Minggu, 24 Agustus 2008

Allah...... Ada...tIAda... atau antara Ada dan tiaDa?

Dear sahabat bloggers,

Mudah-mudahan anda masih mengingat dengan baik-baik bahwa salah satu sahabat kita di Kafe Permenungan ini, sahabat yang banyak maunya, adalah NK atawa Nyong Kupang. Setelah satu dan lain hal yang menyebabkan saya terpaksa memainkan fungsi moderasi, tampaknya saudara NK merasa kurang nyaman. Lantas .....bbbbbuuuusssszzzzzzz.......dia menghilang bagai ditelan bumi. Akan tetapi meski yang bersangkutan mengaku demikian saya tetap merasa bahwa NK sebenarnya tidak kemana-mana. Dia tetap berada di dalam blog ini sambil bermalih rupa he he he he. Lama-kelamaan dia tidak betah bersembunyi dan ....saya benar.....akhirnya dia muncul kembali sambil tergopoh-gopoh menyerahkan tulisan.....boszzzzz naskah ini mutunya jempolan punya....pasti top markotop ...... harap dimuat sebelum artikel lain....... (agak memaksa juga). Maka, meskipun sebelumnya sudah ada 1 berkas bakal artikel lainnya yang siap untuk diposting, terpaksa saya mendahulukan permintaan NK. Bukan apa-apa, saya takut dia menghilang, malih rupa lagi, nongol lagi, menghilang lagi dan...ahhhh...mondar-mandir. Bikin repot saja ha ha ha ha. Nah berikut adalah posting lengkapnya yang judul maupun isinya tidak saya ubah apapun kecuali tanda-tanda baca yang saya sesuaikan plus insert gambar. Selamat membaca dan selamat berdiskusi.

Dalam posting berjudul “Que Sera Sera: Bapa yang Berdaulat” (2008 Juli 26) terjadi debat menarik antara @bonggo, @DoSa, @proxy73 @wilmana dan saya. Menarik karena debat kami adalah debat tua, teramat tua, dari abad medieval (pertengahan), tentang classical theism. Silahkan anda baca http://www.blogger.com/%3C/span%3E%3Ca%20href=“>disini! Debat kami berhenti pada pertanyaan ini: Apakah Allah adalah sebuah realitas atau sekedar konsep manusia? Pada titik ini, @bm turun gunung membawa wejangan: “Perkemban gan diskusi dalam topik Bapa dan Que sera sera bagi saya telah mencapai suatu tahap yang berbahaya…” Debat melelahkan? Ya! Tidak ada gunanya? Siapa bilang! Berbahaya? Hhmmm… saya kurang mengerti dimana letak bahayanya. Mungkin, I could be wrong, berbahaya dalam ‘gaya’ masyarakat Indonesia mengimani keberadaan Sang Pencipta, membunuh sesamanya, jika perlu, yang meragukan/menyangkal keberadaan Sang Khalik atau menyakini Allah yang berbeda.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu http://blogberita.net/2008/06/25/dua-pertanyaan-tanpa-jawaban-soal-tuhan/"> sebuah tulisan blog yang mengajukan pertanyaan ini: Dari mana asal Tuhan, apakah Dia tiba-tiba ada? Dalam kolom komentar, ada 165 komentar, jumlah yang 'luar biasa' untuk ukuran blog Indonesia. Komentar amat beragam. Ada yang sekedar mengutip ujaran kata musisi terkenal John Lenon, "God is a concep," sedang kebanyakan berada pada posisi ekstrim, minjem istilah @bm, PERCAYA. Simak ini!

"...pikiran kita manusia, tidak akan mampu menilai Dzat yang memiliki maha kekuasaan di dalamnya."

"Ngapain sampe nanya darimana asal usul Tuhan. Pokoknya Tuhan itu Ada dan Maha segal-galanya, yang menciptakan isi Langit dan Bumi..."

"... Untuk mengenal Tuhan, janganlah kita memakai logika atau pemikiran manusia. Tuhan adalah Tuhan dan manusia adalah manusia. Tuhan adalah Roh sedangkan manusia adalah daging. Oleh karena itu, agar bisa mengenal Tuhan, maka kita harus terlebih dahulu diurapi dengan Roh Kudus."

Lets go back to the question for a bit, apakah mempertanyakan keberadaan Allah sama dengan menyangkal keberadaanNya? Meyimak reaksi pembaca diatas, amat terkesan sikap percaya mengorbankan akal budi. Dalam sikap percaya yang 'buta' seperti ini, tidak heran, reaksi yang melulu muncul adalah 'pokoknya.' Pokoknya harus begini, begitu. Pokoknya harus beriman. Pokoknya jangan pakai logika. Pokoknya... pokoknya... TITIK! @bm benar, debat tentang konsep/realitas Allah dalam sikap ekstrim ini berbahaya.

Bagaimana dengan sikap lainya, menurut @bm, PERAGU? Yang pasti dalam budaya peragu di mana saya ada, dunia menjadi lebih 'nyaman.' Mengapa? Karena, "... metode kerja dalam filsafat adalah ragukan segala sesuatu. Menempel kepada sifat filsafat ini maka ilmu pengetahuan bekerja... maka ditemukanlah kapal uap, lampu pijar, kapal terbang, pesawat luar angkasa, telefon selular..." (@bm, Minggu, 03 Agustus, 2008). Tapi, lebih lanjut @bm katakan, dalam tradisi ini, muncul sikap ekstrim lainnya yang ditunjukan manusia durjana seperti Feuerbach, Freud, Nietzsche, Sartre. Mereka katakan Tuhan sudah mati. Tuhan adalah pikiranmu sendiri. Manusia menciptakan Tuhan. Fisafat mereka kemudian 'melahirkan' manusia paling jahat dalam sejarah manusia, Stalin (Uni Soviet), Mao Zedong (Cina) dan Hitler (Jerman). Tiga manusia jahat ini saja bertanggungjawab atas 100an juta nyawa manusia. Belum lagi rejim jahat lainnya, Nicolae Ceau┼čescu (Romania), Enver Hoxha (Albania), Kim Jong Il (Korea Utara), Pol Pot (Kambodia), Fidel Castro (Cuba) dll. Menyikapi 2 posisi ekstrim ini, dimanakah saya? Begini.

Saya adalah ORANG PERCAYA yang mengimani hukum ini: "Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan seluruh akalmu. Itulah perintah yang terutama dan terpenting!" (Matius 22: 37 - 28). Artinya apa? Artinya, buat saya, realitas Sang Pencipta tidak saya imani hanya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa tetapi juga akal. Artinya lagi, saya harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang 'berbau' filsafat seperti, 'Siapa yang menciptakan Allah?' Kalau tidak cilaka 12 karena kaum peragu gemar membuat kita kedengeran seperti orang tolol tidak berotak dan hanya punya blind faith.

Salah satu argumen yang paling kesohor tentang realitas Allah adalah argumen menurut Thomas Aquinas (1224 - 74), lainnya adalah Anselm of Canterbury (1033 - 1109). Aquinas memulai argumennya dengan memberi 2 hukum dasar ilmu pengetahuan yang berlaku hingga sekarang, "Sebab-Akibat." Hukum sebab-akibat memberikan suatu pengertian atas timbulnya suatu kejadian berdasarkan sebab sebelumnya. Silahkan kroscek ama @bm, seorang ilmuan besar di kampungnya!

Untuk menjelaskan ini, mari kita sederhanakan seperti ini: @bm ada didunia ini karena ada Sang Guru Tua (SGT), panggilan ayahandanya. SGT ada karena karena ada kakeknya @bm, sedang kakeknya @bm ada karena ada kakek buyutnya, terus-menerus seperti itu. Atau yang ini: Katakanlah A ada karena B, sedang B tidak muncul tiba-tiba, ia ada karena C dan seterusnya. Tapi, ada tapinya, menurut Aquinas, mencari sebab sebelumnya tidak mungkin indefinite, tanpa batas. Dus, perlu ada YANG AWAL yang menjadi sebab atas rantai 'causation of existence.' Aaaaaah betul sekali sahabat blogger, YANG AWAL itu saya panggil Bapa, Allah, yang berfirman, "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 21 :6). Tanpa Yang Awal, Nothing would have come into existence. Bagaimana, sudah mengertikah anda? Baiklah, mari kita sederhanakan lagi dengan contoh berikut ini.

Kali ini saya minjam 'cerita' sederhana karangan sejarahwan Thomas Woods. Suatu hari anda pergi ke kantor polisi untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Anda lalu disuruh untuk mengambil nomor tes. Saat hendak mengambil nomor, anda disuruh pergi loket sebelumnya untuk mengambil sebuah nomor. Anda pergi ke loket yang dimaksud, tapi disana, anda disuruh pergi ke loket sebelumnya lagi untuk mengambil sebuah nomor. Anda menjadi berang karena untuk mendapatkan nomor tes, anda harus ke loket sebelumnya, begitu terus. Anda merasa dimainkan oleh sebuh proses tanpa ujung. Anda putus asa dan memutuskan untuk pulang tapi pada saat itu anda melihat seseorang keluar dari kantor polisi memegang SIM baru. Anda pasti teramat lega karena terbukti bahwa proses mendapatkan nomor tes TIDAK MUNKIN go on and on and on, indefinitely.

Teori filsafat memang asyik, brain teaser, tapi seringkali hanya valid dalam ruang kuliah dan 'gatot' alias gagal total dalam realitas. Eksistensi @bigmike, saya dan anda serta jagat raya ini membuktikan realitas YANG AWAL, Sang ALFA yang berada diluar rantai causation of existence. Kita memang tidak mampu berkata banyak tentang Sang Alfa, tapi sudah bisa menetapkan Dia sebagai Yang Awal. Karena tanpa Dia, none of its effects -kita semua dan alam semesta- would be here.

Begitulah sahabat blogger, akhirnya kita sampai pada ini, apa yang ditakutkan @bm, bahwa kita memerlukan sekitar 120an komentar baru untuk menemukan bahwa kita tetap memerlukan 120an komentar baru lainnya, tidak perlu terjadi. Allah adalah sebuah realitas. Kalau anda meragukan realitas Dia, Sang Alfa itu, hakekatnya anda meragukan realitas anda sendiri. Karena tanpa Yang Awal -the First cause- anda tidak ada didunia ini.

Allah yang saya sembah adalah Allah yang Maha Besar. Allahu Akbar. Tapi Dia juga adalah Allah Maha Rasional. Sebagai mahluk ciptaanNya, saya diberi akal agar mampu, walau tidak sempurna, mengerti dan menyembahNya. Sebelum saya pamit, mungkin ada yang berminat menjawab ini: Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?

Salam damai!

103 komentar:

Bigmike mengatakan...

Welcome home NK,

Selamat atas postingnya. Artikel yang bagus meski di sana-sini masih terdapat beberapa hal yang, rasanya, masih bisa kita pertanyakan.

Tetapi saya pikir itu tugas sahabat blogger sekalian. Saya sih mau istirahat minum teh tarik sambil siap-siap dengan selang air water canon kalau-kalau ada "kerusuhan lagi" ha ha ha ha (nggak ding: jagalah diri anda masing-masing dalam diskusi). Dum Spiro, Spero

Tabe Tuan. Tabe Puan.

Anonim mengatakan...

Wuekekekekakakakek....dulu gw "nantangin" konsep dan realitas ente ngejawab pake kamus. Ya, kagak kena boss. Trus gw liat lagi, sedikit banyak ente merefers omongan si Peter tentang Aquinas. Yoohhhaaaaa, selamat datang dech dalam dunia Sofi. GW nggak ikutan daaaahhh....Good posting....met diskusi bosssss....oleeee...oleeeee..konseeeppp...(Proxy73)

Anonim mengatakan...

Kanjeng Mas Bigmike,

Ada tertulis, 'Kamu tdk tahu dari mana angin datang dan kemana dia pergi.'

Argumen realitas Allah murni sekuler dan rasionalitas. Mengapa? Sekedar menghindari doktrin agama 'pokoknya' spt yg sudah mulai terlihat dalam posting 'Que Sera Sera: Bapa yang Berdaulat.' Berargument pd pijakan ini amat tdk produktif dan berbahaya.

Wusssssssssss... angin itu pergi dulu. Anda tdk akan tahu kemana dia pergi dan kapan dia datang lagi. Selamat berdiskusi!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Menyebut nama ini jauh lebih enak. Serius boss..... he he he he.

Saya tidak berkeahlian dalam hal Teologia. Tetapi ada hal yang cukup menggoda yaitu sekiranya sekali waktu anda diperhadapkan dengan situasi jika tidak A harus B maka mana yang anda pilih, apakah rasio anda atau Iman anda.

Saya ambil dari diskusi anda dan Dosa, bagaiman anda memamahi rasionalitas bahwa Allah PL adalah Allah yang hobi berperang? Saya tidak bermaksud apa-apa tetapi inilah big question mark yang saya punya sehingga saya jauh lebih akrab dengan Allah yang dikabarkan YESUS di PB (A9ust)

Bigmike mengatakan...

@ NK,

Ha ha ha sekarang ini, angin sudah bisa diprediksi. El Nino dan La Nina sudah bisa ketebak ha ha ha ha.

Selamat berdiskusi, tapi ada yang saya mau minta kepada sahabat, yaitu JANGAN menyapa saya menggunakan sebutan kanjeng mas. Saya 1/2 jawa tapi tentang budaya hebat itu ada yang saya kurang begitu nyaman. Salah satunya adalah ya sebutan seperti itu.

Sisanya, please heve fun with this topic

Anonim mengatakan...

@ NK,

Sudah ada kemajuan dalam mengambil sikap terhadap tarikan-tarikan jaman. Anda mengambil posisi jelas, yaitu percaya Tuhan. Saya perluas wilayah diskusi. Apakah anda percaya Agama? Mengapa Agama harus berbeda-beda padahal kita berkeyakinan Tuhan itu Esa? (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@a9us

Saya tidak berkeahlian dalam hal Teologia. Tetapi ada hal yang cukup menggoda yaitu sekiranya sekali waktu anda diperhadapkan dengan situasi jika tidak A harus B maka mana yang anda pilih, apakah rasio anda atau Iman anda.

Hmmm...

Saya tdk terlalu paham apa itu A dan B yg saya harus pilih. Kalau boleh berandai-andai, katakan si A adalah Anita dan B, Bebi. Pilihan saya tergantung paras, full body size, prospek masa depan dll, hi hi.

Ttg Allah dalam PL, yg hobinya berperang, mengapa anda katakan Dia hobi berperang? Apakah Dia berperang untuk maksud perang itu sendiri? Atau Dia Allah Maha Adil, menghukum ciptaanNya yg berbuat jahat? Tentang keadilanNya ini, apakah berbeda secara esensi dgn Allah dalam PB?

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@Syamtua

Sudah ada kemajuan dalam mengambil sikap terhadap tarikan-tarikan jaman. Anda mengambil posisi jelas, yaitu percaya Tuhan. Saya perluas wilayah diskusi. Apakah anda percaya Agama? Mengapa Agama harus berbeda-beda padahal kita berkeyakinan Tuhan itu Esa?

Terima kasih anda katakan saya ada kemajuan sikap. Sebenarnya tdk ada yg berubah. Dari dahulu saya katakan, tersurat maupun tersirat, saya org percaya.

Tentang apakah saya percaya agama, silahkan anda terlebih dahulu memberi definisi agama. Saya tunggu.

Kalau Tuhan itu Esa, mengapa ada banyak agama?

Mari kita batasi pd agama yg percaya pd pewahyuan! Kalau dasar pijakan kita adalah Allah itu Maha Benar dan Maha Konsisten, maka akal saya berkata: Kesalahan ada pd manusia yg mendistorsi pewahyuan demi kepentingannya. Tidak mungkin Allah yang sama berbuat kesalahan dalam pewahyuan kepada kpd manusia yg berbeda. Baik dahulu, sekarang maupun esok, sekali dia bilang A, selamanya A. Lalu siapa yg mendistorsi wahyu Allah? Nah, ini pekerjaan rumah buat anda. Saya hanya bisa berdoa buat anda, semoga Allah Pengasih menunjukan jalan yang lurus bagi anda.

-nyong kupang-

--DoSa-- mengatakan...

Wah, akhirnya ada lagi topic diskusi seperti ini... Bravo saudara KuMan... Eits, bukan kuman penyakit, tapi Kupang Man.. :) (but kalo mau jadi sumber "penyakit" juga menarik.. :)

Gue masih baca dulu postingannya, ntar pasti nimbrung..

Anonim mengatakan...

Dalam tulisan, saya bertanya, "apakah mempertanyakan keberadaan Allah sama dengan menyangkal keberadaanNya?"

Dalam posting “Que Sera Sera: Bapa yang Berdaulat” (2008 Juli 26), terjadi korespondensi antara @mang ihin dan @patrice yg saya copy paste disini:

@Mang IHIN:

Anehnya, kawan-kawan yang anti Tuhan ini kalau dibilang KAFIR malah mereka marah he he he he. Gejala aneh bin ajaib

@Patrice:

Jika ada yang bertanya tentang Tuhan harap jangan selalu dikaitkan dengan KAFIR.

@Mang IHIN:

Mengapa saya katakan bahwa mempercakapkan eksistensi Tuhan adalah berbahaya. Patokan saya jelas, Tuhan itu mutlak atau tidak? Manusia itu reltif atau tidak?

@Patrice:

DAlam hal diskusi kita, saya malah mau bertanya balik dahulu, mengapa yang relatif tidak boleh mempertanyaan yang mutlak.

@Mang IHIN:

Saudari yang baik. Sudah barang tentu saya tidak bermaksud melarang orang memperbincangkan Sang Mutlak. Perhatikan baik-baik konteks kalimat saya. Maksud saya adalah, apakah pantas kita yang relatif (sdri secara implisit mengakui preposisi bahwa manusia adalah relatif) meperbincangkan yang mutlak. Jawabannya tidak sekedar bisa dan tidak. Boleh atau tidak boleh. Tetapi ada masalah krusial di dalam hal ini, yaitu ketika sang relatif, lebih dari satu oknum reletif mengklaim kebenenaran, maka kebenaran mana yang akan kita akui. Semua agama pada dasarnya eksklusif. Kami mengakui bahwa Islam paling benar. Saudarai yang Kristiani mengklaim bahwa yang anda percayai paling benar. Siapa yang akan menjadi hakim? Kesulitan-kesulitan seperti ini yang menyebabkan saya mengajukan pikiran bahwa dapatkah kita yang relatif mempersoalkan yang mutlak? Di situ posisi saya.

Saya sekedar ingin mengingatkan bahwa diskusi yg berpijak pd 2 dogma agama yg berbeda tdk produktif karena yg muncul adalah dogma 'pokoknya.' That is why argumen dlm tulisan saya murni sekuler dan rasional.

Yang menarik dari korespondensi diatas adalah pertanyaan @mang ihin, 'siapa yang akan menjadi hakim?' Rupanya dia lupa pd kata-katanya sendiri yg secara implisit hendak katakan, mrk yg mempertanyakan keberadaan Tuhan pantas mendapat cap KAFIR. Artinya apa? Artinya dialah sang hakim yg dimaksud! Kalau @mang ihin menolak dirinya hakim, artinya dogma agamanyalah yg jadi hakim.

Berbahayakah diskusi spt ini? Silahkan anda menilai!

-nyong kupang-

PS: @mang ihin, kalau ada yg tdk pas dgn pikiran anda, mohon maaf. Silahkan bantah supaya kami bs memulai diskusi baru disini!

Anonim mengatakan...

@ NK,

A dan B, maksud saya adalah simbol opsi. Jika tidak mengampil opsi A ya B. Misal saja A adalah akal dan B adalah Iman. Mana yang anda pilih ketika situasi menuntut. Jika terlalu banyak pertimbanagn saya kuatir iman dan akal kita tergolong oportunistik.

Mengapa saya katakan hobi berperang? Cobalah lihat baik-bai teks-teks yang ada. Untuk mengalahkan musuh maka lawan harus diperangi. Contoh, apa salahnya orang Yeriko. Mereka tidak eprcaya YAHWE kan karena YAHWe tida menyatakan diri kepada mereka. Mengapa mereka harus diusir demi Israel. Nah, bisa-bisa allah PL dikenal sebagai allah PL adalah allah yang pilih kasih. Contoh lain: ketika saul mungkin karena rasa kasihan tidak membunuh habis musuh-musuh Irael lantas allah PL marah. Nah, apa sebutannya.

Supaya jangan salah mengerti, saya tetap Kristiani yang berusaha baik tetapi sampai sekarang belum ada penjelasan yang memadai tentang apa yang saya persoalkan. Syalom (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ NK,

Maaf, saya masih berkonsentrasi sama percakapan saya dengan sdri Patrice. Jikalau dia setuju pindahin diskusi ke posting ini maka saya akan pindah. Saya hanya mau megnhormati kesepakatan (Mang IHIN)

Anonim mengatakan...

@ NK,

Pertanyaan tentang Tuhan dan batu...weleh ...weleh.....menagnya Tuhan kerjanya bikin batu doang ...ha ha ha ha

Sorri, just kidding. Saya mau ikuti logika pertanyaan yang anda kutip (saya membacanya di bukunya Jujun Suryamurti), begini: mampukan Tuhan menicptakan Tuhan-Tuhan yang lain dalam jumlah yang banyak sehingga agam-agam menjadi banyak. Nah, bagaimana anda menjawabnya (Sulis)

Anonim mengatakan...

@ BM

Sayang waktu ke Jogja nggak mampir ke SelMat community padahal saya udah menghubungi IP. Mungkin sibuk. Lain kali ya (Sulis)

Bigmike mengatakan...

@ NK

Ha ha ha ha datang-datang setelah lama menghilang langsung diserbu pertanyaan ha ha ha ha. Bagus. Nah untuk "menambah beban" bagi NK, sekalian pikirkan apa yang saya kutip dari web-nya PGI....

Menyikapi Upaya Class Action Terhadap Kasus LAI

Pimpinan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) bersama sejumlah pimpinan gereja aras nasional, perwakilan dari Dirjen Bimas Kristen Protestan serta kuasa hukum LAI melakukan sharing menyikapi upaya class action yang dilakukan oleh Jeremiah Leonardo, STh melalui kuasa hukumnya dalam kasus penggunaan nama Allah di Alkitab Senin, 11 Agustus 2008 di Salemba Raya 8. Jakpus.

Seperti diketahui, LAI sebagai lembaga resmi dalam menterjemahkan Alkitab di Indonesia, telah dilaporkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat oleh Jeremiah Leonardo, STh, karena dianggap melakukan kesalahan dalam menerjemahkan kata Allah yang seharusnya YHWH di Alkitab. Namun, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memutuskan N.O. (tidak diterima) gugatan terhadap LAI.
Dalam pertemuan tersebut, Wasekum PGI, Pdt. Weinatan Sairin, MTh mengungkapkan sikap PGI jelas mendukung upaya yang dilakukan LAI. Oleh sebab itu, perlu diinventarisir strategi-strategi apa yang diperlukan dalam menyikapi adanya keinginan class action itu. Menurutnya, ada upaya psywar dari kelompok tersebut serta pikiran-pikiran destruktif dan manipulatif.
Ditambahkan, perlunya dilakukan percakapan dengan Dirjen Bimas Kristen Protestan agar persoalan itu tidak mengarah ke SARA dan konflik internal Kristen. Selain itu, lembaga-lembaga gerejawi juga baik jika melayangkan surat peringatan kepada gereja-gereja mengenai persoalan yang ada.
Sementara itu, Sekjen PGLII, Pdt. Dachlan Setiawan berpendapat upaya class action yang akan digulirkan dapat dengan mudah dipatahkan karena Jeremiah Leonardo, STh, bukanlah representasi dari umat Kristen.
Selain itu, tambah Dachlan, jika diperlukan, lembaga-lembaga gerejawi aras nasional melakukan press konferance mengeluarkan pernyataan bersama untuk menegaskan bahwa penggunaan nama Allah adalah yang benar di dalam Alkitab, bukan YHWH....(http://www.pgi.or.id/berita.php?news_id=123)

Nah, NK yang terhormat apa komentar anda terutama dikaitkan dengan substansi posting anda.,,,,he he he he...Kali ini pemilik kafe yang minta minuman ke pengunjung...Asiikkk

Bigmike mengatakan...

@ Mas Sulis,

Ya nyuwun sewu mas nggak bisa mampir. Acara di Jogja padet. Norman, si penerus DNA sudah di Jogja, kemungkian besar saya bakal lebih sering ke Jogja. Semoga lain kali bisa ketemu sahabat semua

Anonim mengatakan...

@ NK,

Saya pikir, inilah kesulitan dalam diskusi tentang TUHAN. Selalu ada yang merasa paling benar. Kutipan berita dari PGI yang di sampaikan oleh BM jelas menunjukkan hal itu. Jangankan antar agama, sedangkan di antara sesama pemeluk agama yang sama perbedaan dan penghakiman bisa berlangsung. Inilah pangkal soalnya. Eksklusivisme. Jangan dianggap sepele (Widyanto)

Anonim mengatakan...

@a9us:

A dan B, maksud saya adalah simbol opsi. Jika tidak mengampil opsi A ya B. Misal saja A adalah akal dan B adalah Iman. Mana yang anda pilih ketika situasi menuntut. Jika terlalu banyak pertimbanagn saya kuatir iman dan akal kita tergolong oportunistik.

Terima kasih atas klarifikasi anda, hanya saja situasi macam apa yg menuntut saya harus memilih antara akal dan iman?

Tentang Allah hobi berperang, harusnya anda menjawab dulu pertanyaan saya sebelumnya. Ketika Allah membinasakan ciptaanNya sendiri, apakah Dia lakukan itu demi hobi atau sebuah divine judgment? Kalau anda masih membuka kemungkinan Allah membunuh karena hobi atau tanpa alasan, maka tdk akan ada penjelasan yg meyakinkan bg anda.

@mang ihin

Baiklah, silahkan berdiskusi disana.

@sulis

Terima kasih sudah mampir. Tentang brain teaser anda itu, biar itu menjadi 'bonus' bg pembaca yg berminat menjawab.

@bm

Mungkin slogan blog ini bisa dipakai dalam kasus LAI. "Esensi bung, Esensi!" hi hi

@widyanto

Kalau Kekristenan, misalkan, tidak ekslusif, maka dia harus jadi spt apa? Kalau bangsa Indonesia tdk terpisah (eksklusif) dari bangsa eropa, apa jadinya?

Yang pasti class action thd LAI jauh lebih beradab ketimbang main hakim spt FPI thd Akhmadiyah. Betul?

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Bukan begitu memahami eksklusifitas dalam hal beragama. Membandingkan eksklusifnya Indonesia dari Eropa menjadi kurang tepat.

Perhatikan ini, Kristiani mengklaim bahwa menyembah Tuhan menurut caranya adalah yang paling benar. Kaum Muslim mengklaim bahwa hanya di dalam Islam Surga dapat dicapai. Inilah eksklufinya beragama yang menyebabkan antara agama selalu terjadi "pertempuran ideologi. Anda mencontohkan FPI. Itulah contoh eksklusivitas beragama. Para teolog lalu menemukan cara lain, yaitu bahwa beragama jangan eksklusif tetapi inklusif.

Nah, anda yang mengaku menyembah Allah Maha Besar adalah Allah yang eksklusif atau inklusif? (Widyanto)

Anonim mengatakan...

@ A9ust,

Saya memang pernah membaca kalimat seperti yang anda tulis. Kalau tidka salah oleh kolumnis Gunawan Mohammad yang mangatakan bahwa Tuhan di Perjanjian Baru adalah Tuhan yang kejam. Ini memang persoalan Teologia yang berat dan sesungguhnya tidak gampang untuk menjawabnya (Widayanto)

Anonim mengatakan...

@widyanto

Para teolog lalu menemukan cara lain, yaitu bahwa beragama jangan eksklusif tetapi inklusif.

Saya sedekar ingin menyampaikan artian eksklusif. Apapun, yang eksklusif itu mempunyai warna sendiri. Dia khas tdk spt yg lain.

Tentang penggalan kalimat anda diatas, anda pakai kata teolog artinya anda bicara Kekristenan. Kekristenan yg inklusif itu spt apa? Mana contohnya! Apa termasuk didalamnya dogma keselamatan dll???

Saya tunggu karena saya pingin tahu apa maksud anda sebenarnya sebelum kita jauh berdiskusi.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@a9us, @widyanto:

Allah membinasakan ciptaanNya karena hobi? Lihat ayat ini:

Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. (Ulangan 9:5)

Wah, ternyata umat pilihanNya sediri -Israel- terbukti tidak benar juga. Lalu, mengapa Dia tdk membinasakan seluruh umat pilihanNya, Israel? Allah pilih kasih? Jelas! Mengapa? Agar melalui bangsa inilah, anda berdua, @bm, saya dan semua org percaya memperoleh keselamatan dalam Yesus.

Selamat merenung!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Seharusnya anda yang menjelaskan makna eksklusif. Hal ini karena perhatikan pertanyaan saya selanjutnya, Allah yang anda sembah itu apakah Allahnya orang Kristen saja? Orang Islam saja? Allah yang eksklusif? (Widyanto)

Anonim mengatakan...

@ NK dan Widyanto,

Widyanto terlalu berputar-putar. Tegasnya: Tuhannya NK itu khusus untuk orang Kristen saja atau bagaimana. Jika hanya khusus orang Kristen, artinya Tuhan anda itu exclusive (Genthenx)

Anonim mengatakan...

@ NK,

Tampaknya sifat sinis anda tidak berkurang juga. Perhatikan ini:... Saya hanya bisa berdoa buat anda, semoga Allah Pengasih menunjukan jalan yang lurus bagi anda....Kalau begitu maka tolong jelaskan kepada saya apa yang anda maksudkan dengan jalan lurus? Apa tolok ukur suatu jalan disebut lurus atau tidak lurus? (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@widyanto

Anda yg gunakan kata eksklusif, kok saya yg diminta jelaskan maknanya? Tuhan itu Esa! Saya menyembahnya secara eksklusif, cara Kekristenan. Org Islam dgn caranya sendiri. Org Hindu dgn gaya mereka dstnya. Nah sekarang giliran jawab pertanyaan saya!

@syamtua

Ketika saya berdoa dgn tulus buat anda, anda berprasangka macam-macam. Terima kasih.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK dan semuanya. Selamat pagi

Mengikuti perdebatan yang sudah terjadi di sini saya kuatir DOsa menjadi benar. Yaitu, Tuhan adalah konsep manusia. Misalkan pertanyaan A9ust: kenapa Allah PL kejam? Bagimana cara menjawabnya? hanya ada 2 pilihan, yaitu pewahyuan dari Tuhan secara langsung kepada NK atau berasal dari skrip yang sudah ada (kitab Suci). Melihat cara NK menjawab, sejauh ini, kedua-duanya tidak tampak. Yang kelihatan adalah konsep-konsep NK sendiri yang celakanya, bertumpu pada penjelasan filosofis. Lagi-lagi saya kuatir memang si Dosa benar (Eman, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ dear NK,

Ha ha ha saya cuma ingin memenuhi ajakan saudara yang ingin pembaca menjawab pertanyaan tentang batu. Saya ingin menjawab dengan cara memberikan logika yang sama dan menggunakan kata-kata anda sendiri. Begini, mampukan Tuhan menciptakan suatu jalan yang tidak lurus sehingga Tuhan sendiri tidak mampu meluruskannya. Bagaimana bung NK?

Anonim mengatakan...

@eman

Walau anda terlanjur sudah buat kesimpulan sendiri tanpa klarifikasi, tdk menahan diri tdk berprasangka macam-macam tdh anda. Saya mengutip ayat suci (Ulangan 9:5), dimana letak konsep buatan saya? Saya berusaha menjadi lebih baik setelah ditegur @bm. Bagaimnana dgn anda? Saya tunggu jawaban anda!

@sulis

Jawabannya amat sederhana tp saya memang sengaja memberinya kpd pembaca. Dan rupanya anda tertarik. Silahkan share disini atau simpan sendiri buat anda.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

eh maaf maklum sudah tua,

komentar tentang jalan lurus berasal dari saya, (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@ NK,

Saya pikir tidak ada yang personal dalam komentar saya. Saya hanya mengingatkan anda , dan saya juga, bahwa pada percakapan yang lalu Dosa pernah memunculkan pernyataan bahwa Tuhan adalah konsep manusia. Ketika anda mengatakan bahwa anda menggunakan rasio untuk memahami Tuhan maka bagaimana sikap anda terhadap percakan lama itu. Perhatikan pula bahwa BM menggunakan gambar orang berpikir. Maka, ada yang harus anda clearkan yaitu dari sumber mana anda memahami Allah yang Akbar itu. Wahyu, rasio atau campuran keduanya. Lantas bagaimana anda meyakinkan bahwa hal itu bukan kosep anda sendiri tentang Tuhan (Eman)

Anonim mengatakan...

@eman:

Mengikuti perdebatan yang sudah terjadi di sini saya kuatir DOsa menjadi benar. Yaitu, Tuhan adalah konsep manusia. Misalkan pertanyaan A9ust: kenapa Allah PL kejam?

Dalam komentar anda sebelumnya, anda secara spesifik menunjuk pd percakapan saya dan a9us ttg Allah yg kejam. Saya mengutip kitab Ulangan jadi sumbernya jelas toh. Nah, tunjukan dimana konsep buatan saya! Saya tunggu.

-nyong kupang-

--DoSa-- mengatakan...

Ah abang Eman pasti bercanda dengan membawa nama dd DoSa khan? :)

Lihat saja postingan semua orang2 beragama disini yang mengchallenge TUHANnya orang lain dengan memakai filsafat jalan lurus lah? Jalan bengkoklah? Batu berat lah? Trus abang yang satu pake ayat Ulangan menjustifikasi keberadaan Tuhannya, trus abang lain memakai ayat Al Fatihah untuk menjustifikasi TUhan mereka, dll dll..

Kalo abang2 ini ditanyaain pas lagi usia 10 tahun, gimana sih Tuhanmu? pasti jawabannya tuh yang STD alias standard.."Tuhanku tuh bukan Tuhan orang Islam" atau "Tuhan tuh ngga punya Ibu dan Bapak" dll dll...

Makanya, di chapter sebelumnya, dd DoSa udah bilang, kalo yang namanya TUHAN yang dikenal dalam agama2 samawi itu Tuhan ciptaan Manusia saja. Buktinya apa? Ya Tuhan yang diciptakan itu punya keterbatasan, misalnya bersemayam di langit ke tujuhlah, atau tidak kawinlah, ngga ada di tempat2 najislah, ngga bisa jadi batulah, hanya berbuat baiklah (padahal baik dan jahat hanyalah cara pandang manusia saja kok). Kata Jenifer Lopez "self defense is not a crime"..

Cape dehh dengan permainan Tuhan orang-orang "beriman" ini..

Anonim mengatakan...

wah.. dah ga inget lagi ma sofa2 model gini, kalo pun masih ada yg inget paling banter dah udah gw bakarin +/- 22 thnan lalu

absen aj d: Ada
the rest is follow mr proxy73

~JM

Anonim mengatakan...

Baru pada nukilan Dosa sy menemukan adanya challenge thd pengakuan @NK yg percaya pd Tuhan sesuai konsep Bible.

Yang laen sy liat sebetulnya ga beda dg @NK. Mereka itu org yg percaya jg pd Tuhan. Beda tipisnya ada yg bersumber pd konsep kitab bikinan pihak lain yg dlm byk hal tdk sama dg konsep Bible. Jadi, sy heran juga utk apa mereka meributkan tulisan si @NK itu?

Pertanyaan sy buat Dosa, apa ada rasa percaya pd kuasa di atas manusia yg tdk dlm btk konsep?

KK Look

nb: Heran jg... Sodara tua sy KD Look ke mana yaah?

Anonim mengatakan...

@KK Look

Tidak ada yg meributkan esensi tulisan saya, yg ada adalah pertanyaan yg berbau teologis. @a9us misalkan bertanya mengapa Allah PL hobi perang dan Allah PB lebih lembut.

Mohon sdr jawab ini! Terima kasih banyak!

Buat @eman dan @widyanto, kemana anda berdua? Saya masih menunggu jawaban anda.

@DoSa

Tumben, kali ini anda tdk datang membawa pikiran yg cemerlang. Barangkali akal anda sedang liburan. Begitukah?

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Wah3... Bbrp hari sy tdk kunjungi blog ini krn ada tugas ngajar di luar kota. Rupanya @NK muncul lg dr pertapaan dan berbagi hasil perenungannya disini.

Ada percakapan tp sy merasa 'basi' dan 'hambar' tnp si pemabok bonggo dan KD Look. Dan bisa jd komentar2 pd posting kali ini bakal sulit menembus angka psikologis 100 komentar.

Mengenai pertanyaan pertanyaan seputar Allah PL yg pemarah vs Allah PB yg pengampun. Ini sah2 sj jk dibuat data perbandingan statistik perilaku Allah antara PL vs PB. Tp bhw Allah PL itu doyan perang, mnrt sy rasanya berlebihan.

Ini soal pemahaman konteks sj. Konteks PL adalah budaya perang ala Timur Tengah untuk menunjukkan keunggulan suatu bangsa dan terutama menyelesaikan masalah antar suku maupun bangsa. Jadi, pd saat itu berperang adalah opsi spontan dan wajar. Sama wajarnya dg budaya saat ini yg lbh memilih meja perundingan dan/atau peradilan bg pihak2 yg bersengketa. Mk celakalah jk kita menilai konteks PL dg ukuran jaman sekarang, lalu kesimpulannya Allah PL doyan perang. Ini kayak ngukur suhu tubuh pake penggaris, bkn termometer. Jd bias, toh?

Hal lain adalah fakta PL menunjukkan adanya informasi bhw Allah PL tdk selamanya membantu Israel menyelesaikan masalahnya dg berperang. Kitab Esther, Ezra, dan Nehemia misalnya, mengisahkan bhw penyelesaian masalah israel dg Penguasan diselesaikan lewat jalur politik.

Mengenai Allah PB yg seolah-olah berbeda dg Allah PL, inipun masalah konteks yg berbeda antara PL dan PB. Krn itu, sy rada2 prihatin jk yg berbeda konteks PL vs PB, tp kok kesimpulan kita seolah-olah ada dua Allah berbeda antara Allah Israel (PL) dg Allah Kristen (PB).

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana:

Ada percakapan tp sy merasa 'basi' dan 'hambar' tnp si pemabok bonggo dan KD Look. Dan bisa jd komentar2 pd posting kali ini bakal sulit menembus angka psikologis 100 komentar.

Ha Ha, sdr harus sadar bahwa kita semua baru saja kena bonggo dari @bm sehingga pd posting ini hampir semua 'jaga' sikap. Yg msh belum berubah adalah gaya prasangka yg ditunjukan bbrp org disini tp ketika saya minta data masih belum muncul juga. Untuk sementara saya menahan diri tdk memberi cap 'lucu' buat mereka yg 'lari' saat ditanya.

Tentang Allah PL dan PB, saya setuju dgn sdr. Kadang kita aneh ya, katanya Allah berdaulat tp kita sendiri punya pikiran apa yg boleh dan tidak boleh Allah lakukan.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Ah jgn buru2 kasi cap org laen, Bro. Nanti anda balik dicap bayi premature. Tunggu sj, mgkn mereka msh sibuk, ato spt sy yg bbrp hr 'hilang' krn ada tugas di luar kota.

Ttg figur Allah, sy bs maklum kl ada para sahabat yg msh kesulitan memahami akibat keterbatasan tingkap-tingkap pemikiran. Lha kl daya nalar sdh mentok, mmg sulit bs memahami dg akal, kecuali dg iman sj. Inipun sah2 saja, toh? Sambil menunggu ada 'keajaiban' utk bikin logika kita bs lbh paham lg sosok Allah kita itu.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Wilmana

Kalau ada org 'wise' di blog ini, maka ada 3, buat saya, yaitu:

1) Bigmike;
2) Wilmana; dan
3) Alm. Bonggo

Masih ingat tdk pertanyaan @bm, kalau Allah itu 'all powerful' bisa tdk dia ciptakan juga kejahatan. Ini mirip pertanyaan saya dan @sulis.

Nah, sdr mengerti dan tahu tdk jawaban atas pertanyaan saya/sulis itu? Sdr bebas menjawab disini tp saya hanya ingin tahu, ya atau tdk. Kalau sdr bilang tdk tahu, maka dgn amat berat hati saya harus turunkan peringkat sdr menjadi sama dengan... @DoSa, @eman, @widyanto atau lebih buruk lagi @new comer dan @syamtua yg gemar asbun disini.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Semalam sy ada ajarin @New Comer utk bkn stetmen hrs ada data yg jelas. Pagi2 niatnya mo ngecek tanggapan si asbun @New Comer di blog, tp tb2 ada panggilan emergency dr kelurahan, jd rada telat neh.

Ada pertanyaan buat sy tp rupanya sdh di handle oleh adi Wilmana, its OK. Skrg giliran beta balas budi.

Begini. Sy setuju dg pendapat @Dosa bhw jahat-baik itu adalah konsepsi manusia ttg realitas hidupnya. Hal2 yg mendatangkan rasa tdk enak spt kecewa, sakit, sedih, mati dsb dikategorikan sbg dampak kejahatan. Sdgkn yg sebaliknya dikategorikan dlm kelompok kebaikan.

Dlm konteks relasi manusia-Allah, kita mmg tdk bisa menghindari penggunaan terminologi jahat-baik ini. Ttp spy iman kita tdk bias, mk yg tekstual 'jahat-baik' itu hrs mengalami pergulatan yg lbh mendalam di tataran pemikiran dan perasaan kita. Shg kita tdk lalu memahami eksistensi kejahatan ini dlm pengertian yg cenderung sinis thd Allah. Kok Allah menciptakan kejahatan, perang, dan perilaku negatif lainnya sbgmn yg hampir setengah abad bikin @A9ust tiada habis mikir.

Krn itu anda periksa dlm sejarah pemikiran kristen, Paulus dlm tulisan pd Jemaat Roma menyatakan bhw Allah bekerja dlm segala hal utk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya (bnd roma 8:28). Dr sini, org kristen lalu bikin konsep bhw dr kacamata Allah, sesungguhnya tdk ada azab vs berkat. Semuanya adalah berkat krn at the last, mendatangkan kebaikan bg manusia. Manusialah yg dlm konsepsinya mengklasifikasi perbuatan Allah itu mjd dua kategori besar, jahat-baik. Utk cctn sj, tdk semua agama punya konsepsi spt ini. Msh ada agama yg menganut asas azab vs berkah ini.

Kita musti berterima kasih pd Paulus yg dg tepat menerjemahkan logos Allah ke dlm bhs manusia. Jadi, kita tau skrg bhw kl ada yg bilang Allah berbuat jahat dan kejam, ini bs diterima sepanjang itu dr perspektif manusia. Tp dr perspektif Allah, tdk ada yg jahat. Dlm novel Ayub (anehnya quran blg Ayub ini manusia riil), dikisahkan bhw suka-duka dipakai Allah utk mematangkan iman Ayub kpd Allah-nya.

Krn itu, ada syair lg rohani kristen di buku Kidung Jemaat: "... suka duka dipakainya utk kebaikanku, ..."

Moga2 sdr bs memahami hal ini.

KK Look

Anonim mengatakan...

Heeiiit.. Ada bung KK Look yg ngakunya adiknya KD Look...

@NK
Dr jwbn saya perihal Allah PL vs PB di atas, hrsnya sdh jelas bg anda utk menjawab pertanyaan Mas Sulis, Mas Wied, dll.

Sulis
mampukan Tuhan menicptakan Tuhan-Tuhan yang lain dalam jumlah yang banyak sehingga agam-agam menjadi banyak. Nah, bagaimana anda menjawabnya (Sulis)

Genthenx
Tegasnya: Tuhannya NK itu khusus untuk orang Kristen saja atau bagaimana. Jika hanya khusus orang Kristen, artinya Tuhan anda itu exclusive (Genthenx)

Sdh jelas bhw banyaknya Tuhan itu adalah dampak dr sudut pandang manusia yg berbeda-beda dipadukan dg keangkuhan pribadi utk bikin truth claim. Yg melihat Tuhan dr atas, bgt yakin bhw sosok Tuhan itu hanya kepala sj. Yg berpapasan dg Tuhan dr samping, ngotot bhw Tuhan itu bukan cuma kepala, tp ada tubuh dan kaki-tangan jg. Lalu ahirnya msg2 sepakat bhw, OK, Tuhan anda dan saya mmg beda.

Dg karakter manusia spt ini, tdk aneh kan, bahkan org kristen sendiri ada yg yakin bhw Allah PL adalah Allah yg beda dg Allah dlm PB. Allah PL doyan perang smtr Allah PB doyan damai sejahtera. Sampe krmn msh ada attendant dlm kelas Law & Ethics yg sy pimpin bgt yakin bhw Allah islam itu beda dg Tuhannya org kristen.

Pdhl jelas2 yg beda itu perspektif manusia tentang Allah. Lalu bila hegemoni merasuk, mk buahnya adalah malapetaka.

Mnrt @NK, kl sdh begini, apakah Allah 'menciptakan' ato 'mengijinkan' kejahatan terjadi? Dua istilah ini beda2 tipis mmg, jd salah2 bs tjd sikap yg sinis thd Allah. Dosa, lho...

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Sepertinya masa tayang posting ini sudah berakhir. Dari apa yg saya dengar, @bm sudah menyiapkan artikel menarik dr wilmana? Saya sudah tdk sabar untuk 'bertengkar' lg dgn dia disini.

"Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?" Masih ingat pertanyaan ini? Mari kita bahas! Begini.

Paradoks batu ciptaan kaum ateis ini pingin membuktikan ketiadaan Tuhan. Kalau jawabannya Allah mampu, mengapa Dia tdk bisa mengangkat batu ciptaanNya sendiri? Tuhan pd akhirnya bukan 'all powerful God.' Kalau jawabannya Allah tdk mampu menciptakan batu, Dia bukan juga Tuhan yg omnipoten. Dus, tdk ada 'being' yg omnipoten dan karena itu Tuhan does not exist.

Sebagai org percaya, apa jawaban saya? Tuhan tdk mampu!

"God is able to do anything possible, but not anything impossible, and creating a stone that God cannot lift is something impossible." (Thomas Aquinas).

Menurut Aquinas, Tuhan mampu berbuat segala sesuatu yg tdk melanggar hukum logika dan matematika. Kalau Dia menciptakan batu yg amat berat Dia sendiri tidak bisa angkat, maka batu tsb adalah sebuah ketidakmungkinan. Sama halnya dgn ini. Dia tidak mampu membuktikan 1 + 1 = 100, karena ini mathematically impossible.

Apa kata kitab suci ttg keMaha-Mampu-an Allah? Tuhan tdk mampu menciptakan sesuatu diluar karakterNya! Dia Maha Suci tdk mampu menciptakan kejahatan. Dia Maha Baik tdk mampu berperang sedekar hobi.

Akhirnya, argumen org ateis 'gatot' alias gagal total membuktikan ketiadaan Allah. Ketidakmampuan Allah berbuat sesuatu diluar karakterNya tdk cukup membuktikan Dia tdk omnipoten.

Begitu saja dan sampai jumpa di posting berikutnya.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

..”mampukan Tuhan menicptakan Tuhan-Tuhan yang lain dalam jumlah yang banyak sehingga agam-agam menjadi banyak..”

Mampukah saya menahan nafas saya hingga saya mati, tentu mampu tapi apakah mau?

Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?

Saya kira ini juga sama jawabanya.


Allah PL ada Allah PB. ….. Saudara NK punya dua Allah ya, ada yang namanya Allah PL dan Allah PB, he, he…..

Seorang bapak seumpamanya, kalau ada hal yang salah, apa tidak boleh marah? Dan kalau dia marah apa anaknya langsung bilang itu bukan bapaknya. Marah dan mengasihi itu kan tergantung masalah yang dihadapi (konteks) tapi orang menhadapinya itu ya sama. Kira-kira seperti itu.

….Eksklusif dan inklusif …?

Itu kan cuma model pendekatan satu agama dengan agama lain atau biasa orang bilang dialog antar agama. Ada satu model yang pernah ditawarkan yakni “…pertemuan di serambi Iman…” kalau tidak salah yang saya tangkap dari maksud itu adalah: tiap iman punya keunikan tentu tidak dapat dipaksakan pada yang lain maka itu tempatnya di dalam rumah, tapi setiap agama pun punya sifat-sifat yang universal … dan itu yang di diskusikan di serambi itu… dan saya pikir itu yang lebih baik.

Iman dan rasional

Iman justru harus rasional, kalau tidfak rasional berarti Tuhan yang di Imani juga tidak rasional dong. Mengenai menjelaskan tentang keberadaanNya atau apapun juga itu, itu kan tugas kita manusia yang mencarinya jawabannya… kalau belum ketemu ya cari terus to… kalau ketemu dan ragu ya cari lagi dong… he, he, he… Sebab Dia Allah yang tidak terbatas sehingga tidak dapat di batasi….
Orang mau mengerti Allah ya belajar seperti slogan Suzuki “…Inovasi tiada henti…” Dia Allah bekerja dalam segala jaman, Dia Allah hadir dan selalu bekerja dalam sejarah…. Jadi kapan sejarah berhenti ya baru kita berhenti belajar memahami tentang Allah..

Selamat terus berdiskusi…

Lakers

Anonim mengatakan...

@lakers

Mampukah saya menahan nafas saya hingga saya mati, tentu mampu tapi apakah mau?

Sdr tdk mungkin bs menahan nafas sampe mati. Kalau saya yg 'bantu' sdr tahan nafas, saya jamin sdr pasti mati, hi hi.

Saudara NK punya dua Allah ya, ada yang namanya Allah PL dan Allah PB, he, he...

Saya tdk pernah bilang ada 2 Allah.

Itu kan cuma model pendekatan satu agama dengan agama lain atau biasa orang bilang dialog antar agama

saya setuju. Harusnya sdr @widyanto yg jawab ini tp setelah saya tanya dia pergi begitu saja. Paiiyah.

Iman justru harus rasional, kalau tidfak rasional berarti Tuhan yang di Imani juga tidak rasional dong.

Setuju. Sdr ini pendeta yach? Semoga saya benar sehingga diskusi soal beginian ada yg memang ahli dibidangnya.

Terakhir, kalau Allah omnipoten dalam artian absolut spt pikiran sdr, maka Dia pasti mampu tp tdk mau berbuat jahat. Begitu ya???

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@lakers

Lihat Titus 1:2

In hope of eternal life, which God, that cannot lie, promised before the world began

(King James Version)

I submit it to you, Tuhan tidak mampu menipu. Betul tidak??? Jadi jgn kira Dia mampu tp tidak mau menipu. Sdr salah besar!

Saya tunggu sanggahan sdr.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Rasanya tdk ada yg menolak eksistensi Tuhan, kecuali @dosa. Itupun krn beliau lbh suka pake istilah 'Creator' drpd 'Tuhan'. Tp sy tertarik membanding-bandingkan pendapat tiga org di sini.

KK Look
Sy setuju dg pendapat @Dosa bhw jahat-baik itu adalah konsepsi manusia ttg realitas hidupnya. ... Jadi, kita tau skrg bhw kl ada yg bilang Allah berbuat jahat dan kejam, ini bs diterima sepanjang itu dr perspektif manusia. Tp dr perspektif Allah, tdk ada yg jahat.

nk
Tuhan tdk mampu menciptakan sesuatu diluar karakterNya! Dia Maha Suci tdk mampu menciptakan kejahatan. Dia Maha Baik tdk mampu berperang sedekar hobi.

Tanggapan
Pendapat @KK Look di atas saya duga bersumber dr filsafat agama yang tergolong sangat tua, harmoni. Kita bisa menelusurinya mulai dari konsep tao di Cina, Hindu dan Budha di India, bahkan mungkin yg lebih tua lagi dalam konsep agama2 misterius.

Yin dan Yang adalah karakter ilahi yang diaktifkan untuk memelihara harmoni kosmos. Syiwa bukanlah kejahatan dan Wisnu bukanlah kebaikan, tetapi keduanya adalah karakter Dewa untuk menjaga harmoni alam. Agama sabu juga punya konsep meringi, mengerru, merede.

Sebaliknya, membaca komentar @NK terkesan ada kerangkeng bagi Allah yg membatasi-Nya utk tdk bisa melakukan apa yg dikonsepsi oleh manusia sbg 'kejahatan'. Ini bisa mengganggu jk kita menganut paham 'tiada yg mustahil bagi Allah'.

NK seharusnya bisa mengklarifikasi hal ini agar tdk menimbulkan distorsi dlm merasionalisasikan iman thd 'ke-Maha-Mampuan Tuhan'. Jika tidak, mk pendapat Lakers berikut ini nampak lbh rasional dan dapat diterima.

Lakers
Mampukah saya menahan nafas saya hingga saya mati, tentu mampu tapi apakah mau?

Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?

Saya kira ini juga sama jawabanya.


(Wilmana)

Anonim mengatakan...

pas lewat aj
Komen2 ini lama2 menggiring ke kesimpulan yg tesiratkan di postingan blog sy 2 hr lalu:
Antara Ada dan tiAda , Disini Ada Setan

Mungkin juga ini premature conclusion ya, soalnya sy bukan ahli di bidangnya. Selamat berdiskusi

~JM
(narsis)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Sebaliknya, membaca komentar @NK terkesan ada kerangkeng bagi Allah yg membatasi-Nya utk tdk bisa melakukan apa yg dikonsepsi oleh manusia sbg 'kejahatan'. Ini bisa mengganggu jk kita menganut paham 'tiada yg mustahil bagi Allah'.

Sepertinya sdr tdk membaca komentar saya buat @lakers yg ini:

@lakers

Lihat Titus 1:2

In hope of eternal life, which God, that cannot lie, promised before the world began

(King James Version)

I submit it to you, Tuhan tidak mampu menipu. Betul tidak??? Jadi jgn kira Dia mampu tp tidak mau menipu. Sdr salah besar!


Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?

Kalau kita pakai logika @lakers, maka jadinya spt ini:

Allah beking batu besar, teramat besar dan berat, lalu agar dia sendiri tdk mampu mengangkat, Dia harus melepaskan ke-maha-mampuan-Nya. Sialnya, kalau Dia tdk lagi omnipoten, bagaimana Dia menjadi Allah lagi???

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Bisa jadi saat Allah melepaskan ke-maha-mampuan-Nya, dia menjadi Mr Jimi atau @new comer, ha ha ha

-nyong kupang-

nb: ha ha ha, masih lucu, ha ha

Anonim mengatakan...

Ah, sy sdh baca pendapat Paulus di kitab Titus itu. Terjemahan resmi bahasa Indonesia, bukan 'tidak mampu', tetapi 'tdk mungkin'.

Dlm bbrp Commentary on the bible djelaskan bhw frasa 'cannot lie' ini maksudnya adalah argumentasi Paulus tentang kesempurnaan Tuhan yg tdk punya sifat suka menipu. Mengenai ini John Gill bilang, and "can not lie"; this does not contradict His omnipotence, but argues the perfection of His nature, which cannot admit of anything that implies weakness.

Tp coba cek lg komentar @KK Look di atas. Jahat-Baik, mampu-tdk mampu, kuat-lemah, dll, semuanya adalah konsepsi manusia.
Jadi, anda bicara Tuhan mampu-tdk mampu angkat batu. Ini musti jelas dulu, mampu mnrt manusia ato tdk mampu mnrt Tuhan? Jgn sampe kita lalu ikut2an bbrp kelompok org yg angkat parang utk bela hukum Tuhan seolah-olah Tuhan tdk mampu membela hukum-Nya, ato membela diri-Nya sendiri.

Kembali ke laptop, "kejahatan" ciptaan Tuhan ato siapa? Yg pasti terminologi 'kejahatan' ini adalah bikinan manusia utk membedakannya dg terminologi "kebaikan" yg ada pd sisi positif. Mgkn terlalu membingungkan. Jd coba renungkan. Jk anda akui diri sbg manusia yg LEMAH. Mnrt anda kelemahan pada manusia itu bikinan anda sendiri, ato ciptaan siapa? Jgn lupa, terminologi "lemah" ini jg konsepsi manusia. Sama jg dg (istilah) "Allah PL", "Allah PB", dll.

(Wilmana)

--DoSa-- mengatakan...

God is able to do anything possible, but not anything impossible, and creating a stone that God cannot lift is something impossible." (Thomas Aquinas).

Menurut Aquinas, Tuhan mampu berbuat segala sesuatu yg tdk melanggar hukum logika dan matematika. Kalau Dia menciptakan batu yg amat berat Dia sendiri tidak bisa angkat, maka batu tsb adalah sebuah ketidakmungkinan. Sama halnya dgn ini. Dia tidak mampu membuktikan 1 + 1 = 100, karena ini mathematically impossible.

Apa kata kitab suci ttg keMaha-Mampu-an Allah? Tuhan tdk mampu menciptakan sesuatu diluar karakterNya! Dia Maha Suci tdk mampu menciptakan kejahatan. Dia Maha Baik tdk mampu berperang sedekar hobi.

Akhirnya, argumen org ateis 'gatot' alias gagal total membuktikan ketiadaan Allah. Ketidakmampuan Allah berbuat sesuatu diluar karakterNya tdk cukup membuktikan Dia tdk omnipoten.

==============================

Ah, ternyata bahasannya masih bermain pada tataran konsep dengan hanya memakai "pemanis" kata2 keren seperti karakterNya, Maha Suci, Maha Baik, Can not Lie, dsb dsb, sesuatu yang sama sekali tidak membuktikan apakah Allah/God/Tuhan itu ADA atau TIADA.

Dan ternyata pencipta hukum matematika lebih berkuasa dari Allah/God/TUhan yang ngga mampu, thus keMaha Kuasaan matematika, lebih besar dari ke Maha Kuasaan Allah, ataukah saudara KuMan mengamini bahwa Allah anda adalah Allah yang most likely Maha Kuasa? Kalau memang berhadapan dengan Hukum Matematika saja Allah "kalah", then Allah hanya buatan Manusia saja, bukan?

Mungkin saudara KuMan bisa balik lagi ke pertanyaan awal tentang Yang Awal. Apa kata Kitab suci saudara tentang Yang Awal?

Anonim mengatakan...

@wilmana:

Dlm bbrp Commentary on the bible djelaskan bhw frasa 'cannot lie' ini maksudnya adalah argumentasi Paulus tentang kesempurnaan Tuhan yg tdk punya sifat suka menipu. Mengenai ini John Gill bilang, and "can not lie"; this does not contradict His omnipotence, but argues the perfection of His nature, which cannot admit of anything that implies weakness.

Soal utama dalam menjawab paradoks batu adalah memang ttg God's ompipotence dan karena sdr mengutip pikiran John Gill maka jawaban Aquinas bahwa Allah tdk mampu membuat batu yg Dia sendiri tdk mampun angkat tdk menghilangkan ke-maha-mampuan Allah. Ini berbeda dgn pemahaman 'all powerful God' kaum ateis.

Tentang tiada yg mustahil bagi Allah, menjadi jelas sekarang. Tidak ada yg mustahil dalam KESEMPURNAAN Allah. Allah tdk menciptakan kejahatan ttp Dia mengijinkan si Jahat melakukan kejahatannya.

@DoSa

Sadiki lai Tuhan Allah fiti ale pung kapala otak.

Sdr bilang Creator ada, tp lalu disini sdr katakan Allah tdk ada. Mana yg benar?

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Tambahan:

Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Begitu juga tentang gelap.

Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Kalau Allah tdk mampu menipu, maka Dia tidak omnipoten.

Premis argumen diatas jelas salah karena menipu diyakini sbg realitas yg terpisah dari yg lain. Menipu sama spt batu, kayu atau tanaman.

Harusnya: Sama spt gelap yg ada hanya karena ketiadaan cahaya, maka menipu hanya ada karena ketiadaan kebenaran.

Jadi, Tuhan Allah tdk menipu karena Dia sempurna dalam kebenaran.

@Lakers keliru kalau Allah mampu tp tdk mau membuat batu yg teramat berat Dia sendiri tdk bisa angkat. Dalam kesempurnaan Dia sebagai Allah yg Maha Rasional, maka irasionalitas tdk ada.

Su jelas ko?

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

NKJadi, Tuhan Allah tdk menipu karena Dia sempurna dalam kebenaran.

Nah ini baru jelas perbedaan NK vs Lakers. NK makin mendekati KK Look. Tinggal skrg memahami otak si Dosa yg mencoba menjelaskan bhw tuhan, jahat, baik, terang, gelap, dst, semuanya adalah kosa kata bikinan manusia utk menggambarkan defenisi manusia atas gejala-gejala alam.

Saya sendiri menganut pemikiran bhw kemungkinan sejauh ini, kemutlakan Tuhan menyebabkan manusia yang relatif itu tidak dapat menjangkau substansi Tuhan. Dengan demikian informasi tentang substansi Tuhan itu apa, tentunya berasal dari sang mutlak atau Tuhan itu sendiri.

Kalo anda setuju dg ini, mk persoalan selanjutnya tinggal kita peta kan, mana informasi (ttg Tuhan yg) bikinan manusia dan mana yg benar2 berasal dari Sang Mutlak itu sendiri.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Lihat Titus 1:2

In hope of eternal life, which God, that cannot lie, promised before the world began

(King James Version)

I submit it to you, Tuhan tidak mampu menipu. Betul tidak??? Jadi jgn kira Dia mampu tp tidak mau menipu. Sdr salah besar!

Saya tunggu sanggahan sdr.

-nyong kupang-



versi indonesia TB:

"...dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta..."


dimana-mana yang namanya terjemahan tidak dapat dihindari terjadi ada pergeseran arti karna penggunaan kata... yang mungkin kurang tepat, untuk itu perlu ada studi kusus untuk memahami kata dalam bahasa asli... bagi mudahnya mari kita baca keseluruhan pasal, perikop, maksud dan tujun, seting tempat dan waktu baru tarik artinya... karna ada kata yang bisa dulunya berati baik tapi sekarang berubah makna bagi yang mendengarkannya... misalnya coba tegur hei perempuan... itu kata yang benar dan sopan dulunya tapi sekarang kedengaran kasar bagi beberapa orang dibeberapa tempat (sekedar contoh saja)... Dan jangan lupa untuk berdoa sungguh-sungguh sebelum membaca dan minta bimbingan untuk memahaminya.
Roh dari yang menuntun penulis harus sama dengan roh yang membacanya ha,..ha 100x baru bisa konek.


versi yunani:

Kata : aqeudhv apseudes (sayang kata ini tidak bisa tampil dalam tulisan Yunani)

Pengucapan: aps-yoo-dace’
Asal Kata : from 1 (as a negative particle) and 5579
Sumber : TDNT-9:594,1339
Jenis : adj

Dalam AV : that cannot lie 1
Jumlah : 1

Dalam TB : tidak berdusta 1 [DRAFT ITL**]
**) Draft Versi Interlinear Indonesia-Yunani, SEDANG dikerjakan

Definisi Indonesia:
[Barclay] ev yang tidak berdusta

Definisi Inggris:
1) without lie, truthful


Jadi kesimpulan menurut saya bahwa bukan tidak "mampu berdusta" tetapi "tidak mau berdusta/ tidak pernah berdusta"

OK Bro... lanjut...!

Jangan Keraskan Hatimu ....!

(lakers)

Anonim mengatakan...

@wilmana:

Saya sendiri menganut pemikiran bhw kemungkinan sejauh ini, kemutlakan Tuhan menyebabkan manusia yang relatif itu tidak dapat menjangkau substansi Tuhan. Dengan demikian informasi tentang substansi Tuhan itu apa, tentunya berasal dari sang mutlak atau Tuhan itu sendiri.

Amin...

Persoalan @DoSa adalah dia mengakui Sang Pencipta tp menolak pewahyuan Sang Mutlak itu.

@lakers

Saya jadi ingat pesan org bijak:

When your logic leads to an absurd conclusion, go back and re-examine the premise.

Bukannya cek premis sdr itu, sdr hanya sekedar menulis kalimat dari buku-buku pelajaran teologia yg teramat basic.

Okelah, saya ikuti saja logika sdr. Kalau Allah mampu berdusta dan, untuk maksud diskusi ini, Dia mau melakukannya, apa yg Allah harus beking sebelum berdusta??? Melepaskan kesucianNya? Mohon sdr jawab ini!!!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Ha ha ha... Ini baru mantaps... Lakers ini apa tinggal di California USA, ato pinggir kali Humbala.

Buat NK dan Lakers, kalo kita sepakat bhw tiada yg mustahil bagi Tuhan, ato org filsafat bilang Dia itu sang Mutlak, mk jgn coba2 pasang kerangkeng utk membatasi Tuhan tdk boleh ini-itu, termasuk tdk mampu bikin ini-itu. Diamini sbg Sang Mutlak tp msh tdk bebas utk bikin ini-ini, ato msh tdk mampu bikin ini-itu, bkn mutlak lagi namanya.

Sy pernah didebat seorang sahabat muslim yg mengatakan Allah tidak mungkin berinkarnasi menjadi manusia. Sahabat sy ini baru bungkam ketika sy bilang, "berarti msh ada hal yg mustahil bg Tuhannya islam". Kl msh ada yg mustahil bg Tuhan, mk apa msh layak disebut sbg Yang Maha?

KK Look

Anonim mengatakan...

@KK Look

Sy pernah didebat seorang sahabat muslim yg mengatakan Allah tidak mungkin berinkarnasi menjadi manusia. Sahabat sy ini baru bungkam ketika sy bilang, "berarti msh ada hal yg mustahil bg Tuhannya islam". Kl msh ada yg mustahil bg Tuhan, mk apa msh layak disebut sbg Yang Maha?

Apa premis argumen sahabat sdr itu??? Menarik untuk diselidiki apakah premisnya valid atau tdk.

Saya agak kurang senang dgn sdr @lakers ini. Premis argumennya ngawur, saya yg disuruh jgn keras hati. Apa maksud???

-nyong kupang-

--DoSa-- mengatakan...

untuk menjawab pertanyaan nyong kupang tentang Creator dan Allah, saya mengajak untuk kembali melihat argumen pada postingannya:

"Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan seluruh akalmu. Itulah perintah yang terutama dan terpenting!" (Matius 22: 37 - 28). Artinya apa? Artinya, buat saya, realitas Sang Pencipta tidak saya imani hanya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa tetapi juga akal. Artinya lagi, saya harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang 'berbau' filsafat seperti, 'Siapa yang menciptakan Allah?' Kalau tidak cilaka 12 karena kaum peragu gemar membuat kita kedengeran seperti orang tolol tidak berotak dan hanya punya blind faith. "

Artinya adalah keberadaan Allah "dibuktikan" dengan hati dan jiwa (IMAN)dan akal (Science). Argumen dari Aquinas, dari surat Titus, sama sekali TIDAK membuktikan bahwa Allah ITU ADA.!! Surat Titus hanya menjadi landasan iman terhadap sifat Allah, yang dipercaya oleh orang Kristen, yaitu Allah yang TIDAK BERKEHENDAK untuk berbohong (walaupun apa itu BOHONG dan apa indikator BOHONG, baik secara Iman, maupun secara Akal pun tidak jelas). Argumen Aquinas pun adalah argumen iman, dan bukan argumen pembuktian keADAan Allah. Teori Prima Causa TIDAK merujuk kepada Allah, seperti yang di imani oleh saudara nyong kupang, dan sama sekali tidak menjawab dari mana AWAL itu berasal.

Menurut saya simple saja, otak manusia tidak bisa comprehend apa itu Prima Causa atau First Cause, sehingga manusia menciptakan figur 'super being' yang disembah. Dari jaman batu, sampe jaman jahiliyah sampe sekarang, orang mengenal 'super being' itu dengan istilah buatannya sendiri seperti pagan, dewa/dewi sampai 4JJI, Allah, Tuhan dll, dll. Dan karena 'super being' itu adalah figur ciptaan manusia, maka manusia menciptakan 'karakter' dari super-being (Allah, TUhan, Dewa) tadi, yang di IMANInya (bahkan kalo perlu membunuh orang lain untuk iman sempit itu). Karakter dari Allah/TUhan/Dewa inilah yang sementara dibahas sampai pada postingan ke 52 ini, misalnya Allah Kuat/Lemah, Allah Suci/Jahat, Allah Kawin/ngga kawin, Allah 3 in one/Tidak DIperanakkan, Allah Hidup/Dzat, dll dll. Semuanya ini adalah "karakter" Allah hasil ciptaan Manusia. Kalau singa bisa ngomong, mungkin ia akan bingung apa itu kebaikan atau kejahatan..

Anonim mengatakan...

@ Lakers,

Uraian anda tajam dan menggigit. Bagus (Savunesse)

Anonim mengatakan...

NK tanya
Apa premis argumen sahabat sdr itu???

Jawab
Yah tdk beda dg pandangan anda tentang gelap-terang itu. Buat dia Allah itu terang shg 'tidak mungkin' meredupkan terangnya menjadi abu-abu alias remang-remang. Berinkarnasi mjd manusia itu sm sj dg menjadikan terang Allah mjd relatif, tdk lg terang yg mutlak.

Bgmn mnrt sdr?

@Dosa
Pertanyaan kedua buat @Dosa.

Apakah anda bisa terima jika 'super being' itu berkehendak memberi inspirasi mengenai Dia kepada manusia?

Moga2 kl berkenan dijawab sekalian rapelan dg pertanyaan pertama saya.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Dosa
Mhn maaf pertanyaan pertama sy ditujukan buat @nk, tp mgkn sdr tertarik utk menjawabnya.

Q1: Kembali ke laptop, "kejahatan" ciptaan Tuhan ato siapa?

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Saya agak kurang senang dgn sdr @lakers ini. Premis argumennya ngawur, saya yg disuruh jgn keras hati. Apa maksud???

-nyong kupang-

"...ha, ha, ha... Saudara NK, maksud dari Jangan Keraskan Hati (PL bilang ... Tegar tengkuk...)itu ... anggap sepele saja.. ha,ha... ta usa emos... itu cuma salah satu contoh bahwa kalau PL bilang begitu tapi sekarang itu mungkin artinya terlalu keras jadi beta mau pake kata yang agak halus "Jangan Keraskan hatimu".... ha,ha,... jang ta pancing Bro...


beta coba tawarkan masalah yang agak mirip...

Kenapa Tuhan musti sibuk-sibuk datang didunia cuma untuk beking katong sadar dari katong pung dosa (beta, NK, Wilmana,dll) ... tentu cuma satu hal yang buat Dia mau begitu yaitu: Kasih, Dia mampu berbuat segala sesuatu namun ada hal yang membuat dia tidak mau buat karna Dia punya Kasih buat katong (peduli pada beta, NK, Wilmana, dll)...
YK yang Maha Mulia mau datang dan menderita di Dunia saja itu suatu kemustahilan bagi Manusia tapi kenapa Dia mau...?

NK coba tanya moderator, baru2 moderator bawa perenungan tentang Kasih....ha, ha....

Hal yang sudah dimengerti mengapa harus susah dipikirkan lagi...Dunia sudah penuh dengan Kepura-puraan kenapa kita harus menambah lagi kepura-puraan yang baru... Ha, ha...100x

pusing....!


lakers

--DoSa-- mengatakan...

@Dosa
Pertanyaan kedua buat @Dosa.

Apakah anda bisa terima jika 'super being' itu berkehendak memberi inspirasi mengenai Dia kepada manusia?


'berkehendak memberi inspirasi...' menurut saya hanyalah artificial justifikasi buatan manusia saja. Manusialah yang menciptakan 'karakter' dari super being itu menurut pikiran dan rancangan manusia, sehingga timbul self-fulfiling prophecies bahwa DIA (seakan-akan) berkehendak untuk menyatakan diriNya kepada CiptaanNya. Pertimbangan ini terjadi karena emosi manusia sendiri. Orang Tua akan berkehendak untuk dikenal oleh anaknya, demikian pula seakan2 super being pun ingin dikenal, bahkan HARUS dikenal.

Well, apakah sebuah baterei ABC berkehendak untuk menyatakan dirinya kepada energi yang dihasilkannya? atau sebuah lampu pijar kepada cahaya yang dihasilkannya? ataukah sebuah pohon kepada buahnya? atau plasma TV kepada gambar yang dihasilkannya?

Kalau anda bisa menerima bahwa "Allah" tidak DICIPTAKAN, then kenapa tidak membuka diri untuk menerima bahwa "Super being" itu ADA dengan satu fungsi yang automatic, uncontrollable and self-sufficient saja, yaitu menciptakan!! Tanpa emosi, tanpa berpikir, tanpa berkehendak, tanpa berfilsafat? Thus PENCIPTA dan CIPTAAN merupakan satu automatic process, satu cycle yang tidak berujung, tidak beremosi tapi merupakan satu kesatuan? (saya ngga setuju dengan konsep PENCIPTA ada DISANA, dan ciptaannya DISINI).

Analogi yang paling sederhana jam (atau pukul, kata Tuan RUmah). Dari angka 1 akan berubah menjadi 2 dst, dst. Mekanisasi dari jam akan tetap MENCIPTAKAN perubahan dari 1 ke 2 ke 3 secara otomatis, tanpa emosi, di luar kehendak semua komponen, baik jarum, angka yang tertera dsb, dsb, tapi semuanya itu ada dalam satu kesatuan.

Balik lagi ke analogi air laut pada postingan di thread lalu, dimanakah posisi setitik air dalam lautan?

Semoga bisa direnungkan

--DoSa-- mengatakan...

coba bandingkan ini, dalam hitungan kecepatan cahaya, diameter bumi hanyalah 1/24 DETIK cahaya. Galaxi Bima Sakti (milky way) itu 100,000 TAHUN cahaya in diameter, dan alam semesta (diperkirakan) 27.4 milliard TAHUN cahaya, thus keberadaan manusia itu billions and billions of time INSIGNIFICANT dalam Alam Semesta ini.

Pertanyaannya kepada saudara lakers adalah apa sih signifikansinya semesta ini sehingga TUHAN harus datang dan menjadi hamba hanya untuk menyelamatkan manusia? Logicnya dimana?

Anonim mengatakan...

-Untuk @wilmana:

Yah tdk beda dg pandangan anda tentang gelap-terang itu. Buat dia Allah itu terang shg 'tidak mungkin' meredupkan terangnya menjadi abu-abu alias remang-remang. Berinkarnasi mjd manusia itu sm sj dg menjadikan terang Allah mjd relatif, tdk lg terang yg mutlak.

Bgmn mnrt sdr?


Bapak Gereja Augustine bilang bigini, "God could not do anything or create any situation that would in effect make God not God." Allah tdk menciptakan sesuatu atau situasi dimana Dia menjadi bukan Allah." Ini harus menjadi premis dasar kita! Pertanyaan, apakah Allah menjadi manusia berakibat Dia menjadi bukan Allah lagi?

Wilmana, sdr khan org Kristen, apa keyakinan sdr atas figur Yesus sebagai inkarnasi Allah. Hanya 100% manusia??? Kalau iya, maka konklusi sahabat muslim sdr bisa jadi benar.

-Untuk @lakers

Sdr hanya geser sana sini tdk mejawab pertanyaan saya sebelumnya. Kalau sdr berargumen Allah mampu tp tdk mau, maka sdr harus bisa, demi keperluan diskusi, menjelaskan skenario Allah mampu dan mau menipu. Saya yakin pertanyaan saya ini sah demi membuktikan kebenaran premis argumen sdr itu. Saya tunggu lho atau silahkan jujur katakan kalau sdr tidak sanggup bertanggungjawab dgn premis argumen sdr itu. Saya dpt mengerti.

Tentang hal ini:

Kenapa Tuhan musti sibuk-sibuk datang didunia cuma untuk beking katong sadar dari katong pung dosa (beta, NK, Wilmana,dll) ... tentu cuma satu hal yang buat Dia mau begitu yaitu: Kasih, Dia mampu berbuat segala sesuatu namun ada hal yang membuat dia tidak mau buat karna Dia punya Kasih buat katong (peduli pada beta, NK, Wilmana, dll)... YK yang Maha Mulia mau datang dan menderita di Dunia saja itu suatu kemustahilan bagi Manusia tapi kenapa Dia mau...?

Saya sudah jelaskan panjang dan lebar premis argumen saya. Allah mampu lakukan apa saja didalam --bukan diluar-- karakterNya. Apa karakter Alla? Salah satunya, KASIH! Dus, kalau Allah memilih menjadi manusia untuk menyelamatkan umatnya atas dasar Kasih, maka itu sah/valid. Su jelas ko? Kalau sudah, silahkan jawab beta punya pertanyaan sebelumnya!!!

-Untuk @DoSa

Argumen sdr tidak konsisten. Mengaku adanya Pencipta tetapi lalu katakan Allah tdk ada, bahkan esensi tulisan saya sdr tolak. Dgn sendirinya saya tdk bisa merespon komentar sdr.

Untuk urusan dola-dali gaya sdr ini, @wilmana jagonya. Dalam setiap debat, wilmana harus yg terakhir berkata-kata disini. Semoga sdr kuat menghadapinya. Good luck maaameeenn.

-nyong kupang

--DoSa-- mengatakan...

Argumen sdr tidak konsisten. Mengaku adanya Pencipta tetapi lalu katakan Allah tdk ada, bahkan esensi tulisan saya sdr tolak. Dgn sendirinya saya tdk bisa merespon komentar sdr.

Untuk urusan dola-dali gaya sdr ini, @wilmana jagonya. Dalam setiap debat, wilmana harus yg terakhir berkata-kata disini. Semoga sdr kuat menghadapinya. Good luck maaameeenn.

-nyong kupang


Hmmm,

Yang mana yang tidak konsisten? Pertanyaan thread anda adalah 'Allah, ada atau tiada' thus anda mengklaim bahwa Allah = Pencipta. Padahal seluruh argumen anda HANYA bermain pada "Apa sifat2 Allah". Itu esensi Tulisan anda. Saya hanya melihat dengan Akal budi (instead of hati dan jiwa ONLY).

saya konsisten dengan argumen saya bahwa Allah =/= Pencipta. Karena Allah hanyalah karakter ciptaan Manusia saja. Sama dengan Superman. Kalau ditanya apa sifat2/karakter Superman, pasti banyak yang tahu. Tapi kalau BUKTIKAN Superman ADA, hmmm ada ngga ya yang bisa buktikan?

Kalau ditanya, APA sifat2 Allah? Anda sudah menjawabnya, tapi kalau BUKTIKAN Allah Ada? Hmmmm, ada ngga ya yang bisa buktikan?

cukup jawab saya ya atau tidak.

But, kalo ngga juga tidak apa2 kok..

Salam

Anonim mengatakan...

@ all,

Saya heran. Heran sekali. Apa Tuhan bisa diperdebatkan? Anda semua hanya perlu Percaya saja padaNYA. Itulah Iman. Anda-anda di sini beriman ko tidak?

@ Bigmike,

Beri perhatian ke Permasa dulu. Skrang mati tidak hidup juga tidak. Kami betul-betul kehilangan bapa Robert yang mampu menginspirasi kami (Savunesse)

Anonim mengatakan...

@ BM,

Posting baru duunnkkk? (Proxy73)

Anonim mengatakan...

@org sabu:

Saya heran. Heran sekali. Apa Tuhan bisa diperdebatkan? Anda semua hanya perlu Percaya saja padaNYA. Itulah Iman. Anda-anda di sini beriman ko tidak?

Kalau anda heran dgn debat kami dini, maka sebenarnya saya yg heran dgn anda. Selama ini anda tinggal di planet mana??? You seem to have lost all sense of history planet bumi ini.

Apakah anda pernah dengar nama-nama pemikir besar spt: St Anselm, St Thomas Aquinas, St Augustine, Aristole, Blaise Pascal, Imanuel Kant dkk VERSUS David Hume, Sigmund Freud, Friedrich Nietzsche dkk??? Tahukan anda debat mereka adalah debat tentang ketuhanan??? Dari merekalah kita tahu apa itu epistemologi, ontologi dan aksiologi??? Terakhir, tahukan anda peradaban manusia modern lahir dari debat mereka???

@DoSa:

Kalau ditanya, APA sifat2 Allah? Anda sudah menjawabnya, tapi kalau BUKTIKAN Allah Ada? Hmmmm, ada ngga ya yang bisa buktikan?

Didalam posting 'Allah Berdaulat' sdr mengambil posisi sebagai seorang 'Deist' maka dalam posting ini anda seorang 'Agnostic'. Tentang perbedaan keduanya sdr sudah pasti tahu.

Tentang pertanyaan sdr diatas, kalau sdr membaca tulisan saya, maka disana saya 'buktikan' eksistensi Allah. Sdr berhak menolak tp tunjukan kelemahan logika 'causation' spt dalam tulisan saya itu. Saya tunggu.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Mantap2... Ini br bagus utk asah otak, drpd sekedar main tebak2an identitas pribadi org lain.

Dosa
'berkehendak memberi inspirasi...' menurut saya hanyalah artificial justifikasi buatan manusia saja.,

Mgkn sy keliru, tp kesan saya anda menolak kemungkinan adanya self-inisiative dari si 'super being' itu utk berkehendak bebas, termasuk mengintervensi pemikiran manusia yg mencari inspirasi. Tentu anda lbh tegas lg menolak kl sy bilang si super being itu bkn cuma sekedar memberi inspirasi tetapi berbisik di telinga manusia.

Memikirkan argumen anda di atas,rasanya ada yg aneh. Anda menerima bhw otak manusia tidak bisa comprehend apa itu Prima Causa atau First Cause, tp anda sendiri yakin dg konsepsi anda ttg eksistensi sang Causa Prima alias 'super being' itu. Sy jd bertanya-tanya, spt apa anda membayangkan si super being ini? Tp tak lama, sy sdh ketemu jawbnnya:

dosa
Super being" itu ADA dengan satu fungsi yang automatic, uncontrollable and self-sufficient saja, yaitu menciptakan!! Tanpa emosi, tanpa berpikir, tanpa berkehendak, tanpa berfilsafat? Thus PENCIPTA dan CIPTAAN merupakan satu automatic process, satu cycle yang tidak berujung, tidak beremosi tapi merupakan satu kesatuan?

Mgkn sy keliru, tp kesan sy 'super being' ini di mata anda bukanlah 'makhluk', tetapi sekedar suatu sistem ala mesin yg kalau semua prasyaratnya terpenuhi akan terus bergerak abadi. Lalu scr tnp sengaja 'mesin' ini menciptakan panas, asap, dll sbg output dr proses otomatis yg siklikal. Lalu 'mesin' ini anda kasi label sbg PENCIPTA dan panas, asap, dll sbg CIPTAAN.

Berkaca pd fakta kompleksitas individu dan kelompok manusia yg memiliki semua unsur spt emosi, pikiran, dan perubahan yg mnrt anda tdk dimiliki oleh si PENCIPTA, sy msh ada bbrp pertanyaan. Tp sy pingin anda kasi nilai dulu pd pengertian sy atas argumen anda di atas. Kl anda anggap sdh benar, mk sy dpt lbh maju dg bbrp pertanyaan lg.

Anonim mengatakan...

Lanjutan dr yg di atas.

NK,
Bapak Gereja Augustine bilang bigini, "God could not do anything or create any situation that would in effect make God not God."

Pertama, sy setuju dg argumen Agustinus itu, tp dlm pengertian saya itu tdk menolak argumen Lakers bhw 'tdk mgkn' atau 'tdk dapat' bs sj krn 'tdk mau'. SGT-nya bigmike itu terkenal dg prinsip hidup tdk rakus jabatan. Krn itu almarhum semasa hidupnya 'tdk mungkin' ato 'tdk dpt' bertindak culas merampas jabatan yg mjd hak org lain. Kita liat, 'tdk mgkn' ato 'tdk dapat' disini, bkn berarti SGT (alm) 'tdk mampu' tetapi lbh pada 'tdk mau'. Asal kalo mau, SGT terlalu mampu utk bermain culas. Tp persoalannya SGT (alm) bkn tdk mampu, tp tdk mau. Knp? Anda tentu bs jawab sendiri, kan?

Kedua, sy kira kita sepakat bhw konsep 'baik-jahat' dlm diri idividu manusia kayak 'two in-one' dan dikotomi lain sejenisnya adalah produk manusia, bkn Tuhan. Krn dr perspektif Tuhan, tdk ada jahat-baik. Sesuatu yg disebut manusia sbg 'jahat', ternyata di tangan Tuhan mjd alat utk mendatangkan kebaikan.

Jd, sesuatu itu mjd 'jahat' hanya ketika berada di tangan manusia, tp di tangan Tuhan tdk dikenal jahat itu, krn yg jahat mengalami transformasi mjd alat utk kebaikan. Di tangan manusia, apa yg baik berubah menjadi jahat, sementara di tangan Tuhan yg ada cuma baik sj, termasuk apa yg di mata manusia adalah jahat. Tp bukan berarti Tuhan tdk mampu bikin apa yg didefenisikan manusia sbg jahat spt: membunuh, marah, bahkan yg persoalkan, menipu. Persoalannya Tuhan tdk dan tdk akan pernah mau menipu. Krn itu, kita jg jgn berandai-andai suatu saat Tuhan mau jg menipu. Jgnkan Tuhan, SGT (alm) sj mana mau berlaku culas. Tp bukan berarti tdk mampu.

Untuk ini, kita mmg tdk mgkn ato tdk dpt, ato tdk boleh inkonsisten dg menodai premis kita sendiri, 'tiada yg mustahil bg Tuhan'. Tp bkn berarti kita tdk mampu bikin inkonsistensi, kan?

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Pak Mike, belum ada posting baru ni. Shalom (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

@wilmana:

Tp persoalannya SGT (alm) bkn tdk mampu, tp tdk mau. Knp? Anda tentu bs jawab sendiri, kan?

Yg pasti SGT adalah manusia dan semua manusia berdosa. Beta kira katong bisa setuju ttg ini.

Jd, sesuatu itu mjd 'jahat' hanya ketika berada di tangan manusia, tp di tangan Tuhan tdk dikenal jahat itu, krn yg jahat mengalami transformasi mjd alat utk kebaikan.

Beta kira betul. Kejahatan ada karena tiada ketaatan manusia kepada 'hukum' Allah. Premisnya su jelas toh. Allah tdk menciptakan kejahatan.

Persoalannya Tuhan tdk dan tdk akan pernah mau menipu. Krn itu, kita jg jgn berandai-andai suatu saat Tuhan mau jg menipu.

Betul dan karena itu jgn membuat argumen 'Tuhan mampu tp tdk mau' berbuat jahat. Kalau kita pakai premis ini, maka konsekuensi logisnya adalah bagaimana kalau Dia mau menipu??? Ini harus bisa dijawab! Kalau tdk mau berandai-andai, maka jgn membuat argumen Dia mampu tp tdk mau berbuat jahat. Ingat lho, kita bicara Tuhan Allah. Kalau SGT itu soal lain. Argumen dia mampu tp tdk mau culas cukup logis. Kita bebas berandai-andai kalau dia mau culas karena dia manusia.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Hallo semua kawan,

beta mohon maaf karena betul-betul beta tidak begitu "ahli" dalam hal Teologia. Tapi umpan beta tantang Allah PL VS Allah PB ternyata jadi "santapan empuk: komentator. Beta senang karena sekalian bisa belajar. Terima kasih banyak bagi yang sudah kasi tanggapan.

@ BM,

Kasi posting baru dolo boss (A9ust)

--DoSa-- mengatakan...

@DoSa:

Didalam posting 'Allah Berdaulat' sdr mengambil posisi sebagai seorang 'Deist' maka dalam posting ini anda seorang 'Agnostic'. Tentang perbedaan keduanya sdr sudah pasti tahu.

Tentang pertanyaan sdr diatas, kalau sdr membaca tulisan saya, maka disana saya 'buktikan' eksistensi Allah. Sdr berhak menolak tp tunjukan kelemahan logika 'causation' spt dalam tulisan saya itu. Saya tunggu.

-nyong kupang-


Simple saja. Kita balik ke defenisi "buktikan". Proof, menurut Merriam-Webster Dictionary adalah "the cogency of evidence that compels acceptance by the mind of a truth or a fact".

Logika (well, you've said enough, actually) causation, hanyalah logic "a science that deals with the principles and criteria of validity of inference and demonstration : the science of the formal principles of reasoning". Logic doesn't prove anything. Logic hanyalah ilmu, bukan BUKTI. Logikanya bahwa menurut Alquran, Allahnya Islam bersemayam di Langit ke Tujuh, sama sekali tidak membuktikan apa2 bahwa Allah bersemayam di langit ke tujuh. Itu logika Islam yang belum tentu masuk dalam logika Kristen.

Logic doesn't make you win in court. It's what you CAN PROVE with Evidence(s).

=============================================

Mgkn sy keliru, tp kesan sy 'super being' ini di mata anda bukanlah 'makhluk', tetapi sekedar suatu sistem ala mesin yg kalau semua prasyaratnya terpenuhi akan terus bergerak abadi. Lalu scr tnp sengaja 'mesin' ini menciptakan panas, asap, dll sbg output dr proses otomatis yg siklikal. Lalu 'mesin' ini anda kasi label sbg PENCIPTA dan panas, asap, dll sbg CIPTAAN.

Saya pikir analogi JAM (Arloji) adalah sesuatu yang tepat untuk mendefenisikan konsep saya tentang Prima Causa. Kalau anda melihat arloji, di dalamnya terdapat komponen2 yang bergerak dalam proses cyclical yang menghasilkan perubahan dari 1 ke 2 dst dst. Ada Awal, tapi awal itu relatif terhadap komponen berikutnya, tapi CIPTAAN yang dihasilkan terus berganti dalam satu kesatuan itu. Thus Pencipta, dan Ciptaan merupakan satu kesatuan, yang bergerak secara otomatis tanpa emosi, tanpa perlu di acknowledge. Pencipta ada di dalam ciptaan, dan ciptaan ada didalam pencipta. Ciptaan NGGA MUNGKIN bisa mendefenisikan apa itu PENCIPTA, sebaliknya PENCIPTA ngga bisa klaim bahwa itu CIPTAANnya, karena keduanya adalah satu kesatuan.

Thus konsep PRima Causa, menurut saya bukanlah Sang Awal, yang kemudian melahirkan KEHIDUPAN ini, termasuk anda dan saya. Manusia adalah komponen DALAM PRIMA CAUSA itu. Manusia lahir, hidup, mencari sang Awal, ngeblog, mati, dsb merupakan proses siklikal dalam Prima Causa itu. Alam semesta terbentuk dan berakhir dalam proses Super Nova juga merupakan komponen dalam Prima Causa itu, yang tidak terpisahkan dan yang satu bukan menjadi superior terhadap yang lain, dan yang satu tidak terpisahkan dengan yang lain.

Setitik air laut di dalam samudera, bagaimana ia bisa mendefenisikan apa itu samudera?

Anonim mengatakan...

@DoSa

Logic doesn't make you win in court. It's what you CAN PROVE with Evidence(s).

Ha ha ha...

You are the EVIDENCE my brother man. Pegimane sih bosz!

Eniwe, good luck with @wilmana, hi hi.

-nyong kupang-

--DoSa-- mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
--DoSa-- mengatakan...

Really? Made from clay on the sixth day? It's call a "belief". NOT a Scientific fact!

Anonim mengatakan...

Dosa
Saya pikir analogi JAM (Arloji) adalah sesuatu yang tepat untuk mendefenisikan konsep saya tentang Prima Causa.

Ok... Substansinya ga beda dg analogi mesin. Krn kuncinya pd konsep 'super being' ato 'Prima Causa' tnp emosi.. tnp kehendak... tnp pikiran dan perasaan.

Konsep anda ini kelihatannya tdk cocok dg fakta dunia ini. Anda sdh nonton film science fiction terbaru dr Disney, Wall-E? Mnrt anda apakah mungkin Robot Wall-E punya emosi bahkan jatuh cinta spt dikisahkan dlm film itu?

Kmdn, mengenai pertanyaan anda, Setitik air laut di dalam samudera, bagaimana ia bisa mendefenisikan apa itu samudera?

Mnrt sy jwbnya mudah sj. Dlm situasi yg relatif, apa sj mungkin dan tdk mungkin. Asal setitik air itu punya pikiran dan perasaan dan dpt menggunakan itu dg baik, knp tdk? Toh dr perspektif pihak di luar samudera, setitik air itu adalah samudera itu sendiri. Tdk aneh kl samudera bisa mengenali dirinya sendiri.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

NK
Beta kira betul. Kejahatan ada karena tiada ketaatan manusia kepada 'hukum' Allah. Premisnya su jelas toh. Allah tdk menciptakan kejahatan.

tanggapan
OK. Artinya kejahatan mnrt anda hanya salah satu perbuatan manusia. Jd, kl anda bilang Tuhan tdk bikin jahat, klop.

NK
Kalau kita pakai premis ini, maka konsekuensi logisnya adalah bagaimana kalau Dia mau menipu??? Ini harus bisa dijawab!

Simple sj... Sy kira, sbg Pemilik, Tuhan itu punya hak prerogatif utk mau bikin apa sj. Persis dg stetmen anda sendiri, Ketika Allah membinasakan ciptaanNya sendiri, apakah Dia lakukan itu demi hobi atau sebuah divine judgment?

Sy pernah dg bhs nyantai ngomong seorang sahabat, dlm PA tentang kisah Ayub. Yg namanya Tuhan itu, mo tidur, mo tengkurap, termasuk mo kasi berkat ato bikin susah, bahkan bunuh, itu terserah Dia saja, krn pd dasarnya semua di dunia ini milikNya. Tp kita bersyukur krn Dia itu Tuhan dan bukan manusia spt kita yg suka mentang-mentang punya kuasa lalu mau enaknya sj.

Nah sy liat di sini teori Lakers itu mendapat tempat. Bhw kl Tuhan mau bikin apapun, emangnya ada yg berani larang? Tp untunglah Dia itu sdh memilih dan pilihannya itu membuat Dia, tdk mungkin, ato tdk dapat, ato tdk mampu melakukan perbuatan manusia, KEJAHATAN.

Bs sj kita berandai-andai bgmn jk Dia mau berbuat jahat? Jwbn berandai-andainya jg ada. Tuhan bakal dpt nilai buruk di mata ciptaan-Nya, dan mgkn ini yg sekian lama menggantung di pikiran A9ust.

Kl sy sih drpd berandai-andai, mr kembali ke fakta sj. Sejauh ini faktanya Tuhan tdk pernah melakukan perbuatan manusia itu. Klpun, ada perbuatan2 Tuhan yg menjurus, toh anda punya alasan pembenaran bhw Tuhan membunuh itu, bukan hobi tp judgement divine.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Dosa
Really? Made from clay on the sixth day? It's call a "belief". NOT a Scientific fact!

Beta termasuk org yg seng parcaya bhw scientific fact adalah satu2nya sumber kebenaran. Apalagi sdh jelas bhw itu cuma hasil kesepakatan saja spy ada pegangan yg lbh pasti ttg kebenaran.

KK Look

Anonim mengatakan...

@wilmana:

Harusnya, for the sake of our discussion, @lakers harus bisa memberi konklusi dari premis argumennya itu. Tp sayang dia sudah 'lari' bersembunyi.

@KK Look

Beta termasuk org yg seng parcaya bhw scientific fact adalah satu2nya sumber kebenaran. Apalagi sdh jelas bhw itu cuma hasil kesepakatan saja spy ada pegangan yg lbh pasti ttg kebenaran.

Komentar sdr sebenarnya menjadi inti argumen Imanuel Kant dalam bukunya 'Critique of Pure Reason.' Kant bilang manusia, sampai kapan pun, punya keterbatasan dalam memahami 'empirical reality.' Mengapa? Karena realitas yg begitu kompleks toh akhirnya hanya bisa ditangkap manusia lewat 5 indra. Analoginya, tape recorder. Dia hanya bisa merekam suara. Realitas diluar suara tdk bisa ditangkap. Dus, Kant bertanya, 'apa yg membuat kita yakin tdk ada realitas yg melampaui 5 indra?'

Walau argumen tulisan saya rasional tp apakah cukup membuktikan realitas Allah yg Agung? Jauh, teramat jauh dari sempurna. So what's next? Iman! Argumen Kant purely sekuler tp dia 'menuntun' kita pd iman. Santo Augustine bilang begini: Unless you believe, you will not understand.

Beta pribadi pilih org macam Kant, filsuf besar paling berpengaruh setelah Aristotle, ketimbang @DoSa yg suka geser sana sini dalam diskusi, hi hi. Jang mara ooo.

-nyong kupang-

--DoSa-- mengatakan...

Ok... Substansinya ga beda dg analogi mesin. Krn kuncinya pd konsep 'super being' ato 'Prima Causa' tnp emosi.. tnp kehendak... tnp pikiran dan perasaan.

Konsep anda ini kelihatannya tdk cocok dg fakta dunia ini. Anda sdh nonton film science fiction terbaru dr Disney, Wall-E? Mnrt anda apakah mungkin Robot Wall-E punya emosi bahkan jatuh cinta spt dikisahkan dlm film itu?


Sayang, saya belum sempat nonton film itu.

Mungkin anda bisa elaborate apa itu "fakta dunia ini" yang tidak cocok dengan konsep gue..

==============================================================

Beta pribadi pilih org macam Kant, filsuf besar paling berpengaruh setelah Aristotle, ketimbang @DoSa yg suka geser sana sini dalam diskusi, hi hi. Jang mara ooo.

santai aja.













Unless you believe, you will not understand.

Anonim mengatakan...

Dosa
Mungkin anda bisa elaborate apa itu "fakta dunia ini" yang tidak cocok dengan konsep gue..

Simple saja. Anda punya konsep dunia tanpa emosi, tnp kehendak, tnp perasaan, tnp pikiran. Statis.

Tp fakta dunia ini bahkan batu kayu-pun punya emosi. Di ambon sana ada atraksi bambu gila. Sebatang bambu biasa bisa marah dan berontak melepaskan diri dari cengkeraman manusia.

Anda sekarang menjadi tua berbulu toh tdk lahir langsung seperti itu, tp ada proses perubahan puluhan tahun yg terus berlangsung. Anda dipenuhi oleh rasa cinta, tp satu saat kebencian melanda hingga tega membunuh dlm perang sipil. Membunuh? Yah ini istilah manusia sbg respon atas fakta dunia ttg adanya kehidupan. Msh byk lg fakta duni ini yg tdk statis spt arloji. Bahkan arlojipun tak statis krn ada depresiasi dan mati jk umur teknisnya berakhir.

Fakta dunia ini menimbulkan pertanyaan bg konsep anda, apakah mungkin yg statis, tak punya emosi, tak punya pikiran, tak punya perasaan menciptakan dunia yg begini macam? Bgmn mungkin alam yg begini dinamis anda sebutkan sbg kesatuan inherent dr suatu 'super being' yg statis tak berperasaan, tiada emosi, dst? Bonggo (alm) bilang, ada distorsi dlm konsep anda.

(Wilmana)

--DoSa-- mengatakan...

Simple saja. Anda punya konsep dunia tanpa emosi, tnp kehendak, tnp perasaan, tnp pikiran. Statis.

Benar,

Tp fakta dunia ini bahkan batu kayu-pun punya emosi. Di ambon sana ada atraksi bambu gila. Sebatang bambu biasa bisa marah dan berontak melepaskan diri dari cengkeraman manusia.

Ah, saya ngga percaya superstitious seperti bambu gila. Anda pasti tahu khan, ngga ada bambu gila hanya dimainkan oleh 1 orang saja? Mungkin ada bukti empirik yang bisa anda berikan tentang batu dan kayu yang beremosi. Bahwa batu, kayu "menangis" kehilangan sesama saudaranya di Aceh pas Tsunami?

Anda sekarang menjadi tua berbulu toh tdk lahir langsung seperti itu, tp ada proses perubahan puluhan tahun yg terus berlangsung. Anda dipenuhi oleh rasa cinta, tp satu saat kebencian melanda hingga tega membunuh dlm perang sipil. Membunuh? Yah ini istilah manusia sbg respon atas fakta dunia ttg adanya kehidupan. Msh byk lg fakta duni ini yg tdk statis spt arloji. Bahkan arlojipun tak statis krn ada depresiasi dan mati jk umur teknisnya berakhir.

Mungkin anda ngga melihat 'the big picture' dari apa itusebuah analogi. Mungkin lebih baik jika anda memberikan analogi anda tentang Pencipta dan Ciptaan versi anda?

Fakta dunia ini menimbulkan pertanyaan bg konsep anda, apakah mungkin yg statis, tak punya emosi, tak punya pikiran, tak punya perasaan menciptakan dunia yg begini macam? Bgmn mungkin alam yg begini dinamis anda sebutkan sbg kesatuan inherent dr suatu 'super being' yg statis tak berperasaan, tiada emosi, dst? Bonggo (alm) bilang, ada distorsi dlm konsep anda.


Saya ngga melihat itu sebagai emosi, menurut defenisi anda. Lahir, besar, marah, cinta, mati adalah proses siklikal Penciptaan itu. Sperti Jam, tiap2 komponen bergerak secara statis sebagai ciptaan namun berada di dalam pencipta. Ciptaan ngga mungkin ada tanpa pencipta dan sebaliknya, pencipta ngga mungkin ada tanpa ciptaan.

Ibarat Penari dengan Tarian, Tarian adalah ciptaan, namun tanpa tarian, tidak ada Penari dan sebaliknya, tanpa penari, tidak ada tarian.

Saya pengen tahu, Hubungan Pencipta dan Ciptaan versi anda dan hubungannya dengan emosi, sperti apa yang tertulis di Kitab Wahyu 21:4 "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

Saya membayangkan manusia, kerjanya tiap hari seperti robot, hanya memuji "Allah" saja. Ngga makan, Minum, tidur, ngeseks, ngopi, ngeblog dll, dll. Thus dimanakah emosi "orang2 pilihan" ini?

Anonim mengatakan...

@wilmana,

Perhatikan statement @DoSa dibawah ini:

Pencipta ada di dalam ciptaan, dan ciptaan ada didalam pencipta. Ciptaan NGGA MUNGKIN bisa mendefenisikan apa itu PENCIPTA, sebaliknya PENCIPTA ngga bisa klaim bahwa itu CIPTAANnya, karena keduanya adalah satu kesatuan.

Bisa jadi @Dosa 'copy paste' dari Firman ini:

"... Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia..." (Yohanes 15:5)

Lalu di mix dgn filsafat Timur spt Budha dll. Bagaimana menurut sdr???

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Tambahan buat @wilmana:

Beta kira posisi @Dosa, dari Deist, Agnostic, sakarang jadi Pantheist. Klik disini untuk artinya!

Gimana menurut sdr???

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Dosa
Ah, saya ngga percaya superstitious seperti bambu gila.

tanggapan
Ah, inilah masalah kayakinan anda. Sy sulit membantahnya. Yg pasti, sy bukan org ambon yg pernah mencobanya satu regu dg rekan2 'wisatawan' yg bertandang ke Ambon kira2 1992, lalu. Dr pengalaman itu sy kira satu regu berlima saja kami sdh mabok diobok-obok si bambu apalagi satu org. Ini mnrt sy yg saksi Pelaku.

Dosa
Mungkin anda ngga melihat 'the big picture' dari apa itu sebuah analogi.

tanggapan
Yah, mgkn saja. Yg pasti sy melihat bhw 'kehidupan' arloji yg statis mmg cocok dg konsep anda ttg 'super being' alias Causa Prima yg tnp perasaan, tnp emosi, pikiran, tnp perubahan apapun.

Kl anda anggap pengertian sy ini msh kurang, mk ganti analogi anda atau kasi uraian lbh lg agar sy bs mengerti betul konsep anda ttg dunia 'super being' anda yg statis itu. Bukannya minta sy kasi analogi ttg 'super being' versi saya, toh?

Dosa
Saya ngga melihat itu sebagai emosi, menurut defenisi anda. Lahir, besar, marah, cinta, mati adalah proses siklikal Penciptaan itu. Sperti Jam, tiap2 komponen bergerak secara statis sebagai ciptaan namun berada di dalam pencipta.

Ehm.. Sy maklum kl anda tdk melihat itu sbg 'emosi', meski fakta psikologi sdh jelas mengenai hal ini. Dan itulah yg membedakan manusia dg robot dan/atau komputer.

Mgkn sy yg keliru memahami big picture dg analogi arloji yg dikaitkan dg proses penciptaan dan perubahan dlm dunia ini. Tp bg sy proses penciptaan itu selalu menghasilkan sesuatu yang baru, baik scr kualitas maupun kuantitas dan dr sini bergulir perubahan. Fakta dunia yg tdk sy temukan dlm konsep 'super being' ala 'arloji' dr anda.

Dosa
Ibarat Penari dengan Tarian, Tarian adalah ciptaan, namun tanpa tarian, tidak ada Penari dan sebaliknya, tanpa penari, tidak ada tarian.

tanggapan
He he he... Ini macam simplifikasi thd pola ayam ato telur. Sy kira, ada fakta yg tdk anda ungkap dlm big picture hubungan Penari dg Tarian. Ada proses kompleksitas transformasi yg melibatkan pemikiran, emosi, dan pergerakan tubuh yg dinamis. Ada juga proses review dan revisi dg output perubahan berupa continuous improvement baik dr perspektif si Penari maupun Tarian ciptaannya. Sangat tdk cocok konsep dunia yg statis itu.

Saya pengen tahu, Hubungan Pencipta dan Ciptaan versi anda dan hubungannya dengan emosi, sperti apa yang tertulis di Kitab Wahyu 21:4 "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

tanggapan
Nanti dulu. Itu bs dibicarakan nanti, slthkita tuntaskan apa yg sy anggap ada distorsi dlm konsep dunia versi anda yg statis. Sy liat @NK sdh komplain anda suka 'menggeser-geser' paradigma. Masak sy jg musti bikin komplen yg sama?

Dosa
Saya membayangkan manusia, kerjanya tiap hari seperti robot, hanya memuji "Allah" saja. Ngga makan, Minum, tidur, ngeseks, ngopi, ngeblog dll, dll. Thus dimanakah emosi "orang2 pilihan" ini

tanggapan
Lha anda mgkn kurang mendalami psikologi. Tp masak anda tdk tau bhw 'memuji Allah' itu satu perbuatan yg mengindikasikan ungkapan emosi spt rasa bahagia? Lalu sy kira, anda jgn terlalu literal dlm memahami 'memuji Allah'. Meski byk org menyangka 'memuji Allah' itu cuma nyanyi-nyanyi, tok.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@NK,

Begini. Sy bukan tdk tau bhw belakangan @dosa memakai konsep panteism dg pola manunggaling kawula lan gusti.

Tp sy mmg tdk mau terlalu bw2 literatur macam2. @Dosa mnrt sy lama berfilsafat mencari kebenaran dan entah sadar ato tdk membangun konsepsi yg byk bersinggungan dg konsep2 yg sdh lama dikenal dunia.

Sy hanya mencoba mengkritisi konsep @dosa, sepanjang mnrt sy ada yg 'aneh'. Siapa tau bs membantu beliau dlm proses ziarah-nya. Itu sj.

Tp sy pingin memberi apresiasi atas 'warning' yg anda kasi. Sangat bermanfaat utk mengkritisi konsep 'super being' versi @dosa. Utk sementara kita liat, kritik @dosa bhw Tuhan cuma konsepsi manusia sdh, OK. Tp ternyata, 'super being' jg sama sj. Itu tdk lbh dr konsepsi sejenis Tuhan mnrt versi @Dosa saja. Krn itu, ada pertanyaan @kakaluk pd @Dosa ttg adakah sosok adikodrati Causa Prima yg bkn konsepsi manusia, sdh terjawab.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana & @Dosa

Beta ada katawa dengan kalian punya debat. Lucu, teramat lucu, ambil contoh ini:

Dosa:

Saya membayangkan manusia, kerjanya tiap hari seperti robot, hanya memuji "Allah" saja. Ngga makan, Minum, tidur, ngeseks, ngopi, ngeblog dll, dll. Thus dimanakah emosi "orang2 pilihan" ini

Tanggapan:

Lha anda mgkn kurang mendalami psikologi. Tp masak anda tdk tau bhw 'memuji Allah' itu satu perbuatan yg mengindikasikan ungkapan emosi spt rasa bahagia? Lalu sy kira, anda jgn terlalu literal dlm memahami 'memuji Allah'. Meski byk org menyangka 'memuji Allah' itu cuma nyanyi-nyanyi, tok.


Beta lia Tuhan Allah su fiti @DoSa pung kapala otak jadi kata-katanya sendiri tdk dipahaminya dgn baik. Wuaaakakakaka, ollleeeeeeee...olleeee...

Hal positif dari debat ini adalah katong jadi sadar ada begitu banyak paham ketuhanan. Kalau beta jelas pilih ini:

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup..." (Yahya 14:6)

Kalau @DoSa masih perlu geser sana sini cari 'jalan' yg pas, yg lain ngekor manusia yg katanya tau jalan, maka beta pilih Dia yg adalah jalan itu sendiri.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

NK
Hal positif dari debat ini adalah katong jadi sadar ada begitu banyak paham ketuhanan. Kalau beta jelas pilih ini:

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup..." (Yahya 14:6)


tanggapan
Iya3x... Tp jgn ditutup dulu. Krn target saya, komentar2 di posting ini harus bisa tembus angka psikolgis 100 komentar. Karmana?

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana:

Ha ha ha... beta hanya zonder yakin lagi kalau @DoSa masih mau geser sana sini. Beta kira dia sudah kehabisan kata-kata. Tp kita tunggu saja.

Eniwe, yang pertama 'menantang' saya menjawab paradoks batu adalah @sulis bahkan sampai bbrp kali meminta saya menjawab. Tp ketika kita rame diskusi paradoks batu, dia pergi entah kemana.

Oh ya, kapan tulisan sdr muncul lagi disini???

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

NK
Oh ya, kapan tulisan sdr muncul lagi disini???

bigmike
Maka, meskipun sebelumnya sudah ada 1 berkas bakal artikel lainnya yang siap untuk diposting, terpaksa saya mendahulukan permintaan NK.

tanggapan
Wkt bigmike di Jogja, beliau sempat kontak sy bhw tulisan sy akan diposting stlh balik ke kupang. Lalu, stlh di kupang beliau kontak lg, ktnya @nk minta spy tulisannya didahulukan spt kutipan di atas.

Jadi, pertanyaan anda itu mgkn lbh cocok ditujukan ke bigmike. Tp, kl pingin nikmati tulisan saya, boleh sj mampir ke blog sy.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@wilmana

Jgn pura-pura tdk kenal tabiat kakak sdr itu, hi hi. Saya diberi kabar kalau tulisan saya ada diurutan kedua, jd agak surprise saat @bm posting tulisan saya duluan. Tp ini masuk akal karena di posting lama -Allah Berdaulat- tiba2 ada diskusi antara @patrice dan mang ihin yg lalu pergi entah kemana.

Okelah, saya tunggu tulisan sdr. To be honest, saya sudah tdk sabar lagi. Oh ya, ada pertanyaan saya buat sdr di posting atas.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

NK
Jgn pura-pura tdk kenal tabiat kakak sdr itu, hi hi.

Justru krn sy sangat mengenal beliau mk sy sampaikan apa adanya. Selanjutnya, sy berharap anda tdk bertanya-tanya lagi dan maklum sajalah. Beliau pasti punya pertimbangan yg mantap dan tak perlu kita hrs tau itu, toh?

(Wilmana)

Bigmike mengatakan...

@ NK,

Maaaannnnnntaaaaaafffffff. Bagimana kabar tuna Beijing dan si Kanutuk?

@ Dh6rk,

Tulisannya yang akan diposting sesudah ini adalah Fukuda. Kalo bisa poles sedikit + beberapa ayat tentag tanggungjawab supaya klop di posting malam minggu. Karmana kabar tuna Toraja dan 2 Kanutuk?

@ Dh1rk,

Berani posting tentang hari kemerdekaan + marawis? Bikin mentahan saja nanti beta gosok bekin mangkilat. Ikan tuna kecil yang no 2 betul-betul tukang tapaleuk asli dan barmaen PS di dh11rk pung rumah ha ha ha

Dh11rk,

terima nasib jadi mahasiswa dan makan tuna bokor. Becoooookkkkkeeeee....ha ha ha ha

--DoSa-- mengatakan...

Yah, mgkn saja. Yg pasti sy melihat bhw 'kehidupan' arloji yg statis mmg cocok dg konsep anda ttg 'super being' alias Causa Prima yg tnp perasaan, tnp emosi, pikiran, tnp perubahan apapun.

Kl anda anggap pengertian sy ini msh kurang, mk ganti analogi anda atau kasi uraian lbh lg agar sy bs mengerti betul konsep anda ttg dunia 'super being' anda yg statis itu. Bukannya minta sy kasi analogi ttg 'super being' versi saya, toh?

Dosa
Saya ngga melihat itu sebagai emosi, menurut defenisi anda. Lahir, besar, marah, cinta, mati adalah proses siklikal Penciptaan itu. Sperti Jam, tiap2 komponen bergerak secara statis sebagai ciptaan namun berada di dalam pencipta.

Ehm.. Sy maklum kl anda tdk melihat itu sbg 'emosi', meski fakta psikologi sdh jelas mengenai hal ini. Dan itulah yg membedakan manusia dg robot dan/atau komputer.

Mgkn sy yg keliru memahami big picture dg analogi arloji yg dikaitkan dg proses penciptaan dan perubahan dlm dunia ini. Tp bg sy proses penciptaan itu selalu menghasilkan sesuatu yang baru, baik scr kualitas maupun kuantitas dan dr sini bergulir perubahan. Fakta dunia yg tdk sy temukan dlm konsep 'super being' ala 'arloji' dr anda.



Saya kira itu adalah masalah belief, dimana saya ngga bisa paksakan anda untuk percaya apa yang saya yakini.


Dosa
Ibarat Penari dengan Tarian, Tarian adalah ciptaan, namun tanpa tarian, tidak ada Penari dan sebaliknya, tanpa penari, tidak ada tarian.

tanggapan
He he he... Ini macam simplifikasi thd pola ayam ato telur. Sy kira, ada fakta yg tdk anda ungkap dlm big picture hubungan Penari dg Tarian. Ada proses kompleksitas transformasi yg melibatkan pemikiran, emosi, dan pergerakan tubuh yg dinamis. Ada juga proses review dan revisi dg output perubahan berupa continuous improvement baik dr perspektif si Penari maupun Tarian ciptaannya. Sangat tdk cocok konsep dunia yg statis itu.


Sekali lagi ini masalah belief. Bagi saya, segala proses yang anda berikan itu tidak akan merubah apapun, bahwa Penari (PENCIPTA) dan Tarian (CIPTAAN) adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Kembali ke analogi Jam, proses transformasi yang anda berikan merupakan proses siklikal yang berada di dalam kesatuan penari dan tarian itu, sama dengan perubahan energi listrik menjadi energi kinetik, dalam baterei, pergeseran komponen2 mekanik di dalam jam, semuanyan itu merupakan bagian dari proses yang tidak bisa dipisahkan.

Saya pengen tahu, Hubungan Pencipta dan Ciptaan versi anda dan hubungannya dengan emosi, sperti apa yang tertulis di Kitab Wahyu 21:4 "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

tanggapan
Nanti dulu. Itu bs dibicarakan nanti, slthkita tuntaskan apa yg sy anggap ada distorsi dlm konsep dunia versi anda yg statis. Sy liat @NK sdh komplain anda suka 'menggeser-geser' paradigma. Masak sy jg musti bikin komplen yg sama?


hahaha, jawaban yang predictable. Saya tidak melihat itu sebagai 'geser-menggeser'. Tapi sebagai comparative methods dari argumen anda. Tapi ngga apa2 kalo ngga mau jawab, saya maklum kok..

tanggapan
Lha anda mgkn kurang mendalami psikologi. Tp masak anda tdk tau bhw 'memuji Allah' itu satu perbuatan yg mengindikasikan ungkapan emosi spt rasa bahagia? Lalu sy kira, anda jgn terlalu literal dlm memahami 'memuji Allah'. Meski byk org menyangka 'memuji Allah' itu cuma nyanyi-nyanyi, tok.


Haha, rasa bahagia.

Apakah manusia (menurut kepercayaan anda) masih memiliki RASA di Surga? (apapun itu konsepnya).

Apakah manusia punya pilihan lain? Atau manusia punya power untuk determine what they want?

Saya rasa tidak. THose chosen ones are nothing but a pre-programed toys. Statis. sama dengan robot yang diprogram untuk bekerja, tanpa ada pilihan..

Well, kecuali anda bisa menunjukkan dalam Kitab Suci anda bahwa Manusia bisa ngapain apa aja di surga.

BTW, kalo Allah memang bisa dibuktikan seperti kata nyong-kupang, then seharusnya nyong-kupang juga bisa membuktikan dong dimana surga itu?

Anonim mengatakan...

dosa
Well, kecuali anda bisa menunjukkan dalam Kitab Suci anda bahwa Manusia bisa ngapain apa aja di surga.

tanggapan
Ah, anda terlalu literalis. Bs jd ini masalah anda dan byk org beragama di dunia.

Sy tdk terlalu suka dg hidup yg berangan-angan. Krn itu, surga yg diberitakan dlm kitab suci yg sy pegang, bg sy, bukanlah suatu tempat entah di langit tingkat ke berapa. Surga bg sy adalah suasana penuh harmoni yg dpt sy hadirkan di lingkungan sekeliling sy. Kata kitab suci, "kerajaan surga sdh datang ke dunia".

dosa
Apakah manusia punya pilihan lain? Atau manusia punya power untuk determine what they want?

Saya rasa tidak. THose chosen ones are nothing but a pre-programed toys. Statis. sama dengan robot yang diprogram untuk bekerja, tanpa ada pilihan.


Komentar di atas tdk menyangkali fakta dunia yg penuh dg emosi, pikiran, dan kehendak. Apa yg anda sampaikan toh tetap tdk cocok dg fakta bhw hidup di dunia ini penuh dg pilihan2 dan manusia bebas utk memilih. Skrgpun anda bebas utk memilih mau tetap hidup ato bunuh diri. Masak sy musti anda ajak bicara ttg FREE WILL ini? Rasanya enggak prlu, kan?

@NK
Congrats... Tulisan anda sdh pasti bakal menuai komentar di atas 100.

(Wilmana)

--DoSa-- mengatakan...

Ah, anda terlalu literalis. Bs jd ini masalah anda dan byk org beragama di dunia.

Sy tdk terlalu suka dg hidup yg berangan-angan. Krn itu, surga yg diberitakan dlm kitab suci yg sy pegang, bg sy, bukanlah suatu tempat entah di langit tingkat ke berapa. Surga bg sy adalah suasana penuh harmoni yg dpt sy hadirkan di lingkungan sekeliling sy. Kata kitab suci, "kerajaan surga sdh datang ke dunia".


Hmm, kata kitab suci, tapi selective reading. Persis seerti kata Jose Mourinho "what DO YOU WANT to See". Karena kitab suci yang anda pake, tidak hanya menulis 'kerajaan surga sdh datang ke dunia', saja, bahkan lebih gamblang menulis tentang langit yang baru dan bumi yang baru, bahkan skematik display tentang apa itu kerajaan surga dengan ukurannya pun cuku jelas.

Well, saya ngga akan go forward on this, karena postingan anda sebenarnya turut membenarkan justifikasi dalam thread ini ' Dalam sikap percaya yang 'buta' seperti ini, tidak heran, reaksi yang melulu muncul adalah 'pokoknya.' Pokoknya harus begini, begitu. Pokoknya harus beriman. Pokoknya jangan pakai logika. Pokoknya... pokoknya... TITIK!


Komentar di atas tdk menyangkali fakta dunia yg penuh dg emosi, pikiran, dan kehendak. Apa yg anda sampaikan toh tetap tdk cocok dg fakta bhw hidup di dunia ini penuh dg pilihan2 dan manusia bebas utk memilih. Skrgpun anda bebas utk memilih mau tetap hidup ato bunuh diri. Masak sy musti anda ajak bicara ttg FREE WILL ini? Rasanya enggak prlu, kan?

Ahh, again, you missing the picture. Pengkhotbah 3:11 "IA MEMBUAT segala sesuatu indah pada waktunya". What does it mean? FREE WILL?? No No. Dinamic? No No..

It is a static pre-programed LIFE, whatever life means to you.

Anyway, saya ngga akan further forward on this discussion. I have enough and i couldn't contribute more. Thanks Wilmana for fruitful discussion.

--DoSa--

tutur tawa mengatakan...

Btw,...
akku baru tertarik dgn kehidupan agnostic. Spertinya aku pgnen jadi sorang Christian Agnostic...

Aku nulis jg ttng agnostic di
http://tuturtawa-ak.blogspot.com/

Juga ttng sejarah Islam:
http://tuturtawa-jejak.blogspot.com/2008/05/history-of-islam-1-internal-conflicts.html

So, yg ada wawasan, mampir aja, trus kita saling sharing dari hati ke hati. Bukan debat lho..

Thanks,
arrie

Agus @ kayu jabon mengatakan...

Om mike .. gmana kabarnya dah lama nih aku gak mian ke blog ini

By : kayu jabon