Rabu, 18 Juni 2008

WOOOOIIIIIII…….bagi yang mau mbuka' perusahaan, bacalah tulisan Wilmana. TOP ABISSSSS….(Lho, si tOp kok udah abis?)

Dear sahabat bloggers,

Maafkan saya, karena sejak semalam sampai sore ini, pukul 17.25 WITA, jaringan internet di seluruh Kupang pada off. Sinyalnya menghilang. Sudah saya usahakan mencarinya ke warnet-warnet, ke mall dan minimarket, ke pasar Inpres, ke warung papalele, ...bahkan sapai ke rumah tahanan gara di Kupang ...wadduuuhhhhhh........ si sinyal memang menghilang. Akibatnya, ada posting yang seharusnya sudah dipsoting sejak kemarin menjadi tertunda. Untunglah sore ini, si sinyo sinyal mendadak kembali dan....saya kembali menyapa semua sahabat bloggers sambil membawa sebuah posting baru. Posting baru nan bagus ini mencoba menulis pengetahuan tentang VISI dan MISI...meskipun oleh si penulis, versinya dibalik menjadi...MISI dan VISI. Mula-mula bisa dipahami untuk scope kecil, yaitu perusahaan, tetapi dasarnya bisa kita pakai untuk "menerawang" kehidupan itu sendiri.

....Ah, saya sebenarnya agak bingung juga dengan maksud penulis membolak-balik VM menjadi MV, tetapi .....apa boleh buat.......tagal perkara saya harus setia pada adagium para ilmuwan bahwa setiap ilmuwan pada dasarnya harus terus dan teruuuuuuusssss....berjalan .....mencari batas-batas baru...
to searching a new frontier....maka saya postingkan saja apa adanya. Tanpa basa-basi. Selamat saling belajar. Saya? Psssssssttttt.....jangan riiibbbuutttt,,,,,saya mau membujuk si mbah (lihat chatting box) supaya jangan marah-marah....sebab menurut si sinyal, dia terpaksa menghilang sejak semalam karena si mbah marah-besar lantaran INDONESIAL.....hi hi hi hi....
Oh, iya si penulis artikel adalah : WILMANA

MENGAPA PERUSAHAAN GAGAL
(meneketeheeeee....hi hi hi hi......aduH....sorrI mbah)

Sidang Pembaca yang terhormat, sesuai permintaan BigMike, saya kembali sumbangkan satu tulisan lagi. Tulisan ini menyoroti masalah strategic planning dari perspektif korporasi, meski saya yakin Sidang Pembaca tentu dapat menggunakan ini untuk memotret praktek organisasi pada umunya, termasuk gereja BigMike yang namanya GMIT, itu. Mari kita mulai!

“Apakah tujuan perusahaan?”. Apa pentingnya rumusan misi dan visi dalam tata kelola perusahaan? Pada dasarnya saya ingin menyampaikan bahwa tata kelola perusahaan adalah aktifitas organ perseroan dalam menggerakkan semua sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan biasanya dicantumkan dalam Anggaran Dasar. Lalu, untuk maksud operasionalisasi, tujuan dirumuskan dalam bentuk misi dan visi perusahaan. Misi dan visi yang baik, tidak hanya menyiratkan potensi keuntungan bagi Pemilik, tetapi lebih luas dari itu, memberi manfaat bagi para Pemangku Kepentingan (stakeholders) lainnya.

Mungkin tulisan ini bakal berlanjut beberapa seri, tetapi saat ini saya ingin mengajak sidang Pembaca sekalian untuk merenungkan pertanyaan menarik, “lebih dulu mana, visi atau misi?”. Hal ini disebabkan karena di lapangan kita menemukan rumusan tujuan perusahaan dengan pola urutan, “visi” lalu diuraikan menjadi “misi”. Namun, tidak sedikit organisasi yang menerapkan pola yang terbalik. Tentu, kita dapat mengajukan banyak referensi manajemen strategis untuk mengulas, tetapi menurut saya hal itu tidak penting lagi. Mengapa? Karena jika sekedar melakukan studi literature, semua kita juga bisa bahkan telah melakukannya, bukan? Karena itu saya mengajak Sidang Pembaca mengikuti argumentasi saya berikut ini dan jika ada yang tidak setuju, tentu berhak untuk berdiskusi bersama di sini.

Kata “Visi” berasal dari istilah bahasa Latin, ‘visio’ yang di-Inggriskan menjadi, ‘vision’. Noah Webster of American English Dictionary menjelaskan kata ini sebagai berikut: ‘The act of seeing external objects; actual sight’. Searching saya di fasilitas thesaurus MS Word 2007 menemukan padanan kata antara lain: prediction dan eyesight. Karena itu, saya memahami kata ini sebagai gambaran tentang cita-cita yang bersifat predictable, terukur, dan masih dalam batas yang realistis untuk diwujudnyatakan.

Kata ‘misi’ juga berasal dari bahasa latin, ‘missio’, lalu di-Inggris-kan menjadi ‘mission’. Kamus Noah Webster menjelaskannya sebagai berikut: Persons sent; any number of persons appointed by authority to perform any service. Searching di fasilitas thesaurus MS word 2007 menemukan padanan katanya antara lain: assignment, calling, goal, aim, objective. Istilah ini sangat dikenal dalam kekristenan karena sangat terkait dengan tugas panggilan dan pengutusan gereja. Orang islam sering menyebut aktifitas syiar agama Kristen dengan istilah missionaries. Dari sini saya memahami kata ‘misi’ ini sebagai suatu tugas penting bagi individu atau organisasi untuk melakukan sesuatu. Tugas penting ini dipandang sebagai panggilan suci yang menjadi tujuan atau sasaran akhir yang selalu ingin diwujudkan oleh individu atau organisasi tersebut selama masa tugas masih berlangsung.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa “misi” bersifat lebih luas cakupannya dibandingkan ‘visi’. Misi adalah gambaran kualitatif tentang tugas yang diemban yang di dalamnya terkandung tujuan kehadiran seseorang atau organisasi di suatu tempat. Visi adalah gambaran mengenai perkiraan, atau perhitungan, atau prediksi bagaimana suatu tugas dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Misi bersifat cita-cita jangka panjang, bahkan seumur hidup, sementara ‘visi’ lebih bersifat cita-cita jangka pendek dan mengandung sasaran antara (milestone) bagi pencapaian misi sebagai tujuan akhir. Terkait dengan rumusan tujuan perusahaan, ‘misi’ adalah rumusan tentang apa tugas utama yang menggambarkan untuk apa suatu perusahaan harus hadir dan berkarya ditengah-tengah lingkungannya. Sementara ‘visi, adalah rumusan tentang indikator-indikator yang menjadi ukuran keberhasilan dalam pemenuhan ‘misi’. Visi adalah sisi kuantitatif dari ‘misi’. Karena itu, ‘visi’ dapat mengalami penyesuaian sesuai perkembangan sumber daya yang dimiliki perusahaan maupun tuntutan lingkungan eksternal, ‘misi’ lebih bersifat abadi. Penglihatan bisa berubah-ubah tergantung sudut pandang dan daya pandang, tapi tugas pokok atau tujuan akhir akan tetap terus selama hayat dikandung badan.

Wah rasanya cukup dulu yaa… Rasanya sudah cukup untuk dapat dimengerti, kan? He he he…

Bagaimana Menciptakan Jaminan Yang Wajar Bahwa Tujuan Perusahaan Dapat Dicapai?

Sukses merumuskan misi dan visi perusahaan yang baik bukanlah akhir dari tata kelola perusahaan. Misi dan visi yang baik hanyalah the end of the beginning. Karena setelah itu, tantangan berat adalah bagaimana mengejawantahkan Misi dan Visi ke dalam aktifitas operasi usaha sehari-hari.

Tantangan Manajemen Strategis

Manajemen strategis adalah sistem yang digunakan untuk menerjemahkan Visi menjadi strategi perusahaan sesuai fungsi-fungsi organisasional yang ada. Visi diterjemahkan menjadi strategi korporat yang terdiri atas strategi jangka panjang 5 tahunan (Rencana Jangka Panjang) dan strategi jangka panjang dijabarkan menjadi strategi jangka pendek 1 tahunan (Rencana Kerja & Anggaran). Strategi jangka panjang maupun jangka pendek, berisikan strategi setiap fungsi organisasi yang ada seperti strategi pemasaran, strategi operasi, strategi keuangan, strategi SDM, dll. Baik strategi jangka panjang maupun strategi jangka pendek harus mencantumkan sasaran dan target yang terukur (kuantitatif) sebagai indikator keberhasilan. Ukuran-ukuran dalam strategi jangka pendek (1 tahun) haruslah diatur sedemikian rupa agar jika diakumulasikan dapat menjadi ukuran kuantitatif bagi indikator keberhasilan sasaran dan target jangka panjang (5 tahunan).

Ini yang dinamakan keselarasan antara Misi-Visi-Strategi-Program. Tapi inipun masih 40% jaminan kesuksesan terlaksananya Misi perusahaan, karena 60%-nya adalah implementasi alias tindakan nyata sehari-hari di lapangan.

Berdasarkan pengalaman ketika memeriksa sistem manajemen para klien, saya tahu bahwa tantangan terbesar kebanyakan perusahaan adalah keselarasan antara Visi/Misi dan strategi mulai dari strategi jangka panjang hingga jangka pendek. Mulai dari strategi korporat hingga strategi Unit Kerja/Unit Usaha. Bahasa sederhananya, hampir semua klien saya memiliki strategi dan program kerja yang tidak nyambung dengan Misi/Visi-nya. Struktur organisasi yang seharusnya dikembangkan sesuai tuntutan implementasi strategi malah dipraktekkan secara terbalik. Strategi dikuya-kuya agar cocok dengan struktur organisasi yang ada. Semua hal ini membawa kita pada fakta bahwa pada akhirnya, Misi/Visi dirumuskan sekedar untuk gagah-gagahan. Bukan untuk memberi arah bagi penyusunan strategi dan program kerja, karena yang memberi arah strategi akan seperti apa, justru struktur organisasi yang telah dimapankan. Jika dalam struktur ada Divisi Doa, maka strategi disusun agar setiap tahun ada program Doa, padahal main business-nya sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan keagamaan.

Entah perlu waktu berapa lama untuk menyadari bahwa jalannya operasi perusahaan ternyata tidak menuju pada tujuan akhirnya sebagaimana rumusan Misi/Visi. Perusahaan telah berkembang menjadi organisasi yang tidak berjalan pada “rel-nya”, tidak menjalankan “panggilan sucinya”. Rasanya sesuatu memang diperlukan untuk menjamin bahwa tujuan perusahaan dapat dicapai.

Sebelum saya mengakhiri tulisan kali ini, mungkin Sidang Pembaca bertanya-tanya, apa yang menjadi penyebab kekacauan seperti di atas? Jawabannya sederhana saja. Karena perusahaan mengabaikan pentingnya corporate strategic planning. Dalam tugas pemeriksaan (assesment), saya selalu menemukan bahwa perusahaan, dalam menyusun strategi dan program kerja, tidak menerapkan prinsip berimbang antara top-down approach dan bottom-up. Akibatnya, strategi dan program kerja disusun secara terpisah-pisah oleh masing-masing Unit Kerja/Unit Usaha, lalu Divisi Keuangan/Akuntansi meng-input anggarannya, mengkompilasi semuanya menjadi satu, dan jadilah Rencana Jangka Panjang dan Rencana Kerja & Anggaran Perusahaan yang siap untuk disetujui Direksi dan Dewan Komisaris serta disahkan oleh RUPS.

Seharusnya sebelum proses penyusunan dimulai, Direksi menyampaikan arahan pemahaman Misi/Visi, bagaimana secara sistematis di-deploy menjadi strategi dan program kerja, serta apa ukuran-ukuran pencapaian yang menjadi indikator keberhasilan. Sebagai usaha bisnis, semua program kerja pasti berujung profit. Dalam corporate strategic Planning, Direksi harus mengarahkan bagaimana profit ditetapkan (perspektif keuangan). Lalu supaya profit, maka bagaimana dompet pasar digaruk (perspektif pasar). Agar dompet dapat digaruk tanpa merugikan semua pihak, maka perlu ada struktur dan proses internal yang mendukung (perspektif proses internal). Terakhir, untuk menjalankan struktur dan proses tersebut, bagaimana mengadakan dan mengembangkan sumberdaya dan fasilitas yang mumpuni. Sayangnya, hampir tidak ada Direksi yang melakukan hal ini. Dewan Komisaris-pun sebagai penanggung jawab aspek pengawasan, lebih sering hanya rubber stamp karena kebanyakan adalah Pelaku rangkap jabatan.

Memang benar kata pepatah, “ikan busuk selalu dimulai dari Kepala”.

28 komentar:

Anonim mengatakan...

Lagi-lagi saya yg pertama, hih, hih. Tapi kali ini saya ingin 'protes.' Mengapa hurufnya kecil sekali yah? Okelah, saya mau baca dulu. Saran dan kritikannya menyusul.


@Wilmana

Sekali lagi terima kasih sudah berbagi dgn kami disini. Bravo!


@Bigmike

Semoga, next posting adalah milik sdr. Janji tulisan 'etika kristen' -ini dola-dali saya pertama disini- yg adalah bagian dari serial indoneSIAL, lanjutan darwinian evilution, dll masih belum ada.


Salam 'dola-dali.'

-nk-

Anonim mengatakan...

ah... begitu membaca tulisan ini saya kok jadinya mengingat tokoh idola saya yah?? ia selalu mengingatkan betapa pentingnya perencanaan yang matang sebelum melakukan sesuatu (ini bisa dilihat dari tulisan wilmana yang menjelaskan pentingnya visi, misi, dll).

tapi pertanyaan saya kepada wilmana yang sebenarnya sederhana saja, apakah perlu dan pentingkah memiliki visi dan misi bukan hanya dalam suatu manajemen perusahaan tapi dalam "manajemen kehidupan" kita sehari-hari?? sebenarnya agak keluar dari topik.

salam damai,

(nrk)

Anonim mengatakan...

Tulisan yg menarik:

Bung/sus Wilmana (sorri, beneran enggak tahu):

Cobalah baca quote berikut ini.

"Creating a clear vision of the future is the first step toward achieving improvement in any endeavor. Peter Block, quoted in Fullan, (Change Forces, 1993, p.13) states that “creating a vision forces us to take a stand for a preferred future” and “come out of the closet with our doubts about the organization and the way it operates.”

Berdasarkan uraian tadi apapun juga seharusnya visi mendahului misi. Without a clear vision, all that we hae to do is nothing. How come bro'? (Sulis)

Anonim mengatakan...

@Sulis

Tapi, dimana dalam quote-nya yg katakan visi lebih dulu misi? Coba cek lagi bukunya dan copy-paste disini yg katakan visi lebih dulu misi!

Sebenarnya, memahami misi visi ala wilmana ini sederhana saja. Apa sih 'misi' sebuah unit dagang? Cari duit khan! Lalu, visinya apa? Dalam 5 tahun kedepan, dpt 1 milyar, 10 tahun kedepan 20 milyar. Gitu aja kok refot.

Kalau dlm hidup ini, misi itu terkait dgn ini, "what am I here for?' Ini pertanyaan sangat tua yg sampe sekarang belum dpt dijawab oleh ilmu pengetahuan. Eniwe, in case anda sudah tahu mengapa anda ada dibumi ini, lalu dibuatlah visi, target pencapaian yg terukur. Misalkan anda dibumi untuk jadi dokter. Maka buatlah visi. 12 tahun sekolah sd. Setelah itu, 3 tahun, SMP trus SMA trus kuliah trus, di tahun kesekian, jadi dokter deh.

Gitu lho.

-nk-

Anonim mengatakan...

@ all di atas

Luarr biasa... Baru kali ini -nk- begitu tepat menjawab pertanyaan @nrk dan persoalan @Mas Sulis. Two thumbs up for U Mamen... Jd ingat seorang rekan maumere sy di Deloitte Touche, dulu.

Mas Sulis, to achieve your mission in this world (what are U here for, nk.), the first thing you have to do is creating a clear vision. The elaborate strategies which aligned w/ that vision, ... etc.

Misi adalah tugas suci yg diemban oleh setiap individu atau kelompok (organisasi). Inherent di dalam tugas itu tujuan akhir yang ingin dicapai oleh individu ato kelompok (organisasi). Krn itu Misi jg adalah tujuan akhir yang selalu ingin dicapai, selama hayat dikandung badan.

Visi adalah bagaimana seseorang ato organisasi membayangkan, ato berimajinasi, ato memprediksi tentang hal-hal pokok yang yang dapat dilaksanakan dalam rangka pengejawantahan tugas pokok yang diemban alias Misi. Bayangan, imajinasi, dan prediksi yg baik adalah yang realistis dan terukur. Shg rumusan Visi haruslah mengandung indikator keberhasilan yg bersifat kuantitatif.

Strategi adalah garis-garis besar langkah-langkah nyata dari hal-hal pokok yang dibayangkan dan diprediksi dapat dilakukan tadi. Apa yg kita bayangkan dan prediksi bisa dilakukan, hrs dibuat garis-garis besarnya.

Program kerja dan anggaran adalah uraian operasional dari garis-garis besar tadi yang rinci untuk dapat dijalankan sehari-hari sepanjang satu periode, lengkap dengan perkiraan dana utk membiayai aktifitas itu.

@nrk
Utk keperluan pribadi, cthnya persis yg diajarkan oleh @nk di atas.

@nk
Anda bagai madu yg sungguh maniez bg sy saat ini. Tdk peduli bsk kembali jd buah mahoni, sy ingin berterima kasih.

-Wilmana-

Anonim mengatakan...

@ all

Tambahan sebelum pulang...

Strategi supaya benar-benar terukur terkendali dlm rangka pencapaian Visi, harus dibuat untuk jangka waktu tertentu. Trims.

-Wilmana-

nb: Mas Sulis, Wilmana berasal dr bhs sanskerta kendaraan Dewa yg adalah Dewa juga. Garuda, Kuda Terbang, Singa Langit, dan Naga adalah metafora Wilmana. So, mmg tdk jelas gendernya. Yg ptg makna kehadirannya alias misi-nya tdk utk merusak, toh?

Anonim mengatakan...

NK dan wilmana,

wilmana, kalau begitu sekian lama NK selalu tidak tepat ya ha ha ha. Mengasyikan sebenenarnya diskursus antara kalian berdua. Kalau saling mendukugn kayak tulisan ini malah berkurang asyiknya ha ha ha. Eh, jgn2 saya ketularan penyakit senang melihat pertikaian ya ha ha (Erick, jkt)

Anonim mengatakan...

Oh, iya tulisan ini agak berat dan memerlukan waktu untuk memahaminya. Belum bs berkomentar banyak nih (Erick)

Anonim mengatakan...

Bigmike, sori engak bisa lama-lama, aq repot ujian semester nih...dulu s1 kok lebih enak padahal sks lbh banyak..uxsh//Pritha//

jiwamusik mengatakan...

jujur aj saya ndak faham tulisan ini,
titelnya... bagi yang mau mbuka' perusahaan, subyeknya MENGAPA PERUSAHAAN GAGAL, lha isinya potret perusahaan (entah perusahaan siapa nih yg dipotret? ), konklusinya dari mana mulainya ikan busuk wakakakak...

Just pendapat, kalo mau mbuka' (mbuka sekali atopun berkali-kali) perusahaan saya masih percaya ama teori kuno SWOT

Kalo mengapa gagal sih, saya suka nyontek prosedur perusahaan tukang tambal ban (eh ini termasuk perusahaan bukan ya?) aja. Cari dimana bolongnya, analisa kenapa bisa bocor, bersihkan semua penyebab kebocoran, barulah kalo ada bolong ya ditambal tapi kalo ternyata cuman kurang angin ya cukup di pompa aja kahn.

Kalo bocor didiemin terus, ya wajar aja kalo tujuan (perusahaan) ndak bakalan dicapai sesuai target (waktu, ROI, dsb), bahkan kalo bocornya didiemin terus maka bocornya akan semakin gede ato banyak, ban jadi rusak, dst. Lama2 ban rusak n mobil ndak bisa jalan sama sekali, apalagi ndak punya ban serep. Inikah yg dimaksud gagal?

Anonim mengatakan...

ha ha ha ha god job JM.

Saya kira perumpamaan yg bagus. Bisa juga. Tapi saya nggak c7 ma sampean, karena hubungan antara judul dan sub-judul ternyata masih deket. Mereka spupuan kok. Kalau judul menyatakan...bagi yg mau mbuka perusahaan.....maka sub-judulnya memberi peringatan :hati-hati gagal karena bla bla..Ini seperti contoh sampean, "ayo mbuka tambalan ban". Nah, subjudulnya hati-hati usaha tambakan ban biasanya gagal karena bla bla. konfirm mas JM?
Aq suka web mu, ....serr...serrrr..ha
ha ha

"salam tambal ban" (sibirulaut)

Anonim mengatakan...

@jiwasmusik & sibirulaut and all

Anda ini 'termakan' artian hurufiah antara judul posting @bm dan judul tulisan wilmana.

Saya kira wilmana tdk hendak pamer 'ilmu' manajemennya, ttp sekedar memberi perspektif manajemen dlm pembelajaran kita melihat dan menganalisa persoalan-persoalan lain yg terkait dgn kekitaan. Contohnya ajakan wilmana kepada sdr @nrk untuk menggunakan perspektif ini dalam perencanaan dia melanjutkan studi s2-nya.

Gitu aja kok refot.

-nk-

Anonim mengatakan...

@nk dan birulaut

Harap maklum, namanya sj jiwamusik. Ngertinya cuma musik, yg lain dia ga faham. Kl sdh gitu, mendingan ga usa ditanggapin.. Kunjungi situs wordpress-nya dan nikmati sajian musik2 gratisan di sana. Drpd beli yg bajakan di pinggir jalan, kan?

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Wilmana

Sdr bisa saja 'memuji.' Saya sedikit 'melayang' walau akhirnya cpt sadar siapa tahu sdr sedang 'bergaya' 'mengangkat seseorang, lalu 'membanting'nya lagi, hih, hih.

Saya sudah selesai membaca ditel tulisan sdr itu. Another great job! Tp rupanya disini banyak kaum literalis. Dikiranya sdr sedang mengajak mereka membuka usaha dagang. Ada-ada saja. Eniwe, lets go deeper.

Kalau soal misi visa serta corporate strategic planning begitu sederhana untuk dipahami, mengapa kemudian penerapannya banyak yg keliru? Kalau sebuah perusahaan bangkrut lantaran tdk punya misi visi jelas, itu hal biasa. Tp dalam konteks negara, kalau ia bangkrut, gawat.

Kalau Indonesia diibaratkan ikan maka saya punya 'persoalan' dgn pepatah sdr itu, 'ikan busuk selalu dimulai dari kepala' Lima tahun sekali, kami, rakyat indonesia, diberi kesempatan memilih 'kepala ikan' baru. Hanya saja, 'badan hingga ekor sudah kadung busuk.' Dus, keluhan 'kepala ikan' selalu, 'saya kesulitan mengatur birokrasi yg bermental lama, anti perubahan.' Nah, dalam ilmu manajemen, menghadapi persoalan spt ini, apa solusinya??? Apa perlu langkah drastis, LIKUIDASI???


@Erik

Sdr ini pandai beralasan saja, hih, hih. Kalau tdk 'mampu' beropini, tdk perlu katakan artikelnya 'berat.' Tapi okelah, 'take your time' saya tunggu opini anda nanti.


@BM

Kalau tdk salah, tulisan ini adalah permintaan sdr. Bagaimana tanggapan sdr, khususnya dlm kasus 'gmit.' Saya kira, 'penjagaan' paket fren 5 tahun kedepan bisa menggunakan perspektif wilmana ini. Sdr setuju?


Oke deh... mau makan dulu. Lapar bho!

-nk-

Anonim mengatakan...

@Erick

Wah Ama mustinya jadi promotor tinju... Cocok... Yahh utk semuanya di kolong langit, kan ada masanya. Ada masa beda pendapat, ada masanya sependapat. Sy lbh suka yg spontan sj. Artinya jk mmg ada hal yg perlu didukung, lakukan. Tp perlu dikritik, lakukan jg.

Yg penting jgn menerima kritik sbg ancaman dan hinaan, lalu bereaksi scr naluriah menggunakan kekerasan di sini.

Maaf, sy menduga Ama org akademis dan blom pernah terlibat urusan tata kelola yg biasanya mjd beban kaum pejabat struktural. Krn itu, cerita sy ini terasa "berat". Poinnya sbtly pada Misi-Visi. Konteks perusahaan sy pake sbg alat agar tujuan menjelaskan posisi Misi-Visi bs mendarat.

Krn itu, benar @nk. Kl perspektif kita beda, mk Ama bs menemukan hal2 yg bikin pusing sj. Persis cerita silat. Ada kitab syair biasa, tp bg yg perspektifnya cocok, bs melihat ilmu silat hebat terkandung di dalamnya. Tp sy tdk bilang tulisan sy ini hebat, lho... Jgn salah nangkep...

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@nk

Kali ini, tantangan anda juga sangat bagus... sm sekali tdk ada bau2 pelecehan. Mantap...

Pertama. Begini, negara kita ini adalah organisasi yg didirikan sejak 1945 yg lalu. Misi/Visi-nya sudah ditetapkan pula. Tp persoalannya adalah pada strategi. Krn itu pertanyaannya, knp strateginya yg nyambung dg Misi/Visi? Ini pertanyaan yg bisa punya byk jawaban, tergantung perspektif org yg ingin menjawab.

Sy pribadi melihat problematiknya pada motive dr manusianya, ketika mengajukan diri dan diberi amanat melakukan tata kelola negara ini. Kebanyakan mereka ketika berkampanye, byk menyuarakan good governance & clean government. Tp setelah terpilih malah management style-nya buruk.

Ini gambaran bhw motive dasar mereka sebenarnya tdk utk mewujudkan suatu good governance & clean government. Terkadang penyakit perubahan melanda dan motive baik berubah mjd buruk ketika memimpin.

Di era serba liar ini, rasanya sulit kita menemukan Pemimpin yg konsisten dg nilai moral-ethics yg baik. Ada efek domino yg mengikat mereka krn pribadi miskin melarat, tp proses pemilu/pilkada berbiaya tinggi. Ada byk utang yg harus dibayar setelah jd Pemimpin. Ini mjd penyebab utama mereka sulit menghindari KKN. Pdhl, perilaku Pemimpin otomatis ditiru jajaran dan lalu mjd kebiasaan yg merakyat.

Dlm ilmu manajemen SDM, rekrutmen & seleksi harus berbasis kompetensi, baik itu soft-competence (karakter kepribadian: motive, attitude, dll) maupun hard-competence (pendidikan, ketrampilan, dan pengalaman). Selama ini tdk ada mekanisme internal partai politik atau organisasi yg melakukan rekrutmen anggota dan pemimpin dg menyoroti soft-competence dan hard-competence. Bbrp sdh mengukur hard-competence, tp kebanyakan msh mengandalkan seleksi alam spt kasus tim sukses Fren yg diceritakan bigmike. Akibatnya para calon legislatif maupun calon eksekutif yg diajukan kpd rakyat jg tdk jelas lika-likunya. Rakyat disuguhkan ikan2 busuk, at istilah lama, "kucing dlm karung".

Praktek rekrutmen ngawur ini jg melanda institusi pemerintah, kampus2, NGO, bahkan dunia usaha. Di era orde baru, malah lbh celaka lg. Asal Suharto (alm) senyum artinya, OK. Tp kalo cemberut, artinya calon tdk kompeten.

Ini solusi sy dr sudut pandang manajemen. Fren, jk nanti milih para pembantu, jgn cuma liat track-record pengalaman dan kedekatan pribadi. Tp ukurlah soft-competence juga. GMIT, kalo milih Pemimpin, ukur juga soft-competence mereka. Hanya dg cara ini, kita bisa mengetahui dg jelas motive seorang calon membangun strategi, program, dan berperilaku yg selaras Misi/Visi, atau sekedar cari kekayaan pribadi.

Krn Warren Buffet, penguasa lantai2 bursa dunia berkata, "if you lose your integrity, you lose everything".

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@all

Mhn maaf pertanyaan di atas seharusnya, "knp strateginya ENGGAK nyambung dg Misi/Visi?"

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Bigmike
Saya tunggu tulisannya. Adek

Anonim mengatakan...

@ Wilmana

Terima kasih atas posting dan penjelasannya. Saya bisa memahaminya. Tapi kalau punya penjelasan maka tolong diberitahu apa urgensinya membalik paradigma VM menjadi MV. Apakah memng harus kaku seperti itu atau bagaimana. Saya menduga, MV merupakan jawaban terhadap kegagalan VM. Apa benar. Maaf menganggu sekali tetapi saya sedang serius dengan HKUP GMIT yang menurut konseptornya (Bigmike dkk) adalah aplikasi perencanaan strategis dalam pelayanan GMIT (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Om Yes,

Sebetulnya saya bukan membalik VM mjd MV, tapi meletakkan kembali pada tempat yg seharusnya. Penggunaan pola VM itu, hanya kebiasaan membalik MV yang entah dimulai oleh siapa dan rupanya telah berlangsung lama. Apalagi kl bicara kekristenan, mk istilah "missio" ini bermula dr praktek kristen yg mengimani dirinya sbg org utusan dengan tugas khusus yg diemban. Persons been sent to accomplish special assignment, adalah pengertian generik dari kata, mission ini.

Kmdn hal ini dibawa ke dunia organisasi/manajemen sbg tujua, ato cita-cita, ato mimpi organisasi. Ini tdk salah, krn "tujuan" selalu inherent di dalam setiap penugasan (assginment/mission). Setiap org ato organisasi, hadir ke dunia tentu dg misi tertentu yg diberikan oleh the Creator. Setelah sadar akan misi-nya, barulah org/organisasi mulai me-reka ato membayangkan pendekatan apa yg dpt diambil utk melaksanakan misi itu.

Dr sini kita tau bhw pada awalnya adalah tugas suci (mission), lalu org mulai membayangkan, berimajinasi, memprediksi apa2 sj yg kira2 harus ditempuh utk merealisasikan tugas suci itu. Bayangan, imajinasi, ato prediksi inilah yg disebut VISI.

Jd mnrt sy ini bkn soal kaku-luwes, tp benar-keliru. Ketika kita menyadari ada yg keliru, mk sdh seharusnya dibetulkan kembali, bknnya mencari-cari alasan pembiaran dg teori kaku-luwes itu.

Dampak negatif dr pembiaran VM adalah distorsi dalam penjabarannya. Byk perusahaan dan organisasi (tmsk GMIT) yg merumuskan VM yg tdk selaras dg tujuan yg tertera di Anggaran Dasar. Hampir tdk ada perusahaan yg saya audit tata kelolanya memiliki rumusan VM (bkn MV, lho) yg tdk selaras dg tujuan yg tertera dlm anggaran dasarnya. Sy sangat kuatir, Om Yes dan Bung Luji ketika nyusun HKUP GMIT, tdk mengacu pd Anggaran Dasar (AD)GMIT. Bahkan sy kuatir sekali, tujuan GMIT dlm AD yg ada tdk selaras dg misi kristen yg tertuang dlm Alkitab. Moga-moga ini cm kekuatiran sj.

HKUP itu adalah strategi jangka panjang (seharusnya 5 tahunan). Di dalamnya memuat sasaran/target pelayanan tiap tahun selama 5 tahun. Tetapi HKUP jg memuat rumusan Misi GMIT yg merupakan gambaran untuk apa GMIT hadir dan berkarya di dunia ini. Misi ini dijabarkan scr lbh detil ke dalam 5 butir Visi (5 tahunan). Setiap butir mengandung ukuran keberhasilan sesuai dengan 5 tugas pokok GMIT, yaitu marturia, diakonia, koinonia, oikonomia, dan satu lg sy lupa.

Dg dmkn butir2 Visi 2008-2013 GMIT adalah pertama, apa yg ingin dicapai di bidang marturia; kedua, apa yg mo dicapai di bidang diakonia; ketiga: di bidang koinonia; keempat; dst.

Kalo Visi-nya sdh jelas dan terukur, mk dg mudah bisa kita uraikan sasaran/target 5 Bidang HKUP utk 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2013. Setiap sasaran/target tahunan ini jg harus jelas dan terukur serta jk nanti diakumulasi total 5 tahun, dpt dipastikan scr otomatis semua sasaran/target dlm Visi 2008-1013, tercapai.

Jk sasaran/target tahunan sdh tersusun, mk dg mudah kita beri ancar2 (garis2 besar) bg MS, Badan2 Pekerja, Yayasan, dan jg semua Majelis Jemaat GMIT utk nyusun program kerja dan anggarannya setiap tahun mulai 2008 sampe 2013. Selanjutnya adalah bgmn Om Yes dan tim menyusun Juklak/Juknis bg MS GMIT, Badan2 Pekerja, Yayasan, dan Majelis Jemaat menyusun Program Kerja & Anggaran Tahunan. Agar ada keseragaman. Nah di sini br dpt berlaku prinsip kaku-luwes, krn tentu MS, Bdn Pekerja, Yayasan, dan Majelis Jemaat memiliki karakter dan sumberdaya/fasilitas yg berbeda-beda.

Inilah prinsip penyelarasan misi-visi-strategi-program kerja dlm konsep pikul salib yg sy ajukan, Om. Kl butuh penjelasan lbh, silakan sj.. Sy tdk keberatan membantu (tnp fee, lho).

(Wilmana)

Bigmike mengatakan...

Dear all,

It is very long and hard days. Bangun jam 7 lanssung ke kampus. Jam 9 seminar di kehutanan. Jam 13.00 membahas rencana uji kelayakan TPU Fatukoa dan rencana pembukaan hutan wisata/pendidikan. jam 16.00 , nah ini dia bawa materi dalam seminar dan lokakarya GMIT Klasis Kupang Tengah tentang ....hi hi hi Rencana Strategis ha ha ha ha.....curi ilmu dikit-dikit dari Wilaman ha ha ha. Jam 19.00 pimpin ibadat rayon .......waddooohhhhhh....ccaappeekkkkkk....skarang mau pergi menjaga ibunda saya di rumahnya.....wuuuiiihhh.....

Tentang HKUP, nih inormasinya,

HKUP adalah jabaran 4 tahunan dari rncana 20 tahunan GMIT (RIP) yg dimulai sejak tahun 1991. sampai nanti tahun 2010. Peletak dasarnya adalah SGT (bapak Robert RK almarhum, ayahanda saya). Bagi sebagain warga GMIT dia disebut juga sebagai bapak perencanaan GMIT y sudah dirintsinya sejak tahun 1960-an. Ketika HKUP terakhir, 207-2010, saya diminta bergabung dengan beliau bersama 3 orang lainnya. Jadi, HKUP itu adalah persembahan terakhirnya bagi GMIT. Dan berbeda dengan yg lalu, saya hadir kali ini. Saya sedikit merubah pendekatan, yaitu menggunakan model perencanaan strategis. Lengkap dengan semua step-stepnya. Masalah saya, dan tim ketika itu, adalah: tidka ada base laine data yg akurat, banyak yg hanya merupakan tafsiran kualitatif bahkan tentang populasi jemaat GMIT. Saya juga mengajak melakukan SWOT dan analisis kudrannya. menentukan strategi, arah, tujuan, pentahapan tahunan (renops), model evaluasi, kriteria dan indikator termasuk strategi penganggaran. Semua setuju, termasuk SGT. Di Kalabahi, diterima secara aklamasi dengan perbaikan redaksional. Lalu apa yg terjadi. HKUP didiamkan saja dan sudah 6 buolan ini MS GMIT berjalan seolah-olah tanpa ada HKUP. Apa pasalnya? rupa-rupanya, HKUP "terlalu maju" bagi para tukang khotbah itu sementara anggota MS yg dipilih di Alor adalah pejabat-pejabat politis atau pejabat-pejabat yg banyak uang yg tidak punya banyak waktu untuk mengurus apa yg seharusnsya diurus. Selain itu ada rumusan VM GMIT yg sudah ditetapkan sejak tahun 1991
yg sudah diwanti-wanti tidak boleh dirobah meskipun bagi saya reumusan itu lebih mirip naskah khotbah hari minggu. Tetpi, sejujurnya, saya suka dengan perspektif MV yg ditawarkan Wilmana, dan ini penting: masuk di akal saya. Lalu, sore tadi giliran pendeta-pendeta itu yg saya "khotbahkan" dengan VM dan MV. Ketika merka bingung dan sibuk bertengkar mana yg lebih baik di antara VM d an MV, saya sudah pergi ke tempat peribadatan rayon. Itulah ceroitra saya hari ini. Mohon permisi. Tabe

Anonim mengatakan...

wah, aku jadi ngerti bahwa memang seharusnya misi duluan baru diikuti visi. Apik mas Wilmana. Thanks. GBU (Yenie, Srby)

Anonim mengatakan...

@bigmike

Ha ha.. lucu jg jadi 'tukang kompor' di MS MIT sana. Dr jauh sy berdoa semoga Ama tdk dicap 'pengacau'.

Sy dulu sempat diajak ngobrol sama SGT wkt bertemu di Jkt. Melihat konsep draft HKUP yg beliau tunjukkan, mmg sy sdh kasi sinyal bakal sulit dilaksanakan krn proses penyusunannya kurang partisipatif. Secara konseptual sdh benar tp ada hambatan besar dlm implementasinya. Artinya, HKUP GMIT itu, msh blom memenuhi kriteria "manajemen pikul salib" yg ditunjukkan Yesus. Bbrp hal dapat sy share di sini.

Pertama, sy tdk melihat adanya Manual Pelaksanaan HKUP. Manual ini terdiri atas 2 bagian besar yaitu: (Bab 1) Keputusan PS GMIT, atau SK MS GMIT berikut penjelasannya; pokoknya bersifat kebijakan yg berisi berbagai ketentuan pokok tentang bgmn implementasi HKUP; (Bab 2) Prosedur implementasi HKUP, yaitu uraian step by step ttg pelaksanaan setiap butir ketentuan pada Bab 1 diatas. Bab 2 ini dapat diuraikan lg menjadi standard operating procedures (SOP) yg berisi prosedur kerja dan instruksi kerja.

Satu hal besar yg sering dilupakan oleh organisasi adalah aspek maintenance (pemeliharaan). Manual HKUP musti dimonitor implementasinya, dikumpulkan umpan-balik (feedback) dr para Pelaku di lapangan utk proses continues improvement. Dicari, di mana ada bocor ditambal. Di sini baru manajemen "tambal ban" ala si jiwamusik cocok utk difungsikan.

Ketika di Jkt itu, SGT mengakui bhw beliau sangat paham perencanaan tp aspek pengendalian mmg kurang begitu didalami. Sy diminta bantuannya, tp sayangnya tdk sempat terwujud.

@Yennie
Trims atas apresiasinya. Sy jd semangat nulis seri kelanjutannya, "Tantangan Internal Control System". Setelah Misi-Visi-Strategi-Program-Implementasi selaras, ini baru 50% keberhasilan. 50%-nya adalah bgmn mengendalikannya agar tdk menyeleweng dr koridor yg sdh ditetapkan.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@bigmike

itu td hal pertama.

Kedua, kalo sy diminta nyusun HKUP oleh MS GMIT, mk permintaan sy adalah dukungan utk melibatkan sebanyak mungkin stakeholders GMIT (Pemangku Kepentingan). Paling tidak the ultimate stakeholders hrs diajak berpartisipasi. Jadi tdk model "baku" GMIT saat ini. Kl mo nyusun kebijakan, mk MS kumpulin mereka yg dianggap ahli, lalu kasi meja kursi, suru mereka rumuskan, mk tinggal tunggu wkt jadilah konsepnya yg biasa-biasa sj, tp dirasakan "talalu canggih". Kenapa? Krn hanya sedikit org yg ngerti konsep ini, mk implementasinya tdk jalan.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@ Wilmana

menurut Pak Mike, komentar Wilamana terhadap ayam menyeberang adalah apa Misi dan Visinya (maaf saya belum bisa hilang ketawa).

Ini soal GMIT. Memang kadang-kadang agak sulit bagi para pendeta untuk menerima konsep-konsep sekuler ke dalam gereja. SWOT, Visi, Misi adalah barang sekuler. Mungkin baik kalau dicoba untuk membuat konsep-konsep perencanaan yg lebih bernuansa Kristiani. Apa komentar Wilmana? (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

@Yes, BTN

Ah, dr pengalaman beta kira problem gereja itu justru ada pd para Pendetanya dengan segala atribut "kesucian ala Farisi". Menarik batas antara dunia gereja dan dunia sekuler itu hanya akal2an Pendeta untuk memelihara kekuasaannya atas gereja. Para Pendeta bukan tdk ngerti bhw garis embarkasi yg perlu ditarik itu adalah antara aspek teologi gereja VS teologi dan paham2 non-gereja. Menyeret-nyeret aspek tata kelola lembaga/organisasi gereja ke dalam "konflik" teologis-dogmatis ini, adalah upaya yg mengada-ada. Krn faktanya, toh praktek tata kelola gereja sehari-hari tdk lepas metode-metode manajemen. Coba Om Yes tanya ke Pendeta2 itu, bagian mana dr tata kelola lembaga gereja yg tdk menggunakan metode manajemen? Mulai dr perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, semuanya menggunakan metode manajemen.

Sy ingat perseteruan do hawu vs @Andre seputar "Pendeta2 Kaya". Stereotip kaum gereja eropa bg gereja amerika itu, sbtlnya gambaran org kehilangan akal menghadapi kerasnya persaingan kelembagaan. Organisasi gereja amerika sdh menerapkan prinsip2 manajemen modern, sementara GMIT, punya HKUP hanya utk gagah2an tnp mampu melaksanakannya. Org yg berpikir strategis, lgsg tahu bhw tinggal tunggu wkt, GMIT bakal rontok. Waspada, boleh sj krn tdk semua konsep manajemen cocok utk organisasi spt GMIT. Tp alergi dg alasan sekuler, itu naif sekali.

Kita liat perkembangan gereja di Korea dan saat ini, Cina. Pertumbuhan luar biasa di sana adalah buah kerja gereja2 Amerika. Gereja2 eropa terutama yg eksis di Indonesia spt GMIT, mana mampu bergiat di sana? Jgn kan mensejahterakan pihak lain. Kasi makan Pendeta dan pensiunan GMIT scr layak sj, sdh ngap-ngap.

Pendeta2 Petinggi GMIT musti bertobat dari ke-naif-an mereka jk ingin GMIT yg terus bertumbuh di segala bidang pelayanannya dan berkelanjutan. Scr organisasi, GMIT hrs punya organizational capability yg handal. Krn itu, para pegawainya jgn hanya ahli di bidang teologi sj. Tp susun peta kebutuhan keahlian SDM di berbagai bidang yg mendukung kapabilitas oganisasi GMIT. SDM dimaksud hrs Pendeta dan juga pegawai organik non-pendeta. Jgn bergantung pd Penatua-Diaken, yg scr organisatoris adalah para sukarelawan part-timer.

Br2 sy ketemu Bp Lius RK dan diskusi tentang Badan Pengawas GMIT. Wah, mhn maaf kl sy bilang "msh amburadul". Sistemnya tdk jelas dan SDM-nya msh blom dapat memenuhi tuntutan tugas2 auditing. Apalagi jk kita bicara internal control system framework. Kl sdh begini, jk Pendeta GMIT alergi thd sistem manajemen yg terbukti handal scr organisatoris, lalu Pendeta2 itu mau kembangkan sistem sendiri yg spt apa? Bagaiman caranya? Reliabilitasnya bgmn? Kapan siap diterapkan? Ada2 saja...

Utk sementara, inilah komentar saya, Om.

(Wilmana)

Bigmike mengatakan...

Untuk sahabat bloggers Wilmana dan Yes:

sekedar catatan: pada proses awal penyusunan drfat HKUP GMIT 2007-2011, menyadari perlunya suara stakeholder untuk analisis maka dilakukan survei terhadap sampel berbagai stakeholder GMIT. Terhadap beberapa SH dilakukan wawancara mendalam. Hal ini dilakukan terutama karena base line data yg sangat minim dan waktu yg diberikan juga sangat terbatas terutama karena yg "bekerja" harus berbagi tugas dengan tugas-tugas lain di Undana, di PGRI (ketika itu) Forum DAS dlsb. Dari sekitar 120-an lembar quotioners yg diedarkan, lengkap dengan penuntun atau manual pengisiannya, yg kembali ke tangan tim hanya 15 exp. Lalu, setelah selesai draft 1 dilakukan seminar dengan menghadirkan pendeta klasis dan jemaat. Proses penjemaatan seperti ini diulang sebanyak 4 x sampai draft final untuk dibawa ke kalabahi. Di Kalabahi, HKUP dibahas oleh 1 komisi tersendiri sejumlah 50 orang selama 2 hari. Lantas diplenokan. Sayang sekali, di tengah proses, org2 sudah tidak sabaran untuk mengikuti perkembangan tentang "siapa yg akan menjadi ketum GMIT dan anggota MS". Para politisi dan kaki tangannya, yg didalamnya terdapat pendeta2 jemaat dan funsionaris gerakan2 pemuda gereja, sudah bergerilya menyita perhatian peserta sidang komisi. Akibatnya, 1 hari terkahir, komisi HKUP memutuskan untuk menyerahka saja finalisasi HKUP ke tangan konseptor. Apa yg terjadi setelah sidang Alor? Komisi perencanaan di MS dibubarkan dan dilebur ke dalam komisi litbang. Lalu, yg dikumpulkan di komisi litbang adalah profesor2 dan doktor2 yg, maaf, sebagian besar di ataranya memegang komputer saja tidak tahu. Di mana dokumen HKUP diletakkan? di dalam kotak dan atau di flash disk.

Apa arti uraian saya itu. HKUP tidak terlalu maju sebenarnya. Biasa saja. Satu-satunya yg kurang adalah: komitment untuk bekerja secara terencana. Mengapa sulit sekali mendapatkan komitment? saya menemukan 2 hal: 1) pemahaman tentang sistem manajemen oleh kelompok pendeta nyaris 0 besar padahal dalam POK GMIT pendeta adalah ketua MJ. Akar masalahnya: sewaktu sekolah dahulu nyaris tidak ada kurikulum tentang manajemen organisasi; 2) Spirit "nobles obligue" di kalangan pendeta masih sangat tinggi. Merekalah pemimpin dan penentu. Di sini memang ada soal pengaruh warisan gereja mazhab eropa. Apa jadinya ketika butir 1 dan 2 digabung? adalah ini: gereja dipimpin oleh orang2 yg tidak mengerti apa yg harus mereka lakukan kecuali tradisi-tradisi lama. Maka, GMIT yg seharusnya bersifat presbiterial malah terjebak menjadi suatu sistem episkopal yg kaku dan lembam. Kekakuan dan kelembaman akan mengarah kepada entropi yg maksimal (hukum termodinamik). Lalu, ke mana GMIT akan berujung jika situasi ini berlanjut? Wilmana sudah mengatakannya.

Jadi, perencanaan perlu dan bahkan wajib. Tetapi harus ada 1 prasyarat lain yg penting , mungkin yg paling penting : perbaikan spiritualitas. Dalam bahasa gereja kita katakan sebagai pertobatan. Selama 6 tahun menjadi penatua dan skarang adalah wakil ketua MJ saya tahu bahwa, spiritualitas pemimpin GMIT adalah masalah yg teramat sangat besar. Syalom

Anonim mengatakan...

@ all,

Sy setuju dengan bigmike.

Pertama, problem besar GMIT justru ada pd spiritualitas, ato mhn maaf sy lbh suka pake istilah moralitas. Moralitas krn dlm bikin keputusan di GMIT, nilai moral yg melandasinya sungguh immoral (bukan amoral, lho. Krn a-moral artinya krg lbh, "bebas nilai").

Cthnya, cerita bigmike ttg keputusan PS GMIT yg tdk orgasme. Capek-capek disusun, pake survey segala, PS GMIT bikin Komisi Khusus berisi 50 org pakar, eh ujung2nya PS GMIT memutuskan utk finalisasi ekstra forum PS GMIT. Moral dari keputusan ini yg membuat hatiku hancur-lebur, "wkt pr Peserta rupanya habis utk maen politik dagang sapi dlm pemilihan MS GMIT dan jajarannya". Celakanya, motor politik tsb adalah org2 muda para aktifis GMIT maupun Ormas para-GMIT.

Kedua, scr sistematis, kegagalan PS GMIT menetapkan HKUP yg final, nampaknya krn Draft-nya juga tdk bersifat final. Artinya, secara metode msh ada peluang perbaikan pola penyusunan HKUP dan sejenisnya. Mungkin kl minta bigmike jelaskan, akar masalahnya kembali ke sistem komitmen yg tdk final. Artinya, pembahasan di pra-PSGMIT sdh Ok dan semua pihak komit utk di PSGMIT nanti tinggal ketok palu. Tp kalo Komisi formal yg dibentuk sampe 50 org dan sifafnya "membongkar" kembali draft HKUP, yaa itu tandanya komitmen pra-PSGMIT sekedar komitmen palsu. Knp spt itu, bs jd Draft-nya jg blom memberi "jaminan rasa aman" bg para Implementornya. Wah kl dikorek-korek, jadinya berputar-putar ala lingkaran setan.

Krn itu, sy setuju jk landasan moral harus jelas. GMIT, biar lembaga gereja sekalipun, tp hrs punya yg namanya Code of Conduct disertai penegakkan yg obyektif dan konsisten. Perangkat Tata Gereja sbg sistem hukum gereja hrs ditegakkan. Penyakit di gereja adalah, org bersalah cuma digembalakan. Struktur dan Proses Tata-kelola (governance structure & process) jg harus dibenahi. Jgn segan2 menerapkan prinsip-prinsip governance taitu TARIF (transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness).

(Wilmana)