dengan prinsip Kasih? Bukankah ini sesuai dengan kata Yesus soal tampar-tamparan? Jika Nietshe geram dengan kelemahan, dan mungkin kita juga tidak setuju dengan sikap manda atau nrimo atau ia bae, maka apa alternatif kita? Mungkin kita terpaksa bergabung dengan Nietzsche. Lawan setiap tekanan dengan intensitas yang sama, dan bila perlu lebih dahsyat. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kekuatan dikedepankan. Bahwa kekerasan bisa menjadi efek dari pameran kekuatan, pusing amat. Itukan cuma soal konsekuensi. Si vis pacem parra belum. Barang siapa mau memiliki damai bersiaplah untuk berperang. Cocok? Belum tentu.


Charles Darwin, ilmuwan yang teorinya amat sangat kontroversial sampai hari ini, mengemukakan dalam buku The Origin of Species bahwa: berdasarkan hasil pengamatan empiris maka harus dikatakan bahwa ciri kehidupan yang terpenting adalah persaingan. Untuk bisa survive atau bertahan hidup, semua makhluk mesti berjuang. Dan siapa yang berhasil survive? Kata Darwin, yang survive adalah makhluk yang paling pas. Paling cocok. Paling paling fit dengan kondisi lingkungannya. Survival of the fittest. Bukan survival of the strongest. Yang bertahan hidup adalah yang paling bisa menyesuakan diri supaya cocok dengan lingkungan. Bukan yang paling kuat. Bumi pada masa jurassic dipenuhi oleh jenis-jenis yang paling kuat dan besar. Tapi hal itu tidak selamanya karena digantikan oleh zaman, di mana kuat dan besar justru merupakan kelemahan. Ketika atmosfir dipenuhi debu akibat bumi dihantam meteorit sehingga suhu bumi menjadi dingin berakhirlah masa kejayaan makhluk-makhluk raksasa dan perkasa, sejenis dinosaurus, brontosaurus, mastodon, dan sebagainya. Sebaliknya, justru makhluk-makhluk kecil dan lebih lemah sebangsa kura-kura, buaya, dan biawak — dan sudah barang tentu, manusia, yang lebih fit – lebih mampu bertahan karena lebih mampu menyesuaikan diri. Pertanyaannya adalah makhluk macam apa yang paling fit, atau paling memenuhi syarat untuk mampu bertahan. Bervariasi sesuai hukum Ekologi. Dalam teladan Hukum Toleransi Shelford, orang bule lebih tahan di iklim dingin. Sedang orang keling lebih nyaman di daerah panas. Tanaman teh tumbuh subur di Puncak, di daerah pegunungan Tapi jangan harap bisa bertahan di Kupang, di daerah pantai. Jadi, daya hidup jenis sangat ditentukan kemampuannya untuk bertoleransi dan beradaptasi. Yang dibutuhkan adalah kelincahan dan kecerdikan.

Mengapa mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang paling mampu bertoleransi dan berdapatasi? Dalam ilmu Ekologi, daya toleransi menuju adaptasi dari suatu spesies dibangun melalui 3 sistem respons organisme, yaitu penghindaran (avoidance), merubah bentuk (ameliorasi) dan adaptasi (sama sekali menjadi amat mirip dengan lingkungan). Species seperti ini disebut sebagai species cerdik (percetive species). Ketika terjadi masalah maka jangan dihadapi tetapi hindari. Ketika ada masalah maka rubahlah sedikit anatomi anda supaya cocok dengan situasi. Ketika di dalam masalah maka hilangkan jati diri anda sama sekali biar tidak kelihatan berbeda. Kemungkinan besar Simon Petrus yang menyangkal Yesus sedang mempraktekan mekanisme respons penghindaran. Hal yang sangat manusiawi dan kodrati karena apapun juga, Simon Petrus adalah spesies jua. Dan harus kita akui bahwa dia sungguh cerdik. Lalu, apakah model Iman Kasih seperti ini paling ideal?

Pada titik ini, perkatan Yesus yang lain, yaitu yang meminta kita untuk tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular bisa dijadikan landasan justifikasi. Cilakanya, menurut Almarhum Pdt. DR. Ekadarmaputera, iman model begini, yaitu iman yang cerdik dan sibuk mencari jalan penyesuaian diri, sering termanifestasi menjadi Iman yang oportunis. Meminjam logika (almarhum) DR. Ekadarmaputera, saya harus memberikan ilustrasi bahwa iman oportunis adalah iman yang begitu cerdiknya beradaptasi sehingga ketika anda berada di kandang kambing anda akan mengembik lalu di kandang sapi anda melenguh. Usaha adaptasi ini berjalan begitu rupa sehingga pada akhirnya orang tidak bisa lagi membedakan apakah anda itu tergolong orang atau seekor kambing atau seekor sapi atau....mungkin monyet. Huueeebaaaatttt euuuyyyy......

Ah, saya agak demam dan badan menjadi berasa capek. Dan hal ini manusiawi lho. Lagian, supaya artikel tidak terlalu panjang dan anda menjadi dongkol membacanya maka saya hentikan dulu di sini. Saya mohon permisi. Besok saya sambung lagi....maka ...Tabik Tuan Tabik Puan ........(Bersambung)