Kamis, 13 Mei 2010

gagasan toean robert: tri bajik eka cita, sebuah preambule (2)

Dear Sahabat Blogger,

Sedih membaca dan mendengar hasil Ujian Nasional (UN) yang dicapai oleh sekolah-sekolah menengah di Propinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2010. Tingkat kelulusan UN di NTT untuk "putaran pertama" sangat memprihatinkan. Cobalah berita di bawah ini (www.tempointeraktif.com Senin, 26 April 2010) disimak baik-baik:

Persentase kelulusan ujian nasional (UN) di Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya mencapai 47,92 persen dan berada pada peringkat terakhir angka kelulusan dari 33 provinsi di Indonesia. "Kita memang berada pada peringkat terakhir prosentase kelulusan ujian nasional tahun 2010 ini," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahrga (PPO), Thobias Uly di Kupang, Senin (26/4). Jika dibandingkan dengan 2009 yang persentase kelulusannya mencapai 69,23 persen, maka persentase kelulusan tahun ini mengalami penurunan sebesar 21,31 persen.

Ketika giliran pengumuman hasil UN SMTP, berita yang saya kutip dari www.ujiannasional.org adalah sebagai berikut:

Hasil ujian nasional (UN) pada 10 dari 691 SLTP di Nusa Tenggara Timur (NTT) amat memprihatinkan karena mencapai nol persen. Kenyataan itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Nusa Tenggara Timur (NTT), Thobias Uly di Kupang.

Dalam situasi seperti itu, saya teringat ayahanda saya almarhum, Robert "SGT" Riwu Kaho. Pengalaman dan pengabdiannya bagi dunia pendidikan di NTT, nyaris paripurna. Beliau pernah menjadi orang nomor 1 di NTT dalam urusan Pendidikan di NTT, khususnya Pendidikan Dasar, Menengah, Luar Sekolah dan Kepemudaan. Dedikasinya diakui banyak orang. Seluruh karier PNS-nya dihabiskan dalam urusan Pendidikan di NTT. Beberapa kali beliau diminta untuk pindah bekerja dan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi ke Jakarta (1977), ke Jogjakarta (1980), dan Ke Papua - Irian Jaya ketika itu - (1987), beliau selalu menolaknya. Katanya: "jika semua orang NTT pindah ke luar NTT lalu siapa yang akan membangun NTT?". Bahkan, pada tahun 1968, beliau pernah ditawari oleh Gubernur NTT agar bersedia menjadi Bupati di Alor. Beliau menolaknya. Pada tahu 1971 beliau terpilih sebagai anggota DPR Pusat hasil pemilu 1971 dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo), beliau malah meminta kawan lain untuk menggantikannya. Katanya: "dunia pendidikan adalah panggilan hidup".

Setelah menamatkan pendidikan di UGM, Jogjakarta tahun 1959, pada tahun 1960 Robert Riwu Kaho diangkat sebagai seorang Guru di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Tahun 1963 ditarik sebagai Pjs. Inspektorat Daerah Pendidikan Ekonomi (IDPE) yang mengurusi SMEP (Skolah Menengah Ekonomi Pertama). Pada tahun 1970 terjadi perubahan struktur kantor dan IDPE berubah nama menjadi Kantor Pembinaan (Kabin) Pendidikan Ekonomi. Ayahanda menjadi Kepalanya. Pada tahun 1975 kembali terjadi perubahan struktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional mengakibatkan semua pendidikan yang bersifat Kejuruan seperti, SMEP, SMEA, SKKP, SKKA, STP dan STM digabungkan menjadi Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur). Robert ditugaskan sebagai Kepala Bidang itu.

Pada tahun 1973, Robert yang memiliki bakat khusus di dalam hal perencanaan pendidikan, diminta oleh atasannya untuk mengembangkan unit perencanaan pendidikan di Kantornya dan lalu ditunjuk untuk memimpin unit dimaksud. Mungkin karena melihat kinerjanya amat baik dalam urusan perencanaan tersebut maka pada tahun 1974 itu, ketika unit perencanaan ditingkatkan menjadi Bagian Perencanaan, beliau ditugaskan merangkap jabatan. Selain sebagai Kabid Dikmenjur juga sekaligus Kepala Bagian Perencanaan (Kabagren). Lebih luar biasa lagi, karena tertarik dengan kinerja sistem perencanaan pendidikan di Kantor Perwakilan P dan K NTT, Rektor Universitas Nusa Cendana merekrut Robert Riwu Kaho, seijin atasannya, dan diminta untuk mengembangkan Badan Perencanaan dan Pengembangan Undana (BPPU). Robert menerima tantangan itu, mendirikan BPPU dan mengepalainya selama jak tahun 1975 - 1987. Salah satu karya BPPU yang monumental adalah berdirinya kompleks kampus baru Undana yang megah sekarang ini. Setiap saya berdiri mengagumi lanskap Undana yang memilik view yang indah ke arah Teluk Kupang, saya pasti teringat ayahanda. Kampus itu merupakan buah tangannya.

Pada tahun 1987, beliau diangkat sebagai Koordinator urusan Administrasi (Kormin) di Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan, NTT. Jabatan yang sering disebut sebagai orang nomor 2 di kantor itu. Pada saat itu, Kepala Kantornya adalah Drs. Piet Syauta. Hanya beberapa bulan menjabat sebagai Kormin, Robert ditunjuk oleh Menteri P dan K untuk melaksanakan tugas Kepala Kantor karena Drs. Syauta mengalami sakit keras dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1989. Tak lama kemudian di tahun 1989 itulah Robert resmi ditetapkan sebagai Kepala Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Robertlah orang nomor 1 di lingkup pekerjaan yang amat dicintanya itu. Gara-gara kesibukannya di Kanwil P dan K NTT itulah yang menyebabkan Robert mengajukan pengunduran diri sebagai Pejabat Kepala BPP Undana pada tahun 1987.

Bagaimana situasi pendidikan di NTT kala itu? Tidak jauh berbeda dari situasi sekarang ini, level pendidikan NTT ketika itu amatlah memprihatinkan. Mutu pendidikan NTT, yang diukur berdasarkan angka NEM (nilai ebta murni) hasil ujian, berada di urutan 26 di Indonesia. Pendidikan NTT hanya lebih baik dari Timtim sebagai Propinsi termuda di Indonesia kala itu. Ketika menduduki jabatan Kakanwil P dan K NTT, bahkan sudah dimulai semenjak beliau masih menjadi Plt. Kakanwil P dan K NTT, Robert meluncurkan program "Peningkatan Mutu Pendidikan di NTT". Berbekal keterampilannya di bidang perencanaan maka semua Program di rancang matang dan konsep perencanaan tersebut dituangkan ke dalam berbagai buku pedoman yang disebutnya sebagai "buku biru" dan "buku kuning". Dalam implementasinya, Robert meluncurkan program supervisi yang dipimpinnya secara langsung. Hampir semua kecamatan di NTT telah dikunjunginya dalam rangka itu guna memastikan bahwa semua tahap perencanaan telah diselenggarakan oleh seluruh jajaran pendidikan NTT. Semua hal dinilai mulai dari kurikulum sampai proses belajar mengajar. Kunjunganya di kelas-kelas sekolah sampai di pelosok-pelosok NTT dilakukan bukan sekedar simbolis tetapi adalah sebuah sampling dalam supervisi. Tak ada jajaran P dan K di NTT yang tidak gentar dengan langkah Robert ini karean dia terkenal dengan kekerasan prinsipnya. Kesalahan akan langsung dikoreksi secara lugas di lapangan. Teguran, bentakan dan bahlan tamparan bukan hal yang aneh di masa itu.

Hasilnya adalah semua jajaran pendidikan di NTT mulai dari pejabat sampai Guru dan Murid bekerja keras untuk memenuhi target-target yang telah ditetapkan di dalam dokumen perencanaan. Semua bergairah dan bersemangat. Pada tahun 1989/1990 peringkat pendidikan NTT berdasarkan NEM SMTA berada pada urutan 18, pada tahun 1991/1992 berada pada urutan 14 dan pada tahun 1993, beberapa bulan menjelang Robert "SGT" pensiun, kami membaca berita di beberapa koran Nasional ketika itu yang memberitakan bahwa tingkat pendidikan NTT berada pada urutan nomor 7 untuk bidang IPA dan nomor 11 13 di bidang IPS. Secara keseluruhan, peringkat NEM NTT berada pada urutan nomor 8 di antara 27 Propinsi di Indonesia. Prestasi yang membanggakan karena sesudah masa itu, sesudah Robert pensiun pada Desember 1993, prestasi itu tak pernah terulang kembali. Secara pasti pendidikan NTT kembali terdegradasi menuju posisinya yang sekarang, yaitu yang terbaik dalam hal mutu rendah di Indonesia. Dengan pekataan lain, mutu pendidikan NTT adalah yang terendah di Indonesia seperti yang sudah dikutipkan di awal posting ini.

Apa rahasia sukses seorang Robert "SGT" Riwu Kaho? Dalam buku Biografinya yang ditulis pada tahun 2003 Robert menguraikan kunci suksesnya. Banyak hal tetapi saya peras menjadi 3 hal terpenting, yaitu:

  1. Bekerja dan jabatan adalah "calling" atau "panggilan dari Tuhan" yang harus dijawab dengar bekerja keras. Bekerja adalah panggilan Ilahi dan kita harus menjawab ia lalu setia di dalam bekerja;
  2. Bekerja keras sebagai wujud jawaban terhadap "calling Ilahiat" yang diterima adalah bekerja secara terstruktur, sistmatis dan strategis. Bekerja yang terencana;
  3. Bekerja yang terstruktur haruslah merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak orang atau stakeholder. Oleh karena itu memelihara persatuan dan kesatuan guna team work yang produktif merupakan keharusan.

Dalam pola pikir alur "logical frame work", mengapa 3 hal ini harus ditempuh oleh Robert dan faktanya memang demikian, dan fakta lain lagi menunjukkan bahwa dia berhasil? Jawabannya adalah: Robert menginginkan agar hidup dan pekerjaanya menghasilkan buah. Sahabat terkasih, lagi-lagi kita melihat bahwa Robert bekerja dalam pola "jalankanlah 3 macam kebajikan guna mencapai 1 tujuan akhir yang baik". Hal ini membentuk pola seperti apa yang disebut di judul posting ini, yaitu "tri bajik eka cita". Robert Riwu Kaho akan dikenang oleh masyarakat pendidikan di NTT sebagai pengingat falsafah tersebut.

Apakah tentang semua itu karya Robert tentang "tri bajik eka cita". Ya untuk sebagian tetapi belum seluruhnya. Semua yang saya tulis ini baru preambule-nya. Pembukaannya saja. Dalam serial terakhir "tri bajik eka cita" akan saya ulas tuntas tentang barang perkara itu. Sabarlah Tuan. Sabarlah Puan.

Tabe Tuan Tabe Puan

64 komentar:

mikerk mengatakan...

Dear sahabat blogger,

Tulisan ini adalah seri ke 2 dari "tri bajik eka cita" suatu karya fenomenal dari ayahanda (menurut ukuran saya). Pada bagian ini saya berusaha memberikan gambaran situasi di mana falsafah "tri bajik eka cita itu" dihasilkan. Serial terakhir akan menyusul minggu dar sekarang, yaitu isi dari falsafah SGT ini.

Selamat membaca. GBU

mikerk mengatakan...

Bagi sahabat Krsitiani,

SELAMAT HARI RAYA KENAIKAN TUHAN YESUS. Bahagia beserta anda semua

Anonim mengatakan...

Selat hari raya kenaikan Yesus buat BM sekeluarga.We love u (Adek)

Anonim mengatakan...

Maaf, maksudnya Selamat malah ketiknya Selat...(Adek)

Anonim mengatakan...

Maaf, maksudnya Selamat malah ketiknya Selat (Adek)

Anonim mengatakan...

ohh sungguh menggemaskan membaca tulisan mas BM. sabar sabar saya mu mebaca lebih dalam lagi sambil merenung renung proses terjun bebas prestasi pendidikan NTT setelah era Pak Robert....ada apa dengan pendidikan NTT????
(amrisal72)

Anonim mengatakan...

wuah preambule yang bagus. Kita dibawa untuk memahami situasi pra ditulisnya tri bajik eka cita. Saya tunggu kelanjutanya (13)

Anonim mengatakan...

@ Bung BM,

Tirulah Almarhum Pak Robert yang setiap dalam panggilan hidupnya. BM diharapkan setia sebagai dosen dan dunia kehutanan dan lingkungan. Jangan tergoda tawaran menjadi bupati atau yang lainnya (13)

mikerk mengatakan...

@ Dear All,

Saya membuat beberapa editing terutama untuk memperbaiki beberapa data dan tata penulisan. Semoga bisa dinikmati. GBU

Anonim mengatakan...

Yang hanya bisa kita lakukan saat ini, adalah berdiri dan mengenang kembali apa yang dilakukan oleh Pak Robert. Pada khaliknya, manusia tak ada yang sempurna, tetapi dalam kasus Pak Robert dan dunia pendidikan NTT (pada masa itu), saya mau bilang almarhum adalah sosok yang paripurna dalam ketidaksempurnaan itu.

Tetapi, masalahnya kita tidak bisa stuck disini. sesuatu harus kita lakukan. APa? masalahnya pendidikan adalah suatu sistem. Membenahi sistem memerlukan keterpaduan semua stakeholder. Jujur saja, saya merasa menyesal memilih pemimpin daerah (jujur saja Pak Gub) yang ternyata Gatot a.k.a gagal total. Banyak orang pintar di NTT, yang secara teoritis sebenarnya mudah saja membenahi mutu pendidikan di NTT, tapi bagi saya, masalahnya lebih kepada moralitas. itu BIG PROBLEMnya.

(pembela blog)

mikerk mengatakan...

@ Adek, Amrizal dan 13

Terima kasih sudah berkunjung ke blog dan berkomentar. GBU

mikerk mengatakan...

@ 13,

Di depan Ayahanda ketika beliau masih hidup saya pernah berjanji untuk tetap setia di dalam dunia pendidikan. Saya akan tetap mengingat janji itu. Thanx atas peringatannya. GBU Bro'

mikerk mengatakan...

@ Pembela blog,

Terima kasih atas komemntarnya, saya rasa Gubernur NTT harus bisa diminta bertanggungjawab karena dia adalah top manager. Jujur saya katakan bahwa dalam 2 tahun masa kepemimpinannya dunia pendidikan NTT tetap saja tidak memiliki arah yang baik.

Itulah sebabnya saya melakukan refleksi balik atas apa yang dulu dikerjakan oleh Ayahanda Robert RK. Mudah-mudahan ulasan yang lebih "menghunjam" dapat saya lakukan pada serial pamungkas "tri bajik eka cita".. GBU

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Wah senang bisa dikomentari balik oleh BM. Saya tunggu serial pamungkasnya ya...(13)

Anonim mengatakan...

@ Pembela Blog,

Komentar anda bagus dan tepat seali. Dahulu saya mmilih Frans Lebu Raya karena dia sarjana pendidikan dan bekas guru. Ternyata dia tak lebih dari politisi konyol juga. Dia lebih mencintai jabatan dibandingkan dunia pendidikan. STOP untuk FLR (13)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Waaaaaahhhh....Ayahanda anda memang pantas dikenang jika memang kisah hidupnya seperti ini. Kesetiaanya terhadap panggilan hidupnya luar biasa (Ryan)

Anonim mengatakan...

Bukti bahwa posting BM emang bermutu, saya menemukan bahwa posting ini sudah dikompilasi oleh blog lain. BM emang top abis dah...nih gw kutipkan ya...

http://www.ayobelajar.web.id

Mike: M@ri berBinc@ng Tent@ng Apa Saj@: gagasan toean robert: tri

Menengah, Luar Sekolah dan Kepemudaan. Bahkan seluruh karier PNS-nya dihabiskan dalam urusan Pendidikan di NTT. Setelah menamatkan pendidikan di UGM, Jogjakarta tahun 1959, pada tahun 1960 Robert Riwu Kaho diangkat sebagai seorang Guru di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Ketika menduduki jabatan Kakanwil P dan K NTT, bahkan sudah dimulai semenjak beliau masih menjadi PLT Kakanwil P dan K NTT, Robert meluncurkan program "Peningkatan Mutu Pendidikan di NTT". ..
http://bigmike-savannaland.blogspot.com/2010/05/gagasan-toean-robert-tri-bajik-eka-cita.html

(Ryan)

wilmana mengatakan...

Ah, kapan rasa malu ini bs ilang? Lagi2 kita generasi muda hrs kembali bernostalgia dg keberhasilan generasi lalu krn tak mampu mematahkan rekor mereka.

Pdhl kuncinya [i]simple[/i] saja. Papa Robert (alm) berhasil menemukan MISI-nya dlm berkarya yaitu 'mengembangkan pendidikan di NTT'. Bung Luji jg beta liat sdh memastikan MISI-nya. Beta liat, byk org di NTT jg sdh menyadari MISI-nya yg sama dg MISI papa Robert (alm) dan Bung Luji.

Yg mungkin perlu dipelajari dr papa Robert (alm) adalah, beliau adalah sosok pendidik yg tdk saja menyadari penuh akan MISI-nya, tetap juga punya VISI yg jelas ttg bgmn dia akan mewujudkan MISI-nya dg sukses. Dan, ketika mendapatkan mandat dr negara utk memimpin proses pembangunan pendidikan di NTT, VISI itu diformulasikan ke dalam moto: Tri Bajik Eka Cita yg sdg dan akan diulas oleh bung Luji di sini.

VISI adalah 'mimpi' tentang bgmn melaksanakan MISI dg sukses. VISI yg kuat pasti membuat seseorang mjd obsesif dg keberhasilan dan tinggal menunggu kesempatan mk yang bersangkutan pasti akan sukses dlm melansanakan MISI yg diembankan kepadanya.

(berlanjut)

Anonim mengatakan...

@Bung Wilmana

Saya setuju dengan anda bahwa dalam hidup dan pekerjaan sudah sepantasnya kita memiliki visi dan misi yang jelas dan telah terencana. Tapi yah kok saya malah menyimpulkan dari tulisan BM ini yang kurang dari dunia pendidikan NTT adalah loyalitas dan dedikasi. Mungkin ini sama saja dengan VISI dan MISI, tapi apabila saya mengejewantahkan menjadi dedikasi dan loyalitas.

Saya ambil contoh kasus kepala dinas PPO saat ini. Bagi saya beliau kurang memiliki dedikasi dan loyalitas dalam dunia pendidikan, terbuktis kok mau yah menerima tanggung jawab sebagai PJS bupati Sabu? kan aneh. Belum lagi ketika kita berbicara mengenai si "top manager" kita Pak Leburaya. Lah yang diurus anggur merah, makanan lokal, dll yang tidak jelas juntrungannya.

Ketika kita memiliki orang berkompeten dan memiliki dedikasi serta loyalitas dalam mengurus pendidikan NTT, saya yakin kita tak akan seterpuruk ini. Kasus almarhum Pak Robert telah membuktikan itu. Pertanyaannya sekarang,sampe kapan kita menunggu akan "the right man, in the right place dan time" tersebut?

(pembela blog)

wilmana mengatakan...

Sekarang ini, di NTT banyak orang sadar akan MISI-nya sbg Pendidik, tp tdk punya VISI. Bg mereka, mjd pendidik sekedar utk status sosial dan ada penghasilan, sdh cukup. Utk jd Pemimpin (pejabat) tdk perlu VISI yg kuat, asal sedikit kerja keras, rajin sekolah kumpul gelar, disertai koneksi politik, pasti bisa. Kebetulan juga sistem rekrutmen Pemimpin di NTT yg sangat2x nepotistik, begitu mendukung org2 tak punya VISI utk bs lolos seleksi.

Maka, jadilah mutu pendidikan di NTT makin hari makin tak karuan.

Solusinya:
Pertama, tak bs lain kecuali jadilan Pendidik yg tdk cuma menyadari MISI-nya, tp jg punya VISI yg kuat spt papa Robert (alm). Org yg menyadari MISI-nya, tak akan tergiur oleh iming2 politik dan ekonomi, tp tetap setia pd 'tugas suci' diembannya sbg manusia NTT. Org yg punya VISI, sangat ingin berhasil dan tahu benar bgmn dia akan menjalankan MISI-nya dg berhasil.

Kedua, perbaikilah sistem seleksi para Pemimpin dunia pendidikan di NTT. Kurangi bila perlu hilangkan aspek nepotistik berbasis kepentingan politik semata.

Pak Gubernur dan para Bupati/Walikota adalah pemangku kepentingan utama dlm perbaikan sistem ini. Tp sy ga percaya Gubernur dan para Bupati/Walikota punya kemampuan. Saya ga percaya mereka bisa.

Tanya, kenapa?

wilmana mengatakan...

@pembela blog

Perilaku Pak Tobby itu menunjukkan dia sadar MISI-nya diangkat mjd Kadin PPO, tp dia tdk punya VISI. krn tdk punya VISI mk sbg Pemimpin dia tdk punya target pribadi yg mau dia capai sbg suatu [i]legacy[/i] (warisan) yg baik bg pendidikan di NTT. Krn tdk punya target yg berbasis VISI, mk dia pun tdk tau apa yg mau dibuat utk mengangkat mutu pendidikan NTT paling tdk sejajar dg yg pernah dicapai oleh papa Robert (alm).

Dedikasi dan loyalitas itu, hanya dampak dr VISI. Pemimpin yg punya VISI, akan obsesif utk merealisasikannya. Dr sinilah timbul dedikasi dan loyalitas. Dedikasi dan loyalitas kpd VISI-nya, bkn kpd org yg mengangkatnya. Nah, bgmn punya dedikasi dan loyalitas jk VISI sj tak punya?

Anonim mengatakan...

Ckckcckckck!!

SEDIH BANGET LIHAT PENDIDIKAN NTT TERCINTA KALAH SAMA DAERAH LAIM YANG SECARA TRADISI SELALU DIBAWAH NTT!! BAPA KAMI EEE!


Orang yang tahu Misinya tetapi tidak punya Visi (bagi mayoritas orang, ini terbalik) sama saja dengan orang pergi perang tapi tIdak tahu cara menembak, yang begini ini bisa disebut"Tidak Capable", itu bahasa halusnya, kasarnya "BEGO".
Berikutnya tinggal persoalan "tau diri" Nggak?? kalo "tidak capable" nggak tau diri! ya payah yang pergi perang sama yang nyuruh sama "bego"nya !!!!

(sUTO sINTING)

Anonim mengatakan...

@Suto

Karmana ini Pejabat dorang bisa tau diri, kalo jabatan teknis profesional diperlakukan sbg jabatan politis.

Jabatan politis spt Menteri saja, tetap memperhitungkan profesionalitas dr calon pemangku jabatan. Lha, di NTT semua jabatan dipolitisir. Akibatnya, alat filter cuma satu yaitu: nepotistik.

(Anonim)

wilmana mengatakan...

Bu Suto,

MISI itu tugas yg diemban. Bagi organisasi, MISI-nya nampak pada tujuan yg terdapat pada Anggaran Dasar-nya. Buat Pejabat, MISI-nya nampak pd SK yg dia terima. VISI adalah mimpi si pemangku jabatan tentang bagaimana dia akan menuntaskan MISI yg diembannya. Krn itu selama jabatan itu masih ada, MISI tetap sama tp VISI bisa berubah-ubah tergantung siapa pemangku jabatan tsb.

Kl skrg ini jd terbalik, bs jd itu gambaran kekacauan pemahaman ttg MISI-VISI. Dan dampaknya, tjd kekacauan dlm menetapkan strategi (langkah2 mencapai VISI), kekacauan sistem, dan ahirnya bermuara pd rendahnya mutu output. Bkn cuma mutu rendah tp jg sm sekali tdk cocok dg MISI. MISI-nya mencetak lulusan bermutu, tp hasilnya malah byk ga lulus.

Anonim mengatakan...

Pendidikan NTT adalah gambaran Gubernurnya.Buta kenop ya akhirnya pendidikan juga buta eno. Kakorek. Menyesal pilih dia tahun 2008 (Deka)

Anonim mengatakan...

@ Bung mike,

cepat posting tri bajik eka cita. Penasaran ni (Deka)

Anonim mengatakan...

@ Wilmana alias VQ,

Coba diulas kembali pengertian visi dan misi. Karena rasanya pengertian dari ama itu tabolak balik. Yang visi ama sebut misi. Yang misi ama bilang visi. Bingung ni (Deka)

Anonim mengatakan...

Tapi, ini blog bagus. Sebagai anak NTT di liar kampong, beta bangga sama BM alias michael alias ludji riwu kaho (kitong 1 angkatan dolo di sma, bahkan sama-sama smp 2, tapi beta ips). Beta tau dari kawan kantor yang anak padang yang sudah lama rajin baca blog ini. Keep on posting eee ludji....(Deka)

Anonim mengatakan...

mike, mana tri bajik eka cita-nya?

Anonim mengatakan...

John (Oemasi)

wilmana mengatakan...

@Deka

Memang ini masalah mashab dan beta pilih ikut mashab MISI-VISI ketimbang VISI-MISI. Alasannya sederhana saja. Setiap manusia ato organisasi yg dilahirkan di dunia ini pasti ada tujuannya. Tujuan ini biasanya bersifat jangka sangat panjang dan sangat kualitatif nilainya, sbg jawaban thd pertanyaan untuk apa seorang ato organisasi harus ada di dunia ini. Tujuan ini sebenarnya adalah gambaran ttg TUGAS UTAMA (mission ato MISI) yg diemban dan wajib dilaksanakan selama hayat masih dikandung badan.

Setiap Pengemban MISI (misionaris) yg baik, harusnya punya cita-cita tentang apa yg harus dia capai selama memikul tgg jwb tsb. Cita-cita ini merupakan gambaran dr target kinerja dr ybs selama mengemban MISI-nya. Cita-cita inilah yg disebut VISI. Jadi, harusnya ada MISI yg diemban dulu baru seseorang bikin VISI-nya. Selama organisasi atau seseorang msh hidup dan tujuannya tetap ada, mk MISI tdk boleh berubah, tp VISI bisa berubah-ubah tergantung siapa yg memimpin organisasi. Wkt papa Robert pimpin Depdikbud NTT, MISI-nya sama sj dg pemimpin terdahulu, tp scr VISI papa alm punya Tri Bajik Eka Cita. Sayangnya, penerus beliau tdk lg punya VISI yg jelas. Pdhl, pemimpin yg berhasil hrsnya org yg punya VISI ke depan yg jelas, bkn cm sekedar pengemban MISI biasa.

Praktek luas saat ini malah terbalik. MISI dikasi judul VISI. Lalu STRATEGI malah disebut MISI.

Moga2 bermanfaat.

wilmana mengatakan...

@Deka

Memang ini masalah mashab dan beta pilih ikut mashab MISI-VISI ketimbang VISI-MISI. Alasannya sederhana saja. Setiap manusia ato organisasi yg dilahirkan di dunia ini pasti ada tujuannya. Tujuan ini biasanya bersifat jangka sangat panjang dan sangat kualitatif nilainya, sbg jawaban thd pertanyaan untuk apa seorang ato organisasi harus ada di dunia ini. Tujuan ini sebenarnya adalah gambaran ttg TUGAS UTAMA (mission ato MISI) yg diemban dan wajib dilaksanakan selama hayat masih dikandung badan.

Setiap Pengemban MISI (misionaris) yg baik, harusnya punya cita-cita tentang apa yg harus dia capai selama memikul tgg jwb tsb. Cita-cita ini merupakan gambaran dr target kinerja dr ybs selama mengemban MISI-nya. Cita-cita inilah yg disebut VISI. Jadi, harusnya ada MISI yg diemban dulu baru seseorang bikin VISI-nya. Selama organisasi atau seseorang msh hidup dan tujuannya tetap ada, mk MISI tdk boleh berubah, tp VISI bisa berubah-ubah tergantung siapa yg memimpin organisasi. Wkt papa Robert pimpin Depdikbud NTT, MISI-nya sama sj dg pemimpin terdahulu, tp scr VISI papa alm punya Tri Bajik Eka Cita. Sayangnya, penerus beliau tdk lg punya VISI yg jelas. Pdhl, pemimpin yg berhasil hrsnya org yg punya VISI ke depan yg jelas, bkn cm sekedar pengemban MISI biasa.

Praktek luas saat ini malah terbalik. MISI dikasi judul VISI. Lalu STRATEGI malah disebut MISI.

Moga2 bermanfaat.

Anonim mengatakan...

@ Wilmana,

Wah ini masukan yang mantap. Ada buku ko? Itu hari tuan michael ada critra bahwa ama ada tulis buku bagus ttg manajemen tapi dia terlalu sibuk jadi suru beta pi cari di Gramedia. Di kampus ju tuan michael jarang kliatan batang hidungnya. Sibuk dengan hutan dan DAS.

Nanti beta kastau dia ko tempel ama pung judul buku supaya kitong liat dan beli trus belajar. Syalom (John, Oemasi)

Anonim mengatakan...

Good posting but saya nunggu 3 bajik 1 cita baru komen sekalian (Wied)

Anonim mengatakan...

ada yang terlupakan dan tak berkelanjutan dari keberhasilan pembangunan pendidikan yang pernah tercatat pada masa pak riwu kaho almarhum untuk setidaknya dilanjutkan dan dikembangsempurnakan pada era sesudahnya.
yang menjadi fakta adalah kita juga cepat lupa atau pura2 lupa akan hal-hal baik yang telah dilakukan oleh para pemimpin pendidikan di daerah ini termasuk pak robert yg menurut pandangan saya sebagai salah satu perencana pendidikan terbaik di daerah ini dan yang menjadi pemimpin terakhir yg dapat menempatkan pendidikan kita di NTT pada kasta yg bermartabat.
sya tidak ingin menyalahkan pemimpin daerah saat ini atas keterpurukan pendidikan kita sbab ini enjadi persoalan kita bersama. tetapi secara jujur seharusnya para pemimpin daerah (gubernur, bupati, walikota) sebagai penanggungjawab dan pemeggang tertinggi atas desentralisasi pendidikan didaerah sangat bertanggungjawab dan jujur mengakui bahwa keterpurukan ini sebagai akibat simpangsiur dan distorsinya serta tak berkelanjutannya tentang apa yang sudah disampaikan pak wilmana.yang terjadi malah sang pemimpin daerah langsung mengambil langkah yg menurut saya "konyol" dengan mencopot kepsek, mutasi dan bahkan yang menyedihkan adalah ancaman utk menutup sekolah yg kurang erhasil.
lantas, prtanyaannya sudah pantaskah pengelolaan manajemen pendidikan diserahkan pada desentralisasi daerah??

Anonim mengatakan...

maaf yg barusan itu amrisal72

Anonim mengatakan...

@ ar All,

Pak Robert adalah Pak Robert. Dia memang unik tetap itu tidak berarti kita tidak bisa meniru dia atau bahkan melebihi dia. Kuncinya cuma 1, bekerja dengan tulus seperti Pak Robert. Saya mengenang beliau dengan hormat melalui tulisan BM yang indah ini. Saya juga menunggu substansi 3 bbajik 1 cita. BM cepatlah posting (Sherly)

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Penasaran juga dengan istilah 3 bajik 1 cita. Ayolah cepat dijelaskan (Sonny)

wilmana mengatakan...

Pak John,

Ah, justru beta ni cuma karutuk yg pernah belajar dr bapak deng ibu di kampus dulu. Beta ju dulu penganut formasi VISI-MISI. tp setelah baca sana-sini, trus sadar ada yg keliru. Formasi yg lbh tepat adalah MISI-VISI-STRATEGi. Misi adalah tugas utama, kl pak dong jd dosen na itu ada di SK pengangkatan. Tp tiap org ato Pemimpin Organisasi, punya opsi bebas utk pilih jalur mana yg mau dilalui utk menjalankan MISI ini. Ini yg disebut VISI. Kl Pak Hojn jd Dekan dg periode 5 tahun, mk VISI Pak John adalah apa yg mau dicapai selama 5 tahun ke depan memimpin FAPET. Lalu, utk mencapai itu STRATEGI apa yg mau pak John lakukan. Kurang lbh begitu, Pak.

Nah, kl praktek skrg ini, kan dibikin tabolak-balik, shg filosofi dan nilai2 dr para Pemimpin yg ada skrg hanya mjd slogan kampanye alias janji2 manis yg tak pernah terwujud. Kl pun ada, kebanyakan hanya mjd dokumen mati.

Mmg betul, beta ada jd co-author dr buku "Manajemen Risiko berbasis ISO 31000 untuk Industri Non-perbankan".

Dulu bet su kirim softcopy cover buku ke e-mail bung Luji tp mangkali sibuk jd paitua blom sempat upload di blog ini. Na kalo Pak John ada katumu paitua di situ, tolong kasi inga sa.

wilmana mengatakan...

Bro amrizal72,

Mmg benar ada byk pemangku kepentingan thd dunia pendidikan di NTT. Unsur pemerintah sj, ada pusat dan daerah. Blom lg elemen2 masyarakat yg byk ragamnya, misalnya penyelenggara proses pembelajaran, ortu, murid/mhs, dll. Tiap2 Pemangku Kepentingan dg tgg jawabnya msg2.

Nah, kl kita analogikan dg sepak bola maka semua pemangku kepentingan terlibat dlm lapangan, termasuk Pemerintah sbg wasit sekaligus pemain. Jadi, peran pemerintah tergolong besar dan sangat menentukan. Krn itu, wajar jk byk tuntutan dan tudingan diarahkan kpd pemerintah jk mutu lulusan NTT makin hari makin terpuruk.

Beta snd percaya dg dikotomi sentralistik VS desentralistik krn ada untung-ruginya. Mnrt beta yg jadi masalah adalah para Pemimpin kita baik di pemerintahan, swasta, maupun pr pendidik tdk punya VISI yg jelas dlm menjalankan MISI-nya sbg bagian dr proses tata kelola sistem pendidikan di daerah. Kl pake piramida Maslow, semua pihak yg terlibat dlm proses tata keloa pendidikan di NTT tmsk aparat pemerintah, msh sekedar utk cari makan dan tumpuk harta pribadi. Blom utk mencerdaskan bangsa sbgmn Pembukaan UUD '45 kita. Mnrt keterangan, hingga saat ini ga ada yg spt Papa Robert dg Tri Bajik Eka Cita-nya.

Inilah inti persoalan pendidikan di NTT, mnrt beta. Beta percaya, jk skrg ini ada org yg punya MISI-VISI yg jelas spt papa Robert, mk desentralisasi pendidikan jg bisa mjd berkat bg pendidikan di NTT.

Anonim mengatakan...

@Bro wilmana :

saya mengerti akan pendapat bung wilmana, tetapi mungkin anda juga termasuk saya belum dapat memastikan apakah benar mreka tidak punya visi dan misi yang jelas.
saya tringat tulisan mas BM tentang kepribadian dan langkah-langkah pak robert yg adalah ayahanda bung wilmana juga (maaf kalau salah). disana terggambar jelas yang mungkin berbeda antara alm. pak robert dgn yg lain adalah konsistensi, loyalitas dan "brani" serta keteguhan hatinya terhadap setiap keputusan dan tantangan dalam pekerjaannya bg pembangunan manajemen pendidikan daerahnya.
jadi saya menduga bahwa itulah yg membedakan dan menjadi akar persoalan tentang SDM pimpinan yg ditunjuk sbg penanggungjawab atas pendidikan di NTT.
TABE...

Amrisal72.

wilmana mengatakan...

Pak amrizal72,

Setuju 100%, krn beta jg cuma menduga setelah mengamati ala kadarnya sj.

Tp m'nai karakter bekerja papa Robert (alm), beta yakin itu timbul krn papa tergolong pemimpin yg punya VISI dlm bekerja. Tnp VISI, tak ada yg diperjuangkan. Krn itu tak ada konsistensi, loyalitas, dan keteguhan hati utk brani dlm bertindak. Sebaliknya dg VISI org bisa bekerja scr terarah, sistematis, dan terstruktur. Krn itu papa jg dikenal sbg perencana yg ulung.

Jadi, kl mau mutu pendidikan di NTT bertumbuh, mk hrs cari Pemimpin yg VISIONER. Jgn asal milih sekedar balas budi saat kampanye, ato krn nepotistik, ato faktor2 non-komeptensi yg tdk wajar (unfair).

Anonim mengatakan...

@All

Baru Ini Pak Gubernur bilang "44.000 lebih guru di NTT tidak memenuhi standar!" lha emangnya guru di NTT ada berapa? jumlah sedemikian itu bukan kah mencerminkan pengurus LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Prov NTT tidak bekerja maksimal??? Gimana Ya???

(Sutho Sinting)

Anonim mengatakan...

@ Wilmana a.k.a Vecky,

Beta dapa memahami pendapat Ama. Kelihatannya hanya soal maszhab tetapi jika dicermati bisa memiliki dampak yang luas. Akan beta diskusikan dengan mister ludji michael rk. Sekaligus beta akan kasi ingat dia ko upload ama pung judul buku. JBU

Anonim mengatakan...

@ Sutho,

Dari dulu beta tidak yakin sama FLR. Orang ini tidak ada konsep apa-apa selain kekuasaan. Makanya dulu saya tidak pilih dia. Seandainya saja waktu itu Pak Esthon yang jadi calon Gubernur keadaan mungkin lebih baik. FLR harus bertanggungjawab terhadap kerusakan pendidikan di NTT. Apalagi dia dulunya seorang guru.

Anonim mengatakan...

sori (John, Oemasi)

Fakhry mengatakan...

@ Bigmike,

Ehmmmmm....GW kira, orang seperti ayahanda si boss emang manusia langka. Nah, skarang kita punya Jupe, Ayu Azhari, Rachel Maryam dll yg ...maaf...otaknya ga nyampe tapi mau jadi person in exec, legislatif, ...parpol juga banyak yg ga tau tugas moralnya...nah, kaco eh.....wkwkwkwkwk...(Proxy73)

Anonim mengatakan...

oh ya....nyaris semua aktor tata kelola pemerintahan di Indonesia berperilaku persis seperti Jose Mourinho, hebat tapi pragmatis. Menang tetapi membosankan. Berhasil tetapi pengecut. Semua sektor emang udah gitu ga kecuali sektor pendidikan.

Aniway, GW pikir perlu reformasi jilid 2 nih....

Fakhry mengatakan...

GW ga benci Inter Milan dan Jose Mourinho tapi GW menangisi matinya sepak bola indah-nya Barcelona dan yang sejenisnya. Lalu, keindahan gagasan seperti ayahanda BM almarhum, menjadi impian. Gimana nih...

Fakhry mengatakan...

@ Mister Benar Mabuk (BM),

GW nungg tri bajik eka cita...cepeeeeeetttt....wkwkwkwkwkw....

wilmana mengatakan...

Pak John,

Trims. Pokonya jgn lupa:

Mission itu reason for being, alasan knp hrs berada di dunia ini ato di suatu tempat. Misalnya, alasan pak John ada dan berkarya di FAPET. Sementara Vision adalah apa yg ingin Pak John buat agar situasi di FAPET bs lbh baik dari sebelumnya, lengkap dg time framenya. Mis VISI: FAPET 2015.

Ada referensi baik yg bs jadi rujukan, bs baca di http://www.wisegeek.com/what-is-a-vision-statement.htm.

Anonim mengatakan...

ayo BM, 3 bajik 1 cita...... (Larry)

anna mengatakan...

@ Mas Fakhry,

Mencari manusia seperti Ayahanda BM Almarhum di Indonesia sekarang ini kayaknya sulit deh. Kesadaran akan panggilan tugasnya luar biasa. Mencermati posting BM teentang Ayahandanya saya teringat akan sebuah ujaran tua ... harimau mati meninggalkan belang, manusia pergi meninggalkan nama....ah, BM mendapat teladan yang amat baik...

anna mengatakan...

Siapapun di dunia ini tentunya setuju bahwa dalam kehidupan dibutuhkan kesetiaan dalam segala hal, dan juga dalam segala bidang!

Kesetiaan dari Para pemimpin bangsa dalam tugas pengabdian mereka terhadap bangsa dan Negara adalah hal yang begitu di dambakan oleh rakyat, dan betapa bahagia bangsa yang memiliki pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang ditaktor, atau pemimpin berlaku sewenang-wenang dengan kekuasaannya.

anna mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
anna mengatakan...

Tetapi Kesetiaan ini juga bukan hanya untuk para pemimpin dalam suatu Negara, tetapi juga berlaku untuk segenap lapisan masyarakat dengan tugas panggilannya masing-masing. Dimana semua anak bangsa, sebagai bagian dari masayarakat juga setia terhadap bangsa dan Negaranya.

Kesetiaan dalam menjalankan tugas itlah yang ditunjukkan oleh Ayahanda BM. Dan dia gemilang dalam keberhasilannya. Bisakah kita menirunya?

Anonim mengatakan...

@ A'a Tana,

Mone Ama Robert Riwu Kaho tidak tergantikan di hati kami anak Sabu yang tahu sejarah (Savunesse)

tuaksatu mengatakan...

"Ketika dunia pendidikan mampu menghasilkan manusia jujur, visioner, disiplin mampu bekerja sama, bertanggung jawab dalam bekerja, adil dan peduli, maka bangsa ini dapat berjaya," kata Fasli Jalal Wakil Mendiknas.

Prof Fasli benar banget karena pendidikan karakter merupakan tonggak kebangkitan bangsa. Pendidikan karakter, yang mengedepankan nilai-nilai luhur bangsa bahkan lebih penting dibandingkan pencapaian akademik.

tuaksatu mengatakan...

Mengikuti catatan BM tentang Ayahandanya, maka keutamaan beliau almarhum adalah karakter mengabdinya yang luar biasa. GW pikir ga dosa sama sekali bagi kita generasi muda menirunya. Salut deh Babe Robert.

tuaksatu mengatakan...

Woooiiii BM, GW nunggu 3 bajik 1 cita

Anonim mengatakan...

sekelumit kisah perjalanan Sang Guru Tua Itu :
" Pada suatu waktu, saya bertemu dgn mantan kepala sekolah SMA negeri Kupang dahulu yakni Bapak Simon Kitu Tibuludji. dalam percakapan kami, beliau menyakan tentang rencana saya utk mau bekerja dimana, mengingat waktu itu saya baru saja menyelesaikan studi saya di Univ. Gadjah Mada. saya menjawab bahwa saya ingin bekerja dan telah ditawarkan bekerja dikantor gubernur NTT sbg Pamongpraja. kemudian ditanyakan lg tentang motivasi mengapa saya mau menjadi seorang pamong praja. lalu saya menjawab bahwa saya ingin mengabdi pada pembangunan di Propinsi NTT yang baru berdiri ini. beliau menyambut pernyataan saya itu dgn perasaanbsenang seraya menegaskan bahwa motivasi utk mengabdi pembangunan adalah sesuatu yg mulia, namun selanjutnya beliau mengatakan apabila saya bermotivasi demikian, mengapa saya tidak mempertimbangkan dunia pendidikan sebagai tempat pengabdian? menurutnya NTT hanya akan maju kalau mempunyai banyak orang terdidik. bagaimana dunia pendidikan dapat mewujudkan misi mempersiapkan orang2 terdidik sebanyak-banyaknya kalau ia sangat kekurangan guru seperti sekarang ini??

Anonim mengatakan...

Selanjutnya: " kata kata terakhir yg beliau lontarkan itu saya rasakan sebagai tantangan, alalu muncul pertanyaan dari dalam hati saya : Apakah saya bersedia menjadi guru??? pertanyaan ini sanagt menggugah hati dan mendorong saya utk merenungkannya dgn bersungguh-sungguh. memang diperlukan waktu untuk mempertimbangkannya dgn seksama. dalam hati, berlangsung suatu dialog tentang pilihan hidup apakah mau menjadi guru atau menjadi pamongpraja. terus terang bagi saya menjadi pamongpraja adalah jabatan bergengsi, ada kuasa utk mengatur org banyak dan terbuka kesempatan emas utk mencapai tingkat karier yg lumayan. dilain pihak saya sebagai orang muda memiliki idealisme pengabdian bagi orgbanyak dan menjadi berkat bagi orang banyak sesuai amanah bapa Riwu ayahanda saya. dalam pergumulan ini saya berdoa mohon petunjuk Tuhan. Akhirnya saya peroleh keputusannya yaitu : memilih menjadi guru. sirnalah niatku semula utk menjadi pamongpraja. Inilah pilihan hidup yg telah saya perbuat. saya telah berketetapan hati utk setia kepadanya. Saya bersyukur bahwa selama perjalanan hidup saya, saya tetap mengabdi di dunia Pendidikan yg sangat saya cintai sampai saya memasuki masa pensiun saya.

Sang Guru Tua-Desember 2003

DTN=

wilmana mengatakan...

@Atas alias Uli,

Begitulah proses menemukan MISI hidup. Bagaimana dengan ama? Mau jadi pendidik ato penghibur ato pengusaha?

Anonim mengatakan...

woeeeeeeeeee wilmana,

beta kira ini terkait budaya ju ama. menurut ama kitorang punya budaya meritokrasi ko sonde? beta curiga karas kitorang pung budaya laeng. pilih pemimpin yg kompeten adalah konsep luar yg sonde/belum dikenal disini.

bagitu ko ama wilmana?