Kamis, 17 Maret 2011

republik oh rekipliek, apa mau mu? che sara

Dear Sahabat Blogger,

Sebenarnya saya sudah bersusaha untuk menghindari posting sesuatu yang sekedar ikut-ikutan. Jika hari ini isunya adalah bla bla bla, saya ikutan bla bla bla. Mirip bebek pengekor. Bisa jadi lebih gawat karena bunyinya yang saya keluarkan dapat menyimpang dari aslinya menjadi ble ble ble atau blo blo blo trus go...blog....waaahhh. Tapi kali ini saya melanggar "pakem" yang saya buat sendiri. Tak apalah, wong otak ku sendiri. Tanganku dhewek. Preketheeeekkk lah. Saya tak tahan untuk tidak mengomentari apa yang terjadi di rekipliek tersayang akhir-akhir ini. Saya menjadi gelisah dan meluncurlah tulisan ini. Tagal kegelisahan itu maka posting ini tidak seperti biasa. Posting ini reaktif tapi sejujurnya kehilangan kedalaman. Terhadap satu isu biasanya saya mengendapkan dahulu. Berusaha memahami persoalan dan barulah bercakap-cakap bla bla dan blaaaaaaa......tapi kali ini, tidak. Apa boleh buat, namanya juga sedang jengkel.

Ada perkara yang ingin saya sampaikan tetapi saya sendiri belum tahu how to overcome-nya. Glap gulita bak kota Kupang kehilangan cahaya listrik PLN yang suka byar pet suka-suka, mana suka, su ba suka. Byar untuk urusan tagihan rekening dan pet ketika urusannya adalah servis. Karena itu, sekali lagi Bung dan Zoes, substansi posting ini melulu adalah keluh kesah dan tidak terstruktur dengan baik. Bagian I adalah pendahuluan (ya yang sekarang ini). Bagian II adalah tempat saya akan "mengomel" suka-suka, su ba suka, dan mana suka (lihat saja nanti). Bagian III adalah "yo wis" terserah. What ever will be will be. Che Sara. Lantas dimana perspektif solusi? Tidak ada karena ya itu tadi: what ever will be will be. Si Ever su pi bet ju pi . Che Sara. Sengsara. Apa gerangan bro en sist?

Satu dua hari belakangan saya dibuat terheran-heran sekaligus bingung dengan peristiwa-peristiwa yang ber-sliweran di sekitar kita. Aneka peristiwa ini tampaknya berkorelasi negatif dengan martabat bangsa. Bukan cuma itu, beberapa peristiwa memberikan indikasi dan atau pesan yang amat jelas bahwa masa depan NKRI sungguh sangat terancam. Tapi anehnya, semua berjalan like business as ussual seperti kesan saya pada posting tentang sindroma lemming.

  1. Perda dan pergub di beberapa daerah yang "melarang gerakan Ahmadiyah" seolah-olah anggota Ahmadiya bukan WNI. Perda atau pergub yang diterbitkan belakangan secara langsung bertentangan dengan Pancasil dan UUD 1945 tapi malah dengan amat bersemangat digelorakan oleh sebagian warga negara yang mayoritas lantas pemeriintah pusat diam. Anehnya, terhadap perda seperti itu Pak SBY en cs diam tapi begitu ada berita dari koran kecil di Australia - The Age - memberitakan dugaan kelakuan SBY en his famili en all the president man wuuuuaaaahhhh....Istana geger. Ibu Ani SBY, konon katanya, nangis-nangis. Untuk siapa Ibu menangis? Apakah Ibu Ani juga menangisi nasib anggota Ahmadiyah yang terancam kehilangan sebagian hak azasinya dan atau hak sipilnya untuk berkeyakinan dan bahkan beberapa anggotanya terbunuh di Cukeusik?
  2. Penutupan tempat beribadah orang-orang Kristen terus saja terjadi. Terakhir kita dengar kejadian di kota Bogor. Apakah orang Kristen hanya boleh beribadah di daerah mayorita Kristen? Jikalau benar begitu maka masihkah negara ini bisa kita sapa sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia?
  3. Pengiriman paket bom buku yang menurut sebagian pakar adalah paket bom yang hanya bisa dirakit oleh mereka yang terlatih. Kata Pak Hendropriyono.: "ini pekerjaan pemain lama, kelompok teroris yang memanipulasi agama". Bom ini sudah makan korban di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur ketika dialamatkan kepada mister Ullil sang tokoh JIL. Hampir semua analis mengatakan bahwa dilihat dari pola-polanya maka jelas "pesan" paket bom ini adalah ... "matilah dikau wahai pluralisme". Jika memang itu pesannya maka patut diduga bahwa pesan besar yang sebenarnya adalah ... "matilah dikau wahai NKRI". Is that right sir en sor? (tuan dan puan maxud-nya).
  4. Ada gejala TNI mulai "kehilangan kesabaran" melihat "masyarakat reformasi" pasca 1998. Demokrasi menghasilkan keriuhan dan TNI yang terbiasa dengan perintah siap grak hormat grak lalu, mungkin saja, bernostalgia dengan "ketertiban" masa dwi fungsi yang membikin mereka amat sangat berkuasa di republik ini. Apa indikatornya? saya beri 2 contoh: 1) ketika TNI ikut secara aktif terlibat dalam "operasi sajadah" yang mengurusi orang-orang Ahmadiyah di Jawa Barat. Tidakkah hal ini bertentangan dengan UU. No. 34/2004 tentang TNI? Apakah sudah ada kebijakan dan keputusan politik negara untuk tugas selain perang perang, sebagaimana yang diamanatkan dalam ayat (3) pasal 7, yatu bahwa TNI ikut mengurusi Amadiyah?; 2) Matinya anak remaja di Atambua karena dianiaya oleh anggota TNI tagal teman satu corps dipalak oleh si remaja dkk. Pertanyaan yang sama adalah apakah hal ini tidak bertentangan dengan UU No. 34/2004.
  5. Jepang dilanda 3 bencana sekaligus. Gempa bumi 8.9 SR, tsunami pascagempa dan rusaknya rektor nuklir di Fukushima pasca tsunami. Apa yang diperlihatkan oleh bangsa Jepang? Mereka tetap tenang, tetap menjalankan order sipil (tidak ada huru-hara orang ngamuk), dan cukup rendah hati mengaku memerlukan bantuan internasional. Kesulitan dihadapi dengan penuh martabat. Saya teringat pengalaman bangsa yang lainnya yang pernah tertimpa bencana gempa dan tsunami di tahun 2004. Dalam kesulitan masih ada saja huru-hara, ada aktivis LSM yang tertangkap "menjarah" barang batuan lalu ramai-ramai dikepruki tentara, di sana-sini terdengar teriakan ... "hei, bantuan asing perlu dicurigai karena ada agenda tertentu" (sudah dibantu malah curiga), saling komplain soal proyek-proyek rehab-rekon dll dll. Bangsa ini yang saya maksudkan ini juga pernah "mengusir pergi" para relawan asing yang membantu sewaktu terjadi gempa di kota mereka yang dijuluki kota pelajar. Ibu kota negara dari bangsa yang saya maksudkan tesebut pernah mengalami bencana banjir yang parah. Ketika itu perahu bantuan malah disewakan oleh petugas kepada para korban banjir. Anda tahu bangsa yang saya maksudkan? Ya, bangsa kita inilah. All about dignity of nation. Belum cukupkan gambaran itu? Lihatlah dan coba berikan makna ketika FIFA ingin menegur PSSI, skaligus menampar nurdin halid, dilakukan di Timor Leste Negeri bekas teritori Indonesia. Malunya jadi berlipat ganda. Kita suka bicara bahwa kita bangsa besar dengan harga diri yang tinggi tapi bagaimana faktanya? Tak tega saya mengatakannya.
  6. NTT adalah propinsi kelautan yang sarana - prasarana tarnsportasinya sering menjadi faktor kendala dalam mobilitas antara pulau. Pemerintah pusat lalu mengirim bantuan sebuah kapal motor penyeberangan (KMP). Bukannya dipakai malah oleh Pemda - katanya sudah berkonsultasi dengan pemerintah pusat - lalu menyewakan KMP ini kepada pemerintah Timor Leste. Lucu? Ya, sangat.
Sooooo what gitu loh?????? Republik ini maunya apa toh? saya sungguh tak tahu tapi saya lalu teringat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh Jose Feliciano yang pertama kali saya dengar di tahun 1970-an semasa di bangu SMA.

Lagu itu berjudul "Che Sara". Saya ingat lagu ikarena ada memori tersendiri. Doeloe kala lagu ini pernah saya nyanyikan sambil bermain gitar guna "mengetest" kemampuan bernyanyi saya. Lho mengapa demikian? Saya ceritera sedikit. Pada waktu itu, di antara tahun 1978 - 1981, Kota Kupang dilanda demam anak-anak muda yang berlomba-lomba mendirikan grup vokal - vocal group. Bermodalkan 1 atau dua buah gitar + beberapa orang yang asal menyanyi tidak fales, jadilah sudah VG. Nah, saya kebetulan punya sedikit kemampuan bermain gitar. Tagal itu, jadilah saya anggota VG di SMA 1 Kupang. Sekolah saya. Di luar sekolah, sayapun ikutan VG yang sering mengisi liturgi puji-pujian di beberapa Gereja di Kota Kupang. Wah, top markotop-lah itu. Tapi posisi sebagai pemain gitar belumlah memuaskan hati saya benar. Diam-diam saya juga mengincar posisi sebagai leading vocalis yang adalah the front man dalam grup dengan segala macam "keuntungan". Keuntungan macam mana? Jualan. Lah jualan apa? Jual tampang....wkwkwkwkwk....Sebagai pemain gitar, saya merasa agak terhalangi oleh the front man sebagai pusat perhatian....narsis memang, itu saya akui. he he he he....Karena "niat luhur" ini maka saya lalu belajar menyanyikan lagu che sara-nya Jose Feliciano (sebenarnya terinspirasi oleh seorang teman SMA - kalau tidak salah ingat namanya adalah Ary Leo - yang suaranya terdengar indah jika menyanyikan lagu ini). Agak ribet syairnya karena bahasanya terasa aneh tapi sikat terus. Mau jadi apa jadilah sudah, begitu tekad saya (ternyata belakangan saya baru tahu bahwa itulah artinya che sara). Lalu di depan tape recorder saya menyanyikan an merekam lagu itu + 1 lagu dari Koes Plus - kisah sedih di hari minggu. Bagaimana hasilnya? Luar biasa, beberapa orang yang mendengarkan hasil kerjaan saya mengomentari bahwa...he, lu pung suara bagus juga eeee.....wwwhhhuuaaaaaiiiihhhh.....melenting sudah ke langit ke tujuh. Saya bisa menyanyi. Saya bisa menyanyi. Begitu saya membatin. dan memuji diri sendiri. Apa "pesan" dari balada saya dan lagu che sara? Ini dia: nekad, agak ngawur dan lalu...narsis.

Dear sahabat, begitulah bagian penutup dari posting ini, yaitu saya ingin kasi tau - kalau kasih tahu nanti ada yang tanya tempe - sama anda semua bahwa terhadap berbagai fenomen sosial politik bangsa ini saya sedang tidak punya gagasan apa-apa. Kalo begitu saya maka jalani saja hidup sebagai anak bangsa ini dengan modal nekad - bondo nekad alias bonek. Mungkin itu modal kita dalam bernegara. Seperti kata Bung Karno dulu...."merdeka dulu, urusan lain menyusul".

Bagi Bung Karno, kemerdekaan itu dia analogikan dengan kawin. Ada yang berani kawin, lekas kawin, dan ada yang takut kawin. Ada yang berani kawin “kalau sudah punya rumah gedung, sudah ada permadani, lampu listrik, dan tempat tidur mental-mentul”. Ada yang berani kawin “kalau sudah mempunyai meja satu, kursi empat, dan tempat tidur”. Beda dengan orang Marhaen, yang “kalau punya satu gubug, satu tikar, satu priuk : dia kawin”. “Sang Klerk dengan satu meja, empat kursi, dia kawin”. Jadi, yang jadi soal adalah : “kita ini berani merdeka atau tidak?” karena kalau masih menunggu ini itu selesai sebelum merdeka, atau menunggu tiap-tiap dari 70 juta rakyat Indonesia merdeka dulu jiwanya, maka “sampai lobang kubur pun Indonesia tidak akan pernah merdeka”. (Bung Karno dalam persidangan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, Juni 1945)

Begitulah Bung dan Zoes, kadang-kadang terlalu njemlimet denga persoalan kita bisa mandeg. Bisa tidak bekerja apa-apa. Sekali-sekali ayo kita tidak usah berpikir terlalu rumit - mersangsek saja dahulu, maju dahulu dan persoalan ditangi belakangan. Mujarabkah metode ala Bung Karno ini? Tak tahulah awak ni. Sejarah rekiliek dan Bung Karno membuktikan bahwa nekad bisa membawa kita kepada tujuan tetapi lalu ketika telah beada di tempat yang dituju kita bisa ngawur dan kehilangan arah. Ajaibnya kita kerap bangga dengan keanehan itu dan lalu narsis. Benarkah saya? Suka-suka. Mana suka. Su ba suka. Che sara.

Che Sara - Jose Feliciano


Jose Feliciano adalah penyanyi Amerika Serikat yang lahir di Puerto Rico. Dia memiliki jejak karir dan diskografi yang panjang dan cemerlang. Sejak berusia 3 tahun Jose telah menyanyi. Pada tahun 1963, ketika dia berumur 18, dia dikontrak oleh perusahaan rekaman RCA Victor. Sejak itu ratusan lagu, baik yang berbahasa Inggris maupun Spanish-Latin, telah direkam Jose Feliciano. Puluhan di antaranya "meledak" di tangga-tangga lagu dunia. Lagu "che sara" direkam oleh Jose dan mendapatkan kepopuleran yang luar biasa di Eropa dan Asia. Jose mencapai puncak ketenarannya. Enam (6) buah Grammy Awards serta puluhan penghargaan lainnya menjadi bukti "kesaktian" Jose.

Lagu dengan tema "terserah" seperti ini pernah pula dinyanyikan oleh penyanyi perempuan Doris Day di tahun 1950 - 1960-an. Silakan dengar. Bagus juga.

Doris Day - Que sera sera


Nah, supaya jangan terlalu jadul, bagaimana dengan che sara ala Indonesia yang dinyanyikan Glenn Fredly di bawah judul "terserah"
Di antara 3 "model" che sara di atas anda suka yang mana? Che Sara. Que Sera. Terserah. What Ever Will Be Will Be (si ever pi bet ju pi - terjemahan seenaknya dalam bahasa kupang xi xi xi)

Tabe Tuan Tabe Puan

62 komentar:

mikerk mengatakan...

"Che Sara"

by Jose Feliciano

Paese mio che stai sulla collina
Disteso come un vecchio addormentato;
La noia
l'abbandono
il niente
Son la tua malattia

Paese mio ti lascio
io vado via.

Che sara
che sara
che sara
Che sara
della mia vita
chi lo sa!
So far tutto o forse niente
da domani si vedra
E sara
sara quel che sara.

Gli amici miei son quasi tutti via

E gli altri partiranno dopo me

Peccato
perche stavo bene in loro compagnia
Ma tutto passa
tutto se ne va.

Che sara
che sara
che sara
Che sara
della mia vita
chi lo sa!
Con me porto la chitarra
e se la notte piangero
Una nenia di paese suonero.

Amore mio ti bacio sulla bocca
Che fu la fonte del mio primo amore

Ti do appuntamento
come quando non lo so

Ma so soltanto che ritornero.

Che sara
che sara
che sara
Che sara
della mia vita
chi lo sa!
Con me porto la chitarra
e se la notte piangero
Una nenia di paese suonero.

Che sara
che sara
che sara
Che sara
della mia vita
chi lo sa!
So far tutto o forse niente
da domani si vedra
E sara
sara quel che sara.

mikerk mengatakan...

"Que Sera Sera"

by dorris day

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

mikerk mengatakan...

"Terserah"

by glenn fredly

Jangan kau ganggu hidupku lagi
Sudah jelas kini yang kau mau
Kau sakiti hati ini 'tuk kesekian kali
Memang ku cinta
namun tak begini

Dimana arti sebuah kesetiaan
Bila hanya dalam kata-kata

Ku coba untuk bertahan
Namun aku tak sanggup
Sungguh tak mampu, sayangku...

Reff I:
Terserah kali ini
Sungguh aku tak ‘kan perduli
Ku tak sanggup lagi
Jalani cinta denganmu
Biarkan ku sendiri
Tanpa bayang-bayangmu lagi


Ku tak sanggup lagi
Mulai kini s’mua terserah...

Dimana arti sebuah kesetiaan
Bila hanya dalam kata-kata
Ku coba untuk bertahan
Namun aku tak sanggup
Sungguh tak mampu, sayangku...

Uwoooooo…

Reff II:
Terserah kali ini
Sungguh aku tak ‘kan perduli
Ku tak sanggup lagi
Jalani cinta denganmu
Biarkan ku sendiri
Tanpa bayang-bayangmu lagi

Ku tak sanggup lagi

Mulai kini semua
Terserah...

mikerk mengatakan...

@ Dear All,

Posting ini belum diedit. Terburu-buru karena banyak pekerjaan. Nanti akan saya edit begut waktu agak longgar. GBU

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Mantap tapi baca dulu....(Julius)

Anonim mengatakan...

oh iya, que sera sera...que serabi saja sudah langak di Kupang. Bagaimana ini? ...ha ha ha...(Julius)

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Matinya Charles Mali di Atambua membuktikan bahwa TNI belum sepenuhnya mereformasi diri. Perasaan sebagai "manusia terkuat" masih melekat kuat. Untuk setiap persoalan solusinya adalah kekerasan. Saya sangka tindakan TNI di Jabar dalam kasus Ahmadiyah dan di Atambua jelas-jelas melanggar UU. TNI harus terus mereformasi diri mereka dan harus terbiasa hidup dalam masyarakat sipil (civil society) (Ryan)

Anonim mengatakan...

Lagu dari Jose itu mah dahsyat. Very talented si Jose. Sayang ga ada rekaman baru lagi. Lagu dari Doris Day emang jadul banget tapi syairnya very good. Kalo si Glenn ya ga usah diomongin dah...top markotop abissss...(Ryan)

Anonim mengatakan...

@ mike,

Kita semua ikut berduka cita atas bencana di Jepang tapi saya lihat bagsa Jepang memang pantas disebut sebagai bangsa yang besar. Tidak kekacauan dan keusuhan di sana. Semua tengan. Tadi malam lihat di TV jepang, orang-orang antri makanan dengan tertib dan sabar. Luar biasa.

Kalo di Indonesia, antri angpao saja orang bisa mati terinjak-injak. Kita barus sadar bahwa nama besar kita hanya tinggla kenangan. Sriwijaya dan Majapahit hebat. Tapi kita dijajah. Setelah itu, Bung Karno bikin Indonesia kembali harum tapi trus dijajah oleh bangsa sendiri dengan kekerasan.

Anonim mengatakan...

Sisa-sisa praktek ORBA masih dapat kita lihat pada peristiwa di Atambua. TNI belum banyak berubah. Reformasi ternyata malah menghasilkan politisi sipil yang brengsek. Tapi itu tidak boleh jadi alasan bagi TNI untu campur-camour urusan politik lagi (John)

Anonim mengatakan...

Jose Feliciano hebat skali. Walau buta tapi petikan gitar maut betul. Hebat (John)

Anonim mengatakan...

ha ha ha ....what ever will be will be = si ever pi bet ju pi.....ha ha ha ada ada saja (John)

anna mengatakan...

@ Dear BM,

Posting yang agah aneh, struktur penulisan suka-suka. Tapi tetep asyik. Itulah BM, GW suka

anna mengatakan...

Soal kebesaran bangsa, mari kita belajar dari bangsa Jepang (saya mengutip dari Vivanews.com)...

Gempa 9,0 skala Richter dan tsunami menimbulkan krisis di Jepang, bahkan yang terburuk paska Perang Dunia II. Belum lagi ditambah meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Fukushima. Negeri Sakura di ambang bencana nuklir.

Bagaimana masyarakat Jepang menghadapi bencana ini? Seperti dimuat situs CNN, makanan dan air saat ini menjadi barang langka di Jepang. Listrik di zona tsunami nyaris tak ada. Orang-orang yang selamat kesulitan mencari kabar orang-orang tersayang yang masih hilang.

anna mengatakan...

Namun, berbeda dengan kondisi bencana di negara lain -- di mana terjadi kerusuhan, ledakan emosi publik yang marah dan berduka -- warga Jepang nampak tenang meski berkabung. Masyarakat dengan sabar berdiri, antre selama berjam-jam dengan teratur demi mendapat beberapa botol air.

Di wilayah Sendai, yang paling parah terdampak tsunami bisa terlihat, bagaimana gelombang dahsyat itu merusak struktur fisik bangunan, tapi bukan mental mereka.

Di toko-toko terlihat barisan panjang korban tsunami menanti jatah mereka. Tak ada yang memerintahkan mereka berbaris rapi, mereka antre dengan sadar. Para pembeli dibatasi hanya boleh membeli 10 produk makanan atau minuman. Tak ada yang mengeluh, tak ada yang curang. Menurut salah satu warga, Mitsugu Miyagi, tak ada satupun orang yang berhak mengeluh dalam kondisi ini.

anna mengatakan...

Militer dan petugas penolong darurat kini disiagakan di wilayah tsunami atau sekitar PLTN Fukushima. Saat bantuan datang, para relawan dan kelompokm masyarakat mengorganisasi tempat penampungan dan distribusi makanan.

Di Hotel Monterey, Sendai, dua chef lengkap dengan seragam dan topi tingginya membagikan sup panas untuk sarapan. Siapapun yang lewat di depan hotel itu dibagi. Untuk beberapa orang, mungkin itulah sup panas pertama yang mereka nikmati paska tsunami.

anna mengatakan...

Namun, yang mengharukan, orang-orang yang mengantre sup itu hanya mengambil satu mangkuk saja. Tak ada yang balik lagi mengantre untuk sup ke dua, atau berikutnya. Sebab, bagi mereka: itu tidak adil.

Rasa kebersamaan tetap ada, bahkan bagi mereka yang kehilangan rumah dan seluruh harta benda. Sekolah Dasar Shichigo kini ditinggali ratusan korban tsunami. Tak ada keluarga yang menuntut tempat lebih luas dari yang lain. Aturan, sepatu harus ditanggalkan di atas selimut agar sanitasi terjaga, ditaati. Makanan dibagi seadil mungkin. Selain tawa dan tangisan anak kecil, nyaris tak ada suara lain yang terdengar.

anna mengatakan...

Salah satu korban bencana, Mari Sato mengaku merasa terluka. Ia tak bisa menahan tangis saat melihat foto satelit yang menggambarkan kondisi bekas rumah tinggalnya. Ia terkenang atap merah muda rumahnya. "Saya tidak pernah membayangkan tsunami bisa melakukan ini," kata dia, bercucuran air mata. Namun, cepat-cepat ia minta maaf atas sikapnya yang emosional.

Korban bencana di Jepang sama menderita dan sakitnya seperti korban-korban lain di seluruh dunia. Tapi mereka memilih untuk berkabung dalam diam dan tetap bersikap tegar.

anna mengatakan...

@ All,

Membaca kutipan di atas kita terharu. dalam penderitaan mereka tetap tertib, tenang, tidak sembarangan mengumbar emosi, berkomitmen dan punya rasa malu. AMat jauh dibandingkan dengan bangsa kita.

Saya tidka heran jika mereka menjadi bangsa yang besar. Pantas juga, dalri perspektif di atas, mereka bisa menjajah kita (yang ini jangan ditiru). Saya kira pembedanya adalah bangsa Jepang memiliki visi yang baik dan komitmen nya ga henti berusaha mewujudkan visi dimaksud.

anna mengatakan...

Oh ya BM, pilihan lagu Che Sara pas banget.....

mikerk mengatakan...

@ Dear Sahabat,

Saya baru melakukan editing. Semoga lebih membantu kenyamanan sahabat membaca. GBU

mikerk mengatakan...

Thanx bagi shaabat yang sudah berkunjung dan berkomentar. GBU

tuaksatu mengatakan...

dooooooo....BM kesal nih.....jangan telalu kesal boss, NKRI masih ada. Ntar juga mister anak nkri muncul trus cawe-cawe ribut...wkwkwkwk....

tuaksatu mengatakan...

Saya baca tulisannya Prof. Komarudin Hidayat, Rektor UIN Jakarta. Patut kita renungkan....

"Bangsa Besar Mimpi Kecil"

SEMUA bangsa di dunia yang berhasil tumbuh menjadi besar selalu dimulai oleh pemimpin yang visioner, memiliki mimpi besar,melampaui zamannya.

Selanjutnya visi itu diturunkan menjadi ideologi gerakan yang mampu menggerakkan massa.Keberadaan Indonesia tempat kita lahir dan tumbuh ini tidak bisa dilepaskan dari mimpi dan gerakan sosial-politik yang dilakukan oleh Gadjah Mada, sekelompok Pemuda 1928, visi serta militansi Soekarno-Hatta dan kawan-kawan. Figur penggubah sejarah yang paling fenomenal tentu saja sosok para nabi.

Berapa miliar penduduk bumi menjadi waris,pengikut,dan setia membela ajaran Musa,Yesus serta Muhammad.Ketiganya itu figur historis, bukan fiktif seperti dalam dunia wayang sehingga perilaku dan gerakannya bisa dikaji secara empiris-rasional.

tuaksatu mengatakan...

Negara-negara yang penduduknya kecil, alamnya miskin dibandingkan dengan Indonesia,karena mempunyai gereget dan tekad membangun masa depan,berhasil membangun pusat-pusat riset keilmuan sehingga Indonesia jadi objek pemasaran mereka. Pendidikan, riset, dan lapangan kerja saling berkaitan.

Namun semua ini mesti digerakkan oleh pemimpin yang memiliki visi, tekad, dan nyali serta manajemen pemerintahan yang efektif. Sangat disayangkan, potensi alam, modal sosial, dan ilmuwan yang sedemikian banyak tidak dikelola dengan baik oleh para elite pemimpin politik dan pemerintahan saat ini.

tuaksatu mengatakan...

Bangsa besar ini justru terlilit masalah utang yang besar dengan implikasi yang juga besar. Sekarang ini lebih dari 1.000 doktor-ilmuwan Indonesia di luar negeri.Belum lagi yang di dalam negeri. Lalu ribuan kaum profesional. Namun, karena pemerintah tidak mampu memberikan wadah, stimulasi,dan apresiasi yang tepat, kekayaan intelektual tadi tidak melahirkan sinergi untuk memajukan bangsa yang terpuruk ini.

Dunia panggung lalu diramaikan oleh banyaknya grup band, sinetron, dan partai politik (parpol). Parpol lalu terbawa arus pada panggung tontonan yang tidak produktif untuk memajukan demokrasi dan kehidupan berbangsa yang cerdas dan bermoral. Saya tidak melihat parpol melakukan pendidikan politik yang terencana bagi rakyat.

tuaksatu mengatakan...

Padahal, parpol yang lahir dari rakyat dan mestinya diisi oleh warga negara terbaik pilihan rakyat harus melakukan pendidikan politik untuk mencerdaskan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Digelarnya ratusan pilkada dan belum lama ini terselenggara pemilu, yang keduanya penuh dengan praktik busuk membeli suara, itu bukan pendidikan politik,melainkan pembodohan dan pembusukan politik.

Tugas parpol dan pemimpin adalah mencerdaskan rakyat. Mendidik rakyat, bukan menipu dan mengeksploitasi rakyat.Melalui dua panggung nasional yang menarik perhatian masyarakat, yaitu pengadilan kasus Antasari dan Panitia Khusus (Pansus) Angket Bank Century, rakyat bukannya dibuat jelas memahami politik dan hukum, melainkan malah bingung dan muncul ketidakpercayaan kepada politisi, penegak hukum serta pemerintah.

tuaksatu mengatakan...

Ini merugikan perjalanan bangsa secara keseluruhan untuk maju bersanding dan bersaing dengan negara lain demi mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat. Agresivitas modal dan produksi dalam panggung pasar bebas bisa sangat destruktif dampaknya bagi Indonesia kalau kita hanya sibuk dengan lobi dan koalisi mengamankan jabatan pihak-pihak yang bertikai.

Tragisnya lagi, semua itu berlangsung dengan biaya negara, tetapi ujungnya hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Ini sebuah pengkhianatan pada amanat perjuangan, amanat pilkada, dan amanat pemilu yang pada dasarnya didesain untuk memajukan demokrasi guna melayani rakyat dan bangsa,bukan parpol.

tuaksatu mengatakan...

Ke depan semua kebodohan kolektif ini mesti diakhiri. Kita menginginkan siapa pun yang duduk pada jabatan publik,terlebih lagi yang sangat strategis bagi perjalanan bangsa seperti anggota DPR,pimpinan parpol,direktur utama BUMN, presiden, dan menteri, semuanya mesti memiliki integritas tinggi,visioner,dan memiliki kompetensi sehingga Indonesia segera bangkit menjadi bangsa yang produktif dan terhormat.

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Semua ada waktunya...ada waktu senang ada waktu mengeomel. Tapi percayalah, smua akan indah pada waktunya....percayalah.....(Yes)

Anonim mengatakan...

Kisah Jose Feliciano rasanya sudah pernah Pak Mike posting di blog musik. Saya rasa, Jose adalah contoh Kasih sayang Tuhan. Dia buta tapi diberi Tuhan karunia dan kelebihan lain. Saya tunggu renungaan minggu sengsara dari Pak Mike (Yes)

Anonim mengatakan...

sorry Pak Mike.....Syalom!!!!!

mikerk mengatakan...

@ Tuak Satu,

Thanx sudah berkunjung dan berkomentar. GBU

Saya setuju dengan pandangan Pak Prof. Komarudin. Saya sependapat tapi saya sedang tidak pintar untuk berpendapat bagaimana mengatasi masalah tersebut. Makanya posting saya lalu ya seperti ini. Tanpa solusi. Mohon maklum...

mikerk mengatakan...

@ Pak Yes,

Thanx Pak, sudah mampir dan tulis komen. Saya memang sedangn mempersiapkan tulisan yang terkait dengan Paskah. Harap bersabar saja dahulu. JBU

Anonim mengatakan...

Harus jelas konteks apa BK bicara begitu (Sugenx)

mikerk mengatakan...

@ Mas Sugeng,

Selamat datang di blog saya. Thanx sudah berkomentar.

Tanggapan saya: saya penggemar berat Bung karno...nah, silakan sampeyan berikan makna menurut tafsiran sampeyan sendiri. GBU

Anonim mengatakan...

@ Dear All,

BM kayaknya sedang pusing nih....tapi jika dibilang ga ada kedalam ya ga juga. Buktinya masih aja sempat mengutip pidato BK. Kita bisa menangkap maksud BM yang gelisah dengan gaya politik kita yang rada sok tau sok nekad. Kalo jadi komentator nomor 1 deh pas giliran pelaksanaan ompong semua. Mo bukti? Tuh Dipo Alam....waktu masih aktivis semua kebijakan pemerintah disikat pas jadi menteri gantian deh...semua kritik disikat.....parah memang....(Ghentenx)

Anonim mengatakan...

Saya coba memberikan makna pada point BM tentang Bung Karno, Merdeka dan Nekad.

Saya kira, pidato BM harus diletakkan pada konteks yang pas. Konteks itu adalah ajakan untuk bergegas untuk merdeka. Jangan lupa kejadian ketika BK mengucapkan kata-kata ...merdeka dulu...adalh pada saat persidangan BPUPKI guna mempersiapkan kemerdekaan.

Konon setelah bersidang beberapa hari, para peserta terlalu njelimet berpikir tentang bagaimana cara INdonesia merdeka. BK tidak suka dengan itu. Kisah hidupnya yang berkubang dengan pahitnya perjuangan menuju Indonesia merdeka menjadi bergolak. Tak sabar BK itu. Di sinilah kita harus meletakkan konteks yang pas tentang BK.

Saya memahami kegusaran BM tapi saya juga bisa memahami mengapa BM melatakkan kata-kata BK dalam knteks posting ini. Saya duga BM ingin bilang bahwa penerus BK tidak becus semuanya untuk MENGISI KEMERDEKAAN YANG DULU DIPERJUANGKAN DENGAN SECEPAT-CEPATNYA ITU.

Saya bisa memahami itu stelah mencermati kata-kata BM....saya penggemar berat BM....fans BM pasti tidak bermaksud jelek pada BK. OK?! (Ghentenx)

Anonim mengatakan...

Coba perhatikan cuplikan kisah idup BM yang saya kira iku membentuk pikirannya untuk segera merdeka.

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.

Anonim mengatakan...

Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Anonim mengatakan...

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Anonim mengatakan...

Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Anonim mengatakan...

Tidak ada manusia sempurna. Bung Karno juga tidak tapi dia adalah pahlawan kemerdekaan. Kita bisa hidup sebagai bangsa Merdeka antara lain karena kepeloporan dan eteguhan hati BK. Banggalah memiliki Bung Karno (Ghentenx)

poempuisi mengatakan...

@ Bigmike,

wow, ini "grundelan" BM...ga pa2...sekali-sekali lampiaskan ajah ganjelan. Biar plong, ia khan?...he he he....BTW, still a very good posting....

poempuisi mengatakan...

Nah, supaya jangan kesal lagi cobalah BM menikmati puisi karya Taufik Ismail berikut ini:

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

poempuisi mengatakan...

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

poempuisi mengatakan...

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,

poempuisi mengatakan...

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

poempuisi mengatakan...

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

poempuisi mengatakan...

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

poempuisi mengatakan...

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

1998

poempuisi mengatakan...

Dan.....wwwwwooooooowwww.....saya akhirnya bisa menemukan puisi gubahan BUNG KARNO yang dipopulerkan oleh Sitor Situmorang. Baca dan reaspilah, Bung Karno memang nenikat. Hebat.


Aku Melihat Indonesia

Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!

DR. Ir. L. Michael Riwu-Kaho, M.Si mengatakan...

Than Poempuisi, saya juga baru tahu bahwa Bung Karno punya puisi...waaahhhh senang sekali saya....mantap.....nanti mau saya posting khusus tentang puisi ini nih....GBU

tuaksatu mengatakan...

Nurdin blm mo turun boss...gimana nich...tangkep masukin nusakambangan aja kaleee....wkwkwkwk...

Anonim mengatakan...

@tuaksatu....
hahahahaha Nurdin bom mau turun karna liat tuak satu juga ngga mau turun dari pohonnyaaaaaa......
wassalaaammm....

@BM : boleh jengkel asal jangan lekas2 darah naek...

DTN

Fakhry mengatakan...

wooooiiiii BM, gw nambah kepuyengan situ nich....
\Kongres PSSI di Pekanbaru gatot, gagal total. Nurdin ma Besoes ngebajak orang FIFA en AFC. FIFA marah ke NH. Menpora marah ke Nurdin CS. Polisi takut ma tentara. Tentara main api di ranah sipil...puyeng ga tuh?????

siapa makan siapa tuh.....wkwkwkw...

Fakhry mengatakan...

eh iya, posting baru dong...dan jangan ngambek lagi ya brow'.....wkwkwkwkw....

Anonim mengatakan...

Che sara artinya apa yang akan terjadi silakan terjadi...itu persis kelakuan ama Ludji. Nekad dan agak sok tau ha ha ha ha....selamat kerja Ama (A9ust)

Anonim mengatakan...

TNI sebaiknya jadi tentara profesional saja. Tidak perlu jadi ketua PSSI atau malah jadi preman. TNI yang profesional = negara NKRI yang jaya. Bikin Malaysia takutlah....(A9ust)

Anonim mengatakan...

ha ha ha ha....Pak A9ust, saya setuju dengan statement di atas...TNI lebih baik banyak latihan untuk bikin takut malaysia atau australia supaya kita merasa aman dijaga TNI (13)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Apa hasil reformasi? Selain demokrasi kita sengsara dengan kacaubalaunya tata kelola pemerintahan yang baik. Pemeirntah dan lagislatif mau-mau sendiri. Masyarakat cuma pintar menuntut. Swasta cuma pikir untung saja. KACAU. Quo Vadis demokrasi dan reformasi? (13)

Anonim mengatakan...

Nurdin Halid adalah orang tak punya malu....jangan jadi ketua PSSI lagi. Bikin malu saja (13)