Rabu, 07 Mei 2008

Ada Yang Ingin Saya Bahas Tetapi Nikmati Dahulu Pendahuluannya...Asyik Ngga' Tuh....

Sahabat Blogger....

Saya ingin membahas sesuatu tentang apa yang saya alami, apa yang saya rasakan, apa yang saya banggakan, apa yang saya pedihkan, apa yang saya tulis dan apa yang saya renungkan...
Akan tetapi sesuatu itu memerlukan perenungan yang mendalam dari kita semua karena, jujur saja, saya sendiri mungkin cuma ingin menuliskan apa yang saya rasa. Bukan apa yang saya tahu.

Nah, lalu setelah anda membaca ujar-ujaran berikut ini (bukan karya saya. Saya cuma mengutip dari -nk- dan seorang sahabat lainnya), mohon ditanyakan dalam hati anda...apa yang anda rasa....(jangan terburu-buru berusaha mengemukakan: ...apa yang anda tahu....)
Selamat menikmati wisata reflektif ini...Semoga Tuhan membisikan sesuatu bagi anda...dan juga saya:

The paradox of our time in history is that we have taller buildings but shorter tempers, wider freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but
have less, we buy more, but enjoy less. We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too seldom, and hate too often. We've learned how to make a
living, but not a life. We've added years to life not life to years. We've been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbour. We conquered outer space but not inner space. We've done larger things, but not better things. We've cleaned up the air, but
polluted the soul. We've conquered the atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We've learned to rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but we communicate less and less.

Dewasa ini kita memiliki rumah lebih besar dan keluarga yang lebih kecil; lebih banyak
kenyamanan, tetapi kurang waktu;

Kita memiliki lebih banyak gelar, tetapi lebih sedikit nalar; lebih banyak pengetahuan,
tetapi kurang memahami yang namanya tahu;

Kita memiliki lebih banyak ahli, tetapi lebih banyak masalah; lebih banyak obat-obatan,
tetapi kurang sehat.

Kita terlalu ceroboh berbelanja, terlalu sedikit ketawa, berkendaraan teralu cepat,
terlalu mudah marah, kurang tidur, bangun dalam keadaan terlalu lelah, sedikit membaca, nonton TV terlalu banyak, jarang berdoa.

Kita telah melipatgandakan harta kita, tetapi mengurangi nilai-nilai kita. Kita ngomong
terlalu banyak, mencintai terlalu sedikit dan terlalu sering berbohong.

Kita telah belajar bagaimana mencari nafkah, tetapi bukannya kehidupan; kita telah
menambahkan tahun demi tahun ke dalam kehidupan kita, bukannya nilai kehidupan yang ditambahkan ke dalam setiap tahunnya.

Kita memiliki gedung-gedung bertingkat yang lebih tinggi, tetapi emosi amarah yang lebih pendek (spontan); jalan bebas hambatan yang lebih lebar, tetapi sudut pandang yang lebih sempit.

Kita menghabiskan lebih banyak, tetapi memiliki lebih sedikit; kita membeli lebih
banyak, tetapi lebih sedikit menikmatinya.

Kita telah melakukan perjalanan pulang pergi ke bulan, tetapi bermasalah untuk
menyeberangi jalan guna menemui tetangga baru kita.

Kita telah menjelajahi ruang angkasa, tetapi bukannya ruang di dalam diri (hati nurani)
kita sendiri. Kita telah memilah atom, tetapi bukannya kebijakan kita.

Kita menulis lebih banyak, tetapi lebih sedikit belajar; lebih banyak berencana, tetapi
lebih sedikit merealisasikannya.

Kita telah belajar untuk cepat, bukannya belajar untuk menunggu; kita memiliki
pendapatan yang lebih tinggi, tetapi moral yang lebih rendah.

Kita membuat lebih banyak komputer untuk menyimpan lebih banyak informasi lagi,
memproduksi lebih banyak salinan, tetapi kurang berkomunikasi. Kuantitas kita berjibum, tetapi kualitas kita sedikit.

Kini masanya makanan cepat saji dan pelahan dalam mencerna; orang-orang yang tinggi dan berkarakter pendek; keuntungan yang meningkat dan persahabatan yang dangkal.

Lebih banyak kesenangan dan kurang canda ria; lebih banyak ragam makanan, tetapi kurang bergizi; pendapatan dari 2 sumber, tetapi lebih banyak perceraian; rumah yang lebih indah, tetapi rumah tangga yang berantakan.

Oleh karenanya, sejak hari ini, janganlah menyimpan segala sesuatunya untuk hal-hal yang istimewa, karena setiap harinya yang anda jalani adalah hal-hal yang istimewa.

Carilah pengetahuan, membacalah lebih banyak lagi, duduklah di teras anda dan nikmati
pemandangan yang ada tanpa memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anda.

Luangkan waktu lebih banyak untuk keluarga anda dan teman-teman anda, makanlah apa yang menjadi kesukaan anda, kunjungilah tempat-tempat yang anda sukai.

Kehidupan adalah sebuah rangkaian kenikmatan, bukan hanya tentang bertahan untuk hidup.

Pakailah gelas kristal anda (kalau punya). Jangan menyimpan parfum terbaik anda,
gunakanlah setiap saat anda ingin untuk memakainya.

Hilangkan frasa atau istilah “dalam beberapa hari ini” dan “kelak”. Sesegeralah di saat
ini disini kita menulis surat yang kita ingin lakukan “dalam beberapa hari in.

Marilah kita mengatakan kepada keluarga dan teman-teman kita betapa kita mencintai
mereka. Jangan menunda apapun yang bisa menambah kenikmatan dan tawa ke dalam kehidupan anda.

Setiap hari, setiap jam, setiap menit adalah istimewa. Dan anda tidak tahu kapan itu
akan merupakan saat terakhir anda.

Jika anda terlalu sibuk untuk meluangkan waktu anda untuk membaca dan merenungkan ini, cobalah untuk berpikir “dalam beberapa hari ini”, maka anda tidak akan pernah merenungkannya.

(.....terima kasih kepada --NK-- atas ide yang diberikan melalui komentar anda serta seorang kawan blogger lainnya yang tidak ingin disebutkan nama-nya.....)

18 komentar:

Anonim mengatakan...

Aaaahh... tulisan yang sangat baik, pendek tanpa jargon ilmu + teologi tetapi sekedar mengajak sahabat blogger sesekali 'latih hati/rasa.'

Saya teringat futurolog kondang, Alvin Toffler, yang berujar bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, baru 3 kali terjadi perubahan yang amat sangat radikal -dasyat- yaitu 1) Revolusi Pertanian dimana manusia berhenti berpindah-pindah t4 hidup; 2) Revolusi Industri yang membawa banyak dampak amat positif tetapi juga hampir-hampir meluluhlantahkan moralitas manusia; dan 3) Yang kita sedang saksikan sekarang ini, globalisasi (jamannya org rame2 nge-blog?). Apa cirinya?

Pdt Eka Dharmaputera -ini Pdt yang amat saya kagumi- katakan globalisasi berciri: Kontradiksi. Lihat 'paradox of life!' Banyak org, termasuk saya, menjadi stress dan kehilangan pegangan. Hidup ini pekat dengat kontradiksi.

Mungkin... ini mungkin, jawabannya adalah Tuhan. Teringat akan pesan tua dalam buku hitam yang kini berdebu dilemari, "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu"

Selamat merenung!

-nk-

Anonim mengatakan...

Menarik dan mendebarkan menunggu bagaimana pak Mike merefleksikan frasa-frasa yang dikutipnya. Selamat berpulih ya pak Mike....

Anonim mengatakan...

Gw pikir wajar tawaran BigMike untuk membiarkan Tuhan-lah yang membisikan sesuatu bagi kita karen kita sendiri sudah memiliki premsi-premis tertemtu. Mungkin BigMike juga. Kalau boleh usul: BigMike jangan posting apa-apa dulu 1-2 hari ini. Biarkan Qt bersama-sama renungkan sebaik-baiknya. Soalnya, posting BigMike sering mengajak kita terjebak dalam pkiran-pikiran kita sendiri. C7-kah BigMike???? (The Macks)

Anonim mengatakan...

"Hiduplah seperti air yang mengalir" mungkin itu yang paling pas untuk hidup pada jaman yang kontradiktif seperti kata "nk". Tetapi saya ragu juga. Mungkin memang sebaiknya kita renungkan baik-baik(Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Tampaknya BigMike sangat senang bersikap ambigu. Tidak ke sini tetapi tidak juga ke situ. Apakah ini yang namanya stagnasi? Apakah ini cirikhas ilmuwan yang terus saja meragukan segala sesuatu? Sikap begini sangat tampak dalam cara bertindak Presiden SBY. Jika benar maka orang setipe ini jangan jadi pemimpin. Jadilah ilmuwan saja. Atau seperti dalam Republik Mimpi, kita sebut saja, Guru Bangsa. ##Fikri, Jogja##
Eh, ngomong-ngomong ini Mas Mikel ya yang tahun "05 lulus suma cumalude PPS UGM S3 Bidang Ilmu Kehutanan dengan disertasi tentang Fire Management. Aku hadir waktu promosi. Hebat dan selalu dibicarakan untuk menjadi contoh oleh Prof (Em.) Sulthoni. Salam dari Kampus Biru.

Anonim mengatakan...

Ah Mas Professor mulai kumat lagi nih...ha ha ha. Wellcome back kawan. Tapi si --nk-- kayaknya pantas dijinin BigMike untuk skali-skali ikut ngeposting deh. Ada beberapa gagasannya yg sebaiknya jangan disimpan hanya di komentar...
(Juwan, Fahutan, UGM)

Anonim mengatakan...

1. binchoutan - Mei 8, 2008

*jadi introspeksi diri*

( ^__^” ;)

Anonim mengatakan...

2. agust - Mei 8, 2008

Sejak kapan kawan mike ‘dah menjadi begawan neehhh…..ha ha

Anonim mengatakan...

The more I read about the Paradox of Life the more I realize that we, human beings, as having a loosing battle against, most of them, our own created problems.

What do we do now? What are we here for?

I know what I have to do now, I know what I am here for. Do you???

Wilmana mengatakan...

Pola standar manusia memang begitu. Aksi-refleksi-aksi..., dst. Setelah dg gagah berani bersepak terjang dg segala daya kekuatan yg mjd ciri khasnya, setiap individu pasti akan tiba pada masa utk berhenti dan merenungkan semuanya... Mengambil apa yg baik dan berupaya mengendalikan apa yg tdk baik. Ularpun akan tunduk pada kuasa alam dan berdiam diri dalam tanah ketika salju tiba.

Tp saya tdk mau bilan bigMike itu Ular, apalagi ular mengge... Hanya mengingatkan, bhw kalo Big Mike bilang, jangan simpan parfumnya tp pakelah sepuasnya, mk bagaimana kalo saya punya duit?

He he he.... (Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Wilmana

Jujur, nama anda indah sekali dan semoga anda juga 'seindah' nama ini.

Perihal pola standar manusia yang katanya aksi-refleksi-aksi dan terus berulang-ulang saya akui benar hanya saja Wilmana kurang cermat membaca 'paradox of life' secara utuh dan merasakan 'roh'nya. Yang ingin disampaikan penulis puisi tsb yang kehilagan belahan jiwanya saat 9/11 adalah pola hidup ini kadang spt ini: "aksi-refleksi-aksi-mati." Wilmana perhatikan faktor mati yang sering datang menyapa hidup ini tanpa diundang! Tiba-tiba, ketika kita sibuk beraksi dan belum sempat refleksi. Very sad indeed.

Bagi sidang pembaca blog lainnya... ketika anda merenung... tangkaplah 'roh' dari pada puisi ini. Anda mungkin sedang sibuk-sesibuknya, tetapi ambillah waktu barang sebentar untuk merenung ttg apa yg terpenting dalam hidup ini.

Salam damai - nk

Anonim mengatakan...

Bae Ama... Beta mmg bukan secara spesifik mengomentari ama punya "Paradox of Life" itu, tp pada fenomena BigMike dan kita semua yang butuh melakukan perenungan alias refleksi sebelum kembali beraksi.

Mengenai puisi itu, ingatlah pada istilah Paradox yg dipake... Hanya nampak beda tapi sesungguhnya ttidak ada itu... Hanya permainan otak dan perasaan. So, kita pilih jadi korban pikiran dan perasaan, ato sebaliknya, ato mau apa lagi...? (Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Wimana

Ya, ya... saya memang sudah tdk sabar membaca apa yg hendak disampaikan bigmike berikutnya dan bagaimana dia memaknai 'paradox' dari apa dia rasakan, banggakan, pedihkan, tulis dan renungkan.

Menarik, sangat menarik.

-nk-

Anonim mengatakan...

Hussshhhh.....sssstttttt,,,,,JnGn brisik....bukannya merenung malah Wilmana dan NK bertengkar....
(Dhupakcs, Bgr)

Anonim mengatakan...

@Dhupaks

Hi hi hi... kita bertiga kebetulan bertapa di gua yg sama jd merenungnya ga sendirian. Ga berdialog dg diri sendiri tp dg rekan satu gua... Beda dg BigMike, yg merenung sendirian.. Eh kalo dulu, sendirian malah bikin beliau ngoroks... Ga tau sekarang ini... [Wilmana]

Anonim mengatakan...

Thanx Wilmana, anda kenal bigmike? Saya 3 tahun LSM di Kupang. Skarang udah di Bogor bantu-bantu di CIFOR. Lagi S2 di IPB. Kenal baik beliau di ForDAS NTT. Dahsyat kalau seminar. Beliau yg nyaranin saya milih PST Agromet di IPB. Ah, pak Mike kebuka dah kedok GW. Turut berduka cita pak (Dhupacks = pak mike yg ngejulukin)

Anonim mengatakan...

@Dhupaks

Oooppsss... sorry mate. Semoga permenungan anda tidak terlalu terganggu dengan 'pertengkaran' kami. Anyway, kalau anda di CIFOR, anda pasti kenal Petrus Gunarso. Tolong sampaikan salam hangat buat beliau dari... maaf, saya masih dalam pertapaan jadi belum bisa menyampaikan identitas saya disini :)

@Wilmana

Eheeeem, pertapaan kita memang 'satu gue' hanya saja saya ingin tetap menjadi -nk- alias -nyong kupang- :)

Anonim mengatakan...

@Dhupaks

Saya kenal sangat dekat dengan BigMike... Sangat dekat... Makanya saya tau betul beliau kalo lg tepekur diam, bs jd lg ngorok.. He he he....

Meski sekarang jauh di mata, tp tetap ... sangat dekat di hati ini... (Wilmana)