Minggu, 07 September 2008

Fukuda BUKAN Kuda karena Fukuda punya Kuda...eh salah....Fukuda punya MALU

Dear sahabat blogger,

Sampailah kita pada akhir masa edar posting lama. Karena hidup memerlukan perubahan maka di blog kita ini harus ada posting baru. Dari beberapa opsi bahan mentah, ada satu yang saya pilih karena memuat sesuatu yang akan sangat positif bagi interelasi, baik antar kita semua sebagai sesama blogger di blog ini maupun kita masing-masing sebagai warga manusia yang wajib mengembangkan persahabatan, kebaikan, dan kasih sayang. Orang Jepang adalah mitra sejajar bagi Amerika Serikat padahal dahulu mereka adalah bangsa pecundang yang luluh lantak dihantam Amerika Serikat pada WW II. Tetapi lihatlah betapa kebangkitan mereka malah membuat Amerikapun menjadi was-wis- wus-wes-wos terhadap mereka. Apa modal kebangkitan mereka? Jawabanya ada pada karakter bangsa mereka yang kuat. Amat kuat. Salah karakter kuat mereka adalah ini HAJI NO BUNKA? .....weeeeeiiiiiii........apaan tuh bigmike???????? Haji Oma irama sih banyak di Indonesia?......oh no no no no my friend bukan itu, tetapi Haji No Bunka adalah BUDAYA MALU. Nah, pada beberapa minggu lalu orang Jepang sekali lagi memamerkan semangat Haji No Bunka itu. Ruuuuaaaaaarrrr biasa. Agar tidak berkepanjangan, inilah WILMANA, dengan tulisannya tentang barang perkara yang satu itu. Saya tidak membuat tambahan apapun terhadap isi tulisan ini, kecuali membuat perubahan di judul agar tampak gaya mabuknya BM. Di bagian akhir, Wilmana memberikan bonus bagi sahabat Kristiani untuk menunjukkan bahwa Haji No Bunka tidak asing bagi pengikut Kristus. Oleh karena itu, semua Kristiani seharusnya juga mampu ber-Haji No Bunka.

Dengan tambahan perenungan ini maka tulisan Wilmana saya bagia atas 2 bagian. Pada bagian pertama terdapat hikayat pengunduran diri Fukuda serta rasionale dan tafsirannya. Pada bagian kedua terdapat perspektif Kristiani terhadap budaya dan fenomena Haji No Bunka. Selamat membaca dan berdiskusi. Oh ya, pada saat berdiskusi nanti, jangan lupa sama Wak Haji tadi itu ya hi hi hi hi hi

Bagian I

Fukuda Bertindak

Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda secara mendadak mengumumkan pengunduran dirinya, kemarin (Senin, 01/09/2008). Dalam sambutannya, Fukuda menjelaskan bahwa sikap ini diambil guna memecah kebuntuan politik yang selama ini terjadi di negeri sakura itu. Kalo kita trace back record Fukuda, ia memang sudah lama bertentangan dengan pihak oposisi, Partai Demokratik Jepang, yang mengendalikan majelis tinggi parlemen dan memiliki kewenangan menunda pemilu.

Akhir maret lalu, oposisi mengecam habis keputusan Fukuda yang tetap meneruskan kebijakan pajak bahan bakar minyak yang sudah bertahan selama tiga tahun. Pertentangan kedua pihak lalu menimbulkan spekulasi bahwa Fukuda bakal diganti lewat pemilu pada bulan September tahun depan. Dan, meski masih punya waktu satu tahun lagi, tetapi Fukuda berpendapat lain. Daripada membiarkan stagnasi politik berkepanjangan yang dapat berdampak luas bagi perekonomian negara, ia memilih melepaskan jabatannya. Kita simak kata-kata Fukuda sebagai berikut.

“Jika kita memprioritaskan kehidupan masyarakat Jepang, tidak bisa terjadi kevakuman politik. Hari ini sy memutuskan untuk meletakkan jabatan. Kita membutuhkan orang-orang baru untuk menanggulangi situasi yang berkembang di parlemen,” demikian Fukuda dalam konferensi pers.

Kok Bisa?

Mungkin para sahabat sekalian bertanya-tanya, apa maksud artikel ini? Apakah saya pingin menyaingi Kompas, Sindo, ato koran-koran sejenis untuk beradu kecepatan merilis berita dunia bagi pembaca? Ah, tidaklah…

Lalu, untuk apa repot-repot mengekspose berita Fukuda itu, yang bagi orang Jepang bahkan bagi dunia, perilaku para politisi Jepang seperti ini sudah bukan barang baru lagi. Koizumi yang diganti oleh Fukuda pun mengakhiri masa jabatannya dengan mengundurkan diri. Nah ini rahasia yang ingin saya buka kepada anda sekalian.

Selama ini saya mengamati, kenapa para politisi Jepang bisa dengan enak, ikhlas, alias legowo meletakkan jabatannya, tapi hal yang sama sangat sulit bahkan mustahil dilakukan oleh para politisi Indonesia. Banyak Pejabat negara maupun Pejabat pemerintah yang pura-pura tuli atau berlindung pada logika dan proses hukum formal untuk tetap bertahan menduduki kursi jabatannya.

Beberapa waktu lalu, media kita sibuk mempersoalkan Bagir Manan, orang kampus yang lalu menjadi Ketua MA, berkali-kali menandatangani peraturan intern MA yang memperpanjang masa pensiunnya sendiri. Publik menjadi gerah karena merasa bahwa moralitas peraturan itu tidak lebih dari sekedar mempertahankan kekuasaan. Seringkali terjadi kecelakaan kereta api, tidak cukup untuk membuat para direksi PTKAI dengan ikhlas melepas jabatannya. Jika hal ini ditanyakan, maka kita bisa menduga jawabannya yang menyerahkan hal itu kepada Pemegang Saham BUMN itu, dalam hal ini Menteri Negara BUMN. Menteri Teknis yang membawahi regulasi di industri kereta api, Menteri Perhubungan, juga punya jawaban yang setali 3 uang yaitu, terserah Bapak Presiden. Persis sama dengan respon Paskah Suzeta dan MS Kaban ketika terindikasi sebagai penerima dana kolusi BI yang saat ini kasusnya sedang disidangkan di pengadilan tipikor.

Seorang sahabat di kantor pernah nyeletuk, “Orang Jepang punya etika sudah jalan. Beda dengan kita orang Indonesia”. Bagi orang Jepang, akan lebih memalukan lagi jika diberhentikan oleh sistem karena fakta-fakta hukum yang negatif dan tercatat resmi dalam lembaran (sejarah) negara. Mengundurkan diri sebelum dipaksa mundur, bagi orang Jepang adalah sikap yang lebih terhormat dan tentu mendapatkan penghormatan dari publik. Terhormat, karena dengan demikian yang bersangkutan dengan sadar mengurangi terjadinya risiko hukum maupun risiko politik yang tidak saja dapat merugikan martabat dirinya dan keluarga, tetapi juga dapat merugikan rakyat bangsa.

Sikap moral seperti ini yang dikenal dengan istilah keren, ‘responsibilitas’. Responsibilitas adalah nilai moral yang mengedepankan tanggung jawab moril atas amanah yang diemban. Tanggung jawab moril ini juga ditemukan dalam format fiduciary duty, tugas yang diemban atas dasar kepercayaan dan dilaksanakan semata-mata atas dasar itikad baik. Dalam fiduciary duty ini melekat fungsi duty of care (penuh tanggung jawab); duty of diligent (penuh kehati-hatian); dan duty of loyalty (demi kepentingan organisasi/negara/publik). Meski tugas telah dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian (duty of diligent) namun, ketika kepercayaan itu sudah memudar, maka Pelaksana tugas harus punya keberanian moril untuk demi kepentingan publik/negara, ihklas dan legowo mengembalikan amanah kepada yang berhak. Karena ini soal kepercayaan, maka tidak perlu menunggu diberhentikan atas dasar fakta-fakta hukum yang otentik. Karena kepercayaan bukan sekedar perihal hukum tetapi lebih pada perihal etika.

Para sahabat sekalian, beberapa waktu lalu ada pertanyaan yang diajukan oleh seorang adik saya yang waktu itu membuat saya gamang. “Mengapa budaya tidak tau malu di Indonesia bisa berkembang mendekati sempurna?”, demikian adik saya tersebut. Mencermati fenomena Fukuda ini, saya jadi menemukan jawabannya. Rupanya sudah lama bangsa kita, Indonesia, mengabaikan nilai responsibilitas ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita lebih suka tenggelam dalam budaya ambisius yang tak segan menggunakan cara-cara tidak patut untuk mendapatkan kursi jabatan dan mempertahankannya. Alasannya, yang penting saya tidak melanggar regulasi apapun, atau secara hukum formal tidak ada bukti perbuatan melawan hukum.

Sepanjang jaman orla, seolah-olah tidak ada orang lain yang lebih layak menjadi Pemimpin daripada Bung Karno. Pada saatnya, bahkan parlemen mengangkat Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup. Suharto sang Penguasa orde baru, baru mau turun setelah situasi politik bangsa hancur luluh. Gusdur, masih nekat petantang-petenteng di teras istana negara dengan bercelana pendek setelah dipecat oleh parlemen. Dalam ranah berbeda, kita bisa ambil contoh buruknya responsibilitas ini pada sikap para anggota KPU yang ngotot berangkat ke luar negeri sekedar melantik KPLN, menghabiskan puluhan miliar rupiah, padahal ngakunya KPU masih kekurangan dana.

Bagaimana baiknya, yah?

Ok-lah. Saya pun yakin bahwa penjelasan di atas tidak 100% akurat. Esensinya, saya pingin sampaikan bahwa jika orang Jepang bisa hidup dengan nilai responsibilitas, harusnya bangsaku ini juga bisa. Karena itu pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana kita dapat menumbuhkembangkan nilai responsibilitas ini?

Dalam hukum ada ungkapan, quid leges sine moribus, apa artinya hukum tanpa etika. Ungkapan ini menggambarkan bahwa hukum dan etika adalah dua sisi mata uang. Hukum membutuhkan etika sebagai ukuran moralitas, sementara etika membutuhkan hukum sebagai enforcement dalam pelaksanaannya.

Karena itu, perlu ada upaya yang kuat untuk menggunakan nilai responsibilitas ini sebagai moralitas dalam setiap produk hukum yang terkait dengan sistem rekrutmen Pemimpin dan Pejabat di semua aras lembaga negara maupun organisasi kemasyarakatan. Setiap Pemimpin, Pejabat, maupun Pengurus mengemban amanah tata kelola oleh karena kepercayaan. Oleh karena itu, mereka wajib bekerja dengan penuh tanggung jawab dan berhati-hati. Namun, mereka juga wajib memilih opsi mundur dari jabatan untuk meredakan rumors, atau kemelut politik, yang dapat merugikan organisasi/negara/publik, tanpa menunggu berjalannya (selesainya) proses hukum formal. Enforcement nilai responsibilitas melalui regulasi seperti ini, jika ditegakkan secara konsisten, bakal menumbuhkan budaya tau malu di kalangan para Pejabat (negara/NGO/swasta/dll). Mereka ini dapat menjadi suri teladan bagi rakyat dan pada gilirannya kita boleh berharap menjadi tidak beda lagi dengan Jepang dalam hal ini.

Para sahabat terkasih. Sudah lama saya berangan-angan bangsaku dengan budaya responsibilitas yang kuat. Entah kapan terwujud.

Bagian II

Renungan Kristiani yang saya ambil untuk kita renungkan bersama adalah terambil dari Amsal 9:10-18. Ayat kuncinya adalah ayat 10, 12 dan 13.

9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

9:12 Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya.

9:13 Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu.

Di sekeliling kita banyak varian perbuatan tidak tahu malu. Menurut perspektif bacaan Alkitab tadi perbuatan tidak tahu malu itu adalah bagian dari KEBODOHAN. Tidak tahu malu ini erat kaitannya dengan kepekaan moral manusia terhadap asas kepatutan. Orang yang memiliki kepekaan moral tinggi, tentu dengan mudah dapat mengenali tutur kata maupun perilaku yang patut. Kepekaan moral tentang kepatutan ini rupanya telah 'hilang' dari budaya bangsa. Banyak orang yang jelas-jelas berbuat tidak patut, tetapi dengan entengnya lalu-lalang tanpa merasa malu. Banyak orang suka berbicara sarkastis dan merasa orang lain tidak perlu tersinggung. Mereka lupa bahwa 3000 tahun yang lalu, Salomo sudah mengidentifikasi perilaku tidak tahu malu ini sebagai KEBODOHAN.

116 komentar:

Anonim mengatakan...

Pertamax! Mantaafff.

Ollleee...ollleee...

Terima kasih @bm! Artikel yg menarik. Baca dulu aaaaah.

-nyong kupang-

Bigmike mengatakan...

@ Wilmana dan NK,

Tulisan yang bagus nih. Menurut hemat saya, inilah salah satu tulisan terbaik dari Wilmana. Mungkin bagi NK yang gemar membuat komparasi budaya antar bangsa hal ini bisa menjadi "santapan empuk" ha ha ha.

Apakah tulisan Wilmana bisa mencapai komen 100-an? ha ha ha mari kita wait and see.

Bigmike mengatakan...

Ha ha ha....sebabai pemilik blog malah kalah duluan sama NK dalam memberikan komentar.....

Anonim mengatakan...

Hipotesis: Budaya tdk tahu malu tumbuh berkembang nyaris sempurna dalam budaya feodal Indonesia. Mengapa? Karena dalam budaya ini, kaum bangsawan Indonesia (baca: penguasa) 'can do no wrong.' Sudah saatnya feodalisme dipotong sampe ke akar-akarnya.

Silahkan bantah!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Saya setuju bahwa feodalisme harus dibabat habis sampe ke akar-akarnya. Demikian pula harus kita tumpas habis isme rasialis yang menganggap ada adanya stratifikasi dan superioritas budaya (Syamsudin)

Anonim mengatakan...

@ All,

Bahan renungan yang baik untuk hari minggu ini. Tetapi tidak selamanay malu harus dihindari karena di dalam 2 Timotius 1: 8, 11 dan 12 terdapat malu yang JANGAN DIHINDARI,

2 Timotius 1 ayat 8. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah;

1 : 12 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.

1: 13 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Nah, JANGAN MALU MEMBERITAKAN YESUS DAN PERBUATAN BAIKNYA. SELAMAT HARI MINGGU (Esther, Srby)

Anonim mengatakan...

@sahabat tua syamsudin:

Perkenankan saya 'copy paste' komentar anda diposting ini yg cukup relevan dgn diskusi kita diposting sebelumnya:

@ Sahabat muda NK,

Racialism is a term used to describe racial policy, in what is generally perceived to be a negative sense, as promoting stratification and inequality between racial categories (in themselves, often disputed) (Sumber: Wikipedia)

Itu adalah defenisi yang saya rujuk. Sekarang mari kita lihat bagaimana sikap NK:

1. Anda pernah mengatakan bahwa anda penganut pandangan keunggulan budaya;
2. Anda mudah sekali mengucapkan INDONESIA CULAS;
3. Anda pernah mengucapkan bahwa INDONESIA KURANG BERADAB;

COba bandingkan sekali lagi dengan kutipan refernsi saya:....promoting stratification and inequality between racial categories ......

Sahabat mudaku, inilah yang dianut oleh rejim kulit putih di Afrika selatan ketika memenjarakn Mandela dkk., inilah cara pandang yang dianut oleh Amerika ketika masa perbudakan dahulu, inilah cara nenek moyang orang Australia ketika menjagal habis-habisan orang Aborigin, inipula cara pandang Hitler ketika membanta habis orang Yahudi.

Sadarlah, selama sahabat muda terus berpandangan, dengan sangat menghina, bahwa budaya Indoensia adalah budaya inferior maka anda sedang membuat stratification and inequality between racial categories. Selama pula itu sahabat muda akan disebut sebagai penganut rasialisme (Syam)


Pertama, terima kasih krn anda sudah berusaha memberi dasar atas sikap anda 'menuduh' saya seorang rasis. Sekarang perhatikan definisi Racialism yg anda 'copy paste' dari wikipedia. Perhatikan 2 kata yg saya hitamkan yaitu racial policy yg mempromosi stratification and inequality! Apa racial policy yg saya terapkan disini??? Tidak ada! Racial policy hanya bisa dikeluarkan oleh institusi; negara, pemerintah dll. Apa contohnya? Peraturan lama pemerintah RI yg mengharuskan setiap warga Indonesia keturunan Tionghoa memiliki surat bukti warga negara walau sudah bbrp generasi tinggal di Indonesia. Istri saya org Indonesia keturunan Tionghoa. Dia adalah generasi ke 3 di Indonesia tp dahulu mau urus KTP aja susahnya 1/2 mati. Sewaktu dia masih kecil, berbahasa Tionghoa hanya boleh di rumah saja sedang org jawa boleh dimana saja. Jadi jelas, dari definisi anda itu, pemerintah anda, selama puluhan tahun adalah pemerintah yg rasis. Contoh rejim rasis di afrika, amerika dan australia yg anda berikan lebih kena mengena dgn definisi anda itu tp jelas tdk pas dikenakan ke saya.

Tentang 3 poin yg anda sampaikan sebagai bukti saya seorang rasis, jelas tdk kena mengena dgn definisi anda itu sendiri. Ke-3 tutur kata saya itu harus anda letakan dalam konteksnya. Konteks diskusi kami selalu ttg keterpurukan bangsa ini. Silahkan kalau anda bs menyanggah fakta yg membuktikan bahwa budaya Indonesia tdk berhasil membawa rakyatnya sejajar dgn bangsa-bangsa maju. Ambil contoh budaya tidak tahu malu tulisan wilmana ini!!! Jelas @wilmana membuat komparasi budaya jepang yg tahu malu dan budaya indonesia yg tidak tahu malu. Apakah @wilmana rasis juga??? Tolong anda jawab ini!!! Atau ketika @bm menulis Indonesia adalah bagsa kuli. Dia jelas membuat komparasi dgn bangsa lain yg maju. Dalam posting 'saya, ayahanda dan Indonesia' @bm memberi komentar berikut:

Salah satu keunggulan budaya barat yang saya tahu, dan memang harus kita akui, antara lain terletak pada KEMAMPUANNYA BERPIKIR SECARA TERARAH.

Apa @bm rasis juga??? Kalau anda konsisten dgn defisini anda itu, maka saya, @wilmana, @bm dan blogger lain yg kecewa brat dgn keterpurukan Indonesia lantaran karakter bangsa yg sontoloyo --korup, tdk tahu malu, feodal, tdk toleran, kasar, brutal, suka umbar emosi, dll-- adalah rasis. Tolong @sahabat tua jawab ini!!!

Sahabat tua, dlm semangat persahabatan, saya teramat ingin anda melanjutkan diskusi ini dgn argumen yg masuk akal. Jika anda tdk bs berargumen dan sadar anda sudah memberi cap busuk pd saya tanpa dasar yg valid, silahkan minta maaf. Ini jauh lebih mulia ketimbang anda keras hati dgn prasangka busuk.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Membuat komparasi dan menjatuhkan keputusan adalah 2 hal yang berbeda. Wilmana berusaha membuat komparasi. Anda sudah memvonis.

Perhatikan pula hal ini:

.....Racism, by its simplest definition, is the belief that race is the primary determinant of human traits and capacities and that racial differences produce an inherent superiority of a particular race. People with racist beliefs might hate certain groups of people according to their racial groups.....

Racism lebih menunjukkan kepada individu. People with racist beliefs might hate....

Nah, bro, anda sudah masuk ke hate itu. Coba sanggah.

(Eman, Oebufu)

Anonim mengatakan...

@ Wilmana,

Diskusi yang bagus tetapi bagaimana kita bisa membebaskan diri dari satu persoalan baru yaitu bias jender akibat kemungkinan mispersepsi tentang perempuan bebal dan cerewet. Setahu bebal dan cerewet tidak monopoli perempuan (Yenie)

Anonim mengatakan...

@eman

Tentang vonis, itu hanya opini anda. Silahkan kalau anda bs menunjuk fakta vonis saya. Anda berhak atas opini tp tdk pd fakta. Sebelum anda mencari-cari fakta itu, saya ingatkan untuk letakan tutur kata saya dalam konteksnya. Jgn penggal kalimat saya gaya @sahabat tua.

Rupanya anda termasuk dalam barisan ingin menunjuk saya seorang rasis. Dari definisi anda itu, juga tdk kena mengena dgn saya. Saya menggugat budaya melayu anda bukan ras. Sama spt anjuran saya kepada @sahabat tua, anda pun selayaknya minta maaf karena tdk mampu menunjuk fakta saya rasis. Bolehkah kali ini saya berharap anda mau minta maaf???

By the way, anda akui tdk selama puluhan tahun pemerintah anda adalah pemerintah yg rasis??? Ini sesuai definisi sahabat anda itu, @syamtua.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@wilmana

Sdr adalah yg plng pertama suka 'bertengkar' dgn saya, dlm banyak topik. Menurut sdr, apakah saya seorang rasis??? 2 'lawan' saya berusaha menunjuk saya seorang rasis dgn 2 definisi yg berbeda. Apa definisi rasialisme menurut anda???

I look forward to hearing your wisdom.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

aha, muncul lagi gaya lama anda, yaitu berteriak meminta tolong kepada bung Wilmana. Saya malah melihat bung Wilmana sudah berkembang lebih dewasa. Mudah-mudahan tidak terjebak gaya anda ini.

Saya juga ada upaya anda untuk melibatkan BM. Memang benar BM dalam postingnya sering "sengit" terhadap Indoneia tetapi hal itu disampaikan dalam kecintaannya yang mendalam kepada Indonesia. Tanpa menghina. Bahkan yang agak monumental adalah ketika BM berkata dalam posting Indonesia Kuli:

....Di sini di tanah ini, jiwaku bangun, Ragaku akan tegak sebagai pandu bagi ibu Pertiwi.
Pandu yang siap untuk menjadi tuan di rumah kami sendiri....

Bung NK, yang kami minta sebenarnya sedikit saja. Tunjukanlah sedikit rasa hormat kepada tanah kelahiran anda. Kitong di Kupang bilang begini, kasi hormat sadiki pi tampa lu pung ari-ari ditanam. Itu saja soal kami dengan anda. Saya tidak akan meminta anda untuk menyampaikan permohonan maaf kepada orang per orang tetapi mitalah maaf kepada Ibu Pertiwi yang pernah menghidupkan anda sebelum anda hidup nyaman di negeri orang.

Saya dan, juga pak Syam memang punya persoalan dengan anda soal penghinaan anda terhadap Indonesia.
Tapi apa soal kami dengan Wilmana? Pak Syamlah yang ada sedikit soal dengan Wilmana menyangkut mengurus pendidikan tinggi.

Ah, jangan begitu dong kawan (Eman)

Anonim mengatakan...

@ Kawan NK

Sori ada salah ketik yang mengganggu, ....Saya juga ada upaya anda untuk melibatkan BM. Memang benar BM dalam postingnya sering "sengit" terhadap Indoneia ...

SEHARUSNYA:

...saya juga melihat ada upaya anda untuk melibatkan BM......

(Eman)

Anonim mengatakan...

@all

Barang siapa meladeni "Orang gIla" bisa-bisa ikut gila Lho!

Orang yang suka menghujat budaya orang lain enaknya disebut apakalau bukan "Orang gila"?
he.. he.. he...

@Budi

Anonim mengatakan...

@ BM,

Blog ini memberikan saya banyak sekali pelajaran yang hebat. Salah satunya adalah berdiskusi dengan mencoba mengendalikan diri supaya tidak kelihatan seperti katak ha ha ha ha Thanx . Hampir seharian saya menongkrongi Internet untuk berdiskusi secara terkontrol. Sekarang saya off dulu. Sampai ketemu besok pagi (Eman)

Anonim mengatakan...

@eman

Saya mulai lihat anda sedikit kuatir karena saya bertanya kepada @wilmana. Mengapa anda keberatan? Saya paling sering bertengkar dgn dia, mengapa anda berprasangka saya minta tolong? Juga statement @bm yg saya kutip. Mengapa anda kuatir? Bisa jadi komentar anda sendiri alasannya:

Salah satunya adalah berdiskusi dengan mencoba mengendalikan diri supaya tidak kelihatan seperti katak ha ha ha ha

Tentang kecintaan saya kepada tanah dimana ari-ari saya ditanam, mengapa anda berprasangka saya tdk mencintainya lagi? Kalau saya menggugat budaya melayu anda, apakah otomatis saya kurang cintai?

Kalau anda pengen mempersoalkan gaya bhs saya, silahkan tegur baik-baik. Saya pasti meminta maaf kepada anda. Tp gaya anda adalah menyerang dgn memberi cap negatif. Rasislah, kataklah, snobislah, manusia cilakalah, tdk punya otaklah, inilah, itulah. Tdk ada blogger yg memberi cap negatif paling banyak kpd saya --sudah lebih dari 10-- kecuali Anda.

Bagaimana, anda masih mau bilang saya rasis sesuai definisi anda itu? Sudah terbukti tdk kena mengena dgn saya. Kalau tdk lagi, maukah anda minta maaf???

@budi

Saya ingat pesan anda. Biarin org gila ngoceh sendiri, hi hi.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@wilmana

JANGAN jawab pertanyaan saya sebelumnya agar tdk menjadi alasan buat @eman lari dari tanggungjawab yg sudah terlanjur katakan saya seorang rasis.

Nah @eman, silahkan kalau masih sanggup buktikan saya seorang rasis. Kalau anda tdk lanjutkan diskusi ini, maka sayapun tdk heran.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Hello, I'm back. Saya belum mau fuit dari anda ha ha ha.

Anda pandai menghitung "hutang saya" pada anda tetapi sayang sekali, anda tidak mau menghitung "hutang anda" kepada saya. Ck ck ck ck...anda sungguh tidak adil. Atau memang inilah contoh peradaban yang unggul itu?

Soal rasis, mungin kutipan pak Syam kurang tepat, tetapi kutipan saya adalah ....periksa lagi bung...People with racist beliefs might hate certain groups of people according to their racial groups.....nah, cobalah pelajari kembali hubungan antara ras, lingkungan fisik, areal persebaran dan group yang menyebar serta pertautan di antara semuanya yang menghasilkan kebudayaan, kearifan lokal, tradisi dan seterusnya. Jadi jangan mengira karena anda tidak menyebutkan ras kaukasoid, ras aria, ras mongoloid lalu anda bebas dari kecenderungan rasis. Kalau itu terjadi maka saran saya adalah perdalam ilmu anda dahulu baru mengajak orang lain bertengkar. Bagaimana kawan?

Kuatir sama Wilmana? TIDAK. Cuma cara anda memanggilnya untuk terlibat, MEMALUKAN. Seolah-olah Wilmana adalah tukang pukulnya anda. Persis ketika anda dahulu bermasalah dengan pak Syam karena evolusi. Nah, saya lihat Wilmana sudah sangat maju dalam berolah rasa. Saya kagum juga sama dia. Anda ini kok nggak maju-maju???. Gimana nih boss???

Terakhir, ini anggap saja latihan untuk anda. Taruh kata saja saya memang asli pemarah dan hal ini ada kaitannya dengan kebudayaan saya yang Kupang, Melayu, Indonesia. Saya mau tanya apakah peradaban saya (ini adalah istilah yang anda pakai) adalah peradaban yang kurang beradab dibandingkan peradaban anda? Coba jawab itu boss (Eman)

Anonim mengatakan...

@ All,

Wow diskusinya hangat. Tapi sudah jelas ada banyak kemajuan. Hanya ada emosi tetapi tidak pakai maki-maki ha ha ha. Ingat pesan BM bahwa jangan lupa persahabatan dan wak haji ha ha ha ha BM memang ada-ada saja (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike dan Wilmana,

Saya menikmati diskusinya tetapi saya tidak berani terlibat karena tidak menguasai materinya (Agust)

Anonim mengatakan...

Blog ini ada pada peringkat atas untuk kualitas tulisan. Saya samapi ke sini karena alasan itu. Selamat ya. Pertahankan dan terus up date (DoJ)

Anonim mengatakan...

@ NK dan Eman,

Diskusi yang baik tetapi hati-hati tergelincir. Berikut saya kutipkan kembali apa yang di tulis BM di posting KASIH ITU KUAT. The Last.

.....Jikalau tidak menyerah maka apa alternatifnya? Menurut hukum dunia, ketika ditekan maka manusia memiliki dua naluri kodrati, yaitu menyerah dan, satu lagi: membalas. Inilah naluri asali (basic instinck) setiap organisme ketika dicekam. Inilah naluri kodrati. Sikap membalas, menurut hukum dunia, sungguh terpuji. Ada 3 jenis keadilan dunia dan salah satunya adalah keadilan retributif, yaitu setiap orang memperoleh setimpal dengan apa yang dilakukannya. Yang baik diberi pengharagaan yang salah dihukum setimpal dengan kesalahannya......

Mudah-mudhan diskusi kalian mengarah kepada kebaikan dan persahabatan, jika tidak, ingatlah kutipan di atas (Widyanto)

Anonim mengatakan...

@eman:

Taruh kata saja saya memang asli pemarah dan hal ini ada kaitannya dengan kebudayaan saya yang Kupang, Melayu, Indonesia.

Saya lihat sdh ada sedikit kemajuan, mengakui budaya marah ala kupang. Kalau boleh saya tambah, org kupang itu juga kapala batu, selalu merasa diri paling benar apalagi kalau dia tua. Silahkan kalau anda mau bantah ini tp ingat saya juga org kupang jadi tahu persis sifat karakter org kupang. Mengapa saya bilang org kupang kapala batu?

Anda msh saja belum mau rendah hati mengakui kesalahan anda dan terus memaksa mengkaitkan antara ras dan budaya. Anda ingin katakan ras dan budaya hakekatnya sama. Baiklah, saya kasih definisi ras dan budaya sesuai kamus besar bahasa indonesia sehingga anda mudah mengerti.

Budaya:

n 1 pikiran; akal budi: hasil --; 2 adat istiadat: menyelidiki bahasa dan --; 3 sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yg --; 4 cak sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah;

Ras:

ras n golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik; rumpun bangsa: warga negara Amerika terdiri atas pelbagai --

Membaca defisinii ras dan budaya diatas, dimana letak kesamaannya??? Kalau anda punya opini lain, itu hak anda tp jgn pura-pura katakan itu fakta defisini.

Argumen saya bahwa tdk semua budaya unggul harus anda kaitkan dgn aspirasi manusia yg bersifat universal. Apapun jenis manusia, manusia umumnya ingin hidup yg bebas, sejahtera, sehat dll. Nah dgn aspirasi manusia spt ini yg bersifat universal, anda bisa menilai sendiri apakah budaya melayu anda itu sudah cukup memenuhi aspirasi tsb? Kalau boleh saya tanya, brp manusia miskin di Indonesia akibat ditelantarkan oleh pemerintah anda yg teramat korup???

Tentang pertanyaan lain-lain, anda mesti belajar disiplin untuk fokus pd poin esensi dulu. Kalau nanti kita sudah sepakat, atau sepakat untuk tdk sepakat baru kita loncat ke soal yg lain. Saat ini anda masih belum bisa menunjuk fakta saya seorang rasis dan kalau nanti tetap tdk bisa anda harus minta maaf.

Oh ya, bs tolong sampaikan kepada sahabat anda (@syamtua) untuk rendah hati mohon maaf kpd saya karena dia sudah keliru memberi pijakan sikap tuduhan rasis kepada saya.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

1. ha ha ha ada kemajuan. Anda berusaha mencari defenisi ras dan budaya. Sayang sekali, cara itu adalah cara anak-anak SMA yang mencari-cari istilah. Apa esensi kata-kata itu dalam konteks pembicaraan kita? Hal itu hanya akan anda temukan jika anda melakukan sintesa terhadap kedua-duanaya. Nanti anda akan melihat bahwa dua hal itu tidak terpisahkan. Saya bantu anda dengan kata kunci lainnya, yaitu ekologi manusia. Belajar ya kawan.

Sebagai bahan latihan tambahan untuk anda supaya tidak asal tabrak secara defensif coba anda bedah naskah dengan judul "New Racist from Jim Crow in The 21st Century" (www.ferris.edu/news/jimcrow). Saya tunggu hasil bedahan anda.

2. Dalam kecongkakan anda, tampaknay anda salah mengertikan makna kata maaf dari sahabat tua kita Syam. Sayang sekali. Inilah yang membedakan anda dan kakak anda, pemilik blog ini. Anda arogan. Dan dalam kearogansian anda itu, mata hati anda dibutakan terhadap etika ketimuran yang ada pada saya, bung Syam, BM (perhatiakn cara-cara BM menegur yang khas ketimuran). Mengapa anda menjadi membutakan hati terhadap etika ketimuran? Karena anda menganut pandangan superioritas budaya (lihat posting anda di amerika) dan dalam cara pandang itu, anda sudah menghakimi bahwa budaya Indonesia adalah budaya pecundang, sontoloyo, culas dan lain sebagainya yang semuanya menunjukan bahwa budaya ini kalah beradab dibandingkan budaya barat yang anda puja habis. Maka terbukti, anda rasialist.

Salam hangat (Eman)

Anonim mengatakan...

Yenie
@ Wilmana,
Diskusi yang bagus tetapi bagaimana kita bisa membebaskan diri dari satu persoalan baru yaitu bias jender akibat kemungkinan mispersepsi tentang perempuan bebal dan cerewet. Setahu bebal dan cerewet tidak monopoli perempuan (Yenie)


tanggapan
Ada metode teologi dlm membaca kitab suci dlm kristen yg disebut hermeneutika. Dr situ kita tau bhw Salomo menulis dlm konteks budaya yg seperti apa. Ternyata, pd saat itu karakter bebal dan cerewet mmg bukan monopoli, tetapi terutama cerewet, itu jelas didominasi perempuan. Jadi, tdk salah juga kalo Salomo mengumpamakan kebodohan bagai perempuan yg uda bebal, cerewet pula. Namanya jg perumpamaan...

Pertanyaannya, apakah itu berarti kitab suci mau bilang bhw semua (dan hanya) perempuan yg bebal dan cerewet? Rasanya, tidak kan? Tp bisa sj ada org yg kurang bijaksana dan menganggap spt itu. Yg 'bebal' kayak gini, sy juga tdk tau musti diapakan.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@eman

Melihat gaya anda yg amat keras kepala + arogan saya hentikan saja diskusi ini. Soal maaf dari anda, lupakan saja. Dari awal saya memang tdk berharap banyak dari anda.

Terakhir ttg tuduhan rasis kepada saya, bukankah anda yg harus buktikan??? Anda menuduh maka kalau anda bermoral dan beretika baik, maka andalah yg harus membuktikan. Teramat janggal kalau anda suruh saya yg bedah masalah ini. Kalau saya bilang anda beretika sontoloyo, nanti marah lagi. Tp sudahlah, saya tdk berminat lagi berdiskusi dgn anda.

@wilmana

Karena emang yg berkelit sana sini tdk bisa buktikan saya rasis, saya minta anda yg buktikan. Apakah saya seorang rasis??? Saya tunggu.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Ralat

Seharusnya:


@wilmana

Karena @eman hanya bs berkelit sana sini tdk bisa buktikan saya rasis, saya minta anda yg buktikan!! Apakah saya seorang rasis??? Saya tunggu.

Anonim mengatakan...

Ha ha ha... Bonggo kabur, datang @nk... Sayangnya kali ini @A9ust sonde iko beking rame-rame.

@NK
Beta lia @eman deng @Syam mmg aga2 'ngawur' bicara ras bacampor dg budaya. Lalu atas dasar itu dorang dua beking stempel di pasar Senen namanya RASIST, lalu cap ente pung pipi dg itu. Tapi beta lia esensi dr upaya dorang dua, sdh jelas. Dorang sonde suka ama pung gaya yg berkesan semua org indonesia sdh bejat. Mgkn dorang sering baca kitab Roma 8 di mana Santo Paulus bilang semua manusia sdh berdosa. Pdhl ente kan sonde bermaksud bilang semua org Indonesia bejat, kan? Ini yg musti ente luruskan, bhw by statistical data, bs jg disebut semua org indonesia tdk punya malu lg. Beta sarankan, ente kutip data dr komas bbrp wkt lalu bhw dr sabang sampe meroke, semua Pemda tersandung perkara korupsi. Jg data indeks korupsi versi transparency internationl. Jg data indeks GCG di Asia maupun asia tenggara. Taro di sini, infonya, kira2 di mana posisi bangsa ini dibandingkan negara lain. Ingat, bangsa/negara ini!! Bkn pribadi-pribadi.

@Eman & @Syam
Beta setuju dg perjuangan bosong dua utk togor itu NK spy lebe hati2 dlm berkata-kata. Tapi beta lia bosong dua ju paya, alias sama saa deng @nk. Dlm berkata-kata, suka olok2 org juga. Beta punya data2 lengkap bosong dua pung komentar2 di sini, tp sbg cth beta ajukan komentar @eman yg 'lucu' berikut ini:

eman
Kami hanya meminta: tolong mengomentari komentar kami TANPA DISERTAI OLOK-OLOKAN. HANYA ITU, TIDAK LEBIH.

VERSUS

eman
Anda ternyata melayu juga sama dengan saya ha ha ha ...dasar melayu...ha ha ha ha..

Ada juga data @eman kasi cap anakNKRI sbg KATAK.

Sonde suka diolok-olok, tp kl ada kesempatan, tnp malu olok @nk juga. Karmana, neee?

Jadi, bahasa kasarnya, bosong dua ne lebe mirip 'maling batarea maling'. Maaf ooo... Beta cuma bikin kesimpulan dr data yg ada. Beta ju sonde ada maksud suru bosong berenti diskusi deng @NK. Bet cum mo bilang, jang lupa utk pasang sikap "tau malu ala Fukuda" tuu. Biar mantaps.

KK Look

Anonim mengatakan...

@ NK,

Saya sudah membuktikan secara induktif statement saya. Tugas anda adalah membuat pembuktisn terbalik untuk menyanggah pendapat saya. Sayang anda tidak mau. Lucunya, anda tidak mau melanjutkan diskusi dengan saya tetapi anda mengundang Wilmana untuk "turun gunung" yang kalau dilakukan maka hampir pasti nama saya akan disinggung-singgung. Kami berdebat, anda menonton. Mungkinkah ini ciri budya unggul itu?

Yang terjadi dalam persoalan kita adalah anda berusaha memisahkan antara pengertian budaya dan ras. Lantas, anda berkesimpulan bahwa keduanya tidak berhubungan. Berdasarkan ini, anda yakin bahwa anda tidak dapat digolongkana rasialis. Pada perbedaan defenisi, anda betul tetapi hendaknya anda tahu bahwa salah satu faktor pembentuk budaya adalah ras. Dalam buku "Psikologi Lintas Budaya" karangan Tri dan Salis (2004) terbitan Penerbit Univeritas Muhammadiyah Malang, dijelaskan secara tegas unsur-unsur group pembentuk budaya yang secara bertingkat dimulai dari ras, etnis, society, sub-kultur dan akhirnya kelas sosial. Sayang anda tidak tertarik mengolah pikir lebih lanjut. Bahkan saran saya untuk membaca artikel dari www.ferris.edu enggan anda lakukan.

Saya berusaha menggunakan intelectual approach tetapi anda menanggapinya secara emosional. Anda mengatakan sudah tidak berharap apa-apa dari saya. Permohonan maafpun anda tanggapi secara sinis.

So, mari kita serahkan kepada sahabat lainnya untuk melihat dan menjelaskan siapa saya dan siapa anda. Tetapi meskipun anda tidak mau, saya ingin terus mengikuti teladan BM, yaitu jikalau dalam diskusi kita ada kata saya yang membuat anda tersinggung, saya mohon maaf. Saya juga manusia biasa yang bisa salah. Semoga di lain topik kita bisa berdiskusi lagi (Eman)

Anonim mengatakan...

Wah, Bung KK Look lg OL (online) rupanya. Su selesai dg @new comer ko, Bu?

bigmike
Apakah tulisan Wilmana bisa mencapai komen 100-an? ha ha ha mari kita wait and see.

Ah sy malah tdk suka tulisannya dikomentarin sampe begitu byk. Buat sy, itu artinya msh ada ruang kosong dlm tulisan bg kritik bahan menimbulkan "perkelahian".

Yg penting para Pembaca bisa menikmati sj, sdh OK. Lbh penting lg kl ada komentar spt ini:

bigmike
Menurut hemat saya, inilah salah satu tulisan terbaik dari Wilmana.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Weeiitt, maaf ada koreksi beta pung komentar di atas. Bukan roma 8 tapi Roma 3 (KK Look)

Anonim mengatakan...

@ KK Look,

Melihat cara bertutur kata anda lakukan saya sudah bisa menduga siapa anda. Ah, teman lama juga yang hobiya gonta-ganti nama. Untuk anda, saya harap sudilah membaca komentar saya di atas.

Anda tidak usah repot-repot mencari-cari data kesalahan saya. Tidak perlu. Perhatikan berikut ini:

Saya tidak tahu yang lain, tetapi inilah alasan kecintaan saya terhadap blog ini dan sosok BM. Soal emosional, saya akui dan memang saya banyak mengungnkapkan mosi saya. Tetapi apakah yang lain mau mengakui kesalahannya (termasuk anda?). Dari kekurangan saya itu, saya belajar berdiskusi secara terarah dan mengendalikan emosi sesuai saran BM. Namun apakah ada seorang pelajar yang tiba-tiba menjadi Einstein? Tidak kan? Makanya di sana-sini masih saja ada juga kebiasaan lama. Menyadari itu, saya selalu berusaha meminta maaf. Jikalau itupun tidak anda anggap sebagai kemajuan maka saya mohon maaf.

(Eman)

Anonim mengatakan...

woowwww..... beta sonde mau masuk di dalam perdebatan karena beta sonde talalu kuasai materi...

tapi beta mau bilang (anggap sa cuma keluh kesah) Indonesia ni su talalu parah, budaya malu su sonde punya lai. contoh kecil sa, kasus si amin al nasution tuh... si kode penjual lahan kehutanan.. su jelas2 bersalah tapi kalau di depan TV masih sa jaim (jaga image).. sonde punya malu lai ko... contoh lagi, Indonesia ne terkenal sebagai "pengeskpor" asap kebakaran hutan ke luar negeri... tapi apa yang dilakukan??? nol besar. malah luas areal hutan dari tahun ke tahun selalu berkurang. entah karena kebakaran hutan, karena pola HPH (menurut saya pribadi HPH ini lebih menguntungkan "sang penguasa" daripada rakyat setempat). Tapi anehnya bukan urus yang begini dong tapi malah sibuk bikin wacana baru "MEROKOK ITU HARAM".. Mampussss..... tolong kalau anak NKRI yang seiring bela INdonesia menjelaskan hal ini, atau minimal mengatakan bahwa beta salah. ini baru contoh kecil sa...

payah betul.... memang benar kalau ada yang mengatakan akar utama maslah di indonesia adalah moralitas yang parah.. salah satunya yah itu budaya malu.

(norman)

Anonim mengatakan...

@NK

Sampeyan ini memang mengilakan!!

wong sampeyang yang menghina dan menghujat @syam dan @eman dengan mengatakan mereka berbudaya sontoloyolah, budaya melayu jeleklah! sekarang malah sampeyan tuntut mereka minta maaf pada sampeyan!! opo yo ora edan tenan sampeyan ini???

sebetulnya sampeyan itu orang apa sih?? kalau sampeyan itu orang timor yang maaf "hitam kriting" itu, maka lucu banget! ini sih bukan kacang lupa kulit tapi NK lupa kulit dan rambut he.. he.. he..

kalau sampeyam anggap saya ini gila, ndak apa2! orang gila menganggap yang waras itu gila biasa!!!!

(Budi)

Anonim mengatakan...

@norman

Perkenankan saya berperan sebagai devil advocate. Tdk ada maksud apa-apa kecuali ingin membuktikan apakah standar moral yg dipertontonkan disini baik atau sontoloyo. Begini.

...tapi beta mau bilang (anggap sa cuma keluh kesah) Indonesia ni su talalu parah, budaya malu su sonde punya lai.

Anda jelas katakan bangsa anda tdk punya budaya malu lagi. Betul? Maka anda adalah seorang RASIS menurut definisi ini:

.....Racism, by its simplest definition, is the belief that race is the primary determinant of human traits and capacities and that racial differences produce an inherent superiority of a particular race. People with racist beliefs might hate certain groups of people according to their racial groups.....

Nah, silahkan anda bantah anda bukan rasis sesuai dfefinisi ini !!! Kalau anda tdk sanggup, maka hal yg sama akan saya tanyakan kepada @wilmana yg menulis dia sedang berangan-angan kapan budaya malu tumbuh berkembang di Indonesia.

@budi

Budaya sontoloyo yg saya maksud adalah budaya korup, tdk tahu malu, feodal, suka umbar emosi yg beking rakyat susah. Sekarang anda jawab ini!!! Budaya yg saya sebutkan ini mulia atau sontoloyo??? Kalau anda bilang mulia, anda waras. Tp kalau anda bilang sontoloyo, anda benar-benar gila.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@KK Look:

Beta lia @eman deng @Syam mmg aga2 'ngawur' bicara ras bacampor dg budaya.

Apa dasar anda katakan mencampurkan budaya dan ras adalah kengawuran???? Mohon kasih data kalau tdk anda hanya jual kecap disini.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@Nk

Waaa anda ini asli "Roti rasa Lontong"!! mayoritas orang indonesia itu sangat benci terhadap koruptor, itu pasti!!

terjadinya korupsi karna sistem penegakan hukum yang belum jalan ( sekarang sudah dimulai)

soal budaya emosional dan kekerasan, sory man! apakah membunuh jutaan orang di afganistan dan irak itu budaya lemah lembut???

kalau soal budaya tidak tahu malu, MELIHAT GAYA ANDA ini maka saya rasa itu BENAAAAR WUA HA..HA HA..


(BUDI)

Anonim mengatakan...

@budi

Ha ha ha... paling tdk anda akui bahwa budaya korup yg begitu luas dipraktek, mulai dari penguasa sampe tukang parkir amat dibenci. Lalu kalau saya bilang budaya korup sontoloyo, mengapa saya disebut rasis???

Tentang budaya malu... juga anda akui.

Terima kasih.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Norman tidak rasis karena tidak disertai kebencian. Malah ada prima kausa yang ain, yaitu dia sebenarnya hanya ingin mengutarakan apa yang dia rasa sedangkan ilmunya, sesuai pengakuannya, masih terbatas.

Beda sekali dengan anda. Anda dengan intelektual yang anda punya, oleh karena itu anda sering posting di sini, SECARA SENGAJA DAN TERENCANA sejak awal sudah menganut paham SUPERIORITAS BUDAYA. Itu masalahnya. Eman menduga anda rasialis. Anda hanya membantah tetapi tidabersuaha mengajaukan satupun sintesa teori yang bersifat antitesis. Kasihan juga Si Norman lalu anda kejar-kejar (Julius, Kpg)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Maafkan saya karena dahulu saya sudah terlalu kasar berkomentar dan akibatnya komentar saya dihapus. Yah, sama dengan Eman, saya juga berusaha memperbaiki diri. Tapi saya mau kas tau bahwa ini blog sudah menjadi kebangaan beberapa kalangan di Kupang (Julius)

Anonim mengatakan...

@ Wilmana,

Saya masih agak ragu, apakah betul rasa malu orang-orang Indonesia betul-betul nyaris sempurna. Apa tolak ukurnya? Tolak ukur itupun sebaiknya jangan yang bersifat kasuistik. Bahwa ada kegagalan manajemen pemerintahan harus diakui tetapi bilang bahwa Indoensia sudah nyaris tidak punya malu wah, saya belum berani (Julius)

Anonim mengatakan...

@julius

@ NK,

Norman tidak rasis karena tidak disertai kebencian. Malah ada prima kausa yang ain, yaitu dia sebenarnya hanya ingin mengutarakan apa yang dia rasa sedangkan ilmunya, sesuai pengakuannya, masih terbatas.

Beda sekali dengan anda. Anda dengan intelektual yang anda punya, oleh karena itu anda sering posting di sini, SECARA SENGAJA DAN TERENCANA sejak awal sudah menganut paham SUPERIORITAS BUDAYA. Itu masalahnya. Eman menduga anda rasialis. Anda hanya membantah tetapi tidabersuaha mengajaukan satupun sintesa teori yang bersifat antitesis. Kasihan juga Si Norman lalu anda kejar-kejar (Julius, Kpg)


Sama spt @eman anda pun sebenarnya sedang menduga saya rasis. Saya anjurkan anda beri bukti berupa data jgn spt @eman yg menduga saya rasis tetapi menyuruh saya membuktikan terbalik. Anda dan @eman memakai asas PRADUGA BERSALAH. Masya Auloh!

Kalau anda dan @eman konsisten dgn asas praduga bersalah, maka kalianlah yg harus menjawab gugatan awal saya bahwa budaya korup, feodal, tdk tahu malu, suka umbar emosi khas Indonesia adalah budaya yg tdk beradab.

Jadi, silahkan anda, saya kutip kata anda sendiri:

mengajaukan sintesa teori yang bersifat antitesis

bahwa budaya/kebiasaan yg saya sebut diatas adalah beradab. Jangan lalu cap saya rasis tp lalu tuntut saya buktikan sendiri saya tdk rasis.

Terakhir, anda lupa --atau pura-pura lupa???-- bahwa dugaan @eman dilandasi secara spesifik pd definisi rasism yg dia 'copy paste' entah dari mana sumbernya. Dari definisinya saja sudah tdk kena mengena dgn saya karena dia campur aduk ras dan budaya.

Jadi, silahkan jawab atau anda hanya mau jual kecap disini???

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

Tambahan...

@julius:

Beda sekali dengan anda. Anda dengan intelektual yang anda punya, oleh karena itu anda sering posting di sini, SECARA SENGAJA DAN TERENCANA sejak awal sudah menganut paham SUPERIORITAS BUDAYA. Itu masalahnya.

Pd poin ini anda benar. Oleh karena itu, etika yg baik adalah bantahlah dgn intelektualitas juga jgn hanya dugaan spt yg anda sendiri sudah akui.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Saya ada di sini. Sudah baca buku "Psikologi Lintas Budaya" karangan Tri dan Salis (2004) terbitan Penerbit Univeritas Muhammadiyah Malang, ata belum. DI dalam buku ini diuraikan hubungan antara evolusi budaya dan rasialisme dan rasisme. Lantas sudah bacara rtikel di www. ferris.edu belum?

Bacalah dulu. Baru berkomentar. Jika tidak kasihan sekali, Norman, Julius (saya hanya kenal di blog ini), dan nanti entah siapa lagi yang akan kena imbas kefrustasian anda karena jelas-jelas tidak mampu berdiskusi dengan sehat dan terarah.

Dugaan saya bahwa anda rasialis adalah persis seperti uraian Julius. Sejak awal, anda adalah pemuja superioritas budaya. Ketika sikap anda itu di declare dengan berapi-api penuh kebecian terhadap Indonesia, maka defenisi dari Wikipedia menjadi klop.

Campur aduk ras dan budaya itu adalah kerjaan saya? oh jelas tidak. Makanya saya ajak anda untuk perbanyak referensi agar anda tahu bahwa ras dan budaya, meski 2 kata yang berbeda tetapi dalam sintesa budaya kedua saling terkait satu dengan yang lainnya. Saya ajak anda membaca 2 referesni saja anda tidak mau. Bagaimana ini? ha ha ha (Eman)

Anonim mengatakan...

@eman

Logika dan cara debat anda teramat ngawur. Hal yg sama saya bisa katakan kepada anda. Baca ini dan itu baru komentar. Anda mengerti gak sih??? Semoga!

Jadi... tdk perlu bawa-bawa judul buku, ini dan itu karena sayapun bisa menyuruh anda membaca 1, 2, 3 sampai puluhan buku dan jurnal. Saya tdk lakukan karena itu bukan etika diskusi yg baik. Saya msh punya moral etika diskusi yg sehat.

Begitu saja dan saya sama sekali sudah tidak tertarik lagi berdiskusi dgn anda. Anda mau bilang apa kek, terserah. Saya tdk peduli lagi.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK,

Mau baca puluhan buku? Saya tidak percaya. Membaca 2 referesni penting yang bisa menunjukkan point diskusi kita saja anda tidak mampu kok berlagak puluhan judul buku ha ha ha ha.

Sederhana saja: buku terbitan UMMA itu mengandung teoori yang mendukung pendapat saya bahwa antara ras dan kebudayaan ada pertauatannya. Referensi dari ferris.edu ingin menunjukkan kasusu bahwa persangkaan rasialis dan rasisme di Amerika Serikat akibat hukum John Crow ternyata masih brlanjut sampai abad ke 21 yang dibuktikan dari ADANYA SENTIMEN BUDAYA ANTARA PENDUDUK ASLI:COLOUR SKIN:WHITE SKIN. Semua itu mau menunjukkan bahwa DENGAN SEMANGAT MERENDAHKAN BUDAYA INDONESIA YANG DISAMPAIKAN DENGAN CARA PENUH KEBENCIAN MAKA ANDA ADA DALAM NAFAS RASIALISME DAN RASISME YANG TERUS BERLANJUT SAMPAI ABAD 21.

Ketidak mampuan anda membedah referensi ini menunjukkan 1 hal: ANDA KEHABISAN ARGUMEN YANG BISA MEMBANTAH BAHWA ANDA BUKAN RASIALIS. Logikanya? ANDA RASIALIS.
Mau membantah? Pakailah cara-cara diskusi yang sehat. Kata BM, data lawan data. Asumsi lawan asumsi. Argumen lawan Teori lawan teori.

Pola anda aneh dan, maaf, cenderung kicik dan pengecut. Berkali-kali anda mengatakan tidak mau berdiskusi dengan saya tetapi dalam di chatt box dengan norman, anda menyindir saya. Dalam percakapan dengan Julius, anda menghina saya dengan mengatakan saya ngawur. Baiklah, kalau anda tidak mau berdiskusi dengan saya maka, harap jangan melibatkan saya ketika berbicara dengan orang lain sebab dengan cara itu maka anda memancing saya untuk bercakap-cakap dengan anda. Is that clear bro?

Kalau anda tersinggung maafkan saya (Eman)

Anonim mengatakan...

@eman

Ha ha ha... merasa terjepit anda akhirnya 'mengakui' bahwa dgn menyebut judul buku blah blah tdk membuktikan apapun bahwa saya rasialis.

Setelah dola-dalih enggak karuan, anda lalu menyebut teori yg katanya mendukung pendapat anda. Tp setelah saya baca lebih dari 10 kali saya tdk temukan teori yg mendukung anda itu, hanya statement yg teramat vaque tp tanpa malu membuat kesimpulan saya rasialis. Ha ha ha... anda benar-benar beyond me. Lain kali, baca baik-baik buku anda itu, uraikan dgn jelas dan masuk akal dan lalu buat kesimpulan.

Terakhir, saya amat tdk mengerti statemen anda ini:

Mau baca puluhan buku? Saya tidak percaya. Membaca 2 referesni penting yang bisa menunjukkan point diskusi kita saja anda tidak mampu kok berlagak puluhan judul buku ha ha ha ha.

Maaf, ini maaf beneran, kalau minjam logika anda, anda jelas buta kenop. Baca baik-baik komentar saya sebelumnya:

Jadi... tdk perlu bawa-bawa judul buku, ini dan itu karena sayapun (@nk) bisa menyuruh anda (@eman) membaca 1, 2, 3 sampai puluhan buku dan jurnal.

*ha ha ha ha...*

Baiklah... saya setuju dgn anda. Kita tdk perlu berdiskusi. Saya tdk akan sebut nama anda lagi tp ANDA PUN JGN IKUTAN MENGHUJAT SAYA JIKA ANDA TDK SETUJU DGN POIN2 SAYA DISINI. Silahkan anda tujukan komentar anda kpd org lain. Is that clear bro???

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ all

wah kok makin banyak yg ketularan gila ya!!

@ NK

Kalau anda emosi sama orang lain jangan norman dijadikan sararan kemarahan anda!! itu namanya tidak fair!!
norman anak yang sedang belajar jadi tidak usah dibawa-bawa kedalam kegilaan anda,
tapi walaupun norman anak baru balajar minimal dia tidak ingin jadi orang yogja yang menghujat budaya orang tuanya yang dari timor!!
disini jelas norman lebih baik dari anda, untuk itu saya sarankan supaya anda pergi ke salon untuk luruskan rambut anda yang keriting itu, dan jangan lupa dicat pirang, setelah itu belilah cat putih yang bagus (biasanya yang mahal bagus lho!) dan segeralah anda cat sekujur tubuh anda nah kalau sudah begini anda sudah mirip orang bule, (bule gila)sip dah!! sekarang anda boleh mengatakan apa saja tentang bangsa kami ini!! coba deh nak!!

(Budi)

Anonim mengatakan...

@ NK,

LANTAS, APA TEORI YANG ANDA PAKAI UNTUK MELAWAN TEORI SAYA? HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA

Kesimpulan:

1. NK rasialis maka anda perlu pertobatan karena sifat ini dibenci Tuhan Yang Maha Pengasih.

2. Anda tidak mampu berpikir terarah maka anda perlu belajar lagi.

3. Anda snobis yang mabuk kepayang hidup di LN sambil menghina tanah lahirnya sendiri maka minta ampunlah kepada ibupertiwimu yag pernah memberikan kau air dan udara untuk engkau hidup.

4. Anda hanya menumpang populer di blog ini. Bermulut besar tentang demokrasi dan religiusitas lewat aneka posting dan komentar tetapi tidak ada kebaikan, persahabatan dan kasih sayang yang anda tebarkan kecuali kebencian terhadap tanah leluhurmu sendiri.

Kali ini saya tidak meminta maaf kepada anda tetapi saya menangisi anda (Eman)

Anonim mengatakan...

@ NK,

Saya tidak akan mencampuri urusan saudara di blog TAPI JANGAN MENGHINA INDONESIA DAN NTT. Kalau itu anda lakukan, akan saya lawan (Eman)

Anonim mengatakan...

Bung Eman,

Saya menghargai patriotisme anda. Anda telah teguh mempertahankan prinsip anda itu. Ada banyak kemajuan dalam mengendalikan emosi. Selamat tetapi saya pikir anda seharusnya bisa lebih menahan diri lagi.

Bung NK,

Saya tidak begitu yakin anda adalah rasialis dalam realitas. Persoalannya adalah dalam aneka statement bung NK, terlalu banyak nuansa pro superorganik (istilah dari salah satu bidang ilmu antropologi) yang mudah ditafsirkan sebagai rasialis. Apa yang dikatakan oleh Eman ada benarnya, dilihat dari aspek kajian ilmu-ilmu humaniora (kebetulan saya belajar ilmu-ilmu ini). Sementara anda tidak cukup kuat memberikan sanggahan teoritis terhadap Eman. Misalnya, ketika Eman berargumen bahwa rasialisme dan perkembanagn budaya bisa saling terkait dan dengan cara itu dia berusaha membuktikan rasialisme anda, seharusnya anda bisa mengemukakan bahwa keadan saling bertaut itu memerlukan beberapa asumsi. Anda bisa menanyakan asumsi-asumis yang dipakai Eman. Sayang sekali hal ini tidak anda lakukan. Anda terlanjur terjebak dalam kemarahan.

Apa akibatnya? Bung NK terlihat begitu mudah untuk ditafsirkan sebagai rasialis secara konsep.

Sekali lagi, bagi saya, bung NK bukan rasialist dalam realitas tetapi ada konsepnya yang membuatnya rentan dituding sebagai rasialist. Bung NK adalah korban dari pepatah tua "mulutmu harimaumu". Anda terlalu terobsesi untuk tampil stereotipe dalam sosok "heroik dalam menyuarakan ketidakadilan negara dan isu-isu sejenis" yang kurang berhati-hati memelihara tutur kata. Cilakanya, kata-kata anda malah memakan anda kembali.

Apa solusinya? Wilmana ada benarnya, belajarlah menerima sahabat apa-adanya. Anda, bung Eman, tetapi terutama bung NK, tidak akan bisa sukses berteman jika selalu memaksakan "kemauan" anda kepada orang lain. Sensivitas dalam komunitas adalah kata kunci penting. Jika di dalam komunitas ada yang sedang kedukaan adalah tidak pantas jika di beranda depan kita memutar lagu-lagu heavy metal bukan?

Akhirnya, Kita boleh saja bertengkar habis-habisan tetapi ingatlah bahwa anda memerlukan teman di blog ini. Lain halnya jika anda menginginkan musuh. Silakan bertengkar sampai "berdara-darah" tetapi sayang tempatnya tidak di blog ini karena di sini aturan dari Bigmike sudah jelas: kebaikan, persahabatan dan kasih sayang (Patrice)

So what? Ulurkanlah jabat erat perdamaian.

Anonim mengatakan...

@ Wilmana,

Posting yang bagus dan saya setuju dengan BM bahwa ini merupakan salah satu posting terbaik anda. Masalah saya ada 2:

1. Mengapa budaya Haji No Bunka tidak bisa dengan mudah dipelajari oleh orang Indonesia?

2. Persis seperti diskusi anda, dosa, agus dll, mengapa terlalu banyak bias jender dalam penulisan PL. Ketimpanahgn ini yang ditangkap oleh Agus ketika dia menyatakan dengan pas, mengapa Allah PL terlihat kejam?

(Patrice)

Anonim mengatakan...

@ All,

Saya mengutip ini dari Okezone.com. Sebuah keluhan dari Timor Barat kepada Australia.

Senin, 08 September 2008 11:05 wib
Masyarakat Timor Barat Bukan Warga Dunia Kelas Tiga
KUPANG - Masyarakat di Timor bagian barat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pulau-pulaunya, bukanlah warga negara dunia kelas tiga sehingga mudah dipermainkan oleh Australia dengan menguasai hampir 85 persen wilayah dasar Laut Timor yang kaya dengan minyak dan gas bumi (migas) itu.

"Masyarakat kita bukan warga dunia kelas tiga, tetapi memiliki kedudukan yang sederajat dengan masyarakat dunia lainnya. Karena itu, Australia jangan lagi menguasai seluruh kekayaan di Laut Timor, tetapi dibagi secara merata demi meningkatkan kesejahteraan rakyat di Timor Barat, Australia Utara, dan Timor Timur," kata Ketua Pokja Celah Timor, Ferdi Tanoni di Kupang, Minggu (7/9/2008).

Tanoni yang juga mantan agen Imigrasi Kedutaan Besar Australia dan Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) mengemukakan pandangannya tersebut berkaitan dengan rencana kunjungan Duta Besar Australia Bill Farmer ke Kupang, pada 9-10 September mendatang dengan menghadirkan kapal patroli Bea dan Cukai Australia. Ditegaskan pula bahwa nelayan tradisional Indonesia yang mencari nafkah di Laut Timor bukanlah pelaku illegal fishing dan tidak pernah melanggar ZEE Australia berhubung di Laut Timor dan Arafura belum ada ZEE yang sah berdasarkan pada perjanjian RI-Australia tahun 1997.

Penulis Buku "Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta, 2008" itu mengatakan, tindakan Australia dengan menguasai 85 persen wilayah dasar Laut Timor yang kaya akan deposit bahan bakar fosil itu sejak 1971-1972 itu tidak benar.

Pada 1979, tambah Tanoni, Australia juga menetapkan secara unilateral Zona Perikanan Australia (AFZ), dan secara sepihak pula menetapkan gugusan Pulau Pasir sebagai cagar alam nasional Australia pada 1989 serta pada 1994, secara sepihak pula mengganti AFZ menjadi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Australia yang diberlakukan di seluruh negeri itu.

"Atas dasar itulah, Australia kemudian melakukan tindakan secara tidak manusia terhadap nelayan tradisional Indonesia yang telah menjadikan Laut Timor sebagai ladang kehidupannya sejak 1609 dan menjadikan gugusan Pulau Pasir sebagai rumah keduanya setelah mencari ikan dan biota laut lainnya di Laut Timor," katanya.

Setelah semuanya itu dilakukan oleh Australia, tambahnya, pemerintah Indonesia seolah didesak untuk menyetujuinya dengan berargumentasi bahwa di dasar Laut Timor terdapat perpanjangan daratan secara alamiah (natural prolongation) landas kontinen Australia dan Palung Timor adalah batas landas kontinen Australia yang memisahkan Pulau Timor dan Benua Australia.

"Padahal argumentasi Australia tersebut sesungguhnya tidak benar dan tindakan yang dilakukan oleh Australia tersebut sama sekali tidak dibenarkan oleh hukum internasional mana pun, karena bertentangan dengan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982," kata Tanoni.

Kunjungan Bill Farmer diharapkan tidak membuai Pemerintah dan bangsa Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Timur dengan bantuan kemanusiaan yang diberikan demi mempertahankan eksistensi Australia atas Laut Timor yang sangat kaya raya ini.

"Kita harapkan bantuan kemanusiaan yang diberikan Australia murni untuk kemanusiaan demi membangun sebuah persahabatan yang sejati dan tulus tanpa ada maksud terselubung di balik bantuan yang bernada dasar kemanusiaan itu," ujarnya.

Apapaun juga yang dilakukan Canberra dan Jakarta,diharapkan tidak mengorbankan hak-hak dasar dan kepentingan rakyat Indonesia di Laut Timor dan Gugusan Pulau Pasir yang berlimpah akan bahan bakar fosil dan hasil laut lainnya,tegas Tanoni.
Menurut Tanoni,Australia harus mengingat kebaikan, ketulusan, kejujuran dan kesetiaan orang-orang di Timor bagian barat NTT yang telah merelakan wilayahnya sebagai "buffer zone" atau zona penyangga Australia untuk menahan laju pasukan Jepang yang hendak memasuki Australia dari arah utara pada masa Perang Dunia II.
"Akibat kesetiaan yang diberikan orang-orang Timor barat buat Australia itulah, banyak warga negara kita harus mendapat siksaan yang keji dari tentara Jepang dan dibunuh pada masa itu. Disinilah Australia harus melihatnya, bukan menjadikan masyarakat kita sebagai warga dunia kelas tiga dengan menguasai seluruh kekayaan di Laut Timor," katanya.

Ia menambahkan, tentara Jepang tidak hanya menyiksa dan membunuh orang Timor, tetapi juga membakar rumah-rumah mereka, mencuri ternak piaraan para petani, merampas hasil pertanian serta memperkosa isteri-istri orang Timor pada saat itu.
Orang Timor yang menjadi korban selama masa Perang Dunia II karena kesetiaannya kepada Australia pada saat itu, kata Tanoni, berkisar antara 40.000-70.000 jiwa, sedang tentara Australia yang tewas hanya tercatat 40 orang saja.

"Ini sebuah ironi. Apakah Australia pada saat itu hanya menjadikan orang-orang kita sebagai 'perisai manusia' (human shield)? Karena itu kita harapkan Australia dapat menggunakan hati nuraninya agar mau bersedia merundingkan kembali seluruh perjanjian antara RI-Australia yang dibuat sejak 1971-1997 secara trilateral bersama Timor Timur secara lebih berimbang dan adil demi kesejahteraan bersama masyarakat di tiga negara itu," kata Tanoni.

Leo
Jalan Perwira 33, Kota Kupang-NTT
YAYASAN PEDULI TIMOR BARAT (YPTB)
(West Timor Care Foundation)
Jalan Perwira 33
Kupang-Timor Barat
Phone/Fax : +62 380 830 191
Email:westtimorcarefoundation@yahoo.com.au(jri)

(DoJ)

Anonim mengatakan...

@Patrice

Teguran santun anda saya terima dgn baik dan kepada anda dan semua yg tidak ikutan menyerang saya rasis saya mohon maaf kalau debat kusir ini menganggu.

Tentang teori yang menghubungankan ras dan budaya haruslah dijelaskan oleh penuduh kepada saya. Sekedar memberi teori yang 'vague' sebagai pembenaran tuduhan agak absurd. Seandainya saya bilang si penuduh gila dan sekedar memberi judul buku sebagai pembenaran, dimana etika baiknya? Ini saya sudah sampaikan didalam komentar saya sebelumnya.

Secara spesifik yg saya gugat adalah budaya korup, tdk tahu malu, feodal dalam konteks keterpurukan bangsa ini. Tp spt yg anda baca, tdk seorangpun bs menyanggah. Sekedar menuduh saya rasialis adalah reaksi org-org kalah. Bukan begitu???

Akhirnya memang betul kata anda dan @wilmana, bahwa persoalan penuduh adalah pd gaya bahasa saya bukan esensi gugatan saya. Kalau saja mereka tegur saya dgn santun, maka saya akan minta maaf tp pilihan mereka adalah menyerang tnp memperhatikan sama sekali esensi gugatan. Sayang sekali.

Terakhir, untuk anda, apakah anda sepakat dgn teori relativisme budaya ciptaan Franz Boaz??? Teori ini adalah pijakan bagi multikulturalisme modern.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@patrice

Selain teori Boaz yg saya tanyakan diatas, saya tertarik dgn statement anda ini:

Apa yang dikatakan oleh Eman ada benarnya, dilihat dari aspek kajian ilmu-ilmu humaniora (kebetulan saya belajar ilmu-ilmu ini). Sementara anda tidak cukup kuat memberikan sanggahan teoritis terhadap Eman. Misalnya, ketika Eman berargumen bahwa rasialisme dan perkembanagn budaya bisa saling terkait dan dengan cara itu dia berusaha membuktikan rasialisme anda...

Baiklah... Anda kutip teori antropologi, dan anda berbidang ilmu humoria. Terus terang saya tdk paham kedua ilmu ini, dus mohon pencerahan.

Apa hubungan ras dan budaya? Apa asumsinya? Dan yg terpenting, apakah hubungan ras dan budaya dalam bidang keilmuan anda itu sah (valid) sebagai pembenaran tuduhan rasialis karena saya menolak relativisme budaya???

Anda pasti tahu etnosentris. Apakah seorang berpaham etnosentris hakekatnya rasialis???

Anda ingin diskusi kami dilandasi semangat persahabatan. Anda beri contoh! Sudilah anda menjawab pertanyaan saya. Terima kasih.

-nyong kupang-

Bigmike mengatakan...

Howdy sahabat blogger,

Ada perkembangan menari di sini. Ada diskusi yang secara perlahan merangkak menuju arah pertengkaran bebas. Saya sudah bersiap-siap memainkan peranan moderasi. Tetapi, saya masih berusaha menahan diri sejenak untuk melihat what's going on tommorow?

Ketika pagi ini saya membuka bigmike.blogspot, ternyata saya tidka perlu berlelah melakukan moderasi karena ada tanda-tanda permasalahan bisa terurai dengan baik. Sahabat-sahabat ternyata mulai mampu mengatur diri sendiri. Terima kasih banyak karena dngan demikian, secara perlahan apa yang saya yakini tentang persahabatan, kebaikan dan kasih sayang mulai menyebar. Selamat untuk sahabat sekalian. Tuhan memberkati

Bigmike mengatakan...

Nah, ada juga yang harus saya sampaikan, yaitu sesungguhnya NK BUKAN/TIDAK RASIALIS. Orang yang di dalam darahnya mengalir DNA yang sama dengan saya ini, beristerikan perempuan manis keturunan orang dari negeri Kung Fu Panda. Rumah tangga mereka rukun-rukun saja. Itu adalah bukti telak dan kuat sebagai petunjuk bahwa NK tidak seperti yang diduga oleh beberapa sahabat di sini.

Persoalan NK adalah khas the RK's yaitu RIBUT KACO. Harus diakui bahwa gaya beginian mudah berubah menjadi bensin pemicu datangnya wildfire yang terkadang membakar hangus apa saja. Saya pribadi berusa keras untuk keluar dari pakem ini dan saya melihat NK juga berusaha kuat untuk itu. Tetapi, dengan meninjam ungkapan cantik dari sahabat Eman, mana ada seorang pelajar tiba-tiba menjadi Einstein?

Mudah-mudahan testimoni saya ini berguna. Mulailah kembali berdiskusi secara terarah agar "bendera" kebaikan, persahabatan dan kasih sayang terus berkibar di langit Ibu Pertiwi.

Akhirnya, secara khusus saya ingin berterima kasih kepada sahabat Patrice. Bukan sekali ini saja sahabat berusaha melibatkan diri dalam fungsi moderasi. Hasilnyapun amat mengesankan. Dua jempol untuk anda.

Anonim mengatakan...

@ NK

.....Tp spt yg anda baca, tdk seorangpun bs menyanggah. Sekedar menuduh saya rasialis adalah reaksi org-org kalah. Bukan begitu??...

Simplifikasi kesimpulan seperti itu lagi-lagi justru akan menyulitkan saudara sendiri. Nanti ada yang bertanya, siapa itu orang kalah? Bagaimana membuktikan bahwa mereka adalah orang kalah. Apa tolok ukurnya orang kalah? Simplifikasi tudahan seperti itulah yang anda tidak terima dari Eman dan Syam. Nah, jangan lakukan seperti itu kepada orang lain. Reaksinya pasti negatif (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Ama memang berjiwa besar. Agak berbeda dari kelakuan beberapa tahun lalu yang ngotot, egois dan keras kepala ha ha ha ha ha. Ama akhirnya mampu melepaskan salah satu beban terbesar di blog ini dan mengakui secara terbuka bahwa NK adalah orang yang dalam darahnya mnengalir DNA yang sama.

Beta pikir, kebaikan, persahabatan dan kasih sayang lebih mudah menyebar jika sikap-sikap positif sepeti itu ikut dikembangkan. Beta mendaftar ikot bagabung dalam rombongan orang berjiwa besar. Ada laen yg mau ikot ko? ha ha ha ha. Shalom (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Wilmana dan Patrice,

Saya selalu kuatir masuk dalam percakapan yang tidak saya kuasai. Tetapi saya merasa sah-sah saja mengajukan buah pikiran untuk mendapat penjelasan atau pencerahan.

Apa yang diungkapkan oleh Patrice memang menjadi buah pikir saya. Mengapa Allah PL terlihat lebih kejam? Mengapa terlalu banyak bias jender dalam penulisan PL/PB dan hampir semua kitab suci.

Kekuatiran saya merujuk kepada statement Dosa bahwa Tuhan adalah konsep manusia. "Manusia yang bekin Tuhan. Bukan Tuhan yang bekin manusia". Kira-kira begitu kasarannya. Saya tidak yakin sama Dosa tetapi harusnya ada penjelasan memadai. Sialnya, saya tidak bisa ha ha ha ha ha (A9ust)

Anonim mengatakan...

Julius
@ Wilmana,

Saya masih agak ragu, apakah betul rasa malu orang-orang Indonesia betul-betul nyaris sempurna. Apa tolak ukurnya? Tolak ukur itupun sebaiknya jangan yang bersifat kasuistik. Bahwa ada kegagalan manajemen pemerintahan harus diakui tetapi bilang bahwa Indoensia sudah nyaris tidak punya malu wah, saya belum berani (Julius)


tanggapan
Ah 'nyaris sempurna' itu pertanyaan dr seorang adik kpd sy. Lalu sy ketemu faktanya mmg begitu. Sy punya data ttg survey praktek Governance (termasuk praktek nilai responsibilitas ini) di Indonesia sejak 2002 hingga saat ini dari angka sempurna 10, Indonesia tdk pernah dapat nilai lebih dr 3. And boleh cek data di situs TI ttg index korupsi Indonesia, nilai Indonesia jg sama sj. Baca jg tulisan bigmike ttg INDONESIAL plus komentar2, disitu ada data Foreign Policy ttg status negara kita yg tergolong negara gagal.

Artinya, dlm kurun 5-10 tahun terakhir, kita semua sdh tau data itu, tp tdk nampak upaya sungguh2 utk memperbaiki diri. Korupsi malah semakin merajalela sejak otonomi daerah diberlakukan. NTT negeri kita itu, yg rakyatnya miskin banget, Pemerintahnyapun msh tdk tau malu utk korupsi jg.

Buat sy, pertanyaan adik sy itu, sungguh faktual. Krn itu dlm konteks otokritik (krn sy msh org Indon jg), sy menguraikan fakta2 terkait pertanyaan itu. Rasa malu ini bkn soal pelanggaran hukum, tp lbh pd moral-etika. Jd, kl kita sdh tdk tau malu lg, mk ini lebih celaka lg dr sekedar pelanggaran hukum.

Fakta kita adalah, byk yg menyadari fakta ini tp 'malu' kl ada org bilang pdnya TDK TAU MALU. Lalu, ada jg yg berusaha tutup malu dg marah-marah, masa bodo, nulis di blog, dlsb.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Patrice
1. Mengapa budaya Haji No Bunka tidak bisa dengan mudah dipelajari oleh orang Indonesia?

2. Persis seperti diskusi anda, dosa, agus dll, mengapa terlalu banyak bias jender dalam penulisan PL. Ketimpanahgn ini yang ditangkap oleh Agus ketika dia menyatakan dengan pas, mengapa Allah PL terlihat kejam?


tanggapan
Pertama, kl anda jeli mk sdh tersedia penjelasannya pd tulisan saya. Responsibilitas itu adalah moralitas. Quid leges sine moribus, apa artinya hukum tnp etik. Sebaliknya, etika tnp hukum akan kehilangan daya pengaruhnya. Problem Indonesia adalah produk hukum yg sekedar sbg alat penguasa utk menindas dan skrg ini jg sekedar hasil 'dagang sapi' di DPR, sbgmn kasus aliran dana BI yg skrg ldg disidang pengadilan tipikor. Hukum tnp etika responsibilitas ini membuat nilai tanggung jawab moril thd tugas dan tanggung jawab yg diemban dg enteng dpt diabaikan oleh pr Pemangku Jabatan. Yg dipikirin oleh pr anggota DPR, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, dst., adalah bgmn menutupi pengeluaran besar di pentas politik dg mengeruk uang rakyat.

OK sy kira anda sdh paham maksud sy.

Kedua, dr catatan percakapan dr posting ke posting di blog ini, sy kira @Patrice lbh tau ttg Alkitab drpd 2A9ust. Krn itu bicara bias jender, mnrt sy bkn cuma monopoli PL, tp PB jg setali tiga uang. Ketika ada pasangan selingkuh ketangkap, yg dibawa menghadap Yesus utk dihukum cuma yg perempuan. Gelar TUHAN mendapat pengesahan dg sebutan Bapa. Paulus melarang perempuan tdk boleh masuk gereja dg rambut dikepang-kepang, dst.

Memahami Alkitab tdk semudah memahami kitab ilmu ekologi karya Prof Otto Soemarwoto. Krn Tuhan memberi inspirasi kpd para Penulis kitab2 dlm PL tdk seperti sy membisiki firman di telinga anda. Krn itu, para teologist lalu menciptakan metode hermeneutika utk bisa menelusuri pesan2 ilahi yg 'tersembunyi' dibalik klaim2 yg dibuat para Penulis kitab2 PL. Menelusuri world of the author, world of the text, dan world of the reader. Utk menemukan subyektifitas si Penulis dlm setiap tulisan dan membedakannya dg logos ilahi yg ingin disampaikan.

Krn itu, atas pertanyaan kok Allah PL terkesan KEJAM? Sy bs maklum krn PL memuat kisah2 seputar pergelutan nation building suatu sekelompok org (yg mengklaim diri sbg umat Tuhan) dlm 'dunia' yg menghalalkan perang. Krn itu, sy setuju dg Prof Wismoady Wahono (alm) bhw kita bisa temukan pesan ilahi dibalik kalah-menangnya org israel dlm peperangan. Bhw Tuhan berkuasa menyatakan maksud-Nya melalui menang-kalahnya org israel itu. Kita lihat bhw kisah peperangan hanyalah 'talang air' bg mengalirnya pesan ilahi yg mau ditujukan kpd pr Pembaca.

Kl anda hanya melihat 'talang airnya' saja, mk yg anda temukan dlm Alkitab paling tdk ada tiga hal: (a) Tuhan PL begitu kejam krn mjd mastermind perang dan bunuh-bunuhan bangsa israel; (b) PL sekedar rekayasa manusia dg fakta bias jender; (c) dan krn itu, Tuhan hanya kreasi pr Penulis PL.

Moga2 bisa dipahami dg baik. Tp sy terbuka utk sharing mengenai ini.

(Wilmana)

@nk
Hati2 dg si Budi. Kl dia marah, anda biasanya org yg plg duluan pucat dan kabur. Sementara KK Look itu pengacara di jkt, S1 hukum Undana dan S2 UI. Cukup toh?

Anonim mengatakan...

@nk

whua...ha....ha. lucu juga e om nk ne. selucu tuduhan om nk bilang beta ne rasis. jujur saja, beta malah baru tahu istilah rasis yang anda sampaikan itu. begini lama yang beta tau rasis itu lebih condong ke penghinaan terhadap perebdaan warna kulit (biasa pandangan orang Amrik yang anda agung-agungkan itu yah seperti itu. He..he). Tapi makasih o... om nk su mau kasih tau pengertian rasis yang lain.

soal tuduhan beta bahwa bangsa Indonesia tidak punya budaya malu lagi, coba saja om nk di depan laptop "toki" keyboard ko ketik keyword budaya malu di Indonesia. banyak sekali yang beranggapan sama dengan saya. Terus apakah mereka semua rasis???? He...He. saya ini selalu berpikir jika banyak yang biang saya rasis yah oke beta terima tapi dari banyak orang cuma om nk sa yang bilang beta rasis maaaaaaaaakkkkkkkaaa.... ada yang salah dengan om nk.. He..He

terimakasih juga buat yang su bersimpati dengan beta... tapi beta su maklum dengan kelakuan bos nk ini.. kalo su frustasi "kena hajar" dari eman, a9ust, budi, dll lalu cari pelampiasan di "orang yang lemah". Ha..Ha. Peace... Damai...


(norman)

Anonim mengatakan...

@a9us

@ NK

.....Tp spt yg anda baca, tdk seorangpun bs menyanggah. Sekedar menuduh saya rasialis adalah reaksi org-org kalah. Bukan begitu??...

Simplifikasi kesimpulan seperti itu lagi-lagi justru akan menyulitkan saudara sendiri. Nanti ada yang bertanya, siapa itu orang kalah? Bagaimana membuktikan bahwa mereka adalah orang kalah. Apa tolok ukurnya orang kalah? Simplifikasi tudahan seperti itulah yang anda tidak terima dari Eman dan Syam. Nah, jangan lakukan seperti itu kepada orang lain. Reaksinya pasti negatif (A9ust)


Anda menegur saya dgn baik dan saya menghargai. Terima kasih.

Tp terlepas dari nuansa bhs, fakta sudah jelas, belum ada yg bisa menyanggah gugatan saya, yg muncul adalah hujatan rasialis. @syamtua misalkan, setelah menuduh saya rasialis dan tdk bisa membuktikan dgn definisinya sendiri toh akhirnya pergi begitu saja dan tdk bs rendah hati untuk mencabut tuduhannya itu. Yang lain pun begitu, menuduh lalu menyuruh saya membuktikan sendiri saya bukan rasialis. Saya masih menunggu jawaban @patrice yg memberi sinyalamen bahwa dari teori antropologi dan humoria, saya bisa saja seorang rasialis. Semoga dia menjawab.

Fakta lain adalah bbrp komentar negatif, teramat negatif, ttg Indonesia tdk menuai protes sedang saya terima badai hujatan. Mengapa? Karena saya melihat keterpurukan bangsa ini dari kacamata budaya lain yg saya sebut unggul. Ini soal yg tdk bs diterima oleh org2 disini. Saya jadi bertanya-tanya, kalau kalian mengomek panjang lebar memberi cap macam-macam kpd Indonesia, apa ukurannya??? "Oh kami lakukan itu tanpa kebencian." Lha, dari mana mereka tahu saya mengomek dgn kebencian??? Kalau beta boleh beking hipotesis, ketepurukan bangsa ini sudah teramat memalukan. Membuat komparasi dgn budaya lain menambah rasa malu dan luka.

Terakhir... saya sudah bilang, berulang-ulang kali, yg saya gugat adalah kebiasaan korup, tdk tahu malu dll dalam konteks keterpurukan bangsa ini. Kalau kalian marah, maka buktikan budaya ini adalah budaya beradab.

@wilmana:

@nk
Hati2 dg si Budi. Kl dia marah, anda biasanya org yg plg duluan pucat dan kabur...


Aaaah yg betul nih? Kalau betul maka:

@budi

Dgn tulus saya mohon maaf kepada anda. Saya tdk bermaksud pukul rata semua budaya melayu anda sebagai budaya kalah, hanya budaya korup dll. Mohon Kanjeng Mas maafkan saya.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@shabat tua Syamsudi:

@ sahabat muda NK,

Maafkan saya karena saya belum bisa mencabut cap rasialist dari anda karena dalam percakapan anda dan Eman, anda sama sekali gagal membantah argumen Eman. Sudah terlalu banyak ungkapan kebencian anda terhadap Indonesia yang tidak mudah dilupakan. Maka saya baru akan mencabut cap saya itu jika:

1. Anda mampu memetahkan argumen Eman secara cerdas dan tidak hanya dengan marah-marah.

2. Anda bersikap lebih rendah hati terhadap budaya Indonesia karena budaya ini tidak lebih inferior dibandingkan dengan budaya barat di mana anda hidup sekarang ini (Syam)

Senin, 08 September, 2008


Saya berharap anda mau berdiskusi di posting ini karena tuduhan anda saya seorang rasialis beserta definisi yg anda berikan ada disini. Definisi anda itu tdk membuktikan saya rasialis dan sepanjang catatan saya anda tdk menanggapinya lagi.

Saya lihat anda bergeser definisi dgn memakai definisi lain. Baiklah. Apa hubungan antara ras dan budaya? Apa asumsi anda? Dan apa keabsahannya sebagai pembenaran saya seorang rasialis? Silahkan anda beri saya pencerahan.

Lagi dan lagi, buktikan kalau budaya korup, feodal, tdk tahu malu yg berperan dalam keterpurukan Indonesia adalah budaya yg beradab. Ingat, secara spesifik saya menggugat budaya jelek ini!

Saya tunggu lho sabahat tua!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@norman

Lebe bae lu pi cari nona di jawa saa tak usa dola-dalih disini! Tp sama deng lu, beta juga kaget karena baru kali ini beta dapa cap rasialis, ha ha ha...

Oke bae... sakola yg batul ooo!!!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@nk

he..he makanya dari awal beta su bilang sonde mau masuk dalam perdebatan cuma mau berkeluh kesah sa ma tau2 om nk langsung sambar bilang beta rasis. makanya sesama rasis dilarang saling mendahului. He..he

(norman)

Anonim mengatakan...

@norman

Lu sante saaa... beta khan su bilang, beta ame peran sebagai 'devil advocate' dgn menggunakan standar definisi yg ada. Syukur lu kaget karena beta ju kaget. Buat beta enggak masuk akal dan beta kira lu ju bagitu. Lu mangarti ko sonde? Kalau sonde, lu pi cari nona saaa mungpung masih muda, kulit muka masi mangkilat, ha ha...

Oke bae... lu pi sakola ko beking apa ko. Lu diwarnet beking abis doi saa.

Salamat

Anonim mengatakan...

wah rupanya semua sudah jadi waras di sini,

memang asyik blog ini, kita semua belajar bertengkar dengan benar! akhirnya semua bisa saling sapa lagi dengan santunnya, dan tidak perlu ada yang menang atau kalah,

sobat sekalian! banyak lho pertengkaran yang hanya menyisakan dendam!! tapi kali ini kelihatannya semuanya sudah oke lagi, kalaupun ada yang menang dialah NK, karna dia sudah mau menyapa para sobat lainnya dengan enaknya! salam!! peace!!

COBA KALAU PILKADA JUGA KAYAK GINI! KHAN GA PERLU ADA KERIBUTAN THO!!!

@ wilmana

saya tidak mengerti maksud anda!
kapan anda pernah lihat saya marah???


(budi)

Anonim mengatakan...

@bigmike

Mungkin perlu postingan baru lagi dech!! biar agak tenang dikit!

kelihatannya pertengkaran sudah mulai keluar jalur!!
Sobat eman, syamtua dan saya marah karna budaya indonesia tercinta dihujat oleh NK,(walaupun mungkin saja NK tidak bermaksud begitu namun penyampaiannya yang arogan itu membuat kami sangan tersinggung)
dipihak lain NK dongkol karna di tuduh rasis, subtansi masalah jadi terpinggirkan, kalau gini ya ga ada habisnya!!!!

oh atau mungkin dikembalilakan saja pada subtansinya!!

salam peace!!!

(Budi)

Anonim mengatakan...

@budi:

@bigmike

Mungkin perlu postingan baru lagi dech!! biar agak tenang dikit!

kelihatannya pertengkaran sudah mulai keluar jalur!!
Sobat eman, syamtua dan saya marah karna budaya indonesia tercinta dihujat oleh NK,(walaupun mungkin saja NK tidak bermaksud begitu namun penyampaiannya yang arogan itu membuat kami sangan tersinggung)
dipihak lain NK dongkol karna di tuduh rasis, subtansi masalah jadi terpinggirkan, kalau gini ya ga ada habisnya!!!!

oh atau mungkin dikembalilakan saja pada subtansinya!!

salam peace!!!


Ketemu lg kita dan semoga kita bs berdiskusi dgn lebih baik. Soal nuansa bhs yg saya gunakan dalam penyampaikan pokok pikiran saya akui tdk semua org bs menerima. Kalaupun ada yg marah saya terima sebagai akibat logis. Tp harapan saya agar mereka yg marah, seperlunya, cepat-cepat kembali pd esensi diskusi.

Sesuai harapan anda, substansi diskusi ini: Apakah kebiasaan korup, tdk tahu malu sesuai tulisan @wilmana adalah budaya beradab. Selain itu saya masih menunggu jawaban @shabat tua dan @patrice.

Itu saja dan sampai jumpa lagi.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ NK

konsekwensi logis dari penggunaan bahasa yang telah menyakiti hati orang adalah minta maaf dong!! bukan malah berharap orang lain mengerti anda dan mengajak kembali ke subtansi!!

begini saja!! saya memulai dengan meminta maaf pada anda karna telah menggelari anda "Orang Gila" ( sebetulnya diawal maksud saya "Gila debat"), selanjut anda balik meminta maaf karna telah membuat kami tersinggung! stuju??

(budi)

Anonim mengatakan...

@ Budi,

Saya mendukung anda. Si NK aneh, dia yang caci maki orang lain kok malah dia yang menuntut permintaan maaf dari orang lain?. Ini hukum aksi reaksi. NK menghina budaya Indonesia, ini aksi. Re-aksi Eman, Budi, Syam adalah, NK disebut rasialist.

Dalam dunia hubungan sebab akibat, NK sudah menerima akibat (reaksi) karena sebab (aksi) yang ditimbulkannya. Oleh karean itu, jika NK mau menerima akibat permintaan maaf maka bikin sebab dahulu dengan cara meminta maaf kepada orang lain.

Semakin aneh, karean kemarin dalam kekalutannya, NK marah ke Norman. Hari ini, setelah ditolong Patrice, malah seolah-olah Patrice punya kewajiban untuk menjelaskan sesuatu kepada NK. Mula-mula minta pencerahan lho lama-kelamaan memperlakukan Patrice sama dengan Syam? Tidak bisakah berterima kasih secara baik-baik? Aneh sekali. Baru saya liat yang begini

(13, NaikotenII)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Beta sidah lama membaca blog. Beta terkesan sekali dan ini hari beta baru berani kasi komentar. Beta anonim saja (13, NaikotenII)

Bigmike mengatakan...

@ All,

Ada problem dengan template yang biasa. Saya membuat beberapa perubahan. Mohon saran

Anonim mengatakan...

@ BM,

Ada perubahan template. Agak sedikit aneh. Mungkin karena belum biasa. Tapi biar saja begini karena ada nuansa baru (A9ust)

Anonim mengatakan...

@budi

@ NK

konsekwensi logis dari penggunaan bahasa yang telah menyakiti hati orang adalah minta maaf dong!! bukan malah berharap orang lain mengerti anda dan mengajak kembali ke subtansi!!

begini saja!! saya memulai dengan meminta maaf pada anda karna telah menggelari anda "Orang Gila" ( sebetulnya diawal maksud saya "Gila debat"), selanjut anda balik meminta maaf karna telah membuat kami tersinggung! stuju??


-----

Rupanya anda tdk membaca komentar saya sebelumnya. Saya copy paste lagi disini: @budi

Dgn tulus saya mohon maaf kepada anda. Saya tdk bermaksud pukul rata semua budaya melayu anda sebagai budaya kalah, hanya budaya korup dll. Mohon Kanjeng Mas maafkan saya.


Anda lalu merespon dgn positif:

sobat sekalian! banyak lho pertengkaran yang hanya menyisakan dendam!! tapi kali ini kelihatannya semuanya sudah oke lagi, kalaupun ada yang menang dialah NK, karna dia sudah mau menyapa para sobat lainnya dengan enaknya! salam!! peace!!

Tp lalu menuntut saya minta maaf lagi. Saya benar-benar tdk mengerti jalan pikiran anda.

@13 Naikoten

Saya mendukung anda. Si NK aneh, dia yang caci maki orang lain kok malah dia yang menuntut permintaan maaf dari orang lain?. Ini hukum aksi reaksi. NK menghina budaya Indonesia, ini aksi. Re-aksi Eman, Budi, Syam adalah, NK disebut rasialist.

-----

Anda pendatang baru, tdk membaca kronologi debat tp sudah berani membuat komentar negatif thd saya. Tahukan anda bahwa budaya anda yg saya gugat adalah budaya korup dll??? Bisakah anda katakan bahwa budaya ini adalah budaya beradab???

All... sampailah saya pada poin ini bahwa tuduhan rasialis hanyalah tuduhan tanpa bukti. Berkali-kali... terlalu banyak... saya minta untuk buktikan budaya korup adalah budaya org beradab. Tidak satupun menjawab. Tp saya melulu dicap menghina budaya Indonesia. Bisa jadi budaya korup adalah budaya org2 beradab sehingga pantas dibela mati-matian.

Apapun cap yg diberikan kepada saya, faktanya adalah Indonesia NEGARA GAGAL. Silahkan baca artikel yg ditulis oleh pemilik blog ini disini!

Semoga nanti kalau amarah didada sudah reda, bacalah artikel itu pelan-pelan dan mulailah berubah karena memberi cap rasialis kepada saya tdk membawa perubahan apapun bagi negara anda.

Begitu saja.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

@ Wilmana,

Tersu terang saya belum mengerti maksud anda dengan talang air. Apakah maksudnya Alkitab hanya sarana bagi datangnya Firman kepada manusia?

Anonim mengatakan...

Uuppss...from A9ust

Anonim mengatakan...

@NK

Anda telah meminta maaf pada saya! itu betul!! tapi dengan motivasi yang berbeda!! yang saya maksud minta maaf dengan kesadaran bahwa anda telah menyakiti hati orang, bukan karena omongan wilmana yang tidak saya mengerti itu!!!

kalau anda tidak mau minta maaf ya tidak apa2, Soal indonesial gagal itu berita basi sama basinya dengan berita tentang budaya "sontoloyo" itu, cuma sayang, sekali lagi anda menunjukan arogansi anda dengan memukul rata kepada semua bangsa ini.

lha kalau semua orang dindonesia dianggap berbudaya korupsi, berarti anda dan seluruh keluarga anda termasuk bigmike, wilmana telah tumbuh besar dan bisa bersekolah sampai ketingkat sarjana karna hasil korupsi SGT yang mantan pejabat daerah itukan??

kalau benar maka saya setuju dengan anda!!!

(Budi)

Anonim mengatakan...

@budi

Logika berpikir anda hampir sama dgn yg lain disini. Ketika saya bicara budaya korup Indonesia diartikan semua org Indonesia berbudaya korup. Saya jadi sadar, mungkin logika berpikir standar org Indonesia. Maaf kalu saya keliru.

Untuk hal yg teramat sepele ini saya tdk ingin membuang waktu menjelaskan.

@wilmana

Saya hanya ingin berdiskusi dgn anda saja. Begini.

Kalau saya duduk-duduk malam mingguan bersama teman-teman disini, lalu diskusinya tentang Indonesia dijamin malam mingguan kita akan terasa hangat. Bbrp waktu lalu seorang sahabat berkata, solusi bagi persoalan Indonesia adalah BOM NUKLIR. Saya teramat terkejut dan mencoba memahami jalan pikirannya.

Teori dia adalah kalau dikasih nuklir maka bisa dipasikan 1/2 bagian penduduk Indonesia mati. 1/2 nya lagi pasti akan bertobat.

Tentu saja ini jgn diartikan literalis. Ini hanya ungkapan rasa frustrasi yg luar biasa.

Didalam debat kami yg lalu, sdr kasih solusi yaitu rekrutmen. Tp dampaknya perubahan terlalu makan waktu, bs jadi 2 sampe 3 generasi, ini pun tdk ada jaminan.

Dalam konteks tulisan sdr, adakah strategi perubahan yg lebih cpt? Apa peran yg bisa dimaikan rakyat dalam proses perubahan ini? Saya lihat rakyat hanya bs mengeluh dan terlalu berharap banyak pd pemerintah.

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Bigmike mengatakan...

@ All

Ada 4 komentar yang TERPAKSA SAYA HAPUS karena jika dibiarkan maka akan mengganggu Misi Blog. Kepada sahaba yang kecewa atas penghapusan itu, saya mohon dimaafkan. Tidak ada niat lain dari saya selain persahabatan, kebaikan dan kasih sayang. Pertengkaran sudah sampai di ambang batas

Bigmike mengatakan...

Bung Eman,

Saya sudah menangkap. NK juga, dilihat dari komentar terakhirnya, juga sudah memahami. Tetapi sahabat juga harus bisa memahami situasi. Mengalahkan diri sendiri demi kebaikan adalah INTI AFORISME KASIH.

Bigmike mengatakan...

@ NK,

Blog ini pasti tidak akan semarak jika NK menghilang. Marah dna pergi untuk sesuatu yang tidak prinsipil sama sekali tidak menunjukkan apa-apa bagi dunia. Saya pernah amat sangat marah terhadap suati sistem dan pergi dari sana karena sistem sama sekali bertentangan dengan hati nurani. Di sana juga nyaris tidak ada manusia lain yang bisa saya percaya. Maka kepergian saya adalah urgen.

Kepergian anda di sini, kali ini, tidak ada urgensinya sama sekali. Sistem masih normal. Lantas, paling kurang masih ada saya yang bisa NK percayai. Maka, untuk apa pergi?

Senyum saja dan santai. CARPE DIEM

Bigmike mengatakan...

@ Wilmana,

Bersiaplah masuk ke dalam kelompok 100's ha ha ha ha ha. Luar biasa. Saya sudah memprediksikannya dari awal melihat potensi "bensin" yang dibawa dalam tulisan ini. Pertanda apa gerangan atas banyak dan sediktinya komentar? Simak ceritera berikut ini.

Waktu kuliah di Bogor dahulu, seorang profesor saya bilang begini: kalau selesai kuliah dan tidak ada pertanyaan maka ada 3 kemungkinan, yaitu:

1. orang SAMA SEKALI TIDAK MENGERTI
2. Orang SAMA SEKALI MENGERTI
3. Orang BARU SAJA MINUM KOPI sekaligus MAKAN KANGKUNG ha ha ha ha ha. Apa maksudnya butir 3 ini?
Begini,

Di kalangan orang Sunda ada kepercayaan bahwa jika anda kepingin tidur maka makanlah kangkung. Tetapi jika kepingin tidak mengantuk maka minumlah kopi. Bagimana jika keduanya dikonsumsi bersamaan? Yang terjadi adalah orang akan BANGUN DALAM TIDURNYA DAN TIDUR DALAM BANGUNNYA ha ha ha ha ha ha

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Saya bisa menerima keputusan dan penjelasannya. Maju terus karena saya lihat total hits blog sudah mendekati 10.000.

@ NK,

maafkan saya sebagaimana saya juga telah memaafkan saudara.

(Eman)

Anonim mengatakan...

@ Wilmana,

Saya ingin mendapatkan pencerahan dari anda tentang budaya malu ini.

Saya membaca sebuah artikel dengan judul "budaya malu dalam bisnis di dunia timur" (http://blog-artikel-menarik.blogspot.com/2008/04/budaya-malu-dalam-bisnis-di-dunia-timur.html)yang ditulis pakar bisnis Bob Widyahartono, MA (bobwidya@cbn.net.id) . Di dalam artikel ini diuraikan bahwa budaya malu (shame culture) merupakan hal yang sangat esensial dalam interrelasi dan harmoni pada berhubungan dengan sesama. Budaya ini akan menghindarkan praktek-praktek kotor dalam bisnis termasuk praktek bertindak di luar batas perikemanusiaan. Sampai di sini, masih normal.

Yang Agak mengejutkan adalah uraian berikutnya, yaitu budaya malu (rinri) berkembang di bisnsis dunia Timur sedangkan di barat, budaya malu tidak ada dalam kamus. Dalam tradisi teori barat, istilah kebajikan, moralitas, sistem nilai dan etika, mengalami keterpisahan pemaknaan (separate meanings) antara individu dan korporat. Lantas disimpulkan bahwa bisnisn dunia timur adalah bisnis yang dilandasi saling percaya sedangkan binis barat didominasi saling curiga.

Bagaimana komentar anda tentang sinyalemen tersebut karena menurut saya, praktek bisnis timur tidak jauh-jauh dari hukum ekonomi juga. Cari untung yang banyak dengan korbanan sedikit. Untuk mempersedikit korbanan maka orang lain, jika perlu, dikorbankan. Itu sebabnya praktek-praktek bisnis timur sering ditumpangi mafia-mafia bisnis. Gejala yang sama yang ada di barat. Lalu, apa makna timur-barat? (Larry)

Anonim mengatakan...

@ All,

Kali ini penghapus milik bigmike bekerja lebih keras dari biasanya. Saya bisa benerima alasannya dan memang itu yng saya harapkan dari BM. Bahkaan, jika sekali waktu komentar saya membahayakan misi blog (wah sekarang sudah ditempel di blog)silakan dihapus.

Yah, kita harus waspada karena seingt saya BM pernah bilang bahwa dia tidak nyaman dengan komen maki-maki di tempat lain maka dia bikin blog ini. Dalam perspektif posting ini, mari kita tingkatkan kesadaran haji no bunka (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Larry,

Disiplin ilmu saya bersifat agak makro tetapi menurut saya bob w tidak begitu tepat. Budaya Timur diwarnai oleh kofucianism sedangakan budaya barat didominasi oleh etos Kristiani. Dua-duanya mengandung harmoni dalam ajarannya. Bukakah huku kasih adalah hukum tentang harmoni? Persoalan ada pada sistem politik, di Timur negara dan raunga pribadi bisa brcampur aduk sedang di Barat, keduanya dipisahkan seara tegas (sekluarisme). Itu saja menurut saya letak perbedaannya (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ A9ust,

Gw seetuju banget ame elo. Nih gw tambahin bahan yang gw copy dari kompas.com

Selama beberapa tahun, 1999-2005, China memang mengalami deflasi panjang. Hal ini menekan para pengusaha untuk mengadakan praktik tidak sehat itu. Daripada barang menumpuk di gudang, lebih baik banting harga. Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi jelas menjadi sasaran yang paling menjanjikan. Akan tetapi, pihak Kedubes RRC, Tan Weiwen, menolak mentah-mentah tuduhan banting harga ini.

Jadi, kita mesti berpaling pada kemungkinan yang ketiga, yaitu ongkos produksi. Menurut observasi seorang teman yang pernah terjun dalam sebuah pabrik di Guangzhou, buruh- buruh tidak memperoleh perlakuan yang layak. Ada peraturan perburuhan yang bagus, tetapi semuanya dilanggar. Buruh dipaksa bekerja lebih dari delapan jam per hari adalah biasa. Tidak ada hari libur, termasuk Minggu. Mereka diberi "hari libur" dua kali dalam sebulan, tapi itu pun dihitung sebagai "izin". Soal gaji memang ada semacam UMR, tetapi itu pun tidak ditaati oleh manajer. "Buruh di China diperlakukan dengan kejam," kata teman saya itu.

Kalau buruh berontak, manajer dengan enteng memecat mereka. Apakah ia tidak risau? Tidak, karena pada saat ini di China angka penganggur sangat tinggi. Menurut angka resmi dari pemerintah, penganggur di China saat ini 4,2 persen, tetapi kenyataannya lebih dari itu, bisa mencapai angka 12 persen. Sebuah lembaga survei pemerintah, The China Urban Labor Survey, menemukan angka setinggi itu untuk kota-kota besar. Begitu pula survei yang dibuat oleh Bank Dunia pada tahun 2002. Misalnya, di Provinsi Liaoning angka itu 17, 68 persen, diikuti oleh Provinsi Helongjiang sebesar 15,43 persen, Tianjin 13,96 persen, Hainan 13,42 persen, Jilin 13.88 persen, Qinghai 12,30 persen, Shanghai 11,99 persen, Mongolia Dalam 11,35 persen, dan Chongqing 10,76 persen. Ini belum menyertakan angka penganggur di pedesaan, yang sekitar 150 juta.

Dengan angka ini saja orang dengan mudah merasa maklum mengapa manajer-manajer itu begitu sewenang-wenang memperlakukan buruh. Ada Serikat Buruh, juga ada Partai Komunis China yang secara formal adalah partainya kaum buruh. Akan tetapi, kedua organisasi itu telah dikooptasi oleh pengusaha. Maka, tidak heran bahwa China saat ini sungguh merupakan "surga" bagi investor asing yang ingin kiprahnya tidak mengalami halangan dari serikat buruh. Buruh dapat dipaksa bekerja berapa jam pun, dengan gaji berapa pun, tanpa santunan apa pun, semua itu tergantung manajer. Ongkos produksi dengan demikian dapat ditekan serendah mungkin.

Dari sisi manajer, murahnya produk China juga dapat diterangkan. Berapa gaji seorang CEO di China? Menurut Tan Weiwen, gaji dari CEO di China lebih rendah daripada CEO di Indonesia. Dikatakan bahwa CEO Indonesia mengantongi rata-rata sekitar 5.000 dollar AS, sementara CEO China cuma seperlimanya, atau 1.000 dollar AS. Perbedaan yang cukup kentara ini pasti memunyai kontribusi pada rendahnya ongkos produksi barang dari China.

AKAN halnya bahan mentah, pengusaha China juga tidak kalah lihai. China sebenarnya negara yang tidak memiliki kekayaan alam melimpah seperti Indonesia. Banyak bahan mentah-terutama minyak-yang harus diimpor dari luar negeri. Namun, China justru dapat mengekspor produk-produk yang ada di Indonesia. Kelemahan Indonesia (baca: korupsi) menyebabkan pengusaha China berhasil mendapatkan bahan mentah murah dari Indonesia, lalu setelah melewati pemrosesan, dikirim lagi ke Indonesia.

Nah, ketahuan kan bahwa harmoni gaya timur kadang-kadang tidak lebih topeng untuk menutup kelicikan mereka. Jadi nggak Timur-Barat deh. Mau nipu ya nipu ajahh. Gitu broer(Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Tempale ini juga kayaknya asik juga. Tapi warna huruf di link tautan jangan ijo gitu dunk. Jadi enggak jelas (Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Suprise dengan tampilan baru. Sayang masih standard BS. Cobalah sekali-sekali pilih tempalte yang disediakan 100pixel atau bravenet dll. Banyak yang gratisan lho. AGak lama saya tidak mengunjungi blog. Maklum penyesuaian diri dengan ritme puasa. Perkembangan blog saya lihat bagus tetapi pertanyaan saya cuma 1. Mengapa ya orang Kupang gampang bertengkar. Udah begitu susah banget damainya. Jutek-jutekan (PM, Kuningan)

Anonim mengatakan...

Wah posting yang menarik tp kok pd ribut ribut sih? Saya jadi pengen ksh humor ini. Semoga bs membuat anda sekalian tersenyum sejenak:

Pada 10 dasawarsa terakhir, di Eropa tepatnya di Jerman diadakan lelang otak sedunia. Pada lelang tersebut dipamerkan dan dijual otak-otak manusia dari seluruh dunia. Seluruh Negara didunia mengirimkan contoh otak di tempat lelang tersebut.

Dari sekian banyak otak yang dipamerkan dan dijual di tempat tersebut ternyata hanya tiga Negara yang meiliki otak termahal di dunia yaitu Jerman, Jepang dan Indonesia.

Seorang pengunjung menanyakan alasan kenapa otak orang Jerman menjadi yang termahal ? Petugas ditempat itu menjawab, karena otak orang Jerman sudah mampu menciptakan teknologi tertinggi dibidang kesehatan dan transportasi.

Pengunjung lainnya juga bertanya mengapa otak orang jepang juga menjadi yang termahal? Petugas menjawab lagi, karena otak orang jepang sudah bisa menciptakan teknologi robot dan arsitektur modern.

Selanjutnya pengunjung juga penasaran kenapa otak orang Indonesia juga yang termahal di tempat lelang yang berstandar Internasional itu? Sekali lagi petugas menjawab, “Oh kalau ini mahal karena, masih baru didapatkan, asli dan jarang dipakai!”.

Salam - "Rob"

Anonim mengatakan...

@ Rob,

Joke ini adalah joke kuno yang sudah diketahui banyak orang. Oleh karena itu, saya duga anda mempostingnya di sini bukan sekedar suatu joke tetapi anda ingin menghina Indonesia. Tidak apa-apa. Kami sudah biasa dihina. Dahulu oleh Belanda. Habis itu, Jepang. Belanda lagi. Dan yang terakhir, bukan saja dihina tetapi dikhianati oleh Australia dalam kasus Timor-Timur. Jadi, penghinaan itu barang biasa. Kalam saja.

Cuma, saya mau bilang bahwa dalam situasi mutakhir blog ini, saya anggap joke yang bagus dari anda ini salah tempat. Analoginya seperti ini, hidangan lezat dari McDonald yang diletakan di atas jamban.

Nah salah satu joke sejenis adalah begini, harap disimak oleh Rob:

kemaren saya pergi ke pasar Inpres Naikoten I, Kupang. D sana saya menemukan orang menjual obral otak-otak manusia. Harganya murah sekali, Saya tanya, kenapa harga otak ini begitu murah? jawab penjualnya: mau beli otak na beli sa sudah jangan tanya-tanya. Otak ini diobral murah karena sejak kemaren tidak laku-laku. Kenapa ko susah laku? Andia sudah ni kawan, soalnya ini adalah otak dari orang-orang yang suka menghina ras orang lain, budaya orang lain, dan otak orang yang cepat ngambek kalau kalah diskusi. Kalo bu mau beli na bu kasi 5000 rupiah sa nanti beta kasi 3 sekaligus. Aweeeeeee.....ha ha ha ha (John, Oemasi)

Anonim mengatakan...

@ Eman,

Komentar itu saya persembahkan kepada anda. Saya bersimpati dengan keteguhan anda.

@ Bigmike,

Komentar itu juga untuk anda karena saya berani bersaksi bahwa otak Indonesiamu itu bukan otak murahan. (John, Oemasi)

Bigmike mengatakan...

@ WILMANA,

Selamat, untuk anda karena masuk dlam klub 100-an. Psoting ini memang sudah bagus sejak awal.

@ All,

Ada 2 jok di atas. Biarkan joke tetap sebuah joke. Hanya untuk ditertawakan dan tidak usah diambil hati. OK?!

Saya mau tidur siang-sore dahulu...uuuuuaaaaaappphhhhhh....hhh...

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Enak bener ya tinggal di kampung halaman nan kecil. Di dekat kantor nih, semua jalur pada padet, merayap dan macet. Nanti balik Bogor, jam 8-9 malam baru nyampe. Waktu kecil di Kupang, papa mama maen perintah kitong anak-anak harus tidur siang. Nggak tidur kena cubit ha ha ha ha. Sekarang pengen tidor siang sonde bisa. Aduh, kapan rasa lagi eee nikmatnya tidur siang. Shalom (Jodi, Bgr)

Anonim mengatakan...

@ BM dan Jodi,

Paling menyiksa dalam bualn puasa justru waktu udah deket-deket buka puasa. Adzan magrrib sebagai tanda pembuka terasa lamaaaaaaaa banget. Makanya ada tradisi ngabuburit. Nah, ngedengerin orang tidur siang padahal kita di kantor nunggu bubaran + buka puasa waaaahhhhh...godaan juga tuh he he he he. Ya, udah BM, selamat tidur siang yach....(PM)

Anonim mengatakan...

@John

Bung pung analogi tuh hanya beking katong org timor malu sa. Kalu omong jang hanya pake mulu sa tp pake akal sadiki bae. Ini macang ke org sonde sakola sa ee.

Kalau McDonald ditaro di jamban, pasti saja jadi bau. Son ada yg mau makan toh. Sama halnya deng ini. Kritik bae bagi manusia inferior diterima sebagai hinaan.

Bung BM, komentar ini beta persembahkan untuk anda. Humor bung terima sebagai humor. Jang iko kebiasaan puruk.

-late commer-

Anonim mengatakan...

Ada satu yg ketinggalan.

Beta cuman mau kas tau sa, sonde samua org timor satu tipe deng @eman, john dkk. Katong satu suku tp pendapat beda.

-late commer-

Anonim mengatakan...

@ Late comer,

Beta mungkin lebih lama dari ama hadir di blog. Karena ketika boss blog mulai mendesain blog, dia hanya bekerja berjarak 1 meja komputer dari tempat beta karja. Beta diam-diam maloi apa yang BM bikin. Beta catat nama blog dan ikuti semua percakapan di sini. Sekali-sekali beta ikot nimbrung. So, beta hafal semua kelakuan "pelanggan" setia blog.

Late comer, you are NK. Sebenarnya bt mau kadeluk seng lu ma beta kuatir lu pung kaka mabok mangamok seng kitong ha ha ha ha ha.

Tapi karena lu pung otak sonde ke lu pung kaka pung otak, maka mari ko beta terangkan baek-baek arti analogi itu. Makan enak itu adalah analogi untuk lu pung joke yang bagus. Jamban adalah analogi bagi situasi blog yang relatif masih panas gara-gara lu deng eman dong baame rame ke orang mabok di sini. Ontong ko lu pung kaka turun tangan. Situasi masi panas lu su macam-macam lai.

Maka arti analogi itu adalah, biar lu pung maen gila tu baek tapi karena situasi masih kurang enak maka lu pung maen gila jadi sonde ada harga. Bahkan berbahaya. Itu sama ke lu pi putar lagu ba dansa di rumah keluarga yang baru tadi sore ada yang meninggal. Jadi, ini soal rasa-rasa sa.

Nah, untuk mengarti yang begitu sa lu su tasala karmana ko kitong parcaya lu omong topik yang besar-besar? Andia ko beta saran, adik NK, minta balajar bae-bae di pemilik blog yang tartau dapa ilmu dari mana ko pintar mamati baca situasi terus menerus. Begitu ko boss?????? ha ha ha ha ha ha.

Tapi, beta setuju dengan bigmike. Biarlah joke tetap sebuah joke. Hanya untuk ditertawakan, Ni beta katawa ni ha ha ha ha ha (John)

Anonim mengatakan...

CK.. Ck.. CK..(sambil gelenG2)

guanas guuuaaanasss! kalah debat lantas berangan-angan orang sak negara mau di nuklir!
yang kayak gini kok ngaku budaya unggulan! wueleh. wwueleh!!

aduh!! pak!! pak!! he bapak yang diatas saya, siapa ya ini?? oh pak jhon !ini kepala saya pak!, jangan diinjak dong!!

pak jhon, anda itu kok pinter bikin joke sambil nyindir sobat NK?? belajar dimana pak!! biar saya ikutan! saya tunggu lho pak!!

(BUDI)

Anonim mengatakan...

@John

Adoooooh bung eee, terima kasih su mangaku. Beta kutip, "JADI INI SOAL RASA SO." Kalu begitu kanapa sonde togor @nk lurus-lurus dar awal? Kanapa musti dola-dalih pake teori ini itu hanya sekedar tutup amarah dan kebencian?

Jadi su jelas to. @nk pung esensi sonde sala. Katong yg 'jamban' aka 'berduka' andia ko McDonald sonde pas taro dijamban, lagu dansa sonde pas di org mati. Beta pung analogi juga pas. Kritik sonde pas buat org inferior yg hanya ada rasa.

Be kas tau sa, laen kali, kalau ada yg salah bhs lgsg togor jang putar bilang si A menang diskusi, si B kalah dan macam-macam. Ini kebiasaan sonde bae.

-late commer-

Anonim mengatakan...

@ Jhon

eh pak jhon! anda kok bisa bilang @late comer itu @NK sih?? apa baunya sama ya?? coba saya juga mau ikut ngendus!! huuuuupp!!

lho kok baunya @late comer kok mirip2 bau nya @ Rob ya?? gimana nih pak jhon??
(budi)

Anonim mengatakan...

@ NK,

Dari awal beta sonde sembunyi identitas. Undana terletak di kampung yang namanya Oelnasi atau Oelamasi menurut lafal Timor-Semau tetapi dalam lafal Timor-Amarasi akan berbunyi Oemasi. Lu mangaku orang Kupang ma sonde tau karmana ni? Lu tau beda Oeba deng Fatubesi ko sonde? Kalo sonde na jang mangaku nyong kupang.

Beta pung identitas beta sukas tau waktu posting tentang pilgub. Beta su bilang kawan satu kantor tapi beda aspirasi dengan BM. Lu paya oooo. Kurang akurat. Mau jadi penulis yang baek, akurasi informasi penting. Kalo sonde, yang ada hanya omong kosong sa. Begitu suda eee. Lama-lama kitong dua lagi yang baame. Beta malas ha ha ha ha

Anonim mengatakan...

@John

Pilihan bung untuk sonde dolah-dalih beta hargai tinggi-tinggi. Kalau son ada esensi yg bs dibantah lebe bae diam.

Beta kira yg laen harus belajar dari bung. Bukan apa-apa ma bet lia org jawa dong ("pm") su ada tanya kapana org kupang suka bakalai. Untung bung dkk sonde pi mara deng lia karena dia bilang 'org kupang.' Apa dia mau bilang bung pung ba'i, nenek, bapa mama ju suka bertengkar? Khan sonde toh!

Soal nama dll, bukan esensi. Bung mau beta jadi tuan allah ju bae. Bung mau bilang be batu kayu ju bole. Ini debat basi tak usa diulang-ulang. Tp bung tau to org kupang bilang, 'kalau lu jual, beta beli.'

Bagitu saaa... semoga bung menikmati hari baru yg Tuhan su kasi buat katong samua.

Syalom!

-late commer-

Anonim mengatakan...

@wilmana

Selamat! Komentar sudah diatas 100. Keep it coming baby, yeeeaach!

-nyong kupang-

Anonim mengatakan...

A9ust
Tersu terang saya belum mengerti maksud anda dengan talang air. Apakah maksudnya Alkitab hanya sarana bagi datangnya Firman kepada manusia?

Kurang lebih begitu. Lbh tepat lg Alkitab itu satu paket sistem drainase, talang air plus airnya sekalian. Krn itu membaca Alkitab hrs mampu memilah mana yg talang air, mana yg airnya. Apalagi subyektifitas Penulis sangat kental di situ.

Larry
Lantas disimpulkan bahwa bisnisn dunia timur adalah bisnis yang dilandasi saling percaya sedangkan binis barat didominasi saling curiga.

Beta setuju dg anda. Di mana-mana bisnis sama saja. Saling percaya dan saling curiga selalu ada, hanya proporsinya sangat situasional. Kadang percaya, kadang curiga, tdk peduli di timur ato di barat. Itu artinya, seharusnya semua bisnis punya etika utk meredam nafsu homo homini lupus. Jadi dlm berbisnis itu, mjd jelas apa moralitas dr setiap keputusan bisnis yg dibuat.

Soal budaya malu, di mana-mana jg ada, tdk peduli di Timur ato Barat. Anda nonton film Nuts. Ada kepala lembaga psikiater negara, mundur dr jabatan karena rekomendasinya mengenai satu tersangka pembunuhan sadis, ternyata keliru. Dia ngotot bhw si tersangka gila dan harus masuk RSJ seumur hidup dan tdk perlu mengikuti proses peradilan. Dlm pra peradilan, pengacara berhasil meyakinkan Hakim bhw tersangka tdk gila tp korban KDRT yg membela diri dan krn itu layak ikut proses acara pidana di pengadilan. Pengadilan ahirnya memvonis tersangka bebas. Si psikiater malu dan tnp disuruh, mundur dr jabatannya.

CEO Citigroup dan para direksi lainnya, awal tahun ini mundur dr jabatan krn kasus kredit perumahan yg menggoyang ekonomi amerika. Setahu sy, di barat sdh barang biasa tuh.

@All,

Mhn maaf sy kena flu berat 2 hr ini shg br OL skrg.

Ahirnya mmg cuma bigmike yg bs menyadarkan @eman vs @nk. Memang, begitulah kl org kupang sdh tersinggung. Saking ngototnya, sampe lupa diri. Asik bertengkar di pinggir jalan tak peduli jd tontonan byk orang.

Pdhl masalahnya sepele sj. Ada stetmen yg terkesan menghina budaya bangsa Indonesia dan ada yg tersinggung dg gaya sarkatis itu.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

@Budi

Sorry, saya cuma pinjam nama anda utk nakut2in si NK. Jgn gusar, yah..

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

NK
Dalam konteks tulisan sdr, adakah strategi perubahan yg lebih cpt? Apa peran yg bisa dimaikan rakyat dalam proses perubahan ini? Saya lihat rakyat hanya bs mengeluh dan terlalu berharap banyak pd pemerintah.

tanggapan
Tidak ada jalan lain, kecuali revolusi. Tp anda kan tau, revolusi selalu makan korban berdarah dan nyawa yg banyak. Peran rakyat yg berada pd posisi lemah, tentu terbatas. Misalnya pada pilkada, jgn pilih yg brengsek. Inipun sulit diwujudkan krn bg rakyat yg lapar, duit sogok para calon sangat dibutuhkan. Tp msh ada jln lain, kebebasan pers yg menunjang media massa utk bebas menyuarakan keterbukaan, menguak tirai ketertutupan. Msh ingat kata2 Jeremy Bentham, kan? Lalu diikuti dg penegakkan hukum.

Itu saja.

(Wilmana)

Anonim mengatakan...

Rob
Selanjutnya pengunjung juga penasaran kenapa otak orang Indonesia juga yang termahal di tempat lelang yang berstandar Internasional itu? Sekali lagi petugas menjawab, “Oh kalau ini mahal karena, masih baru didapatkan, asli dan jarang dipakai!”.
_____________

Apakah joke di atas itu penghinaan? Maybe Yes maybe No.

Manusia tipe inferior biasanya tersinggung krn merasa terhina dan lalu ngajak berantem. Tp mental baja biasanya cuma cengengesan sj dibilang begitu. Nah bg yg superior, malah terangsang utk membuktikan bhw itu cuma mitos, lewat perubahan2 ke arah lbh baik.

Kl saya sih, liatnya otak org Indonesia itu bukan tdk pernah dipakai, malah kebanyakan dipakai utk menciptakan trik2 ngakalin hukum. Jadi meski perbuatannya sdh jelas2 tdk patut, tp dianya anteng2 aja krn ukurannya logika dan hukum formal, bukan budaya malu. Cthnya, masalah Lapindo Brantas itu. Ada lembaga asing memberi award buruk pd PT Lapindo Brantas, malah Petingginya marah2 krn dianggap menghina. Alasannya mereka tdk pernah melanggar hukum di Indonesia.

Wkt baca berita ini kemarin, sambil berbaring istirahat gara2 flu, sy jd ingat pertengkaran @NK versus @Eman di blog ini. He he he... Ada2 saja...

(Wilmana)