Selasa, 24 Juni 2008

Diposting Tanpa Nama (DTN) tapi langsung bilang : INDONESIAL-an (kok brani-braninya)

Sahabat blogger yang saya hormati,

Berikut ini adalah seseorang yang tidak mau disebutkan namanya secara jelas, tetapi meminta agar fotonya dimasukkan secara jelas. Oleh karena itu, untuk memudahkan kita, maka saya sebutkan saja namanya sebagai DTN. Silakan anda membuat kepanjangannya tetapi saya memilih yang satu ini: Diposting Tanpa Nama. Ada yang mencoba memanjangkannya menjadi : Datang Tanpa di miNta pulang tak di antar? hi hi hi .....

Apapun, kedatangan DTN dengan draft artikelnya, lagi-lagi telah menolong saya karena rasa-rasanya sampai akhir minggu nanti saya masih harus sangat sibuk tagal urusan "mencari makan". Kesibukan yang membuat saya agak susah membuat suatu artikel lengkap. Mohon dimaafkan atas kesibukan saya tetapi jangan kuatir, setiap tulisan yang saya posting adalah tulisan yang sudah saya sesuaikan dengan "standard mutu" yang saya tetapkan. Apa itu? Ah, yang ini saya rahasiakan saja karena memang agak subyektif. Tetapi siapakah yang tidak subyektif sekarang ini, di jaman ini? Subyektifitas yang saya maksudkan bahkan akan anda lihat secara gamblang dalam posting kali ini. Ada banyak terminologi yang khas milik DTN dan rasanya menarik untuk kita diskusikan bersama. Akhrinya, setelah melewati proses editing seperlunya tanpa mengusik substansi tulisan, saya memposting juga artikel saudara DTN . Selamat membaca dan berdiskusi.

INDONESIALan DEDI DORES

Semenjak Indonesia merdeka dengan impian mewujudkan INDONESIA jaya yang sejahtera adil dan makmur menjadi impian yang luhur dan mulia. Pada awal kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah Negeri yang masih miskin (materi), rendah pendidikan, dan tradisi otoriter namun tidak miskin kepribadian dan akhlak moral yang masih baik. Semua ini banyak bergantung kepada sosok kepemimpinan Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa kelompok-kelompok pemimpin berturut-turut gagal dalam memenuhi harapan-harapan masyarakat Indonesia. Semenjak tahun 1950 hingga hari ini upaya menciptakan pendemokrasian, keadilan dan kesejahteraan rakyat banyak sekali menemui hambatan yang berujung pada kegagalan oleh karena hal-hal seperti korupsi tersebar luas, primordialisme suku, agama dan etnik sebagai wujud penegasan diri, masalah ekonomi social budaya dan hukum yang rapuh dan lemah yang berujung pada longgarnya kesatuan Negara ini. Hal ini sejalan dengan faktor manusia Indonesia sendiri dengan masalah degradasi mental dan moral anak bangsa yahh kalo menurut istilah BIGMIKE mungkin bisa menjadi ANAK BANGSAT he he he he

Soekarno selama 20 tahun berupaya untuk menanamkan National Building yang memang diakui cukup berhasil namun apakah proses pembentukan Indonesia dapat dikatakan selesai? Ternyata belum, Soekarno sebagai The Nation Builder belum berhasil menjadikan Indonesia, dimana pada ujung pemerintahannya ia dikelilingi oleh orang-orang culas (istilah sodara wilmana) yang akhirnya membuat bangsa ini bergolak dan lengserlah beliau. Selama 32 tahun berikutnya adalah masa stabilitas oleh Soeharto dengan upaya mendahulukan stabilitas POLEKSOSBUDKAM-nya. Segala bentuk perbedaan diredam dengan kekuatan militer dan pemaksaan. Pertanyaannya, Jadikah Indonesia? Ternyata jawabannya juga masih sama yaitu belum berhasil. Kondisi stabil yang nampak itu ternyata semu bahkan telah membentuk, menumbuhkan dan membangkitkan benih-benih dendam, diskriminasi, ketidakadilan, kecurigaan, kesewenangan, KKN semakin merajalela, hutang pemerintah dan swasta yang tak terhitung, ketidakpercaayaan serta ketidakkesepahaman yang berujung pada rapuhnya Nasionalisme, hilangnya kepercayaan kepada pemerintahan dan penegakkan hukum dan perpecahan/disintegrasi bangsa. Kondisi ini sudah seperti bisul yang membengkak dan siap pecah!!!! Pecahnya bisul itu menandai Indonesia masuk kedalam era reformasi. Era reformasi ini bertujuan mereformasi apa yang gagal dilakukan oleh era ORLA dan ORBA untuk kembali kepada impian semula dengan tekad menjadikan Indonesia baru. Bisul yang pecah ini memunculkan efek yang luar biasa hebatnya. Pada masa ini wibawa, integritas dan kepercayaan terhadap Pemerintahan telah hancur, hancurnya nasionalisme dan hancurnya bingkai persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Hal yang paling menyedihkan adalah hancurnya kepribadian dan akhlak anak bangsa ( Kalo sudah hancur ya pasti jadi anak bangsat, ya toh ???).

Hal terakhir tergambar jelas dalam situasi terakhir yang terjadi di Indonesia. Konflik fisik/nonfisik dan kekerasan fisik/non fisik terjadi dimana-mana, yang dimulai dari Rumah tangga hingga para selebriti dan pejabat dan pemimpin bangsa ini. Dari sini dapat kita lihat dan kita mulai melihat tanda-tanda kegagalan dari era reformasi dalam menjadikan Indonesia. Bisa-bisa, pada era inilah Bangsa dan Negara Indonesia berubah nama menjadi Indonesial. Hal ini barangkali bisa terjadi karena jelas tanda-tanda di atas yang tiada kunjung terselesaikan oleh pemimpin bangsa semenjak masa reformasi yang akhirnya memicu terjadi hal yang akan turut membuat kegagalan itu terwujud yaitu ras pesimisme oleh seluruh masyarakat Indonesia. Rasa pesimisme itu terus menghantui di setiap aspek kehidupan masyarakatnya. Kenyataan dari sikap peimisme ini meliputi 2 persoalan besar dibidang Politik, ekonomi dan hukum di negeri ini yang akan memicu kekhawatiran yaitu tentang potensi/akibat konflik dan kekerasan yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Persoalan ini masih belum mampu dijawab oleh bangsa ini. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya yaitu segala persoalan yang timbul dan ditimbulkan dalam penanganan dan penyelesaiannya sangat bergantung dari seorang pemimpin. Tetapi dalam perkembangannya persoalan ini bukan saja bergantung pada pemimpin/pemerintah tetapi juga oleh masyarakat itu sendiri. Kita ingat pepatah tua berpesan demikian, Guru kencing berdiri Murid kencing berlari. Kira-kira sama tuh yang terjadi dengan bangsa ini. Pemerintah dalam hal ini meliputi Eksekutif dan legislative berisikan manusia-manusia bermental payah dan berakhlak buruk alias POEK , Culas, individualisme, ragu-ragu dan he he DOLAH SALEH, licikus munafikus dan akalus bulukus dll ( Sodara WILMANA pasti TAU itu) sehingga jauh dari kesan bersih dan berwibawa. Yang menurut sodara wilmana dikatakan bahwa bangsa ini telah diurus dan dibentuk oleh orang-orang culas dan berburuk prasangka. Nah hal ini juga berimbas dan telah menularkan kepada kehidupan dan perilaku masyarakat Indonesia. Akibatnya bagaimana bangsa ini bisa bangkit dan bangun untuk menjadi bangsa yang Bisa???

Pemerintah juga bak penjual obat kuwat di pinggir jalan yang dengan lantang dan terus meneriakan kehebatan barangnya dengan slogan yang RACOOOON DUNIA. Di sisi lain masyarakat kita berprilaku seperti penonton yang menyaksikan para penjual obat tadi, diam termangu kadang terpukau tetapi setelah seleai menyaksikan tiada yang mampu/berminat untuk membeli dan mencobanya apalagi mengingat apa yang diserukan tadi. Masyarakat akan berlalu dan segera melupakan obralan dan atraksi si penjual obat tadi. Ketika pulang ke rumah orang akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing, pusing dengan keadaan rumah tangganya, ruwet dengan biaya hidup, masalah pendidikan dan pekerjaan dan ahhhh lagi-lagi BBM naik lagi ….. adooohhh jadi lupa sama tukang jual obat. Kondisi ini nyaris sama yang dilantunkan oleh si diva dangdut “ jatuh bangun dan jatuh lagi Indonesiaku “……..

Bagaimana, apa Indonesia bisa, Indonesia bisa Bangkit???

Mudah-mudahan slogan ini mau di lakukan secara sungguh-sungguh, dengan tekad, kerja keras, komitmen, berhati kasih, jujur dan adil oleh Pemerintah dan seluruh masyarakat. Atau sama seperti nasib si penjual obat dan masyarakat penonton tadi yang pada akhirnya sama dengan apa yang diistilahkan oleh seorang bos di Universitas PGRI NTT di Kupang, yaitu ACD alias “Aduh Capek Deh “ dan slogan itu juga harus di DEDI DORES alias “Dengan Diiringi Doa Restu “ agar semuanya bisa terwujud.

Ciao ……

DTN

56 komentar:

Anonim mengatakan...

Selamat saya uncapkan untuk sdr 'dtn' telah berhasil 'menetas'kan 'telur' tulisan disini. Saya belum bisa kasih komentar karena harus pergi 'cari makan.'

Tp dlm tulisan, saya sepintas membaca nama 'wilmana' disebut-sebut. Saya agak kuatir ttg hal ini. Hati-hati, sdr sedang 'membangunkan 'macam' ngorok, hi hi hi.

Ok, sekali lagi salamat.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Posting yang BURUK. Grammar yg AMAT BURUK. Niat menulis yg AMAT SANGAT BURUK. Masa' warga bangsa sendiri disebut sebagai warga bangsat. Keterlaluan. Saya usir kamu dari Indonesia. Dasar PARASIT.
BM segera hapus posting sampah ini.

==Anak NKRI==

Anonim mengatakan...

Alur logikan yg tidak mudah diikuti. Ada kata-kata yg bikin syyeereeeemmm. Bigmike kapan nulis lagi. Gw nunggu nich. Bigmike posting lagi doooooonnnnggggg //Pritha//

Anonim mengatakan...

Wooiii anak nkri, sialan lu (Proxy73)

Anonim mengatakan...

Indonesia memang INDOSIALAN. Para Eksekutif yang katanya Wakil Raykat udah jadi Dewan Pemeras Rakyat (DPR), minta proyek sana-sini, kerja nggak becus, ngurus perut sendiri. Rakyat mau sengsara 'EGP'. Semalam di TVone, seorg anggota dewan dengan bangganya memperlihatkan koleksi pipa penghisap rokoknya sebanyak 60an buah yang semuanya dibeli di luar negeri dengan harga jutaan rupiah perbuah dan kalo di jumlahkan semua koleksinya sekitar ratuan juta rupiah.
Apa dia nggak sadar, ada begitu banyak rakyak yang mau beli beras aja nggak mampu karena udah demikian melarat.....dasar mental...(YR,Jkt)

Anonim mengatakan...

@ DTN,

Anda cuma membuat daftar keluhan. Apa tawaran solusi anda? (Proxy73)

Anonim mengatakan...

Ah, penulis baru (Sulis)

Anonim mengatakan...

Uuupppssss, gotchaaaaaaaa, BeTA TAUUUUUU....yang nama DTN itu "ULI RIWUK KAHO" hhhhaaaaaaaaa.....hhhhaaaaaaaaa itu adik Bigmike kaka luji...hhhaaaaaaaa.....haaaaaaaaaa....kana tangkaaaaapppppp.....wweeeiiii uli beta kawan di SD naikoten ana oepura. Skarang beta di Seatle om sam pung kampong. "cari makan" woooeeeee lu tamba gaga ma be dengar lua anak su dua. Beta masih pili-pili mama deng bapa mau kawin orang sabu ma di sini banya bule cantik hhhhaaaa....haaaaaaa....lu pung bini orang apa? na skarang lu inga-inga beta suda kalo sonde beta kadeluk. Lu dolo suka kadeluk beta pung kapala. Ma kaka luji suka kadeluk balek seng lu ha ha ha haaaaaaaaaa.....Lu dolo nakal mamamti na......SENANG BISA LIAT KAWAN LAMA....(beta son mau kastau nama, biar lu pikiran)

Anonim mengatakan...

yyuuuppppssssssss beta tau itu uli karena beta copy foto bekin besaaaaaarrr....lu sonde bisa tipu betaaaaaa......don'try to cheats me mameeeeennnnnn ha ha ha haaaaaaaa

Anonim mengatakan...

@dtn dan sidang pembaca blog

Pulang mencari 'makan' tekan tombol kompuer berharap sudah ada diskusi menarik diposting yg baru ini. Rupanya hanya ada celaan 'busuk' dan 'protes' halus atas kualitas tulisan dtn. Kali ini saya benar-benar prihatin.

@dtn, terlepas dari cara sdr 'merangkai' kata, saya ucapkan sekali lagi selamat! Sdr harus bangga karena sdr 'berani' menulis disini. Jangan perdulikan 'kritik' org yg saya perhatikan memberi komentar saja 'asal-asalan' apalagi menulis disini. Ada yg katakan alur logika sdr sulit diikuti. Paling tdk sdr punya logika karena bbrp disini tdk punya akal, hanya gemar 'memperlihatkan' perasaan mrk saja, macam anak nkri dkk.

Wussssssssss... lega juga 'curhatan' disini. Sekarang kembali ke 'laptop.'

Soal pilihan kata yg sdr pakai, tentu saja tidak 'sehebat' bm. Tp substansi persoalan yg sdr soroti sama saja dgn posting bm sebelumnya ttg IndoneSIAL itu. Agaknya sdr, saya dan mungkin pula wilmana memang harus belajar bahwa akibat 'kelelahan hidup' masyarakat kita -khususnya anak nkri, andreas- menjadi 'sakit' sehingga memang harus 'halus' dalam menyampaikan pesan. Sudah 'talenta' bm yg walau 'anak bangsa' ia plesetkan menjadi 'anak bangsat' ia tidak di'kecam' sedang sdr yg sekedar mengutip, dikecam. Jangankan sdr, wilmana pun sudah dicap 'penghujat' Tuhan, hi hi. Sedang saya 'kafir.' ha ha.

Lagi-lagi, saya hrs sepakat bahwa persoalan indoneSIAl ada pada 'soft competence'nya. Saya bertanya ke wilmana, kalau dlm teori bisnis, apa solusinya? Dia ber'dola-dali' bahwa 'obat'nya adalah rekrutmen. Mulailah memilih manusia-manusia yg ber-integritas. Perhatikan ini, ini pesan org tua, bukan org tua indonesia, tp para org tua didunia barat:

If you don't have integrity, nothing else matters.

Integrity is the essence of everything successful.


Hanya saja, teori wilmana ini, walau benar, sulit dijalankan. Masih adakah manusia yg berintegritas baik? Tentu! Dimana mereka? Cari mrk di'dunia' kampus. Mengapa mrk 'gemar' disana? Karena disanalah mereka dpt 'melabuhkan' idealisme. Bukan di kantor2 partai, gedung dpr dll yg 'kotor.' Siapa mau t4 'kotor?' Ini soalnya. Mereka yg cerdas, 'bersih' memilih profesi 'aman' sedang yg 'sisa,' yg 'kotor,' yg rakus, yang... silahkan tambah sendiri 'terdampar' di didunia politik.

Jadi soal solusi, saya tawarkan, kembalikan artian 'politik' pada nilai-nilai luhurnya. Mengatur hidup org banyak adalah panggilan mulia. Kalau dunia politik identik dgn 'kekotoran' siapa mau?

Yang teramat rumit dan mungkin sudah nasib jadi sial, ttg integritas itu. Ini dimulai dari kanak-kanak. Yg tua yg hidup sekarang, saya berani berteori, sudah tdk akan bisa diperbaiki. Haaannccuurrrrrrrrrrrrr mina!

Begiut saja. Sekali lagi, saya salut dgn-mu dtn. Keep writting!!!


-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@anak kupang dinegeri 'paman sam' seatle

Wah, wah, kalau dia uli riwu kaho saya kenal. Dia memang anak nakal, hi hi hi. Rupanya sekarang sudah 'insap.'

Oke, salam hangat dan salam kenal. Bagaimana, seatle masih sering hujankah? Salam buat 'om' bush disana!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ All,

Sy setuju dengan pendapat rekan2 yg disimpulkan oleh Mas Sulis sbg Penulis baru. Tp marilah kita hargai putusan bigmike utk jg mjdkan blog-nya ini sbg media pembelajaran bg para Penulis baru. Sy sendiripun tak malu mengaku sbg Penulis baru.

Sy pribadi mencoba mencari moralitas DTN dg tulisannya ini. Rupanya ada pada akronim Dedi Dores alias DEngan DIiringi DOa REStu. Ini hal positif yg patut dihargai. Krn terkadang, kampanye, slogan, dan keputusan pemerintah keburu disikapi scr apriori, tnp lbh dulu menyimak apa moralitas keputusan tsb.

Selamat buat DTN. Asal anda tdk menerima kritikan dr rekan2 di sini sbg suatu btk ancaman dan penghinaan, mk Ama akan mendapatkan byk ilmu baru utk mjd Penulis handal di kemudian hari.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@nk

Rupanya Ama mulai bukan forum lagi.

Pertama, Ama yg tdk pernah kuliah di Indonesia rupanya tdk update data bhw kampus indonesia tdk semanis yg Ama sebutkan. Dulu, mungkin iya... Tp sekarang? Sy kasi satu contoh menarik, Rokhmin Dahuri yg jd terpidana kasus korupsi berjemaah di Dep Kelautan bbrp wkt lalu, Ama kenal siapa dia? Beliau adalah org kampus. Ato satu lagi, cb Ama cek bigmike, knp beliau lepas jabatan Pembantu Rektor 1 si Univ PGRI, Kupang?

Sy cuma mo bilang bhw kampus di indonesia saat ini tdk lbh dr kolam kotor jg, Pak.

Krn itulah mk sy mengajukan metode rekrutmen yg sistematis, obyektif, dan bebas nilai utk memperolah org2 yg berintegritas. Tdk ada kolam yg bersih, tp ikan Mas memang msh ada di kolam yg butek. Krn itu yg kita butuh adalah jala yg baik u menyaring ikan2 Mas itu.

Krn itu, menolak menggunakan jala yg baik, tp ngusul cari kolam bersih (kampus), mnrt sy yaa repot.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Saya bisa menangkan maksud Proxy73.

posting tentang Indonesia gagal (indoensial) telah menghasilkan 115 komentar. Suatu jumlah komentar yg dahsyat. Ada yg pakai otak ada yg sekedar adu ngotot. BM sendiri bahkan mempotretnya dalam bentuk "parodi" ayam nyebrang dan disebutnya sebagai negara kalah dengan mengutip SBY. Jadi, mengapa posting baru tidak coba memulai sesuatu yg bersifat konklusif? Kurang lebih begitu (Estherlies, Srby)

Anonim mengatakan...

@Proxy dan @Esther

Sy setuju dg anda berdua. Tp bukan berarti DTN tdk punya solusi apa-apa, lho. Solusi @DTN spt yg dia sebutkan, DEDI DORES. Jadi drpd membangun apriori, mendingan dukung sj program pemerintah, plg tidak mendukung dlm doa.

Solusi sederhana tp jg sangat aplikatif. Kecuali bg yg ga bisa berdoa sama sekali.

Anonim mengatakan...

@ NK

Setelah melihat kembali posting BM tentang Indonesial dan penjelasan ttg parameter-nya saya kok nggk menemukan bahwa BM mengatakan 'anak bangsat". Saya kira DTN hanya meminjam "cara" BM ketika mengabungkan Indonesia + gagal = indonesial. Tapi dalam kasus DTN, anak bangsat itu datangnya dari mana? Mungkin itu yg menjadi "kedongkolan" anak NKRI. Maklumlah "kelakuan" anak NKRI memang begitu (Larry)

Anonim mengatakan...

Eh yg di atas itu dr sy, Wilmana.

Anonim mengatakan...

@Bung Larry

Saya harus minta maaf karena sudah 'merepotkan' bung -mungkin juga yg lain- 'membuka' kembali posting lama bm. Mungkin saya yg kurang 'teliti' membaca kalimat dtn. Tp maksud substantif saya adalah talenta bm yg mampu merangkai kata sedemikian sehingga topik apa saja yg disampaikan dpt diterima sewajarnya. Pujian @syamtua adalah bm spt 'silet.' Kita sudah 'berdarah' baru terasa.

Dus, saya ralat, dtn mungkin sekedar meminjam 'cara' bm dalam 'guyonan'nya.

Eniwe, 'this is where i am coming from' bahwa sebagai 'penulis baru' yg 'nekat' memberi tulisan untuk blog ini - penulis tamu pertama lho- saya di'kritik' habis-habisan oleh wilmana. Itu wajar. Tp celaan gaya 'anak nkri' sangat tdk pantas. Sebagai sesama penulis tamu disini saya 'solider' dgn dtn.

Kami disini tidak ingin menggantikan @bm karena memang dia tidak 'tergantikan.' Dia unik. Dia ya dia, satu-satunya didunia ini. Tp, berilah kami 'ruang' untuk belajar mengekspresikan diri disini tanpa komentar spt kami ini 'angin lalu' saja. Bersabarlah, kalau @bm punya waktu luang, dia pasti menulis lagi.


@wilmana

Ha ha ha, sptnya kita berdua lagi yg harus melanjutkan 'obrolan' disini. dtn rupanya bermental 'tempe' sehingga tahu tulisannya di'hojat' dia sudah lari bersembunyi dibawah meja. Semoga saya keliru. dtn, maaf ooo.

Hal 'dola-dali' sdr, saya teramat suka ini:

Tdk ada kolam yg bersih, tp ikan Mas memang msh ada di kolam yg butek. Krn itu yg kita butuh adalah jala yg baik u menyaring ikan2 Mas itu.

Okelah, 'kolam' kampus sekarangpun sudah butek, sebuah realita yg saya tdk jeli pantau.

Membaca analogi 'ikan mas' diatas, saya menangkap 'api harapan' Indonesia bangkit masih berkobar-kobar dihati sdr. Tp saya ingin memberi 'reality check' kpd sdr agar sdr tdk terlalu kecewa nanti, 'not all dreams come true.'

Mari kita mulai:

Dalam konteks ke-IndoneSIAL-an, analogi 'ikan mas' teramat di'paksakan' sedekar 'menopang' harapan sdr, Indonesia bisa bangkit. Lho kok? Manusia bukan ikan mas! Dan sdr sendiri telah memberi contoh. 'Ikan mas @bm' ketika berada di'kolam pgri' yg butek akhirnya 'mati' juga. Rokhmin Dahuri, 'ikan mas kampus' yg masuk kedalam kolam politik 'mati' juga. Artinya apa? Artinya ketika 'kolam Indonesia' sudah menjadi 'kolam sial' maka 'ikan mas' didalamnya mati juga. Lalu, dikolam mana sdr ingin menebar 'jala?' Apa sdr ingin coba 'kolam undana?'

Begitu saja dulu.


-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@Proxy + Estherlies, Srby

Tulisan dtn sudah cukup 'konklusif' bahwa Indonesia masih berstatus sial dan sejauh ini belum ada tanda-tanda perubahan total kearah yg lebih baik. Jadi betul, mari kita 'dedi dores' aja spt ajakan dtn.

-nk-

Anonim mengatakan...

dedi dores sih bisa saja tapi apa tindakan nyata apa yang harus kita lakukan untuk Indonesial...... eh untuk menenangkan anak NKRI ijinkan saya merenung 5 menit saja untuk mendapatkan padanan kata yang cocok untuk indonesia saat ini.

(merenung)

(setelah selesai merenung)

maaf anak NKRI saya tidak mendapat kata yang cocok dengan indonesia selain indonesial. maaf yah. he..he

tapi saya ingin bilang saya juga tidak dapat menemukan cara lain untuk berbuat sesuatu untuk indonesia saat ini selain "dedi dores". karena saya lebih disibukkan dengan urusan "cari makan" yang lebih menyita perhatian daripada harus memikirkan harus berbuat apa.

(nrk)

Anonim mengatakan...

ha ha ha Dedi Dores aslinya adalah penipu, pemabuk, tukang kawin dan akhirnya dipenjara 2 kali. Apa mau begitu? hi hi hi hi

Ah, DTN sudah bikin saya kena "teguran" karena telah membuka identitasnya, termasuk DTN juga menegur saya padahal: DTN sendiri yg minta begitu...dasar uli - ular licik ha ha ha ha ha. Lain kali saya pasang gambar 1/2 DTN 1/2 biawak ha ha ha ha ha.....(Bigmike)

Anonim mengatakan...

Oh no, bigmike jangan pasang gambar 1/2 DTN 1/2 biawak sebab nanti sahabat syam dan nk berantem lagi he he he. Saya coba baca baik-baik posting ini, memang kesan "pendatang baru" masih kuat tetapi tidak separah yg dikatakan anak NKRI. Agak berlebihan lah saya bilang. Supaya adil, bagaimana kalau anak NKRI mengirimkan artikel dan BM memuatnya. Akan kita lihat seperti apa "wujud"nya. Setuju nggak? (Sherly, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Ha ha, Jika ini adalah posting pertama, saya kiran sudah memadai tapi cobalah DTN mencari warna tersendiri. Be your self, man. Nggak usah ngikutin gaya BM. Anda saya kira normal sedangkan BM adalah "dewa mabuk" ha ha ha (Widyanto, Jogja)

Anonim mengatakan...

wah saya mengucapkan anyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membaca dan memberikan pendapatnya baik yang positif maupun yang setengah positif (biasa masih ragu2 dalam menyampaikan sikapnya) dan tentu juga bagi saudara anak nkri juga menyampaikan terimakasih disertai juga dengan doa baginya semoga Tuhan mengampuninya sebab anak nkri tidak tahu apa yang sedang diperbuatnya....
dalam tulisan perdana ini emng memiliki kekurangan. bagi proxy73 saya kira sodara jg sbg pembaca pemula karena jelas dalam tulisan ini tidak semata hnya berisi keluhan semata tp juga ini sebuah kenyataan yang harus kita bicarakan bersama. selama ini kegagalan yang terjadi karena kita sebagai bangsa sulit untuk mau mengakui dan mengkoreksi diri secara terbuka sehingga apa yang salah tidak pernah kita ubah dan menjadikan dasar sebuah perubahan demi perbaikan diri. jelas juga ada solusi meski bisa kita bahas lebih lanjut dalam tulisan berikut tapi lewat tulisan ini jelas terlihat pada alinea terakhir yakni "lakukan secara sungguh-sungguh, dengan tekad, kerja keras, komitmen, berhati kasih, jujur dan adil oleh Pemerintah dan seluruh masyarakat"
ok, saya masih ingin menunggu komentar dan masukan sodara2 semua... ini menjadi pemicu semangat saya dalam menulis
ciaoooo.... DTN

Anonim mengatakan...

wow, saudara DTN. Saya kehabisan napas membaca komentar balik dari anda. Kalimatnya kepanjangan. Belajarlah membuat kalimat efektif supaya enak dibaca. Contohlah Bigmike. Tulsannya enak dibaca. OK?!. Selamat datang di dunia tulis-menulis (Erick, Jkt)

Anonim mengatakan...

@nk

Pertama, jgn belagak literalis yg ga ngerti ikan Mas itu analogi bg org2 spt bigmike di bumi nusantara ini. Kl ama menganggap ikan Mas sdh mati semua di kolam nusantara yg butek ini, sm sj Ama cap bigmike jg tergolong manusia busuk. Apa iya...

So, jgn pesimistiklah... Org2 spt bigmike yg sy analogikan sbg ikan Mas, toh faktanya msh bs kita temukan di Indonesia. Mengapa mrk seolah-olah "tak terpakai"? Krn mekanisme rekrutmen calon Pemimpin bangsa msh tegolong purba. Sdkt lbh baik dr era suharto yg ukurannya senyum suharto, tp jg blom sesuai harapan krn msh mengandalkan kolusi, nepotisne, primordialisme, dan sejenisnya.

Yg masih sy amati dg serius adalah, apakah kptsn Ama utk jd org australia mrpkn manifestasi dr rasa frustrasi dan pesimistik dg kondisi Indonesia? Moga2 sy keliru dan itu artinya, Ama jg diam2 msh menyimpan asa bg Indonesia Jaya...

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Rupanya 'kotak pandora' sudah terbuka. Baiklan, mari kita teruskan obralan kami disini.

Tentang analogi ikan mas, saya tentu tahu masih ada 'ikan mas' misalkan @bm walau ia ada dalam 'kolam' yg tdk bersih-bersih amat. Hanya saja, bm telah memilih melebarkan perahu layar hidupnya dalam dunia kampus. Mengapa ia tdk 'terjun' kedalam dunia politik yg 'butek?' Saya tidak bisa membaca pikirannya, tp kalau boleh berandai-andai, mungkin dia merasa lebih 'aman' disana ketimbang di 'kolam' politik.

Hal masih adakah asa saya thd 'kebangkitan' indonesia, YOU BET. Hanya saja saya belum 'convinced' dengan program 'change' yg didengungkan pemerintah. Masih simbolis, masih sekedar slogan.

Terakhir, kembali soal ikan mas, bermoralkah pilihan 'ikan mas' spt @bm yg memilih profesi 'aman' saat ia tahu kolam 'politik' membutuhkan 'ikan2 mas' yg bersih, yang cerdas, yg 'capable' demi perubahan?

Pertanyaan diatas saya khususkan untuk sahabat @SYAMTUA a.k.a. SYAMSUDIN yg pernah katakan ingin beropini ttg moralitas. Saya tunggu.

Salam 'ikan mas'

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@nk

Rasanya keinginan sy utk mendapat pengakuan soal asa akan Indonesial mjd Indonesia Jaya sdh terpenuhi. Tks.

Yg menarik adalah isu moralitas. Pertanyaan anda itu mengingatkan sy pd tantangan @Syamtua utk lbh dalam mengenai moralitas di luar ranah religi. Sy jadi bertanya-tanya @Syamtua yg doyan maen tuduh itu, moralitasnya bagaimana, yaa? Jgn2 beliau msh rancu dg defenisi moralitas.

Tp soal moralitas bigmike dlm keputusan jd guru dan bukan jd politisi, rasanya mmg msh gamang. Pengakuan beliau di sini menunjukkan fakta yg memprihatinkan, yaitu mjd guru krn manut pd "perintah" ayahanda. Mjd tim sukses Fren, jg krn ikut maunya sang ayah. Di lain pihak, intensitas goyahnya bigmike krn kepergian sang ayah, mbuat sy membayangkan, wah rupanya sang robot BM lg limbung kehilangan operatornya. Moralitas robot dlm berkeputusan spt ini mmg spt Ama bilang, bikin "aman". Tp mnrt sy ini tergolong cth yg kurang baik, dr segi kemandirian.

Tp mnrt sy mempertanyakan moralitas bigmike pd saya, lbh tepat disebut salah sasaran. Krn itu, sy penasaran entah bgmn bigmike menjawab pertanyaan Ama itu.

So, mari kita berdua menunggu apa respon Syamtua maupun bigmike atas tantangan Ama di atas.

(Wilmana)

Bigmike mengatakan...

Ha ha ha NK dan Wilmana, percakapan anda berdua menarik bahkan suvei kecil-kecilan saya terhadap beberapa pembaca yg bisa saya jangkau menunjukkan bahwa alasan no. 2 mereka berkunjung ke blog adalah "menanti" percakapan di antara anda berdua. Seharusnya, jika ini blog komersial, anda berdua wajib menerima fee tapi harap maklum, blog ini cuma "iseng-iseng yg cerdas dan gratis" ha ha ha ha ha

Soal penilaian terhadap saya, wah setiap org punya subyektifitas, dan saya juga punya subyektifitas. Mempertengkarkan keyakinan? Wah, sudah lama saya tinggalkan metode itu. Hanya saja kalau saya boleh memberikan nilai terhadap "hasil penilaian" anda terhadap pilihan-pilihan etis saya maka saya mau memberikan skor ....ah tidak jadi sajalah hi hi hi hi. Pokoknya, Jerman menag 3-2 atas Turki ha ha ha ha. Selamat melanjutkan diskusi dan info saja buat anda berdua, malam nanti saya akan memposting artikel dari Wilmana. Skarang saya mau tidur dulu karena demam belum beres benar....

Anonim mengatakan...

@bigmike

Ha ha ha... Sesama penggemar Jerman mari kita bersukariaaa.. Krn ini hari bahagiaaa... Kita berkumpul jd satuuu... dst (lg skola minggu)... Sy jd ingat ada famili, Okto M. Bire, pernah nangiiss sampe ingusann gara2 Argentina menyerah thd Jerman pd piala dunia 90...

Ha ha kedua, rupanya otak rote (maaf to'o/ti'i dong) bigmike msh bekerja... Mo kasi skor nol, tdk mungkin.. Mo kasi lbh dr nol, artinya plg tidak ada sedikit nilai kebenaran moralitas robot itu... So, mendingan abstain memang...

Kalo @nk, pasti umpan lgsg dimakan mentah2... Mmg bigmike beda dg @nk... Ha ha ha... Maaf, buat sy lucu sih...

(Wilmana)

jiwamusik mengatakan...

Dr td pagi sy dah pengin nginternet aja, pdhl jarang banget siang2 kayak gini. Pasalnya td trima SMS dr sobat yg mempertanyakan apakah sy yg posting di blog ini. Surprise, ternyata ada sobat sy yg pernah nyampe blog ini (Oops! musti rada ati2 nih).

Baca tulisan DTN, semestinya sobat sy itu udah yakin kl mustahil itu tulisan sy. Mana mungkin lah sy bisa nulis sekeren gitu, lha saya bisanya cuman kopi-paste plus nyontek sana-sini aja kok.

Seharusnya sobat sy itu baca postingan n komentar2 sblnya sbl mendakwa. Misalnya Pak Wilmana pernah mengumumkan bhw saya ndak tau apa2, taunya musik doang. Kalo hal yg pertama saya akui 100% betul, lha kalo yg kedua ndak bener itu. Yg bener adalah: Pengin taunya musik doang alias se-bener2nya sy ndak tau musik sama sekali. Artinya, disini sy ndak tau apa2 sama sekali, lha mana mungkin bisa nulis apalagi sekeren gitu. Salud bua DTN yaa.

Justru komentar2 disini lah yg mutunya jauh dr harapan sy (meskipun mutunya mungkin masih diatas saya, tp cuman diatas dikit). Terlepas apakah anda2 merasa di pihak literalis, konseptualis atau diantaranya. Ndak beda2 amat dg komentator blog2 lain.

Bbrp hari belakangan ini saya mencoba sempet2in baca blog sana-sini. Pertamanya pengin tau sebenernya bloger2 itu kayak apaan aja sih? Kebetulan nemunya yg isinya gitu-gitu aja. Buanyaaak... blog (yg sy temuin) bicara masalah mencari Tuhan dg berbagai varian2nya. Jarang banget yg mau bicara masalah beginian spt DTN ini.

Memang, anak kecil pun tau, kalo kita tidak pernah (mau) mencari maka kita tidak akan sampai ke tujuan. Lha giman mau sampe, ketemu aja kagak khan soalnya ndak pernah nyari?! Saking banyaknya blog beginian yg sy temuin, sy ngeliatnya kok kayak semut2 yg lagi pd kebingungan disorientasi gara pola jalannya dirubah/dihapus. Pd bingung nyari Tuhan (ato pemimpin), mirip lagunya Mencari Tuhan dr Kelompok Kampungan: siapa aja yg bisa disebut maka disebutlah... dari Sukarno, Sawito, .... sampe Yesus pun disebut. Lha kini mereka jauh lebih bingung lagi, siapa yg bisa disebut kini? Horoyoohkonno, ning nang ning gung... (di-ulang2 dr tempo allegro sd presto).

Nah diantara kebingungan2 tsb sy pertama nemu blog ini so excited. Saking excitednya jd tertawa terngakak-ngakak sampe lupa ninggalin komen. Salah satu alesan krn merasa nemu harapan utk ketemu yg sy cari. Waktu itu sy ngira sidang pembaca disini adalah orang2 beradab yg telah berhasil nemu Tuhan shg tinggal mencari implementasi nyata buah dr penemuannya tsb, termasuk manfaat apa yg pernah didapat buat orang2 lain.

Sah2 aja, ada yg merasa dirinya masih terlalu disibukkan mencari makan, mencari Tuhan, mencari popularitas, dan mencari lain2nya... Saya sih hanya mau bilang ke kalian: meskipun berulang kali di "kasih dah!", ndak bakalan abis2 dah. Sy ndak mau menyalahkan sifat2 egois, individualis, chauvinis, dsb,.sy hanya kecewa aja. Ini ada saudara kita yg lagi punya kepedulian, antusias, passion buat mengimplementasikan apa yg pernah ia dapatkan buat banyak orang (=rakyat) lha kok malah dapat komentar2 minor mbeekgeledesz yg bisa bikin patah hati ato bikin orang laen takut utk mulai mau berperilaku kayak gini.

Kalo kita bisa mengajak, membina dan bekerjasama mengapa kita musti menyuruh, memerintah ato memaksakan orang lain utk menyamakan persepsi, tafsir, selera kita?
Buat DTN, maju terus, pantang mundur, apalagi hanya gara2 komen2 cemen beginian.

Anonim mengatakan...

@jiwamusik

what the heck are you talking about??? Bentar lagi baca lagi.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@jiwamusik

That's it, i give up.

Sorry ya, setelah baca bbrp kali, saya masih belum sanggup menangkap pesan anda. Entah saya yg bodoh atau sdr yg lagi 'mawo.'

Eniwe, salam musik sajalah.

-nk-

Anonim mengatakan...

trimakasih mas erik atas komennya. ha ha ha mudah2an anda hanya bernapas pendek saja tidak berpikiran pendek.... terlepas itu semua memang saya perlu belajar banyak sama bigmike tapi untuk edisi perdana ini saran saya cermati dan nikmati aja . Tetapi saya tidak kepingin sama bahkan mirip dalam gaya menulis. yahhh maunya jadi diri sendiri.
ok.... thanks
DTN

Anonim mengatakan...

Dear all,

Sekarang saya minta semuanya ajah. Carilah blog yg bisa serius, skalian bisa nyante, bisa bikin nangis, bisa bikin "gila", bisa berantem dan bisa jutekan..ingat...blog ini nggak mempromosikan apa-apa kecuali cinta kasih dan persahabatan....kalau ada nyang ginian gw ganti cinta gw dechhhh....Nah, bigmike mana posting barunya...maaaaaannnnaaaaaa //Pritha//

Anonim mengatakan...

Howdy mas Jimi (Jiwa Musik), ternyata, kalau mengikuti pendapat sahabat blogger yg laen, sampeyan itu hobinya mainin jurus mabok juga kayak saya ha ha ha ha kalau begitu kita sohiban aja yaahhhh....hhheeeiitttttsss.....ciiiaattt..
bbukkhh.....pppllaakkkkhhh..ssserrrrrr....ssssrrrrr....wekekekek..

Anonim mengatakan...

eh itu komen di atas dari saya BIGMIKE si dewa mabok ha ha ha ha

Anonim mengatakan...

@Pritha

Jangan gantinya cinta dong, nanti kami 'kesepian' tanpa kehadiran sdri. Tp, kalau mau 'pindah' ke lain hati, ke hati saya saja. hi hi hi.

:)

Salam cinta!


-nk-

Anonim mengatakan...

@nk

Jgn kaget, Penulis kali ini adalah pengelola studio musik. Artinya jiwanya jiwa musik jg... Makanya jgn kaget @Jiwamusik muji2 DTN setinggi surga...

Buat org2 kayak mereka, barang bagus malah dicap jelek... Hanya musik ato yg suka musik yg patut dijunjung tinggi2 sekali.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

tambahan saja, antara @jiwamusik dan @bm yg sama-sama maniak musik, sptnya mereka mengerti 'bahasa roh'nya musik. Nyambung gitu lho, ha ha ha. Lihat saja, mereka sedang 'pedang-pedangan.' Hiyaaaaaaaaaaaaaat.

-nk-

jiwamusik mengatakan...

balik ke PC, sebelum pulang neeh, ntar kl sampe rumah boleh terusin -- ups kayak lagi tarung aja

sori td ngetiknya buru2 soalnya liat(=belum tentu: Baca)-nya jg pas buru2, jadinya baru liat komen2 di awal2 pertama aja udah langsung emosi.

@Wilmana, nk
Sy ndak junjung2 DTN, juga ndak junjung BM ato diri sendiri. Yg sedang sy junjung itu adalah kalian2 yg menurut ramalan saya masih punya kesempatan utk terbang jauh lebih tinggiiii..... (pake roket)


Pokoknya sori ya. Kalo disini masih ada yg tersinggung ato bikin sistem ndak beres, silahkan hapus aja komen sy td.
'dah ah, mau pulang dulu. again n again, suorrriiii

Anonim mengatakan...

@jiwamusik

Ha ha ha, apapun, saya senang sdr sudah komentar panjang lebar disini. 'Welcome to the club my man.' sering-sering kesini. Yah, yah!

Salam musik.

-nk-

Anonim mengatakan...

selalu salut untuk siapapun yang berani menulis!

indonesia terlalu besar dan terlalu rusak sebagai negara kesatuan. makanya harus dipecah jadi federasi negara yang lebih jelas desentralisasinya. kalo sonde, biar babusa ju sonde akan membaik.

@ yang buka identitas DTN
beta ju anak naikoten satu; tapi angkatan umi & kana. dulu waktu SD sering maen n cari kersen di dekat BM pung rumah.

Eing

Anonim mengatakan...

@ eing

Ha ha ha memang pohon kersen tu tampat mangkal paleng enak katong semua dan di situ si Uli suka pamer kuasa. Tapi dia pung kaka, BM, juga suka kedluk seng dia. Tapi beta da pikir-pikir kawan kitong siapa yg su di AS????? pusiiing..

Gagasan negara federasi itu agak keterlaluan. Kalau anak NKRI dengar dia mangamok lagi ha ha ha.

Mari kitong sebar ini blog ke kawan-kawan dan bekin blog ini jadi kebanggan anak Kupang karena bt liat ada komentar dipsoting sebelumnya yg macam ke anggap enteng anak dari daerah. Beta nyaman betul dg ini blog

(Uli pung kawan, HS, Kupang)

jiwamusik mengatakan...

dah sampe rumah nih, abis mandi n dinner (hi hi..) langsung buka pc, kirain sy dah dapet berondongan omelan. Yg mo ngomelin sy, gohead dah!

Di rumah gini baru bisa rada tenang baca (ndak cuman lihat) komen2.
Mari kita mulai:

Dalam konteks ke-IndoneSIAL-an, dr semua komen diatas kok belum terbaca usulan di-Outsourcing-kan aja pemerintah, legislatip ato bahkan yudikatipnya sekalian. Tinggal bikin kontrak yg bisa stop se-waktu2 ato cari outsourcing lain yg lebih kompeten n kompetitip kalo ndak puas.

Kalo ada yg berpendapat belum bisa diterapkan di pusat, ya mungkin bisa dimulai dr daerah dulu. Lumayan khan ndak usah habisin dana apalagi sampai bentrok sesama saudara sedaerah gara2 Pilkada

Anonim mengatakan...

@ jiwa musik,
ha ha ha, outsourcing pemerintah. liar sekali idenya. orang sekarang bicara yang lebih bisa dikontrol dan partisipatif, ini malah outsourcing. tapi sebenarnya substansi outsourcing itu sudah terjadi juga. coba liat bappenas yang sejatinya designer negeri, isi-nya konsultan2 asing yang pada dasarnya outsource. barangkali justru itu, karna kalo outsource tanggungjawabnya juga minim. maka justru harusnya federasi negara kota/satuan wilayah yang manageable, dimana warga bisa kontrol dengan baik dan benar!

Eing

Anonim mengatakan...

@Eing

Lu siapa ni? Beta kana! Kitong satu angakatan ko? Eh kas tau do lu pung nama siapa?


-kana-

jiwamusik mengatakan...

@Eing, Anda cermat betul, outsource hanyalah keyword asal eh awal saya aja utk cari hint2 lainnya, dan ternyata anda telah menemukan hint lainnya itu: manageable, kontrolable, aturable, dsb. So minim tidaknya tanggungjawab outsource (ato apapun namanya) seharusnya bisa aturable (eg. dg kontrak) dan kontrolable juga, tak sekedar berdasarkan sikon, nasib, takdir Tuhan Yang Maha Kuasa (incl. moralitas, etc). Terlepas baik-buruk, benar-salah outsource dsb, pokoknya you got the point! Thanks, sy seneng ternyata masih ada orang yg bisa ngertiin komen cemen kayak gini. Itu dah cukup bikin saya puaasss ha ha ha.....

JM

Anonim mengatakan...

@jiwa musik,
comment mana yang cemen? perlulah semangat berpolemik tentang masalah diimbangi dengan semangat polemik tentang jalan keluar. dan asli, menurut saya ide itu liar, mengganti konsep negara dari kontrak sosial menjadi kontrak kerja, ha ha ha... asli bukan cemen! sayang sekali kita menemukan kata kunci yang sama terlalu cepat..


Eing

Anonim mengatakan...

@Eling,
wow! gile benerr, baca komen ini sy semakin puass puass... huaa ha ha..... Sy mau bobo dulu ya

ps.:
buat BM, sori y kalo ntar2 sy jarang kesini dulu, kayak ular baru makan kerbau, mungkin bobo'nya agak lamaan.
Thanks for all!

~ JM ~

Anonim mengatakan...

@Eing

Dari 'dola-dali' sdr disini, saya menangkap sdr tipe manusia 'cerdas.' Baiklah, ini salah satu poin komentar sdr:

"...maka justru harusnya federasi negara kota/satuan wilayah yang manageable, dimana warga bisa kontrol dengan baik dan benar!"

Federasi negara/kota/satuan macam mana yg sdr tawarkan? Adakah didunia ini tipe macam itu yg dpt kita 'jiplak?' Atawa ini hanya teori 'liar' sdr sendiri???

Mohon pencerahan!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@jiwamusik, saya kaget & respect ada keyword seperti itu, saya ingat seorang prof kami pernah mengatakannya beberapa kali tapi kami tidak memahaminya. salam (abw)

Anonim mengatakan...

wah.... sodara nk bisa mlihat jelas kenyataan disini. bahwa orang yang suka nunjuk jari ke oarang lain lupa juga kalo 3 jarinya lg nunjuk dirinya. bagaimana orang berburuk prasangka dgn pnyataan "Makanya jgn kaget @Jiwamusik muji2 DTN setinggi surga...

Buat org2 kayak mereka, barang bagus malah dicap jelek... Hanya musik ato yg suka musik yg patut dijunjung tinggi2 sekali."
dasar dasar... hati2 ama kata2 sendiri. kayak ginilah contoh yang kurang baik. bagaiman sodara NK, BETUUL(Logat bang Oma Irama)?????

DTN

Anonim mengatakan...

WOOOE HS.... SEGERA TAMPILKAN WUJUD ANDA!!!!!!

DTN

Anonim mengatakan...

Wah... baca komentar @DTN, beta jadi inga tiga org keponakan yg nama depannya cocok dg akronim DTN (Denis, Tengas, Nukus).

VQRK

Anonim mengatakan...

Sori..numpang naya ..ini rada beda.. ada yang tau dimana Ina Riwu Kaho yah ? Udah lama ngga tau kabarnya...minimal emailnya deh.
Thanx Yah.
GBU
Regards,
Renny