Selasa, 26 April 2016

ahok dan einstellung

Dear Sahabat Blogger,

Siapa tak kenal koh ahok a.k.a basuki tjahaya purnama itu? Hanya mereka yang sama sekali tak punya akses kepada media massa elektronik maupun ceta yang tak kenal orang ini. Bisa juga mereka yang tak kenal dia adalah orang-orang yang sama sekali tak punya akses kepada obrolan orang ramai tentang dia. Oh ya, jelas yang saya maksudkan adalah Ahok yang gubernur dki jakarta nan heboh markheboh itu. Orang ini membelah masyarakat indonesia ke dalam dua kelompok (untuk simpelnya), yaitu mereka yang pro dan kontra.

Bagi mereka yang kontra ahok, orang ini adalah manusia durjana yang menyimpan api di mulutnya. Mungkin pula di hatinya. Kata-kata kasar nyaris tanpa kompromi berhamburan dari mulutnya ketika menghadapi fakta ada yang tak berjalan sesuai keinginannya. Mulut sampah kata habib riziek, yang sebenarnya kata-katanyapun tak kalah sampahnya. Arogan kata amien rais, yang sebenarnya kelakuannyanya pun tak kalah arogannya. Semua orang dilawan dan ditantang begitu kata amien melanjutkan sementara dia lupa bahwa pada tahun 1998 itula yang dilakukan amien terhadap soeharto, tentara, dpr, mpr dan semuanya saja. Orang-orang yang berasal dari partai tertentu, yang kesal karena merasa di-"fait accompli" oleh ahok dalam penetapan calon gubernur dki 2017 tiba-tiba berbalik menghardik, mencari-cari kesalahan dan bakan tega memfitnah orang yang sebelumnya dielu-elukan sebagai pasangan serasi bersama tuwan jokowi, sang presiden nkri yang humanis, rendah hati dan merkotop itu (pernah di suatu saat saya mendengar orang-orang sepertainya menghardiknya juga sebagai presiden goblok). Singkat kata, ahok adalah orang tak benar dan tak pantas menjadi gubernur dki. Belum lagi, bagi kelompok kontra, ahok itu minoritas cina dan kafir yang mencuri dalam kasus rs sumber waras dan reklamasi pantai teluk jakarta.


Sementara itu, bagi kalangn pro ahok, penyakit korupsi dan perilaku mafioso anggaran dalam program pembangunan di jakarta, si akoh adalah obatnya. Seringkali ahok digambarkan bagai super hero yang berani dan bernyali bertarung sendirian di belantara kejahatan di jakarta. Ketika anggaran dki diselenggarakan dengna cara e-budgeting dan kong kali engkong proyek USB-UPS terbongkar, ramai namanya dibicarakan sebagai pahlawan. Ketika banjir jakarta bisa sedikit diurai (kendati tahun 2016 curah hujan memang rada aneh) persepsi orang terarah kepada kinerja si ahok yang baik. Ketika jalan-jalan di jakarta secara perlahan mulai dilihat ada tanda perbaikian maka koh ahon menuai kredit baik. Bagi kaum pro ini, ahok lebih dari pantas untuk menjadi gubernur dki periode ke-dua. Mereka butuh seorang yang bisa dijadikan patron dalam memimpin pemberantasan korupsi di negeri ini. Tidak seedikit yang mulai memperbicangkan kemungkinan ahok berad di salah satu istana kepresidenan atau wakil presiden di masa mendatang (dan kita tahu, stigma cina dan kafir akan makin keras diteriakan di ruang publik).

Jadi, siapa ahok itu sebenarnya? Saya tak akan memihak (kendati sejatinya saya sudah memihak) tetapi saya ingin menyebut istlah eisntellung dalam omong-omong saya ini. Apa itu einstellung? Filsuf eksistensialisme Luijpen menjelaskan begini: bila ada yang bertanya "apa itu air"? maka bagi seorang yang kehausan, air adalah air minum pemuas dahaga. Bagi seorang perenang, air adalah air di kolam renang. Bagi petugas pemadam kebakaran, air adalah bahan yang memadamkan api. Bagi seorang ahli kimia, air adalah zat cair gabungan senyawa H2 dan O2. Bagi seorang ahli jiwa seperti sigmund freud, air adalah lambang alam bawah sadar, Saya tambahkan, yaitu bagi tukang mabok, air kata-kata adalah minuman ber-alkohol yang ditenggaknya sampai mabuk. Dalam menghadapi fenomena tertentu maka manusia akan memiliki sikap penghayata tertentu pula. Ketika manusia melihat obyek tertentu, reaksi pertamanya sebagai manusia adalah bertanya "apa itu". Terhadap jawabannya, manusia membentuk einstellung tertentu. Apakah dengan eistellung manusi bertemu kebenaran sejati? Tergantung sikap obyektif dan subyektif tertentu. Jikalau begitu, apakah kebenaran akan bersifat relatif? Jikalau pilihan adalah menempatkan diri pada obyektifits dan subyektifitas tertentu maka jawabannya akan bersifat relatif. Akan tetapi jika pilihan ditempatkan pada dunia penghayatan, maka anda akan bertemu dengan kebenaran sejati, yaitu bukan anda yang mencari kebenaran melainkan kebenaran itu yang akan menunjukan dirinya kepadamu. Anda berhenti berteori karena teori itu semu dan sementara (menunggu untuk diuji dan dipatahkan) dan mulailah menghayati jika anda rindu bertemu kebenaran.

Lah, lalu bagaimana dengan si ahok, dia orang baik atau orang tercela? baiklah saya ingin mengatakn ini, yang terkait dengan ilmu etika, yaitu bahwa dunia etika (yang seharusnya dan yang tidak seharusnya) selamanya adalah dunia ambigu, abu-abu. Dalam hidup setiap hari, keputusan etis harus anda ambil tiap-tiap kali. Norma etika yang terbangun melalu hukum positif dan atau nilai-nilai budaya dapat menjadi rujukan keputusan etis anda. Itu sah dan benar. Jika hukumnya adalah jangan bercerai maka itulah keputusan etisnya. Apaka itu total seluruhnya kebenaran? bahkan Yesuspun memilih untuk membuat pengecualian...."jangan bercerai kecuali ia berbuat zinah (Matius 19:9). Begitulah cara bekerja ilmu etika dan keputusan etis, yaitu terhadap semesat kejadian etis yang datang setiap hatu dan harus dibuat keputusan atasnya maka pilihlah yang paling benar, paling baik, dan paling tepat di setiap situasi dan kondisi. Logika di balik itu adalah setiap keputusan kita itu belum benar, belum baik dan belum tepat. Tiap-tiap keputusan etis pada akhirnya akan berad dalam ketegangan antara 2 sifat keputusan etis, yaitu yang bersifat perfeksionis dan yang bersifat fungsional. Ketika pasanganmu terbukti berulang kali tak setia dan tertengkap berselingkuh maka keputusan etis untuk tidak bercerai sungguh tidak fungsional. Rumah tangga macam apa itu? Akan tetapi ketika setiap 3 bulan suami dan isteri berulang-ulang kawin dan cerai tanpa ada pasangan yang menentu maka sungguh tidak ada nilai idealisme berumah tangga. Rumah tangga macam apa itu?

So, kembali kepada mister ahok? orang macam apa itu yang belajar tentang Kasih tetapi saban-saban hari bersikap temberang, temperamental dan pemberang? Entahlah dengan keputusan etis anda akan tetapi bagi saya begini. Berkata sopan dan santun dan tak meledak-leda itu baik akana tetapi di depan para prampok dan perompak dan para mafioso, berteriaklah sekencang-kencangnya. Kesadaran publik yang melakukan pembiaran sehingga penjahat-penjahat itu berkuasa berpuluh tahun harus digedor, segedor-gedornya. Arrrrrgggghhhhhhh .....sekian  !!!!!

Tabe Tuan Tabe Puan

1 komentar:

mikerk mengatakan...

selamat membaca wahai tuan dan puan