Sabtu, 17 Mei 2008

Kasih Itu Kuat. Kuat Belum Tentu Kasih. Lemah Lembut Merupakan Gambaran Kasih. Kasih Tidak Berarti Lemah Lunglai. Kasih Kok Repot? (The Last)

Sahabat bloggers yang saya hormati, akhirnya sampailah kita pada bagian akhir seri penulisan kali ini. Sebenarnya saya kurang sehat tetapi saya coba untuk sejenak melupakan kepenatan saya guna melanjutkan “tugas” saya ini.

Saya akan memulai dari sini. Anda tentu sekali waktu, entah kapan itu, pernah menyaksikan film dengan adegan seorang raksasa kuat yang membiarkan dirinya ditinju oleh lawannya yang kecil dan lemah. Ketika pipi kirinya ditampar dia lalu menyodorkan pipi kanannya juga untuk ditonjok. Lalu dibiarkan juga perutnya, kakinya, …dan............ akhirnya seluruh bagian tubuhnya dihajar... chhhiiiiaaatttttt…..hhhiaatattt….bbbuukkkhhh….plllaaakkkhhhh…buuukkkhhhh…..
ngekkhhhh
……berdebam hujan pukulan ke arah si Raksasa. Apa yang terjadi, Robohkah sang raksasa????? Sialnya, Tidak. Dia malah tertawa-tawa sambil mengejek si kecil. Pukul lagi….Pukul lagiiii….tabok terus ..sesukamulah…kata si Raksasa mengejek. Asiknya lagi, sambil menerima hantaman si kecil, sang raksasa terus berusaha mengisap rokok, minum angggur makan roti, isep-isep gula sabu….dan ….pokoknya nyante amat bro. Hujan pukulan tidak dirasakannya sama sekali. Bahkan akhirnya, si kecil itulah yang termenggeh-menggeh kecapaian dan akhirnya, ….. roboh berkalang bumi. Tidak perduli apakah betul ada film seperti itu tetapi ijinkan saya bertanya. Apakah sikap si Raksasa adalah suatu kelemahan? Menurut saya tidak.

Sikap ini mungkin sedikit memberikan ilustrasi bahwa membiarkan pipi kiri dan kanan ditampar orang tidak selalu harus merupakan pertanda kelemahan. Kalah. Konyol dan Pecundang. Tidak. Tetapi apakah iman seperti itu merupakan contoh baik? Saya pernah punya pengalaman. Di tahun 1998, bulan November. Ketika itu, di Kupang, sekelompok pemuda, atas nama komunitas Kristiani yang teraniaya di tempat lain lalu berencana mengadakan hari solidaritas. Yang direncanakan adalah diadakannya do’a di jalan-jalan. Didirikannya posko-posko keprihatinan di sepanjang jalan seluruh kota. Rencananya, posko-posko tersebut akan didatangi oleh kelompok pemuda tadi lalu akan diserahkan karangan bunga berduka cita sebagai tanda prihatin atas dibakarnya dan dirusaknya gereja-gereja di tempat lain di Indonesia. Ketika itu, ada yang menertawakan rencana seperti itu. ….Ah, apaan tuh…saudara-saudara kita di tempat lain dianiaya malah kita cuma berprihatin, berdoa, dan mengirimkan karangan bunga duka cita. Lemah. Tidak Praktis. Sontoloyo. Pecundang. Akan tetapi, lihatlah...di belakang semua itu.... saya menyaksikan adanya berpasang-pasang mata yang berkilat-kilat. Tangan yang terkepal menggenggam tinju. Dengus nafas yang keras menahan amarah. Dan.....bbbblllllaaaaammmmmmmm......3 hari Kota Kupang membara. Api. Bakar. Hantam. Rusak. Lempar. Pukul. Cincang. Jarah......Kupang Rusuh. Satu minggu kemudian, kota Kupang seperti kota mati. Satu bulan berikutnya, orang tidak berani pergi ke mana-mana. Satu tahun sesudah itu, orang Kupang kesulitan bepergian ke mana-mana di atas jam 7 malam karena tidak ada kendaraan umum yang bersedia beroperasi di atas jam 6 petang. Pernikahan salah seoarang adik saya pada bulan Desember 1998, satu bulan setelah Kupang membara, kocar-kacir karena tamu-tamu undangan pada takut datang ke tempat acara. What’s up?

Itulah contoh, ketika si kuat menggunakan kekuatannya. Demi alasan keadilan maka dendam perlu dibalaskan. Di tempat lain ente kuat dan ente boleh menang. Tetapi di sini. kamilah sang raksasanya. Maka mengamuklah sang raksasa. Si kecil yang tadinya dibiarkan memukul lalu gantian dihajar habis-habisan. Sampai mabuk dan, akhirnya, rebah memeluk dan dipeluk bumi. Sukakah Yesus? Maaf, Yesus sama sekali tidak menyukai iman yang sombong. Kasih yang jumawa. Mentang-mentang besar, bertindak seenaknya. Iman Kasih menurut Kristus adalah Iman yang tidak bermegah diri dan mengandalkan diri tetapi berserah penuh kepada Allah. Sebaliknya dari nafsu ingin membalas dendam, Kasih rindu untuk mengampuni. Apakah ini kelemahan? Apakah ini sontoloyo? Apakah ini pecundang?

Sampai di sini, kita mungkin kembali ragu. Apakah Kasih adalah fatalistis. Atau, seperti dugaan Nietzsche, suicidal? Ternyata dari kisah sang raksasa dapatlah kita belajar bahwa sikap nrimo ternyata bisa datang, justru dari kekuatan. Berasal dari kepercayaan diri yang tinggi. Lalu, apakah memang kita diminta Yesus untuk terus menerus menerima tamparan? Apakah kita diminta untuk bersikap mentolir kejahatan? Apakah Kasih adalah pembiaran (laize faire)? Perhatikan ini: ketika Yesus, dengan mata tertutup, ditampar oleh horodadu (Sabu = serdadu) Romawi. Apakah Dia menyodorkan pipi-Nya untuk ditampar lagi sambil berkata, nih pipi gua yang satunya. Tampar lagi dong. Saya kira tidak ada satupun ayat Alkitab yang mengkonfirmasi hal itu. Jika begitu maka apakah Yesus tidak konsisten dengan ucapan-Nya sendiri? Jika kita mengatakan demikian maka kita tergolong S3, yaitu sungguh sangat salah. Esensi ucapan Yesus tidaklah menyangkut tampar menampar. Kita bicara esensi bung. Esensi. Misalnya, ketika Yesus mengatakan harus menjala manusia, apakah Petrus dkk. lalu berkeliling menebar jala ke atas kepala orang-orang? Tidak. Karena bukan itu esensinya. Lalu, apa esensi yang ingin dikatakan Yesus lewat ucapannya tentang tampar menampar. Adalah ini.

Ketika Yesus ditampar, Dia tidak menyodorkan dirinya untuk ditampar lagi secara mengenaskan. Sebaliknya, dengan penuh wibawa,Yesus berkata: Apa sebabnya?, apa salah-Ku sehingga kalian menampar Aku? Luar biasa, Yesus yang sedang dieksekusi sebagai terdakwa malah berbalik menjadi hakim yang meminta pertanggungjawaban penganiaya-Nya atas apa yang dilakukan mereka terhadap Yesus. Dalam keadaan hampir mati disiksa, Yesus tidak merengek meminta diampuni. Yesus tidak menjilat-jilat supaya aman. Yesus tidak menghindar, tidak berameliorasi dan atau tidak menyamarkan diri-Nya terhadap dunia hanya agar selamat. Yesus tidak menjual keyakinan supaya disenangi banyak orang. Tidak menukar keyakinan dengan kedudukan. Dalam keadaan begitu lemah, Dia malah berteriak: di mana keadilan. Oiiiihhh, dahsyatnya. Yesus tidak menyerah. Kitapun seharusnya begitu. Tidak menyerah kepada kejahatan. Terus tegar meneriakkan keadilan meskipun menderita. Meskipun ditampar.

Jikalau tidak menyerah maka apa alternatifnya? Menurut hukum dunia, ketika ditekan maka manusia memiliki dua naluri kodrati, yaitu menyerah dan, satu lagi: membalas. Inilah naluri asali (basic instinck) setiap organisme ketika dicekam. Inilah naluri kodrati. Sikap membalas, menurut hukum dunia, sungguh terpuji. Ada 3 jenis keadilan dunia dan salah satunya adalah keadilan retributif, yaitu setiap orang memperoleh setimpal dengan apa yang dilakukannya. Yang baik diberi pengharagaan yang salah dihukum setimpal dengan kesalahannya. Oh, prinsip yang sangat manusiawi. Sangat kodrati. Yesus sendiri tidak menafikkan prinsip keadilan semacam ini. Salah satunya, ketika Dia berbicara tentang talenta. Setiap kita akan diganjar berdasarkan perbuatan kita.

Lalu, di sinilah ”keajaiban” Yesus. Di sinilah keutamaan Yesus di banding siapapun juga. Yaitu, ketika Yesus menawarkan alternatif lain yang bersifat adi-kodrati. Yang ilahi. Sesuatu yang sebelumnya hanya dimiliki oleh Yesus sendiri. Apa itu? Dibandingkan membalas, Yesus lebih suka mengampuni. Ketimbang membalas, Yesus lebih suka mengasihi. Ketika kita mampu mengendalikan naluri kodrati kita untuk membalas maka itu berarti kita mampu mengontrol nafsu kita sendiri. Anda Tahu apa yang menjadi esensi perkataan Yesus tentang kewajiban warga Kerajaan Allah untuk memikul Salib? Yes, anda benar. Kita wajib mengendalikan nafsu kita. Nafsu kita itu adalah Salib kita. Kalau ini kita lakukan maka kita sungguh berhak memiliki sesuatu yang menjadi milik semua warga Kerajaan Allah, yaitu KASIH sejati. Yang adi-kodrati. Yang Ilahi.

Akhirnya, sebagaimana memikul Salib adalah tindakan yang sungguh sangat repot dan berat maka mengendalikan hawa nafsu juga tidak kalah repot dan beratnya Kalau begitu , apakah melaksanakan Kasih sungguh merepotkan? Betul sekali: sungguh repot. Tetapi, adakah yang lebih mulia dari pada mengasihi? Dengan Kasih, kita menunjukkan kepada dunia, bagaimana kita memanfaatkan kekuatan yang kita miliki. Bukan untuk melanggengkan permusuhan, tapi mendatangkan perdamaian. Bukan untuk melukai, tapi menyembuhkan. Ah, dahsyatnya sifat Kasih yang ilahi ini. Dan sungguh-sungguh: anda, dan juga saya, yang kodrati ini, dapat memiliki Kasih Ilahi itu. Syaratnya, lagi-lagi, cuma 1. Hanya 1: Pikul Salibmu.

That's All Folks.

Selamat berhari Minggu. Tuhan Memberkati

41 komentar:

Anonim mengatakan...

Sidang pembaca blog yang saya kasihi, akhirnya saya sampai jua pada 'ujung' pandangan saya ttg kasih yang menjadi pusat diskusi kami.

Kasih itu lemah lembut, tetapi ia tidak lemah apalagi oportunis." Apa maksud saya? Persis seperti yang ditulis oleh Bigmike, "Ketika Yesus ditampar, Dia tidak menyodorkan dirinya untuk ditampar lagi secara mengenaskan. Sebaliknya, dengan penuh wibawa,Yesus berkata: Apa sebabnya?, apa salah-Ku sehingga kalian menampar Aku? Luar biasa..."

Yesus saat dianiaya dan hampir matipun masih berkata JUJUR & KEADILAN.

Menyikapi 'badai topan dunia' kami, umat Kristiani' sering menjadi amat 'overwhelmed.' Pilihan kami menjadi sangat kodrati: Pasrah; Oportunis; Atawa Membalas.

Panggilan kita sebagai anak-anak Tuhan: Menjadi berkat bagi semua org -Kejadian 12:2; Mengasihi semua org -Lukas 10:25-37 ; Dan mengusahan kesejahteraan bagi semua org -Yeremia 29:7. Ini adalah panggilan Ilahi buat kami semua dengan segala resiko.

Yesus telah memberi contoh, terpanggilkan kita? Semoga.

@Bigmike

'Pertapaan" di 'cafe' ini memang sungguh asyik, dari sebuah renungan, menjadi 3. Terima kasih. Tuhan berkati saudara.

Anonim mengatakan...

Aku baru pulang Greja. Mbaca tulisan ini mengapa ya kok aku jadi terharu? Matur Nuwun mas Mike (Anto, Kota Gudeg)

Anonim mengatakan...

@Bigmike

Wah kelupaan rek, komentar #1 itu dari saya :)

@Anto

Sama spt sdr, tulisan sdr bigmike memang menyentuh. Lebih menyentuh kesaksiannya atas ayahandanya--lihat box chat!--yg setiap hingga akhir.

Hal mengikuti teladan sang junjunganku, aku ingat syair lagu ini:

S'dikit demi sedikit
Tiap hari tiap sifat
Yesus mengubahku

Sejak kutrima Dia
Hidup dalam AnugerahNya
Yesus mengubahku

Dia ubahku, Oh Juru Selamat
Ku tidak mau seperti yang dulu lagi
Meskipun nampak lambat
Namun kutahu
Ku pasti sempurna nanti



Selamt hari minggu dan salam kasih!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Sahabat blogger: saya baru saja mengedit kembali posting saya karena banyak kesalahan pengetikan dan beberapa koreksi lainnya. Saya, sekali lagi, tidak sedang memamerkan "pengetahun" saya. Saya cuma sekedar menulis mengikuti bisikan dari dalam hati saya. Saya duga itulah "Roh Kudus". Jadi, nikmati saja tulisan-tulisan ini apa adanya. Selamat Hari Minggu. (Bigmike)

Anonim mengatakan...

Matur nuwun mas -nk- . Aku baru kemaris lusa mengetahui blog ini. Pas posting I tentang kasih. Aku tertarik permainan kata-kata Bigmike. Aku pikir nih orang "Jogja banget". Ternyata betul. Bigmike se Almamater dengan aku di UGM. Aku lagi membaca tulisan-tulisan sebelumnya. Wah, asyik tuueeennaannn. Luueeeghiittt. Hallo Bigmike, piye carane kalo kita terbitkan saja kumpulan tulisanmu iki?

Gusti Yesus memberkati (Widyantox, Jogja)

Anonim mengatakan...

Pak Mike, sungguh terberkati anda. (Patrice)

Anonim mengatakan...

@ -nk-

Ketemu lagi di edisi akhir ini.

Pertama, meski Ama punya komentar di edisi II agak panjang bahkan bawa2 nama Alm Pdt-ED, tp beta liat Ama tokh tdk dpt lepas dr lingkup "paradox of life". Artinya, Ama hanya nampaknya sj mempersoalkan KASIH itu lemah ato belakangan malah oportunis, tp toh ternyata tdk menolak bhw KASIH itu justru mjd sumber kekuatan kristen utk mengekang diri dan tdk bereaksi naluriah binatang dg aksi2 membalas dendam. Barangsiapa punya KASIH, ia dpt menghadirkan "Kerajaan Allah", bukan kerajaan manusia. Ada byk contoh kasus para nabi yg maunya menghadirkan kerajaan Allah tp krn tdk pake KASIH, mk ahirnya yg muncul malah kejaraan manusia, sang nabi malah mjd Raja, bkn Allah.

Kedua, membandingkan contoh Amerika dengan Indonesia spt yg Ama lakukan itu, bagai mur dan baut yg tdk cocok ukurannya. Tantangan sosial budaya dan politik membentuk perilaku teologis berbeda antara manusia di dua wilayah itu, Mas. BigMike yg ahli ekologi bilang, laen padang laen belalangnya. Krn itu, ketika org kristen amerika merasa perlu memprotes Wallmart, org kristen indonesia merasa lbh perlu protes kenaikan BBM, dg catatan tdk hrs memmbawa-bawa simbol kritennya di jalan-jalan.

Ketiga, belajar dr Gandhi, kita tau bhw utk melawan tdk perlu dg bikin pasukan, mempersenjatai diri, angkat panji2 kristen, dan bunuh org. Utk melawan tdk harus perilaku kristen Amerika mjd satu2nya teladan. Di sini KASIH mendapat makna yg tepat. Mmg diperlukan jurus cerdik spt ular tp tetap tulus spt merpati. Dg dmkn, oportunistik itu bukan KASIH krn ada masalah dg ketulusan berbuah kelicikan. (Wilmana)

Anonim mengatakan...

Ah, mirip widyanto dari kota Gudeg. Gw balik Gereja langsung nyari internet udah niat nyari bagian akhir seri tulisan Bigmike tentang kasih. Sama juga ama Wid, gw tergetar membayangkan Yesus yang sudah remuk redam tetapi GAGAH mempertanyakan KEADILAN. Sungguh malang jika kita tidak mau meneladani YESUS. Kemarin demo BBM di HI gw malah pengen banget ngancorin para muke gile yg nyusain rakyat. Sorry bro. YESUS memang dahsyat dan ajaib. Qt mampu menirunya enggak ya (Erick)

Anonim mengatakan...

Tapi beta masih bingung ada ungkapan yang bilang "di ujung rotan ada kasih" jadi pukul sa kan kitong pung maksud ju bae... aduh kalo beta sih maunya rubah sa jadi "di ujung rotan ada sakit". ha..ha. tentu ini bukan satu perwujudan kasih.

ah tapi emang betul. terlepas dari masalah tampar-menampar memang kasih dengan berbagai "kenamapakannya" harus diwujudnyatakan di dunia atau yang paling gampang di kitong pung sekitar.

Syaloom. damai Tuhan menyertai

(nrk)

Anonim mengatakan...

@Wilmana

Bisa jadi kita berdua berbeda arah, saya ingin ke Barat sedang sdr ke Timur. Tapi apapun, ujung daripada argumentasi yg saya bangun dari awal, adalah panggilan umat Kristiani untuk berbicara jujur/keadilan dengan segala resikonya. Dan saya menangkap sdr pun tidak menolak ini. Nampaknya saja tetapi sebenarnya tidak. Begitu???

Hal Pdt Ekadarmapeture, saya memang membawa-bawa pikirannya disini karena memang relevan. Krisis teologia umat Kristiani di Indonesia memang sudah akut. Ini tidak dpt disangkal. Begitu???

Tentang contoh di Amerika dan Indonesia, yang satu memprotes Wal-Mart sedang yg lain memprotes kenaikan harga BBM saya pikir betul. Lain ladang lain persoalan. Tetapi nampaknya sdr juga tidak menolak bahwa panggilan kekristenan diladang yg berbeda ini sama saja sejatinya. Sama-sama ingin ada kejujuran/keadilan. Begitu???

Begitu saja... akhir kata, bolehkah saya simpulkan bahwa tampaknya saja kita berbeda, tetapi hakikatnya sama?

Salam kasih.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@Wilmana - Part 2

Maaf ada poin krusial yg saya lewatkan. Sdr katakan saya tidak bisa lepas dari lingkup 'paradox of life.' Kebenarannya jauh daripada itu.

Saya memang mempersoalkan kasih yang saya sebut sontoloyo yg berciri pasrah, fatalistik dan oportunis. Kasih versi kami-kami ini yg disebut bigmike sebagi bentuk kekebalan dan kedegilan kita. TETAPI saya TIDAK mempersoalkan kasih yang Ilahi itu.

So... kasih yg Ilahi itu betul, amen to that! Sedang kasih yang pasrah, fatalistik dan oportunis itu yang sontoloyo. 2 hal yg berbeda bukan?


@Widyantox, Jogja

Salam hangat dari 'down under.'


-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Satu lagi bahan renungan yang kita dapat dari pak Mike. Tuhan memberkati anda (Yossie)

Anonim mengatakan...

Di sinilah keunikan teologia Kristen. Anda memiliki KASIH. Hanya saja, saya mengutip Gandhi, "sekiranya perilaku orang Kristen sama dengan pengakuan Imannya, saya akan menjadi Kristiani". Sayang sekali. >>Salam dari Kuta, Bali<<

Anonim mengatakan...

@Kuta Bali,

You nailed right on the target. Well said my friend!

-robert-

Anonim mengatakan...

Mr Kuta bikin kita pengikut Kristus malu. Tapi jangan menyerah pak MIke. Berusaha terus menggerakan jiwa-jiwa.Kami di Jogja bangga pada pak MIke karena teruss berdengung di Pasca contog cara belajar di pasca UGM secara cepat dan cemerlang. Itu contoh orang Kristen yng berusaha menyesuaiakan perkatan dan perbuatan. Syalom. (Petern, Jogja)

Anonim mengatakan...

@ -nk-

Part One

Soal keadilan/kejujuran, saya setuju. Tp persoalan Ama yg sy kritik adalah terlalu cepat menjenalisir kristen indonesia seperti itu atas dasar perilaku kristen amerika. Padahal saya tau betul bhw Ama tidak pernah secara mendalam berpartisipasi aktif dalam pergumulan gereja-Nya di Indonesia, paling tidak di lokus gereja Ama. Menilai secara deskriptif memang baik, tapi lbh obyektif adalah jika kita mengalami langsung di lapangan. Bisa jadi Ama adalah orang pertama yang kabur menyelamatkan diri ketika gerombolan FPI datang dengan parang dan pentung. He he he.. Krn itu jangan jadi Penonton bola yang hanya bisa merasakan susahnya lari2 anjing di lapangan.

Soal Alm Pdt ED, kesimpulan beliau itu baik, tapi tidk bisa dijeneralisir apalagi sebagai satu2nya kebenaran berteologi. Krn sebagai ilmuwan, beliau layak bicara begitu. Tp sebagai praktisi, beliau bahkan tidak mampu berbuat apa-apa utk mencegah munculnya durjana macam Pdt Nathan Setiabudi di gereja mereka, GKI Jabar. Ada baiknya kita tdk membenturkan teori versus praktek, tp masing-masing memang berjalan sesuai porsinya.

Part II

DLm pandangan saya, "Paradox of life" yg ente munculkan di sini adalah mengenai keadilan/kejujuran. Ketika kita menilai diri sendiri ato pihak lain sdh jujur/adil, padahal baru pd tahap jujur/adil bg diri sendiri. Msh jauh dr jujur/adil versi KASIH Kristus.

Terakhir, sy setuju bhw kita jg sdg ber-paradox ttg jujur/adil. Ente mempersoalkan kristen indonesia dr luar sana, sy bersuara dari dalam sini. Yg bikin beda ternyata perspektifnya saja, tp dua2 berjuang utk spy bisa lbh jujur/adil. Paradox, bukan? (Wilmana)

Anonim mengatakan...

...cut...

Bisa jadi Ama adalah orang pertama yang kabur menyelamatkan diri ketika gerombolan FPI datang dengan parang dan pentung.

...cut...

Bisa jadi sdr tetapi bisa jadi juga kalau sudah 'kepepet' apa boleh buat :)

Bicara soal Kasih yang Ilahi itu lain dengan praktik. Ujaran kata Gandhi yg dikutip oleh 'anonim' dari Kuta, Bali menjadi cerminan buat saya dan saya kira kita semua.

Ya, ya, saya bisa menangkap 'ketidaksetujuan' sdr Wilmana terhadap 'teori' pdt ekadarmaputera. Sdr Wilmana memang punya kebenaran sesuai 'porsi' sdr, tetapi saat yg sama ketika sdr keluar dari 'porsi' yang sdr sedang lakoni, bisa jadi 'teori' pdt eka betul adanya.

'Porsi' saya memang sekedar melihat dari jauh, dan tentu berbeda dgn sdr yg berada dilapangan. Tetapi saya harus jujur katakan kepada sdr, dari jauh, saya melihat banyak sekali kelemahan. Tetapi memang akhirnya kita hanya bisa menilai sesuai porsi masing-masing.


Begitu saja dan saya sangat beruntung bisa bertukar pikiran dengan sdr Wilmana ini.

Salam kasih.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Untuk Wilmana dan -nk-

Ada kesalahpahaman teoritis tentang Iman yang "oportunis". Alm. Pdt. DR. Eka Damraputera tidak mengatakan bahwa ada jenis iman yang oportunis. Yang dikatakan adalah resiko dari iman yang berusaha melakukan penyesuaian diri terus menerus adalah dapat "termanifestasi" kedalam sikap oportunis. Sebagai sebuah kata, "oportunis" memang "berkonotasi" negatif. Istilah yang dipakai oleh Almarhum adalah konformisme. Perumpamaan yg dipakai Alm. Pdt Eka adalah ada org yg karena begitu takutnya terhadap resiko maka ketika kepadanya ditanyakan oleh penguasa berapakah 2 x 2 maka jawab si konformis ini adalah: "terserah bapak sajalah". Maka selamatlah dia meskipun dia sama sekali tidak mngatakan kebenaran. Demikianlah saya meluruskan diskursus ini agar tidak keliru. Menurut tradisi ilmiah, karena sudah saya kutip sebagai pendukung teori yg saya bangun maka harus dikatakan bahwa saya bersetuju dengan itu. Konsekuensinya, saya harus ikut bertanggungjawab. Silakan meneruskan diskusi anda berdua jika dirasakan perlu. Saya tidak mencampuri substansi. Biar kita semua belajar. Sayapun harus belajar juga dari tulisan saya in order to find out a new frontier. Begitulah ilmuwan.
selamat berdiskusi. Tuhan Memberkati. (Bigmike)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike

Trims atas konfirmasinya.

@ -nk-

Trims atas pengertiannya. Sy tidak punya komentar lagi kecuali kesimpulanbhw,

Tujuan saya ingin memanfaatkan pemikiran Ama utk dijadikan kasus nyata ttg "Paradox of Life" yg Ama titip kpd BigMike. Seringkali Ama deng beta sdh merasa ngerti sepakbola tp ternyata baru ngerti sbg Penonton. Seringkali kita merasa sudah memiliki kebenaran, tp ternyata baru kebenaran versi kita. Paradox of Life dr Ama itu jelas menyadarkan bhw byk konflik timbul krn kita lupa akan KASIH. Kasih yg tdk "self-rightious", Kasih yg tdk "truth claim", Kasih yg lbh dulu menunjuk diri sendiri ketimbang org laen. Kasih yg jauh dari pementingan diri.

Sorry, krn utk ini saja, musti ajak Ama dola-dali berputar-putar jauh. He he... BigMike pasti yakin, dola-dali ini salah satu warisan Guru Tua.

@ -nrk-

"Di ujung rotan ada sakit" dan "Di ujung rotan ada berkat", itu jg paradox. Fatamorgana perbedaan yg bisa bikin org bertengkar soal "sakit" dan "berkat". Pdhl sapa berani bilang bhw "sakit" itu bukan bagian dr "berkat" juga? Ada anak yg merasa penyakit bapaknya adalah berkat krn gara2 sakit itu, Bapaknya jd stop kebiasaan marah2 plus rotan di rumah. Inga jg pada penggalan syair lagu, "suka duka dipakai-Nya untuk kebaikanku, ...".

-nrk- yg su mau ambil S2, pasti tau maksudnya. (Wilmana)

Anonim mengatakan...

Kritikan dari kawan di Kuta Bali harus menjadi cermin. Kupang yang katanya kota KASIH malah amburadul Walikota cuma sibuk berwacana. DPRD bolak-balik bicara tidak bermutu. Jalanan kota dikuasai oleh ojek dan sopir angkot yang tiap hari meghasilkan orang mati di jalanan. Pak Mike, setelah BLAAAMMM itu, Kota Kasih kita bukan bertambah baik malah sebaliknya. Apakah itu hukuman Tuhan? Tapi, saya beterima kasih atas tulisan pak Mike. Sangat baik dan menggugah (Larry)

Anonim mengatakan...

@Wilmana,

Paling tidak begini, dola-dali kami disini telah mendatangkan berkat bagi sidang pembaca blog yang lain. Dari sebuah renungan menjadi 3. Saya sangat senang bbrp pembaca bahkan tidak sabar membaca renungan berikutnya.

Tentang dola-dali yang sdr Wilmana sebut-sebut itu, saya jadi ingat saudara kandung saya --sebut saja 'bv' namanya-- yang amat saya kasihi. Kalau sdr berjumpa dengannya, sdr akan takjub dengan dola-dalinya. Luar biasa.

Saya juga punya saudara kandung satu lagi, kali ini sebut saja namanya 'bl.' Yang ini dola-dali-nya sudah sangat tinggi, bahkan berkat talentanya ini, dia sudah meraih gelar 'Dr' tapi bukan doktor dola-dali lho ya :)

Tapi kedua kakak saya ini dola-dalinya belum ada apa-apanya dibanding ayahanda saya. Ini RAJANYA dola-dali. Walau begitu, dola-dalinya bukan dola-dali kosong, tetapi 'berisi.'

Begitu saja dan salam dola-dali.

-nyong kupang-

ps. Sekilas info:

Sidang pembaca, dola-dali itu adalah sebuah istilah kata dari Kupang yang artinya 'pandai' bicara. Kalau saudara berdebat dengan seseorang yang tingkat dola-dalinya sudah tinggi, sdr tidak akan pernah bisa mengalahkannya. Hanya saja, dola-dali itu 'border line' dengan cerdik nan 'licikus munafikus'.

Anonim mengatakan...

Sekedar ingin membuka 'new frontier.'

@Larry

Saya dapat merasakan 'kekesalan' sdr ttg ironi 'Kota Kasih' tetapi kira jangan terburu-buru untuk katakan kondisi yang ada adalah hukuman Tuhan. Saya pikir tidak!

Kami ini mahluk ciptaan Sang Khalik (SK) yang berkendak bebas. Saya amat yakin kebebasan yg diberi SK ini adalah 'one of the greatest gifts ever.' Dus, kami bebas menjadi sejahtera atawa sebaliknya, bebas merusak segala sesuatu yang baik.

Yang saya amati dari jauh, Kupang yang kata sdr amburadul itu tidak berbeda jauh dengan kondisi di 'kantong-kangtong' Kristen lainnya di Indonesia. Menarik untuk dikaji,
mengapa Kekristenan 'gagal' memberi konstribusi positif terhadap pembangun daerah. Ini aneh bin ajaib.

Saya ingin ajak anda membuka wawasan sedikit lebih luas. Lihatlah negara-negara hebat di dunia ini, sekedar contoh Amerika, Inggris, Perancis, Jerman dll. Apa yang membuat mereka luar biasa? Apa nilai-nilai dasar mereka? Jawab saya: Kekristenan. Pertanyaan, kalau mereka Kristen sama dengan kami, mengapa mereka lebih maju? Jawab saya, Kekristenan di negara maju adalah Kekristenan yang Ber-etika (Baca: Protestant Ethics). Hal ini pasti sdr kenal siapa itu Max Weber.

Apa itu Etika Kristen? Jujur, Adil, Kerja Keras, Tepat Waktu dll! Pertanyaan berikut, mengapa Kekristena di negara maju memiliki Etika Kristen, kami tidak?

Karena ketika 'bangsa kulit putih' datang ke negeri kami, mereka hanya membawa 'iman'nya saja, tetapi tidak mengajarkan kami etikanya. Mengapa begitu? Karena tindakan menjajah negeri kami sangat tidak etis sehingga penjajahpun diam ttg etika kekristenan itu sendiri.

Kekristenan tanpa etika ini membuat kami gemar bernyanyi, "Walau saya susah, menderita dalam dunia, saya mau ikit Yesus, sampai slama-lamanya."

Akhirnya, bagaimana menumbuh kembangkan Etika Kristen ditengah amburadulnya Kota Kasih??? Sulit menjawabnya bukan? Paling tidak, mari mengulang senandung lagu ini:

"Walau saya susah, menderita dalam dunia, saya mau ikit Yesus, sampai slama-lamanya.


Salam kasih.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

wilmana..

itulah yang bikin beta bingung. ungkapan di ujung rotan ada kasih atau ada sakit. secara pribadi beta mau bilang di ujung rotan ada sakit tapi inilah didikan yang beta terima, beta pung bapa, beta pung om-om malah beta pung opa ju beta yakin sonde luput dari "sistem pengajaran" model begini.

yang paling bikin heran dengan pengajaran inilah yang bikin kitong "jadi orang" bukan jadi monyet (beta kutip istilah dari opa tercinta).. ha...ha.

bikin bingung tapi nyata. nah kalo begitu beta berubah pikiran sa (beta memang suka plin-plan na) jadi setengah dengan pelan-pelan tapi keras juga beta akan terapkan

thanks....

(nrk)

Anonim mengatakan...

menyimak perbincangan sodara wilmana n nk begitu menarik, sangking menarik saya menemukan istilah2 yang lama tidak terdengar, dan sekaligus lucu karena sebutan semacam "licikus munafikus".
baik, bicara istilah2 tadi saya sendiri teringat dengan beberapa kenalan lama sebut saja yang satu "L" dan yang satunya "S". kedua orang ini memiliki sifat dan karakter yang rada mirip seperti sedang diperbincangkan oleh sodara wilmana dan nk. menarik karena secara tidak sengaja karena kemiripan (he he mudah2an tidak sama, tp kalopun sama mungkin mereka bersodara he he...). si L saya kenal karena dia terkenal dalam beberapa kegiatan organisasi pemuda, orangnya pande bersilat lidah tapi jg sering tampil sbg senterklas bg teman2nya. Tp L ini sering kami juluki sebagai si "akalus bulukus" sesuai sifatnya yang mirip gambaran situkan dola dali ato licikus munafikus. Mungkin 2 nama berbeda tapi sama dalam sifat ha ha aha??!!! Nah itu si L, gmn dengan si S, ahh saya pikir sama saja hanya beda-beda sedikit tabal, si S pun jg suka berdola dali, tidak mau kalah pula cuman emosinya agak sdikit lebih dibanding si L tp si S sering pula gugup jika mengalami situasi yang agak tertekan atau kaget. makanya orang yang saya knal karena pernah menjadi siswa teladan SMA 1 ini bisa di bilang suka dola dali tapi agak penakut.
ahh tidak berasa anda berdua, sodara wilmana dan nk mengingatkan saya kembali akan kedua orang tadi. siapapun BV dan NK (yang penakut kata wilmana) kalian punya sodara se sifat.
ok, gimana bos wilmana dan nk?>??

DTN

Anonim mengatakan...

ha...ha

DTN pung komentar ne seakan-akan ke "orang dalam" ju. Awas o....

selamat "bertapa" ju di ini blog o..

(nrk)

Anonim mengatakan...

@ -nk-

Ha ha ha... Rupanya praktek dola-dali memang ada di mana-mana. Tapi sebaiknya forum ini jgn dibelokkan mjd tempat berburuk sangka thd anda punya Abang dan siapapun. Berburuk sangka itu hanya boleh dilakukan oleh Penegak Hukum. Kita2 ini kalo bikin itu, bisa dicap tukang fitnah.

@ -nrk-
Paradox mmg bikin bingung krn itu beta bilang "fatamorgana". Krn itu renungkanlah puisi "Paradox of Life" yang diposting BigMike di sini. Itu bermanfaat utk menaikkan tingkat kesadaran (conciousness) kita. Bayangkan "sakit" yg berkonotasi negatif ternyata mrpkn bagian dr "berkat" yg berkonotasi negatif. NRK tdk boleh terjebak pd pengertian literal (hurufiah) sbgmn yg dicontohkan NK bbrp wkt lalu pd frasa "Yesus membela diri-Nya sendiri".

Intinya, NRK jgn mau memahami sesuatu hanya pd "kulit luar" saja. Supaya pemahamannya tdk tersesat oleh gejala paradox of life. Nampaknya sdh final tp ternyata br tahap awal sj. Nampaknya berbeda pdhl saling mendukung. Paham, toh?
(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@ DTN

Hati2... NK sedang menyeret anda ke jurang penyakit manusia yang disebut "berburuk sangka". Ente bisa jd korban dola-dali-nya NK, lho... He he he (Wilmana)

Anonim mengatakan...

WILMANA BIKIN RALAT!

@ -nrk-
Paradox mmg bikin bingung krn itu beta bilang "fatamorgana". Krn itu renungkanlah puisi "Paradox of Life" yang diposting BigMike di sini. Itu bermanfaat utk menaikkan tingkat kesadaran (conciousness) kita. Bayangkan "sakit" yg berkonotasi negatif ternyata mrpkn bagian dr "berkat" yg berkonotasi [S]negatif[/S] positif. NRK tdk boleh terjebak pd pengertian literal (hurufiah) sbgmn yg dicontohkan NK bbrp wkt lalu pd frasa "Yesus membela diri-Nya sendiri".

BigMike mengatakan...

Saya baru kembali dari kampus. Ada pendapat kawan saya yang sangat menarik. Kata mereka, kalau berkunjung ke blog saya, pertama-tama yang mereka cari adalah posting saya yang terbaru. Sesudah dibaca, maka hal kedua yang mereka cari adalah "diskusi antara Wilmana dan NK" yang menurut mereka "SANGAT SANGAT SERU". Mereka menyarankan agar saya jangan ikut campur karena, kata mereka, dapat mengganggu keasyikan mereka mengikuti diskusi itu ha ha ha. Sial amat, karna pemilik blog dilarang-larang. Kesimpulannya, terusakan diskusinya karena ternyata membawa berkat juga bagi orang lain. SELAMAT (Bigmike)

Anonim mengatakan...

@Wilmana,

Kalau sdr suka menonton Naruto, anime Jepang yang terkenal itu, sdr pasti ingat pesan Kakashi Sensei kepada Naruto, "A ninja must read underneath the underneath."

Hal bagaimana "Yesus membela diriNya" yang saudara katakan saya artikan secara hurufiah, buat saya, kalau dalam ilmu per-ninja-an, sdr Wilmana masih level 'genin.' Apa perlu saya jelaskan maksud pesan guru Kakashi itu dalam konteks diskusi kita ini? Saya yakin tidak perlu karena sdr bisa mencernanya sendiri. Just in case, let me know!

Tentang wejangan sdr Wilmana kepada DTN untuk berhati-hati karena saya sedang menyeret anda ke jurang penyakit manusia yang disebut "berburuk sangka, saya hanya bisa berpesan:

Hati-hati sdr Wilmana, sebab ada tertulis, "Janganlah engaku mencobai Tuhan Allahmu!"

:)


@DTN

Syukurlah sdr menikmati 'bincang-bincang' antara saya dan sdr Wilmana, walau saya harus berpesan agar sdr tidak menjadi manusia yang suka berdola-dali. Mengapa? Karena perbedaan antara pandai berdola-dali dan licikus munafikus oportunistik itu sangatlah tipis. Anda harus menjadi manusia setengah dewa untuk pandai berdola-dali dengan tulus.


@nrk

Saya harap sdr tidak berkecil hati dengan kata-kata sdr Wilmana, karena ada tertulis:

"...siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."


Salam dola-dali!


-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Halo Bigmike, saya setuju dengan ungkapan bahwa kasih itu kuat sekaligus lemah lembut. Yang saya belum tahu adalah bagaimna cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Menghadapi anak-anak yang nakal-nakal saya seringkali marah dan mencubit mereka. Menghadapi suami yang banyak ulahnya sayapun sering habis kasih panjang sabar. Tetapi saya suka tulisanmu ini. Tulis terus karena banyak blog yang baik tapi menghilang karena tidak diurus (Yeni, Srby)

Anonim mengatakan...

Salam kenal untuk Ibu Yeni yang terkasih. Memang KASIH sulit dikerjakan tetapi harus selalu diusahakan. Sayapun sebagai sesama wanita paham betul akan kesulitan itu. Akan tetapi seperti kata Bigmike, itulah Salib yang meskipun merepotkan tetapi harus tetap dipikul (Sherly, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@Yeni, Surabaya

Salam kenal dari -nyong kupang- semoga sdri dapat kembali lagi kesini dan memberi komentar dan berbagi dengan kami.

Saya sedang berusaha 'menyelami' pikiran sdr Wilmana dan berandai-andai apa komentarnya kalau ia membaca komentar sdri Yeni. Mungkin begini:

"Ibu Yeni yang terkasih, anda ini sedang ber-paradox. Nampaknya saja ada persoalan dengan suami dan anak-anak anda, ttp sebenarnya anda sangat mencintai mereka."

Mungkin saya salah tetapi bbrp hari terakhir ini, saya memang sering merenung kata/pikiran sdr Wilmana. Menarik, sangat menarik.

Sekali lagi, salam kenal.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

wah wah saya rupanya memang berhadapan dengan orang2 yang memang rada atau memang berada di ranah master dola-dalih, buat sodara wilmana agaknya memang peringatan sodara cukup jelas bahwa peringatan itu lebih pas buat sodara sebab anda sendiri "sedang " berlaku sebagai hamba hukum yang berburuk sangka kepada orang lain. kalo kmaren ada istilah Licikus munagfikus ato si akalus bulukus (agak kebarat2an) skarang ada istilah yg lebih melayu yakni DOLA SALEH. yaitu orang yang kliatan slalu benar/paling tau/tanpa cacat (SALEH) tapi sebenarnya itu adalah PELEDER dari hobi dola dali (DOLA).
Benar kata NK, hati-hati sodara wilmana anda menunjuk 1 jari oranglain tapi 3 jari lain sedang tunjuk diri sendiri.
ciaoo.......

DTN

Anonim mengatakan...

@DTN

Hah, hah, hah, sudah...sudah, saya sampai perut sakit membaca tulisan sdr, :)

Sdr DTN, selamat bergabung di forum dolah-saleh ini. Hari ini yang terasa saaaangat panjang menjadi lebih enteng setelah membaca komentar sdr. Lucu, sangat lucu.

@Wilmana

Saya harap sdr tidak keberatan dengan kehadiran sdr DTN ini yg tanpa 'ba-bi-bu' telah mencap sdr sedang berdolah-saleh.

Salam dolah-saleh!


-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Suatu ulasan yang baik tetapi pertanyaannya adalah: dapatkah manusia yang insani mewujudkan sesuatu yang Ilahiat. Nonens.

Komentar oleh Anonymous | Mei 28, 2008 (import dari WP)

Anonim mengatakan...

Ini artikel Favorit saya, di samping "kedahsyatan Mu... ya Allah ya Akbar". Bigmike, saran saya cobalan menulis di TEMPO ke di Kompas kek. Anda pantas menulis di sana. (Ryan)

Anonim mengatakan...

Inipun artikel favorit saya yang memberi sentuhan keteduhan hati. Cuma saya agak kecewa karena pemilik blog (bigmike) "menghilang" begitu saja. Semoga cepat menulis kembali (Yenie, Srby)

Anonim mengatakan...

Setelah melihat cara bertengkarnya sahabat blogger di posting terakhir, saya malah jadi tidak bosan-bosan membaca kembali posting ini. The best posting so far (Sherly, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Setuju ama Sherly. Hi, Sherly (Esther, Srby)

Penginapan di jakarta mengatakan...

yang kuatadalah tarzan kalau di hutan he he he he he he