Senin, 31 Maret 2008

Sebelum berkisah tentang Aceh, ijinkan saya mengenang masa lalu ForDAS NTT di tahun 2006

Berikut ini, dikutipkan sebuah tulisan lama yang pernah saya buat dan di posting di HU Pos Kupang pada Tahun 2006, November 23. Nih, lihat bae'-bae' opini saya ini. Kalau enggak liat...awaaasssss....wakakakkk......

Hutan Mutis yang terbakar,

daerah aliran sungai merana

Oleh Dr. Ir L Michael Riwu Kaho, M.Si *

SELAMA beberapa hari terakhir, beberapa media massa lokal menyuguhkan berita menarik tentang hutan Mutis, lebih tepat adalah hutan Cagar Alam (CA) Mutis yang terbakar. Saya sungguh tidak tahu apakah kita merasa terusik atau tidak terusik dengan berita itu. Ada paradigma umum dalam pemberitaan pers di Indonesia, yaitu good news is bad news. Taruh kata paradigma ini benar maka seharusnya berita tentang terbakarnya hutan CA Mutis adalah bad news yang good news. Lantas, apakah dengan demikian berita tentang terbakarnya Mutis menjadi komoditas berita yang booming? Tidak juga. Kebanyakan kita mungkin lebih menyibukkan diri dengan berita tentang isu Pilwakot (mudah-mudahan jangan menjadi pilih wajah kotor) Kupang, Rapimnas Golkar, Kedatangan Cowboy dari Amerika Serikat George W Bush ke Indonesia, isu tentang pertikaian Presiden SBY dengan Wapres tercinta JK atau tentang dana Silpa. Semua pokok berita tersebut adalah berita-berita hangat dan laris. Bahkan mungkin kalah heboh dibandingkan dengan berita tentang Joy Tobing, Baim ex Ada Band tebar pesona dan berita lain tentang para selebritis yang suka jual tampang dan sensasi itu. Baiklah kita sudahi dulu ungkapan palese minta perhatian seperti itu. Anggap saja kurangnya perhatian tentang kebakaran Mutis sebagai tantangan bagi semua pemerhati dan pencinta lingkungan hidup untuk terus berjuang bagi penyadaran umum tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan sumberdaya. Bukan karena apa-apa, tetapi karena memang di situlah setiap orang hidup dan berkehidupan. Kita kembali saja kepada kasus kebakaran Hutan CA Mutis.

Kekhawatiran terhadap degradasi ekosistem Mutis sudah menjadi wacana seluruh elemen terkait baik pada tingkat lokal, regional maupun nasional, salah satunya adalah Forum Daerah Aliran Sungai Nusa Tenggara Timur. Melalui kerjasama Forum DAS NTT dengan WWF Indonesia Program Nusa Tenggara, sudah mencoba melakukan kajian-kajian strategis terhadap seluruh potensi sumberdaya dan kebijakan dalam pengelolaan DAS Benenain Noelmina, sehingga pada tanggal 28-29 Juni 2006 dilaksanakan workshop pengelolaan terpadu DAS Benain Noelmina di Kupang yang melibatkan seluruh unsur terkait mulai dari DPRD NTT, Pemerintah Provinsi NTT, Perguruan Tinggi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Rohaniawan, tokoh adat, masyarakat hulu, tengah dan hilir, LSM, PDAM, perwakilan dari Departemen Kehutanan dan Departemen Pekerjaan Umum. Tulisan ini merupakan pengantar awal dari seluruh rangkaian tulisan yang dipublikasikan untuk mencoba mengangkat persoalan mendasar yang terjadi pada seputaran DAS Benenain Noelmina. Para penulis selanjutnya merupakan tim risetyang terlibat dalam penyusunan konsep pengelolaan terpadu DAS Benenain Noelmina, berasal dari berbagai latar belakang ilmu dan institusi yang terhimpun dalam Forum DAS NTT.

Hutan Indonesia tampaknya sudah menjadi pelanggan rutin bencana kebakaran. Bahkan, karena terlalu seringnya kebakaran maka setiap bencana lalu terasa sebagai suatu rutinitas belaka. Bahkan malu karena ekspor asap ke negara tetangga mudah berlalu seperti asap saja. Bagaimana dengan di Nusa Tenggara Timur. Wah, kalau soal kebakaran maka NTT bukan lagi pelanggan kebakaran tetapi sudah menjadi produsen kebakaran. Jikalau meminjam istilah di kalangan pers maka NTT tampaknya sudah merupakan bagian dari konglomerat penerbit kebakaran yang hoffklass atau kelas wahid. Mana ada lahan yang tidak dikelola dengan tanpa api? Mudah sekali menemukan kebakaran lahan di NTT begitu selesai musim hujan dan memasuki awal kemarau. Dahulu kala, orang membakar hanya untuk mempersiapkan lahan menjelang musim hujan. Lalu, alasan itulah yang kita dengar jika terjadi kebakaran kapan saja. Pertanyaannya adalah, lahan apa yang mau dibuka di awal musim kemarau. Mau bertanam, airnya dari mana? Memangnya air dari kencing sapi? Maka tidak ada nalar lain bahwa api pada awal kemarau pasti digunakan tidak untuk mempersiapkan lahan. Di Australia, orang Aborigin membakar lahan mereka justru di awal kemarau agar supaya kebakaran dapat lebih terkendali. Tetapi itu kan di Australia. Apa alasan orang origin Timor, origin Sumba dan origin Flores serta origin-origin lain di NTT membakar lahan?. Ada alasan lain pembakaran, yaitu membakar untuk padang penggemba-laan, membakar untuk berburu, membakar karena konflik dan ada orang yang membakar karena senang melihat nyala api. Metzner (1980) pernah menyebutkan orang NTT sebagai pengidap pyromaniac. Suatu istilah yang keren tetapi sayang sekali karena kata itu berarti gila api. Wah, keterlaluan meneer yang satu itu. Perlu dicatat bahwa semua alasan membakar lahan seperti yang diungkapkan tersebut bukan omong kosong belaka tetapi merupakan temuan dalam suatu penelitian untuk Disertasi. Pertanyaannya adalah, apakah membakar adalah melulu kesalahan?

Dalam penelitiannya di savana Ekateta, Kabupaten Kupang, Riwu Kaho (2005) menemukan fakta bahwa kebakaran lahan savana justru diperlukan savana untuk mempertahankan stabilitas ekosistemnya. Dibuktikan juga bahwa ekosistem savana adalah ekosistem yang paling stabil di daerah kering seperti di Timor dan salah satu faktor penentu stabilitas, ya itu tadi, api. Akan tetapi peneliti yang sama juga mengingatkan bahwa kebakaran yang terlalu sering dan dilakukan pada waktu yang sembarangan akan membawa dampak yang buruk. Kebakaran yang terlalu sering akan menghabiskan bahan organik tanah, menghabiskan nitrogen tanah, mereduksi daya infiltrasi air ke dalam tanah, menstimulasi terjadinya erosi, dapat menyebabkan sifat tanah menjadi sangat basa yang berbahaya bagi tanamandan dapat mestimulasi penyebaran tumbuhan gulma. Kebakaran yang dilakukan pada waktu yang sembarangan dapat memicu kebakaran lebih dahsyat dibandingkan dengan kebakaran pada saat api disulut. Dalam penelitiannya, Riwu Kaho menemukan fakta bahwa pada kebakaran yang terjadi di saat suhu udara mencapai maksimum dengan tingkat kelembaban udara yang minimum (biasanya terjadi di antara pukul 11 - 15 siang) akan menyebabkan fenomena api loncat (jumpfire), yaitu pergerakan api yang beloncatan tidak menentu. Kebakaran tipe ini terjadi karena segera sesudah disulut, api akan memiliki cuaca mikronya sendiri. Dalam keadaan ini maka, di mana saja ada bahan bakar (fuels), apakah itu rumput, daun, ranting, kayu mati dan lain sebagainya, api akan merambat ke situ. Kebakaran seperti ini bersifat sangat liar dan orang bule menyebutnya sebagai wildfire. Api liar seperti ini sangat sulit untuk dipadamkan. Inilah yang terjadi pada kebakaran di Sumatera, di Australia dan di mana saja ketika wildfire terjadi. Wildfire hanya akan padam menurut kemauannya sendiri. Anda bisa memadamkannya tetapi dengan usaha yang berlipat-lipat keras serta memakan banyak biaya dan tenaga. Sekali waktu tampak padam tetapi tiba-tiba api dapat muncul dari arah yang berlawanan tanpa disadari. Fenomena inilah yang tampaknya terjadi pada kebakaan hutan di Mutis. Saya kutip berita tentang kebakaran di Mutis sebagai berikut "...sejumlah warga yang ikut memadamkan api mengaku harus pontang panting karena nyala api bisa muncul di mana-mana sehingga sangat sulit dipadamkan" (Pos Kupang, 16 November 2006).

Kita cukupkan dulu pembahasan tentang fenomena kebakaran. Lain kali disambung lagi karena ceritera tentang api masih amat sangat banyak. Tunggu saja. Sekarang kita tengok, apa sesungguhyna alasan orang membakar lahan. Sepintas kita telah mengetahuinya barang sedikit di bagian depan, yaitu untuk membuka lahan, memelihara padang penggembalaan, berburu, kesenangan, dan lain sebagainya. Akan tetapi hal-hal tersebut bukanlah akar pesoalan. Pengalaman bergaul dengan masyarakat pembakar savana di Ekateta dan kemudian menghitung-hitung beberapa variabel mengajarkan kepada Riwu Kaho (2005) bahwa orang membakar karena alasan ekonomi dan budaya. Ada 2 alasan ekonomis, yaitu api meru-pakan bentuk substitusi tenaga kerja dan substitusi pupuk. Alasan budaya peng-gunaan api ditemukan pada fakta bahwa api adalah warisan tradisi yang merupakan jati diri. Api adalah sarana pencucian jiwa. Pada titik ini, Poerwanto (2005, mengutip Kartodirdjo, 1979) memper-ingatkan bahwa sebagian besar masyarakat di pedesaan Indonesia mengalami 2 macam sindroma, yaitu sindroma kemis-kinan dan sindroma enersia. Poerwanto lalu mempertautkan kedua macam sindroma tersebut menjadi satu macam saja, yaitu sindroma kemiskinan dengan asumsi bahwa kedua macam sindroma tersebut selalu berada dalam hubungan sebab akibat yang bersifat dua arah. Sindroma kemiskinan termanifestasi dalam bentuk rendahnya tingkat produktivitas, pengangguran,kurang gizi, tingkat kematian bayi tinggi, tingkat pendidikan rendah termasuk tingginya tingkat buta huruf. Sedangkan sindroma enersia tampak dari sikap fatalisme, passivisme, rasa saling ketergantungan yang tinggi, kehidupan serba mistik dan lain sebagainya. Dalam kerangka pikir teori ini, maka dapat diajukan suatu hipotesis bahwa kebakaran lahan yang terjadi berulang dan sembarang di NTT adalah manifestasi dari sindroma kemiskinan dan enersia itu. Seandainya petani di Mutis cukup kaya maka mereka dapat menyewa tenaga kerja yang banyak sehingga api tidak perlu digunakan. Jika mereka tidak miskin maka pupuk dapat terbeli oleh mereka. Jika mereka tidak pasif maka pasti ada cara lain dalam mengelola lahan pertanian mereka yang tidak semata-mata menggunakan api. Kalaupun mereka mengunakan api, maka mungkin akan sama dengan rekan petani mereka yang kaya di negerinya tuan Geroge W. Bush, mereka akan menggunakan metode prescribed fire. Lalu, janganlah mereka ditakut-takuti lagi dengan ceritera bahwa kebakaran terjadi karena alam Mutis murka. Hal ini akan semakin membe-namkan mereka pada situsi kelembaman mistik yang pekat. Tidak, kebakaran bukan karena alam Mutis murka tetapi karena penggunaan api yang sembarang dan tidak memperhitungkan konsekuensi ekologis dari kesemberonoan itu.

Hutan Mutis terbakar sudah. Rahim Benenain-Noelmina menangis sudah. Apa kaitan antara Hutan CA Mutis dan Sungai Benenain-Noelmina. Ah, tempo hari ketika pergi ke Fatumnasi kami lihat hubungan keduanya baik-baik saja. Teta-pi kabarnya sekarang hubungan kedua-nya korslet beraat boss. Betapa tidak. Tegal perkara hutan CA Mutis dirambah dan dibakar maka orang di Belu dan Be-na menangis karena banjir. Di awal ta-hun 2006 dua kali banjir bandang melan-da Belu dan airnya diduga berasal dari hulu sungai di Mutis. Tetapi, sebaliknya, ketika orang di Bena dan Belu tingkat ekonominya lebih baik maka orang di Mutis hidup susah karena hutannya tidak boleh diapa-apakan karena merupakan daerah cagar alam. Ah, ada apa pula ini, kata si Poltak Raja Minyak....

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa, sehingga merupakan kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utamanya (single outlet). Satu DAS dipisahkan dari wilayah lain di sekitarnya (DAS-DAS lain) oleh pemisah dan topografi, seperti punggung perbukitan dan pegunungan. Seorang pakar hidrologi hutan (Asdak, 2002) mengatakan bahwa DAS adalah suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. Wilayah daratan dimaksud dinamakan sebagai daerah tangkapan air yang merupakan suatu ekosistem dengan unsur-unsur utama adalah sumberdaya alam(tanah, air dan vegetasi) dan sumberdaya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam. Dari batasan ini maka dapatlah dideskripsikan bahwa Gunung Mutis dan sekitarnya adalah gunung yang menampung air, Benenain dan Noelmina adalah penyalur air dalam bentuk sungai dan ka-wasan di Belu Selatan dan Bena, TTS adalah daerah dekat laut sebagai muara sungai. Dalam konsep DAS, kawasan Mutis disebut sebagai hulu DAS (up stream) dan Bena serta Belu Selatan adalah hilir DAS (down stream).

Karena hubungan seperti yang baru diuraikan dan karena air mengalir dari atas ke bawah mengikuti gradien gravitasi maka dapat dimengerti jika sesuatu yang terjadi di hulu DAS akan menentukan apa yang terjadi di hilir. Sebaliknya, dalam keadaan yang biasa-biasa saja, jarang terdengar bahwa apa-apa yang terjadi di hilir akan mempengaruhi kondisi di hulu. Jadi, memang sudah dari sono-nya orang hulu selalu diminta berhati-hati sedangkan orang di hilir boleh lebih kurang berarti. Mau bukti? Kebakaran yang mungkin terjadi di hutan kateri di Belu (hilir) tidaklah semenarik kasusnya jika dibandingkan dengan kebakaran di Mutis sebagai daerah hulu. Karena orang hulu akan menjadi takut mendapat banjir. Banjir kiriman katanya. Ketika terjadi bencana banjir maka orang hilir menderita sambil menjerit...orang hulu suda bekin susah kitong samua. Akan tetapi batul bagitu ko?

Dalam model normal, maka anggapan bahwa kerusakan ekosistem di hulu menyebabkan kerugian di hilir adalah benar adanya. Kerusakan di bagian hulu DAS akan memicu erosi dan sedimentasi sehingga daya tampung sungai akan aliran air berkurang sehingga mu-dah terjadi banjir. Kerusakan di hulu akan menyebabkan air larian meningkat sehingga semakin besar jumlah air yang harus ditampung oleh sungai. Pokoknya, kerusakan di hulu akan mengakibatkan penderitaan di bagian hilir. Akan tetapi keadaan untung rugi kawasan hulu-hilir tidak semata seperti itu. Karena erosi dan sedimentasi maka tanah di bagian hilir DAS umumnya lebih subur sehingga produktivitas pertanian lebih baik. Masyarakat di bagian hilir memiliki kesempatan berusaha yang lebih luas. Menjadi petani oke saja. Bosan bertani maka jadi petambak ikan ya oke-oke juga. Sementara itu, orang di hulu lebih terbatas. Karena rona vegetasi hulu adalah hutan, apalagi hutan CA seperti di Mutis, maka orang hulu hanya bisa "menonton" kawasan hutan yang ada. Bergerak sedikit saja di dalam kawasan hutan akan dituduh sebagai perambah. Akibatnya, dalam sistem ekonomi masayarakat hulu-hilir, adalah masyarakat hulu yang lebih miskin. Hal ini terbukti dari hasil penelitian tim Forum DAS NTT yang menemukan fakta bahwa ternyata tingkat pendapatan masyarakat di hilir Benanain-Noelmina lebih tinggi dibandingkan dengan masayarakat di hulu. Maka, orang di hulu DAS mangomel : kitong yang jaga utan dorang di hilir yang kaya. Pung enak laiiii!!!

Begitulah, tuding menuding antara masyarakat hulu dan hilir selalu terjadi. Bagai-mana mendamaikannya. Adagiumnya jelas, yaitu kalau semua baik-baik saja maka pertengkaran tidak akan ada. Persoalannya ada-lah bagimana membuat se-muanya baik-baik saja dalam keadaan seperti yang telah diuraikan? Jawabannya ada-lah harus ada sistem pengelolaan DAS yang terpadu. Pengelolaan DAS (PDAS) adalah upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumber daya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktivitasnya, dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam bagi manusia secara berkelanjutan. Hubungan timbal balik antara SDA dan SDM sangat penting karena SDM akan menentukan rona SDA. Sementara itu, pengertian pengelolaan DAS terpadu adalah proses formulasi dan implementasi suatu kegiatan yang menyangkut pengelolaan sumber daya alam dan manusia dalam suatu DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan di dalam dan sekitar DAS, termasuk untuk mencapai tujuan sosial tertentu. Pengelolaan DAS terpadu dilakukan melalui pendekatan ekosistem yang dilaksanakan berdasarkan prinsip "satu sungai, satu rencana, satu pengelolaan" (one river, one plan, one management -- teman-teman di Forum DAS NTT menyebutnya sebagai wawan) de-ngan memperhatikan sistem pemerintahan yang desen-tralistis sesuai jiwa otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Satu sungai (dalam arti DAS) merupakan kesatuan wilayah hidrologi yang dapat mencakup bebe-rapa wilayah administratif yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pengelolaan yang tidak dapat dipisah-pisahkan; Dalam satu sungai hanya berlaku Satu Rencana Kerja yang terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan; Dalam satu sungai diterapkan Satu Sistem Pengelolaan yang dapat menjamin keterpaduan kebijakan, strategi perencanaan serta operasionalisasi kegiatan dari hulu sampai hilir.

Jelas sudah bahwa konflik kewilayahan antara daerah hulu-hilir, antar kabupaten (jika aliran sungainya bersifat lintas kabupaten, antara provinsi (jika aliran sungainya bersifat lintas provinsi), dan bahkan lintas negara (jika aliran sungainya bersifat lintas negara) hanya dapat direduksi jika ada penlolaan DAS secara terpadu. Pengelolaan DAS dengan cara ini mudah diucapkan tetapi sangat sulit dipraktekkan. Untuk memudahkan orang dalam menyusun PDAS terpadu, dan dengan demikian praktek PDAS terpadu menjadi lebih mudah harus memenuhi beberapa persayaratan, yaitu harus tedapat suatu sistim pangkalan data (data base) yang diakui validitas dan reliabilitasnya secara bersama-sama (multipihak) serta harus ada kriteria dan indikator yang jelas dalam pengelolaan sehingga semua pihak dapat memiliki alat ukur yang sama untuk mengatakan bahwa: oh...iya...kita sudah maju dan berhasil sampai di sini dan belum begitu baik di sana....Pangkalan data yang dimiliki harus disusun atas beberapa aspek penting, yaitu aspek kebijakan dan peraturan perundangan, tata ruang, eko-nomi kawasan, sosial, budaya, dan kelembagaan, lahan dan sumberdaya mineral, pertanian, perkebunan,dan peternakan, kehutanan dan sumberdaya air. Lantas, berbasis aspek-aspek dalam data base itulah sistem kriteria dan indikator dikembangkan. Gampang ko? Susah ko?

Susah dan gampang dalam penyusunan Pengelolaan DAS Terpadu adalah suatu perkara yang relatif tetapi ada satu hal yang dipastikan bah-wa pekerjaan ini membutuhkan waktu dan komitmen se-mua pihak untuk duduk, ber-bicara, berpikir dan menulis-kan sesuatu secara bersama dan sinergis. Pembaca yang budiman, kawan-kawan di Forum DAS NTT akan berba-gi ceritera bersama Anda tentang suka duka penyusunan rencana Pengelolaan DAS Terpadu yang dikerjakan hampir sepanjang tahun 2006 ini. Bukan sekedar berceritera tentang proses tetapi juga me-reka akan berbagi ilmu ten-tang apa-apa yang telah diha-silkan. Mereka bekerja keras. Sangat keras, dengan reward yang sebenarnya kurang pantas untuk dibicarakan. Walaupun begitu mereka berkeyakinan bahwa sesuatu yang baik pasti akan disertai dan diberkati oleh Tuhan yang Maha Esa. Dan inilah reward yang sejati. Se-moga, di akhir sharing, Anda mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dan mau bergabung dalam pekerjaan yang baik ini. Karena sesungguhnya seluruh permukaan bumi ini adalah sistem DAS itu sendiri.

* Penulis, doktor dalam bidang ilmu kehutanan,

meneliti serta menulis disertasi tentang kebakaran hutan,

anggota Forum DAS NTT, Dosen Undana



Apa yang dapat anda simpulkan dari tulisan di atas? Untuk kawan-kawan di Aceh, pemuatan artikel ini bersifat buying time karena saya belon sempet ngetransfer dokumen foto-foto dari kamera ke flash disk. Maklum sibuk. Maklum pula, 1 minggu meninggalkan tugas......Akan tetapi, paling kurang, kawan-kawan bisa mengikuti rekam proses penyusunan PDAS Benenain-Noelmina mulai dari rationale dan filosofi dasar, isu-isu awal, pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan, beberapa vaariabel penting dalam dokumen PDAS terpadu dan kendala-kendala yang menghambat pekerjaan, termasuk kendala finansial......Semoga tulisan ini menginspirasi kawan-kawan sekalian......Tabik bagi Teuku dan Cut Nya.....Wassalam...

Minggu, 30 Maret 2008

Howdy, Ketemu Lagi








Selamat hari baik. Senang bisa bertemu lagi dengan kawan-kawan sekalian. Selama 1 minggu saya bepergian ke negeri Aceh, rupanya banyak perkembangan di Kupang. Pertama-tama adalah adanya beberapa komentar terhadap tulisan saya dalam blogger ini. Ada bung Yes, Piter dan, tampaknya dari adik Lusi Jowinstiati. Adik ini adalah anggota Forum DAS NTT yang sekarang menetap di Waingapu. Doski, dulu ketika masih bekerja di WWF, sangat aktif mengawal proses berdirinya ForDAS NTT sampai dengan dihasilkannya dokumen Pengelolaan DAS Benenain-Nolemina secara terpadu pada tahun 2006. Setelah itu Lusi lebih sibuk mengurus pekerjaan barunya meskipun tidak kehilangan kontak sama sekali dengan kawan-kawan di ForDAS. Tanpa bermaksud mengabaikan bung Yes dan Piter, namun Lusi saya sebutkan karena komentarnya terkait dengan hal berikut ini, yaitu pada tanggal 25 Maret telah ditetapkan Perda NTT No. 5/2008 tentang Pengelolan Daerah Sungai Terpadu di NTT. Rupa-rupanya tidak banyak masyarakat yang tahu soal perda ini. Tidak ada pemberitaan yang luas tentang hal ini. Tidak apa-apa. Tidak usah berkecil hati. Dengan demikian perda ini akan berangkat dari titik 0 di awalnya tetapi, yakinlah, it will becoming something significant on it's implemetation. Di sinilah amat tepat komentar Lusi yang mengingatkan bahwa dalam memperjuangkan adanya Perda ini, modal dasar ForDAS hanyalah dengkul, tekad yang besar dan semangat juang yang spartan. Cuma itu. Tetapi, itulah hal yang terpenting dalam suatu perjuangan. Inilah harapan kami untuk kawan-kawan di Aceh yang juga berupaya memperkenalkan konsep Pengelolaan DAS terpadu dan pengimplementasian-nya di sana. Selamat berjuang kawan.
Hal lain adalah, Partai Golkar telah menetapkan paket calon dalam pilkada Gub/Wagub di NTT. Paket itu adalah Ibrahim Medah dan Paulus Moa, di singkat TULUS. Sayang sekali, dalam salah satu statement awalnya, paket ini menggemakan bahwa jika menang maka propinsi Flores harus berdiri. Kita tahu bahwa janji ini sangat market oriented. Kawan-kawan pemilih di Pulau Flores pasti dikili-kili untuk memilih TULUS. Lagian, isu ini adalah isu lama. Bukan baru. Bahkan pola seperti ini tampak lumrah karena juga merupakan isu dipakai dan, terbukti laku di beberapa tempat di NTT. Sepertihalnya juga di Indonesia. Sayang sekali, paket TULUS, sebagai orang-orang yang mengklaim diri sebagai tokoh besar NTT (jika tidak, mana mungkin mereka mencalonkan diri) terjebak dalam isu-isu fragmentasi wilayah seperti ini. Dengan demikian TULUS membuktikan diri sebagai politisi ulung, yang lihai memainkan isu politik guna keuntungan jangka sangat pendek. Akan tetapi, mereka tidak cukup berkapasitas sebagai negarawan. Betapa tidak, untuk dapat dipilih sebagai Gubernur NTT, maka agenda pertama adalah memecah belah NTT. Logika yang mungkin benar secara politik tetapi sangat tidak etis menurut aturan etika berpikir dalam konteks Indonesia yang memerlukan kesatuan yang solid. Ini analoginya, pilihlah saya sebagai suamimu maka agenda pertama saya adalah memecah belah keluarga besar kita.
Saya tidak anti Propinsi Flores. Akan tetapi dalam konteks NTT yang berbentuk archipelago memecah-mecah wilayah NTT ke dalam kepingan berdasarkan isu-isu etnik, aliran dan yang sejenisnya adalah tindakan yang semakin menguatkan gejala endemisme ekosistem yang terintegral secara sosio-geomorfologi dalam wilayah NTT. Ada apa dengan gejala ini? Dalam kesempatan ini saya hanya menjelaskan bahwa gejala ini adalah fenomena ekologi yang eksotik. Menarik tetapi sangat berbahaya bagi stabilitas ekosistem (Smith dan SMith, 2002). Uraian lebih mendalam akan saya lakukan pada kesempatan lain.
Dua hal yang terjadi di NTT selama saya bepergian ke Aceh tampaknya memberikan kesan yang saling bertolak belakang. Perda DAS berusaha mengintegrasikan wilayah tetapi TULUS berpikir tentang bagaimana melakukan fragmentasi wilayah. Apa pelajaran bagi ForDAS NTT? Apa hikmah yang dapat dipetik oleh kawan-kawan Aceh?
(Catatan berikut adalah kisah perjalanan ke negeri Aceh ke acara yang gambarnya ditampilkan di atas)

Sabtu, 22 Maret 2008

Selamat Paskah

Shalom, selamat pagi.

Agak menyedihkan bagi saya karena tahun ini saya tidak bisa merayakan Paskah di Kupang bersama-sama keluarga dan handai tolan. Siang ini, saya harus bertolak ke Jakarta dan terus ke Aceh. Ada urusan Forum DAS di sana. Saya mohon didoakan supaya sukses dalam tugas dan sejahtera di perjalanan. Ceritera tentang Aceh dan Forum DAS akan saya bagikan sepulang dari Aceh.

Sekarang saya ingin berbincang tentang Paskah. Paskah (passover) ada 2 macam, yaitu Paskah Yahudi sebagai akar dari paskah berikutnya, yaitu Paskah Kristiani. Kedua-duanya berceritera tentang kebebasan. Pembebasa. Jika focal point pada Paskah Yahudi adalah pembebasan orang Yahudi dari perbudakan di Mesir maka Paskah Kristiani adalah pembebasan umat manusia dari perbudakan Dosa. Namun demikian, saya ingin mengatakan kepada para sahabat bahwa jika Paskah Yahudi nyaris tidak terdapat kontroversi maka pada Paskah Kristiani.....wuuuuuiiiihhhh....riuh rendah dengan kontroversi. Bagaimana tidak? Bagi banyak orang, peristiwa kebangkitan adalah ...hil yang mustahal....omong kosong....gb alias gede bo'ong-nye.......absurd....nonsens....tidak masuk akal....khalayan.....tidak mungkin karena......tidak ada bukti ilmiah......nah, ini dia......tidak mungkin secara ilmiah......agama kan juga harus masuk akal.....bukankan Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa ...kasihilah Allah mu dengan jiwa hati dan akal......

Tagal perkara tidak masuk akal inilah, belakangan dunia diramaikan ole aneka rupa tulisan tentang penolakan kebangiktan. Anda jangan main-main, para pelopor gerakan Yesus Seminar, yang ingin memahami Yesus secara rasional, bukan ahli bangunan. Bukan ahli pertanian dan kehutanan (ehm.....). Bukan pula ahli kedokteran tetapi para ahli......teologia. Mereka adalah para PhD dalam bidang teologia. Mereka ini, seperti Robert Funk, Robert Price,Bart Ehrman, James Robinson, James Tabor dan masih banyak lagi, dahulunya adalah pendeta-pendeta . Lalu, karena pendeta sudah begitu maka pengikutnya menjadi banyak. Apalagi dalam media yang bergaya Hollywood. Media sensasi. Bagi mereka, semakin tinggi nilai sensasi suatu berita maka semakin mudah dijual. Dan menguntungkan. Mendatangkan duit. Maka bertebaranlah film-film aneh seperti the Davinci Code dan lain-lain. Semakin sensasional ketika peneliti-peneliti yang didanai oleh saluran TV Discovery Channel mengatakan bahwa mereka telah menemukan makam Yesus. Sutradara film Titanic, James Cameroon mempublikasikan tulisan dan berusaha meyakinkan orang bahwa Yesus tidak pernah bangkit. Murid orang-orang ini di Indonesia ternyata ada juga. Pendeta dan Dosen STT Jakarta, DR. Ioanes Rahkmat, menusli di HU KOmpas tahun 2007 bahwa Yesus tidak bangkit secar fisik tetapi hanya secara rohaniah. Lalu, saya jadi bingung dengan para pendeta ini. Lebih bingung lagi ketika ternyata banyak pendeta di GMIT yang tidak tahu perkembangan ini (apa saja kerja mereka?).

Persoalan terbesar bagi kelompok-kelompok penentang Yesus Bangkit adalah, sekali lagi, kemustahilan ilmiah bagi kebangkitan orang mati. Yesus mati karena disalibkan masih mudah dipahami akan tetapi tidak untuk Kebangkitan. Mayat kok bangun lagi. Model begini hanya cocok jadi film-film di Indonesia. Ketika kepada mereka dikatakan bahwa kebangkitan adalah mukjizat maka mereka lebih tidak percaya lagi. Kata mereka: mukjizat itu tidak ada karena segala sesuatu dapat diterangkan secra ilmiah. Apa maksudnya secara ilmiah? Maksudnya adalah, sesuatu yang terjadi berulang-ulang. Maka, orang makan minum bukanlah mukjizat tetapi peristiwa biasa karena tiap hari semua orang di muka bumi melakukan hal ini. Hujan bukan mukjizat karena hal itu adalah fenomena alam biasa yang dapat diterangkan. Terbang bagai burung di langit dan bahkan ke luar angkasa bukan mukjizat karena dengan sains, semua itu sudah terjadi. So, Yesus bangkit? Tidak ada bukti biokimianya. Oleh karena itu, tidak ada pengulangan. Karena tidak ada pengulangan maka ceritera Kebangkitan Yesus adalah khayalan jadi-jadian para murid-murid-Nya. Benarkah demikian?

Bagi saya persoalannya adalah begini:
  1. Apakah segala macam fenomen di dunia harus dapat diterangkan? DR. Steven Hawking berusaha mengemukakan Teori tentang Segala Sesuatu. Lalu, melalui teori ini, dapat diterangkan asal muasal, perkembangan dan arah perjalanan alam semesta kita. Ketika semua dapat diakalkan maka Tuhan is nothing. Tuhan tidak ada. Jika segala sesuatu dapat diterangkan maka jangan-jangan kita sendirilah yang merupakan Tuhan. Para filsuf atheis mengatakan bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia tetapi angan-angan manusialah yang menciptakan Tuhan. Giiilllaaaaaa beenneeerrrrrr......Kalau saya begini: ada berapa banyak orang seperti Einstein, Newton, Hawking, Bung Karno, Pele, Maradona, Rudi Hartono, termasuk ...Yesus? tidak banyak. Menurut kaidah sains, fenomena yang sedikit dan nyaris tidak berulang adalah nonsens. Tidak signifikan. Kalau begitu, apakah orang-orang tadi hanya jadi-jadian? Hanya khayalan? Kalau diakui bahwa mereka adalah sosok yang nyata maka eksistensi mereka yang tidak banyak itu adalah mukjizat. Bagaimana dengan supernormal? Jikalau kehadiran sesuatu atau seseorang atau fenomena tertentu yang langka lalu membawa kebaikan that's miracle. Maka, Tabor, Funk, Hitler, Ioanes adalah supernormal (jangan-jangan abnormal he he he...). Tsunami Aceh adalah bencana. Tetapi, Yesus dan, mungkin, kecantikan pemandangan Mutis serta fungsi hidrologinya bagi Timor adalah mukjizat. Kalau begitu, kebangkitan Yesus adalah mukjizat. Mungkin tidak masuk akal tetapi yang pasti, peristiwa ini melampaui akal. Sekali lagi, bukan tidak masuk akal akan tetapi melampaui akal. Inilah yang disebut teologi tinggi. Believe it or not? believe laaah yauuuuwwwww....
  2. Coba anda bayangkan: keluarga Yesus di sepanjang masa pekerjaan Yesus sebenarnya cenderung sinis dan kurang menyukai Yesus dan aktivitasnya (bandingkan dengan Markus 6:1-6). Yesus dianggap mereka adalah orang aneh yang tidak perduli pada keluarga. Petrus adalah penyangkal Yesus, meskipun dia adalah murid-Nya. Paulus adalah pemburu dan penyiksa murid Yesus. Lalu, apa yang membuat mereka menjadi die hard dalam mengikuti Yesus dan siap mati untum Yesus. Yakobus saudara Yesus, Imam di Yerusalem mati dirajam di Yerusalem. Petrus dihukum mati di Roma. Paulus juga apes karena di hukum mati lantaran rajin memberitakan kabar baik tentang Yesus. Mengapa mereka mau menerima resiko berat tersebut? Karena mereka melihat. Mereka menjadi saksi mata. Menjadi pendengar pertama tentang Yesus yang penuh kebaikan, kebajikan, panjang sabar itu sudah bangkit. Misalnya saja, kalau saya tidak pernah meilhat dengan mata kepala sendiri bahwa Prof. Frans Umbu Data menjadi Rektor Undana, untuk apa saya mau taat pada perintahnya. Untuk apa saya mau berceritera di mana-mana bahwa rektor Undana adalah Umbu Data? Ingat baik-baik kisah kita tentang Yosephus Flavius. Orang ini hidup seabad dengan Yesus dan murid-murid peratama. Hidup seabad dengan orang-orang yang menyiksa dan menghukum Yesus. Lalu, mengapa dia menulis tentang Yesus yang disalibkan dan mati?. Saya kutipkan lagi (bersumber dari Evans, 2005) tulisan sejarah oleh Yosephus tentang Yesus.....ketika Pilatus menghukum Dia di kayu salib karena tuduhan para pemimpin, orang-orang yang mengasihi Dia sejak awal tidak berhenti mengasihi Dia. Sebab (...saya mohon disimak baik-baik kutipan lanjutan ini yang dicetak lebih tebal....) Ia menampakkan diri kepada mereka pada hari ketiga dalam keadaan hidup....Sampai sekarang belum ada 1 ahlipun yang mengatakan bahwa Yosephus hanya tokoh jadi-jadian. Yosephus nyata ada. Kalau sosok Yosephus nyata maka kesaksian dia tentang Yesus nyata juga dooonngggggg...Maka, pernyataan orang yang membenci Yesus inipun kembali menjadi saksi bahwa .....Yesus sungguh Bangkit pada hari yang ketiga setelah dikuburkan karena mati disalibkan. Masih ragu?......No waaaaay-lah.
Karena Yesus sungguh sudah bangkit dan hal ini disaksikan oleh banyak orang, termasuk Yosephus sang pembeci Yesus, dan juga oleh para penulis Alkitab (misalkan saja Yoh. 20 dan 21) maka tidak ada alasan lagi untuk tidak percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah Tuhan yang bekerja membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Kita merdeka dari perbudakan Dosa. Perbudakan Dosa sudah lewat. Kita diberi kemungkinan lain oleh Yesus. Hidup Suci.
Selamat Merdeka. Selamat Paskah. Tuhan Yesus Memberkati.

Jumat, 21 Maret 2008

Mengapa Kita Merayakan Kematian Yesus? ini Jawabannya...

Selamat malam sobat sekalian,

Saya sekali lagi ingin menyapa kawan-kawan Kristiani saya yang baru merayakan Jumat Agung. Selamat hari Raya,

Kemarin, saya sudah membahas bukti bahwa Yesus sungguh-sungguh telah mati pascapenyaliban. Fakta yang tidak terbantahkan. Hal ini harus dikatakan karena belakangan ini ramai bermunculan kelompok-kelompok yang benar-benar meragukan Yesus. Dan Tabor dalam bukunya Jesus Dinasty menganggap Yesus tidak pernah bangkit. Dan Brown dengan bukunya The Davinci Code, berkhayal tentang Yesus yang menikah dengan Maria Magdalena dan mempunyai keturunan yang terus beranak pinak sampai sekarang. Kelompok Yesus Seminar, menyatakan bahwa hanya 18% ucapan Yesus dalam Alkitab yang benar-benar orisinil. Yesus tidak mati, cuma berpura-pura mati dan melarikan diri ke Mesir. Di Mesir, Yesus lalu hidup dan meninggal karena usia tua. Kelompok ini juga berpendapat bahwa Yesus bukan Tuhan, hanya sekedar seorang bijak. Bahkan, salah satu pentolan kelompok Yesus Seminar, yaitu Robert Price, memegang keyakinan bahwa Manusia Yesus sebenarnya tidak pernah ada. So, menurut orang ini, Yesus hanyalah sosok jadi-jadian. Buuussssyyyeeeeettttt deeeeccccchhhh…..

Nah, catatan sejarah Yosephus, dan motif penulisannya sudah menjadi bukti bagi sosok Yesus. Hidup dan mati-Nya. Lalu, apa untungnya kita merayakan kematian Yesus. Kalau memang benar bahwa semua janji Yesus terpenuhi ketika Dia bangkit, mengapa kita tidak menunggu sekalian hari minggu lalu berpesta Paskah. Bukankah dalam peradatan manusia, hari kematian adalah hari berduka. Pendeta, dan atau majelis Gereja yang memimpin ibadat penghiburan sering mengucapkan: ...sidang perkabungan yang terkasih.....mereka tidak menyebutkan ...sidang kebahagiaan yang bergembira....ahaaa... bisa-bisa pak pendeta atau pak penatua diusir oleh keluarga duka....nah....saya pun menuliskan keluarga duka. Bukan keluarga berbahagia. Sekali lagi, apa perlunya memperingati Kematian Yesus Kristus?

Jawabanya singkat saja, begini: jika Yesus benar-benar mati maka paling kurang ada dua hal yang ingin Dia tunjukan bagi kita melalui peristiwa itu:

  1. Kematiannya menunjukkan bahwa ganjaran kedosaan adalah kebinasaan. Tidak bisa tidak. Maka, janganlah berbuat dosa karena arahnya sudah jelas. Mati.
  2. Kematian Yesus menunjukan bahwa resiko kematian kita karena dosa, sudah ditanggung-Nya. Coba bayangkan, jika anda mengkorupsi sebesar 10 M lalu anda diputus perkara besok pagi harus masuk penjara 20 tahun .....eehhhh....tiba-tiba datang Yesus dan berkata....sudahlah Agus, biar mulai besok saya saja yang tinggal di dalam penjara selama 20 tahun menggantikan kamu orang extrimist heehh......wuuiiiiihhhhh.... leeeggaaaaaa-nyaaaaa......(sudah dibayangkan?).

Dapatkah anda mengerti sekarang bahwa mengapa kita merayakan Jumat Agung? Ya, ini sesungguhnya merupakan perayaan keluputan diri kita sendiri dari kematian abadi (kalau mati secara biologis sih setiap orang hidup pasti mati nyong, nona, mas, mbak, to’o, ti’i, ngalai, naweni....). Lalu, mengapa 1 paket dengan Jumat Agung adalah kita merayakan Perjamuan Malam Kudus? Ya, karena kita harus tahu diri untuk mengenang bahwa adalah jasa Yesus, kita tidak mati konyol karena dosa. Darahnya sudah tertumpah. Tubuhnya hancur lebur. Karena kita bung..... karena kita. Ya, ganti kita. Jeeeelllllllaaaaasssssssssssss.........???????

Itu saja dahulu hari ini. Nanti kita bicarakan tentang topik yang lebih sulit lagi, yaitu kebangkitan Yesus atawa Paskah.

Keterangan gambar: Jesus (atas) dan The Last Supper (bawah)

Kamis, 20 Maret 2008

BetulkahYesus Disalibkan dan lalu, Mati?

Dear Frieds,

…Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ, dan juga kedua penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya…(Lukas 23:33).

…Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ”Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya…(Lukas 23:46)


Mengomentari artikel saya yang sebelumnya tentang Jumat Agung dan Yesus, seorang teman menyarankan agar saya dapat mengutip lebih banyak ayat Alkitab. Sudah barang tentu saya sangat senang karena ada teman yang bersedia memberi komentar (rupa-rupanya ceritra tentang blogger ini sudah mulai menyebar perlahan-lahan ke beberapa teman…ha ha ha….mantap sudah….). Namun saya ingin menjelaskan begini: secara sengaja saya mengutip Wikipedia (ensiklopedia sekuler di Internet) dengan tujuan untuk memberi catatan bahwa kisah Penyaliban dan Kematian Kristus bukan isapan jempol belaka seperti prasangka beberapa kalangan di abad moderen. Sekarang ini. Kata orang-orang ini: Yesus mati? Nonsens. Enggak mungkin lah yaaauuuwww. Itukan cuma ceritera karangan murid-murid Yesus yang berhalusinasi. Kematian Yesus hanyalah sekedar pernyataan Iman murid-murid-Nya. Teologis bung…Teologis…..just Theology and Dogmatic. Tidak pernah benar-benar ada.

Oleh karena itu, saya mencoba sedikit menahan diri untuk tidak terburu-buru mengutip ayat Alkitab (nanti pada saat yang tepat akan saya kutipkan juga – kata Alkitab: segala suatu ada masanya-tuh lihat di atas). Saya ingin memberikan bukti bahwa Penyaliban dan Kematian Yesus bukan hanya dicatat oleh murid-muridnya yang pasti akan memuja-muja Yesus (seperti saya dan kawan-kawan Kristiani). Karena cenderung memuja maka bisa dianggap kurang obyektif. Oleh karea itu saya memerlukan kesaksian orang lain. Bahkan oleh orang-orang yang kurang menyukai-Nya. Bagi saya, peristiwa Penyaliban dan Kematian Yesus adalah peristiwa historis. Bahkan mungkin, politis. Bukan cuma peristiwa Teologis yang hanya harus dipercaya meskipun tidak kelihatan. Jika hipotesis saya benar, maka fakta Penyaliban dan Kematian Yesus, yang disaksikan oleh Alkitab dan diyakini oleh semua orang Kristen, bersifat tidak terbantahkan. Bahkan oleh orang yang tidak percaya sekalipun.

Sejarawan Yahudi yang hidup di abad I Masehi, Yosephus Flavius, mencatat sejarah kematian Kristus dalam bukunya Antiquities of the Jews (90 M), yaitu buku sejarah bangsa Yahudi sejak Perjanjian Lama sampai masa hidup Yosephus. Dalam bukunya tersebut, Yosephus menulis seperti ini (Evans, 2005-Fabrication of Jesus):

“….pada waktu itu muncullah Yesus, seorang bijaksana. Ia pembuat mukjizat, guru orang-orang yang menerima kebenaran dengan sukacita. Ia memenangkan banyak orang Yahudi dan orang Yunani. Ia adalah Mesias. Ketika Pilatus menghukum Dia di kayu salib karena tuduhan para pemimpin…..”

Harap anda jangan berpikir bahwa Josephus Flavius, adalah pengikut Yesus. Tidak. Sebaliknya, menurut catatan Evans (2005), Bang Joe ini adalah seorang yang bersikap sangat pro-Romawi. Si bung ini pernah dipenjarakan pada masa pemberontakan Yahudi terhadap Romawi. Setelah Nero meninggal tahun 68 M, maka pada tahun 69 M Vespasianus (mirip merek motor Vespa ya...he he he..) naik takhta menjadi Kaisar Romawi. Setelah Vespasianus menjadi Kaisar, Josephus dibebaskan dan membantu Titus (anak Vespisianus) membujuk orang Yahudi menghentikan pemberontakan mereka. Tagal jasanya ini maka ketika tiba kembali di Roma, Yosephus dihadiahi Vespasianus nama Keluarga Flavius sehigngga nama lengkapnya adalah Yosephus Flavius. Asal tahu saja, nama Flavius berasal dari identitas kekaisaran Romawi yang berkuasa di antara tahun 69-96 M, yaitu Flavianus yang terdiri atas kaisar-kaisar Vespasianus, Titus dan Domitianus. Jelas sekarang bahwa Yosephus adalah keluarga kaisar Romawi yang ketika itu sangat membenci orang Kristen. Kisah-kisah penghambatan dan pembataian orang Kristen terjadi juga dalam masa kekaisaran di mana Yosephus menjadi bagian di dalamnya. Pada masa ini Yosephus menulis tentang sejarah Yahudi. Perjuangan orang Yahudi ditulisnya sambil memuji-muji kebajikan Romawi. Kejahatan orang-orang Romawi berusaha dikecil-kecilkan. Perhatikan kutipan di atas. Yosephus mencatat bahwa memang benar Pilatus (Romawi)-lah yang menjatuhkan hukuman kepada Yesus tetapi hal itu dilakukan karena adanya tuduhan dari para pimpinan. Tidak diulasnya bahwa Pilatus adalah seorang pemimpin yang kejam dan suka bertindak semau gue. Gemar mencuci tangan dari kesalahan yang dibuatnya (Nah, para kontestan Pilakda Gubernur NTT jangan meniru potongan pemimpin seperti Pilatus ini yaaaaa…..). Lalu, siapa yang dimaksudkan oleh Yosephus dengan para pimpinan yang mengajukan tuduhan kepada Yesus sehingga dijatuhi hukum penyaliban? Jawaban terhadap pertanyaan ini akan semakin membuka kedok atau topeng lain dari si Yosephus.

Yosephus adalah nama Latin bagi seseorang yang bernama Joseph bar Matthias. Evans (2005) mencatat bahwa orang ini dilahirkan pada tahun 37 M dari keluarga imam aristokrat Yahudi. Kelmpok apa ini? Inilah kelompoknya penguasa-penguasa agama Yahudi. Penguasa Bait Allah. Orang yang memperdagangkan hewan kurban di pelataran Bait Allah yang meja dagangannya dihajar lintang pukang oleh Yesus. Kelompok ini sangat membenci Yesus karena dianggapnya sebagai penista agama Yahudi. Menurut kesaksian Alkitab (antara lain Matius 26:47-75; Matius 27:1-56), mereka inilah yang menangkap, mengadili dan, akhirnya, membawa Yesus ke pengadilan Romawi lalu dijatuhi hukuman penyaliban sampai mati. Golongan ini terus memusuhi Yesus dan pengikut-pengikutnya sampai setelah Kebangkitan dan Kenaikan Yesus ke Sorga. Saulus, yang ketika bertobat mengubah nama menjadi Paulus, adalah contoh orang-orang kaki tangan kelompok ini untuk memburu dan menyiksa murid-murid Yesus. Inilah topeng lain si Yosephus. Dia adalah keluarga imam Yahudi dan sekaligus Ningrat Romawi. Cilakanya, ketika itu, kedua kelompok ini sama-sama membenci Yesus dan pengikut-pengikutnya. Lalu, mereka bekerjasama menghabisi-Nya.

Jadi, ketika menulis fakta bahwa Yesus dihukum di salib sampai mati, bang Joe pasti tidak sedang berteologi tentang Yesus. Mana mungkin orang yang tidak menyukai Yesus akan mencatat kematian-Nya dengan spirit yang sama seperti yang disaksikan oleh murid-murid Yesus. Kita di Indonesia pernah mengalami pengalam semacam ini di masa Orde Baru. Ya, ketika peranan Bung Karno coba dihilangkan dari sejarah oleh para sejarawan yang pro-Orde Baru. Sebagai contoh, Nugroho Notosusanto pernah menulis bahwa Bung Karno bukan penemu Pancasila melainkan M. Yamin. Banyak lagi upaya sejarawan Orba untuk mendiskreditkan Bung Karno. Meskipun segala daya dan upaya dilakukan akan tetapi fakta bahwa Bung Karno adalah Proklamator tidak bisa disembunyikan. Fakta ini terlalu kuat. Terlalu banyak orang yang tahu fakta ini. Situasi seperti inilah yang dihadapi oleh Yosephus. Dia mungkin tidak menyukai Yesus tetapi dia sama sekali tidak berani, tidak bisa atau tidak kuasa menyembunyikan fakta yang amat sangat kuat, yaitu Yesus mati karena disalibkan. Dan hal ini membuktikan bahwa kematian Yesus adalah peristiwa sejarah.

Kemungkinan lain adalah Yosephus ingin mengatakan bahwa fakta kematian Yesus di Salib adalah kombinasi antara hukuman dan kehinaan. Mengapa demikian? Sebabnya adalah menurut tradisi hukum Romawi, penyaliban adalah hukuman yang paling hina. Orang dihukum terutama bukan untuk mati itu sendiri, karena kematian sudah pasti. Yang terpenting adalah kesengsaraan dan penderitaan yang teramat dahsyat ketika sekarat menjelang ajar dapat ditonton oleh banyak orang agar menimbulkan efek jera. Mengapa Yosephus berbuat demikian? Ada kemungkinan bahwa Yosephus yang hidup sejaman dengan para Rasul, yang sedang giat menginjili di Yahudi dan di luar Yahudi, melihat bahwa gerakan baru ini perlahan-lahan mulai meperlihatkan hasil. Perkembangan kelompok pengikut Yesus ini semakin lama semakin merambat dan populasinya bertambah-tambah. Dihambat malah merambat. Hal ini membahayakan status quo politik penjajahan Romawi di Tanah Yudea dan Samaria. Perkembangan pesat kelompok Kristen ditakutkan akan menyebabkan timbulnya pemberontakan baru kepada kekaisaran Romawi. Anda ingat istilah bahaya laten di jaman Orde Baru? Nah, kelompok Kristen adalah bahaya laten bagi pengusa Romawi. Lalu, fitnah, penistaan, pembantaian dan penghambatan secara politis terhadap kelompok Kristen menjadi Kebijakan resmi Romawi. Dalam perpektif inilah tulisan Yosephus harus diletakkan. Romawi, melalui Yosephus perlu mengkilas balikan fakta sejarah, yang juga diketahui oleh banyak orang, guna mengingatkan dan mengintimidasi pengikut-pengikut Yesus bahwa Yesus bukanlah siapa-siapa. Tidak perlu disembah. Yesus hanyalah penjahat yang dihukum secara hina dengan cara disalibkan sampai mati. Yosephus berharap, pengikut-pengikut Yesus akan malu dan bahkan takut dihukum seperti Yesus lalu berhenti mengembangkan ajaran Yesus. Taktik yang luar biasa licik tetapi sekaligus memberikan bukti valid dan kuat tentang apa yang dialami Yesus. Ya, fakta sejarah dan fakta politik menjadi saksi kuat bahwa Yesus memang nyata-nyata disalibkan. Yesus sungguh-sungguh menderita karena penyiksaan dan penyaliban. Lalu, matilah Yesus. Apakah ada bukti Teologis bahwa Yesus disalibkan dan mati?. Jangan ditanya lagi. Dua kutipan ayat Alkitab di atas sudah cukup bercerita dan bersaksi dengan amat sangat kuat.

Jadi, benarkah Yesus disalibkan dan mati? Berdasarkan bukti-bukti sejarah, politik dan Teologi, jawabannya : 12345678,9% Yes of course, Sir. Right, Sir. Confirm, Sir. Behkan, bapa. Batuuuullll, anak. Amin. Ameeen sodara-sooodaraaaaa????? Ameeeeen!!!! Halleluyaaaa….

Ah, cukup di sini dahulu. Halaman artikel ini sudah terlalu panjang dan, mungkin, mulai membosankan pembaca. Togor dolo ooo. Permisi. Tabe. Bye

Keterangan, lukisan-lukisan di atas adalah:

  1. Kiri atas: "The Three Crosses" (Rembrandt, 1606-1669) (Wikipedia)
  2. Kanan atas: "Dead Christ" (Mantegna Andrea) (Wikipedia)

Jumat Agung. Mengapa kita Merayakannya?




Howdy,

Setelah kemarin saya mem-posting sesuatu sebagai sesama warga bangsa, maka ijinkanlah dalam 1-2 hari ini saya menggunakan kapasitas saya sebagai penatua (tua-tua atau senatus) pada GMIT Jemaat Paulus, Kupang guna menyapa para sahabat yang Kristiani. Saya ingin menyapa kawan-kawan yang merayakan salah satu hari besar dalam kalender Gerejawi, yaitu perayaan Kematian Tuhan Yesus, atau disebut juga Jumat Agung, karena disalibkan oleh suatu konspirasi antara penguasa Romawi (Pontius Pilatus) yang memiliki kewenangan, Imam-Iman Yahudi yang memiliki motif dan Yudas Iskariot yang berkhianat. Lalu, menurut tradisi Gereja, pada hari yang sama kita juga diperkenankan Tuhan untuk mendapatkan salah satu sakramen Gereja, yaitu Perjamuan Malam Kudus. Ada pertanyaan paling menggelitik saya ketika masih kecil. Mengapa kematian dirayakan? Ketika itu, imaji tentang kematian adalah kesedihan. Bukankah, niveau dalam setiap peristiwa kematian adalah kesedihan, tangisan dan ratapan? Mengapa kematian Yesus harus dirayakan? Mungkin bagi sebagian kita pertanyaan seperti itu diam-diam masih terselip juga barang satu atau dua dikit dalam benak. Beranjak dewasa, terutama ketika mulai lebih menekuni tugas sebagai seorang penatua barulah sedikit-demi sedikit misteri itu terkuak. Pergulatan iman seperti itulah yang ingin saya bagikan kepada kawan-kawan saya yang Kristiani. Untuk keperluan ini maka pertama-tama saya ingin mengutip apa yang ada di dalam Wikipedia (ensiklopdia bebas di internet yang dibuat oleh Wikipedia Foundation) tentang perayaan Jumat Agung.

Jumat Agung

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

(Dialihkan dari Wafatnya Yesus Kristus)

Jumat Agung adalah Jumat sebelum Paskah, pada hari raya ini umat Kristen memperingati:
  • Penyaliban Yesus
  • Kematian Yesus di atas kayu salib
  • Penguburan Yesus

Hari ini adalah salah satu hari terpenting dalam kalender umat Kristen dan dianggap sebagai puncak pelayanan Yesus di dunia, oleh sebab itu diberi sebutan 'Agung'. Dalam sistem Yahudi sebenarnya hari ini jatuh pada hari Kamis, karena orang Yahudi merayakan Sabat pada hari Sabtu sedangkan orang Kristen pada hari Minggu. Hari kematian Yesus ini dihitung 3 hari sebelum hari Sabat, sesuai dengan lamanya Yesus dikuburkan, sehingga pada kalender Kristen jatuh pada hari Jumat.

Di dalam Alkitab cerita penyaliban Yesus disebut di dalam keempat Injil, dan didahului dengan cerita Perjamuan Kudus, pengkhianatan Yudas Iskariot, Yesus berdoa di taman Getsemani, penangkapan Yesus, penyangkalan Petrus terhadap Yesus sebanyak tiga kali, Yesus diadili oleh Mahkamah Agama, dan Yesus dihadapkan kepada Pontius Pilatus dan kemudian Herodes; kemudian dilanjutkan dengan kisah kebangkitan Yesus, penampakan Yesus kepada murid-muridnya serta orang banyak, serta kenaikan Yesus ke surga.

Di Indonesia, hari ini yang seringkali disebut hari Wafat Isa Al-Masih, merupakan hari libur nasional. Tanggalnya berbeda-beda setiap tahunnya, mengikuti hari Paskah.

Lalu, karena perayaan Jumat Agung, Perjamuan Kudus, dan nantinya, paskah berpusat pada Yesus maka saya juga ingin mengutipkan bagi kawan-kawan sekalian apa kata Wikipedia tentang Yesus.

Yesus dari Nazaret (kurang lebih antara 6 SM4 SM - 2933) adalah seorang tukang kayu, pengkhotbah/pengajar, penyembuh, guru/rabbi, pembuat mujizat, dan tokoh Yahudi yang paling terkenal; di dalam kekristenan Yesus Kristus juga merupakan Anak Allah, Tuhan, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia; di dalam keislaman, Isa Almasih adalah seorang nabi penting (Nabi Isa).

Nama "Yesus" adalah alihaksara dari bahasa Yunani Ιησους [Iēsoûs], yang pada gilirannya juga merupakan alihaksara dari bahasa Aram atau bahasa Ibrani yaitu:Yeshua, yang berarti : Keselamatan, atau "Tuhan adalah keselamatan", "Tuhan menyelamatkan". "Kristus" adalah gelar dalam teologi juga berasal dari bahasa Yunani Χριστός [Christos], yang dari bahasa Ibrani "Mesias", berarti "yang diurapi" atau "yang terpilih".

Berbeda dengan masa kecilnya yang kurang jelas diketahui (selain cerita kelahirannya), kita memiliki banyak informasi tentang tiga tahun terakhir hidupnya, dan khususnya minggu terakhir, dari keempat Injil di Alkitab serta tulisan-tulisan Paulus dan murid-muridnya yang lain.

Tindakan dan perkataan Yesus yang dicatat dalam Injil merupakan ajaran dasar kekristenan. Yesus mengajar di Galilea dan Yudea, dengan pesan penyangkalan diri dan pengampunan dosa. Hukum terutama yang Yesus ajarkan adalah hukum Kasih, bahwa manusia harus mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.

Yesus dihukum mati di Yerusalem oleh gubernur Kerajaan Romawi, Pontius Pilatus, karena ditekan oleh massa yang gelap mata, dan dieksekusi dengan disalibkan. Yesus wafat dan dimakamkan, namun orang Kristen percaya bahwa Yesus bangkit kembali dari alam maut pada hari ketiga. Inilah Paskah bagi orang Kristen.

Ajarannya pada awalnya disebarkan oleh keduabelas rasul Yesus, dan kemudian juga Paulus, seorang ahli Farisi yang mula-mula menganiaya pengikut Yesus, namun akhirnya bertobat dan menjadi pengabar Injil yang masyhur. Mula-mula ajarannya disebarkan di daerah Israel kepada kaum Yahudi, namun akhirnya juga kepada bangsa-bangsa lain bukan Yahudi, dimulai dari panglima Romawi, Kornelius, hingga akhirnya merambah ke seluruh Asia Minor dan Afrika Utara, daratan Eropa Barat, Eropa Timur, Rusia, benua Amerika dan Australia, dan akhirnya ke Asia, sesuai dengan pesan terakhir Yesus untuk memberitakan Injil hingga ke ujung dunia.

Informasi tentang apa itu Jumat Agung dan Yesus telah kita lihat. Lalu apa maknanya perayaan Jumat Agung atau kematian Yesus bagi kita.

Nah, karena saya sudah bertekad (kata ini terinspirasi dari pak Agus Nalle, penatua di GMIT Kaisarea BTN-Kolhua yang gambarnya ada di dalam artikel sebelumnya...tuuuhhh di bawah artikel ini....yang kumisnya paling mentereng....toooppp aabbissss Gus....) untuk tidak menampilkan artikel yang terlalu panjang maka sekarang saya setop sampai di sini. Nanti, disambung lagi.

Shalom. Tuhan Memberkati

Keterangan.
Gambar-gambar di atas saya kutipkan dari Wikipedia.
Judul gambar (ki-ka):

  1. Christ on The Cross (Diego Valasquez);
  2. The Flagellation of Our Lord Jesus Christ (William-Adolphe Bouguereau, 1825-1905);
  3. The Compassion (William-Adolphe Bouguereau, 1825-1905);
  4. James Caviezel berperan sebagai Jesus dalam The Passion of The Christ (Mel Gibson, 2005).

Rabu, 19 Maret 2008

Sahabat-sahabat baik saya














Inilah gambar kawan-kawan saya yang sama-sama bekerja di Forum Daerah Aliran Sungai (ForDAS) NTT. Suatu lembaga kolaboratif independen yang menghimpun semua stakeholder yang terkait dengan pengelolaan DAS di NTT. Pemerintah, masyarakat hulu-hilir, perguruan tinggi, dan kalangan LSM berhimpun di sini. Apa itu ForDAS dan, bahkan apa kaitan antara savana dengan isu-isu DAS di NTT, akan diulas kemudian. Sekarang, nikmati saja dahulu manusia-manusia gahar yang ada dalam gambar ini (ki-ka):
Mas Budi (Balai Latihan Kehutanan NTT-Nusra), Mbak Merry Manu (YAO-GMIT Kupang), Mas Bayu AV (BPDAS Benenain-Nolemina, Kupang-kawan saya yang sikapnya "kurang terpuji" karena terus menunda mengerjakan proposal penelitian S2-nya ha ha ha ....enggak kok...just kidding... Bayu is one of my best friend that I ever had)), Pak Ir. Agus Nalle, M.Si (Dosen Undana-anak Rote-ahli Pengembangan Wilayah), Mas Kusnadi, SE, M.Si (BPDAS B-N, Kupang) dan......Brad Pitt (..wakakakakak....). Satu orang yang enggak terlihat dalam kelompok itu adalah Mr. Yeni F. Nomeni (WWF) yang mengambil gambar ini. Akan tetapi, karena Mr. Yeni adalah orang baik-baik (ehmmm...) maka saya tampilkan juga gambarnya (gambar kiri). Gambar ini diambil pada tahun 2007 ketika ForDAS NTT mendamping Masyarakat desa Nenas, Mollo Utara di kawasan enklave hutan CA Mutis, TTS melakukan penanaman 20.000 anakan bambu. Mutis (lihat latar belakang gambar di atas) adalah spot altitude tertinggi di Timor Barat dan merupakan salah satu "keajaiban" yang dianugerahkan Tuhan bagi masyarakat Timor Barat. Mengapa demikian? Tunggu saja tanggal mainnya untuk diulas di blogger kita ini.

Tabe" dan selamat menikmati hari libur. Tuhan Memberkati

Selamat Merayakan Hari Maulud Nabi

Bagi kawan-kawan yang merayakannya saya ingin mengucapkan selamat berhari raya. Meskipun saya adalah Kristiani/Nasrani tetapi sebagai sesama warga bangsa/anak bangsa Indonesia, saya ikut bergembira bersama kawan-kawan sekalian. Semoga Keberkahan hari raya menyertai kawan-kawan semua dan menjadi sumber inspirasi untuk bekerja sebaik-baiknya bagi kejayaan Indonesia-NKRI tercinta.

Berikut saya kutipkan dari Wikipedia tentang perayaan Maulud Nabi:

Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem. Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.

Bagaimana tentang sosok Nabi Muhammad. Berikut saya kutipkan juga bagi kawan-kawan yang berbahagia:

Muhammad (bahasa Arab: محمد, juga dikenal sebagai Mohammad, Mohammed) adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah (Rasul) yang terakhir. Menurut biografi tradisional Muslimnya (dalam bahasa Arab disebut sirah), ia lahir sekitar tahun 570 di Mekkah (atau "Makkah") dan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab Saudi saat ini).

"Muhammad" dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji". Muslim mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad S.A.W adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Mereka memanggilnya dengan gelar Rasulullah (رسول الله), dan menambahkan kalimat sallallaahu alayhi wasallam (صلى الله عليه و سلم, yang berarti "semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya"; sering disingkat "S.A.W") setelah namanya. Selain itu Al-Qur'an dalam Surat Ash Shaff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama "Ahmad" (أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti "terpuji".

Nah, begitulah kawan-kawan yang berbahagia. Selamat berhari raya sambil berusaha meniru teladan baik dari sang Nabi yang amat Terpuji itu. Khusus untuk kawan saya Bayu A.Victorino, saya ingin berpesan: tirulah teladan Nabi. Jadilah orang yang terpuji. Nah, menunda-nunda mengerjakan proposal penelitian adalah sungguh-sungguh perbuatan kurang terpuji ...wakakakakak.....

Salam saya untuk Mas Bayu, Paman Siamin, Mas Kusnadi, Mbak CW, Mas Edo, Mas Budi, Mas Mardi, ...semuanya saja......

Wassalam, sahabat anda sekalian
BigMike
Undana-Kupang

Selasa, 18 Maret 2008

Lihat-lihat gambar dulu nanti baru dibahas lagi tentang (savana)



Klimaks apa ini? Di mana?



Nah, kalau yang ini, pertanyaannya bukan klimaks apa tetapi: siapakah ini? Cute enggak sih???



Dear Friends, Howdy, How Are You

Setelah kemarin disibukan dengan urusan komentar dari kawan-kawan terhadap blogger saya maka saya ingin terus melanjutkan wisata savana kita menuju persinggahan baru. Sekedar mengingatkan bahwa wisata kali lalu sudah membahas tentang savana dalam kaitannya dengan 2 istilah baru kita, yaitu suksesi dan klimaks (ehmmm...dua istilah ini selalu mengingatkan kepada proses-proses lain dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi dan.....biologis sehari-hari kita ....ha ha ha...be cool....just have fun....).

Nah, kali ini saya ingin membawa kita kepada pertanyaan yang sangat logis setelah 2 dua istilah tadi diperkenalkan. Apakah klimaks vegetasi NTT???. Apakah klimaks vegetasi di NTT cuma ada satu dan satu-satunya???? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita melihat-lihat dulu rangkaian gambar di atas.

Hari cukup sampai di sini dulu. Soalnya, saya tidak ingin mengganggu kenikmatan kawan-kawan mengagumi tampang cute-nya Brad Pitt from Kupang....ha ha ha ha .....(Brad Pitt-nya barusan disengat tawon sehingga ....membengkak dan gemuk ha ha ha ...) (Eh, narsis itu penyakit bukan seeeecccchhhh.....)

Komentar kawan-kawan terhadap bloger (istirahat sejenak dari topik savana)

Berikut saya menampilkan komentar dari beberapa kawan yang dikirim ke alamat e-mail (michaelrk06@yahoo.co.uk), Komentar-komentar ini sudah melewati proses editing.

1. Dari yang sangat saya hormati dan kagumi: DR, Paul B. Naiola sorang peneliti senior di LIPI Biologi, Bogor. Di masa depan, kalau tentang beliau maka kita harus menyebutkannya sebagai DR. Nailoa-Gewang. Sebagai perbandingan, asosiasi orang tentang DR. J. Fox adalah lontar (Fox-lontar). Tentang Timor adalah Ormeling (Ormeling-The Timor Problem). Senang juga mengikuti teladan keilmuan seperti itu.


Halo Big Mike Savana (supaya dibedakan dari big Mike Indo-Idol),

This is an exellent idea!
Selamat, dengan blogger yang sedang dalam perkembangannya. Salut atas inisiatif ini untuk menarik perhatian berbagai pihak terhadap savana flobamora tercinta (yang juga adalah God's treasure on earth). Baik perhatian dari para pejabat, akademisi, peneliti dalam dan luar negeri maupun grassroot people.
Banyak peluang terbuka karena banyak orang mau membantu. Kalau di searching dari internet, mungkin bisa diperluas jaringan blog savana NTT ini, agar lebih banyak pihak dapat mensuplai ide, saran, pandangan dan kalau perlu research funding.
Harus dimulai dari sekarang, dan disarankan untuk mengirim lebih luas lagi ke sejumlah pihak, terutama yang berkaitan dengan persoalan lingkungan hidup. Sekali lagi, salut atas inisiatif ini. Tidak semua orang mau berkorban atau mau berbuat, karena selain perlu ada driving force, keinginan memberi waktu yang sangat berharga itu, dibutuhkan juga kemampuan IT yang handal (dari proses belajar yang tekun).
Masukkan pula aspek-aspek khas NTT seperti cendana, lontar, kesambi, asam dan.....tentu saja si primadona Gewang, he..he..he. Bagaimana interaksi antara manusia savana dan lingkungannya (seperti hasil studi Mike di Usapi).

Nanti saya kirim alamat elektronik dari dari sejumlah teman di LIPI yang juga adalah sahabat-sahabat alam. Agar mereka juga ikut beri perhatian, sesonde-sondenya saran dan dorongan moril.
Sementara bagitu sa ko!

Salam Paskah, Tuhan berkati!
Shalom

Paul

2. dari DR. Christin Wulandari. Dosen Fahutan Unila Lampung. Sekarang bekerja juga sebagai staf di WWF Indonesia di Jakarta. Tahun kemaren, beliau mempekerjakan saya dan beberapa teman dari ForumDAS untuk isu jasa lingkungan di Lahurus-DAS Talau, Belu

congrats pak Mike.... usulan dari saya menyusul ya...

3. Dari Ir. Pascalis Nai. Tokoh LSM yang tangguh dan terkenal di NTT (SDM). Beliau dan beberapa kawan lain bertanggng jawab terhadap keterlibatan saya dalam Forum DAS NTT sejak tahun 2005 dan juga di Samanta.

Pak Mike,

Senang sekali dengan inisiatif yang sangat cemerlang ini.

Saya belum mempunyai pengalaman tentang hal ini sehingga saya mau mendaftar untuk belajar dari Bapak suatu sat nanti.

Input akan saya beri setelah berhasil mengaksesnya.

Salam,

Paskalis


4. dari Bayu Adrian Victorino, S.Hut. Kawan yang ini adalah staf fungsional pada BPDAS Benenain-Nolemina, Kupang. Bayu merupakan kawan di Forum DAS NTT (bendahara) dan saya pikir merupakan salah satu yang terbaik dalam hal mengutak-utik/digitasi peta/GIS dan sejenisnya. Dia juga adalah mahasiswa S2 saya di MPSAL Undana yang akan melakukan penelitian akhir untuk Tesis. Tidak heran jika dalam komentarnya ada disebut-sebut tentang proposal (dasar mahasiswa).

saya belum tau sejauh mana kemampuan blog admin untuk melakukan/memberikan tampilan-tampilan. saya juga baru ngikutin...

tapi saran saya c, diperbanyak gambar/tampilan yang menarik seperti gambar2 savana, kondisi lahan, sosek de el el..khas ntt

ntt termasuk cantik kok untuk dipublikasikan...

geto dolo boss...

proposal masih "diusahakan"..he he heeee....

Ada beberapa tanggapan lain tetapi masuk ke HP. Tampilan komentar ini memang terkesan narsis tetapi bukan itu tujuannya. Intinya, mengingatkan penulis bahwa banyak agenda yang harus dikerjakan jikalau bolger ini dimaksudkan untuk kebaikan banyak orang.

Sekian dan Salam Hangat
BigMike

Senin, 17 Maret 2008

Savana: suksesi dan klimaks vegetasi

Sebelum kita melanjutkan wisata kita tentang savana, maka mohon ijin untuk mengingatkan bahwa perjalanan kita ada pada titik pertanyaan mengapa savana bisa tampak sebagai padang rumput tetapi bisa pula tampak sebagai hutan.
Guna memahami fenomena tersebut maka perlu diperkenalkan dua buah istilah dalam dunia ekologi tanaman, yaitu suksesi vegetasi dan klimaks vegetasi. Gerangan apakah ini?
Suksesi vegetasi, dan ini pasti berbeda dengan suksesi gubernur dan presiden, adalah peristiwa pergantian komunitas vegetasi dari suatu aras (stage) ke aras berikutnya yang lebih kompleks. Sebagai contoh, ketika pada tahun 1883 G. Krakatau meletus maka daratan pulau Krakatau bersih sama sekali dari tumbuhan. Dua tahun setelah letusan maka tumbuhan pertama adalah ganggang biiru dan hijau di dekat pantai pulau. Lima tahun kemudian, komunitas tumbuhan paku-pakuan mendominasi. Sepuluh tahun kemudian, komunitas rumput tumbuh dan membentuk padang rumput. Dua puluh lima tahun setelah meletus, padang rumput mulai bercampur dengan semak belukar. Pohon Ficus macaranga tumbuh berpencaran di padang rumput belukar tersebut. Lantas, 40-50 tahun kemudian asosiasi pohon mulai membantuk hutan. Akhirnya, seratus tahun kemudian, pual Krakatau telah didominasi oleh hutan hujan tropis. Nah, pergantian dari satu status komunitas ke komunitas lainnya disebut sebagai suksesi. Ketika 100 tahun kemudian, ketika hutan telah mendominasi P. Krakatau maka kondisi ini disebut sebagai klimaks vegetasi. Apa yang menentukan klimaks vegetasi. Ada beberapa hal tetapi yang terpenting adalah curah hujan. Jika curah hujan rata-rata tahunan suatu daerah tinggi (3000 - 4000 mm/tahun atau lebih besar) maka klimaks vegetasi akan menuju hutan.
Namun demikian, klimaks bisa tertahan. Mengapa? Karena faktor alami dan antropogenik (perbuatan manusia). Klimaks harusnya hutan tetapi karena pohon-pohon sering ditebas maka yang terbentuk padang rumput. Dalam keadaan demikian maka klimaks yang terbentuk disebut sebagai klimaks tertahan (sub-klimaks). Maka, bagaimana dengan savana?Mari kita ikuti pendapat beberapa ahli berikut ini.

Jones et al., 1987; Ewusie, 1990; Desmukh, 1992 menganggap bahwa savana adalah klimaks yang sejalan dengan degradasi hujan Sedangkan beberapa pakar lain seperti Shrivastava (1997) menganggap bahwa savana merupakan klimaks karena faktor biotik, terutama api dan penggembalaan. Dengan menggunakan teori struktur vegetasi atau disebut juga spektrum vegetasi, Bourliere dan Hadley (Lal, 1987), mengemukakan pendapat tentang savana dan proses pembentukannya secara komprehensif. Dinyatakan bahwa struktur savana selalu ditandai oleh 1) Strata rumput yang jelas dan merata yang diinterupsi pohon dan semak; 2) Kehadiran api dan hewan perumput; 3) Pola pertumbuhan komponen biotik ditentukan oleh pergantian di antara musim basah dan musim kering.

Berdasarkan struktur seperti ini, Lal (1987) menjelaskan tentang proses suksesi klimaks savana sebagai berikut: hutan savana akan terbentuk jika matriks tanahnya cukup basah dan lembap sehingga mampu menunjang pertumbuhan individu pohon dan kanopi yang rapat. Selanjutnya kerapatan pohon akan semakin berkurang sejalan dengan makin meningkatnya kekeringan. Jika kekeringan berada dalam keadaan ekstrim maka yang terbentuk adalah savana yang nyaris tanpa pohon yang disebut sebagai padang rumput savana (treeless savanna forest). Akan tetapi jika di suatu daerah yang bercurah hujan tinggi, demikian juga kelengasan tanahnya, dan masyarakat seral vegetasi (xere) yang terbentuk adalah savana dengan pohon yang berpencaran maka savana demikian merupakan savana edafik atau savana biotik (open forest). Savana tipe ini disebut juga sebagai savana derivasi (man-made savannah) yang terbentuk karena ada proses konversi lahan hutan. Monk et al. (1997) menamakan tipe savana seperti ini sebagai savana vegetasi sekunder. Mula-mula api yang sering dengan intensitas tinggi akan menghabiskan pohon dan semak asli. Akhirnya, hanya pohon dan semak yang mampu menghindar dari cekaman api yang akan tumbuh mendominasi strata pohon dan semak. Ketika hutan berubah menjadi savana dan digunakan untuk tujuan pertanian maka gangguan akan terus berlangsung. Dengan demikian pengubahan dan pemanfaatan savana berpotensi menyebabkan terjadinya peristiwa retrogresi vegetasi, yaitu suatu proses pembalikan arah suksesi menjauhi klimaks.

Ah, hari ini cukup sekian saja dulu. Agak melelahkan dan mungkin membuat pusing (maafkan daku). Setelah beristirahat semalam, besok kita lanjutkan kembali. Sebagai obat cuci mata maka berikut saya persembahkan gambar umum percampuran rumput, semak dan pohon kecil pada savana di Timor Barat (lihat di atas)

Minggu, 16 Maret 2008

Nomor Induk Dosen Nasional

NIND: 0024076380 Ludji Michael Riwu Kaho 131660815 Universitas Nusa Cendana (001-014)

Berita Lama dan (bukan) Narsis

Ini Bukan narsis tetapi ketika menelusuri google kok ya ada berita lama di tahun 2005 yang mungkin baik diabadikan dalam blog ini. Sori ya, ada hubungan dengan savana tetapi hubungannya adalah saudara sepupu jauuuuhhhhhhhh......he he he

logo SUARA MERDEKA

Line
Sabtu, 12 Maret 2005 KEDU & DIY
Line

lereng merapi

Cek Tekanan Darah Gratis

TEMANGGUNG - Rumah Sakit Kristen (RSK) Ngesti Waluyo Parakan, Temanggung, baru-baru ini mengadakan layanan cek tekanan darah gratis di areal parkir RS tersebut dimanfaatkan masyarakat. Para wanita yang sedang belanja di pasar menyempatkan diri memanfaatkannya. Selain cek tekanan darah, juga sosialisasi kesehatan melalui pemberian buku gratis. (nt-76).

Sekaten Yogya Dimulai

YOGYAKARTA - Acara tahunan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2005 di Alun-alun Utara Yogyakarta, kemarin (11/3) sore dimulai. Humas panitia, Drs Subarkah menjelaskan, selama acara yang berlangsung hingga 12 April 2005 itu, tiket masuk hari biasa Rp 3.000 dan hari libur Rp 4.000 per orang. Upacara peresmian pembukaannya, dilakukan di depan halaman Kantor Pos Besar Yogyakarta.(P58-76a)

Dua Mahasiswi Korban Gendam

YOGYAKARTA - Praktik kejahatan ilmu gendam menimpa dua orang mahasiswi, Hildegunda Wini (20) dan Anna Mariana (21). Kedua mahasiswi yang indekos di Kelurahan Maguwoharjo Kecamatan Depok Kabupaten Sleman itu mengalami kerugian Rp 5.500.000.

Dalam keterangannya kepada penyidik Poltabes Yogyakarta Rabu lalu (9/3), korban mengaku saat kejadian sedang berada di pusat perbelanjaan di kawasan Jl A Yani, Yogyakarta. Ketika berada di counter pakaian, nama mereka dipanggil orang tidak dikenal.

Saat itu pelaku gendam menanyakan alamat sebuah museum. Namun korban menyatakan tidak tahu. Orang yang bertanya tadi kemudian menepuk bahu Hildegunda Wini dan Anna Mariana. Setelah itu, kedua korban hanya mengikuti permintaan tersangka yang meminta dua telepon seluler (ponsel) dan ATM berikut PIN-nya.(P58-76n)

Ludji Raih Gelar Doktor

YOGYAKARTA-Staf pengajar pada program pascasarjana Universitas Nusa Cendana Kupang, Ir Ludji Michael Riwu Kaho MSi, meraih gelar Doktor Ilmu Kehutanan dari UGM Yogyakarta. Pada ujian promosi di Fakultas Pasca Sarjana UGM baru-baru ini. Ia dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude. (P12-76)

Savana (Pengertian, Ciri dan Tipe Savana)

Kawan-kawan yang terhormat, mari kita melanjutkan perjalanan wisata kita untuk mengenal salah satu anugerah Tuhan yang terindah bagi kita, yaitu savana.

McNaughton dan Wolf (1990) dengan menggunakan pendekatan panen biomassa mengemukakan pendapat bahwa savana adalah komunitas tumbuhan yang bersekala regional dan merupakan suatu komunitas antara. Struktur ekosistemnya tersusun atas pohon-pohon yang menyebar dengan kanopi yang terbuka sehingga memungkinkan rumput untuk tumbuh di lantai komunitas. Jika populasi pohon mendominasi maka savana demikian disebut sebagai hutan savana. Sebaliknya jika kehadiran pohon tidak signifikan maka savana demikian adalah savana padang rumput (treeless savana). Pakar silvikultur, Daniel et al. (1995), mengkategorikan savana sebagai hutan. Penulis ini memberi penjelasan yang sangat komprehensif tentang bentuk dan proses terjadinya savana sebagai berikut. Musim kemarau yang panjang dan kering memberikan pengaruh yang nyata terhadap terbentuknya hutan musim atau hutan monsoon. Ciri hutan ini, antara lain, hampir semua jenis pohon menggugurkan daun pada musim kemarau, pohonnya tidak begitu tinggi dan banyak cahaya yang menembus ke lantai. Bila mana curah hujan benar-benar sangat musiman dengan musim kemarau sangat berangin, dan barangkali faktor-faktor lain juga berpengaruh (masalah yang sangat kontroversial), maka hutan musim akan berkembang menjadi savana karena bertambahnya kekeringan.

Nah, lihatlah sekarang bahwa ternyata savana juga harus dimengerti sebagai salah satu bentuk hutan. Bagaimana bisa? Besok kita lanjutkan. Oh, iya, pada gambar di atas saya mencoba membandingkan "kecantikan" antara savana dengan "isteri saya" yang sedang berjalan melintasi savana Ekateta, Timor Barat (gambar diambil pada tahun 2005).. Entah apa pendapat anda tentang keduanya tetapi menurut saya kedua-duanya sama cantik. OKI, saya mencintai keduanya. Kedua-duanya memberikan ayat-ayat cinta bagi saya. Dari isteri, saya mendapat anak-anak saya. Dari savana, saya mendapatkan gelar dan karir saya. So, Ya savana dan juga Ya Dolly, isteri saya. Ehmmm....(maruuuukkkk...serakkaahhh ....ha ha ha...)

masih juga tentang savana


Pengertian, Ciri dan Tipe Savana

Smith dan Smith (2000) menyatakan bahwa savana, (Spanyol = cavennna), mula-mula dipakai untuk menyebutkan daerah padang penggembalaan tropik akan tetapi belakangan ini savana dipahami juga sebagai hutan dan padang belukar. Ramade (1996) dan Shrivastava (1997) menyatakan bahwa savana adalah padang rumput tropika sedangkan Humpherys (1991) menyatakan bahwa savana adalah salah satu bentuk hutan musim meranggas tropika.

Istilah savana pertama kali dipakai orang untuk menamakan suatu bentuk lanskap yang digunakan sebagai padang penggembalaan secara kontinyu, penutupan tanah yang rapat dengan atau tanpa kehadiran pohon yang jika ada akan membentuk asosiasi yang menyebar (Jones et al., 1987). Deshmukh (1992) menyebutkan bahwa savana adalah ekosistem yang pada strata rendah ditumbuhi oleh tumbuhan herbaceous terutama rumput C4 dan secara nyata rumput-rumputan ini membentuk asosiasi bersama dengan komponen pohon dan semak belukar. Menurut Deshmukh, savana secara tradisional digunakan sebagai kawasan perladangan, padang penggembalaan dan hutan.

Baiklah kawan-kawan, hari ini saya cukupkan dulu. Sekarang coba bandingkan gambar savana di Timor Barat, yang saya tampilkan kemarin dengan gambar savana di TN Serengeti, Afrika(lihat atas). Bagaimana anda membandingkannya?