Minggu, 03 Agustus 2008

De Indonesien alleen is noit zijn heer (apaaaaannn tuuhhhhh?)

Sahabat blogger terkasih,

De Indonesien alleen is noit zijn heer. Kalimat ini saya peroleh dari suatu tulisan lama yang dibikin oleh DR. Abu Hanifah dalam polemiknya dengan Mochtar Lubis pada tahun 1977. Dua orang ini sudah lama dipanggil Tuhan tetapi jejak pikirannya akan saya tulis kembali pada malam ini. Besar harapan saya bahwa di sini. Di tulisan ini, kita bisa berkaca seperti apa wajah kita. Seperti apa wajah Indonesia. Wajah di tahun 2008 ketika kita sudah berada di tahun yang ke 63 pascakemerdekaan.

Data pada bulan Desembar tahun 2006 (kalau anda punya data terbaru harap diberikan di kolom komentar) menunjukkan bahwa angka hutang luar negeri Indonesia mencapai US$ 125,25 miliar. Mengapa kita berhutang? Ya karena kita tidak mampu membiayai belanja kita sendiri. Mengapa kita tidak mampu membiayai belanja kita sendiri? Ya karena kita miskin. Jumlah penduduk miskin di Indonesia yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Juli 2008 turun menjadi 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk Indonesia. Baguskah? Ah, nanti dulu. Data itu ternyata belum menghitung, atau sengaja tidak memperhitungkan, dampak kenaikan harga BBM yang baru lalu. Seorang peneliti senior di LIPI, Hari Susanto, menghitung bahwa dengan kenaikan harga BBM menjadi 28.7% maka jumlah penduduk miskin akan mencapai 40 juta jiwa atau 18,04% dari jumlah penduduk di Indonesia. Angka lebih mengerikan diberikan oleh hasil analisis Bank Dunia. Dengan menggunakan standard internasional pengukuran tingkat kemiskinan yaitu PPP (purchasing power parity) 2 USD maka angka penduduk miskin di Indonesia mencapai 49% dari total penduduk. Berapa angka rilnya? Jika penduduk Indonesia per Juli 2008 sekitar 225 juta jiwa maka jumlah orang miskin di Indonesia adalah.......engggg...........iiiing...............eenggggg......110.25 juta jiwa....wwwwoooooowwwww........mammaaaaaa mia let me go.......Cukup? ya, cukup dulu. Tapi apa hubungannya dengan judul posting ini?

De Indonesien alleen is noit zijn heer berasal dari penggalan sebuah puisi yang dibuat oleh orang-orang Belanda pada tahun 1927 yang menyitir sebuah syair kuno, VETH, guna mengolok-olok gerakan kebangsaan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Negeri Belanda. Bunyi penggalan syair tersebut kurang lebih begini:

Di pantai-pantai Jawa, bangsa-bangsa berdesak-desak.
Mereka berganti-ganti seperti awan-awan di langit.
Terus menerus mereka berdatangan dari seberang lautan
Hanya orang Indonesia yang tidak pernah menjadi tuan di rumah mereka sendiri
(de Indonesien alleen is noit zijn heer)

(kata Indonesia sengaja saya ubah dari kata aslinya, yaitu Javaan)

Menyakitkan? Bagi yang mempunyai sedikit saja perasaan nasionalisme pasti akan merasa sakit hati dengan tudingan orang-orang Belanda tempoe doeloe itu. Apakah sekarang ini keadaan lebih baik? Jangan buru-buru menilai. Mari kita lihat beberapa fenomena di sekitar kita. Pemain sepakbola yang berasal dari luar negeri adalah tuan besar di Indonesia. Pemain Indonesia dibayar begitu murahnya sementara si pemain asing hidup bagaikan raja-raja kecil di liga sepak bola nasional. Dunia persinetronan kita dibanjiri oleh puluhan artis-artis berwajah Indo yang berkewarganegaraan Jerman, Amerika, Australia, Malaysia, Singapura dan lain sebagainya. Di klub-klub malam di Jakarta, konon sudah lama wajah "ayam kampung" menghilang digantikan oleh wajah-wajah ayu bermata sipit dari negeri China. Dewi Persik, artis dewek, dilarang-larang ketika ingin menyanyi di beberapa daerah tetapi betapa bangganya kita menyaksikan Maria Carrey menyanyi nyaris telanjang di Indonesia. Artis-artis Malaysia berseliweran di Indonesia sambil mengencani dan memacari artis-artis dalam negeri tetapi kita diam ketika Inul Daratista diperlakukan bagaikan monyet di Malaysia. Orang di Arab dan Malaysia memperlakukan jongos-jongos-nya yang berasal Indonesia nyaris tanpa peri kemanusian sedangkan kelakuan sebagian warga bangsa kita lebih Arab dari orang Arab itu sendiri. Kita bangga menyebut PRT-PRT itu sebagai pahlawan devisa. Tetapi ironisnya, ketika sang pahlawan devisa itu pulang kembali ke tanah air, mereka dirampok habis-habisan di Cengkareng oleh agen atau orang-orang kita sendiri tanpa rasa malu. Di pusat-pusat bisnis di Indonesia, cobalah anda mengamati di sana, banyak sekali konsultan-konsultan asing dengan gaya "dandy" ber- cas cis cus bersama-sama beberapa wajah melayu Indonesia yang bekerja dengan mereka. Orang-orang asing ini menjadi penentu sementara wajah melayu Indonesia itu adalah tukang-tukangnya. Cilakanya, "para tukang" itu hobi banget pamer gaya bisa bekerja bareng bule ketika mereka menghadapi orang negerinya sendiri. Gue kerja bareng Amrik lhoooo....Gue dibayar pake' dollar lhooo......Beranikah anda bertanya, berapa gaji si orang asing dan berapakah gaji si orang Indonesia?

Saya pernah punya 2 kali pengalaman. Pertama kali di tahun 1980-an akhir ketika saya masih seorang dosen muda yang "bangga" bisa bekerja sama dengan orang-orang asing di suatu proyek di kampung nun jauh di pedalaman Timor. Berapa honor saya per bulan? Rp. 50.000,- untuk bekerja dari pagi sampai sore di padang penggembalaan. Berapa honor orang asing itu? ribuan dollar bung, hanya untuk memerintah ini-itu yang saya sendiri sudah tahu karena ada dalam buku yang saya baca sendiri. Kali kedua, di tahun 2006 ketika bekerja dengan orang-orang asing untuk suatu analisis kemiskinan masyarakat desa hutan di Indonesia. Saya menjadi koordinator daerah Nusa Tenggara yang meliputi NTB dan NTT. Setelah rampung pekerjaan lapangan maka kami diinstruksikan untuk berkumpul di sebuah hotel mewah di kawasan Senayan, Jakarta. Makan enak.Tidurpun enak. Tetapi kami bekerja berhari-hari dengan semua daya kami hanya untuk mendapatkan biaya ganti tiket pesawat dan lumpsum ala kadarnya. Beruntunglah ketika itu, pikiran saya tidak tertuju kepada uang. Saya ingin mendapatkan pengalaman baru. Tetapi, belakangan baru saya sadari bahwa dalam laporan mereka, justru pola pikir dan metode yang saya kembangkan yang dipakai mereka. Mammmaaaaaaa mmiaaaaaaa let me go...sampai sekarang bukti tiket masih ada di tangan saya dan saya tidak berniat untuk meminta ganti biaya tiket. Biarkan menjadi doea tanda mata bagi saya karena memang ada 2 buah tiket yang seharusnya bisa saya klaim. Masih ada contoh lain? silakan anda kumpulkan sendiri. Silakan pula jika anda menilai........heeeiiiiii.........si BM sedang cengeng padahal itukan salah dia sendiri.......ya saya mempersilakan anda menafasir. Tetapi, mari kita catat fenomena berikut ini......jelas-jelas saya dan beberapa teman adalah orang Indonesia asli tetapi...betapa bangganya kita jika dalam berbicara dan atau menulis bisa mencampur adukkan, bagai kol and his gang, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya (judul posting inipun ditulis dalam bahasa asing hi hi hi).

Begitulah, sidang pembaca. Bung Besar kita, Soekarno, beribu-ribu kali mengingatkan bahwa bangsa Indonesia jangan mau menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli bangsa-bangsa lain. Namun, ketika memberikan amanat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1965 di Istana Negara, Soekarno justru pesimistis bahwa bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang dikhawatirkannya itu. The Indonesian people have become a nation of coolies and a coolie amongst nations. Soekarno mengatakan, ia mencupliknya dari seorang sarjana Belanda. Kemungkinan besar sarjana Belanda dimaksud adalah orang Jerman yang bernama Emil dan Theodore Helfferich yang pada tahun 1900-an awal datang ke Pulau Jawa dan membeli tanah seluas 900 ha di daerah Cipoko, Boogor dan menjadikannya sebagai kebun teh. Mereka mengatakan bahwa eine Nation von Kuli und Kuli unter den nationen.....Mammmmmaaaaaaa mmmmiaaaaaaa let me goooooo.....

Sekarang kita sudah berada di dua minggu menjelang perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 63. Cobalah kita menepi barang satu atau dua dikit dan tanyalah kepada diri kita sendiri. Benarkah kita bukan bangsa kuli? Benarkah kita sudah menjadi tuan atas negeri kita sendiri? Saya bingung untuk berkata apa. Anda mungkin tidak, Tetapi ijinkan saya untuk mengucapkan begini:

Di sini di tanah ini, jiwaku bangun,
Ragaku akan tegak sebagai pandu bagi ibu Pertiwi.
Pandu yang siap untuk menjadi tuan di rumah kami sendiri
(tidakkah hal ini agak berlebihan?????????)

MERDEKA PUAN. MERDEKA TUAN

122 komentar:

jiwamusik mengatakan...

sy ndak begitu paham akan sejarah ini, namun -- ndak peduli orang mo bilang sy sedang cengeng ato ditafsirini apa aja --, rasanya postingan ini sungguh memilukan.
Kalo pun sy (terpaksa ato ikhlas) wajib optimis, modah2an kondisi sekarang adalah awal titik balik dari kondisi yg paling memilukan.

kawan... sy hari ini sudah menepi bahkan ke pinggiran.
Tadi ke kondangan pernikahan, salah satunya di rumah di perkampungan kumuh di pinggiran Jkt. Mobil gak bisa masuk, jalannya pun masih jauuuh dr parkiran, keluar masuk gang sempit. Diam2 sy terpaksa bbrp kali menyeka air mata. Mereka spt manusia biasa, ada yg cantik, ada yg ramah, ada yg norak, pokoknya macam2 deh... ya mereka adalah saudara2 ku jua spt sidang pembaca disini. Hanya sj meskipun sy merasa saudara tp jangankan pernah ketemu, kondisi mereka pun rasanya sy ndak pernah tahu.

Ya... mereka kepepet shg betul2 (scr fisik dan nyata) telah terpinggirkan. Sementara kalo sy ke mall, cari minuman bajigur, ronde, gethuk ato jajanan2 asli sungguh nyaris tak mungkin. Lhah ini sy sedang dinegeri mana ya?
Barangkali krn emang pasarnya udah dianggap punah gara2 terpinggirkan yg gak bakalan bisa masuk ke mall2 tsb.

Begitu juga, di banyak sektor industri lainnya. Kebetulan dinas sy sering berurusan dg hotel2 berbintang ato mewah, sy betul2 heran segitu banyaknya hotel rasanya nyaris ndak ada yg GM-nya orang Indo. Sebegitu bego'nyakah orang2 Indo, sampe2 ngurusin hotel aja ndak ada yg bisa dipercaya? Begitu juga sektor2 lain, brp banyak perusahaan multi nasional yg dikomendani oleh saudara2 kita?

Barangkali kasus2 beginian bisa dikurangin ala Deng Xiaoping. Mungkin diantara kita taunya keburukan Deng spt halnya dr Ibnu Sutowo, tp mnr sy pribadi mereka inilah jenis manusia yg memiliki komitmen tingkat tinggi buat pereknomian yg memihak ibu pertiwi.

Jadi kapan saudara2 kita bisa jadi pandu yang siap untuk menjadi tuan di rumah kami sendiri??? Nunggu satrio piningit? Selamat berdiskusi

~JM~

Anonim mengatakan...

Aaaaaaahh... sebuah 'potret' jujur tentang Indonesia dan moralitasnya yang saya gugat dari posting ke posting.

Untuk @bm dan semua yg berakal budi dan bernurani, pagi ini saya jadi ingat pesan PLATO:

ONE OF THE PENALTIES FOR THOSE WHO REFUSE TO PARTICIPATE IN POLITICS IS TO BE GOVERNED BY THE INFERIORS.

Inilah kondisi keIndonesSIALan kita, dipimpin oleh manusia-manusia inferior.

Look forward to having a good devate on this.

-nyong kupang-

--DoSa-- mengatakan...

Additional Info:


Indonesia's Debt - External:

$140.7 billion (31 December 2007)

Source: https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/id.html#Econ

--DoSa--

Anonim mengatakan...

heeeeehhh...membaca posting ini gw nggak mampu bercanda. GW malah terharu. Si Bung besar (bung Karno), dan bung kecil kita (bigmike), sungguh benar. Kita belum mampu berdiri mejadi Pandu bagi ibu Pertiwi, Kita masih jadi kuli di negeri kita sendiri. Semua yang kita punya dijual ke leuar negeri. Hutan kita terjual ke Malaysia dan dirubahnya menjadi kebun-kebun kelapa sawit dan tidak perdulibahwa tiap hujan SP. Smatera terendam banjir. Harga diri kitapun ikut tergadai. Kita bangsa kuli dan menjadi kuli bagi bangsa-bangsa lain. Memilukan (Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ BM,

kebayang nggak orang mabuk kayak MR. JIMI diam-diam menghapus air mata melihat mereka yang "kalah" di Jakarta. Jujur nih ye, GW juga sedih ngeliat pemandangan di kolong jembatan tol Ancol-Cililitan, tepatnya kawasan perbatasan Warakas-Papanggo-Sunter. Sungguh kita adalah bangsa kuli. Dan BM nggak berlebihan (Erick)

Anonim mengatakan...

Wooowwww....gw baca lagi posting ini. Dan GW malah makin sedih. Tapi gw terperanjat....aaarrrrggghhhhh....membaca informsi tambahan dari Dosa....wwwwwooooowwww segitu gedenya utangan kita??????tapi knapa nggak netes ke sodara-sodara kita yang bergelimpangan di kolong jembatan itu yaaaaaaa???? thanx Dosa atas tambahan informasinya (Erick)

Anonim mengatakan...

BACALAH BAIK-BAIK DATA INI TUAN DAN NYONYA PEMBACA BLOG:

Penerbitan surat utang pemerintah sejumlah Rp. 430 triliun dengan kewajiban pembayaran bunga sebesar Rp. 600 triliun. Jumlah keseluruhan surat hutang tersebut sebesar Rp. 430 triliun. Surat hutang yang khusus diterbitkan untuk meningkatkan CAR bank-bank agar memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh BIS dan diwajibkan oleh IMF ini disebut Obligasi Rekapitalisasi Perbankan atau Obligasi Rekap (OR).

TUAN DAN NYONYA, KITA ADALAH BANGSA YANG TERGADAI. KITA MEMANG BEKERJA TETAPI PENDAPATAN KITA HANYA UNTUK DIPAKAI MEMBAYAR HUTANG KEPADA BANGSA LAIN. MAKA MEMANG BETUL, KITA ADALAH BANGSA KULINYA PARA KULI-KULI.

JIKA SI ANAK NKRI BANYAK BACOT DENGAN FAKTA INI, GW CARI DUKUN SANTET (Suryana)

Anonim mengatakan...

Melaui mesin pencari, sa katemu blog ini. Sa mo bilang begini, deng kutip dari berita WWF Papua:

Berdasarkan komitmen yang kuat dari Gubernur Papua untuk tetap mempertahankan hutan alam di Propinsi Papua sebagai sumber kehidupan yang mana Gubernur Papua mengeluarkan kebijakan pengelolaan hutan yang dikenal dengan istilah “ From Forest for Death to forest for Life”. Kebijakan ini dengan tegas mengharamkan pembalakan kayu liar dan perdagang kayu haram. Hal ini menunjukan keinginan dan tekat yang kuat untuk tetap mempertahan dan menggunakan potensi hutan Papua secara bertanggung jawab demi mensejahterakan rakayat Papua yang berjumlah 1,5 juta jiwa yang hidup miskin di dalam dan sekitar hutan (Tempo edisi 3 Desember 2007).

Pace dorang skrang sudah tau mengapa orang Papua berontak ka? (Pace Noge, Jpura)

Anonim mengatakan...

Dear all,

Ini saya kutipkan dari http://kutchlux.com/

Ada 11 kebiasaan aneh orang Indonesia:

1. KEtika di jalan raya, setiap kali ada kendaraan (mobil, motor, truk, dll) ingin berbelok (ke kiri atau kanan), mereka selalu melambai2kan tangan (jawa: Mengawe - awe). Padahal khan kendaraan mereka khan ada lampu sein-nya toh?? Bukankah lebih mudah menggerakkan jari sejauh satu inchi utk menyalakan lampu sein daripada menggerak2kan seluruh tangan ke atas - bawah??

2. Kalau ada orang menyeberang jalan lewat zebra cross, mereka juga selalu melambai2kan tangan. Padahal lambaian tangan mereka itu seperti memanggil orang utk mendekat kepada mereka, bukankah itu malah menyuruh kendaraan bermotor utk menabrak mereka??

3. Trus, kalo kita jalan2 diperumahan yang semi - semi kampung, atau memang bener - bener kampung, biasanya ada tanda jalan yg bertuliskan “Pelan2 banyak anak kecil”. Permasalahannya adalah, seringkali pertanda itu ditaruh di sisi kiri jalan yang notabene memakan sebagian badan jalan. Sudah tahu jalannya kecil, kok malah di taruh palang yg gak penting. Khan bisa saja di taruh di pinggir, tak perlu sampai menghalangi kendaraan. Malah buat macet…

4. Belum lagi kalo kita melewati pertigaan, ts heran dengan orang2 yang menaruh sebuah Tong ditengah jalan. Mungkin maksudnya utk mengatur alurnya kendaraan. Tapi menurut ts malah mempersempit dan mempermacet jalan. Ambil Tong itu, selesai kan? Tanpa Tong itu pun, alur lalu lintas lebih lancar.

5. Kalo ada orang meninggal, biasanya mereka menaruh Karangan Bunga di depan mobil ambulansnya. Fungsinya apa??? Mungkin utk memberitahu bahwa ada yg meninggal, tapi khan lak yo gak penting seh… Udah ada tulisan mobil jenazah lewat, trus ada nguing - nguingnya, ada iring2an mobil, orang lain juga sudah tahu kalo ada yg meninggal.

6. Ketika sedang mendengarkan ceramah pejabat, orang - orang yg ndengerin tuh ceramah pada ngangguk2 semua. Jadi kalo ceramahnya dua jam, ya selama dua jam itu pula kepala mereka bergoyang2 kaya boneka kecil yg biasa ditaruh di dashborad mobil itu. Apa ngga capek??

7. Trus, coba deh kalian perhatikan kalo ada Pejabat yg ngomong di depan kamera, para anak buahnya bakal ngumpul di belakang utk ikutan nampang di kamera. Dan seperti biasa, mereka juga bakal ngangguk2 gak jelas.

8. Kalo ts bersalaman dengan orang - orang, mereka kebanyakan setelah bersalaman menaruh tangan kanannya ke dada. Nda tahu maksudnya apa… padahal tangan lawan salaman mereka juga nda ada yg spesial.

9. Di daerah perkampungan, kalo ada rumah yang sedang punya hajatan, biasanya mereka mendirikan terop/tenda. Lha, habis itu, mereka pasang itu yg namanya Speaker Ribuan Watt. Pasang aja sih nda papa, yg jadi masalah mereka itu nyetel lagu DANGDUT REMIX yang nguuuuuuilani soro… Udah nyetelnya kencang banget, judul lagunya “Mandul” pula. Yeekksss….

10. Terakhir, Setiap kita mau parkir di toko2 atau restoran, biasanya ada tulisan “Bebas Parkir”. ts setiap kali melihat tulisan itu ingin ketawa rasanya. Karena sebetulnya orang2 yg menulis itu pasti tidak lulus UNAS Bahasa Indonesia. Sekarang, logikanya gini aja kalo di dalam rumah sakit atau restoran, sering ada tulisan “Bebas Rokok”, bukan? Artinya kita tidak boleh merokok, karena area tsb bebas(bersih) dari rokok. Lha, kalo ada tulisan “Bebas Parkir”, artinya area tersebut bersih(bebas) dari kendaraan yg parkir. Trus, kenapa kita malah disuruh parkir di situ?? Betul tidak?

11.cari tahu sendiri…

Begitulah kebiasaan bangsa kuli ini. Posting ini menghantam nurani. Mengharukan tetapi geram mengingat para pengelola negara yang tidak pernah becus. Two thumbs up untuk bigmike. Sahabat piawai memainkan logika berpikir dan menurunkan olah pikir itu ke dalam tulisan. (Prettymelia)

Anonim mengatakan...

......keur jaman walanda mah sagala teh murah, sakola gampang, kebon aralus. Ayeuna mah sagala teh mahal, lulus sakola hese neangan gawe, kebon jaradi pabrik

....iya, waktu jaman penjajahan Belanda segala murah, sekolah gampang, kebun subur/bagus. Sekarang sih semua serba mahal, lulus sekolah susah cari kerja, kebun pada jadi pabrik)

Tapi kan jaman penjajahan Belanda kita nggak punya harga diri sebagai Bangsa Indonesia. Malah dipanggilnya inlander alias budak.

Hayo, akang en eneng pisan, jeung mana yang anda pilih? Tapi abdi teh yakin, sebagai bangsa koeli, anda akan memilih jaman walanda kan? (dasar kuli....)

Thanx bigmike. Masih ngatuk jadi seger deh baca posting ini (Manh IHIN)

Anonim mengatakan...

Sorr, Mang IHIN ti Bandung

Anonim mengatakan...

Setelah 63 tahun merdeka, keadaan bangsa ini bukannya semakin baik tapi semakin terpuruk. Kemelaratan dimana2. OOOOoh IndoneSIAL ku tercinta, kapan kamu bangkit?????? (Adek)

Anonim mengatakan...

@ bung Adek,

Sebelum saya off

mengapa INDONESIAL terpuruk? Jawabnya jelas: mental kuli itulah sebabnya.

punten bung, abdi bade ka luar (Mang IHIN)

Anonim mengatakan...

Dear all,

Sahabat kita, my dear Bigmike, memang piawai memainkan perasaan kita. Di sini, perasaan dan nasionalisme kita di"obok-obok. Good job MR Bigmike. Saya terharu dan gregetan membaca posting ini.

Dari mana asal muasal mental kuli yang diidap bangsa kita ini. Saya kutipkan pendapat dosen saya, Prof Edi Swasono:

Soekarno-Hatta sering mengutip ucapan Helfferich bahwa Indonesia adalah bangsa kuli di bawah bangsa-bangsa lain-eine Nation von kuli und kuli unter den Nationen-kadang-kadang kita dramatisasi sendiri sebagai het zachtste volk ter aarde, een koelie onder de volkeren, sebagai suatu julukan buat keinlanderan bangsa kita. Hatta menyebut hal ini sebagai "kerusakan sosial" akibat penindasan VOC, cultuurstelsel, dan kebengisan dalam pelaksanaan Agrarische Wet 1870.

Kemartabatan koelie ini ternyata tetap laten, bahkan sering tertransformasi ke dalam proses kuasi-modernisasi dengan segala kesemuannya. Atau adagium absurd ini betul-betul menjadi "senjata makan tuan", menjadi suatu self-fulfiling prophecy, karena hakikat keminderan tidak terkikis oleh sisa-sisa keinlanderan. Bangsa ini berjalan di tempat dalam upaya "mencerdaskan kehidupan bangsanya".

Jelas bukan penyebabnya?

1. Penjajahan dan sayangnya hal itu masih terus berlanjut sampai sekarang.

2. Kita gagal dalam mendidik bangsa ini.

Lalu, mau apa kita? Mau begini terus? Mati sajalah kalau begitu //Pritha//

Anonim mengatakan...

Sabar... Sabar... Spt kebiasaan bigmike kemarin2, mgkn ini cuma semacam kata2 pembuka bagi posting berikut... Siapa tau isinya, bs dipake jd solusi masalah ini...

-bonggo-

Anonim mengatakan...

dr td sy penasaran ama komen2 disini, makanya begitu ada kesempatan dikit aj langsung buka deh nie blog tapi.. yaelah... spt kt @bonggo kita sedang menanti2 komen, ide ato apa aja yg bs dipake jd solusi masalah ini...

kl gini terus sih lama2 bt juga, gw jg ikutan kaluar sareng @Manh IHIN aja dee (duh, dah dipanggil2 makan siang, bentarrr... 5 menit lagi akh)

~JM~

Anonim mengatakan...

@ semuanya,

Kalian menunggu jawaban dari bigmike? Nah,saya kira, postingannya yang macem-macem inilah jawaban terhadap apa yang dia sendiri persoalkan. Dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal istilah hipotesis dan tesis. Kadang-kadang BM memposting hipotesisnya. Kadang-kadang dia balik lagi, memposting tesisnya dahulu. Komentar kita-kita inilah yang berfungsi, kadang-kadang sebagai tesis. Kadang-kdang sebagai hipotesis. Contoh: di akhir posting ini, saya lihat tesis dari BM adalah: kalau saya berdiri sebagai pandu pertiwi yang benar maka indonesien akan menjadi tuan di rumahnya sendiri. Si Pritha muncul dengan pernyataan bahwa tesis BM dapat diterima jika 1) jangan bermental inlander terjajah dan 2) majukan pendidikan.

Ayo, siapa yang lain yang akan mengajukan solusi, Itulah tesis anda. BM tampaknya membiarkan pembaca blognya berpikir layaknya ilmuwan dengan jalan meneruskan tesis dan hipotesis yang diajukannya. Itulah sebabnya, dia tidak banyak berkomentar. Itu juga jawabannya, mengapa dia sangat concern terhadap diskusi yang terarah.

@ BM

Posting yng bermanfaat dan sungguh sehat dalam rangka peringatan kemerdekaan RI ke 63. Anda beruntung memiliki sumber bacaan DR. Hanifah. Saya berpendapat, salah satu akar masalah kronis adalah gerak siklik antara kemiskinan dan inertia. Jika ini bisa diatasi maka mental kuli yang parah ini bisa bertransformasi menjadi nilai-nilai Indonesia baru yang mungkin setara dengan tawaran NK dalam postingnya tentang Amerika. Pikirkanlah itu kawan
(Juwan)

Anonim mengatakan...

@ Pace dari Papua,

Jangan merasa cuma papu yang sengsara. Kuli-kuli berbaju safari itu juga membikin masyrakat di NTT tertinggal terus. Kemiskinan kami di sini sangat tinggi tetapi pemimpinnya malah marah ketika dibilgn NTT propinsi miskin. Kuli dari jakarta kalau datang kedaerah selalu meminta tiket, kado dan macam-macam lagi oleh kuli-kuli yang lebih kecil kagi di NTT. Kita sama pace. Tapi Kitorang di KUpang tidak berontak (Julius)

Anonim mengatakan...

@ Pritha,

mengapa kamu kali ini emosian. Jawabanmu sudah bagus karena memang itu yang harus kita kerjakan. Jangan putus asa. Terus berjuang kawan.

@ Bigmike,
Posting yang amat menawan (Ryan)

Anonim mengatakan...

-julius-

jang salah bu... bukannya orang NTT sonde mau tapi menurut beta orang NTT "sonde tahu" caranya karmana. lihat sa orang NTT kalau di tanah jawa sana, rata-rata "preman" ju na. Ha..ha. kalau beta boleh bilang itulah orang NTT. su merasa tertindas dari dulu tapi duduk diam. beta punya beberapa dugaan kenapa. 1. SDM parah (jujur saja jangan malu-malu), 2. kitong ne hanya berani omong-omong di belakang sa.

apa akibatnya??? yah.. kita bakal jadi kuli terus di NTT ini. selalu minder dengan "penindas2" sama ke julius bilang. sekarang pertanyaan bodoh sa... kalau kitong su tau dari dulu tertindas... ingat beta pung penekanan kata di DULU, ais kalau sampe sekarang ju masih tertindas, apa yang salah??? sonde ada perubahan ko??

trus caranya karmana?? beta sonde sarankan untuk kitong sama ke Papua yang pake cara kekerasan... bukan begitu.. su bukan kupang kota kasih tapi kupang kota neraka kalau begitu. tapi bagi beta, karmana kalau kitong belajar bae2, punya kemampuan, supaya kitong kas tunjuk di smua orang bahwa kitong bukan kuli tapi bos... eh.. lupa jang lupa ju, banyak berdoa... usaha tanpa doa = nol besar.

(norman)

Anonim mengatakan...

@ semua

Ini fakta tentang nasib bangsa kuli di Malaysia. Kebetulan keluarga saya dari Lembata banyak di sana.

Di mata orang Malaysia, orang Indonesia adalah bangsa kuli atau bangsa budak. Orang bodoh yang tidak bisa kerja pakai otak, hanya bisa menjual tenaga. Jutaan orang Indonesia menjual tenaga sebagai kuli bangunan, kuli kebun, kuli rumah, kuli pelabuhan, di Kuala Lumpur dan bandar-bandar lain di Malaysia.

Jutaan orang itu hanya bisa jual tenaga. Dibayar murah. Diperlakukan layaknya budak atau kuli. Mana ada majikan yang derajatnya sama dengan kuli? Tidak heran bahwa jutaan orang Indonesia disiksa, didera, diperkosa oleh tauke di Malaysia. Tak heran pula mendengar kabar bahwa pekerja Indonesia melarikan diri dari apartemen agar bisa bebas dari siksaan majikan.

Dan jangan kira hkum berlaku adil di Malaysia. Majikan-majikan jahat itu tidak mendapat hukuman sepadan di Malaysia. Sebab, undang-undang Malaysia sangat melindungi warga negaranya sendiri. Mungkin saja pemerintah Malaysia menganggap apa yang dilakukan majikan sebagai perbuatan 'baik dan benar' kepada budak alias kulinya. Kuli atau budak wajar saja kalau dihajar, diperlakukan tidak senonoh. Hak asasi manusia itu berlaku pula untuk kuli-kuli di Malaysia? Saya kurang tahu. Tampaknya, Malaysia menganut ajaran macam itu. Mau apa lagi? Kita hanya bisa jadi kuli, jual tenaga dengan upah yang sangat murah. .

Berapa jumlah TKI alias tenaga kuli indoensia itu di Malaysia? Sampai tahun 2008, diperkirakan ada sekitar 10 juta - 15 juta orang kuli Indonesia di Malaysia. Kul Indonesia disebut sebagai INDON yang identik dengan budak. Dan itu berlangsung bertahun-tahun, sejak 1960-an, 1970-an, berlanjut terus sampai sekarang. Karena itu, jangan heran pandangan orang Malaysia terhadap orang Indonesia sangat buruk.

Pertnayaannya mengapa orang-orang kita rela hidup terhina di negri orang sebagai kuli alias budak? Karena hidup mereka masih jauh lebih baik daripada menganggur di negeri sendiri. APa akar masalahnya? Negara gagal memajukan kesehateraan masyarakatnya.

Maka, bagi posting BM ini tidak boleh dipisahkan dari osting yang lalu, yaitu INDONESIAL. Pemimpin-pemimpin sialan di Indonesia lebih sibuk menebar pesona ketimbang bekerja baik-baik. BBM dinaikkan harganya sambil menipu bangsa sendiri. Saya kuati, sebenarnya ental kuli adalah mental bangsa kita. Sekali kuli tetap kuli. Jadi kalao ada orang jakarta yang bergentayanngan sok pamer seperti kata BM dan Julius maka mereka tidak lebih baik dibandingkan saudara saya di Malaysia yang meskipun jadi kuli tetapi pas hari libur bergaya bagai big boss dipusat-pusat pertokoan. Kembali kampung, lagak dan sombongnya minta ampun. Padahal, cuma kuli (Eman, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Bung Eman betul. Mental kuli itulah yang erat melekat di artis-artis kita. Gaya hidup yang snob dan hedonis dipamerkan tanpa merasa bahwa mereka menjadi budak-budak saudagar kain asal pasar baru yang berubah menjadi produser sinetron. Maka, snobisme dan hedonisme merajalela dan dikapitalisasi oleh media infotainment majadi berita gosip uraha. tetapi karena dasar kuli yang cuma bekerja mengandalkan otot maka jika sudah capek apa lagi yang dinanti selain hiburan?

Di situlah, lingkaran setan itu terjadi. Saudagar kapitalis, kuli dan gaya hidup sok pamer menghasilkan kuli-kuli baru. Kacau balau (Sulis)

Anonim mengatakan...

Mari belajar dari kasus pengolahan tambang di kawasan hutan rakyat di Mollo, Timor Tengah Selatan sebagaimana yang dilaporkan oleh tim Sarekat Hijau Indonesia:

Mollo adalah kawasan di kaki Gunung Mutis Pulau Timor Propinsi NTT. Di sana ada 19 titik pertambangan marmer. Warga sebenarnya tak mengenal istilah marmer. Mereka mengenalnya sebagai gunung batu. Batu atau "fatu" tidak bisa dipahami sebagai SDA semata. Tidak bisa dilihat sebagai aset semata tetapi merupakan nilai budaya paling vital bagi daya ikta budaya. Bagi orang Mollo, batu adalah tempat perjanjian adat. Ketika dimusnahkan maka hilanglah daya ikta budaya itu. Cilakanya, bahan tambang tersimpan dalam deposit yang teramata besar di dalam gunung-gunung batu yang tersebar di kawasan itu.

Tanpa diketahui warganya, semua gunung batu itu telah memiliki kuasa perusahaan industri pertambangan, yang dikeluarkan Bupati Banunaek dan Gubenur Piet A. Tallo yang baru saja lengser. Saat ini, ada 6 gunung batu yang sudah dan sedang di tambang. Lima diantaranya berhasil digagalkan di tengah jalan. Mengapa masyarakat menggagalkan usaha tambag itu? karena selain memusnahkan lambang sosial mereka, usaha pertambanagn yang dilakukan membuat masyarakat hanya sekedar kuli panggul yang hidupnya tetap senen kemis.

Ternyata, korupsi juga menjadi salah satu sumber membudayanya mental kuli bangsa ini. Korupsi inilah yang menyebabkan wakil-wakil rakyat begitu mudahnya meloloskan UU yang memperbolehkan penambangan dilakukan di dalam kawasan hutan. Mengapa demikian? Ya mental kuli itu tadi.

@ Bigmike

Posting anda betul-betul fair. Anda memotret dan membiarkan kami mengisi kekosongan yan anda buat sebagai PR. Sarana olah pikir. Blog yang amat bagus. (Lully)

Anonim mengatakan...

Saya membaca begitu banyak curhat kekecewaan proses pembangunan daerah di NTT, Papua, dll. Ada hal yg saya kuatirkan adalah, kita jd frustrasi dan apriori dengan pendekatan pembangunan daerah, bahkan thd pembangunan itu sendiri. Ini bahaya, krn yg diharapkan sebetulnya adalah pemikiran kritis utk menemukan dan menawarkan solusi.

Tapi, kalo semua suara bagai choir rasa frustrasi menjurus apriori mk hasil akhirnya adalah dekonstruktif, alias hancur berantakan. Sy kuatir betul, kita bakal mjd alergi kl dengan strategi pembangunan daerah. Kita malah apriori jk ada org ngomong market-oriented regional development. Ato lgsg sinis berat jk ada yg punya ide regional development equivalen dg business development.

Krn itu, cobalah olah pikir kita utk urun rembug. Jgn hanya curhat, jgn jg cepat alergi, sinis, dan apriori thd ide2 (bahkan ide liar) yg mgkn kepikiran, tp takut bilang krn kuatir malah dihujat abis2an. Jgn takut, krn spt Mas Juwan bilang, bigmike cuma bikin hipotesis, mari kita garap spy jd tesis, paling tdk memperkayanya dg berbagai ide yg didukung data dan argumentasi.

Nah, ada yg berani?

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Wuahahaha...

Disini banyak org protes, frustasi, sakit hati dan IRI HATI, enggak suka liat org yg katanya cuman 'kuli' di negeri org tp berlagak bosz di pusat pertokoan di kampung halaman. Hhmmm..., paling enggak, si 'kuli' sedang 'membuang' uangnya buat 'perekonomian' kampung. Bukan hanya kampung halaman, semua kuli-kuli Indonesia di luar negeri saban tahunnya membawa pulang jutaan dollar buat negara.

Benar kata si @bonggo, Indonesia jadi IndoneSIAL karena manusianya CULAS semua.

Olleeeeee, ollleeeeeee...

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Bigmike telah mebrikan potret. Ada yang mengeluh. Ada yang frustrasi dan ada pula yang mencoba menggunakan menawarkan pendekatan bissines development. Saya tidak ke arah itu. Saya ingin ikut mengajukan, apapun namanya itu, hipotesis atau tesis.

Saya ingin memulai justru dari batasan apa itu kuli? Kata ini diduga berasal dari bahasa Inggris coolie yang berarti pekerja kasar. tetapi ternyata kata ini pertama kali berasal dari bahasa Mandarin. Dalam bahasa Mandarin, kuli bermakna harfiah pekerja kasar, yang memerlukan tenaga dalam mengerjakan tugasnya yang biasanya berat. ari defenisi ini ta menjadi tahu bahwa kuli adalah pekerja yang lebih mengutamakan otot dan bukan otak.

Dalam teori ekonomi, man resources dengan kualitas rendah memang "harga" nya akan rendah. Jika ini terjadi maka memang betul, sampai kapanpun posisinya tidak akan pernah berubah selain sebagai kuli. Fakta empiris juga menunjukkan hal itu.

Akan tetapi dalam teori perilaku organisasi (OB), sebenarnya tidak ada aset SDM yang harganya konstan rendah. Selamanya rendah. Dalam prinsip OB, adalah tantangan untuk mengubah tantangan menjadi kesempatan dan seterusnya. Dalam OB, ddperlukan semacam intrumentasi untuk meningkatkan aspek-spek sikap, kepribadian dari individu-individu dalam organisasi dan akhirnya perlu ada pembelajaran. Melewati semua proses ini maka semua individu dalam OB pada dasarnya akan berharga sesuai kemampuannya. Kompetensi dan kapabilitasnya. Dalam proses-proses di atas maka 16 sikap kepribadian utama setiap individu dapat diperbaiki (improvement)

Nah, siapa yang bertanggung jawab melakukannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah pemimpin. Lebih tepat adalah kepemiminan yang didefenisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Di sinilah tantangan terbesar bagi bangsa kuli ini. Dapatkah sistem kekuasaan dan politik yang ada kondusif untuk menghasilkan kepemimpinan yang mumpuni. Ada teori kontijensi, model fiedler, teori path-goal dan seabrek lagi teori yang dapat diaplikasikan untuk menghasilkan kepemimpinan yang mumpuni. Tetapi pertanyan asalinya adalah: bagaimana dengan sistem kekuasaan dan politik yang berlaku sekarang ini. Inilah PR besar bagi kita semua dan bangsa ini (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Kadeluk

Mula-mula saya mengagumi keberanian anda berkomentar. Anda bergentayangan dari satu komentar ke komentar lainnya. Tapi sayang kali ini saya harus mengatakan bahwa anda TIDAK SEPINTAR yang anda duga. Sayapun salah duga terhadap anda. Anda lebih tampak sebagai janggo yang tembak sana-sini asal kena. Kena sasaran sukur tidak kena anda tidak mau bertanggung jawab. Sayang sekali. Dan karna kebiasaan anda adalah cepat marah maka saya minta anda sabar untuk saya tunjukkan ketidak pintaran anda.

1. .....Disini banyak org protes, frustasi, sakit hati dan IRI HATI, enggak suka liat org yg katanya cuman 'kuli' di negeri org ....(ini kata-kata anda.

Maka saya mau tanya anda kalau anda memang hebat. Dari mana anda tahu bahwa saya sedang iri hati ketika berbicara tentang kuli-kuli yang bergaya di kampung ketika balik? Ada bukti apa? Kalau hanya atas dasar dugaan maka anda bukan saja bodoh tetapi andalah si culas yang anda maksudkan.

Kadeluk terhormat, ketika saya berbicara tentang para kuli yang balik kampung mak saya sedang berbicara tentang pola-pola transformasi budaya. (Kalau anda tida paham onsep-konsep sosiologis seperti ini maka sebaiknya anda tutup mulut saja). Saya dengan mata kepala sendiri melihat saudara-saudara saya di Malaysia dari lembata hidup betul-betul sebagai budak. tetapi ketika mereka kembali bergaya di kampung anda tahu apa yang terjadi? Mereka menjadi "idola" anak-anak dan remaja. Apa akibatnya? mereka sedang mengidolakan pekerjaan sebagai kuli. Apa akibatnya? Di kampung saya, Banyak perempuan setengah janda setengah tidak. Dibilang bersuami, mereka sudah lama ditinggal pergi oleh suami ke Malaysia. Dibilang bercerai, gereja kami melarang adanya perceraian. Akibatnya, banyak anak yang lahir di luar pernikahan karena status setengah-setengah tadi. Hampir 50% anak remaja menghilang ke luar malaysia. Kami kekurangan tenaga kerja produktif di desa. Anda tahu implikasi sosiologis dan ekonominya? Saya tidak berharap banyak karena anda belum-belum sudah bercuriga. Anda tampaknya BUTA KENOP soal begini-begini.

2. ....Benar kata si @bonggo, Indonesia jadi IndoneSIAL karena manusianya CULAS semua.....(itu kata kadeluk).

semua adalah total. Tidak ada sisa. Anda harap jangan berkelit karena kata-kata anda memang begitu.

Harap jawab pertanyaan saya: bapa kamu, mama kamu, kakak kamu, adik kamu yang orang Indonesia adalah orang culas? JAWAB SAYA: anda culas tidak? Maaf, anda tidak culas jika bukan orag Indonesia tetapi jika anda Indoensia maka anda culas juga. Orang culas kok berbai menuduh orang lain culas. Maling teriak maling namanya itu.

Anda maksud apa dengan culas? saya duga ada kaitannya dengan pernyataan mu sebelumnya yaitu irihati. Jadi, anda menduga saya berceritera tentang lambat dan kulinya adalah karena saya iri hati. Anda betul-betul TUKANG TUDUH.

Saya kasi tahu anda ya. Saya adalah korban dari menghilangnya bapa saya yang pergi melaysia sejak tahun 1970-an. Tetapi puji Tuhan, meskipun mungin saya tidak sekaya anda tetapi saya bisa bersekolah di Inggris selama 6 tahun. Bekerja di USA 3 tahun. Sekarang saya tidak sedang jadi kuli. Bahkan saya bisa mempekerjakan beberapa orang. Dalam keadaan sekarang, saya tidak perlu irihati terhadap saudar-saudar saya yang ada di malaysia. Saya cuma ingta bahwa dalam pembukaan UUD 45 disebutkan baha kewajiban negara adalah mensejahterakan rakyat. Sedih melihat anak bangsa yang dihajar sebagai budak hanya untuk mendapatkan 100-200 ringgit.

Lain kali kalau mau berkomentar jangan arogan. Jangan karna kami, saya dan Yulius, dari Kupang lantas anda berpikir kami tidak punya apa-apa dan jadi iri melihat saudar a kami yang banyak ringgitnya di malaysia tepai bonyok dihajar tuan-tuannya. Di Kupang masih ada orang seperti pemilik blog ini yang ...waaahhhh seandai anda bisa mengenalnya.

(Eman, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Paradox TKI,

Data Depnakertrans menunjukkan, selama tiga tahun terakhir, sebanyak 1,35 juta atau sebanyak 450 ribu per tahun TKI bekerja ke luar negeri. Pada tahun 2008, pemerintah menargetkan 700 ribu TKI sehingga pada tahun 2009 menjadi 3,9 juta TKI dikirim ke luar negeri. Devisa yang diharapkan dari TKI pada tahun 2009 mencapai sebesar 20,75 miliar Dolar atau sekitar Rp. 186 triliun. Dahsayat bukan?

BANDINGKAN DENGAN TEMUAN FAKTA BERIKUT INI

Tragedi kematian Nuryati menambah panjang daftar TKW yang meninggal di
negeri orang. Data yang terdapat di Solidaritas Perempuan Jakarta
menunjukkan, selama tahun 2006- 2007 telah terjadi 481.078 kasus kekerasan
terhadap TKW dengan jumlah TKW yang meninggal dunia sebanyak 512 orang.
"Jumlah ini yang terdeteksi. Sedangkan yang tidak
sebenarnya juga sangat banyak," kata kooordinator LBH Biro Malang, Dedi Priambudi SH.

Mana yang anda pilih? Jika uang yang menjadi pilihan anda maka jadilah kuli (kerja oto nir otak). Mengapa para bule ke Indoensia tampak dandy dan bergaya? Ya karena yang mereka jajakan adalah Otak mereka. Bukan otot. Mereka makmur karenanya.

Hemat saya, jangan silau dengan potensi devisa lalu kita dikenal sebagai bangsa kuli. Eksportlah TKI yang menjual otak dan bukan otot. Posting dari BM berbicara tentang HARGA DIRI BANGSA bukan yang lain (Proxy73)

Anonim mengatakan...

Dear all,

Ada yang kurang mencermati kutipan Pritha bahwa salah satu sebab bangsa kita menjadi nagsa kuli adalah PENJAJAHAN MODEL BARU.

Tidak tanggung-tanggung yang mengatakan itu adalah Joseph E. Stiglitz, seorang pakar ekonomi yang terkenal di dunia, dan penerima hadiah Nobel untuk keahliannya di bidang ekonomi.

dalam interrviewnya dengan Tempo, yang disiarkan oleh Tempo Interaktif (16 Agustus 2007), yang antara lain adalah sebagai berikut :

“Pemerintah diminta menegosiasi ulang kontrak-kontrak pertambangan yang terindikasi merugikan kepentingan rakyat. Joseph E. Stiglitz, pemenang hadiah Nobel, mengatakan, jika pemerintah Indonesia berani melakukan ini maka akan memperoleh keuntungan jauh lebih besar dibandingkan yang diperoleh para investor asing.

"Mereka (para perusahaan tambang asing) tahu kok bahwa mereka sedang merampok kekayaan alam negara-negara berkembang," kata Stiglitz dalam wawancara eksklusif dengan Tempo.


dalam interrviewnya dengan Tempo, yang disiarkan oleh Tempo Interaktif (16 Agustus 2007), yang antara lain adalah sebagai berikut :

“Pemerintah diminta menegosiasi ulang kontrak-kontrak pertambangan yang terindikasi merugikan kepentingan rakyat. Joseph E. Stiglitz menegaskan bahwa jika pemerintah Indonesia berani melakukan ini maka akan memperoleh keuntungan jauh lebih besar dibandingkan yang diperoleh para investor asing.

"Mereka (para perusahaan tambang asing) tahu kok bahwa mereka sedang merampok kekayaan alam negara-negara berkembang," kata Stiglitz dalam wawancara eksklusif dengan Tempo.

”Negosiasi ulang kontrak karya ini juga sangat mungkin dilakukan dengan Freeport McMoran, yang memiliki anak perusahaan PT Freeport Indonesia. Freeport merupakan salah perusahaan tambang terbesar di dunia yang melakukan kegiatan eksplotasi di Papua.

Jelaslah danterang benderang bahwa jika ada rekan Papua yang berterian tentang ketidak adilan maka sangat tidak etis jika ada yang mengatakan hal itu sebagai irihati dan culas. Hal itu adalah simplifikasi yang berbahaya karena menutup mata bahwa penghisapan yang dilakukan negara kaya adalah sesuatu yang jauh lebih jahat dari culas dan irihati. (Widyanto)

Anonim mengatakan...

@ Kadeluk,

Anda ingin mengatakan bahwa bigmike dan pengalamannya bersama orang-orang asing adalah keirihatian dan culas? Tidak sesimpel teriakan anda yang tidak bermutu itu. Apapun juga, menjadi bangsa kuli yang hanya mamou menjual otot nyaris tidak ada beda hakekatnya dengan pelacur. Banyak uang tetapi berbalut deraan. Mengkritisi itu anda katakan sebagai irihati dan culas? Renungkan kembali bung (Peter)

--DoSa-- mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
--DoSa-- mengatakan...

Saya kira, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, Indonesia dan seluruh bangsa (nation state) di dunia ini masuk dalam alam globalisasi yang dimotori oleh liberalisme ekonomi dan kapitalisme. Martin Wright, Thomas Hobbes, Machiavelli sampai John Mearshimer berargumen bahwa dunia saat ini adalah dunia "tanpa penguasa tunggal" alias anarchy, sehingga survival of a nation state tergantung dari seberapa kuat bangsa itu. Karena anarchy itulah maka interrelation antara bangsa/nation state memakai hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang, dan tak bisa dipungkiri bahwa siapa yang kuat, dialah yang membuat rules untuk diikuti oleh yang lemah. Kuat bukan berarti secara ekonomi saja, tapi kuat juga berarti secara militer. Russia bisa lemah secara ekonomi pasca Cold War, tapi negara2 sekitarnya ngga berani macam2 karena ada senjata2 nuklir. Begitu pula dengan Israel terhadap negara2 arab, disatu sisi Indonesia boleh punya nasionalisme yang tinggi (kita bangga bahwa dengan bambu runcing bisa melawan belanda dan jepang), tapi karena secara pertahanan (saat ini) ia lemah maka Malaysia dengan berani bermain-main dengan kedaulatan Indonesia. Di lain pihak, kita boleh saja memaki-maki Freeport, Newmont dan lain-lain, tapi kenyataannya kita tidak punya power untuk menolaknya. Power bukan saja semangat, tapi actual power (military, economy, diplomacy, positioning).

Kalau ada postingan yang mengatakan ini adalah "penjajahan gaya baru", hal itu menurut saya cukup masuk akal walaupun terlalu didramatisir. Dalam penjajahan, kita ngga punya pilihan, tapi dalam penjajahan "gaya baru" kita punya pilihan, yang bisa di execute tanpa kekerasan.

Kedua, sebagai orang yang besar di Indonesia, saya tidak melihat bangsa ini sebagai bangsa kuli. China saja yang memiliki comparative advantage yaitu cheap labour alias "kuli", bisa menguasai pasar low end, dan memainkan peran dalam global value chain walaupun fondasi ekonomi mereka berdiri diatas pemerintahan yang rigid dengan tingkat inflasi yang tinggi. Mereka bisa menjadi tuan di negerinya sendiri, bahkan bangsa "kuli" ini bisa menjadi tuan di negeri orang.

lalu apa yang menyebabkan Indonesia ngga bisa seperti China? Well, melihat banyak orang cerdas di blog ini saya optimis akan banyak ide2 cerdas yang bisa dikontribusikan.

Kalau saya mencoba melihat, banyak sekali faktor yang menjadi penghalang bangsa ini maju dan bersaing di dunia internasional.

1. Karakter negara ini sebagai negara kepulauan; Indonesia adalah negara yang disatukan dalam perbedaan, baik secara kultur, sejarah maupun secara geografis, sehingga pola pembangunan pasca kemerdekaan bangsa ini menjadi timpang. Ketimpangan inilah yang menjadikan pola pembangunan sentralistik yang berpusat di jawa, padahal sebagian besar pundi-pundi bangsa ada di "daerah". Freeport, Arun, Timor, Kalimantan dll. Ketimpangan inilah yang menyebabkan orang non jawa ngga bisa jadi Presiden (habibie adalah exception karena dilantik, bukan dipilih). Ketimpangan inilah yang menjadikan kenapa pasca 1945, bangsa Aceh, papua, Maluku, Sulawesi mau berpisah dari bangsa Jawa.
Dan ultimately, ketimpangan inilah yang menyebabkan pembangunan tidak berjalan optimal.

2. Orang Indonesia adalah orang yang beriman. Yup, kita adalah orang-orang yang beragama, sayangnya balancing antara berdoa dan bekerja lebih condong ke berdoa. Karena banyak berdoa, dan kurang bekerja, banyak orang akhirnya memilih pergi ke dukun untuk menjadi kaya, instead of bekerja dan menabung.

3. bangsa yang jalan ditempat adalah bangsa yang cepat lupa dan cepat puas. KOmbinasi inilah yang membuat Indonesia seakan-akan jalan di tempat. orang Indonesia merasa cukup puas dengan apa yang diperoleh hari ini, dan meyakini apa yang diterimanya merupakan pemberian dari "Yang Diatas" sehingga nerimo saja tanpa perlu berinisiatif untuk moving forward. Sedangkan kita cepat lupa akan tantangan bahkan masalah yang terjadi. Lihat kasus2 besar di Indonesia tidak terselesaikan, tapi tertutupi dengan tumbuhnya kasus baru. Kita cepat lupa akan mental pemimpin2 bangsa yang bermasalah, disaat masa kampanye tiba.

4. Yang paling sering saya lihat adalah orang Indonesia yang semakin cerdas, tensi darah semakin tinggi pula, semakin cepat emosi dan semakin gampang mainknan kartu As "saya pernah ini lah, pernah itu lah, dll dll" padahal kata idola saya Wiro Sableng 212 "di atas langit masih ada langit".

Apalagi marahnya di dunia maya dimana everyone make their own rules and ethics. Santai aja kenapa sih?

Ada pepatah "pick your battle" Jadi kalo ada yang ngga enak bahasanya, simply ignore it and move on.. :)

Bigmike mengatakan...

Howdy sahabat blogger,

Sebelum buru-buru menyiapkan diri untuk kerja yang amat banyak hari ini, saya mau memberikan sedikit pengumuman:

1. Blog untuk sementara tidak ditunggui oleh saya karena dalam sekitar 7 hari ke depan saya akan berada di Jogja bersama Ibunda, isteri, dan Norman. Ada urusan pernikahan sepupu saya di sana sekalian Ibunda ingin bernostalgia ke tempat-tempat di mana beliau pernah bertemu Ayahanda almarhum. Jikalau sempat, saya akan mendatangi warnet-warnet di jogja yang biasanya amat banyak dan melihat blog. Saya sendiri ingin menggunakan istilah: BLOG LIBUR UNTU SEMENTARA (tetapi di dunia maya istilah ini akan tampak tolol he he he tidak apa-apa mungkin enak juga).

2. Silakan terus berdiskusi. Cuma saya perlu bilang kepada sahabat-sahabat yang dari Kupang: woooiii tensi kasi turun sadiki kanapa eeeee??????ha ha ha ha ha ha talalu banyak makan daging se'i na...ha ha ha. Untuk kawan-kawan dari luar kupang harap maklum sa....kitorang di kupang talalu banyak makan daging se'i jadi cepat emos....tapi percaya beta....orang Kupang, biar cepat emos tapi cepat lupa dia pung emos....aweee....ini mirip beta pung bapatua almarhum pung kelakuan. Kalo baitua marah...abiissssss...lebe bae kitong lari fuit pi mana ko....abis itu ...dia su lupa marah apa ke pada siapa....Jadi, tidak ada apa-apa. Ba lipat suda. Ba fait suda. OK??????!!!!!!! Saya menyayangi semua sahabat, baik yang cepat marah maupun yang tidak cepat marah ha ha ha ha

3. Ada permintaan dari Wilmana dan Kadeluk untuk posting gagasan. SILAKAN bahkan kalau sahabat lain ingin juga posting SILAKAN, PINTU TERBUKA LEBAR. Kirimkan saja ke alamat email yang khusus saya siapkan untuk tujuan itu. Alamat e-mail ini biasa saya gunakan bagi mahasiswa untuk mengirimkan tugas-tugasnya, yaitu di :

makati24@gmail.com

4. Cuma untuk kali ini, karena saya sudah terburu-buru berangkat kerja dan besok ada rencana bepergian maka kembali dari Jogja baru saya postingkan. Harap maklum.

4. Jangan mau jadi bangsa kuli. Amerika Serikat adalah negara "pengutang" nomor satu di dunia tetapi utangannya dalam bentuk yang menunjukkan bahwa negara itu adalah TUAN. PENGUASA. So, kita tidak perlu jadi Amerika tetapi, paling sedikit beranilah berkata dengan lantang kepada bangsa lain seperti kata Bung KArno: INI DADAKU MANA DADAMU. Kita sendiri karena sudah terlalu lama mengidap mental kuli akhirnya cuma bisa berteriak :

Ini dadaku,
Mana....(dada, sayap, dan paha kaki ayam KFC)
Mana ....
duitmu (pinjemin gue dong...)
ha ha ha ha.....

Jadilah TUAN ATAS DIRIMU SENDIRI MESKIPUN ENGKAU TIDAK PUNYA APA-APA KARENA SESUNGGUHNYA KAU MASIH PUNYA 1 HAL: TUHAN MAHA PENGASIH

Wassalam Syalom

Bigmike mengatakan...

Oh, iya MAAF, Ada satu komentar yang TERPAKSA SAYA HAPUS KARENA ISINYA TIDAK PANTAS UNTUK DIBACA. HARAP MAKLUM.

Untuk Sahabatku terkasih...senyumlah sedikit....Sudah ada berkat baru di hari baru yang Tuhan berikan...morning has broken bung....dari pada kita menyambut berkat Tuhan ini dengan MEMAKI lebih baik kita bersenandung syukur.....senyumlah boSZZZ...ini beta potret dari sini......Clik preetttt....nah liat tuh....bos pung senyum manis sekali kan?????? ha ha ha ha ha

Anonim mengatakan...

Ha ha ha AKHIRNYA....Bigmike mau juga bertindak tegas. Dia maghapus komentar yang isinya MAKIAN. Dari pada merusak memang itulah yang terbaik. SALUT. SALUT

Dan saya pikir...inilah tindakan yang konsisten dengan ucapan BM sendiri: JADILAH TUAN. NAH, blog ini milik BM kan? Jadi, para sahabat yang senang memaki, BM sudah kasi tunjuk apa yang akan dia lakukan.

Nah, inilah contoh baik. Jangan diperbudak oleh siapapun meskipun di dunia maya. Saya suka dengan posting ini.

Solusi saya supaya jangan jadi budak: tingkatkan peranan dunia pendidikan. Watak manusia adalah sasaran utama karena soal kuli dan tidak kuli terbangun karena mentalitas. Moralitas. Etika. Majukan pendidikan. Realisasikan perntah UUD 45 amandemen yaitu 20% biaya pendidikan.

(Larry)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Ama sudah buktikan ama punya omongan sendiri. JADILAH TUAN DI TANAHMU. Ini blogmu dan jangan karena alasan dunia maya maka anda malah dijajah orang lain yang boleh buat apa saja (everyone can do everything). Nggak bisa begitu dong. Do your rules (Jodi)

Anonim mengatakan...

Weiii BM, jangan lupa rapat di Fakultas ini pagi. Tapi lu jang talalu bakincang eee....

Anonim mengatakan...

Oh ya, BM, kalau punya tulisan Somargono Djoyohadikusumo maka pembahasan tentang bangsa kuli dan Indonesia bisa lebih menarik. Kayaknya dahulu merekalah yang berpolemik bareng Mochtar Lubis (Jodi)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Posting yang amat sangat bagus dan mengingatkan kita tentang tujuan bernegara dan berbangsa.

Bung DOsa benar, Bangsa China dapat ditiru untuk beberapa hal terutama etos kerja mereka yang luar biasa kerasnya. Etos yang sama yang dimiliki oleh orang-orang Jepang.


1. Kalau dibilang buruh mereka murah (dalam USD/hour) menurut saya tidak juga. Sebabnya adalah produktivitasnya lebih tinggi (hasil yang dicapai) dibanding Indonesia jadinya memang lebih murah. KAta kuncinya adalah efisiensi.

2. Sekitar 20 tahun lalu, ketika deng xiao ping mulai mempraktekan prinsip pragmatis (ingat isunya bahwa tidak perlu ikan warnanya apa yg penting bisa tangkap ikan),maka etos kerja China dituntun oleh suatu tema besar MENJDAI KAYA ITU BAIK.

3. Pembelaan negara yang kuat terhadap rakyatnya tetapi sekaligus tegas menghukum koruptor yang dihukum mati.

Bukti pembelaan negara:

1. Quality control

Quality control yg ketat,
75% yg cacat akan masuk mesin penghancur dan di daur ulang. DI China tidak. Kadang kita menemukan barang china yg bagus, kadang ada juga yg sehari operasi langsung bermasalah

tapi yg jelas, barangnya lebih murah.
karena yg 75% tidak dibuang, tapi dijual juga
otomatis negara yg punya QC bagus pasti lebih mahal

2. Barang china lebih murah karena diproduksi massal.

rakyatnya yg 1 milyar lebih menjamin semua barang bisa diproduksi massal
barang yg diproduksi massal otomatis harganya akan lebih murah. Pompa kecil buatan eropa akan kalah murah dengan pompa besar bikinan china karena pompa di china diproduksi 10 kali lebih banyak dari pompa di eropa

3.Banyak barang di china dikuasai negara

Contoh kecil masalah rokok,
rokok hanya boleh dibuat oleh BUMN. Ketika BUMN terlibat maka asas sosialisme banyak berbicara
gaji pegawai BUMN tidak terlalu tinggi, yg penting produknya murah semua orang bisa beli
Demikian juga beberapa bidang lain,seperti bidang energi , telekomunikasi , dan lain sebagainya, semuanya harus dipegang BUMN (tapi BUMN-nya banyak walaupun untuk satu bidang, bukan monopoli macam Pertamina dan PLN)

Nah, Indonesia masih keturunan orang yunan dari china. Mestinya kita bisa meniru China meski haru membuang kelicikannya. Bayakna kita di suruh menamopung barang murah dan rusak dengan harga 5000-an.

Pertanyaan: bagaimana pemerintah kita? (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@ll haha ha... Beta senang... Setelah disentil kemarin, hari ini beta liat byk yg beralih ke solusi. Malah ada bonus pameran penyakit org NTT yg cepat naek darah. Untungnya yg maki2an cepat dihapus sama bigmike...

Dr bbrp komentar, sy liat ada yg mulai jeli melihat berbagai kelemahan bangsa sendiri, bahkan ada yg dg cerdas mempetakannya menurut teori perilaku, yg ujung2nya kembali soal lama, moral-ethics. Mantap.

Hanya mgkn ada yg perlu diluruskan mengenai kepemimpinan. Yg harus diingat adalah, kepemimpinan bukanlah monopoli Pemimpin. Apalagi gara2 misorientasi ini, lalu kita bangun persepsi followers just rely on leaders, atau leader must prepare and give all. Tidak, kepemimpinan adalah unsur kepribadian yang melekat pada diri setiap orang, tdk peduli dia itu pemimpin, ato anak buah. Hanya, mmg bg Pemimpin ada tuntutan harus punya kepemimpinan yang baik, sementara anak buah tdk harus.

Nah, bicara org NTT, sy temukan ada byk misorientasi ttg personality seperti ini yg membuat mereka sulit maju. Benar norman bhw di Jawa byk org NTT cari makan sbg Satpam, Debt Collector, bahkan tdk sedikit yg mjd preman. Rata-rata bukan krn IQ rendah, tp EQ-nya jeblok, terutama daya tahan emosi. Org2 yg suka tantrum (bhs psikologi: ngamuk/bringas), bs jg berhasil mjd Pemimpin, jk punya prinsip moral dan sikap yg selaras alias integritasnya, OK. Lha sialnya org NTT sangat sedikit yg begini. Akibatnya, byk yg kepemimpinannya buruk dan berakhir sbg preman, kuli, dan sejenisnya.

Ada solusinya. James Fox bilang org NTT itu, scr kultur doyan sekolah. Ini sikap mental yg baik dan dpt mjd "pintu msk" utk menumbuhkembangkan integritas yg kuat, lewat intensitas pembelajaran budi pekerti yg tinggi mulai dr play group hingga perguruan tinggi, bahkan jalur pendidikan profesi. Bgmn dinas pendidikan di provinsi dan kab/kota merumuskan proses pembelajarannya, itu bukan urusan saya. Tp kl perlu bantuan, boleh, asal fee-nya cocok.

Memahami perilaku organisasi sj tdk cukup, karena pd ahirnya utk pengembangannya perlu paham jg organizational development (OD).
(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Eman, Oebufu

Okelah, beta memang 'buta kenop' (bhs kupang: bodoh) jadi bosz dong yg cerdik pandai harap maklum sa. Tp beta batul to, bahwa menyikapi isu indone'sial' banyak org jadi suka MARAH disini. @BM su ada bung kata, 'jadilah tuan ditanah sendiri!' Beta mau putar sadiki buat bosz, 'JANGAN JADI BUDAK EMOSI.' Kontrol sadiki bae, hi hi. Ini blog bukang sa jadi t4 tambah wawasan tp juga t4 latih rasa, teee katong khan sonde saling kanal. Mau emosi sama siapa?

Oke bae, kambali pi laptop. Kalau bosz zonder merasa iri hati, kanapa musti comel panjang lebar sang beta? Ada apa ini? Jang-jang... Tp bosz harus akui, bosz pung bahasa soal kuli tuh keterlaluan. Kanapa? Ini be kas tau!

Bosz bilang su parna pi amerika to. Di negara bagian mana dulu? Beta ada di mid west, sakarang lagi musim panas disini. Selama di amerika, apa yg plng berkesan buat bosz? Itu bosz yg jawab sa, tp beta yang hanya 'kuli' (Tuhan Allah son kasih katong otak na mau karmana, jadi tarima sa sudah) lia ini bangsa ni sangat EGALITER. Bosz tau to elaliter jd beta sonde usa bertele-tele jelaskan. Org kulit puti dong pagi-pagi kalau beta pas basapu dong suka kasih salam, 'GOOD MORNING SIR.' Dapa dimana coba didunia ni yg tukang sapu sa dapa gelar SIR? Atau kalau pi warung, dia pung maitua yg jaga warung katong pange 'MAM.' Karmana di Indonesia?

Katong pung gaya lain, ARISTOKRAT. Yg punya kuasa deng doi banyak jadi macam 'tuhan allah' sa, sedang kuli dong manusia INFERIOR. Bosz tak usa omong kuli di Malaysia yg dapa bonggo saban hari, katong pung pembantu rumah tangga dalam negeri ju dapa lipa saban hari. Sala sadiki batareak, bisa perlu kadeluk. Katong punya gaya bagitu tuh karena katong 'tuhan allah,' pembantu dong hanya JONGOS sa. Na ko bos org cedik pandai + beragama, kanapa katong gaya bagitu??? Bosz org nasrani, apa firman Tuhan ttg sesama???

'Oooh sonde, maksud beta jadi kuli ju son apa-apa, tp jangan balagak sombong bae.' Lha, emangnya yg punya kuasa deng doi sa ko yg boleh sombong???

Tentang kanapa katong pung org dong 'lari' pi cari karja di Malaysia sonde di dalam negeri?? Eeeh bosz dong yg cerdik pandai to, jangan kura-kura dalam perahu, pura-pura sonde tahu! Beta malu kalau harus bertele-tele kas tau bosz, ko katong cuman kuli na.

Katong yg 'buta kenop' tunggu pencerahan dari SANG CERDIK PANDAI.

@Proxy73

Wuaaaakakakikiki...

Tumben lu waras, enggak pake gimmick oleeeee...ollleeee...

Pertanyaa buat anda sama saja. Kenapa dalam budaya aristokrat spt di Indonesia, org macam anda, Eman dan @BM LEBIH PUNYA HARGA DIRI KETIMBANG SEORANG KULI???

Kalau TKI di Malaysia di siksa bahkan ada yg bunuh, siapa salah? Profesi TKI nya atau pemerintah Malaysia dan RI yang tidak mampu menjamin hak hidup mereka???

Wuuuhahaha, oleee... olllleeeee...

@Peter

Kalau anda mau debat 3 hari 3 malam ama saya, saya tdk takut, tp jangan bawa-bawa @bm. Saya 'takut' ama manusia satu itu. Jadi please deh, enggak perlulah gaya-gaya belanda adu domba disini, hi hi.

Tp membaca komentar anda, saya jadi menangis. Rupanya tanah airku sudah di cap PELACUR oleh anda, hicckksssss....hikccssss... Tega nian anda berkata spt itu, hickks....hickksss....

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@widyanto

Jelaslah danterang benderang bahwa jika ada rekan Papua yang berterian tentang ketidak adilan maka sangat tidak etis jika ada yang mengatakan hal itu sebagai irihati dan culas. Hal itu adalah simplifikasi yang berbahaya karena menutup mata bahwa penghisapan yang dilakukan negara kaya adalah sesuatu yang jauh lebih jahat dari culas dan irihati. (Widyanto)

Kalau mengikuti logika anda, maka sebelum kita bicara negara kaya yg anda cap lebih jahat, mari kita lihat argumen @DoSa berikut:

...sehingga pola pembangunan pasca kemerdekaan bangsa ini menjadi timpang. Ketimpangan inilah yang menjadikan pola pembangunan sentralistik yang berpusat di jawa, padahal sebagian besar pundi-pundi bangsa ada di "daerah". Freeport, Arun, Timor, Kalimantan dll...

Artinya pembangungan sentralistik (JAWA) yg menghisap abis kekayaan daerah LEBIH JAHAT dari culas dan irihati. Ingat org di Jawa lah yg bernegosiasi dgn freeport yg lalu mendapatkan fee plng besar ketimbang daerah.

Anda yg ada di Jawa, silahkan mempertanggungjawabkan ini!!! Jangan sampe nanti maling teriak maling.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Woooi @syamtua,

Nah, Indonesia masih keturunan orang yunan dari china. Mestinya kita bisa meniru China meski haru membuang kelicikannya. Bayakna kita di suruh menamopung barang murah dan rusak dengan harga 5000-an.

Saya pingin nanya, siapa yg ambil keputusan mengimpor brng murah + rusak??? Kalau rusak, siapa yg punya otoritas menolak dan melarang penjualannya di pasar Indonesia??? Kalau kita impor barang cina berharga Rp 250,000 ketas, siapa mampu beli???

Saya rasa indonesia akan terus sial kalau manusianya bermoral spt @syamtua. Salah sendiri, bofoh sendiri, tp gemar cap org lain licik, kafir dll. Masya Aulloh!

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Wah wah wah.... Tuan KD Look mau coba2 ambil alih posisi beta maen gila di sini deng kaum tua dong... Tau rasa too... Bukannya minta maaf, tp malah tambah nantang... Sabantar lai lu bisa raroso (Kupang: merayap) kena bonggo (kpg: gebuk) di kandok (kpg: tengkuk).

Tp B lia Om Eman omong banya ma isinya cuma mau kastau dia protes perilaku para TKI yg dipanggil "kuli". Ini mjd sonde bermutu krn yg Om Eman protes Kuli, sementara root cause-nya bkn si kuli itu. Sbg manusia yg sehari-hari hidup macam budak, wajar toh kalo dorang pulang kampung dan berusaha mjd manusia lg, apalagi dompet lg tebal. Kl kmdn byk remaja kampung milih ikut mereka ke Malaysia, apakah itu kesalahan mereka? Yang benar saa, Om Eman.

Terkait itu, B lia "Pak Harto" (Bu, sorry oo ini istilah Bung Wilmana, dan B agak ngeri sebut Bu pung nama) jg ada bikin opini bhw urusan begini, lapas semua tanggung jawab kpd Pemimpin. Ini naif. Krn B kira masalah Kuli ni, mslh sosio-ekonomi yg kompleks dan jelas bkn hanya tanggungjawab Pemimpin. Kalo semua hal kitorang kastenga ko Pemimpin dong yg ator, mk jadilah spt skrg ini. Byk Pemuda2 harapan negeri yg kuat2 dan pintar, memilih jd kuli di negeri org, plg tdk jd preman di Jawa. Gara2 lapas tanggung jawab pd Pemimpin, lama2 dorang talanjur merasa Boss dan Raja, makan-tidor enak, kl kurang doi tinggal korupsi saa.

Krn itu, mnrt beta Pemimpin pung kewajiban tu cum kasi tunju teladan moral-sikap yg bae(ing ngarso sung tulodo), bekerja mnrt teamwork frame (ing madya mangun karso), dan kasi kesempatan anak buah utk belajar dan maju dg pengawasan yg efektif (tut wuri handayani).

Pemimpin pung kewajiban cuma ini saa... Selanjutnya, mau maju ko sonde, kastenga ko rakyat dong yg puku-paka sendiri. Leaders just to show the way and let the followers expierence it. Pemimpin cuma ambel 10%-30% efforts dan sisanya ada sekian byk Pemangku Kepentingan (stakeholders) yg perlu diberi kesempatan ambil peran jg dlm menyelesaikan masalah Kuli ini.

Intinya B mau bilang bhw kalo ada masalah, apapun itu, jgn pernah bebankan semuanya di pundak Pemimpin. Sapa sj yg berkepentingan dg itu, hrs ambil perannya. Semua hrs punya inisiative, krn berinisiative itu bkn cuma urusan Pemimpin.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

Woooi @bonggo,

Ama pung gaya omong tuh sonde cocok dengan konteks budaya indonesia yg dulu-dulu punya raja, dimana raja ator samua. Giliran raja-raja su ilang, ganti deng demokrasi tp mentalitas 'budak' yg taat komando sonde hilang.

Buat beta masuk akal kalau org indonesia mimpi-mimpi 'ratu adil' yaitu seorang pemimpin yg akan mengatasi seluruh persoalan yg ada.

Tp beta lebe setuju dgn @bm. "JADILAH TUAN ATAS DIRIMU SENDIRI!" Mentalitas spt ini yg bisa beking mungkin masing-masing kita berinisiatif dan berkreasi membuat sesuatu lebih baik, buat diri sendiri tanpa menunggu org lain untuk atur kita.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@atas

Ah beta positive thinking sj. Krn di barat sana, msh banya raja2 tp org barat dong bs bebas dr mental kuli tunggu komando. Lha kl org jawa bs jadi Boss di Indonesia ko "isap" abis madu nusantara, knp org Flores mau jd tuan di Flores sj tdk bisa? Ini soal kemauan saa, toh? Ktnya, di mana ada kemauan, tentu ada jalan? Apalag org kriten bilang, He will make a way where there seems to be no way.

Cuma yaa itulah... Jang misorientasi ko lapas semua beban dipikul satu pihak, sementara pihak laen hanya tunggu jatah, lalu rewel menuntut hak, trus krn sonde terpenuhi, gusar, marah, mangomek, frustasi jd Kuli, preman, dst.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@Tuan Bonggo

Soal org jawa isap 'madu' nusantara, beta ada tunggu respon @widyanto.

Tp beta setuju deng ama, 'each one of us is responsible for our own life.' Kalau ama di Amerika, katong ada dikubu yang sama, konservatif. Tugas pemerintah hanya jaga katorang pung keselamatan. The rest is: LEAVE US ALONE!!!

Olleeeee...ollleeeee...

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@atas

Yup, setuju... Government is one of stakeholders in a regional development process. Jgn semua urusan diserahkan ke pemerintah. Pemerintah jg tdk boleh ambil alih semua urusan.

Inilah misorientasi pola pikir yg menyebabkan distorsi dlm pembangunan di Indonesia termasuk di NTT. Governance-nya jd sonde jelas dan prosesnya ngawur.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@ bonggo

Setelah episide lalu, ama masih juga memancing saya ke arah yang tidak menentu.

Mari kita sama-sama buktikan:


.....Terkait itu, B lia "Pak Harto" (Bu, sorry oo ini istilah Bung Wilmana, dan B agak ngeri sebut Bu pung nama) jg ada bikin opini bhw urusan begini, lapas semua tanggung jawab kpd Pemimpin......

Aweeee, jujur dolo eee adik, sapa lagi yang lu maksud dengan Pak harto...dst...dst...dst...kalau bukan beta alias A9ust....Itulah yang beta bilang dari dulu: ama pintar kasi kuliah tentang moralitas di blog ini tetapi mempraktekkannya?????....aweeee, isi sendirilah adik. Lantas, dengan gaya "dendam" begini mau mengajari orang tentang jangan jadi kuli? Bebaskan diri dulu dari semangat untuk jadi "kuli" dendam. Kalau sudah bebas dari jongosnya rasa dendam baru ajari kita yang di kampung ini tentang moralitas berbangsa dan bernegara. Inilah penyakit bangsa kuli ini. Sekali marah maka marahnya dibawa sampai mati. Oh iya, dala rupa Wilmana, anda ada singgung EQ. Nah, dendam adalah pertanda orang dengan EQ yang buruk.

Tentang pemimpin dan kepemimpinan, saya mengetiknya begini.....

.....adalah pemimpin. Lebih tepat adalah kepemiminan yang didefenisikan sebagai ......

Jelas yang saya maksudkan adalah kepemimpinan yang secara potensial dalam diri setiap orang. Itu sebabnya Lublin (1992) mengatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin. DAlam konteks kepemimpinanlah Lublin berbicara. Oleh karena itu, saya memang sudah tahu bahwa usaha untuk tidak menjadi kuli adalah pekerjaan semua orang dan bukan hanya pemimpin. Tidak bisa diserahkan kepada pemimpin on persona semata. Suatu kesalahan bangsa Indonesia yang pernah terjadi di masa Soekarno dan Soeharto. Semua diserahkan kepada pemimpin maka begitu jatuh ke dalam jurang maka kita semua ikut terbawa. Mudah-mudahan anda tidak memplesetkan opini, seperti kali lalu, saya berbicara hanya tentang pemimpin.

Pertanyaannya adalah mengapa sebelum kata kepemimpinan, saya mengetik juga pemimpin. Saya sengaja agar supaya ada batu ikatan, koefisien determinasi, antara hipotesis saya yang terakhir........bagaimana dengan sistem kekuasaan dan politik yang berlaku.........Ketika berbicara power and politics maka pemimpin menjadi obyek karena tidak semua orang bisa menjadi presiden/gubernur/bupati/anggota dpr dst dst. Pada konteks itu saya letakkan kata pemimpin.

(A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Bung A9ust,

Ulasan anda sangat baik.Saya bersimpati terhadap anda karena sayapun sudah lama menjadi bulan-bulanan beberapa orang.
Berawal dari kata "kekafiran" yang saya pakai, lantas oleh ybs menafsir sendiri seolah-olah saya mengatakan dia kafir (padahal 2 kata ini berbeda artinya), sial sudah nasib saya di blog ini. Ketika saya terharu karena posting BM, saya di "dilecehkan" lagi. Saya sudah berusaha berceritera yang baik-baik, tetapi terus menerus saya dikerjain. Orang-orang ini bolak-balik bicara moralitas tetapi mempraktekannya yang sulit sekali, Saya setuju dnga anda bahwa mereka inipun tergolong kuli, yaitu kuli dendam mereka sendiri.

Saran saya, sabar saja bung.

Saya ingin menjelaskan sesuatu tetapi sudah saya bayangkan bahwa polisi moralitas yang hobinya gonta-ganti nama ini agak sulit diajak bicara baik-baik. Tetapi baiklah,...tampaknya si orang ini kurang suka ketika saya berbicara bahwa ...kita bisa meniru china kecuali liciknya....

Kata licik, saya ambil dari percakapan dalam sidang WTO ketika wakil-wakil amerika, yang sangat dipuja oleh si polisi moralitas blog ini, mengkritik tajam wakil china karena praktek dumpingnya. Mereka menggunakan kata "artful". Jadi, saya mengutip. Tetapi bahwa praktek dumping dalam perdagangan bebas WTO dikategorikan sebagai artful memang iya. Dalam ekonomi dikenal suply and demand. Ketika anda membanjiri pasar dengan barang rongsokan dan konsumen membelinya karena murah (kemauan pasar) padahal sekali pakai langsung rusak sedangkan anda untung besar maka apa etika nya? Contoh lain, permintaan pasar akan video porno tinggi sekali dan pedagang yang motivasinya adalah untung, menjual barang begituan justru dilakukan dengan suka cita. Tetapi apa moralitasnya? Contoh lainnya adalah barang narkoba.

Kalau yang begini-begini tidak mau dimengerti oleh si polisi moral blog ini lalu saya dan pak Agus dimaki-maki, ya, sudah biasa. Itulah standard moral mereka.
(Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@atas

Bae sudah, mmg itulah B pung maksud, krn su agak takut sebut Bu pung nama. Terserah Bu mo cap beta spt apa beta sonde tersinggung, yg beta tangkap ttg beta di mata Bu cuma satu, "adik". Yah... biar katong dua kaka-adi maen gila di sini.

Ah, beta sonde mau berdola-dali tp cuma mau kasi tunjuk kutipan yg benar dan utuh dr pendapat Bu, dan sonde sepotong-sepotong yg bs bikin bias dlm pemahaman.

[@atas nulis]
Nah, siapa yang bertanggung jawab melakukannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah pemimpin. Lebih tepat adalah kepemiminan yang didefenisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan.

[komentar]
Pertama, dg mengutip keseluruhan kalimat, mk nampak jelas bhw Bu memang "pernah" berpikir bhw persoalan personality improvement adalah tanggung jawab Pemimpin.

Kedua, dari kutipan di atas, nampak pula ada distorsi pengertian antara "Pemimpin" dan "Kepemimpinan". Kata "Pemimpin" menunjuk kepada GELAR atau POSISI yang diemban seseorang atau kelompok (Majelis/Presidium/Dewan/dst). Sedangkan kata "kepemimpinan" menunjuk pada KARAKTER yg dimiliki setiap org. Ini dua istilah yg berbeda, shg ketika Bu menulis spt ini: ......adalah pemimpin. Lebih tepat adalah kepemiminan yang didefenisikan sebagai ......,
justru memberi bukti adanya distorsi mengenai jawaban atas pertanyaan Bu sendiri di atas yaitu, siapa yg bertanggung jawab thd permasalahan personality improvement. Kalo pd akhirnya Bu bilang bhw lbh tepat yg bertanggung jwb adalah "kepemimpinan", mk ini lbh aneh lg. Kepemimpinan itu adalah karakter, bgmn musti bertanggung jwb?

Penjelasan ini beta buat, cuma ingin prove bhw beta bukan asal cari masalah dg urusan jawaban pertanyaan Bu sendiri ttg SIAPA YG BERTANGGUNGJAWAB thd personality improvement. Beta sonde ada niat jelek mau hina ato mempermalukan dg kas tunju bhw Bu pung pembelaan di atas sekedar dola-dali. Apalagi bilang bhw berdola-dali itu sbg indikator EQ jeblok. Yg beta tau, di blog sini ada org tukang marah yg gampang diisengin, alias diajak maen gila (bodo). Macang ke kitong ada ba kawan deng tukang latah, asal ada kesempatan batarea beking dia kaget, abis itu br katawa rame2 lia dia nyerocos aneh2. Jd, kl beta isengin Bu pung EQ, begini, Bu tuduh sbg ada dendam, terserah Bu pung kearifan, saa... He he he...

Mengenai Bung Wilmana, beta sebetulnya jengkel jg deng dia krn dicap PKI. Makanya, kasian jg dia, gara Bu pung EQ jeblok alias gampang marah, ahirnya Bu tuduh dia ada bela beta, pdhl beta malah ada kalongko krn dicap PKI, itu. Tp beta mo trima kasi krn senang juga Bu ngotot menyamakan beta deng dia...

Ahirnya, B lia esensi dr Bu pung penjelasan di atas sdh bergeser dan menunjukkan Bu deng beta sdh sepakat bhw persoalan solusi atas mslh para Kuli melalui personality improvement adalah tanggjwb bersama, bkn cuma Pemimpin sj. Krn itu beta kira urusan ini sdh cukup di sini.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

[Om Syam nulis]
Kalau yang begini-begini tidak mau dimengerti oleh si polisi moral blog ini lalu saya dan pak Agus dimaki-maki, ya, sudah biasa. Itulah standard moral mereka.

[Komentar]
Beta menduga-duga, apakah Polisi moral itu bigmike. Moga2 bukan beta, tp kalopun iya, yaa trima kasi banya, Om. Krn bigmike saja, "tuhan allah-nya blog ini, sonde berani angkat beta mjd polisi moral di sini. Krn itu, ijinkan beta utk kasi penghormatan kpd Om dulu....

Siaappp, kepada Bp Kapolral (Kepala Polisi Moral)Blogger.... Hormatt senjjataaa..., GRAK!! Teegggaaaappp, GRAK!!!

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@ bonggo

Kata kepemimpinan sebagai pihak yang bertanggung jawab harus dimengerti dalam konsep OB. Kita tidak bisa harafiah karena kalau harafiah maka apakah organisasi itu adalah makhluk hidup yang punya perilaku? TIDAK. Tetapi sebagai suatu "sistem", organiasi harus dianggap hidup. Jika itu diterima maka kepemimpinan dalam konteks "sistem" harus juga dianggap sebagai sesuatu yang hidup. Itupun kata si Lublin. Beta cuma kutip saja dan beta setuju dengan dia karena make sense.

Contoh, kenapa PSSI kacau? jawabnya adalah pada kepemimpinan.

Anda tetap menganggap bahwa saya suka marah. Kalau begitu apakah semua orang yang marah adalah EQ jeblok. Terangkan kepada saya bahwa Yesus ber EQ jeblok ketika marah di Bait Allah. Tiap orang boleh marah tergantung alasannya. Saya selalu punya alasan karena cara berdiskusi anda yang cenderng menghina. Ketika saya ikut terprovokasi, dan saya sadar itu salah, saya sudah minta maaf. Tetapi lihatlah, ketika saya diampun anda selalu berusaha mengganggu saya. Ok lah, kalau saya marah adalah EQ jeblok. Anda yang pendendam itu EQ nya jeblok tidak? Akar dendam adalah marah. Maka marahnya anda itu EQ jeblok tidak?. Maka, dalam posting mone wango BM bilang satu jari tunjuk, 3 jari berbalik. Cobalah anda secara gentelmen mengakui bahwa anda dendam (ingat saya berani mengaku bahsa saya maraH) dan dendam artintya EQ jeblok. Saya tunggu jiwa besar anda.

Soal Wilmana dan bonggo ah janganlah.........saya sayang Bigmike dan menghormati nya. Syalom (A9ust)

Anonim mengatakan...

@syamtua

Ketimbang menjawab pertanyaan saya yg sederhana, anda berkelit dgn cara curhatan hati disini. Saya teramat tidak tertarik karena itu urusan anda. Mari kita lanjutkan permainan akal disini.

Kata anda:

Kata licik, saya ambil dari percakapan dalam sidang WTO ketika wakil-wakil amerika, yang sangat dipuja oleh si polisi moralitas blog ini, mengkritik tajam wakil china karena praktek dumpingnya. Mereka menggunakan kata "artful". Jadi, saya mengutip.

Apa artian kata 'artful?' Apa artian kata 'licik?' Itu saja dulu.

Kata anda:

Ketika anda membanjiri pasar dengan barang rongsokan dan konsumen membelinya karena murah (kemauan pasar) padahal sekali pakai langsung rusak sedangkan anda untung besar maka apa etika nya?

Jelas anda akui, PASAR INDONESIA MAU BARANG MURAH + RUSAK. Lha kalau maunya begitu, kok moralitas cina yg digugat??? Coba anda jelaskan kejanggalan ini!!!

Kata anda:

Contoh lain, permintaan pasar akan video porno tinggi sekali dan pedagang yang motivasinya adalah untung, menjual barang begituan justru dilakukan dengan suka cita. Tetapi apa moralitasnya? Contoh lainnya adalah barang narkoba.

Si cina sekedar 'memenuhi' KEGEMARAN manusia indonesia nonton FELEM PORNO + NARKOBA. Mengapa hanya cina yg anda katakan licik sedang manusia indonesia yg doyan vcd porno + narboka tidak digugat???

Saya tunggu.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Sorry, tentang tuduh-menuduh dan sinis versus sinis dan sejenisnya, beta anggap begitulah kearifan Bu. Beta sonde tertarik lg saat ini utk umbar emosi spt teladan Bu di atas, mgkn laen kali kitorang sambung lg. Bahkan utk nyebut nama Bu pun beta tahan diri. Krn bicara EQ, bkn soal tdk boleh marah soal tp tahan diri utk hal2 yg tdk penting. OK?

Mari kita bicara Pemimpin dan Kepemimpinan saja, jk Bu anggap msh ada yg perlu dibicarakan. Supaya pujian dr bigmike di posting Que Sera Sera utk beta jgn dicabut kembali.

Pertama, Bu menghindari utk membahas kutipan utuh Bu di atas yg mempertanyakan SIAPA (leader), bukan APA (leadership). Beta mencoba memahami mengapa dmkn, dan krn itu beta tdk perlu ungkit lg urusan ini.

Kedua, boleh dikata beta tdk mengenal si Lublin yg Bu jdkan sbg pegangan. Disamping buku organisasi, beta punya Handbook of Organizations, bunga rampai teori organisasi dan terapannya. Di dalamnya ada segudang ahli spt Chris Argyris, Edward Lawler, John Kotter, Mintberg, McClelland, Pfeffer, Rosabeth Moss Kanter, Stephen Robbins, dll, tp sonde ada nama Lublin di sana.

Ketiga, beta lia Bu memang ada distorsi mengenai organisasi. Krnnya, Bu lupa bhw individual makhluk hidup pun adalah organisasi. Hampir tidak ada benda di dunia ini yg homogen sejati. Semuanya merupakan kumpulan mulai dari ukuran elektron, atom, sampe unsur kimia, dst. Apalagi kl bicara organisasi yg isinya makhluk hidup. Ini kalo kita bicara organisasi dan perilakunya.

Keempat, scr organizational behavior Pemimpin (leader) dan kepemimpinan (leadership) itu mmg beda, Bu. Kl Bu kutip si Lublin atas dasar make sense, mk beta mendasarkan diri pada pengalaman sbg praktisi maupun profesional di bidang OD. Meski beta sadar bhw soal make sense ini adalah your own damn business, tp beta coba kasi sedikit penjelasan.

Kelima, Pemimpin dlm konteks organisasi adalah individu ato kelompok dlm organisasi yang menduduki posisi struktural dg segudang kewenangan pengambilan keputusan. Sementara kepemimpinan dlm konteks organisasi adalah karakter kolektif para Pemimpin dalam organisasi yg menggambarkan kemampuan organisasi tsb secara totalitas dalam menghadapi tantangan sustainable growth.

Jadi, kalo Bu bicara kepemimpinan PSSI, itu bukan cuma masalah karakter kepemimpinan si Nurdin Halid saja, tp kolektifitas karakter semua Pemimpin PSSI, mulai dari Nurdin Halid sampe level struktural terendah yg ada di organisasi itu. Bahkan bukan cuma para Pemimpin, tetapi kepemimpinan semua elemen yg ada di dalam organisasi itu.

Kalo Bu tegas mengatakan bhw PSSI kacau karena kepemimpinan (lack of leadership style), maka ini OK2 sj. Tapi kalo pertanyaannya, siapa yg bertanggung jawab? Mk jelas jawabannya menunjuk pada orang (Leaders and the followers), bkn leadership style-nya itu.

Pemahaman ini penting krn organisasi di mata hukum adalah Subyek Hukum, sama dg manusia. Tnp pemahaman yg memadai mengenai hal ini, individu pelanggar hukum dlm organisasi bs sj melimpahkan kesalahan kpd organisasi. Pdhl scr hukum ada beda antara tindakan individu dlm organisasi dg tindakan organisasi. Akal2an spt inilah yg sebetulnya sdg tjd di PSSI saat ini utk mempertahankan Nurdin Halid sbg Ketua.

Terakhir. Bu, sebetulnya dr uraian Bu di atas, beta ada lia Bu ada distorsi istilah "kepemimpinan" dan "unsur pimpinan" dlm organisasi. Tp moga2 B salah.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@ bonggo,

1. Anda tidak cukup berjiwa besar untu mengakui kesalahan. Anda terus bertahan untuk tidak mengakui bahwa anda diliputi dendam. Anda hanya berusah mengingat bahwa saya marah tanpa mau mengakui bahwa anda marah trus dendam. Bahkan anda kembali menyatakan bahwa saya mengumbar emosi. Baiklah sudah. Saya tidak berharap banyak lagi tentang itu dari saudara. Ada perbedaan standard di antara kita berdua. Saya harus mengakui itu dan harap anda mengakui itu juga. Kita tutup buku.

2. Anda punya segudang buku saya pun punya segudang. Defenisi tinggal defenisi tergantung bagaiman penafsiran. Dahulu anda mempostig tentang MISI dan VISI. Kemarin, bahkan sampai tadi pagi, BM masih menggunakan VISI dan MISI. Lantas kalau begini cara saya menafsir di lain pihak anda punya cara menfasir ya memang sudah sulit untuk bertemu. Niels Bohr dan Eisnteinpun tidak sepakat sampai mati tentang hukum relativitas. Biar saja begitu. Tidak usah dipaksakan harus sama. Saya tidak menang. Andapun tidak. Kita sepaham untuk tidak sepaham. Que sera sera. Carpe diem (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike alias AL,

Ah, lama kelamaan beta su ketularan si mabuk pemilik blog. Bolak-balik ucap Carpe Diem. Que sera sera. Di psoting terakhir agak panjang jadi agak susah hafal. Gara-gara BM beta jadinya langganan hot spot ha ha ha ha (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Kadeluk,

Harap jangan geser masalah. Jangan lari dari masalah awal. Malah bikin kacau dan itulah yang anda harap supaya kita terlibat tukar kata yang tidak perlu.

1. Anda menuduh semua orang Indonesia culas. Kalau begitu: bapak, maka, kakak, adik, sepupu anda CULAS? Anda orag Indonesia juga kan? Anda culas tidak? Jawab satu ini dulu. JANGAN BERKElIT.

2. Anda menuduh, kami iri hati sama TKI/TKW. Saya minta anda buktikan. BUKTIKAN tuduhan anda itu. JANGAN BERKELIT. Anda marah ke Syam, minta dia jawab licik. Maka, saya minta anda buktikan dulu bahwa kami yang menulis masalah TKI/TKW sedang iri hati. Dari mana lu dapat ilmu bahwa mencomel tanda irihati? Hebat betul teori begitu. Karangan Profesor kadeluk ko? Lu buka mata trus liat point berikut sebagai penjelasan bahwa beta comel.

3. Anda pasti bukan kuli. Karna bisa bolak-balik ngintip blog. Anda kemungkinan pekerja middle class di over seas. Pasti punya otak. Anda bahkan mengaku sedang di USA. Saya tidak tertarik mengklarifkasi apapun termasuk pameran pembangunan yang terpaksa saya lakukan kemarin. SAYA HANYA MAU KASI TAU ANDA BAHWA SAYA TIDAK PUNYA ALASAN APAPUN UNTUK IRI HATI. Berkat Tuhan cukup melimpah bagi saya dan saya bisa menyalurkan bagi sesama yang lain.
Sebalik dari irihati, saya sedih melihat mereka para kuli itu. Bapak anda pernah menginggalkan ibu anda dan anda bertahun-tahun karena bekerja di malaysia? Kalau tidak maka berbicara JAGA PERASAAN ORANG.

4. Kalau anda mengaku sedang berada di USA tempatnya orang-orang pintar, TOLONG JAWAB bahwa kuli yang pameran pembangunan di desa tidak berpengaruh terhadap moralitas anak-anak desa kami yang menjadikan malaysia sebagai negeri impian.

5. Jelaskan juga bahwa kelangkaan tenaga kerja produktiv yang bekerja di Malaysia tidak berpengaruh terhadap kemiskinan desa. Saya minta anda jawab ini karena anda tampak mengabaikan fenomena itu. Anda bolak-balik mengatakan TKI/TKW punya hak asasi untuk pamer. Soal itu saya paham. Seperti juga adalah hak asasi TKI atau mungkin anda untuk telanjang bulat di tengah jalan. Tapi apa pengaruhnya terhadap anak-anak muda yang melihat itu?

6. Anda mengajari saya untuk jangan jadi budak emosi, sayapun mau mengajari anda JANGAN JADI BUDAK NAFSU MENUDUH.

7. Anda tanya saya akar masalah mengapa TKI meluber di luar negeri. Saya mau tanya? ANDA PUNYA MATA TIDAK?????? Jleas sekali di komentas saya yang anda kemoentari sebagai irihati dan culas itu saya mengatakan bahwa .........APa akar masalahnya? Negara gagal memajukan kesehateraan masyarakatnya. ......heeiiii buka mata dan baca itu jangan melamun lalu main tuduh orang lain iri hati dan culas.

Jangan juga sok mengajari orang untuk bermental emosi sementara anda sendiri bangga dengan mental tukang tuduh.....(Eman, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

o Oh iya, saya duga anda ini mengidap penyakit snobisme. Baru tinggal di Amerika langsung merasa sebagai orang amerika. Sok amerika. Kalau saya, biart adi orang kampung yang cepat marah tetapi tidak menduh orang.

Omong-omong, setahu saya orang amerika sangat taat hukum. Jangankan main tuduh, melihat orang dan yang dilihat tidak nyaman saja anda bisa di sue. Model anda ini, cukup saya cari tahu posisi anda maka saya sue anda. Tapi saya paham kok anda ini mengidap penyakit yang seperti BM bilang....mental tukang-tukang van melayu yang sok kebarat-baratan (Eman, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ KD Look,

Maleessss ngomong sama orang yang asal cuap sambil sok pamer....hhoooiiii, sohib layani dulu deh si Eman. Posisi ente rada gawat di situ. Kalo gw ikutan, bisa dibilang keroyokan....wakakakakkekek....oleeee.....oleeee...si si tukang tuduh.....wkakakekekekk...(Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ bung KD look,

Bacalah kembali teori Making Globalization Work dari Prof Joseph Stiglitz baik-baik dan renungkan sendiri. Jikalau saya menjelaskan, dan dalam ketidak tahuan mas KD look membuat "keriuhan:, yang akan terjadi adalah debat kusir. Tersukan saja "keriuhan" mas KD look bareng beberapa konco liane, mas Syamsu, mas Eman. Saya tidak tertarik untuk itu. Nuwun sewu (Widyanto, Jogja)

Anonim mengatakan...

Wah, blog yang amat bagus. Diskusi yang dinamis. Posting yang menawan (Dyahpoetry)

--DoSa-- mengatakan...

Semakin menghangat diskusi disini, dan ternyata semakin kelihatan multi-tracks issue yang dikembangkan, baik yang bersifat argumentatif, tapi ada juga yang bersifat confrontatif dengan substansi yang berbeda-beta.
Gue mencoba merangkumkan issue(s) yang sedang hangat dibicarakan disini:

1.Globalisasi sebagai sumber masalah. Argumen "bangsa kuli" berulang kali dikemukakan di beberapa postingan terdepan dengan bottom line realita bahwa kita belum bisa menjadi tuan di negara sendiri (juga seperti postingan tuan rumah), bahkan kita sebenarnya diperbudak kaum kapitalis karena hasil keringat kita hanyalah untuk membayar utang luar negeri yang sudah mencapai sekitar 140 milyard US$ di tahun 2007. Issue ini memang adalah issue global, dimana kapitalisme dan neo liberalisme sebagai bagian dari proses globalisasi "menggilas" negara2 berkembangan dan menguntungkan negara2 maju. Dari Stiglitz, Keohane, Mosley, Weiss, Kenworthy, Ravenhill semuanya sudah mengingatkan akan side effect(s) globalisasi.

Seperti argumen saya sebelumnya, apakah kita hanya akan menunggu saja, diam, menangis? atau kita bisa berbuat sesuatu? Dari papernya Dani Rodrik "how to save globalization from its cheerleaders" ada beberapa pelajaran dan solusi yang bisa kita pelajari. Bahwa negara2 yang even menurut bank dunia, sebagai STAR GLOBALIZER, seperti China, India, dan Vietnam adalah negara2 yang meraih keuntungan yang besar even di masa globalisasi dengan liberalisasi ekonominya. Dan argumen serta analisa rodrik menunjukkan bahwa negara2 ini menurut Rodrik adalah "simply not play by the rule". Stiglitz bilang kalo WTO, IMF bahkan WB membuat rules yang too complicated yang "merugikan" negara2 berkembang, tapi China dan teman2nya, bisa bermain diluar lembaga2 ini sampai pada taraf mereka siap untuk bersaing. China, misalnya' baru saja menurunkan tariff barriernya di pertengahan 1990an, tapi ini dilakukan setelah 5 tahun berturut2 mengalami rapid growth. Bahkan Cina lebih duntungkan dengan tidak bergabung dengan WTO, sampai pada tahun2 terakhir.

Pertanyaannya, apakah para PEMIMPIN bangsa ini berani dan punya POWER untuk melakukan hal yang sama?

2. Tanggung jawab PEMERINTAH, PEMIMPIN, atau siapa? Kalau membaca Contesting Global Governance: Multilateral Institution and Global Social Movementnya O'Brien, Goetz, Scholte dan Williams, argumen mereka adalah STATE (negara, baik sebagai komponen HUman Resource maupun sebagai sistem) tidak bisa SENDIRIAN merepresentasi seluruh bangsa. STATE tidak bisa dianggap sebagai PERSON, sehingga disaat Indonesia nego kontrak karya dengan US soal Freeport dan Newmont (misalnya) harus ada posisi yang sama bagi Civil Society, baik yang diwakili oleh NGOs maupun oleh Social Movements.

pertanyaannya, Where to Start?


Saya kira ini dua issue utama yang merepresentasi majoritas debat disini, dan tentunya kita juga bisa melihat debat2 personal yang menurut saya ngga terlalu penting untuk dilanjutkan, karena memang ngga penting. Kasihan bandwith yang dipakai dan waktu yang terbuang (ini menurut saya lho, ngga tahu kalau yang lain mengangga itu BERGUNA)

Anonim mengatakan...

@DoSa

Beta setuju dengan aleeee. Disini banyak org marah, semakin membenarkan apa yg disampaikan @bm, BANGSA KULI.

@proxy73

Wuuuakakakaka... gaya lu gini ini yg gue suka, sarap. ollleeee...ollleeee... gue aja dah ketularan.

@widyanto

Tidak bisa jawab pertanyaaan saya, berkelit saya tdk mutu. Kalau gitu saya ajukan argumen @DoSa untuk anda jawab. Menyikapi persoalan besar ini, dari mana kita harus mulai???

Akhirnya, TAK SATUPUN YG BS MENJAWAB PERTANYAAN SAYA. Negeri ini sudah dicap PELACUR. Adakah yg lebih buruk dari pelacur? Tp manusianya hanya bisa MARAH dan menyalahkan org lain sebagai biang kerok. Kasihan sekali.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@Tuang D0Sa Yang Terhormat,

Saya dapat mengerti kegusaran tuan tp harap maklum. Sebagai bangsa kuli, tdk punya otak, hanya otot dan emosi, kami menjadi hanya bisa begini. Memberi cap negatif pd negeri kami sendiri dan menyalahkan pihak lain sebagai biang persoalan kami.

Tuan @DoSa, membaca komentar tuan diatas, saya berkesimpulan tuan adalah org cerdik pandai, bukan saja pikiran tp hati. Untuk itu, sudilah tuan membantu kami melihat persoalan besar kami disini.

Seperti yang sudah saya katakan diatas, kami bangsa kuli, kami tdk 'mengerti' sepenuhnya apa dan arah argumen anda ttg globalisasi. SO, LET WALK THROUGH IT!

Apa itu globalisasi, 'and is it a threat or an opportunity' bagi kami? Itu saja dahulu. Semoga tuan berkenan menjawab sehingga kami bisa memulai diskusi bermutu ini.

Atas perhatian dan kebaikan tuan 2DoSa, saya ucapkan terima kasih.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@ KD look

tolong ditambahkan ke dalam daftar bagsa kuli:

1. Suka menuduh
2. Culas karena suka mengatakan itu sendiri.
3. Dirinya culas, bapanya,mamanya, kakanya, adiknya, keluarganya culas karean itu yang dia bilang sendiri.
4. suka irihati karena itu yang dikatakannya sendiri.
5. Suka berkelit memberi alasan
6.Tidak punya imu tetapi berlagak sepetu banyak tahu.
7. Tidak punya moralitas tapi sok mengakari rag lain moralitas.
8. Gemar melarang orang menggunakan karunia Tuhan untuk tersinggung dan marah tetapi membiatkan setan menuduh bercokol di hatinya.
9. Snobisme, Melayu hitam tapi bergaya kebarat-barata
10. protipe orang itu adalah KD look, alias NK yang menurut Syam adalah KAFIR, 1/2 monyet, manusia evolusi jadi-jadian
11. Nah, lu
(Eman)

Anonim mengatakan...

@atas,

Masih kurang bosz daftarnya. Beta tamba satu, ENGGAK ADA KEADILAN. 'Nyenggol dibalas BACOK.' Beta hanya colek, dibalas pake PARANG. Hanya di Indonesia, pencuri uang rakyat bebas, sedang pencuri ayam bayar dgn nyawa, dibakar hidup-hidup. Tidak punya malu lagi kah kita mempertontonkan ketidakadilan ini??? Kasihan sekali.

Tp enggak apa-apa, Tuhan bilang, 'yg waras mending ngalah.' Saya tdk minat membalas kejahatan dgn kejahatan.

Peace maaaameeeen!

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@Agus,

Pertama, Bu mo kasi cap apapun thd beta, terserah boy... Bg beta, mmg begitulah kearifan seorang "Pak Harto" yg merasa jiwanya sdh besar. Malah beta mo bilang, "Puji Tuhan" krn ada yg menghina beta berjiwa kerdil di sini.

Kedua, beta surprise krn ternyata, Bu mangaku punya segudang buku tetapi menghindari menyelesaikan distorsi yg Bu bikin sendiri tentang "Pemimpin" dan "kepemimpinan", dan terakhir beta su kastau ada kemungkinan misorientasi lagi dg pengertian "Pimpinan". Untuk jelasnya cek lg kutipan berikut:

Nah, siapa yang bertanggung jawab melakukannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah pemimpin. Lebih tepat adalah kepemiminan yang didefenisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan.

Knp beta bilang distorsi? Krn jelas sekali Bu mempertanyakan "siapa yg bertanggung jawab". Sekali lagi, SIAPA bukan APA. Awalnya, Bu su jawab dg baik, yaitu menunjuk hidung Pemimpin (SIAPA). Tapi pd kalimat selanjutnya timbul kekacauan krn Bu "meralat" jawaban pertama dan menggantinya dengan kepemimpinan (APA).

Yups, Bu bilang "lebih tepatnya", krn bs jadi tdk begitu ngerti beda antara "Pemimpin" dan "Kepemimpinan". Atau jg ada slack pemahaman antara "kepemimpinan" dg "pimpinan". Atau yg Bu maksudkan memang "kepemimpinan" tapi salah mengajukan pertanyaan.

Beta liat, inilah yg membuat Bu Wilmana kemarin ada "meluruskan" tentang masalah ini. Bu bertanya ttg SIAPA (Pemimpin), tp kasi jawabannya ttg APA (kepemimpinan). Ini jelas2 distorsi dan seharusnya it doesn't make sense.

OK Bu! Terlepas Bu mo akui ato sonde distorsi pemikiran Bu, beta jg tdk kepingin maksa, HARUS NGAKU!! Apalagi harus nuduh Bu berjiwa kerdil gara2 cuma berdola-dali taputar saaa. Buat beta, ini hal biasa2 sj, it's no big deal and let's move on.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@Agus (ini urusan "Kakak-Adik", selain bigmike, yg lain mhn tdk ikut campur)

Sy berharap anda bukan seorang paranoid, lalu misorientasi mengenai sosok org lain di dunia maya. Namanya sj dunia maya, jgn dianggap spt dunia nyata di kupang situ. Knp saya kuatir anda mengidap paranoid?

Pertama, anda rupanya ngotot mengidentikkan sosok saya dg si bonggo di dunia maya ini, dan cenderung bersikukuh. Mungkin anda mengandalkan dugaan2 plus bs sj ada sinyalemen dr bigmike, silahkan sj itu hak anda. Tp jk anda boleh meminta agar nama anda tdk disebut2 di sini, mk sy juga minta anda utk jgn memvonis apa2 ttg sy, hanya krn anda merasa dihantui oleh si bonggo. Di dunia maya ini, yaitu blog bigmike, jelas kami sosok yg berbeda. Tolong camkan ini!

Kedua, krn itu sy minta jg utk pintar2 memilah anda sdg berhadapan dg siapa di sini. Jadi, tdk membuat tuduhan2 simpang siur. Bbrp cth dpt sy sampaikan:

agus komen:
Coba cermati baik-baik statement "pembelaan" Wilmana terhadap bonggo.

Sy tdk membela si bonggo, krn faktanya perilaku dia di sini yg suka mengganggu anda, sy sebut sbg PKI. Bgmn anda bs bilang sy bela bonggo pdhl dia sendiri tersinggung sm saya, ini yg sy bilang paranoid.

Wilmana komen:
Hanya mgkn ada yg perlu diluruskan mengenai kepemimpinan. Yg harus diingat adalah, kepemimpinan bukanlah monopoli Pemimpin.

Anehnya, komentar anda thd tulisan sy di atas, dialamatkan ke bonggo, sbg berikut:
Agus komen ke bonggo:
Tentang pemimpin dan kepemimpinan, saya mengetiknya begini.....

Terakhir ada komentar anda ke bonggo yg salah kaprah sbb:

Agus komen:
Dahulu anda mempostig tentang MISI dan VISI. Kemarin, bahkan sampai tadi pagi, BM masih menggunakan VISI dan MISI.

Semua orang jg tau bhw posting MISI/VISI di sini adalah pemikiran wilmana, bukan bonggo. Jadi tolong tujukan komentar anda ke alamat yg benar, terlepas dr keyakinan anda ttg sosok wilmana dan bonggo.

Tp terlepas dr bbrp cth paranoid di atas, ada satu komen anda yg menarik bg sy, krn kebetulan bagian dr pekerjaan saya.

agus komen:
Ada perbedaan standard di antara kita berdua.

Saya kira yg anda maksud adalah standar etika. Begini, pd dasarnya setiap org mmg punya moral-etika yg berbeda dan tdk standardized. Akan tetapi, ketika mereka memasuki suatu ruang bersama, mk saat itulah diperlukan nilai etika yg standardized. Ketika Pak Agus dr airnona dan bigmike dr naikoten memasuki dunia dosen di Undana, mk saat itu kalian hrs mengendalikan nilai etika pribadi yg selama ini di anut, dan tunduk mjd Pelaku standar etika yg berlaku bg dosen di Undana. Sama jg ketika Agus, bonggo, dan wilmana memasuki ruang blog bigmike, mk standar etika kita adalah sama yaitu: versi bigmike di sini. Knp etika pribadi hrs "ditanggalkan" dan beralih ke etika standar bg dosen undana? Jawabnya spy setiap org jgn ambil keputusan dan bertindak menurut etikanya msg2 yg berpotensi bikin kaco interaksi interpersonal di Undana.

Dari penjelasan di atas, nampak bhw Pak Agus msh membawa-bawa etika pribadi utk menilai perilaku pihak lain. Krn itu ketika bigmike memutuskan utk menjaga kerahasiaan msg2 member di sini, Pak Agus malah sibuk mencaritahu jatidiri org lain, bahkan terkesan mengancam membeberkan rahasia org, dg alasan2 pribadi.

Intinya, saya mo ingatkan Pak Agus bhw jk anda bicara standar etika di sini, mk ukurannya adalah "standar" yg dikenakan bigmike di sini. Semoga Pak Agus bisa memaklumi masalah ini dan kita tutup buku saja.

Anonim mengatakan...

Haiyyaa.... Krn buru2 mo makan siang, lupa kasi ID saya, Wilmana pd komentar di atas.

Anonim mengatakan...

He who angers you conquers you ~ Elizabeth Kenny

@Wilmana:

Intinya, saya mo ingatkan Pak Agus bhw jk anda bicara standar etika di sini, mk ukurannya adalah "standar" yg dikenakan bigmike di sini. Semoga Pak Agus bisa memaklumi masalah ini dan kita tutup buku saja.

BRILIAN!!!

Nape ane kagak kepikiran ye nyang kayak gini??? Yg suka umbar emosi, ingat ini!!! Etika yg berlaku disini bukan 'senggol dibalas bacok.' Ini moral etika primitif.

Wooooi @wilmana, marah itu karunia Tuhan enggak??? Minta ayatnya dong! Thanks.

Tuan @DoSa, saya masih menunggu respon sdr sehingga kita bisa melanjutkan bincang-bincang bermutu ttg globalisasi.

-KD Look-

Anger dwells only in the bosom of fools ~ Albert Einstein

Anonim mengatakan...

@KD Look...

Mnrt sy, marah itu karunia Tuhan. Alasannya, apa ada hal di dunia ini bukan bagian dr karunia Tuhan? Kl ada yg bilang itu keburukan, mnrt @dosa, itulah konsep dia ttg marah. Spt kata2 Bill Shakespeare, toh...

Krn itu, Ama jgn salah kaprah dg org Kupang. Terbiasa menggunakan kata2 sarkastis, meski dlm keadaan tdk marah. Sementara di Jawa sini, gaya bhs sarkasme itu diterima sbg btk kemarahan. Org Jawa bs stress berat kl liat org Kupang ketemu sahabatnya trus ngomong, "wooi anjing, lu ilang ke mana ajah, haa?"

So, sy kira @KD Look tdk perlu repot2 ingetin para sahabat di sini. Krn biarpun kami pake gaya bhs sarkastis, tp yakinlah tiada api amarah di hati. Apalagi semua sdh ngaku pd bigmike bhw semua di sini adalah sahabat. Moga2 saya tdk keliru ttg hal ini.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Wilmana:

Mnrt sy, marah itu karunia Tuhan. Alasannya, apa ada hal di dunia ini bukan bagian dr karunia Tuhan?

Hhmmmm... very interesting.

Tanya lagi, at what what marah menjadi dosa (bukan si filsuf @DoSa lho ya, hi hi)???

Lagi, kalau org kupang terbiasa dgn bahasa sarkasme, mengapa si @bonggo sering kena sial lantaran gaya orgasmenya (eh salah, sarkasmenya)???

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Maaf, ada ralat pd kalimat ini:

Tanya lagi, at what point marah menjadi dosa (bukan si filsuf @DoSa lho ya, hi hi)???

Anonim mengatakan...

KD Look nanya:
Tanya lagi, at what point marah menjadi dosa (bukan si filsuf @DoSa lho ya, hi hi)???

[jawab]
Marah dan perbuatan apapun, mjd dosa kalo outcome-nya (bkn output, lho) mendatangkan mudhorat alias kesusahan bg org lain.

[KD Look nanya lagi]
Lagi, kalau org kupang terbiasa dgn bahasa sarkasme, mengapa si @bonggo sering kena sial lantaran gaya orgasmenya (eh salah, sarkasmenya)???

[Jawab]
Ingat, sy bilang org Kupang terbiasa menggunakan kata sarkasme. Ini ada dua makna. Pertama, bs jd meski suka mengeluarkan kata2 sarkastis tp tdk suka mendengar kata2 sarkastis. Kedua, istilah "terbiasa" itu tmsk balas-membalas sarkasme, toh.

Moga2 mjd jelas.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Hhmmm... rupanya tuan @DoSa sedang 'sibuk' belum sempat membalas pertanyaan saya, begitu juga @wilmana. Semoga tidak lagi bersembunyi dibawah meja, hi hi. Baiklah, sambil menunggu, beta ingin ngoceh sendiri. Bagi yg tertarik membaca, silahkan, syukur-syukur mau berdiskusi. Pick your fight! Tp bagi yg terlanjur antipati dgn beta, enggak perlu marah disini. Okelah mari kita mulai.

Pertanyaan beta untuk tuan @DoSa sebenarnya sedekar membangun premis diskusi dan pengertian yg sama tentang globalisasi. Apa itu globalisasi? Peluang atau ancaman bagi Indonesia?

Sekedar copy paste, ini definisi globalisasi:

"Worldwide economic integration of many formerly separate national economies into one global economy, mainly through free trade and free movement of capital as by multinational companies..." Klik disini!

Silahkan kalau ada yg mau koreksi! Ahli-ahli ekonomi dan pebisnis dll katakan fenomena 'one economy' tidak terbendung, mau atau tdk, suka atau tdk, siap atau tdk siap. Peluang atau ancaman?

Fakta empiris buktikan bahwa cina, india dan vietnam adalah negara-negara yg berjaya dalam globalisasi. Bagaimana Indonesia??? @BM dalam posting pingin ini:

Sekarang kita sudah berada di dua minggu menjelang perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 63. Cobalah kita menepi barang satu atau dua dikit dan tanyalah kepada diri kita sendiri. Benarkah kita bukan bangsa kuli? Benarkah kita sudah menjadi tuan atas negeri kita sendiri?

Hampir semua komentator nyaring berkata, "KITA BANGSA KULI!' Bahkan @Peter, seorang cerdik pandai yg lagi studi S2 bertutur begini, "Apapun juga, menjadi bangsa kuli yang hanya mau menjual otot nyaris tidak ada beda hakekatnya dengan pelacur."

Kita sepakat KITA MEMANG BANGSA KULI, kelompok masyarakat yg bersamaan nasib. Tp sesama kuli kok saling menghina??? Hi Hi... Baiklah. Tp lalu SIAPA SALAH??? Jawabannya beragam. PEMERINTAH SALAH. BARAT SALAH. CINA SALAH. PENJAJAHAN GAYA BARU. Yang pasti ini: BUKAN SALAH SAYA!!! Pemerintah yg disalahkan juga pasti pakai mantra keramat ini, BUKAN SALAH SAYA! Intinya, KESIALAN bangsa ini BUKAN SALAH SAYA.

Moralitas BUKAN SALAH SAYA ini saya gugat tp tidak dijawab.

Contoh 1: @syamtua katakan cina licik karena praktik dumping produk rp 5000an + rusak tp mengakui bahwa pasar (INDONESIA) suka barang murah + rusak. Lagi, cina licik karena gemar ekspor vdc porno. Tp BUKAN SALAH kita yg OTAK KOTOR. Lagi, org lain salah karena suka menjual narkoba di pasar Indonesia.

Contoh 2: @widyanto yg berempati dgn pace noge dari papua yg ingin berontak. BUKAN SALAH indonesia tp barat. Mas, si pace noge mau merdeka dari siapa? Barat kah atau Indonesia (baca: Jawa)???

Okelah saya bisa mengerti fakta bahwa kita bangsa kuli yg lalu berharap bangsa lain fair. Salahkah kita berharap begitu?? TENTU TIDAK! Tp kalau mereka tidak mau fair, apa mereka salah??? DEBATABLE! Tp kita harus SADAR SE-SADAR-SADAR-NYA bahwa yng berlaku didunia ini adalah HUKUM RIMBA, siapa kuat dia menang. Dus, moralitas yg harus didorong adalah JADILAH BANGSA KUAT agar SEJAJAR dgn bangsa-bangsa lain dalam PERTARUNGAN globalosasi saat ini! Mengambil sikap MARAH dan NGAMBEK pd org lain yg dianggap tidak fair bukan saja GOBLOK tp KESIA-SIAAN.

APA SOLUSI?

I submit to you all, bahwa mengakui kita bangsa kuli is a step in the right direction. But unless we take full responsibilty that all the mistakes are our own, kita akan terus menjadi BANGSA KULI yg hanya bisa marah dan nyalahin org lain atas kesialan kita. Moral etika BUKAN SALAH SAYA harus dibuang jauh-jauh!!!

Saya mengikuti tulisan dan komentar disini. Dari posting ke posting, komentar ke komentar, etika yg diangkat adalah MULAILAH DARI DIRI SENDIRI. Sekarang menepilah barang sebentar dan jujur bertanya pd diri sendiri. Bisakah saya bisa memulai sesuatu dari diri sendiri kalau persoalan yg ada BUKAN SALAH SAYA???

Itu saja.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Maaf, rupanya @wilmana sudah menjawab pertanyaan saja. Kalau begitu, tinggal tuan @DoSa yg masih bersembunyi dibawah meja. Semoga saya salah.

Wilmana:

Marah dan perbuatan apapun, mjd dosa kalo outcome-nya (bkn output, lho) mendatangkan mudhorat alias kesusahan bg org lain.

Terakhir, adakah kemarahan yg tdk mendatangkan kesusahan bagi org lain??? Kalau ada, bagaimana cara marah yg benar???

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look

Pada ahirnya, tinggal kita berdua di sini. Sy menduga, yg laen pd meliburkan diri. Knp? Krn mereka ke sini, bkn krn mencitai blog ini, tp krn bigmike. Jd, kl bigmike bilang blog libur, mk semua pergi tidur. Anda tdk kecewa, kan dg kenyataan ini?

Nah skrg ttg pertanyaan terakhir.

[kadeluk tanya]
adakah kemarahan yg tdk mendatangkan kesusahan bagi org lain???

[jawab]
Ada saja. Misalnya org marah sama anda dan memilih diam. Pada awalnya anda kesulitan dg sikap ini, tp pd ahirnya (outcome), anda mengerti dan mulai cari jalan damai. Ato, ada org marah tp hanya bs nangis di depan anda. Ato ada org marah sm anda di sini, tp ngadu ke bigmike, lalu dg penuh kasih bigmike memperdamaikan kalian.

[kadeluk tanya]
Kalau ada, bagaimana cara marah yg benar???

[jawab]
Saya marah sama anak2 kl mereka bandel. Saya kasi hadiah gesper 2-3 kali di pantat. Tp stlh itu sy peluk mereka, minta maaf, ajak jalan2/bermain, sambil menjelaskan knp mereka harus digesper.

Anda liat output kemarahan dg gesper bikin anak2 kesakitan dan menangis, tp outcome-nya mereka paham papanya tdk jahat tp setiap kesalahan berisiko dpt punishment.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Tuan @wilmana:

Pada ahirnya, tinggal kita berdua di sini. Sy menduga, yg laen pd meliburkan diri. Knp? Krn mereka ke sini, bkn krn mencitai blog ini, tp krn bigmike. Jd, kl bigmike bilang blog libur, mk semua pergi tidur. Anda tdk kecewa, kan dg kenyataan ini?

Tuan, jujur saja, saya malah senang @bm libur karena saya sedikit 'bebas' menguasai fokum komentar disini tanpa takut kena 'jewer.' Tp apa boleh buat, karena yg lain ikut 'liburan,' tepatnya sembunyi dikolong meja, maka dengan terpaksa saya harus 'mencolek' tuan.

Tuan @wilmana, saya membaca kembali komentar tuan diatas. Ditengah keputusasaan, bahkan @peter memberi cap bangsa kami bangsa pelacur, masih adakah harapan bangsa ini menjadi bangsa kuat??? Dari mana kita harus mulai??? Katakan besok tuan jadi PRESIDEN republik negeri ini. Apa yg akan tuan lakukan dalam 100 hari demi membangkitkan negeri ini dari kepelacarun, maksud saya, keterpurukan???

Sudilah tuan menjawab. Terima kasih.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Ah, sy jd ingat rekan sparing partner di sini, @NK. Sejak dijewer bigmike di posting norman, dia kecewa dan ga tau di mana dia sekarang. OK-lah mari ke laptop.

Sy kira, selama ada kemauan pasti ada jalan. Saya setuju dg pendapat @Agus bhw problem kita ini ada pd kepribadian dan karenanya perlu ada personality improvement. Bbrp hari lalu, saya ada bicara solusinya bhw mulai dari jenjang pendidikan usia dini (play group), manusia Indonesia sdh harus dibina nilai2 good governance yaitu: transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness. Paling tidak dua nilai utama yaitu: transparansi dan akuntabilitas hrs mendarah daging dlm diri setiap insan Indonesia.

Kl anda tanya program 100 hari Presiden, sejujurnya sy bingung dan cenderung tkd suka. Krn sy disuruh bermimpi ttg sesuatu yg tdk pernah sy impikan dan jelas ini membingungkan. Tp untungnya anda bantu sy dg pertanyaan dari mana kita harus mulai.

Krn itu, mnrt sy 100 hari pertama Presiden dan Kabinetnya hrs bisa memulai dg menggarap para Pelacur yg berkeliaran. Tangkap dan masukan ke panti2 rehabilitasi utk dibina. Jk ada yg tdk bs dibina lagi, yaa terpaksa dibinasakan sjlah.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Krn itu, mnrt sy 100 hari pertama Presiden dan Kabinetnya hrs bisa memulai dg menggarap para Pelacur yg berkeliaran. Tangkap dan masukan ke panti2 rehabilitasi utk dibina. Jk ada yg tdk bs dibina lagi, yaa terpaksa dibinasakan sjlah.

Wuuuaaaakakakaka...

*tertawa terpingkal-pingkal*

100 hari pertama, saya tangkap @sy....a; @a..s; @e..n; @wi....to, @p....73, @p...r, dkk. Mereka yg gemar cap kafir, suka marah, curhat dan sejenisnya.

Tuan @wilmana, sdr memang manusia teramat lucu.

Wuuuaaaakakakaka, ollleee..ollleee...

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Yups... Mnrt referensi dr anda, bhw bangsa ini bangsa Pelacur. Sy kira in ada benarnya jg krn bayangkan, industri batubara menolak membayar royalti 7 triliun dg alasan pemerintah tdk membayar restitusi pajak yg mereka klaim.

Ini gambaran penyakit balas-membalas ala orang utan yg buta sistem hukum. Knp? Krn scr hukum, hrsnya mereka memperkarakan Pemerintah yg ogah mbayar restitusi pajaknya, bkn ngemplang mbayar royalti. Lbh celaka lg Pelacur di kementerian energi dan sumberdaya mineral (ESDM). Setelah Menteri Keuangan melakukan langkah hukum, tiba2 Menteri ESDM juga angkat bicara. Lha selama ini, kok mendiamkan saja?

Krn itu, 100 hr pertama langkah nyata yg paling realistis yaa atasi para Pelacur, toh... Pelacur di kampus, di Pemda, di Kementerian, di Industri, di DPR, sampe di lobang semut pun dikejar.

Tp sy terkesiap wkt ente akan tangkap jg "Pelacur" di blog ini. Wah sy ndak mo ikut2 campur. Itu urusan anda sajalah, kl nanti jd Presiden blog ini.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Tuan @wilmana:

Tp sy terkesiap wkt ente akan tangkap jg "Pelacur" di blog ini. Wah sy ndak mo ikut2 campur. Itu urusan anda sajalah, kl nanti jd Presiden blog ini.

Wuaaaakakaka...

Penguasa disini adalah MAHA RAJA BP LUDJI, mana bs saya menjadi presiden.

Olleeee...olllleeee...

-KD Look-

Anonim mengatakan...

Yah, itu kan esensinya utk memperingatkan sj bhw kl anda jd Presiden di blog sini bs repot. Semua org yg anda ANGGAP "Pelacur" bs kena tangkap semua. Apalagi sy liat ada tendensi dg indikasi daftar nama tertentu yg hrs siap2 utk bakal ditangkap begitu selesai SERTIJAB (serah terima jabatan) Presiden.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@ Semua,

Berawal dari keliru mengartikan kata-kata saya lantas berkembang menjadi isu bangsa pelacur.

1. Saya tidak mengatakan bahwa Indonesia bangsa pelacur. Saya mengatakan bahwa hakikat kuli (pekerja otot meski diterpa kekerasan) sama dengan pelacur (pekerja otot diterpa kekerasan juga). Coba anda renungkan analoginya: bigmike bernapas pohon bernapas. Apakah loginya menjadi, bigmike adalah pohon? Hanya di mata manusia PICIK kesimpulan seperti itu datang. Jikalau ingin berdiskusi harap perhaitkan kata-kata bigmike: esensi bung. esensi.

2. Sudah terlalu banyak plesetan logika dalam kolom komentar. Apakah karena ini media cyber maka plesetan logika apapun boleh saja?

3. Saya sudah bertemu BM dalam pesta di ST APMD. Semula, saya hanya tahu orangnya. Lantas di blog saya ikuti pikirannya. Setelah bertemu, saya kagum orangnya. Harusnya manusia bukan mental kuli seperti BM mau atau rela mengurus ranah politik. Dengan diam di menara gading di UNDANA, paket FREN sekalipun yang didukungnya, NTT tidak mendapat manfaat apa-apa (Peter, Jogja)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

POSSSSTTTIIIIIINGGGGGGGGGG DDDDDDOOONGGGGG......!!!!!!!//Pritha//

Anonim mengatakan...

iya neeeeeeeeeeehhhh....BM agak lama kali ini...GW kira ni hr senen doski ude posting lagi....bbbboszzz ni mau 17-an, pendapat dong boszzzz.....oleeee...oleeeee...BM menghilang (Proxy73)

Anonim mengatakan...

Peter:

Saya tidak mengatakan bahwa Indonesia bangsa pelacur. Saya mengatakan bahwa hakikat kuli (pekerja otot meski diterpa kekerasan) sama dengan pelacur (pekerja otot diterpa kekerasan juga). Coba anda renungkan analoginya: bigmike bernapas pohon bernapas. Apakah loginya menjadi, bigmike adalah pohon? Hanya di mata manusia PICIK kesimpulan seperti itu datang. Jikalau ingin berdiskusi harap perhaitkan kata-kata bigmike: esensi bung. esensi.

Wuuuaaahahaha...

Anda ini mirip 'maling teriak maling,' atau lebih pas 'pelacur teriak 'pelacur?' Andalah yg katakan ini:

Apapun juga, menjadi bangsa kuli yang hanya mamou menjual otot nyaris tidak ada beda hakekatnya dengan pelacur.

Apa artinya ini??? Anda sengaja melempar isu liar lalu lari bersembunyi. Lalu setelah isu liar anda itu berkembang tdk sesuai keinginan, anda marah dan memberi cap kami manusia picik. Dimana moralitas baikmu???

Tp baiklah, penjelasan 'secuil' anda itu masih menyisakan persoalan. Apakah otak menjadi satu-satunya ukuran??? Bisa jadi semua yg tdk pakai otak hakekatnya pelacur. Begitu??? Bagaimana dgn ukuran moralitas??? Kakek saya adalah seorang kuli jalan di pulau Timor, tp jangan sekali-kali anda katakan ia seorang pelacur. Anda bisa di kadeluk. Saya memilih menjadi seorang kuli bermoral ketimbang seorang cerdik pandai tdk bermoral. Mungkin anda bisa jawab ini: persoalan kebangsaan kita, siapa penyebabnya? Kuli tdk berotak atau cerdik pandai berotak licik dan culas???

Peter, anda mengingatkan saya akan nama salah seorang murid junjunganku. Semoga lain kali anda lebih bijak bertutur dan menjelaskan isi kepalamu disini!

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look,

Beta dukung ente... @Peter sdh jelas2 pamer sikap culas di sini. Dia bilang kerja Kuli itu "sehakekat" dg kerja Pelacur. Tar tau lai dia pung ukurannya apa. Beta lia org ini sekolah tinggi-tinggi tp sonde mangarti betul apa itu "sehakekat".

Makanya beta mau liat, kira2 bgmn dia menjelaskan pengertian dia ttg "sehakekat" ini. Moga2 dia bukan cuma asbun sj, tp berani bertanggung jawab.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

@ kadeluk dan bonggo

Sederhana saja, kata Alkitab manusia diciptakan segambar (dalam dogma Aquinas disebut sebagai sehakekat) dengan Allah. Apakah dengan begitu kalian berdua adalah Allah? Kalau jawaban kalian, tidak, maka seharusnya bukan begitu cara anda memahami kata-kata saya. Yang saya kuatir adalah jika jawaban kalian adalah ya maka ya mohon maaf karena saya sedan berdebat dengan allah.

Saya setuju dengan Eman, kalian berdua merasa pintar tetapi sebenarnya kalian itu bodoh, culas sekaligus penuduh yang hobinya main keroyokan .....ha ha ha ha (Peter)

Anonim mengatakan...

@ bonggo dan kadeluk

saya juga mau coba mengetes pengetahuan kalian:...apa defenisi marah menurut kalian?

Setelah saya lihat-lihat komentar kalian maka jika ada yg beda pendapat dengan kalian...otomatis...kalian memberi cap...pemarah...
lantas, cara anda-anda menanggapi komentar saya itu disebut marah tidak ya??????ha ha ha ha...baru dibilang PICIK...langsung....ha ha ha apa itu namanya yaaaaaaaa??????? ha ha ha ha dasar picik ha h ha ha (Peter)

Anonim mengatakan...

@Peter

Anda masih saja mencoba 'spin' kata-kata anda sendiri. Sebelumnya anda memberi analogi pohon dan @BM, sekarang, mungkin kepepet, manusia dan Allah. Lalu tanpa malu-mali anda katakan kamilah yg bodoh, culas dan penuduh. Lagi anda katakan saya pemarah. Tolong copy paste bagian yg anda maksud! Aaaah sudahlah, anda pasti tdk mau menjawab ini sama spt gugatan saya sebelumnya. Saya 'give up' dgn manusia tipe spt anda.

Woooi @bonggo, tuan org indonesia yg ada di Indonesia. Tolong jawab ini!!! Mengapa org Indonesia senang berputar-putar enggak karuan ketika dirinya tdk bisa menjawab pokok issue yg sedang digugat???

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@Peter,

Sudahlah.. Sonde usa berfilsafat. Krn dlm Credo Nicea org kristen disebutkan Anak itu "sehakekat" dg Bapa yg artinya, Anak dan Bapa satu adanya.

Krn itu, kekeliruan terbesar anda adalah pada pernyataan bhw pd hakekatnya (Noah Webster: nature of a being or substance), Pekerjaan Kuli = Pelacur. Lalu belakangan ente mempertegas kekeliruan dg menyebutkan bhw hakekat kerja Kuli dan Pelacur sama saja yaitu sama2 pake otot dan tdk pake otak. Apa ente lupa bhw org bayar Kuli krn perlu tenaganya. Artinya Kuli mmg menjual otot. Tp substance Pelacur adalah menjual kepuasan sex, bkn sekedar otot krn otot baja tp tdk bikin nafsu mana laku. Sebaliknya yg tak berotot, tp suaranya mendayu-dayu pintar merayu justru yg laku keras. Jelas kan, satuya maen otot, sedangkan lainnya maen perasaan alias nafsu sex. Lho dimana sehakekatnya, Om Peter?

Ato ente mo ba omong esensi? Coba periksa lg defenisi Kuli mnrt @Agus di atas, krn di situ jelas sekali hakekat (essence or substance) kerja Kuli itu apa. Lalu coba ente cari defenisi Pelacur yg menunjukkan hakekat kerja PSK itu apa. Ujung2nya biar mata kelamis ente jd terang benderang, apakah Kuli sehakekat dg Pelacur,ato tidak.

Mengenai "marah", beta sonde bilang ente marah, apalagi maen keroyok. Jd sante sj, sonde perlu bawa2 nama Eman yg sodaranya byk yg kerjaannya sehakekat dg Pelacur mnrt anda.

Yg beta bilang itu, ente CULAS. Knp? Krn jelas2 ente yg keliru ttg HAKEKAT Kuli vs Pelacur, tp tnp malu2 nuduh @KD Look yg keliru. Makanya beta setuju dia bilang ente tu "maling teriak maling".

Bhw beta ini bodoh dan hanya merasa pintar, itu jg bae sudah. Toh ente dong yg sekolah tinggi2 dibayari Pemerintah, mutunya jg segitu-gitu ajah... Ngomong hakekat saa belepotan trus dg culas maen tuduh org laen yg keliru.. Pantas ko NTT tu sonde jd doi... Eitss jang mara oo...

-bonggo-

Anonim mengatakan...

KD Look nanya:
Woooi @bonggo, tuan org indonesia yg ada di Indonesia. Tolong jawab ini!!! Mengapa org Indonesia senang berputar-putar enggak karuan ketika dirinya tdk bisa menjawab pokok issue yg sedang digugat???

[Jawab]
Lha kan B su bilang itu ciri khas:CULAS. Org kupang bilang, "otak rote".

-bonggo-

Anonim mengatakan...

Bonggo

masih tidak tahu malu setelah di sikat BM tempo hari gara-gara mental dagang? Ah, orang culas kok mengatakan orang lain culas. Ikuti logika anda, jika semua org indonesia culas maka, anda, mama anda, bapa anda, kakak adik sepupu anda CULAS semua. Lha, orang culas kok memberi cap orang lain culas. Dasar culas....ha ha ha ha eh, sudah culas...hobinya keroyokan ha ha ha dasar culas ganda ha ha ha ha (Peter)

Anonim mengatakan...

kadeluk

kasi sudah teori-teorimu mengapa kamu tidak setuju dengan analogi saya di sini. Besok saya tanggapi...(peter)

Anonim mengatakan...

[Peter nulis]
masih tidak tahu malu setelah di sikat BM tempo hari gara-gara mental dagang? Ah, orang culas kok mengatakan orang lain culas.

{komentar]
Ha ha ha... Otak ente tu rupanya paling hafal yg begini ini.. Pantesan sok omong "hakekat", pdhl sonde tau apa2. Org kupang bilang buta knop, tp coba2 omong besar.

[Peter nulis]
Ikuti logika anda, jika semua org indonesia culas maka, anda, mama anda, bapa anda, kakak adik sepupu anda CULAS semua. Lha, orang culas kok memberi cap orang lain culas.

[komentar]
Ah, ini kan topik debat KD Look vs Eman. Coba cek poin 1 dr komentar Eman utk KD Look hr Selasa, 5 Agustus 2008. Jd rupanya ente salah alamat ttg ini.

He he he... Ini satu lg fakta ke-CULAS-an ente.

[Peter nulis]
Dasar culas....ha ha ha ha eh, sudah culas...hobinya keroyokan ha ha ha dasar culas ganda ha ha ha ha (Peter)

Masyaulloh @Peter... Lu pake nama Santo Kudus, tp omongannya sama sekali tdk menggambarkan kualitas yg baik dr seorang akademisi yg ngakunya lg dibayari Pemerintah sekolah di kampus megah UGM, Jogja.

Intelektualnya mana, Boss? Beta ni cuma Pekerja Kasar tp malu juga kalo ba omong deng org yg ngakunya studi S2 or S3, tp mata kelamis dan mulut belepotan ludah.

Beta su tantang Boss pung otak encer tu tentang pengertian "hakekat Kuli vs Pelacur", yg Boss bikin. Bukannya kasi tanggapan, malah sekedar ngoceh macam org mabok di atas. Krn itu sekali lagi beta tantang Bu pung otak yg katanya encer dan bukan CULAS.

Hakekat kuli adalah jualan tenaga kasar alias otot. Ini beta setuju. Tp, hakekat Pelacur jg jual otot? Ini naif. Krn Pelacur justru tdk perlu badan berotot, tp lbh byk pake otak. Dia musti pintar berdandan, pintar merayu, pintar bersikap yg menggoda, pintar cari t4 mangkal yg strategis, dan macam2 pintar lainnya. Apalagi jika judulnya Pelacur kelas kakap spt Geisha di Jepang. Makanya nonton dolu film bermutu, "Memoir of a Geisha". Bung Karno katanya pernah dapa hadiah seorang Geisha. Jadi jgn bikin keliru yg malu2in di sini. Lalu utk tahan malu, ente tnp malu2 tuduh org laen keliru. Apalagi komentar ente yg terakhir tuh.. Isinya cuma kata2 tak senonoh yg ndak intelek sm sekali.

Fakta2 ke-CULAS-an ente sdh jelas. Jd kita maen fakta sj, Boss. Bkn maen nuduh berbasis prasangka. Ko karmana, haa?

-bonggo-

Anonim mengatakan...

Saudara bonggo, saya baru selesai kuliah.

Sudah saya duga, beginilah kemampuan anda. Yaitu, curiga, menuduh ke bigmike dan saya), berprasangka, pendendam (ke A9ust) dan keroyokan. Gawat bung. GAWAT. GAWAT.

Saya mau kasi bukti ke semua sahabat blogger bahwa betapa gawatnya moralitas anda.
Dari mana anda tahu saya sekolah di UGM karena dibayari pemerintah? Siapa yng kasi tau anda? Duga-duga saja kan? Menduga, dan akibatnya tidak ada kepastian, tetapi menyatakannya ke depan umum tanpa klarifikasi adalah KECULASAN. PERSIS SEPERTI YANG DULU ANDA LAKUKAN KE BM. Baru liat penguuman nilailangsung mengumumkan kepada pembaca blogger bahwa BM bermental pedagang. Ckkk....cccckkkkk....ccckkk....ha ha ha ha ha

Nah, supaya jelas moralitas kita: ANDA JAWAB DULU SOAL YANG SATU INI. APA BUKTI ANDA BAHWA SAYA DUBAYARI PEMERINTAH. Karena diskusi kita tentang moralitas maka moral masing-masing harus jelas dahulu. JIKA tidak maka BIGMIKE betul tentang anda, ORANG TIDAK TAHU MALU DAN TIDAK TAHU DIUNTUNG. Di maafkan BM, bikin lagi ke orang lain....malu bung. Malu. Atau, jangan-jangan anda pada asarnya tidak tahu malu?????.

Berdiskusi dengan orang tidak tahu malu maka A9ust benar, yaitu hanya buang mutiara kepada BABI. Anda isilah sendiri siapa mutiara siapa babi (Peter)

Anonim mengatakan...

@ bonggo

Soal culas menculas, ah anda itu masih pura-pura juga ya????

Dalam rupa WILMANA, kata itulah yang anda ucapkan dan dikutip oleh NK dan kadeluk yang orangnya itu-itu juga ha ha ha ha lagi-lagi anda ketahuan bohongnya...

Apakah jawabmu wahai bonggo alias Wilmana? ha ha ha ha (lu pung lidah taga'e suda bu ha ha ha ha) (Peter)

Anonim mengatakan...

Soal hakekat kuli VS pelacur, saya sudah memberikan hipotesis saya. Hipotesis tandingan dari anda dan kadeluk belum saya lihat. Kalo nanti argumen anda lebih kuat ya itula resiko hipotesis. Ada untuk dipatahkan.

Sejauh ini, yang ada cuma pemutarbalikkan kata oleh kadeluk diikuti dengan olek-olok oleh kalian berdua. Jangan membalik posisi dong boss....dasar lidah tafeo ha ha ha ha (Peter)

Anonim mengatakan...

[@Peter nulis]
Soal culas menculas, ah anda itu masih pura-pura juga ya????

Dalam rupa WILMANA, kata itulah yang anda ucapkan dan dikutip oleh NK dan kadeluk yang orangnya itu-itu juga ha ha ha ha lagi-lagi anda ketahuan bohongnya...

Apakah jawabmu wahai bonggo alias Wilmana? ha ha ha ha (lu pung lidah taga'e suda bu ha ha ha ha) (Peter)


[komentar]He he he... Rupanya barisan pendukung Pak Harto juga ente... Sekali lg mental culas ente pamer di sini. Beta yakin ente tdk punya bukti otentik utk mendukung penyakit menduga-duga indetitas org, lalu bikin kesimpulan atas dasar prasangka busuk. Beta saran saa, ente copot tuh gelar akademis yg barangke-rangke... Krn mental ente sama sekali tdk ber-etika.

Termasuk jg copot nama Santo Kudus yg ente pake, tuh... Namanya keren tp kelakuan orgnya culas. Lbh cocok pake nama Nero. Yaah Kaisar Nero, lbh pas buat ente.

[Peter nulis]
Soal hakekat kuli VS pelacur, saya sudah memberikan hipotesis saya. Hipotesis tandingan dari anda dan kadeluk belum saya lihat. Kalo nanti argumen anda lebih kuat ya itula resiko hipotesis. Ada untuk dipatahkan.

[komentar]
He he he... Sudala jangan taputar pake otak rote di sini, Boss. Sdh jelas ente punya pendapat (ta'usa sok pake istilah akademis hipotesis segala, Boss. Ini bkn kampus) bhw hakekat kerja Pelacur adalah kerja otot sdh terpatahkan. Krn ternyata, Pelacur justru tdk mengandalkan otot mlulu, tp terutama otaknya jg hrs maen. Makanya ada Pelacur kelas rendahan, tp ada Pelacur kelas kakap yg bayarannya jauh lbh tinggi dr gaji PNS anda.

Kalo mo mangaku hipotesis sdh KO, na pake bahasa terang sj, boss. Tak usa taputar macang ke gasing. Hanya bikin nilai moral ente makin imoral di mata beta.

[Peter nulis]
Sejauh ini, yang ada cuma pemutarbalikkan kata oleh kadeluk diikuti dengan olek-olok oleh kalian berdua. Jangan membalik posisi dong boss....dasar lidah tafeo ha ha ha ha (Peter)

[komentar]
Yups, itu urusan ente vs KD Look. Beta cuma lia cara ente tuduh bhw dia keliru memahami hakekat Kuli vs Pelacur yg ente buat itu yg tdk benar. Knp? Spt yg B su bilang terdahulu, itu ciri2 sikap CULAS. Menuduh org laen keliru, pdhl ente sendiri jg keliru dan cuma omong besar.

Apapun itu, beta su ajar ente spy kl mo kastau org pung salah di sini, pake fakta dan data. Jd kl ente bilang ada "pemutar balikan kata", tunjukkan yg mana itu. Jangan cuma nuduh, pake kata2 tdk senonoh, maen gimmick, dan sikap2 berbasis prasangka busuk.

Inga ente tu titel akademiknya ada byk. Skrg jg lg studi lanjut, jd kasi tunjuklah sikap dan kata2 yg selaras, spy jelas INTEGRITASMU! Kl ngakunya org sekolah tinggi, akademisi, dst., tp sikap dan kata2nya CULAS, yaa jelas integritasmu jeblok, Pak. Tau kan apa itu integritas?

-bonggo-

Anonim mengatakan...

Heeiittttttttt......Bonggo...jawab dahulu pertanyaan saya DARI MANA ANDA TAHU BAHWA SAYA DI UGM DIBAYAR NEGARA?????? Tidak dijawab malah tafeo ke tempat lain.

WOIIIII SAHABAT BLOGGER....MAU TAHU CARA ORANG NTT KALAU SUDAH TIDAK BERDAYA???????LIHATLAH CARA-CARA SUDARA BONGGO ini.....PUTAAAARRRR BALEEKKKKKKK.....kata BALEK di kupang punya arti lain, yaitu ...kaleng,,,ya....kaleng rusaklah si bonggo....ha ha ha ha ha DASAR KALENG RUSAAAAAAKKKKKKK.....ha ha ha (Peter)

Anonim mengatakan...

@ bonggo

Pernah lihat saya pamer gelar??????? Saya ini orang bodoh oleh karena itu saya sekolah lagi. Anda itu atas nama WILMANA suka pamer kepintaran dan moralitas. Ternyata.......KALENG RUSAAAAAKKKKK....ha ha ha ha ha (Peter)

Anonim mengatakan...

@ Bonggo,

Apa kaitan Santo Petrus anda bawa-bawa?????? Nah, saya bantu anda menjawab: KARENA KALAP ha ha ha ha ha ha. RUSAK. RUSAAAAAAKKKKKKK (Peter)

Anonim mengatakan...

@ all,

Percakapan-percakapan terakhir ini merupakan "teladan terindah" dari bangsa kuli seperti esensi posting BM. Kalian sudah menjadi kuli kemarahan kalia sendiri. Bigmike anda khianati habis-habisan justru ketika dia sedang tidak berada "di rumah". Keterlaluan (Patrice)

Anonim mengatakan...

Wooii Bonggo... Lu mulai lagi dg penyakit usil ganggu orang. Dan spt biasa, yg kena sial sy, krn Saint Peter itu entah atas dasar apa begitu yakin menimpakan kekesalannya pada saya.

Saya menduga, jgn2 ini cuma hipotesis juga. Jadi, kl sy minta apa bukti yg otentiknya, dia bakal berkelit dan bilang, "itu kan cuma hipotesis".

@Pak Peter,

Bapak kan kaum intelektual. Jd jaga dong tutur katanya dan jgn terjebak maen tuduh-menuduh tnp dasar fakta dan data yg otentik. Terkait itu, hanya ada satu data utk membuktikan sy ini identik dg si bonggo. Seharusnya IP Address kami menunjukkan seri angka yg sama. Jadi, tolong tampilkan itu sbg bukti. Kl Bapak tdk bisa, yaa sorry saja. Bapak ga beda dg yg laennya, yg sekedar bikin hipotesis alias dugaan2.

Dan itu pekerjaan yg paling sia2 di sini. Knp? Krn scr etika, bigmike sdh bikin keputusan utk tetap menjaga rahasia identitas siapapun di sini. Anda tentu tdk mau nekat utk coba2 melanggar etika blog ini, kan?

Himbauan saya, hentikan sjlah hal2 yg tdk penting dan hanya bikin malu saja. Klpun Bapak pingin lanjut, 'tempurlah' pendapat si bonggo mengenai 'hakekat kerja Pelacur', krn itulah point kritik dia thd Bapak.

OK, mhn pengertiannya utk tdk membawa-bawa nama sy dlm berbalas sinis dg org laen di sini.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Bung Wilmana,

Mhn maaf kalo bu merasa gara2 beta, Bu kena fiti dari Santo Peter alias Kaisar Nero. Tp, mhn dicek, beta sonde pernah bawa2 Bu pung nama dlm berdola-dali dg si kerikil karang rongsokan itu. Tp itu murni akibat keculasan manusia abis akal.

@Peter
Kl ente merasa tdk layak kuliah di UGM dan dibayari oleh pihak lain yg bukan pemerintah, yaa tinggal klarifikasi sj, ente itu kuliah di mana dan sapa yg bayar. Abis perkara, toh. Kan ente yg bilang, namanya jg hipotesis. Gitu aja kok repot.

[Peter nulis]
Pernah lihat saya pamer gelar??????? Saya ini orang bodoh oleh karena itu saya sekolah lagi. Anda itu atas nama WILMANA suka pamer kepintaran dan moralitas. Ternyata.......KALENG RUSAAAAAKKKKK....ha ha ha ha ha (Peter)

[komentar]
Sekali lagi mohon maaf Bung Wilmana. Hrp maklum meski namanya diambil dr nama Santo Peter, tp kelakuannya bak Kaisar Nero. Beta malah curiga dia ni spt yg ditulis Santo Paul kpd Jemaat Kolose, "iblis yg menyamar pake nama malaikat".

[Peter nulis]
Apa kaitan Santo Petrus anda bawa-bawa?????? Nah, saya bantu anda menjawab: KARENA KALAP ha ha ha ha ha ha. RUSAK. RUSAAAAAAKKKKKKK (Peter)

[komentar]
Jadi, nama "Peter" itu bkn dr nama Rasul Petrus? Ato ente setuju dg usulan ko kitong ganti jd Kaisar Nero? B kira ini nama yg paling cocok dg lu punya karakter. Karmana?

@Patrice
Mhn maaf yaah.. Kl beta di sini mmg dr awal dikenal bercitra buruk. Malah gara2 itu, ada yg kasi cap beta sbg, PKI. Tp hr ini kita baru sama2 liat, ada yg lbh busuk lg. Pake nama Santo, mula2 nampak sopan dan santun. Ternyata dibalik itu tersimpan potensi ular biludak yg paling ganas.

Tp sy setuju dg sentilan ente. Krn itu, stlh ini sy memilih tdk lagi melayani emosi sang Kaisar Nero.

Sdh jelas dia tdk punya argumen lg utk membela tuduhan culasnya kpd si KD Look. Jg pendapatnya bhw hakekat Pelacur = Kuli, ternyata keliru dan tak berdasar. Dan bonusnya, cukup sdh utk membuktikan ular macam apa sebenarnya yg berada di balik nama "Peter" itu.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

Patrice:

Percakapan-percakapan terakhir ini merupakan "teladan terindah" dari bangsa kuli seperti esensi posting BM. Kalian sudah menjadi kuli kemarahan kalia sendiri. Bigmike anda khianati habis-habisan justru ketika dia sedang tidak berada "di rumah". Keterlaluan (Patrice)

Inilah cermin kekulian bangsa ini. Tp jgn katakan itu kpd si A atau si B, karena buat mrk kemarahan adalah karunia Tuhan. Sama halnya dgn sinyalamen anda bahwa @bm dikhianati abis-abisan disini. Oooh jangan. Jangan katakan itu ke tuan A atau tuan B karena mereka adalah sahabat setia @bm. Tidak ada yg salah disini, sama halnya dgn keterpurukan bangsa ini. BUKAN SALAH SAYA. (Lihat komentar saya sebelumnya!)

Peter:

kadeluk, kasi sudah teori-teorimu mengapa kamu tidak setuju dengan analogi saya di sini. Besok saya tanggapi...

Tanpa sadar gaya tuan sdh sama spt @bonggo yg tuan anggap spt kaleng rusak. Contoh: Tuan amat keberatan dikatakan sekolah tuan dibayari pemerintah dan teramat ngotot meminta @bonggo menjawab. Tp mengapa tuan tuduh saya dan NK orgnya sama? Tuan punya bukti apa??? Sadarlah, sentilan @patrice ditujukan juga buat tuan! @bonggo, kaleng rusak, sudah meminta maaf kpd @Patrice. Bagaimana dgn tuan???

Sebenarnya saya sdh hilang asa untuk memulai diskusi cerdas dgn tuan. Tp kalau tuan berkenan, jawablah dahulu 'gugatan' saya sebelumnya. Saya copy paste lagi disini:

Apakah otak menjadi satu-satunya ukuran??? Bisa jadi semua yg tdk pakai otak hakekatnya pelacur. Begitu??? Bagaimana dgn ukuran moralitas??? Kakek saya adalah seorang kuli jalan di pulau Timor, tp jangan sekali-kali anda katakan ia seorang pelacur. Anda bisa di kadeluk. Saya memilih menjadi seorang kuli bermoral ketimbang seorang cerdik pandai tdk bermoral. Mungkin anda bisa jawab ini: persoalan kebangsaan kita, siapa penyebabnya? Kuli tdk berotak atau cerdik pandai berotak licik dan culas???

Pokok issue adalah "Kuli Vs Pelacur." Menganalogikan kuli dan pelacur hanya karena sama-sama bekerja tdk pakai otak amatlah janggal dan absurd. Saya sdh kasih contoh. Kalau tuan pakai analogi yg sama thd kakek saya, seorang kuli jalan (kupang- atambua), bisa jadi tuan dipukul babak belur. Mengapa? Buat kakek saya, pelacur tdk ada harga diri sedang dia, walau seorang kuli, punya harga diri dan hanya Tuhan Allah yg boleh langgar. Cerita kakek saya memukul org karena merasa harga dirinya dilecehkan amat legendary di kota kupang dan atambua. Esensi gugatan saya ini thd tuan sama spt gugatan @bonggo tp tuan menolak menjawab sekedar ngotot pd soal yg bukan esensi.

Dus, mari kita bicara esensi. Lupakan emosi, gimmick serta aksesoris yg ada. Silahkan jawab gugatan saya diatas, kalau tuan berkenan!!!

Bonggo:

@Peter, Kl ente merasa tdk layak kuliah di UGM dan dibayari oleh pihak lain yg bukan pemerintah, yaa tinggal klarifikasi sj, ente itu kuliah di mana dan sapa yg bayar. Abis perkara, toh. Kan ente yg bilang, namanya jg hipotesis. Gitu aja kok repot.

Tuan hrs sudah sadar bahwa buat mrk yg gemar mempersoalkan hal sepele, jawaban tuan itu aneh bin ajaib. Yg membuat saya bingung, 3 figur disini (A, E, P) yg menjadi teramat marah untuk hal sepele dan 'lari' dari esensi persoalan adalah org kupang, NTT. Mengapa watak org timur spt itu??? Apa ada korelasi dgn keterbelakangan kita dalam segala bidang??? Sudilah tuan memberi pencerahan. Terima kasih.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look,

Beta sonde mau tunjuk idong siapapun, krn nanti dorang emosi lai. Tp, mari kitorang bahas pertanyaan Ama.

Begini, kita org NTT ini punya problem besar pd karakter daya kendali emosi yg by nature, sangat rendah. Krn itu, org2 NTT di blog ini asal ditekan sadiki dg kata2 sarkastis, pasti konsentrasinya berantakan. Bigmike berkisah, berkali-kali ngambek tdk mau ketemu dosen, hanya krn tersinggung di suruh nonton kursi di tanah lapang selama berjam-jam. Bertahun-tahun beta gagal psikotes khusus pd aspek ini. Tp dari situ beta belajar utk mengendalikan diri, malah sampe belajar tai-chi segala. He he he, abis mo belajar tarian Jawa, nanti bs terlalu gemulai.

Nah, persoalan lain adalah mental inferior yg bersumber dari rasa minder akibat kemiskinan yg "abadi". Posisi mental ini dlm pola iceberg kompetensi, tersembunyi jauh didasar sekali. Jadi, jarang ada org NTT yg menyadari substance problem ini. Mental ini membuat kita cenderung menerima kritik sebagai suatu ancaman dan hinaan. Apalagi jika kritik itu disampaikan dg aksesoris kata2 sarkastis dan gimmick yg menggoda emosi.

Org NTT yg tadinya munduk-munduk sangat santun, bs mendadak berubah mjd Singa lapar yg dg garang mempersoalkan yg aksesoris dan sonde peduli lai dg substansi kritik yg ditujukan org lain kpd mereka. Di dunia kerja, seringkali pekerjaan ditinggalkan begitu saja hanya gara2 mempersoalkan hal yg bersifat aksesoris ini. Yah, bg kaum inferior dilengkapi dg karakter yg gampang emosian, hal2 yg bagi org laen cuma bahan bercanda yg sepele, tp bg mereka itu hinaan dan hrs diselesaikan dg perang.

Di sini, beta paling senang korek kaum inferior di sini. Biar ko dorang lama2 sadar mengenai masalah berbahaya yg jarang disadari oleh kita org NTT ini. Beta pung Kaka terkenal tukang ngambek. Bahkan demi hal2 sepele yg bg dia adalah "harga diri", dia harus berkali-kali kehilangan pekerjaan krn ngambek sonde mau maso kantor.

Nah, beta harap ente bs maklum dg masalah substance psikologis kita org NTT, yg tnp sadar membuat kitorang org NTT sulit maju, apalagi mjd Pemimpin yg sukses.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

-Tuan @wilmana-

Tuan adalah seorang cerdik pandai juga dan tuan tentu mengikuti debat panas disini. Saya pingin bercerita kepada tuan. Begini.

Berbekal hipotesis tuan @peter, saya tadi sore bertemu sahabat karib saya yg sedang studi S2. Untuk 'mencukupi' kebutuhan hidup disini, istrinya bekerja malam hari di universitas sebagai juru bersih (cleaner). Dengan muka agak serius saya katakan kpd istri sahabat saya itu, "Kamu khan cleaner alias kuli, kerja enggak pakai otak. Tau enggak, kamu itu hakekatnya pelacur."

Aaaaaaaaaah benar sekali tebakan tuan. Saya dicaci maki abis-abisan oleh istri sahabat saya itu. Saya lalu mencoba menjelaskan analogi versi tuan @peter tp tdk peduli seberapa baik saya jelaskan, dia tetep marah. Bahkan suaminya, sahabat saya itu, mengajak saya berkelahi.

Tuan, ada apa dgn hipotesis tuan @peter itu? Mengapa sahabat saya menjadi berang???

Mohon pencerahannya tuan karena sesuai pesan @bm, data harus dibalas data, analisa dibalas analisa, hipotesis harus bisa dibuktikan validitasnya.

-Tuan @bonggo-

Beta dulu masi kici ada kaka yg 'jahat' mau mati. Istilah kata, katong adi2 dong, batok saaa bisa dapa falungku. Bukan cuman deng adi2 saaa di ruma, diluar ju paitu ganas mau mati. Dia suka maen bulu tangkis. Tagal kala saaa, kalu ada yg barani katawa dapa falungku.

Jadi batul tuan, org kupang pung temperamen memang legendary, ha ha ha. Beta pung bapa tukang puku org. Kici besar, tua muda, laki parampuan, ibu bapa, sonde tebang pilih. Kalu dia su mara, lu abis.

-KD Look-

PS. Saya dan sahabat + istri yg saya cerita diatas suhah berdamai. Beruntung karena sahabat saya itu pembaca setia blog ini juga, jadi dia bs mengerti alasan saya beranalogi kuli vs pelacur dgn istrinya. Hi hi hi. Lucu dan mendebarkan!

Anonim mengatakan...

Tambahan...

Tp tuan bonggo, beta pung bapa adalah seorang pemimpin yg sukses dan walau dia suka puku org, org dong sayang sang dia. Menurut analisa jarak jauh tuan, apa yg bisa beking org senang/sayang kpd bapa saya yg pemarah???

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look

Beta lia ente ada tanya Bu Wilmana yg terkait deng beta. Beta jadi tar enak, nanti dia jewer beta lai krn yg Ama tanya tu beta pung urusan dg @Peter.

Begini, beta dukung Ama itu harusnya sonde boleh dipandang sbg membenci @Peter. Hanya org culas yg membuat pandangan busuk spt ini, lalu menuduh beta maen keroyok deng dia. Dukungan beta itu sbtlnya kritik thd @Peter yg mana pendapatnya itu beta lia mengandung distorsi pemahaman thd hakekat kerja Kuli vs Pelacur. Sayangnya, spt dugaan beta thd kebanyakan org NTT, beliau ini mengidap penyakit gampang naek darah dan mental inferior. Jadi bukannya identifikasi mana poin kritik beta, tp malah sibuk menuduh beta ada maen keroyok. Knp beta bilang paitua ada distorsi?

Pertama, beta su ulas pengertian "hakekat" yg artinya substance, essence, ato nature of a being. Aristoteles punya dua pengertian ttg hakekat, dan Stoa bikin tamba satu lg yg dipake oleh org kristen utk menjelaskan konsep Trinitasnya. Krn itu dlm Credo Nicea disebutkan sang Anak bukan dijadikan dan 'sehakekat' dengan Bapa. Sayangnya, sekali lg @Peter sonde ada tanggapan berarti kecuali maen gimmick dan kata2 sonde cerdas.

Kedua, beta ulas lg hakekat Kuli dg mengutip penjelasan Bu Agus bahkan minta dia jg ikut cek ulang penjelasan Bu Agus itu. Tp, sekali lg balasannya cuma maen gimmick, nuduh, bahkan menjurus pelecehan.

Ketiga, beta bahkan ulas jg hakekat Pelacur yg dlm bekerja sonde mengandalkan otot, melainkan kelihaian berdandan, penampilan, merayu, cari tampa mangkal yg strategis, high-skill di ranjang, dll. Di Jepang, ada Pelacur tingkat tinggi, Geisha. Utk menjadi Geisha yg laku, mereka hrs mengikuti pelatihan kepribadian, tata krama, teknik menarik perhatian, berdandan, termasuk skill di ranjang. Sungguh kerja Pelacur ini bukan sekedar bermodalkan tenaga kasar shg aneh kl dibilang sehakekat dg kerja Kuli. Apakah para Geisha menderita krn itu? Tdk juga krn bahkan byk yg sjk kecil bercita-cita jd Geisha. Krn dg modal otak yg cerdas, mereka bs jg berguna bg intelijen negara dan bangsa. Dlm Alkitab ada jg bbrp cth tulisan ttg 'Pelacur' yg berjasa bg negara. Beta sampekan ini ke si Peter, tp sekali lg tanggapannya sungguh sonde menggambarkan kecerdasan.

Apapun itu, seharusnya beliau tdk serta merta menyatakan kerja Kuli itu sehakekat dg Pelacur. Apalagi yg dimaksudkan adalah sama2 mengandalkan otot, ato sama2 didera kekerasan. Krn kerja Kuli cenderung tdk perlu skill tinggi, tp Pelacur wajib punya skill utk bs laku dan otak memainkan peran besar di sini. Kuli jelas nampak menderita krn mmg kerja fisik, tp Pelacur? Apalag yg high class, bahkan mgkn sj ada yg jadi artis terkenal.

Mengenai ente pung Bapa. Beta kira analisanya gampang saja. Beliau org NTT yg by nature gampang marah. Tp kl beliau jg disayang byk org, itu bs jd krn beliau berhasil mengatasi mental inferior kaum miskin yg cenderung menerima kritik sbg ancaman dan hinaan. Ada satu faktor yg jg tdk boleh dilupakan adalah prinsip moral. Meski pemarah tp kl org NTT dibekali dg prinsip moral yg teguh kukuh pd apa yg baik dan benar, serta tdk mudah tergoda utk berlaku busuk, membalas sinis dg sinis, mk ini akan membuat mereka sukses mjd Pemimpin yg dihormati dan disayang kawan serta disegani lawan. Sikap yg teguh pd prinsip moral dan tdk peduli utk itu hrs tarik garis demarkasi dg para sahabat yg menyeleweng, akan membuat org NTT mampu mengendalikan mental inferior-nya. Sayangnya sistem pendidikan kita di NTT msh blom mendorong pembelajaran budi pekerti spt ini. Pembinaan di gereja, apalagi di rumah malah lbh parah lg. Spt Pak Eman bilang, byk anak remaja di kampung yg pintar2, tergoda punya uang byk, lalu ambil jln pintas dg mjd Kuli. Di Kupang, byk jg anak remaja jd Preman pinggir jalan malak pr sopir bemo. Yg sekolah tinggi-pun sangat jarang yg mampu mengatasi problem psikologis shg gagal mjd Pemimpin yg sukses.

Ada pepatah cina bilang, "drpd mengukuti kegelapan, lbh baik ambil sebatang lilin dan nyalakanlah". Tp coba Ama cek, brp perguruan tinggi di NTT yg punya fakultas psikologi utk bs bikin klinik melayani kebutuhan problem bsr psikologi org NTT ini. Bs jd NTT tdk maju2 krn orgnya sibuk mengutuki kemiskinannya, tnp solusi berarti. Wong kita yg kasi kritik sj, malah ditanggapi dg marah bringas, kok.

Ok, moga2 ente puas dg penjelasan ini.

-bonggo-

Anonim mengatakan...

Tuan @bonggo

Saya kira memang tdk pantas analogi bangsa kuli dikatakan sehakekat dgn pelacur dlm konteks keindonesiaan dimana kata pelacur sinonim dgn ketiadaan harga diri. Kalau kita menyimak esensi tulisan @bm, harga diri adalah segala-galanya karena tanpa itu, tdk ada harapan untuk bangkit.

Tentang argumen tuan, walau tdk menyentuh sisi moralitas, saya dpt memahami argumen tuan. Untuk katakan semua pelacur bekerja tdk pakai otak memang naif.

Hal ayah saya, saya terkesan dgn teori prinsip moral tuan. Ayah saya amat junjung tinggi moralitas baik. Dia hanya akan marah yg teramat sangat jika moralitasnya diusik. Dia hampir tdk pernah, setahu saya, membalas jahat dgn jahat, sinis dgn sinis. Saya kira prinsip moral spt ini yg hilang dari generasi penerus bangsa ini. Jahat balas jahat, sinis balas sinis menjadi norma dalam kehidupan kita, tdk terkecuali disini.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look,

Trims atas pertanyaannya:
Tuan, ada apa dgn hipotesis tuan @peter itu? Mengapa sahabat saya menjadi berang???

Jawab
Tapi ga usa pake istilah 'tuan'. Jadi malu saya diangkat tinggi2, ntar dibanting plus timpa tangga.

Begini, hipotesis @Peter rupanya dibangun atas dasar pengamatan thd kerja Pelacur kelas kolong jembatan ato pinggir rel yg 'menjual diri' kpd kaum pengemis dan penjambret rendahan di pasar2 tradisional. Kerja Kuli yg dimaksudkan adalah kerja Kuli ala pemuda2 Flores yg dianggapnya 'menjual diri' ke Malaysia.

Sepintas lalu hipotesis ini OK krn sama2 'menjual diri' utk bayaran rendah yg tak setimpal dg 'harga diri' mrk sbg manusia. Dr parameter 'menjual diri' kita bs sj menyatakan Kuli dan Pelacur sehakekat. Ini cocok dg pengertian hakekat yg ke-2 mnrt Aristoteles yg belakangan dikutip oleh Aquinas. Yah, kayak rumpun Mamalia yg hakekatnya adalah sama2 menyusui, tp kuda dan manusia tentu tdk identik, toh?

Sayangnya, @Peter mengusung 'otot' sbg parameter hipotesis 'Kuli sehakekat dg Pelacur'. Parameter ini nampaknya lemah krn menimbulkan pertanyaan dr ente yg kmdn didukung oleh si bonggo.

Sayangnya lagi, @Peter termakan jurus mabuk anda berdua (KD Look & bonggo), shg sibuk mengurusi sarkasme dan lupa mengurai plg tidak meluruskan parameter hipotesisnya.

Kalo sahabat anda mjd berang, yaa wajar sj. Krn kerja Kuli yg dia lakukan sbg Cleaning Service jelas tdk dlm kategori 'menjual diri' sbgmn kerja Kuli para Pemuda Flores yg dipersoalkan oleh Om Eman dan jg @Peter di sini.

Nah, moga2 selanjutnya kalian bisa berdiskusi dg lbh cerdas dan cermat. Meski anda Kuli dan ngaku bodo, @Peter jg ngaku bodo jd perlu sekolah terus, tp pd hakekatnya kalian bukan idiot, bukan? Bonggo sy kira sdh hilang maboknya, jd selanjutnya @Patrice tdk perlu bikin tuduhan baru pd kalian, PENGKHIANAT!

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Bonggo

Penjelasan anda ttg mental inferior di atas cukup menarik. Dlm pengamatan saya, ini rada sejalan dg kata2 Plato yg dikutip @nyong kupang pada 04 Agustus 2008, sbb: ONE OF THE PENALTIES FOR THOSE WHO REFUSE TO PARTICIPATE IN POLITICS IS TO BE GOVERNED BY THE INFERIORS.

Mungkin anda bs minta @NK sedikit menguraikan hal ini.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Tuan @wilmana

Saya perlu meluruskan premis argumen saya, yg mana saya sampaikan juga dalam debat panas saya dan tuan @eman. Saya memandang kuli sebagai profesi bukan individu kuli yg rela dilecehkan demi uang. Dus, dari awal posisi saya sudah jelas.

Gugatan saya terhadap tuan @peter adalah ini:

Apapun juga, menjadi bangsa kuli yang hanya mamou menjual otot nyaris tidak ada beda hakekatnya dengan pelacur.

Apa artinya ini??? Apakah profesi kuli sehakekat dgn pelacur??? Apakah otak satu-satunya ukuran??? Bagaimana dgn ukuran moralitas??? Kehancuran bangsa ini, siapa penyebabnya? Kuli atau cerdik pandai yg berhati culas?? Ini yg harus dipertanggungjawabkan oleh tuan @peter. Namun sayang, sampai saat ini dia belum mau mempertanggungjawabkan kata-katanya disini. Yg ada malah sebaliknya. Dia sibuk memberi cap busuk kepada saya.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look

Mari kita simak pendapat @Peter berikut: Apapun juga, menjadi bangsa kuli yang hanya mamou menjual otot nyaris tidak ada beda hakekatnya dengan pelacur. Banyak uang tetapi berbalut deraan.

Pertama, @Peter menyatakan Kuli sehakekat dg Pelacur atas dasar dua parameter: otot dan deraan. Pendapat ini nampaknya berbasis pd pengamatan sepintas beliau atas profesi Kuli yg dijalani oleh pr Pemuda Flores serta lakon Pelacur kelas pinggir jalan ato bantaran kali.

Kedua, lbh jauh lg sy menangkap isu moral juga melalui stetmen @Piter berikut ini: Banyak uang tetapi berbalut deraan. Bg sy, ini adalah gambaran ttg bangsa Indon yg mau sj menerima deraan (hinaan alias jual harga diri) demi uang.

Ketiga, pendapat beliau yg spt di atas mmg terbuka utk dikritisi krn parameter yg digunakan rada2 rapuh. Apakah benar bhw Kuli itu pasti tdk punya harga diri lagi? Apakah benar bhw Pelacur hanya mengandalkan otot? Ini menggugah anda utk bertanya ttg parameter yg terkait moralitas. Lalu penggunaan terminologi 'hakekat' jg nampaknya bermasalah. Ini menggugah si bonggo utk mempermasalahkan.

Mnrt sya, kritik-mengkritik itu hal biasa. Yg ora ilok itu adalah maki-memaki di antara kalian.

Kalo anda tanya apakah hakekat Kuli = Pelacur? Yaa tdklah. Ini kl kita bicara hakekat ato substance, ato essence Kuli vs Pelacur. Krn hakekat Kuli itu suply tenaga kasar, sementara hakekat Pelacur itu suply kepuasan sex. Tp di luar batas hakekat, sy melihat ada jg antara ciri yg sama antara Kuli dan Pelacur.

Tp kalo dlm konteks sempit karakter para Kuli ala pemuda flores yg 'menjual diri' ke boss2 malay demi uang, ini bs disebut 'sehakekat' dg Pelacur yg jg hakekatnya adalah 'menjual diri'. Kuli model begini mmg tdk peduli harga diri lagi, asal dapat uang byk. Jadi, sebetulnya cocok dg isu besar anda dri posting ke posting, terkait Indonesial ala bigmike. @Peter mgkn mau bilang bhw bangsa kita adalah bangsa Kuli yg nekat 'menjual diri' demi uang, dan ini tdk beda dg Pelacur yg jg 'menjual diri' demi uang. Ada data yg mendukung ini. ACGA menempatkan praktek GCG Indonesia di tahun 2007 ada di urutan ke-10 dr 10 negara ASEAN. TI thn 2007 menempatkan index korupsi Indonesia ada di urutan ke-143 dr 179 negara.

Sayangnya, @Peter tdk mengekspose motive 'jual diri' ini scr lbh terang shg terkesan hanya mengukur otot dan derita fisik, lalu melupakan mslh moralitas 'jual diri' yg anda kejar. Sayangnya jg, @Peter menggunakan terminologi 'hakekat' dlm rumusan hipotesisnya yg tdk nyambung dg parameternya.

Tp mmg ada yg aneh dg @Peter. Entah knp, belakangan beliau membantah bhw dia tdk bermaksud menyatakan bangsa yg nekat 'menjual diri' ini sama dg bangsa Pelacur. Apakah krn beliau sadar bhw pd hakekatnya Pelacur lbh busuk dr Kuli? Nah, kl ini sy jg tdk mengerti lg jalan pikiran beliau. Hanya dia yg tau dan moga2 dia berkenan menjelaskan dg cerdas.

Terakhir, @KD Look, sy liat keras kepalanya anda utk ttp manggil sy "tuan" dpt mjd bhn diintrospeksi. Mgkn, sekali lg mgkn sj, ini yg bikin @Peter dan @Eman naik pitam sama anda. Tp sy ga ga mau mjd sama dg mereka berdua, meski sy hrs kasi ingat anda bhw ada tertulis, "jgn mencobai Tuhan Allahmu"..

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Baiklah saya hilangkan saja kata 'tuan' walau tdk ada maksud apa-apa.

Sdr berkali-kali mengangkat isu kuli di malaysia yg kemudian sdr asumsikan menjadi dasar kritik @eman dan @peter. Saya dpt memahaminya. Tp saya teramat bingung dgn argumen mereka, khususnya @eman. Mungkin sdr bisa membantu memberi pencerahan. Mari kita lihat apa yg dikatakan @eman:

Di mata orang Malaysia, orang Indonesia adalah bangsa kuli atau bangsa budak. Orang bodoh yang tidak bisa kerja pakai otak, hanya bisa menjual tenaga... Dibayar murah. Diperlakukan layaknya budak atau kuli... Tidak heran bahwa jutaan orang Indonesia disiksa, didera, diperkosa oleh tauke di Malaysia.

Dari mana sumber data jutaan org Indonesia disiksa, didera dan diperkosa di Malaysia? This is a crime against humanity! Dimana pemerintah RI menyikapi ini semua? Mengapa @eman dan @peter lebih menyoal sikap pekerja Indonesia yg rela 'menjual diri' ke Malaysia demi ringgit??? Aren't we missing the real problem here???

Kedua, kuli Indon di Malaysia "dibayar murah. Diperlakukan layaknya budak atau kuli." Standar peradaban mana yg dipakai @eman??? Barat kah yg membayar kuli cukup untuk hidup layak spt manusia??? Atau Indonesia??? Kalau jawabnya Indonesia, lebih baikkah kondisi kuli indo di Indonesia??? Bukankah @eman sendiri katakan pekerja indon ke malaysia karena dibayar lebih baik??? Lalu, lebih jahat mana, Malaysia atau Indonesia???

Sdr @wilmana, kejanggalan diatas membuat saya berasumsi bahwa @eman dan @peter cendrung menyalahkan kuli ketimbang bicara hal terpenting, solusi melindungi mereka. Bukankah keberadaan kaum kuli dan org upahan rendah lainnya adalah realitas kehidupan hidup ini??? Kalau iya, mengapa kita lebih menyoal mereka yg harus bekerja untuk hidup ketimbang menyoal, misalkan, fungsi negara untuk menjamin hak-hak hidup semua org termasuk kaum kuli tdk berotak??? Termasuk pelacur???

Mohon beri pencerahan! Maaf sdr wilmana, sebenarnya saya sampaikan ini ke @eman tp saya sudah tdk bernafsu lagi saat itu karena dia hanya mau pamer emosi disini.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look,

Mhn maaf, sy sangat sibuk hari ini jd br sempat mampir di sini. Baiklah mari kita mulai.

Pertama, mengenai angka jutaan yg disebut @Eman, hrp tdk dipahami sbg data, tapi itulah yg namanya gaya bahasa hiperbola. Sebetulnya beliau hanya mau bilang banyak, tp entah krn kebiasaan maen angka, ato ada alasan laen maka keluarlah angka jutaan itu.

Kedua, mengenai sinisme @Eman thd Kuli yg disamakan dg Budak, ini jg beliau sdh jelaskan alasannya krn ada pengalaman traumatik dg menghilangnya Pemuda2 Flores yg pintar2 krn memilih mjd Kuli di Malaysia. Efek traumatiknya makin parah ketika melihat ada dampak buruk gaya hidup para Kuli itu saat mudik ke Flores bg anak2 remaja di sana. Para remaja yg tadinya bercita-cita mjd Guru, Dosen, Bupati, Gubernur, dll, lalu mengubah cita2nya mjd Kuli.

So, @KD Look, hrsnya kita membaca kisah sedih plus geram @Eman thd kondisi ironis di Flores ini tdk dlm perspektif negatif. Tp sy setuju bhw dlm nada sedih, kecewa dan geramnya, @Eman terkesan mempersalahkan para Kuli. Sy kira pd hakekatnya, @eman jg sadar akan kegagalan kita semua (all stakeholders) dlm mengentaskan kemiskinan selama 63 tahun pembangunan Indonesia.

Ketiga, bhw root-cause-nya adalah masalah moralitas, rasanya @eman jg tdk akan membantah. Beliau cuma sejalan dg saya ketika berdebat dg @NK, bhw dlm kolam Indonesia yg butek ini, toh masih ada jg ikan Mas. Jadi, jgn bilang semua org di Indonesia culas. Nah... kl tdk salah, ini kan kritik beliau thd anda.

Keempat, terkait kritik itu, sy kira ini seharusnya bs diselesaikan tnp marah2, lalu berbalas sinis, krn hanya soal gaya bahasa hiperbola sj itu. Rasul Paulus (alm) nulis kpd Jemaat di Roma bhw semua manusia telah berdosa. Tp pd bagian lain suratnya, beliau mengindikasikan bhw itu hiperbola sj dg menulis Yesus tdk pernah berdosa.

Hal sepele, tp begitulah kita org NTT yg gampang naek darah dan mnrt si bonggo, makin sensitif jk mental inferiornya dikorek-korek.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Wilmana

Terima kasih atas respon baliknya. Akhirnya saya berhasil mendemonstrasikan, melalui sdr, bahwa gaya bahasa, entah hiporbola dll, bukanlah pokok soal. Tp kita, manusia timor yg bermental inferior, minjem teori @bonggo, selalu terjebak pd gaya bahasa, lalu marah dan sinis. Contohnya adalah pd pernyataan saya bahwa keterpurukan bangsa ini akibat semua manusia Indonesia culas. Rupanya @eman dan @peter menjadi berang thd kata semua yg mereka sendiri artikan secara hurufiah + kampungan. Tanpa malu menuntut saya mengakui bapa saya, mama saya, kakak adik saya termasuk manusia culas. Saya teramat geli dgn tuntutan ini karena kalau mereka konsisten dgn tafsiran hurufiah, maka mereka harus juga menyebut org tua mereka, kakak adik mereka, semua keluarga mereka. Seandainya mereka menyebut keluarga mereka juga, termasuk mereka sendiri, maka apa boleh buat, saya akan mengaku, mereka termasuk manusia culas, ha ha ha, biar rame toh. Ko karmana?? Ha ha ha... 1000X

Tp sudahlah, saya tdk berharap banyak kpd mereka yg gemar pamer emosi. Eeeh, dimana si @peter yg berjanji mau kesini? Ketika saya katakan dia lari bersembunyi, dia artikan hurufiah, lalu marah dan cap saya penuduh. Tp kemarahan dia membuat dia lupa esensi, yaitu moralitas yg baik adalah ketika mengeluarkan opini liar, memberi cap busuk kpd org lain, yg bersangkutan tdk boleh pergi begitu saja, apalagi sudah janji. Semoga, kalau dia muncul dan memberi komentar, dia mulai dgn kata 'mohon maaf.' Semoga.

Oh ya, saya ingat kata-kata sdr itu, 'didalam kolam butek sekalipun ada ikan mas.' Tp dalam kolam butek, saking buteknya, ikan mas pun sulit kehilatan walau ada. Bagitu ko?? ha ha ha.

Okelah, saya akhiri saja bincang-bincang disini. Sekali lagi terima kasih banyak atas pencerahan sdr.

Semoga @bm segera menulis lagi.

-KD Look-

Anonim mengatakan...

@KD Look,

Memang seharusnya tdk perlu mengurusi sarkasme, gimmick, dan godaan lain yg gampang mengganggu konsentrasi mengidentifikasi poin kritik lawan debat. Lbh tdk etis lg adalah kita yg suka pake kata2 sarkastis dan gimmick, lalu marah2 jk lawan debat membalas sarkastis dan gimmick pula. Ini sungguh tdk dewasa. Tp, begitulah para tua2 adat di blog ini. Kita hanya bisa urut dada.

Jadi, mereka marah pd ama itu krn tdk suka ama tambahin kata2 sarkastis pd kalimat kritikan ama. Cthnya ini: Rupanya @eman dan @peter menjadi berang thd kata semua yg mereka sendiri artikan secara hurufiah + kampungan.

Seandainya ama tdk sisipkan kata sarkastis "kampungan" di atas, mungkin mereka akan enjoy debat dg ama. Sialnya, mereka sendiri gemar maen sarkasme dan gimmick, apalagi @Peter.

OK-lah, sy jg setuju ama tutup buku sj dg mereka ttg hal ini. Semoga di posting berikut kalian bs lbh cermat bermaen sarkasme, gimmick, dan mengendalikan emosi.

(Wilmana)

jabon mengatakan...

di dunia ini tidak ada yang abadi, kecuali
1. Tuhan
2. Perubahan