Rabu, 08 Maret 2017

pornografi kemiskinan

sebuah tulisan lama, tahun 2005, yang membuat saya merenung pagi ini. Seberapa kayakah saya? Hal ini karena saya aharus menjawab seorang teman yang mengira saya hidup berkelimpahan dan memiliki sumberdaya tak tanpa batas. Di balik semua yang terlihat ternyata anugerah Tuhan perlahan mencukupi saya. Amin

Dalam tulisan tua ini, beberapa nama telah "usai". Bapak Piet A.Tallo telah kembali ke pangkuan Penciptanya dan bapak SBY telah lengser keprabon. Kembali menjadi warga biasa dengan segala pernak-perniknya. Entah anada menikmati tulisan ini atau tidak tetapi saya menikmatinya.



Pornografi Kemiskinan? So What Gitu Loh
   
Di bawah judul berita: Marak Penjiplakan Penelitian di NTT (Timex, 26 Juli 2005) terbaca uneg-uneg Bapak Gubernur NTT tercinta tentang gejala dalam dunia penelitian di NTT. Banyak hal yang dapat dikemonetari dari pernyataan Mo Mone Ru Ketu Pudi (sabu = baitua berambut putih) tetapi hal yang paling menarik perhatian penulis adalah pernyataan tentang PORNOGRAFI KEMISKINAN. Dalam konteks acara ketika sambutan tersebut disampaikan, dapatlah diperkirakan bahwa beliau sedang gusar. Perhatikan pilihan kata pornografi. Suatu pilihan kata yang bernuansa sangat muram. Entah mengapa beliau marah. Mungkin karena beliau merasa ada semacam dramatisasi data tentang kemiskinan di NTT. Entah pihak mana yang tega-teganya merndramatisasi kemiskinan NTT tersebut. Karena tanpa klarifikasi lebih lanjut, maka biarlah penulis menduga bahwa dramatisasi data kondisi kemiskinan di NTT terhadap data-data kemiskinan di NTT yang dihasilkan oleh peneliti-peneliti. Data tersebut kemudian dikutip oleh pengguna menurut selera masing-masing. Dugaan ini sudah barang tentu karena momentum pernyataan beliau adalah pada saat kegiatan yang berkaiatan dengan penelitian.  Sebagai dugaan maka peluang benar 50% dan peluang salah 50% juga. Biarkan saja. Peluang benar akan mendekati 100% jika pernyataan di atas bersifat lengkap dan tidak menyisakan ruang bagi penafsiran-penafsiran yang bisa berkembang meliar. Apapun, Pak Gubernur kurang senang. Mungkin, banyak penelitian yang kelewatan mengekspos kemiskinan masyarakat di NTT sedemikian rupa sehingga  kata NTT identik dengan kemiskinan. Rakyatnya miskin. Gubernurnya miskin. Bupatinya miskin. Walikotanya miskin. Kepala Dinas Pendidikan Nasional miskin. Murid lama dan baru miskin. Orang tua murid miskin. Pemilik Mall Flobamora miskin. Boss LSM PIAR miskin. Wartawan Timor Express miskin. Rektor Undana miskin. Anggota senat Undana miskin. Dr. Yusuf L. Henukh miskin. Rektor Universitas PGRI, Universitas Kristen Artha Wacana miskin. Eh iya, supaya adil, penulis artikel ini juga miskin. Pokoknya miskiiiinnnn. Lalu, NTT adalah akronim dari Nusa Tenggara Termiskin. Kaciaaaannn deeeh luuuu. Sampai di point ini, mungkin ada sidang pembaca yang ingin mengajukan protes, terminologi apa-apaan nih. Jadi orang kok ya suka aneh-aneh. Jawab saya: sonde boleh aneh-aneh ko?. Pak Gub sa boleh aneh kok. Mau bukti? Silakan periksa di kamus-kamus, sampe bongkok enggak bakalan ketemu dengan istilah pornografi kemiskinan. Pornografi ada artinya. Kemiskinan ada artinya. Pornografi kemiskinan?. Lantas, pertanyaannya adalah: so what gitu loh?  Atau kalau meminjam ungkapan syair lagu group band anak muda Peter Pan yang kondang amat akhir-akhir ini: ada apa dengan mu. So what gitu loh adalah ungkapan aneh anak muda ibukota Jakarta, yang biasanya kemudian menyebar keseluruh penjuru Indonesia, yang kira-kira maksudnya adalah: kalau begitu mau apa lu. Sedangkan judul lagu Peter Pan kurang lebih sama maknanya dengan: akurang ini orang satu ni.  Dalam konteks pernyataan Gubernur NTT, ke dua idiomatik anak muda ini diletakan sebagai berikut.  Kalau penelitian membuktikan bahwa NTT miskin maka so what gitu loh. Apa sih masalahnya? Lantas, jikalau Gubernur NTT marah karena ada hasil penelitian yang demikian, dan itu dinyataan sebagai pornografi kemiskinan maka ada apa dengan mu Pak Gub? Ada apa dengan mu wahai peneliti. Dan akhirnya, ada apa dengan mu wahai kemiskinan.
---***---
Hal pertama yang harus dipertanyakan adalah penelitian seperti apa yang membuat Pak Gub marah. Bagimana kerangka pikir penelitian tersebut. Bagaimana perumusan dan pernyataan masalahnya. Bagaimana hipotesis kerjanya. Bagaimana metode penelitiannya. Apa parameternya. Bagaimanan defenisi kerja dari peubah-peubah yang diukur. Bagaimana cara pengamatan respondennya. Sensus atau sampling.  Jikalau data didapat melalui sampling maka bagaimana metoda samplingnya. Cukupkah ukuran populasi sampling. Bagaimana pengolahan datanya dan seberapa signifikan angka-angka hasil penelitian tersebut. Jawaban yang jelas tentang rangkaian pertanyaan di atas akan merupakan cara menjawab yang baik terhadap pertanyaan: so what gitu loh dan ada apa dengan mu tadi. Sayang sekali, dalam berita di timex tidak ada elaborasi sama sekali tentang hal itu sehingga sidang pembaca dibiarkan sesuka hati menafsir berita yang tersaji. Dalam tafsiran sesuka hati, biasanya dan sekaligus jeleknya, tidak bisa dibedakan mana yang fakta dan mana yang imaji.  Hal ini jelas menyesatkan.  Harus selalu diingat bahwa penelitian dapat dikerjakan oleh banya orang tetapi penelitian ilmiah yang taat asas metode keilmuan hanya dapat dikerjakan oleh mereka yang betul-betul ahli.
---***---
Hal berikut, adalah tentang kemiskinan itu sendiri.  Apa dan bagaimana kemiskinan itu. Suatu kata yang mudah diucapkan tetapi ketika diukur menimbulkan perdebatan yang panjang.  Mirip kata cantik.  Ada cantik wajah, kebanyakan artis dan selebritis memenuhi persyaratan ini.  Ada pula cantik hati. Nah, yang ini belum tentu.  Demikian halnya dengan miskin. Ada yang miskin harta tetapi kaya rohani.  Sebaliknya, ada orang yang kaya harta benda tetapi miskin rohani. Penah anda mengenal kata Raskin. Iya, itu sudah, beras untuk orang miskin, Berasnya yang miskin atau orang miskin yang perlu beras? Jika ada raskin maka apakah ada Rasya (beras untuk orang kaya?).  Sesudah membongkar semua berkaberkas koran lama dan baru, tak kelihatan juga kata ini.  Mengapa untuk orang miskin ada berasnya sedangkan orang kaya tidak. Jangan-jangan tagal barang beginian makanya orang malu untuk disebut miskin. Bagaimana jika orang yang kita sebut miskin lantas makan berasnya orang kaya. Apakah dia lantas menjadi orang kaya.  Sebaliknya, apakah orang yang makan beras untuk orang miskin berarti dia menjadi orang miskin? Puyeng Bosss.  Kapala sakit.  Sudahlah. Setop barmaen gila. Sekarang saatnya sedikit serius.
Ada pakar yang menyebutkan kemiskinan sebagai kegagalan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Petanyaannya adalah yang dimaksudkan dengan kebutuhan dasar itu apa. Dalam kebanyakan pustaka lama kebutuhan dasar selalu diidentikkan dengan sandang, papan dan pangan. Di era postmo  sekarang ini, kemiskinan seperti itu harus juga meliputi sesuatu yang tidak bersifat ragawi. Itu sebabnya, orang tidak hanya berbicara tentang kurang makan tetapi sebagai tolok ukur kemiskinan tetapi juga sikap moral. Alkisah, ada dua orang peneliti, yaitu Gunawan dan Sugiyanto (2003) yang mengutip Suharto (2002), (ini bukan mbah Harto yang dedengkot ORBA yang jika dilihat dari duitnya pasti tidak tergolong miskin), menggolongkan kemiskinan ke dalam 3 aras, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan struktural dan kemiskinan sosial. Selanjutnya Gunawan dan Sugiyanto mengelaborasi 3 tingkat kemiskinan tersebut ke dalam 3 kategori pengamatan kemiskinan, yaitu: kemampuan dalam  memenuhi kebutuhan dasar, kemampuan dalam pelaksanaan peranan sosial dan kemampuan dalam menghadapi permasalah atau tekanan ekonomi dan non-ekonomi. Khusus pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar maka 3 hal harus ditinjau, yaitu pengeluaran keluarga, human capital dan security capital. Dalam meghitung pengeluaran keluarga, kedua orang peneliti ini menggunakan standar garis fakir miskin (GFM) yang dibuat oleh BPS, yaitu sekitar 90-an ribu rupiah per bulan per kapita. Di bawah garis ini, orang dikatakan miskn dan di atas GFM orang dikatakan tidak miskin.  Akan tetapi jika angka-angka tersebut diperoleh maka angka pengeluaran responden baru memberi indikator tentang status kemiskinan absolut, khusus pada aras pengeluaran.  Human capital dan security capital belum termasuk di dalam angka itu. Termauk di dalam kelompok human capital antara lain, tingkat pendidikan. Termasuk security capital, antara lain, ketersediaan rumah. Di luar hal-hal tersebut, ke dua peneliti juga berbicara tentang parameter kemampuan pelaksanaan fungsi sosial dan daya resisten terhadap persoalan, baik yang bersifat ekonomi maupun non-ekonomi. Ternyata, atau kata pelawak Srimulat nyatater,  mengukur kemiskinan tidak sesederhana yang dibayangkan. Rumit. Sungguh rumit. Macam-macam parameter dan variabl yang dipakai. Lantas, data penelitian macam mana yang membuat Gubernur NTT resah dan gelisah (kayak lagunya Obbie Messakh), lantas timbul gusar: hey, jangan ada pornografi kemiskinan di NTT.
---***---
Penulis bukan seorang poverty specialist.  Namun demikian, ada 2 kasus yang ingin dirujuk oleh penulis untuk memberikan bukti bahwa kemiskinan merupakan kata yang mudah terucap tetapi begitu nisbi ketika diukur. Ketika melakukan penelitian untuk  keperluan penulisan Disertasi dalam dalam  Bidang Ilmu Kehutanan penulis sangat terpaksa untuk memahami aspek-aspek pengeluaran dan perilaku sosial masyarakat pengguna api.  Disebut terpaksa karena miskinnya pengalaman penelitian dengan menggunakan metode-metode sosial ekonomi (sosek). Akan tetapi, apa boleh buat, karena perintah promotor maka dikerjakan juga dengan banyak membaca dan berdiskusi dengan kawan-kawan yang ahli dalam penelitian sosek. Ketika itu, pertanyaan dalam perumusan masalah adalah mengapa orang membakar dalam praktek bertani secara tradisional.. Melalui beberapa kajian kepustakaan, penulis memutuskan untuk merumuskan hipotesis bahwa petani savana di Timor membakar karena api merupakan bentuk substitusi tenaga kerja dan pupuk, selain karena alasan budaya.
Belakangan, setelah melalui pengujian statistik tertentu, semua hipotesis tersebut diterima. Akan tetapi bukan itu yang terpenting dalam kaitannya dengan judul tulisan. Dari total 35 responden yang diamati secara sangat perlahan selama 1 tahun lebih di dapat angka rata-rata pendapatan responden jauh di bawah GFMnya BPS. Artinya, rata-rata petani responden di Ekateta adalah orang miskin. Akan tetapi anehnya, orang-orang yang dikatakan miskin ini rata-rata memiliki lebih dari 5 ekor sapi dan banyak lagi hewan ternak lainnya. Bahkan, beberapa di antara mereka memiliki lebih dari 10 ekor sapi. Apakah mereka miskin?  Hampir semua rumah mereka terbuat dari bahan-bahan sederhana, nyaris tanpa bahan atap seng. Dinding terbuat dari bahan bebak. Kebanyakan anak-anak tidak disekolahkan lagi begitu mereka menamatkan pendidikan sekolah dasarnya. Salah seorang responden mengatakan demikian: pak, dari pada buang uang kasi sekolah anak lebih baik kasi sekolah sapi sa. Akan tetapi rata-rata responden tetap dapat memainkan fungsi sosial mereka, baik sebagai orang tua dan kepala kelurga maupun sebagai anggota dan tokoh masyarakat. Selain itu, selama dua tahun meneliti di Ekateta, tidak pernah tercatat ada orang Ekateta yang tercekam oleh persoalan-persoalan ekonomi dan ancaman lingkungan. Tidak ada orang yang tecatat mati karena kelaparan. Jika  lahan orang Ekateta dikategorikan dalam kelas-kelas kemampuan lahan seperti dalam buku-buku teks, maka hampir pasti semua lahan mereka tergolong lahan kritis. Tetapi ketika ditanyakan apakah pernah terjadi longsor besar? Apakah pernah terjadi, rumput tidak bisa tumbuh? Apakah pernah terjadi, jagung dan palawija tidak bisa tumbuh sama sekali?. Jawabnya pasti: tidak. Lantas, fakta seperti ini mau dikomentari seperti apa. Apakah mereka miskin? Untuk sebagian parameter, jawabnya hampir pasti iya. Tetapi untuk parameter lainnya, mungkin tidak. Lantas, data macam mana yang membuat Bapak Gubenur NTT marah dan melontarkaan ucapakan pornografi kemiskinan?
Kasus lainnya merujuk kepada pengalaman hidup sehari-hari penulis sendiri. Penulis  adalah dosen PNS golong III. Isteri penulis, Ir. Dolly F.S. Riwu Kaho-Ballo, M.Si.,  adalah juga PNS  bergolongan III. Pejabat eselon IV bahkan. Coba pula perhatikan bahwa yang bersangkutan bergelar mentereng sebagai pertanda bahwa tingkat pendidikannya sangat tinggi. Pendapatan bulanan kami, lumaya besar. Belum ditambah rejeki di sana dan di sini. Dilihat dari total take home payment, keluarga kami hidup di atas GFMnya BPS. Jadi, pasti keluarga kami tidak miskin, walaupun tidak dapat disebut kaya. Akan tetapi dengan anak sebanyak 5 orang, ternyata pendapatan kami rata-rata hanya cukup untuk mendukung biaya hidup yang memadai sampai pertengahan bulan. Sisa bulan adalah perjuangan penuh keringat dan doa sampai datangnya tanggal baru di bulan baru. Hari ambel gaji.  Tabungan kami kadang ada, kadang lebih besar potongan pajak dari pada bunganya. Sebagai dosen, penulis sering mendapat kesempatan melakukan penelitian.  Bahkan di tahun 2003, pernah terpilih sebagai salah satu peneliti muda terbaik di Undana. Kalau mengikuti logika seorang calon rektor Undana bahwa kemampuan dosen untuk membeli motor dam mobil bisa linear dengan kesempatan melakukan penelitian maka teori itu tidak berlaku bagi penulis. Sebab, sebagian besar uang penelitian dihabiskan untuk kegiatan penelitian.  Boro-boro bisa disaving. (Oh iya, terbersit juga pertanyaan: meneliti itu kegiatan untuk mendapat ilmu atau untuk mendapat kesempatan memiliki motor dan mobil sih?). Anak kami 5 orang, tiga di antaranya sudah bersekolah di Universitas dan dua lainya masih di SMA. Ketika harus membayar biaya masuk sekolah anak-anak kami, kami harus meminjam uang. Kendaraan kami setiap hari adalah kendaraan roda dua, hasil kreditan dengan pembayaran model PG alias potong gaji. Karena sibuk mencari makan, kami bedua nyaris tidak dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di kelurahan. Jangankan beraktivitas di kelurahan, mendampingi anak-anak dalam proses belajar di rumah saja sulitnya minta ampun. Beruntung sejak tahun 2003, penulis terpilih sebagai seorang penatua di salah satu gereja anggota GMIT sehingga masih ada kesempatan setor muka di lingkungan rumah. Lantas, kami ini tergolong orang miskin atau tidak sih? Atau seperti kata Mpok Minah dalam sinetron Bajaj Bajuri: maaf, kami ini tergolong miskin atau tidak sih? Dalam ukuran umum hampir pasti kami tidak miskin tetapi orang dengan tanpa rumah sendiri, punya beban utang yang harus dibayar lewat PG (potong gaji), dan kurang beraktivitas sosial apakah pantas disebut sebagai tidak miskin?  Jadi, kalau ada yang mengatakan kami tidak miskin, ya monggo. Biarkan  saja.  Dikatakan miskin, ya memang nyatanya begitu, asal tidak korupsi. So what gitu loh.   Ada apa dengan mu boss.
Mau ditambah lagi kepusingan kita dengan terminologi miskin? Bagimana kalau rasa malu dan harga diri dihitung juga sebagai kebutuhan dasar lantas kedua parameter ini digolongkan sebagai tolok ukur penilaian kemiskinan. Paling kurang, kemiskinan sosial. Lalu, bagaimana dengan para koruptor, yang mungkin duitnya banyak tetapi tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar, yaitu harga diri. Bagaimana dengan orang-orang berpangkat tinggi tetapi kelakuannya mencerminkan kekurangmampuan untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar, yaitu rasa malu.  Tambahkan sendiri kasus-kasusnya oleh sidang pembaca dan kemudian nikmati saja kepusingan anda dalam menilai miskin dan tidak miskin. So what gitu loh. Ada apa dengan mu boss.
---***---
Guna menghindari kesalah pahaman antara peneliti, penelitian, pengguna data dan pembaca data kemiskinan, termasuk Pemda, maka beberapa hal ingin disarankan.
1.            Gunakan parameter-parameter kemiskinan yang tidak perlu seragaman untuk semua daerah.  Angka GFMnya BPS tidak perlu dipersalahkan. Angka seperti itu perlu karena memang pada akhirnya harus ada satu tolok ukur sebagai angka perbandingan. Akan tetapi untuk parameter-parameter lainnya, perlu didiskusikan bersama. Bila perlu melibatkan masyarakat sasaran penelitian. 
2.            Setelah parameter ditentukan maka hal berikut yang harus disepakati adalah semacam angka yang disebut sebagai perbandingan nilai penting. Dalam dunia penelitian tanaman, indeks nilai penting sering digunakan untuk menilai mana tanaman yang betul-betul mendominasi suatu daerah berdasarkan tampilan beberapa variabel sekaligus. Apakah karena dia banya, atau karena dia kanopinya luas, atau karena dia sering dijumpai.  Lantas, veariabel-variabel ini dibandingkan satu dengan yang  lainnya. Hasil perbandingan yang bersifat multiarah itu  baru dijadikan dasar penentuan  urutan nilai penting tanaman. Angka semacam ini sangat perlu untuk menentukan skoring yang pantas untuk parameter mana.
3.            Peneliti sebaiknya tidak terburu-buru mengekspos data penelitiannya tetapi didiskusikan kembali dengan semua pihak yang terkait. Masukkan dari suatu diskusi terbuka merupakan salah satu cara yang baik dalam melakukan verifikasi data temuan.  Terutama jika penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif, diskusi terbuka merupakan salah satu cara untuk melaksanakan tahap triangulasi.
4.            Kalangan pengguna data seperti pemda dan LSM sebaiknya memahami betul bentuk dan struktur kemiskinan masyarakat lokal sehingga tidak terjebak dalam defenisi-defenisi kemiskinan  atau parameter kemiskinan persis seperti yang ada dalam buku teks, yang mungkin menjebak pikiran karena ditulis oleh peneliti yang tidak memahami konteks lokal..
5.            Pembaca data hasil penelitian kemiskinan, hendaknya jangan terlampau gembira karena berpikir dengan data yang ada dapat digunakan untuk menjatuhkan pihak lain. Jangan pula bersikap terlalu defensif.  Artinya, data-data hasil penelitian tentang kemiskinan atau yang sejenis jangan buru-buru dihadapi dengan semangat menolak. Pola defensif akan membuat pembaca tertipu oleh imajinya sendiri tentang pokok permasalahan.  Terlanjur menyebutkan orang sebagai miskin padahal orang tersebut hapy-hapy saja dalam hidupnya setiap hari adalah kekeliruan. Sebaliknya, meyakinkan diri bahwa kita tidak miskin, padahal hidup kita berlepotan dengan utangan, makan harus menumpang di keluarga, baju pinjam di tetangga, tidak mampu melaksanakan fungsi-fungsi sosial kita bahkan dengan keluarga yang tidak terurus dengan baik, juga sama menyesatkannya. 
6.            Semua pihak hendaknya sadar, sesadar-sadarnya, bahwa tidak ada penelitian yang 100% sempurna. Dalam metode-metode perhitungan statistik selalu ada angka yang menunjukkan bias, keragaman dan atau galat (eror), yang berasal dari sesuatu yang tidak  bisa dikendalikan oleh manusia. Sebagai orang beriman, penulis percaya bahwa dalam ukuran derajat uji alfa 0.01 atau 0.05 ada kuasa Tuhan di sana. Jadi, peneliti jangan sombong. Pembaca jangan cepat marah. Selalu ada ruang informasi yang harus terus dipelajari karena begitu luas dan dalamnya ilmu pengatahuan dan dipihak lain manusia bersifat terbatas.  Apakah ada manusia yang hebat tanpa batas?
---***---
Akhirnya, penulis ingin menyampaikan sesuatu sebagai penutup. Tuhan menciptakan manusia dalam keberagamannya. Mereka ada yang miskin dan ada yang kaya. Jadi, jangan menjadi malu ketika kita miskin.  Jangan jadi sombong ketika kita kaya dan berkuasa.  Persoalan miskin dan tidak miskin adalah pesoalan klasik. Persoalan peradaban. Sepanjang sejarah dunia, persoalan ini tidak pernah ada habis-habisnya. Jangannkan Republik Indonesia yahng baru berumur 60 tahuh ini.  Bangsa Amerika Serikat yang ekonominya nomor wahid di dunia sajapun masih juga bergelut dengan persoalan ini.  Adik saya yang tinggal di Amerika Serikat berceritera bahwa hidup bertiga bersama seorang isteri dan seorang anak dengan honor isterinya sebagai peneliti 45.000 USD terasa sangat menyesakkan dada. Oleh karena itu, dia terpaksa harus juiga aktif mencari-cari pekerjan tambahan.  Meski demikian, ceritera adik saya itu, hampir di setiap kota-kota di Amerika ada saja orang-orang yang hidupnya menggelandang sambil setiap 1 minggu sekali menerima tunjangan sosial dari negara. Nah, lu. Tetapi coba perhatikan, bahwa dengan memberikan tunjangan sosial bagi orang-orang yang jobless dan homeless seperti itu bukankah itu berarti bahwa pemerintah AS mengakui adanya kemiskinan?. Lantas, mengapa kita yang baru berusia 60 tahun sebagai bangsa dan mash terus dalam proses membangun harus terlalu malu kalau dikatakan miskin. Betul tidak?
Bagi saya, soal miskin dan tidak miskin adalah nisbi. Relatif. Mengapa demikian, karena miskin dan tidak miskin sangat tergantung dari parameter apa yang digunakan. Akan tetapi di luar sifat nisbinya itu ada satu hal yang pasti dalam persoalan ini, yaitu si kaya dan si miskin datang dari asal yang sama dan akan kembali kehadapan Pengadil yang sama pada Hari Penghakiman Terakhir.  Si kaya dan si miskin lahir sama telanjang dan ketika berpulang akan hilang pula segala atribut. Tinggal tulang belulang. Ketika kita menyadari betul bahwa Tuhan menghendaki kita hidup saling menolong dalam semangat cinta kasih kepada sesama  sebagai bukti cinta kita pada Tuhan maka kaya dan miskin hanya sebutan.  Lebih penting dari itu adalah apa yang kamu buat sebagai orang kaya dan apa yang kamu buat sebagai orang miskin. Kata buat bermakna bekerja. Oleh karena itu, si miskin dan si tidak miskin sama-sama harus terus bekerja. Dalam Bible jelas tertulis: yang tidak bekerja, jangan makan. So, for all my friends, kaya dan miskin tidak perlu didramatisasi. Tidak perlu pula di politisasi. Bekerja saja terus secara jujur, bersih, tidak korup, produktif sembari rajin berdoa. Mudah-mudahan anda setuju dengan saya.  Jika tidak pun, maka so what gitu loh.  Ada apa dengan mu. Pinjam kata SBY, yang presiden RI itu, hey I don’t care.

Tidak ada komentar: