Kamis, 29 Mei 2008

Internasional.....Inter Milan.....eeehhh........INTERUPSI BOssZZZ........

@d@ Y@ng H@ru$ DiJel@$k@n

Tak disangka, tak dinyana. Para pengunjung Cafe Permenungan saya ternyata permintaannya banyak, macam-macam dan bikin repot. Dihidangkan teh manis, minta di tambah gula. Sudah gulanya ditambah, ehhhh....minta ditambah susu krim. Busyeeetttt deeechhh...baru saja dihidangkan teh manis pake susu sekarang mereka pada minta dicampur kopi lagi. Tidak tanggung-tanggung, kopinya haruslah kopi Alaska (eeehhh, di Alaska ada kebun kopi nggak yaaa????). Wuuuuuaaaaahhhh.....dan yang bikin gondok...selesai minum, itu tamu-tamu pada ngeloyor pergi zondern mau bayar.... Begitu ditagih...ramai ramai mengatup 2 tangan rapat-rapat lalu diacungkan ke depan wajahnya. Bangkit dari duduk, lantas kaki melangkah perlahan berputar-putar sambil mulutnya komat-kamit mengujarkan mantra........sedang merenung.....sedang merenung......sedang.........merenung.....sedang merenung kok ditagih biaya......sedang merenung....sedang merenung.......ha ha ha ha....

Tapi tak apalah, inilah gambaran sahabat blogger saya. Menjengkelkan tetapi tanpa mereka Cafe saya akan bangk
rut. Pasti bangkrut. Karena sesungguhnya komentar-komentar mereka itulah yang merupakan bayaran atas penatalayanan yang saya kerjakan dalam Cafe saya ini. Tak apalah. Tak apalah. Sabar. Sabar. Sabar. Tagal perkara permintaan yang macam-macam itu maka terpaksa saya harus memposting beberapa penjelasan yang perlu agar supaya sahabat blogger menjadi jelas tentang preposisi saya dalam menulis. Terutama pada topik posting terakhir: Indonesia Negara Gagal. Besar harapan saya, terlepas dari setuju tidaknya sahabat-sahabat atas penjelasan saya, sudilah kiranya pakuda ...eehh keliru ding...paduka tuan sahabat sekalian tidak lagi mempersalahkan saya ketika "bertengkar".

Pasca posting terakhir (Negara Gagal) saya menuai badai kecaman. Dikatakan bahwa saya tidak memberikan sesuatu yang baru. Saya setuju, tetapi harap dimaafkan karena bagi saya istilah negara gagal (failed state) adalah topik hangat di kalangan pemerhati politik se Nusantara. Sayapun terhisab dalam pusaran wacana yang sama dan kagetlah saya ketika di suatu kala saya ditanyakan tentang apa itu negara gagal. Dalam keadaan gelagapan, ketika itu, saya berusaha menjawab sekenanya. Ngalor ngidul tak keruan. Si penanya terlihat men
ganggukkan kepala, entah mengerti entah heran sambil berpikir: .....heiii...si bigmike sedang teeeepuuuutttaaarrrr...(kosakata Melayu Kupang untuk menyatakan berbohong). Sayapun merasa ketidakpercayaan di mata orang itu dan cepat-cepat saya memindahkan topik pembicaraan mengenai isu kebakaran hutan dan lahan kritis di NTT yang sangat tinggi. Nah, kalau menyangkut topik yang satu ini maka percakapan selama sehari semalampun akan saya lakoni. Anda silakan bercakap-cakap, saya tidur ngorok sebagai musik pengiring percakapan....ha ha ha....

Ya, sudahlah: karena negara gagal adalah isu baru bagi saya maka saya memaksakan diri juga untuk mempelajarinya. Dan momentum untuk menulis, sekaligus pamer pengetahuan baru itupun datang. Ya, ketika peringatan 1 abad Kebangkitan Nasional dan Hari Jadi Pancasila. Pasca posting tulisan tersebut saya mendapat masalah baru lagi. Saya diduga telah membuat ukuran-ukuran sendiri tentang negara gagal lalu mendiskreditkan Indonesia dengan menyebutkannya sebagai Indonesia yang gagal. Jika disingkat menjadi Indonesial. Agar supaya saya terhindarkan dari kesalahapahaman maka ijinkan saya untuk menjelaskan bahwa pengkategorian Indonesia sebagai negara gagal bukan dilakukan oleh saya. Saya cuma mengutip....sekali lagi....cuma mengutip....hasil survei yang dilakukan oleh majalah Amerika Serikat, Foreign Policy, tentang peringkat negara-negera di dunia berdasarkan keberhasilan dan atau kegagalan mereka.

Mengapa saya tertarik mengutip publikasi ini? Begini: agak berbeda dari kebiasaan para politisi praktis yang sering membuat pernyataan asbun tanpa ukuran yang jelas, dalam survai ini saya menemukan adan
ya ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif. Sesuatu yang sudah menjadi habit saya sebagai ilmuwan kelompok bidang ilmu eksakta. Apa ukuran-ukuran dan bagaimana cara mengukurnya, kita sebut saja sebagai metode survei, disampaikan secara jelas. Nah, saya coba menguraikan langkah-langkah dalam metode yang dilakukan sampai dihasilkannya kesimpulan Indenesia sebagai negara gagal.


1. Penentuan indikator-indikator penilaian berdasarkan gagasan tentang teori tata kelola bernegara. Hasilnya adalah tersusunnya 12 kriteria indikator tingkat kegagalan suatu negara. Berikut adalah terjemahan bebas dari indikator-indikator tersebut:

I. Social indicators

1.Tekanan masalah demografi

2.masalah pengungsi;

3.Konfliks sosial/SARA;

4.Arus orang yang mencari suaka keluar;

II.Economic indicators

5.Ketimpanangan;

6.Tajam tidaknya penurunan ekonomi;

III.Political indicators

7.Kriminalitas dan ketidakmampuan negara mengontrol rakyatnya;

8.Kemerosotan pelayanan publik;

9.Penegakan hukum atas pelanggaran atau kejahatan terhadap hak azasi manusia;

10.Kesewenangan aparat militer dan lembaga-lembaga non-sipil;

11.Meningkatnya perpecahan elit;

12.Intervensi pihak luar dalam urusan dalam negeri.

2. Mengumpulkan data dari 12 variabel di atas yang bersumber dari sumber0sumber resmi milsanya dari badan statistik nasional dan sumber resmi lainnya;

3. Memberikan skor terhadap setiap variabel dalam skala interval 0 – 10. Pada kedaan tanpa masalah pada suatu variabel tertentu maka suatu negara akan mendaptkan nilai 0. Sebaliknya jika terjadi total bermasalah dan negara gagal mengatasinya maka skor yang diberikan adalah 10. Semakin tinggi skor, semakin gagal. Sebaliknya, semakin kecil skor berarti semakin berhasil. Contoh, pada variabel nomor 3, yaitu konflik karena isu SARA. Jika jumlah kasus SARA suatu negara sangat besar maka skor yang diperoleh akan besar mendekati 10. Sebaliknya, jika penduduk suatu negara hampir tidak pernah terlibat perkelahian karena perbedaan SARA maka skornya akan kecil mendekati 0;

4. Setelah semua variabel diberikan skor dengan cara yang sama maka akan dilakukan perhitungan total skor dari semua (12 buah) variabel. Contoh: jika semua variabel mendapat skor 10 maka total skor adalah 10+10+10+10+10+10+10+10+10+10=120;

5. Skor yang diperoleh suatu negara di susun ke dalam suatu satu tabel dan diurutkan berdasarkan besar kecilnya skor. Negara dengan skor paling besar diletakkan pada bagian atas tabel yang berarti negara tersebut adalah negara gagal. Sebaliknya, negara-negara dengan skor yang rendah tertera pada bagian bawah tabel yang berarti bahwa negara tersebut adalah negara yang tidak gagal.

Karena soal ukuran tabel dan ketersediaan ruang blog maka saya tidak dapat memasukkan tabel yang berisikan daftar 177 negara hasil survei tentang negara gagal. Tapi, lihatlah gambar peta sebaran negara gagal di seluruh dunia. Di situ akan terlihat bahwa 177 negera yang disurvei dikelompokkan ke dalam 4 kategori yang dibedakan berdasarkan warna arsiran pada peta. Kategori berbahaya (alert) diarsir warna merah tua/merah hati, peringatan (warning) diarsir berwarna orange, biasa-biasa saja (moderate) berwarna kuning dan mantap/berkelanjutan (sustainable) berwarna hijau. Dua kelompok, yaitu kelompok berbahaya dan peringatan dikategorikan sebagai negara gagal. Sedangkan kelompok moderat dan berkelanjutan terkategori sebagai bukan negara gagal. Dari peta terlihat jelas bahwa Indonesia diarsir dengan warna orange (atau coklat sih ya????). Artinya, Indonesia tergolong negara gagal. Indonesia gagal = INDONESIAL. Anda mungkin tidak suka, sayapun tidak, tetapi itulah fakta analisis.

Hal berikut yang perlu saya jelaskan adalah apa yang saya maksudkan dengan negara. Lalu mengapa saya mengatakan kegagalan negara harus merupakan tanggungjawab seluruh bangsa dan tidak sekedar negara. Pertama-tama harus dipahami bahwa dalam 12 variabel indikator negara gagal terdapat beberapa variabel yang menunjukkan bahwa yang berperan terhadap kegagalan bukan cuma negara atau pemerintah tetapi juga seluruh masyarakat. Misalnya, perpecahan elit, demografi dan SARA. Kedua, konsekuensi defenisi. Begini bossZZ....

Negara: terdapat 2 pengertian, yaitu: 1) wilayah yang harus memiliki organisasi yang berkuasa dalam bidang politik, milter, ekonomi, sosial dan budaya; dan 2) organisasi yang terdiri atas wilayah sebagai lokus negara, rakyat yg menerima keberadaan organisasi negara, dan keadulatan dimana rakyat mengakui adanya negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka di lokus tertentu.
Pemerintah
: organisasi yang ada di dalam negara yang memiliki kekuasaan untuk mengatur jalannya organisasi negara (wilayah, masyarakat dan kedaulatan).
Bangsa
:kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama dan memiliki kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya dan/atau sejarah. Berdasarkan asumsi/anggapan bahwa manusia dapat dibeda-bedakan atas kelompok bangsa-bangsa maka salah satu ciri lain dari bangsa adalah adanya kesamaan keturunan. Pengajaran atau keyakinan atau doktrin bahwa suatu bangsa tersusun atas ciri-ciri kesamaan tersebut disebut sebagai ideologi nasionalisme yg berakar dari suatu tatasistem ideologi dan filsafat tertentu.

Dari defenisi di atas terlihat sudah apa preposisi saya tentang bangsa gagal. Ya, karena wilayah dan kedaulatan sebagai elemen negara bukanlah benda-benda biotik yang memiliki niat, kehendak, nalar dan kerja yang dapat membawanya kepada posisi sebagai subyek hukum. Hanya orang Indonesia yang suka mengatakan bahwa kegagalan panen disebabkan kekeringan sementara orang Israel mampu memproduksikan anggur dan buah-buahan lainnya, yang berkualitas kelas satu dan dieksport ke Eropa, dari ......padang gurun. Ingatkah anda bahwa dahulu ketika bertindak sebagai pembela Akbar Tandjung, duo pengacara the Sitompul’s (Hotma dan Ruhut) pernah mengatakan begini.....heiiiii.....pemberian uang ke Bang Akbar memang terjadi tetapi ketika itu Bang Akbar tidak menerimanya. Uang itu diletakkan oleh si pemberi di atas meja.....Whhuuuiiihhhh....apa maunya si Raja Minyak dari Medan ini dengan mengatakan itu........Ya, rupa-rupanya the Si Tompul’s ingin agar Si Meja yang ditetapkan sebagai tersangka, terdakwa, terpenjara dan lain sebagainya? Dapatkah anda membayangkan bahwa si Meja terpenjara? Jika tidak maka anda tampaknya harus menerima penilaian bahwa kegagalan yang terjadi di Indonesia bukan sekadar kegagalan negara melainkan kegagalan seluruh bangsa. Sekali lagi, bangsa INDONESIAL

Tabe' Tuan. Tabe' Puan

(mengenai Etika Protestan dan yang sejenisnya itu akan saya masukkan sebagai bagian integral dalam lanjutan posting tentang Indonesia Bangkit)

23 komentar:

Anonim mengatakan...

Bigmike enggak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Mereka yang main tuduh itu emang otaknya cupet. Polisi menghajar mahasiswa. Mahasiswa mbogem polisi. SBY-JK mentulikan telinga. Apa lagi namanya kalau bukan Indonesial. Go Bigmike Go //Pritha//

Anonim mengatakan...

Wakakakak.....memang lucu sitompul brothers itu...dasar pengacara maarrukkhhhh....(silaut biru)

Anonim mengatakan...

Pak Mike, aku sedang merenung....merenung....kapan NTT hijau oleh rimbunnya hutan lagi....lagi...lagiiii....wuaaakakakakk...
Dasar pak Mike. Eh, aku baru ketemu anak ForDAS dari Kalimantan katanya mau ngundang ForDAS NTT berbagi pengalaman nyusun Perda DAS. (Dhupacks, BGR)

Anonim mengatakan...

Sahabat blogger yang baik: sehubungan dengan memburuknya koneksi jaringan internet di kupang maka dengan sangat terpaksa saya untuk sementara waktu menghapus beberapa fitur. Dengan demikian blog kita ini dapat dibuka dengna lebih ringan. MAAFKAN atas kekurang nyamanan ini.

Bigmike mengatakan...

Sekali lagi saya sampaikan permohonan maaf kepada sahabat blogger bahwa karean gangguan koneksi maka beberapa fitur terpaksa, untuk sementara, saya hapus dari blog. Kalau keadaan "normal" kembali maka fitur-fitur tersebut akan saya tampilkan kembali.

Bagi sahabat yang ini meninggalkan pesan maka harap menggunakan fasilitas komentar karena fasilitas chatting juga untuk sementara waktu terpaksa "diliburkan".

Hormat saya.

Anonim mengatakan...

Bigmike, ni aku kirimi satu puisi buat kamu, biar kamu semakin tabah dan kuat

KADANGKALA HIDUPMU MENANGIS

Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab.
Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu.
Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata perkiraanmu keliru.

Jangan putus asa !! Bangkitlah !!


Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari.
Demikian juga dirimu. kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu.

Jadilah seperti air..Selalu mengalir...melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas.

Anak-Ku,,,jangan mau dikalahkan oleh keadaan,,tetapi kalahkan keadaaan !!

Anak-Ku yang terkasih,,,jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik.

Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman.

Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu !

Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu.

Bukankah untuk itu kau hidup? untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya AKU?

Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU.
Anak-Ku, ingatlah hal ini baik-baik. Aku selalu mebuka tangan-Ku lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya.
AKU senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis.
AKU melakukannya karena AKU sungguh-sungguh peduli padamu !!

Ayah yang selalu mengasihimu, ,

YESUS.

(Sumber : Elia Groups)Adek.

Bigmike mengatakan...

Terima Kasih untuk sahabat Adek atas kiriman Puisinya. Sebuah Puisi yang amat bagus, indah dan memulihkan. Ya, the shoulder that you, and everybody cry on, belongs to Jesus. Tuhan Memberkatimu dengan kelimpahan dan kebaikan.

Anonim mengatakan...

memang indonesia gagal. gagal hampir di semua hal. satu yang tak gagal. indonesia sukses membuat masyarakat yang susah jadi tambah susah.

jangan tanyakan apa yang negara buat untukmu tapi tanyakanlah apa yang bisa dibuat kamu untuk negara. su pernah dengar ungkapan ini??? masihkah pas dengan kondisi sekarang?? SONDEEEEEEE LAI.

beberapa hari yang lalu di koran Timex ada berita "Wapres baru tenang kalo harga BBM naik lagi". su gila ko??? itu pejabat dong yang bilang ikhlas kalo BBM naik pernah rasa ko sonde antri minyak tanah, pernah rasa ko sonde kesusahan rakyat "SECARA LANGSUNG"??? cuma bisa omong sa.

su begitu BLT yang masih jadi tanda tanya besar. mmang betul orang yang tak mampu harus disubsidi negara TAPIII apa yang mau diharpkan dari uang 100rb sebulan. BBM naik. itu cuma judul sa karna harga barang, sembako ju pasti naik. entah tapi bagi beta BLT hanya bagaikan uang sogok bagi masyarakat kecil supaya dong jangan ikut-ikutan mahasiswa demo kenaikan BBM.

apakah indonesia berhasil atau gagal??? terserah anda.

tapi bagi beta indonesia gagal mempertahankan kemerdekaan ini. jangan cuma bisa bikin perayaan indonesia bangkit yang megah minta ampun tapi nasib bangsa sendiri ada parah.. parah.. PARRRRRAAAAH.


(nrk)

Anonim mengatakan...

@Sidang pembaca blog

Heh, heh, spt yg bigmike tulis, sayalah yg katakan 'tidak ada yang baru' dlm posting bigmike sebelumnya -Indonesia Bangkit. Indonesia Bisa. Indonesia Bisa Bangkit? (Episode Negara Gagal). Tentu saja ini saya tujukan kepada diri saya sendiri. Sekali lagi maaf kalau terkesan kurang baik, khususnya bignike.

Begini, mengapa saya katatakan issue 'negara gagal' bukan baru untuk saya? Karena definisi negara gagal itu sendiri -dalam sejarahnya- dimunculkan oleh Max Weber yg sangat terkenal dengan essaynya berjudul "The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.

Apa definisi negara gagal oleh Weber? "A state could be said to "succeed" if it maintains a monopoly on the legitimate use of physical force within its borders. Artinya apa, artinya kalau sebuah negara tdk bisa menjaga batasan negaranya -dari pemberontak, milisia, teroris- maka negara tsb disebut negara gagal.

Defisini Weber ini masih saja dipakai walau untuk lebih menggambarkan kondisi kekinian yg kompleks dibuatlah 12 indikator spt yg ditulis bigmike.

Tentang publikasi index negara gagal, sebenarnya dimulai tahun 2005. Di tahun 2005, indonesia berada diperingkat 44, kategori 'warning.' Ditahun 2006, Indonesia ada di peringkat 32, kategori 'warning.'

Walau 3 tahun berturut-turut indonesia berada dalam kategori 'warning' tetapi peringkat di tahun 2007 ada di 55. Artinya apa, dibanding 2 tahun sebelumnya, pada tahun 2007, indonesia dpt dikatakan 'makin kurang gagal.' Catatan: Makin ke arah atas dari daftar indeks, maka kedudukan suatau negara disebut makin gagal. Sebaliknya, jika kedudukan suatu negara dalam daftar indeks semakin kearah bawah maka negara tersebut disebut makin kurang gagal atau disebut juga sebagai negara berhasil.

Now... apakah kategori 'warning' dikatakan gagal dalam artian Weber??? Silahkan berdebat! Tetapi inilah defininya:

"The indicators are not designed to forecast when states may experience violence or collapse. Instead, they are meant to measure a state's vulnerability to collapse or conflict. All countries in the red, orange, or yellow categories display some features that make parts of their societies and institutions vulnerable to failure. Some in the yellow zone may be failing at a faster rate than those in the more dangerous orange or red zones, and therefore could experience violence sooner. Conversely, some in the red zone, though critical, may exhibit some positive signs of recovery or be deteriorating slowly, giving them time to adopt mitigating strategies.

Karena indonesia berada di zona 'orange' -lihat huruf yg dibold diatas- maka indonesia dikatakan negara yg rentan -vulnerable- thd kegagalan, dan ini sesuai dengan kategorinya sendiri, 'peringatan.' Istilah kate... "kalau lu kagak ati-ati, lu jadi negara gagal."

Lagi-lagi, silahkan berdebat apakah indonesia sudah officialy disebut negara gagal!

Apapun debat kalian nanti, saya setuju dengan bigmike in a sense of realitas kehidupan rakyat yg semakin memburuk, apalagi gonjang-ganjing harga minyak mentah dunia yg makin menggila. Ini ditambah pula dengan KKN yg masih merajalela. Dus, saya memberanikan diri saja bahwa indonesia sekarang sudah menjadi indoneSIAL.

Terakhir... walau wacana negara gagal sedang 'hangat' di indonesia inipun, buat saya, hanya kepura-puraan saja. Mengapa? Karena dari jaman ke jaman, tanda-tanda kegagalan itu sudah menguat. Mengapa sekarang tiba-tiba berwacana???

Begitu saja dan salam... apa yaaaa... salam ini sajalah... salam kasih.

-nyong kupang-

sumber:

http://en.wikipedia.org
http://www.fundforpeace.org/

Anonim mengatakan...

Bigmike menulis..."Tapi tak apalah, inilah gambaran sahabat blogger saya. Menjengkelkan...Tak apalah. Sabar. Sabar. Sabar.

Hah, hah, hah, saya tahu tuh siapa org-nya yg 'menjengkelkan' itu yg istilah kata 'bigmike offers an ice tea, he wants the whole kitchen.'

Yang pasti bukan saya, karena kali ini saya hanya 'bertapa' saja di cafe ini tanpa pesanan apapun ttg apa itu negara, pemerintah, rakyat, bangsa, etika protestan dlsbnya.

Salam es teh.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ BigMike & all

Soal negara gagal, mau apalagi kalo ukurannya data akurat Foreign Policy. Kecuali kalo ada yg bantah pake ukuran dan defenisi lain. Saya ga berminat.

Tp, spt biasanya, saya ingin mengungkap perspektif lain dan sekaligus menambah bahan perenungan kita di sini.

Coba cek peta dunia warna-warni bikinan Foreign Policy itu. Yang warna kuning dan hijau itu adalah negara-negara yg lebih dikenal menerapkan sistem sekuler. Sebaliknya, yg warna coklat dan merah tua, dikenal sebagai wilayah sumber agama2 besar dunian, negara2 agama, atau paling tidak doyan mengibarkan panji2 religius.

Kalo setuju dg isu sistem nilai sebagai fundamental sistem bernegara, maka fakta "lain" dr data temuan Foreign Policy ini bisa jg disimpulkan bhw "pesemaian" yg ada diwilayah itu perlu juga diperbarui.

Atau ada yg punya pendapat lain?

Sayang @-nk- lg meliburkan akal-nya. Kalo tidak biasanya hal spt ini tdk akan lolos dr sergapannya.

(Wilmana)

@ BigMike sy ijin download gambarnya utk jd bahan ngajar "Membangun Etika & Kepatuhan" di bbrp BUMN dan PT Tbk. Tks

Anonim mengatakan...

Harus diakui bahwa konsep negara gagal bukan barang baru tetapi bagi saya wacana ini tergolong baru di Indonesia. Selama ORBA, hal-hal seperti ini ditutup-tutupi makanya kita sering tidak sadar bahwa diam-diam kita sudah berada di tepi jurang. Ini pesan saya untuk "anak NKRI" kecintaan terhadap RI tidak berarti membutakan mata kita terhadap persoalan2.

Saya setuju dengan kutipan teori dan analisis bigmike tentang negara dan bangsa tetapi dalam SNPK 2005, yang melandaskannya pada UUD 1945, disebut secara tegas kewajiban negara. Jadi, sebenarnya tidak ada perbedaan substansial antara saya dengan bigmike hanya sudut lihat kita yang berbeda.

Ah, blog yang hebat. Tidak rugi saya baca-baca di sini (Patrice)

Anonim mengatakan...

Memang cuma ada di Indonesia Si Meja jadi tercuriga. Konyol dan bodoh (Sherly, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ Sherly

Saya setuju, itulah knp penegakkan hukum di negara kita ini tergolong bobrok.

Kasus Pak Akbar itu memang tidak cocok dikenakan pasal korupsi, karena Akbar memang tidak korupsi. Yang korupsi adalah org yg dipercaya Akbar utk menyalurkan dana pemerintah itu.

Kalau mau supaya Pak Akbar masuk penjaran, harusnya dipake pasal kelalaian. Karena faktanya, Akbar memang lalai melakukan pengawasan terhadap penyaluran dana itu.

Di sini terlihat jelas ada kejanggalan, knp Jaksa bukan pake pasal kelalaian, tp nuntutnya pake pasal korupsi. Aroma kesengajaan segera merebak kalo kita mau mengendusnya. Rupanya hal inilah yg membuat the Sitompuls berani omong gegabah. Kalo semua pihak sdh sepakat kongkalikong, omongan yg paling konyolpun tdk dianggap lagi. Harap maklum adanya.

@ patrice
Komponen suatu negara itu ada lbh dari satu. Apa maksudnya semua unsur bertanggung jawab? Saya agak bingung maksudnya. Tks

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@nrk

Sdr menulis,

"Jangan tanyakan apa yang negara buat untukmu tapi tanyakanlah apa yang bisa dibuat kamu untuk negara."

Su pernah dengar ungkapan ini???


Tentu saja saya pernah mendengar ungkapan ini. Baiklah saya kutip ungkapan aslinya, "Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country."

Ungkapan kata diatas adalah ungkapan kata Presiden Amerika Serikat yg ke 35, John F. Kennedy. Apa arti ungkapan JFK ini? Relevankah dengan kondisi Indonesia kekinian?

Ungkapan ini mengandung banyak arti, tergantung kepada siapa sdr bertanya. Buat saya, arti ungkapan kata ini adalah jadilah warga negara yg 'berdaya' untuk mencukupi kebutuhanmu sendiri. Dalam sejarahnya, Amerika menanggung beban berat mencukupi kebutuhan warga negaranya khususnya yg tidak memiliki pekerjaan. Dus, dengan ungkapan kata ini, JFK hendak katakan, "be a giver, not a taker!" Bukankah ada tertulis dalam kitab sucimu, 'lebih baik memberi daripada menerima?'

Relevankah ungkapan kata JFK bagi kita? Tentu! Saya mengerti bahwa hidup rakyat kelas bawah indonesia sangat berat dan wajar jika ramai-ramai menuntut bantuan pemerintah. Tetapi haruslah disadari bahwa kedepan rakyat harus diberdayakan untuk bekerja mencukupi kebutuhannya sendiri. Kalau tidak, rakyat akan bermental 'pengemis.'

Lihat saja efek samping intervensi pemerintah disegala lini persoalan masyarakat! Rakyat sekarang hanya menjadi peminta-minta kepada negara. Kalau hari ini bantuan beras gratis tidak datang, dia rela menaggung lapar hingga esok harinya ketimbang bekerja. Dilain pihak, pemerintah yg bergaya 'sinterklas' akan terus bergaya demikian karena kepentingan 'menggaruk' uang proyek rakyat.

Gaya 'sosialisme' spt indonesia ini yg membuat oknum pemerintah kaya raya, sedang rakyat hanya sekedar jadi pengemis. Lebih rusak lagi adalah dilema ini: Subsidi BBM terlalu berat, oknum pemerintah kaya raya garuk uang rakyat. Negara hampir bangkrut. Subsidi BBM mau tidak mau harus dipotong. Apa jadinya? Rakyat MARAH. Trus mau apa sekarang???

Kalau sdr bertanya apa ideologi saya? Jawab saya, "Siapa tidak bekerja, hendaklah ia tidak diberi makan."

Begitu saja... ingat, be a giver not a taker!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@Bigmike dkk

Saya mendapat 'pencerahan' sbb ttg budaya indonesia yg sebut kiri dan kanan.

Bahwa dalam konteks budaya kami yg kiri adalah cendrung revolutif tak terarah sedangkan yg kanan, katanya, konservatif.

Kalau kita melihat 2 ideologi besar Amerika, yg kanan itu konservatif sedang yg kiri adalah liberal. Dalam konteks Inggris, lain lagi. Di Inggris, yg kanan berkiblat pada nilai-nilai lama yaitu tahta (monarki) dan altar (gereja), sedangkan kiri adalah liberal, kebebasan individu dll.

Di Amerika, yg kanan walau ia konservatif tetapi berbeda dengan konservatif di Ingrris. Kanan di Amerika adalah revolusi dari kanannya Inggris. Kebebasan dari nilai-nilai monarki dan altar.

Nah... kalau dalam budaya Indonesia, kanan itu konservatif, apa nilai-nilai konservatif budaya Indonesia? Sedang yang kiri, mengapa ia dicap revolutif tanpa arah? Dari mana sejarah kiri dan kanan ini di Indonesia.

Sudilah tuan-tuan dan puan-puan memberi pencerahan kepada saya.

Terima kasih.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

nk

beta mengerti kalo anda bilang "be a giver not a taker". tapi masalah terbesar di indonesia saat ini adalah disini banyak sekali "taker-taker". data BPS tahun 2007 orang miskin di indonesia mencapai 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari total penduduk.

belum lagi ditambah dengan Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2007 masih mencapai 9,75% dari angkatan kerja atau 10,55 juta jiwa yang artinya pengangguran dimana-mana.

apa kaitannya??? jelas ada. karena sekarang dengan jumlah orang miskin dan pengganguran (beta hanya pake 2 variabel ini belum ditambah dengan jumah orang produktif "tapi pemalas" seperti beta sendiri. he..he untuk menggambarkan rupa "taker") sekarang di Indonesia memang secara jujur kita bagaikan menunggu uluran tangan pemerintah (red : belas kasihan)yah salah satu wujudnya dengan jangan menambah susah rakyat lagi dong yang tadinya su susah jadi tambah.

dalam artian disini adalah wujud dari ungkapan "Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country." su sonde relevan lagi. karena di indonesia sekarang beta kalo boleh simpulkan kita yang menunggu apa yang negara kasih bukan kita yang perbuat sesuatu bagi negara.

memang jadi ironis karena dengan kata lain kita ini hanya jadi peminta-minta negara. wong cuma pengemis mau buat apalai kalo sonde minta-minta?? pasti banyak yang sakit hati dibilang begini tapi woiii wake up inilah wajah rakyat sekarang.

tapi beta mendukung apa yang nk bilang kitong harus bangkit jangan terpuruk. minimal dalam konsep evolusi siapa yang lebih kuat itu yang bisa bertahan. sapa yang bisa bertahan dengan kondisi serba sulit sekarang dia yang jadi "pemenang".

(nrk)

Anonim mengatakan...

@nrk

Paling tdk sdr akui bahwa memang gaya manusia indonesia yg menempatkan negara diatas segala-galanya -macam tuhan allah- memberi efek samping yg negatip. Gilirannya, rakyat hanya sekedar megulurkan tangannya meminta 'sedekah' dari negara. Tabiat meminta ini dipakai oleh oknum pemerintah untuk mengadakan proyek BTL, beras gratis, minyak tanah murah dll sekedar mengisi pundi-pundi mereka dan sisanya diberikan kepada rakyat. Trus siapa salah??? Negara-rakyat-pemerintah, negara, rakyat... begitulah gaya kita. Siapa salah sekedar menjadi 'the blaming game.' Tiada akhir.

Dalam keadaan sulit spt ini, saya mengerti kalau ungkapan kata JFK, buat sdr, menjadi tidak relevan, tapi renungkanlah baik-baik karena mungkin saat ini sdr tidak punya pilihan lain selain menaruh harapan masa depan sdr bukan kepada pemerintah ttp kedalam tangan sdr sendiri. Mengapa? Kalau sdr sendiri sudah katakan indonesia sudah menjadi negara gagal, apalagi yg dpt saudara harapkan dari negara sdr itu?

Tentang konsep evolusi yg sdr sampaikan itu, lebih baik sdr berdoa sungguh-sungguh siapa tahu Tuhan sdr menaruh belas kasihan dan mau 'menyembuhkan' negara sdr karena kalau sampai Tuhan lepas tangan, maka saya tdk bisa bayangkan apa yg terjadi. Sangat mengerikan.

Selamat merenung.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Ada 2 perkara (sori bigmike, bt pinjam istilah bigmike ni):
1. Sayang sekali variabel lingkungan hidup tidak masuk. Indonesia akan emakin sial. Percayalah
2. Karakter orang Indonesia seperti ruhut kucir sitompul memang akan bikin indonesia makin sial saja.
(Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Right or wrong is my country
==Anak NKRI==

Anonim mengatakan...

@ -nk-

Rasanya tdk perlu diperdebatkan lg sejarahnya, krn kita semua terutama Ama, sdh tau juga. Yg pasti penggunaan model "pendulum" ini sdh mendunia dan masing2 negara menerapkan sesuai keperluan dan pengertian khas msg2.

Di Indonesia sendiri, sdh ada sejak jaman orde lama. Di jaman orde baru, malah byk dijadikan alasan oleh Suharto (Alm) utk bs menindak kelompok2 yg dianggap tdk sejalan dg kebijakannya. Extrim kanan adalah istilah yg ditujukan kepada kel masyarakat penganut paham agama yg radikal, terutama agama islam. Extrim kiri khusus ditujukan buat mereka2 yg punya paham berbau komunis. Asal ada org ato kelompok yg diberi stigma extrim kanan ato kiri, mk tdk tunggu lama, hampir pasti ybs menghilang tnp jejak dan tak pulang lagi.

Model ini lalu sy pake utk menjelaskan peta saya mengenai perubahan yg tjd di Indonesia saat ini. Apakah setiap kita sependapat dg saya? Tentu tidak, dan krn itu siapapun termasuk -nk-, silahkan kasi pendapat sendiri. Mo pinjam model ini, silahkan. Mo pake model laen, monggo.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Saya lebih tertarik untuk membahas fenomena the Sitompul's. Saya hanya mau tahu, ada yang bisa menjelaskan?: mengapa orang batak sangat suka dengan profesi pengacara dan kenapa pula gaya mereka cenderung rusuh? (Peter, Jogja)

Anonim mengatakan...

@ Peter

Sekedar sharing meski mgkn ada yg punya pendapat lain.

Or Batak itu tipe org yg cerdas, ulet, berani (tmsk berani malu), dan kohesi sosialnya tinggi. Mungkin terbalik dg tipologi org NTT. Sy sering plesetkan Batak = banyak taktik.

Hidup org Batak berpusat pd tiga aspek: hamoraon (nurani), hagabeon (harta), dan hasangapon (martabat). Martabat ditentukan oleh kekayaan nurani dan harta. Tp pd ahirnya, tujuan hidup org Batak itu adalah agar namanya mjd terkenal. Asalma tarbarita goarna tahe.

Yaa spirit Batak itu membuat mereka seringkali sukses dlm segala lapangan. Baik lapangan bersih maupun lapangan kotor, bahkan lapangan abu-abu. Krn seringkali, asal supaya namanya terkenal, org Batak rela melakukan apapun, termasuk yg rusuh2 itu.
Pdhl seharusnya, nama terkenal diperoleh melalui harmonisasi tiga aspek di atas.

The Sitompul's itu adalah fenomena Batak yg khas.

(Wilmana)