Jumat, 18 Juli 2008

Pada Hitungan Ke-tiga, Save The World …….. Deal or No Deal??

Sahabat blogger terkasih,

Dunia Tulis menulis memang mengasyikan bagaikan candu. Sekali menulis, sulit untuk menghentikannya. Tidak percaya? Tanyalah pada Norman. Ya, si penerus DNA saya yang sulung itu. Setelah berhasil menerbitkan artikelnya, yang pertama, dan belakangan memancing terjadinya pertengkaran yang tak berkesudahan ..he he he...., Norman menjadi ketagihan Narkoba ...APAAAAAAA????? Narkoba?????? Ya, tidak salah. Norman mulai ketagihan NARik KOlor BAbe....ha ha ha ha ...setiap hari,ditarik-tariknya laptop saya hanya untuk mengumpulkan bahan-bahan tulisannya. Saya dongkol dibuatnya. Setelah tulisannya jadi, Norman juga rajin menarik-narik perhatian saya untuk segera memposting artikel barunya. Saya kesal dibuatnya. Tapi, ya sudahlah. Karena Norman sudah tidak ketulungan lagi ngototnya maka.... saya memposting Artikelnya. Tema yang dipilih bukan barang baru. Tidak sensasional amat. Biasa-biasa saja. Oleh karena itu, marilah kita bersama menjadi saksi apakah Si Norman mampu "menghidupkan" barang lama ini menjadi sesuatu yang segar dan lezat????? Di tangan andalah, sahabat terkasih, penilaian itu diserahkan. Oh iya, judul tulisan inipun tidak saya ubah sedikitpun. Saya biarkan apa adanya.Inilah artikel Si Norman.

Sahabat blogger,

Bingung yah dengan judul diatas? Anggap saja kita sedang bermain kuis, saya akan memberikan 3 kata bantuan yaitu Lapisan ozon, bumi, global warming. Sudahkah bisa menerka apa yang ingin saya sampaikan?? Teeeettttt, ah ternyata beberapa dari anda langsung membunyikan bel untuk menjawab. Yahh.. benar, saya ingin membahas tentang pentingnya upaya penyelamatan bumi dari pemanasan global (global warming) yang akan mengakibatkan lubang ozon semakin terbuka lebar. Tentu saja akibatnya adalah… ah jangan saya bilang dulu, entar aja deh namanya juga kata pengantar. Mungkin juga pembaca sekalian sudah bosan membaca tulisan-tulisan dengan topik ini, termasuk posting terdahulu dari BM (baca posting tentang mother earth) TAPI nanti dulu, ada loh yang menarik (menurut saya entah menurut anda). Apa yah?? Mau tau??

Neh saya kasi daaaahhhhhh…….

Save the world, go green, atau pemanasan global.. mungkin ini kata-kata yang cukup akrab dengan kehidupan sehari-hari anda. Anda bisa membaca seruan-seruan dan istilah ini mulai dari koran, pamflet, spanduk, iklan TV, dll. Jujur saja, saya sendiri sampai bosan mendengar kata-kata ini sehingga saya “sedikit banyak” (heran yah ada sedikit terus banyak?) menjadi tahu tentang efek pemanasan bumi karena begitu seringnya. Tapi apakah saya mau mengikuti dalam bentuk tindakan nyata upaya save the world ini? Oh nanti dulu… saya malah memilih bersikap tahu tapi tidak mau tahu. Ada sampah berserakan di depan mata, mengedarai motor dan mobil dengan asap knalpot tebal, mematikan 2 lampu saja untuk menghemat energi, dll tetap saya lakukan. Pertanyaan terbesar adalah KENAPA, sedangkan pertanyaan terkecil adalah kenapa? He..he.

simple saja, maukah anda untuk kemana-mana dengan berjalan kaki? Maukah anda mengangkat sampah yang berbau tak sedap? Maukah anda mematikan lampu yang akan membuat sebagian rumah anda gelap? Susah bosss. Saya sendiri tidak mau melakukan itu karena akan membuat capek kalau kemana-mana tidak menggunakan kendaraan, saya berpikir bahwa sampah itu tugas “yellow ranger” atau pasukan kuning (yang bertugas mengangkut sampah), serta saya ini takut kegelapan. Padahal di sisi lain saya tahu jika saya tidak melakukan hal-hal di atas saya merupakan salah satu aktor yang akan mendapatkan “piala” dalam hal pengrusakan bumi. Jadi apa sebabnya dong? Saya memang tahu akibat dari pemanasan global, tapi saya malah bersikap seolah-olah tidak mau tahu. Ngapain? Saya lebih suka mikirin apakah pada Pemilu 2009 mendatang saya golput atau tidak, saya lebih suka mengikuti perkembangan tarik-ulur transfer pesepakbola Cristiano Ronaldo, saya lebih memilih mengikuti berita tentang nasib pedangdut “jatuh bangun” Kristina atau jujur saja anda pasti banyak membaca tulisan sejenis tentang global warming tapi apakah anda sudah punya kesadaran untuk berbuat sesuatu yang nyata? Oleh karena itu, boleh dibilang SAYA BERSIKAP SEOLAH-OLAH PUNYA PILIHAN LAIN DARIPADA HARUS MELAKUKAN TINDAKAN NYATA. Saya berdoa sangat khusyuk sampai “tikam lutut” semoga saja sikap hidup saya ini tidak diikuti oleh pembaca sekalian. Amin. TAPI, dari hasil survey LSN (Lembaga Survey Norman) secara kecil-kecilan, yang tentu saja tidak seakurat LSI dalam memprediksi hasil Pilkada, yaitu dengan “sample percobaan” keluarga dan kawan-kawan sekitar, saya mendapati hasil ternyata sikap saya ini tidak begitu jauh beda dengan “sample percobaan” saya. PARAHH. He..he. salahkah saya bersikap seperti itu?? Nanti dulu mari kita bahas satu-pesatu Tapi untuk anak NKRI, anda tenang saja, saya tidak membahas secara khusus kesalahan pemerintah Indonesia. Padahal kalau dipikir-pikir pemerintah juga “ambil bagian” sebagai salah satu penyebab. Contohnya, lewat Perpu No 1/2004 tanggal 11 Maret 2004 yang seakan-akan berkata “monggo mas, silahkan gunduli hutan ini. Mau dialih fungsi juga gak apa-apa deh”. Jujur, saya malas membahas tentang peran pemerintah dalam pengrusakan bumi, entar saya harus ngetik 7 hari 7 malam, sambil berendam dalam air kembang 7 rupa lagi. Hi..Hi

Ah, mari kita lanjut saja, pernahkah pembaca-pembaca mengenal sosok Al Gore, sosok yang pernah gagal menjadi Presiden USA (saya tidak mau membicarakan selanjutnya apabila ada kata gagal dan USA ah soalnya ada bos nk. Hi..Hi) dengan documenter tentang global warming yang sukses menggemparkan dunia persilatan eh… dunia ini, ataukah anda mengenal sosok Thimotius Natun, tokoh pemerhati lingkungan di NTT? serta tokoh-tokoh lain yang berperan melalui berbagai upaya mereka. Tapi tetap saja mereka ini hanya individu-individu. Dalam analogi, sekumpulan sapu lidi tentu saja lebih kuat daripada sebatang-dua batang lidi. Tapi ketika saya “mencuri kesempatan” (untungnya tak ketahuan) menggunakan laptop ayah saya untuk berinternet, iseng-iseng saya mengetikkan kata global warming di “om gu” (Google) ternyata pemikiran saya selama ini yang masa bodoh ini SALAH. Mau tau kenapa? Neh saya kasih beberapa akibat global warming. Berikut “cuma teori” tentang akibat global warming yaitu akibat bagi Perubahan Iklim (antara lain mengakibatkan Peningkatan temperatur Bumi dan Curah hujan yang lebih lebat), akibat bagi bidang Pertanian (antara lain terancamnya ketahanan pangan), akibat bagi Kelautan (antara lain mengakibatkan Naiknya permukaan air laut, Pemanasan air laut,), serta akibat bagi Satwa. Yah…. Teorinya sih begitu, tapi bagaimana kalau saya berikan contoh nyata (yang penakut atau di bawah umur saya sarankan langsung “skip” saja fakta di bawah ini karena cukup “mengerikan” sehingga membutuhkan bimbingan orangtua. He..he) yang bukan hanya teori. Artikel-artikel ini saya copy dari internet lalu saya cut (seenak hati saya) untuk menghemat halaman.

1. Puluhan Pulau Tak Berpenghuni Tenggelam Akibat Pemanasan Global

Sedikitnya 23 pulau tidak berpenghuni di Indonesia tenggelam dalam 10 tahun terakhir akibat pemanasan global. "Umumnya pulau yang tenggelam adalah pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni," kata Pakar Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim. Namun dikhawatirkan akan ada pulau-pulau berpenghuni di Indonesia yang tenggelam sebagai dampak dari pemanasan global pada 2025, yang salah satu gejalanya, semakin tinggi permukaan laut.

2. Menyusutnya sumber air (komentar saya : kalau di NTT ini sudah bukan berita lagi)

Sumber air sungai Brantas di Gunung Arjuno dan Welirang awalnya berjumlah 80 buah dan saat ini berkurang menjadi 40 sumber air, menurut Perum Jasa Tirta, yang menangani wilayah Sungai Brantas. "Dulu ada kali besar, sekarang sudah tidak ada lagi. Tahun 1980an masih dapat digunakan, tetapi sekarang untuk sawah saja sulit, apalagi untuk persediaan air bersih," kata Rianto yang tinggal di salah satu sumber air Sungai Brantas.

3. Jakarta terancam tenggelam? (Komentar saya : Nah Lo!!!!)

Para mahasiswa UI mengunjungi Muara Angke, Jakarta Utara, yang tergenang air pasang beberapa kali dalam tahun 2007 ini. Air pasang yang terjadi bulan Juni lalu bahkan mencapai dua meter. Para nelayan di Muara Angke,menceritakan air pasang yang melanda tempat tinggal mereka. "Sudah sering terjadi. Yang terakhir sampai dua meter” kata seorang nelayan. Pakar dampak perubahan iklim, memperkirakan, pemanasan global yang menyebabkan naiknya permukaan laut, akan menenggelamkan sejumlah tempat di dunia. Apakah itu berarti ibu kota Jakarta juga terancam tenggelam di akhir abad?

4. NTT: Iklim ancam lumbung (komentar saya : NTT Kering? Basiiii nih)

Mahasiswa Undana mengunjungi desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, NTT. Dimana Gagal panen merupakan cerita tahunan penduduk di desa ini. "Saya pernah tiga hari tidak ada beras. Tidak makan.," kata Martida Rohi. Cerita gagal panen di desa Bena ini hanya sebagian dari cerita gagal panen akibat kekeringan di lebih 4,7 juta hektar areal pertanian di seluruh NTT. Dari luas itu lebih 174.000 diantaranya adalah areal persawahan. Kekeringan parah ini juga menimbulkan kerawanan pangan di sebagian besar NTT. Peneliti lingkungan dari Undana, I Wayan Mudita memperingatkan kekeringan akan bertambah parah, dengan iklim yang berubah sekarang ini.

Masih kurang???? Neh saya kasih lagi satu fakta “yang lucu sekaligus mengerikan” yaitu Akibat tingginya tingkat kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun pada puluhan juta hektare areal hutan di Kalimantan, Indonesia menempati urutan keempat penyumbang pemanasan global saat ini. Namun jika dilihat dari tingkat konsentrasi emisi gas rumah kaca, maupun transportasi, Indonesia masih pada urutan ke-13 (13 kan angka sial? Hi..Hi),". Hmmm, bagaimana masihkah anda seperti saya yang tahu tapi tidak mau tahu? Masihkah anda seperti saya yang tahu tapi tidak melakukan tindakan nyata? Pasti akan timbul juga pertanyaan “Tapi bagaimana dengan upaya-upaya seperti gerakan penanaman 1.000 pohon, 2.000 pohon, dst (untuk lebih jelas coba saja anda cek di google); Green festival seperti baru-baru ini, dsb yang berkaitan dengan upaya penyelamatan bumi ini?” Saya pribadi setuju dan mendukung (tapi biasanya cuma “dalam doa” tidak dengan tindakan) upaya-upaya seperti ini tapi “ternyata” ada lucunya juga loh. Kok bisa? Yah, coba bayangkan setelah ditanam, pohon-pohon tidak dirawat (disiram, dipupuk, dsb) seakan-akan “membiarkan alam yang bekerja”. Paling-paling yang tumbuh bisa dihitung “dengan jari”. Jadi kesannya hebat, Lihat nih Gue udah tanam seribu pohon, tapi saat ditanya kelanjutan.....eng ing eng, nanti biar Tuhan yang “atur” aja deh. selanjutnya, Green Festival ini juga lucu, karena setelah selesai Green Festival ini malah banyak sampah yang berserakan di sekitar arena penyelenggaraan ini. Jadi, saya hanya ingin bilang “KITA HARUS MELAKUKAN SESUATU YANG NYATA”. Pertanyaan saat ini adalah jadi harus gimana dong? Hmmm, banyak sekali cara, tapi kalau saya sih yang praktis saja. Kita mulai dari coba anda lihat di sekeliling anda adakah sampah yang” tergeletak tak berdaya” di situ, anda lihat halaman rumah anda adakah pohon dan bunga yang tumbuh disitu ataukah gurun sahara telah “berpindah” ke halaman rumah anda, coba anda lihat adakah pemakaian listrik yang berlebihan di rumah anda, coba lihat kendaraan (mobil, motor) anda apakah knalpot kendaraan anda itu memiliki asap yang BETIS (Beda-beda Tipis) dengan kebakaran hutan. Ha, di situlah “hal praktis” yang harus anda lakukan. Saya rasa saya tak perlu membahas secara teknis kan?. Tapi ada satu saran bagus dari wilmana, kurangilah jumlah butir nasi yang tersisa di piring anda setiap anda makan.

Untuk menutup tulisan ini, saya meminta pada anda untuk menutup mata dan membayangkan seandainya saya adalah seorang presenter, kemudian anda adalah peserta kuis. Saya akan bertanya begini pada anda….” Apakah anda ingin berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dunia ini? Pada hitungan ke-tiga…Save The World…Deaall or no Dealll?”

77 komentar:

Anonim mengatakan...

@ Norman

Selamat karena sudah mulai belajar menjadi intlektual yang menulis. Materi tulisan ini memang bukan barang baru tetapi mengapa dunia kita terus berada dalam masalah.

Norman ingin mengatakan bahwa sesuatu yang besar hendaknya dimulai dari hal-hal kecil. Itulah penyakit kita. Selalu ingin berbicara hal-hal besar tetapi lupa melaksanakan secara praktis dalam hidup sehari-hari.

Persolan saya adalah, apakah menurut Norman, segala kebaikan cukup diserahkan kepada kemauan baik individu-individu? Saya mungkin tidak sependapat tetapi saya menunggu komentar balik dari Norman (Patrice)

Anonim mengatakan...

Bet setuju dengan norman. Soal penyelamatan lingkungan, memang harus dimulai dari diri sendiri, jangan terlalu bergantung pada program pemerintah. Krn kalo pemerintah yg bikin program, Bjorn Lomborg bikin itung2an bakal keluar uang totally USD 350 juta pertahun tp hanya menunda kiamat gara2 global warming, tdk mengehentikannya. Pdhl, katanya tingkat kemiskinan dunia jg makin meningkat dan perlu dana besar utk mengatasinya. Lbh ptg mana, mengatasi global warming, ato bikin sejahtera penduduk. Bagus juga tuh "otak rotenya" si Lomborg itu.

Inidividu dimaksud, tentu mulai dari satu orang maupun satu organisasi yg bisa bikin gerakan mandiri tnp hrs tunggu proyek pemerintah dan dana internasional. Beta sendiri br2 ini pimpin anak2 remaja sekitar 25 org pi tanam jati mas dan cempaka kira2 20-an bibit di Taman Wiladatika Cibubur.

Salam Go Green,

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@ Norman, bonggo dan Patrice

Saudari Patrice, mohon maaf kalau salah, tetapi saya dapat menduga arah pikiran saudari. Menyerahkan sepenuhnya pada indivud-individu dalam faktanya sangat sulit. Contoh, 2 orang tetangga yang rumahnya berdekatan. Si A, membersihkan halaman. Terus, pangkasan daun dan sampahnya di buang kehalaman depan rumah si B. Si B marah karena meskipun sampah itu tidak dibuang ke halamannya tetapi tepat berada di lingkungan halamnnya dan dia harus menerima bau, lalat dan sebagainya. Nah, pada 2 orang yg semuanya mau bersih tapi berselisih maka diperlukan aturan. Saya pikir ini gagasan Patrice dan saya mendkung dia.

@ bonggo

ha ha ha kita dua sudah "dijewwer" bigmike. Ya, tidak apa. Nah, kita dua tetap sahabat bukan? Silakan berargumen dan kalau saya tidak setuju akan saya "lawan" dengan syarat tidak maki dan olok-olok. Seetuju ko Bosss?

@ Luji

Cepat sembuh. Penelitian su mau mulai. Tanpa ketua semua akan macet. Tuhan memberkati

(A9ust)

Bigmike mengatakan...

Selamat pagi semua. Moga-moga anda semua sehat-sehat. Saya masih sakit, dan sedihnya, membuat ibunda saya kepikiran dan ikutan sakit. Mengetahui itu, saya yang semula sakit...berubah menjadi...1/2 gila wwwwhh...tapi syukur kepada Tuhan bahwa 1 hari indah masih bisa kita rasakan bersama.

Saya ingin menyapa anda semua pagi ini sebelum re-check ke Rumah Sakit:

1. Selamat berdiskusi. Dingin boleh. PANAS-pun boleh asal, jangan memaki dan jangan membenci. Dua hal ini tidak cocok dengan misi (atau visi-tanya Wilmana dulu nih) blog, yaitu bersaksi tentang Tuhan yang hidup. Apa esensinya? membagi KASIH.

2. Ada yang masih kurang dari esensi tulisan Norman karena jika dia menaruh harapan pada kemauan individu maka apa etika lingkungan yang diajukan guna menyadarkan individu-individu. Point ini amat menarik untuk didiskusikan bahkan MEMERLUKAN 1 POSTING LAGI.

3. Saya agak dongkol sama Norman karena ternyata dia "mengambil" bahan-bahan yg sudah saya kumpulkan ubntuk posting saya. Aha,...Norman ternyata "kode kapar" juga (ini istilah dalam keluarga yang maknanya hanya kami yang tahu ha ha ha).

Thats all folks for today. God Bless You All

Anonim mengatakan...

@Agus

Makanya, B su kasi sinyalemen jang mau jadi ika kobo baru2, ma Bu maen pasang spanning terus... B ana kici jd kl kanaa jewer msh bole palese ma tartau deng yang tua dong... He he..

Buat beta, Bu bkn cum sahabat, tp Senior di GMKI, pak dosen meski bet dulu di faperta, dan yg paling penting beta pung Kaka jg toh...

Kalo Bu kapingin kitong bakalai lg bole sj.. Cm inga, kl mulai panas, Bu janga menikmati suasana panas trus kabur lalu bikin klaim Bu menang dan beta kala telak, pdhl bigmike bilang tdk bgt. Bu musti aktif togor yg tdk berkepentingan utk iko emosi trus maruak macang ke org gila di sini. Maksudnya, kitong dua mo ba palok, mo ba guling, ato apa, biar itu urusan kitong dua. Anggap saa suami-istri lg bertengkar di pinggir jln, dan yg laen jangan ikut nimbrung bertengkar jg.

Na, kalo Bu setuju beta su ada kasi opsi. Lbh penting mana, atasi global warming ato atasi tingkat kemiskinan, krn dua2nya menunjukkan percepatan peningkatan yg luar biasa. Bu kan punya data, jd kasi tunjuk ko mari kita adu daya interpretasi. Kmrn kan Bu unggulkan sektor pertanian utk NTT, dan beta industrialisasi dg pertanian sbg sektor pendukung utama. Nampaknya, blog ini dan jg FREN iko Bu pung gagasan. Tdk apa krn toh mnrt bigmike itu bkn indikasi Bu menang dan beta kalah, tp sekedar beda pendapat, ana GMKI dong bilang sepakat utk tdk sepakat. Jd, drpd kitong barufuk terus ttg hal ini, mari kita liat sj hasilnya nanti, plg tdk 1 thn pemerintahan FREN.

Sekarang, B tunggu Bu punya opini.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@ bonggo

Bt buru-buru mau pi kantor ni. Soal diskusi lalu, baiklah saya terima penilaian BM bahwa persoalan kita hanya ada pada persoalan dua ttik pandang yg berbeda.

Tapi beta mau kastau bahwa beta mendukugn paket laen...ha ha ha ana rote ha ha ha...makanya beta dgn BM pernah saling kecam keras...Jadi kalau FREN gagal, beta akan ketawa sama bigmike ha ha ha..

Tapi lagi, beta masih batasi diskusi hanya tentang apakah yg lebih penting dalam mengelola lingkungan adalah individu atau aturan. Bt baru pulang dari Sumba dan salah satu PR besar justru pada pilihan dua hal itu. Tema ini juga biar cocok dengan "nafas" posting Norman.

Pi karja dolo (A9ust)

Anonim mengatakan...

Dalam kontesk manusia Indonesia, individu maupun aturan dua-duanya parah. GW hampir apatis nih. Gw golput ajah....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

Bae, Bu. Dan mungkin krn taburu-buru pi karja jd sonde jeli. Beta su dukung norman utk mulai dr individu. Bu karmana?

Sola Bu deng bigmike, itu kaum tua pung urusan. Mk kl Bu siap2 menertawai koncomu bigmike, mk beta siap2 pasang senyum manis buat Bu dan para pendukung sektor pertanian. Trus bilang:

"makanya, dr dolu bet su bilang industrialisasi suda itu potensi pertanian dong, Bu masi tahan2 mo bikin bertahap na. Sakarang manyasal ko sonde."

He he tp itu nanti saa... Sekarang bet mo lia Bu pung opini apa ttg gagasan nomang. Kl kemarin bet tolak nomang pung gagasan, mk sekarang bet dukung dia. In jg terkait pertanyaan bigmike di atas. Bu su lia, to?

Ok selamat bekerja, jang lupa bsk ke gereja.

-bonggo-

PS.: Oya, soal bigmike sakit, Bu blom pergi mendoakan dia, beta su duluan. Malah kl Bu cuma berdoa, beta kasi obat. Bu cek te ada obat2an yg dia minum itu beta yg suru beli di apotek. Tp Beta sonde saki hati deng tuduhan2di atas, kok.. Krn su stem dawai pikiran mk beta cum senyum, saa...

Anonim mengatakan...

patrice-om a9ust

betul, apa yang dikatakan anda berdua. karena dalam mengelola lingkungan diperlukan sebuah relationship yang baik antara manusia dan manusia yang mempunyai dampak terhadap alam serta manusia dan lingkungan sekitar. kelemahan kita (termasuk saya) adalah kita masih berpikir bahwa hanya manusia yang big boss sedangkan alam hanya merupakan alat di tangan manusia. oleh karena itu, seperti apa yang dikatakan oleh patrice segala kemauan tidak diserahkan pada individu-individu tapi harus terjalin interaksi antara manusia-manusia, manusia-lingkungan dalam satu manajemen pengelolaan lingkungan.

tapi dalam tulisan saya ini, saya lebih ingin berbicara hal yang praktis tapi justru susah dilakukan (ini terjadi pada diri saya) adalah KESADARAN.. oleh karena itu, saya bilang mari kita mulai dari diri sendiri dulu (individu) untuk sadar akan lingkungan.. entah itu akan diwujudkan dari diri kita sendiri yang melakukan atau kita menjadi penggerak orang lain (tentu saja akan jauh lebih baik dibanding kita hanya sendiri) seperti contoh bonggo di atas.

(norman)

Anonim mengatakan...

Nggak tau knapa, tapi ngeliat A9ust ma bonggo berdiskusi normal kok kita jadi adem. Keep on peace man. Tentng save ou world, saya setuju sama bigmike yaitu apa dulu etika dasarnya? dengan begitu baru kita bisa memutuskan apakan=h individu atau aturan. Nah, kalau nggak salah, ada etika yg terlalu menekankan pada peran manusia dan ini malah merusak. Kalau itu betul maka mungkin aturan yang harus didahulukan (Erick)

Anonim mengatakan...

Oh iya, khusus Bigmike, KASIH ITU LEMAH LEMBUT TAPI KUAT sudah BM praktekkan di sini. Saya senang karena bisa menjadi saksi bahwa KASIH bisa mengatasi banyak hal. Bahan renungan yang baik untuk bekal ke gereja besok pagi (Erick)

Anonim mengatakan...

Saya mendukung Norman karena sebenarnya yang ditekankan bukan pada individu tetapi hal-hal praktis. Berpikir global adalah berpikir hal-hal besar. Tetapi bertindak lokal yang dapat bermakna hal-hal yang praktis yang ada di sekitar kita. Inilah landasan etika bagi tulisan Norman (Sherly, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Pak Mike, saya setuju dengan sahabat Erick bahwa pak Mike sudah mempraktekan Prinsip Kasih yang kuat meski dia lemah lembut. Saya juga menimba pelajaran dari komentar Pak Mike.

Tentang tulisan Norman, saya malah mau memperlebar pertanyaan, apakah individu atau sistem yang lebih penting. Seringkali kita mendengar bahwa orang-orang baik menjadi rusak dalam sistem yg buruk. Di lain pihak, ada kejadian sistem yang buruk bisa diperbaiki oleh orang baik (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Berikut GW kutipkan narasi dalam laporan World Bank Tentang Indoensia tahun 2007

......Indonesia memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia dan biodiversitas yang signifikan secara global. Penyelenggaraan kehutanan menjadi awal yang nyata terjadinya desentralisasi dan demokrasi, konflik dan ketidakadilan, serta kemiskinan dan kerawanan sosial. Masalah-masalah hutan dan aliran air menyentuh setiap segmen masyarakat sipil, termasuk komunitas, kelompok adat, kaum wanita, kelompok agama, LSM dan kelompok-kelompok perlindungan, usaha besar dan kecil, serikat pekerja, lembaga pendidikan, media, pemerintah daerah dan parlemen, aparat penegak hukum dan pemerintah pusat. Kebijakan tentang hutan dan aliran air menjadi awal terbentuknya setiap tema utama pembangunan: pembangunan pedesaan, pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, pemberatasan korupsi, demokrasi, konflik dan desentralisasi......

Apa yg dapat disimpulkan? Masalah ternyata lebih ruwet dari sekedar pertanyaan individu atau hukum. Dari kutipan di atas hal terpenting adalah tata goodgovernance. Indonesia memerlukan kerjasama semua komponen bangsa.

Thanx Bigmike karena sudah membuat blog ini nyaman untuk semua orang. Termasuk GW yang memujamu sebagai My dear Bigmike //Pritha//

Anonim mengatakan...

yachhhhh si Pritha masih percaya ama WB yang pernah menjerumuskan bangsa ini ke dalam krisis multifaset. WB selalu membuat laporan-laporan yg ABS. Sekarang WB sok jadi pahlawan.

Masalah lingkungan kita sekarang adalah SDA kita yg sudah tergadai habis ke tangan asing dengan sponsor WB, IMF dkk. Minyak di blok cepu itu punya siapa? Hutan sumatera habis diukasai PMA perkebunan dari Malaysia. Apa lagi yang tersisa? Kita adalah bangsa yg tergadai yang cuma ngerasain banjir, longsor dan bencana lainnya (Sibirulaut)

Anonim mengatakan...

@ Sibirulaut,

Berikut ini saya kutipkan kejahatan Perusahaan Malaysia di Indonesia sekalgus merusak lingkungan hidup dna sumberdaya yang ada:

.....Hasil investigasi lapangan yang dilakukan aktivis lingkungan dari save our borneo (SOB) menunjukkan perusahaan –perasahaan perkebunan sawit itu berlokasi di kabupaten kota waringin Timur dan Seruyan Kalteng. Koordinator SOB, Nordin SE menyebutkan diketahuinya sejumlah perusahaan investor Malaysia melakaukan pembakaran adalah berdasarkan hasil penelitian lapangan dan hasil GSP. Perusahaan itu diantaranya PT Agro Bukit Golden Hope Bhd-Malaysia dikecamatan Kota Besi Kotim, PT Hamparan Sawit Eka Malam I dan selonok Ladang Mas didaesa Sembuluh kecamatan Danau Sembbuluh Seruyan, serta PT Sarana Titian Permata PPB Oilpalm Bhd Malaysia dan PT Kerry Sawit Indonesia Estate III PPB Oilpalm Bhd Malaysia di kecamatan Seruyan Hilir Kabuparen Seruyan.....

Itulah bentuk kejahatan corporasi an di bidang LHSDA. Oleh karena itu saya sependapat bahwa hal terpenting adalah penegakan hukum (Sulis)

Anonim mengatakan...

Indonesia.... tanah air beta.. pusaka abadi nan jaya.. Indonesia sejak dulu kala...hmmmmm...

dolly ballo

Anonim mengatakan...

@ Dolly,

Komentar apaan nih kok songong banget seeeehhh????? Pokoke, gw tetep golput ajah. Oleeee....oleeee....Golput (Proxy73)

jiwamusik mengatakan...

Thengs, telah diingatkan utk ke blog ini ;) Sy mau komen, tp udah diungkapin @Patrice di komen pertama. So sy cuman mau nambahin tp otak sy belum nyampe kelas The World, boleh ya ngomongin dalam negri aja deh ya?!

Keliatannya sih sahabat2 "semua" disini , dr komen2nya berfalsafah: "Oh my dearest Indonesia... I love you forever n ever... when loving her is wrong, I dont want to be right - ♡ ♡ ♡ -"
Mohon maap bila ada yg tak berfalsafah demikian, maka silahkan kata "semua" diganti aja dg mayoritas ato minoritas.

Nah kalo emang iya, so what gitu lhoh?? Utk ini, beta dukung siapa aj yg bilang utk mulai dr individu. Ok, let's start together champ!! Tp apakah bisa sejalan seiring seirama??
Jawaban sy, ndak akan pernah n never N never... kalo tanpa penyelarasan. Satunya ke kanan, yg lainnya ke barat, yg lain lagi malah mundur ke belakang, alesannya biar bisa bebas tepuk tangan nyorakin tim favoritnya.
Selain arah, juga protokolnya, apakah mau kaki kanan dulu yg maju ato mau dr jalan jongkok dulu? Lha kalo ndak kompak, pada hitungan ke-tiga malah saling tabrakan dan yeah.... bayangin 'ndiri dah kalo yg tabrakan itu adalah orang2 (yg merasa) hebat2.

Deal or No Deal spt ginilah yg sy pengin tau dr sahabat2 disini. Contohnya sahabat @Proxy73 sudah menyatakan sikapnya utk Golput, apakah yg lain mau Deal dg @Proxy73 or No Deal dg tetep jd Golongan Hitam, misalnya.

~JM~

Anonim mengatakan...

@Proxy73 btw, songong tuh apaan sih? sy kira ini bhs indo, tp barusan aku cari2 di kamus kok ndak ketemu ya
~JM~

Anonim mengatakan...

@norman and all

Saya tertarik pd 2 poin yg sedang dipersoalkan, ATURAN dan KETIDAKPEDULIAN.

Buat norman, bagaimana melegislasi KETIDAKPEDULIAN??? Apa perlu hukum cambuk???

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

Wahahahah.....saya baru pulang Greja dan senang melihat bung JIMI mencoba jadi orang kupang dengan kata ganti diri BETA hhhoooiiiii....dan lebih senang lagi ternyata Om JIMI di balik gaya slenge'annya punya konklusi yang hebat. MR JIMI anda itu siapa???? Saya tangkap, resep MR JIMI adalah:
1. Boleh mulai dari disi sendiri tapi siapa yang ngatur?
2. Kalau mau aturan, MR JIMI pake istilah "protokol", maka aturan harus kompak...

Yeaaaaccccch....yeeeaachhhh.....konklusi bung JIMI yang tadinya tidak saya pikir. Kali ini, tanda jempol tanagn dna kaki buat MR JIMI....(Eman, Oebufu)

jiwamusik mengatakan...

Spt saya sering bilang... mohon maaf jk saya BELUM MAMPU berterus terang spt sobat2 disini, pernah sy gambarkan sekeras2nya volume sy paling terdengar ular mendesis desis sss. sss.. ss..
Jd minta tolong yg rada2 bisa paham bhs ular, silahkan terjemahkan ke sobat2 disini agar 'terdengar'.

Suerr sy bukan panitia, tp liat poster besar di bundaran HI Jkt sy turut terkesima, gambarnya anak2 lucu dan kl gak salah inget kira2 bunyinya spt ini:
HARI TANPA TV 2008, Yuk..!! Bikin acara bersama keluarga di Hari Tanpa TV 2008

Sbl sampai siapa yg ngatur spt pertanyaan @Eman, Oebufu, sy jd pikir2 nie salah satu contoh cara mengajak yg bisa 'kelihatan' non blok buat banyak orang, kalo ada persyaratan hrs ada kepemihakan, sy kira orang akan mikir kampanye ini pro anak-anak dan keluarga.
Wah.. keren nie ajakan model gini.


~JM~

Anonim mengatakan...

Kayaknya, masalah moralitas sdh mjd nature dr blog ini. Hampir tdk ada tulisan yg komentarnya absen dr mslh moral-ethics.

Ada yg ngomong good governance. Ini jg moral krn mnrt @Wilmana, prinsip dasarnya TARIF alias trasparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness. Bikin peraturan? Ini jg btk enforcement thd nilai etika. Kembali ke individu? Lgsg bigmike di dukung Pak Erick utk nukilkan etika dasar.

Nomang lu musti siap2 krn meski lu mau omong yg pragmatis sj, tp jgn lupa itu tdk bs lepas dr normatifnya. Krn itu, beta ada pertanyaan buat nomang dan Bu agus Cs yg biasanya membantu nomang: kalo mau yg praktis2 saja, itu dasar normatifnya apa?

-bonggo-

Anonim mengatakan...

Setuju sama MR. JIMI. Anda jenius. Matikan TV, hemat listrik, konsumsi BBM berkurang, CO2 sisa pembakaran direduksi ...dan...huraaaaaaa......efek rumah kaca dihindarkan. SO, this is save our world. Eh kita tunggu posting MR. JIMI ya....(Bapaknya Norman, masih sakit dan pusing)

Anonim mengatakan...

@proxy73

Selamat kepada anda yang BELUM memahami maksud dibalik sebagian penggalan lagu di atas.. menandakan bahwa anda seorang yang smart..

dolly ballo

Bigmike mengatakan...

Untuk sahabat blogger yang berbahagia saya ingin mengutipkan syair sebuah lagu lama yang dinyanyikan oleh Tika Bisono dan ngetop di tahun 1970-an. Syair ini mengingatkan kita bahwa menjaga alam dan lingkungan hidup kita adalah hal penting dan
membahagiakan. Syair ini saya copy paste dari blognya MR. JIMI (http://www.jiwamusik.wordpress.com) dan jika anda berminat mendengar lagunya secara lengkap silakan mengeklik blog MR JIMI tersebut (Tengkyu ya MR JIMI).

Pagi
(Tika Bisono)

Dari balik jendela di kamarku
menyelinap seberkas cahaya
Hingga ku terjaga segera
dari tidurku malam itu
dan mimpiku yang mesra

Ketika daku membuka jendela
sinar mentari menyambut pagi

Burung-burung pun memberikan salam
dalam kesejukan dan indahnya pagi
Seandainya suasana pagi ini
kan sepanjang hari
betapa bahagia..

~{}~

Dari balik jendela di kamarku
menyelinap seberkas cahaya
Hingga ku terjaga segera
dari tidurku malam itu
dan mimpiku yang mesra

Ketika daku membuka jendela
sinar mentari menyambut pagi

Burung-burung pun memberikan salam
dalam kesejukan dan indahnya pagi
Tanpa terasa siang kan menjelang
Hari pun berganti
Waktu pun berlalu

[Reff:]
Burung-burung pun memberikan salam
dalam kesejukan dan indahnya pagi
Seandainya suasana pagi ini
kan sepanjang hari
betapa bahagia

Anonim mengatakan...

@Mas Bonggo

Saya jadi ingat lalu 'Dari Sabang Sampe Merauke'...

I T U L A H I N D O N E S I A

-Carpe Diem-

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

beta rasa saat ini belum ada hukum yang mengatur anda boleh peduli atau tidak dengan lingkungan sekitar. apalai hukum cambuk? ih serem nanti sama seperti di NAD sa. tapi silahkan anda tidak peduli tapi jangan salahkan kalau misalnya beras mahal karena iklim yang terus berubah, jangan marah (sonde punya hak untuk marah) kalau misalkan air sonde menetes lai di rumah. lebe bae beta buat sesuatu untuk lingkungan jadi kalau terjadi hal-hal seperti contoh di atas minimal beta "pantas dan punya hak" untuk marah. ha..ha. jadi biar bukan manusia yang hukum cambuk dengan orang yang tidak peduli tapi biar ko alam yang "cambuk" su begitu lai sonde punya hak untuk "marah". kasian sekali. ha..ha

(norman)

Anonim mengatakan...

-om yes (BTN)-

sekarang jadi pertanyaan penting mau dahulukan mana individu ataukah system dalam suatu manajemen lingkungan. ada 2 variasi tanggapan yang beta dapat dari tulisan ini yaitu ada yang mendukung mengatur individu ataukah mengatur system.

kalau beta berpikir begini (sori kalau salah), sistem (dlam hal ini kita berbicara mengenai sistem manajemen lingkungan) itu terdiri paling tidak individu (manusia), alam/ lingkungan serta individu lain. sistem itu bisa berjalan baik apabila semua komponen di dalam bekerja dengan baik pula, oleh karena itu dalam tulisan ini beta lebih menitik beratkan pada kesadaran individu dahulu mengenai keadaan lingkungan yang semakin parah, apabila individu itu sudah paham dan mau melakukan sesuatu yang real/ nyata maka baru kita berbicara tentang sistem.

pertanyaannya begini, terus bagaimana apakah dalam manejemen lingkungan hanya didahulukan terhadap individu kemudian barulah sistem?? tidak, saya pribadi ingin bilang kalau misalkan dalam suatu tempat dimana komponen2 dalam sistem itu sudah solid artinya kita hanya perlu bekerja merubah sistem itu sendiri.

oleh karena itu, beta lebih banyak menulis tentang kesadaran individu karena yang beta lihat di sekitar banyak orang yang belom paham, atau yang su paham tapi tidak melakukan apa2 untuk lingkungan, jangan jauh2 beta sendiri ju begitu na. jadi menurut beta yang dahulu harus diperhatikan disini adalah individu baru kemudian sistem.

(norman)

Anonim mengatakan...

-all-

kelupaan, dari sekian posting tidak ada 1 juga yang menyatakan deal or no deal e... ataukah semua mau golput?? ataukah sama seperti PKB, disini sudah terjadi "dualisme" pilihan jadi sekaligus pilih deal dan no deal. ha..ha

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Norman

soal deal or no deal jangan diartikan secara harafiah dong. Kita pada ngomong-ngomong di sinikan udah menunjukkan komitmen kita. Ya ngga br?. BM cepet sembuh ya (Nana)

Anonim mengatakan...

@ anak-ku Norman

Senang melihat kemajuan yang kamu dapat dalam teknik menulis. Terus belajar dan jika itu harus "mencuri" ilmu ayahandamu (bigmike) lakukan saja. Tidak apa-apa.

Begini,
Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Longgena Ginting mengatakan kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3,8 juta hektar setahun. Ini berarti semenit 7,2 hektar yang rusak. Jika masih terus terjadi dan kalau tidak dihentikan, maka hutan dataran rendah di Kalimantan akan habis pada tahun 2010. Minyak pun, dikatakan Longgena, tidak akan bertahan dalam waktu 10 tahun.

Dari tutupan hutan Indonesia seluas 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute (sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang. Berarti hutan Indonesia tinggal 28 persen. Data Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan 30 juta hektar hutan di Indonesia telah rusak parah. Itu berarti 25 persen rusak parah.

Apa masalah utamanya?

1.penebangan berlebihan untuk mencari keuntungan
2.ilegal logging
3.kebakaran hutan
4.dan alih fungsi hutan menjadi kawasn perkebunan, terutama di Sumatera dan Kalimantan, serta untuk pemukman. Entah sudah berapa ribu hektar lahan hutan mangrove yang habis dibabat dan dikonversi menjadi pemukiman perumahan mewah di pantai utara jakarta.

Jelas sudah bahwa penyebab kerusakan hutan adalah ulah manusia.

Apa solusinya? Di sinilah menurut hemat saya, kita jangan mempertentangkan antara individu dan aturan/kelembagaan. Bigmike pernah menulis tentang INDONESIAL dan di alamnya terungkap bahwa negara adalah gabungan antara wilayah, pemerintah dan rakyat. Maka, kewajiban kita semualah agar hutan dan lingkungan kita menjadi lebih baik lagi.

Salam buat bigmike. Semoga cepat sembuh (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

Dolly Ballo adalah "my wafer"-nya bigmike ya????? Mamanya si Norman dong????? Kok bobot komentarnya, kalah mutu sama tulisan Norman?????? Ya, udah nggak apa-apa membesarkan Norman juga hal yang luar biasa kok. Happy family ya. Ngomong-ngomong, bigmike bisa nggak nampili fotonya Norman?????? Penasaran gw ha ha ha ha (Ghentenx SYDN)

Anonim mengatakan...

@syamsudin

Saya bertanya kepada norman tp tdk dijawab, bahkan meberi komentar ini: "..tapi silahkan anda tidak peduli tapi jangan.." Fakta WALHI dan World Reseach Institute yg anda sampaikan disini membuktikan KETIDAKPEDULIAN kita.

Kali ini saya ingin bertanya kepada anda DAN JUGA YG LAIN. Bagaimana kita menjaga hutan dan lingkungan kita menjadi lebih baik lagi ditengah KETIDAKPEDULIAN? Apa perlu membuat aturan khusus mengatur ini??? Bagaimana caranya???

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

Dear Carpe Diem,

kebetulan saya baru saja mau off. Saya agak lama karena kembali membuka dan membaca beberapa artikel lama dari bigmike. Saya barus sadar bahwa ternyata bigmike ingin mengatakan bahwa : sebagai doktor kehutanan mungkin dia juga tidak akan berhasil mengatasi berbagai keruwetan tapi dengan berbagi pesan moral dan ethics, kita semua (bigmike dan komunitas ini) bisa memulai dari satu langkah kecil yaitu berbagi kasih di antara sesama manusia dan manusia dengan alam. aturan yang banyak belum menjamin apa-apa. SK menteri kehutanan sudah sekoper banyaknya tapi kerusakan tetap terjadi. Maka kita bisa mulai dengan hati. Itu kesan saya yang saya dapat dari bigmike dan itu jawaban saya untuk anda.

Ada sahabat yang pernah mengatakan bahwa blog ini hanya berisi puji-puji pada bigmike tetapi dengan menelusuri gerak-geriknya di sini, orang ini memang pantas dipuji (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@syamsudin

Hmmmm... anda cukup bijak dgn mengakui bahwa PERSOALAN KITA bukan pd aturan. Kita sudah punya, kalau anda bilang SEKOPER, saya ingin bilang SEGUDANG. Mungkin tdk berlebihan, yg belum diatur hanya masalah 'ranjang.'

Soal hati, saya give up deh. Kalau KETIDAKPEDULIAN --pd sesama, lingkungan, hutan, penegakan hukum dan aturan-- tdk dapat diatur, let alone (apalagi) HATI. Ini UTOPIA. Kasihan.

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

itulah yang namanya "play crazy" (main gila) atau becanda. tadi itu saya menanggapi dengan play crazy. oke kalau begitu, anda menitikberatkan pada KETIDAKPEDULIAN. bukankah itu yang saya katakan kita lebih suka mengikuti berita politik, berita artis, olahraga,dll tapi kita tidak peduli pada lingkungan. "sayangnya" kita tahu tapi tidak mau melakukan apa-apa. kita tahu efek global warming semakin terasa tapi apa yang kita lakukan?? saya berdoa anda tidak sama seperti saya yang tidak peduli. amin. tapi kalau anda sama seperti saya... welcome to the club my meeeen.

soal aturan, aduh... aduh jangan... jangan lagi deh. kenapa?? kurang apalagi hukum kita di Indonesia yang tercantum dalam undang-undang. soal hukum saya malah secara pribadi lebih berpendapat (jangan marah yah kalau saya salah), masalah kita bukan pada KETIDAKPEDULIAN tapi lebih pada moralitas (lagi-lagi). mengapa?? hukum kita punya itu sudah menandakan pemerintah punya kepedulian tapi masalah terbesar adalah ada ungkapan "hukum dibuat untuk dilanggar". siapa yang melanggar?? yah mereka yang buat peraturan itu sendiri. contoh : coba simak kasus yang menimpa si amin nasution... ah.. tidak..tidak saya tidak bilang kita perhatikan nasib si istri pedangdut kristina tapi kenapa anggota DPR ini sampai tertangkap KPK.

jadi saya ingin bilang, setelah kepdulian kita punya, jangan lupakan moralitas....

(norman)

Anonim mengatakan...

-nana-

ha..ha, anggap saja saya sedang "play crazy".


-Ghentex, sydn-

ha..ha, nanti saya kompromi dulu dengan "sebe" (dlm bahasa kupang sama artinya dengan ayah)dulu yah. mau gak sebe mike pasang foto saya..

-Jiwa Musik-

tidak...tidak saya tidak punya masalah dengan anda, saya hanya ingin berkomentar," WOOOW, kalau dulu anda orang EDAN yang berkomentar sekarang komentar anda EDAANNNN". Ha..Ha

(norman)

Anonim mengatakan...

-Buat Norman

Aaaaaaaaaah akhirnya anda 'tergiring' untuk mengakui bahwa persoalan kita ada pd MORALITAS. Dari pertanyaan saya yg pertama, hanya mas @bonggo yg cpt menangkap 'pesan' saya ini. Dia amat cerdas. Lihat komentar @bonggo ini sesudah komentar saya diatas:

Kayaknya, masalah moralitas sdh mjd nature dr blog ini. Hampir tdk ada tulisan yg komentarnya absen dr mslh moral-ethics.

Tp anda juga cerdas. Kita tidak butuh ATURAN lagi. Sudah punya SEKOPER (syamsudin) bahkan SEGUDANG. Sayang, pd awalnya anda agak gamang soal ini. Kelihatan saat anda memberi komentar kepada @a9us & @patrice diatas yg ingin aturan lagi. Sama dgn mas bonggo, sudah saatnya kita tdk 'bergantung' pd pemerintah untuk mengeluarkan aturan.

Okelah, pertanyaan 'follow up.' Bagaimana menumbuh kembangkan moralitas yg baik ditengah masyarakat kita untuk lebih peduli pd masalah yg sedang anda bicarakan disini???

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

-Buat Norman

Maaf, sedikit tambahan akibat kurang teliti membaca. Rupanya anda termasuk yg TIDAK BERMORAL aka TIDAK PEDULI ama lingkungan walau 'jumawa' ngajak org lain untuk peduli lingkungan.

Untuk itu, lupakan pertanyaan 'berat' saya diatas. Mulai dgn diri sendiri. Bagaimana menumbuh kembangkan moralitas peduli lingkungan pd diri anda sendiri??? Harus rajin ke rumah ibadah (gereja/mesjid/pura???) mendengar khotbah??? Rajin membaca buku etika??? Giat berdoa??? Atau apa????

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

yah, memang lagi-lagi masalah moralitas. tapi.... nanti dulu.... sebelum saya bilang moralitas saya terlebih dahulu menyebut kepedulian loh. contohnya untuk orang-orang yang berpikir seperti saya sendiri, masalah saya bukan pada moralitas tapi ketidakpedulian. jadi, masalah kita awalnya ketdakpedulian, setelah kita sudah peduli maka kemudian moralitas, dan kalau anda lebih jeli dalam komentar saya pada patrice dan a9ust saya juga menyebut moralitas loh. so.. saya tidak kalah cerdas dan cepat dari bonggo menangkap maksud anda. Ha..ha.

untuk masalah pengembangan moralitas, hmmmm.... let me think dulu yah, saya sih maunya menjawab yang praktis dan play crazy tapi kayaknya ini lebih pada filosofi moralitas itu sendiri jadi biarkan saya menemukan jawabannya dulu nanti baru saya bilang.. tapi jujur yang ada di pikiran saya saat ini jawaban dari pertanyaan anda adalah moralitas itu kembali pada pribadi masing-masing. dimana kita sdah berupaya dengan memberi info mengenai lingkungan, dll, sudah ada perangkat hukum yang mengatur tapi kalau masyarakat tetap acuh tak acuh bagaimana.. artinya setiap orang harus sadar dan peduli "yah saya mau turut menjaga lingkungan saya". yang penting tugas anda dan saya adalah bagaimana kita tetap mengajak sebanyak-banyak orang yang tidak sekedar peduli tapi juga mau berbuat sesuatu yang nyata bagi lingkungan. tapi kalau saya sudah menemukan jawaban yang lebih baik akan saya bilang, maaf o... saya belum bisa menjawab secara baik pertanyaan anda.

(norman)

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

wah, saya kecepetan nih posting komentar saya. cobalah anda baca baik-baik tulisan saya, saya dengan jujur mengatakan saya memang pernah dalam situasi tidak peduli pada lingkungan dimana saya tahu tapi pura-pura tidak tahu..

tapi untuk jumawa.... ah itu perasaan dik carpe diem aja (hi..hi), saya hanya tidak ingin anda-anda yang sama sperti saya ini tidak mengalami "pertobatan" seperti saya. oleh karena itu, saya mengajak orang untuk peduli terhadap lingkungn. tapi kalau anda memang sudah "duluan bertobat" sebelum saya yah silahkan anda skip tulisan saya ini dan baca posting tulisan yang lain karena tulisan saya ini tidak pas lagi untuk anda. bukan begitu ko?? sekedar saran saja, coba bacalah tulisan sebelum ini, tentang amerika,, wuiiih panas sekali mungkin cocok untuk anda. hi..hi

(norman)

Anonim mengatakan...

-Buat Norman

...saya berdoa anda tidak sama seperti saya yang tidak peduli. amin. tapi kalau anda sama seperti saya... welcome to the club my meeeen.

Maaf, saya tdk ingin jadi penuduh. Sekali lagi maaf. Jadi anda ini PEDULI LINGKUNGAN atau tidak, sekarang ini???

Sebelumnya, lihat komentar anda yg saya copy paste!!! Jelas anda TIDAK PEDULI lingkungan tp lalu anda katakan seolah itu DAHULU. Sekarang anda sudah TOBAT dan PEDULI.

Jadi sekali lagi, anda ini PEDULI atau TIDAK, sekarang ini??? Mungkin tdk perlu bertele-tele sehingga kita tdk debat kusir. YA atau TIDAK???

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

ha..ha. semakin panas saja. oh tidak.. tidak saya tidak bermaksud bilang anda semakin "panas" tapi suhu udara di kupang panas sekali yah..

oke, kalau anda mengharapkan jawaban saya secara singkat.

Dulu saya : Tidak Peduli
Sekarang saya : Peduli.

jadi anda mengharapkan saya yang dahulu atau yang sekarang?? secara jujur kan saya sudah bilang saya dulu tidak peduli (lihat dalam tulisan), tapi setelah secara tidak sengaja saya menemukan beberapa tulisan dan artikel di internet yang"serem" tentang keadaan lingkungan yang semakin bertambah parah, dan saya juga menyadari "i must do somethin' (saya barusan berbahasa bahasa sabu) oleh karena itu, saya sekarang sudah peduli dan mau berbuat sesuatu yang nyata, salah satunya lewat tulisan ini

(norman)

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

sekedar tambahan, welcome to the club itu artinya silahkan bergabung dengan saya yang dahulu, kalau mau bergabung dengan "club" saya yang sekarang yah artinya anda harus peduli dan berbuat sesuatu. karmana bos?? mau gabung "club" yang dulu atau yang sekarang?

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Apakah perubahan bisa kita diperoleh dalam tempo singkat? Apakah sesederhana itu proses kesadaran yang anda peroleh hanya gara-gara membaca artikel di internet? Jangan-jangan kesadaran yg dimaksud timbul hanya untuk kepentingan posting? Saya cuma mengingatkan bahwa perubahan yang instan biasanya adalah perubahan yang semu. Kalau begitu maka apa moralitasnya? (Ryan)

NB. bigmike, cepatlah sembuh dan posting kembali.

Anonim mengatakan...

-Buat Norman

Wah hebat juga ya, dalam tempo berselang bbrp komentar, anda berubah dari yg TIDAK PEDULI menjadi PEDULI, lewat internet pula. Dan KEPEDULIAN ANDA ITU, lewat bahawa sabu (bhs daerah anda????) anda mau berbuat seusatu yng NYATA, yaitu POSTING anda.

Baiklah, saya terima. Tp kami yg sudah komentar disini, apakah artinya kami juga sudah berbuat sesuatu yang NYATA juga??? Atau anda harapkan yg lebih??? Tentu pemasanan global dgn segala akibatnya tdk berkurang sedikitpung hanya lewat kata-kata. Betul???

Okelah, mari kita terus lanjutkan bincang-bincang ini ke level yg lebih dalam lagi. Bisa tdk ceritakan apa yg mendasari perubahan sikap and itu??? Misalkan ini. Sebagai org timur, kita punya 'agama.' Ajakan berbuat sesuatu demi lingkungan, maka jargon yg sering dipakai pakai adalah jargon agama. Kalau anda muslim, misalkan lagi, coba jelaskan jargon keyakian anda itu!!!

Lho...lho, apa maunya saya ini??? Agar tdk dicap perubahan instan oleh Ryan, maka anda jgn bicara hal pragmatis saja. Tetapi spt yg disarankan mas bonggo diatas. Apa landasan normatif perubahan anda itu???

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

-Ryan-

ah... betul juga kata anda, saya tidak bisa langsung berubah hny dengan membaca posting di internet, tapi anggap saja dengan membaca artikel di internet (secara tidak segaja) itu merupakan puncak titik balik perubahan saya setelah sekian lama di benak saya penuh dengan "teori-teori" akibat pemanasan gobal (yang sayangnya tidak merubah saya), saya menemukan artikel di internet (saya lupa alamat internetnya) yang berisi "segudang" kejadian nyata mengenai akibat global warming, yang buat saya tertegun ternyata daerah saya NTT juga tersebut di situ sebagai daerah yang turut menglami akibat. ternyata NTT yang dr dulu kering ini semakin kering dengan adanya pemanasan global ini. terus saya harus apa dong?? apakah saya harus diam saja, atau melakukan sesuatu. saya memilih saya harus melakukan sesuatu.. akan tetapi, saya lebih suka melakukan sesuatu yang praktis seperti contoh yang telah saya sampaikan dalam tulisan saya. tentu saja, saya sadar dalam masalah pemanasan global warming ini sesuatu yang "besar dan rumit". saya sadar itu, tapi saya juga berprinsip untuk sesuatu yang besar bisa dimulai dari hal yang kecil. terserah kalau anda berkata jangan-jangan ini hnya perubahan instan yang semu tapi saya tahu saya harus melakukan sesuatu, yang tentu saja proses perubahan ini tidak dalam sehari-dua hari sebelum saya menulis tulisan ini.

(norman)

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

yang pertama, saya ingin berterima kasih pada anda, karena lewat pertanyaan serta kritik anda berhsil "memaksa" saya untuk membuka berbagai buku-buku ayah saya. tapi yah.. itu dia, ayah saya menjadi kesal karena buku-bukunya yang telah tersimpan rapi di rak, hilang tak berbekas. ha..ha. tapi apapun itu, saya berterima kasih pada anda dan semua yang telah bertanya pada saya.

yang kedua, Wooow pertanyaan anda sungguh dalam jauh di luar isi tulisan saya yang praktis-praktis saja... ijinkan saya "bongkar-bangkir" buku dulu untuk menemukan jawaban pertanyaan anda. wah... bisa tambah "kesal" nih ayah saya. Hi...hi

(norman)

Anonim mengatakan...

-Buat Norman

Satu hal yg saya salut, anda tdk berusaha 'keras' menutupi kekurangan anda. Anda manusia tipe PEMBELAJAR sejati. Walau saya 'baru' disini tp menemukan banyak manusia 'kosong' tp 'bermulut besar.'

Saya berdoa untuk anda, makin cerdas dan bijak serinng waktu yg ada. Salam hangat dan kenal buat ayahanda sdr. Daripadanyalah saya diam-diam belajar disini dan memberanikan diri memakai nama "CD," bukan Celana Dalam, tapi CARPE DIEM.

Baiklah, saya memberi waktu untuk anda membaca dan silahkan kembali untuk kita lanjutkan diskusi ini.

BUAT YANG LAIN, silahkan ikutan menjawab! Apa landasan normatif kita baik sebagai bangsa/negara/individu untuk LEBIH PEDULI lingkungan???

-carpe diem-

Anonim mengatakan...

@all

Agaknya, sebelum kita bicara peduli lingkungan, PEDULI SESAMA MANUSIA perlu mendapat perhatian SERIUS. Contoh kasus adalah perkelahian 2 siswi sma yogyakarta yg ditonton, disorak-soraki, direkam dan dipublikasi untuk dunia. Silahkan KLIK DISINI untuk melihat!!!

Pendulum budaya kita sudah jauh bergerak ke KIRI. HOW LOW CAN WE GO NOW???

-Carpe Diem-

Anonim mengatakan...

Wah, bukan cuma tulisannya makin OK. Tp komentar2 norman tiba2 mjd begitu berisi. Luar biasa.

Wooeee nomang, lu abis belajar dr Om Agus, ko? Pantasan beta tunggu dia di sini sonde keliatan batang tenggorokannya.

Wooee Bu Agus ada tasibu apa ne ko ilang lama mo mati saa... Ato Bu masi kumpul data, ko? Bae sudah... Skrg bet mo kasi komentar tambahan dolo.

@All,
Seak minggu lalu, saya ada kasi dua masalah moral yg serius terkait postingan norman, tp kok kalian tdk tertarik merespon, ato mulai takut dg tongkrongan BONGGO?

Pertama, sejalan dg towelan bigmike yaitu individu2 mulai sj bikin sesuatu yg nyata, spt ada yg pimpin anak2 remaja nanam puluhan pohon di Cibubur. Atau lakukan ziarah mencari prinsip etika dasar utk mengubah hati dan lalu dr hati akan mengalir ke sikap/tindakan nyata.

Kedua, ada buah simalakama. Mau keluar biaya besar utk atasi kerusakan lingkungan, ato atasi kemiskinan global yg percepatan peningkatannya semakin menggila stlh tak terkendalinya harga BBM.

Eh norman, plus beta punya pertanyaan normatif itu, beta kasi deadline paling lambat ahir minggu ini sdh hrs ada jawabannya. Kl tidak, yaa gapapa... Dijamin, Beta sonde bakal cap nomang malu2in, apalagi kasi label "kalah telak". He he.. Jang mara ooo...

-bonggo-
(Bhs Jawa: tdk mo ikut aturan)

Anonim mengatakan...

Halo semuanya,

Sorry ada beberapa tugsa yg harus dikerjakan. Ngintip blog juga sbantar-sbantarab sa. Ha ha ha tongkrongan seperti bonggo sama sekali tidak menakutkan bagi beta. Di kupang ada banyak yang ke bonggo. Blom tau bigmike? Alus-alus tapi kalau sudah sampai pada tahap "bertengkar" dia juga mengerikan cenderung ngotot yang keterlaluan. Kenapa saya tidak takut? Ya karena saya yakni sepanas apapun kita akan tetap sahabatan. Persahabatan kami sudah dimulai sejak SMP. Kami berdua satu kelas. Satu bangku. Waktu saya dalam kesulitan, dicarinya akal-akalan untuk membantu pembiayaan entah lewat proyek apa. Dia pernah sengaja mundur dari 1 proyek di Kapet Mbay hanya supaya saya masuk ganti dia. Sebaliknya, ketika dia terkatung-katung di Jogja, saya berusaha menari-cari proyek penelitian supaya dia terbantu. Dalam banyak hal kami tidak sependapat dan kami saling baku "gigit" tapi kami akan kembali ke pertemanan. Anda bingung dengan uraian saya? apa hubungannya dengan posting Norman? Ya, saya terinspirasi justru dari persahabatan saya dengan ama luji alias bigmike. Awalnya memang harus moralitas yaitu persahabatan. Lantas kami bisa bekerja sama dengan baik karena ada proposal, ada kontrak kerja. Ada aturan (A9ust)

Anonim mengatakan...

He he he.. Rupanya @bonggo paling tau cara kasi muncul pak Agus di sini. Woee pak Agus... Pak ne sekali ika kobo tetap begitu... Biar tasibu kayak apapun, pasti ada wkt utk makan umpan @bonggo... Org psikologi bilang sekali karakter terbentuk, susah diubah lg...

Eh, kayaknya pak Agus sekarang musi tambah satu lg hal utk bigmike. Beta ada curiga paitua punya masalah enzymatic dg pencernaannya. Ternyata, dokter internis jg punya curiga yg sama. Maksudnya, Pak yg ada ba deka deng bigmike tolong bantu kasi inga paitua jangan sembarangan makan. Terutama makanan yg sonde mampu dicerna dg baik, krn pencernaannya tdk bisa produksi enzym utk itu. Makanan kayak gini hanya akan jd racon buat dia. Sekali kena, usus luka, sistem syaraf yg atur solar plexus ngaco (mknya dia suka ke org mabok, ato kl su marah suka "mengerikan").

Wkt pulang dari Tuamese, paitua ada cerita, ba sodara di sana kas makan sampe tembolok sesak. Beta su yakin pasti ada salah makan ne, jd B kas inga ko puasa makan enak dolo. Tp yaah begitulah Boss kita... Apa blh buat.

Kembali ke laptop, Beta punya ide utk menjawab tantangan bigmike dan yg lainnya seputar moralitas cinta bumi. Tp nanti sa br B kasitau.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Dulu ada NK VS Wilmana. Skarang ada bonggo VS agus. Janjian ribut ya? he he he asal jangan kayak superoter persib VS persija ajahh. Bikin malu. Nah, kesadaran untuk nggak malu-maluin adalah resep menaangani masalah lingkungan. Apa enggak terlalu, bangsa besar dan kaya kok ngelego lahan untuk Malaysia bikin kebun klapa sawit. Lahan dibakar asap pindah ke Malaysia ehhh...pura-pura marah encik-encik itu. Lah, kita? lihat tuh al amin, dan kain-lain sibuk jadi makelar untuk jual hutan. Gileeee beneeeerrrrrrr....(Suryana)

Anonim mengatakan...

Setuju dg Kang Nana... Moga2 kemarin akang gak ikutan dlm rombongan bobotoh... Malu2in, toh?

Makanya sy ingetin Pak Agus spy jgn ladenin si mabok bonggo. Istilahnya, org gila diurusin lah lama2 kita jd gila jg... Lalu org waras kita cap gila jg, malah kita hina sbg gila junior, spt nukilan bigmike di posting Carpe Diem.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Eh maaf, salah lagi... Ttg org gile bkn di Carpe Diem, tapi psoting bigmike tentang Sepakbola Jerman.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Ah, Bung Wilmana pake acara buka2 rahasia... Tp okelah... Beta memang sonde ada maksud ganggu Bu Agus.. Mmg beliau saja yg terlalu sensitif. Maaf oo, Bu Agus..

Tp merefleksi "pertengkaran" beta dg Bu Agus di posting2 lalu, beta jd ingat satire yg dibuat Majalah The New Yorker edisi terbaru yg manuai kecaman publik. Dg satire-nya, The new Yorker ingin mengolok-olok kaum kanan yg mispersepsi thd sosok Obama, tp malah dianggap menghina Obama. Dan, tentu kita semua tau bhw krg/lbh nasib yg sama dialami beta pd posting Amerika.

Masalahnya di mana? Kemampuan komunikasi dg org laen yg berbeda background baik itu: budaya, agama, profesi pekerjaan, dll., yg membentuk pola pikir kita msg2. Kesenjangan dlm hal ini berujung pd sikap saling meniadakan, pdhl kita semua hidup di bumi yg sama dan tdk mungkin saling meniadakan. Dan kita liat, jk bkn krn kebajikan bigmike, mk mgkn nama Bonggo sdh tdk ada lg di blog sini.

Fakta Indonesia kita tdk lbh nyaman dr apa yg dihadapi bonggo di sini. Sebagai satu contoh, pada waktu orang berbicara tentang ideologi yang lain, maka yang direspons justru dengan cara menuntut pemberangusan ideologi. Pada waktu orang membangun paham agama yang berbeda maka yang dituntut justru pemberangusan sekte tersebut. Pada waktu satu kelompok fanatik agama bentrok dengan yang moderat maka yang dituntut adalah pembubaran kelompok tersebut.

Terkadang saking kerasnya, sampai-sampai kita lupa bahwa manusia yang sedang kita tuntut untuk ditiadakan itu adalah sesama anak bangsa Indonesia sendiri. Sehingga kalau ditiadakan maka justru akan menimbulkan masalah baru "apakah arti ber-Indonesia?"

Kembali ke isu lingkungan. Jk ada yg sumbang Lagu Tika Bisono, mk sy sumbang kisah menarik sbg bhn refleksi kita.

Yah begitulah, program keluarga berencana kan sudah tak ada lagi. Jadi kalau ada rakyat mati karena kesulitan ekonomi, mungkin dianggap bisa mengurangi penduduk .... Nah, naiknya harga BBM sekarang, segera menimbulkan akibat terjadinya PHK diberbagai perusahaan. Satu di antara yang terkena PHK adalah Ka'e (singk dr Mikael). Bulan ini dia tidak bisa lagi mengirim uang untuk istrinya di kampung halaman. Ia hanya bisa mengirim surat. Isinya, sebagai berikut:

Istriku Tercinta,
Maafkan Beta sayang, bulan ini Beta tidak bisa mengirim uang untuk kebutuhan keluarga di rumah. Beta hanya bisa mengirimimu 1000 ciuman.

Paling cinta,
Mikael

Tiga minggu kemudian Ka'e mendapat surat balasan dari istri tercintanya:

bu Ka'e tersayang,
Terima kasih atas kiriman 1000 ciumanmu. Untuk bulan ini Ma'a (singk dr Martha) akan menyampaikan laporan pengeluaran keluarga sbb:

Tukang minyak bersedia menerima 2 ciuman setiap kali membeli 5 liter minyak tanah. Tukang listrik mau dibayar dengan 4 ciuman per tanggal 10 setiap bulannya. Pemilik kontrakan rumah mau dibayar cicil dengan 3 x ciuman setiap harinya.

Engkoh pemilik toko bahan makanan tidak mau dibayar pakai ciuman. Ia maunya dibayar dengan yang lain... Ya terpaksa Ma'a berikan
saja. Hal yang sama juga Ma'a berikan buat kepala sekolah dan gurunya si Udin yang sudah 3 bulan nunggak uang sekolah..

Besok Ma'a mau ke pegadaian untuk tukerin 200 ciuman dengan uang tunai, karena yang punya pegadaian sudah bersedia menukarkan 200 ciuman + bayaran lainnya dengan uang 650ribu, lumayan buat ongkos sebulan. Keperluan pribadi Ma'a bulan ini mencapai 50 ciuman.

Ka'e tersayang.. bulan ini Ma'a merasa jadi orang yang paling kaya di kampung, karena sekarang Ma'a memberikan piutang ciuman ke banyak pemuda di kampung kita dan siap ditukar kapan pun Ma'a butuhkan.

Ka'e sayang, dari Ka'e masih tersisa 125 ciuman, apakah kamu punya ide?
Atau beta tabung saja ya?

Paling sayang,
dari Martha seorang.

Gedubrak!! Ka'e pun pingsan alias semaput-puut. ....
----------------

Baiklah, para sahabat blogger. Moga2 bisa membuat Bu Agus yg molai tersinggung, cepat tertawa lagi.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

He he he.... adik bonggo lg on-line rupanya dan bikin joke yg bukan lucu malah bikin perasaan beraduk-aduk...

Tp, dlm kisah satire adi bonggo di atas, sy kira ada kaitannya dg konteks keutuhan ciptaan. Manusia dlm kapasitasnya, rupanya cukup gagal membangun jembatan komunikasi yg harmonis dg ciptaan lainnya. Kesenjangan komunikasi yg tjd, rupanya disikapi manusia dg upaya yg menjurus pd peniadaan ciptaan lain, termasuk sesama yg dianggap berbeda. Pdhl etika dasarnya, manusia tdk bisa hidup sendirian di bumi ini bahkan sangat bergantung pd ciptaan lain bg kehidupannya.

Tp, bicara ttg Pak Agus, jd ingat Mr Bingo dr Republik Impian MetroTV. Selalu berbicara dengan data... He he he... Cm becanda, lho..

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@bonggo

*ha ha ha 1000X*

Kalau a9us tdk bisa tertawa soal satire sdr itu, artinya dia memang PEMARAH.

-kadeluk-

Anonim mengatakan...

@ bonggo dan kadeluk

Wah jangan main api lagi bang. Rasanya bung A9ust tadi cuma sekedar menanggapi bonggo yg mengatakan bahwa
orang-orang tidak mau kirim komentar seolah karena takut tongkrongan si bonggo...lalu ama pi tamba-tamba bahasa macam ke...unjuk tenggorok ...bung Agus talalu sensitif.....dst...dst.... Kadeluk pi tamba-tamba bahasa bahwa A9ust bisa jadi pemarah. Ama tau to, barang begituan di kupang kadang bisa ditanggapi maen gila tapi bisa gila betulan.

Saran beta, kalo mau ajak diskusi ya diskusi sa. Trus kalo orang sonde tanggapi ya sudah. Sapa tau orang ada tasibuk urus-urus yang macam-macam. Kan idop bukan urus blog sa to?

Na, knapa beta tamba bumbu? beta sonde mau kalau jadi tasibu-ribu di sini maka suasan jad sonde enak. Bt ju jadi malas maso komentar karean tasibu sonde pake ujung pohon kemaren itu. Akhirnya, BM kasi keluar togor lagi. Inga, BM su togor su asa 2 - 3 kali. Bt jadi ingat, Patrice pernah bilang: sonde malu tua-tu kena togor?

A9ust,

Bung, tar usa kalongko dalam. Itu orang dong pung model su begitu suda. Suka cari perkara. Soalnya kalo bung dong su batasibu kitong jadi pamalas masok blog.

@ bigmike

Beta berusaha cari BM waktu pesta rakyat bareng FREN di depan rumjab, BM tidak kelihatan. Masih sakit ko? Cepat sembuh eeee....
(Eman, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Mohon Maaf kata yahhh, saya heran orang macam bung YESS.inicontoh orang yang sukanya yang ruwwweet n birokrasi... kok sesuatu ngga mau dari diri kita dulu. Bung Yess, hidup mulailah dari diri kita, ahh githu aja kok repot-repot. Yah Tokh??
persoalan kitaMasalah Kesadaran itu jadi persolan bagi manusia sepanjang hidupnya.. Nah gimana supaya hal sepele itu ngga terus menerus menjadi masalah???
Hal ini yang Belum di jawab sama norman ama BABEH nye sama om wilmana, om bonggo, om NK dll.
mohon dicarikan solusinya. ada???

=EUIS=

jiwamusik mengatakan...

Selamat malaaam semuaaa....
Sori kalo OOT, anggap aja sekedar intermezo soalnya dr td pagi baru skr bisa konek n stl baca imil langsung berintermezo kesini deh.

@BM, thengs atas promosinya, but kayaknya ndak eh belum perlu deh, lha sy sendiri aj ndak eh belum pernah promosi'in blog sy. Mungkin ada yg ndak eh belum percaya, mana ada sich blog kok ndak pengin populer?? Sy jwb sendiri: Emangnya blog hrs populer, bermanfaat, menarik, dsb dsb? Hmmm... sulit juga kalo jelasinnya, tp sy tau bhs jwnya "klangenan" mungkin bhs indonya kira2: "yeah... buat kesenangan sendiri aja kok"

Contohnya nih, td malem sy sibuk kejar target upload lagu2 masa jadul & patriotik (sst... kl buat "klangenan" aja.. malah di-bela2-in sibuk kejar target, pdhl kalo kerjaan bawaanya bengong n ngeles melulu). Sampe akhirnya lagu Rayap-Rayap oleh Mogi Darusman. Bagi yg pernah merasakan masa popularitas lagu ini tentunya dg mudah maklum kenapa lagu ini sy pilih sbg klimax. Bagi yg blm tau lagu ini, bayangin aja gimana rasanya keluar dr gedung bioskop abis nonton film superhero. Wuih!... rasa2nya sy kayak jagoannya KGB - Ksatria Gagah Berani. Malam pun sy tidur sambil senyum2 terngiang2 di di kepala nyanyian Rayap2 ini.

Eee... pagi2 bangung tidur tiba2 inget sinetron TV Upik Abu dan Laura, gua posting dah. Ya jadinya brangkat kantor bukannya terinspirasi lagu2 jadul dan patriotik yg sy upload tadi malam, tp malah tergeli-geli sendiri sepanjang perjalanan ke kantor.

Rasanya spt barusan susah payah mendaki gunung dg upload lagu2 jadul dan patriotik (berdasar statistik lagu2 begini ndak ada yg laku), udah sampe atas langsung terjun bebas ke laut byurr... Ini yg sy sebut kesenangan sendiri including geli sendiri. Wajar aja, kl komen2 di posting ini cuman hi hi hi.. ato pd terheran2. Lha gua aja heran kok bisa tiba2 posting beginian. Nah yg nyleneh2 gini nih biasanya laku, barusan cek top post no 4 di BOTD-nya WP bhs Indo.
He he.. kliatannya sy lagi narsis dot kom ya.., tp sy kira inilah refleksi fenomena (mungkin: kenyataan) naluri kepedulian orang kebanyakan di sekitar kita, apapun kepedulian anda. Dg kt lain, sah2 aja anda2 boleh memandang sepele sesuatu, tp sometimes kita sebaiknya tahu apa yg dipandang penting ato lebih dipedulikan oleh orang banyak.

Again n again: sori, rasanya baru kerja fisik seharian, so ndak ( kl "ndak" yg ini gak pake "eh belum" ) kuat mau terus ngenet utk memantau diskusi ini. Go ahead frends, sy mau bobo dulu ya...

~JM~

Anonim mengatakan...

=EUIS=

sekedar ingin 'beri' solusi PRAKTIS.

Kalau kita belajar teori KEPEMIMPINAN, ada jenis 4 kepemimpinan sbb:

1) Kalau yg dipimpin PINTAR & PEDULI, gaya kepemimpinan adalah DELEGASI

2) Kalau yg dipimpin PINTAR tapi TIDAK PEDULI/TIDAK BERMOTIVIASI/MALAS, gaya kepemimpinan kita adalah DORONG.

3) Kalau yg dipimpin BODOH tapi PEDULI/RAJIN gaya kepemimpinan kita adalah AJAR.

4) Kalau yg dipimpin BODOH plus MASA BODOH/TIDAK BERMOTIVIASI/MALAS, gaya kepemimpinan kita adalah PERINTAH.

Okelah, mari berandai-andai. Besok anda akan dilantik jadi PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yg ingin lingukngan dan hutan 'bersih.' Dari 4 jenis kepemimpinan diatas, mana yg anda pilih demi sukses kampanye peduli lingkungan dan hutan???

BINGGGOOOOOOOOOOOOO, Anda tepat sekali. Rakyat yg anda akan pimpin bertipe BODOH plus MASA BODOH, TDK PUNYA MOTIVASI, MALAS. Jadi anda harus MAIN PERINTAH. Anda harus jadi ORANG KUAT.

Masalah selesai??? TIDAK. Masih 1 hal yg BETUL-BETUL anda harus pastikan dgn tipe kepemimpinan ini, anda manusia dgn kualitas MALAIKAT. Kalau tdk, Lihatlah nasib 'org kuat' bernama soeharto.

-CD-

Catatan: CD = Carpe Diem, bukan 'Celana Dalam.' Awas, jgn diplesetin!!

Anonim mengatakan...

Wah... Beta merasa dijewer oleh Om Eman... Trima kasi banya, Om. Beta akan inga selalu nasehatnya. Krn itu beta hanya akan kili2 beta pung kaka plus sahabat di blog ini, namanya Bu Agus. Org laen, rasanya Beta sonde berani maen2, kecuali dorang ajak bermaen.

@Euis
Beta setuju dengan sentilan neng Euis. Dr kemarin jg sdh omong begitu dg gaya bahasa laen. Intinya, manusia harus punya hati nurani yg peka "berkomunikasi" dg ligkungannya. Do for others what you want them to do for you. Dlm konteks keutuhan ciptaan, "others" itu termasuk ciptaan lainnya selain manusia. Masih kurang juga?

Neh beta kasi tambahan lagi. Omong saja, kasi ide saja, bikin peraturan sj, kasi peringatan saja, kuatir saja, dll., tapi TANPA AKSI: Utopis.

Beta sdh bawa para belasan remaja penganut hedonisme dan carpe diem utk tanam pohon. AC (air conditioning) diganti pake AB (angin biasa). Pohon kamboja di pot mulai berbunga, tp sayang pagi2 ilang dicolong orang. Yang laen suda bikin apa? Pemerintah sdh bikin apa? Gereja bikin apa? Dst.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@BTN, @Norman
sulit njelasin apakah individu atau sistem yang lebih penting. Tp sulit bukan lantas berarti tak bisa. Sy mau jawab saja pertanyaan ini hanya tanpa penjelasan, untuk kawasan Asia, kecuali kasus2 khusus (e.g. Jepang), pd umumnya individu (bos) yg lebih penting. Mirip spt yg dijelasin @CD dan diteladani oleh @bonggo

@CD
stiker dg tulisan ini banyak ditempel di kantor2 di bawah grup pengusaha nasional
#1 Bos selalu benar
#2 Bila bos dipandang salah, baca rule #1

Sy pikir pihak owner, mau tanam keyakinannya yg di anggap benar ke para karyawannya: kalo mau dianggap benar maka berjuanglah jd bos, kalo ndak eh blum bisa jd bos ya.. turuti bos kamu. Kalo ndak punya bos??? Follow the sun!

@bonggo
sy akui sy ndak begitu fokus di diskusi2 blog ini tp rasa2nya sy bisa merasakan 'aroma' kePeDean. Baru skr lah sy tau ternyata perasaan sy tsb ndak meleset2 amat. Orang PeDe kayak anda gini, yg sy pernah tau, umumnya mrasa punya tingkat awareness (=kesadaran?) yg lebih shg sampe bisa dorong ke suatu aksi/perbuatan nyata. Meskipun sy ndak kenal anda, lemmi ngucapin good luck n go ahead, ini adalah proses pembelajaran n pengembangan. Anda bukan saja sudah deal tp bahkan sudah duluan start, tinggal terus berpacu dan melewati aneka rintangan. Enjoy the race!
~JM~

Anonim mengatakan...

@JM

Hmmhh.. drpd saya keliru memahami, mending nanya... Apa iya @bonggo sdh bikin anda naksir berat padanya? Bahkan saking naksirnya, anda sampe rela berkomentar kayak org gila spt di atas? Pdhl biasanya anda normal2 sj spt sahabat mabok anda bigmike itu..

Ehm ehm... saya jg rada jealous, neh...

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

-Buat Mas Bonggo

Norman sedang membaca buku-buku @bigmike, ayahandanya, mencari landasan nilai sikapnya yg 'sim-sala-bim' menjadi peduli thd lingkungan. Baguslah. Bapak a9us yang anda harapkan untuk 'duel' sedang sibuk. Bisa jadi sdng sibuk dgn data pertanian. Semoga kali ini datanya itu bermanfaat membangun pertanian di daerahnya. NK entah kemana, hari gini belum muncul juga. BM sakit. Semoga lekas sembuh. Sedang yg lain, entah sibuk atau apa atau memang tdk punya opini. Jadi, mari kita berdua berbincang-bincang perihal isu amat penting ini.

Saya amat tertarik dgn stament anda ini:

"..omong saja, kasi ide saja, bikin peraturan sj, kasi peringatan saja, kuatir saja, dll., tapi TANPA AKSI: Utopis. Beta sdh bawa para belasan remaja penganut hedonisme dan carpe diem utk tanam pohon. AC (air conditioning) diganti pake AB (angin biasa).."

Saya setuju, omong saja dll TANPA AKSI adalah utopia. Tetapi ditengah ketidakpedulian yg teramat luas dimasyarakat, aksi-aksi individu hedonis yg hanya tanam bbrp pohon juga sama utopisnya. Yg agak lucu adalah mengangtikan AC dgn AB. Puluhan juta rakyat miskin sudah lama menikmati AB. Buat rakyat kebanyakan, hanya saat lewat pintu shopping mall baru bisa merasakan angin sejuk AC. Jadi anda tdk perlu terlalu kuatir dgn pemakaian AC di Indonesia. Hanya bisnis dan rakyat kelas atas yg menikmati ini.

Tentang ketidakpedulian kita, coba anda cek survey yg ada, apakah globang warming sudah menjadi isu nasional??? Ini masa kampanye khan. Apakah ada partai politik yg mengangkat isu pemanasan global??? Kalau tdk ada, menurut anda mengapa???

Jadi, ketimbang 'kampanye' mengajak kaum hedonis untuk peduli lingkungan, ada solusi yg lebih praktis tp tokcer. Kontaklah perwakilan anda di DPRD/DPR atau Partai Politik anda untuk mulai mengangkat isu pemanasan global menjadi isu nasional penting. Hanya ketika 'mesin-mesin' politik mulai bergerak merespon dampak global warming, perubahan signifikan (bukan simbolis) dpt diharapkan.

Aatu ambil contoh BM yg 'dekat' dgn penguasa di daerahnya. Kalau ingin mengubah sesuatu dimulai dari diri sendiri, maka bisa tdk membisiki kawan penguasa untuk mulai memperhatikan isu pemanasan global di daerahnya? Ini lebih efektif ketimbang, misalnya, tanam bbrp pohon dihalaman rumahnya harap-harap tetangga ikutan.

Bagaimana, anda setuju dengan saya???

-Carpe Diem-

Anonim mengatakan...

@Wilmana, thengs atas notifikasinya.

Tp ndak perlu cemburu gitu lah, apa sy nampak naksir do'i kah? Ah, sy merasa masih normal2 aj tuuh.. selama sy masih berusaha fair. So siapa pun do'i, ato misalnya andakata pun do'i tukang mutilasi sekalipun, sy msh yakin ada bagian baiknya, yg kebetulan ia banggakan saat ini, yaitu aksi. Dan rasanya sy tak akan menyesal mendorong kebaikan - siapapun pelakunya

Anonim mengatakan...

@Carpe Diem
Spt jawaban sy thd @BTN, @Norman, sy setuju bisikan BM ke penguasa BISA (baca: pd umumnya) "lebih" efektif. Maksud sy dg kata "lebih" disini adalah aksi @bonggo dkk ndak pernah useless.
Kita musti liat case by case, ndak selalu melulu begitu
~JM~

Anonim mengatakan...

Ha ha ha... bonggo ditaksir ama JM??? ha ha ha... saya malah pikir bonggo ditaksir ama a9us, ha ha ha.

Woooi bonggo, lu untung sonde maen gila deng eman, oebufu, te baitua ju 'batu' sama ke a9us. Tp baitua pung nasehat pi a9us mantap mau mati eee. Macam ke org buta tuntun org buta, ha ha. Org kupang doang 95% cepat nae dara to kalu soal nasehat org, nomor 1. Coba cek @anak nkri, su lari panta panas setelah dapa lipa di pon talinga dari eman, ha ha ha.

-kadeluk-

Anonim mengatakan...

-carpe diem-

ah, komentar anda tentang saya yang sim salabim langsung berubah karena membaca buku ayah saya terlalu berlebihan. sama seperti Amerika yang terlalu over acting pi serang afganistan, hasilnya??? Malu saja yang didapat. Hi..hi

-bonggo-

saya sudah berusaha keras menemukan jawaban dari pertanyaan anda tapi jujur saya tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, karena setelah su pi bangkar-bangkir buku dan bertanya pada ayah saya dimana saya disuruh membaca buku "etika lingkungan" karangan A. Keraf, tetap saja saya tidak menemukan apa dasar normatif untuk lebih peduli pada lingkungan. kemungkinan cuma 2 : 1. saya yang kurang brusaha sehingga tidak menemukan jawaban, 2. jawaban dari pertanyaan itu tiak ada, tapi mungkin saya yang kurang berusaha kali yah.. sya berpikir.... berpikir..... pikir.... saya malah menemukan jawaban yang malah sedikit bersinggungan dengan keyakinan saya yaitu KASIH. lho kok kasih?? yah, saya berpikir bahwa kasih tidak hanya diwujudkan dalam kasih kepada Tuhan atau juga kasih terhadap manusia, tapi juga diwujudkan pada kasih pada lingkungan. peduli, moralitas yang baik, dll, ternyata kalau dipikir-pikir itu kan wujud dari kasih kan.. kalau kita "mengasihi" lingkungan yah kita harus peduli, kalau kita mengasihi lingkungan yah dalam manajemen lingkungan harus mempunyai moralitas yang baik.

(norman)

Anonim mengatakan...

-Buat Mas Norman

Komentar anda amat sangat MENGECEWAKAN. Rupanya anda org Kristiani. ADA BRP TIPE KASIH??? Pernah dengar AGAPE, EROS, PHILIO, STORGE??? ADAKAH KASIH UNTUK LINGKUNGAN??? Tp sudahlah, saya ingin meninggalkan posting ini dan ikutan posting mas wilmana.

-Buat Mas bonggo

Silahkan menjawab pertanyaan saya diatas pd posting mas wilmana.

Terima kasih

-Carpe Diem-

Anonim mengatakan...

Hiks.. hiks... Kuciwa aku... Ternyata Mas Jimi tak cinta aku... Rasanya pingin gantung diri di pohon toge ajahh...

@CD
Ah, yg penting buat beta, sesuai isu norman, beta sdh melakukan sesuatu sbg tanda kepedulian yg ente tuntut itu. jadi beta tdk cuma setuju dg norman, bahkan sdh bikin sesuatu.

Bhw sesuatu yg sy itu bg anda tdk ada artinya, itu urusan anda. Mau minta sy urus itu politikus yg benar2 cuma jelmaan tikus got? Ah, ide yg bagus, tp itu malah 100% utopis krn anda sendiri tdk yakin adanya respon positif dr pr tikus itu, bukan?

@norman
Beta lia jwbnnya sdh dibuat oleh bung Wilmana pd posting @bm yg terbaru. Silahkan simak.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

-carpe deim-

kecewa saya yang tidak bisa menjawab atau kesal karena dibilang mirip Amrik nih??? Hi..Hi.

soal kasih memang banyak bentuk, tapi perwujudannya gimana?? apakah hanya terpatok pada kasih agape, eros, dll?? kalau menurut saya bagaimana kasih jangan hanya "penuh mulut" di pacar atau yang lain tapi juga diwujudkan pada lingkungan. atau begini saja anggap saja perwujudan kita "mengasihi" Tuhan Allah kita, kita menjaga ciptaan-Nya di bumi ini. gitu loh bos.

(norman)

Anonim mengatakan...

hei bro norman. udah lama gw menghilang eh ente udah nulis lagi yah.. bagus tulisannya, gw juga sepakat semua harus dimulai dari kesadaran pribadi masing-masing, entah itu mau melakukan hal yang praktis gak maslah yang penting kita harus melakukan sesuatu untuk lingkungan ini. terus menulis bro. untuk bigmike, kapan nih posting tulisan tentang evolusi? (degha, jkta)