Sabtu, 28 Februari 2009

sebuah posting dari norman di penghujung bulan februari tentang....kita yang merusak

Dear Sahabat Blogger

Tanggal 28 hari ini. Hari terakhir di bulan Februari. Sebenarnya saya ingin menutup bulan ini dengan sebuah refleksi tentang ...what's going on with sorrow.....tapi tak apalah....Norman mengirim sebuah SMS, katanya......bapa, Norman ingin posting sebuah artikel.....sayapun mengalah....Lalu, Norman mengirim bahan postingnya lewat E-mail....ooohhhhh....masih tentang ilmu barunya....hutan dan kehutanan....tapi aaahhhhhh.....ada juga kecocokannya dengan gagasan saya.......what's going on with sorrow......

Dalam posting ini Norman ingin mengatakan bahwa kerusakan hutan, apapun alasanya, adalah kita pula yang menjadi prima causa-nya....itu pula inti gagasan saya pada posting yang tidak jadi itu. Dalam pikiran saya, berkat dan karunia Tuhan cukup dan bahkan berlimpah bagi siapa saja . Lalu, kitalah yang berpikir dan bertindak begitu rupa sehingga berkat dan karunia Tuhan itu menjadi sia-sia. Kita sengsara tetapi kitalah yang mengundang kesengsaraan itu. Bukankah hutan adalah karunia Tuhan? Bukankah hutan berguna bagi kita? ....dan....bukankah kita pula yang merusaknya? Heiiiii...bukan cuma hutan....bacalah berita hari-hari terakhir ini....kasus aborsi di Jakarta, badai video perkelahian antara pelajar, guru membanting murid, dan bahkan...wuuuuuiiiiiiihhhhh....masih banyak lagi......what's going on with sorrow.......

Sobat-sobat terkasih, bacalah artikel dari Norman. Masalah hutan dan kehutanan hanyalah contoh. Lalu, simpulkan sendiri esensi tulisan ini dan cobalah setiap kita bertanya pada diri kita sendiri .... what's going on with sorrow ...... Di bagian akhir posting ini saya menyertakan sebuah tembang lawas dari duo legendaris "Simon & Garfunkel", yaitu lagu "leaves that are green" yang esensinya mengatakan kepada kita....alam menyediakan bagi kita tetapi tangan kitalah yang menghancurkannya......Selamat membaca dan selamat menikmat musik indah. Tuhan Memberkati Anda sekalian.

Ibarat Telur atau ayam?? Sektor kehutanan atau Pertanian???

Di mana salahnya??


Bingung dengan judul diatas?? Itu sudah pasti.. Tapi dari judulnya pasti bapak/ibu/om/tante/ama/ina semua bisa mereka-reka apa yang ingin saya tulis. Yah..yah benar, saya ingin menulis sesuatu yang ada hubungannya dengan kehutanan dan pertanian di Indonesia. Tapiiiiiii… tentu saja, saya tidak ingin menyajikan tulisan ini seperti tulisan berita di Koran atau berita di televisi yang tiap hari anda dengar atau baca. Wah itu bukan saya banget tuh…. Jujur saja saya malah lebih senang membaca berita olahraga khususnya niat PSSI yang mengajukan proposal sebagai tuan rumah piala dunia. Ahhhh bagaikan “dream daylight hole” alias mimpi siang bolong (bahasa inggrisnya sudah betul gak yah??) atau berita gossip artis-artis Indonesia (sssstttt… si dewi persik itu beneran udah kawin??) Hihihi. Cukup ah saya ngebanyol… kali ini serius.. yang jelas saya mengalami sedikit kebingungan ketika kuliah di fakultas kehutanan karena ternyata alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dituding menjadi salah satu alasan deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia diantara berbagai-bagai masalah lainnya. Padahal menurut saya, kurang tepat seperti itu.. STOOOPPPP…. Sampai sini kira-kira Menarik tulisan saya ini?? Kalau menarik ayo lanjuuuutttt..


Seperti yang saya kemukakan tadi, saya cukup bingung, terkejut, terpana, “tanganga” (bengong) saat mengikuti satu mata kuliah di semester lalu. Kebingungan ini bermula pada mata kuliah tersebut, dosen saya dengan lantang menyebutkan alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian menjadi salah satu penyebab diantara berbagai masalah lain yang mengakibatkan laju deforestasi hutan semakin meningkat dari tahun ke tahun sehingga Indonesia saat ini merupakan Negara nomer 2 di dunia dengan laju deforestasi hutan tertinggi, setelah Negara ole ole ole ole ehhh Negara Brasil (lebih jelasnya lihat Tulisan saya terdahulu). Lho???? Hal ini bertentangan dengan apa yang saya pelajari ketika masih kuliah s1 di pertanian dimana saya diajarkan salah satu tantangan pertanian saat ini adalah lahan pertanian semakin menipis dari tahun ke tahun. Nah lho, kok sekarang dibilang pertanian yang dibilang sebagai salah satu penyebab?? Kehutanan bilang “Lahan pertanian mengambil sebagian lahan hutan” TAPIII dari pertanian bilang “Lahan untuk bertani semakin berkurang”. Padahal kalau kita ikut logika berpikir maka jelas seharusnya tidak ada keluhan mengenai kurangnya lahan pertanian kan??? Ah…. Ini bagai ibarat telur atau ayam yang lebih dahulu. Mau percaya mana, Pertanian atau Kehutanan ?? Hati nurani saya pada saat itu tidak membenarkan apa yang dikatakan dosen saya itu.. Tapi apa daya. Coba tuan puan pembaca semua bayangkan, kuliah jam 1 siang sambil menahan rasa kantuk, perut lapar karena belum makan sedari pagi. Kira-kira masih adakah tenaga sekedar untuk membantah apa yang dikatakan dosen tersebut?? Malah sudah untung apabila masih sanggup menahan kelopak mata ini untuk tidak tertutup. Nah, kurang lebih, saya waktu itu dalam keadaan seperti yang saya sebutkan tadi. Jadi terpaksa saya cuma bisa diam… diam… di ….. ia… zzzzzzzzzzzzzz (wah malah saya tertidur) Hehehehehe.


Sesampai di rumah, saya mencoba membuka buku materi perkuliahan tadi untuk menemukan jawaban pertanyaan saya tadi itu, oohhhhhh….. betapa terkejutnya saya ternyata pengarang buku tersebut pun mengatakan hal yang sama seperti dosen saya sebutkan tadi.. Ah, saya semakin terasa penasaran.. Hmm.. Sebenarnya hal yang saya alami ini cukup beralasan. Kalau tidak percaya, coba bapa/ibu/om/tante semua cari di google tentang bagaimana dari sector pertanian pun berteriak karena kurangnya lahan. Coba pula di baca Koran. Saya yakin hal ini pasti sama saja. Semakin bertambah bingunglah saya karena di satu sisi orang hutan ehhhh… orang kehutanan berkata bahwa alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian itu salah, akan tetapi orang pertanian malah mengatakan hal yang sebaliknya bahwa mereka pun kekurangan lahan pertanian. nah, berarti ada sesuatu yang salah disini.. kira-kira apa yah?? Saya harus menemukan jawabannya. Harus. Dan setelah melewati proses perenungan berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun masih juga belum ketemu jawabnya… akhirnya aku bertanya pada rumput yang bergoyang……. Eiittssss ……. saya tadi cuma sekedar mendramatisir suasana saja. Hihihihi.. Tapi sebelum lanjut, saya berikan data yang cukup kontras yah. Begini ceritanya ehh begini datanya.


1. Data Greenomics Indonesia tahun 2006-2008 menunjukkan di Provinsi Sumatera Utara, ada sekitar 40 kasus perambahan kawasan hutan untuk perkebunan dan budi daya pertanian lainnya yang mencapai luas 195.000 hektar. Selain itu, sedikitnya 143.000 hektar kawasan hutan lindung dan hutan konservasi di Provinsi Riau secara ilegal telah berubah fungsi menjadi areal perkebunan dan budi daya pertanian lahan kering. Sementara Provinsi Kalimantan Barat, sedikitnya 286.000 hektar hutan lindung telah berubah fungsi menjadi areal pertanian dan secara nasional, data Departemen Kehutanan tahun 2007 menunjukkan perubahan peruntukan hutan lindung dan hutan konservasi secara ilegal yang telah dijadikan areal perkebunan, pertambangan, lahan terbuka, semak belukar, dan budidaya pertanian lainnya mencapai angka 10 juta hektar.

2. Dari total luas lahan Indonesia, tidak terrnasuk Maluku dan Papua (tidak ada data),sekitar 64.783.523 ha lahan digunakan untuk pekarangan, tegalan/kebun/ladang/huma, padang rumput, lahan sementara tidak diusahakan, lahan untuk kayu-kayuan, perkebunan dan sawah (BPS, 2001). Data statistik lahan pertanian selama 15 tahun terakhir (BPS, 1986-2000) memperlihatkan bahwa perluasan lahan pertanian berkembang sangat lambat. Terutama lahan sawah sebagai penghasil utama pangan ; berkembang dari 7,77 juta ha pada tahun 1986 menjadi 8,52 juta ha pada tahun 1996, dan selanjutnya cenderung menyusut menjadi 7,79 juta ha pada tahun 2000.


Akhirnya saya menemukan jawabannya.. ternyata bukan alih fungsi hutan yang salah, bukan pula lahan pertanian yang salah. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut karena bagi saya yang salah adalah pembangunan.. nah lho?? Apa-apaan lagi nih?? Yah, saya berani berkata bahwa sebenarnya yang salah adalah pembangunan karena lahan hutan, lahan pertanian sudah dirubah menjadi “hutan” gedung-gedung yang menyebabkan semakin menipisnya ruang atau lahan untuk hutan dan pertanian. Laju konversi lahan pertanian tanaman pangan, termasuk sawah, yang terus melaju tanpa dapat dibendung. Menurut informasi Real Estat Indonesia (REI), selama tiga tahun terakhir, di Pulau Jawa, pembangunan perumahan telah menggusur seluas 4.891 hektar lahan, termasuk lahan pertanian pangan yang produktif. Belum lagi konversi lahan untuk industri dan pembangunan infrastruktur… eehhh maafkan saya…. sebenarnya lebih tepat bukan pembangunan tapi orang di balik pembangunan itulah yang bersalah menurut saya. Siapakah mereka?? PEMERINTAH. Sekali lagi, PEMERINTAH. Kok pemerintah??? Kenapa?? Tentu saja, ketika lahan hutan dialihfungsi menjadi lahan pertanian itu siapa yang memberi ijin?? Ketika hutan lindung yang seharusnya dikonservasi tapi dibuat menjadi hutan produksi itu siapa yang memberikan ijin?? Hasil-hasil pertanian itu untuk siapa? Masyarakat?? Ataukah hasil pertanian tersebut dijual kepada masyarakat lalu sebagian besar uang hasil penjualan tersebut masuk ke kantong-kantong para pejabat pemerintah yang taunya cuma tidur di ruang sidang, yang taunya jalan-jalan dengan alasan “dinas luar”, yang taunya terima uang suap supaya lolos suatu proyek besar.. hhhmmmmm….. bau kapitalisme terasa sekali disini.. padahal jelas-jelas di pancasila butir ke empat mengatakan “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia”… yah keadilan social.. berarti bukan hanya “adil” bagi penjabat saja kan?? Bukan pula hanya “adil” bagi pemerintah saja kan?? Seharusnya di buku-buku tertulis dengan jelas, bahwa pemerintah menjadi salah satu penyebab berkurangnya lahan hutan.. harusnya begitu. Tapi siapa yang berani???


Selain itu, masyarakyat kita sudah terbuai iklan “Bensin telah turun 3 kali (dan ada kemungkinan mau turun lagi), masyarakat miskin semakin berkurang, dll… Malah yang konyol ada Capres yang mengatakan telah berhasil swasembada beras. Swasembada beras tapi dari lahan hutan yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian. Sukses di bidang pertanian tapi hutan menjadi rusak. Jadi itu lebih tepat dikatakan sukses atau tidak yah?? Aya aya wae.. ada-ada saja.. Rakyat kita telah terbuai hal tersebut. Saya tidak mengatakan hal yang diiklankan itu salah. Saya tidak mengatakan demkian. Saya tidak cukup kompatibel untuk membantah atau mengiyakan. Bisa saja benar atau bahkan bisa salah juga kan?? Akan tetapi, Saya mengatakan bahwa rakyat kita terbuai dengan hal tersebut sehingga melupakan apa yang menyebabkan tiap hujan selalu banjir, tiap musim kemarau kekeringan dimana-mana, siklus cuaca dan iklim yang semakin tidak dapat diprediksi, berita-berita di televise selalu menayangkan bencana banjir dimana-mana yang lucunya berita-berita bencana tersebut bersading dengan iklan “keberhasilan” pemerintah tadi. HiHiHi… Kita sering latah atau dengan gampangnya kita mengatakan ini efek global warming. Tapi kita kembali ke pertanyaan, apa yang menyebabkan global warming terjadi?? Jawabnya lingkungan atau alam yang rusak, dimana salah satunya adalah hutan yang seharusnya menjadi filter atau penyaring atau bahkan penyangga rusak. Hutan yang rusak itu kenapa?? Salah satu alasan adalah alih fungsi hutan menjadi pertanian. kenapa di alih fungsi????? Kenapa dan kenapa. Saya sengaja banyak bertanya dalam tulisan ini supaya pembaca semua dapat menjawab merenungkan apa yang saya tanyakan tadi. Kira-kira ada yang bisa membantu saya memberikan jawaban lain??


Click judul lagu di bawah ini


Tabe Tuan Tabe Puan

104 komentar:

Bigmike mengatakan...

Selamat membaca. Selamat berhari minggu bagi yang merayakannya. Selamat berlibur bagi mereka yang ingin berlibur. Tuhan Memberkati saudara semua

Bigmike mengatakan...

Norman, renungkan kembali esensi tulisanmu itu sendiri....what's going on with sorrow....menjadi orang besar tanggungjawab juga besar. Berpikir harus sebagai orang besar dan ngat...kesusahan, seringkali, kitalah sendiri yang mengundangnya.....

Bigmike mengatakan...

Bagi sahabat yang memerlukan lirik lagu cantik dari SG, saya sertakan.

"Leaves That Are Green"

I was twenty-one years when I wrote this song.
Im twenty-two now but I wont be for long
Time hurries on.
And the leaves that are green turn to brown,
And they wither with the wind,
And they crumble in your hand.

Once my heart was filled with the love of a girl.
I held her close, but she faded in the night
Like a poem I meant to write.
And the leaves that are green turn to brown,
And they wither with the wind,
And they crumble in your hand.

I threw a pebble in a brook
And watched the ripples run away
And they never made a sound.
And the leaves that are green turned to brown,
And they wither with the wind,
And they crumble in your hand.

Hello, hello, hello, good-bye,
Good-bye, good-bye, good-bye,
Thats all there is.
And the leaves that are green turned to brown,
And they wither with the wind,
And they crumble in your hand.

Anonim mengatakan...

wooohhhh....Norman, sorry...gw blom bisa ngomong apa-apa...gw masih tertegun ma kate babe elo.....what's going on with sorrow....diparahin lagi ma lagu yg disisipin BM....wwwwaaaaooooooo......knapa ada yang bikin gw tertegun ya....apa hidup ini????? ..... (Proxy73)

Anonim mengatakan...

Sisipan lagu dari BM, seperti juga yang di blog musiknya menunjukkan bahwa BM juga bisa berkata-kata lewat lagu.....BM you are emang "berkelas".....jujur en tanpa wakakakak......(Proxy73)

Anonim mengatakan...

Gw mirip si gendeng Proxy73...blon bis mentarin banyak for Norma...tapi gw liat ada bau-bau "kapitalisme"...ahaaaa....enak untuk dikomentarin tapi for now......ane masih menikmati BM ma aforisme barunya....what going on with sorrow.....pertanyaan yg "dalam" banget yg mungkin BM sendiri enggan menjawabnya.....(Wury)

Anonim mengatakan...

@ Bigmie,

pilihan lagu emang tepat...anak muda akan bilang lagu jadul tapi sekalgus akan ngakuin harmoninya dahsyat...thanx udah ngeposting lagu ini....GBU (Wury)

Anonim mengatakan...

diskusinya nanti aja yaaaa......musiknya enak...ternyata duo SAG bukan cuma dongeng...top abiszzzzzzz....(Yayuk)

Anonim mengatakan...

what's going on with sorrow????....all that crumble were in your hand....(Yayuk)

Anonim mengatakan...

@ Mas Wury,

met malam mingguna sorangan yaaaaa......ha ha ha ha ha....you are the high class jomblo....ha ha ha ha ha....makan tuh tempat tidur....ha ha ha ha ha (Yayuk)

Anonim mengatakan...

First of all, fantastic music, fan duo, fan harmony, fan poem and ...thanx to BM for that posting....

Anonim mengatakan...

sekadar nambahain data ajah untuk normna,

Indonesia kaya akan SD hutan. Hutan yang luasnya 120 juta hektar dan merupakan 60 % luas daratan Indonesia, sebenarnya merupakan kekayaan alam yang sangat penting dan strategis (Nurrochmat, 2005). Namun kekayaan itu tidak banyak gunanya bagi rakyat, karena pengelolaannya gagal.

Menurut laporan WALHI 2007, rata-rata hasil hutan Indonesia tiap tahunnya 2,5 miliar dolar AS. Pada tahun 2005 diperkirakan hasilnya mencapai sekitar 7-8 miliar dolar AS (Agustianto, 2005).

Anonim mengatakan...

Namun, semua orang juga tahu kini Indonesia menjadi negara bangkrut. Dari hasil hutan sejumlah itu, yang masuk ke dalam kas negara ternyata hanya 17 %, sedangkan yang 83 % masuk ke kantong pengusaha HPH yang tidak bertanggung jawab (Sembiring, 1994).

Pemberian HPH kepada pengusaha itu dimulai sejak 1967 melalui UU Pokok Kehutanan No 5 Tahun 1967, yang kemudian direvisi dengan UU Kehutanan no 41 Tahun 1999. Mengapa direvisi? Sebab UU No 5/1967 itu hanya menekankan produksi (alias rakus). Maka lahirlah UU No 41/1999 yang agak mendingan karena sudah memperhitungkan konservasi dan partisipasi masyarakat (Nurrochmat, 2005).

Anonim mengatakan...

Karena hanya menekankan produksi, wajar jika hutan Indonesia lalu dikelola seperti halnya pengelolaan tambang (mining management), sehingga aspek kelestarian berada di titik terendah, sementara kegiatan penebangan berada di titik tertinggi (Irawan, 2005).

Dampaknya? Kerusakan hutan yang sangat dahsyat. PT Inhutani, BUMN di bawah pengelolaan teknis Dephutbun pernah meneliti bahwa eksploitasi hutan melalui pola HPH ternyata telah menimbulkan kerusakan hutan lebih dari 50 juta ha (hektare). Kini areal kerusakan hutan mencapai luas 56,98 juta ha (Agustianto, 2005).

Walhasil, hutan yang semestinya menjadi sumber kekayaan rakyat Indonesia, ternyata hasilnya hampir-hampir tidak dirasakan mayoritas rakyat karena mengalami kegagalan dalam pengelolaannya.

Anonim mengatakan...

Irawan (2005) menyebutkan bahwa kegagalan pengelolaan hutan selama ini adalah akibat kesalahan pembuat kebijakan, termasuk penyelewengan pelaksanaan regulasi, dan penyimpangan dalam tataran teknis di lapangan.

Kesalahan pembuat kebijakan itu dengan kata lain sesungguhnya adalah kesalahan ideologis, sebab kebijakan yang terwujud dalam bentuk undang-undang dan peraturan itu tiada lain adalah ekspresi hidup dan nyata dari ideologi yang diyakini pembuat kebijakan.

Anonim mengatakan...

Tegasnya, yang menjadi sumber utama kegagalan pengelolaan hutan selama ini adalah ideologi kapitalisme. Karakter kapitalisme yang individualis telah mewujud dalam sikap menomorsatukan kepemilikan individu (private property) sebagai premis ekonomi dalam Kapitalisme (Heilbroner, 1991). Wajarlah jika dalam pengelolaan hutan, hutan dipandang sebagai milik individu, yakni milik pengusaha melalui pemberian HPH yang diberikan oleh penguasa.

Selain mengutamakan kepemilikan individu, pendekatan kapitalisme yang utilitarian (mementingkan kemanfaatan) telah melahirkan sikap eksploitatif atas sumber daya alam seraya mengabaikan aspek moralitas (Heilbroner, 1991).

Anonim mengatakan...

Nah, begitulah potret kehutanan kita. Uraian Norman hanya melengkapi data yang saya ungkapkan. Bagaimana Mas Wuryandono, yang katanya aktivis + tenaga ahli, menanggapinya? (Taufik07)

Anonim mengatakan...

@ Mas BM,

Happy Sunday yaaaa.....kalo bisa tiap ditutup dengan musik/lagu tema...piyeeee mas.....(Taufik07)

Anonim mengatakan...

Wah sudah di posting tulisan saya ini. sedikit cerita, tulisan ini saya ketik di sela-sela pengerjaan proposal thesis saya.. tapi, proposalnya belum jadi eh.... malah tulisan ini yang jadi duluan. HiHiHi.

Tulisan ini saya ambil dari sudut pandang saya yang juga memiliki basic ilmu pertanian, selain kehutanan tentunya. Saya melihat ada kesalahan bahwa ketika koversi hutan menjadi lahan pertanian dituding menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan. Ah...itu kan yang dilihat oleh mata, dibaca di koran-koran, didengar dan dilihat di televisi.... Tapi apa yang sebenarya di balik itu... Ah, ternyata ada udang di balik batu.

akhir kata, coba kita renungkan Bencana banjir semakin masif terjadi, iklim yang semakin tidak terprediksi, dsb..... masih kurang kah sebagai tanda-tanda alam "murka" akibat perbuatan kita?? Masih kurang??

Anonim mengatakan...

@Taufik07

Terimkasih pak/mas sudah memberikan masukan data dan pemikirannya.

kalau bleh menambahkan soal ideologi kapitalisme itu bukan barang baru lagi dalam pengelolaan hutan. Itu sudah dilakukan sejak jaman penjajahan belanda yang membuka lembaran kelam penjarahan hutan di negara kita. yang lebih parah ideologi tersebut bukan hanya dilakukan oleh orang indonesia, tapi juga orang-orang luar. Buktinya?? Perusahaan-perusahaan kayu di indonesia sebagian besar milik siapa?? yah pengusaha-pengusaha dari singapura, malaysia, Cina, eropa dan amerika.

(norman)

Anonim mengatakan...

satu lagi, kira-kira kenapa yah perbaikan hutan kita yang sudah rusak ini tak dijadikan sebagai materi iklan para capres d televisi yah??? apa hutan gak penting??
Yang ada perbaikan ekonomi, meningkatkan kesejahtraan masyarakat melulu, dll.. Tapi bagaimana rakyat mau sejahtra kalau tiap hujan pasti banjir , atau kekeringan melulu saat musim kemarau, mau swasembada beras tapi pas mau panen eh banjir, pas mau ditanam eh kurang air ??
Ah... pemerintah yang aneh

(norman)

poempuisi mengatakan...

Norman, komentar GW tentang hutan dan kerusakan hutan Indonesia cuma ada 2 hal: serakah dan bebal...silakan dicar arti dan makna kata-kata itu...itu ada bro...

poempuisi mengatakan...

GW ga bisa bertindak laen setelah ngedengerin tembang leaves that are green selain mengcopy kata-katanya yang ...wadddoooooohhhhh.....teramat sangat puitis dan gw posting di blog GW......thanx BM karena selalu kreatif menyajikan yg terbaik bagi sahabatnya meski...ga dibayar apa-apa atas kebahagiaan yg kami terima....GBU dech.....Byeeee...

Anonim mengatakan...

@Poempuisi

Bebal dan serakah??? Hmmmm... Singkat, padat, jelas dan langsung mengena pada intinya.

Hhahahaha

(Norman)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Posting yang baik dan sekaligus menunjuka biang kerok permasalahan, bukan cuma hutan, tetapi SDA secara keseluruhan. Mungkin para pembela kapitalisme akan marah dengan tudingan ini tapi coba simak baik-baik apa kata Al Gore....

Negeri kita adalah negeri sejuta bencana alam. Mungkin istilah itu agak sedikit berlebihan, tetapi tidak bisa dipungkiri negeri ini memang cukup akrab dengan bencana alam. Dalam kurun waktu 1998-2004 saja sudah terjadi 1.150 kali bencana, dengan korban jiwa 9.900 orang serta kerugian materi yang fantastis. Tiga bencana utama yang terjadi dalam kurun waktu tersebut adalah (1) banjir yang terjadi sebanyak 402 kali dengan korban 1.144 jiwa dan kerugian yang mencapai Rp 647,04 miliar; (2) kebakaran yang terjadi 193 kali dengan korban 44 jiwa dan kerugian yang mencapai Rp 137,25 miliar; dan (3) tanah longsor yang terjadi 294 kali dengan korban 747 jiwa dan kerugian yang mencapai Rp 21,44 miliar.

Anonim mengatakan...

Pengeksploitasian terhadap sumber daya alam di planet bumi sudah dimulai bersamaan dengan revolusi industri kurang lebih 200 tahun yang silam. Dengan dasar pertumbuhan ekonomi, kapitalisme modern yang ditunjang oleh tersedianya energi yang melimpah, secara sistematis mengerahkan teknologi untuk meningkatkan outputnya. Akibatnya pertumbuhan ekonomi menjadi sesuatu yang mutlak. Menurut Suryaatmadya pula, ekonomi dan pembangunan hanya melihat sumber daya alam sebagai fungsi produktif. Padahal sumber daya alam mempunyai sekurang-kurangnya empat fungsi lain yaitu fungsi mengatur (ecological regulator), fungsi memelihara (ecological maintaining), fungsi pemurni (ecological recovery), dan fungsi informasi (ecological information). Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini karena tidak didayagunakannya fungsi-fungsi lain dari sumber daya tersebut selain fungsi produktif.

Anonim mengatakan...

Akhirnya, saya pikir kita semua dengarkan kembali lagu yg diposting oleh pemilik blog (bigmike).

Lagu ini bukan saja indah tetapi syairnya menunjukkan secara tepat apa yang terjadi.....

And the leaves that are green turned to brown,
And they wither with the wind,
And they crumble in your hand.

NB. ini bog yang HEBAT. Jarang yg begini. Menyampaikan sesuatu secara ringan tetapi tidak kehilangan kedalaman makna. Keep on posting bro.....(Gulliani)

Anonim mengatakan...

heeeiiii BM, tembang yang diposting....dua ehhh....empat jempol dah....ni gw ampe kejengkang...wakakakakakak....asyiiiikkk banget...harmonisasinya emang ngga ada saingannya dech....TOP (Proxy73)

Anonim mengatakan...

Nah semalam gw cuman menikmati SAG doang...sekarang gw mo ikutan ngomong....

Ada 2 hal...pertama tentang kehutanan di Indonesia....Norman ngga usah ribet bikin analisis deh...sebabnya is....bebal dan serakah....menurut jiwa posting-posting BM kita akan bilang...para perusak itu nggak punya cinta....rencontre aimantre....

Anonim mengatakan...

kedua, tentang penderitaan,

Cara bertanya gw balikin....

apa kebahagiaan itu?????

Jika kita bahagia, dunia kita akan lain sama sekali; peradaban
kita, budaya kita akan lain secara radikal, seluruhnya. Kita adalah manusia
yang tidak bahagia, remeh, sengsara, bergulat, angkuh, mengelilingi diri
kita dengan berbagai hal yang tak berharga, sia-sia, merasa puas dengan
ambisi remeh, dengan uang, dan kedudukan. Kita adalah makhluk yang tidak
bahagia, sekalipun kita mempunyai pengetahuan, sekalipun kita mungkin
mempunyai uang, rumah mewah, banyak anak, mobil, pengalaman. Kita adalah
manusia yang tidak bahagia, menderita, dan oleh karena kita menderita, kita
menginginkan kebahagiaan, lalu kita dibelokkan oleh orang-orang yang
menjanjikan kebahagiaan ini--sosial, ekonomis, spiritual. ......(Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ Sahabat muda Norman,

Selamat datang kembali. Agak lama tidak menulis. Rasanya sudah ada perkembangan yang makin maju. Tulsannya semakin bagus. Teruslah menulis karena akan menjadi sarana latihan berpikir tertib yang amat baik. Ayo maju terus.

Soal kerusakan hutan, saya pikir akar masalahnya adalah keserakahan, kemiskinan dan kebodohan.

Dalam salah satu kunjungan dahulu kami melihat kehancuran hutan jati di Ngawi. Petani-petani kecil itu dengan upah ala kadarnya bersedia melakukan penjarahan hutan yang hasilnya diserahkan kepada penadah-penadah yang merupakan "oknum". Celakany di Indonesia, kata oknum diubah belaokkan bukan sebagai kata benda tetapi kata sifat. Padahal semua tahu siapa oknum itu.

Di lain pihak keserakahan "oknum". Pada titik ini, "oknum" serakah mendapat bingkai yang amat baik melalui isme kapitalis. Sayangnya negara, sejak dahulu amat percaya dengan isme yang satu ini ketika di tempat asalnya sendiri, barat, telah mendapat koreksi yang amat keras. Krisis finansial mutakhir merupakan "peringatan" terakhir untuk kapitalisme serakah itu.

Bung Karno dahulu pernah dicaci maki ketika melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan peninggalan jaman Belanda. Tapi maksud Bung Besar kita itu sebenarnya adalah memerangi kapitalisme. DI Indonesia seharusnya yang dilakukan adalah gotong royong sesuai sikap masyarakat kita yang guyub.

Begitulah komentar saya untuk Norman (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

"what's going on with sorrow????"...rasanya jikalau tidak mengganggu pikiran buanlah bigmike namanya deh....

Musiknya luar biasa...terkenang jaman waktu saya masih berumur 30-an menjelang 40an. Duo SAG adalah salah satu ikon musik ketika itu. Terima Kasih atas lagunya (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@Proxy73

soal saya tak perlu bikin analisis yang ribet... yah...yah.... saya mengerti maksud anda, meskipun saya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mengartikan maksud anda. HiHiHi
tapi, bukankah saya memang tidak membuat analisis yang ribet?? soalnya kalau terlalu ribet nanti malah saya sendiri yang pusing. makanya sengaja saya ambil topik ini dan saya sajikan dengan tidak rumit. Tapi itu menurut saya lho.. Beda pendapat boleh dong pak/mas/om Proxy 73??


(norman)

Anonim mengatakan...

@Opa Syamsudin

Terimkasih atas masukannya.. Soal kapitalisme yang telah merajalela sekarang ini menurut saya membuat banyak orang teringat sejarah Bung karno dulu.. Persis seperti apa yang opa syam katakan.. saya setuju

(norman)

dwi mengatakan...

@ Norman,

Sugeng rawuh mas Norman.

Posting yang baik tetapi cara pengambilan kesimpulan yang agak terburu-buru. Ini points saya,

1. Kerusakan hutan karena kapitalisme. Saya setuju 100% dan bahkan mas Wury pernah amat bagus mengurainya sejak jaman dahulu (lihat posting lama dari Norman).

2, Tetapi menafikan "sumbangan" konversi hutan untuk tujuan pertanian sehingga merusak hutan saya kurang sependapat. Bahlan menurut hemat saya konversi lahan hutan untuk tujuan pertanian agak gila-gilaan. Sima data berikut ini:

dwi mengatakan...

Dalam 10 tahun terakhir luas kawasan hutan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit seluas 16.096.296 ha dengan rata-rata 1.341.358 ha tahun (Walhi, 2007). Jika kecepatan kerusakan hutan di Indonesia sebesar 2.8 juta ha maka setengahnay disebabkan oleh onversi lahan untuk perkebunan. Ingat data di atas baru konversi menjadi perkebunan klapa sawit.

Ada lagi kerugian yang lain yang dicatat oleh Prof Sulthoni (almarhum - posting tentang beliau ada di blog ini) adalah kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun ketika pembukaan lahan perkebunan. Prof Sulthoni mencatat bahwa pada kebakaran hutan tahun 1997 saja telah terjadi kerugian tangible dan intangible sebesar 71 trilyun rupiah.

dwi mengatakan...

Nah, dengan begitu jelaslah bahwa konversi lahan hutan untuk tujuan pertanian tetap harus diperhitungkan sebagai gangguan terhadap kerusakan hutan.

Namun demikian, saya akan kembali setuju dengan mas Norman bahwa akar masalahnya adalah kapitalisme yang serakah. Benar belaka bahwa pemilik perkebunan kelapa sawit itu adalah cukong-cukong dari Malaysia, dan mancanegara kainnya.

BTW, good posting. Keen on posting mas

dwi mengatakan...

Den Mas BM,

Tembangnya uuuuueeeeeeeennnnaaaaaakkkk bangetssss....thanx.....ha ha ha ha...

Anonim mengatakan...

rakus + serakah + korupsi = hutan rusak...BM lagunya indaaaaaahhhhhh banget.....

Anonim mengatakan...

uuupppsssss....sori....(PM)

tuaksatu mengatakan...

Perusakan hutan di Indonesia sudah pada tingkat PEMBUNUHAN EKOLOGIS TERHADAP HUTAN (ECOSIDA)

Masih ingat kasus Ryan Si Jagal Jombang yang dimasyarakat diperhatikan dengan antusiasme tinggi. Orang bisa terfokus pada sosok Very Idam Henyansyah (30), sosok kelahiran Jombang, 1 Februari 1978. Atau secara lebih khusus kita bisa berempati pada para korban Ryan, termasuk kepedihan yang harus ditanggung para korban.

Kita pasti teriris membaca bagaimana tangisan kakak adik serta ibu kandung dari Ariel Sitanggang, salah satu korban Ryan, yang jenasahnya ditemukan di salah satu sudut rumah Ryan di Desa Maijo, Jatiwates, Kecamatan Tembelang Jombang (Kompas 3 Agustus 2008).

tuaksatu mengatakan...

bukan bermaksud mengecilkan penderitaan para korban Ryan, khususnya kaum kerabat yang ditinggalkan para korban, sesungguhnya juga telah dan akan ada korban pembunuhan yang dampak dan eskalasinya lebih mengerikan daripada kasus Ryan. Yakni pembunuhan ekologis atau ecosida yang tetap marak di sekitar kita, seperti yang tengah menimpa hutan kita.

Meskipun Konferensi Perubahan Iklim di Bali Desember 2007 telah menempatkan kelestarian hutan sebagai salah satu agenda penting, toh kita tahu bagaimana nasib hutan kita yang terus dikorbankan di atas altar ketamakan para pelaku pembalakan liar.

Bahkan sebagian anggota DPR yang terhormat (atau yg tidak terhormat?) tega mengotori dirinya dengan uang dari kasus alih fungsi hutan bakau di Sumatera Selatan dan alih fungsi hutan lindung di Kabupaten Bintan?

tuaksatu mengatakan...

Kalau kita menengok sejarah, dengan regulasi pula hutan kita justru dibabati dan dieksploitasi secara kejam. Ada ecosida atau pembunuhan ekologis yang begitu biadab terhadap hutan, mentang-mentang hutan tidak bisa berbicara.

Rejim Orba adalah pelaku ecosida yang tak bertanggungjawab. Dengan segala produk hukumnya, seperti Undang-Undang Pokok Kehutanan No. 5/1967, Undang-Undang Pokok Pertambangan No 11/1967, PP No 21/1970, PP No 7/1990 dan SK Menhut 677/Kpts-II/1998, semua merupakan legitimasi untuk HPH (Hak Penggundulan Hutan).

tuaksatu mengatakan...

Di era reformasi (sejak 1998), justru terjadi euforia di mana-mana sehingga sebagian orang juga merasa punya hak mengeksplotasi hutan yang masih tersisa. Lihat hutan di kawasan pegunungan selatan Jatim yang rusak berat. Menurut data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebutkan laju penghancuran (deforestasi) hutan di Indonesia tahun 2002-2005 merupakan terbesar dan terparah di dunia. Setiap tahun menurut FAO rata-rata 1,871 juta hektare hutan Indonesia hancur atau dua persen dari luas hutan yang tersisa pada tahun 2005, yakni 88,495 juta hektare.

Data versi FAO itu kabarnya tidak valid. Berdasarkan periode pemetaan hutan tahun 2000-2005 dari Pusat Perpetaan Departemen Kehutanan, angka deforestasi hutan Indonesia turun menjadi 1,18 juta hektare. Valid atau tidak data FAO, menurut Greenpeace, hutan Indonesia yang rusak sudah 60 persen. Itu artinya , laju kerusakan, pembalakan atau deforestasi sungguh luar biasa.

tuaksatu mengatakan...

di jaman penjajahan Belanda, tak pernah terjadi perusakan semasif seperti disebutkan di atas. Belanda menganggap semua sumber daya hutan, termasuk lahan liar yang diperoleh dengan perjanjian, berada di bawah wewenangnya.

Mereka yang mau membuka lahan untuk pemukiman atau sawah harus membayar pada pemerintah sesuai Hukum Agraria atau Domeinverklaring Agrarische Wet 1870 (AW 1870). Hukum itu dinilai merusak harmoni penduduk asli, hutan dan Sang Pencipta. Meski demikian pada tahun 1788, Dirk Van Hogendorp, Residen Jepara sudah menulis dalam catatan hariannya soal mulai terjadinya degradasi hutan alam di Indonesia.

tuaksatu mengatakan...

So, bro Norman, kapitaslisme memang benar merusak hutan kita tetapi perilaku TAMAK kita telah menyebabkan ecosida hutan Indonesia yang kejam dan tak mengenal perikempohonan ...he he he he he. Salam

tuaksatu mengatakan...

"leaves that are green" is great. Duo Simon and Garfunkel are Great. Thanx

DR. Ir. L. Michael Riwu-Kaho, M.Si mengatakan...

Hooiiiii Selamat Sore Sahabat Blogger,


Terima kasih sudah mengunjungi blog dan sekaligus memberi komentar. GBU

Pertanyaan merupakan kewajiban Norman untuk mengurusinya.

Khusus untuk apresiasi atas posting musik/tembang ... yach terima kasih lah...jangan kapok dengan musik ya.....ha ha ha ha

DR. Ir. L. Michael Riwu-Kaho, M.Si mengatakan...

Norman, banyak pertanyaan dan jika sempat dijawab sebagai bentuk apresiasi terhadap para sahabat yang sudah berkomentar

DR. Ir. L. Michael Riwu-Kaho, M.Si mengatakan...

@ Khusus mas Dwi,

Apakah anda adalah bimbingan Pak Sul yang meneliti tentang bambu????? Jika benar...jabat erat dech....selamat berkarya....GBU

Anonim mengatakan...

Hutan rusak? wuuueeeccchhhhh....basiiiii....ganti Menhut......ganti presiden.....itu ajah (Binxars)

Anonim mengatakan...

Tembang legendaris oleh duo legendaris. Bravo en thanx.

ngomong-ngomong duo ini adalah duo batak...Paul Simon = Paul Simanulang + Art Garfunkel = Art Garogol-Garogooolll....ha ha ha ha HORAS (Binxars)

Anonim mengatakan...

@mas Dwi

Saya mengerti maksud anda.. Memang tentu saja saya sendiri pun tidak menafikan peran penting dari konversi hutan menjadi lahan pertanian yang tentu saja, baik tidak baik, suka tidak suka punya peran penting baik dalam skala nasional maupun dalam...hmmm... scope daerah itu sendiri.

Tapi point tulisan ini bukan disitu mas dwi. mungkin bahasa yang ingin saya sampaikan sedikit salah dalam tulisan ini, akan tetapi dengan tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa ada sesuatu yang salah ketika konversi menjadi lahan pertanian dituding menjadi salah satu penyebab laju deforestasi hutan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.. istilah sinteronnya yah... jalan ceritanya bukan seperti itu.. yang ingin saya sampaikan adalah ketika banyak lahan hutan yang banyak dikonversi menjadi lahan pertanian seharusnya tentu saja tidak ada keluhan mengenai kurangnya lahan pertanian kan? akan tetapi hal itulah yang terjadi saat ini.

sekarang tentu kita harus cerdik dan teliti melihat sebenarnya ada apa dibalik semua ini. saya memilih jawaban bahwa pembagunan yang semakin masif banyak menghabiskan banyak lahan yang seharusnya diperuntukkan bagi lahan pertanian dan lahan hutan. tentu saja, dibalik semua ini nuansa kapitalisme tidak terhindarkan lagi. atau mungkin mas dwi punya pendapat lain??

terakhir, saya minta maaf kalau dalam penulisan ini saya masih banyak melakukan kesalahan. yah... namanya juga masih belajar.

salam

(norman)

Anonim mengatakan...

@om tuak satu

beta setuju om pung pendapat.. Karena kerusakan ekologis itulah, korelasi hubungan yang seharusnya bersifat mutualisme antara lingkungan dan manusia menjadi rusak. oleh karena itulah tidak heran ketika bencana banjir, kekeringan saat musim kemarau, perubahan iklim baik secara mikro atau makro semakin masif terjadi..

(Norman)

Anonim mengatakan...

@ Binxars,

Lae ni gimana???? SAG dibilangin batak....wakakaakakikkikik....tapi ya suka-suka Lae Binxars aja deh...tapo nyimak deh ceritera gw...

Anonim mengatakan...

+ Hikayat Pendekar Batak +

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum
lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil
Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa
menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang. Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan
Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan
yang hijau siregar.

Anonim mengatakan...

Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya
banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa di antaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar "Wow, Siregar sekali hawanya" katanya, berbeda dengan kampungnya yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya.

Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun. Tampak di seberang, lautan dan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana, mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas
kolam Siringo-ringo yang akan di-Hutauruk dengan Tambunan tanah.

Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja, yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai.

Anonim mengatakan...

Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar.

"Sinaga!" teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan.
Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar.

Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan. Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib
bilang, bibirnya harus di-Panjaitan. "Hm, biayanya Pangaribuan" kata sang tabib
setelah memeriksa sejenak. "Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?" tawar si Butet. "Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil". "Jangan
begitulah. Masa'tidak Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini?" Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan ?

"Baiklah, tapi pakai jarum
yang Sitompul saja" sahut sang mantri agak kesal. "Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah".

Anonim mengatakan...

Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-bonar
ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di semak-semak dan tiba-tiba berbunyi "Poltak!" keras sekali. "Ada Situmorang?" tanya Butet sambil memegang tongkat
seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan.

Terdengar
suara pelan, "Situmeang". "Sialan, cuma kucing..." desahnya lega. Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen.

Anonim mengatakan...

Selesai berlatih, Butet-pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang
Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu dimana ada Simamora, gajah Purba yang
berbulu lebat. Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan
ruang ujian dia membaca tulisan: "Harahap tenang! Ada ujian. "Wah telat, emang udah jam Silaban sih".

Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi. Di-Tigor-lah dia sama gurunya "Butet, kau jangan ribut!, bikin
kacau konsentrasi temanmu! Butet, dengan tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunnya, "Nggak Pakpahan guru, sekali-sekali?!".

Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejangan guru Pandapotan
silatnya untuk selalu, "Simanjuntak gentar, Sinambela yang benar!

GIMANA LAE....LUBIS BIN SINAGA KHAN?????? ...PARDAMEAN DI HATILAH.....PEACE MAN.....WAKAKAKAKKKEKEKEKEKKKIKIK....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

Hutan rusak? rakyatkah penyebabnya? rakyat yang mana? mereka yang miskin biasanya tidak punya pilihan lain dan mereka cuma mengambil sesuai kebutuhan perut mereka. Yang merusak adalah rakyat kaya, lpa diri, serakah dan biadab. Entah kapitalis atau tidak (Suryana)

Anonim mengatakan...

they whiter with the wind...
they crumble ini your hand...

woowww....indah...amazing....

Anonim mengatakan...

di atas itu saya (Suryana)

Anonim mengatakan...

@ Sahabat Norman,

Coba lihat data berikut ini:

....PAGARALAM, JUMAT - Puluhan hektare hutan lindung yang ditanami pohon-pohon peninggalan zaman Belanda di daerah Selibar tepatnya di Talang Berangin, Kelurahan Selibar, Kecamatan Pagaralam Utara mulai dirambah masyarakat. Sedikitnya sekitar 50 persen dari 30 hektare hutan lindung yang masuk kawasan hutan lindung Bukit Dingin, gunung Dempo ini sudah dirambah oleh masyarakat untuk dijadikan kebun.
Kepada wartawan Lurah Selibar, Gusroni SE, Jumat (6/2) mengatakan perambahan hutan lindung didukung faktor hutan tersebut berbatasan dengan tanah milik masyarakat. Akibatnya, masyarakat terus menerus memerluas areal perkebunan memasuki daerah hutan lindung. Padahal hutan lindung ini peninggalan zaman Belanda dan memiliki aneka ragam tanaman hutan yang sudah langka seperti cemara, tenam, lagan dan sejumlah kayu yang umurnya sudah mencapai ratusan tahun lainya. (Sumber: www.dishutsumsel.go.id/2009/02/09/hutan-peninggalan-belanda-di-rambah/.

Saya sudah pasti amatlah anti penjajahan Belanda tetapi lihatlah berita di atas itu....tepat seperti kata BM....kitalah yang meremukannya....(Ismawiandari, HK, JKT)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Lama tidak berkunjung kesini...blog makin bagus...makin matang dalam berolah pikir...

Sahabat kita si gila Proxy73 sekarang sudah jadi orang "lapangan"...jadilah dia koeli...ha ha ha ha...keep on posting bro...(Ismawiandari)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

How to overcome? (Nuning)

Anonim mengatakan...

that;s cool posting: substances, music, and .... bigmike (cool guy) (Nuning)

Anonim mengatakan...

@Mas suryana

Hmmmmmm... Suatu pemikaran baru buat saya.. rakyat yang mana?? kapitalis atau tidak. saya tertarik dengan kata-kata itu

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Ismawiandari

Untuk menjawab pertanyaan tante/mbak ismawiandari saya mengcopy paste komentar dari mas suryana di atas yah "Hutan rusak? rakyatkah penyebabnya? rakyat yang mana? mereka yang miskin biasanya tidak punya pilihan lain dan mereka cuma mengambil sesuai kebutuhan perut mereka"

sengaja tidak memasukkan bagian "Yang merusak adalah rakyat kaya, lpa diri, serakah dan biadab. Entah kapitalis atau tidak". karena saya pribadi berpendapat bahwa bukan rakyat yang kaya, lupa diri, serakah dan biadab akan tetapi akar permasalahannya yah adalah urusan perut itu. ketika pertanian yang dibutuhkan untuk "urusan perut" semakin kekurangan lahan karena lahan yang seharusnya diperuntukkan bagi lahan pertanian malah dibangun gedung, perumahan, dsb makanya lahan hutan yang dikonversi. untuk itulah tulisan ini saya buat. jadi ketika konversi hutan menjadi lahan pertanian dikatakan "gila-gilaan" oleh salah seorang kawan blogger di atas sebenarnya tidak serta merta kita menyalahkan konversi hutan menjadi lahan pertanian begitu saja.

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Nuning

How to overcome?? jawabannya banyak. tapi kalau disesuaikan dengan tema tulisan ini, saya memilih menjawab :
Pembangunan harus sesuai dengan proporsinya. dalam artian bahwa jangan mengkonversi lahan hutan dan lahan pertanian. Tapi, poin ini menjadi masalah baru ketika pembangunan itu ternyata dibutuhkan karena pertumbuhan populasi penduduk yang semakin meningkat, kebutuhan masyarakat, dsb. Itulah tugas pemerintah untuk merancang pembangunan yang sesuai, lahan hutan dan pertanian yang tetap tersedia.

ada yang mau menambahkan??

(norman)

Bigmike mengatakan...

thanx sahabat blogger, terima kasih yang sudah berkunjung dan beromentar. Saya meilhat bahwa Norman juga telah berusaha menjawabrapa klarifikasi atas beberpa hal yang dikomentari sahabat sekalian. Ah, menyenangkan. GBU

Bigmike mengatakan...

@ Adik Vecky RK (Wilmana):

2 minggu belakangan kurang sehat. Ada rencana mau ke Jogja terus ke Jakarta sekalian minta diobati oleh "mbah BIR - Bunga Imanuel Riwu Kaho" di pengadegan untuk sakit penyakit yg amat mengganggu ini.

Karmencong dong bae-bae ko? OK, GBU

Bigmike mengatakan...

Dear all, khususnya yang berada di Kupang.

Di oengantar posting ini saya menyinggung tentang what's going on with sorrow.....saya meneyebutkan juga tentang, mengutip duo SAG.....they are crumbe in our hand...saya "berpantun" bahwa kitalah yang mengundang si sorrow itu....Nah beriut adalah salah satu contoh betapa kita sendirilah yang mengundang si sorrow....

VIDEO MESUM GURU - MURID DI KUPANG

KUPANG, SENIN — Adegan video mesum yang menggambarkan hubungan intim antara seorang guru dan muridnya ramai beredar luas di kalangan siswa SMU Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). "Saya juga baru mendengar laporan adanya video mesum tersebut yang diputar oleh anak-anak sekolah lewat telepon genggam. Malah di tempat saya, ada siswa yang memutar video mesum berdurasi 30 menit itu dalam ruang kelas saat pelajaran sedang berlangsung," kata Kepala SMK Uyelindo Kupang, Tery Seran Narith, Minggu (1/3).

Ia mengemukakan hal ini setelah empat orang siswa SMK Uyelindo Kupang diringkus aparat Polsekta Oebobo Kupang, Sabtu (28/2), ketika kepergok sedang memutar video porno lewat kamera telepon genggam. Diduga kuat, pelaku perbuatan mesum yang diabadikan lewat kamera telepon genggam itu adalah seorang guru dengan siswa sebuah sekolah di Kota Kupang.

Saat ini, aparat kepolisian sedang melacak pelaku perbuatan mesum tersebut karena sudah beredar luas dan menjadi bahan pembicaraan para guru dan murid di kota ini.

"Masalah video mesum itu menjadi pembicaraan hangat para guru di Uyelindo. Kami serahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada aparat kepolisian untuk melacaknya setelah mengamankan empat orang siswa yang tertangkap tangan sedang memutar video porno tersebut," kata Tery Seran.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, kata Kepala SMK Uyelindo Kupang, video mesum yang diduga menggambarkan hubungan intim antara seorang guru dan murid itu sudah beberapa kali diputar di dalam ruang kelas oleh siswa yang diamankan polisi itu.

Melihat rekaman video tersebut, diduga kuat adegan porno dilakonkan seorang guru dan siswa di sebuah aula sekolah. Namun, pelaku adegan mesum itu belum diketahui identitasnya. Saat ini, aparat kepolisian masih melacaknya.(http://regional.kompas.com/read/xml/2009/03/02/11571486/video.mesum.guru-murid.beredar.di.kupang..)

Siapa yang mengundang si sorrow? kita sendiri ternyata.....

Norman, perhatian betul hal ini!!!!!! Pandailah meniti buih....bawalah TUHAN dalam setiap tindakan....

Anonim mengatakan...

@ Bung Norman,

Baru-baru harian Kompas, 14 Februari 2009, mengutip pernyataan ketua umum Forum DAS NTT. DR. Michael Riwu Kaho (bung Norman pasti kenal orang ini he he he he) yang mensinyalir bahwa NTT terancam proses penggurunan (desertifikasi), penyababnya adalah mismanagement SDA. Bagimana komentar bung Norman? (13, CN, NKT II)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Lagu yangt mantap sekali...thanx (13, CN)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Wah agak telat mengikuti posting ini. Hutan rusak? saya kira kapitalisme - serakah - ada perannya dalam hal ini. Lihatlah krisis finansial dunia yang dpicu oleh kapitalisme-serakah (Eman)

Anonim mengatakan...

Tentang kkerusakan hutan NTT,

Kita ikuti pikiran Bigmike daam seminat PDAS di Hotel Sylvia, Kupang. Jejak kapitalisme ternyata ada juga. Tambang marmer di Tunua, TTS. Kontrak karya penambangan di Sumba yang mencakup wilayah hutan konservasi.

Tapi yg paling gawat...mengutip BM berdasarkan persamaan regresinya....ternyata mental proyek diam-diam mulai diidap oleh masyarakat lokal yang ditulari oleh korupsi dan keserakahan pengelola proyek.

DI Pos ku[ang tahun lalu terbetik berita bahwa masayarakat dibayar untuk menanam. Masyarakat menanam dan menikmati uang proyek tetapi tanaman diganti kembali dengan jagung. Ada kagi, demi mendapat uang masyarakat menebang hutan asli dan ditanam dengan jenis tnaman baru padahal tanaan baru itu tidak tumbuh. Hutan terlanjur gundul.

Jelas sudah, penyakit serakah yang secara laten dibawa oleh kapitalisme menyebabkan kerusakan hutan (Eman, CN, Oebufu)

sastavyana blog's mengatakan...

@ Norman,

Jalan keluar: moratorium penebanangan hutan. Bagaimana????

sastavyana blog's mengatakan...

@ Bigmike,

Hidup adalah anugerah . Karena Dia yang Maha Pemberi itu hidup .. kita di dalamNya . Rejeki , dibagikan sesuai dengan bagiannya masing - masing . Sakit adalah anugerah . Cobaan adalah anugerah. Bahagia , derita adalah anugerah. Semuanya akan berulang kembali, tak ada yang baru di jagad raya milikNya. Hanya berubah bentuk, dari satu bentuk kehidupan menjadi bentuk kehidupan yang lainnnya, sekehendakNya.

Syukurilah sakit, kesulitan, penderitaan yang diterima, karena dengan semua itu kita semua didewasakan, menjadi kuat, dari waktu ke waktu. Sebongkah intan, mulanya tak lebih dari sepotong arang yang terkubur, didekap keras dan dipanasi bumi, digali lalu dibersihkan, dibentuk, diasah, dengan keras namun seksama. Ditempatkan, baru bisa dinyatakan bernilai, jika ada yang mau menghargainya .

Kita semua adalah intan. Semua yang ada di jagad raya berharga.

What going on with sorrow???? Sorrow is one little part of our whole amazing life.

sastavyana blog's mengatakan...

wah, koleksi tembang bigmike luar biasa nih...indah dan menawan....great music....bravo

Anonim mengatakan...

Hutan NTT rusak karena ....

1. Korupsi
2. serakah
3. Proyek sentris
4. Kemiskinan
5. Kebodohan
6. Ketidakperdulian

Jalan keluar:
1. pendidikan
2.Penegakan hukum yang bersih
3. good governace
4. pertobatan

(Julius)

Anonim mengatakan...

Simon dan Grafunkel luar biasa...pilihan lagu yang pas...thanx (julius)

Anonim mengatakan...

@ 13, CN

wah Kaka 13, CN soal missed management SDA, khususnya SDA hutan rasa-rasanya saya belum komprehensif untuk menjawabnya. ilmu saya masih cetek. Hehhehehe.

tapi (entah benar atau tidak jawaban saya) saya akan mencoba menjawabnya yah.

berdasarkan Data, luas kawasan hutan di NTT mencapai 1.809.990 ha 32,21 persen dari luas daratan. akan tetapi, Sampai saat ini luas lahan kritis mencapai 2. 109.496 ha (44,55 persen dari luas daratan). kenapa bisa seperti ini?? Kondisi ini bisa saja sebagai akibat dari rendahnya keberhasilan program revegetasi (reboisasi dan penghijauan) dan tingginya tekanan penduduk terhadap lahan tanpa memperhatikan aspek konservasi. Selain itu, kurangnya masukan teknologi tepat guna. Atau bisa pula diartikan sebagai missed management SDA hutan.

Akan tetapi, dengan sudut pandang yang lain, saya memandang missed management di NTT bahwa ada kesalahan persepsi baik pengelola kehutanan di NTT atau masyarakat bahwa yang harus dikelola di NTT adalah hutan. Akan tetapi, kita jangan lupa hutan disini tidak hanya berupa hutan primer akan tetapi juga savana. kita kaya akan savana. entah itu, sebagai padang penggembalaan atau sebagai lahan berladang. saya tidak tahu pasti, akan tetapi saya berpendapat savana di NTT cenderung tidak diperhatikan.. contoh kecil saja, apa ada data luas savana di NTT oleh statistik atau bappeda NTT?? tidak ada. yang ada cuma luas padang rumput. padahal savana merupakan pencampuran antara padang rumput dan pohon yang terintegrasi di dalamnya.

bapa BM dalam disertasinya mencoba memperkirakan luas savana di NTT bahwa luas savana NTT adalah ± 2.3 juta ha. dimana savana adalah matriks utama padang penggembalan. wow... suatu angka yang sangat besar. Sungguh mengehrankan ketika "anugerah" tuhan di sia-siakan begitu saja. oleh karena itu, kita (masyrakat dan pengelola hutan di NTT) mesti memberi perhatian sedikit lebih pada savana, selain hutan yang ada pun kita kelola. INGAT, itu baru kita berbicara tentang ketiadaaan data savana yang jelas, belum soal program-program pengelolaan savana yang entah ada atau tidak. (kalau ada tolong beritahu saya).

sedikit cerita, dosen saya setiap kuliah padang penggembalaan selalu "mengagung-agungkan" nama NTT karena kita dikarunia savana yang sangat luas. Jadi sebenarnya NTT bukanlah "Nasib Tak tentu" atau "nanti Tuhan Tolong" tapi kita sendirilah yang belum mengelola salah satu "anugerah" Tuhan tersebut. Iklim semi arid atau semi kering dipandang sebagai masalah akan tetapi itulah salah satu faktor pendukung eksisnya savana di NTT. yang ingin saya katakan Kita ini pun punya potensi (sayangnya tidak dikelola).

Akhir kata, Maaf kalau beta salah menjawab. masih belajar. maklum sa. HeHeHe

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Julius

kaka, beta setuju kaka pung alasan Hutan NTT rusak karena ....

1. Korupsi
2. serakah
3. Proyek sentris
4. Kemiskinan
5. Kebodohan
6. Ketidakperdulian

TAPIIII, ada tapinya

Jalan keluar:
1. pendidikan
2.Penegakan hukum yang bersih
3. good governace
4. pertobatan

Itu semua jalan keluar pung susah lai..
nah sambil tunggu itu bisa terwujud, Mari kitong manyanyi lagu Koes Plus sa "kapan-kapan......." HeHeHe

(norman)

Anonim mengatakan...

@sastavyana blog

Jalan keluar: moratorium penebanangan hutan. Bagaimana????

Hmmmmm..... Moratorium atau jeda pembalakan hutan itu saya setuju. suatu konsep yang baik. Perhatikan kata "suatu KONSEP yang baik". kenapa saya katakan konsep?? karena hanya tertulis di atas kertas, implementasi di lapangan susah. Oleh karena, apabila hutan masih dipandang sebagai "emas hijau" masih susah dilaksanakan moratorium itu. Kenapa susah?? karena terlalu banyak "tangan-tangan yang bermain" di sektor kehutanan Indonesia. mau salahkan siapa?? pemerintah yang mengeluarkan kebijakan? pejabat yang membantu meloloskan peraturan perundangan? cukong yang punya modal usaha? atau masyarakat kecil yang melakukan logging demi mendapatkan uang dan sesuap nasi??

maaf kalau saya agak apatis, tapi seperti itulah yang terjadi. sekarang pertanyaannya bagaimana?? bagi saya satu hal yang harus dilakukan adalah Perbaiki moralitas bangsa kita dan kita sendiri. pertanyaan baru muncul. emangnya Bisa?? silahkan jawab sendiri.

Anonim mengatakan...

@ Norman,

sebagai calon intelektual, lu tida bisa hanya apatis....pikirkan jalan keluar...mungkin bukan yang terbaik tetapi yang patut diwacanakan ....tugas intelektual ya begitu itu...jangan mau kalah sama lu pug bapa...ha ha ha ha...selamat belajar eee....(A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Ama Ludji,

lagu pung enak laiii...mantap...beta ingat duet lu deng edi sugiarto jaman dulu eeeeee....ha ha ha ha ha....edi kan tergolong jakrib...jawa kribo macam ke garfunkel kan??? ha ha ha ha...(A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

thanx for "leaves that are gree"...banyak "mutiara" dalam lagu ini...hebat deh...lav ya guy.....(Elizahayu)

Anonim mengatakan...

Hutan NTT sudah tidak ada lagi...heran, sabu yang kering bisa hujan dan banjir...1 orang tewas teseret banjir di sungai loko ha'u, desa raelolo ....(Savunesse)

Anonim mengatakan...

ahli kehutanan dan sungai sembunyi terus di "balik" dinding kampus....minimi A'a Tana (Savunesse)

Anonim mengatakan...

@om a9ust

Beta pung maksud bilang skeptis bukan apatis.. memang susah e... orang sabu, bukan hanya lidah yang tafeo tapi tangan ju "tafeo" ketik.

Wah, tapi beta dola-dali ne kayaknya bukan karna beta orang sabu ne ma, tapi gara-gara di beta pung darah ju mengalir darah rote jadi beta bisa taputar

Huahahahaha

(Norman)

Anonim mengatakan...

@ ama savunesse

maaf ama, beta sedikit luruskan ada sedikit salah persepsi sedikit. orang sering bilang ada hutan pasti ada air atau yang seperti ama bilang ada hutan pasti bisa meminimalkan banjir. beta ju dulu pikir begitu. padahal dengan tidak hutan, laju erosi akan semakin meningkat dan bahaya limpasan permukaan pun semakin meningkat. ini dikarenakan hutan berguna menahan butiran hujan langsung ke tanah sehingga menurunkan bahaya erosi dan limpasan permukaan. serta dengan adanya perakaran pohon2 di hutan, air bisa terserap ke tanah sehingga bisa menurunkan tingkat bahaya banjir.

Soal "ahli kehutanan dan sungai sembunyi terus di "balik" dinding kampus".. mungkin bapa Ludji yang patut jawab, tapi kalau menurut beta para ahli kehutanan dan DAS sudah bekerja, ini ditunjukkan NTT merupakan salah satu (kalau tidak mau disebut satu-satunya) daerah di Indonesia yang punya Perda tentang DAS.. hanya saja, pekerjaan itu belum maksimal karena antara lain masih kurangnya tenaga ahli dan pertisipasi masyarakat yang masih kurang yang disebabkan SDM yang masih rendah, dsb sehingga ada kesan seperti yang ama savunese katakan.

(norman)

johanes mengatakan...

@ Rekan Penatua Bigmike,

Syalom!!!!!

Saya baru beberapa hari memimpin ibadat penghiburan di rumah seorang jemaat. Sudah barang tentu temanya berkaitan dengan penderitaan. JANGAN LUPA, kita sebagai Kristiani sedang berada dalam minggu PENDERITAAN TUHAN KITA, YESUS KRISTUS.

Apa perspektif Kristiani tentang penderitaan (Theodicy)?

johanes mengatakan...

Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan adalah fakta, bukan imajinasi atau ilusi. Seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru penuh dengan kisah penderitaan. Ada penderitaan sebagai akibat dosa. Oleh karena itu, Rasul Petrus mengingatkan agar umat Tuhan yang tersebar di perantauan (diaspora) jangan menderita karena dosa (1Pet.2:20). “Jangan ada yang menderita sebagai pembunuh, pencuri, penjahat, pengacau” (1Pet 4:15).

johanes mengatakan...

Kedua, Alkitab juga menegaskan bahwa tidak semua dan tidak selamanya penderitaan karena dosa. Baik Tuhan Yesus, maupun Rasul Petrus menyebutkan adanya penderitaan karena beriman dan taat kepada Kristus (1Pet 4:14; Mat 5:11), atau menderita sebagai orang Kristen” (1Pet 4:16). Barangkali, kisah yang paling jelas dan dikenal oleh umat Tuhan adalah kisah Ayub, yaitu seorang yang digambarkan Alkitab sebagai orang yang saleh, jujur, dan takut akan Allah (Ayub 1:1). Namun, kita membaca penderitaan Ayub, yang menderita penyakit sangat parah, yaitu barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. (Ayub 2:7).

johanes mengatakan...

Ketiga, Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan yang dialami oleh umat-Nya, terjadi di dalam kedaulatan Allah yang memelihara ciptaan-Nya (Ayub 1:6-12; 21-22). Dalam Perjanjian Baru, kita membaca penegasan Tuhan Yesus tentang akhir hidup Rrasul Yohanes yang sepenuhnya berada dalam pengetahuan dan kontrol Allah (Yoh 21:20-22). Pemeliharaan dan keterlibatan Tuhan Yesus dalam diri umat-Nya terlihat dengan jelas dari penegasan Tuhan Yesus bahwa rambut di kepala pun tidak jatuh di luar kehendak-Nya (Mat 10:30).

johanes mengatakan...

Dengan mengidentifikasikan alasan-alasan penderitaan maka sekarang kita tahu apa yang yang harus kita lakukan menghadapi penderitaan:

1. Bertobatlah dari dosa (Wah. 2:5: "Sebab itu, ingatlah betapa jauh kalian sudah jatuh! Bertobatlah dari dosa-dosamu, dan lakukanlah apa yang kalian lakukan semula. Kalau tidak, maka Aku akan datang kepadamu dan mencabut kaki lampumu itu dari tempatnya".

2.Tenang dan berbahagialah dalam penderitaan karena Kedaulatan Allah. "Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu (1Pet 4:13-14)".
Apa dasarnya untuk bersukacita? Rasul Petrus menjawab dengan dua alasan penting, yaitu bersukacita karena diikutsertakan mendapat bagian dalam penderitaan Kristus (1Pet 4:13). Selanjutnya, bersukacita karena ketika menghadapi penderitaan yang demikian, Roh Kemuliaan akan mendiami diri (1Pet 4:14)

3. Pasrah dan berserah sepenuhnya kepada Allah. Rasul Petrus menulis: “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1Pet 4:19). Dengan demikian, ketika orang benar mengalami berbagai kesulitan, tantangan dan penderitaan lainnya, tidak perlu berhenti melakukan kebaikan dan kebenaran.

johanes mengatakan...

@ Norman,

Berdasarkan uraian di atas maka sekarang kita bisa menyimpulkan bahwa Jika hutan rusak maka:

1. Bagi perusak, bertobatlah segera sebelum amarah Tuhan menghampirimu.

2. Semua kita, teruslah berbuat baik. Mahasiswa seperti Norman, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya supaya tahu bagaimana cara melakukan pencegahan dan perbaikan kerusakan hutan. Dosen dan ilmuwan seperti bigmike, kembangkanlah ilmu dan ajarkanlah pada masyarakat supaya kerusakan huatn bisa dicegah dan ditanggulangi. Polisi dan aparat lain, tegakan hukum, keadilan dan kebenaran. Tangkap semua pelaku kerudakan hutan tanpa pandang bulu. Tanpa terima sogokan.

Maaf, saya tidak mengerti kehutanan tetapi itu pendapat saya. Semoga bermanfaat. GBU

johanes mengatakan...

@ Bigmike,

Lagu yang diposting sungguh mengena. Amat merdu karena harmonisasinya dahsyat. Dua yang hebat. Syalom

Anonim mengatakan...

@om Johanes

Terimakasih om. tapi soal "Bagi perusak, bertobatlah segera sebelum amarah Tuhan menghampirimu"... saat ini, semua manusia, baik itu perusak atau tidak, turut merasakan "amarah" alam yang ditunjukkan bencana banjir, kekeringan, longsor, perubahan iklim, dsb.. itu baru "amarah" alam.... belum yang seperti om johanes katakan "sebelum amarah Tuhan menghampirimu"

(norman)

johanes mengatakan...

ha ha ha ha ...kritis...kritis...tapi itulah tugas untuk mereka yang tinggi ilmu dan tinggi iman untuk terus berbuat baik...menolong mereka yang menderita....Tuhan sudah mengatur begitu rupa...ketika ada yang terkena penderitaan dan dia tetap berserah pada Tuhan maka ada penolong yang disediakan, ya siapa lagi jika bukan sesamanya yang diberkati TUHAN.

Itulah urgensinya terus berbuat baik. Syalom

johanes mengatakan...

@ Bigmike,

Usul, coba pindahkan posting di blog mike@music...tentang ntt dan gurun ke blog ini...pasti bagus....Syalom

Bigmike mengatakan...

Ha ha ha Norman,

Welcome to club 100's

jabon mengatakan...

ok