Selasa, 24 Februari 2009

"doktor ludji".....nama itu pertama kali dipanggil oleh prof Sulthoni pada 24 Februari 2005

Dear sahabat blogger,

Hari begini, Februari 24 2005, di ruang besar PPS UGM itu, saya mengingat dengan baik kata-kata lembut, perlahan dan amat tenang yang keluar dari sosok seorang profesor tua yang teramat sederhana. Kalimat yang tak dapat saya lupakan itu berbunyi begini:

...... dengan memperhatikan semua nilai dan proses yang sudah ditempuh maka dengan ini kami nyatakan bahwa saudara ludji michael riwu kaho dinyatakan lulus dengan predikat cum laude......doktor ludji, begitulah saudara akan dipanggil dan dengan perasaan bangga, sayalah orang pertama yang memanggil saudara dengan nama itu .......

Seingat saya ........ saya langsung mengepalkan tinju tangan kanan saya dan ....wwwaaaooooo.......sambil meloncat tinggi ke udara saya berteriak keras.....YeSSSSSSSS........ha ha ha ha ha .... saya kira sikap yang ganjil dan belum pernah terjadi sebelumnya. di UGM yang berwibawa dan penuh unggah-ungguh itu .......lalu .... saya melirik ke samping kanan saya ...... ibunda terlihat terisak menangis ...... di mana "SGT", sang ayahanda tercinta berada? beliau tidak lagi terlihat berada di kursinya ........ waaaaallllaaaaaahhhh....beliau tampak sedang tersungkur sujud sukur sambil mencium lantai aula itu sambil menangis ...... dan ketika pandangan saya alihkan kembali ke depan tampaklah .....waaaduuuhhhhh......para guru besar penguji itu beramai-ramai tertawa melihat tingkah laku saya......dan........wuuuiihhhh......prof Sulthoni dengan senyum kecil......tetap tenang....menepuk-nepuk tangan dan..... menatap saya sambil, seolah-olah, berkata ....... bocah iki edan tenan ...... ha ha ha ha ha ha ha ha.....takkan akan saya lupakan semua itu....tak mungkin saya lupa kan tingkah laku saya yang agak katrox, ibunda yang menatap terisak dan haru, dan ayahanda yang...hhhhmmhhhh.... rasanya tak kalah katrox dibandingkan anak lelaki nomor duanya .... ha ha ha ha....dan sudah barang tentu senyum simpul profesor Sulthoni.....

Sekarang, 24 Februari 2009, persis 4 tahun setelah episode yang saya ceriterakan di atas, apa yang tersisa? SGT pergi sudah. Ibunda menyusulnya. Dan, beberapa hari lalu saya mendengar dan membaca berita berikut ini:

Jumat 20 Februari 2009, Keluarga Besar UGM melepaskan salah satu Guru Besar terbaiknya yang telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Pada pukul 13.30 WIB, bertempat di Balairung UGM, Keluarga besar Universitas Gadjah Mada melepaskan Guru Besar Emeritus Fakultas Kehutanan (FKT) UGM Prof. Dr. Ir. Achmad Sulthoni, M.Sc yang meninggal dunia di usia 76 tahun pada kamis malam (19/2) pukul 21.35 WIB di rumah sakit Dr Sardjito, Yogyakarta. Mantan Dekan Fakultas Kehutanan UGM ini, dimakamkan hari itu juga pukul 14.00 WIB di peristirahatan terakhir Makam Keluarga UGM Sawitsari, Sleman, Yogyakarta. Sebelumnya, jenazah terlebih dahulu disemayamkan di Balairung UGM untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari Keluarga Besar UGM.

Prof Dr Ir Achmad Sulthoni M.Sc lahir di Wonodadi, Banjarnegara, 31 agustus 1932, menempuh pendidikan SR VI Banjarnegara 1946, SMPN Banjar Negara 1950, SMAN Purwokerto tahun 1953. Lulus sebagai Sarjana FKT UGM 1962, raih Master di Michigan State University, Amerika, tahun 1962, dan mendapat gelar Doktor di FKT UGM tahun 1988.

Semasa hidupnya, pernah menjabat Pembantu Dekan II tahun 1960-1962, Sekretaris Fakultas 1969, Dekan tahun 1975, Ketua Seksi Perlindungan Hutan 1976, Ketua Jurusan Pembinaan Hutan 1978, dan Sekretaris Senat Fakultas 1985. Almarhum pernah juga meraih penghargaan Adiyuswa Entomologiwan Indonesia dari Pengurus Pusat Perhimpunan Entomologi Indonesia di tahun 1997, Satyalancana Karya Satya Kelas II dari Presiden RI di tahun 1993 dan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden RI di tahun 1998. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

Ya, Profesor Achmad Sulthoni sudah pergi. Beliau adalah Promotor saya dalam meraih gelar Doktor dalam bidang ilmu Kehutanan. Mula-mula hubungan kami murni profesional antara guru dan murid. Saya memerlukan transfer ilmu kehutanan, khususnya Perlindungan Hutan, dari Prof. Sulthoni. Lebih khusus lagi ilmu dalam bidang keahlian forest fire management. Akan tetapi lama-kelamaan hubungan itu berkembang menjadi semacam hubungan batin yang lebih erat. Layaknya bapak dan anak. Beliau terlibat cukup intens mengamati perilaku saya yang menurut beliau...ahaaaaa....agak grusa grusu, sedikit bandel dan cenderung berpakaian seenaknya. Keadaan ini amata terasa terutama setelah saya sempat berkeluh kesah tentang situasi "kehabisan sumber daya".

Pak Sulthoni lalu mulai secara aktif mengkomunikasikan masalah saya ke semua ko-promotor, penilai dan pihak-pihak di Fakultas Kehutanan dan PPS UGM. Tertolong nama besar beliau di Fakultas Kehutanan dan Program Pascasarajana UGM maka banyaklah kelancaran yang saya alami. Jadwal pemeriksaan draft, ujian komprehensif, ujian tertutup, dan ujian terbuka berlangsung tanpa hambatan berarti. Saya pun menanggapi usaha beliau dengan bekerja sangat keras. Draft disertasi saya siapkan secepatnya. Perbaikan draft demi draft saya kerjakan tidak pernah lebih dari 2-3 hari saja. Pak Sul, begitu saya menyapanya secara akrab, bahkan memberikan catatan khusus bahwa ...apakah saya tidak merasa lelah? apakah semua saran perbaikan sudah dikerjakan sebaik-baiknya? .... memang harus diakui, sekiranya saya sekarang diminta untuk mengulangi proses mengejar waktu ujian disertasi maka jawab saya adalah NO WAY....terlalu lelah....saya nyaris tak pernah tidur selama hampir 2 bulan dan...coba anda bayangkan.....draft disertasi 638 halaman harus saya selesaikan dan lalu harus saya kutak-katik kembali mengakomodir berbagai saran perbaikan dari 9 orang guru besar sampai diperoleh bentuk akhir yang siap untuk diujikan.

Dan yang mengharukan adalah hampir setiap hari Pak Sul menyempatkan diri untuk menelefon saya untuk memantau pekerjaan saya dan mengingatkan .... jagalah kesehatan. dan jangan lupa beristirahatlah sejenak ....... padahal beliau sendiri sebenarnya tergolong kurang sehat karena 2 kali dirawat di RS karena sakit jantungnya. Satu minggu sebelum pelaksanaan ujian terbuka (promosi) saya dipanggil oleh beliau. Saya berpikir akan mendapatkan beberapa tambahan saran atau koreksi guna menyempurnakan Disertasi. Tapi ternyata bukan itu melainkan ini.....saudara Ludji, saya mohon perhatian dari saudara ... kalau bisa berpakaianlah yang agak rapih pada saat Promosi nanti. ...... Saya harap saudara tidak mengenakan celana jeans dan sepatu boot....saya mohon, sekali ini berpenampilan lebih rapih yaaaa.......huaaaaa ha ha ha ha ha ha....saya tertawa sekaligus agak malu karena memang tampilan keseharian saya adalah persis seperti amata Prof Sulthoni.....amburadul.....ha ha ha ha ha......Saya pun terharu atas perhatian beliau yang begitu akrab terhadap saya. Dan, terjadilah yang sudah terjadi pada tanggal 24 Februari 2005 itu. Satu tonggak sejarah dalam hidup saya tertulis sudah.

Lalu, apa makna semua ini? Ada banyak cara untuk mengatakannya tetapi saya memilih yang berikut ini:

Hampir semua mereka yang paling berjasa mengantar saya hinga dapat memasuki dunia akademik dengan derajat tertinggi tak ada lagi di dekat saya. Ayahanda "SGT", Ibunda dan Pak Sul sudah pergi. Tinggal saya di sini. Saya menafsirkan bahwa memang saya "dikaderkan dan dipersiapkan" oleh semua yang terkasih itu untuk bekerja melanjutan semua apa yang mereka kerjakan. Saya dipersiapkan untuk menjadi pelari estafet berikutnya yang harus menerima tongkat tugas:

SGT yang terobsesi dengan dunia pendidikan dan Gereja.
Ibunda yang memberi teladan tulus nrimo ing pandum.
Pak Sulthoni yang bercita-cita agar dunia pendidikan Kehutanan di Indonesia mulai memikirkan paradigma konservasi sebagai sokoguru

Bagaikan pelari estafet, semua mereka telah menyelesaikan tugasnya masing-masing. termasuk menempa saya agar dapat berfungsi sebagai pelari berikutnya. Dan saatnya sekarang, bagi saya yang tak lagi didampingi mereka, untuk terus berlari.....berlari.......berlari ...dan berlari. ... guna menyelesaikan semua tugas mereka sembari memperiapkan pelari estafet berikutnya. Apakah ada pilihan lain bagi saya? Tampaknya tidak. Hanya ada 1 tindakan, yaitu mulailah saya menggenggam erat tongkat estafet lalu berlari kencang di lintasan hidup sambil berdoa meminta pertolongan Tuhan agar tercapai apa yang diniatkan. Saya akan berlari dan memang harus terus berlari sambil mengenang kembali pidato Pak Sul pada saat inagurasi gelar Doktor bagi saya, di tanggal 24 Februari 2005 itu...

Doktor adalah orang yang memikirkan apa yang tidak dipikirkan oleh orang lain...
Doktor adalah orang yang mengerjakan apa yang hanya dilihat oleh orang lain setiap hari...


Terima Kasih Pak Sul....
Selamat Jalan....

Tabe Tuan Tabe Puan

67 komentar:

Bigmike mengatakan...

Dear sahabat blogger,

Saya memilih untuk menulis tentang almarhum Prof. Achmad Sulthoni. Beliau berpulang tanggall 19 Februari 2009 dan dimakamkan pada tanggal 20 Februari 2009.

Beliau adalah Promotor saya yang termat baik. Terakhir, pada bulan Agustus 2008 beliaulah yang berjasa memberikan rekomendasi kepada Norman, penerus DNA saya, guna dapat diterima di PPS UGM ehutanan.

Kami sekelurag berhutang budi kepada Pak Sul.

Selamat Jalan Pak Sul
Selamat membaca bagi sahatan blogger

Bigmike mengatakan...

ada pernyataan pak Sul yang disampiakan pada saya ketia pertama kali meminta kesediaan beliau sebagai promotor disertasi saya. Kata-kata itu sangat mengisnpirasi saya hingga kini.

Bunyinya begini:

Manusia seharusnya menjadi pelaku aktif pelestarian alam karena dia adalah alam itu sendiri

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Posting yang sederhana tetapi penuh makna. Sekali lagi, begitulah bigmike.

Beberapa hari yang lalu saya terlibat percakaan di blog seorang sahabat. Kebetulan dia baru saja menyelesaikan program doktornya. Kata saya, ada kecenderungan sekarang ini orang “Mengambil gelar doktor, adalah gaya hidup.”

Seharusnya, jika menggunakan kalkulasi sederhana dari sudut pandang materialistik, pengaruh gelar doktor terhadap pendapatan tidak signifikan dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan. Persis seperti hobi seorang mengoleksi barang antik untuk koleksi, bukan untuk dijual lagi.

Gaya hidup membuat seorang kolektor merogoh kantungnya dalam-dalam untuk menambah koleksi.

tapi apa yang terjadi sekarang? Orang menggunakan gelarnya untuk tujuan-tujuan politilk dan "dagang".

Agak menyedihkan melihat banyak penginjil-penginjil yang amat sangat sibuk mencantumkan gelar doktornya berderet-deret. Untuk apa? Supaya laku diundang dengan buaya yang berjuta-juta. Harusnya kita sedih dengan gejala itu.
(Fransiska)

Anonim mengatakan...

eh iy, ikut berduka cita meninggalnya promotor Prof Sultoni yang baik hati itu (Fransiska)

johanes mengatakan...

Wah senangnya membaca posting artikel ini. Mengharukan dan sangat menggambarkan "kebaikan" hati. Dikaitkan dengan posting sebelumnya, kebaikan di sini mungkin tergolong kebaikan bertipe "bonum honestu".

Saya kira inilah hal yang perlu dicontoh oleh kita semua. Perbedaan tidak menghalangi kebaikan. Bagus. Amat bagus

johanes mengatakan...

hal berikutnya adalah tentang gelar Doktor.

Gelar ini bukanlah gelar sembarangan. Di peradaban Eropa purba yang telah menyerap 1001 unsur luar semisal Ibrani dan Yunani, tiap orang yang dikerumuni sejumlah orang lain yang mendengarkan dan mengikuti wejangannya disebut doktor, dominus atau magister.

Jika adat purba ini kini ditiru di Indonesia, maka setiap ketua partai, suhu pencak silat, atau bos apa saja, barangkali memang berhak disebut doktor, tanpa perlu membeli titel doktor atau profesor yang konon seharga Rp 5 juta itu. Doktor tipe ini saya sebut saja doktor kelontong

johanes mengatakan...

Tapi doktor masa kini tidak meniru doktor era purba itu. Doktor saat ini mengacu pada doktor titel akademis yang mulai digunakan sekitar abad XII saat universitas-universitas pertama di Eropa didirikan.

Menurut Erman Horn (Leipzig, 1904), Denifle (Berlin, 1885), Kaufmann (Stuttgart, 1888), Rasdhall (Oxford, 1895), Laurie (New York, 1898), Battandier (Paris, 1906), dan Douglas J Potter (New York, 1909).
jadi , gelar doktor itu mengacu mutu keilmuan dan semua interelasinya di sektor pendidikan. Doktor adalah mereka yang "berwenang mengajar di mana pun secara absah. Bahasa latinnya adalah jus ubique docendi.

johanes mengatakan...

Bahwa doktor bersangkut-paut dengan jagat mulia guru, mungkin berakar dari sejarah gereja. Doktor (Latin, docere = mengajar) adalah orang yang berwenang mengajar.

Kata "doktor" telah muncul dalam Perjanjian Lama. Deuteronomium misalnya, menyebut mereka berada "di antara para pangeran dan nenek-moyang." Juga, ada tersurat: "Lama sekali Israel tanpa Tuhan yang sejati, tanpa imam doctore, dan tanpa hukum" - absque sacerdote doctore, et absque lege (II Tawarikh 15:3).

Di masa Yesus (historis) hidup, penegakan hukum atau order sosial berada di pundak para "doktor." Dalam pada itu, di dalam Talmud juga disebutkan guru-guru Yahudi yang memperoleh titel doctor gemaricus dan atau doctor mischnicus.

Jadi, jika Bigmike ingatlah, karunia anda itu berganda. Talenta anda itu berganda. Bigmike adalah penatua tetapi bukan sembarang penatua tetapi juga seorang docere atau doktor. Nah, kembangkanlah talenta itu dan gunakanlah untuk melayani Tuhan dan jemaatNya.

Syalom

Anonim mengatakan...

Buju Buneng! Hebat amat pak Yohanis ini! eh Maaf! Pak Doktor Yohanes (mestinya)!!

(Budhi Suto)

Anonim mengatakan...

(alm) pak sul: "Doktor adalah orang yang memikirkan apa yang tidak dipikirkan oleh orang lain... Doktor adalah orang yang mengerjakan apa yang hanya dilihat oleh orang lain setiap hari..."

saya amat terkesan dengan kata-kata pak sul ini. namun, merefleksi komen sahabat fransisca, apa kita perlu banyak doktor??? di negeri ini banyak doktor tp makin terpuruk. mungkin kami tdk perlu banyak doktor. negeri ini perlu org yg mau bekerja; bukan demi diri sendiri tp bagi sesama dan tuhan.

"berbahagialah mereka yg tidak bergelar doktor tp memikirkan apa yang tidak dipikirkan oleh orang lain dan mengerjakan apa yang hanya dilihat oleh orang lain setiap hari."

(joshua)

Anonim mengatakan...

@ Sahabat mudaku Bigmike,

Kisah yang mengharukan dan mengandung butir-butir pelajaran yang dapat digunakan sebagai bagian dari kebaikan.

Saya rasanya pernah mendengar nama Prof. Sulthoni karena kalau tidak salah ikut membimbing Prof. Dody Nandika yang sekarang adalah Sekjen Depdiknas. Penemuan beliau adalah tentang teknik pengawetan batang bambu. Sewaktu ada kegiatan di Batang, rasanya petani bambu di sana menyebutkan nama Prof Sulthoni.

Nah, itulah yang mungkin menjadi butir ajaran almarhum...banyak orang melihat bambu tapi doktor Sulthoni berpkir dan mengerjakan...terasa berbeda dengan orang biasa yang kebanyakan ngomong, kalau ngomong ngotot tidak karuan, tapi tidak menghasilkan apa-apa bagi masyarakat. Memperbanyak doktor tipe banyak ngomong adalah kemubaziran. Dan ini penyakit Indonesia.

Jadi, tantangan bagi sahabat muda adalah jadilah doktor seperti yang dipesankan oleh guru dan orang tua anda. Tuhan memberkati (Syamsudin)

Bigmike mengatakan...

Hello dear sahabat blogger,

Saya membuat beberapa penyuntingan agar artikel ini lebih nyaman dibaca. Semoga bermanfaat. GBU

Bigmike mengatakan...

@ Sahabat Joshua,

Pesan Pak Sul itu saya maknai dalam kerangka pikir "perumpamaan tentang talenta". Yang mendapat banyak tanggungjawabnya lebih besar dan hendaknya setia di semua perkara itu.

Stan Lee, si penulis kisah Spiderman menggunakan juga aforisme ini untuk menggambarkan tugas sang tokoh....yang memiliki lebih bertanggung jawab lebih....

Jadi, menurut hemat saya....yang berbahagia adalah semua yang sudah menerima talenta dan setia rajin bekerja guna mengembangkan talentanya masing-masing....

Anonim mengatakan...

@ All,

Beberapa waktu lalu muncul berita heboh dari Kampus Universitas Gajah Mada (UGM) tentang penjiplakan tesis oleh seorang mahasiswa program magister yang bersal dari Universitas Swasta yang bernaung di bawah Departemen Agama dan juga dilakukan oleh seoran kandidat doktor yang adalah seorang pejabat tinggi.

Menurut Rusli Karim (Ansori, 2000), fenomena jiblak-menjiblak karya ilmiah secara statistik berkisar antara 40 sampai 85 persen. Apakah perilaku plagiator karya ilmiah tersebut oleh seorang doktor bermoral?

Rupan-rupanya, kelebih seorang bergelar doktor sebenarnya terletak pada sikap moralnya. Sipa saja bisa mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi yang bisa merinci secara ilmiah sudah pasti seorang doktor. Ini harus diakui karena memang mereka dididik untuk itu tetapi doktor dengan moralitas rendah? Saya suka sekali dengan istilah sahabat yohanes...itu doktor kelontong namanaya (Eman, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ Bigmke,

Saya setju dengan pendapatyan mengutip perumpamaan tentang talenta....anda yang memiliki karunia lebih harus lebih giat melipatgandakan talenta itu. Ayo, teruslah berbuat hal-hal baik agar SGT, Ibunda dan Prof Sultoni merasa bangga terhadap anda. GBU (Eman)

Anonim mengatakan...

@ Bung Eman,

Saya sepakat dengan anda bahwa seorang doktor bukan cuma sekedar tinggi ilmunya tapi juga tinggi moralnya. Bukankah itu inti ceritera bigmike tentang Prof Sultoni. Teladan baik itu sempga bisa diikuti oleh bigmike (13)

Anonim mengatakan...

Coba renungkan "kebenaran" dari hal "main-main" berikut ini:

Orang Pintar VS orang bodoh

1. Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.

2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.

5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH) oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap bual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada diatas.

Anonim mengatakan...

7. Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu di dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, alhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.

8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang pintar meratap-ratap” kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu ntuk bersenang-senang dengan keluarganya.

10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

11. Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA group). Adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

OK, mending mana jadi orang pintar, Doktor seerti BM, atau orang bodoh? ha ha ha ha ha (Sulis)

Anonim mengatakan...

hi hi hi mas Sulis,

aq bd pndpt nich...

Apa bedanya orang bodoh dengan orang pintar?

kalau orang pinter udah tahu dirinya salah, akan berusaha memperbaiki kesalahan dengan kebenaran. ibaratnya, udah tahu rasanya masuk lubang itu nggak enak, jadi nggak bakal lagi mau masuk lubang.

Kalau orang bodoh udah tahu dirinya salah, tapi kalau pun dikasih tahu tetep nggak tahu alias tetep salah. ibaratnya, udah sekali terjungkal sakit masuk lubang, ehh.. malah masuk lubang lagi. tuh mirip kayak Roy Marten, dasar bodoh!!

gimana mas? aq sih sebenernya milih jadi orang bodoh yang pinter ha ha ha ha ha (Ryan)

Anonim mengatakan...

ohhhh yaaachh, ono mas Ryan ya...ora Ryan seko njombang toh? ha ha ha ha ha ha....jawabku...sak karep gundul mu lah ha ha ha ha ha.... wkwkwkwkwkw.....(Sulis)

Anonim mengatakan...

eh ga suka ma Roy bandot Marten ya???? ha ha ha ha (Sulis)

Anonim mengatakan...

ha ha ha ha ha...pale lu bau menyan mas ha ha ha ha...kita sama2 orang bodoh yaaaaaa????? ha ha ha ha ..byeee.... (Ryan)

Anonim mengatakan...

Mas Sulis,

Orang pintar minum tolak angin, orang bodoh minum minyak angin… ha ha ha ha ha (Larry)

Anonim mengatakan...

@ Mas Larry En All

Lha kalo orang yang minum air rendeman batu ala ponari orang bodoh ato orang pintar???

(Budhi)

poempuisi mengatakan...

Posting yang mengharukan. Entah apa perasaan bigmike sekarang ini karena satu-satu orang yang berjasa padanya bepergian ke negeri abadi. Tapi gw rasa, bigmike benar, saatnya mengambil tongkat estafet. Ayo berlarilah menuju tujuan hidup. GBU

poempuisi mengatakan...

Sajak Orang Bodoh

Bodoh...
Kata-kata yang menyebalkan
Tapi penuh makna dan arti

Bodoh...
Itu hinaan
Cacian!
Makian!

Bodoh...
Ya, akulah orang bodoh tersebut
Lalu kenapa???
Faktanya aku hidup dengan mencoba?
Orang pintar, harus belajar?
Aku bodoh, makanya belajar

Bodoh...
Salahkah bila aku bodoh?
Kuusahakan yang terbaik
Namun tiada hasil?

Bodoh..
Kebodohan ini
Tiada ampun baginya
Membuatku dihina, dicaci, dimaki

Bodoh..
Bosan aku mendengar kata ini
Adalah bodoh memikirkan hal yang bodoh

Akulah si bodoh
Bukan si bodoh biasa
Tapi si bodoh yang berusaha!
Untuk menunjukkan perkembangan
Dari diri si bodoh ini

Anonim mengatakan...

@ Peompuisi,

Gw juga punya puisi nih....di baca yeeee...


orng bodoh melarat
orng pinter kaya (kya ilmu, kya dosa, kya nyemot????)

orng bodoh di kibuli
orng pinter yng ngibuli

orng bodoh sok tau
orng pinter only smilezz

so i will smile to u

hi hi hi hi hi...(Nauli)

Anonim mengatakan...

Tapi kalo gw serius, nih sebenernya:

1. orang yg pintar pasti disiplin. dia tau apa yg menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya.
orang yg pintar pasti rendah hati, sehingga dia ga pernah merasa cukup dgn ilmu yg dia miliki dan mau terus belajar.
orang yg pintar pasti penuh rasa ingin tahu. dia selalu penasaran kalo ada sesuatu yg dia ga tau.
orang yg pintar pasti temannya banyak, karena dia merasa ilmu bisa diperoleh dari mana saja, ga selalu dari buku.
orang yg pintar pasti menjalani hidup sehat. kesehatan mendukung upayanya mencari ilmu. gambaran profesor tua pelupa seharusnya dibuang jauh2 karena orang pintar tidak selalu berkacamata, penyakitan, pelupa, dll. orang pintar tau bahwa hidup sehat itu penting dan dia mempraktekkannya.
orang pintar pasti kreatif, karena dia punya segudang pengetahuan yg bisa digunakan utk memecahkan masalah.

2. orang yg pintar menghindari sikap cepat puas. dia selalu merasa kurang berpengetahuan.
orang yg pintar menghindari sikap sombong. dia ga pernah merasa jadi orang pintar. selain itu, biasanya orang sombong justru bodoh, karena ilmunya terbatas tapi kegeeran dan merasa paling pinter sendiri.

3. supaya ga males, hidup tu harus dibawa enjoy. ga boleh ada rasa terpaksa. keterpaksaan itulah yg menimbulkan rasa males. supaya bisa enjoy, kamu harus punya keinginan pengen jadi apa nantinya...

Gitu loh....

salam kenal...gw "anak baru".....(Nauli)

tuaksatu mengatakan...

wooiii bro en sist,
gimana kalo begini...

orang pinter itu = orang yang pinter cari duit ga mandang gelar nya
orang bodo = orang yang ga bisa cari duit ga peduli sebanyak apa gelar nya..wkwkwkwkwk.....

tuaksatu mengatakan...

Kabayan dan Profesor

Kabayan dan profesor duduk berhadapan di kereta api yang membawa mereka dari Bandung ke Jakarta. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, itulah sebabnya sepanjang perjalanan mereka tidak saling bercakap-cakap.

Untuk mengusir kebosanan, profesor menawarkan sesuatu pada Kabayan, "Hai Kabayan, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?"

Kabayan diam saja sambil menatap pemandangan di luar jendela kereta. Hal ini membuat Profesor menjadi gusar.Katanya, "Kabayan, ayo kita main tebak-tebakan! Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kau tebak. Kalau kau tak bisa menjawabnya, kau harus membayarku Rp.5.000,- Tetapi kalau kau bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp.50.000,-
Kabayan mulai tertarik dengan tawaran itu. Profesor melanjutkan, "Kemudian, kauajukan pertanyaan padaku. Kalau aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar aku Rp.5.000,- Tapi kalau aku tak bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp.50.000,- Bagaimana?"

Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya, "Baik kalau begitu. Sekarang ajukan pertanyaanmu.""Ok," sahut profesor dengan cepat."Pertanyaanku, berapa jarak yang tepat antara bumi dan bulan?"

Kabayan tersenyum karena tak tahu apa jawabannya. ia langsung merogoh sakunya dan menyerahkan Rp.5.000,- kepada profesor.Dengan gembira Profesor menerima uang itu, "Nah, sekarang giliranmu."

Kabayan berpikir sejenak, lalu bertanya, "Binatang apa yang sewaktu mendaki gunung berkaki dua. Tapi sewaktu turun gunung berkaki empat?"

Profesor lalu berpikir keras mencari jawabannya. Ia melakukan coret-coretan perhitungan dengan kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop, menghubungkannya dengan internet dan melakukan pencarian di berbagai situs ensiklopedi.

Beberapa lama, profesor itu mencoba. Akhirnya ia menyerah. Sambil bersungut-sungut ia memberi uang Rp.50.000,- pada Kabayan yang menerimanya dengan hati senang.

"Hai, tunggu dulu!" profesor itu berteriak. "Aku tidak terima. Apa jawaban atas pertanyaanmu tadi?"

Si Kabayan tersenyum pada profesor. Dengan santai ia merogoh saku celananya dan menyerahkan Rp.5.000,- pada profesor.

Anonim mengatakan...

wooooiiii tuakmabok,....gw juga punya story about orang pintar nichhh...

3 orang professor masing2 dari AS,Jerman dan Indonesia mengadakan conferensi teknologi di Bali,masing2 mereka menceritakan hasil penelitian terbaru mereka :
AS : Di negara saya Pesawat terbang udah dapat mencapai ketinggian sama dengan matahari
Jer & INDO : AH…Masaa..???
AS : Hee..hee di bawah-bawah itu sedikit..
Jer & Indo : OOOO…..Gitu..mmmmm
Jerman : Dinegara saya mobil udah bisa lari dengan kecapatan 100 Km/Mnt
AS & Indo : Hahh..masa’ ..iya..?????
Jerman : Hee..di bawah- bawah itu sedikit..
As & Indo : OOO..hmmmm..Iya..ya.
Indonesia : Di indonesia seorang wanita dapat melahirkan dari Lobang pusarnya…
AS & Jer : Hahh..Gile..yang Benar..!!!
Indonesia : emmm..di bawah - bawah itu sedikit…

ha ha ha ha ha ha ha.....(Suryana)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

good posting. GBU (Suryana)

Anonim mengatakan...

tapi gw bingung nih, posng tentang kebaikan dan kemurahan hati kok komennya tentang orang pintar VS orang bodoh? benerbener bodoh....ha ha ha ha ha ha ha (Suryana)

Anonim mengatakan...

ha ha ha ha saya punya ceritera dari papua nh. Tara perlu jadi orang pintar untuk dapa gelar. Ini contohnya:

Ada satu ibu yang tidak tamat SD tapi karena dia ikut ujian persamaan SD, trus ujian persamaan SMP dan juga ujian persamaan SMA, akhirnya dia masuk Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) yang baru dibuka di Nabire. Waktu kuliah, dosen yang ajar bidang study Ketata Negaraan dia tanya sama ibu itu.

“Bagaimana hubungan Presiden dan MPR?” Dosen itu pu maksud, apakah di dalam struktur tata negara, Presiden lebih tinggi dari MPR atau sebaliknya ? Tapi ibu itu yang pake bibir merah menyala dan alis mata biru-biru langsung menjawab, “Boooo, selama ini Presiden dan MPR dorang dua bae-bae saja moooo.”

Dengar jawaban begitu, si dosen dan semua mahasiswa di ruang kuliah langsung pica ketawa, “huhahahahahahahaha,………. huahahahahah.”....(PaceNoge)

sastavyana blog's mengatakan...

woouuwww kisah yang mengharukan. Ketika kebaikan dan kasih sayang bekerja maka hal-hal yang sulit bisa terjadi. Bigmike pernah menulis bahwa

"kasih merangkum" semua". "Karena cinta, sesuatu yang dikira tiada ternyata ada dan sesuatu yang dikira ada ternyata tiada".

Kata-kata dengan makna filsafat yang amat dalam itu rupanya terbangun karena kognisi bigmike semata melainkan karena pengalaman pribadi.
Kisah bigmike sekaligus mendorong saya unntuk menulis bahwa kebaikan hati jauh lebih berharga penampilan luar. Thanx atas sharing dan inspirasinya. GBU

sastavyana blog's mengatakan...

Tentang pintar VS bodoh saya kira ngga sesimpel komentar sahabat lainnya. Gw teringat kisah Aristoteles yang bercerita ttg.
Thales. Thales adalah filsuf yunani kuno (624 B.C.- 546 B.C), dan sering disebut pendiri dari hampir semua cabang ilmu. Thales disebut juga sebagai bapaknya para filsuf (bigmike pernah menulis tentag hal ini). Dia juga ilmuwan
Yunani pertama yang memprediksikan kapan akan gerhana matahari.
{mungkin dia beljara dari Babilonia). Dia juga matematikawan (belajar dari mesir).

Nah, demikian jeniusnya dia untuk masyarkat saat itu, dia kemudian
ditanya "If you're so wise, why aren't you rich?"

Ditantang begitu Thales kemudian hitung2an, dan kemudian main
spekulasi minyak zaitun (beli murah di musim dingin.. karena menurut hitungannya akan ada panen bagus di musin panas].

Bener... Thales kemudian untung gede. Tapi kemudian, Thales melepas semua hasil keuntungannya itu dan kKemudian dia jadi filsuf sederhana lagi. Point yang ingin
ditunjukkan dari cerita Aristoteles) ialah philosopher/scientists sejatinya bisa saja menjadi kaya .. kalau dia mau.. tapi ada bagi kaum pemikir ini ada ambisi yang lebih tinggi dari pada kekayaan, yaitu menjadi terdepan dalam mengejar kebaikan.

Bagi kaum pemikir kekayaan bukan segalanya. Dan kisah bigmike tentang dirinya dan Prof Sulthoni memberi petunjuk kuat tentang hal itu.

"If you're so wise, why aren't you rich?"

Anonim mengatakan...

kisah Pace Papua lucu banget......ha ha ha ha ha ha gw menikmati banget...(PM)

Anonim mengatakan...

sahabat Gw yg datang ketempat kerja gw, dan terjadi diskusi kecil-kecilan seputar orang-orang sukses,

Nah.. sampailah dia mengutarakan bahwa “orang bodoh kalah dengan orang pintar” Gw jawab spontan “benar“, dia katakan lagi “orang pintar kalah dengan orang rajin” Gw jawab lagi “benar” dan terakhir dia katakan lagi “orang rajin kalah dengan orang beruntung” dan dengan spontan pula Gw jawab “benar“, dia tersenyum melihat saya.

So, apa ada yg melihat teman gw itu salah? yg gw liat emang begitu...di kantor gw..banyak yg peak tapi kok verry rich???? aneh......(PM)

sastavyana blog's mengatakan...

Orang beruntung kan ga setiap saat juga beruntung, pak..
Bisa jadi itu beruntung satu saat saja, nanti kalau sudah tidak beruntung gimana??

sastavyana blog's mengatakan...

menurut gw sich, hal terpenting adalah usaha....nah ini yg bikin beda nantina...orang pintar akan membuat perencanaan orang bodoh hanya semata beruntung...

lihat tuh keluarga dukun ponari....habis masa beruntung skrang berurusan sama the police kan?

Kita jg harus ngebedain orang pintar dan doktor....ngga semua orang pintar itu doktor...tapi doktor yang beneran (ngga pake beli gelar) pasti oarng pintar....masalah mereka is...banyak doktor yg emang ngga pedulian sama kekayaan...contohnya udah gw kasi tau...si Thales...bapaknya ilmu filsafat....

Anonim mengatakan...

gw malah mo nanya, apa kriteria orang pintar dan berpendidikan?

Contohnya sering orang mengatakan ; Dasar loe gak berpendidikan ! atau ........Dasar pada kampungan gak berpendidikan !! .....atau Loe pada ga "nyekola" ya ? omongan loe gitu banget......dll...dll..

kalo menurut kalian apa aja sih kriteria "orang yg berpendidikan...?" dan apakah orang yg tidak berpendidikan itu omongannya kasar, jorok, bego....dll ?

Anonim mengatakan...

hiiippppp....hiiiipppp.....sori...gw....
(irone - duniairone.blogspot.com)

Anonim mengatakan...

Rasulullah SAW bersabda: “orang yang pandai adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk setelah mati. orang yang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya kemudian dia berangan-angan pada Allah”. (HR. Ibnu Majah)

Jadi, nggak usah dipikirkan kekayaan karena orang pandai adalah orang yang setiap hari mengurus amal baik

Anonim mengatakan...

Mengapa orang yang pandai adalah orang yang mempersiapkan dirinya dengan beramal untuk persiapan setelah mati? Karena Rasulullah telah membuat perbandingan antara dunia dan akhirat.

Rasulullah bersabda : “gambaran dunia dengan akhirat seperti gambarannya salah satu kalian memasukkan jarinya kedalam lautan maka lihatlah yang kembali” (HR Ibnu Majah)

Dunia diibaratkan setetes air yang jatuh dari jari-jari sedangkan akhirat adalah lautan yang terbentang luas. Dengan kita mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat berarti kita memersiapkan diri untuk menyambut kehidupan yang hakiki, kehidupan yang tiada lagi kematian.

Anonim mengatakan...

Jadi, kesimpulannya:

Jangan jadikan kesibukan untuk mengejar kedunian melupakan persiapan untuk kehidupan diakhirat.

jadikan harta yang kita dapatkan untuk menunjang persiapan kita menghadap pada-Nya dengan beramal sesuai ketentuan-Nya. Itulah teladan yang ditunjukkan oleh Nabi dan Prof Sulthoni sebagai muslim yang baik meniru teladan itu. Bigmike juga tampaknay mengikuti teladan Prof Sulthoni dan kita mendapatkan psoting-posting indah tiap minggu. Indah bukan?

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan dan rahmat-Nya. //Pritha//

Anonim mengatakan...

heeeeehhhhhhh......

orang bodoh adalah manusia tua di AC Milan....kalah ma Bremen......wakakakakakkekekek....gw kuciwaaaa......pecat anceloti....usir beckham.....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

kemaren gw....ada urusan ke kantornya para PNS.....longak longok...isi kantor cuman manusia-manusia yg kliatan sibuk doang....hilir mudik ga jelas...but.....di depan komputer malah main game.....ha ha ha ha ha ha....bodoh? pintar? beruntung? nasib baek jadi PNS?..gw pusing dach....oleeeeee....oleeeeee....pusing...
mana AC milan kalah lagi......(Proxy73)

Anonim mengatakan...

sebuah teladan tentang ketulusan dan kebaikan. Mengapa zaman sekaranh gejala ini semakin luntur. Hubungan antara orang lebih dilandasi kepentingan. Thanx bigmike atas posting ini (Peter)

agustiar mengatakan...

Menurut saya, menjadi pintar adalah penting karena pintar yang dimasudkan harus lengkap meliputi pintar intelektual, pintar emosional dan pintar spiritual.

Kitab Amsal 1:1-9 isinya begini:

1:1 Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel,
1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna,
1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,
1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda--
1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan--
1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.
1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.
1:8 Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu
1:9 sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.

agustiar mengatakan...

Jelas sekali bahwa Alkitab meminta kita untuk menjadi pintar yang dalam bahasa Alkitab sering disebut sebagai hikmat dan bijaksana.

Tapi pintar yang bagaimana? Pintar tapi sombongkah? pintar tetapi diakai untuk menipukah? pintar lalu orupsikah?

Perhatiakan lagi apa kata Kitab Amsal:

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3:5)

agustiar mengatakan...

Kalau begitu apa artinya itu?

Firman itu mengajak kita agar rendah hati, menyadari keterbatasan pemikiran dan pengertian kita, sehingga kita tidak menyandarkan hidup dan masa depan kita hanya kepada kemampuan berpikir kita sendiri, namun kepada Tuhan Allah.

Sebagai manusia, selama hidup di dunia ini, memang kita tetap harus berpikir kritis dan kreatif serta bijak, bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga. Ketika ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa kita mengerti, melampaui pemikiran kita, bahkan menjadi tanda tanya besar dalam kepala dan hati kita, kita diminta agar tidak putus asa namun tetap percaya kepada Tuhan Allah.

Dia jauh lebih berhikmat dan berkuasa dibandingkan kita. Dia lebih tahu dan mengerti apa yang harus kita lakukan. Sebab itu kepadaNyalah kita selalu bergantung, meminta penyertaan, penguatan dan perlindungan, juga pengertian baru.

Nah lengkap sudah kan? Pintar IQ, tetapi tetap rendah hati dan tetap bersandar pada TUHAN

agustiar mengatakan...

Ama Ludji,

Karmana beta pung renungan di atas. Su mantap ko blom? ha ha ha ha ha....

Eh, sonde rasa ama su 4 taon jadi Doktor eee....dengan prestasi ama sekarang ini, ama layak jadi kebangaan kitong kawan-kawan...tapi ada yang mengganggu beta nih...

akhir-akhir ama su menjadi terlalu kalam....apa-apa langsugn mengalah...lalu bagaimana cara menegakan kebenenaran dengan cara begitu...orang senang dengan ama mengalah tapi dorang lalu tidak tau salahnya....lalu jadi tidak tau diri.

Nah, kembalikan semangat ana Sabu ke dolo-dolo lagi....bersemangat...berapi-api...dan maju terus pantag mundur...selamat eee kawan....(A9ust)

agustiar mengatakan...

eh, ikot berduka cita atas meninggalnya Prof Sulthoni...terakhir ama ceritera norman dapat rekomendasi untuk S2 dari bapa tua kan? GBU boss...(a9ust)

Anonim mengatakan...

@ Ngalai Ludji,

Kalo lu pintar na urus lu pung profesor suda. Beta nantang lu, brani ko sonde???? (John, Oemasi)

Anonim mengatakan...

@ Ngalai,

Beta dengar lu "marah" liat kabinet FREN yang sonde menggambarkan idealisme itu. Betul ko? Kalo betul beta mau bilang, brenti percaya tukang putar balek dong.....lu punya kemampuan yang lebe dari dorang....lu sa yang sonde sadar....lu pintar bos dan jananau tertipu lagi (lu pung kaka John, Oemasi)

Anonim mengatakan...

Agus dan juga Ngalai, cepat sembuh. Tuhan Yesus menyembuhkan (John)

Anonim mengatakan...

Harimau mati menginggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Nama baik itu yg ditinggalkan Prof. Sulthoni, bapa Robert dan mama Riwu Kaho. Kita yang masih ada akan meninggalkan apa?

Anonim mengatakan...

maaf, saya (Savunesse)

Anonim mengatakan...

Woooiiiii MR. Savunesse,

The correct one is 'Kalau Gajah Mati meninggalkan Gading,Harimau Mati Meningalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama'

To summarise the meaning, it means when animals die, they are not remembered while us,humans when we die, our life is remembered by the name we hold...getoooooo looo....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

gw mo nanya nih....

harimau mati meninggalkan belang!!!!!!!!!!!!!!! manusia mati meninggalkan nama!!!!!!!!!!!!!!!!!! banteng lo mati meninggalkan?????????????????...
wakakakakakkekekkik......(Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ Pak MIke,

Lagi-lagi Pak Mike berduka cita tetapi jangan kuatir karena Tuhan sudah berjanji begitu.

"Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia." (Amsal 12:25)

ukankah ini yang selalu dilakukan Pak Mike?

"Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku dan melepaskan aku dari segala kegentaranku." (Mazmur 34:5)

Apakah Pak Mike ketika berduka trus berhenti mencari Tuhan? Dan ini penguncinya:

"Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:6-7)

Salam dalam Kasih. Selamat berhari Minggu besok (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Sebagai sahabat, saya saksikan bahwa Pak Mike betul-betul telah dipakai Tuhan untuk berbuat banyak hal dengan kepandaian - gelar Doktor yang dimiliki sekaligus orang yg rendah hati.

Tetapi tidak salah juga jika saya mengutip ayat Alkitab agar Pak Mike semakin lama semakin berbuat baik dan tetap rendah hati.

1. Merendahkan diri di hadapan Tuhan.
“Rendahkan dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat supaya kamu ditinggikanNya pada waktunya” (ay 6). Jangan sombong atau tinggi hati karena “Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (ay 5). Orang yang rendah hati diberi, “Allah mengaruniakan berkat-berkat khusus”

Anonim mengatakan...

2. Meningkatkan iman dengan berserah.
“Serahkan segala kekuatiranmu kepadaNya sebab Ia yang memelihara kamu” (ay 7). Kekuatiran dan ketakutan adalah penghambat kemjuan dan keberhasilan. Rasul Petrus menyatakan bahwa “Ia yang memelihara kamu” (ay 7) yang berarti bahwa Tuhan yang bertanggung jawab penuh akan kehidupan ini, Dia yang memelihara, Dia yang peduli. Apa gunanya kuatir? Apalagi disadari berdasarkan fakta bahwa banyak yang kita kuatirkan ternyata juga tidak terjadi dalam kehidupan. Tuhan Yesus juga mengajarkan, “Janganlah kuatir…… Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu….. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Yoh 6: 25, 32b, 33). Orang percaya harus hidup dengan iman dan dasari bahwa “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan…” (Rom 8:28).

Syalom (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Saya baru tahu pak Mike ternyata doktor kehutanan bukan peternakan.

Tapi, cara mengajar pak Mike tidak ada yang lawan. Waktu terangkan kita mengerti jelas. Tidak duduk dan baca yang bikin capek tangan seperti dosen lain. GBU Pak(Xyrex - mhsw PLK-Fapet)

Anonim mengatakan...

ya betul sekali....kebaikan akan berbuah kebaikan pada akhirnya...kebaikan yang diterima bigmike diubah menjadi kebaikan baru...teruslah mengerjakan kebaikan itu Pak (Pietronigra)

dwi mengatakan...

DENGAN KEPALA TERTUNDUK SAYA MENGENANG ORANG TUA YANG AMAT TERPELAJAR YANG SEDERHANA, SETIA DALAM JABATAN GURU, RENDAH HATI DAN MURAH HATI....PROF. DR. IR. ACHMAD SULTHONI, M.SC.....

Beliau adalah guru saya, dan banyak mahasiswa lainnya, antara lain bigmike, dan kami berhutang kebaikan terhadap beliau.

Semoga Amal Ibadahnya diterima Allah SWT. Amien

dwi mengatakan...

@ Bigmike,

Setelah saya memeras ingatan begitu rupa...saya memberanikan diri untuk menyampaikan hal ini ... etika saya sedang mengurus ujian akhir S2 tahun 2003, pak Sul adalah pembimbing saya, saya pernah duduk di bangku ruang tunggu jurusan dendrologi - gedung lama - Pak Sul baru dipindahkan ke situ setelah sembuh sakit.

Di bangku itu, saya duduk seorang yg mengaku mahasiswa S3 yg berasal dari NTT. Tampak gelisah dan tidak bisa diam. Mondar-madir. Saya ajak bicara-bicara dan terjadi perbincangan yang hangat. Dan saya menjadi tahu bahwa mahasiswa S3 asal NTT itu meneliti tentang kebakaran hutan. Pembicaraan terhenti karena Pak Sul memanggil saya.

Setelah saya amat-amati wajah di profil....saya sekarang yakin ... sang mahasiswa S3 itu adalah Bigmike....

Ingat saya mas? Dwi...sekarang golek mangan nang INSTIPER Jogja, Mas...