Jumat, 19 Maret 2010

NTT: kritis sudah, penggurunan di depan mata, lalu apa lagi?

Dear Sahabat Blogger,

Pada awalnya adalah kedatang seorang tamu, yaitu Pak Frans Sarong, wartawan Kompas, yang menanyakan kepada saya tentang beberapa hal terkait isu Hutan Cagar Alam Mutis, Timau, TTS, NTT dan proses penggurunan di Sumba Timur. Lalu, seperti biasa, sayapun "berpidato panjang kali lebar, kesana dan kemari, kesitu dan kesini dan kemana-mana". Tak disangka dan tak dinanya, beliau tertarik atas isi "khotbah" saya itu. Katanya: ... adik ... buatlah dalam bentuk tulisan...nanti akan saya publikasikan. Sayapun menulis...kecek kecek etret etret tak tik tuk....jadilah sebuah tulisan. Tak beapa lama kemudian, saya membaca kutipan tulisan saya itu di Kompas.com. Eh, Ternyata tulisan itu juga dikutip oleh LKBN Antara, kantor berita milik republik kit. Lantas dicopy ke mana-mana oleh berbagai harian dan juga layanan berita on line. Wuueeeeelllleeeeeeehhhh. Senangkah saya? Ya iyalah. Banggakah saya? So Pasti Bung en Zoes. Puaskah saya? Tidak. Lho?????? Ya, sudah baranhg tentu tidak karena sejatinya saya adalah manusia dan menurut filsafatnya manusia itu adalah "makhluk tak sampai". Oleh karena itu, manusia sebenarnya adalah makhluk yang tidak akan terpuaskan. Saya juga begitu. Di mana ltak ketidakpuasan itu? Tulisan itu baik tetapi cara memenggalnya yang kurang pas sehingga tak seluruh pesan dalam tulisan tersampaikan dengan baik. Akibatnya, sudah 2 minggu lebih ini saya di sapa di mana-mana di Kuoang sebagai "mister gurun". Ya, tak apalah, toh pekerjaan saya adalah guru. DItambah 1 huruf "n" menjaid gurun, lumayanlah he he he he...

Tapi bukan "bangga-banggi" (bahasa indonesia opoooooo iki????? xi xi xi xi..) itu yang menjadi fokus tulisan itu tetapi diam-diam ada perasaan nelangsa yang teramat sangat setelah membaca kembali tulisan saya itu. Propinsi tempat saya dilahirkan, dan oleh karena itu disebut tanah air saya, ternyata adalah propinsi yang "sangat bermasalah" kondisi lingkungannya. Untuk teman-teman setanah air NTT dengan saya dengarkan ini: saya, anda, kita semua sering teramat membanggakan tanah air kita NTT kita initetapi tahukah anda bahwa menurut citra satelit pada tahun 2007, dari total luas lahan daratan NTT 4,7 juta ha, terdapat 4,3 juta ha lahan kritis? NTT kita adalah juara "kakorek" jika berurusan dengan tingkat kesejahteraan tetapi adalah "kampiun" dalam urusan kerusakan sumberdaya lahan. Dengan curah hujan sekitar 1500 mm/tahun, tanah air kita diberkati Tuhan dengan potensi air sebesar 18 milyar meter kubik tiap tahun. Lalu kita memakainya sebanyak 6 milyar meter kubik. Wah, ada sisa 12 milyar meter kubik. Bagus bukan? Bukaaaaannn eeehh....Tidak. Ternyata kita tidak pernah mengalami surplus air. Nyata Ter....ternyata ....faktanya .... kita selalu mengalami defisit air sebesar 2,82 milyar meter kubik tiap tahun. Lho, kok bisa? Ya bisa dong. Hutan kita yang seharusnya berfungsi untuk menahan air hujan lebih lama di tanah, dalam bentuk "water table" kita tebangi terus menerus. Kita bakar terus menerus. Dahulu, pada sekitar tahun 1960 - 1970-an hutan NTT masih sekitar 20-an persen. Sekarang tinggal sekitar 11%. Di Pulau Sumba, hutan tinggal 6 - 7% dari total luas lahan. Data dari UNCCD tahun 2007 menunjukkan bahwa ada 3 daerah di Indonesia yang terancam proses penggurunan, yaitu NTT, NTB dan Sulawesi Tangah. Lalu dalam kontes "gurun idol" tersebut, pemenang nomor wahidnya adalah NTT..... horeeeeee...hip hip huraaaaaa. Hal ini bukan gosip atau isu murahan karena penlitian saya di Wairinding, Pandawai, Sumba Timur membuktikan hal itu. Proses penggurunan sudah menghadirkan "semerbak-nya" di NTT.

Menyedihkan. Nasib kita ternyata memang tak menentu. NTT = Nasib Tak Tentu. Tapi anehnya, tiap-tiap tahun selalu ada proyek atau program (yang isinya adalah proyek juga). El Tari dahulu bilang: tanam tanam sekali lagi tanam. Ben Mboi dulu berkicau: operasi nusa hijau. Fernandez omong: gerakan menanam 100 juita pohon. Lebu Raya berpidato: tanam dan rawatlah. Departemen Kehutanan bertekad: OMOT (one man one tree). Berhasilkah? Fakta yang ada menunjukkan bahwa seruan di masa lalu telah gatot. Gagal Total. Bagaimana dengan seruan terbaru? NTT. Nanti Tunggu Tahun-Tahun yang datang. Tapi maaf, melihat cara-cara berpikir dan cara bertindak kita semua, sampai dengan diskusi saya yang terakhir bersama beberapa stajeholder di Hoitel Sasando, Kupang, saya tidak begitu yakin. Betapa tidak, dalam bayangan para pengelola lingkungan hidup kita di NTT, termasuk rakyat itu sendiri, masih memandang orang hanya sebatas obyek. Lingkungan hidup masih semacam obyek seksi yang layak jual demi menglairnya proyek dan program. Cilakanya, sayapun ternyata sedang berkubang dalam "jebakan lumpur" yang sama. Lalu bagaimana? Menurut hemat saya, kita rubah cara berpikir kita. Kita ikuti cara berpikir dalam filsafat manusia. Rubah perilaku dahulu keterampilan dan kekayaan mengukuti kemudian. Bahkan, saya mengutip Alkitab, Tuhan membangunkan terlebih dahulu kesadara manusia. Tanggungjawab manusia ..... "semua boleh kau makan kecuali yang satu ini"....

Bisakah kita memetakan persoalan hutan dan penggurunan di NTT dengan lebih baik dan lalu menggerakan hati dan pikiran kita bahwa ... ini tanggungjawab kita semua .... Dalam keadaan begini saya teringat akan seorang petani di Desa Nenas, Timor Tengah Selatan kaki puncak tertinggi G. Mutis yang merupakan hulu 2 DAS paling besar di Timor Barat dan merupakan suatu desa yang amat sangat terpencil. Setelah diadvokasi oleh saya dan kawan-kawan dari ForDAS NTT, beliau amat gemar menanam. Ketika kami mengidentifikasikan bahwa mutu hutan di desanya mulai terdegradasi lalu mencarikan anakan tanaman bambu sebanyak 20.000 anakan untuk ditanam tanpa ragu semua anakan itu ditanam habis di sepanjang daerah aliran sungai yang melintasi desa itu. Yang mengejutkan adalah beliau grima kasih keemar menaman kembail setiap anakan yang ditemukan sudah mati mengering padahal masyarakat di sekitarnya hanya diam berpangku tangan. Pak Simon Sasi, begitu namanya. Saya pribadi memberi arti SASI sebagai sarjana ahli segala ilmu dan beliau tersipu tiap saya panggil begitu. Mengapa hal itu dilakukan oleh Pak Simon? Jawabnya adalah ....."Saya hanya punya cinta kepada Tuhan yang sudah menciptakan semua yang saya perlu. Saya cuma mau berterima kasih kepada Tuhan". Kawan setanah air Nusa Tenggara Timur yang terkasih, maukah kita belajar dari moralitas yang dimiliki Pak Simon?.

Untuk semua usaha Pak Simon yang tak kenal lelah untuk terus menanam dan merawat, sekaligus menghimbau semua anak negeri NTT melakukan hal yang sama, saya hadiahkan lagu cantik dari John Denver. Salah satu dewa musik bergenre Country. Lagu ini berjudul Garden Song yang berceritera tentang menanam seinci demi seinci. Sebaris demi sebaris. lalu rawatlah dengan penuh kasih. Iringi usaha itu dengan doa karena kita memerlukan pohon-pohon itu demi masa depan bumi kita. Masa depan kita sendiri. Dapatkah? Seharusnya bisa.

The Garden Song

Tabe Tuan Tabe Puan

44 komentar:

mikerk mengatakan...

Dear All,

Psting ini terburu-buru sehingga belum diedit dan dipoles lebih cntik. Saya harus segera ke kantor. Nanti akan saya tatalebih baik. GBU ALL

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Saya usul. untuk posting kali ini tak perlu diberi hiasan apapun. Pemerintah, masyarakat, pakar perguruan tinggi, LSM dan swasta di NTT terbukti gatot (gagal total) seperti kata BM dalam merawat lingkungan NTT. Semuanya serakah tidak ketulungan. Trus pura-pura rajin beribadah hari minggu dan merayakan minggu sengsara. Tebas, bakar, korupsi dan berteori melulu. Tidak ada tindakan nyata. Omong kosong semua. Bernuntung masih ada orang "gila" seperti BM yang masih punya rasa malu. Terus terang sebagai anak NTT, saya malu (13)

Anonim mengatakan...

Oh ya, lagu bagus garden song malah seperti menyindir kita di NTT. Hapus saja BM (13)

Anonim mengatakan...

idak lupa juga: dari jakarta, kita diajarkan cara korupsi yang canggih-canggih. Jadi, pemerintah pusat juga jangan cuci tangan (13)

Anonim mengatakan...

@13

saya setuju dan senang apabila kawan @13 merasa tersindir dengan adanya posting dan lagu dalam tulisan BM kali ini. Saya pun begitu. Tapi, bukankan seharusnya hal yang "memalukan"ini tidak untuk dihindari tetapi sebagai pemicu kita berbuat sesuatu??

Saya senang akhir-akhir ini ada banyak gerakan cinta lingkungan seperti contohnya "one men one tree" untuk skala nasional dan KGC dalam skala lokal yang digagas oleh salah satu harian terkemuka di NTT. Tapi eh ada tapinya, ada satu kelemahan kecil yang menurut saya merupakan kegagalan berbagai "varian" jenis gerakan cinta lingkungan sebelum-sebelumnya dan menurut saya "mungkin" terulang lagi kali ini, yaitu : setelah tanam apa tanaman tersebut dirawat tidak?? pengalaman membuktikan jawabannya adalah tidak. So,tidakan nyata mesti kita buat. Tanam, jaga dan rawat tanaman itu merupakan suatu keharusan dan wajib dilakukan.

Masih segar dalam ingatan saya, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Cagar Alam Gunung Mutis di Timor Barat untuk keperluan penelitian pribadi. dalam konsep DAS maka kita mengenal 3 daerah yaitu hulu, tengah dan hilir dan CA Gg Mutis merupakan daerah hulu terbesar di Timor dan seperti kata BM tempat ini merupakan "basis tegakan hutan dalam skala luas terakhir di daratan timor secara keseluruhan". Tapi, tidak heran dan begitu sulit bagi saya untuk menemukan jawaban mengapa fenomena banjir saat musim penghujan dan kekeringan saat kemarau semakin masiv terjadi di tanah Timor ini, "ko daerah hulu sa ada kering na" bahkan mengalami kekeringan dan erosi runoff yang teramat sangat di beberapa lokasi mengindikasikan bahaya besar yang tidak hanya mengancam mutis, tetapi mengancam DAS tengah, DAS hilir. Itu berarti juga mengancam anda, mengancam saya, mengancam kita semua. Mau terus begitu?? Penggurunan merupakan bukti nyata. Kalau di daerah gurun lain sih, banyak pasirnya. Nah di NTT yang "batu bertanah,bukan tanah berbatu" ini, wah jadi susah kita berjalan kemana-mana kalau isinya batu semua kalau "betul" suatu waktu terjadi penggurunan. Hehehehe

(nrk)

Anonim mengatakan...

Btw, saya sudah pernah bertemu langsung dengan pak simon sasi. Bahkan tidur semalam di rumahnya (dan merasakan penderitaan dingin yang menusuk tulang... Brrrrbrrrrr dingin). Beliau kepala desa Nenas, salah satu desa enclave di CA Mutis. Apa yang dikatakan BM benar adanya. Bahkan beliau berhasil "mempengaruhi" warga desanya untuk ikut menanam tanaman di daerah yang masih gundul. Bahkan, saya yang kebetulan membantu penelitian valuasi nilai ekonomi kawasan mutis di desa tersebut mendapati kerinduan warga desa Nenas agar pemerintah membantu mereka menyediakan anakan tanaman untuk mereka. ah..... benar-benar suatu contoh positif yang patut ditiru.

(nrk)

Anonim mengatakan...

@ 13,

Anda marah kepada siapa? Anda orang NTT atau bukan? Apa yang anda lakukan. JANGAN MENUNJUK ORANG LAIN SEBAGAI SUMBER SALAH PADAHAL 3 JARI SEDANG MENUNJUK DIRI SENDIRI (Anak NTT di rantau)

Anonim mengatakan...

Solusi: Setiap hari sabtu semua orang NTT kerja bakti menanam pohon. Yang tidak kerja bakti janan dilayani urusan publiknya (Anan NTT dirantau)

Anonim mengatakan...

Kawan, kamu di rantau ingat NTT tidak? berbuat untuk NTT tidak? Jangan2 nanti kalu mau pilkada atau pileg baru muncul muka di NTT (13)

Anonim mengatakan...

Anak NTT dimana saja yang Kristiani, doakan di Gereja besok agar NTT tidak jadi gurun (13)

Anonim mengatakan...

Iya kita doakan Pak, tapi...apakah dengan didoakan NTT bisa bebas dari resiko jadi gurun ?

Kita doakan sa agar perilaku warga NTT diubahkan, supaya bisa hidup selaras dengan alam, yang dimulai dengan hidup selaras dengan Sang Pencipta, hidup selaras dengan sesama, dan hidup selaras dengan dirinya sendiri.

lagi-lagi akhirnya kembali ke habits nya kita, bagaimana cara kita bersikap, bagaimana berperilaku atau memperlakukan sesuatu, hal ini salah satunya bergantung pada apa yang kita percayai yang mendirect kehidupan kita. Uang ? keserakahan? sikap masa bodoh ? politisasi? kepentingan ? atau rasa tanggung jawab dan action berdasarkan cinta dan hormat kepada Sang Pembuat Alam seperti yang dilakukan Pak Simon, Mr.13 dan Pak Mike ?

Anonim mengatakan...

Orang2 kayak @domi itu byk sekali di NTT. Sadar tp tida tau mau mulai dr mana. Kalo dibilang bodok, pasti marah dan bela diri abis2-an sekedar kasi tunjuk pinternya.

Kalo ikut teori stakeholder dlm pembangunan daerah, maka masyarakat spt @13 itu adalah pelaku utama di lapangan utk menyetop gurunisasi NTT. Tp pemda hrs menjadi yg terdepan menggerakkan stakeholders lainnya seperti lembaga NGO, pemerintah pusat, BUMN, pihak swasta dg program2 sosial responsibility-nya (mis, Aqua dan Lifebuoy tuh), lembaga dan negara asing, dll., utk memberi dukungan tata kelola termasuk dana penunjang. Peran Pemda, scr bertahap hrs dikurangi sampe pd tingkat yg dpt mendorong kemandirian masyarakat dlm menjaga lingkungan.

Sayangnya, mnrt @nrk, pemerintah daerah justru paling jeblot kepakaan dan kemampuannya dlm menjalankan peran pentingnya di atas.

(Rocky RK)

Anonim mengatakan...

woe, kalu sonde salah @rocky rk tuh cucunya katuas @bm

maaaaaaaaannntttaffs :D

Anonim mengatakan...

Ada-ada sa!! Tabek buat semua JBU!!

< Suto Sinting>

Anonim mengatakan...

@ 13,

Saya cuma mau tanya? apa makna yang diperoleh orang-orang yang bikin penuh gereja tiap hari minggu. Rajin ke gereja tetapi alam karuna Tuhan tidak dirawat. Apakah 13 juga rajin ke Gereja? (Anak NTT di Rantau jauh)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike alias DR. Ludji Michael RK (kitong dulu satu angkatan cuma beta di IPS):

APA YANG KAU SUDAH BUAT UNTUK NTT????? MAKAN GAJI BUTA SAJA KO?????? NIKMAT KARENA SUDAH TENAR KO?????? (Anak NTT di Rantau jauh)

Anonim mengatakan...

ini pendapat saya: MUTU SDM NTT BURUK. PENDIDIKAN TIDAK MENDATANGKAN MANFAAT BAGI MASYARAKAT. GANTI PENGELOLA PENDIDIKAN. ASPEK PENDIDIKAN DITARIK KEMBALI KE PUSAT. KALAU TIDAK MAMPU MENATA PENDIDIKAN, GANTI SAJA GUBERNUR NTT. TIDAK BECUS SAMA SEKALI (Anak NTT di Rantau Jauh)

Anonim mengatakan...

@ Anak NTT di rantau,

Engkau belum menjawab pertanyaan saya. Apa yag kau sudah buat untuk NTT? Jangan sok jagoan dan sok lebih tahu? Malah kau menghina BM, satu-satunya yang berani meneliti dan memberi warning kepada kita di NTT tentang gawatnya kondisi lingkungan NTT (13)

Anonim mengatakan...

sebelum lupa, hei anak ntt di rantau, kamu sendiri bisa berdoa tidak? (13)

Anonim mengatakan...

RINGASNYA; HOOOOIIII ANAK NTT YANG SEMBUNYI DI RANTAU, KAMU ITU ....MEMALUKAN ..... (13)

Anonim mengatakan...

Kawan-kawan putra-putri NTT, jangan bertengkar. Mari kita bekerja menyelamatkan NTT kita.

Dalam Al-Quran surat Al-An'am (6): 38 ditegaskan bahwa binatang melata dan burung-burung pun adalah umat seperti manusia juga, sehingga semuanya --seperti ditulis Al-Qurthubi (W. 671 H) di dalam tafsirnya-- "Tidak boleh diperlakukan secara aniaya."

(Bahren, Kupang)

Anonim mengatakan...

@ 13,

Saya sudah baca tulisan yang dimaksud dan hmmmm.....ini salah siapa? Saya pikir ga usah menyalahkan siapa-siapa deh....lihatlah diri sendiri. Sudah bener belum????? Kalo masih suka nyampah sembarangan, ga mo plihara pohon, suka nebang pohon ya jangan salahin orang laen kalo daerah kita jadi gurun (Ryan)

Anonim mengatakan...

@ BM,


nyindir nih yeeee.....yg gw tau hutan jawa tinggal 10% doang ditelen keserakahan....ga cuma NTT lah bro!!!!! (Ryan)

Fakhry mengatakan...

Nih GW kasi kutipan beritanya dari http://www.mediaindonesia.com tanggal 4 Maret 2010.

"Sumba Timur Terancam Jadi Gurun"

KUPANG--MI: Kabupaten Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi menjadi gurun akibat proses penghilangan vegetasi dan penurunan kelembaban tanah di wilayah timur Pulau Sumba itu. Demikian dikemukakan seorang peneliti ilmu kehutanan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr L Michael Riwu Kabo di Kupang, Kamis (4/3).

"Kami mengambil sampel penelitian pada Bukit Wairinding di Desa Pambota Jara, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Daerah ini terletak pada ketinggian antara 100-200 meter di atas permukaan laut dengan formasi vegetasi asli adalah padang rumput savana," katanya.

Fakhry mengatakan...

Riwu Kaho yang merupakan dosen Fakultas Peternakan Undana Kupang itu menguraikan, iklim di kawasan tersebut merupakan gambaran umum tipe iklim kering dan semikering atau berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Fergusson disebut iklim tipe E. Proses penggurunan itu terjadi, katanya menjelaskan, karena hilangnya vegetasi dan penurunan kelembaban tanah.

"Kondisi ini sedang terjadi di Sumba Timur, sehingga kemungkinan terjadinya proses penggurunan di wilayah timur Pulau Sumba itu bisa saja terjadi. Ini semua terjadi akibat aktivitas manusia yang juga dipengaruhi oleh variasi iklim," katanya menjelaskan.

Fakhry mengatakan...

Menurut Riwu Kaho, bukti-bukti perubahan iklim global dan dampak lokal dimaksud tidak bisa terbantahkan lagi, karena sudah melanda juga wilayah Sumba Timur. Ia menguraikan, jika dibandingkan dengan kondisi 50-100 tahun lalu, luas hutan di Sumba Timur saat ini tinggal sekitar enam hingga tujuh persen saja.

"Ini sebuah kemunduruan formasi vegetasi yang luar biasa. Dari aspek ini pun, gejala umum proses penggurunan patut diduga telah terjadi di Wairinding, Sumba Timur. Akan tetapi bukti ini harus ditelusuri lebih jauh lagi," ujarnya.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pihaknya pada 10 titik di sekitar perbukitan Wairinding sebagai sampling menunjukkan bahwa total areal basah yang tercakup oleh vegetasi tidak lebih dari 20 persen.

Fakhry mengatakan...

Sebagian besar vegetasi adalah rumput jenis annual yang hanya tumbuh semusim, seperti rumput jenis fymbristilis sp dan eragrostis sp, katanya. Riwu Kaho menambahkan, semua titik pengamatan menunjukkan bahwa batuan induk telah berada pada bagian teratas profil tanah, sedang di lembah-lembah sekitar bukit Wairinding kedalaman lapisan tanah hasil erosi dan sedimentasi hanya mencapai satu sampai dua meter.

Profil tanah normal yang ada di wilayah tersebut menunjukkan bahwa serasah atau sisa-sisa tanah dan bahan organik tanah hasil dekomposisi serasah, horison mineral berbahan organik tinggi sehingga berwarna agak gelap. "Berbagai variabel yang ada menunjukkan bahwa proses penggurunan telah tampak di Wairinding, Sumba Timur," ujarnya.

Fakhry mengatakan...

Nah, kalo udah gitu kalian anak NTT ga usah berantem. Mikir gimana caranya mengatasi masalah yang ditulis BM. Ya ga> Ribut-ribut, bikin malu aja

Anonim mengatakan...

Iya nih bung Proxy, kami dari NTT bisanya cuma bertengkar tetapi lingkgungan hidup kita tetap saja rusak. Bahkan masik rusak (Sherly)

Anonim mengatakan...

@ Pak Domi,

Jikalau rumah yang nyaris tanpa tumbuhan itu akan kita sebut apa penghuninya? (Sherly)

Anonim mengatakan...

@ Sahabat Blogger,

Ya, yang ditulis BM memang tidak terbantahkan dan juga reaksi dari mister 13 amat sangat bisa dimengerti. Mengapa demikian? Ada 3 pilar tata goodgovernance yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta. DI antara 3 pilar ini, regulasi ada ditangan pemerinah. Maka, dialah phak yang paling kuat memagang tanggung jawab. Dari pihak pemerintahlah harusnya datang arahan bagi inisiasi-inisiasi program. Ketika pemerintahnya lebih mirip burung beo, apa lagi yang bisa diharapkan dari mereka? (Eman, CN, TDM)

Anonim mengatakan...

@Opa Eman

Tiga pilar yg Opa Eman bilang di atas, itu yg dlm good governance disebut: stakeholders atau pihak yang berkepentingan. Dan seharusnya, bukan cuma tiga tp banyak. Kalo yg Opa Eman maksudkan yg tiga itu adalah yg disebut ultimate stakeholders, bisa jadi benar. Tapi, belakangan ini masyarakat global jg punya kepentingan yg kuat jg.

Satu lagi, kalo bicara tanggung jawab Opa tar bisa bilang pemerintah punya tanggung jawab paling besar. Kl bicara yg ideal, masalah lingkungan itu urusan masyarakat. Pemerintah punya peran memfasilitasi dan mengatur supaya proses lancar dan tertib. Jadi mnrt Upu Rocky dlm kondisi di mana semua pihak hrs bertanggung jawab sesuai perannya msg2, jgn Opa pake frasa "tgg jwb". Te nanti bs tjd saling lempar tgg jwb dan masalah sonde beres2.

Tapi Upu jg cuma kasi pendapat saa... kalo Opa rasa su benar ya silahkan saa... Yg penting Opa pung tindak nyata, toh... Upu masi baru belajar merangkak jd cum bisa nonton saa...

(Rocky RK)

tuaksatu mengatakan...

@ Dear All,

Masalah gurun NTT gw liat di beberapa web. Ternyata hasil wawancara waerawan dengan BM. Wah, senang banget membacanya karena BM ternyata bukan cuma sekedar nama narsis di blog. He is a realilty ones. Kalo diparalelin dengan apa yang dia tulis selama ini, wah BM banyak benarnya.

Tapi ga juga setuju bahwa sumba cuman contoh. LIat ajah, betapa krawang yang ga pernah banjir dan lumbung padi nasional taon ini bencan dan Indonesia terancam kesulitan pangan karena ribuan ha sawah bakal puso. SO, ini masalah Indonesia. Dikaruniai SDA yang dahsyat tapi kelakuan dahsayat ngawurnya. Salah siapa? Gw ga setuju ma Bung Eman dan 13. Yang nyampah tiap ari di sungai-sungai di jakarta dan di jawa totally masyarakat. Kata kucninya adalah kesadara. Sepeti kutipan BM..mulai dari diri sendiri seinci demi se inci erbaiki sikap kita.

tuaksatu mengatakan...

Trus ada yg gw mo keluhin. Waktu libur kmaren-kmaren gw ke g. salak...waaahhh....kok banyak vandalisme di sana yg gw duga dilakuin oleh mereka yang ngakunya pencinta alam. Wuueeecchhh..mereka pencinta alam ataopenjahat alam yang hobinya just walking around sich?????

anna mengatakan...

@ Dear Tuak satu,

Pikiran yang menggelitik Bung...

Pencinta Alam, seringkali diidentifikasikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan alam. Menjelajah gunung, menyusuri gua, mengarungi keajaiban dasar samudera, merambah belantara nan sunyi dan sederet kegiatan ‘alam’ lainnya.

Tentang pencinta sendiri di negeri kita, seringkali kegiatan yang dilakukan hanya sebatas sloganisasi belaka, sebatas mereka menikmati alam untuk diri sendiri, sebatas mencari kepuasan untuk kepentingan pribadi. Pencinta Alam ( baca: mereka yang menamakan diri sebagai Pencinta Alam) sering kali melakukan banyak aktivitas yang justru mengganggu keseimbangan alam. Menjelajah gunung dan membuat jejak-jejak disana, mencoret batu-batu di puncak, membuang sampah non organik ke sembarang tempat, membuat api unggun yang seringkali lupa dimatikan, memetik Edelweiss hingga beratus-ratus tangkai….

anna mengatakan...

Saat masih sekolah dulu, pernah juga terlibat dalam kegiatan yang menamakan diri sebagai “Pencinta Alam”. Jujur, kala itu orientasi saya hanya mencari background yang bagus untuk foto-foto saya. Rasanya bangga sekali bila berhasil “menaklukan” puncak-puncak tertinggi. Memang, rasanya damai sekali di tengah kesunyian alam, menikmati keindahan kota nun jauh disana yang tertutup sebagian kabut, menyaksikan keajaiban sunrise dan sunset kala cuaca bersahabat. Dengan apapun, itu tak akan pernah bisa tergantikan.

Hanya saja, yang sering mengganggu saya, seringkali di perjalanan menuju puncak banyak sampah berserakan. Tentunya, ini adalah sampah yang dibawa oleh para pendaki karena sebagian besar makanan yang dibawa khas sekali. Sampai di puncak? Wah… lebih ngeri lagi. Bebatuan yang semestinya terlihat asri dan indah penuh coretan. Untuk apa? Sialnya coretan-coretan itu seringkali membawa nama sekolah, nama kampus yang notabene lebih ‘terpelajar’ dari pada para pendaki liar.

anna mengatakan...

Saya pernah merasa malu sekali ketika dalam sebuah pendakian kami secara kebetulan berpapasan dengan pendaki dari mancanegara. Dengan sebuah kantong besar, mereka menuruni gunung sambil memunguti aneka macam sampah yang terserak. Wah, rasanya kami tak punya muka lagi untuk menatap mereka. Tentu, bukan karena sampah yang mereka pungut adalah sampah kami, melainkan karena kepedulian mereka akan alam. Sementara, para pendaki lokal yang (seharusnya) memiliki kesadaran lebih, justru mengabaikannya.

Sebuah organisasi Pencinta Alam (yang biasanya ngetren di kalangan mahasiswa) seharusnya bukan sekadar sebuah tempat bernaung bagi mereka yang senang bertualang saja atau menghabiskan anggaran dana di kampus. Ironis membayangkan mereka melakukan pendakian besar-besaran yang menelan biaya tinggi sampai ke luar negeri, sementara, di negeri sendiri, negeri yang (seharusnya) elok dan kaya akan hutan tropis perlahan mulai kehilangan identitasnya. Pencurian kayu, pembabatan hutan secara liar luput dari penyelamatan sang ‘pencinta alam’ Pencinta Alam.

anna mengatakan...

Dalam konteks bahasa adalah seseorang yang sangat mencintai alam. Mencintai berarti melakukan banyak hal untuk sesuatu/seseorang yang dicintai. Mencoba membahagiakan sesuatu/seseorang yang kita cintai dengan tulus. Melakukan banyak hal agar sesuatu/seseorang yang dicintai merasa nyaman. Mencintai itu tanpa sederet syarat apapun, Mencintai itu sesuatu yang tulus, tanpa pamrih. Mencintai Alam, sama halya dengan melakukan banyak hal untuk alam, tanpa syarat-syarat khusus, tanpa dibarengi rasa keegoisan untuk memiliki alam secara individual, tanpa mengabaikan apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh alam. Semua harus dilakukan tanpa pamrih, pamrih untuk dimunculkan di media massa, tanpa pamrih di puji banyak pihak, tanpa pamrih untuk mendapat dukungan dana berlebih yang pada akhirnya digunakan entah kemana. Mencintai alam, mencintai wujud ciptan-Nya, mengasihi setiap apa yang ada di dalamnya. Memulai dari hal kecil di sekitar kita. Meski kecil, andai setiap orang melakukannya pasti hasilnya menjadi lebih berarti.

anna mengatakan...

@ Bigmike,

Menyenagkan melihat situ tetep komitmen dengan pikiran dan gagasan tentang manusia dan lingkungan. Tulisanmu tentang penggurunan di Sumba sudah saya lihat di blog perkuliahanmu. Naskah aslinya ada di situ dan rupanya kutipan waetawan memang agak kurang akurat. Seandainya lebih banyak lagi ilmuwan yang mau menulis secara populer pengalaman penelitian ilmiahnya maka saya membayangkan ada banyak informasi layak dipercaya yang mencerahkan publik. Go ahead Mr. BM....God Bless u

Anonim mengatakan...

@ Bung Rocky dan Bung Tuaksatu,


Pendapat anda masuk akal dan bisa saya terima tetapi mohon pencerahan, mengapa pemerintah tidak bisa dimita pertangungjawabannya dalam tatalaksana goodgovernance, misalnya dalam masala lingkungan? Bukankah dialah stakeholder yang harus berada pada posisi mengatur dan memerintah?

Saya setuju dengan @ tuaksatu bahwa masyarakat memang ikut menabung kesalahan tetapi bukankah dia seharunsy memperoleh clear direction yang diberikan oleh pemerintah? Mohon dijelaskan oleh bung berdua (Eman)

Anonim mengatakan...

@ Anna,

Pendapat yang amat bagus. Saya suka dan memang, seperti juga sinyalir bung Tuaksatu, kalangan pencinta alam itu kadang kala lebih mirip erusak alam (Eman)

anna mengatakan...

@ Bung Eman,

Thanx for ur appreciation. Saya punya data dari temen di Burung Indonesia, Bogor (ex, Birdlife)

Pada tahun 1927, diperkirakan luas tutupan hutan di pulau Sumba masih sekitar 50% dari luas daratan. Namun fakta hasil analisa foto udara menunjukan bahwa pada tahun 1997 tutupan hutan hanya tersisa 10%. Bahkan hasil terakhir pada tahun 2000 kembali menunjukan penurunan, yaitu menjadi sekitar 6,5 saja. Padahal secara ideal, dibutuhkan luas hutan sebanyak 30% dari luas daratan suatu pulau (anna)

Anonim mengatakan...

@ Mbak Anna,

Salam ya.....Sumba memang parah. Sangat parah. Kita dukung upaya-upaya BM dan ForDAS NTT-nya yaaa....(Eman)

Anonim mengatakan...

@Opa Eman

Upu bukan ada maksud supaya Opa sonde bole minta pemerinta hrs bertanggung jawab atas gurunisasi di NTT c.q. sumba timur. Bole2 saja, tp mnrt Upu cr ini snd efektif, Opa. Knp? Krn pemerinta ahli dlm berkelit trus lempar tggjwb kpd stakeholders lainnya tmsk masyarakat yg mnrt Om Tuak-1 suka nyampah, tebang pohon, dan bakar hutan serampangan tak bs diatur. Ahirnya yg ada cuma saling tuntut tangg jwb sementara gurunisasi jln terus.

Krn itu, mgkn ada baiknya Opa ubah paradigma. Bukan tuntut tggjwb pemerita tp ingatkan pemerinta utk memfasilitasi dan memperlengkapi masyarakat agar sadar dan lbh giat menjaga lingkungan. Ini cuma conto, saa... poinnya Upu kira Opa su mangarti yaitu jgn jadi penguasa (suka menuntut pertggjwb pihak lain) tp jadilah mitra.

(Upu Rocky RK)