Sabtu, 23 April 2011

di Getsemani: Jesus bukan penakut, dia sahabat

Dear Sahabat Kristiani,

Berbahagialah kita, anda dan saya karena Tuhan masih berkenan mempertemukan setiap kita dengan satu lagi Hari Raya Jumat Agung, Perayaan Perjamuan Kudus dan Paskah, di tahun 2011. Ayanda dan Ibunda saya, misalnya, tak lagi merayakan hari-hari besar umat Kristiani ini dalam situasi yang sama dengan yang saya alami. Ayahanda "Robert SGT" dan Ibunda "Tien" mungkin merayakannya di dimensi lain dengan cara yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Penyanyi lagu-lagu balada kecintaan saya, Franky Sahilatua juga tak lagi merayakan Paskah seperti kita. Dia telah berangkat meninggalkan "perahu retak" dunia ini menuju Rumah Allah. Apapun juga, bagi semua sahabat Kristiani saya ingin mengucapkan SELAMAT JUMAT AGUNG. SELAMAT PASKAH. TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA (dan juga saya).

Berkenan dengan perayaan Jumat Agung dan Paskah kali ini, ada yang ingin saya renungkan setelah sebelumnya saya gumuli secara serius. Apa yang saya gumulkan dan renungkan itu. Adalah ini:

„Ya, BapaKu, jikalu Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu: tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.“... Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik darah yang bertetesan ke tanah.“ (Luk.22:42-44)
Ayat di atas menunjukkan secara kronologis detik-detik ketika Tuhan Yesus sedang menunggu "saat-NYA" sebagaimana yang telah ditentukan oleh Sang Bapa. Setelah melaksakan perjamuan kudus di kamar loteng sebuah rumah pengikut-NYA, Tuhan Yesus lalu berjalan menuju Taman Getsemani ditemani 3 orang murid-Nya. Di sana Tuhan Yesus mengambil sewaktu dua waktu untuk berdoa menggumuli "saat-NYA" tersebut. Hampir semua tafsir Alkitab mengatakan bahwa ayat-ayat itu menujukkan sisi manusiawi Yesus yang memiliki rasa takut. Sudah barnag tentu, saya memahaminya di balik "ketakutan-NYA" itu tersembunyi teladan Ilahiat, yaitu ketaatan di hadapan Bapa. Tuhan Yesus takut tetapi di taat. Saya bersetuju dengan tafsir. Akan tetapi ijinkan saya untuk mengatakan bahwa saya memiliki masalah pada penggunaan kata "takut" dalam ayat di atas. Benarkah Yesus "ketakutan" dan lalu berusaha "menghindar dari Salib"? Benarkah begitu? Saya kuatir jika memang benar demikian karena beberapa konsekuensi logis dari homili seperti itu. Karena itu saya berusaha memahami benar arti kata "ketakutan" yang dipakai di Lukas 22: 44.

Kata "takut" pada kutipan ayat di atas kelihatannya merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Yunani "αγωνία" atau "agwnia" atau "agonia". Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka kata itu akan menjadi "agony" yang memang berarti takut. Akan tetapi hasil penelusuran saya secara berhati-hati menemukan arti lain terkait kata "agoni". Saya menemukan bahwa kata "agony" dalam bahasa Inggris ternyata berpadanan dengan lebih dari satu kata Yunani. Kata "agony" selain berpadanan dengan "αγωνία" ternyata juga berpadanan dengan kata "μαρτύριο" atau "martyrio" yang berarti penderitaan yang amat dalam. Karena itu saya tak heran jika dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ayat ke 44 dari Kitab Lukas pasal 22 berbunyi

"Yesus sangat menderita secara batin sehingga Ia makin sungguh-sungguh berdoa. Keringat-Nya seperti darah menetes ke tanah"

Perhatikan pula terjemahan dalam versi lainnya sebagai berikut:
  • Sedang ia dalam sengsara, maka ia meminta doa dengan lebih bertekun; maka peluhnya pun menjadi seperti titik-titik darah gugur ke bumi (Shellabear Draft, 1912)
  • Dan waktu dia ada dalam sngsara, dia minta do'a dngan lbeh tkun: dan dia punya ploh jadi sperti titek-titek darah mnitek di tanah (Melayu BABA, 1913)
  • Maka dalam sangsara jang besar itoe makin radjin ija meminta-doa dan peloehnja pon mendjadi saperti titik-titik darah jang besar berhamboeran kaboemi (Klinkert, 1879)
  • Dan sedang 'ija kene parang pajah, maka makin radjin munadjatlah 'ija. Maka pelohnja djadilah saperij titikh 2 darah kantal, jang malileh turon kabumi (Leydekker Draft, 1733)
Berdasarkan pemahaman arti kata itu maka saya lalu memiliki 3 opsi perspektif dalam memahami makna ayat dalam Lukas 22: 44.

Dalam banyak naskah-naskah renungan saya sering menangkap kesan bahwa Lukas 22: 42-44 memberi petunjuk bahwa Yesus takut. Yesus, dalam sisi manusiawinya, ternyata ketakutan menghadapi Penyaliban yang dahsyat dan mengerikan itu. Begitu takutnya Yesus, lalu Dia berusaha mencari jalan selamat untuk diri-NYA. Pada titik ini saya tertegun. Benarkah Yesus yang saya kagumi luar dalam itu adalah seorang yang penakut? Bukan cuma takut, lebih lanjut tampak Yesus mengusahakan sesuatu yang lainnya seperti yang terlihat pada kutipan ayat tersebut berikut ini ..... "ambillah cawan ini dari-KU" .... Sekarang ada 3 opsi konsekuensi jika do'a Yesus agar Bapa setuju mengambil "cawan" itu dari-NYA: pertama, Allah kehilangan sifat adil. Bukankah penghukuman harus dijatuhkan karena kesalahan sudah terjadi? Kedua, Allah ingkar janji. Bukankah Penyaliban sudah dinubuatkan sejak perjanjian lama? Ketiga, jika Allah memang adil dan tidak berbohong maka kepada siapa "cawan" harus dialihkan? Siapa yang harus dikambing hitamkan? Siapa yang harus dikorbankan menggantikan Yesus? Benarkah Tuhan Yesus dalam doanya berpikir tentang "bagaimana mengorbankan orang lain"? Nah lihatlah, konsekuensi logis dari perspektif Yesus ketakutan dan berusaha melarikan diri diri dari "cawan" ternyata berdampak sangat serius terhadap kesejatian Allah dan Yesus. Hal ini juga tidak main-main karena di beberapa blog yang kontennya sangat sisnis terhadap Yesus saya membaca bahwa perkara ketakutan Yesus ini ternyata digunakan sebagai dasar argumen menolak dimensi Ketuhanan-NYA..."heeeiiii, lihatlah...Yesus yang penakut itu pasti bukan Tuhan karena tak masuk akal Tuhan itu penakut". Betulkah Tuhan Yesus ketakutan lalu diam-diam berusaha bernegosiasi dengan sang Bapa guna berusaha mencari selamat bagi diri-NYA sendiri sembari mengorbankan orang lain? Jujur saja, saya tak yakin. Mengapa demikian?

Saya memiliki beberapa referensi yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sama sekali bukanlah penakut dan juga bukan pencari keselamatan untuk diri-NYA sendiri lalu tega mengorbankan orang lain. Kisah Yesus Tuhan Yesus menghadapi pencobaan di padang gurun; ceritera Tuhan Yesus yang mengusir roh jahat; bagaimana cara Tuhan Yesus menghadapi angin topan di tengah lautan yang nyaris mengaramkan kapal yang ditumpanginya; Bagaimana pilihan etis Tuhan Yesus menghadapi banyak orang yang marah dan ingin merajam si perempuan pezinah...dan wwwooowwww...masih amat banyak lagi referensi sejenis yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bukanlah penakut. Tidak pula seorang pencari keselamatan bagi diri-NYA sendiri. Tuhan Yesus juga tidak sedang bernegosiasi dengan Bapa untuk tega mengirimkan orang lain ke Kayu Salib ganti Dia. Jika benarlah Yesus memilih sikap seperti begitu maka, maaf, ke-Kristenan saya akan saya tanggalkan menit ini juga karena bukan Yesus seperti itu yang saya sembah. Dalam perspektif ini Yesus adalah penakut dan berusaha lari sejauh-jauhnya dari penghukuman. Sulit saya membayangkan bahwa ibarat menghadapi kapal yang karam Tuhan Yesus sedang berusaha berenang secepat-cepatnya supaya tidak ikut terbawa tenggelam terseret arus kapal karam lalu tidak perduli apakah si anu dan si polan sedang termenggah-menggeh klelep mau mati tenggelam. "Walah kalo nulungin situ bisa-bisa gw ikutan klelep dunk, tak us-us aja ya". Maaf, saya tidak yakin bahwa Yesus bertindak seperti itu. Itu bukan tipenya dech. Kalau tidak begitu lalu apa? Ada alternatif perspektif kedua.

Saya mendapat sedikit kelegaan ketika mengetahui bahwa ayat ke 44 Kitab hasil tulisan dokter Lukas pada pasal ke 22 ternyata dapat berbunyi dalam pemaknaan yang berbeda...."Tuhan Yesus amatlah sengsara" ... Oh, ternyata peristiwa doa di taman Getsemani tidaklah harus ditafsirkan bahwa Yesus adalah si penakut yang sedang berusaha mengelak dari Salib dan meletakkan salib pada bahu manusia. Tuhan Yesus ternyata amat menderita. Apa yang membuat Tuhan Yesus menderita? Bayangan dahsyatnya Salib dan penyalibankah? Bisa jadi begitu tetapi Yesus tak sedang mengupayakan penghindaran dari penghukuman. Yesus yang sehakekat dengan Allah itu tahu persis bahwa Salib tetap ditancapkan dan Dia akan tergantung di situ. Yesus juga paham bahwa tak boleh ada sesiapaun yang lain yang dapat menggantikan Dia sebagai yang tergantung di Salib. Yesus tahu bahwa "cawan harus diminum" tetapi "bolehkah cawan itu ditukar"? Saya membayangkan Yesus bergumul dalam pikiran-NYA dan berbisik ..."Bapa, masih bolehkan ada solusi lain dari penghukuman yang akan aku tanggung"..... Terhadap kemungkinan ini, saya sedikit lega tetapi belum seluruhnya karena masih terasa "bau" upaya meluputkan diri dari "cawan". Yesus mengelez? Saya pikir tidak kendati Yesus sebenarnya bisa saja mengambil jalan lain bukan? Saya teringat pengalaman saya beberapa waktu yang lalu sebagai salah satu pengurus dalam organisasi x. Salah satu petinggi di organisasi ini jelas-jelas bersalah menyalahgunakan kuasa dan melakukan korupsi. Mula-mula musyawarah pengurus memutuskan untuk memecat yang bersangkutan tetapi lalu dengan alasan "kasih" maka keputusan itu diubah hanya menjadi penundaan kenaikan gaji berkala. Hukuman tetap djatuhkan tetapi bentuknya dirubah dan bahkan lebih ringan. Bisa jadi model inilah yang "dinegosiasikan" oleh Yesus kepada sang Bapa. Boleh-boleh saja tafsir seperti itu tetapi - sekali lagi menurut hemat saya - itu juga bukan tipe Yesus.

Sampailah saya pada alternatif perspektif yang berikutnya yang saya yakini jauh lebih mendekati kebenaran Firman Tuhan tentang jati diri Yesus. Begini: Tuhan Yesus sadar bahwa Salib dan Penyaliban pasti terjadi karena keadilan Allah. Hukuman sudah dijatuhkan dan itu harus terjadi. Compromise no more. Tidak ada pilihan lain. Betuk penghukumannya juga sudah pasti seperti nubuat para Nabi. Ya, penyaliban yang adalah hukum yang amat mengerikan dan menghina itu tak boleh berubah. Tak bisa diubah. Harus seperti itu. Tuhan Yesus juga tahu bahwa manusia si pecundang tak akan mampu menanggung Salib yang nista itu kecuali DIA. Lalu apa yang membuat Yesus amat menderita? Menurut saya, Yesus amat menderita justru karena keterlibatan manusia dalam proses penghukuman itu. Tangan Bangsa Israel sebagai ruang budaya kehidupan Yesus sekali lagi akan berlumuran darah dan kali ini adalah darah Mesias mereka sendiri. Mesias yang dinanti-nantikan begitu lama. Tangan umat pilihan ini kembali harus berlumuran darah bahkan kali ini darah anggota komunitasnya sendiri. Ingat bahwa Yesus terlahir dan sampai mati adalah seorang Yahudi. Dalam hukum Yahudi, amat terlarang "jeruk makan Jeruk" atau "Jahudi makan Jahudi".

Yesus yang mau memahami perilaku dan kedosaan manusia dengan segala konsekuensinya itu rupanya memasuki taman Getsemani dengan beban itu. Dia akan mati di Salib tetapi bagaimana dengan nasib manusia si pecundang yang membunuh-Nya itu? Jika kematian-NYA adalah bentuk ultimat terhadap penebusan dosa bagaimana dengan tanggung darah oleh kaum pembunuh-NYA? Yesus tahu betul bahwa jawaban terhadap dosa akan segera dimiliki oleh manusia melalui Kematian dan Kebangkitan-NYA tetapi bukankah manusia bebas memilih ataukah selamat ataukah maut. Apakah si degil manusia mau belajar dari kesalahan mereka tentang penyaliban. Apakah jauh setelah penyaliban, manusia tak lagi gemar menebar kebencian? Yesus tahu betul bahwa Dia sudah menyiapkan jembatan emas Keselamatan menuju Allah, yaitu diri-NYA sendiri tetapi apakah pendewaan terhadap diri sendiri, kekuasaan, keterkenalan dan kekayaan tidak lagi menjadi pilihan hidup manusia? Saya membayangkan dalam pergumulan batinnya yang dahsyat mungkin Tuhan Yesus berkata dalam hati-NYA

..."mengapa ya Bapa, aku digariskan harus mati oleh tangan manusia yang aku cintai itu? Tak adakah jalan lainkah? Aku adalah harapan bangsa degil ini .... Akulah harapan sebenarnya bangsa sesat ini.....jika aku harus mati, siapakah harapan mereka? Ya Bapa, mengapa aku harus mati di tangan mereka? Karena keadilan MU, adakah mereka diloloskan dari hutang darah atas kematian KU? ... Ya Bapa, mengapa, hanya karena berbeda visi dan klaim kebenaran sepihak, Penyaliban ini harus terjadi....Ya Bapa, mengapa siklus pertumpahan darah atas nama perbedaan visi dan klaim kebenaran masih harus terjadi lama setelah Penyaliban ini?
Tentang ini saya mengajak anda semua untuk mengingat kisah Kain yang harus menerima hukuman atas pembunuhan yang dilakukan terhadap adiknya Habel. Anda juga tak boleh menutup mata terhadap fakta sejarah bahwa 40-50 tahun setelah penyaliban Yesus, Bangsa Israel dihancur leburkan oleh Romawi dan diserakan ke seluruh penjuru dunia. Kisah kelam bangsa Israel masih akan terus berlangsung amat lama sampai masa tangan berdarah si Monster Hitler yang membunuh 6 juta orang Yahudi. Apakah ini bukan bentuk hukuman tanggung darah terhadap kejahatan mereka membunuh Mesisnya sendiri? Anda juga jangan melupakan konsteks sosial, politik dan historis bahwa dalam peristiwa Penyaliban Yesus terpaut banyak aspek yang menunjukkan intrik politik, intrik kekuaasaan, intrik keagamaan dan bahkan intrik pengkhianatan. Ya, Yesus adalah korban tak berdosa dari intrik-intrik yang terjadi. Fakta menunjukkan bahwa korban tak berdosa dan sia-sia dalam berbagai sengketa di dunia begitu amat luar biasa banyaknya. Ratusan juta nyawa meregang percuma selama perang Salib, perang antara kaum Protestan dan Katolik, di Eropa, WW I, WW II, Perang Vietnam, Perang Teluk, kerusuhan Mei 1998 di Indonesia, peristiwa 9-11 di New York dan ribuan peritiwa berdarah lainnya. Yesus mengetahui itu. Yesus mengenal betul kedegilan hati manusia kesayangannya itu. Pasti. Salib memang diperlukan tapi Yesus ragu akan kemauan manusia untuk belajar dari Salib. Dan karenanya Dia menderita. Dia menangis.

Dalam perspektif yang saya tawarkan ini pusat perhatian saya bukanlah upaya Yesus untuk bernegosiasi dengan Sang Bapa tentang keluputan-NYA dari Penyaliban melainkan CINTA KASIHNYA YANG AMAT MURNI DAN TAK TERBATAS BAGI MANUSIA. Sisi inilah yang mengejutkan dari Yesus seperti yang dikatakan oleh Tim Stafford (2010) dalam bukunya "Surprised by Jesus" bahwa pribadi Yesus adalah pribadi yang sugguh sangat mengejutkan bagi banyak orang yang mengaku mengenal Dia. Salah satu ciri khas Tuhan Yesus adalah beliau selalu berpikir dalam suatu kesatuan persekutuan. Itulah penjelasannya mengapa Yesus yang sama sekali tidak memiliki dosa tetapi malah menyerahkan diri-NYA untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dia melakukan itu karena Dia solider dengan manusia yang berdosa dan membutuhkan pembaptisan. Itu pula penjelasannya mengapa Tuhan Yesus amat sering bergaul dengan mereka yang terpinggirkan, yaitu si pezinah, si pemungut cukai dan yang lainnya. Setiap tindak-tanduk Yesus selalu memberi petunjuk bahwa...."hei, aku mencintai kalian dan karena itu aku mau masuk dalam penderitaanmu, dalam kesusahanmu, dan bahkan .... dalam dosamu. Bayangkan, di tengah ancaman Salib yang akan dikenakan kepada-NYA, Yesus malah memikirkan manusia. Jelas sudah, siapa yang digumulinya dengan penuh penderitaan di Getsemani. Siapa yang di tangisi-NYA di Getsemani. Bukan diri-NYA sendiri melainkan Manusia. Luar biasa.

Berkali-kali saya membaca Lukas 22: 42-44 dan saya selalu cemas akan "ketakutan" Yesus. Tetapi syukurlah, kali ini saya memahaminya dari perspektif yang berbeda. Yesus boleh saja menderita, cemas, gelisah atau takut sekalipun tetapi saya tahu kini bahwa obyek ketakutan-NYA bukanlah diri-NYA sendiri. Yesus pertama-tama tidak sedang berpikir kepentingan diri-NYA sendiri. Manusialah yang ada dibenak-NYA sepanjang hidup dan karya_nya bahkan ketika DIA berada begitu dekat dengan dengus napas seringai jahat sang maut. Itulah demonstrasi Cinta Kasih Yesus yang tak tertandingi. Di zaman ketika semangat mementingkan diri sendiri begitu merebak bukankah teladan YESUS terasa amat luar biasa? Ketika di Libya semua berperang melawan semua, ketika para pelaku teror bom di Indonesia hanya memikirkan isi kepalanya sendiri, dan ketika para petinggi DPR sibuk mencari-cari alasan pembenaran dalam pemborosan pembangunan gedung DPR yang baru, dan ketika para penggemar George Toisuta dan Arifin Panigoro sibuk memikirkan kepentingan diri mereka sendiri di PSSI maka teladan Yesus adalah oase penyejuk di tengah padang pasir kepentingan diri itu.

Sahabat Kristiani, jika perspektif ini bisa diterima maka jelaslah sudah Tuhan Yesus bukanlah pecundang nan penakut melainkan adalah sumber mata air cinta kasih yang teramat luas dan dalam. Inilah Yesus Tuhanku. Penebusku yang hidup. Kepada-NYA layak saya mempertaruhkan hidup dan peruntungan hidup. Ketika saya tak memperdulikan Dia malah sebaliknya, Dia berpikir tentang saya. Dia menangis untuk saya. Dia gelisah karena saya. Dia takut karena memikirkan saya. Yesus memang Tuhan tapi Dia juga sungguh sahabat saya. Kepada saya dan anda YESUS telah menawarkan Syalom Allah itu. Maukah anda dan saya? Anda mau Yesus yang penakut atau Yesus yang bersahabat. Saya sudah membuat pilihan. Terserah anda. SELAMAT PASKAH


Shalom Tuan Shalom Puan

50 komentar:

mikerk mengatakan...

Dear Sahabat Kristiani,


SELAMAT HARI RAYA PASKAH. TUHAN YESUS MEMBERKATI

mikerk mengatakan...

Posting ini belum diedit. Semoga tidak terlalu mengganggu kenyamana sahabat dalam membaca. GBU

mikerk mengatakan...

1. What a friend we have in Jesus,
All our sins and griefs to bear!
What a privilege to carry
Everything to God in prayer!
Oh, what peace we often forfeit,
Oh, what needless pain we bear,
All because we do not carry
Everything to God in prayer!
2. Have we trials and temptations?
Is there trouble anywhere?
We should never be discouraged—
Take it to the Lord in prayer.
Can we find a friend so faithful,
Who will all our sorrows share?
Jesus knows our every weakness;
Take it to the Lord in prayer.
3. Are we weak and heavy-laden,
Cumbered with a load of care?
Precious Savior, still our refuge—
Take it to the Lord in prayer.
Do thy friends despise, forsake thee?
Take it to the Lord in prayer!
In His arms He’ll take and shield thee,
Thou wilt find a solace there.
4. Blessed Savior, Thou hast promised
Thou wilt all our burdens bear;
May we ever, Lord, be bringing
All to Thee in earnest prayer.
Soon in glory bright, unclouded,
There will be no need for prayer—
Rapture, praise, and endless worship
Will be our sweet portion there.

mikerk mengatakan...

What a Friend in Jesus

by Allan Jackson

1. What a friend we have in Jesus,
All our sins and griefs to bear!
What a privilege to carry
Everything to God in prayer!
Oh, what peace we often forfeit,
Oh, what needless pain we bear,
All because we do not carry
Everything to God in prayer!

2. Have we trials and temptations?
Is there trouble anywhere?
We should never be discouraged—
Take it to the Lord in prayer.
Can we find a friend so faithful,
Who will all our sorrows share?
Jesus knows our every weakness;
Take it to the Lord in prayer.

3. Are we weak and heavy-laden,
Cumbered with a load of care?
Precious Savior, still our refuge—
Take it to the Lord in prayer.
Do thy friends despise, forsake thee?
Take it to the Lord in prayer!
In His arms He’ll take and shield thee,
Thou wilt find a solace there.

4. Blessed Savior, Thou hast promised
Thou wilt all our burdens bear;
May we ever, Lord, be bringing
All to Thee in earnest prayer.
Soon in glory bright, unclouded,
There will be no need for prayer—
Rapture, praise, and endless worship
Will be our sweet portion there.

Anonim mengatakan...

@ Dear Bung Mike,

SELAMAT HARI RAYA PASKAH. TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA SEKELUARGA (Eman, TDM)

Anonim mengatakan...

SUNGGUH SUNGGUH, Isi posting ini amat sangat mengejutkan saya dan keluarga. Kami sedang mambahas prespektif yang ditawarkan Bung MIke. Saya sangak Bung Mike memang diberkati Tuhan (Eman)

Anonim mengatakan...

Oh ya, SELAMAT PASKAH untuk semua penggemar blog Bung Mike yang merayakannya (Eman)

mikerk mengatakan...

@ Dear All,

Saya baru membuat beberapa editing yang perlu. Semoga lebih nyaman dibaca. GBU

mikerk mengatakan...

@ Bung Eman,

Selamat merayakan pesta Paskah. Tuhan Yesus memberkati BUng dan keluarga. Syalom ...

Anonim mengatakan...

@ Bigmike dan sahabat yang merayakat: selamat PASKAH 2010. Mohon maaf lahir batin. Jayalah Indonesia (Ryan)

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Posting yang sangat menantang. Sangat serius. Memang pesan utama yang saya dan kebanyakan jemaat pahami dari ayat lukas tersebut adalah TUHAN YESUS takut lalu meminta kalau boleh hukum itu ditiadakan. Perspektif baru dari Pak Mike adalah apakah Tuhan Yesus menggumuli keelematan pribadi ataukah umta manusia. SAYA TERPAKSA BERPIKIR KERAS (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Tapi untunglah sebagai teman berpikir keras adalah lagu Yesus ada sobat kita. Nikmat sekali dan saya ingat si SCotty peserta American Idol 2011. SUaranya mirip sekali dengan Allan Jackson (Yes)

Anonim mengatakan...

OH ya selamat PASKAH untuk Pak Mike dan keluarga serta semua sahabat bliogger yang merayakan. Tuhan Yesus yang mati tetapi bangkit kembali itu memberkati. SYalom (Yes, BTN)

Fakhry mengatakan...

@ Bigmike dan semua penggemar blog BM yang merayakan Paskah,

SELAMAT PASKAH YA. SEMOGA BAHAGIA SEJAHTERA DAN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN (Proxy73)

Fakhry mengatakan...

egoisme kelompk yang sempit, itulah akar radikalisme yang merebak di Indonesia akhir-akhir ini. Sekelompok orang yang meyakini kebenaran versinya sendiri lantas mengklaim Indonesia sebagai milik pusakanya sendiri lantas merasa berhak menghakimi orang lain, sesama anak bangsa yang gak sejalan dngan mereka. Indonesia terancam.

Lebih terancam lagi ketika kelompok-kelompok egois ini sudah berteriak-teriak di jalanan anti Pancasila dan pro kekerasan, pemerintahnya menanggapinya hanya deengan pidato dan wacana. Hanya dengan pencitraan.

Kita patut bingung mau jadi apa pemerintah seperti ini? Seharusnya tegas saja, ...tak ada kompromi bagi mereka yang anti pancasila. Pancasila adalah harga mati untuk NKRI yang pluralis sejak berdirinya. Pancasila juga hasil perjuangan umat Islam. Bung Karno dan Bung Hatta tak usah diragukan Islamnya tetapi mereka adalah nasionalis sejati. Masih adakah orang seperti mereka? Saya ragu-ragu

Fakhry mengatakan...

Saya menangkap betul inti posting ini, yaitu bagi pemimpin yang penakut dan lebih memikirkan keselamatanya sendiri maka mereka adalah pemimpin yang tak perlu dianut. Bahwa Nabi Isa telah menunjukkan teladan hebat ini maka saya pikir dua jempol pantas untuknya. Ingat Nabi Isa adalah Nabinya orang Islam juga. Mahatma Gandhipun terkesan pada dia.

BM anda itu siapa sih? Dosen ahli kehutanan atau teolog?....wkwkwkwkw......

poempuisi mengatakan...

@ Bigmike,

Selamat Paskah. Postingnya bikin merinding bukan karena apa-apa tetapi karena begitu luasnya cinta kasih. Harusnya hal ini dimiliki oleh segenap warga bangsa koita yang terancam tercabik-cabik radikalisme.

poempuisi mengatakan...

Sajak Si Pendosa untuk Sang Penebus Dosa


Aku adalah si pendosa.
Tanganku berlumuran dosa.
Hatiku berlumuran dosa.
Pikiranku berlumuran dosa.
Kakiku pun berlumuran dosa.

Tidak secuilpun dari aku yang bersih dari dosa.
Sejak lahirpun aku telah berlumuran dosa.
Hatiku ingin bebas dari dosa, nuraniku menjerit ingin bebas dari dosa.
Segala upaya kucoba untuk membebaskan diriku dari jerat dan belenggu dosa.
Tapi semuanya sia-sia.

Aku adalah si pendosa.
Pendosa yang merindukan kebebasan dari jerat dan belenggu dosa.
Hari-hari dalam hidupku ku jalani dengan terseok-seok.
Berat rasanya kakiku menapaki hidup ini.
Semakin hari semakin berat oleh beban dosaku.

Sampai suatu saat ku menundukkan kepalaku dan hatiku bersuara lirih.
Tuhan, Tuhan… ku tahu bahwa Engkau TUHAN yang penuh kasih.
Aku sudah pergi jauh daripada-Mu, beban dosaku kini telah menindih aku.
Kini ku merasa hampir mati.
Hati ku serasa kering bagai ditengah padang gurun.
Hampir mati rasanya, hampir mati rasanya.

Kupanggil kembali nama-Mu dalam hati.
Ku katakan bahwa ku tahu bahwa kau mati bagi semua umat manusia untuk menebus dosa mereka.
Namun ku katakan bahwa mungkin Engkau tidak mati bagiku.
Kukatakan itu karena aku merasa tak layak menerimanya.
Aku yang kotor dan berlumuran dosa.
Aku yang telah tidak setia dan pergi menjauh meninggalkan-Mu.
Pastilah dipandangan-Nya aku tampak menjijikkan.

Namun Engkau, melihat betapa hancurnya hati dan hidupku.
Engkau tidak melihat apa yang telah ku perbuat.
Hati-Mu yang penuh kasih melihat betapa aku membutuhkan uluran tangan kasih-Mu.

Kau panggil namaku, dan kau katakan bahwa Engkaupun telah mati bagiku.
Aku tersentak dan merasa tidak percaya.
Namun ku merasa lega, dan segera kurasakan bahwa hidupku dipulihkan, dosaku diampuni
dan belenggu dosa yang selama ini menghimpit dan menjepit aku segera patah.

Tuhanku, Juruselamatku, Penebus Dosaku, aku bersyukur kepada-Mu
atas kurban Darah-Mu yang kudus yang telah tercurah bagiku Si Pendosa.

Kini aku menjadi manusia baru yang telah bebas dari dosa, hidup baruku untuk memuliakan Nama-Mu.
Ku bersyukur karena ku bebas dari segala dosa.
Damai dan sejahtera kini ada dalam hatiku.
Ku serahkan hidupku sebagai ucapan syukurku kepada-Mu.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah memulihkan ku dengan kasih dan kuasa-Mu yang ajaib.

Happy Easter
CHRIST Has Risen...!

poempuisi mengatakan...

ISA

by Chairil Anwar

(kepada nasrani sejati)

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera

mengatup luka

aku bersuka

itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah.

12 November 1943

(dikutip dari kumpulan Deru Campur Debu, 2000)

poempuisi mengatakan...

Lihatlah Cahiril Anwar yang Muslim mampu membuat puisi Kristiani yang amat sangat indah. Mengapa teladan pluralisme ini menghilang sekarang ini?

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Selamat Paskah ya. Tuhan Yesus memberkati. Keep on posting (Merry)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Posting yang sangat menggugah. Dalam tablo-tablo yang saya ikuti setiap rangkaian pesta Paskah, kesan bahwa Tuhan Yesus sangat takut sangat menonjol. Kami umta yang menyaksikan itu sering ikut menangis mengenang kesengsaraan Yesus. Akan tetapi memang sejak lama , dlaam hati kecil saya sudha ada pertanyaan apakah benar Tuhan Yesus ketakutan menjalani Via Dolorosa?

Saya amat sangat bersyukur bahwa dalam posting BM ada perspektif baru. Saya bersukur mengetahui bahwa Tuhan Yesus berduka cita justru karena memikirkan kita, BM dan saya, karena kecenderungan kita kepada dosa. LUAR BIASA. Saya sangat senag bahkan saya sudah copy posting ini dan saya save ke dalam file renungan religius saya. Terima kasih (13)

Anonim mengatakan...

...."Anda harus mengingat bahwa ratusan juta nyawa meregang percuma selama perang Salib, perang antara kaum Protestan dan Katolik".....

Kutipan di atas lansgung menghentak pikirna kita. Ya betul, atas nama agama, darahpun sering saling ditumpahkan. Lebih ngeri lagi, atas nama Yesus yang sama, sesama pengikut Yesus saling membantai. Saya usul supaya dalam pawai kemenangana tahun depan perlu juga diperankan adegan kebodohan murid-murid Yesus seperti yang saya ucapkan supaya semua belajar bahwa untuk semua itu Tuhan Yesus pernah bedoa sampai darahnya bertetesan seperti darah. Bersatulah wahai semua pengikut Yesus....(13)

Anonim mengatakan...

SELAMAT PASKAH UNTUK SEMUA. TUHAN YESUS MEMBERKATI (13)

Anonim mengatakan...

@ Bung Poempuisi,


Puisi "Sajak Si Pendosa untuk Sang Penebus Dosa" yang anda posting bagus sekali. Mantap. Thanx. GBU (13)

mikerk mengatakan...

Dear All, saya baru membuat penyuntingan tambahan supaya maksud posting lebih clear. Selamat membaca. GBU

mikerk mengatakan...

Terima kasih bagi sahabat yang sudah berkunjung dan berkomentar.

Bung Fakhry, thanx atas refleksinya. Kita jaga Indonesia yang plural biar tetap Jaya OK?...Ryan thanx, Poempuisi wwwhh...puisinya bagus banget, mantap (mana janji puisi untuk diposting?), Thanx Bung Domi, mudah-mudahan dalam pilgub nanti kita ribut lagi protestan - katolik lagi ya ha ha ha....

mikerk mengatakan...

Khusus untuk Bung Yes,

Memang tafsir yang saya buat bisa saja keliru karena saya manusia biasa tetapi cobalah dicermati betul MORALITAS YESUS. Sama sekali tidak akan kita jumpai 3 sifat itu, yaitu penakut, penghindar dan mengorbankan orang lain. Itulah dasar pijakan saya. GBU

Anonim mengatakan...

Good blog with smart postings (Joy)

Anonim mengatakan...

@ Dear Pak Mike,

Saya setuju dengan opsi 3. Tuhan Yesus pasti bukan penakut, juga bukan berusaha melarikan diri dari masalah, pasti juga bukan suka mengorbankan yang lain. Ini kado Paskah yang indah, yaitu memahami Tuhan Yesus lebih baik. Thanx. Syalom (Yes)

Anonim mengatakan...

@ Mike,

Posting ini memang mengejutkan karena agak berbeda dari tafsir umumnya. Kita pahami dari perikor itu adalah tentang bukti ketaatan. Tapi sekarang kita memiliki perspektif baru dan sangat mengejutkan sekaligus melegakan. Yesus ternyata tidak takut, dia malah sibuk memikirkan manusia yang dikasihinya. Thanx (John)

Anonim mengatakan...

what a friend in Jesus = Jesus adalah sobat kita. Syahdu cocok untuk saat teduh (John)

Anonim mengatakan...

Yesus penalut? Ya jelas tidak dong. Salam kenal dari Srby. Very good blog (Iusak)

alice mengatakan...

@ Bigmike,

Biar terlambat kan ga apa2 jika saya mau nghucapin SELAMAT PASKAH. Kasih Tuhan Yesus yang amat luar biasa itu kiranya beserta Bigmike dan semua sahabat yang merayakannya.

alice mengatakan...

Posting ini cocok banget dengan pergumulan saya beberapa waaktu lalu. Apa yang diuraikan BM memperkaya pemahaman saya tentang makna "penderitaan Tuhan Yesus" sejak Taman Getsemani menuju Bukit Golgota.

Seorang teman mengirimkan tulisan singkat kepada saya yang membantu saya mngatasi pergumulan saya. Llau, tulisan BM membuat semakin jelas. Thanx ya BM atas perspektifnya. Luar biasa. Saya usul, kumpulan postig tentang renungan Kristianinya di kompilasi trus diterbitkan. Akan membawa banyak berkat deh. GBU

alice mengatakan...

Nah, saya kutipkan bahan renungan kiriman sahabat saya guna memperkaya baha perenungan kita.

"Yesus Kristus Seorang Penakut?"

Sahabat, beberapa orang dari kelompok agama mayoritas di Indonesia sangat gemar mempergunakan ayat di bahwa ini untuk menuduh (atau lebih tepatnya menyerang) bahwa Yesus Kristus adalah seorang 'penakut' ketika menghadapi kematian-Nya dan tak setangguh seperti yang dipercayai umat Kristen:

Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Lukas 22:41-44

Apakah tuduhan ini benar?
Apakah ayat tersebut bermakna demikian?

alice mengatakan...

Jika kita hanya membaca ayat Lukas 22:41-44 dan memberi perhatian penuh hanya kepada ayat 44, maka dengan mudah kita akan menarik kesimpulan seperti yang mereka tuduhkan: "Yesus seorang penakut!"

Tetapi hal itu tidak akan terjadi jika mereka mau dengan tulus hati
dan pikiran yang terbuka memperhatikan ayat yang tertulis di atasnya:

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku;
tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."
Lukas 22:42

Lalu membandingkannya dengan ayat-ayat paralel
yang tertulis di kitab Matius dan Markus, seperti berikut:

alice mengatakan...

Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Matius 26:37-39

Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku berdoa." Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah." Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Markus 14:32-36

alice mengatakan...

Dari perbandingan ayat-ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa hal yang membuat Yesus Kristus merasa takut, sedih serta gentar bukanlah 'kematian' yang akan dihadapi-Nya melainkan 'cawan dosa' yang harus ditanggung-Nya!

Yesus Kristus tidak pernah takut dan gentar menghadapi kematian! Bahkan selama DIA di dunia, DIA beberapa kali memberi bukti, bahwa kematian tunduk dan takluk kepada diri-Nya:

- Markus 5:21-43, baca "Ketika kematian dipandang remeh"
- Lukas 7:13, baca "Mengalahkan kematian di pintu gerbang kota Nain"
- Yohanes 11:38-44, baca "Ketika Kematian Kehilangan Taring"

alice mengatakan...

Di taman Getsemani, Yesus merasa takut, sedih serta gentar
terhadap 'cawan dosa' yang akan ditanggung-Nya, karena:

- Yesus Kristus tidak berdosa,
- dosa umat manusialah yang ditanggung-Nya,
- segala kutuk dan akibat-akibat dari dosa manusia ditimpakan kepada-Nya,
- DIA menanggung kutuk atas segala dosa yang tidak pernah dilakukan-Nya.

Sahabat, Alkitab dengan jelas menuliskan ketika Yesus Kristus selesai berdoa maka segala perasaan takut, sedih serta gentar sirna daripada-Nya. Dengan langkah tegap dan tanpa mengeluh, DIA menyongsong salib dan mati terkutuk di atasnya. Semua itu demi menanggung segala dosa dan kutuk dosa yang seharusnya ditimpakan kepada umat manusia:

Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia.
Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi."
Yohanes 18:8

Jika Yesus penakut, bukankah lebih masuk akal jika saat itu DIA pergi melarikan diri?

Tetapi Yesus Kristus tidak melarikan diri, DIA bukanlah Tuhan yang penakut!

Haleluya ...

alice mengatakan...

oh ya BM, boleh ga kalo pas tugas ke Jakarta, saya undang ke persekutuan do'a kami bbrp "anak Tuhan" di komplex melia kuningan?

tuaksatu mengatakan...

SELAMAT ASKAH NE BOSS BIGMIKE....CHEERS....

tuaksatu mengatakan...

Salah stau bahan tertawaan orang-orang ateis terhadap kelompok teis adalah TUHAN tiap-tiap kelompo teis adalah TUHAN yang jahat, haus darah...mengapa demikian? mereka tidak punya jawaban yang pasti tapi mereka bisa menunjukkan pelaku-pelaku teistik memang terbukti amat gemar salubng membunuh dengan kitab suci di tangan mereka.

Kejahatan dan kematian osama bin laden, perang salib, operang katolik vs protestan, pembunuhan terhadap orang2 ahmadijah adalah cotoh haus darahnya orang-orang teistik. Jangan2 bukan Tuhan yang disembah tetapi setan laknat? Bingung? ane juga bingun ne....

tuaksatu mengatakan...

@ Bigmike,

BTW, posting ini amat bagus. Kita dipaksa berpikir sebelum bilang setuju ato ga setuju

Anonim mengatakan...

Amin Pak Ludji, dipikir-pikir memang juga ya...tidak mungkin lah Yesus ketakutan dengan konskuensi yang amat mengerikan. Iman kita bertambah mantap nih dengan perspektif ketiga itu. Thanx (Bram, Kupang)

mikerk mengatakan...

Thanx bagi sahabat yang sudah berkunjung dan berkomentar. Sahabat baru maupun yang lawas. GBU

mikerk mengatakan...

@ Mbak Eliz,

Terima kasih dan amat membanggakan diundang teman-teman PD tetapi susah memprediksikan waktunya. Saya ke Jakarta sebentaran-sebentaran saja lalu balik kampung. Ga tahan sama macetnya Jakarta. Tapi kalu Tuhan Yesus berkenan pasti ada saat kita bisa sharing dan saling menguatkan iman. Jesus Loves U

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Selamat pagi. Selamat bekerja di minggu yang baru. GBU (13)

Anonim mengatakan...

Terimakasih untuk renungannya, TUHAN YESUS memberkati saya melalui renungan ini.......saya ingin menambahkan bahwa benar TUHAN YESUS tidak pernah takut kepada siksaan atau ketakutan tetapi TUHAN YESUS sangat menderita karena TUHAN tahu bahwa DIA akan ditinggalkan oleh ALLAH BAPANYA akibat dosa manusia, inilah penderitaan yg paling berat bagi TUHAN YESUS seperti Daud mengatakan "TUHAN, jangan ambil ROHMU daripadaku....karena dari awal permulaan TUHAN YESUS tidak pernah berpisah dari ALLAH BAPA....kiranya TUHAN YESUS memberkati kita semua....AMIN

yesus mengatakan...

Nak plintir terus ayatku.... aku bukan tuhan aku utusan.... sembahlah tuhan