Minggu, 12 Oktober 2008

Hutan-KU. Hutan-MU. HUTAN KITA. Omong-omong, apa Indonesia masih punya Hutan? (SelAMat HUT 24 NORMAN)

Dear sahabat blogger,

Hari ini saya ingin menyuguhkan menu (posting) berupa sebuah artikel yang dikirim oleh Norman dari Jogakarta. Ya, anda betul dialah si penerus DNA saya yang saat ini sedang belajar tentang la condition humaine di UGM Jogjakarta. Universitas yang juga telah menghasilkan alumni dari DNA yang sama dengan Norman, yaitu SGT almarhum dan saya. Posting ini saya lakukan karena tepat hari ini, Norman bertemu dengan HUT-nya yang ke 24. Menurut salah seorang Pak Lik-nya, Vecky RK alias Wilmana, usia yang sudah mendakati 1/4 abad. Maka tanpa editing yang neko-neko, inilah Norman dan hutan-nya. Silakan dikritisi karena kemungkinan isinya cuma 1/2 benar he he he he he. Talk-talk apakah forest di Indonesia masih ada? Ya, begitulah. Masa' begitu-dong?

HUTAN INDONESIA
DIANTARA HPH, UUD’45 PASAL 33 ATAUKAH MORALITAS?? (serta masalah-masalah lainnya)

Hmmmm..... dari judul di atas pasti langsung terbaca apa yang ingin saya sajikan. Betul, saya ingin berbicara mengenai hutan di Indonesia. Pertama-pertama, tentu sebagai orang beriman kita patut mengucap syukur ke hadirat.... eh maksud saya adalah pertama-tama tentu saya harus bilang kenapa saya mengangkat topik ini, setelah sebelumnya saya berbicara mengenai pertanian dan global warming. Tapi sebelum saya menjawab pertanyaan tadi, coba berapa di antara anda, yang secara jujur, menganggap hutan itu penting? Hmmm.. masih belum ada yang menjawab yah? Begini saja, yang menganggap hutan itu penting segera acungkan tangan ke atas.. Ayo... anak-anak... He..he. maksud saya apakah di antara kanjeng mas-mas atau mbak-mbak pembaca blog ini ada yang berpikiran sama seperti pemerintah kita yang “tak mau peduli” dengan kondisi hutan kita dan hanya melihat hutan itu sebagai “tambang hijau” penghasil uang. Sedih sekali.

Lho, dari tadi saya ngomong ngalor ngidul tapi belum memberikan alasan why topik ini dirasa penting. Begini, hutan itu punya arti penting (yah iyalah). Banyak sekali nanti selanjutnya baru akan saya jabarkan tapi pada intinya hutan itu penting. Please, tanamkan itu di pikiran anda sekalian maka kita akan selangkah lebih maju dibanding dengan pemerintah kita. Oleh karena sedemikian pentingnya sehingga hutan menjadi salah satu tertuduh ketika terjadi pemanasan global di bumi ini. Hmm... bagaimana menarikkah topik ini? Ataukah topik ini menjadi basi karena sudah sering sekali didengar? Eitssss... jangan dijawab dulu yah.. mari kita lanjut baca tulisan saya “Seri Selamat” jilid ketiga (saya mencontek apa yang dilakukan penulis idola saya Pendeta Andar Ismail dengan buku Seri Selamat jadi tulisan saya ini juga tentang Seri Selamat-Kan Hutan) Yuukkkk.......

Hutan di Indonesia identik dengan pola pengelolaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Pola ini sudah berlangsung sejak lama. Kalau saya tidak salah, pola HPH ini sudah berlangsung sejak tahun 1968 atau 40 tahun tahun yang lalu. Awiiiii.... jauh lebih tua dari umur saya sendiri. Tapi apakah pola ini berhasil jika kita melihat dari sisi seberapa banyak keuntungan yang disumbangkan pola HPH ini dan kondisi terkini hutan kita di lapangan. Sebagai info saja, hutan di Indonesia (merupakan tipe hutan tropis) dalam angka Statistik yang dikeluarkan FAO (2006) dimana laju deforestasi dari tahun 2000 hingga 2005 mencapai 1.8 juta hektar per tahun. Jumlah ini malah lebih sedikit dari jumlah yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan yaitu sebesar 2.8 juta hektar per tahun. Hal ini setara dengan US$4 miliar atau 40 triliun rupiah per tahun. Sekarang anda tinggal pilih mau saya sampaikan berita baik atau berita buruk duluan terkait data ini?? Oke, saya kasih berita baiknya dulu bahwa Untungnya….. Huffff (saya menarik nafas lega karena ada kata untungnya) Kita masih di urutan 2 di bawah Brazil dengan jumlah 3.1 juta hektar hutan hilang tiap tahunnya. Trus berita buruknya??? Namun demikian, luas hutan kita jauh lebih kecil dari Brazil. Sehingga laju penghancuran hutan kita jauh di atas Brazil yaitu 2% untuk kita dan 0.6% buat Brazil. and the result is kitalah yang tercepat untuk urusan rusak-merusak hutan. Olee… Oleee. Hidup Indonesia. Upssss…. Jujur saya dulu selalu berpikir bahwa masalah kehutanan hanya berkutat dengan masalah kebakaran hutan, illegal logging (pembalakan liar), dsb seperti yang saya sering baca di Koran. Ternyata belum berhenti disitu saja “nasib buruk” hutan Indonesia, ternyata ada lagi “kejahatan terselubung” yang sedihnya dilakukan pemerintah kita. saya berani bilang “kejahatan terselubung” karena sudah banyak sekali contoh. Neh, saya kasih sebagian “jab-jab ringan” (eman, 2008). Maksudnya saya kutip istilah jab-jab ringan ini dari komentar @eman dalam posting sebelum tulisan ini. Om eman beta pinjam ini istilah do eee. Hi..hi. HPH (Hak Pengusahaan Hutan) ini merupakan bentuk kerjasama pemerintah dengan pengusaha yang akan menggunakan hutan sebagai “lahan pekerjaan” mereka. Oleh karena itu, lahan hutan yang telah disepakati boleh dikonversi menjadi lahan hutan produksi. Nah, sampai disini semua kayaknya normal-normal saja, gak ada yang salah tuh. Ah ini bisa-bisanya Norman aja nih. Eittssss, Nanti dulu.

Dari konversi hutan diketahui, 15,9 juta hektar hutan alam tropis dibabat. Konversi hutan yang ditujukan untuk pembangunan kelapa sawit merupakan salah satu faktor peningkatan deforetasi di Indonesia. Sejak menjadi primadona, hutan seluas 15,9 juta hektar hutan alam tropis dibabat. Berbanding terbalik dengan luas lahan, konsesi yang telah ditanami justru tidak mengalami peningkatan berarti. Dari 3,17 juta ha pada tahun 2000, hanya mengalami peningkatan menjadi 5.5 jt ha pada tahun 2004. Lebih dari 10 juta hektar hutan ditinggalkan begitu saja setelah hasilnya “dipanen”. Tak jauh berbeda, persoalan lain muncul dari industri pulp dan paper. Industri ini membutuhkan setidaknya 27,71 juta meter kubik kayu setiap tahunnya (Departemen Kehutanan, 2006). Dengan kondisi Hutan Tanaman Industri untuk pulp yang hanya mampu menyuplai 29,9 persen dari total kebutuhannya, industri ini akan meneruskan aktivitas pembalakan di atas hutan alam dengan kebutuhan per tahun mencapai 21,8 juta meter kubik. Kayu ini diperoleh dari hutan alam milik afiliasinya maupun dari konsesi mitranya. Belum termasuk plywood dan industri pertukangan lainnya yang kemampuan HTI nya hanya mampu menyuplai 25 persen. Deskripsi di atas bertutur tentang dampak negatif kejahatan kehutanan di Indonesia. Jika dikalkuasi, akibat kejahatan kehutanan, seperti pembalakan liar, konversi hutan alam, dan sebagainya, Indonesia menderita kerugian ekonomis sebesar 200 triliun rupiah. Kerugian ini tak mencakup bencana ekologis yang ditimbulkan oleh kegiatan pembalakan liar, seperti banjir dan longsor yang kerap terjadi di pelbagai sudut Nusantara. Oleh karena kondisi ini maka diramalkan bahwa hutan dataran rendah non rawa akan hilang di Sumatera pada tahun 2010 dan jangan lupa bahwa 3 (tiga) daerah yang diramalkan akan terjadi penggurunan di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan yaitu : (1) Sulawesi Tengah, (2) NTB dan………….. yang………… ketiga………. adalah NTT atau kurang puas Provinsi Nusa Tenggara Timur biar ko mata tabuka lebar. Coba bayangkan NTT yang kalau musim kemarau sa su macam ke “gurun” apalai kalau betul-betul terjadi penggurunan?? (coba tutup mata anda dan saya berikan waktu 1 menit untuk membayangkan…….. Aduh beta suruh membayangkan bukan ko tutup mata terus tidur He..He)

Apakah cukup “jab-jab” ringan tadi??? Nih saya kasih “hook dan uppercut”. Presiden SBY baru –baru ini menandatangani PP No 2 Tahun 2008 yang memperkenankan penyewaan hutan lindung untuk berbagai kegiatan. Gila benar, hutan kita yang sudah rusak parah, kok hutan yang masih tersisa masih juga akan digadaikan? Apakah bencana ekologis yang terjadi susul menyusul belum juga akan menyadarkan kita semua? Termasuk Presiden yang nota bene dikelilingi para pakar (dan “dibisiki” kiri kanan) Haruskan hutan kita yang tinggal se-ucrit akan tetap dihancurkan? Haruskah anak cucu kita kelak hidup di negeri bencana? Parahnya lagi sewa hutannya juga sangat murah hanya Rp 300 per meter. Saya ulangi lagi, HANYA Rp. 300 PER METER. Wah jaman ayah saya masih bersekolah dasar mungkin Rp 300 itu sudah mewah nah kalau sekarang???? Beli permen sebiji pun gak cukup dengan uang segitu. Walah kita tinggal di negeri apa yah, kok yah hari gini yang udah porak poranda akibat bencana masih juga belum sadar-sadar juga. Hanya Gubernur Kalimantan Selatan dan Gubernur Kalimantan tengah dan sejumlah bupati di wilayah itu pada waktu itu yang menyatakan menolak pelaksanaan PP itu. Alasannya jelas, membiarkan hutan dirusak berarti bencana yang akan datang dan dampak itu akan langsung dirasakan oleh orang di daerah, bukan Presiden yang mengeluarkan kebijakan. Ada perkembangan baru nih, setelah rame-rame ribut dan ada penolakan dari berbagai pihak termasuk adanya pengumpulan 5000 tanda tangan dalam upaya menggugat keputusan itu, SBY mengklarifikasi, katanya PP itu ditujukkan untuk 13 perusahaan yang telah terlanjur memiliki hak kelola dikawasan Hutan Lindung, pasca keluarnya Kepres 41 tahun 2004. SBY bersikukuh kalau dia hanya meneruskan Kepres yang dikeluarkan zaman Megawati itu. Namun persoalannya di PP 2 Tahun 2008 itu sendiri sama sekali tidak disebutkan kalau PP itu hanya dibatasi untuk 13 perusahaan. Klarifikasi yang disampaikan lisan, mana mungkin mengikat?

Makanya seharusnya Presiden harus segera melakukan revisi, jangan hanya ngomong saja, tapi naskah tertulisnya masih bersifat terbuka. jangan biarkan timbul wilayah abu-abu yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang memang menginginkan adanya wilayah abu-abu itu.Nah.. Itu baru “hook” dan “uppercut”, nih saya kasih pukulan “seribu bayangan” untuk menutup “pertarungan” ini, setelah diselediki oleh Walhi ternyata dalam kenyataan di lapangan, hutan kita telah “diperkosa” tidak hanya 13 perusahaan yang nota bene memiliki ijin resmi tadi tapi LEBIH DARI 128 PERUSAHAAN yang datang tak dijemput pulang tak diantar (he..He), entah datang darimana surat ijinnya (darimana o??) ikut-ikutan memporak-porandakan hutan kita. Aduh.. ternyata nasib hutan Indonesia bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga plus-plus (plus diinjak, plus diludahi, plus dimaki-maki, dan plus lainnya Hi..Hi). Selain itu, ternyata hutan sudah disadari banyak pihak sebagai “tambang hijau” oleh karena itu, banyak pihak kemudian “memanfaatkannya”. Seakan-akan jika kita berbicara hutan, ini sudah menjadi wilayah abu-abu bagi banyak pihak. Saya berikan contoh kecil apa yang mendasari sehingga saya ngomong seperti ini..Pada Operasi anti pembalakan liar di Propinsi Papua (Maret 2005) gagal menjerat para cukong kelas kakap dan para pelindungnya di kepolisian dan militer. Dari operasi ini, berhasil ditangkap 186 tersangka. Tetapi, hingga Januari 2007, hanya 13 tersangka yang berhasil diamankan dan tak seorang pun pimpinan sindikat yang terjaring. Dari 18 kasus utama yang sampai ke pengadilan, seluruh terdakwa divonis bebas. Adanya Ketimpangan proses peradilan yang disebabkan oleh virus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang berkait-kelindan dengan kepentingan sesaat aparat penegak hukum (bahkan pejabat birokrasi) di seluruh jenjang peradilan, mulai polisi, jaksa, hingga hakim. Artinya sudah muncul Artalyta Artalyta (tapi belum ketangkap) baru nih. Wah… saya malah berpikir, kalau untuk kasus maling ayam saja dalam tempo waktu paling lambat 1 hari sudah tertangkap polisi dan diadili tapi kok untuk “kasus-kasus istimewa” seperti ini kok para penegak hukum di negeri ini seakan-akan mandul yah?? Apa iya suatu waktu semua kasus dari kasus maling sandal, maling ayam, sampai kasus-kasus “kelas berat” harus ditangani KPK yah?? Payah….

Saya lanjut lagi, pola perspektif hidup dan tata nilai yang dipijak oleh masyarakat, Perhutani, pemerintah (baik lokal maupun pusat) menjadi faktor lain kian derasnya laju kejahatan kehutanan. Dalam perspektif masyarakat, hutan memiliki fungsi melindungi pemukiman mereka dari angin ribut, kekeringan, dan erosi. Senada dengan itu, Perhutani juga meyakini fungsi ekologis hutan. Uniknya, perambahan dan pembalakan liar terus terjadi seiring kalkulasi ekonomis yang dianut Perhutani. Tak jauh berbeda, pemerintah pun bertolak dari aspek ekonomis hutan ketimbang fungsi ekologisnya. Bagi mereka, hutan adalah sumber daya yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah-ruah. Karenanya, amat diperlukan bagi pemerolehan pendapatan nasional. Sayangnya, kebijakan pembangunan yang dijalankan tak berpihak pada keberlanjutan hutan. Ruarrr biasa sekali yah hutan kita ini. Malah hutan kita akan masuk Guiness Book Of world record. HAHHHH Kok Bisa??? Bisa sajalah lah karena baru-baru ini, Greenpeace Asia Tenggara mendaftarkan Indonesia ke Guinness Book of World Records sebagai negara penghancur hutan tercepat di seluruh dunia. Woww…. Mari kita berikan aplaus untuk hutan kita yang penuh “prestasi”. Prok..Prok..Prok. Yang lebih menyedihkan lagi, Negara kita entah buta atau tidak peduli dengan keadaan ini tapi malah gak ngurus masalah yang nyata-nyata ada di depan mata tapi malah sibuk ngurus “merokok itu haram”, padi Super Toy (istilah saya bukan super toy tapi super gagal), dsb. Benar-benar Negara yang aneh. Oleh karena itu, Negara kita ini “seharusnya patut bersyukur dan berterima kasih” dengan adanya pencurian kayu (illegal logging) atau kebakaran hutan. Lho kok??? Gampang saja, jadi kalau ditanyakan kenapa hutan di Negara sampeyan gitu? Yah tinggal jawab saja, ohh… yang merusak hutan itu para maling kayu sama kebakaran hutan. Jadi dengan adanya illegal logging dan kebakaran hutan berarti ada yang disalahkan.. Ini dalam bahasa jawa bisa dikatakan Opo iki?? bingung apa maksudnya kan?? Bagus…. karena saya juga bingung (sebagai info saya ± baru sebulan berada di tanah jawa ini jadi tadi saya hanya sok-sokan berbahasa jawa. Hi..Hi).

Trus apa hubungannya dengan UUD’45 pasal 33 yang saya sampaikan di atas yah? Pasti ada yang bertanya seperti itu kan? Begini, ingatkah saudara-saudari semua tentang bunyi UUD 45 pasal 33? Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk kasus hutan ini apa iya?? Masihkah relevan bunyi pasal ini dengan kenyataan di lapangan?? Ataukah diganti huruf yang dicetak tebal tadi dengan kata “dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran penguasa??”Eitts... Jangan dijawab dulu. Simpan sebentar.. terus apalagi hubungan tulisan ini dengan moralitas? Dalam tulisan saya sebelumnya tentang global warming ada komentar dari bos nk yang mengatakan jika bisa diambil garis besar maka setiap masalah yang terjadi di bumi khususnya di Indonesia tercinta ini selalu berkaitan dengan moralitas. Jujur, saya pada saat itu kurang sependapat dengan “bule” NR (nyong kupang atau nyong rasis. Hi..Hi. sori bos). Tapi saat ini saya malah mengiyakan ide/pendapat nk tersebut. Jadi apakah masalah hutan ini pada ujung-ujungnya juga terkait dengan moralitas?? Betulkah dalam kasus hutan ini harus dilihat dalam perspektif moralitas?? Ataukah ada yang ingin menjawab selain itu?? Ah, saya tidak mau menjawab (enak saja... saya capek-capek ngetik sedangkan saudara-saudari cuman membaca doang. Yah... harus ikut mikir juga lah. Hi..Hi), oleh karena itu sengaja saya menyimpan semua pertanyaan-pertanyaan tadi dan mengharapkan saudara-saudari semua untuk ikut menjawab atau bisa juga untuk direnungkan oleh kita semua Tapi saya ingin bilang, dengan kondisi hutan yang demikian maka ada ramalan dalam 50 tahun kedepan maka hutan di negara kita ini hanya akan tinggal sejarah. Kita hanya akan menemukan hutan dalam buku-buku sejarah. Atau jangan-jangan, bukan hanya hutan tapi kita, anda dan saya serta, bangsa Indonesia ini, hanya bisa diketemukan di buku sejarah sebagai bangsa perusak hutan yang “pernah” mendiami bumi. Mau???

76 komentar:

Bigmike mengatakan...

Dear all,

Bagi sahatab Kristiani yang menginginkan artikel renungan minggu harap jangan dongkol (masa' ia-kol? ha ha ha) karena sesungguhnya posting hari ini tidak jauh-jauh amat dari harapan sahabat-sahabat sekalian.

DAlam Kibat Kejadian 1-2 ada tertulis begini:

......Hari ketiga. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang berada dibawah langit berkumpul disuatu tempat, sehingga kelihatan yang kering” Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamaiNya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi. Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat semuanya itu baik.,,,,

So, apakah kita tidak maul dengana kenyataan bahwa hutan ciptaan Tuhan itu perlahan-lahan menghilang?

Bigmike mengatakan...

Berhubung saya bukan orang kaya yang bisa memberikan hadih yang indah-indah maka posting ini adalah hadih HUT ke 24 kepada si penerus DNA saya, NORMAN.

Jadilah engkau menjadi berkat nagi sesamamu karena terlebih dahulu TUHAN telah memberkatimu (bapa, mama, apn, puput, ibi dan jordan)

Anonim mengatakan...

Selamat Ulang Tahun Kami ucapkan.
Selamat Panjang Umur Kami Kita khan Doakan.
Selamat Ulang Tahun Sehat Sentosa
Selamat Panjang Umur dan Bahagia.

Hiipppp... Horeeeeeeee!
Hiipppp... Horeeeeeeee!

Teriring salam dan doa tulus dari kami.

'dh9rk' + Angela = Brian

Anonim mengatakan...

Uhuy.... Akhirnya beta sempat liat-liat blog juga. bukan karena sonde mau tapi sonde punya duit sering-sering ke warnet. he..he.

ini cuma tulisan sederhana sa sonde fenomenal seperti tulisan-tulisan yang lain tapi jangan lupa dari hal yang "sederhana" ke gini terjadilah pemanasan global, terjadi banjir disana-sani, dll.. trus apa solusinya?? dalam tulisan ini mungkin saya tidak mengatakannya jadi saya minta bantuan dari kwan2 blogger sekalian bantu beta. Kenapa?? simpel saja karena masalah ini sudah terjadi sekian lama, solusinya sudah banyak dikemukakan tapi apa hasilnya??? NOL.

beta mau minta maaf mungkin beta sonde bisa sering-sering "maloi" ini blog karena kesibukan kuliah tapi beta janji begitu ada waktu luang (dan doi tentunya)beta akan cek-cek.

akhir kata.... nikmati tulisan ini, sorry kalau masih salah dalam teknis penulisan maklum masih belajar....

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Like father like son. Memang memerlukan waktu untuk bisa menjadi sama seperti bigmike. Tapi enggak apa-apa karena sekarang berbicara, teruskan dengan banyak belajar lantas buatlah budaya berkehutanan yang lebih baik. Selamat HUT ke 24 (Eman, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ all,

sekarag saya ingi mengomentari tentang hutan tu sendiri. Bagaimana kita isa mengetahui bahwa laju deforstasi sebesar 1.8 juta/ha/tahun. Apakah data dari BP statistik? Apakah data dari Kehutanan? Persoalan kta adalah akurasi data kita yang teramat sering diragukan. Angka statistik sering-sering merupakan angka hasil tipu-tipu. Makin besar angka kerusakan hutan tentu akan makin besar angka proyek perbaikan hutan. Cobalah Norman mengulas hal ini (Eman, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

....Jadi apakah masalah hutan ini pada ujung-ujungnya juga terkait dengan moralitas?? Betulkah dalam kasus hutan ini harus dilihat dalam perspektif moralitas?? ...

Menurut hemat saya, moralitas memiliki penagaruh besar terhadap kerusakan SD hutan. Tapi pasti ada faktor lainnya. Mari kita pikirkan bersama-sama. APakah adil hanya mempersoalkan Indonesia. Di awal abad 20, negara-negara barat menebang habis hutan mereka untuk pembangunan ekonomi. Sekarang, ketika hutan dunia ternyata diperlukan, mereka menoloh negara-negara miskin seperti Indonesia untuk tetap menjaga huta. Dengan kekuatan modal dan informasnya mereka menyebarkan kemana-mana berita-berita tentang perusakan hutan ole Indonesia sambil sembunyi fakta bahwa mereka sudah terlebih dahulu menghabisi hutan- hutan mereka. Singkat kata, fakto geopolitik juga layak diperhitungkan dalam masalah kerusakan alam Indonesia (Francis, CN, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Salam kenal. Saya anggota baru dari komunitas CN menyampaikan salam kenal. Saya kenal NOrman. Mahasiswa terganteng di Faperta Undana. Sayang selera pacarannya parah. Ceweqnya sering jelek-jelek ha ha ha ha.

Norman, beta anonim saja. Lu pasti tau beta kalao liat tapi di dunia maya lu bisa bekin apa? Beta sengaja bekin pusing lu ha ha ha ha ha

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Salu menyenangkan meihat anak-anak muda bekerja keras menyongsong masa depan. Bukan cuma masa depan mereka sendiri tetapi juga masa depan Indonesia. Di tangan Norman dan kawan-kaan seusianya, masa depan Indonesia dipertaruhkan.

Saya sudah melihat bakatmu yang bagus keta posting tentang pertanian dan kekeringan. Posting itu malah menjadi ajang tukar piiran yang amat keras di antara beberapa sahabat blogger. Saran saya, belajarlah pandai tetapi juga belajarlah rendah hati.

Untuk memotivasi Norman, lihatlah tulisan Ayahandamu pada posting sebelum ini. Posting yang amat mengagumlan dan ayajandamu kembali membuktikan jati dirinya. Lihat pula kutpan dari Helen Keller seorang buta, mungkin tergolong kaum "rumput" tetapi menemukan kehidupan yang jauh melebihi para pohon.

"I long to accomplish a great and noble task,
but it is my chief duty to accomplish small
tasks as if they were great and noble."
- Helen Keller -

(Syamsudin, blogger tua, Jakarta)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Ya ya ya, harap dicatat. Kebiasaan menebang habis hutan ada akar sejarahnya, yaitu dimulai di masa meneer-meneer Belanda masih bergentayangan di Indonesia.

Eksotisme alam di Jawa pada masa lalu menjadi daya tarik perhatian para penjelajah Barat (baca: Eropa) untuk mengeksplorasinya. Hutan di Jawa kelak “dimusnahkan” sehingga kayu bangunan didatangkan dari Pulau Kalimantan. Di Sulawesi dan Sumatera, hutan merupakan persediaan nabati yang menghidupi banyak jiwa dan daya tarik in menyebabkan hutan-hutan ini dieksploitasi juga (Wuryandono)

Anonim mengatakan...

Dalam laporan perjalanan seorang utusan VOC Rijklof van Goens dari Semarang ke Mataram pada 1656 ditulis meluasnya lahan pertanian tetapi kawasan hutan kian berkurang. Ya tidak lain karena hutannya dibabat dan dikonversi menjadi lahan pertanian. Pola yang tersu berluang sampai sekarang.

Memang Rijklof Van Goens mencatat bahwa "seer veel wild in de bosschen" yang artinya "masih sangat banyak hewan buruan di hutan", Oleh karena itu, mnuut Van Gons, raja-raja dan para penguasa sebagai penggemar perburuan telah membuat sejumlah ‘cagar alam’ (krapyak) untuk melindungi hewan buruannya dari pembabat hutan.

Harap dicatat bahwa "Krapyak" mejadi bukti bahwa orang-orang Indonesia mulai memberi perhatian terhadap upaya konservasi hutan. Jadi jangan menduga perilaku ornag Indonsia neatif melulu (Wury)

Anonim mengatakan...

Pembukaan hutan secara besar-besaran yang disertai perkembangan penduduk sebenarnya baru terjadi pada awal abad ke-19. Perkembangan teknologi kemungkinan besar menjadi pemicunya.

Atas perintah Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) “Jalan Raya” (Grote Postweg) dibangun atau lebih tepatnya diperkeras. Lalu menjelang akhir abad ke-19 dimulai pembangunan jalur kereta api yang menembus pedalaman hingga membelah pegunungan.

Sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, sejumlah besar pembabatan hutan dilakukan atas perintah dan di bawah pengawasan orang Eropa. Sekali lagi, pembabatan hutan dilaukan atas perintah orang-orang Eropa. Apa tujuannya?

Tujuannya untuk membuka tanah partikelir (prosesnya dimulai Daendels di sebelah timur dan Raffles di sebelah barat) dan sistem tanam wajib (Cultuurstelsel) setelah 1830. Selain itu juga untuk perluasan lahan pertanian serta pengolahan tanaman kopi, kina, teh karet yang mendorong pembabatan hutan secara sistematis. Jelas terlihat bahwa motif ekonomi adalah "nilai" yang ditanam oleh orang meneer-meneer eropa diwariskan kepada bangsa Indonesia dewasa ini (Wury)

Anonim mengatakan...

Daendels sendiri memerintahkan untuk mengeluarkan peraturan perlindungan hutan dan rimba yang pertama melalui Plakaatboek XV : Instructie voor den secretaris en fiscaal bij den inspecteur-generaal van de houtbosschen op Java tahun 1808. Undang-undang itu kemudian hanya dilengkapi saja sesuai keperluan karena makin lama makin sulit melindungi hutan terhadap perluasan pembukaan lahan.

Menjelang akhir abad ke-19, penebangan hutan yang meluas dari utara ke selatan, telah mengusir hewan buas ke daerah selatan. Sebuah buku panduan wisata yang ditulis F.Schulze, West Java, Traveller’s Guide for Batavia and from Batavia to the Preanger regencies and Tjilatjap (1894) menyebutkan bahwa di Pulau Nusakambangan ditemukan badak yang berasal dari Pulau Jawa (Wury)

Anonim mengatakan...

Apa yag bisa dipelajar dari catatan panjang di atas? Sejarah pembabatan hutan di ndonesia memiliki kaitan dengan apa yang dilakukan orang-orang Eropa di tanah mereka sendiri. Lalu, nilai-nilai ini diwariskan kepada bangsa Indonesia. Celakanya, Bangsa Indonesia kontemporer yang harusnya sudah bisa terbebas dari pengaruh penjajahan ternyata masih suka memanjakan dirinya sendiri dengan kenikmatan gaya tempoe doeloe. Korupsi, kolusi dan Nepotisme menjadi akrb dengan kita. Semakin celaka karena semasa orba, IMF dan World Bank selalu angkat jempol kepad Indonesia,

Mereka-mereka ini baru berbicara setelah masa reformasi. Jadi di mana masalahnya? bagaimana solusinya? Di sinilah kawan-kawan yang ingin berdiskusi bisa mengambil peranan. Posting ini anggap saja sebagai catatan awal (Wuryandono, sahabat bigmike)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Ada 2 pokok masalah kehutanan kontemporer di Indonesia, di luar masalah moralitas, yaitu:

1.Lemahnya hak, baik dalam bentuk perijinan, maupun hak dasar
atas kawasan hutan negara yang belum sepenuhnya mendapat
pengakuan masyarakat. Sengketa juga menyangkut hak-hak masayarakat atas hutan. Hak ulayat diakui tetapi merupakan sub-ordinat di depan ha negara. Hak negara terlalu kuat.

2. Lemahnya kemampuan lembaga pemerintah, pusat dan daerah, dalam
menguasai informasi, dalam menggunakan informasi sebagai
dasar pembuatan kebijakan, serta lemahnya pelaksanaan
kebijakan yang telah ditetapkan.

3. Lemahnya hubungan antar lembaga. Dengan erkataan lain, lemahnya koordinasi dan networking.

(Dhupacks, Bogor)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Pendapat Francis betul karena kami di Irian sudah tahu bahwa pencuri-pencuri kayu itu cukongnya adalah pengusaha Malaysia.

Malaysia sebagai negara tetangga Indonesia ternyata menjalankan praktik-praktik kotor, bandit, rampok, jarah dan bermuka dua terhadap Indonesia.

Terungkap MALAYSIA adalah PENADAH TERBESAR kayu-kayu hasil pembalakan liar (illegal, haram) di Indonesia.
Kasus terbaru adalah terbongkarnya praktik pengiriman kayu curian ke Malaysia lewat Papua dan Kalimantan Barat secara besar-besaran nilainya mencapai triliunan rupiah.

Betapa nikmatnya keuntungan HARAM yang dinikmati oleh Malaysia !!!!
Malaysia menerapkan praktik kotor menjual kayu-kayu haram itu dengan harga yang jauh lebih tinggi lagi di pasaran internasional. Malaysia berpura-pura tutup mata, pura-pura tidak tahu dengan kayu haram tersebut.

Kredibilitas bangsa Malaysia sebagai negara yang punya hukum sudah tidak ada bedanya dengan tindakan perampok. Bedanya tindakan kriminal ini dilakukan oleh negara. Betapa ironisnya bangsa Malaysia ini, yang citranya sedang naik daun sebagai negara yang maju, promosi sebagai bangsa beradab, berbudaya, ramah dan santun. Tapi tindakan tersembunyinya memalukan.

Sementara Indonesia disorot oleh dunia internasional karena deforestation-nya (penggundulan hutan) salah satu tertinggi di dunia. Indonesia dicap negara yang mengekploitasi hutan secara mem****-buta. Apalagi hutan Indonesia adalah hutan hujan tropis lebat yang berfungsi sebagai paru-paru dunia, untuk memproduksi O2, penampung air hujan, sebagai penyerap efek Global Warming.

Hutan-hutan di Malaysia tetap lestari, tidak ada illegal logging karena dijaga ketat oleh hukum Malaysia. Tapi Malaysia membiarkan kayu-kayu hasil penjarahan hutan Indonesia untuk masuk malahan untuk dibeli dan dijual lagi dengan keuntungan berlipat-lipat. Malaysia juga masuk ke teritorial hutan Indonesia membuka perkebunan kelapa sawit, menebangi hutan Indonesia.

Indonesia hutannya gundul dan tidak dapat hasil apa-apa untuk devisa atau pembangunannya tapi Malaysia menikmati keuntungan yang sangat besar untuk menunjang pembangunan Malaysia yang semakin maju. Sialnya lagi Indonesia terkena bencana banjir bandang akibat hutan-hutannya gundul. Sudah jatuh tertimpa tangga pula..

Duh negara macam apa bisa disebutkan atas negara yang berdiri di atas penderitaan negara lain... Lintah darat, licik, perompak, penjarah, perampok, pencuri ? Habis kata-kata untuk mengungkapkannya....

(PaceNoge, JYPR))

Anonim mengatakan...

@Wury

Mas Wury! saya kira tidak arif kalau kita terus2an menyalahkan masa lalu, seolah-olah kerusakan yang ada tanggung jawabnya masa lalu!

Mas! mungkin sejarah benar berkata demikian, tapi bagi saya faktor utama nya hanya 1 Kata! S E R A K A H!

saya tahu betul kok, kerusakan yang terjadi dipulau jawa pada era reformasi sampai mengakibatkan bencana banjir, longsor dll itu ulah para preman dan para aparat yang juga berjiwa preman! hasil hasilnya juga hanya untuk foya2 doang! semua itu karena S E R A K A H!, serakah itu bukan monopoli bule2 itu saja!,bandit2 pribumi itu lebih parah lagi!

(Budi)

Anonim mengatakan...

@ Budi,

Saya 100# setuju dengan anda. Jika merujuk pada situasi Jawa, maka Pulau yang luasnya hanya 132.187 kilometer persegi atau tidak sampai 7 persen daratan Indonesia itu kini sudah dipadati sekitar 132 juta orang atau 60 persen penduduk negeri ini. Tingkat kepadatan 1.000 orang per kilometer persegi itu sangat berpengaruh pada perubahan tata guna lahan.

Akibat tekanan penduduk itu maka Konversi kawasan hutan secara besar-besaran menjadi areal perkebunan dan pertanian serta permukiman memang tak terelakkan karena desakan kebutuhan sandang, pangan, dan papan penduduk yang begitu padat.

Data pada peta neraca sumber daya hutan yang dibuat Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) tahun 2002 memperlihatkan bahwa luas hutan di Jawa yang tersisa pada tahun 1997 tinggal 18 persen dari luas daratannya. Tahun 2000, luasnya bahkan menciut lagi menjadi 15 persen atau 19.828 km².

Apakah hal ini masih salah "kompeni"? Ah yang benar saja mas Wury (Fadilllah, Bgr)

Anonim mengatakan...

@ Mas Wury,

Kita pernah mempersoalkan hal ini karena anda ketika itu terlalu membela MS Kaban yang menyatakan bahwa data WALHI adalah data bohing-bohngan dan hanya bisa menyalahkan orang lain. Lalu, anda menolong Kaban dengn pendekatn sejarah. Saya setuju dengan pendekatan sejarah tetapi harap perhatikan kondisi 10 tahun terakhir pascareformasi. Ilmu sejarah kehutanan adan wis ora muni mas. Nah, Kaban aja udah seharusnya dipecat karena alih fungsi. Memang penyakit korupis sudah sangat parah di Republik ragu-ragu ini.

So, mas Wiry, bikinlah teori yang lebih memadai untuk menjawab persoalan yang sekarang ini (Fadillah)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Salam kenal dari HA IPB, Bogor. We are always green (Fadillah)

Anonim mengatakan...

@ Budi dan Fadillah.

Pace dua benar Mas Wuri ngaco saja. Korupsi sudah parah di sektor Kehutanan Indonesia. Saya sebut saja sebagai "Kejahatan Kehutanan". Di Indonesia, kejahatan kehutanan melibatkan hubungan yang kompleks antar aktor, mulai dari cukong kayu, aparat militer dan polisi, pejabat pemerintah dan politisi yang korup, mafia peradilan, sampai sidikat penyelundupan internasional. Sepanjang sistem hukum gagal menjerat cukong dan aparat yang korup, upaya apapun untuk mengatasi kerusakan hutan niscaya akan gagal.

Struktur jaringan kejahatan kehutanam di Indonesia berlapis-lapis menyerupai raksasa bermuka atau berkepala banyak, seperti Dasamuka dalam cerita wayang. Jika satu kepalanya terpotong,kepala lain akan muncul. Ampun deh (Pace Noge)

Anonim mengatakan...

@ Pace Norman dan semua,

Dulu saya pernah maki-maki di blog dan bigmike hapus saya punya maki-maki. Tidak apa. Saya berbesar hati mnerima. Tapi sekarang sya mendapat kesempatan untuk aski tunjukbahwa orang luar negeri memang penrusak hutan nomor satu di Papua.

Supaya pace semua tahu, tutupan lahan di papua hampir 90% berupa utan. Tapi Dekan Fakultas Kehutanan Unipa, Papua mengatakan bahwa dewasa ini laju kerusakan hutan di Papua mencapai 0.13 juta ha/tahun. Penyebab utama adalah illegal logging. Siapa yang merusak?

Laporan EIA/Telapak padathaun 2008 menunjukan bahwa semenjak tahun 2004, China menjadi importir sekaligus eksportir kayu nomor 1 di dunia. Kenyataan itu telah mendorong mereka, EIA/ Telapak, melakukan investigasi terhadap isu ini. Hasil temuan EIA mengungkapkan terjadinya penjarahan kayu merbau secara besar-besaran di Papua. Hasil investigasi pertamanya terhadap penebangan liar di Papua dan pencurian kayu yang masif oleh China dipublikasikan dalam laporan berjudul The Last Frontier (2005).

Investigasi EIA/ Telapak telah mengungkap bahwa tumpukan gelondongan kayu merbau di pelabuhan Zhangjiagang merupakan barang curian dari hutan-hutan Papua di Indonesia. Dilihat dari volumenya dan kapal container yang datang setiap harinya, skala perdagangan kayu merbau ini sungguh mencengangkan dan merusak. “Semenjak tahun 2001, Indonesia telah melarang ekspor kayu dalam bentuk gelondongan, sehingga kayu-kayu merbau gelondongan yang kita temukan itu pastilah seludupan.” (EIA/Telapak, 2008).

Pasti naati ada yang bilang, iya mereka bisa begitu karena ada oknum dalam negeri. Saya setuju tetapi jangan lupa etika pergaulan Internasional tidak mengatakan bahwa negara lain boleh menjadi penadah barag curian bukan? Masih ingat makan beracun dari China? Nah itulah kelicikan pace-pace cina itu. Orang-orang Malaysia yang ditangkap baru-baru ini mengaku bahwa mereka hanya suruhan pedagang cina yang melakukan ilegal loging di Papua (PaceNoge)

Anonim mengatakan...

Posting yg bagus...

BTW, rasanya bigmike salah posting foto. Bukankah itu foto Paklik-nya Norman, @Wilmana? Tolong diganti, yaa...

=Warok Budi=

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Lu jangan mau kalah dengan lu pung bapa. Lu bisa lebih hebat dari dia. Yang sudah psti lu leb ganteng dari lu pung bapa cuma lu pung mama cantik. Sedngkan kata lu pung bekas kawan, lu maitua jelek? ha ha ha

Bagaimana menurut Norman, apakah NTT peru 100% jadi hutan? Norman pung bapa dalam seminar bilang dia tidak percaya NTT bisa hutan 100% bahkan berbahaya (John, Oemasi)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Di Jakarta kita nggak pernah liat hutan kecuali di Kebun Raya Bogor dan Hutan bangunan beton bertingkat he he he. Tapi pas musim hujan Jakarta kerendem. Salah siapa tuh? Kehutanan atau Pemda DKI yang o'on? (PM, Mega Kuningan)

Anonim mengatakan...

@ Mas Budi, Mas Fadil dkk.,

Ada Salah pengertian yang trhadap maksud saya. Nanti akan saya jelaskan tapi nanti malam. Sekarang masih ada beberapa pekerjaan. BTW, go green (Wury)

Anonim mengatakan...

Yaacchhhh, si Norman cakep bangeeeettt-banggeettttt...iccchhh....bogmike, buat gw aja yaaaccchhhh (PM)

Anonim mengatakan...

@ Norman dan All,

Saya rasa, problem kita terletak pada ketidak mampuan kita melaksanakan tata good governance di bidang kehutanan. Mari kita belajar betapa "ngawurnya" akibat mengabaikan tata GG yag baik dimaskud. Pelajaran ini saya petik dari pengalaman program Gerhan di Kalimantan Barat. Program Gerhan artinya gerakan rehabilitasi hutan dan lahan tetapi di Kalbar disebut sebagai GERAKAN HANTU. Bagaimana ini bisa terjadi? mari kita ikuti episode ngawur ini (Yuwono, YK)

Anonim mengatakan...

Sempat luput dari sorotan—gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GNRHL) yang juga dikenal sebagai Gerhan—sedianya program pemerintah ini berorientasi lingkungan hidup. Namun dalam pelaksanaannya tidaklah seperti apa yang telah diprogramkan.

Milyaran dana pemerintah mengucur ke beberapa provinsi termasuk Kalimantan Barat. Untuk tahun 2004 saja diplot Rp 46 miliar, tahun 2005 Rp 89 miliar dan tahun 2006 sebesar Rp 50 miliar. Penggunaan anggaran tersebut memang akan terlihat jelas dari realisasi di lapangan antaralain terkait jumlah areal yang direhabilitasi serta efektifitas pelaksanaannya.

Anonim mengatakan...

Berbagai kalangan telah menilai, Gerhan merupakan program yang sia-sia lantaran hanya berorientasi proyek tanpa mengutamakan hasil. Kenyataan juga menunjukkan lahan kritis tidak tersentuh program tersebut. Bagi kalangan awam, Gerhan akan dapat terlihat hasilnya jika terdapat hutan dan lahan kritis yang ditanami pohon.

Memang ada beberapa diantaranya penanaman pohon tetapi hanya sekedar menanam saja. Urusannya akan menjadi lain ketika pohon yang ditanam tersebut cocok atau tidak dengan kondisi tanah. Bagaimana pola pembibitan dan kualitas tanamannya serta pengelolaan pascatanam. Karena berorientasi proyek itu, tak heran sering terdengar ribut-ribut soal pengadaan bibit.

Anonim mengatakan...

Mereka yang terlibat dalam pelaksaan program tersebut sudah menganggap Gerhan ibarat ‘rezeki nomplok’ sebab kerjanya hanya sampai menanam saja. Terkadang tanamannya tak ada (bisa karena mati atau memang tak ditanam), Gerhan selesai saat seremonial penanaman pohon saja. Yang jelas mekanisme penentuan siapa yang berhak melaksanakan Gerhan juga patut dipertanyakan.

Para pengusaha bibit, apalagi yan dekat dengan para pengelola proyek, untung. Lahan tetap buntung. Para pengelola proyek jelas mendapatkan untung karena merekalah paniti lelang, tender, memutuskan, mengevaluasi yang semuanya tidak lepas dari aparat kehutanan yang kaya-kaya itu. Mengaakunya rimbawan tetapi kok hidup makmur melebihi rata-rata pegawai negeri segolongannya? Gerhan jelas-jelas gerakan hantu. Maka, hutan kita tetap rusak. Apakah Norman setuju dengan program Gerhan? Sebaiknya tidak (Yuwono, YK)

Anonim mengatakan...

@ Norman dan Yuwono,

Mau tahu apa kata orang NTT tentang Gerhan? Dengarlah ulasan seorang mahasiswa Universitas Flores PS Agribisnis, Fakultas Pertanian.

.....Selain masalah biofisik, masalah lain dalam embangunan pertnaian di Nagekeo, Folres adalah kebijakan yang amat terpusat. Pembangunan daerah yang seharusnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dalam pelaksanaannya di daerah tidak sesuai dengan karakteristik daerah dan tidak berdasarkan suatu kajian. Misalnya proyek GERHAN yang tidak mlakukan kejian sehingga bibit yang didatangkan hampir semuanya mati tidak berbekas......

Oleh karena itu, Norman belajar keutanan yn benar supaya nanti tida menjadi bahan tertawaan waktu balik ke kampung halaman (Julius, Kpg)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Saya setuju dengan anda bahwa
PP No.2 tahun 2008 tentang sewa hutan adalah peraturan pemerintah yang melegalkan penebangan pohon agar hutan cepat rusak.

Memang pertambangan dapat membuka lapangan kerja tapi hutan jadi gundul. Baru kemarin Indonesia menjadi tuan rumah konfrensi untuk mencegah pemanasan global yang salah satu solusinya adalah menanam kembali hutan gundul. Waaduh, bersamaan dengan itu pemerintah malah membuat aturan yang kontradiksi, bahkan hutan lindungpun boleh disewa. Sungguh-sungguh pemerintah yang maju-mundur persis kritikan Megawati (Nana)

Anonim mengatakan...

@ Mas Budi, Mas Fadil dan yang lainnya,

Saya ingin merespons anda tetapi saya ngin memulai dengan ceritera ini,

1 juta tahun lalu, Indonesia merupakan hutan lebat yang dihni oleh nenk moyang kita, yaitu manusia Buncang yang hidup di atas pohon, yaitu manusia Kuyang (manusia pohon) dan manusia Gubang, yaitu manusia yang hidup di bawah pohon. Perhatikanlah bahwa manusia nenek moyang kita ini hanya punya 2 dunia, yaitu dunia di atas pohon dan dunia di bawah pohon. Apa ini? Hutan masih sangat-sanagat baik (wury)

Anonim mengatakan...

150.000 tahun sebelum masehi, hidup manusia Yaksa yang merupakan turunan manusia Buncang. Inilah manusia asli Indonesia yang terakhir karen pada

50.000 tahun sebelum masehi, datanglah bangsa pendatang dari Cina, India dna Srilanka. Anda tahu, inilah bangsa-bangsa yang, mungkin kita-kita ini, yang akan menguasai nusantara sampai hari ini. Mengapa demikian? Karena bangsa pendatang inilah yangnedesak manusia Yaksa di Jawa mendekati kepunahan.

Namu demikian, bangsa Yaksa tidak sepenuhnya punah karena beberapa di antara mereka kawin dengan para pendatang. Inilah nenek moyang kita sekarang (Wury)

Anonim mengatakan...

425 -475 Mulawarman menjad raja pada kerajaan I di Indonesia,yaitu kerjaan Kuta.

503 Raja Purnawarman di Tarumanegara terbunuh akibat sengketa perdagangan hasil bumi. Mengapa hasil bumi? Inilah pekerjaan pokok nenek moyang kita yang berasal dari India, CIna, dan Srilanka, yaitu petani. Di mana petani berusaha? Di lahan hasil pembukaan hutan.

1300-an Majapahit menguasai NUsantara, bahkan lebih luas dari Indonesia sekarang. Bangsa ini sangat ekspansif dan memiliki armada laut yang besar. Dipastikan kayu-kayu kelas wahind merupakan bahan armada kapa tersebut. Bangsa ini juga dikenal karena amampu membuat pemukiman dan permahan dan barang-barang kelonting yang terbuat dari kayu. Lagi-lagi hutan dieksploitasi dan ditebang (Wury)

Elys Welt mengatakan...

saya suka nyepeda keliling hutan di sini yang masih dengan mudah ditemui baik di kota apalagi di desa, kalau inget hutan di tanah air speechless deh :(

Anonim mengatakan...

1500-an, Kerajaan Mataram Islam meliputi Jateng Jatim. Catatan menunjukkan bahwa hutan kayu jati lebat da murni tumbuh dalam larikan terartur di sepanjang Jateng-Jatim.

1600an - 1900-an, VOC masuk Nusantara dan sejarah menunjukkan bahwa terjadi perusakan yang amat hebat pada hutan jati di Jawa.

Mas Fadil dkk, lihatlan catatan sejarah ini. Kita mungkin tidak suka tetapi itulah fakta sejarah, yaitu kedatanagn "orang asing" ke Nusantara selalu menghasilkan kerusakan hutan. Tapi, harap jangan kuatir seolah-olah saya mengabaikan kondisi kontemporer.

Saya masih akan melanjutkan catatan sejarah saya tentang kehutanan di Nusantara (Wury)

Anonim mengatakan...

Sorry mas-mas sealian. Saya ada perlu sebentar. Nanti saya lanjutkan (Wury)

jiwamusik mengatakan...

Bro, ternyata qt sama2 libra yaa.. Toss dulu dah! Sure, met ultah juga ya dr gw.

Baek-baek yaa.. di jogja ya, jangan keseringan begadangan. Eh, ga tau ding, apa jogja skr masih sama dg tempoe doeloe.

Bener, buah jambu jatuhnya gak jauh2 dr pohonnya (soalnya gw belom pernah liat buah nanas jatuh dr pohonnya). At least, anda berdua punya kepedulian diatas rata2 ama negeri kita. Kita?? Yaialaaah....

Barangkali gara2 sama2 libra pula, pikiran lo kok rasanya ga jauh2 beda ma gw ya. Ya kalo ilmu sih, gw so pasti langsung nyungsep dah. Tapi pikiran khan gak cuman berisi ilmu doang, bisa juga perhatian, perasaan, dsb. Apaaan sih nie, kok mbulet2 gak karuan. hi hi hi...

Bilang aj terus terang lah. Ok, masih mendingan lah kalo bangsa Indonesia masih bisa tercatat di Sejarah. Lah gimana kalo jadi legenda ato bahkan dongeng anak2: "Tersebutlah pernah ada bangsa yang konon bernama .....". Eh, belom selesai mendongeng dah dipotong ama cucunya: "Masya sih kek?" Ho ho ho...

Bila ntar sempet mampir wartel, kelanjutan sejarah, eh legenda, eh dongeng diatas bisa ditonton di klip dr lagu Gombloh: Lestari alamku...
http://jiwamusik.wordpress.com/2008/02/22/berita-cuaca/
ato tonton langsung di yutubnya

aah... perasaan sy pernah inform hal yg sama ya? Wah kalo iya, mohon maklum, berarti gw dah pikun.

~JM

jiwamusik mengatakan...

nambah lagi ah... (masih gratis khan?!)

kembali ke topik, sy jd inget waktu pernah ndengerin obrolan dosen2, ada yg dr pertanian, kehutanan, biologi, dsb. Meskipun sy tak mudeng, tapi scr samar2 bisa nangkap dikit2 laah. Kerusakan hutan, pertanian, dsb itu tak melulu salah kebijakan pemerintah.

Tapi ada faktor lain yg tak kalah pentingnya, yaitu SDM. Banyak sarjana2 pertanian, kehutanan, biologi, dsb indo lebih milih jadi sales asuransi ato ngais rezeki ke luar negri. Jadinya yg mikirin beginian tinggal dikiiit banget. Saking sedikitnya, sering suara mereka tak terdengar, kalah ama teriakan2 supplier, broker, pimpro, dsb. Akibatnya pendapat dan kepedulian mereka pun terabaikan.

Salah satu contoh di bidang pertanian adalah obat anti hama. Sebenernya mereka udah berusaha meyakinkan pemda dg berbagai dalil dan dalih, tp ya itu tadi: suara mereka terabaikan sodare2. Para petugas pertanian setempat dan karyawan Pemda kurang menguasai ato udah lupa ilmunya. Lebih2 dg alasan anggaran harus dihabiskan bila tak mau hangus, maka terjadilah over supply obat anti hama dan hama pun over dosis. Namun, ternyata hama2 tersebut tidak punah seketika, malahan di tahun berikutnya terjadi bencana hama yg jauh lebih dahsyat dan jauh lebih sulit dibasmi.

Temen2 dosen dr kehutanan dan biologi pun mencritakan kurang-lebih pengalaman yg mirip2.

Eh pliis... sori sebelumnya, gak semua supplier or broker gitu loh. Ini khan cuman crita yg pernah sy denger dr pengalaman orang laen ttg gimana SDM profesional kita, jangankan dr segi kwalitas, dr segi kuantitas pun masih jauh dr mencukupi shg suara para pakar suka kagak kedengar ato terabaikan.

~JM

Anonim mengatakan...

@ All,

Saya lanjutkan seri sejarah kehutanan di Indonesia,

1787 di Jabar diadakan upaya penghutanan kembali dengan kewajiban pemilik kebun tebu dna penggilingan gula menanam 500 pohon baru, 1000 rumpun bambu dan jika hutan yang dibuka maka harus menanamn 100.000 phon jati.

1849 Sultan Jogja diserahi tugas mengelola hutan jati di G. Kidul dengan kewajiban untuk menjamin kebutuhan kayu bulat untuk pemerintah Belanda. Aneh? itulah pola umum hubungan antara Pemerintah Belanda dan Raja-Raja Jawa ketika itu. Karena sering terjadi penebanagn liar maka pada 1875 pemerintah Hindia Belanda mewajibkan perlunya ijin penebangan,

1895 perncanaan hutan yang sistmatis dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan jalan mendirikan bagian tata hutan (Inrichtings Brigade) yang merupakan cikal bakal badan planologi kehutanan sekarang ini.

Sampai episode ini, harus diakui bahwa mas Budi, Fadil dan kawan-kawan ada benarnya karean ternyata raja-raja jawa ternyata tidak mampu mengurangi penebanagan lira, bahkan mereka menjadi bagian dari perusakan hutan itu sendiri. Sementara Kompeni-kompeni malah melakukan usha terencana untuk mengelola hutan lebih baik (Wury)

Anonim mengatakan...

1912 Pemerintah Hindi Belanda mendirikan MLS atau sekolah pertanian menagah atas/SPMA

1913 Berdiri lembaga penelitian kehutanan

1933 Didirikan brigade planologi kehutanan di Jawa dengan fungsi menyusun rencana perusahaan hutan

1937 Pemerintah Hindia belanda mengijnkan 9 perusahaan swasta termasuk perusahaan asing untuk melakukan ekploitasi hutan. Harap dicatat bahwa masa kapitalisme kehutanan justru dilakukan oleh pemerintah hindia belanda yang sebelumnya bisa dipandang berusaha mengelola hutan dengan baik.

1939 merasa nikmat dengan keuntungan dari adanya eksploitasi hutan oleh perusahaan swasata dan saing maka hak-hak daerah swapradja mulai dibatasi. Lihatlah, KKN mulai dilakukan pemerintah Hindia Belanda

1942 - 1945 Jepang menjajah Indonesia dan Belanda tersingkir. Jawatan Kehutanan berubah menjadi ringyo tyuoo zimusho.

Anonim mengatakan...

1945 Indonesia merdeka

1946 di Klaten berdiri sekolah tinggi ilmu pertanian yang setingkat unversitas. STIP Kalten merupakan cikal bbakal UGM yang salah satu fakultasnya adalah Fahutan.

1965 Pemberontakan G30S dan setelah melewati berbagai episode maka Soharto menjadi presiden. Rea ekonomi sebaga panglima di mulai.

1965 - 1998 Kehutanan menjadi salah satu primadona devisa tetapi bersamaan dngan itu hutan dieksploitasi habis-habisan.

1998- sekarang Reformasi dengan kebijakan kehutana yang aneh-aneh dan berganti rupa. Pemerintah yang ragu-ragu.

Maka, di mana salah saya ketka mengatakan bahwa masalah kehutana tidak bisa diletakkan seolah-olah tanggung jawab Indonesia. Ada jejak asing dalam kisah sedih kehutana di Indonesia meski itu tida berarti bahwa kita melupkana bahwa KERAKUSAN dan sisgtem politik yang tidak jelas yang dipraktekkan orng Indonesia ikut berperan penting dalam tragedi negeri kolam dan susu ini.

Mudah-mudhan pejelsan saya dapat dimengerti (Wuryandono)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Ayahandamu, bigmike, sudah mempesona banyak orang. Tulisan-tulisannya mampu menembus batas-batas ruang pikir. Belajarlah agak sekali kelak Norman bisa menggantikan ayahandamu.

Ingtalah pepatah tua dari China ini: "A journey of a thousand miles must begin with a single step." (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Wah masalah hutan beta buta knop tapi beta rasa Kupang makin panas karena orang tebas bakar terus. Pulau Timor juga hutan sudah kurang karena tebas bakar terus tiap tahun. Pokoknya, Norman belajar keras supaya bisa sama ke bapa bila perlu lebih. Selamat HUT, Tuhan memberkati (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Tulisanmu cukup bagus hanya perlu dipertimbangkan beberapa hal yang bisa lebih ringkas. Supaya tulisan tidak terlalu panjang membicarakan 1 pokok yang seharusnya sederhana saja. Bigmike kadang-kdang menulis panjang tetapi memang ada yang harus dijelaskan sehingga kita yan membaca tidak bosan.

Tapi, Norman sudah menulis itu lebih baik ketimbang kita-kita yang cuma bisa komentar tapi masih takut tulis sesuatu. Perjalanan masih panjang untu Norman dalam membekali diri supaya bisa menyamai mutu tulisan seperti ayahndamu, bigmike (Eman, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Sekarang tentang substansi. Dalam tulisannya, semua masalah kerusakan hutan berusaha ditimpakan hanya kepada kalangan elit, yaitu penguasa dan pengusaha. Apakah masyarakat tidak punya andil signifikan terhadap kerusaka hutan. Di lembata, orang membakar hutan hanya unt kesenangan berburu hewan liar. Hewan dapat 1 tapi pohon 200 yang mati. Begitu juga teba sbakar yng ada di pulau timor yang tidak pernah berubah meski penyuluhan sudah banyak. bagaimana ini? (Eman, Oebufu)

Anonim mengatakan...

Wah, sahabat baru kita Wury menerangkan tentang sejarah kehutanan yang baru pertama kali kita dengar. Terima kasih atas komentarnya (13, NKTII, KPG)

Anonim mengatakan...

@ Mas Wury,

Ok, saya ngerti dengan logika berpikirmu tapi apa yang kita kehendaki adalah "mbok yao" lebih clear dalam mengkritisi kebijakan Dephut gitu lho. Sekian lama kita spserti berseberangan karena mas Wury terlalu defensif. CIlakanya, pembelaan itu dialkuakn terhadap Kaban yan sebenarnya nggak mengerti mau dikelola seperti apa kehutanan Indonesia. Mengadalkan eselon-eselon 1 dna 2 nya? Bagaikan menggantang asap mas Wury (Fadillah)

Anonim mengatakan...

@ Mas Wury,

Sekarang mari kita baca data berikut ini,

Sejak tahun 2000 hingga 2007 misalnya, terjadi lebih dari 300 kali konflik antar stakeholder di sekttor kehutanan. Diperkirakan dalam lima tahun terakhir kayu yang ditebang secara ilegal mencapai 23,323 juta meter kubik setiap tahunnya yang menimbulkan kerugian negara sebesar 27 triliun rupiah setiap tahunnya. Seperti fenomena gunung es, angka sebenarnya tentu jauh dari itu. Dalam kurun waktu 2000 hingga 2006, terjadi 390 kali bencana banjir dan longsor yang menimbulkan korban jiwa lebih dari 2.303 dan lebih dari 188 ribu rumah rusak berat dan setengah juta hektar lahan tidak dapat digunakan lagi. Total kerugian secara langsung mencapai 36,943 trilyun rupiah.

Anonim mengatakan...

Lantas, apa akar masalahnya? ada 2,

1. Tidak adanya pengakuan yang tegas akan hak-hak rakyat atas hutan. UU NO. 41 mengakui hak ulayat tetapi hak itu bersifat sub-ordinat terhadap hak negara. Tanah suku di Papua misalnya, dengan alasan kepentingan orang banyak lalu bisa dikuasai begitu saja oleh negara. Tanpa pengakuan maka, rakyat yang merasa tidak lagi memilii hak atas hutan lantas mengobok-obok hutan sesukanya antara lain karena dendam. Itulah sebabnya angka konflik begitu tinggi pasca reformasi. Angka yang belum pernah terjadi sebelumnya

2. Korupsi. Tentang hal ini, menteri Kehutanan sendir pada tahun 2000, ketika itu Nur Mahmudi, mengatakan begini: ....”Menyebarnya korupsi telah mendorong banyak pihak yang memiliki koneksi untuk melakukan praktek-praktek ilegal di sektor kehutanan tanpa takut sedikitpun. Orang-orang yang terlibat di sini termasuk perusahaan, pemerintah sipil, aparat penegak hukum dan anggota DPR” ....

So, mas Wury akui sajalah bahwa Kaban, yang dilindungi SBY dalam kasus konversi hutan, sebenarnya tidak paham betul mau dibawa kemana sektor kehutanan di Indonesia. Please. Go Green man (Fadil)

Anonim mengatakan...

@Fadil
bisa jadi Nur Mahmudi sendiri sebenarnya juga tidak paham betul mau dibawa kemana sektor kehutanan di Indonesia.

~JM

Anonim mengatakan...

@ mas Wury

Mas! sekali lagi mungkin anda benar tetang sejarah ini, Unutk itu saya salut buat anda dan sory berat buat tohokan saya diatas, tapi saya pikir anda ini mirip pasta gigi yang ada dihotel-hotel, kalau dibuka tidak langsung keluar isinya tapi harus dipejet dulu, oke! silahkan ladeni sobat Fadil, tapi jangan sampai keranah politik ya! ntar ngelantur!

Keep Go Green Man!!

(Budi-Indranet-Kupang)

Anonim mengatakan...

Wah @Budi masih di kupang? Ato sdh balik Jakarta cuma masih mimpi indah kupang? Sampe ngiler tak berasa...

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@ Mas Wury Dan @Mas Fadil!

Kalau Menurut Mas Berdua kira@ Solusi nya apa? Biar Hutan Kita tidak terus-terusan di babat sama bajingan2 itu! kasian Si Pace Noge dari papua itu, dia begitu takut kehilangan burungnya (Maksudku cendrawasih!!) Oh ya mas fadillah jangan minta ganti menteri ah!! wong jelek2 yang ini masih lebih baik dari yang udah2 kok!

(Budi)

Anonim mengatakan...

@Pretymelia

Ahh neng baru ngeliat si norman aja kesengsem gitu! nih tak kasi tau ya, pakliknya Norman, Si @NK itu lebih Cakep lagi Lho! Apa lagi Hidungnya!, Whuiich! lebih "Mancung" Lho!!

M uantabbbb Deh !!!!

(Suto Sinting)

Anonim mengatakan...

@all

maafkan saya baru saat ini bisa cek blog.

ada pendapat menarik dari beberapa kawan blogger bahwa masalah kehutanan di Indonesia sudah terjadi sejak dahulu. Yupz benar sekali... hutan Indonesia setahu saya sudah mulai dieksploitasi sejak jaman meneer-meneer belanda VOC. ini didukung oleh beberapa fakta yang telah disampaikan oleh kawan-kawan blogger. makasih o..

juga beberapa pendapat dari teman-teman blogger mengenai kondisi hutan di NTT. memang benar NTT itu terkenal dengan padang savana dan bukan hutan. akan tetapi yahhhhh... jangan ko hutan yang tinggal sedikit dikonversi jadi bentuk lain lagi. jadi su panas makin tambah panas saja maka jangan heran ramalan menyebutkan NTT sebagai daerah yang terancam terjadi penggurunan. dalam tulisan saya mungkin saya lebih menimpakan kesalahan pada satu pihak saja yaitu pemerintah. KENAPA?? untuk pemerintah saja saya sudah menghabiskan tulisan sepanjang ini apalagi kalau ditambah dengan masalah lain makanya saya meminta kawan-kawan blogger untuk membantu saya menambahkan "daftar masalah kehutanan". untuk itu saya terimakasih..

pace noge, saya berterimakasih pada anda. anda turut memberikan fakta yang seram mengenai hutan indonesia khususnya di Papua. yang saya tahu di PApua itu kawasan yang merupakan hutan mangrove terluas di asia tenggara. pertanyaan saya apakah sudah dilakukan pemerintah Indonesia atau pemerintah daerah tentang hal ini??

tentang data mengenai kondisi hutan di indonesia memang ini menjadi masalah tersendiri karena memang data yang berbeda-beda. yang saya lihat entah dinas kehutanan, walhi, atau tulisan-tulisan lepas di internet data tak pernah ada yang sama. tapi bagi saya apalah arti sebuah data kalau toh fakta hutan indonesia semakin berkurang itu jelas. tak penting angka tapi "akibat" dari deforestasi hutan yang semakin terasa bagi saya itu lebih penting daripada harus memikirkan mana data yang lebih akurat.

yang ini beta agak kesal ni, beta dibilang selera nona-nona yang jelek-jelek.. ha..ha. tenang saja itulah gunanya beta datang sekolah di jogja. salah satunya yah memperbaiki keturunan. ha..ha. Upzzz hati-hati bisa-bisa sebe bisa marah ni.

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Beta sonde mau omong yang laen selaen T O P (Savunesse)

Anonim mengatakan...

@ Kak Norman,

Sekaramg su mantap ooo. Posting su bagus. Cuma awas-awas karena di Undana ada 1 doktor kehutanan yang selalu kurang setuju kalau savana dibilang kritis. Di Undana cuma ada 1 doktor kehutanan. Kak Norman tau to? Karmana yang di Merdeka? he he he (Sony, Fapet)

Anonim mengatakan...

@ Pace Norman,

Jangan abaikan data. Tanpa data yang akurat omongan hanya kira-kira dan tidak obyektif. Kelemahan kawan-kawan LSM di Papua LSM tumbuh macam pohon buah merah karena banyaknya, suka omong banyak dan pidato-pidato, serta suka menghasut-menghasut tanpa data yang akurat. Pace cek saja di blog-blog anak Papua, ada banyak omongan tanpa data yang benar.

Pepatah di bagian bawah blog ini bilang begini, the first wealth is health. Bagimana tolok ukur health? Suhu berapa, tensi berapa, gula darah berapa. Itu guna data (PaceNoge)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Lu SUPER NGAWUR. Lu pung bapa mama su mantap begitu kok lu masih mau perbaiki keturunan. Lu pung bapa tu mirip orang Filipina. Dari dolu kitong panggel dia "anak ganteng". Lu pung mama mirip orang bule roterdam ha ha ha ha.

Persoalannya ada di lu karena, ke lu pung kawan bilang, lu sonde bisa cari nona yang mantap. Lu pung nona memang puruk-puruk semua suda ma ha ha ha ha ha (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

dilihat dari PDRB, sumbangan sub-sektor kehutanan kepada pendapatan daerah kitong bilang sa "nol koma". Terlalu kecil. Itu pertanda apa? Lantas, ikot lu pung bapa, pemilik log, pung data, hutan NTT sebenarnay tidak pernah lebih dari 20%. Kenapa begitu? Masih dari lu pung bapa pung data, endemisme di NTT sangat tinggi. Dilihat dari kepentingan kehutanan, apa artinya itu?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertnayaan itu akan membuat Norman bisa lebih "adil" memotret kondisi kehutanan di NTT. Ke lu pung bapa selalu bilang di mana-mana, memahami masalah kehutanan di NTT jangan pakai "kacamata" orang jawa, sumatera, kalimanta, papua, sulawesi dan seterusnya. Kacau nanti.

Nah, supaya pas, ke lu pung bapa pung pakariang selama ini, Norman harus selalu mengusahakan data yang makin valid, reliable dan objektif. Mengabaikan data sama artinya dengan "menghina" lu ung proses s2 itu sendiri. Kalo cuma kira-kira, lu pi sa ke pasar Inpres Naikoten dekat lu pung ruma lalu menghayal di situ. Sonde usah tapaleuk pi jogja. Betul ko sonde. Mengabaikan data juga sama artinya dengan lu melawan lu pung bapa. Dia dosen statistika di s2 Undana. Lu brani lawan dia? Dia kosi lu nanti ha ha ha ha ha ha

Nah, selamat belajar. Selamat HUT. Tuhan Yesus memberkati (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Wury,

Gw dikabarin Fadil bhw ente lagi kampanye di blog ini. Dari yg gue liat, sebenernya kagak ada yang baru-baru amat dari elo meski memang gw akui bhw ada juga hal baik dalam komen elo.

Tapi gini Wur, coba dicamkan yang ini deh, "Kehutanan menjadi sektor yang amat tertutup, penuh rahasia.
Walaupun ada statistik resmi mengenai luas hutan resmi, hal itu tidak berarti bahwa kawasan tersebut benar-benar tertutup hutan." (Emil Salim: 2003)

GW mau tanya ke elo deh, elo yakin nggak ama data GEHAN misalnya. Keberhasilanya ayang 75% elo yakin nggak? Yang gw liat, di daerahnya pemilik blog ini, nyaris 100% gagal tuh? Lanatara itu, please nggak perlu deh elo mncoba menjadi resi bijaksana dengan terus berempati ke kebijakan yang salah arah itu. Go green man (Yewe)

Anonim mengatakan...

@ Wury,

Kegagalan kehutanan kita udah bertumpuk-tumpuk. Gw ikutan logika sejarah elo aja deh, yaitu problem sektor kehutanan saat sekarang tak lepas dari sesat pikir
rezim Orde Baru.

Sistem sentralistik, patronase yang dibumbui dengan praktik
koersif serta repressif, menjadikan sektor kehutanan sebagai sapi perah untuk
kepentingan kekuasaan politik dan penggelembungan kekayaan segelintir orang
yang berada di lingkaran kekuasaan.

Arus reformasi yang bergulir, tidak serta merta mengimbas ke sektor kehutanan.
Tarik menarik kepentingan terutama antara pemangku kebijakan dan lembaga di
tingkat pusat dan daerah, masih kental mewarnai proses perubahan di sektor
kehutanan.

Alhasil, sampailah kita kepada gagasan kita bersama dahulu, elo juga dulu bagian inti dari gagasan ini kan?, yaitu: kegagalan kehutanan di Indonesia adalah kegagalan pasar, kegagalan kebijakan dan kegagalan institusional. Gw males ngejelasin lagi karena elo semestinya udah tahu. Gw cuma mau ngingetin bahwa dahulu kita menyebutkannya sebagai segitiga kegagalan kehutanan di Indonesia (Yewe)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Sebagai pemula gw bisa menerima argumen elo di posting tapi ada dua catatan gw. Pertama, kejarlah kedalaman pemahaman dan kedua, jangan mengabaikan data. Selamat bergabung dalam klub rimbawan. Salam Rimbawan (Yewe dan Fadil)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

oh iya 1 hal lagi, jangan jadi pengkhianat. Semua perusak hutan adalah pengkhianat. Minimal mengkhianati hati nurani mereka sendiri demi ....ah tau sendirilah (Yewe dan Fadil)

Anonim mengatakan...

Wah Kelihatannya Mas Wury Ketekan Mungsuh Lawas, Mas Wury! Lawan Mass! Ojo Nganti diarani sampeyan ngeper karo wong loro iku mas!!!


(Budi)

Anonim mengatakan...

Ha ha si budi mmg ahli ngomporin org. Buat saya, norman tdk perlu kasi data kalo nulis di blog org utan eh, doktor kehutanan. Kasi data malah bisa jd bumerang krn bs jd sang doktor punya data lbh mantaff.

Yg penting gagasannya saja. Bhw hutan indonesia amburadul, tnp data jg tak ada yg membantah. Tp kalo mau rame, adu gagasan gimana cara perbaiki utan yg efektif dan efisien. Norman sdh coba, dan tdk jelek juga.

=Wiro=

Anonim mengatakan...

@ Mas Yewe dan Fadil,

Ada sesuatu yang membuat kita "agak sulit bertemu". Sampeyan selalu merasa lebih benar dari yag lain. Kalau itu sih mendingan. Tidak kurang-kurangnya, dulur-dulur itu merasa paling suci. Subhanallah. Apa dipikir 5 pilar kebijakan kehutanan di Indonesia bukannya paradigma baru? Ada satu hal lagi yang paling menyesakkan dada. Kita, sampeyan berdua dan, yo aku sing lawase, selalu merasa punya data yang paling valid. Ketika diuji malah pating pecotot. Lha piye? Katanya mau obyektif kok datanya mrotoli gitu?. Mula-mula dibilangnya Indonesia juara dunai deforestasi dengan alaju 3.8 juta ha/tahun. Waktu diberi data tandingan ee lha kok malah marah? iku opo jarene mas? Ya, begini saja. Mari kita menyelamatkan hutan Indonesia dengan cara kita masing-masing tanpa perlu saling menghina. Setuju? (Wuryandono)

Anonim mengatakan...

Wah kolom komentar ini mulai sepi! gara2 ada aturan kalau komen harus bawa2 data, padahal mayoritas tongkronger blog ini rata tukang merenung! sampai-sampai ada yg marah2 di shoutbox karna mulu su gatal mau omong tapi son punya data!! he. he. he. Kacian deh loe!!
(Budi)

Anonim mengatakan...

Yang minta data tu pasti tdk punya kerjaan lain kecuali meneliti. Jadi apa2 ukurannya data. Ngobrol di warung tuak jg minta data. Padahal coba tanya, mereka sendiri sdh punya stok data bejibun di gudang.

Heran juga, kalo di pasar ukurannya duit mk ditempat laen ukurannya data.

=Wiro=

Anonim mengatakan...

Nungsewu... numpang lewat.

Bagi yg tertarik saja. Lagi dicari manusia Indonesia berprestasi. Bisa nominasi diri sendiri atau org lain. Silahkan mampir ke:

www.xl.co.id/ibawards

Begitu saja dan good luck!

-nk-

Anonim mengatakan...

@nk

Jgn terlalu berharap. Anda kurang jeli, motto IBA Awards adalah: "hargai prestasi ciptakan BUDAYA UNGGUL.

Dikotomi budaya unggul vs tdk unggul kurang diminati di sini. Tp rasanya berharap sih boleh2 saja.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@ Wury,

Apa yang mas Wury maksudkan adalah 5 kebijakan prioritas dephut 2004-2009 seperti berikut ini?:

a) Pemberantasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal;

b) Revitalisasi sektor kehutanan khususnya industri kehutanan;

c) Rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan;

d) Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan;

e) Pemantapan Kawasan Hutan.

Seandaninya saya coba mengikuti nalar mas Wury sendiri maka coba mas Wury katakana kepada saya mana di antara kebijakan prioritas itu yang secara signifikan mampu menghentikan laju deforestasi, mensejahterakan masayakat desa hutan dan menekan konflik antara masyarkat dan negara. Bisa nggak? (Fadillah)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Hmmmmm....ente cakep banget tapi waktu muda bigmike pasti lebih cakep...hmmmmm...ya udah like father like son aja dech...

BTW, bigmike....posting baruuuuuu...//Pritha//