Minggu, 29 Juni 2008

Negara yang GAGAL adalah negara yang hanya bISa MeLONgO ketika KEriNG

Sahabat blogger yang terkasih,

Sebelum saya membuat catatan apa-apa, saya mohon kesediaan para pembaca memandang baik-baik.....tajam-tajam....cermat-cermat.....kedua gambar di atas ini. Ya, saya mohon anda menatap baik-baik gambar-gambar itu. Lalu, katakanlah pada saya.....di manakah kira-kira negeri tempat pemandangan yang hijau royo-royo itu berada. Silakan menebak (barulah pada akhir artikel akan saya kasi tau ke pada sahabat sekalian tempat yang dimaksud).

Baiklah, inilah pengantar saya kedalam artikel baru ini. Beberapa hari lalu, si Norman datang kepada saya menyerahkan naskah posting baru. Setelah melihat sejenak, saya tertawa. Mengapa demikian? Karena cara-cara penulisannya yang masih sangat hijau. Sangat polos. Sangat lugu. Bahkan cenderung naif. Tapi saya tidak sampai hati untuk menolaknya seketika karena di mata Norman saya menangkap adanya antusiasme yang luar biasa. Bergolak dan bergejolak. Maklum anak muda. Muda? Ya, karena saya pernah seusia dengan dia. Dan ini istimewanya: seusia dia saya sudah memiliki dia. Anda bingung? Jangan. Si Norman adalah "penerus DNA" saya. Sulung dari anak-anak saya.

Tapi lalu, kalau saya meneruskan juga memposting artikel sumbangannya, hal itu bukan terutama karena Norman adalah anak saya. Bukan. tetapi saya menangkap "kegundahan" di hatinya. Setiap hari dia membaca blog ini dan yang ditemukan selalu pembicaraan yang amat tinggi. Ada di awang-awang. Terlalu ideal. Ya, kebanyakan perbincangan di dalam blog ini ada pada tataran idea. Hal ini, menurut Norman, perlu dikurangi. "Sekarang kita perlu berbicara sesuatu yang agak realistik. Sesuatu yang menginjak bumi" katanya sengit diiringi dengan pancaran mata yang berkilat-kilat. Whhuuuiiihhhh......waaaaaahhhhhh.......semangatnya mengingatkan gaya saya dahulu kala. masih menurut dia: "bumi kita sekarang, sedang dilanda kekeringan. Cilakanya, ketika kekeringan itu terjadi, nyata di depan mata, negara seolah-olah diam". Anda menangkap maksud saya dengan mengungkapkan episode obrolan kami itu? Ya, anda betul. Negara sebaiknya jangan hanya "berwacana" tetapi bertindaklah. Dalam hal apa? Ada banyak hal tetapi Si Norman meminta perhatian negara, dan kita semua, untuk satu hal yang berkaitan dengan cara-cara kita untuk mendapatkan makanan: Pertanian. Ah, saya sudah kepanjangan. Maka, inilah Si Norman dan kegundahannya.

KEKERINGAN MELANDA INDONESIA. aH, bASsIIiiii.
Ada Berita yang Laen Nggak?????

Pasti anda sedikit bingung (atau bingung sama sekali) begitu membaca judul ini. Tapi saya bisa pastikan bagi yang sering membaca atau sekedar membuka Koran pasti sering melihat berita mengenai kekeringan. Mulai dari yang terpampang di Headline sampai yang di bagian-bagian lain dari Koran yang sedang anda baca su pasti ada saaaaaa berita “kekeringan melanda daerah bla bla atau gagal panen melanda daerah bla bla seluas bla bla”. Betul ko sonde??? Padahal kita tahu pertanian itu salah satu sektor yang penting bagi suatu Negara. Bagi saya ini jadi berita basi karena selalu dan selalu hadir menghiasi Koran tapi anehnya ada hal yang menarik dalam berita-berita seperti ini bagi saya. Bingung??? Mari kita lanjut saja tapi sebelum saya membahas lebih jauh, ijinkan saya yang tergolong penulis “bau kencur” dan “bau-bau” yang lainnya akan sering-sering bertanya pada pembaca sekalian selain karena saya tidak banyak tahu tapi juga, saya ingin membangun ketertarikan anda pada hal yang ingin saya sampaikan. Jadi prepare your self… Trik nafas.. hembuskan.. kosongkan sejenak pikiran anda dari Indonesial, negara kalah, “dedi dores’, dll dan…….

Mari kita mulai……………………

Pertanyaan pertama, apa yang menarik dari berita yang saya katakan basi ini??? Sudah saya katakan sebelumnya dari berita yang “basi” ini saya menangkap dua hal yang saya anggap menarik. Hal pertama yaitu apa sikap anda begitu membaca, melihat dan mendengar berita ini??? Entahlah apa sikap anda tapi saya begitu membaca berita-berita ini selalu bilang dalam hati “Kasian e…” tapi seterusnya apa yang terjadi?? Saya dengan cepat melupakan berita ini dan saya lebih tertarik membaca berita tentang perkembangan Euro 2008 atau malah berita tentang putus-sambungnya atau kawin-cerainya artis Indonesia, atau berita “politik” bagaimana seorang Saiful Jamil, mantan (atau masihkah??) penyanyi dangdut yang ingin terjun di dunia politik. He..he. Parah…Yang menjadi benang merah atau inti dari point yang ingin saya katakan adalah SAYA BERSIKAP APATIS (atau masa bodoh atau juga “bahasa inggrisnya” time/period stupid. He..he). Selalu begitu dan begitu saja. Entahlah apakah sikap apatis saya mengenai berita kekeringan ini “menular” pada pemerintah Indonesia (untuk menghormati kawan –Anak NKRI- saya mencoba sekuat-kuat tenaga untuk tidak mengucapkan Indonesial. He..He). lagi-lagi saya bisa meramalkan beberapa dari anda (apalagi anak NKRI) akan menanyakan kenapa saya berkata seperti itu. Saya memberikan ilustrasi saja. Pernahkah anda mengenal tanaman Cendana (Santalum album L.)? tanaman ini mempunyai aroma yang harum sehingga dapat dijadikan mulai dari perhiasan sampai perabot rumah tangga. Tentu saja dengan potensi yang ada Seharusnya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber devisa negara atau minimal daerah penghasil cendana ini. Tapi apakah yang terjadi??? maafkan saya kalau dengan pernyataan saya berikut anda akan bilang saya Terrrlaluuu tapi saya mau bilang tanaman cendana (di pulau Timor dikenal dengan Hau Meni) ini masih hidup dan “ada” sampai saat ini hanya karena “kemurahan Tuhan” saja, bukan karena campur tangan pemerintah. Tidak perlu lagi saya mengatakan alasannya kenapa.

Waduh, para pembaca maafkan saya jadi sedikit ngelantur membicarakan tanaman yang “tidak kita makan” jadi nanti saya bisa saja dibilang sebagai orang yang tidak focus terhadap topic pembicaraan yaitu kekeringan. Tapi saya ingin memberi gambaran pemerintah yang “apatis”. Mari kita lanjutkan lagi, mengapa saya mengatakan Indonesia menjadi “apatis” terhadap kekeringan salah satunya adalah : komoditi pertanian apa yang sekarang tidak harus diimpor dari luar negeri?? Semua sekarang harus diimpor, mulai dari beras, gandum, kedelai, dll. Padahal seingat saya sampai pada tahun 1980-an, Indonesia masih dikenal sebagai salah satu negara eksportir beras dan komoditi pertanian yang cukup diperhitungkan di dunia. sekarang yang tersisa paling-paling Indonesia cuma bisa “mengekspor” TKI (illegal) dan asap akibat pembakaran hutan saja. Apakah Indonesia tidak peduli (atau apatis) pada bidang pertanian sehingga bidang ini seakan menjadi anak tiri (padahal sangat penting karena menyangkut “urusan perut”) sehingga apabila dulunya sektor ini menjadi primadona atau No. 1 sekarang tetap jadi No. 1 (tapi dari urutan belakang)???. Pertanyaan menggelitik saya, Ini sebenarnya Apatis atau tidak becus mengurus pertanian yah??? Jujur saja, saya termasuk yang tidak senang dengan pemerintahan era almarhum Soeharto, tapi maaf-maaf saja justru pada era tersebut pertanian Indonesia ”tidak separah” sekarang. Jadi, walaupun di antara ”beribu-ribu” kekurangan beliau, tapi kita perlu angkat topi untuk ”1 keberhasilan” almarhum.

Point kedua, hal yang menarik dari berita kekeringan menjadi berita basi ini adalah bidang pertanian menjadi bidang nomor ke sekian yang menjadi fokus negara tersia…... Ups tercinta ini. Begini saja, sekarang apa yang lebih menarik bagi anda begitu membaca (atau sekedar membuka) Koran? berita minyak dunia yang semakin naik sehingga BBM turut naikkah? berita demo yang berujung kerusuhan yang semakin sering terjadi kah? Berita FPI yang seakan-akan “tidak tersentuh” hukum padahal telah jelas-jelas melakukan tindakan kekerasan kah? Hmmmm… seandainya saja ada poling mengenai berita di koran apa yang menarik, saya yakin berita mengenai kekeringan sudah tidak menjadi hal yang menarik lagi. Waduh, saya kok lagi-lagi jadi ngelantur begini yah. Tapi yang ingin saya sampaikan dari “melantur” saya ini adalah pertanian telah menjadi bukan hal utama karena bagi pemerintah banyak hal yang “lebih penting” untuk dipikirkan daripada “sekedar” bidang pertanian ini. Saya membayangkan diri saya sebagai bapak Presiden SBY yang tiap bangun pagi yang ada dipikirannya masalah…masalah…masalah yang di urutan terakhir barulah bidang pertanian ini dipikirkan (malah yang lebih parah jika pak Presiden ini lebih memikirkan “perseteruan” dirinya dengan Wapres mendekati saat Pemilu 2009 nanti. Walah..walah). Sekarang terkesan saya seakan-akan menyalahkan pemerintah dalam hal ini. Apakah kondisi alam dan yang lainnya pun tidak ikut berpengaruh?? Yah, memang kondisi alam pun turut berpengaruh seperti saat ini dengan efek el nino dan la nina yang menyebabkan panas serta hujan berkepanjangan, tapi bukankah pemerintah seharusnya (dan memang sudah menjadi tugas mereka) untuk mengantisipasi hal seperti ini??? Bukankah kami memilih anda-anda yang duduk di kursi pemerintahan untuk menangani hal ini juga?? Pertanyaan berikut, Apakah salah apabila pemerintah menempatkan pertanian sebagai nomer sekian dalam membangun bangsa??? Saya meminjam ungkapan teman ayah saya yang selalu bilang ”gawat...gawat”. memang sudah gawat betul Indonesia ini. Maaf jika tetap seperti ini maka apa yang dikatakan BM, Indonesia sebagai Indonesial adalah benar adanya. Saya juga yakin dan pasti bahwa anak NKRI dan “antek-anteknya” akan berkata “Oh itu bisa-bisanya nrk saja, sebenarnya Indonesia memikirkan kok bidang pertanian”. Maaf-maaf saja sebab saya “agak sedikit” mengerti tentang pertanian jadi saya tahu bahwa di daerah-daerah entah di daratan jawa, daratan timor-NTT sama saja keluhan para pertani. Mulai dari pupuk yang makin mahal dan langka, sarana-sarana pendukung (alat-alat, bendungan, waduk, dll) pertanian yang masih belum memadai, dan sebagai sebagai sebagai serta sebagainya (karena banyak sekali keluhan).. kalau sudah begini, siapa yang mau jadi petani?? Su susah malah semakin melarat saja karena kekurangan perhatian. Jadi sebenarnya bukan hanya kekeringan dalam artian secara fisik yang melanda Indonesia tapi Indonesia pun turut mengalami KEKERINGAN MENTAL. Agak menjadi membingungkan karena dalam setiap kampanye mulai dari kampanye Presiden, Gubernur, Bupati sampai Walikota selalu disinggung salah satu “janji” apabila terpilih nanti adalah membangun sektor pertanian. TAPIIIIIIIII, seperti syair lagu Mariam Belina “Tapi Janji Tinggalah janji……….” Ah sudahlah mending kita “Ðedi Dores” saja pemerintah Indonesia saat ini. Begini saja deh, supaya saya sedikit kelihatan obyektif maka saya menyingkirkan nama pemerintah dalam ”daftar kesalahan”, lalu saya ingin menanyakan pada anda-anda sekalian. Saat ini (secara jujur) pernahkah terlintas dalam pikiran anda tentang arti pentingnya sektor pertanian?? Ingat yang jujur karena jika anda tidak menjawab jujur maka ”daftar kesalahan” anda akan bertambah satu saat nanti di akherat. He..he

Pertanyaan terakhir (saya benar-benar berjanji ini menjadi pertanyaan terakhir), apa solusinya kalau begitu??? Hal yang teknis mungkin terlalu banyak sehingga tak akan muat jika ditulis satu-persatu tapi secara garis besar saya ingin bilang “Kembalikan perhatian ke sektor pertanian karena sektor ini sangat penting”. Bukan berarti saya menganggap sektor lain seperti politik, keamanan,dll tidaklah penting karena masing-masing saling berkaitan satu dengan yang lain. Tapi logika sederhananya anda tidak akan bisa melanjutkan mengurus kerjaan kuliah, mengurus pekerjaan kantor, mengurus pekerjaan sebagai dosen, aparat desa, aparat pemerintah, kerjaan sebagai manajer, dan segala pekerjaan anda di berbagai bidang kalau anda tidak makan. Coba renungkan…. Tapi jangan salah sangka, kita makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Oleh karena itu, dengan meminjam jargon kampanye Gubernur dan Wagub NTT yang baru terpilih saya ingin bilang “Mari Kita Sehati Sesuara Membangun Sektor Pertanian (dan sektor-sektor yang lainnya)”. Ingat Fren janji pas kampanye jangan ko cuma jadi wacana sa

Salam damai,

Kupang, 26 Juni 2008
Pukul 05.00 Wita
(ditulis sambil begadang sampai pagi) He..He

(Bigmike: nah saya penuhi janji saya: 2 buah gambar di atas adalah di Gurun Negev, Israel. Betul, anda tidak salah baca. Gambar vegetasi cantik itu diambil di atas gurun Negev. Apa motivasi saya menampilkan gambar-gambar itu? Ah, jangalah anda bersikap: kura-kura di dalam perahu. Pura-pura makan tahu ..........hi hi hi)

87 komentar:

Anonim mengatakan...

-all-

ini yang PERTAMA. betul-betul yang pertama. dalam artian ini pertama kali saya menulis (sungguh) dan ini pertama kali saya berani untuk menulis. jadi kalau masih banyak kekurangan diwajari sajalah. mungkin topik yang saya ambil tidak terlalu menarik tapi saya cuma mau buka mata yang betul buka mata. saya mau menulis sesuatu yang betul-betul terjadi di depan mata saya dan betul-betul saya alami.

selamat membaca,

(nrk)

Anonim mengatakan...

@nrk

Saya tdk dpt menahan senyum saat membaca narasi @bm sebagai pengantar tulisan sdr. Saya belum sempat baca hari mata ini sudah teramat 'berat.' Tp sebelum 'bobo' saya ingin ucapkan bnyk selamat sudah menulis disini.

Begitu saja dulu, bsk saya pasti muncul lagi.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Dapat kami pahami. Tetapi tulisanmu bagus. Meskipun pengantar dari bigmie, seperti bisanya, memukau (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Ya, Indonesia berubah dari negara swasembada pangan menjadi negera pengemis panan dari orang lain. Padahal presidennya doktor pertanian. Betul-betul gagal. GAGAL (Sulis)

Anonim mengatakan...

Cobalah diuraikan lebih mendalam persoalan cendana. Tanaman yang luar biasa itu mengapa bisa nyaris punah di NTT padahal itu daerah ekotipenya. Mengapa ada Universitas Cendana di NTT tetapi cendananya hampir punah? Jangan-jangan anda dari NTT harus belajar cendana di UGM Jogjakarta karena di Wanagama cendananya sangat baik (Ghentenx, Sayidan(

Anonim mengatakan...

Bigmike benar, kita sudah terlalu banyak bicara ideologi. Saatnya kita bicara yg praktis. Dan memang epat jika kita mulai dari "perut" kita. Mengapa kita gagal? ada teori involusi pertanian yg digagas olh Clifford Gertz tahun 1960-an. Sampai sekarang teori tersebut masih valid. Tetapi, kejenuhan pasar sebenarnya disebabkan oleh praktek globalisasi di mana pasar bahan pangan justru dikuasai oleh kartel-kartel produsen pangan yan dinegerinay sendiri justru disubsidi. Sementara kita? JK, Sri Mulyani dkk yang braliran ekonomi neo-lib malah berterian untuk menghapuskan subsidi sama sekali. Akibatnya ketergantungan kita kepada negara produsen pangan sangat tinggi dan skor kita di dalam parameter negara gagal meningkat. Alhasil, kita memang pantas untuk disebut INDONESIAL. Thanx Norman. Thanx bigmike atas posting yang membumi ini. Capek juga membicarakan ideologi (Patrice)

Anonim mengatakan...

Contoh kekeringan yang ekstrim di Indonesia adalah di NTT. Rata-rata musim kering 6-7 bulan dalam setahun. Di Sabu, kekeringan bisa mencapai 8-9 bulan dalam setahun. Hal ini sering menyebabkan orang NTT menjadi cengeng. Padahal di NTT lahan kering mempunyai potensi yang lebih besar dibandingkan lahan sawah. Di samping sebagai penghasil pangan, lahan kering juga menghasilkan produk pertanian lainnya dalam arti luas seperti perkebunan, peternakan dan perhutanan. Namun, selama ini potensi itu terabaikan. Orang NTT cenderung hanya bisa menangisi kekeringannya lantas tidak berbuat apa-apa. Saya agak benci dengan istilah NTT = nasib tak tentu karena hanya menggambarkan kepasrahan dan kemalasan. Orang Israel berhasil membuat gurun menjadi hijau. Orang NTT hanya hijau matanya kalau melihat uang. Ganti Gubernur juga kalau gubernurnya mata hijau ya sama saja. Susah. Hedui dalam bahasa Sabu (Savunesse)

Anonim mengatakan...

Melongo karena bodoh, dogol atau malas? Dasar Gagal. Anak NKRI, apa komentarmu? (Larry)

Anonim mengatakan...

@All

Membaca komentar rekan disini, kasihan betul negeri kami. Ideologi tidak ada/kosong + betul-betul gagal (sulis) + indonesia pastas jadi IndoneSIAL (Patrice) + cendana nyaris punah (Ghentenx, Sayidan) + kekeringan (savunesse) + Melongo karena bodoh, dogol atau malas? Dasar Gagal (Larry).

Hayooo... mari teruskan daftar kegagalan kita!!!

-kadeluk-

Anonim mengatakan...

@nrk dan sidang pembaca blog yg budiman

Saya sudah membaca tulisan sdr. Sekali lagi selamat. Sdr patut bangga, walau masih bau kencur, tp sdr punya 'nyali' besar. Tp terus terang saya agak bingung. Kalau sdr ingin 'membumi' lalu menulis ttg kekeringan, yg lalu 'digemari' oleh rekans yg telah memberi komentar, mengapa sektor pertanian yg sdr soroti??? Kekeringan, kami perlu makan, lalu pertanian? Buat saya, kalau sdr pingin benar-benar membumi, khususnya didaerah sdr, Nyaris Tak terdengar ("ntt"), maka sebelum sdr bicara sektor pertanian, teriak dahulu AIR, AIR DAN AIR. Mengapa air? Baca komentar 'org sabu!'

Dalam kondisi kering yg luar biasa, persoalan kekurangan air menjadi pokok diskusi yg teramat 'urgen.' Tanpa air, sdr jgn bicara menanam. Bukan itu saja, tanpa air, sdr jgn bicara hal kesehatan. Sdr pingin
minum obat saja perlu air bukan? Atau ingin lebih membumi? Sdr ingin bertemu kekasih hati, sdr perlu mandi. Saya jadi ingat guyonan seorang teman. Mengapa org ntt sering kurang percaya diri/minder? Katanya karena kami jarang mandi. Membaca pengakuan sdr yg katanya masih bau kencur dan bau-bau lain, saya jadi maklum, hi hi hi.

Untuk itu sdr, berteriaklah kepada gubernur terpilih, jangan bicara hal lain dahulu, tetapi bagaiamana menyediakan air, buat mandi, buat kebersihan, buat kesehatan dan akhirnya buat sektor pertanian sodara. Tp, dgn persoalan ril yg ada didepan mata, yakinkah sdr bahwa pemimpin sdr -yg dahulu hingga sekarang- sama sekali tdk tahu apa yg dibutuhkan? Saya kok tdk yakin. Mereka tahu masalah kita adalah air. lalu mengapa dari jaman ke jaman org ntt teriak air tp pemimpin seolah 'tuli?' Saya tertarik dgn ujaran kata 'org sabu.'

Bolak-balik, bukankah kita harus mempersoalkan moralitas pemimpim dan lalu negara??? Kondisi negeri kami sudah begitu parah sehingga saya dan sdr dkk sudah tdk tahu mana yg membumi, mana yg perlu dibicarakan terlebih dahulu. Nasib oh nasib!

Salam 'air'

-Nyong Kupang-

Anonim mengatakan...

-nk-

kalo persoalan air memang sudah menjadi masalah klasik. malah kalau saya bilang betul-betul basi. ada sedikit cerita lucu tentang air ini. tugas rutin saya tiap bulan adalah membayar rekening air di PDAM, jadi iseng-iseng beta tanya di petugas PDAM tentang beberapa tempat di kota kupang yang selalu "batareak" tentang kering air sonde jalan. tapi lucunya, si petugas PDAM ini bilang "adik jang heran air di tempat lain sonde jalan ko sekarang sa di kantor PDAM sa air sering sonde jalan. Ha..ha. parah sekali.

memang betul NTT memiliki iklim semi arid dimana hanya memiliki bulan basah cuma 3-4 bulan (malah kadang cuma 2 bulan sa) tapi yang perlu disadari biarpun di cuma sedikit bulan basah (hujan) tapi dari segi "kuantitas" jumlah hujan yang turun cukup besar jadi kalau disadari oleh pemerintah harusnya seperti yang beta sedikit singgung di tulisan harusnya dimanfaatkan sepert contohnya membangun embung, bendungan, dll untuk menampung air. di kupang su ada tilong, tapi berapa sih daerah yang mampu dialiri tilong ini??

beta tertarik ingin bicara sedikit tentang pertanian karena beta ingin menyampaikan apa yang sedikit beta pahami dan pelajari di bangku kuliah karena apa yang beta lihat sekarang sektor pertanian su jadi fokus no ke sekian dari pemerintah. karena kalau kitong bicara tentang pertanian su pasti kita akan bicara masalah tentang air, masalah tentang pupuk, masalah tentang ketersediaan lahan, dsb.

(nrk)

Anonim mengatakan...

@nrk

Rupanya sdr masih gamang juga untuk katakan bahwa persoalan yg paling mendasar di ntt adalah air. Tp saya menangkap kesan sdr setuju dgn saya. Belajar dari alam, 3/4 bumi dipenuhi air. 75% dari tubuh isinya air. Dus, jangan bicara dahulu soal lain. Mari kita bicara air.

Okelah, sdr kasih contoh embung dll untuk mengatasi masalah air. Apa sdr pikir hanya sdr yg tahu hal ini??? Apa sdr berani katakan pemimpin ntt bodoh? Tentu tdk bukan! Lalu, apa persoalan dasarnya?

Sdr meminta kami jujur disini. Saya sudah jujur. Sekarang giliran sdr. Mengapa pemimpin ntt dari zaman ke zaman 'gagal' menyediakan air? Bukan karena bodoh, mereka lebih suka urus soal uang. Mereka tdk peduli rakyat. Lagi-lagi, bukankah ini soal moralitas? Saya tunggu jawaban sdr.

Terakhir, apakah sdr bisa menangkap artian 2 gambar yg diselipkan ayahanda sdr dan penjelasannya diakhir tulisan?? Rupanya dipadang gurun israel bisa ojo royo2. Mengapa indonesia dan ntt tdk bisa belajar dari org yahudi??? Mengapa visa ke israel tdk ada??? Jawabnya lagi, moralitas. Demi kepentingan agama tertentu, kami dilarang kesana padahal solusi ntt ada di gurun org yahudi. Sdr setuju dgn saya soal ini???

Salam - nk

Anonim mengatakan...

@nrk

Kalau tdk salah, gubernur terpilih sdr akan dilantik bulan depan, Juli 2008. Sediakan 'kado' istimewa bagi dia. Ketimbang sdr mengeluh karena kami disini hanya bisa omong saaa... saya usul, berilah bpk gubernur 'kado' istimewa berupa tulisan ttg air di koran lokal. Sdr ingin yg nyata? Tuh, saya sudah kasih idenya. Mintalah bantuan ayahanda sdr dalam penulisan nanti. Bagaimana, sdr setuju??? Sdr masih muda, masih idealis. Lakukan sekarang sebelum menjadi sama dgn kami!

-nk-

Anonim mengatakan...

@nrk

Saya setuju bhw pembangunan NTT tdk boleh meninggalkan pembangunan pertanian. Tetapi, menjadikan pertanian sbg ujung tombak pembangunan NTT, bagaikan pungguk merindukan bulan.

Bukan karena NTT tidak punya potensi, tetapi utk menngembangkan potensinya, perlu dana dan SDM yg mumpuni. Mengembangkan SDM yg mumpuni-pun perlu biaya.

Mengenai potensi lahan yg kering-tandus, tdk perlu ungkap data lg. Tp mengenai kondisi SDM, NTT tahun ini menduduki peringkat paling buncit dr segi jumlah kelulusan SMU, data Metro TV menunjukkan angka tdk lulus di atas 50%. Blom lg kl ukurannya kualitas.

So, kalo @nk bilang masalahnya di air, mnrt sy bukan. NTT perlu dukungan dana yg besar utk mengembangkan pertaniannya. Gurun israel bisa jd padang bunga, krn dukungan dana yg tak terbatas. Potensi kecerdasan org israel jg di atas rata2. Dg dua modal ini, Israel bs tampilkan situasi spt gambar bigmike. Kl sdh ada dana, baru kita bisa bicara ttg mo diapakan lahan tandus NTT itu.

So,bagaimana nrk dan kita memberi solusi atas kebutuhan dana yg besar ini?

-bonggo-
(Satu kata byk arti. Bs jg artinya "kadeluk")

Anonim mengatakan...

-Ghentenx, Sayidan-

Dapat sedikit saya gambarkan bahwa cendana merupakan tumbuhan asli daratan Tiomor yang tumbuh dan berkembang secara alami di pulau Sumba dan Timor. Meskipun telah dikembangkan di tempat lain (di luar NTT dan di luar negeri) tapi jika kita berbicara tentang kualitas minyak santalol (yang membuat cendana beraroma wangi) maka cendana dari pulau Timor bolehlah “menepuk dada” jika dibandingkan dengan tempat lain. Adapun beberapa masalah yang ingin saya sampaikan tentang cendana di NTT ini antara lain.

a.teknologi silvikultur (budidaya). Secara jujur saya harus mengakui kami di NTT meskipun telah saya sampaikan memiliki keunggulan tapi kami harus “menundukkan diri” untuk mengakui budidaya di tempat lain jeuh lebih maju. Tetapi saya senang karena sekarang sudah mulai ada penelitian-penelitian tentang cendana hasil kerjasama Undana dan Dephut dimana teerhitung tahun 2004 ditanam 1.000 anakan cendana yang kemudian diteliti oleh beberapa mahasiswa (termasuk penelitian S1 saya sendiri). Oleh karena itu salah satu alasan saya mau melanjutkan S2 di jogja yah karena ingin belajar banyak tentang budidaya cendana.

b.Peran serta masyarakat. Masyarkat cendrung bersikap apatis. Ini lebih dikarenakan (lagi-lagi) peraturan pemerintah. sejak tahun 1966-1986 tertuang dlm Perda adalah, sebagian besar hasil cendana dikuasai oleh Pemerintah Daerah baik yang ada di tanah negara maupun di lahan milik. Diberlakukannya sangsi terhadap pengrusakan cendana di lahan milik yang tidak disertai dengan distribusi pendapatan hasil cendana di lahan milik secara adil, telah membawa dampak sosio-psikologis terhadap masyarakat.sehingga ada stigma tentang cendana di mata masyarakat Timor yaitu sebagai hau nitu (kayu setan), hau lasi (kayu perkara) dan hau plenat (kayu milik pemerintah).

c.Pemerintah. kurang jelas?? P E M E R I N T A H. lewat kebijakan-kebijakannya dimulai sejak dikeluarkannya Perda No. 16 Tahun 1986 tentang Cendana. Pada saat itu Pemda Provinsi NTT mulai mengeluarkan ijin, yang semata-mata didorong oleh keinginan meningkatkan PAD tanpa memperhatikan potensi cendana yang ada. Pada tahun 1997/1998 terjadi penurunan populasi pohon cendana secara besar-besaran di semua wilayah kabupaten, ketika dikeluarkan kebijakan “Operasi pengamanan kayu cendana masyarakat melalui pembelian kayu cendana masyarakat dengan harga tertentu”, yang dikenal dengan “operasi bersahabat”. Namun karena operasi ini menyebabkan terjadinya pencurian dan penebangan liar tanaman cendana secara besar-besaran maka para pemerhati lingkungan dan ilmuwan menyebutnya sebagai “operasi sapu jagad”. Tapi sejak adanya otonomi daerah maka telah ada perda yang lebih akomodatif.
Oleh karena itu jika harus memberi saran maka wilayah NTT yang merupakan habitat alami cendana maka pengembangan hutan tanaman cendana harus menjadi prioritas daerah dan nasional. Untuk itu pengembangannya harus berbasis penelitian, dengan didukung oleh partisipasi masyarakat dan kebijakan Pemerintah Daerah.

(nrk)

Anonim mengatakan...

-nk-

persoalan air sudah saya sampaikan dari dulu adalah air. dalam lingkup NTT air itu su jadi masalah. apa yang harus kita lakukan kalau begitu?? bagaimana kalau kita "tikam lutut" di tanah ko berdoa minta Tuhan ko kasi air dalam jumlah banyak?? mau sampai besok pun tidak mungkin, saya sih maunya dengan air yang jumlah sedikit ini harusnya ada pengelolaan yang baik. tapi saya tidak ingin bicara banyak tentang air. karena saya tidak ingin berbicara dalam ruang lingkup khusus tentang air tapi jika kita bicara tentang pertanian maka air kita sebut, pengolahan tanah disebut, penyediaan pupuk kita sebut, penggunaan pestisda kita sebut jadi kita dapat sebut hampir semua hal.

kalau anda masih kepingin saya membahas tentang air. boleh-booleh saja. tapi saya bahas dulu dengan beta pung yang pung ini blog. te ini tulisan yang mau dimuat disini su antri na. untuk tulis di koran ju boleh-boleh sa tapi jujur beta agak malas karena hanya jadi angin lalu. moga-moga deng terpilihnya Gubernur yang baru dia bisa mewujudkan salah satu janjinya yaitu memanjukan pertanian, peternakan, dll di NTT

(nrk)

Anonim mengatakan...

surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran .....dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” Itulah ajaran menurut Islam tentang tugas manusia sebagaikhalifah yg menjaga bumi dan lingkungan hidupnya. Pasti di dalam Kristiani terdapat ajaran seperti itu juga. Awalnya aq kenal blog ini ketika posting bigmike tentang Mother Earth. Salah satu posting terbaik. Setelah itu isi blog lebih mengarah ke ide-ide. Kita senang karena Norman telah mengajak kita kembali realistik. Di bagian lain bumi ini, orang menghutankan gurun sedangkan di Indonesia, kita menggurunkan hutan. Sedih atas kebodohan ini. Thanx bigmike karena udah ngijinin Norman memposting sesuatu yg amat penting //Pritha//

Anonim mengatakan...

Woi 'bonggo' nama sdr benar-benar antik, hi hi hi.

Soal dana yg tak terbatas, sdr rupanya sedang 'play crazy.' Dgn kualitas manusia spt yg dibilang 'org sabu,' lebih suka liat uang ketimbang urus kepentingan rakyat, maka sdr boleh saja bawa uang 100 ton, habis tak berbekas sedang rakyat terus melarat.

Sdr tdk beda dgn yg lain, ingin 'membumi' tp keliru melihat persoalan mendasar kita. Moralitas!


@nrk

Rupanya sdr sudah 'give up' soal air bahkan tdk mau bicara banyak soal air. Maka teruslah 'bermimpi' membangun sektor pertanian sdr di ntt. Saya hanya bisa "dedi dores' saja dari sini.

-nk-

Anonim mengatakan...

@ nk,

Dalam perspektif posting tentang Visi dan Misi, dan juga ditanggapi nk, saya kira pilihan nOrman mengulas pertanian dan bukan air itu sendiri adalah visi dia. Dia memandang dari dari posisi berdiri pertanian. Saya setuju karena kalau berbicara pertanian, maka air, lahan dan SDA lainnya terintegral di dalamnya. Kalau nk tertarik membahas air itu sendiri ya silakan. Gituloh nk (Yossie)

Anonim mengatakan...

@Yossie

Tentu saja saya mengerti posisi nrk yg bicara soal pertanian yg didalamnya termasuk air dan blah...blah... tp sdr lupa, saya pun org kupang, tahu juga kondisi alam di kupang.

Baiklah saya ingin berbagi cerita. Dahulu saya bekerja di sebuah proyek pertanian di negara bagian kami ini dgn studi kasus jeruk soe di timor. Kami kesana dgn ahli2 pertanian. Apa kata petani, 'bapak datang kesini bawa ilmu hebat-hebat tp kami hanya perlu air saja.'

Kami pun diam.

-nk-

Anonim mengatakan...

-nk-

seharusnya waktu itu bos cukup jawab "mari bapa-bapa kitong berdoa di Tuhan sa ko Bapatua kirim air sekarang, karena kitong sonde bisa bawa air". beta su bilang masalah di NTT tuh air, kering kerontang su dari dulu begitu. jadi kalo begitu seharusnya ada sistem pengolahan air yang baik jadi dengan sumber air dan ketersediaan air yang sedikit ne maka harus diimbangi dengan pengolahan air yang baik. makanya beta lebih suka ambil topik pertanian jadi kitong bahas semua karena beta sonde secara khusus bahas tentang pertanian NTT (dengan msalah klasik air) tapi ingin membahas pertanian dalam ckupan nasional.
tapi bos coba cek dolo di posting wilmana sebelumnya bos su dicap sebagai penjual narkoba tuh. ha..ha. bos ckup jawab cape deh anak NKRI

(nrk)

Anonim mengatakan...

@nrk

Betul, ntt kering. Saya mengerti. Tp disitu letak persoalannya, bagaimana mengelola air dll itu. Ingat pula, air bukan saja perlu untuk sektor pertanian yg sdr impikan itu. Kita bicara kesehatan saja perlu air. Tahukah sdr di kupang banyak t4 jorok lantaran tdk ada air?? Jadi saya sedang bicara air untuk banyak hal.

Dulu waktu kecil belum boleh begadang hingga subuh. Dus, kakak-kakak saya yg tunggu air yg seringkali jalan saat tengah malam hingga subuh. Akibatnya kami mandi dijatah hanya 3 -5 gayung saja. Kalau lebih kena pok-pak. Jadi bukan saja tanaman sdr perlu air, manusianya pun perlu. Apalagi soal kurang percaya diri lantaran jarang mandi yg saya bilang dikomentar sebelumnya, hi hi.

-nk-

Bigmike mengatakan...

Wah jadi kurang enak karena buru-buuru turun tangan mentang-mentang posting si Norman. Tidak. Saya membuat "sedikit catatan" yaitu: dalam kaidah ilmiah, kita bisa membahasa sesuatu secara deduktif atau induktif. Dalam konteks air misalnya, anda bisa membahasnya mulai dari air itu sendiri terus meluas ke pertanian, peternakan, tata kelola air perkotaan, irigasi dan lain sebagainya (induktif). Atau anda bisa membahas mulai dari hal-hal umum seperti pertanian atau klimatologi atau meteorologi lalu masuk ke kebutuah air minum, air mandi dan seterusnya (deduktif). Silakan membaca dan berdiskusi.

Anonim mengatakan...

@bm

Wah kalau begitu saya perlu bertanya kepada 'sang guru.' Dalam kontens diskusi saya dan nrk, mana duluan, air (induktif) atau pertanian (deduktif)? Atau tdk soal mana duluan??

Mohon pencerahan!

Trims - nk

Anonim mengatakan...

Sistem hidrologi adalah sistem yang bersifat siklus. Oleh karena itu, pembahasan tentang air bisa di mulai dari sembarang titik tertentu. Contoh: air yang berada di sungai asalnya dari mana? KIta bisa memulainya dari awan kondensasi, bisa juga memulainya dari proses penguapan, bisa juga memulainya dari aliran massa udara dan seterus-dan seterusnya. Nah, ini pendapat dari ahli forest fire meteorology. Jadi, percayalah hi hi hi hi (Bigmike)

Anonim mengatakan...

Jadi, dalam konteks diskusi nk dan norman, silakan mau mulai dari mana saja yang anda mau. Mulai dari air di kamar madi kek, air di got kek, air di persawahan kek...ya monggo saja sesuai kebutuhan. Hanya saja, supaya nyambung, diskusi hendaknya di mulai tepat dari titik mulainya. Karena Norman memulainya dari aspek pertanian maka sebaiknya mulai dari sana. Lalu, "sepakatilah bersama" ke mana arah pembahasan ingin di extent-kan. Nah, dari situ percakapan bisa induktif, bisa deduktif atau kombinasi di antara keduanya (Bigmike)

Anonim mengatakan...

Wah, gini aja deh. Diskusi gaya blog ya memang sekenanya. Bagi yg bisa ngikutin tips BM yg ribet itu silakan tapi yang mau diskusi sekenanya tetep boleh2 aja. Setuju bro en' sist? Usul: BM posting lagi dong (Erick)

Anonim mengatakan...

Lama-lama blog ini jadi membosankan karena bigmikenya kabur melulu (Proxy73)

Anonim mengatakan...

@Proxy73
Setujuuuuuuuuuuuuuuu sama kamu, BM malah menghilang. Padahal tiap saat kita menunggu postingya BM.
Pinjam katanya Pritha...BM Posting doooooong. Adek

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Like father like son. Selamat punya tulisan. Memang belum punya warna tersendiri tetapi lama kelamaan akan jadi juga. Tidak perlu meniru bigmike. Be your self. Saya punya informasi bahwa harga kayu cendana di pasar Jepara dan umumnya Jawa tengah berkisar antara Rp. 250.000 - Rp. 300.000,- per kg. Kalau NTT sebagai daerah asal cendana mau kerja keras maka propinsi ini akan kaya. Yang diperlukan adalah kerja keras. Apakah Norman bisa? (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

Wah, pak Syam ini informasi bagus soal harga cenana. Soal kami tentang cendana di NTT adalah trauma masyarakat memeilihara tanaman ini karena penegakan hukum yang amat sangat lemah. Penguasa + pengusaha + pencuri-pencuri telah membuat rakyat malah membabat habis tanaman cendana milik mereka (Bigmike)

Anonim mengatakan...

-syamsudin-

wah..wah terimakasih om. betul juga saran anda. karena memang yang diperlukan dalam usaha budidaya cendana adalah kemauan, kerja keras, pelaksanaan (ini juga penting karena sering kita hanya hebat di omong tapi pelaksanaan nol besar), dan yang terpenting dari semua semua harus diawali dengan doa. tapi kalo secara pribadi selain maslah-maslah cenana di NTT yang disampaikan diatas saya sih lebih memikirkan secara budaya juga. bukan rahasia lagi kalau kita di NTT lebih menginginkan hasil (income) dalam waktu cepat. sebagai info pertumbuhan cendana ini sangat-sangat lambat malah untuk mendapatkan hasil cendna perlu beratus-ratus tahun. jadi kita orang di NTT ini siapa yang mau tunggu lama untuk mendapatkan hasil. paling top di sini banyak tempat yang menjual anakan cendana yang berumur 8-12 bulan, biasanya setinggi20-30 cm, dengan harga Rp 12.500-15.000,-.

untuk masalah tulisan, akan lebih banyak belajar lagi om. mungkin kesamaan ini lebih dikeranakan karena tiap hari melihat tulisan ayah saya dan rata-rata buku yang jadi insipirasi ayah saya menulis pun saya (curi-curi) saya lahap juga. he.he

Anonim mengatakan...

oh lupa itu diatas itu komentar saya.

(norman)

Anonim mengatakan...

@nk

Beta stuju dg Mbak Prita. Norman bicara hal yg praktis, bukan moral2an.. Ntar syamtua kabur lg, gara2 prasangka-prasangka moral...

Krn itu mari bicara praktis... Coba cek ke israel sana. Berapa besar dana APBD yg mereka pake utk mengembangkan pertanian? SDM macam apa yg melakukan itu?

Jgn kaget jk ternyata mengembangkan pertanian di lahan tandus itu dananya gede banget. Israel sendiri tdk menempatkan pertanian sbg prioritas utama devisa, tp perdagangan teknologi senjata, industri pariwisata, dan terutama sindikasi rekayasa keuangan global.

Pertanian perlu tp jgn ngotot abis2an dana pembangunan utk lahan tandus NTT. Ini kl tujuan norman utk ekonomi NTT. Prioritas pd pendidikan yg progressive konsisten dulu. Terutama industri kelautan yg sangat berpotensi melimpah itu jgn ditinggal lalu wkt dan doi (duit) abis utk sibuk gali lobang batu karang utk tanam satu biji jagong katemak. Pariwisata jg sangat berpotensi asal pemerintah mau serius. Tdk perlu belajar jauh2, tp liat ke lombok saja. Dulu ada ide brilian utk buka pusat perjudian, tp entah knp org NTT dan org Indonesia umumnya lbh suka bermunafik dg maen judi sembunyi-sembunyi.

Mnrt beta, selama org NTT msh mimpi mo taro ekonominya di atas pilar rapuh pertanian, mk selama itu pula NTT akan tetap sbg negeri dg Nasib Tak Tentu.

-bonggo-
(si Jiwa Musik bilang, sy ini cm alat perkusi)

Anonim mengatakan...

Pariwisata di NTT bukan barang mudah karena sarana transportasinya gawat. Akomodasinya parah. Orang disuruh naik ferri di laut sabu yang ganas padahal ferri tergolong ASDP. Makanya banyak orang NTT mati tenggelam. Sekarang saja sudah 2 minggu angin sangat kencang tidak ada ferri yang mau berani jalan karena tingginya gelombang. Mau mengunjungi mutis? siap-siap untuk patah pinggang. Mau lihat kelimutu? Tiap bulan ada saja mobil terbalik ke jurang karena buruknya jalan. Mau menginap di hotel? air sering macet. Orang Autralia yg ke NTT hanya hipies-hipies yg hanya mau kawin kontrak sama orang NTT. Minumnya cuma minum bir dan lebih pilih untuk tinggal di home stay murahan. Tidak ada nilai tambah. Pertanian, dalam arti luas, adalah cara hidup. Bigmike dalam makalah nya di Forum DAS pernah mengulas tentang entropi lingkungan NTT jika kompleks hutan, hidrologi, pertanian, peternakan tidak teratasi. Dengan model matematika, dia menunjukkan bahwa NTT bisa menjadi gurun. Dahulu NTT adalah pengeksport ternak. Sekarangpun NTT sebenanranya masih memasok sapi untuk pasar surabaya adan jakarta. Tapi tidak ada yg mau pelihara padang rumput. Akibatnya ternak sapi bunting dijual juga. NTT dulu adalah gudang sorghum Indonesia. Gara-gara semua harus padi maka sorgum hilang padahal sorgum adalah karbohidrat non- struktural yg tidak akan menyebabkan penyakit gula dan hipertensi. Ikan tangkap memang luar biasa tapi ikan tangkap NTT bersifat sangat musiman. Puluhan orang sudah berusaha menjual ikan ke luar daerah tapi karena pasokan tidak stabil maka usaha macet.Dahul Belanda menjual cendana dan untung besar. Sekarang cendana mati. Tanya? apa ada kridit murah untuk petani, peternak dan nelayan di NTT? tidak ada? mengapa tidak ada ? Karean sektor pertanian tidak dianggap apa-apa. Contoh: Pemda Gorontalo sekarang menjadi lumbung jagung nasional hanya dalam tempo 5 tahun karena Fadel Muhammad berpikir bahwa pertanian penting. Hal ini yg menyebabkan beta senang sekali dengan posting Norman, beta tau si kurus ini, karena kalau beta kerumah bigmike (ama ludji), dia yg suka-suka bekin kopi, teh atau pigi beli minuman dingin kasi beta deng dia pung bapa. Tulis terus ee Norman, jangan ke lu pung bapa yg su tasibuk urus hutan, DAS, masih tasibuk jadi pendeta swasta. Tar tau dia Doktor utan ko diktor teologia ha ha ha (A9us)

Anonim mengatakan...

@Agus

Ha ha ha... Kayaknya bu Agus ni konco lamanya bigmike... Sekarang mirip2 tokoh FPI... Tp sapa tau beta kenal salah org...

B setuju deng Bu Agus, persoalannya pd keseriusan pemerintah dlm mengurus negeri NTT itu. Skrg ada peluang otonomi, asal Penguasa dong sonde rakus doi rakyat, pasti bisa beres.

Fadhel muhammad sukses krn mmg pd dasarnya Gorontalo punya potensi lahan yg memadai. Beda dg NTT yg tandus. Kita butuh Teknokrat yg punya visi ekonomi/bisnis yg kuat spt Fadel. Dg pengalaman profesional yg kuat di Bukaka, Fadel sukses membangun Gorontalo Incorp di Provinsi baru itu.

Krn itu, selama NTT msh pilih birokrat murni sbg Pemimpin, mk NTT akan tetap spt ini. Percaya, deh...

Satu hal yg beta rasa lucu, org NTT itu punya laut yg begitu luas, tp malah takut melaut. Nelayan NTT itu bisa jd sebagian besar org bugis, bukan Timor. Bu Agus malah lbh celaka lg.. Msh suka bernostalgia ttg cendana, sapi, dan hasil2 pertanian jaman belanda.

Msh untung si Jimi tdk usul spy org NTT outsourcing tata kelola negeri ini kpd Fadel Muhammad sajalah.

-bonggo-
(bg org kupang, ini sama dg papoko, kadeluk, ato gebuk)

Anonim mengatakan...

@Bung 'Bonggo'

Kalau teman-teman diawal kolom ini sudah dgn lantang teriak INDONESIAL 'GATOT' + INDONESIAL dlsbnya, sdr a9us rupa-rupanya masih malu-malu 'pus' walau hakikatnya sama saja, hi hi.

Saya jadi ingat sherly dari oebufu yg komplain lantaran saya 'menggugat' pancasila tp negara dikatakan gagal total ia tdk marah. Rupa2nya, Indonesia boleh gagal tetapi tdk pancasila. Aneh bin ajaib.

Kembali soal solusi ntt, penjelasan sdr masuk akal. Tanah tandus, mau kembangkan pertanian lahan kering tp dana tdk ada, SDM payah, lalu apa yg lebih praktis ketimbang pariwisata yg kata sdr a9us sulit. Jangan-jangan memang sudah nasib ntt spt itu?

Woooi norman, apa pendapat lu???

-nk-

Anonim mengatakan...

@nk

He he he... Sy takut kl musti bilang @A9us itu "Pus". Krn orgnya itu kl tar salah, Simpai Full body contact.

Mengenai Indonesial, yaah beta sendiri memilih proporsional saja. Kolam boleh butek, tp bukan berarti ikannya pd busuk, kan?

Mengenai nomang, beta jg perna bikin isu spt itu kira2 12 tahun yg lalu. Faktanya mmg kl mo bangun pertanian di daerah tandus, perlu dana investasi yg tdk kecil. Blom lg distorsi dg kebijakan pemerintah pusat yg suka pukul rata alokasi dana utk sawah saja, misalnya. blom lg fakta biroktrat rakus doi (duit) rakyat.

Blom lg mutu pendidikan yg sangat2 memprihatinkan. @nk ini kan produk mutu pendidikan jaman SGT-nya bigimike yg masuk 5 besar peringkat mutu lulusan SMU tahun 90-an awal. Tp skrg?

Di laen pihak, sodagar ikan asin NTT, justru org bugis yg mjd sejahtera hidupnya dan bs naek haji berkali-kali dr jualan ikan itu. Org spt Bu Agus itu, bs jd bikin NTT son beranjak dr status "tak tentu". Krn doyan nostalgia, dan menutup diri dr peluang pembangunan ekonomi di luat pertanian, dg ber-negatif thinking ria.

Blom pernah melaut, tp lgsg identikkan laut dg suatu yg mengerikan dan perlu dihindari. Bingung dg industri pariwisata, lgsg bikin kesimpulan "tdk layak".

Pdhl, sejak NTT mulai jd Provinsi, pembangunan pertanian selalu jd prioritas. Tp, yaa itulah.. Selalu berakhir spt begini, "tdk tentu".

Beta lia, pemerintah NTT turun-temurun kayak org yg su tau ada tembok, tp nekat mo ditabrak terus. Rupanya skrg nomang dan @a9us malah ada di barisan Penabrak tembok itu. Lucu, kan?

-Bonggo-
(Pemain bola ada yg namanya,
Bonggo Pribadi)

Anonim mengatakan...

-bonggo-

kalo sebut kata bonggo ne beta mau "bernostalgia" do. soalnya bonggo ne "cukup akrab" beta terima na. ha..ha. untung sekrang su sonde lai.

memang betul bos, "secara resminya" tiap pemerintahan NTT baru selalu dan selalu kucari... eh maksudnya selalu sa salah satu program tu memajukan pertanian bla bla bla tapi liat hasilnya sekarang dolo. jang berpatokan di program tapi pelaksanaan di lapangan. parah. petani kurang pupuk tunggu baterak di koran dolo baru bantuan datang baru ada perhatian, hama penyakit datang serang sonde punya pestisda jadi baterak pi mana-mana dolo baru datang bantuan, yang lebih parah ne pendampingan petani di lapangan masih betul-betul kurang. jadi petani di tempat lain su maju dua langkah kitong pung petani di NTT masih di tampat su begitu ada nginu ei loko le. he..he. jadi beta pung mau tolonglah pemerintah perhatikan pertanian jangan sekedar hebat di program tapi pelaksanaannya nol besar jadi mulailah dengan kasih perhatian, selanjutnya terserah anda.....

kalo pendapat tentang mo bangun pertanian di daerah tandus, perlu dana investasi yg tdk kecil. memang betul. semua perlu uang.. tapi beta sonde mau omong itu dolo bagi beta uang tu kitong omong nanti dolo karena titik berat yang mau beta cermati adalah PERHATIAN..

beta jadi ingat pengalaman waktu iko sebe pi penelitian s3 di Ekateta. disitu ada proyek pemerintah tanam damar putih. damar su tanam, uang su kasi di masyarakat, tapi apa yang terjadi kemudian??? Gatot.. gatot. gagal total. uang su abis dimakan, damar putih su sisa sejarah sa. ini terjadi setidaknya ada dua hal (menurut beta) 1. pemerintah hanya program tapi sonde ada kelanjtan. 2. masyarakat setempat yang........ (silahkan isi sendiri)

ini contoh sa.jadi terserah bos mau bilang beta "tabrak tembok", tabrak yang lain tapi beta maunya "tabrak nona" sa tapi bapa su wanti-wanti tunggu abis kuliah s2 dolo. he..he

(norman)

Anonim mengatakan...

Saya pikir, sdr bonggo dan NK memiliki kesalahan pengertian yg luar biasa gawat tentang maksud saya. Saya tidak sedang bernostalgia tentang NTT dan cendana dan sapi dan pertanian. Ada data yang kuat tentang itu. Kami dan teman-teman tim peneliti Undana sudah tuntas meneliti itu. Saya kuatir nanti kalau saya bilang begini saudara bonggo akan bilang Undana tidak kredibel. Semoga tidak karena kalau saya jelaskan model, asumsi, proses penghitungannya bisa-bisa saudara akan bilang bahwa pemilik blog ini tidak kredibel karena sebagian data dia yang menganalisisnya.
Salah satu kesimpulan dari kajian itu adalah peluang sektor pertanian dan komoditas-komoditasnya masih sangat menjanjikan (BCR dan NPV). Sementara untuk sektor perikanan dan pariwisata, masih harus dikeluarkan biaya yang besar bagi variabel infrastruktur dan biaya bagi "dummy variable" terkait biaya sosial sebagai bentuk subtitusi variabel transformasi sosial dan diklat sumberdaya di bidang itu. Contoh (dan ini sesuai data hasil kajian tim): petani jeruk keprok soe dan peternak sapi bali yg mendapat akses ke aspek keuangan mikro yg dijalankan oleh yayasan talkenta GMIT memiliki pendapatan yg menakjubkan. Biaya investasi air sangat minim karena rumput dan tanaman umbi-umbian hanya membutuhkan sedikit air. Contoh lain, bigmike pernah membimbing petani agroforestri di Ekateta. Ketika kami diminta untuk melakukan analisis IO untuk model yg dikembangkannya hasilnya mengagumkan karena pendapatan petani binaanya yang hanya diberi insentif bibit tanaman, tanaman pakan ternak dan anakan pohon bisa sangat tinggi. Jauh di atas garis fakir miskinnya BPS. Apa basis airnya? hanya memanfaatkan air embung. Tanyalah kepada ama ludji (bigmike) berapa uang yang dia keluarkan untuk itu? Ada mungkin tidak tahu tetapi sayatahu persisi karena saya yg membatu dia melakukan analisi cost and benefit. Masih banyak contoh lagi. Jadi apa kesimpulannya:
1. Sektor pertanian masih sangat prospektif. Anda jangan mengira NTT tandus seperti gurun negev. Data yg ada pada blog makati24 (kepunyaan ama ludji juga) menunjukkan curah hujan NTT tergolong moderat sehingga tidak supra high cost seperti gurun negev. Yang kurang adalah perhatian.
2. Saya tidak mengatakan bahwa pariwisata dan perikanan tidak prospektif. Yang saya katakan adalah: ada begitu banyak hambatan yang harus diselesaikan jika sektor-sektor ini ingin dikembangkan. Penyelesaian hambatan ini bukannya tanpa biaya. Mahal. Dibandingkan itu, mengapa pertanian tidak direvitalisasi saja(untuk hal ini bahkan Norman bernostalgia bahwa Soeharto lebih berhasil sedangkan SBY yg doktor pertanian malah hanya pidato).
3. Saya bukan takut akan laut yang ganas tetapi yg saya bayangkan adalah "perasaan" calon wisatawan. Anda punya data tentang lama tinggal wisatawan dan banyaknya wisatawan interinsuler di NTT? saya punya. Dan apakah anda punya data primer tentang persepsi wisatawan tentang kondisi infrastruktur NTT? saya punya. Karena itu, saya mau meyakinkan anda bahwa saya tidak sedang bermimpi atau bernostalgia. Malah saya kuatir, anda lah yang sedang bermimpi tentang pariwisata dan lain sebagainya? Jangan karena NTT kaya akan laut maka otomatis pembangunan kelautan akan mudah. Jangan karena alam NTT eksotik lalu wisatawan akan berani mengarungi lautan ganas untuk bepergian ke pulau-pulau. Berita tadi sore, dephub sudah membekukan izin Trigana Air. Dengan Trigana terbang saja orang dengagn tiket di tangan masih tidak pasti terbang dari Waingapu ke Kupang lantas siapa yg mau pesiar keliling berwisata keliling NTT. Anda jangan tanya "keberanian" kami mengarungi laut karena ketika kami datang ke kupang dan bolak-balik kupang-pulau lain, ganasnya laut sabu atau laut flores tidak kami hitung. Tetapi kami kan bukan wisatawan? Jadi, membangun pariwisata dan kelautan di NTT bukan mustahil tetapi mahal. Sementara itu, pembangunan pertanian juga bukan mustahil dan lebih murah. Kedua-duanya perlu tetapi, Saya, dan juga Norman, meminta perhatian yg lebih baik terhadap pertanian.

Terkahir, saudara mengatakan pemda NTT memprioritaskan pertanian? Maaf yaaaaaa.....saya mau tertawa....ha ha ha .....karena itu membuktikan bahwa anda belum pernah membaca dokumen RPJM/RPJM NTT. Yang begini lantas menuduh orang lain menabrak tembok? Menuduh orang mirip FPI? Mengatakan orang seperti Pus? Baca kembali posting bigmike (komentar anda berdua membuktikan kebenaran bigmike)tentang mone wango, mone pote......."ketika 1 jarimu menunjuk ke depan, lihatlah ke mana arah 3 jarimu yang lain. Tragis bukan?"..... (A9us)

Anonim mengatakan...

@a9gus

Kalau dahulu sdr sedekar teriak dan melucu disini dgn sahabat sdr itu, @bm, maka kali ini rupanya sdr 'curhatan' panjang lebar. Baguslah. Tp rupanya sdr perlu 'dikilik' dulu baru 'bereaksi.' 'Keep it coming' biar rame blog ini.

:)

-nk-

Anonim mengatakan...

@norman

Beta jadi teramat bingung. Sdr menulis ingin minta 'perhatian' pemerintah. Pd saat yg sama, katanya dari dahulu pemda ntt punya program pertanian (ini bentuk perhatian bukan?). Ditawarkan perlu dana besar untuk mengelolah lahan tandus, belum mau bicara. Lalu mempersoalkan pelaksanaan dilapangan. Mengakui ada proyek damar tetapi dana dimakan rakyat (termasuk penguasa??? Loncat lagi ke soal 'kelanjutan' program.

Oke saya sudah pusing mencoba menganalisa alur pikiran sdr. Tp saya ingin simpulkan:

1) sdr minta perhatian tp rupanya ada perhatian. Ada program pemda.

2) Menyoal pelaksanaan tp kok ada proyek damar.

3) Lalu menyoal kelanjutan???

Saran saya, buatlah sebuah 'pemikiran' yg sedikit komprehensif sehingga kita dapat melihat garis besar persoalannya dimana. Kalau 'sepotong2' maka kami tdk tahu apa yg sebenarnya sdr mau. Kalau kami masih 'idealis' tdk mengerti, bagaiamana mau bilang ke penguasa??? Jangan2 nanti diketawain karena sdr tidak tahu apa yg sdr omongkan.

Usul saya: Belajar dr kasus pancasila yg abstrak yg diakui sendiri oleh wilmana, mulailah dgn memberi definisi apa yg sdr maksudkan dengan 'perhatian.' Apa sekedar penguasa dan rakyat sadar akan pentingnya sektor pertanian, atau 'perhatian' dalam artian yg lebih luas termasuk didalamnya membuat program yg jelas, memcari dana untuk membiayai program yg dibuat, melaksanakan program, evaluasi, lakukan perbaikan program, dll sebagainya.

Salam 'komprehensif'

-nk-

Anonim mengatakan...

Bu Agus dan Norman,

Beta ini bukan org kampus apalagi pake embel2 peneliti bergelar akademis macam2. Lagipula, blog ini bukan utk ajang pamer data, kan? Krn itu beta melihat dr sisi rakyat spt pengalaman @nk dg proyek australia di so'e sana.

Ketika beta bilang pemerintah di NTT turun-temurun memperioritaskan pertanian, itu krn beta tau jargon2 pemda mmg tdk lepas dr pertanian. Jaman Pak El Tari, jargonnya "tanam sekali lg tanam". Ben Mboi sibuk paronisasi dg lamtoro gungnya yg belakangan habis disikat kutu loncat... Anehnya pemerintahan selanjutnya jg tdk lepas dr jargon pertanian.

Bahkan Fren skrg ini jg maju dg visi pertanian yg kuat. Tp hasilnya, kan nomang sendiri bilang, "nol besar". Ini yg beta bilang, Bu Agus dengan norman tergolong nekat nabrak tembok.

Kl Bu Agus bilang mengembangkan pertanian lbh murah, beta kira ini asbun sj. Beta mmg tdk punya data, tp dugaannya sangat kuat bhw sekian periode pembangunan NTT dg jargon2 pertaniannya, tentu menghabiskan dana yg luar biasa besar, termasuk yg bocor dan masuk kantong pihak2 yg berkepentingan dg itu.

Kl norman bilang perlu perhatian yg lbh serius urus pertanian NTT, itu beta setuju. Tp norman harus tambahkan bhw perlu juga kejujuran dlm membangun NTT. Bikin blue print ato istilah SGT-nya bigmike, "RIP", harus obyektif. Jgn krn yg bikin rata2 ahli pertanian, lalu fakta di lapangan rakyat terbiasa dg bertani, mk RIP isinya pertanian mlulu.

Seringkali RIP dibuat sekedar agar ada proyek pembangunan utk dikorup. Jg bkn rahasia lg jk hal mustahil dipaksakan agar byk kendala dan proyek bisa diulang-ulang demi menciptakan peluang korupsi. Kasus damar putih di ekateta yg norman cerita, mgkn bisa jd cthnya.

So, kejujuran jg bisa mendorong keadilan dlm menyusun peta potensi NTT yg komprehensive. So, semua org NTT jgn bekerja, bicara, sekolah, dan mimpi pertanian melulu. Org jepang dan korea toh bisa makan enak tnp hrs abis2 olah tanah miskinnya utk bertani. Laen hal dg org thailand, mereka mmg layak mimpi-pun bertani krn disitulah kekuatan utama mereka.

Pemerintah NTT membodohi rakyak dg berbagai kampanye pertanian turun-temurun, dan praktis melupakan yg laen. Dampak negatifnya, semua org NTT mulai dari bangun pagi sampe tidur malam-pun mimpi pertanian. Pdhl lahan yg layak sangat terbatas. Perlu teknologi yg tdk murah utk itu, tp hasilnyapun sekedar subsisten, alias makan modal, alias tdk bisa bikin devisa, alias tdk layak jd alat utama ekonomi mensejahterakan rakyat.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@nrk

Mantap... Sarjana pertanian hrs begitu... Spy tetap fokus... Coba nomang bisa sedikit maen data, sungguh powerfull. Krn tnp data, nomang hanya bermaen ide2 normatif berdasar prasangka-prasangka saja. Tp jg jgn ketularan pola kaum akademikus yg suka bermaen data utk mendukung konsep2 surgawi mereka yg terlalu maju bg org NTT. Kl nomang tanya knp pembangunan pertanian di NTT malah mundur, krn konsep2 surgawi para akademikus itulah penyebabnya. Itulah knp @nk wkt ke so'e hanya membisu ketika mendengar petani bilang, mereka tdk butuh teknologi canggih2, tp air. Knp mereka tdk butuh? Krn pola pikir, pendidikan, keterampilan, dan pengalaman mereka tdk cukup utk melakukan berbagai konsep para sarjana S1-3 itu. Yah pada titik start sj kendala sdh menghadang... Di sini, sy liat @bonggo ada benarnya jg.

@nk
Rupanya Ama blom sadar jg. Pancasila atau sistem nilai apapun di dunia ini mmg sifatnya abstrak. So mempersalahkan pancasila hanya krn keabstrakannya, tentu naif.

Coba Ama tengok penjara penfui. Kemungkinan 99% isinya org kristen, dan 1% tdk beragama. Lalu apa kita harus mempersalahkan kitab suci yg abstrak dan perlu pendeta dg min 4.5 tahun studi STh., utk menjelaskan pd umat? So, pastinya yg keliru Firman Tuhan-nya, para pendeta yg berkhotbah, ato umat yg mempraktekkan khotbah pendeta?

Krn itu, mnrt beta bukan nilai pancasilanya yg keliru. Bukan jg "in God we trust" di USD itu yg keliru. Tp para pelakunya yg ngawur. Kita mjd naif jk mempersalahkan sesuatu yg abstrak, hanya krn salah paham sendiri, lalu prakteknya malah terbalik dr nilai yg esensi.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@ bonggo

Saran saya yang pertama, anda urus dulu "komplain" bigmike soal tuduhan anda bahwa dia bermoralitas pedagang. Cara anda menyelesaikan hal itu akan memberi petunjuk soal siapa kawan diskusi saya sekarang.

Kedua, ...saya mengutip anda sendiri... "Kl Bu Agus bilang mengembangkan pertanian lbh murah, beta kira ini asbun sj. Beta mmg tdk punya data, tp dugaannya sangat kuat ........di sinilah moralitas anda diuji, saya berbicara menggunakan data dan seketika anda mengatakan saya asbun....lho anda ini bagaimana? Saya yang punya data anda katakan asbun. Sedangkan anda yang hanya menggunakan dugaan bukan asbun? Kacau sekali moralitas anda. Pantas sekali sahabat saya bigmike tampak "tersinggung" karena cara-cara anda seperti ini. Hanya melihat dia memasang pengumuman, tanpa berusaha membuat klarifikasi apapun, tiba-tiba anda menyampaikan begitu terbuka di blog yang bisa dibaca banyak orang: bigmike bermental pedagang. Bigmike anda begitukan. Saya anda bilang asbun. Semuanya karena duga-duga semata. Aweeee.....bonggo....lu ator lu pung adat dolo baru lu diskusi dgn orang laen.

Lu tolong catat dolo baek-baek, beta pernah kasi cap lu apa? tiba-tiba lu dengan nk kasi cap beta tukang tabrak tembok, doyan nostalgia, pus, mirip FPI (maaf eeee....beta ni anak Yesus)...semua bosong omong seperti tanpa beban....enak-enak sa....sonde pikir bahwa orang bisa terpengaruh dengan omongan bosong ko anggap botong su batul begitu sudah. Catat baek-baek kawan, waktu orang sonde omong bosong macam-macam na bosong jangan omong macam-macam. Mau diskusi na mari tapi jang pake menghina....(9ust)

Anonim mengatakan...

@A9ust

Wah.. beta makin yakin ini sobat bigmike yg di oeba. Mmg ada bbrp agus yg dosen dan B tau dekat dg bigmike.

Begini, urusan dengan bigmike itu sekedar iseng... Dan rasanya kalopun dianggap dosa, sdh dibayar lunas dg membiarkan semua blogger di sana marah2 bahkan caci-maki sepuasnya, termasuk bigmike dg caranya tentu. blom puas, Bu lalu bawa2 mslh itu ke sini utk melanjutkan cercaan. So, kl beta bilang "impas" sj, sdh lumayan meski faktanya kalian sdh "mengeroyok" beta di berbagai ruang blog ini sampe bonyok abis..

Di sini, urusan beta deng norman, lalu Bu agus ikut campur dan mari kita lanjutkan apa yg baik tnp harus mjd malaikat dg aturan tata krama berbahasa yg kaku ala molralitas kerajaan surga. Yg penting beta sonde maki bu agus, toh?

Kl Bu jeli, mk istilah "asbun" itu adalah kritik tajam beta buat org yg suka omong data pdhl sekedar utk mengancam org2 spt beta yg lbh suka melihat fenomena sehari-hari drpd setumpuk data hsl rekayasa. Bu bilang ada data bhw pemerintah tdk bangun pertanian NTT, tp faktanya setiap pemerintahan selalu pake pertanian sbg visi utama dlm periode kepemimpinannya, tmsk duet Fren, yg nampak dlm berbagai jargon mereka.

Kecuali, Bu mo bilang bhw antara jargon dan kampanye pemerintah tdk cocok dg data yg Bu kumpulkan. Bhw datanya spt apa, beta percaya sj dg kesimpulan Bu, toh? Bu kan org dg moralitas baik, jd sonde mungkin pakane'o deng data.

Terakhir, beta senang Bu bilang "jang pake menghina". Tp coba cek pernyataan Bu berikut ini, "Saya pikir, sdr bonggo dan NK memiliki kesalahan pengertian yg luar biasa gawat tentang maksud saya". Oya, jd kasi cap "pengertian gawat" pd rekan diskusi tdk tergolong menghina, yaa... Blom lg kesimpulan bu Agus di situ yg menyetujui pendapat bigmike bhw org spt sy ini tergolong mone wango... Oya, jd cuma beta saa yg telunjuk lurus dan tiga jari menuding diri... Bu Agus punya lima jari semua lurus, begitu?

Krn itu beta pikir, garis embarkasinya yg penting jgn ba maki saa... Karmana?

Anonim mengatakan...

Haiiyyyaaa... Itu yg di atas komentar dari beta..

-Bonggo-
(Mnrt org Jawa artinya, mogok tdk mau ikut aturan)

Anonim mengatakan...

-bonggo-

om agus ne bapa pung kawan di Fapet. sekedar info satu "kejelekan" om agus (menurut bapa)tiap bawa flash disk dari om agus pasti sa penuh virus. apakah di fapet sekarang su ada budidaya virus liar ko?? ha..ha.

-NK-

beta mau bilang disini bahwa sektor pertanian di NTT (dan sektor-sektor yang lain) harus "Diperhatikan". kenapa harus pake tanda kutip?? karena diperhatikan disini bukan sekedar janji surga pas kampanye, jang sekedar program tapi harus diseriusi. betul-betul harus diseriusi. ini beberapa fakta yang agak bertolak belakang.

1. Badan Pusat Statistik mengharapkan 12 daerah di Indonesia untuk menjadi daerah pangan utama. Ke-12 daerah tersebut diproyeksikan menyumbang produk pertanian utama nasional tahun 2008, baik padi, kedelai dan jagung. Ke-12 daerah yang dikategorikan sebagai penghasil utama padi, kedelai dan jagung secara nasional itu, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo dan Sulawesi Utara.

2. Provinsi NTT menjadi salah satu pilihan Kawasan Timur Indonesia (KTI) untuk menjadi lokasi pelaksanaan pilot program PNPM Agribisnis Perdesaan selain 3 (tiga) provinsi lain yaitu Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi tenggara. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, lokasi pilot program dilakukan di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

AKAN TETAPI, coba cermati data berikut...

Sebagaimana perekonomian di wilayah lain di Indonesia, perekonomian di Nusa Tenggara Timur pada dasarnya merupakan perekonomian agraris yang dicirikan dengan besarnya peranan sektor pertanian. Distribusi prosentase produk domestik regional bruto di sektor pertanian pada tahun 2001 sebesar 43,88%, 2002 : 43,65%, 2003 : 42,87, 2004 : 42,57%, 2005 : 41,39%, dan 2006 : 41,22 %. Terbaca bahwa, pada tahun 2005, peranan sektor pertanian menurun dari 41,39% menjadi 41,22% pada tahun 2006. walaupun demikian, peranan sektor pertanian tetap menjadi prioritas di Nusa Tenggara Timur sampai dengan akhir Tahun 2007. Secara umum pendapatan perkapita penduduk provinsi NTT pada tahun 2006 telah mencapai Rp.3.618.315. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan pendapatan per kapita nasional (Rp.13.190.387). Jika dilihat dari pendapatan per kapita Kabupaten Ngada dan Timor tengah Selatan, Kabupaten Ngada memiliki pendapatan per kapita yang lebih tinggi daripada Kabupaten TTS, hal ini berlangsung berturut-turut sejak tahun 2001 s/d 2006 (Sumber: BPS Provinsi NTT, Tahun 2007).

lucu kan?? di satu sisi NTT menggantungkan harapan tinggi dari pertanian tapi di sisi lain jelas NTT tidak "serius" memperhatikan sektor ini. padahal NTT diharapkan sebagai salah satu tonggak pertanian Indonesia. coba kalo lebih "diperhatikan" bayangkan bagaimana dampaknya..untuk lebih jelas mengenai kata "diperhatikan" coba bos nk sering-sering buka website pos kupang atau timex, bacalah di forum pedesaan pasti ketemu petani NTT baterak minta ini itu.

(norman)

Anonim mengatakan...

-nk-

maafkan beta pung alur pikiran yang loncat-loncat jadi membingungkan. ini beta pung alur pikiran : sektor pertanian kurang diperhatikan - beta minta perhatian - perhatian yang betul-betul perhatian dalam artian harus diseriusi - beta mau ksi contoh proyek damar yang memang betul ada perhatian tapi tanpa kelanjutan - beta blom mau omong tentang uang karena yang duluan beta minta disini adalah perhatian. soal uang, dll itu akan ikut kalo memang su ada perhatian. betul begitu bos nk??

(norman)

Anonim mengatakan...

@norman a.k.a nrk

Plg tdk ada dua hal yg janggal dr data yg anda ungkap di atas.

Pertama, BPS itu hanya tukang kumpul dan olah data utk jd informasi bg pemerintah dan pihak2 yg butuh. Kl anda bilang, "BPS mengharapkan", seolah-olah BPS punya kewenangan utk menunjuk pemda tertentu sbg produsen pangan nasional. Apa ini tdk overlap dg fungsi Pemerintah?

Kedua, seri data distribusi PDB NTT yg anda sampaikan, di pikiran sy malah menunjukkan bhw nampaknya memang tdk mungkin mensejahterakan rakyat NTT dg mengandalkan sektor pertanian sbg "panglima".

Bhw pemerintah mmg hrs memberi perhatian disektor ini, sy setuju krn mayoritas rakyat NTT msh hidup dr bertani. Tp apakah pertanian bs menyumbang devisa terbesar di masa datang bg kesejahteraan dan kemakmuran org NTT, dr data yg anda tunjukkan jelas tdk mungkin.

Ketiga, data produksi jagung NTT yg tergolong tinggi bs jadi mmg begitu adanya. Tp fakta ini sy sikapi scr berbeda yaitu bhw (1) org laen di negara ini tdk byk bergantung pd jagung sbgmn org NTT. Krn itu, org NTT termasuk yg setiap tahun memproduksi jagung dlm jumlah lbh besar ketimbang rakyat di wilayah lain negeri ini. (2) terkait ini, mk sy liat produksi jagung yg besar itu ternyata habis utk dimakan sendiri dan tdk cukup utk dikonversi mjd devisa. Ini terbukti dari fenomena anomali yg anda sebut, "lucu kan", di atas.

Keempat, bicara motive pemerintah dlm membangun pertanian di NTT, rada2 memang. Plg tidak sy liat, pemerintah bkn tdk tau bhw NTT tdk mungkin mengandalkan pertanian saja. Tp ini ada skenario aneh yg mana pemerintah mmg sengaja menggunakan isu pertanian agar selalu dpt proyek dr pusat. Anda tau kan, bhw sejak dulu hingga sekarang ciri pemerintah blom berubah. Mikir karmana ko selalu ada proyek jd para Pimpro dong bisa ator ko korupsi. Modus tua yg ttp ada hingga kini.

Yaah ini mmg prasangka, tp inilah yg beta blg sdh bukan rahasia lg.

-bonggo-
(su kena bonggo sampe bongkok dr bigmike)

Anonim mengatakan...

-bonggo-

ha..ha istilahnya su kena bonggo sampe raroso di tanah.

dugaan pertama, tentang BPS mengharapkan NTT bla bla itu beta copy paste dari indomedia.com dengan judul "NTT NTT jadi produsen pangan di Indonesia (Bersama 11 daerah lainnya)". jadi saya no heart feeling apa maksud dari BPS saya hanya ingin menangkap inti bahwa sebenarnya NTT bukan tanpa potensi hanya tidak serius saja masalah (dan kurang perhatian).

dugaan kedua,saya juga sependapat dengan ada. memang betul dengan data yang ada tdk mungkin mensejahterakan rakyat NTT dg mengandalkan sektor pertanian sbg "panglima". oleh karena itu, kata kuncinya ada di berilah perhatian (dan segala embel-embelnya salah satunya dana), dan yang terpenting diseriusi. jangan hanya jadi sekedar program sa.

dugaan ketiga, sekali lagi saya sependapat dengan anda. karena fakta bahwa di NTT, jagung masih merupakan makanan sekunder di beberapa daerah (malah ada yang jadi makanan utama terutama di p. Timor) oleh karena itu, memang produksi jagung pun besar tapi jangan lupakan fakta bahwa NTT merupakan salah daerah penghasil jagung di Indonesia selain jawa barat, madura, sulawesi, dll.

dugaan keempat, inilah wajah NTT. suka sonde suka inilah kitong pung NTT seperti ini.

(norman)

Anonim mengatakan...

@Bonggo & a9gus

Wah menarik juga 'pertengkaran' kalian. Bonggo, semoga sdr tdk 'bongkok' lantaran 'dipaksa' meminta maaf oleh @bm, hi hi.

A9us, karena si @bonggo sudah 'menyelesaikan' urusannya dgn sahabat anda itu @bm, maka mari kita terukan diskusi 'hangat' ini. Tp sebelumnya saya ingin sampaikan ini: Ketersinggungan @bm atas tutur kata si bonggo dalam posting sebelumnya tdk ada sangkut pautnya dgn debat anda, saya dan bonggo disini. Jadi harapan saya, anda tdk perlu lagi bawa-bawa soal moralitas serta adat si bonggo itu. Setuju???

Hal kata 'asbun' yg disampaikan si bonggo kpd sdr tdk perlulah dimaknai berlebihan secara negatif. Mengapa? Karena soal data vs fenomena dimasyarakat dalam konteks keIndonesiaan seringkali tdk sambung bin membingungkan. Masa sebelum krisis ekonomi 1998, data menunjukan pertumbuhan ekonomi yg dasyat. Bahkan Indonesia disebut 'singa asia.' Lalu apa? Anncoorr! Sekarangpun tdk beda. Ketika rakyat makin susah, pemerintah/politisi pamer data. Pertanyaan buat anda: Mengapa manusia tdk bermoral di Indonesia seringkali mereka yg punya data???

@bonggo

Sistem nilai apapun sifatnya abstrak, termasuk pancasila? Tentu saja saya tahu hal itu! Sdr ini manusia 'cerdas' sehingga 'pura-pura' tdk tahu apa yg saya ingin katakan membuat saya agak 'kecewa' hi hi.

Dinegara maju manapun, sistem nilainya memang abstrak. Tp disana mereka berdebat sengit memberi 'artian' pd sistem nilai mereka itu sehingga pada level pragmatis praktis, sistem nilai tsb tdk di abuse. Bagaimana di Indonesia?

Pancasila memang sebuah sistem nilai, tp jgn lupa, dia juga merupakan 'political instrument' yg memberi kekuasaan besar bagi pemimpin. Bahkan pancasila adalah sumber segala hukum. Pancasila yg 'dibiarkan' abstrak demi kepentingan penguasa berubah menjadi 'alat politik' yg destruktif.

Di amerika 'In God We Trust' bukan alat politik sehingga menyamakannya dgn sila 1 pancasila menjadi tdk valid. Sdr setuju?

Yang lebih menyedihkan lagi, rakyat tdk pernah diberi ruang untuk berdebat ttg sistem nilai ini tetapi oleh penguasa rakyat di indoktrinisasi bahkan nyaris 'cuci otak.' Tdk usah jauh2. Di forum ini, hanya sdr yg mampu berdebat ttg sistem nilai ini sedang yg lain membela membabi buta tp tdk tau apa yg dibela. Bahkan ada marah karena perasaan pancasilais-nya diganggu. Baru saya tahu ada yg namanya 'perasaan pancasilais.' Sdr tahu terminologi ini???

Salam 'kadeluk'

-nk-

Anonim mengatakan...

@nrk

Ah, ente blom apa2 sdh berlaku spt istilah org kupang bilang, ta'alok... Masak mo mengandalkan Om Agus utk berdola-dali dg si bonggo yg barusan kena kadeluk dr @bigmike? Tp bae jg kita tunggu reaksi Om Agus... Sy bayangkan, nomang lg siapkan kopi hangat buat Om Agus yg lg begadang nyiapin data2 yg mau dipamer ke @bonggo...

@nk
Saya liat Ama sdh mulai mabok... Pasti besok jd Ama jd korban komplen @bonggo... Krn persoalan Pancasila itu di luar urusan si bonggo, kan? Tp OK-lah saya yg lanutkan.

Pertama, sy senang ama sdh akui bhw apapun itu, yg namanya sistem nilai adalah falsafah dan krn itu pasti bentuknya abstrak. Sayangnya Ama tdk berani ngaku bhw menyalahkan Pancasila krn abstrak adalah tindakan yg naif.

Kedua, sistem nilai yg adalah falsafah bangsa mmg wajar dijadikan sbg sumber hukum, krn prinsip hukum mmg begitu. Jadi, pendapat Ama bhw falsafah bangsa tdk boleh mjd sumber hukum, itu tdk cocok dg prinsip hukum itu sendiri. Kecuali, Ama punya referensi filsafat hukum yg laen.

Ketiga, mengacu pd pendapat ama juga, jelas bhw beda Indonesia dan negara maju adalah pada bill of right. Di Indonesia, Penguasa mendominasi hak utk berpendapat ttg makna falsafah bangsa ini. Sementara, di negara maju interpretasi thd falsafah bangsanya, justru ditentukan oleh rakyat. Artinya, masalah di Indonesia timbul, bukan krn falsafahnya yaitu nilai2 pancasila yg buruk, tp pada level Pelaku. Mereka menjadikan pancasila sbg instrumen politik utk melegitimasi tindakan2 yg justru bertentangan dg nilai2 pancasila itu sendiri.

Ada cth menarik ttg perilaku manusia indonesia yg tergabung dlm yaitu FPI. Mbah Hasyim (Ketua PBNU) bilang bhw FPI itu memperkosa dalil agama untuk membenarkan tindakan2 yg justru bertentangan dg nilai2 islam yg rahmatan lil alamin. Ato kasus penghuni penjara penfui yg sy sebutkan di atas.

Krn itu, beta menolak ketika para Pelaku yg berulah, kok pancasilanya yg Ama kosi buang... Apapun itu, selama Ama tdk mampu menunjukkan immoral values dr 5 prinsip falsafah bangsa yg ada di pancasila, mk mnrt sy pendapat Ama msh asbun sj. Malah cenderung distorsi, krn makin lama makin jelas bhw yg Ama maksud sebetulnya bkn pancasila-nya, tp para Pelakunya yg brengsek.

Cthnya falsafah amerika yg diletakkan pr founding fathers ketika mendirikan negara itu, "in God we trust" yg artefaknya kita bs temukan pd lembaran USD. Kita tdk mungkin menyalahkan falsafah ini, hanya krn di sana byk atheis berkeliaran dan mau mjd Presiden-pun boleh sj. Kl di Indonesia, falsafah spt itu dpt mengundang SKB Menteri ato malah Peraturan Presiden yg melarang atheis berkeliaran. Jelas yg ngaco pr Pelakunya, bukan falsafahnya kan? Ama jgn coba2 bilang bhw falsafah kok bs tdk bs menciptakan manusia yg benar? Wah ini sm sj Ama suruh sy jwb, knp Tuhan sdh kirim sekian byk nabi, bahkan sampe ada yg ngaku sbg nabi penutup, tp toh manusia msh doyan berdosa juga? Apa lalu kita bisa serta merta bilang, Tuhan yg salah?

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Wilmana

Ha ha ha... Beta setuju deng anda... @nk itu mmg lagi mabok... Lebe tepat, mabok manganto (kpg: ngantuk)... Sadiki lg, beta mo kadeluk (kpg: gebuk) dia...

Beta jg setuju dengan anda ttg @norman... Blom apa2 su ta'alok.. Omnya @agus yg seangkatan dg bigmike di fapet jg rupanya, jg menghilang entah ke mana...

Hmm kl begitu B tunggu saa... Sambil tidur2an.

-bonggo-
(Sdh kadeluk nrk, nunggu giliran a9ust)

Anonim mengatakan...

-bongggo-

ha..ha beta su kena kadeluk abis-abisan ne. tapi bos beta cuma omong data dan fakta. kalo memang faktanya seperti itu beta mau bilang lai o.. tapi kalo mau "kadeluk-kadelukan" beta mendingan kabuuurrrr. sebenranya beta bisa balas kadeluk ma setelah ada "bisikan" siapa anda mending beta kabur panta panas sa. ha..ha

(norman a.k.a nrk)

Anonim mengatakan...

@norman

Hati-hati ya! Ada firman jgn sebut nama 'tuhan' mu dgn sia-sia. Nanti sdr kena 'kutukan.'

-kadeluk-

(Tdk ada 'hubungan' darah, kekerabatan, teman, gelap atau bahkan sex dgn si @bonggo)

Anonim mengatakan...

wah mbaca tulisan2 terakhir ini sya jadi mikir ni orang2 pada mabook smua yahh... hati2 yang gini2 ini bisa kena toki di tulang kering nihhh...
ohhh si nk awas nanti kena kaboak kalo ngomong sembarang, mas bonggo n wilmana hati2 juga kena Tulahhh gara2 hobynya ngecap orangg
AWAAASSS....

wango

Anonim mengatakan...

@nk, nrk, dan wilmana

Hati2... Ada wango DTN, tuh...

-bonggo-

Anonim mengatakan...

kadeluk

maksudnya "bisikan' dari empunya blog kalo kadeluk itu berawalan k jadi empunya nama ini juga....... he..he

hanya bonggo yang hebat. agak kabur tapi setelah beta sms ke ki joko pintar maka beta su tau ini siapa. ha..ha

(nrk)

Anonim mengatakan...

sodara wilmana jangan asal nuduh dooonk... itu bukan saya. saya baru aja masuk kok langsung dicap DTN... ahh jangan begitu MEN.

DTN

Anonim mengatakan...

@DTN

Wah kapan saya nuduh2 anda? Inilah akibatnya jk abis makan daging mudik di lapo tuak br mampir di sini... Ingat! Ada dalil, fitnah itu lbh kejam dr membunuh...

@bonggo punya kelakuan, saya yg kena... Paayyaahhh, luh..

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

naaahh hasil pengamatan klihatannnya mr. bonggo sodara kembar seidentik... he he mungkin dwinitas tuhhhh


DTN

Anonim mengatakan...

ha ha ha mohon maaf yah kalo pengamatan saya salah... sorry mr. Bonggo. Tp emang rada mirip yahh

DTN

Anonim mengatakan...

@ NK dan bonggo:

1. Sikap kita terhadap data memang berbeda. Anda berdua skeptis, saya tidak. Data di tangan saya adalah data yg teruji validitas dan reliabilitas karean data-data itu ada yng berupa data primer dan ada yg berupa data sekunder tetapi sudah terferifikasi. Saya tidak punya pilihan lain bahwa saya memang harus menerima data-data itu meskipun upaya pengujian harus terus dilakukan, bahkan oleh saya.

Sebaliknya, saya tidak melihat satupun upaya anda untuk menguji validitas dan reliabilitas omongan saudara. Berikut saya kutip anda berdua:

Mengapa manusia tdk bermoral di Indonesia seringkali mereka yg punya data??? (NK)

Saya tanya: anda mengunakan kata "sering" maka tolong jawab: seberapa sering? Kata sering, dan ini menunjukkan frekuensi, adalah ukuran kuantitas. Bisa anda sebutkan? Jika tidak maka adan hanya menduga. Menduga-duga tanpa ada satupun pendukung yg valid = menuduh. Anda pasti akan marah kalau saya sebutkan sebagai penuduh.

Beta ini bukan org kampus apalagi pake embel2 peneliti bergelar akademis macam2. Lagipula, blog ini bukan utk ajang pamer data, kan? Krn itu beta melihat dr sisi rakyat spt pengalaman @nk dg proyek australia di so'e sana (bonggo)

saya tanya: siapa rakyat yang anda maksudkan? proyek apa yang anda maksudkan? Ketika anda mencirikan apa yg saya tanyakan maka tahukah adan bahwa hal itu adalah data. Anda sedang pamer data atau tidak nih?

Saya simpulkan: kalau anda skeptis terhadap data maka ya sudah diskusi ini diakhiri saja. Kita ada pada cara pandang yg berbeda. Anda lebih percaya pada dugaan-dugaan tanpa data sedangkan saya percaya kegunaan data. Menurut logika yang teratur, ini adalah fungsi dari matematika, berbicara tanpa data adalah logika yg tidak teratur. Saya tidak terbiasa untuk itu.

2. Saudara bonggo mengatakan seolah-olah saya mencampuri urusan antara norman dengan bonggo. Saya kutipkan omongan saudara:

Di sini, urusan beta deng norman, lalu Bu agus ikut campur

saya tanya: blog adalah urusan pribadi yg diletakkan di ruang publik. Ketika Norman menulis dan bigmike mempostingnya maka privacy norman sebagian sudah hilang. Ya sapa surh dia main di ruang publik. Ketika saudara bonggo mengomentari norman apakah saudara tidak bertanya ke diri sendiri, mengapa saya harus mencampuri urusan norman? pasti adan tidak akan bertanya begitu karena anda tahu persis, posting norman adalah konsumsi publik. Jika demikian, mengapa anda mempersoalkan campurnya saya pada urusan anda dan norman yg anda berdua letakkan di ruang publik? Contoh lanjut (jgn marah karena ini terpaksa saya angkat sebagai contoh): ketika bigmike memberi pengumuman nilai? mengapa anda ikut mencampurinya? Ah, lihat baik-baik gambar di posting mone wango: 1 jari menunjuk 3 jari kembali ke....

3. Ajakan untuk berdiskusi dengan tidak memaki, saya terima dengan sebaik-baiknya. Kalau boleh saya tambahkan, kalau mau diskusi fokuskan kepada masalah pokok jangan ditambah-tambah kata2 yg tidak perlu sebab bisa menggeser persoalan. Dahulu, saya bersama pemilik blog ini, sebagai kader GMKI cab Kupang pernah "ditatar" oleh senior-senior GMKI, kalau tidak salah ada Toni Waworuntu, tentang cara untuk mengacaukan konsntrasi lawan diskusi antara lain dengan jalan menambah kata, membuat gerakan2 tubuh tertentu, tertawa ketika lawan diskusi sedang berbicara. Hal-hal itu mungkin cocok bagi para politisi tetapi "kurang etis" secara ilmiah.
(A9ust)

Anonim mengatakan...

@DTN

Ente rupanya sekali mabok tetap mabok... Benar @Wilmana, saya setuju dg anda.... Tp OK-lah... Saya jg minta maaf telah menyangka anda sbg si Wango itu... Istilah bigmike, case closed, OK?

@agus,
Saya senang akhirnya Bu Agus yg ditunggu-tunggu datang juga. Sayangnya, Bu lbh suka tasibu deng artifisial diskusi ketimbang mengajukan argumentasi dan data utk mendukung pendapat anda. Sbg akademisi, rasanya sikap anda ini rada memalukan bg saya. Tp OK-lah saya ikuti sj alur yg Bu bikin di sini.

Pertama, anda rupanya mo coba2 saya punya otak rote dg berdola-dali mempertanyakan "siapa rakyat", "proyek apa yg disebutkan @nk", dll. Dg cara spt ini, beta liat Bu sama sekali tdk menunjukkan kualitas sbg akademisi di sini. Masak beta musti ajar Bu Agus bhw kata "rakyat" bs berarti luas mencakup semua unsur non-pemerintah, tp juga "rakyat" dlm arti sempit grass-root yg mana Bu Agus sbg akademisi bs sj tdk termasuk di dalamnya. Dg dmkn, jelas bhw beta mmg sengaja menggunakan istilah rakyat ini, utk membedakan Bu Agus yg akademisi dan doyan maen data penelitian, dg beta yg tergolong awam dg metode2 penelitian.

Beta jg jd tersenyum liat Bu mempertanyakan data yg beta maksud. Masak Bu yg akademisi sonde bisa mencerna bhw istilah "data" itu, justru datang dr Bu yg ngaku2 ada pegang data? Tentu yg Bu maksud dg data yg ada di tangan Bu, adalah data penelitian, bukan? Kok sekarang Bu pura2 mempersoalkan istilah "data" yg beta sebutkan? Apa Bu mau bilang bahwa data yg ditangan Bu itu, data dlm arti luas yg Bu maksudkan di komentar terakhir? Ha ha ha... Maen otak rote (cm istilah sj) boleh2 sj, tp jgn menyerang istilah yg justru berawal dr pendapat Bu sendiri.

Mengenai proyek di so'e, Bu tanya si Pelaku saa. Beta juga cuma kutip info dr dia.

Kedua, mengenai ikut campur... Sudahlah.. Faktanya mmg Bu persoalan pariwisata yg Bu komentarin di sini bersumber dr komentar beta thd tulisan norman. Perilaku Bu Agus ikut nimbrung dlm diskusi antara beta deng norman inilah yg B sebut "ikut campur".

Upaya Bu utk menjelaskan hubungan "ikut campur" dg "ruang publik", jelas menunjukkan adanya prasangka buruk Bu Agus, seolah-olah beta "menolak" Bu ikut nimbrung. Pdhl, faktanya justru beta welcome sj, kan? Krn pd dsrnya, Bu punya hak utk ikut campur pd opini publik. Membawa-bawa mslh dg bigmike, jg bagian dr adanya prasangka busuk Bu Agus.. Krn, respon bigmike jelas tdk suka urusan kuliahnya dicampurin. Tp respon sy thd Bu Agus, malah OK2 saja. Kl beta bilang, bu Agus ikut campur, faktanya mmg begitu. Yg penting beta tdk membatasi Bu utk berbuat itu, kan?

Untuk ini beta hanya bisa menyesali krn sbg akademisi, mnrt beta justru tabu bg Bu Agus utk mengembangkan prasangka buruk thd org laen dlm diskusi.

Ketiga, mengenai forum ini. Beta merasa aneh ketika Bu berupaya mendudukkan forum ini seolah-olah sbg forum ilmiah, mentang2 yg empunya adalah seorang ilmuan. Bigmike-pun tdk pernah mendedikasikan blognya ini khusus utk debat2 ilmiah, krn itu sbg sesama simpatisan, moralitas Bu jd imoral ketika mencoba memaksa beta utk menjadikan forum ini sbg forum ilmiah.

Beta jg jd risih mlihat inkonsistensi Bu Agus ttg forum ini. Ketika beta bilang bu "ikut campur", Bu protes krn mnrt Bu ini forum publik dan setiap org bebas ikut campur. Tp, sesaat kmdn, Bu berubah lg dg mendesak beta seolah-olah forum ini adalah forum ilmiah. Bu pasti lebe tau bhw inkonsistensi sikap jg sesuatu yg tabu bg akademisi spt Bu.

Beta jg kader GMKI bahkan sempat mjd Pimpinan Cabang di Kupang. Sekarang ini malah sering diminta mjd Moderator Seminar bahkan Juri Lomba2 Debat. Debat/diskusi di dunia maya spt ini jg bukan brg baru buat beta dan krn itu etikanya, sepanjang kita tdk memaki rekan diskusi di forum bebas spt ini, seharusnya OK2 saja.

Terakhir, beta liat di komentar terakhir Bu sdh terganggu konsentrasi dg berdiskusi utk diskusi itu sendiri. Sama sekali Bu tdk mempersoalkan apa yg awalnya Bu sanggah yaitu masalah pertanian vs non-pertanian dlm pembangunan NTT. Tapi Bu terjebak mempersoalkan tata krama dlm berdiskusi, malah tnp malu2 membawa-bawa masalah sy dg bigmike di tulisan beliau ttg Mone Wango.

Untung jg beta su anggap Bu sbg org yg layak dihormati krn beta tau betul hubungan pertemanan dan persaudaraan Bu dg bigmike. Kl Bu org laen, mk beta jamin Bu pasti sdh kena istilah norman, "kadeluk sampe raroso"

-bonggo-

Krn itu, beta kembali ke tawaran beta di komentar sebelumnya spt yg beta kutip ini:
"...., mari kita lanjutkan apa yg baik tnp harus mjd malaikat dg aturan tata krama berbahasa yg kaku ala moralitas kerajaan surga"...., .

Maksudnya, mr berkomentar fokus pd

Anonim mengatakan...

Hmm... Rupanya ada masalah teknis...

Lanjutan kalimat terputus di atas maksudnya meminta @Agus utk tetap fokus pd tulisan norman yg beta komentarin...

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@a9us

Sdr patut berbangga karena sdr cukup punya 'nyali' untuk ber'dola-dali.' Selain Wilmana dan bonggo -yg terakhir ini pendatang baru tp cukup 'cerdas dan punya nyali bahkan rada nekat colek @bm bbrp waktu lalu- saya agak kesulitan mencari 'lawan' debat diforum ini. Saya tdk ingin 'terlibat' dlm 'pertengkaran' sdr dan bonggo. Mengapa? Saya tdk mau 'berdebat' dengan org yg belum teruji 'kemampuan' 'dola-dali'nya. Saya berharap sdr bisa 'jinakan' si bonggo. Setelah itu baru saya akan bilang 'welcome to the club my man.'

Baiklah... walau belum mau 'turun tangan' perkenankan saya memberi bbrp catatan ttg kualitas dola-dali sdr.

1) Kualitas 'dola-dali' sdr, maaf, masih kelas lokalan, bahkan hanya seukuran 'ruang kuliah.' C7 dgn si bonggo, dola-dali sdr yg mempersoalkan 'siapa rakyat' agak tdk pantas diajukan oleh sdr sebagai akademisi senior.

2) Tentang pertanyaan saya ini: "Mengapa manusia tdk bermoral di Indonesia seringkali mereka yg punya data?" sangat kelihatan sdr ingin membangun kesan bahwa saya penuduh. Tp analisa saya, sdr ini hanya sedekedar ingin 'lari' dari konteks. Krisis ekonomi 98 terjadi saat 'data' mengindikasikan pertumbuhan positif. Dimana salahnya? Mestinya sbg org 'pintar' sdr menjawab ini bukannya malah 'dola-dali' ingin katakan saya penuduh.

Dari 2 catatan saya diatas ini, saya simpulkan, untuk sementara, sdr sudah terjebak dalam diskusi untuk diskusi itu sendiri. Tp karena sy ingin sdr mampu 'menjinakan' si bonggo (ini baru bonggo lho, sdr belum ketemu wilmana yg 'otak rote' 24 karat) dan karena saya org baik 'hati,' maka saya beri saran. BERIKAN DATA DAN ARGUMENTASI yg sdr punya disini. Kalau sdr lakukan ini, insya allah, sdr mampu 'taklukan' si bonggo.

Saya tunggu 'dola-dali' sdr selanjutnya. Ingat saran saya diatas!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@nk

Sialan, ente bilang ane otak rote 24 karat... Yg 24 karat itu harusnya Om Agus, krn menurut norman, beliaulah yg org rote. Plus dosen, wah kalo bisa 25 karat, saya akan kasi gelar itu pd beliau. Ama tau kan, hanya org pintar yang bisa jadi dosen. Saya dan Ama krn bukan dosen, jd hampir pasti bkn org pintar... Tp cukuplah sbg org cerdas...

He he.. Saya liat Om Agus mmg lg berupaya maenkan dia punya otak rote... BPS itu adalah penguasa data, tp kekacauan program pemerintah seringkali bersumber dr BPS. Gara2 data BPS, di RT saya, ada org yg sdh meninggal msh dipanggil utk terima BLT. Malah tentangga sebelah rumah persis yg sudah bekerja jg dipanggil terima BLT. Rupanya data BPS diambil wkt ybs msh berstatus pengangguran dan tdk diupdate lg. Padahal, BPS itu penuh dg tenaga ahli peneliti utama.

Apa mungkin Om Agus takut dg fakta2 spt ini shg memilih memainkan otak rote dg mendebat perilaku Ama dan bonggo, ketimbang fokus pd isu yg nomang angkat di sini?

@bonggo
Sy juga org GMKI sejak 88-95. Satu guru satu ilmu, jd gaya kita hampir identik... Ama di GMKI periode mana?

Tp sy liat @nk lg maen api.. Masa dia anggap Ama "binatang liar" yg perlu dijinakkan oleh Om Agus?

Ahirnya, beta senang dengan gaya Ama. Beta amati, baru Ama yg bisa bikin bigmike, PhD itu, gusar, puyeng, dan harus tergopoh-gopoh klarifikasi di kampus sana... Ha ha ha... Bahkan beta hampir pasti hanya Ama sang alfa dan omega dlm hal bikin bigmike blingsatan begitu di blog ini. Sy pribadi tdk punya cukup kenekatan spt Ama.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Kali ini sy 'harus' ajak sdr sedikit menepi untuk memberi 'ruang' kepada @bonggo dan @a6us untuk berdebat.

Oh ya, fyi, diam-diam saya mendapat data 'intel' lapangan. Dari foto intel -saat a9us menunjuk ibu jarinya- 3 jari lainnya bengkok menunjuk ke...
Sdr tahukan maksud saya?

Okelah, mari kita tunggu respon si a9us. Semoga dia mengikuti saran saya diatas. Buat sdr, selamat berakhir pekan.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

untuk bonggo yang terhormat. saya melihat ada perbedaan cara pandang antara saudara dengan a9ust yang akan membuat diskusi ini tidak akan ketemu dimana titik tengahnya. mungkin yang perlu ada penyamaan persepsi antara saudara dan a9ust. tapi saya senang melihat perdebatan kalian berdua serta tulisan saudara norman ini meski ada beberapa bahasa kupang yang tidak saya mengerti tapi saya bisa menangkap apa yang ingin dimaksud. terus menulis broo (degha, jkt)

Anonim mengatakan...

@degha

wah ini pendatang 'bau' (hi hi, maksud saya baru) mencoba menjadi 'moderator' disini. samakan persepsi? bagian yg mana mas? mbok ya jgn asal gitu lho! lalu, apa setiap debat harus 'ketemu' jln tengahnya? enggak juga, apalagi yg saya liat, mereka -si bonggo dan a9us- sedang 'berdola-dali' alias latih lidah bukan akal, ha ha ha hi hi.

A9usssssssssss... dimana dirimu? payaaaah. baru ketemu bonggo su raroso ditanah lari panta panas.

eniwe, buat mas degha, selamat datang, selamat berkumpul, semoga sdr bs ikutan dola-dali dgn kami disini walau sy tdk yakin anda punya nyali, hi hi hi, lawan si bonggo itu.

-kadeluk-

Anonim mengatakan...

@ Degha

Saya setuju sama anda, bahwa antara saya dengan bonggo terdapat perbedaan cara padang. Bonggo melihat persoalan hanya untuk kepentingan debat. Omongannya sering berputar-putar tidak fokus. Sementara saya yg berusaha fokus, dengan cara berpijak pada data malah dituduh tidak fokus. Anda bisa menilainya lebih tajam. Tapi tidak apa, saya akan memberika jawaban saya nanti di Carpe Diem karena an saya mau menumpang gagasan BM, jenius mabok, tentang Carpe diem. Tapi saya mohon ijin besaok baru saya tanggapi. Saya perlu bicara begini karean nanti dituduh melarika diri (A9ust)

Anonim mengatakan...

@Agus

Apa anda tidak malu dg kata2 anda itu? Sbg akademisi, nampaknya anda tdk sadar sdg mempertontonkan sikap imoral dg memplintir komentar simpatik @Degha utk "menghina" saya di sini. Pdhl, faktanya justru tuan besar agus yg sok ngomong data kosong di sini.

Selesai ngomong data kosong, mk selanjutnya beliau sekedar dola-dali seperti komentar di atas itu. Kosong tak berbobot dan sama sekali tdk menggambarkan kualitas seorang akademisi.

Knp sy bilang data kosong? Krn nampaknya data yg meyakinkan cuma data pertanian, sementara tdk punya cukup memadai data dibidang pariwisata, kelautan, dan bidang2 pembangunan lainnya. Lalu, seenaknya beliau menolak pembangunan di bidang lainnya atas dasar data2 pertanian yg ada ditangannya. Ini kita br ngomong soal data kosong beliau. Blom ngomong interpretasinya.

Pengalaman sy dilapangan praktis, seringkali masalah timbul bukan pd datanya, tp pd interpretasinya. Di Jakarta sini, sdh bukan hal aneh jk byk organisasi usaha gagal mengembangkan sistemnya krn dibantu oleh para akademisi yg suka ngawur dlm menginterpretasi data, lalu bikin teori yg muluk2, lalu berkesimpulan yg ngaco. Ujung2nya nasehat2 konsultansi pr akademisi ini, byk yg gak aplicable, cenderung parsial sebatas spesialisasinya sj, dan dijamin tdk membawa perubahan ke arah yg lbh baik.

Di sini, stlh lama ditunggu responnya, beliau muncul sekedar menghujat saya, lalu segera ancang2 kabur ke ruang laen. Sy sih malu dg kelakuan begini, tp beliau rupanya sdh terbiasa. Jadi, what ever will be will be lah...

-bonggo-

Anonim mengatakan...

hmmm.... perdebatan yang menarik antara bonggo dan om a9ust. tapi ingat jang smpe terulang pake kata-kata makian. oke bos.... Kasi daahhhhh....

(norman)

Anonim mengatakan...

saya udah ngasih komentar saya di posting terbaru (degha, jkt)

Anonim mengatakan...

untuk bigmike keep posting tulisan-tulisan anda yah & gak lupa norman terus nulis bro, tulisan anda simpel mudah dimengerti (degha, jkt)

Anonim mengatakan...

menarik melihat data yang disampaikan oleh bonggo, tapi kalau boleh saya mau bilang data yang disampaikan oleh bonggo itu bermuka dua. saya sependapat apa yang disampaikan oleh bne bahwa ADA YANG SALAH. betul ada yang salah. karena dari data yang ada seakan-akan pertanian telah menjadi primadona pembangunan di NTT tapi kalau begitu pertanyaan penting kenapa orang masih terus berteriak tentang pertanian. tidak percaya silahkan buka koran lokal NTT saya bisa memastikan hampir setiap hari ada saja petani yang berteriak kurang pupuk lah, masalah hama penyakit lah, kurangnya pendampingan petani di lapangan lah. kenapa bisa terjadi begitu??? oleh karena itu saya meminta "perhatian" bukan sekedar perhatian di atas kertas, saat kampanye, di atas data-data yang ada tapi betul-betul perhatian.

saya berikan contoh saja yah.. supaya saya tidak dikatakan omong tanpa data.

ini contoh beberapa kegiatan (yang di atas kertas) dilakukan di NTT pada tahun 2004 - 2007 ini terdiri atas :
1.Penelitian (sosial, ekonomi, budaya wilayah perbatasan, agrodiversity lahan kering, teknologi proses komoditi unggulan daerah);
2.Pengembangan agrobisnis / agroindustri;
3.Pelestarian cendana;
4.Pengadaan air bersih untuk penduduk pedesaan;
5.Pengembangan pertanian lahan kering;
6.Pengembangan sarana komunikasi;
7.Pengembangan peternakan;
8.Pengembangan SDM;
9.Pengembangan energi pedesaan;
10.Seminar/Workshop dan diseminasi informasi. (sumber : makalah kerangka acuan program kompetitif LIPI yang bekerjasama dengan pemrintah NTT).

apakah ini berkorelasi postif dengan yang berikut??

contoh kedua saya copy paste artikel koran kompas.

"Krisis Pangan di NTT Meluas ke 10 Kabupaten"

(Kupang, Kompas) Krisis pangan di Nusa Tenggara Timur meluas dari delapan menjadi 10 kabupaten. Sementara persediaan beras di tingkat kabupaten, terutama yang dimiliki dinas sosial kabupaten, rata-rata hanya ada dua ton. Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur sendiri hanya memiliki stok 50 ton beras yang dapat digunakan untuk tanggap darurat.

Stok pangan warga 31 desa di Kabupaten Lembata kini sudah sangat tipis, bahkan boleh dikatakan kritis. Pemerintah harus segera turun tangan mengatasi masalah yang dihadapi warga agar tidak berkembang lebih buruk lagi. Introduksi program dan proyek padat karya harus lebih bersifat ekonomi-produktif.

Demikian keterangan berbagai pihak di Lembata dan Kupang yang dihubungi hari Minggu (13/3). Mereka, antara lain, Marselinus Aluken, tokoh masyarakat di Lembata, Kepala Dinas Tanaman Pangan Lembata Virgilius Natal, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata Karel Kia Burin, dan Ketua Harian Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana (PB) Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Leburaya.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga 31 desa di tiga kecamatan di Kabupaten Lembata terancam kelaparan karena tanaman pangan mereka tidak bisa dipanen akibat kekeringan. Warga 22 desa di Ile Ape saat ini kelaparan, sementara warga tiga desa di Nubatukan dan enam desa di Wulandoni terancam kelaparan.

Kabupaten ini meliputi Pulau Lembata (Lomblen) yang terdiri atas delapan kecamatan dengan 132 desa yang dihuni sekitar 89.697 jiwa. Dari jumlah penduduk itu, 80 persen di antaranya tercatat sebagai penduduk miskin. Sekitar 64 persen kegiatan ekonomi daerah ini disumbangkan oleh sektor pertanian.

Ketua Harian Satkorlak PB NTT yang juga Wakil Gubernur NTT Frans Leburaya mengatakan, dia akan melakukan koordinasi ke kabupaten terkait kasus kelaparan di Lembata. Menurut dia, Pemkab Lembata harus melakukan langkah cepat dan konkret.

Frans Leburaya menambahkan, daerah yang krisis pangan akibat gagal panen menyusul kekeringan telah meluas menjadi 10 kabupaten. Menurut catatan Kompas, kabupaten yang kritis persediaan pangan itu adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Belu, Sumba Timur, Sikka, Flores Timur, Lembata, Alor, Manggarai, Rote Ndao, dan Ngada.

Di Dinas Sosial NTT saat ini hanya tersedia 50 ton beras, dan di setiap dinas sosial di kabupaten masing-masing tersedia dua ton.

"Kami juga akan meminta bantuan dari pemerintah pusat untuk mengatasi masalah ini. Seperti apa bentuk bantuan itu, sangat tergantung dari pusat," kata Frans Leburaya.

Marselinus Aluken, salah seorang tokoh Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, di Lembata yang dihubungi kemarin mengemukakan, kondisi warga di wilayah itu kini sangat memprihatinkan. Gagal panen akibat kemarau panjang sejak pekan kedua Januari lalu telah menyebabkan kekurangan bahan makanan.Aluken menyatakan, stok pangan untuk skala rumah tangga di desa-desa ini sudah sangat kritis. Ile Ape yang meliputi 22 desa itu adalah kecamatan yang setiap tahun selalu kekeringan.

Kepala Bagian Humas Pemkab Lembata Karel Kia Burin, dan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lembata Virgilius Natal, yang dihubungi terpisah, juga mengakui stok makanan di rumah tangga warga sangat tipis.

Kedua pejabat itu menjelaskan, warga saat ini dialihkan untuk mencari sumber pendapatan yang lain, yakni dengan menanam rumput laut dan menjadi nelayan.

Karel menjelaskan, Pemkab Lembata akan membantu warga dengan proyek padat karya, seperti membangun jalan desa, atau memperbaiki sumur air di desa. Upahnya akan diberikan dalam bentuk natura (seperti beras dan jagung), atau juga bisa berupa uang untuk membeli bahan pangan.


" "

jadi memang betul dari data yang disampaikan bonggo kita dapat melihat NTT bergantung pada sektor pertanian, tapi masalahnya yang ingin saya bahas bukan pada kehebatan data yang di atas kertas tapi pada kenyataan di lapangan. oleh karena itu, jika memang pemerintah NTT sudah mengandalkan pertanian tapi kenyataan di lapngan berkata lain. JADI SALAHNYA APA DONG??? malah dari data yang ada kita semakin bingung.

(norman)

Anonim mengatakan...

ini artikel yang menarik untuk disimak mengenai wajah NTT.

Politik Bantuan di NTT

Secara umum kondisi alam Nusa Tenggara Timur (NTT) kering dan tandus. Itu kenyataan yang tak bisa disangkal. Kondisi ini membuat pendapatan ekonomi dari sektor pertanian sulit diandalkan. Sedangkan potensi kelautan dan pariwisata belum digarap secara maksimal. Oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi NTT sangat lambat bila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional menunjukkan pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2004 mencapai 4,77 % dan tahun 2005 mencapai 3,10 persen. Pendapatan perkapita tahun 2004 mencapai Rp 2.923.409 dan tahun 2005 mencapai Rp 3.235.699. Pendapatan Domestik Regional Bruto tahun 2004 mencapai Rp 12.887.107 dan tahun 2005 mencapai Rp 14.601.790.
Kondisi alam dan ekonomi seperti itu menimbulkan bencana sosial ekonomi seperti rawan pangan, gagal panen, gizi buruk, busung lapar dan kelaparan. Belum lagi bencana lingkungan hidup seperti longsor dan organisme pengganggu tanaman (OPT). bencana sosial, ekonomi dan lingkungan hidup sudah menjadi semacam ritual rutin tahunan.
Kondisi seperti itu, lalu menempatkan NTT sebagai provinsi dengan dua atribut: “pencari bantuan” dan “ladang penerima bantuan”. Sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi lambat dan pendapatan ekonomi rendah, NTT menjadi peluang bagi siapa saja khsusnya orang-orang NTT untuk “menjual” kemiskinan NTT. Bagi lembaga-lembaga bantuan baik nasional maupun asing, kemiskinan NTT layak ditanggapi. Maka, tidak kurang dan tidak jarang lembaga-lembaga sosial beramai-ramai memberi bantuan.
Tahun 2004 jumlah dana (uang) yang mengalir ke NTT sangat besar. Hasil penelitian The Institute for Ecosoc Rights 2006 menunjukkan bahwa berbagai NGO internasional baik yang berada dalam PBB maupun di luar PBB serta lembaga pemerintahan asing mengalokasi dana bantuan untuk NTT mencapai lebih dari Rp 119 miliar. Kompas 20/12/2005 menulis APBN untuk NTT sekitar 1,5 triliun. APBD NTT menyumbang Rp 442,8 miliar.
Tahun 2005 APBD NTT sekitar Rp 474,9 miliar. Dana APBN yang dialokasikan ke NTT Rp 1,77 triliun. Bantuan dari 5 lembaga PBB, 10 lembaga pemerintah asing, dan 10 NGO internasional sepanjang Januari-Juli 2005 mencapai Rp 124 miliar.
Bahkan berdasarkan data Bappeda Provinsi NTT, sejak tahun 1983 NTT sudah mendapat bantuan dari luar negeri. Tercatat lebih dari 20 lembaga internasional menyalurkan dana ke NTT dengan prioritas berbeda-beda. Sedangkan tahun 1994-2000 bantuan diprioritaskan untuk penanganan masalah air bersih dan sanitasi. Tahun 2001-2004 bantuan dikonsentrasikan untuk kegiatan pengembangan ekonomi. Tahun 2005-2006 bantuan difokuskan untuk pemberian makanan tambahan, penanganan penyakit dan kesehatan reproduksi.

Politik bantuan

Dengan alokasi dana yang begitu besar dan begitu banyaknya lembaga-lembaga donor yang membantu NTT, bisa diasumsikan bahwa seharusnya tingkat kesejahteraan hidup masyarakat NTT lebih baik. Tetapi ternyata setiap tahun masih saja terjadi berbagai bencana sosial. busung lapar, angka kematian ibu melahirkan mencapai 330/100.000 kelahiran (Kompas, 20/11 2006). TKI ilegal yang bekerja di Singapura dan Malaysia mencapai 6000 jiwa (Suara Pembaruan, 29/5/2006). Itu belum termasuk TKI legal. Menjadi TKI adalah bentuk konkrit dari usaha orang NTT agar bisa hidup.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi NTT menunjukkan tahun 2005 rumah tangga miskin mencapai 555.045 keluarga. Tahun 2006 bertambah menjadi 718.640 atau meningkat 75,45 % dari tahun sebelumnya. Berdasarkan fakta itu maka tahun 1996 NTT menempati urutan keempat dan tahun 1997 menempati urutan keenam provinsi termiskin di Indonesia. Kenyataan ini bertolak belakang dengan kenyataan banyaknya bantuan ke NTT.
Kenyataan yang terpapar di atas memunculkan pertanyaan lanjutan: Ada apa dibalik mengalirnya miliaran dana bantuan ke NTT? Inilah pertanyaan yang menggelitik kita. Pertanyaan ini juga menohok nurani kita untuk bertindak jujur terkait pengelolaan dana bantuan. Pertanyaan itu juga menggugat kesadaran kita untuk melihat lebih jelas dan terang mekanisme politik bantuan yang sedang berlangsung di NTT.
The Institute for Ecosoc Rights mencatat beberapa hal penting disoroti berbagai pihak di NTT. Pertama, kinerja NGO/lembaga/badan internasional. Selama ini belum ada mekanisme evaluasi dan monitoring tehadap kinerja, pola pendekatan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Peran ini merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Kedua, tumpang tindih program dan tidak meratanya wilayah kerja mengakibatkan koordinasi dan komunikasi antara lembaga donor dengan pemerintah dan lembaga lokal tidak terbangun dengan baik. Ketiga, pendekatan bantuan pun bersifat darurat (emergensi) jangka pendek, 1-2 tahun. Membantu NTT tidak bisa dalam jangka waktu itu saja. Persoalan budaya, mentalitas dan tingkat pendidikan masyarakat harus sungguh-sungguh dipertimbangkan. Masalah kurang gizi, misalnya. Masalah itu tidak saja terkait kekurangan bahan makanan bergizi tetapi terkait pemahaman dan pola hidup sehat. Itu artinya, masalah pendidikan dan budaya tidak bisa diabaikan.
Tiga catatan penting di atas memuncak pada masalah politik bantuan. Bantuan seringkali disemangati oleh semangat “proyekisme”. Bantuan berpola proyek berkaitan erat dengan jangka waktu anggaran belanja. Pola seperti itu sangat rentan terhadap korupsi. Bisa jadi atau memang, NTT adalah ladang emas bagi para koruptor dari berbagai kalangan.

(norman)

Anonim mengatakan...

@norman

Harusnya norman tara usa heran dengan data yg katanya 'muka dua' itu. Kalau mengikuti alur nalar @bonggo, saya dan yg terkahir @bne maka kita harus jujur bahwa mau 'poko paka' kayak apa juga, sektor pertanian ntt sudah saatnya ditinjau ulang. Ini lebih baik ketimbang 'tikam kapala dalam tanah' sonde mau bergerak. Katong harus sadar dan jujur soal ini dan harus berani melihat peluang lain. Contoh itu sapi-sapi dong??? NTT masih 'ekspor' sapi ko sonde???

Norman harus sadar, persoalan sektor pertanian bahkan sudah lebe tua dari beta dan norman. Jadi ini bukan barang baru. Kalau norman baru bisa baca koran sakarang dan kaget, artinya norman baru tahu sekidit persoalan pertanian ntt. Coba jujur hitung, dari jaman dahulu kala, sudah berapa dana yg katong buang untuk sektor ini?

Bagitu ko ato karmana???

-nk-

Anonim mengatakan...

@norman

Oh ya, beta sendiri yg bilang dalam debat ini, persoalannya ada pd moralitas manusia ntt yg busuk. Dan kirimin artikel ttg 'politik bantuan' membenarkan hal ini. Lu pung om a9us sa su akui.

-nk-

Anonim mengatakan...

Pak Agus dan member lain yg mendukung Pak Agus... Memulai komentar kl ini, sy mau minta maaf dulu krn su bikin kalian gusar. Mmg sy kesal dg gaya Pak Agus yg mentang2 punya data lalu merasa diri paling ngerti NTT dan yakin rekomendasinya ttg prioritas pembangunan pd pertanian adalah obat mujarab mengentaskan kemiskinan NTT. Lalu, mentang2 tua, merasa layak maen kosi kitong yg muda2. Ini sikap jaman bigmike msh remaja dan rupanya saat bigmike sdh berubah, Pak Agus msh doyan maen kosi di pantat mereka yg diakuinya sbg adik. Celakanya, beliau berpikir cuma beliau yg layak bikin tafsiran dan kesimpulan, mentang2 diketiaknya ada data terbaru, sementara dg sombong, pendapat sy dianggapnya cuma mimpi krn menurutnya sy tdk punya data selengkap dia. Sok, banget kan? Tp OK-lah... Rasanya, kl beta teruskan gaya bahasa ini, akan mjd keterlaluan thd kaum tua dan senior, apalagi saat beta kuliah, beliau sdh jd dosen di Fapet. Jadi beta akan berusaha agar lbh sopan dlm komentar berikut. Sekarang, beta permisi utk kasi pendapat yg lbh serius.
Pertama, ahirnya, setelah lama berdola-dali, mk ahirnya Pak Agus sadar jg bhw dengan data yg sama, saya dan beliau bs berbeda dalam menarik kesimpulan dan bikin rekomendasi. Coba cek pendapat Pak Agus berikut ini: “4.Jadi, perbedaan saya dan si bonggo bukan pada fakta atau apa tetapi pada cara memaknai fakta.”
Sayangnya, beliau begitu telmi shg meski sdh sjk awal saya kasi tau ttg hal ini, tp br sekarang beliau menyadari dan mengakuinya. Ternyata, otak beliau msh bisa beta bikin sibuk berdola-dali dan perasaannya msh bs terbawa emosi. Tp OK-lah, mhn maaf yaa Pak Agus...
Kedua, Pak Agus punya rekomendasi agar sektor pertanian mjd prioritas utama pembangunan ekonomi NTT dan dg data yg sama, sy justru menolaknya. Knp?
Ketiga, krn faktanya pembangunan pertanian selama ini nol besar. Faktanya jg pendapatan NTT sangat bergantung pada pertanian (>40% PDRB), sementara sektor pertanian terutama sub sektor tnmn pangan dan peternakan yg selama ini dibangun sangat rentan kondisi alam NTT yg ekstrim. BPS melaporkan penyebab terus menurunnya laju pertumbuhan NTT krn sektor andalan pertanian gagal akibat iklim yg tdk bersahabat. Krn itu, merekomendasikan pertanian terus-menerus mjd andalan perekonomian NTT adalah pemikiran yg naif, krn tdk akan pernah dapat mengubah struktur perekonomian NTT yg terlalu bergantung pd pertanian tnmn pangan dan peternakan. Seharusnya ada pemerataan kontribusi berbagai sektor perekonomian dan utk pemerataan itu, pihak2 terkait hrs berani utk prioritas pd sektor lain juga, bkn cuma pd pertanian mentang2 datanya org NTT hidupnya dr peranian.
Keempat, saya kebetulan mjd Konsultan JICA (Japan Int’l Cooperation Agency) yg ikut membantu dlm proyek Pembangunan Daerah di kawasan Kalimatan, Sulawesi, dan Sumatera. Secara manajemen pembangunan daerah, roda perekonomian daerah baru akan bergerak maju jk pembangunan bertumpu pada industri dan jasa. Krn itu sektor lainnya, termasuk pertanian, hrs digerakkan dalam rangka mencapai target2 pembangunan industri dan pertanian. Di sulawesi, Gorontalo itu termasuk counterpart dr proyek JICA ini dan sy sih tdk heran dg Jagungnya krn mmg strateginya one village one comodity. Apa Pak Agus tau kl gorontalo dg jagung mk di Kalkbar ada jeruk singkawang?
Beta liat Pak Agus ada ngomong agroindustri tp mhn maaf, rupanya beliau tdk punya sense of industry shg salah mengerti ttg agroindustri. Sy maklum rata2 dosen bahkan di Jakarta sinipun modelnya sama sj. Agroindustri itu adalah agro-based industry, jadi fokusnya pd pembangunan industri dan jasa dengan pertanian sbg pendukung utama. Artinya apa? Kl Pak Agus mau mamajukan agroidustri mk bukan pertanian yg mjd prioritas, ttp industri jd prioritas di mana komoditi2 unggulan pertanian dikembangkan utk mensuplai kebutuhan industri.
Tp dg pola pikir sesat Pak Agus itu, mk ada akan kembangkan komoditi pertanian yg tdk industry oriented alias market oriented krn industri sekedar pelengkap bg pertanian sbg prioritas utama. Ini yg bikin ekonomi NTT mandeg, produksi pertanian tdk tertampung oleh industri krn proyek2 pertanian tdk jelas utk apa, dan ujung2nya habis utk di makan sendiri. Jmn dulu Timor punya apel dan jeruk, tp krn tdk fokus pd industri mk setelah semua org diperintah El Tari utk tanam apel dan jeruk, lalu hasil panennya melimpah, tp habis utk makanan babi dan sapi krn pasar tdk mampu nampung. Sapi dan cendana yg banyak jg, ahirnya habis krn pola budidayanya tdk menganut prinsip2 industri yg sangat mementingkan aspek produksi berkelanjutan. Knp bs begini? Krn NTT tdk menjadikan industri sbg ujung tombak dan sektor2 lain termasuk pertanian adalah pendukung dg menyediakan bahan baku dan pelengkap lainnya bg kebutuhan proses produksi dan proses bisnis dlm industri. Bahkan krn tdk prioritas pd industri, mk para stakeholders dlm pembangunan perekonomian NTT jg tdk tahu bahwa mereka musti bekerja keras utk menciptakan pasar bg komoditi unggulan NTT, shg ekonomi NTT tdk jg bergantung pd pasar sj. Spt skrg ini ekonomi NTT praktis bergantung pd iklim. Eh, Pak Agus ngerti kan, apa itu stakeholders pembangunan daerah NTT?
Keempat, sy sungguh menyesal ketika Pak Agus ngotot prioritas pd pertanian tnmn pangan dan peternakan krn alasan kendala alam dan sosial. Sy kira justru itu, NTT bikin universitas lalu keluar uang utk menyekolahkan org2 pintar spt Pak Agus utk mikir. Tp golongan Pemikir spt Pak Agus sj sikapnya thd kendala alam sdh spt ini, lalu kita musti minta siapa lg yg mikirin ngatasin kendala2 itu? Malah sy yg disuruh Pak Agus musti mikir dan jawab bgmn membawa investor ke NTT? Bgmn membawa turis2 keliling kep NTT utk menikmati eksotika alam dg aman dan selamat? Bgmn nelayan NTT bisa tangkap ikan di perairan NTT agar potensi hampir 300 ton ikan/per tahun dapat tergarap dg opimal sbgmn Maluku? Eh, percuma dong Undana punya sekian byk Pemikir, kl rekomendasinya kembali lg prioritas ke sektor pertanian, pdhl pola ini sdh terbukti hanya bikin rakyat makin bergantung pd iklim. Komoditi dikembangkan tdk dlm kerangka kebutuhan industri, tp ngomongnya agroindustri.
Pantes saja, ekonomi NTT tdk pernah maju, malah makin menurun. Data ada, lengkap dan reliable, tp kl interpretasi pake pola pikir subsisten, tdk industry-based yg market-oriented, mk rekomendasinya hanya bikin ekonomi NTT makin terpuruk. Sadar, gak sih Pak?

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@bonggo

Tara usah refot ladeni pak a9us ini. Soal maen tuduh, dia sudah lama tuduh, tetapi pertanyaan saya tdk ada yg dia jawab secara tuntas. Dia bilang saya membela Australia dan ketidakadilan pihak asing. Saya minta copy paste bagian itu, sampe hari ini tdk ada. Ini namanya moralitas lempar batu sembunyi tangan. Paaiiyah.

Mengamati fenomena pak a9us ini, akhirnya beta sampai pd kesimpulan ini. Sebagai akademisi, yang dia punya hanya data. Persoalan sektor pertanian ntt yg dari jaman ke jaman tdk maju yg diakuinya sendiri karena pemda tdk berbuat apa-apa, membuatnya frustasi. Lalu apa yg bisa beliau buat??? Nol. Tp karena impian beliau ada di data, maka angka-angka itulah menjadi sumber penghiburan dia.

Jadi ketimbang dia berangjak dari angka-angka dan melihat pd persoalan diluar itu, dia tidak mau. Contoh: Apel Soe tumbuh lagi tidak? Kenapa tdk? Bukan urusan si a9us karena urusan dia hanya data. Saya usul untuk bicara moralitas yg busuk. Dia tdk mau, sekedar menyalahkan pemda. Usul rame-rame protes di pemda, dia tdk respon. Saya ajak para 'katak' untuk keluar dari 'tempurung' data, dia malah marah-marah.

Jadi, akhiri saja debat kusir ini. Toh 10 tahun lalu, kalau blog ini masih ada, kita bisa bertanya lagi ke pak a9us. "Pak, sektor pertanian maju tidak?" Gampang khan.


-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@norman

Sebetulnya yg mo beta sampekan adalah bhw dlm ekonomi pembangunan, agar pertumbuhan ekonomi daerah menjadi positif mk pola tradisional yg mengandalkan pertanian sbg prioritas, hrs ada pemerataan pd prioritas pd sektor lain terutama industri dan jasa sbg lokomotif. Hrp industri jgn dipahami scr sempit sebatas manufaktur/pabrik.

Nah, lu pung Om Agus itu menjebak diri dlm interpretasi yg beta bilang katak (maaf, lho) dlm tempurung krn tkd mengerti hal ini. Ngomong agroindustri sj sdh misorientasi.

Pola pikir itu kuno krn tdk industry-based yg market oriented. Jmn dulu, kl org mau dagang yg dia liat adalah apa yg dia miliki utk bs dijual. Tp skrg ini, krn persaingan begitu keras, polanya terbalik. Apa yg diperlukan pasar dan kita punya sumberdaya apa utk bikin barang/jasa itu. Kl kita tdk punya semua sumberdaya yg perlu, bgmn cara kita bs dapatkan agar kebutuhan pasar bs kita layani dg menguntungkan kedua pihak.

Nah pilihan strategi pembangunan perekonomian NTT ala Om Agus itu, menempatkan industri hanya sekedar pelengkap penderita bg pertanian. Apalagi data Om Agus menunjukkan dominansi luar biasa sektor pertanian thd stuktur perekonomian NTT. Akibatnya, jk tjd gagal panen krn faktor iklim mk perekonomian praktis anjlok. Tdk ada lg sektor lain mampu mikul beban jk pertanian dihantam iklim yg ganas. Fenomena ini hrsnya membuat kita tdk boleh memaknai data ketergantungan perekonomian pd pertanian, sbg perlunya prioritas pd sektor pertanian.

Beda kalo industry dan jasa yg inherent padanya kita jadikan sbg lokomotif. Sektor pertanian bolehlah mjd penyedia komoditi2 unggulan bg industry, sementara sektor2 lainnya jg dikembangkan utk berkontribusi thd industry dan jasa scr proporsional. Dg dmkn, jk pertanian gagal krn faktor lingkungan misalnya, msh ada sektor lain mjd penopang industry.

Nah, @NK menambahkan persoalan kemiskinan NTT dg adanya fenomena mental korup para birokrat dan stakeholders pembangunan NTT lainnya.

Jadi, kalo nomang liat data dan hasil pembangunan pertanian tdk match, nomang jgn bingung. Ada dua penyebabnya. Pertama, krn org NTT kayak Om Agus itu sj keliru baca data lalu bikin rekomendasi strategi pembangunan perekonomian yg keliru. Kedua, mental korup membuat data2 mantap itu dipake utk sekedar utk merancang proyek2 yg memberi peluang korupsi.

Nomang kan sdh S1 dg IP tinggi, sbentar lg S2. Beta yakin nomang mampu berpikir jernih utk menilai, siapa yg misorientasi beta ato Om Agus. Nomang tentu bisa menimbang pendapat beta: sektor pertanian dan sektor2 lainnya dikembangkan sbg penyedia kebutuhan industri, atau pendapat Om Agus: sektor industri dikembangkan menyerap hasil2 pembangunan pertanian NTT, tnp kejelasan peran sektor2 lainnya bgmn.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

yah... kawan bonggo ini masih aja coba berdola-dali udah tau kawan a9ust udah punya alasan kuat eh masih aja dola-dali. btw eh bigmike kapan posting dari anda lagi? atau gak si norman juga boleh deh, biarpun masih ijo tulisan si norman lumayan juga loh soalnya gw gak sengaja liat tulisan si norman ada di blog yang juga loh, keep on posting broo. males gw ngomentarin tulisan si kawan NK. gak bermutu. (degha, jkt)

Anonim mengatakan...

@degha

Rupanya anda nyempil disini mengolok-ngolok tulisan saya, ha ha ha. Tulisan tdk mutu wajar. Komentar yg tdk mutu yg tdk wajar. Ha ha ha.

Peace man!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@degha

Sudahlah... Kl mau terlibat diskusi, beri kritik yg konstruktif pd dalil bonggo. Atau beri argumen penguatan pd dalil pak agus yg dikritik @bonggo.

Tdk perlu mancing2 "macan tidur" dg pelecehan2 yg tdk etis. Ntar si bonggo menggila dg penyakit nylenehnya, bigmike yg pusing lg.

Kl mau bertengkar dg @nk, silahkan tunjukkan kualitas anda dg mampir di ruang posting beliau yg terbaru.

Moga2 anda ngerti maksud saya.

Salam damai

(Wilmana)

jabon mengatakan...

Alhamdulillah tahun ini di Indo ga ada kekeringan ya