Minggu, 18 Juli 2010

norman tulis tulis tentang "NUSA TABOLAk taBALEK"

Dear Sahabat Blogger,

Dua tahun lalu persis, di bulan Juli 2008 Mister Norman berangkat  menuju Jogjakarta. Dia ingin melanjutkan sekolah ke tingat pascasarjana dalam bidang ilmu Kehutanan. Waktu itu, beramai-ramai kami mengantarnya. Di antara para pengantarnya adalah Oma Tien tercinta. Tahun  ini di bulan yang sama, tepatnya tanggal 28 Juli, dia akan diwisuda karena urusan sekolah S2-nya  kelar sudah.  Cita-cita Opa dan Omanya, sebagian, tercapai sudah.  Sayang, sekarang Oma dan Opa Robert-nya tak ada lagi untuk melihat Norman secara kasat mata. Berdua, mereka sudah berbahagia di "negeri seberang sana". Oh, ya masih ingat Norman? Ya anda betul, dia adalah penerus DNA saya yang sulung. Dan ini adalah tulisan hasil olah pikirnya. Dan jika saya mempostinnya maka ini adalah kado wisuda dari saya. Selamat membaca dan berkomentar. 

Howdy Bung en Soes pembaca blog 

Apabila biasanya saya menulis dengan tema lingkungan di blog ini, maka kali ini sedikit berbeda, saya kali ini ingin menulis mengenai tanah kelahiran saya, Nusa Tenggara Timur. Sebelum memulai isi tulisan ini, ijinkan saya untuk sedikit bercerita latar belakang mengapa saya memilih tema ini. Begini ceritanya, pada jaman dahulu kala di suatu kerajaan hiduplah seorang putri yang cantik jelita...... Ups.... Maaf saya barusan salah bercerita. Cerita barusan biasanya saya dongengkan untuk anak saya. HiHiHi. Begini cerita yang sebenarnya Bung en Soes, ilham dalam menulis bagi saya itu bisa datang darimana saja. Kebanyakan dari membaca atau mengamati kejadian sekitar. Tulisan ini dibuat segera setelah saya membaca tulisan pada salah satu koran harian terkemuka, Kompas edisi kamis, 8 Juli 2010. Tulisan pada koran ini sebenarnya tidak spesifik mengenai NTT, bahkan hanyalah tulisan kecil hasil opini pembaca, tetapi saya menangkap inti tulisan tersebut cukup menohok dan menggelitik pikiran saya mengenai yang terjadi di NTT. Apa itu? Nanti akan kita simak dalam tulisan ini lebih lanjut.

NTT = Nusa Tenggara Timur. Itu singkatan resminya. Namun ada pula anekdot yang mengatakan NTT adalah singkatan dari Nasib Tak Tentu, Nanti Tuhan Tolong, de es be. Anekdot ini sebenarnya bukan tanpa alasan ataupun muncul secara tiba-tiba, namun bisa pula berangkat dari kejadian faktual di NTT sendiri. Kita sudah mengenal NTT bukanlah daerah yang berlimpah – meminjam judul lagu Koes Plus - kolam susu. Bukan daerah yang subur. Bahkan karena sifat klimatik, maka fenomena kekeringan bukanlah suatu hal yang baru. Semua tahu itu. Mungkin pula dari situ muncul anekdot mengenai singkatan NTT tadi. Mungkin. Tetapi apa relevansi ini dengan judul yang saya pilih? Begini Bung en Soes, NTT saya beri lagi satu singkatan baru yaitu Nusa Tabolak Tabalek atau dalam bahasa Indonesianya adalah nusa terbolak-balik. Jangan marah dulu apabila saya memberi satu singkatan baru ini karena seperti apa yang saya katakan bahwa ini berangkat dari apa yang terjadi di NTT sendiri. Apa yang terbolak-balik di NTT? Saya akan menerangkan dengan menggunakan beberapa contoh berikut. Tanah di NTT pada umumnya kurang subur, topografi yang berbukit-bukit ditambah dengan ariditas iklim sehingga hasil tanaman pangan kita tidak melimpah laiknya di daerah lain. Itu tak bisa dipungkiri, tetapi apa anda bisa memungkiri bahwa NTT di saat yang sama juga memiliki lahan penggembalaan yang luas di Indonesia sehingga sangat potensial sebagai gudang ternak? Namun apakah produksi ternak di NTT berbanding lurus dengan luas lahan penggembalaan tersebut? Kita sering atau bahkan teramat sering mendengar berita kekeringan melanda NTT sehingga hasil pangan menurun, tetapi di saat yang sama kita melupakan fakta bahwa sebenarnya NTT memiliki laut yang luas dengan potensi hasil bahari yang menjanjikan. Namun apa yang terjadi? Kita tidak menjadi tuan di tanah sendiri. Tolong koreksi apabila saya salah, tetapi pernahkan pemerintah daerah kita membuat suatu program untuk lebih memanfaatkan hasil laut kita selain gemala (gerakan masuk laut) yang nyatanya tidak efektif? Coba bayangkan saja luas daratan NTT yang begitu kecil, yakni 47.349,9 km2 atau 23,7 persen jika dibandingkan luas lautan yang mencapai 200.000 km2. Di sisi lain pemanfaatan sumberdaya ikan laut hanya sekitar 30% dan budidaya laut hanya 8,74%. Yang ada dan terdengar selama ini hanya program intensifikasi dan ekstensifikasi jagung, tanaman pangan, de el el yang notabene ada di darat, tetapi laut yang luas dan di depan mata malah terlupakan. Program-program pemanfaatan hasil laut biasanya hanya ada saat kampanye-kampanye, namun ketika terpilih maka “janji tinggal janji” begitu syair lagu. Atau mau contoh lain, silahkan lihat kejadiaan “nahas” yang menimpa tanaman cendana (sandalwood). Meski ada yang mengatakan cendana berasal dari Gujarat, India, namun beberapa sumber dengan jelas mengatakan cendana berasal dari NTT. Tetapi apa yang terjadi? Produksi cendana di NTT dewasa ini tidak bisa dikatakan mencerminkan sebagai asal tanaman itu sendiri. Tidak percaya? Bisa anda tanyakan langsung pada pemilik blog ini selaku konsultan ITTO yang saat ini sedang gencar-gencarnya ingin menghidupkan kembali NTT sebagai gudang cendana. Satu pertanyaan menggelitik adalah selama ini pemerintah daerah NTT buat apa saja? Semoga tidak ada lagi kebijakan fatal seperti tahun 70-an sehingga cendana dijuluki sebagai kayu setan atau kayu milik pemerintah oleh masyarakat sebagai dampak kebijakan yang tidak berpihak tersebut. Semoga.

Saya memiliki pengalaman menarik ketika kuliah di Fakultas Kehutanan UGM beberapa waktu lalu. Ketika membahas mengenai luasan hutan, maka teman-teman dari jawa, Sumatera, Kalimantan atau Papua amat sangat “digdaya”. Yah tentu saja, daerah mereka memiliki luas hutan yang lebih daripada NTT. Namun ketika membahas mengenai luas kawasan penggembalaan, maka maaf-maaf saja teman, saya serta merta membusungkan dada. Ya iyalah.... NTT memiliki luas lahan penggembalaan sekitar 653.983 ha. Angka tersebut yang tercatat resmi, tapi dalam kenyataannya di lapangan, savana yang merupakan tipe formasi dominan di NTT biasanya juga digunakan sebagai kawasan penggembalaan. Kemudian bila mempertimbangkan kebiasaan masyarakat dalam melepas ternak dalam kawasan hutan dalam sistem agrosilvopastoral, maka kawasan hutan bisa juga dapat juga dihitung sebagai kawasan penggembalaan. Coba hitung saja berapa total semuanya? Cukup fantastis bukan? Sombong juga rasanya saya saat itu. Namun apa yang terjadi kemudian? Ketika dosen saya mengatakan bahwa meski NTT memiliki lahan penggembalaan yang luas, namun di saat yang sama produksi ternak justru menurun dari tahun ke tahun. Oh.... Betapa malunya. Kepala yang tadinya terangkat gagah menjadi tertunduk malu. Lahan penggembalaan luas tetapi produksi ternak menurun. Paradoks bukan? Terbolak-balik bukan? Bagi saya pribadi beberapa contoh di atas membuktikan bahwa pemerintah daerah kita cenderung tidak belajar dari pengalaman terdahulu. Setiap pergantian tampuk kepemimpinan, maka ganti pula program-program dengan yang baru. Tapi apa bisa dikatakan berhasil? Tergantung dari sisi mana kita melihat. Kalau saya melihat dari sisi output yang dihasilkan seperti beberapa contoh di atas, maka bagi saya pemerintah daerah NTT bisa saya katakan gagal. Contoh lain datang dari dunia pendidikan. Beberapa tahun terakhir tahun NTT selalu menduduki rangking satu atau dua dalam hal kelulusan siswa. Rangking satu atau dua dari belakang maksudnya. Itu berarti setiap tahun selalu terulang, terulang dan terulang lagi. Orang boleh baru, Gurbenur sebagai top manager boleh baru, kepala dinas boleh baru, dan program boleh baru tetapi hasil akhirnya yah itu-itu juga. Sami mawon. Sama saja. Seorang teman saya yang berprofesi sebagai guru di Sumba mengatakan program pendidikan boleh banyak, tetapi eksekusi di lapangan sangat lemah. Wah NAPO juga nih namanya. No Action Programs Only. Dalam beberapa tulisan terdahulu dalam blog ini sedikit banyak telah menyiratkan apa yang saya katakan tersebut. Sedari tadi kelihatannya saya hanya menyalahkan pemerintah, oleh karena itu, pertanyaan yang penting sekarang adalah apakah yang salah hanya pemerintah? Yang salah hanya si pemimpin saja? Ataukah semua stakeholder yang berarti mereka dan kita, anda dan saya? Bisa anda membantu saya menjawab pertanyaan tersebut? Saya hanya ingin agar semua menjadi obyektif. Jangan sampai terjadi satu jari menunjuk orang lain, tetapi tanpa kita sadari jemari yang lain sedang menunjuk ke arah kita sendiri. Kalau itu yang terjadi artinya saya dan anda juga memiliki andil dalam membuat NTT sebagai Nusa Tabolak Tabalek dong? Wagat eh.... gawat maksudnya.

Saya cukupkan tulisan ini sampai disini dengan maksud agar Bung en Soes semua mau melengkapinya apa yang kurang. Menambahkan apa yang belum saya sampaikan. Atau malah mau mengoreksi tulisan ini. Monggo. Silahkan. Karena saya juga masih perlu banyak belajar. Namun tolong jangan salah artikan isi tulisan ini karena saya juga tidak bermaksud menjelek-jelekan NTT karena sesungguhnya saya amat sangat mencintai tanah kelahiran saya ini. Tetapi apakah cinta mesti diartikan diam saja melihat sesuatu yang salah terjadi di sekitar kita? Tidak. Bagi saya kritik bisa berarti ungkapan cinta saya bagi NTT. Tulisan ini bukti saya mencintai NTT. Jadi apabila saya ditanya setuju NTT adalah Nusa Tabolak Tabalek? Sambil bersenandung saya akan menjawab “tanyakan saja pada rumput yang bergoyang”.
Tabe Puan Tabe Tuan 

72 komentar:

mikerk mengatakan...

Dear All,

Posting ini sudah dipesan Norman sejak bulan kemaren. Saya mengatakannya untuk bersabar karena saya akan menyiapkan waktu yang tepat untuk dia. Nah sekarang waktunya ketika dia akan diwisuda. Saya memposting tulisan ini dengan amat bahagia bukan karena substansinya tetapi "cashingnya". Ya apalagi jika bukan karena Norman adalah pembawa DNA saya yang sulung.

Bahagiakah anda? Silakan berkomentar

mikerk mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
mikerk mengatakan...

@ Dear All,

Saya melengkapi tulisan ini dengan sebuah lagu yang berasal dari daerah Sabu. Negeri leluhurnya Norman. Ya sudah barang tentu negerinya leluhurnya saya juga.

Judul lagu ini adalah "O Na Wen'ni Tana eee..."

Lagu ini bisa dimaknai juga sebagai cara untuk mengingat bahwa kendati apapun juga situasinya tetapi NTT adalah Naweni atau saudara perempuan kita semua. Baik sebagai warga NTT maupun warga NKRI. NTT tampak kurag menggembirakan tetapi afeksi kita harus positif untuk dia tetapi jangan lupa untuk tetap kritis dan bekerja keras memperbaiki keadaan yang ada. Jikalai bukan kita lalu siapa lagi yang harus mengingat Naweni kita bukan?

mikerk mengatakan...

@ Dear All,

Lirik lagu O Naweni dapat anda baca langsung di dalam video yang ada di youtube. Menurut saya, ada sdikit kesalahan dalam mengucapkan lirik.. li ta bole balo...karena seharusnya adalah...li ta bole bel'lo ...

Terjemahan bebasnya adalah seperti ini...

O Saudari terkasih
Jangan engkau lupa,
ingatlah selalu
Bila damai bersaudara
pasti mudah di dalam susah
O saudari terkasih
Jangan engkau lupa
Ingatlah selalu

Lirik yang sesuai dengan dengan substansi posting saya kali lalu tentang sepak bola.
Hidup haruslah bersama dan terarah kepada sesama. Indah dna bermakna dalam bukan?

Anonim mengatakan...

@ Adik Norman,

Selamat eeee atas keberhasilannya. Salut dan selamat. Tuhan Yesus memberkati. Ceapt pulang bant lu pung bapa, biar dia lebih sering muncul di kampus. Dia tapaleuk terus na.... ha ha ha ha (A9ust)

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Coba renungkanbaik-baik makna di balik data berikut ini:

berdasarkan hasil pengkajian empirik yang diambil dari Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2006 yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi NTT.

Total perdagangan daerah Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku pada tahun 2006 adalah sebesar Rp 31,096 trilyun, yang terdiri dari produksi domestik sekitar Rp 24,685 trilyun (79,38%) dan impor + antar- pulau masuk sekitar Rp 6,411 trilyun (20,62%).

Anonim mengatakan...

Permintaan domestik sekitar Rp 19, 246 trilyun (82,58%) dan ekspor + antar-pulau keluar sekitar Rp 4,059 trilyun (17,42%). Struktur permintaan akhir tahun 2006 tidak berbeda dengan struktur permintaan akhir 2001, yang menunjukkan bahwa pembangunan NTT selama 5 tahun tidak mengubah struktur perekonomian NTT kearah yang lebih baik.

Anonim mengatakan...

Tampak bahwa telah terjadi defisit perdagangan antara daerah NTT dan daerah-daerah di luar NTT dengan defisit (minus) terjadi pada daerah NTT, yaitu selisih antara ekspor dan impor sekitar Rp. 2,352 trilyun (ekspor tahun 2006 = Rp. 4,059 trilyun sedangkan impor tahun 2006 sebesar Rp. 6,411 trilyun). Defisit perdagangan pada tahun 2006 telah semakin membesar apabila dibandingkan keadaan tahun 2001 yang hanya memiliki defisit sekitar Rp 1,046 trilyun.

Jelas bahwa kemampuan ekspor daerah NTT jauh lebih rendah daripada ketergantungan impornya.

Anonim mengatakan...

Total permintaan domestik daerah NTT sekitar Rp 27.036 trilyun (86,94%), dialokasikan untuk:

(1) permintaan akhir domestik untuk konsumsi (kegiatan konsumtif) sekitar Rp 19,246 trilyun (61,89%),

(2) permintaan antara untuk kegiatan sektor-sektor produksi (kegiatan produktif) sekitar Rp 7,790 trilyun (25,05%).

Anonim mengatakan...

Permintaan antara (intermediate demands) dari sektor-sektor produksi yang sangat rendah dibandingkan permintaan akhir (final demands) untuk konsumsi yang tinggi juga membuktikan satu hal yaitu MASYARAKAT NTT LEBIH BERORIENTASI PADA KONSUMSI BUKAN PADA PRODUKSI.

Pertanian subsistensi pada dasarnya adalah pertanian yang konsumtif tidka produktif. Inilha sumber masalah di negetri tabolek baleknya Norman. TAPI mari cek ironis terbesarnya berikut ini

Anonim mengatakan...

Data-data di atas menunjukan bahwa inilah ironi patah karena orang NTT Nusa Tenggara Timur yang miskin harus "menyumbang" sekitar Rp 2,352 trilyun per tahun (berdasarkan data tahun 2006) ke daerah-daerah di luar NTT melalui defisit transaksi perdagangan karena pola hidup konsumtif yang meningkatkan ketergantungan pada impor barang dan/atau jasa dari luar NTT.

Norman masih ingat prinsip orang kitorang kan? biaya miskin asal gaya ha ha ha ha

Anonim mengatakan...

Nah Norman, pulang ko bantu lu pung bapa. OK. Syalom (A9ust)

Anonim mengatakan...

@om agus

Ha...... ini dia salah satu input yang bae untuk menguatkan dugaan bahwa betul NTT itu Nusa yang Tabolak-tabalek. Terimakasih om agus.

Tapi ada beberapa hal yang beta catat dari apa yang telah om agus sampaikan.
1. Data-data di atas tepat untuk menunjukkan pola hidup konsumtif orang NTT di tengah-tengah kemiskinan yang mungkin sebenarnya juga dialami si pelaku konsumtif tersebut.Siapa tahu??
2. Ironi terjadi kalau kitong lihat ekspose mengenai NTT selama ini yang sangat lekat dengan kemiskinan (setelah iklan "sumber aer su dekat", sekarang ada lagi iklan sabun yang ditujukkan untuk membantu masyarakat NTT), namun data di atas membuat beta tambah yakin dengan apa yang om agus katakan bahwa "biaya miskin asal gaya". Stuja eh setuju 100%.
3. Kalau data BPS di atas menyebutkan data secara general mengenai NTT, maka orang NTT yang dimaksud itu siapa?? Hahahaha. Artinya beta, om agus, bapa, dan yang lain-lain. Itu kalau kitong pake prinsip generalisasi, kecuali kalau data BPS di atas menyebutkan nama yah ada kemungkinan beta ko, om agus ko atau yang lain "lolos". Maka itu yang beta bilang dalam tulisan "jangan sampai mereka dan kita, anda dan saya turut menyumbang peran NTT sebagai Nusa Tabolak-Tabalek"...

Sial mamati e..... ternyata bukan hanya "rumput yang bergoyang" sa yang bilang NTT adalah Nusa Tabolak-Tabalek tapi data diatas sudah secara gamblang memperlihatkan hal tersebut. Hehehe

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Adik Norman,

Selamat. Tuhan Yesus memberkati. NTT memang tabolak balek. Miskin tapi juara korupsi (Bahren)

Anonim mengatakan...

@ Pak Agus,

Analisis yang bagus skali. Mantap (Bahren)

Anonim mengatakan...

@om Bahren

Soal NTT korupsi ada beta pung teman kuliah asal medan yang pernah sekali ke kupang. Katanya dia sonde heran kalau NTT berada di urutan pertama daerah terkorupsi di Indonesia. Jangankan di anggota dewan, baru turun dari pesawat sa di bandara eltari dan menunggu barang bagasi dia su rasa "aroma" korupsi tercium tajam. Bagaimana tidak, kalau semua troli sudah dikuasai oleh porter dan mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa mesti membayar untuk bisa barang diangkut.

Ada beta pung saudara, dokter spesialis bedah yang sekarang bertugas di RS Panti Rapih Jogja. Dia pernah beberapa waktu bertugas di kupang, di salah satu RS. Tapi tidak betah berlama-lama di Kupang karena katanya budaya korupsi terlalu kuat. Untuk ambil gajinya sendiri, uang makanan, dsb mesti membayar "upeti" kepada sang juru ketik. Itu baru juru ketik, belum juru bayar yang juga mesti diberikan "upeti". Wah-wah.... mau jadi apa?? sayang sekali NTT kehilangan seorang dokter spesialis karena budaya korupsi tersebut. Coba bayangkan berapa nyawa atau jiwa yang bisa selamat seandainya budaya korupsi tersebut tak ada dan beta pung saudara tadi masih bertugas di Kupang?

(Norman)

tuaksatu mengatakan...

GW mengutip dari blog temen GW Paul Piar NTT,

NTT = Nusa Tetap Terkoupsi

Nusa Tetap Terkorup. Itulah julukan yang paling pantas diberikan untuk NTT, jika fenomena korupsi di Provinsi ini dicermati secara jujur. Dari 125 (Seratus Duapuluh Lima) kasus korupsi yang dipantau oleh PIAR NTT, terdapat indikasi kerugian negara sebesar Rp. 256.337.335.434,00 (Dua Ratus Lima Puluh Enam Milyar Tiga Ratus Tiga Puluh Tujuh Juta Tiga Ratus Tiga Puluh Lima Ribu Empat Ratus Tiga Puluh Empat Rupiah).

tuaksatu mengatakan...

Ke-125 (Seratus Duapuluh Lima) kasus korupsi yang dipantau oleh PIAR NTT ini, tersebar secara merata di 15 Kab/Kota dan 1 Provinsi dengan Sebaran kasus per-wilayah cukup merata yakni berkisar 1 – 15 kasus. Terbanyak terjadi di Kab. Rote Ndao dengan 15 kasus. Selanjutnya level Prov NTT 13 kasus, Kab. Flotim 3 kasus, Kota Kupang 13 kasus, Kab. Kupang 12 kasus, Kab. Sika 12 kasus, Kab. TTS 10 kasus, Kab. Manggarai 9 kasus, Kab. Ende 7 kasus, Kab. Ngada 5 kasus, Kab. Alor 4 kasus, Kab. TTU 4 kasus, Kab. Belu 4 kasus, Kab. Sumba Timur 2 kasus, Kab. Lembata 1 kasus, Kab. Manggarai Barat 1 kasus.

tuaksatu mengatakan...

Pelaku bermasalah dari ke-125 (Seratus Duapuluh Lima) kasus korupsi yang terjadi di NTT ini sebanyak 514 (Lima Ratus Lima empat belas) orang. Dari 514 (Lima Ratus Lima empat belas) Pelaku bermasala/aktor ini terdapat 76 (Tujuh Puluh Enam) orang yang melakuakan pengulangan tindak korupsi. Para Pelaku bermasalah/Aktor dari 125 kasus dugaan korupsi yang dipantau oleh PIAR, terbanyak 191 orang mempunyai jabatan sebagai anggota DPRD. Selanjutnya PEJABAT PEMDA 91 orang, PELAKU SWASTA 55 orang, PIMPRO/BENPRO 18 orang, Pelaksanan Program PPK/Dana Bantuan Lainnya 13 orang, PANITIA TENDER 11 orang, GURU/PENGURUS SEKOLAH 9 orang, KONSULTAN PENGAWAS/PEMERIKSA PROYEK 8 orang, PEJABAT PDAM 8 orang, BUPATI/WALIKOTA 7 orang, CAMAT/KADES/LURAH 6 orang, Pelaksana PEMILU/PILKADA 5 orang, PEJABAT PERBANKAN 4 orang, WAKIL BUPATI/WAKIL WALIKOTA 3 orang, PENELITI 3 orang, PEJABAT RSUD 2 orang, PENGURUS PARPOL 2 orang, WARTAWAN 2 orang, PEJABAT BUMN 1 orang.

tuaksatu mengatakan...

Modus operandi yang dipergunakan oleh para pelaku bermasalah dalam tindak korupsi dapat diperincikan sebagai berikut: Pertama, Mark Up 30 (24%). Kedua, Manipulasi 27 (21,6%). Ketiga, Penggelapan 25 (20%). Keempat, Penyelewenagnn Anggaran 17 (13,6%). Kelima, Memperkaya Diri Sendiri/Orang Lain 13 (10,4%). Keenam, Pengerjaan Proyek Tidak Sesuai Bestek 10 (8%) Kasus. Ketujuh, Mark Down 3 (2,4%).

tuaksatu mengatakan...

Jika dilahat dari usia kasus, kasus korupsi di NTT yang dipantau oleh PIAR NTT dapat dipilah menjadi 2 (Dua) kategori, yakni: Kasus Lama dan Kasus Baru. Kasus Lama adalah Kasus korupsi usaianya lebih dari 3 (Tiga) tahun atau kasus yang terjadi dari tahun 2000 S/D 2006). Sedangkan Kasus Baru ialah Kasus korupsi usaianya kurang dari 3 (Tiga) tahun atau kasus korupsi yang terjadi pada tahun 2007 dan 2009. Dengan pengkategorian seperti ini, maka terdapat 97 (77,6%) kasus yang merupakan Kasus Lama dan Kasus Baru sebanyak 28 (22,4%) kasus.

tuaksatu mengatakan...

Hasil pantauan PIAR NTT menemukan bahwa Korupsi di NTT paling banyak ditemui pada bidang Pemerintahan yakni 55 (44%) kasus, Pengembangan Kecamatan 14 (11,2%) kasus, Air Bersih 7 (5,6%) kasus, kehutanan dan perkebunan 7 (5,6%) kasus, Perikanan dan Kelautan 6 (4,8%) kasus, Perhubungan dan Transportasi 5 (4%) kasus, Perumahan dan Pertanahan 3 (2,4%) kasus, Energi dan Listrik 2 (1,6%) kasus, Perbankan 2 (1,6%) kasus, Kesehatan 2 (1,6%) kasus, PEMILU/PILKADA 2 (1,6%) kasus, BUMN 1 (0,8%) kasus, Komunikasi dan Informasi 1 (0,8%) kasus, Lain-lain 2 (1,6%) kasus.

tuaksatu mengatakan...

Korupsi di NTT Juga terbanyak terjadi di sektor Pengadaan barang dan Jasa dengan jumlah sebanyak 58 (46,4%) kasus. Selanjutnya, sektor APBD 43 (34,4%) kasus, Sektor Dana Bantuan 20 (16%) kasus, Sektor Perbankan 2 (1,6%) kasus, sektor PEMILU/PILKADA 2 (1,6%) kasus.

So, Bro Norman, GW ATYUUUUUUTTTTTTT....

Anonim mengatakan...

@ Norman,

SELAMAT untuk mu anak. Berkaryalah seperti opa dan bapakmu. Jadilah orang hebat seperti mereka (Eman)

Anonim mengatakan...

NTT memang penuh ironi, betapa tidak. Ketika korupsi besar-besaran terjadi seperti laopran bung Paul SInlaeloe dari PIAR NTT, masayarakat taninya sedang lemah lunglai gara-gara gagal panen.

Perhatikan saja berita dari antara berikut ini:

Kupang (ANTARA News) - Sebagian besar petani Kabupaten Rote Ndao gagal panen karena tanaman pangan seperti jagung tidak tumbuh normal, menyusul kekeringan akibat curah hujan yang rendah, yang akibatnya rawan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) meluas.

Anggota DPRD NTT Somy Pandie yang baru kembali dari melakukan kunjungan kerja ke Rote Ndao, di Kupang, Selasa, mengatakan, puluhan waduk skala kecil di kabupaten paling selatan Indonesia itu, tidak menampung air sampai penuh.

Kecuali Danau Tua di Rote Desa Lalukoen, Rote Barat Daya yang sempat kering pada puncak kemarau 2009.

Anonim mengatakan...

"Sebagian tanaman petani tidak bisa panen garena gagal tumbuh, waduk-waduk baik alam maupun yang dibangun pemerintah tidak bisa menampung air sampai penuh, karena curah hujan terlalu rendah," kata Pandie.

Bupati Kabupaten Rote Ndao Lens Haning yang dikonfirmasi mengaku, sebagian besar tanaman pertanian gagal tumbuh.

Anonim mengatakan...

Sementara dari Sumba Timur, ANTARA memperoleh informasi bahwa masyarakat di sejumlah desa mulai keluar masuk hutan untuk menggali "iwi", sejenis ubi hutan yang mengandung racun, sebagai pangan alternatif.

"Iwi" diolah menjadi pangan, setelah dijemur dan direbur beberapa kali untuk mengurangi kandungan racun.

Anonim mengatakan...

Salah siapa? Saya sudah bertanya kepada "rumput yang bergoyang dan jawab mereka adalah "Gubernur dan Bupati" se NTT (Eman, CN, TDM)

Anonim mengatakan...

NTT = NUSA TAR TAU malu .... (Sonny)

wilmana mengatakan...

@Nomang,

Kali ini Om VQ musti angkat topi buat Nomang. BM boleh pukul gong macam apapun, Nomang lebe cocok jd beta pung gen ada lebe nyata di Nomang. Mau liat fisik ato sifat, semuanya setali tiga uang. Mungkin wkt cetak dolu, beta yg pontang-panting sampe dapa sepak dr Nomang pung Opa, termasuk malam2 'curi' nasi ko antar pi kos-kosan a Jami. He he he...

Norus, rasanya sejak lu baru mulai kuliah di Jogja, Om VQ su tulis di blog ini bhw menjadikan sektor pertanian sbg lokomotif penarik perekonomian NTT adalah kerja sia-sia pemerintah dan para pendukungnya. Kekayaan NTT justru ada di laut yg luas dan 'ganas' itu. Ada juga di keragaman budaya asli yg eksotik termasuk padang rumput yg sungguh mempesona jk kita nonton felem Indonesia Tanah Air Beta.

Sayang, blom ada pemimpin di NTT yg punya VISI kuat utk merobah ketergantungan ekonomi org NTT dari jagong dan hasil ladang lainnya. Beta inga wkt lu punya Opa br jd Kakanwil Depdikbud dulu, dia dianggap gila krn pasang target ukuran kelulusan yg tinggi mendekati sekolah2 di Jawa. Taon pertama, byk sekolah yg kelulusan 0%. Opa tak bergeming dg gebrakannya ini tp memaksa para Manajer sekolah memperbaiki mutu proses pembelajaran dan meingkatkan fasilitas belajar-mengajar scr bertahap. Dan, Opa mengakhiri kepemimpinannya dg mutu tingkat kelulusan yg tdk kalah dg sekolah2 di Jawa.

Semua org jg tau, peningkatan mutu wkt itu semata-mata krn pengaruh satu faktor yaitu kepemimpinan Opa yg kuat. Pdhl sustainability tak bakal tjd jika hanya ditopang satu faktor ini saja. Akibatnya, begitu Opa pergi, pendidikan NTT malah ancor berantakan.

Om Vecky mau bilang bhw keburukan nasib NTT disebabkan byk faktor, bkn faktor Pemimpin sj. Pemimpin yg baik hanya akan bikin keberhasilan singkat krn masa kepemimpinannya yg terbatas. Sayang, Nomang sonde coba2 sekalian kasi solusi. Pdhl mnrt Om VQ justru ini yg dibutuhkan org NTT.

Tak usah takut usulannya ditentang bahkan dicela org. Dulu Om VQ usul utk ubah strategi dg menjadikan sektor industri sbg lokomotif perekonomian NTT. Sayangnya, krn byk yg keliru mendefenisikan industri = manufaktur, maka usulan Om VQ juga dicela abis2an. Pdhl industri tdk sm dg manufaktur krn manufaktur cm satu aspek dr industri. Industri adalah segala aktifitas produksi yg berorientasi pasar. Jadi pertanian berorientasi pasar, itu jg industri. Krn itu mustinya semua org sadar bhw utk membangun perekonomian, tiada jalan lain produksi hrs berorientasi pasar dan itulah industri. Tp, mmg begitulah kita org NTT ini. Kalo mencela, paling jago tp selalu tnp usulan yg konstruktif dan malah terkesan lebe suka cari2 alasan utk mempertahankan status-quo.

Nah, kalo Om VQ punya konsep "NTT Incorporation" dg menjadikan sektor industri sbg motor penggerak ekonomi. Nah, kira2 Nomang punya konsep apa?

Anonim mengatakan...

Apa yang cocok untuk NTT? Jawabnya pertama-tama adalah PERTOBATAN. Orang NTT sudah terlalu banyak merusak diri mereka sendiri. Rajin ke gereja tapi itu tidak lebih dari sekedar tempat jual tampang dan gaya. NTT bukan nanti Tuhan tolong tapi Nanti Tuhan Tempeleng. Apakah orang NTT cukup rendah hati mengaku dosanya? Beta sonde yakin(Daud)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Posting anda akhir-akhir ini menunjukkan anda lebih religius? Adakah itu tanda pertobatan? Mudah-mudahan. BERTOBATLAH KAMU KARENA KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT(Daud)

mikerk mengatakan...

@ Dear All,

Thanx bagi yang sudah berkunjung dan berkomentar. GBU

mikerk mengatakan...

@ Norman dan Vq Wilmana,

Tanggapi baek-baek isi komen. Lu pung Om Vq ternyata masih blom ilang jengkel karena dolo kena kadeluk tagal korposari NTT ha ha ha ha....

mikerk mengatakan...

@ Daud,

Mana ada orang sempurna? Saya pasti tidak sempurna bahkan berantakan soal moralitas. Lalu, apakah anda itu malaikat yang bebas dosa? Wah kalo benar begitu maka Puji Tuhan, blog saya kedatangan tamu seorang malaikat ....Syalom

Anonim mengatakan...

@ Norman,

Selamat lulus eee...tapi kalo tulis tentang NTT agak samar-samar. Kitong malu ni...(Sherly)

Anonim mengatakan...

@ Daud,

Sahabat knapa selalu "memojokan" BM? Saya pikir BM dibalik kekurangannya punya banyak sekali kelebihan. Jangan begitu dong (Sherly)

Anonim mengatakan...

@ Tanta Sherly,

Tahu dari mana bahwa saya selalu memojokkan BM? SAya malah mendorong dia untuk makin baik karena banyak harapan terhadap dia. Anda memujinya ttapi saya "menjewernya" tapi sama-sama untuk kebaikan toh? (Daud)

Anonim mengatakan...

@Bro Tuak satu

Mungkin NTT patut diberi gelar propinsi ter.... di Indonesia. Terkorupsi, Terkering, terakhir dalam hal kelulusan, dsb.
Ada yang mau menambahkan ter yang lain??

Miris tapi itulah kenyataan. Ironi dan paradoks kayaknya sulit lepas jika berbicara mengenai NTT. Pertanyaannya mau mulai darimana untuk membenahi NTT?? entahlah. Terlalu kompleks beta rasa masalah yang terjadi di NTT ibarat benang yang sangat kusut untuk diurai satu persatu

(norman)

Anonim mengatakan...

@Om eman

Wah ternyata ada juga yang bisa mendengar apa kata "rumput yang bergoyang".

Soal kekeringan, seperti yang beta bilang ditinjau dari sisi manapun NTT sulit untuk dikatakan sebagai daerah yang subur. Sifat klimatis dengan klasifikasi iklim Schmith-Ferguson, secara umum NTT masuk pada tipe D dan E yang membawa dampak pada jumlah bulan hujan sekitar 2-3 saja dan sisanya kemarau belaka. Ini ditambah kesuburan tanah yang kurang subur, topografi berbukit sehingga kemungkinan terjadi erosi melalui run off semakin memperkuat hal tersebut.

Namun jika kita mempertimbangkan fenomena kekeringan bukanlah hal yang baru, maka sudah sepantasnya pemerintah sudah melakukan tindakan antisipasi sejak dini. Tapi yang beta amati, ibarat seperti dalam film india dimana polisi selalu datang belakangan, maka pemerintah daerah biasanya sudah terjadi baru bereaksi. Su ada bencana baru bekerja. Terlalu banyak yang diurus mungkin kitong pung pemerintah daerah? mungkin

(norman)

Anonim mengatakan...

@Om daud

Apakah dengan pertobatan bakal selesai semua masalah?? entahlah. beta sonde yakin. ora et labora. Berdoa dan bekerja. Tapi setelah itu apa bakal berhasil? (lagi-lagi) entahlah. Itu rahasia Tuhan. Tapi saya setuju dengan anda, pembenahan mental (dalam bahasa anda yaitu pertobatan) dapat menjadi salah satu kunci kesuksesan menolong NTT keluar dari pelbagai masalah.

(norman)

Anonim mengatakan...

@om veki

mungkin nomang musti ajukan pertanyaan dolo. Pertanyaannya apakah NTT memang su betul siap untuk masuk era "korporasi"?? Nomang sonde yakin untuk saat ini.

Mungkin terlihat pesimis, tapi mungkin karena itu juga waktu nomang pung tulisan yang pertama soal pertanian om veki banyak berdebat dengan pembaca blog soal NTT dan korporasi ini.

(norman)

Anonim mengatakan...

@Tanta Sherly

Hehehe.... kitong pung pemerintah daerah sa muka tebal minta ampun, buat apa kitong yang mesti malu. daerah terkorupsi, tapi kok tenang-tenang saja. Ibarat air, pas diberi gelar sebagai daerah terkorupsi di Indonesia, hanya sperti riak-riak kecil yang belum cukup mampu menggoyahkan kitong pemerintah daerah.

(norman)

wilmana mengatakan...

@Nomang,

Makanya Om Vq tanya Nomang pung konsep apa? Kalo cuma bilang NTT kering kerontang, semua org juga tau. Sama jg kalo bilang perekonomian NTT maupun sosial-budaya plus moralnya bobrok, semua org juga tau. Nomang hanya memperkuat keyakinan semua org dg data2 kuantitatif yg ada. Tp yg org perlu adalah ide2 kreatif utk bisa keluar dari keterpurukan ini.

M'nai ide NTT-Incorporation, paling tdk sdh ada cth yg baik yaitu Gorontalo. Wkt baru dimekarkan, perekonomian dan sosial-budaya serta moral org2 di sana tdk beda dg di NTT saat ini. NTT-Incorporation bukanlah ide utk menjadikan organisasi tata kelola pembangunan NTT mjd organisasi bisnis. Ini cuma model dlm manajemen pembangunan daerah yg mengarahkan sektor-sektor unggulan (berpotensi profit center) agar berorientasi pasar utk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Sembari itu dlm tata pemerintahan scr bertahap menerapkan prinsip2 transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, kemandirian, dan kesetaraan/kewajaran dlm setiap sendi birokrasi yg anda agar dpt lbh berorientasi pada kebutuhan pihak yg dilayani bkn kebutuhan para Pejabat (service oriented). Ini yg dikenal dg konsep good public governance (GPG) sbg peruwujudan jargon clean government.

Nah, Om VQ liat nomang pung tulisan su mantap dlm rangka mengungkap kekekurangan yg ada. Tp yg baca tdk akan orgasme jk paparan Nomang tdk dilengkapi dg rekomendasi perbaikan ke depan spt apa. Yaah, Om VQ cuma komen saa. Krn setau Om Vq nanti kl beso2 Nomang ada penelitian kan hrs dilengkapi dg rekomendasi tindak lanjut. Soal efektif ato snd, jgn kuatir krn yg spt itu mmg debatable sifatnya.

Fakhry mengatakan...

Uuuullllaaa laaaaaa....semenjak Ingrris alah GW malas kirim komen-komen...parah ya???..wkwkwkwkwk....ni hari GW turun gunung ..eng ing eeeeennnnggggg.....(Proxy73)

Fakhry mengatakan...

@ Norman,

Congratz ya bro....BTW, substansi tulisan sih oke api coba deh nyariin gaya nulis yang khas. Ga usah sama-samain ma babe elo. Birkan Babe still Babe en let Norman be Norman. Ochyeeee?????

Fakhry mengatakan...

Tentan NTT dauh banya dikomen, tapi berta ni hari tentang anggota KPUD di NTT yang dipecat. Alasannya aneh dan ga seharusnya terjai coz KPU adalah institusi hirarkis kan? anehhhh....

Fakhry mengatakan...

"Empat Anggota KPUD Flores Timur Dipecat"

VIVAnews - Dewan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum Nusa Tenggara Timur menjatuhkan sanksi pemecatan atas empat dari lima anggota KPU Kabupaten Flores Timur. Keempatnya dinilai melanggar kode etik dalam proses pelaksanaan pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dewan Kehormatan menemukan sedikitnya 25 jenis pelanggaran berat yang dilakukan KPUD Flores Timur.

Empat anggota KPUD Flores Timur yang dipecat yakni Ketua KPU Flores Timur Bernadus Boro Tupen, dan tiga anggotanya masing-masing Kosmas Ladoangin, Abdul Kadir Yahya dan Yohanes Sili Rotok Bahi. Sementara anggota KPUD Flores Timur lainnya Ernesta Katana tidak dipecat karena menjalani cuti melahirkan.

Fakhry mengatakan...

Ketua Dewan Kehormatan KPU NTT, Djidon de Haan, dalam pernyataan pers di Kupang, Rabu 21 Juli 2010, mengatakan, pemberhentian empat anggota KPU Flores Timur berdasarkan rekomendasi Tim Dewan Kehormatan KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 1/F/DK-KPU NTT/VII/2010 tertanggal 20 Juli 2010. “Kami memberikan waktu paling lambat tiga hari kepada KPU NTT untuk menindaklanjuti rekomendasi Dewan Kehormatan,” ujar Djidon.

Menurut Djidon, keempat anggota KPU Flores Timur melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu dan Peraturan KPU Nomor 31 Tahun 2008 tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu. “Mereka terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran kode etik dalam tahapan pemilu di daerah itu,” ujar Djidon.

Dengan adanya pemecatan ini maka KPUD NTT akan melakukan perekrutan ulang empat anggota KPUD Flores Timur antar waktu guna melanjutkan tahapan pilkada yang tertunda yakni penetapan ulang bakal calon, kampanye serta pemungutan dan penghitungan suara. Namun banyak kalangan pesimistis, sikap tegas Dewan Kehormatan yang memecat empat anggota KPUD Flores Timur akan mencederai pesta demokrasi lima tahunan di ujung timur pulau Flores itu.

Fakhry mengatakan...

Sengketa pilkada yang memicu konflik internal antara KPU Flores Timur, KPUD NTT dan KPU Pusat berawal dari keputusan KPU Flores Timur untuk menganulir pasangan calon pasangan Simon Hayon-Fransiskus Diaz Alffi yang dicalonkan Partai Golkar, Gerindra dan Partai Karya Peduli Bangsa. Pencoretan pasangan incumbent ini dilakukan karena tidak melengkapi salah satu persyaratan tertulis yakni Keputusan Koalisi partai pendukung.

Namun keputusan ini mendapat perlawanan dari KPUD NTT dan KPU Pusat serta koalisi partai pendukung. KPU Pusat kemudian melakukan intervensi dengan mengeluarkan keputusan yang mengharuskan KPUD Flores Timur mengakomodir kembali pasangan Simon-Frans.

Namun rekomendasi KPU Pusat tidak dilaksanakan oleh KPU Flores Timur dengan alasan hasil pleno penetapan pasangan calon bersifat final dan mengikat. KPU Pusat kemudian memerintahkan kepada KPUD NTT untuk segera membentuk Dewan Kehormatan guna melakukan pemeriksaan terhadap ketua dan anggota KPUD Flores Timur.

Sementara Anggota KPU Flores Timur, Abdulkadir Yahya, membantah telah melakukan pelanggaran kode etik sebagaimana rekomendasi Dewan Kehormatan. "Kami merasa tidak melakukan pelanggaran sebaimana tuduhan Dewan Kehormatan. Kami bekerja sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku," katanya.

Konflik internal di tubuh KPU ini menyebabkan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Flores ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan sejak bulan Mei 2010 lalu. Konflik ini memicu Bupati Flores Timur, Simon Hayon, yang merupakan calon incumbent menolak mencairkan anggaran untuk pengadaan logistik dan pengamanan pilkada sebesar kurang lebih Rp5 miliar.

alice mengatakan...

@ Norman,

Good luck....best wishes with you...

alice mengatakan...

Tingkat korupsi yang sangat tinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan penduduk NTT mengalami kemiskinan dan rawan pangan.

Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko menyatakan tingkat korupsi di NTT berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan para penduduknya.

Berita di atas saya kutip dari Batavise.co.id. Saya gak begitu tahu mengapa demikian tapi kalo demiian faktanya ..waaahhh..artinya, setiap kenaikan satuan korupsi akan meningkatkan orang miskin..waaduuuhhhh gimana tuh Norman?

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...

@om veki

Nomang sama sekali sonde anti dengan konsep korporasi. Bahkan apabila itu memang baik dan perlu untuk diterapkan di NTT mengapa tidak?

Tapi, pertanyaannya apa iya NTT untuk saat ini sudah bisa dan sanggup untuk diterapkan ide mengenai korporasi itu? seperti yang norman bilang bahwa norman kurang yakin untuk saat ini. dan juga subsitenisasi yang ternyata tidak hanya terjadi pada tingkat petani semata, namun ternyata mengakar kuat dalam diri masyrakat NTT. Bukti yang disampaikan om agus dalam komentar-komentar awal tulisan agaknya sedikit banyak menguatkan dugaan tersebut bahwa orang NTT masih berkutat seputar konsumsi belum produksi. Padahal untuk bisa menerapkan model manajemen korporasi, bukankah diperlukan hal yang sebaliknya? produksi harus lebih kuat dibanding konsumsi?

Wah kalau bicara soal manajemen tentu nomang sonde mau terlalu jauh bicara deng om veki. Bisa kena makan mantah-mantah itu namanya. tapi begitulah nomang pung konsep soal penerapan sistem manajamen korporasi.

(norman)

Anonim mengatakan...

@om fakhry

Thanks atas atensi dan komentarnya. Tapi soal gaya tulisan memang sulit bagi saya untuk melepas diri dari gaya menulis ayah saya. Kalau om fakhry cermati baik-baik, maka gaya menulis ayah saya cenderung sama dengan beberapa penulis kenamaan. Nah sialnya saya juga mengidolakan penulis-penulis yang menjadi sumber insiprasi dalam menulis bagi ayah saya tersebut.

Maka dari itu, saya juga menyadari bahwa inilah proses belajar. Betul?

(norman)

Anonim mengatakan...

@Alice

100 % setuju. Korupsi = NTT, NTT = Korupsi. Cant deny it.

(norman)

Anonim mengatakan...

@ Norman & Mega

selamat bahagia dengan kelahiran putra ke 2 norman & mega! Tetemanis berkati norman ega dan ocky!

DH1RK

mikerk mengatakan...

@ Norman,

Selamat!!!!!

wilmana mengatakan...

@Nomang,

Om VQ su mangarti lu pung maksud. Om snd mau paksa lai, biarlah berkembang sesuai waktu saja. Yg penting lu tangkap babae Om pung pesan. Jgn cuma ungkap kelemahan/kekurangan tp hrs bisa ajukan usul yg jelas.

Mengenai paradigma korporasi dlm manajemen pembangunan daerah, ini bkn barang baru. Kalo nomang baca sejarah Jepang dan Korea, mereka maju krn pake paradigma ini dlm mengelola proses pembangunan daerah.

Mgnk nomang blom mangarti ato lupa m'nai proses pembangunan. Bhw di dunia ini tdk ada apapun yg tiba2 jadi dan lgsg bs berfungsi normal. Itu Oki pung adik yg baru lahir jg mulai dg pembuahan sel telur oleh sel sperma. Itupun butuh wkt sebelum lahir mjd bayi yg normal. Kalo Nomang mangarti nature of a process ini, tentu nomang musti hapus itu pertanyaan yg berkali-kali ditujukan kpd Om Vq di atas. Ganti dg yg lbh optimis, "kl gorontalo bisa, knp NTT snd bisa?"

Oya, selamat ya... sadiki lai Om VQ su kalah jumla dari Nomang.

Anonim mengatakan...

Mike!!

Selamat Ulang Tahun yang ke 47 24/07
Panjang Umur Sehat selalu dan Tetemanis berkati!

(Budhi- DH1RK)

Anonim mengatakan...

Selamat buat Norman, dapat baby dapat gelar...MANTAP...berarti BM udah punya 2 cucu nih, selamat juga buat opa ama omanya yah.Doa kami, Tuhan memberkati BM dan semua keluarga, menjadi keluarga yang rukun dan menjadi berkat bagi banyak orang. (Adek)

Anonim mengatakan...

@Norman
Selamat ya, sukses dalam study dan keluarga. Tuhan Yesus berkati (Adek)

mikerk mengatakan...

Dear All,

Saya sekarang berada di Jakarta untuk tugas. Sama sekali tidak sehat tetapi tugas adalah tugas. Saya akan menjalani saya apa yang menjadi tugas saya.

Terima kasih bagi yang sudah berkunjung dan berkomentar. Tuhan memberkati.

mikerk mengatakan...

Tanggal 28 Juli 2010, Norman sudah diwisuda di UGM, Gelarnya adalah M.Sc bidang ilmu Kehutanan.

Saya cuma wonder bahwa dulu 20-an tahun lalu Norman adalah baby kecil seukuran 1-2 jingkal tetapi sekarang dia sudah S2. Wah hidup terus berproses. Ada suka ada duka. Kita anya harus menjalaninya dengan rendah hati, penuh sukur dan ikhlas. Tidak semua yang kita mau dapat tercapai. Tetapi ada hal yang tidak kita minta tetapi TUHAN memberkannya. Hidup ternyata indah dibalaik semua kekelaman yang ada. Tuhan memberkati

Anonim mengatakan...

Oh Ama Ldji masih di Jogja ko? Pulang cpat ko mahasiswa ada tunggu mau konsultasi ni ha ha ha (John)

Anonim mengatakan...

Norman, pulang ko kasi lu pung bapa. Akag sok jago dia tuha ha ha salamat eee anak (John)

Anonim mengatakan...

tentang NTT, tanya FREN sa. Dulu beta dukung TULUS...su rasaaaaa (john)

Anonim mengatakan...

@ John,

TULUS lebih baik? Ah, tidak juga lah. Iban juga sembarangan koq. Saya tidka membela FLR, sama saja dia dengan Iban tu (13)

mikerk mengatakan...

@ Bu John,

Selamat jaga kampus semoga cepat jadi dekan ha ha ha ha ha....

mikerk mengatakan...

@ Bung 13 dan Bung John,

Tulus, bisa baik bisa tidak baik
FREN, terbukti ada yang baik tapi ada yang buruk...

Jangan pernah memutlakkan hal yang relatif Bung. OK....

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.