Sabtu, 21 Juni 2008

Nih Bekal Bwt Hari Minggu dari Wilmana

Ditulis oleh Wilmana di/pada Juni 20, 2008

Jika anda punya teman orang Kristen, cobalah meminta yang bersangkutan bercerita tentang siapa itu Yesus, Tuhan mereka. Tentu mereka akan menjelaskan panjang lebar tentang seseorang yang lemah-lembut, cerdas, dapat mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan melalui berbagai perbuatan mujizat, sehingga layak di-Tuhan-kan. Penulis e-book, Re-Think, Being Just A Christian In The 21st Century, punya kesaksian yang menarik sebagai berikut:

Ada seorang kawan yang menggambarkan Yesus sebagai sesosok pribadi baik hati yang akan mengabulkan semua permintaan jikalau kita memenuhi kriteria sebagai orang Kristen baik-baik, tidak memiliki catatan kriminal, tampan atau cantik, dan yang terutama ialah rutin mengembalikan persembahan persepuluhan. Seandainya doa kita tidak juga terjawab, maka penyebabnya pasti tidak jauh-jauh dari kurang iman atau mungkin ada dosa tersembunyi dalam diri kita yang belum dibereskan. Seandainya ternyata yang bersangkutan sama sekali tidak terlihat kalau dia kurang gizi (baca: kurang iman), maka mungkin saja Tuhan sedang menyuruh dia menunggu waktunya Tuhan.

Ada lagi kawan lain yang menggambarkan Yesus sebagai pribadi yang penuh kedamaian dan cinta kasih. Ini adalah Yesus yang selalu bertuturkata dengan etika, menghargai perasaan orang, dan yang terutama ialah ia sangat lemah lembut. Ini adalah Yesus yang tidak mengenal istilah ‘melawan’ dan selalu penuh senyum sementara membiarkan orang lain menganiaya dirinya. Ini adalah Yesus yang tidak menjadi batu sandungan, tidak beremosi (baca: inhumane), rajin beribadah dan gemar menabung. Ini adalah Yesus yang sering tampilkan di lukisan-lukisan Kristen, yaitu sosok Yesus yang begitu sangat amat mengasihi orang lain sampai lupa bagaimana mengurus dirinya sendiri.

Tentu, sebagai seorang non-kristen anda pasti terheran-heran dengan cerita-cerita seperti di atas. Masak sih, ada manusia seperti itu? Rasanya, Tuhan-pun tidak digambarkan sebaik itu. Tentu, anda layak bertanya-tanya seperti itu. Terlebih-lebih jika anda adalah seorang muslim.

Lalu, bagaimana jika anda bertanya kepada saya? Sebagai seorang Kristen, tentu saya harus tau dong, siapa itu Yesus? Dan, dengan menyesal saya harus bilang pada anda bahwa Yesus yang dijelaskan di atas itu adalah Jesus of the mythology dan bukan Jesus of the bible.

Penulis e-book Re-Think di atas punya keterangan yang menarik:
Yesus yang saya kenal di Alkitab adalah terutama seorang pembuat masalah. Kata-kataNya selalu tajam, membuat syak, dan spesialis membuat banyak orang tersinggung dan naik pitam.

Bagi para Petinggi Agama, Yesus adalah contoh sejati dari kata istilah-Nya sendiri, ‘batu sandungan’ (lihat Mat 5:12) karena Dia telah mengajarkan pengikutnya untuk merendahkan para Ahli Taurat, Farisi, dan Saduki dengan cara menggosipkan kejelekan dan kebobrokan mereka. Hal ini terkadang dilakukan secara terang-terangan sehingga mereka yang menjadi sasaran kritikan pedasnya menerima itu sebagai ancaman dan penghinaan.

Yesus juga terkenal tidak mengenal tata krama karena ‘demen’ membuat mukjizat pada sikon yang tidak tepat, sehingga malah menimbulkan keonaran. Suatu saat Dia datang ke Bait Allah, bukannya untuk melepaskan berkat, namun mengamuk habis-habisan di pelataran sehingga para Pedagang mengalami kerugian finansial dan Yahudi Perantauan kesulitan membeli hewan dagangan untuk dijadikan hewan kurban, atau menemui para Penukar uang receh jika mereka enggan memberi persembahan berjumlah besar ke kotak-kotak amal yang tersedia. Dia juga dianggap kalangan terpelajar pada waktu itu sebagai wong edan, orang yang kerasukan setan, pemberontak, atau minimal tersertifikasi sebagai con artist. Kenapa? Karena mengajarkan pandangan kontroversi tentang isi kitab suci dan keluar dari pakem-pakem standar yang berlaku saat itu.

Catatan kitab suci Perjanjian Baru mengenai Yesus nampaknya justru menunjukkan bahwa beliau identik dengan masalah. Dalam pengajaran-Nya, Dia tidak pernah berjanji bahwa barangsiapa yang mengikut Dia akan terbebas dari segala masalah, melainkan berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” [baca Yoh 15:18] Yesus juga adalah pribadi yang mengucapkan kata-kata mengerikan ini, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (bc Lukas 14:26).

Jadi, jika anda berminat mengikut Yesus, berarti anda sedang membawa seluruh hidup anda dalam masalah. Karena itu, jika ada orang Kristen yang propaganda Yesus sebagai jawaban semua masalah, anda musti berhati-hati. Karena detik anda memutuskan jadi pengikut Kristus, maka semua masalah lama anda memang hilang lenyap, tetapi yakinlah anda segera mendapat masalah baru yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Masalah yang dibawa Yesus kepada kita ialah, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(baca Lukas 9:23). Rupa-rupanya mengikut Yesus bukanlah sekedar mengisi formulir keanggotaan gereja, rutin ibadah, dan tidak pernah terlambat mengembalikan perpuluhan. Mengikut Yesus rupanya sesuatu yang berbicara mengenai kehilangan segala-galanya demi mendapatkan kerajaan Allah yang modelnya seperti apa, masih debatable. Kata-kata bernuansa egoistis yang diucapkanNya pun terdengar sangat mengerikan karena Dia berkata, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (baca: Matius 10:37). Bagi orang berpunya, Yesus juga bikin masalah dengan perintah-Nya, “”Janganlah mengumpulkan harta untuk dirimu di dunia, …” (baca Mat 6:15). Atau perintah lainnya, “….,pergilah jual semua milikmu. Berikanlah uangnya kepada orang miskin, …. . Sesudah itu, datanglah mengikuti Aku!” (baca: Mat 19:21).

Nah saudara, rupanya mengikut Yesus adalah petualangan terbesar yang mungkin lebih menegangkan dan menyulitkan daripada petualangan Dr. Indiana Jones. Akan ada banyak ancaman, tantangan, penderitaan, dan goncangan yang sangat menegangkan yang akan anda jalani. Oleh karena itu sekarang jika anda ingin ikut Yesus, saya tidak lagi mengatakan ‘selamat mengikuti Yesus’, tetapi tapi saya akan pegang erat tangan anda, tatap mata anda sedalam-dalamnya dan berkata, “Please fasten your seatbelt!”.

44 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah, ikut Yesus jadi menakutkan dong? (Sherly, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Pilatus: apakah engkau anak Allah?
Yesus: engkau yg mengatakannya

wilmana: Ikut Yesus banyak bahayanya
Yesus : ???????
Saya:?????????????????? (Erick, Jkt)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih

Renungan yg mengguncangkan 'ketenangan' hati. Lagi-lagi, mengamati tulisan ini dan 2 komentar sebelumnya, saya terus menduga-duga, dimana letak 'distorsi' yg pernah saya sampaikan sebelumnya. Mengapa keteladanan Yesus yg revolusioner disegala lini, sosial politik budaya ekonomi, hampir tdk membekas dibanyak hati dan pikiran kami? Mengapa kami kagetan hal ikut Yesus penuh bahaya (baca: tantangan)?

Rupanya, fenomena 'pendeta selebriti' dkk berhasil sedemikian rupa meng'korupsi' keteladanan yesus, sehingga melalui 'teologi sukses' kami menjadi pengikut Kristus yg pragmatis, teramat pragmatis. Begitu? Entahlan. Biarlah masing-masing merenung hal ini!

Salam akhir pekan.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Sugeng siang,

Persoalan kita adalah, memahami relijiusitas selalu kontekstual. Antara ayat suci dan konteks masyarakat baik budaya, sosial, ekonomi, psikolgi dst selalu harus harmonis. Persoalan adalah ketika yg dihadapi adalah jiwa-jiwa lelah sedangkan yg diwartakan adalah sesuatu mendatangakn kegelisahan maka inilah lahan subur bagi kelompok literalis. Nah, apakah renungan hari ini malah bersifat kontraproduktif? Hanya Tuhan yg tahu (Patrice)

Anonim mengatakan...

@Patrice

Sudilah sdri memberi pencerahan atas komentar sdri sebelumnya. Saya yg 'bodoh' ini baru bs memahami 1/2 nya saja.

Maksud sdri, dlm konteks kekinian, banyak jiwa lelah? Kenapa lelah? Kondisi sosial budaya politik ekonomi suram? Lalu memberi ayat-ayat yg 'menggelisahkan' menjadi kontra-produktif? Mana yg produktif itu? Teologi sukses itukah, yg katakan mengikuti Yesus, segala persoalanmu menjadi 'beres?'

Trims.

-nk-

Anonim mengatakan...

Bigmike, ada salam dari pak Sambas Fahutan. Saya akhirnya tahu siapa bigmike setelah bertemu kawan-kawan di Jogja ha ha (Patrice)

Anonim mengatakan...

@ NK

Saya bukan penganut teori teologi sukses. Hanya pengamatan saya secara empiris, jemaat yg sudah terhimpit dengan kelelahan "psikologi" karena soal hidup sehari-hari cenderung menjadi literalis. Studi dari Singgih dan Widyastuti (2007) pada jemaat perkotaan dan pedesaan di jawa membuktikan itu. Mereka memerlukan pendekatan yg lebih "sejuk". Tulisan ini baik untuk kalangan terbatas, kaum intelektual dengan pikiran terbuka, tetapi ada kemungkinan kurang cocok menghadap jemaat-jemaat dengan "perilaku bermasalah". Saya pribadi juga setuju dengan substansi penulisan Wilmana tapi mari bersama-sama kita pikirkan cara terbaik dalam penyampaiannya. Apakah blog ini milik kalangan terbatas? Sementara ini, ya. Tetapi jangan lupa kalangan-kalangan "lelah" tadi umumnya mereka yg juga punya kemampuan untuk mengakses sumber-sumber informasi moderen. Lihatlah perdebatan di situsnya pendeta Mangapul Sinaga. Jelas sekali kaum literalis mendominasi kmentar. Saya pikir jikalau mereka menemukan posting ini dan mengajak "ribut" maka sering terjadi situasi "tanpa jalan keluar". Ini pengamatan saya. Kalau NK punya amatan lain ya monggo. Tapi inilah masalah kita. Kata Yesus: tulus (dalam memberitakan Firman) tetapi cerdik (memilih metodenya). Syalom (Patrice)

Anonim mengatakan...

@Patrice

Baiklah, saya dpt memahami 'where you are coming from' tetapi saya sangat tertarik dgn studi empiris Singgih dan Widyastuti (2007). Kalau sdri tdk keberatan, sudilah sdri sampaikan disini 'ditel' study tsb. Mengapa saya ingin tahu?

Lagi-lagi, buat saya, hal mengikuti Yesus tdk dpt dilepaskan dari pelayanan Yesus itu sendiri 2000an tahun yg lalu yg 'menuntut' perubahan radikal disegala lini -sosial politik budaya ekonomi. Dalam 'aksi'nya itu, Yesus mati mengenaskan. Masuk akal kalau wilmana katakan, 'anda mau ikut Yesus, buckle up!' Kalau 'mobil' terbalik, anda kemungkinan bisa selamat.

Bagi saya, dalam konteks kekinian, kalau dalam setiap tulisan, khotbah, diskusi atau apa saja ttg Kekristenan, figur Yesus dijadikan pusat keteladanan, maka mengapa tradisi pelayanan yesus seolah hilang tak berbekas? Atau kalau masih ada bekasnya, menghindar.

Hal kaum literalis, ini bukan fenomena baru. Jemaat mula-mula teramat percaya akan perkataan Yesus sendiri:


"Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Matius 24:32-34."


Mereka amat meyakini Yesus akan kembali untuk kedua kalinya pada masa hidup mereka. Ini terjadi pada jemaat di Tesalonika yg membuat Paulus harus 'turun tangan.' Dalam tradisi Paulus, ia selalu berkirim surat untuk menjawab persoalan spesik yg sedang menimpa sebuah jemaat. Dalam surat-suratnya, Paulus memberi 'solusi' atas persoalan peribadahan, keimanan dll. Surat kepada jemaat di Korintus misalkan, Paulus mengirim surat atas 'pertengkaran' jemaat ttg bahasa roh. Hampir tdk ada surat Paulus yg menganjurkan jemaat membawa perubahan sosial, politik, budaya, ekonomi di lingungan hidup mereka mengikuti tradisi pelayanan Yesus. Dalam bukunya 'The Politics of Jesus' Obery Hendriks memberi sinyalamen bahwa Paulus sendiri termasuk yg percaya Yesus akan datang pada masa hidupnya. Dus, tradisi 'aksi sosial' ala Yesus telah 'hilang' sejak zaman Paulus.

Dengan perilaku yg 'bermasalah' ini, tdk heran jemaat 'menuntut' pekabaran kabar baik dengan cara lebih 'sejuk' walau saya bingung yg dimaksud dengan sejuk itu yg bagaimana. Substansi tulisan wilmana ini, bagi yg mau mengikutinya, tahu betul hidupnya akan berubah secara literal pula. Dari yg 'senang' jadi 'susah' atau yg 'susah' menjadi 'tambah susah.' Dari 'selamat' bisa jadi 'cilaka.' Siapa mau???

Anonim mengatakan...

wah ternyata Patrice adalah makhluk manis dari kota gudeg juga ya? Anu, setahu saya penelitian Widya adalah penelitian S2 di UKDW teologia dan pembimbingnya pak gerith. Itu pnetiian tentang pola-pola alternatif liturgia. Isinya kurang lebih ya seperti yg diuraikan oleh Petti (uku pendekin aja). Ke substansi yg diajukan Wilmana, saya kira Yesus memang datang ke dunia untuk "membongkar" struktur mapan yg terjadi karena dosa. Itu sebabnya Remy Silado, sastrawan dan esais Katolik pernah menulis " selamat nakal" ketika perayaan natal. Rupanya hal-hal seperti ini dirasakan mengganggu establishment yg terlanjur terjadi dalam jemaat-jemaat terkait tenang imaji mereka tentang Yesus. Dengan demikian saya mau menjelaskan bahwa saya sepenuhnya setuju dengan Wilmana tetapi saya juga dapat memahami kehati-hatian Petti. Mencari "jalan tengah" di antara keduanya mungkin merupakan PR bagi kita sema yg perduli (Widyanto)

NB. Bigmike, aku diam-diam menunggu dengan debar-debar cemas apa yg akan diuraikan tentang evolusi sesuai tantangan saudara Syam. Memang blog ini berbeda. Serius bisa santaipun OK.

Anonim mengatakan...

kalo anda mau ikut Yesus harus memiliki hati yang TULUS dengan begitu anda akan memiliki banyak FREN sehingga anda menjadi GAUL di dunia dan akherat. he..he

syaloom, Salam damai

(nrk)

Bigmike mengatakan...

Sahabat blogger yang baik,

1 minggu terakhir ini saya sungguh amat sibuk dan tidak cukup punya banyak waktu untuk membuat tulisan untuk posting. Saya mohon dimaafkan. Beruntunglah saya memiliki beberapa sahabat seperti Wilmana dan NK serta adik saya DRHRK (dina rade) yg punya banyak stok ide untuk dibagikan kepada saya dan lalu...saya mempostingnya.

Salah satu posting adalah renungan hari minggunya Wilmana. Posting yg menarik dan "agak mengganggu kemapanan" persepsi rata-rata jemaat tentang Yesus. Seperi beberapa kali dilontarkan NK ,bahwa "truth hurts". Ya, memang seperti itu. Mengetahui kebenaran kadang-kadang menyakitkan. DR. Ekadamaputera (almarhum) pernah menulis sebuah buku: beragama dengan akal sehat. Intinya adalah memahami relijius tidak cukup hanya dengan imaji-imaji melainkan juga harus disertai dengan penggunaan akal. Bukankah adsa tertulis: kasihilah Allah mu dengan ..jiwa...dan akal budi? Begitulh saya mengajak sidang pembaca untuk memahami tulisan Wilmana ini. Hanya dengan cara ini, tulisan Wilmana akan, sebaliknya dari "menjauhkan" malah akan "mendekatkan" kita kepada Tuhan kita yang Hidup, Yesus Kristus.

Di lain pihak, saya dapat memahami sahabat-sahabat lain yg "mempersoalkan" cara penyampaian. Patrice mengemukakan secara cantik, yaitu hendaknya kita tulus dalam memberitakan injil tetapi harus cedik menentukan cara penyampaiannya. Berbicara tentang cara maka kita berbicara tentang metoda. Maka, "rumusan" kita akan kembali kepada apa yg diungkapkan oleh Wilmana lewat Misi dan Visinya. Ya, anda betul: metode disesuaikan dengan misi, visi dan seterusnya. Dan akan sampailah kita pada satu hal: strategi.

Untuk menaklukan Yeriko, umat Israel diperintah Allah untuk tidak perlu secara frontal menyerang. Strategi Allah: berputar-putarlah dahulu. Untuk mencapai tanah perjanjian, yg kalau kita lihat di peta sebenarnya tidak jauh-jauh amat, umat israel di bawa YAHWE ber"pusing-pusing" 40 tahun lamanya. Dan, lihatlah Yesus, untuk dapat menebus dosa manusia, DIA tidak menggunakan cara mudah dengan "bertitah" tetapi "mati dan bangkit". Jalan yg sulit. Fakta lain menunjukkan bahwa sekali waktu Yesus hanya dengan "menjentikkan" jari maka air berubah menjadi anggur di negeri "kana" (nama ini mengingatkan nama seorang adik saya yg kami juluki si pungut kana-kirik ha ha ha). Yesus hanya main sentuh tangan, orang buta melihat. Hanya bertindak simpel maka Lazarus bangkit dari mati, orang lumpuh berjalan dan orang gila disembuhkan. Apakah Yesus tidak konsisten dengan tindakannnya yg sebentar begini sebentar begitu? Tanpa memahami strategi Yesus, maka ada kemungkinan kita akan menjawab ya. Jadi soalnya adalah strategi. Mengapa strategi perlu? ya, karena dalam hidup ada hal-hal yg besifat idea dan ada pula yg bersifat praksis. Mau makan adalah ide. Lalu menyendok nasi ke dalam piring dan menghantarkannya ke dalam mulut adalah ranah praksis. Lalu kita bisa memilih, apakah pakai tangan langsung, pakai sendok, di lempar ke dalam mulut atau apapun, tergantung tergantung "niat" kita.

Nah, ketika berbicara tentang hal-hal praxis, ada satu alat lagi yang harus kita pakai, yaitu apa yg seharusnya. Apa yg sepantasnya. Dalam bahasa Sabu, we have to, we ought to. Apa ini? Ya, lagi-lagi anda betul: etika. Nah tentang etika, ada banyak percabangannya yg kalau saya jelaskan di sini maka ini bukan komentar tapi posting artikel (ha ha ha ha). Cukupkan etika? masih belum. Ada lagi yg namanya estetika dlsb yg juga kalau saya jelaskan satu-satu maka akan menjadi kuliah pengantar filsafat dan etika ha ha ha. Cukup saya beri contoh: ketika anda memutuskan mulai memasukkan makan ke dalam mulut maka jika di rumah sendiri dengan keluarga, makan pakai tangan langsung weeeehhh....sedaaaappp. Tetapi di dalam jamuan kenegaran apakah anda berani makan pakai tangan secara langsung? jangan sampai deehhh. Saya punya pengalaman agak ndeso alias ndesit: berempat kami kakak beradik ke restauran bakmi GM di Sarinah Jakarta. Saya pesan mi + nasi putih. Saya ditertawai adik-adik. Kata mereka: heeehhh...bikin malu. Makan di GM kalau sudah pesan mi jangan pakai nasi putih nanti org tertawa (dan faktanya saya sudah diketawain saudara-saudara). Lalu, meski lapar dan mendongkol, demi alasan "estetika" saya mengambil "keputusan etis" mencoret nasi putih dari dalam daftar pesanan. Apa esensinya? kita memerlukan metode yg sesuai (fit). Kata org di tahun 1980-an: "kalau mau bertindak lihat-lihat SIKON + Toleransi"

So, apa kesimpulan saya, tulisan Wilmana enak, perlu dan ada hal-hal yg bisa dipelajari. Di sini di blog ini, siapapun yg membacanya entah literalis maupun tidak, silakan "menimba" sesuatu di sana. Saran saya: pahamilah substansi dan esensi dalam ide dan ketika ingin meneruskannya dalam ranah praxis maka pilihlah metode yg sesuai dengan MV + strategi dan seterusnya ,dan seterusnya.

Semoga komentar ini bermanfaat. Tuhan memberkati,

Anonim mengatakan...

Ya, komentar pak Mike memudahkan saya untuk memahami tulisan Wilmana. Satu lagi bahan renungan. Selamat hari minggu (Yes, BTN)

Bigmike mengatakan...

Eh, bung Yes Syalom. Sudah pulang gereja-kah? Saya malah mau balik lagi ke Gereja karena persiapan pleno Renstra, reops dan RAPBJ Gereja Paulus.

Sahabat bloggers yg terkasih:

Jika anda ingin "berlatih" menghadapi "truth hurts" cobalah membaca buku Albert Nolan OP "Yesus Bukan Orang Kristen?". Anada akan menemukan pernyataan-pernyaataan yg amat keras tentang Yesus. Anda akan membaca kebenaran historis mengenai Yesus. Mengapa Yesus mau bergaul dengan para pendosa, Ia bahkan kerap berpesta dan bergembira ria, mengundang orang Farisi, para pengemis, pemungut cukai yang pada waktu itu dianggap pendosa.

Anda juga dapat membaca kata-kata-NYA yang kerap membuat hati kita "hancur lebur" dan "terkoyak" karena begitu pedas, keras dan radikal. Seperti kata-kata Yesus yang mengungkapkan bahwa orang kaya mustahil masuk ke dalam kerajaan sorga seperti seekor unta masuk ke dalam lubang jarum. Jangan-janagn kita lalu takut menjadi kaya dan orang seperti Nietszche akan berkata: lihat tuh...YESUS melarang orang menjadi kaya...dasar pecundang.

Namun demikian, jikalau anda membacanya dalam cara yg seperti saya anjurkan, saya jamin: anda malah akan semakin mencintai YESUS.

Anonim mengatakan...

Yesus memang unik. Memahami-NYA secara harafiah atau literalis akan menyulitkan kita. Inilah kesulitas saya sebagai awam karena di gereja tua kami ini ya betul-betul awam yg agak terbatas kewenangannya menafsir Alkitab.

Oleh karena itu saya setuju sama pak Mike. Saya ingat postingnya terdahulu, lupa persisnya di posting mana, "esensi bung. esensi". Selamat hari minggu (Peter)

Anonim mengatakan...

@ All

Wah sy baru pulang kebaktian. Rupanya rumus lama utk mengundang kontroversi msh berlaku. Tinggal bikin tulisan yg nyleneh menggugah kemapanan, lalu duduk manis, dijamin pasti panen diskursus.

Utk @ Petti, nada kritik anda itu, terbaca dibenak sy persis spt jawaban seorang Ahli Torat, ato Farisi atas pertanyaan koleganya, yg kebetulan barusan mendengar khotbah Yesus wkt itu. Khotbah yg baik, tp tdk bijaksana utk diperdengarkan kpd umum.

Bahan renungan yg "menyentak" ini mmg sy tampilkan utk mencocokkan dg realitas mengikuti Yesus bg Jemaat Indonesia yg senantiasa berada di bawah ancaman kekerasan, "ketidakadilan" Penguasa, termasuk realita tantangan kehidupan sehari-hari. Ikut Yesus PASTI hidup nyaman, sukses bekerja, lalu mjd kaya mnrt sy hanya isapan jempol yg disebut -nk- sbg teologi sukses. Lalu, bgmn dg mereka yg pasrah total tp toh terus miskin, balitanya malnutrisi, anak2 putus sekolah, terjebak narkoba, hamil korban perkosaan, mendadak ditinggal ayah tercinta, dst.

Disamping Yesus sendiri berkata begitu dlm Injil-Injil, toh realita hidup para Pengikut Yesus selamanya tdk semanis propaganda para penganut teologi sukses dlm berbagi mimpi dg Jemaat awam. Bahkan banyak sekali yg harus menderita penganiayaan sampe mati gara2 status Pengikut Yesus.

Sy pikir, drpd sibuk mengkritik cara mengajar revolusioner ala Yesus sendiri ini, Petti yg teolog seharusnya memberi jawaban atas pertanyaan yg relevan: Mengapa miliaran pddk dunia tetap bersedia mengikuti Yesus, bahkan tdk sedikit yg rela menderita atau menyerahkan nyawanya demi pilihannya itu?

Selamat merenungkan pilihan anda!! Jk sdh, segera "fasten your seatbelt", gelombang di laut Sawu sdh mencapai 5m.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Sidang pembaca blog yg saya hormati

Saya baru kembali dari gereja dan bersyukur dpt mendengar 'kbotbah' luar biasa dari 'moderator' -Dr Robert Benn- seluruh gereja presbiterian di negara bagin kami. Kebetulan Dr Benn pernah tinggal di Indonesia selama 10 tahun. 5 tahun di Bandung, 5 tahun berikutnya di Makasar dan Tanah Toraja. Kami berkesempatan berbincang-bincang dgn beliau dalam bahasa Indonesia. Saya lalu memakai kesempatan ini untuk bertanya.

'Dr Benn, selama anda 10 di Indonesia, apa persoalan yg anda lihat dgn Kekristenan di Indonesia? Mengapa Kekristenan di Barat jauh lebih maju daripada Kekristenan di Indonesia?' Jata Dr. Benn, 'Ada beberapa persoalan ttp yg begitu nampak dimata saya adalah 'perjumpaan' Kekristenan dgn budaya lokal yg begitu beragam dan juga Islam. Yang menjadi persoalan, Kekristenan Indonesia banyak sekali membuat 'adjustment' (penyesuaian) agar bisa 'coexist.'

Mendengar jawaban Dr Benn dan lalu membaca 'arahan' @bm, maka persoalan kita tdk saja menentukan misi visi strategi, ttp juga pertimbangan-pertimbangan etika dan estetika yg dlm tiap budaya berbeda. Ini sebuah persoalan teramat kompleks. Dalam budaya Jawa, walau anda benar sekalipun tetapi kalau kebenaran itu menyakitkan, maka kebenaran itu menjadi kebenaran yg 'bermasalah.'

Mencari 'solusi' dalam persoalan yg teramat rumit ini menjadi tdk gampang. Mungkin pula tdk akan pernah ada solusi jika demi 'coexistence' ada 'harga' yg harus dibayar. Yang terpenting mungkin 'niat' spt yg disampaikan BM.

Salam hari minggu.


-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ -nk- and all,

Kebetulan blom off-line.

Apa yg Ama sampaikan itu justru menguatkan bahan renungan dr saya. Dlm konteks keindonesiaan, mengikuti Yesus, sungguh bukan pilihan sederhana layaknya propaganda para "penjual" ekstasi rohani.

Dlm manajemen, profil risiko yang tepat akan membuat Pengambil Keputusan bekerja dg lebih aman, tanpa harus menghilangkan risiko2 tersebut, dg berbagai "mujizat". Mengentahui risiko mengikuti Yesus, bg org2 yg positif thinking justru membuatnya berani mengambil keputusan seberat apapun.

Yg menyesatkan, justru mereka yg menggantikan informasi risiko, atau menutupinya dengan berbagai kata2 manis membuai motivasi sesaat. Lalu jk ternyata tjd kesalahan keputusan, para Penyesat ini sdh tdk peduli. Knp? Krn mereka telah pergi mengantongi kolekte, sambil mencari mangsa baru.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Ya, itulah 'benang merah' yg saya coba tangkap dari renungan sdr. Sdr benar-benar membuat saya 'gelisah.'

Terima kasih dan saya tunggu terus tulisan sdr selanjutnya. Kalau boleh usul, karena 2-3 tulisan terakhir adalah tulisan dgn nafas riligius, tulisan berikutnya bertema kebangsaan. Saya kira akan baik untuk diskursus kami nanti. Sayapun sedang mencari-cari ide untuk menulis.

Selamat hari minggu.

-nk-

Anonim mengatakan...

Bigmike dan semuanya saja,

Sebetulnya, saya agak iri melihat diskusi di antara kalian yg begitu terbuka. Di "tempat" saya, diskusi beginian resikonya jihad. Sebagai contoh, si Ulil dan JIL-nya dikecam dimana2. Komentar dari bigmike sangat membantu memahami konteks diskusi tapi sekiranya hal-hal mengenai etika, estetika dan nawaitu bisa ditarik kehal2 yg lebih umum, saya ingin berpendapat. Saat ini saya cuma mengucapkan selamat berdiskusi (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@Syamsu

Kekristenan juga dulu begitu, ada masa 'gelap'nya dimana diskursus keagamaan dimonopoli oleh gereja.

Tentang ulil dkk lewat jaringan islam liberal-nya, saya mendukung, bahkan website-nya sering saya kunjungi. Tp persoalan ulil mirip dgn 'persoalan' kami disini. Bahwa 'kebenaran' si ulil terlalu 'menyakitkan' sehingga menimbul reaksi negatip. Saya selalu mencurigai hal ini khas Indonesia.

Kalau sdr pernah mengikuti 'american idol' tentu tahu si simon cowell. Walau kata-katanya sangat pedas, untuk ukuran etika dan estetika org amerika, dia sangat disenangi. Apanya? Kejujurannya. Bagaimana dgn kami? Kejujuran ada di nomor 2 atau 3. Tidak yg utama. Dus, 'kejujuran' ulil direspon dgn jihad biadab.

Hal diskursus moralitas, rupanya anda datang 'terlambat' ke blog ini. Bbrp waktu lalu saya dan wilmana berdebat panas ttg moralitas. Semoga diwaktu yg akan datang, topik ini akan muncul lagi. Tunggu saja 'tanggal' mainnya. Sayapun sangat ingin 'berdebat' dgn anda dgn lebih elegan tdk spt diwaktu lalu.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@syamsu

Mari kita tarik hal moralitas yg mana etika dan estetika masuk didalamnya, ke hal yg lebih umum sesuai keinginan anda. Menurut anda, apalah moralitas dpt di-legislasi? Ini ada kaitannya dgn gaya Indonesia yg gemar melegislasi moralitas.

salam - nk

Anonim mengatakan...

ha ha ha bigmike FREN sudah resmi dinyatakan menang oleh KPUD siang ini. Saya terinspirasi dari tulisan Wilmana. Sekiranya mereka berbelok arah menyakiti rakyat, apa bentuk pertanggungjawaban moral dan etika dari bigmike yg sudah berjuang untuk FREN. Beranikah menegur mereka dengan keras? atau diam-diam setelah mendapat imbal jasa (John, Oemasi)

Bigmike mengatakan...

Untuk bung John

Untuk menjalankan amanah permintaan ayahanda almarhum, tidak ada 1 peserpun saya menerima imbalan. Semua saya kerjakan dengan sukacita sekalian belajar bagimana "bertempur" dalam politik yg nyata. Dunia yg "asing" bagi saya selama ini (mungkin pelajaran inilhah yg saya dapatkan sebagai imbalan).

Selanjutya, setelah amanah dilaksanakan maka saya tahu persis tempat saya di kampus dan di sana saya akan kembali melayarkan perahu kehidupan saya. Akan tetapi, mata saya tidak akan lepas dari apa yg akan terjadi selama 5 tahun ke depan. Ketika "suara perlu dilantangkan", saya akan melakukan itu dengan sukacita, sebagaimana saya mengerjakan perjuangan saya sekarang ini. Lihatlah motto blog ini: the old tree still standing

Anonim mengatakan...

saya tertarik dengan apa yang dikatakan BM yaitu "ternyata mengikuti Yesus merupakan petualangan yang sulit dan menegangkan". sadarkah kita kalau hidup dalam dunia juga merupakan suatu tantangan tersendiri?? kalau anda berani untuk hidup suadh seharusnya anda juga harus berani mengikuti Yesus.

memang betul jika kita mau mengikuti Yesus kita tidak pernah dijanjikan hidup yang enak. mengutip kata tokoh idola saya "Ongkang-ongkang kaki sa". tapi bukankah ada janji yang indah kalau anda mau ikut Yesus, menyangkal diri, mau pikul "salib" anda akan mendapat tempat yang indah yaitu duduk bersama-sama Tuhan di surga??

tapi apakah dengan kitong su tau ada janji yang begitu indah terus akankah kita mau selama hidup mau ikut Yesus??

salam damai,

(nrk)

Anonim mengatakan...

Bigmike, meski muslim aq menikmati diskusi ini dan yang paling menarik adalah: komentar bigmike. I love u honey //Pritha//

Anonim mengatakan...

@Syamtua,

Trims atas kebijaksanaannya. Ini baru orgtua saya....

Ttg ikut diskursus di sini, menurut sy tetap terbuka. Hanya mmg ada risikonya jk ada kaum fundamentalis mbaca komentar orgtua trus mereka naek tensi.

Sy kira bigmike welcome jk @Sam mau kut nimbrung. Sy sendiri berpartisipasi dlm bbrp forum interfaith duscussion. Pengalaman sy, problem terbesar adalah malasah perspektif dlm menilai. Mjd kebiasaan spontanitas kita utk menilai sesuatu dr sudut pandang kita, dg ukuran2 sendiri. Apalagi jk kita berhadapan dg pr penganut "truth claim doctrine". Dlm kristen perilaku tercela spt ini dikenal dg istilah: "menghakimi".

Krn itu sy hargai kptsn bijaksana @Sam utk tdk nimbrung di sini.

@nk
Trims atas saran nulis di luar aspek religi. Sy punya stok artikel "Negara Kalah" yg idenya sy ambil dr pidato SBY merespon kasus insiden monas. Tp musti sy edit sedikit, kl mau dimuat di sini.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Ha ha ha, luar biasa... 'syamsu' sekarang menjadi 'syamtua.' Wilmana, kalau sebelumnya sdr membuat saya 'gelisah' dgn renungan, sekarang saya menjadi teramat 'sakit perut' membaca panggilan 'syamtua.' Ha ha ha.

Oh ya, dimana syamtua ya? Katanya mau diskusi ttg etika estetika. Apa syamtua telah menjadi 'chicken' (baca: penakut)? Kalau sdr belum mampu menjawab pertanyaan saya dalam komentar sy sebelumnya, silahkan sampaikan opini anda ttg etika estetika. Apa saja! Monggo.

Wooooooooi syamtua... dimanakah sdr?

-nk-

Anonim mengatakan...

@wilmana

oke, saya tunggu tulisan 'negara kalah.' semoga syamtua mau ikutan kasih opini. sptnya dia suka topik-topik bertema kebangsaan spt itu.

Thanks.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

-wilmana-

apakah dengan "gambar" Yesus menurut versi anda. masih maukah anda sendiri untuk mengikuti Dia??? apakah anda juga salah satu yang juga fasten your seatbelt untuk mengarungi petualangan hidup bersama Yesus??

salam damai,

(nrk)

Anonim mengatakan...

woi nrk, capek deh!

Anonim mengatakan...

He he he... nrk br abis dr lapo tuak nginu eiloko bikin mawo... (Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

ha ha ha, sungguh 'diplomatis' jawaban sdr.

@nrk

semoga sdr tdk sedekar mengartikan jawaban wilmana secara hurufiah. Go deep my man! Look beyond words.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

-wilmana-

bukan nginu eiloko tapi cuma "tolakan" sediki sa. He..he

bukan begitu bos beta pung maksud beta cuma mau tanya sa kan dalam tulisan ada "Yesus adalah contoh sejati dari kata istilah-Nya sendiri, ‘batu sandungan", Yesus juga terkenal tidak mengenal tata krama, jika anda berminat mengikut Yesus, berarti anda sedang membawa seluruh hidup anda dalam masalah, dll. tapi bos sonde kasitau sikap bos itu sendiri menerimakah atau menolak??? makanya beta tanya itu.

karena bos cuma kasi pandangan sa tanpa kasitau sikap.

Anonim mengatakan...

@wilmana

enggak usah dijawab. kata sdr, nrk ini sudah mau s2 di jogjakarta. biarlah dia 'bergumul' mencari jawabnya sendiri. beta 'protes' kalau sdr menjawab panjang lebar.

-nk-

Anonim mengatakan...

-nk-

waduh kalo sonde dijawab oleh wilmana na beta pi cari jawaban di tempat orang jual "tolakan" sa. biasanya kan setelah kena 'tolakan' sediki orang su bisa hebat baomong. he..he

(nrk)

Anonim mengatakan...

-nk-

sori o ma beta sonde tanya nk. beta tanya wilmana. kalopun wilmana sonde jawab yah terserah wilmana, bukan terserah bos nk (beta su kena 'tolakan sadiki ne makanya agak berani malawan). he..he

(nrk)

Anonim mengatakan...

Coba Ama renungkan bhw gara2 tulisan ini, ada @Andreas memberi komentar di tempat laen seolah-olah sy ini tergolong "menghina Tuhan". Persis Yesus dituduh oleh Ahli Torat dan Farisi menghina Allah gara2 ngaku diri sbg anak-Allah. Ada jg Petti yg berkomentar bhw cara sy ini tdk bijaksana bg Jemaat awam.

Kira2, mnrt Ama, posisi sy saat ini sdg fasten the seatbelt, ato lg ngapain?

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

-wilmana-

kalo saya sih berpikir bos ne kalo orang kristen artinya (seharusnya) ada dalam posisi "fasten the seatbelt". tapi jadi membingungkan ketika bos sonde menyatakan sikap ada di "pihak mana". harusnya (menrut beta) bos singkat sa bilang dengan pandangan yang telah bos berikan, bos tinggal bilang yah sekarang dalam posisi........ gitu aja kok repot.

karena sonde semua orang dalam blog in begitu anda mengenal sifat dan mau anda sperti "rival" anda bos nk. nk bisa dengan gampang bilang beta pung komentar "cape deh" tapi beta pung maksud sebenarnya wilmana harusnya memberikan penjelasan wilmana ada di posisi mana. liat ada yang su salah paham kan seperti andreas dan petti.

-nk-

kayaknya 'tolakan' su betul-betul "menguasai' beta makanya su lancar baomong begini. he..he

(nrk)

Anonim mengatakan...

@wilama

Very wise indeed.


@nrk

Agar tdk meleset menjelaskan, perkenanka saya untuk 'berbahasa roh' dgn sdr.

lu ni, untuk hal yg bagini sa ju lu tanya. itu tulisan sapa yg buat? wilmana sandiri ato dia kutip org pung pendapat? kalau itu wilmana pung tulisan, karmana ko lu pake tanya lai wilmana pung posisi dimana. ato jang2an, penulisnya su jadi abdul wilmana? khan cuman wilmana saaa, son pake embel2 lain. na ko be nasehat sa, lu su mau pi ame s2, kalu bisa sebelum omong, na pikir sadiki. jang ke bm bilang, 'mulu ju jao maju, ma akal masi ada dibalakang.' na ko lu bilang org lain bisa sala paham, son apa-apa to. yg penting lu mangarti jadi lu bisa pi kas jalas jangan jadi tamba bingung iko dong.

Begitu saja sdr nrk. Walau kita tidak saling 'kenal,' saya sangat senang dgn sdr. Saya tahu sdr org baik dan untuk itu saya titipkan saran diatas. Semoga berkenan. Mohon maaf sebelumnya.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

-nk-

ha..ha

saya terima bahasa rohnya dengan mengucapkan terimakasih.

(nrk)

Anonim mengatakan...

@nrk

Tertawanya jgn keras-keras ya, nanti si andreas marah dikiranya sdr sedang menghina Tuhan.

:)

-nk-

Anonim mengatakan...

-nk-

kalo sahabat andreas marah saya tinggal bilang sori yah, saya cuma membalas bahasa roh bos nk.
he..he

(nrk)

Anonim mengatakan...

@nk

Kalau andreas marah, saya cuman bilang, 'capek deh!' ha ha ha.

Oke salamat, disini sudah malam, saya harus offline, cuci kaki, sikat gigi dan tidur.

Salam hangat (disini dingin mau mati eee, 8C) selalu.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

yth, pemilik blog ini..
pencatutan nama adalah perbuatan tidak senonoh dan dapat dikenakan sanksi berdasarkan undang-undang berupa pelemparan dengan lontong dari berbagai ukuran..wekekekekkkk..