Selasa, 02 November 2010

bangsa apa ini? negeri bencana negara letoy lebay

Dear Sahabat Blogger,

Dalam memori kolektif orang-orang tempoe doeloe yang tinggal di Kupang, bulan Oktober disebut sebagai bulan "panas". Ada dua makna, yaitu suhu atmosfir Kupang di bulan oktober adalah yang terpanas dalam setahun. Beberapa data menunjukkan suhu ambient rata-rata Kota Kupang sekitar 34.7oC. Jika suhu diukur pada areal jalan raya maka angka tersebut bisa melonjak mencapai 40-42oC......wwwaaaallllaaaahhh...panas amat. Makna kedua, mungkin karena pengaruh suhu udara yang panas, kasus-kasus rumah tangga yang bercerai mencapai jumlah terbesar dalam setahun. Sebagai kontras, bulan Juli adalah bulan terdingin di Kupang dan lalu di bulan itulah statistik jumlah pasangan menikah yang tercatat di Kantor Catatan Sipil selalu yang tertinggi. Ujar-ujaran orang Kupang doeloe lalu menjadi ... bulan Juli menikah bulan Oktober bercerai.....benar begitu? tak pasti juga tetapi demikianlah mitos dalam memori kolektif orang Kupang. Pokoknya, jika bulan Oktober maka heeeiiii...hati-hati...bakal ada kejadian memilukan. Dan tahun ini, mitos seperti itu menjadi nyata. Bukan di Kupang tetapi di Indonesia. Gerangan apakah?

Pagi hari masih baru, banjir bandang menyapu Kota Wasior. Luluh lantak. Hancur lebur. 29 orang mati 103 lainnya hilang. Harta benda lenyap disapu air.... Air yang amat banyak termasuk air mata. Tetapi .... amboooiiii .... lihatlah, Pemda Kab. Manokwari bingung, Pemda Papua Barat tak tau mau bikin apa dan pemerintah pusat malah sibuk mengurusi isu....siapa yang mau menggulingkan SBY...korban tak tertangani dengan baik berjam-jam lamanya. Lalu menteri kehutanan berteriak ... "wooooiii illegal logging tuh" ...eh belakangan diralat... "eeehhhmmmm...maaf ya, itu bukan illegal logging tetapi karena daerah aliran sungai (DAS) yang tidak dikelola dengan baik" . Mana yang benar bapak????? Karena berlarut-larut maka isunya menjadi tidak karuan dan yang bikin malu adalah ini....wah korban Wasior kurang diangani dengan baik karena kebanyakan mereka bukan penduduk asli....wuuuueeehehhh, gila... gilaaaa .... gilaaaaaaaa.....negeri apa ini?

Luka di Wasior belum kering benar ketika kita dikagetkan oleh bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada tanggal 26 Oktober 2010. Menyusul gempa bumi berkekuatan 7 SR, gelombang tsunami setinggi 8 m menyapu Mentawai ...lintang pukang ..... remuk redam....hancur lebur....berita terkini (02-11-2010), 450 meninggal 200-an hilang. Apakah penanganan bencana lebih baik? Ga juga bro. Bayangkan, setelah kejadian, dengan alasan tengah malam dan komunikasi buruk, status peluang tsunami tidak lagi disebarkan. Setelah tsunami terjadi, barulah 12 jam kemudian penanganan dilakukan...terlanjur mati-lah mereka yang keleleran tapi mungkin masih bernyawa. Setelah 4 hari kemudian barulah helikopter 4 biji dipindahkan dari padang ke Muko-Muko yang lebih dekat ke Mentawai. Hermawan Sulistyo dalam wanacara di Metro TV mengherankan begitu lambatnya penanganan. Beliau juga merasa heran karena kesiap-siagaan di Padang, mungkin belajar dari gempa setahun silam, amat baik. Tapi mengapa tidak di Mentawai? SBY datang dari luar negeri menengok sebentaran ke Mentawai, bertangis-tangisan lalu...eh, kembali ke Vietnam. Pertemuan ASEAN. Dan selama ketidak hadirannya itulah penanganan begitu buruk. Kasihan Mentawai. Mereka ada tetapi seolah-olah tiada. Lalu merebak isu...Ah Mentawai kan berbeda dari rata-rata oran Sumatera Barat....mammmma miiiiia...gelo.....gilaaa.....maczhammm mannnaaaa negeri kita ini?

Masih terbengong-bengong dengan apa yang terjadi di Mentawai, kita kembali tertunduk merunduk sakit...amat sakit bung en zoes......merapi mengamuk di tanah Jawa. Wedhus gembel mengudara lalu mencari mangsa dan...23 orang meninggal termasuk mbah "rosa" Marijan yang setia, jantan, pemberani, tegar hati dan penuh komitmet tetapi sayang terlalu berkubang dalam sindrom inertia. Merapi ternyata sudah berubah. Dia tidak lagi bisa diprediksi seperti yang dipotret oleh pengetahuan lokal. Ilmu pengetahuan seharusnya tidak di tolak begitu saja karena alasan tradisi. Tetapi duka adalah duka, Jangan diperdebatkan. Karena itu, banyak pejabat berseliweran ke Merapi. Ebiet G. Ade menyanyi langsung di tenda duka. Kali ini tanpa isu gawat kecuali penangannya yang tetap saja tidak karuan. Bahwa masyarakat lebih mengkuatirkan khewan peliharaanya ketimabng nyawa sendiri adalah pertanda bahwa negara tidak berfungsi dengan benar. Bukankah di tangan negara diberi mandat untuk "memaksa"? Tetapi baiklah, di luar perkara itu ada satu peristiwa di Merapi yang mungkin akan menolong kita membebaskan diri dari prasangaka buruk seperti yang terjadi di Wasior dan Mentawai. Apa itu?

Jenazah Mbah Marijan ditemukan dalam keadaan bersujud menunaikan kewajiban agama yang diyakininya. Kita menjadi tahu bahwa orang tua yang satu ini adalah seorang Muslim yang baik dan taat, Tahniah untuk itu. Selamat. Tetapi tidak kurang mengharukan adalah seorang wartawan Vivanews.com, yaitu almarhum Yuniawan "Wawan" Wahyu Nugroho. Berikut saya kutipkan berita dari Vivanews.com:

Sebenarnya, Wawan--nama sapaan Yuniawan--dan Tutur, sudah sempat mengungsi dari Kinahrejo, bersama Agus Wiyarto (asisten dan kerabat Mbah Maridjan), anggota keluarga si Mbah, dan beberapa penduduk desa. Akan tetapi, sesampainya di pengungsian Umbulharjo, dengan mengendarai minibus Suzuki APV, Tutur dan Wawan berkeras kembali untuk menjemput Mbah Maridjan yang memilih bertahan di rumahnya. Di tengah hari yang mulai gelap, mereka tanpa ampun disergap bara wedhus gembel.

Kita tahu kini bahwa Wawan akhirnya "menjadi korban dari kebaikan hatinya sendiri". Apakah dia bersalah? Kita juga tidak tahu persis apakah sikap etis Mbah Marijan dengan bertahan di kampungnya lalu dengan itu seolah-olah mengajak yang lainnya ikut tewas bersama-sama adalah suatu kesalahan yang lain. Tuhan seru semesta alam yang maha mengetahui tetapi kita bisa belajar bahwa begitulah bentuk cinta kasih. Mbah Marijan mencintai Merapi dan tugasnya. Dan, mati karena keyakinan akan tanggung jawab sembari menjalankan tugas adalah pameran tentang 1 kata dan perbuatan. Wawan mau berkorban untuk orang lain. Nyawa taruhannya. Orang lain cuma bisa bicara Wawan melakukannya.....luar biasa. Dan inilah dia jasa 2 orang itu secara bersama-sama, si Mbah dan Wawan, yaitu mereka membebaskan kita dari kepicikan berpikir lalu menuding dan akhirnya menyebar gosip. Kita tahu dari gambar televisi ketika pemakaman Wawan. Ternyata dia Kristani. Anda bayangkan Si Mbah yang Muslim baik ingin ditolong oleh Wawan yang Kristiani. Perbedaan ternyata tidak menghalangi kasih sayang. Maka, hentikanlah omong kosong di Wasior dan Mentawai. Jangan lagi tega hati menambah susah Ibu Pertiwi yang ketika sedang tertimpa bencana masih juga dikuyo-kuyo isu perpecahan, Nurani Mbah Marijan dan Wawan memberikan petunjuk telak bahwa anak Bangsa ini tahu menempatkan diri. Masalah persatuan dan kesatuan di tingkat akar rumput ternyata bukan problem yang terlalu besar. Lalu, di mana letak masalahnya?

Masalah negeri ini ada pada elite yang tak tahu mengelola negara. Suka plesir ke mana-mana. Gubernur Sumatera Barat, Iwan Prayitno, malah memilih berkunjung ke Jerman ketika penanganan Mentawai masih amburadul. Politisi kita amat gemar berdebat berpanjang-panjang di TV pamer ilmu akal-akalan zonder ada tindakan nyata. Lalu ada si Marzuki Ali yang ketua DPR yang malah tega "mengata-ngatai" orang Mentawai bahwa "sudah tahu kepulauan Mentawai berisiko bencana kok orang Mentawai masih mau tinggal di sana". Lho, kalo mereka gak tinggal di Mentawainya lalu apa dong nama etnolinguistik mereka? Waduuuhhh...saya pikir, Marzuki lebih baik diam saja ketimbang ketahuan bodohnya. Pemimpin bangsa ini sibuk ja'im alias jega image. Negeri ini juga adalah negerinya para para pemain sandiwara berkelas penghargaan citra. Tak heran jika pencitraan menjadi model impian pemimpin kita dewasa ini. Berita kemarin adalah petugas sibuk mencopoti spanduk para pemberi bantuan di Merapi karena umbul-umbul itu menghalangi kelancaran gerak mobli ambulans. Umbul-umbul itu juga berisikan aneka iklan produk jasa dan kelompok partai. Kemalangan dikapitalisasi secara berlebihan.

Negeri dikepung oleh 4 lempeng bumi yang bergerak-gerak dan berpotensi menyebabkan bencana. Negeri ini terletak pada barisan "ring of fire" volcano yang siap meletus dan menghancurkan. Sebagian besar wilayah negeri ini ada di daerah tropika basah yang berpotensi menerima hujan dalam jumlah yang luar bisa besar dan mebawa banjir bandang. Semenjak tsunami Aceh, sudah banyak bencana berskala mega terjadi terjadi susul menyusul di Negeri ini. Undang-undang dan aneka aturan telah dibuat tetapi mengapa penanganan bencana selalu saja buruk. Semua berjalan seolah tanpa perencanaan. Kita tidak pernah serius belajar dari pengalaman. Bangsa dan negeri ini, ternyata, dikelola dengan amat tidak pantas. Kita letoy dalam aksi nyata tetapi sangat lebay dalam perkara pasang aksi kucing via sandiwara pencitraan. Mau jadi apa kita ini? Bangsa apa kita ini? Kesian .... eeehhh ... Sekian.

BERITA KEPADA KAWAN/EBIET G.ADE

Tabe Puan Tabe Tuan

42 komentar:

mikerk mengatakan...

Dear All,

Saya hanya menulis dan belum sempat membuat editing. Suah larut dan saya harus tidur. Pusing. Besok saya edit. Semoga dapat dinikmati. Salam

mikerk mengatakan...

Berita Kepada Kawan
oleh: Ebiet G. Ade

Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih ...

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

mikerk mengatakan...

wah, belum ada yang memberi komen. Ya tidak apa-apa. Saya juga baru melakukan beberapa editing kendati terburu-buru. Selamat membaca dan kalo sempat, berilah komentar. GBU all.

Anonim mengatakan...

@ BM,

Miris juga baca posting ini. Kita memang kaco balau jika terjadi bencana. Kita harus jujur unutk itu. Tapi bung BM, letoy dan lebay itu apa? (John, Oemasi)

Anonim mengatakan...

eh tapi lagu ebiet pas dan bagus. Knapa skarang jarang orang bikin lag sepert ebiet? Lagu skarang melulu soal cinta yang mendayu-dayu tidak ada potongan (John)

Anonim mengatakan...

Eh tapi saya mau kritik sama BM. Bukankah dalam makalah tata ruang kepulauan BM menyatakan sendiri bahwa kekeringan tahunan di NTT adalah juga bencana? Mengapa dikatakan bahwa tahun ini tidak ada bencana di Kupang? Ya kekeringan dan kurang air itu juga kan? (John)

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...

nice blog (okamona)

Anonim mengatakan...

@bm,

nice blog


farel

poempuisi mengatakan...

@ bm,

negeri kita sudah seperti ini lalu kita mau bagaimana? tasyukur aja dech gimana?

poempuisi mengatakan...

PUISI
Bencana dari Negeri Air Mata
Oleh : Saiful Amin Zay | 18-Okt-2010, 22:36:52 WIB

Bencana dari negeri air mata
Ratusan ribu jiwa pergi mendahului kita
Bara luka kobarkan cipta rasa bersama
Bara luka ciptakan satu pelita
Saudaraku yang pergi tak hanya tinggalkan nama
Saudaraku yang pergi meninggalkan berjuta makna
Saudaraku yang pergi membangun seisi dunia
Agar mengerti dalamnya makna hidup yang ada
Tunjukkan bahwa kita semua bersaudara
Luka mereka luka kita semua
Tunjukkan, tunjukkan oleh kita
Derita yang ada derita kita jua
Saudaraku yang pergi tinggalkan tugas untuk kita
Lingangan air mata jadikan lautan permata
Besarnya bencana lebih besarlah hikmahnya
Wujudkan oleh kita agar yang pergi tersenyum di surga

Anonim mengatakan...

@ Poempusi,

Puisi anda menyentuh sekali...wujudkanlah agar yang pergi tersenyum di surga...thanx ya...(Eman)

Anonim mengatakan...

@bm,

aduh sori agak lama pulang kampung. Sydah 2 seri posting tentang negeri tercinta kita yang tidak jelas apakah dia juga mencintai kita.

Saya pikir kita memang bangsa yang sulit belajar dari pengalaman. Ada pepatah bilang "keledai tidak akan jatuh dalam lubang yang sama dua kali". Nah kita lebih bodoh dari keledai. Bangsa apa ini? Bangsa keledai....

Anonim mengatakan...

Tentan bencana di mentawai, si Andi Arief, mantan aktvis yang sekarang hidup enak menikmati hasil jilatannya....mengaku begini: kita memang lalai selama 12 jam karena....nah ini kebiasaan orang sekitar SBY...bikin alasa macam-macam...bmg salah, jumlah transportasi, peringatan dini, tumpang tindih koordinasi dlsb dlsb....muak kita jadinya (Eman)

Anonim mengatakan...

@ Dear BM,

Bangsa kita memang bangsa malas belajar makanya susah melulu (Ryan)

Anonim mengatakan...

mike,

Ama bertanya mau jadi apa bangsa ini? saya jawab mau jadi angsa paling aneh di dunia. Apa-apa mau nyentrik sendiri. Mau top sendiri ternyata paling tidal beres. Aneeeehhhh....(Marten, Undana)

Cerita dari Kampung mengatakan...

Bencana Terjadi Karena Bencana Sebelumnya Di Lupakan.....

Wah Bapa Pung Blog Pung Bagus Lai...

Bagi Jurus sadiki do.....

Salam,

Noverius

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

makin tajam aja ulasan anda. Makin bagus. Tapi saya mau tantang anda: berani tidak menjadi kandidat untuk NTT I karena kita perl NTT 1 yang pro lingkungan. Sekarang NTT akan jadi negeri gurun...SAYA TANTANG ANDA dan anda kenal saya.... (Xaver)

tuaksatu mengatakan...

@ BM,

Ah, pura-pura dalam perahu, pura-pura tidak tahu...ini negeri gayus bung...

tuaksatu mengatakan...

ehmmm...BM cobalah diulas fenomena gayus dalam seri III nanti ya....viva bigmike, banyak blogger mereduk, anda terus bertahan....pastinya, jangan padam semangat nya ya....

Anonim mengatakan...

Mungkin kita selalu mengeluh dengan bangsa ini,dikit-dikit bilang "macet bgt",bilang "banjir mulu" , bilang " mahal mahal amat harga-harga, bilang " bodo amat,itu mah urusan dia" dan masih banyak kata-kata yg seharusnya kita tidak ucapkan,atau sebisa mungkin kita hanya memaki di dalam hati baru berusaha untuk merubah pikiran-pikiran seperti itu dengan kata-kata yang lebih positif atau bahkan langsung berbuat.

Anonim mengatakan...

Dalam hal ini hubungan antara negara dan warga negaranya seharus berjalan seimbang dan serasi, jangan ada yang berat sebelah,agar negara memberikan yang terbaik untuk warganya dan sebalik seperti itu pula, negara punya kewajiban yang harus dikerjakan kepada rakyatnya, dan begitu pula rakyat juga punya kewajiban terhadap negara.Selain kewajiban negara juga punya hak terhadap warga negara nya,dan begitu juga sebaliknya.

Anonim mengatakan...

Berikut ini hak dan kewajiban warga negara Indonesia tercantum dalam Pasal 27 sampai pasal 34 UUD 1945. Bebarapa hak warga negara Indonesia antara lain sebagai berikut :

a. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.

b. Hak membela negara

c. Hak berpendapat

d. Hak kemerdekaan memeluk agama

e. Hak mendapatkan pengajaran

f. Hak utuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia

g. Hak ekonomi untuk mendapat kan kesejahteraan sosial

h. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial

Anonim mengatakan...

Sedangkan kewajiban warga negara Indonesia terhadap negara Indonesia adalah :

a. Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan

b. Kewajiban membela negara

c. Kewajiban dalam upaya pertahanan negara

Anonim mengatakan...

Selain itu ditentuakan pula hak dan kewajiban negara terhadap warganegara. Hak dan kewajiban negara terhadap warga negara pada dasarnya merupakan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara. Beberapa ketentuan tersebut, anatara lain sebagai berikut :

a. Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintah

b. Hak negara untuk dibela

c. Hak negara untuk menguasai bumi, air , dan kekayaan untuk kepentingan rakyat

d. Kewajiban negara untuk menajamin sistem hukum yang adil

e. Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara

f. Kewajiban negara mengembangkan sistem pendidikan nasional untuk rakyat

g. Kewajiban negara meberi jaminan sosial

h. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah

Anonim mengatakan...

Dengan Uraian yang saya berikan diatas,saya bermaksud agar janganlah kita selalu mengeluh tentang keadaan bangsa ini,kita harus berkaca dulu pada diri kita sendiri,sudahkah kita menjalankan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia, saya yakin hampir sebagian besar belum,dan sebaliknya negara juga belum menjalankan kewajibannya dengan baik,namun kita juga musti sadar bahwa negara ini sedang berada proses pembangunan secara merata walaupun butuh waktu lama, maka dari itu hendaknya kita berilah yang terbaik bangsa ini,janganlah sungkan atau malas, bangsa ini tanggung jawab kita semua, bukan tanggung jawab satu atau dua orang.

Anonim mengatakan...

Semenjak kita lahir ke dunia,kita sudah hidup di tanah air ini,tanah air yang diperjuangkan mati-matian oleh para pendahulu kita, mereka tidak pernah mengeluh ,tidak pernah meresak ketentraman berkehidupan, dan yang paling penting tidak merasakan kemerdekaan seperti kita sekarang ini,namun mereka tidak pernah menuntut apa-apa pada bangsa ini, mereka hanya selalu berusaha memberikan yang terbaik pada bangsa ini hingga akhir hayat nya, nah sekarang tugas kita semua untuk melanjutkan perjuangan mereka.

Anonim mengatakan...

Mari kita bersama hilangkan rasaketidakperdulian sekecil apapun terhadap apa-apa yang terjadi pada bangsa ini, ingat apapun yang terjadi pada bangsa ini, kita juga yang merasakannya,kita juga yang terkena dampaknya baik itu positif ataupun negatif, semua juga kita yang menjalankannya, kalau bukan warga negaranya sendiri mau siapa lagi?!!#!?!Tanah yang kita injak ini menangis melihat warganya tidak perduli pada bangsanya sendiri.

Anonim mengatakan...

Kita satu darah kawan,yaitu darah Indonesia!

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

BTW, anda adalah sahabat yang baik. Letika banyak blogger menghilang begitu saja Anda tetap mengirim sesuatu untuk kami baca. Tetaplah menulis, saya tetap pembaca setia blog anda.

==ANAK NKRI==

mikerk mengatakan...

Dear All,

Thanx bagi yanag sudah berkunjung dan yang sudah berkomentar. GBU All

mikerk mengatakan...

@ Bung Anak NKRI,

kita sama-sama mencinta bangsa ini...harap jangan diragukan itu. CUma cara mencinta kita sedikt berbeda. Cinta Bung saya umpamakan, dan sekaligus saya istilahkan, cinta ala TINO SIDIN. Semua gambar yang almarhum komentari selalu bagus. Maksudnya adalah memberikan motivasi agar anak-anak mau terus berkarya. Cinta saya, dapat saya persamakan dengan CINTA ALA DIAGNOSIS DOKTER. Sakita katakan sakit supaya bisa diobati. Ada 2 cara tapi tujuannya sama kan? DIversity in Unity. Bhineka Tunggal Ika. HIDUP INDONESIA tapi BANGSA APA INI?

mikerk mengatakan...

@ Bung NKRI,

Saya akan terus menulis karena itu hobi saya kendati waktu saya tersita habis-habisan untuk bekerja. Ungkapan si Bung akan menjadi sumber semangat bagi saya. That's what friends are for. Great. GBU

Anonim mengatakan...

@ Dear BM,

he he he he bener dah begitu..

Anonim mengatakan...

Saya kutipkan juga komentar JK tentang penanganan bencana oleh pemerintah:

MAMUJU, KOMPAS.com - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, pemerintah harus berbuat lebih cepat untuk mengatasi segala bentuk dampak bencana alam di negeri ini.
Tidak perlu menunggu administrasi jika ada bencana sepanjang itu tidak melanggar aturan. Ini yang selalu saya tekankan baik kepada pemerintah pusat maupun provinsi agar tidak takut menurunkan bantuan bila ada bencana yang terjadi.
-- Mantan Wakil Presiden

"Pemerintah tidak boleh menunggu lama jika dihadapkan persoalan dampak bencana alam karena itu sifatnya darurat," kata Jusuf Kalla di Mamuju, Jumat (26/11/2010).

JK yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat ini mengemukakan, pemerintah harus sigap, cepat dan tanggap terhadap bencana alam yang terjadi, sehingga tidak banyak jatuh korban.

Anonim mengatakan...

OK BM, keep on posting ya...GBU Bro'

Fakhry mengatakan...

@ Bigmike,

Lamo indak asuooooo....rindu lah kite-kite....sorry ane baru plang dari satu negeri yang jauuuuhhh banget....salam aja dulu deh (Proxy73)

Fakhry mengatakan...

Sosok tua yang lugu dan sederhana

tersenyum ramah kepada siapa saja,

kini telah tiada, berpulang dengan kesetiaan

yang teguh terpegang.

Dia tidak akan meninggalkan amanat yang diembannya

Dia tidak akan meninggalkan merapi

apa pun yang terjadi.

hidup baginya adalah kesetiaan

kepada panggilan jiwa.

pengabdianya bukan kepada penguasa

tetapi kepada hati nurani

yang ingin selalu berdampingan dengan alam

untuk menerima segala marah dan keramahan merapi.

Mbah …. setelah berpulang

engkau akan menjadi inspirasi jutaan orang

untuk setia pada langkah hati dan gerak tulus nurani

untuk menjaga alam dan laku teguh pada pendirian.

Mbah …. aku ingin sepertimu

ibarat seorang prajurit,

kematian yang utama baginya adalah di medan tugas

bukan di tempat tidur pembaringan yang nyaman.

Mbah … pulanglah dengan damai

istirahatlah dengan senyum mu yang sederhana dan tulus.

Mbah … semangatmu senantiasa kami bawa

untuk menjadi inspirasi dan penerang hati dan jiwa-jiwa

kami yang terkadang rakus dan angkuh.

Selamat jalan Mbah Maridjan ….

Fakhry mengatakan...

@ Bigmike,

Keep on posting Bro' kendati sibuk...selalu ada yang perlu direnungkan pasca tiap posting anda...gichhyyuuuuu looohhh....wkwkwkwkwkw.....(Proxy73)

Fakhry mengatakan...

@ Bigmike,

Keep on posting....kami selalu merindukan posting baru dari dirimu boszzzzz....gichyuuuu loohhh....wkwkwkwkw (Proxy73)

mikerk mengatakan...

@ Dear All,

Thanx bagi yang sudah berkunjung dan berkomentar. Maaf saya belum membuat posting baru karena masih amat sangat sibuk. GBU

mikerk mengatakan...

@ For Wak Haji Proy73,


Mudah-mudahan hidup anda hari ini lebih baik ketimbang kemarin dengan gelar anda itu. Jangan "gila" lagi yaaaa...ha ha ha...