Rabu, 28 Januari 2009

yang berubah pada iklim global adalah perubahan itu sendiri

Dear sahabat blogger,

Sekedar mengingatkan sahabat blogger nan bijak bestari bahwa saya pernah memposting artikel berjudul "http://www.Per.uB-@h.an. COM//: mAukah anda BERUBAH?" Masihkah diingat? I'm hope so.....Ketika itu saya mengutip sebuah paradigma filsafat tentang perubahan, yaitu "satu-satunya yang tidak berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri". Sampai akhir masa edar tulisan itu, semua komentar yang masuk tak satupun yang menolak paradigma itu. Paling banter mempertanyakan apa itu perubahan. Singkat kata, perubahan adalah realitas yang tak tertolakan. Dia ada dan kita harus menghadapinya. Sekali kita lengah maka kita akan ditelan monster dahsyat yang bernama PERUBAHAN. Saya cukupkan pendahuluan ini. Selanjutnya, saya ingin mengajak para sahabat untuk masuk ke sequenze berikutnya.

Minggu kemarin, saya diundang untuk menyampaikan makalah dalam sebuah seminar tentang kesiagaan bencana. Topik yang diminta untuk dibahas adalah perubahan iklim (climate change). Oh, saya dengan suka cita membahasnya karena memang ada satu dan dua dikit pengetahuan dalam perkara itu. Dan sudah barang tentu.....honornya bung en sus......honor........bisa untuk menyambung hidup sebulan penuh. Maklum PNS. Penghasilan Nggak cukup Sebulan ......ha ha ha ha ha ha.......Audiens acara itu adalah LSM-LSM se daratan Timor yang perduli bencana, institusi pemerintah, pers dan tokoh masayarakat. Lengkap. Tak lebih tak kurang. Sambil menunggu giliran berbicara, saya mengikuti secara saksama niveau yang berkembang dalam sesi-sesi sebelumnya......

heiiii.....ada pemanasan global......
ada gas rumah kaca......
apakah itu karena rumah yang banyak kacanya? (hi hi hi hi....yang bertanya nggak mengerti tuh......)
ya, rumah kita sekarang sudah terlalu banyak kacanya.......dinding kayu diganti kaca.....atap daun diganti seng (ha ha ha ha yang menjawab juga enggak kalah sontoloyonya....)
ada lubang ozon......
Kekeringan....
Banjir.....
CO2 jadi gara-gara semua itu.......
STOP PEMANASAN GLOBAL......
caranya....... tanam pohon sebanyak-banyaknya biar bisa menyerap CO2......bikin pulau Timor hutan semuanya.....
Bisa berhasil dengan hutan: PASTI....
NTT ....Nanti Tuhan Tolong......
waaaaaaallllaaaaaaahhhhhhh........

Sampailah giliran saya. Dan ini yang saya katakan.

Dahulu kala, sekitar 600 juta tahun yang lalu, bumi kita atau planet terkasih ini terdiri atas dua benua (continent) besar, yaitu Laurasia di utara dan Goodwanaland di selatan. Lalu, sekitar 300 - 250 juta tahun terjadi perubahan yang dramatik. Dua benua tadi bergabung membentuk 1 daratan besar yang disebut pangaea. Benua tungal ini dikelilingi oleh samudera luas yang disebut panthalassa. Pada sekitar 100 juta tahun lampau (engkong situ udah ade belon ya????? he he he), benua besar yang satu itu kembali berubah menjadi benua-benua yang terpisah seperti sekarang, yaitu Afrika, Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Antartika. Peristiwa ini disebut sebagai pergerakan benua. Dalam bahasa dou Gree (Inggris dalam bahasa Sabu) dikenal sebagai continental drift theory. Apa hubungannya dengan pemanasan global? Penghanyutan benua menyebabkan adanya kolom udara yang mengalami pemanasan. Hal ini mendorong terjadinya proses adiabatik. Lalu, kolom udara dengan proses adiabatiknya itu melepaskan panas perlahan-lahan ke lingkungannya. Gampangnya begini, karena benua bergerak maka udara menjadi lebih panas. Jadilah pemanasan global. Berapa suhu atmosfer selama proses ini terjadi? Nih saya kasi tau: 30-50 oC atau 5-9 oC lebih tinggi dari suhu bumi sekarang. Selesai? belum. Gerakan permukaan bumi bukan cuma itu. Entah masuk angin entah kena apa tapi bumi juga sering batuk-batuk. Erupsi. Peristiwa vulkanik itu menyebabkan peningkatan aerosol di udara dan menyebabkan suhu meningkat antara 3-4 oC.

Apakah proses penghanyutan benua sudah terhenti sekarang? Apakah bengeknya dan batuknya bumi sudah tiada? No Sir. No Sor (No madame maksudnya hi hi hi ). Proses-proses itu sedang dan akan terus terjadi. So? ya soook atuuuuhhhh.....ha ha ha ha..... Dan saya terus mendongeng di ruang seminar itu. Yang ber AC dan berhonor itu hi hi hi.....

Pemanasan global terjadi bukan dalam skenario di atas itu saja (geological theory). Bumi yang makin panas juga bisa terjadi karena situasi astronomi - astronomical theory - (ingat lho ya buka astrologinya mama Lauren). Pertama, ada seorang ahli berkebangsaan Serbia bernama Milancovitch yang mengemukakan teori tentang Daur Milancovitch. Mister Milan (yang bukan Inter Milan atau AC Milan itu) mengatakan bahwa bumi kita akan mengalami perubahan orbit setiap 105.000 tahun. Sudut bumi akan berubah dari 23,5 derajat yang berbentuk elips menjadi 21,1 derajat yang berbentuk lingkaran. Pada saat berbentuk lingkaran, suhu bumi akan meningkat 20-30% lebih tinggi dibandingkan ketika berbentuk elips. Dengan cara ini terjadilah pemanasan global. Kedua, pemanasan suhu global menurut teori astronomi juga dapat terjadi karena adanya noda di matahari (sunspot theory). Entah si matahari selingkuh atau apa sehingga terjadi noda tak berampun itu ha ha ha ha. Makin banyak noda di matahari (sunspot) suhu makin rendah. Peningkatan jumlah noda akan terjadi setiap 11, 22 dan 80 tahun. Jadi, naik turunnya suhu bumi linear dengan siklus ini.......Wuuuuuiiiiuuuhhhh......diam-diam saya mengamati wajah peserta......mereka tampak terpana......diam seribu ongkos. Merasa mendapat angin segar, saya meneruskan aksi pidato saya.

Skenario terakhir penyebab pemanasan global adalah emisi karbondioksida. Disebut juga sebagai teori karbondioksida. Inilah skenario yang paling dikenal oleh publik. Mantan Vice President USA, Al Gore, merupakan salah satu pendekar terdepan dari teori ini. Karbondioskida atau CO2 dari BBM fosil, pabrik, pembukaan lahan pertanian, deforestasi de el el, adalah penyebab. CO2 dan gas-gas yang bersifat antropogenik itu menyebabkan peningkatakan jumlah komponen gas rumah kaca, yaitu gas yang berfungsi layaknya kaca di glass house. Meloloskan radiasi gelombang pendek yang masuk ke bumi dan menahan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh permukaan bumi yang seharusnya meninggalkan permukaan. Radiasi gelombang panjang ini yang kita rasakan sebagai panas. Karena manusia makin aktif menghamburkan CO2 dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfir maka makin banyak pula panas yang terperangkap di situ. So what git loh???? Panaslah atmosfir kita. Secara global. Dibandingkan masa pra industri, suhu bumi meningkat hampir mencapai 4 oC di atas suhu rerata bumi. Kenaikan sebesar itu disinyalir sudah mendekati besarnya peningkatan suhu yang terjadi ketika terakhir kali es di kutub mencair, yaitu sekitar 18.000 tahun yang lalu (engkong gw belon lahir tuh). Dewasa ini, es di kutub terdeteksi mulai mencair, permukan laut naik (kata Glenn Fredly - Ambon akan tenggelam), el Nino dan la Nina silih berganti, kekeringan, banjir en so on, so on, en on, en on yang merupakan bukti signifikan terjadinya pemanasan global dalam skenario karbondioksida. Teori ini top markotop. Disetujui banyak orang. Dan Al Gore mendapat reward: Nobel Prize. Videonya diganjar hadiah oscar....woooowww.....

Lalu, mana teori yang benar? Sejujurnya penyebab pemanasan global masih ramai diperdebatkan. Ada Al Gore dkk. (2006, An Inconvenient Truth: the Planetary Emergency of Global Warming and What We Can Do about It - Rodale, New York) di satu pihak dan ahli seperti Sorokhin (2007, Global Warming and Global Cooling : Evolution of Climate on Earth - Elsevier Amsterdam), di lain pihak. Bagi Al Gore dan kawan-kawan peyebab pemanasan global bersifat man-made (antropogenic). Oleh karena itu pemanasan gobal dapat dicegah. Bagi Sorokhin dan kawan-kawan, terutama kelompok geologist, pemanasan global bersifat alami (natural). Global warming tak bisa dicegah. Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Pasrah dan menerima nasib. Bagi Al Gore dkk. mengurangi emisi gas rumah kaca merupakan jalan keluar. Bagi Sorokhin dkk. reduksi emisis gas rumah kaca BUKAN SATU-SATUNYA jalan. Dalam ternag teori CO2, menanam pohon guna mereduksi CO2 adalah obat manjur. Sebaliknya, jika mengikuti logika teori natural maka apakah anda menanam pohon atau tidak, global warming pasti akan terjadi. Kehidupan akan tersapu habis dilandanya. Kiamat (bukan Ki Amat). Dan....heeiiii, saya melihat....sepintas......di mata peserta seminar ada terkilat cahaya ketakutan....

Sekarang saatnya saya berpendapat, menurut hemat saya, diluar perdebatan tentang penyebabnya, ada satu hal yang telah disepakati, yaitu pemanasan global adalah realitas. Mempercakapkan penyebabnya adalah sah-sah saja. Menduga-duga penyebab dan solusinya benar semata-mata. Tetapi sejarah bumi mengajarkan bahwa berpegang kepada 1 jawaban solusi adalah bukan jawaban. Menuding CO2 sebagai satu-satunya biang kerok pemanasan global adalah simplifikasi permasalahan yang berbahaya. Anda mengira penyebab mobil anda mogok karena ban kempes. Mungkin benar mungkin pula tidak. Nyatanya ada penyebab lain. Bensin habis misalnya. Simplifikasi masalah akan menuntun pada solusi yang bersifat in-complete. Kurang komprehensif. Di lain pihak, tagal ada teori lain bahwa penyebab pemanasan global bukan cuma CO2, lalu menertawakan usaha orang adalah juga naif. Bukan cara yang baik mengatasi masalah. Menertawakan usaha orang lain menambal ban sementara anda sendiri, sebagai penumpang mobil mogok yang sama, hanya diam berpangku tangan adalah sikap konyol dan tak bertanggung jawab.

Ada satu cara untuk memahami persoalan dengan baik, yaitu semua yang terjadi adalah konskuensi hidup. Apa itu? PERUBAHAN. Siapa bisa menahan perubahan? Sejarah bumi mengajarkan bahwa global warming adalah perubahan. Bumi pernah hanya terdiri atas satu daratan besar. Pangaea. Sekarang berpencaran membentuk 6 benua dan anak-anak benua. Es Kutub pernah mencair sesudah itu kembali membeku. Jika sekarang mencair kembali, itulah perubahan. Tidak mungkin mencegah perubahan. "Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri". Cukupkah sikap ini? Tidak. Kita tidak bisa berhenti hanya dengan memandang perubahan dengan ternganga. Tidak boleh hanya menakut-nakuti orang tentang dampak Global Warming yang tak bisa bisa dicegah itu. Tunggu kiamat. Terima nasib. Tidak bisa begitu. Harap diingat, semua perubahan iklim global di masa lampau, sampai ketika es mencair 18.000 tahun lalu, terjadi pada situasi tanpa peradaban manusia. Belum ada peradaban manusia yang dilanda habis. Tsunami Aceh 2004 saja sudah menggetarkan hati apalagi bencana global dengan miliaran nyawa sebagai pertaruhannya. Tidakkah tergetar hati anda? Perdulilah Bung. Perdulilah Sus. Apa? What? PERDULI. Jangan abai tentang bahaya besar ini.

Kita bisa mulai dengan aforisme ini: if we can not fight it, let adapt to it. Semua makhluk hidup akan melakukan 3 taktik biologi berikut ini jika terjadi cekaman, yaitu avoidance (menghindar), ameliorate (mengubah) dan adapt (menyesuaikan). Menghindarlah ketika masih mungkin. Ubahlah sikap dan cara hidup anda jka tak mungkin menghindar. Dan, berdamailah dengan semua yang terjadi. Lakukanlah semua itu. Mulai dari diri sendiri. Dari rumah sendiri. Lalu keluarlah dari rumah. Ajaklah semua orang untuk beramai-ramai perduli akan perubahan. Ya betul, hadapilah perubahan apapun resikonya. secara bersama-sama. Karena bumi ini milik kita bersama. Dahulu saya lengkap memiliki Ayahanda, Ibunda, dan 10 orang bersaudara. Sekarang saya yatim piatu. Saudara berpencaran. Menghindari situasi ini? Tidak mungkin. Yang perlu saya lakukan adalah mengubah kebiasaan agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Hiduplah berdamai dengan perubahan supaya jangan tersapu habis oleh perubahan. That's all my friends.

Bagi sahabat yang pengen ngeliat bukti nyata telah terjadinya proses pemanasan global, saya persilakan melihat secara saksama gambar berikut ini. Dan akhirnya, saudara-saudara ku terkasih......ini dadaku......mana dadamu......ini seminarmu......mana honorku .......ha ha ha ha.....

Tabe Tuan Tabe Puan
Bagi sahabat yang ingin menikmati lagu tentang indahnya dunia karunia Tuhan ini jika bisa kita rawat sebaik-baiknya maka silakan click judul lagu dari Louis Armstrong di bawah ini

117 komentar:

Bigmike mengatakan...

Dear sahabat,

Mohon maaf, tulisan agak pajang karena memang sudah harus begitu. Semoga tidak mengurangi kenyamanan anda mmembaca.

Selamat membaca. Semoga bermanfaat. GBU

Bigmike mengatakan...

oh iya, kesalahan pengetikan dan lain sebagainya akan saya lakukan nanti. Sekarang saya off dulu. Ada yang harus dikerjakan. Tabe Tuan en Puan

Anonim mengatakan...

woooow, artikel yang panjang tapi nggak mbozenin.....

ternyata GW enggak simpel ya....baru tahu.....eh gw baca ulang dulu ya.....hmmmmm....bla bla blaaaaa....blaaaaa blaaaa.....wakakakakekekek...komenya nanti ajah.....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

weh tapi tema ini gw suka banaget...top dah (Proxy73)

Anonim mengatakan...

ih, emang gitu yach????? wah, jakarta bakal terus klelep dong jika GW nggak bisa dicegah....terus gimana doooong???? (Prettymelia, MK)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Tapi menyenangkan ngeliat bigmike normal lagi.....GBU (PM)

Bigmike mengatakan...

Penyuntingan sudah dilakukan. Terima kasih untuk sahabat Proxy73 dan Mbak PM. GBU

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Wah terima kasih banyak nih. Biar artikel panjang tapi sarat informasi. Naluri ilmuwan kentara banget nih. Tapi asiknya, tetap ditulis dengan gaya yang sederhana dan mudah dimengerti.

Baru tahu ternyata pemanasan global ngga simpel ya? Kita jadi takut juga nih karena cepat atau lambat dunia akan berubah. Mungkin menuju kiamat ya???? Subhanallah (Nana)

Anonim mengatakan...

kalo diliat data yang gw kutip, emang PG kuat didominasi pikiran ...dapat dicegah....

Nih gw kutip data bersumber dari www.wwf.or.id

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi kontribusi Gas Rumah Kaca? Penting diingat, emisi Gas Rumah Kaca harus dikurangi! Jadi harus dibangun sistem
industri dan transportasi yang TIDAK bergantung pada bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Kalau perlu, TIDAK menggunakannya SAMA SEKALI!

Karena Perubahan Iklim adalah masalah global, penyelesaiannya pun mesti secara internasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan Kerangka Konvensi
untuk Perubahan Iklim (Framework Convention on Climate Change) tahun 1992 di Rio de
Janeiro, Brazil, yang ditandatangani oleh 167 negara. Kerangka konvensi ini mengikat
secara moral semua negara-negara industri untuk menstabilkan emisi karbondioksida
mereka. Sayangnya, hanya sedikit negara industri yang memenuhi target. Langkah
selanjutnya berarti membuat komitmen yang mengikat secara hukum dan
memperkuatnya dalam sebuah protokol. Dibuat lah Kyoto Protocol atau Protokol Kyoto.
Tujuannya: mengharuskan negara-negara industri menurunkan emisinya secara kolektif
sebesar 5,2 persen dari tingkat emisi tahun 1990.

....Nah lo....gimana nich....???? (Nana)

Anonim mengatakan...

Ini lagi nih,

Solusi PG masih juga didominasi oleh paradigma ....bisa dicegah.....(gw sadur dari www.raizfawwazi.com).

1-Menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan (eco labeling), sekarang sudah banyak produk yang telah mencantumkan eco labeling.

2-Memakai produk kertas yang punya keterangan bahwa kertas tersebut berasal dari daur ulang.

3-Jika bepergian dekat jalan saja, karena selain mengurangi penggunaan BBM juga menyehatkan jantung.

4-Hemat penggunaan PAM, listrik, dll.

5-Membeli peralatan listrik yang hemat energi.

Anonim mengatakan...

6-Kurangi penggunaan plastik, kresek, pada saat membeli barang nanti menimbulkan banyak sampah plastik dan jika dibakar menghasilkan gas2 yang berbahaya selain CO,CO2 yaitu dioxin.

7-Kalo makan dihabiskan, jika nanti dibuang ke bak sampah menimbulkan gas metan, memang gas metan biasanya digunakan sebagai biogas tapi jika tidak ditampung dengan baik gas ini efek terhadap rumah kaca lebih besar jika dibandingkan dengan CO2.

8-Jangan membakar sampah, pisahkan saja sampah organik (dapat jadi pupuk), sampah plastik (banyak yang bisa dijual kembali lho), sampah kertas (bisa didaur ulang), dan residu yang akan dibuang ke TPA(Tempat Pembuangan Akhir) dari pemisahan sampah ini keuntungan lain adalah umur TPA jadi lebih panjang ato lebih kecil lahan yang dibutuhkan.

9-Menanam pohon, kalo hanya punya halaman sempit tanaman kecil2 juga boleh. tidak perlu besar yang dicari kan jumlah daun yang banyak.

10-Jangan merokok

Kalo seumpama kata kitanya udah abis-abisan ngealakuin 10 tindakan tadi trus benua-benua tetep berhanyutan en teori Milan bener, so what?????

Mungkin kembali menguatkan iman dan taqwa ajah ya????? Salam (Nana)

sastavyana blog's mengatakan...

duuhhh, gw jadi malu. Barusan ajah ngeposting yg ngajak boros lsitrik....i'm sorry my bigmike....dukung deh STOP PEMANASAN GLOBAL

tuaksatu mengatakan...

yihaaaaaaaaaa.....kalo begitu GW mirip YOYO dong....ntar panas ntar dingin.....kitenya yang klelep....

GW pas baru posting tentagn megawati, sby dan yoyo...politik kita kayak maen yoyo.....nasib rakyat nyang diputer-puter ....puyeng dach....

tuaksatu mengatakan...

nih pandangan gw dan resep ngatasin PG,

Pemanasan Global adalah suatu kejadian naiknya suhu atmosfir bumi dan lautan secara terus-menerus akibat beberapa hal seperti polusi yang dihasilkan kendaraan bermotor setiap harinya dan efek rumah kaca. Salah satu sebab yang ditimbulkan dari terjadinya pemanasan global secara terus menerus adalah pergantian musim yang ekstrim dan tidak biasa, seperti misalnya musim kering yang amat berkepanjangan dan lain sebagainya. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah pemanasan global diantaranya adalah:

Mengurangi frekuensi pemakaian kendaraan bermotor yang sifatnya perorangan, coba deh pake angkutan yang sifatnya masal seperti bis, angkot, atau kalo jarak kantor / tempat kuliah dekat dari rumah mendingan jalan kaki atau naek sepeda aja, selain hemat ongkos juga kan bisa bikin sehat tuh (=

Ganti lampu pijar biasa dengan lampu CFL (Compact Fluorescent Light Bulbs) yang lebih hemat energi, usaha kita menghemat energi berarti mengurangi jumlah energi yang harus disediakan PLN setiap harinya, yang berarti mengurangi juga aktifitas yang dilakukan PLN untuk menyediakan energi, seperti misalnya jika pembangkit listrik yang digunakan PLN menggunakan mesin diesel yang berbahan bakar solar maka otomatis karena beban listrik yang harus disediakan PLN berkurang jadi aktifitas mesin diesel itu pun sedikit, maka berkurang pulalah polusi yang dihasilkannya. Jadi tidak benar itu istilah "Hemat energi, PLN rugi"..huheheee..

Menanam pohon di pekarangan rumah, taukah kalian bahwa satu buah pohon bisa menyerap 1 ton karbon dioksida sepanjang hidupnya..hmmm..pokoknya banyak-banyak nanem pohon deh..kan enak juga diliatnya..selain asri juga bikin sueejukk..

tuaksatu mengatakan...

Vina, kenalan dong.....

Bigmike mengatakan...

Howdy sahabat blogger, ...haaalaaaahhh ....saya merasa perlu menambahkan beberapa gambar ke dalam posting ini guna mengimbangi panjangnya pembahasan. Mudah-mudahan membantu. Terutama pada gambar terakhir....he he he he he he

Bigmike mengatakan...

Thanx untuk Nana, Sastavyana dna tuak 1. Heeeiii.....mungkin "barang" dari blognya Mister tuak satu yang digantung di gambar terakhir itu ha ha ha ha ha ha....Tabe Tuan en Puan

tuaksatu mengatakan...

yaiiiikkkhhhh....bigmike.....gw masih di sini.......wakakakakakakak....emang ada nyang ilang dari blog gw...tau-tau nagsang di blognya bigmike...xi xi xi xi xi.....

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

wiiihhhh...temanya berat banget tapi tetep harus dibaca. GW baca dua kali cing....baru tau ternyata pemanasan global bisa jadi banyak cara...waaawww....jadi cara ngatasinya gimana dong????? jangan cuma nakut-nakutian dong....(Ryan)

erick mengatakan...

@ Bigmike,

Artikel yang bagus dan mencerahkan. Beberapa hal baru gw pelajari di sini. Thanx bosz

erick mengatakan...

gw cona meresponsnya dengan gagasan tentang tindakan nyata sebagai betu keperdulian kita terhadap bencana dahsyat ini,

Menurut film dokumenter ’an inconvenient truth‘ yang ada Al Gorenya itu, menyebutkan adanya beberapa kiat sederhana untuk membantu mencegah Global Warming.
1.Mengganti bohlam dengan lampu compact fluorescent,

2. mengurangi berkendaraan dengan mobil atau motor (lebih baik berjalan kaki, bersepeda ke tempat kerja atau menggunakan kereta api listrik),

3. menggunakan barang-barang daur ulang,

4. memeriksa tekanan ban kendaraan (pemakaian bensin akan semakin banyak jika ban kendaraan sedikit kempes, setiap galon bensin bisa mengeluarkan 10 kilogram karbondioksida),

5. mengurangi penggunaan air panas,

6. mematikan alat elektronik seperti TV, DVD, AC dan komputer jika tidak dipakai dan masih banyak lagi.

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Nggak ada komentar untuk cara memposting tapi ada yang saya amati, yaitu bigmike tampaknya ingin memindahkan suasana hati. Saya pikir ini adalah kecerdikan. Melepaskan kerusuhan hati dari suasana mencekam. Bigmike sedang mempraktekkan contoh mekanisme penghindaran dan mungkin sekaligus ameliorasi cekaman.

Senang melihat bigmike berusaha ceria Inilah sahabat kita yang tidka terperangkap dalam kemurungan. Tak ada kata lain selain, selamat berpulih sahabat. God love's you (Patrice)

Anonim mengatakan...

Dalam sebuah karya tulis pra disertasinya, bigmike pernah mengulas tentang ketika percayaannya terhadap penyebab tunggal pemanasan global.

Konon, ketika diuji bigmike menimbulkan kecurigaan bahwa dia kurang kadar kehutanannya karena menolak menyebutkan hutan sebagai solusi utama. Padahal dia adalah kandidat doktor kehutanan. Dalam posting ini warna seperti itu mengemuka lagi.

Mula-mula saya pikir lingkungan savana ikut membetuk pola pikir dan solusinya. Sebagai contoh, saya yang berlingkungan deep tropical rain forest, solusi kehutanan adalah signifikan. Tapi membaca uraiannya di sini tentang hal-hal pemanasan golbal yang terkait aspek astronomial dan geological, premis bigmike dapat lebih dimengerti.

Tetapi saya mungkin sedikit berbeda dari bigmike, yaitu penggunaan kata mencegah bukan satu kesalahan fatal. Alasan saya sederhana saja, bukankah proses adiabatik pada ahirnya menjurus kepada peningkatan heta di atmosfir? Jika demkian maka menambah unsur heat absorb di atmosfor saya pikir dapat mencegah akumuliasi heta. Bagaiman bigmike? (Patrice)

Anonim mengatakan...

@ Dear all,

Ada prinsip etika lingkngan berdasarkan perintah Al Quran bunyinya begini...

....“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbutan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatn mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS : 30 : 41)”....

Apa maknanya ini? ya pertobatan. Saya berpendapat bahwa kerusakan lingkungan termasuk pemanasan global dapat dicegah jika kita menggunakan cara padangn etika religius. Setuju nggak? (Soeswanto)

Anonim mengatakan...

Ini blog yang membuat saya terkesan. Cerdas dan menggelitik. Keep on psoting. Salam kenal dari Depok (Soeswanto)

syamsudin mengatakan...

@ Bigmike sahabat mudaku,

Artikel yang bagus. Jarang saya membaca perspektif lain atau teori lain tentang penyebab pemanasan global. Jika benar bahwa 2 skenario lain menyebabkan pemanasan global tidak dapat dicegah maka yang perlu kita lakukan adalah "do what you have to do". Tunjukkan keperdulian kita.

Misalnya saja, jika tau bahwa rob pasti terjadi setiap saat pasang maka jengan membangun di sempadan pantai. Lha, di utara Jakarta malah penu bangunan permanen dan legal. Dalam pndangna ini maka kita malah memperburk situasi.

Karena itu saya menawarkan kembalilah kepada kearifan-kearifan yag datang dari Surga. Akan saya uraikan pandangan saya itu

syamsudin mengatakan...

Krisis lingkungan yang terjadi saat ini sebenarnya bersumber pada kesalahan fundamentalis-filosofis dalam pemahaman ataucara pandang manusia terhadap dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Kesalahan itu menyebabkan kesalahan pola perilaku manusia, terutama dalam berhubungan dengan alam.

Aktivitas produksi dan perilaku konsumtif gila-gilaan melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif. Di samping itu, paham materialisme, kapitalisme, dan pragmatisme dengan kendaraan sains dan teknologi telah ikut mempercepat dan memperburuk kerusakan lingkungan.

Upaya untuk penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan baik melalui penyadaran kepada masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholders), upaya pembuatan peraturan, kesepakatan nasional dan internasional, undang-undang maupun melalui penegakan hukum. Penyelamatan melalui pemanfaatan sains dan teknologi serta program-program teknis lain juga telah banyak dilakukan.

syamsudin mengatakan...

Islam mempunyai konsep yang sangat jelas tentang pentingnya konservasi, penyelamatan, dan pelestarian lingkungan. Konsep Islam tentang lingkungan ini ternyata sebagian telah diadopsi dan menjadi prinsip ekologi yang dikembangkan oleh para ilmuwan lingkungan. Prinsip-prinsip ekologi tersebut telah pula dituangkan dalam bentuk beberapa kesepakatan dan konvensi dunia yang berkaitan dengan lingkungan. Akan tetapi, konsep Islam yang sangat jelas tersebut belum dimanfaatkan secara nyata dan optimal.

Maka, harus segera dilakukan penggalian secara komprehensif tentang konsep Islam yang berkaitan dengan lingkungan serta implementasi dan revitalisasinya. Konsep Islam ini kemudian bisa digunakan sebagai dasar pijakan (moral dan spiritual) dalam upaya penyelamatan lingkungan atau bisa disebut sebagai “teologi lingkungan”. Sains dan teknologi saja tidak cukup dalam upaya penyelamatan lingkungan yang sudah sangat parah dan mengancam eksistensi dan fungsi planet bumi ini. Permasalahan lingkungan bukan hanya masalah ekologi semata, tetapi menyangkut teologi.

syamsudin mengatakan...

Realitas alam ini tidak diciptakan dengan ketidaksengajaan (kebetulan atau main-main) sebagaimana pandangan beberapa saintis barat, tetapi dengan rencana yang benar al-Haq (Q.S. Al-An’am: 73; Shaad: 27; Al-Dukhaan: 38-39). Oleh karena itu, menurut perspektif Islam, alam mempunyai eksistensi riil, objektif, serta bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku tetap (qodar). Pandangan Islam tidak sebagaimana pandangan aliran idealis yang menyatakan bahwa alam adalah semu dan maya.

Pandangan Islam tentang alam (lingkungan hidup) bersifat menyatu (holistik) dan saling berhubungan yang komponennya adalah Sang Pencipta alam dan makhluk hidup (termasuk manusia). Dalam Islam, manusia sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi (Q.S. Al-An’am: 165). Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Kholik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan.

syamsudin mengatakan...

Islam merupakan agama (jalan hidup) yang sangat memerhatikan tentang lingkungan dan keberlanjutan kehidupan di dunia. Banyak ayat Alquran dan hadis yang menjelaskan, menganjurkan bahkan mewajibkan setiap manusia untuk menjaga kelangsungan kehidupannya dan kehidupan makhluk lain dibumi. Konsep yang berkaitan dengan penyelamatan dan konservasi lingkungan (alam) menyatu tak terpisahkan dengan konsep keesaan Tuhan (tauhid), syariah, dan akhlak.

Setiap tindakan atau perilaku manusia yang berhubungan dengan orang lain atau makhluk lain atau lingkungan hidupnya harus dilandasi keyakinan tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT. yang mutlak. Manusia juga harus bertanggung jawab kepada-Nya untuk semua tindakan yang dilakukannya. Hal ini juga menyiratkan bahwa pengesaan Tuhan merupakan satu-satunya sumber nilai dalam etika. Bagi seorang Muslim, tauhid seharusnya masuk ke seluruh aspek kehidupan dan perilakunya. Dengan kata lain, tauhid merupakan sumber etika pribadi dan kelompok, etika sosial, ekonomi dan politik, termasuk etika dalam mengembangkan sains dan teknologi.

syamsudin mengatakan...

Di dalam ajaran Islam, dikenal juga dengan konsep yang berkaitan dengan penciptaan manusia dan alam semesta yakni konsep Khilafah dan Amanah. Konsep khilafah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.

Manusia mempunyai hak atau diperbolehkan untuk memanfaatkan apa-apa yang ada di muka bumi (sumber daya alam) yang tidak melampaui batas atau berlebihan (Al-An’am: 141-142).

Manusia baik secara individu maupun kelompok tidak mempunyai hak mutlak untuk menguasai sumber daya alam yang bersangkutan istilah “penaklukan” atau “penguasaan” alam seperti yang dipelopori oleh pandangan barat yang sekuler dan materialistik tidak dikenal dalam Islam. Islam menegaskan bahwa yang berhak menguasai dan mengatur alam adalah Yang Maha Pencipta dan Maha Mengatur yakni Rabbul Alamin. Hak penguasaannya tetap ada pada Tuhan Pencipta. Manusia wajib menjaga kepercayaan atau amanah yang telah diberikan oleh Allah tersebut. Dalam konteks ini, alam terutama bumi tempat tinggal manusia merupakan arena uji bagi manusia. Agar manusia bisa berhasil dalam ujiannya, ia harus bisa membaca “tanda-tanda” atau” ayat-ayat” alam yang ditujukan oleh Sang Maha Pengatur Alam. Salah satu agar manusia mampu membaca ayat-ayat Tuhan, manusia harus mempunyai pengetahuan dan ilmu.

syamsudin mengatakan...

Lingkungan alam ini oleh Islam dikontrol oleh dua konsep (instrumen) yakni halal dan haram. Halal bermakna segala sesuatu yang baik, menguntungkan, menenteramkan hati, atau yang berakibat baik bagi seseorang, masyarakat maupun lingkungan. Sebaliknya segala sesuatu yang jelek, membahayakan atau merusak seseorang, masyarakat dan lingkungan adalah haram. Jika konsep tauhid, khilafah, amanah, halal, dan haram ini kemudian digabungkan dengan konsep keadilan, keseimbangan, keselarasan, dan kemaslahatan maka terbangunlah suatu kerangka yang lengkap dan komprehensif tentang etika lingkungan dalam perspektif Islam.

syamsudin mengatakan...

Konsep etika lingkungan tersebut mengandung makna, penghargaan yang sangat tinggi terhadap alam, penghormatan terhadap saling keterkaitan setiap komponen dan aspek kehidupan, pengakuan terhadap kesatuan penciptaan dan persaudaraan semua makhluk serta menunjukkan bahwa etika (akhlak) harus menjadi landasan setiap perilaku dan penalaran manusia.

Nah begitulah tawaran saya tentang perlunya penegakan etika lingkungan berdasarkan kearifan yang datang dari yang Maha Besar. Tiap-tiap agama pasti punya kearifan semacam ini dan marilah berlomba-lomba dalam kebaikan demi masa depna bumi kita yang dalam keaddan terancam pemanasan global. Ketidak perdulian hanya akan membawa kita kepada kiamat.

wilmana mengatakan...

Ha ha ha ha....

Saya cuma baru bisa ketawa liat gambar jemuran celana dalamnya (siapa?).

Pas utk menggambarkan kronologis panasnya bumi.

Saya kuatir, 2-3 taon lagi, celana dalam gak laku lg krn saking panasnya udara.

Tapi, ada yg aneh memang dr jemuran itu. Kolor blacu ala bigmike itu, ternyata 'fosil' peninggalan taon 1800-an. Gila! Apa suhu udara bumi bg bigmike masih berasa kayak suhu ditaon 1800-an?

Hanya bigmike yang tau, mungkin! Kok mungkin? Ya dong... Krn di sini ada bbrp yg selalu dapat menebak isi hati/kepala bigmike. Kalo saya, bahkan isi kantong BM pun sulit sy tebak....

xi..xi..xi.xi.. (^_^)

Anonim mengatakan...

@ Opa Syam,

.....Aktivitas produksi dan perilaku konsumtif gila-gilaan melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif. Di samping itu, paham materialisme, kapitalisme, dan pragmatisme dengan kendaraan sains dan teknologi telah ikut mempercepat dan memperburuk kerusakan lingkungan......

Saya setuju kalimat opa di atas tapi tidak sepenuhnya karena bagaimana menjelaskan bahwa paham-paham IPTEKS bukan cuma membawa bencana tetapi juga menawarkan alternatif solusi. Iya kan?

So, opa tolong jelaskan pendapat opa di atas. Jika tidak, sayau kuatir pikiran kita akan dituntuntun untuk kembali ke abad 12, yaitu hidup dengan teknologi jaman Nabi-Nabi.....jangan-janagn pake internet juga dapet fatwa haram....gimana opa? (Taufik07)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Posting yang sarat informasi pengetahuan meski ditulis dengan gaya yang ringan dan jenaka. TOP dah...(Taufik07)

Anonim mengatakan...

@ Mister Wilmana,

ha ha ha ha gambar jemuran emang kacau abiez....tapi menurut gw, tahun 2000...udah ga da lagi kolor yang digantung.....kepanasan en pindah ke blognya Mister Tuak1....wakakakkakak.....(taufik07)

wilmana mengatakan...

Wah, ada Pak Taufik... Moga2 ini bukan incognito ya, Pak? Jgn tanya knp sy bilang incognito... PSsttt.. TST ajalah.. ^_^

Tp sy setuju dg pertanyaan anda utk Opa Sam... Etika halal-haram itu bisa jadi bencana jika dipake utk menghalalkan yg merusak dan mengharamkan kedamaian.

Saya kemarin dapat satu buku baru: "Enam Jalan Menuju Tuhan" karya Darmawan MM. Di halaman 264, dikupas masalah halal-haram ini. Sy pikir dunia mjd kacau jk org menghalalkan utk memerangi kekerasan dg kekerasan yg sama. Atau mengharamkan silaturahmi dg kelompok lain yg berbeda.

Jadi, rasanya Opa Sam memang harus lbh detil lg ttg bgmn penggunaan nilai halal-haram ini yg sebenarnya. Spy kita2 yg awam ini bisa bedakan pula mana halal yg haram dan mana haram yg dihalalkan. Kalo tidak, masalah ini hanya menuai kontoversi, kayak MUI bikin fatwa haram bg golput. Lalu org MUI ditanya sama wartawan TV-One, "babi juga haram dan yg melanggar adalah kafir, jd kalo ada muslim golput apa dia jd kafir juga?"

Knp jg MUI gak bikin fatwa terkait global warming ini yay?

Anonim mengatakan...

wooooiiiii ricky, jangan mentang-mentang heeehhhh....kowe orang extrimist heeeee.....wakakakekekekikikikik....

Nih gw juga punya data yg gw kutip dari http://physicsweb.org/articles/world/20/2/3/1

It is official: the Earth is getting hotter, and it is down to us. This month scientists from over 60 nations on the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) released the first part of their latest report on global warming. In the report the panel concludes that it is very likely that most of the 0.5 °C increase in global temperature over the last 50 years is due to man-made emissions of greenhouse gases. And the science suggests that much greater changes are in store: by 2100 anthropogenic global warming could be comparable to the warming of about 6 °C since the last ice age.

Nah, u see?????? menurut IPCC global warming adalah man-made. Pakar-pakar USA yang negeranya ngeles mlulu dari ratifikasi protokol Kyoto coba-coba nyari skenario laen....ha ha ha ha...

Untungnya our bigmike ngambil jalan tengah...dia menampung semua dan kita dikasi tau bahayanya....ok bosz....

Hei rick my man, mending elo ketangkap kebanding ngaco do sini....wakakakakkekekek...peace maaaann....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ Opa Syam, gw dukung komennya wilmana ma taufik07...eh elo si topay UK kan? hayo ngaku...wakakakak...bikin penjelasan dong opa....

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Baru tau gw ternyata yang namanya clana blacu tuh yang model 1900 ....huaaaaaaaaaa ha ha ha h ahaaaaaa....wakakakkekekekekikikik....
jadoel banget nichh.....ah kaco kaco kaco....oleee....oleeeee....blacu....(Proxy73)

globalwarming mengatakan...

Hello Bigmike,

Blog yang amat sangat bagus. Kami temukan karena kami mengumpulkan posting-posting tentang global warming.

Artikel anda berimbang dan memang sejauh ini perdebatan masih terus terjadi. Akan tetapi COP Bali 2007 sepakat bahwa harus ada upaya global dan terencana agar peradaban lebih worry terhadap bencana dahsayat ini.

Mohon ijin mengcopy posting ini. Dan mohon kesediaan untk bergabung dalam kelompok globwarmalert.

globalwarming mengatakan...

kami juga ingin berbagi informasi tentang global warming,

Gambaran Umum Global Warming, Efek Dan Cara Untuk Mencegah Pemanasan Global Dunia


Kita semua sama2 tahu bahwa pemanasan global sedang terjadi. IPCC melaporkan penelitiannya bahwa 0,15 - 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat.

Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Yah,,,kita semua sudah mengetahui itu… dan sebagian orang tetap mencoba untuk memberitahukan bahwa kejadian ini benar-benar sedang terjadi… namun tetap tidak sedikit orang yang masih tidak peduli. Mungkin karena kita masih merasa nyaman dengan keadaan sekarang…bisa menikamti semuanya mulai dari makanan, air, udara, daratan yang sukup untuk bermain bola, social yang masih cukup damai, dll…

Yah…itu saat ini…lalu bagaimana jika 10 tahun lagi, atau 20 tahun, atau sampai 30 tahun lagi. Saya tahu tidak akan terjadi perubahan yang signifikan saat ini karena kita semua masih menganggap ini hal yang biasa, tapi saya akan menjadi manusia yang sangat bodoh jika saya tidak terus mencoba untuk menginformasikan ini.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

globalwarming mengatakan...

Ada beberapa cara mudah yang bisa kita lakukan, yaitu ;

1. Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).

2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).

3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).

4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).

5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).

6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.

7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.

8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.

9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).

10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).

11. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.

AYO SELAMATKAN BUMI. SAVE OUR MOTHER EARTH

Anonim mengatakan...

waaaeecchhhh.....ni globwarmalert.org nyang di Thamrin ya??????? ada si Ijul ga di situ? bilang dech jgn ngumpet......

gini ajah dech...global warming harus dihentikan
sebelum itu terlambat,
makanya belajarlah dari sekarang
go... go... go... start now
don't be late ....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

@BM,
Tulisan yang panjang tapi di suguhkan dengan gaya BM yang khas, membuat pembaca tidak bosan saat membaca. Ehmmm...itulah BM. Trims ya atas tulisan yang mencerahkan pikiran kita.
Tapi yang membuat aku tertawa saat melihat gambar terakhir..hahahaha..BM..ada pelangi di kawat jemuran yah. (Adek)

Bigmike mengatakan...

Howdy, selamat sore....

Baru kembali ke rumah. Buka blog dan sekali lagi melihat masih ada bagian posting yang memerlukan proses penyuntingan agar lebih nyaman dibaca. Dan itulah yang saya lakukan.

Bigmike mengatakan...

Terima kasi atas berbagai komentar yang diberikan. terima kasih atas komentar-komentar itu. Saya suka dan bergembira.

Untuk sahabat-sahabat dari forum global warming, silakan saja melakukan copy paste tapi kalu boleh, jangan lupa mencantumkan nama saya sebagai referensi.

Untuk sahabat Adek.....ha ha ha ha ha ha.....memang betul....ada pelangi di tiang jemuran....ha ha ha ha dan kata Wilmana....celana belacu saya adalah yang no 2 dari kiri, yaitu model tahun 1900 ha ha ha ha ha ha ha.....Wilmana dan Adek modelnya yang mana yaaaa????? ha ha ha ha ha ha.....GBU. Tabe Puan en Tuan

Anonim mengatakan...

hmmmm...

yg muncul dalam benak saya adalah, "apa itu halal dan apa itu haram? bagaimana kita tahu?"

tentang pg, sebaiknya dia menjadi debat ilmu pengetahuan atau politik?

(joshua)

Anonim mengatakan...

@ Joshua,

ini kerumitannya, yaitu hal-hal ilmiah dipolitiasikan. Sebaliknya hal-hal politik ingin diilmiahkan. Jadinya kajia separo-separo. Gawatlah itu.

Coba dicamkan kata-kata salah satu "pendekar" ideologi kiri berkut ini...

...“The world is suffering from a fever due
to climate change, and the disease is the capitalist development model.” — Evo
Morales, president of Bolivia, September 2007 ....

(Binxars)

Anonim mengatakan...

Beberapa waktu lalu Bigmike, dalam satu seminar di Kupang pernah menerangkan dengan amat baik bahwa betapa berbahayanya menghutankan seluruh Timor Barat. Tapi kenapa Bigmike tidak bersuara atau belum bersuara secara kritis terhadap proyek mangganya walikota Kupang dan proyek kupang clean and green (KGC) yang tidak tentu juntrungannya itu? Kami tunggu aksi Bigmike yang pernah membikin telingan Pemkot sangat merah dengan tulisannya tentang TPU Damai Fatukoa (Julius, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Dear all,

Saya pikirpertanyaan saudara joshua adalah sinyalemen bahwa isu climate change ada sisi politiknya. Saya sebut saja politisasi isu iklim.

DR. Paulus Agus Winarso, pakar klimatologi dan yang anggota Dewan Riset Nasional pernah mensinyalir hal yang sama. Saya kutipkan pernyataannya....

........Berdasarkan peninjauan lebih mendalam sewaktu diundang sebagai penilai/reviewer dari laporan Negara-negara maju yang menyusun laporan tahunan berkala yang disebut Nasional Komunikasi pada pertengahan bulan Oktober 2006 telah memberi wawasan bahwa pendekatan dalam pengelolaan iklim bumi kini lebih banyak campur tangan politik/kebijakan yang kemudian lahirlah politik iklim (climate policy). Dimana dalam penjabaran dan pengembangan politik iklim ini umumnya lebih banyak membahas perdagangan karbon atau perdagangan emisi gas buang dari industri.......

Anonim mengatakan...

Politisasi iklim ini apa tujuannya? walhi mensinyalir bahwa negara indistri ingin terus mempertahankan pola industri yang penuh gas buangan itu lalu memaksa negara berkembang untuk memelihara hutan lalu dibayar dalam pola carbon trade. Iming-iming duit membuat kita mudah lupa bahwa kedaulatan kita tergadai. Waspadalah (Julius)

Anonim mengatakan...

@ Julius,

Kedahuluan Kefa Man nih...ha ha ha ha...tapi tidak apa-apa. Saya setuju dengan pikiran saudara julius bahwa di balik isu-isu pemanasan global ada tersembunyi isu-isu politik. Thanx juga bagi rekan joshua yang mengingatkan kita.

Saya mengutip berita dari Green peace Brasil....

....Direktur Kampanye Greenpeace Brasil, yang tergabung dalam jaringan CAN, Marcelo Fortudo mengatakan kombinasi dari kedua kepentingan kelompok Negara yang berbeda, negara industri dan negara dengan komunitas hutan yang luas, telah menyebabkan proses penyusunan strategi bersama mengantisipasi perubahan iklim menjadi terhambat.

Dikatakan bahwa .....“Focus perundingan dimeja UNFCCC pun saat ini sudah bergeser tidak lagi pada upaya pengurangan emisi karbon dan penyelamatan hutan, tetapi lebih pada masalah uang yang terkait dengan perdagangan karbon,” ujarnya.....

Lihatlah, ternyata politik ekonomi sudah mendompleng agenda-agenda penanganan pemanasan global (Eman, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@om julius
om julius bilang : "lalu memaksa negara berkembang untuk memelihara hutan lalu dibayar dalam pola carbon trade"...

beta tambah : beta sonde talalu tertarik masuk sampe ranah politisasi iklim.. beta agak buta soal itu, beta lebe tertarik membahas soal carbon trading di Indonesia. sampe sekarang belom jelas prosedur, perhitungan, infrastruktur, hingga aturan-aturan yang su dibuat pemerintah sebelum masuk dalam perdagangan karbon.

Indonesia sendiri baru akan menjual potensi hutannya selepas tahun 2012 nanti, atau setelah Kyoto Protokol (2008-2012).padahal menuju tahun 2012 itu su dekat. Indonesia harus hati-hati karena penjualan karbon kental nuansa kapitalisme. Salah satu tanda-tandanya sudah kelihatan. Hutan tropis Indonesia yang sangat baik dalam menyerap karbon hanya ditawar negara-negara Eropa dan negara asing 3 dollar per hektar/ton/tahun. Padahal, hutan di Brazil dihargai 12 dollar. Ini amat mengherankan. aneh ko sonde??

jadi kalau isu carbon trade ini digunakan sebagai salah satu solusi pemanasan global, pemerintah Indonesia harus lebe siap lai. soalnya ketika berbicara potensi hutan Indonesia, Satu hektar hutan tropis Indonesia menurut perkiraan beberapa ahli, sanggup menyerap 150-200 ton karbon per tahun. Jumlahnya bisa lebih besar lagi karena belum ada metode penghitungan yang benar-benar akurat.

jadi... betul kata om julius.... Waspadalah....

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Jikalau informasi ini benar maka roh kapitalisme yang serakah itu jelas telah mengintai di tikungan. Waspadalah. Kami di Papu bilang, jang ko pikir ko hebat....(Pacenoge)

Anonim mengatakan...

Data luas hutan Papua yang terdiri atas hutan primer, hutan sekunder, APL adalah seluas.40.803.131,95 (citralandsat,2005).

Luas hutan Papu merupakan sekitar 39,6% daro total luas hutan Indonesia. Jadi, Indonesia berhutang hutan pada Papua sebagai penangkap CO2. DAn Dunia ingin beli murah hutan Papua itu. Ko kira ko jago ka???? (Pacenoge)

tuaksatu mengatakan...

knapa ya gw seharian kmaren berdebar-debar....huaaaaa ha ha ha ha..ternyata nama gw difitnah abiz di sini....ha ha ha .....yarrriiiinnnn...blog-blog gw ndiriiiii....ha ha ha......emang clana taon 2000-an udah nggak perlu....tuh dimana-mana anak smp-sma ajah pake bikin video bugil ...ya gak???? ha ha ha ha....

tuaksatu mengatakan...

tapi soal tipu-tipu politik...gw kebetulan baru posting berita..sambel Indonesia di paten Blanda....yaaccchhhh.....dulu lagu rasa sayang, trus tempe, ni sambel....apa yg ga bs dicuri dr Indonesia yaaaaa......

tuaksatu mengatakan...

nih britanya,

Bukan cuma batik dan lagu Rasa Sayange saja yang diklaim Malaysia. Ternyata sejumlah sambal khas Indonesia sudah menjadi merek dagang dari Belanda.

Di banyak supermarket di Berlin, Jerman, misalnya, terutama toko-toko yang menjual berbagai bumbu khas Asia, sambal-sambal Indonesia buatan Belanda mudah ditemui. Letaknya pun bersebelahan dengan sambal-sambal asli Indonesi produksi sebuah perusahaan makanan nasional.

Saat berbelanja di sebuah toko Asia di kawasan Wedding, Berlin, Kamis (29/1/2009) mata saya tertuju pada sederetan toples seukuran toples selai. Nama-nama sambal khas Indonesia tertulis di situ. Sambal Badjak, Sambal Oelek, Sambal Trassi. Tapi kok pakai ejaan Indonesia tempo doeloe ya?

Rupanya ini memang sambal-sambal buatan Londo. Nama-nama produknya sudah menjadi merek dagang Negeri Kincir Angin itu. Sambal-sambal ini diproduksi antara lain oleh Koningvogel Riswijk Holland dan Wind Mill Oriental Food. Selain itu masih ada Ketjap Manis produksi Go Tan.

sastavyana blog's mengatakan...

Bener ga sih info yg gw dapet?

Cara Tercepat Menghentikan 80% Pemanasan Global : Gunakan Produk yang Bebas Hewani (Vegan)

~ Supreme Master Ching Hai

...gw mau surfing cari tau dulu dech...

globalwarming mengatakan...

Terima kasih banyak kepada Bigmike yang sudi bergabung. Keahlian seperti anda sangat kami butuhkan.

Kami barusan mengirim aplikasi untuk diisi oleh Bigmike. Harap direply secepatnya. Bersama kita bergandengan menyelamatkan bumi kita yang satu. Go Green

globalwarming mengatakan...

Ada pertanyaan menarik tentang isu pemanasan global di antara tarikan kepentingan ilmiah dan politik. Kami tidak menghakimi tapi mari kita sama-sama belajar dari apa yng sedang terjadi.

Sesuai pola di blog ini yg tampaknya kurang menyukai komen panjang maka kami memotongnya dalam beberapa bagian. Selamat membaca

globalwarming mengatakan...

Ironi Pemanasan Global: Kambing (Hitam) dan (m)Bebek di Pesta Pora Para Serigala? by andre

Vandhana Shiva, cendekiawan terkemuka India dan seorang aktivis sosial tingkat dunia menyatakan, “dengan menolak menandatangani Protokol Kyoto, Presiden Bush telah melakukan tindak terorisme ekologis pada sejumlah besar komunitas yang barangkali akan lenyap dari muka bumi karena pemanasan global. Sedangkan di Seattle, WTO dijuluki World Terorist Organisations (Organisasi Teroris Dunia) oleh para demostran, sebab kebijakan yang menyangkal hak kelangsungan hidup jutaan orang”..

globalwarming mengatakan...

“Mempertahankan ‘gaya hidup’ Amerika”-lah yang mendasari Presiden Bush dan juga pemerintahan Australia untuk tetap bebal menolak menandatangi Protokol Kyoto. Protokol Kyoto adalah tindak lanjut dari Konvensi Perubahan Iklim, yang menetapkan target penurunan emisi sebesar 5% untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca. Mempertahankan ‘ gaya hidup’ ini jugalah yang menyebabkan rendahnya komitmen negara-negara maju untuk memecahkan persoalan genting ini.
Sesungguhnya di balik ‘gaya hidup’ Amerika inilah tersembunyi ketamakan dan keserakahan. Mahatma Gandhi memperingatkan “Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir orang yang tamak”.

Selain itu, di balik kedigjayaan perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional di negara-negara utara yang mengontrol WTO, IMF, Bank Dunia, ADB dan lembaga keuangan internsional, berlangsung rumus akumulasi kekayaan segelintir orang hanya mungkin terperoleh melalui penghisapan, dan kesengsaran yang lain.

globalwarming mengatakan...

Pemanasan Global Ancaman Bagi Perdamaian Dunia
Namun sebuah pukulan martil dihantamkan di dinding kebekuan ini oleh Panitia Nobel Swedia. Di tengah semakin menguatnya fakta-fakta perubahan iklim yang menyebabkan munculnya bencana ekologi di berbagai belahan dunia, Al Gore (mantan wakil presiden AS dan pejuang lingkungan hidup yang gigih) dan Intergovernmental Panel on Climate Change – IPCC (Panel Antar Negara untuk Perubahan Iklim), oleh Perserikatan Bangsa-bangsa dianugerahi penghargaan nobel perdamaian.

Ini menguatkan kredibilitas IPCC yang menghimpun 2500 pakar dan peneliti dari 130 negara, berhadap-hadapan dengan berbagai lembaga kajian tandingan yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan Perusahaan Trans-Multinasional terutama perusahaan perminyakan raksasa untuk mematahkan temuan-temuan dan prediksi ilmiah di seputar isu perubahan iklim.

globalwarming mengatakan...

Intergovernmental Panel on Climate Change Working memperkirakan tanpa ada upaya global mengurangi emisi, sebanyak 75-250 juta penduduk di berbagai wilayah benua Afrika akan menghadapi kelangkaan pasokan air dan separuh area pertanian baru akan mendapatkan hingga tahun 2020. Sementara itu kelaparan akan meluas di Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Khusus untuk Indonesia, IPCC juga menyebutkan akan menghadapi resiko besar akibat pemanasan global. Pada tahun 2030, diprediksi akan terjadi kenaikan permukaan air laut sebesar 8-29 cm dari saat ini. Bila benar,
Indonesia dikhawatirkan akan kehilangan sekitar 2000 pulau-pulau kecil. Penduduk Jakarta dan kota-kota di pesisir akan kekurangan air bersih. Pada sejumlah daerah aliran sungai akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang kian tajam. Akibatnya, akan sering terjadi banjir, sekaligus kekeringan yang mencekik kehidupan.

globalwarming mengatakan...

Terpilihnya Al Gore memberikan ujian baginya untuk membayar kemandulannya ketika menjabatan sebagai wakil presiden Amerika Serikat dan sekaligus menjadi martil bagi Gedung Putih (pemerintah Amerika Serikat) yang hingga kini menolak menandatangani Protokol Kyoto. Nobel Perdamaian itu sekaligus menegaskan bahwa perubahan iklim adalah ancaman besar bagi terwujudnya dunia yang damai. Di sisi lain mengukuhkan tindakan pemerintah Bush yang tetap bebal menolak menandatangani Protokol Kyoto sebagai tindak terorisme ekologis, sebagai pernyataan perang yang tidak ada habis-habisnya terhadap bumi dan manusia.

Negara-negara Utara adalah negara-negara yang paling rakus mengkonsumsi energi, dan Amerika Serikat adalah yang paling rakus. Penduduk Amerika, Kanada, dan Eropa, yang hanya 20,1 persen dari total warga dunia, mengkonsumsi 59,1 persen energi dunia. Sedangkan warga Afrika dan Amerika Latin, yang merupakan 21,4 persen dari populasi dunia, hanya mengkonsumsi 10,3 persen. Data 1990 menunjukkan total emisi gas rumah kaca mencapai 13,7 Gt (gigaton), yang secara berturut-turut disumbang Amerika (36,1 persen), Rusia (17,4 persen), Jepang (8,5 persen), Jerman (7,4 persen), Inggris (4,2 persen), Kanada (3,3 persen), Italia (3,1 persen), Polandia (3 persen), Prancis (2,7 persen), dan Australia (2,1 persen).

globalwarming mengatakan...

Pesta Pora Para Serigala
Saat menerima penghargaan Nobel Perdamaian, Al Gore menyatakan bahwa kita menghadapi kedaruratan yang sangat serius. Ironisnya, ia menyangkal krisis iklim sebagai isu politik yang paling genting saat ini. Ia lebih memandangnya sebagai tantangan spiritual untuk kemanusiaan. Nampaknya Gore ragu-ragu untuk mengakui fakta bahwa persoalan krisis iklim global adalah soal politik yang penyelesaiannya harus dilakukan di arena politik dalam pertarungan politik yang keras.

Terlebih lagi dalam persoalan ekonomi politik. Hal ini menyangkut penguasaan akses ekonomi, alokasi sumber ekonomi, dan distribusi manfaat atas sumber-sumber ekonomi. Ini adalah soal siapa yang memperoleh manfat (keuntungan), siapa yang menanggung biaya ( ekternalitas’ diantarnya adalah biaya kerusakan/pencemaran lingkungan).

globalwarming mengatakan...

Ini adalah soal tatanan ekonomi yang tidak adil di mana ketamakan adalah keutamaan dan akumulasi kekayaan segelintir orang hanya terjadi melalui penghisapan dan kesengsaraan mayoritas lainnya. Inilah sistem ekonomi yang sedang mendominasi panggung global hari ini, bahkan sejak jaman kolonialisme dan imperialisme klasik. Sistem ini bernama Kapitalisme Neoliberal. Inilah sistem ekonomi, dan kelembagaan ekonomi politik yang bertumpu pada akumulai modal dan keuntungan, sistem kepemerintahan nasional dan global yang dikendalikan oleh pasar.

Ini adalah hukum rimba, pesta pora para serigala. Negara-negara Selatan dan miskin dengan segala kekayaan alamnya dan mayoritas rakyatnya, adalah santapannya. Pesta pora pra serigala ini tidak saja meninggalkan kemiskinan bagi rakyat di Negara-negara Selatan, tetapi juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah di tingkat lokal dan regional. Puncaknya, kini seluruh bumi dan peradabannya harus menghadapi ancaman bencana ekologi yang maha dasyat akibat perubahan iklim.

globalwarming mengatakan...

Ironisnya, rakyat di Dunia Ketiga dan Negara-negara Selatan yang paling rentan menghadapi ancaman bencana ini. Dan negara-negara Maju/Utara ,terutama Amerika Serikat. adalah pihak-pihak yang paling bertanggungjawab atas pemanasan global. Sikap keras kepala untuk mempertahankan gaya hidup konsumtif, mewah dan boros adalah sebuah tindakan pengingkaran terhadap tanggung jawab tersebut. Kemakmuran yang mereka nikmati hingga hari ini adalah hasil dari penghisapan dan pengerukan kekayaan alam Negara-negara Selatan sejak masa kolonialisme dan imperialisme klasik. Sesungguhnya merekalah yang berhutang kepada Negara-negara Selatan, yakni hutang sosial dan ekologis. Hutang yang diakumulasi negara-negara industri karena perampasan sumber daya alam, kerusakan lingkungan, pemiskinan rakyat dan pemakaian ruang alam untuk menimbun limbah berbahaya.

Bentuk-bentuk pengingkaran ini di antaranya dilakukan dengan membuat kajian-kajian yang melemahkan dan menyangkal laporan-laporan ilmiah seperti yang dikeluarkan oleh IPCC, baik yang disponsori oleh korporasi trans/multinasional maupun oleh aktor-aktor di dalam pemerintahan. Pengingkaran-pengingkaran ini dilakukan juga melalui pemaksaan mekanisme-mekanisme perdagangan melalui WTO yang mensubordinasikan otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta ekspor teknologi kotor ke Negara-negara Selatan. Pengingkaran-pengingkaran itu dilakukan dengan memberikan keleluasan dan perlindungan kepada korporasi-korporasi trans/multinasional untuk menjalankan bisnisnya.

globalwarming mengatakan...

Kini kekuasaan korporasi global telah menyaingi kekuasan ekonomi negara-negara. Dari 100 pelaku ekonomi terbesar dunia, 52 di antaranya adalah korporasi global. Oleh karena itu tanggungjawab dan regulasi juga harus dilekatkan kepada korporasi-korporasi ini.

Politik pengingkaran ini kemudian dilakukan dengan mengkambing-hitamkan negara-negara industri baru sebagai penyebab utama pemanasan global, seperti Cina, India, Meksiko, Brazil. Demikian politik kambing hitam ini ditujukan kepada negara-negara, seperti Indonesia yang belum lama ini dianugerahi gelar emitor ke-3 tertinggi emisi gas rumah kaca karena kebakaran lahan dan hutan. Politik kambing hitam ini juga bisa dilihat dengan mengalihkan tanggungjawab mereka untuk mengurangi emisi di negaranya dengan bantuan untuk penghutanan di negara berkembang atau melalui mekanisme perdagangan karbon.

globalwarming mengatakan...

Pada akhirnya alih-alih mengakui hutang ekologis mereka menggunakan intrumen hutang luar negri dan investasi asing untuk melakukan kontrol, penaklukan terhadap kedaulatan ekonomi negara-negara selatan. Mereka menafikan bahwa kucuran dana baik hutang luar negri maupun kredit ekspor mereka ikut andil mengkronstruksikan ekonomi yang eksploitatif dan menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Termasuk di antaranya sistim bioful estate, industri pembangkit listrik tenaga nuklir, rekayasa genetik.

Jerat hutang luar negeri itulah yang akhirnya menjadikan penguasa di negara-negara berkembang (m)bebek saja kepada kepentingan Negara-negara Utara. Di samping, tentunya mental untuk mengejar rente ekonomi yang menjanjikan dari proyek-proyek hutan dan proyek ‘perubahan’ iklim yang tidak memihak kepada kepentingan mayoritas rakyat yang hidupnya bertumpu pada hutan. Begitulah, rezim yang kini berkuasa di negeri adalah juga undangan VIP dan sekaligus tuan rumah pesta pora ini? (Andreas Iswinarto)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike and all,

....”Kalau menilik latar pandangan dan pilihan sikap para pembesar yang hadir di COP UNFCCC Bali, sebagai penghamba laba dari proses eksploitasi dan ekstraksi alam secara masif, rasanya sungguh sangat meragukan".....

Lalu, mari kita track back sejarah dan nasib kesepakatan Stockholm tahun 1982, KTT bumi Rio de Jeneiro tahun 1992, hingga di Palam Johannesburg tahun 2002. Pada hampir semua pertemua itu, kesepakatan yang diambil selalu paralel dengan kepentingan ekonomi-politik negara pengagum praktek kapitalistisme.

Bahkan, ketika pembesar dunia menyepakati Protokol Kyoto tentang pengurangan emisi gas rumah kaca, justru negara produsen besar emisi gas rumah kaca seperti, Amerika, tak mau tunduk pada kesepakatan itu. Hal ini kembali terjadi di COP Bali.....so what's going on???? (Wuryandono)

Anonim mengatakan...

Jadi, terhadap pertanyaan apakah GW/PG lebih kuat isu ilmiah atau politik, jawabnya adalah kedua-duanya.

Pada tataran ilmiah,semua penelitian sedang berlomba untuk membuktikan skenario mana yang paling signifikan menyebabkan GW. Nah, ketidak jelasan alasan ilmiah inilah yang menyebabkan muatan politik ikut menyelonong. AS dan Australia banyak bersembunyi di balik alasan-alasan ilmiah untu melakukang covered up kebijakan mereka terhadap GW.

Situasi diperburuk oleh masuknya kepentingan ekonomi politik. Sahabat Norman tepatbnget ktika memberi informasi bahwa betapa harga karbon Indonesia ditawar begitu murah.

So, begitulah nasib bumi. Siapa yang bisa membebasnya dari jerat aneka kepentingan itu? Walahulambissawab (Wuryandono)

Dalam perkembangan

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Rasanya blog ini dimulai dengan memposting tentang savana. Lalu, lingkungan hidup. Tapi pada perkembangan belakangan blog ini berkembang ke mana-mana dan sekarang....dia coming home. Kembali kerumah....rumah lingkungan....That's look lka a home coming day.....saya suka.....

Posting yang panjang tetapi tetap enak dibaca. Tidak melelahkan. Percakapan juga dinamis. Dan sampailah pada topik...PG adalah political or scientics matter of things....(Fransesca)

Anonim mengatakan...

Saya coba membatas diri hanya pada tataran aksi - advokasi...

Bagaimana seharusnya kita bertindak. Menurut saya ada 3 pilihan gerakan lingkungan hidup, yaitu:

Pertama, gerakan yang masih berkutat pada penyelamatan alam semata tanpa menyentuh aspek sosial, ekonomi dan politik. Gerakan tipe ini berkonsentrasi untukmelakukan konservasi alam dan biasanya menempatkan aspek sosial-ekonomi masyarakat sebagai sisi lain yang menghambat;

Kedua, gerakan lingkungan yang memfokuskan diri pada pengembangan praktek produksi alternatif tetapi, mengabaikan aspek politik. Gerakan ini mengembangkan solusi praktekalternatif dalam produksi, misalnya sistem pertanian berkelanjutan berbasis keluarga yang sangat ramah lingkungan karena menggunakan bahan organik yang diperoleh secara mandiri;

Ketiga, gerakan lingkungan yang mulai memberi perhatian pada aspek sosial, ekonomi danpolitik. Selama ini, gerakan lingkungan tipe ini mengambil strategi penyelamatan lingkungan dengan meng-advokasi kebijakan yang melegitimasi praktek eksploitasi dan ekstraksi alam serta mencemari lingkungan.

Nah, jika kita memahami 3 skenario tadi maka pertanyaan apakah save our wolrd adalah gerakan ilimiah atau politik sudah termaktub di dalam hal di atas. Anda memilih untuk teribat dalam hal apa? (Fransesca)

Anonim mengatakan...

heeiiii Bigmike, apakah betul jemuranmu masih bergaya tahun 1900 ...ha ha ha ha ha ...heit it's very funny and..oh my god...doumfound maaaannn...ha ha ha ha ha...

BTW, i love your style of posting....you're still one of the best blogger.......(Fransesca)

Bigmike mengatakan...

Saya menambahkan dalam posting ini, di bagian akhir, salah satu lagu kesayangan saya...what a wonderful world...

Dunia ini begitu indah dan mari sama-sama kita menjaganya supaya kita terus memperoleh kebaikan di dalamnya.....

GBU. Tabe Puan en Tuan

Bigmike mengatakan...

Waaahhhh....komentar lumayan banyak dan bagus-bagus, Thanx. GBU

Lalu, ada Joshua ...ha ha ha ha....Sahabat adalah pendatang baru tapi beberapa kali mengejutkan saya dengan pertanyaan-pertanyaannya. Saya tertawa karna ingat bahwa syarat seseorang disebut sebagai filsuf adalah BERTANYA. Itulah sebabnya mengapa Thales disebut filsuf pertama karena dia bertanya...dibuat dari apakah bumi itu?.....

Nah, sekarang saya bisa melihat bahwa ada kesamaan antara Thales dan Joshua, yaitu bertanya....ha ha ha ha

Tapi Thales kemudian menjawab sendiri pertanyaannya...bumi terdiri atas air......meski belakangan kita tahu bahwa jawaban itu salah tapi...Thales sudah menjawab....dan dia disebut sebagai filsuf...lalu filsafat, untuk gampangannya, adalah dunia tanya-jawab. Ringkasnya, dunia berbincang bincang.

Oleh karena itu, akan amat menggembirakan jika joshua juga, pada waktunya nanti bukan cuma bertanya tatapi bisa juga mengajukan jawaban...bila perlu atas pertanyaan yang diajukannya sendiri....bagaimana???? Saya liat sahabat joshua punya potensi besar untuk itu...lihatlah....ketika bertanya tentang GW, politik dan sains....ramai sahabat lain mempercakapkannya.....Joshua mampu membelokkan arah pembicaraan…luar biasa…salut…..

Akhirnya, saya teringat bahwa Joshua adalah bentuk pengubahsuaian bahasa Aram-Ibrani dari Jesus....nah keahlian Jesus - Joshua terletak bukan hanya karena DIA bertanya tapi juga karena DIA menjawab......


ha ha ha ha ha tapi omongan saya itu tidak usah ditanggapi terlalu serius.....calm...calma ...calma....ha ha ha...

Bigmike mengatakan...

Dear Sisca,

ah lamo inda basuo....ha ha ha ha udah kelar Magistratnya? gimana kabarnya negeri paman Sam? Katanya Presiden barunya anak Menteng yaaaaa....????? ha ha ha ha ha...

Ya, memang ada 3 skenario keterlibatan kita. Pertama terjun langsung isu-isu ekologi sains, kedua lewat isu-isu produksi dan terakir lewat advokasi sosial, politik dan ekonomi. Mana yang lebih penting? Semua sama penting asal bisa bersinergi. Tidak menganggap yang satu bersub-ordinatkan pada yang lainnya.

Tapi ada juga yang paling tidak penting, yaitu mempersoalkan celana belacu saya....ha ha ha ha...belacu foreverlah..ha ha ha ha

Go Green and godd luck my friend. GBU

Anonim mengatakan...

Saya kira penjelasan dari beberapa sahabat, terutama dari forum globalwarming dan ransesca + Bigmike, membawa pencerahan tersendiri tentang apa yang seharusnya kita lakukan guna menyikapi dn beradaptsai dengan pemanasan global. Thanx (13)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike, bagaiman dengan nasib pulau-pulau kecil jika permukaan laut naik akibat PG. NTT punya 566 buah pulau yang hampir semuanya pulaupulau kecil. Apakah akan tenggelam?

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Bagaimana dengan nasib pulau-pulau kecil jika permukaan laut naik akibat PG. NTT punya 566 buah pulau yang hampir semuanya pulaupulau kecil. Apakah akan tenggelam? (13)

Anonim mengatakan...

ha ha ha ha,

sahabat bm ini bisa saja "memancing." begini sahabat. org bertanya itu tdk = dia seorang filsuf. kalau thales bertanya dan menjawab sendiri itu karena dia benar-benar pandai; sedang saya bertanya karena memang bodoh. apalagi sahabat disini disebut, saya kutip, "sahabat nan bijak bestari."

tp baiklah saya coba jawab sendiri pertanyaan saya. semoga dpt dimengerti; kalau tidak, harap maklum saja :)

pertama, saya bertanya apa itu halal, apa itu haram? saya bertanya lantaran ada sahabat yang pingin katakan hal halal haram datangnya dari surga. bhs spt ini, kalau tidak jelas artian (halal haram) bisa "berbahaya." mengapa? karena surga dianggap sumber kebenaran mutlak; cilakanya ditangan manusia yg punya sifat mentang-mentang dan gemar kekerasan lalu membuat klaim memiliki kebenaran mutlak. yg lain salah dan harus dibasmi. si a materialistis, si b kapitalis, si c kafir. terus terang saya teramat risih dgn bhs spt ini.

kedua, saya bertanya debat pg sebaiknya debat ilmu pengetahuan atau politik. saya tercengang dgn retorika yg muncul disini. buat saya sederhana saja. ilmuan khan ujung-ujungnya perlu duit juga buat penelitiannya. siapa yg mendanai? rakyat! siapa yg menguasai uang rakyat? politisi. jadi wajar saja kalau debat pg menjadi debat publik. tp wajarkah isi debat pg yg terjadi saat ini? tidak! mengapa? lihat saja contoh kecil retorika disini! isu pg menjadi isu menggugat kapitalisme, barat dll. kita kehilangan fokus pd persoalan yg sebenarnya.

begitulah jawaban saya sahabat bm. kalau salah dan tidak berkenan dihati, mohon maaf saja. saya memang bukan org bijak nan bestari.

(joshua)

Anonim mengatakan...

@pacenoge


beta setuju tentang statemen pace soal potensi hutan papua.. balom lagi ditambah dengan potensi hutan mangrove (yang sayangnya semkin berkurang dari tahun ke tahun)...

tapi satu yang paling mengkhawatirkan adalah... ketika luasan hutan papua semakin berkurang dari tahun ke tahun, terus apa yang su dilakukan pemerintah?? hutan mangrove rusak, hutan hujan tropis papua semkin berkurang.. padahal kalo sonde salah luas hutan papua merupakan 50% dari luas hutan di Indonesia dan merupakan luas hutan terbesar ke-3 di dunia.... ironis ko sonde pace??

norman

Anonim mengatakan...

Wajah bumi kita kian tua. Hanya saja, proses penuaan yang terus berlangsung itu pun tak disadari manusia sebagai penghuninya. Manusia terus asyik memburu keping-keping uang dengan berbagai cara tanpa mempedulikan kondisi bumi yang kian rapuh. Lihat saja, penambangan, penebangan pepohonan di hutan, pembakaran hutan, polusi kendaraan bermotor, pencemaran sungai dan laut akibat limbah berbahaya, yang semua itu demi menumpuk kekayaan sekaligus menumpuk segudang persoalan lingkungan yang tiada habis-habisnya. Kita bisa membayangkan betapa bahaya pemanasan global bagi kehidupan. Laksana raksasa tidur yang melenakan dan siap memangsa kita dalam hitungan detik. Jauh lebih berbahaya dari ancaman terorisme.
Pembangunan, kemajuan ilmu pengetahuan, hingga keperkasaan teknologi saat ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding kerusakan bumi yang ditemukan saat ini. Laut telah menjadi semacam tempat sampah raksasa, tempat membuang segala limbah industri-industri besar.
Hutan telah habis dibalak umat manusia. Upah dari semua itu adalah terjadinya perubahan besar-besaran iklim di tingkat global.
P E R U B A H A N…..dunia akan berubah menuju kehancuran, bila kita sebagai penghuninya tidak mau berubah….berubah untuk tidak menjadi manusia yang rakus dan tamak dengan menghancurkan lingkungan yang ada.
Maka saya setuju dengan BM....mari mulailah dari diri kita sendiri..jaga lingkungan kita..lestarikan bumi kita, biar yuniorku bisa juga menikmati keindahan dunia ini nanti.(Adek)

Anonim mengatakan...

@ Adek

Pendeta ya????? ha ha ha ha. Tapi suer, bagus komentarnya. Top (Larry)

Anonim mengatakan...

@ joshua.

dilihat dari kualitas anda bertanya dan berargumen saya tidak setuju kalo dibilang anda tidak tahu apa-apa.

Saya malah menganggap anda adalah ''kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu....ha ha ha.

Kualitas komen seperti anda tampaknya diperlukan di sini karena memberi warna tersendiri. Salut. Keep on comment Mas (Larry)

Anonim mengatakan...

Pemanasan global merupakan sesuatu yang tak terbantahkan lagi dan dapat menimbulkan dampak sangat mengerikan. Demikian salah satu pernyataan dalam laporan terakhir Panel PBB untuk Perubahan Iklim atau United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang diumumkan di Valencia, Sabtu (19/11).

Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon menantang pemerintah negara-negara di seluruh dunia untuk melakukan aksi nyata mengatasi ancaman tersebut. Ia mengajak para pengambil kebijakan untuk merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim di Bali yang akan digelar awal Desember 2007.

"Sangat mendesak, usaha global harus dilakukan," ujar Ban Ki-Moon, Sekretaris Jendral PBB. Ia berharap para pengambil kebijakan dari seluruh dunia dapat merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim yang akan digelar di Bali mulai 3 Desember 2007.

Uraian di atas menyebabkan saya berpendapat bahwa masalah teknis lingkungan pada akhirnya memerlukan tindakan politis supaya bisa diatas. Kuncinya adalah SINERGI. Bigmike sudah bilang itu (Larry)

Anonim mengatakan...

Oh iya, kutipan artkel di atas saya peroleh dari www.kompascibermedia.com (Larry)

sastavyana blog's mengatakan...

duuuuhhhhh Bigmike, "what a wonderful life" adalah my very favorite song....ever......thanx yaaaaaaa......

"tuk temen2 yg pengen nyanyi bareng gw kasikanliriknya lengkap....met nyanyi yaaaa....what a wonderful world...

Louis Armstrong - What A Wonderful World

I see trees of green........ red roses too
I see em bloom..... for me and for you
And I think to myself.... what a wonderful world.

I see skies of blue..... clouds of white
Bright blessed days....dark sacred nights
And I think to myself .....what a wonderful world.

The colors of a rainbow.....so pretty ..in the sky
Are also on the faces.....of people ..going by
I see friends shaking hands.....sayin.. how do you do
Theyre really sayin......i love you.

I hear babies cry...... I watch them grow
Theyll learn much more.....than Ill never know
And I think to myself .....what a wonderful world

Bigmike mengatakan...

Aha, sahabat Joshua akhirnya "mau" menjawab juga. Puji Tuhan. Saya cuma mau bilang SALUT. GBU

Bigmike mengatakan...

Mbak Sastavyana,

Terima kasih banyak atas apresiasnya. Saya memang suka lagu itu. Dan gara-gara 2 posting terakhir, saya sekarang sudah mewujudkan impian saya, yaitu memiliki blog khusus tentang musik. Isinya adalah lagu-lagu yang pernah dan yang nanti memiliki impressi tersendiri bagi saya.

Saya juga terpaksa membuat blog itu karena kawan saya, kawan kita semua MR JIWA MUSIK, sekarang sudah enggak tahu pergi kemana. Dan saya kehilangan tempat mencari musik-musik indah. Ya, sudah..sekarang saya bikin sendiri.

Tapi formatnya tidak seperi blog-blog musik lain. Saya cuma copy paste dari youtube begitu saja dan lalu memberi beberapa pengantar yang meruakan "impressi" saya terhadap lagu atau penyanyi atau musisi yang saya sukai.

Jikalau berkenan menengok, ya silakan. Jika tidak 1 selera ya tidak apa-apa.

Tabe Puan

Bigmike mengatakan...

Blog musik saya adalah: http://www.mikerk-musik.blogspot.com/

Anonim mengatakan...

Wakakakekekekekkikikik.....Bigmike punya maenan baru di blog musik....ha ha ha....ga pa2 bosz...nanti gw tongkrongin juga kok...ha ha ha ha....emang kalo hati lagi rusuh...musik bisa menjadi obat manjur.....getooooo ya boszzz.....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

Nih ada pandangan aneh dari kaum vegetarian tentang pemanasan global....ada2 ajah.....kurang kerjaan kaleeeeee yeeeee.....

Amin (24), dalam kesehariannya memang terlihat biasa-biasa saja, namun pemuda kalem ini akan terlihat berbeda ketika memilih menu makanan yang akan disantapnya. Dia hanya akan makan tumbuh-tumbuhan, dan tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari mahluk hidup seperti daging, ikan atau hasil olahannya alias vegetarian.

Pola makanan Amin ternyata berhubungan erat dengan penghematan energi yang akan mampu menyelamatkan bumi khususnya dari krisis energi yang tak terbarui dan pemanasan global.

Anonim mengatakan...

"Belum ada yang menyadari hubungan antara isi piring, energi dan kerusakan lingkungan. Seorang ekonom dan pemerhati lingkungan yang juga ketua Panel on Climate Change (IPCC), Rajendra Kumar Pachauri memberikan tiga kunci untuk melawan pemasan global dan pemborosan energi yakni jangan makan daging, kendarai sepeda, dan jadilah konsumen yang hemat," kata Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi UAJY yang juga seorang vegetarian, Prof. Ir. Prasasto Satwiko, M.Sc dalam Seminar Konservasi Energi dan Energi Alternatif di Ruang Audiovisual Kampus II UAJY (11/06).

Pemborosan energi akibat kegemaran makan daging telah lama diketahui, namun baru sepuluh tahun terakhir ini isu tersebut kembali terdengar khususnya setelah produksi dan pengolahan daging yang melibatkan industri multi nasional tidak mudah untuk diajak memahami masalah energi dan lingkungan.

Anonim mengatakan...

"Sebenarnya, pemborosan energi akibat dari kegemaran makan daging telah diketahui sejak lama, tapi baru sepuluh tahun terakhir ini tersebut kembali terdengar. Hal tersebut marak khususnya setelah produksi dan pengolahan daging yang melibatkan industri multi nasional tidak mudah untuk diajak memahami masalah energi dan lingkungan,' kata profesor yang telah dua tahun ini menjadi seorang vegetarian.

Sebagai satu dari milyaran penduduk dunia, kita pasti dapat melakukan andil dalam menghemat energi dan mencegah pemanasan global yang sedang terjadi dengan tiga cara yang disampaikan oleh peraih Nobel Perdamaian 2007, Rajendra Kumar Pachauri. Cara mana yang Anda anggap paling tepat bagi diri Anda? Tidak makan daging, kendarai sepeda, atau menjadi konsumen yang hemat?

Anonim mengatakan...

Nah gimana bosz......nalar ga tuh? ...wakakakakakak...rasanya GW didomplengin aneka isu, termasuk life style....wadoooohhhhh....ha ha ha ha....

eh, dari pada pusing, gw ke blog musiknya bigmike ajah dechhh....(Proxy73)

poempuisi mengatakan...

Bumi ini milik siapa
siapa bilang bumi ini milik siapa-siapa
siapapun bukan pemilik bumi ini
karena
bumi ini milik dari pemilik si siapa

jagalah bumi
jagalah siapa
karena
pemiliki siapa
melihat dari ketinggin

poempuisi mengatakan...

Penasaran nih mo liat blog musik milik BM kek apa ya?????

Anonim mengatakan...

sahabat bm,

terima kasih atas apresiasinya dan doanya. tuhan allah berkati sahabat juga!

sahabat larry,

terima kasih juga buat sahabat tp kali ini sahabat benar keliru. saya memang tidak tahu banyak. syukurlah ketemu blog sahabat bm disini sehingga saya bisa banyak membaca.

tp saya setuju dgn sahabat; kata kuncinya sinergi. kalu boleh saya tambah, dlm lingkup lebih privat, silahkan diam-diam atau terbuka disini menyatakan kesanggupan menjalankan tips menghemat energi yg sudah ditulis panjang lebar. saya pribadi menilai itu jauh lebih positif (tdk bermaksud katakan yg lain negatif) ketimbang berbicara panjang lebar ttg filsafat, halal haram, nasionalisme, kedaulatan negara, dstnya tp lupa melakukan apa yg bisa kita lakukan. saya pikir "roh" posting kali ini mau katakan itu.

begitu saja dan salam hangat selalu.

(joshua)

Anonim mengatakan...

sahabat, saya sendiri komit berbuat apa yg saya bisa buat demi lingkungan.

1) semua lampu rumah saya ganti dgn yg "energy saving." lebih mahal memamg tp lebih "green" bagi lingkungan.

2) mengendarai mobil hanya 1 kali seminggu (biasanya untuk gereja + belanja mingguan. untuk kerja, 20km "pp" per hari, saya beli motor cc kecil. hemat bensin sampe 70%.

3) rumah sudah spt kebun. tomat, cabe, kacang panjang, ubi, pisang, pepaya tanam sendiri. alhasil banyak nyamuk tp apa boleh buat. demi lingungan.

4) keranjang sampah saya 2; buat yg bisa di olah kembali (sekalian membantu mereka yg mencari makan dgn mengumpulkan jenis "sampah" spt ini) dan sampah umum (sisa makanan dll)

5) dirumah kami banyak "AC" (angin cepoi-cepoi). ac beneran, 2 biji, hampir tidak pernah dipakai. dipakai kalau sudah tdk tahan :) itu pun pakai timer.

siapa menyusul untuk "go green" demi yuniornya sahabat yr???

(joshua)

Bigmike mengatakan...

wueeeeeeleeehhhh...Mister Joshua....inilah yang saya tunggu....anda memang brilliant...ayoooo siapa yang mau mengikuti jejak Mister Joshua....

Lakukan apa yang harus anda lakukan...jangan cuma berdebat...jangan teori tak tik tok tiiillll....OMDO...omongan doang....GBU

Bigmike mengatakan...

Mister Proxy73,

Waalaaaahhh...hubungan vegetarian en GW....semuanya juga apa yang kita biki kalau ditarik-tarik pasti ada pengaruhnya...masalahnya seberapa signifikan...lain kali saya ingin berbagi barang sedikit teori saling tarik menarik..teori efek kupu-kupu ..dan lain-lainnya....sabar saja.

Thanx sudah ke blog musik saya...GBU

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Artikel yang bagus tetapi harus diakui beberapa hal masih sangat hipotetik. Artinya, ini akan jadi egitu jika kondisinya seperti x, y, z dan seterusnya.....

Oleh karena itu tepat sekali jikalau dikatakan bahwa kerjakanlah apa yang bisa dikerjakan. Jangan kebanyakan teori. Bagimana jika langkah dan tips dari joshua diikuti dan dikembangkan? (Sulis, SM, Jogjakarta)

tuaksatu mengatakan...

PG dan Vegetarian? membingungkan. DApatkah bigmike memberikan sedikit pencerahan?

Anonim mengatakan...

@ Tuak1,

Nanti gw ngasi penjelasannya. Sekarang baca posting dulu. Masih sibuk. I Hate Monday man (Elizahayu)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Ini salah satu tema favourite gw. Nanti gw beri beberapa tanggapan. I Love u posting my man (Elizahayu)

jabon mengatakan...

om mike .. saya suka main ke blog ini .. maksih ya atas artikelnya .. aku suka

Anonim mengatakan...

Hello there! This article could not be written much better!
Reading through this post reminds me of my previous
roommate! He constantly kept preaching about this.
I'll forward this article to him. Fairly certain he'll have a very good read.
Many thanks for sharing!
my page > http://www.topuggbootjp.com/

Anonim mengatakan...

I have read so many content concerning the blogger lovers however this article is truly a pleasant piece of writing, keep it up.


Have a look at my site - christian louboutin evening shoes

Anonim mengatakan...

Hi, all is going nicely here and ofcourse every one is sharing data, that's really fine, keep up writing.

my web page ... replica hermes handbags

Anonim mengatakan...

This post is genuinely a pleasant one it helps new net people, who are wishing for blogging.


my blog :: Christian Llouboutin UK

Anonim mengatakan...

Very good article. I will be experiencing a few of these issues as well.
.

my webpage - nike free 4.0 v2

Anonim mengatakan...

If you disregarded the Ugg guidelines and wore your boots in water, or
you dropped liquid on your boot, you might have stains
along your boots. Buy cheap UGG boots visit: When it comes to purchasing for the reason that, world-wide-web
retailers offer these with lower prices than those from local sellers.

Regardless of the items your first option is, UGG Classic Short you can discover in
the UGG boot.

Here is my blog louis vuitton