Minggu, 07 Juni 2009

kasihilah musuhmu!!!!! emang enaaaaakkkk?????

Dear Sahabat Blogger,

Haruslah diakui bahwa apa yang saya lakukan kali ini telah menimbulkan kekecewaan di hati banyak sahabat. Tiga (3) minggu menghilang dari blog dan absen membuat posting sudah barang tentu bukanlah hal yang tepat sebagai pembuktian janji saya untuk selalu setia menemui sahabat semua melalui tulisan-tulisan saya. Sampai dengan malam hari ini, sudah sebanyak 27 buah e-mail yang saya terima dan semuanya menyatakan "protes" terhadap "istirahat" panjang yang saya lakukan. Salah satu email bahkan menuliskan begini (ehm..saya takkan memberitahukan siapa sahabat ini - sudah deal he he he ): .... rupanya BM bukan saja sering tidak menepati janji atas lanjutan seri tulisan tertentu tetapi, bahkan, tega tak memperdulikan sahabat yang datang berkunjung menengok blog ...BM ternyata mengidap penyakit yang bM tulis sendiri, yaitu penyakit lupa-lupa ingat ......walllllaaaaaahhhhhh ..... membaca hal ini mula-mula saya berpikir...heiiii....sedemikian buruknya kulitas janjinya saya kah????? ... tercenung saya di pertanyaan itu..dan lalu...ini jawabannya:....saya telah berjanji dan tak pantas saya mengingkari....OK baiklah. Saya keliru...maafkan saya...hari ini saya posting kembali....dapatkah permohonan maaf saya diterima? Masihkah mau sahabat sekalian mengunjungi saya di blog ini? Masihkah dapat saya diterima?????

Berbicara tentang perihal "terima menerima", saya memiliki sebuah kutipan komentar yang saya ambil dari artikel tentang koalisi Capres/Cawapres Megawati - Prabowo di www.kompas.com beberapa waktu yang lalu. Begini isi kutipan itu (sengaja saya kutipkan apa adanya tanpa mengeditnya sama sekali):

“… Ya saya sebagai petani jg kecewa knp Pak Prab memilih jadi wapres, parahnya jd wapresnya Megawati yg nyata2 tidak becus memerintah, semasa Mega apa sih yang bisa kita banggakan? Ekonominya amburadul, aset negara banyak dijual, illegal logging merajalela, polisinya ga beres, ya mendingan sekarang kalau begitu. Pak Prab jadi presiden saja, jangan ikut Mega yang anak buahnya preman pasar, pencopet, penjudi, dan pemabuk. Ingat saat kongres PDI-P di Bali para pelacur sukses meraup untung besar karena sebagian besar anggota kongres mampir kesana walah2 jan wis ora bener...”
Apa yang menarik dari kutipan di atas? Bahwa saya cenderung bersimpati kepada Megawati, tidak akan saya pungkiri. Saya merasa tak perlu munafik tentang hal ini. Lihat saja arsip lama yang saya posting pada tanggal 28 Desember 2008 dengan judul "saya suka megawati, tapi saya punya dolly. ya sudah, selamat HUT ke 44". Di sana terbaca jelas "pilihan warna politik saya". Mau lebih jelas lagi, dan supaya supaya saya tidak dianggap munafik, cobalah sahabat membaca berita yang ada di www.kompas.com pada hari ini (minggu, 7 Juni 2009) dalam judul "Pendukung Mega-Prabowo NTT Rapatkan Barisan". Untuk memudahkan para sahabat, berikut ini saya kutipkan sedikit berita di kompas.com yang saya maksudkan itu.

"Kami sejenak istirahat dari sosialisasi pasangan Mega-Pro dan bertemu dengan tim kerja lain untuk mengenang kelahiran Bung Karno, sang Proklamator 108 tahun lalu, pada Sabtu malam kemarin," kata Dr Michael Riwu Kaho di Kupang, Minggu. Bagi Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (F-DAS) Provinsi NTT itu, Soekarno merupakan sosok marhaen sekaligus penggagas aliran marhaenisme. "Paham itu dianut karena cocok dengan latar belakang rakyat Indonesia yang adalah kaum buruh, tani, nelayan yang termarginalisasikan, miskin dan tertindas pada saat itu. Karena itu, sangat layak bila setiap tahun jasa dan perjuangannya itu dikenang di seluruh Indonesia," kata dosen Fakultas Pertanian Undana Kupang ini. Ia melihat jaringan yang muncul secara sporadis setelah pasangan Mega-Pro dideklarasikan secara nasional itu, bukti bahwa kharisma Bung Karno masih terus merasuki sanubari masyarakat Indonesia.
wueeeleeeehhhhh......saya sendiri tersenyum kecut atas berita di kompas.com itu terutama menyangkut keakuratan informasi data. Tetapi sama sekali saya tidak berkeberatan nama saya digunakan di situ karena, ya itu tadi.....saya memang salah satu pengagum BK sejak lama. Tetapi sejujurnya, kutipan komentar yang saya kutipkan memang tidak untuk tujuan 'kampanye" Mega-Pro karena sikap saya sebenarnya sudah jelas (lihat posting lalu): .... Mega sebaiknya tidak lagi mencalonkan diri.... Lalu, jika bukan untuk membela Mega-Pro, untuk apa kutipan komentar itu saya posting di sini.? Apa perkaranya? Dalam hemat saya ada sesuatu yang bersentuhan dengan nilai-nilai yang saya pegang teguh. Ada sesuatu yang harus saya renungkan jika saya konsisten pada prinsip kebaikan dan kasih sayang. Inilah perenungan saya dan itupula yang ingin saya bagikan kepada semua sahabat terkasih.

Mari kita perhatikan kembali kutipan di atas dan kali ini saya tampilkan secara lebih khusus bagian yang "mencolok mata saya dan menyebabkan perih"

"Pak Prab jadi presiden saja, jangan ikut Mega yang anak buahnya preman pasar, pencopet, penjudi, dan pemabuk. Ingat saat kongres PDI-P di Bali para pelacur sukses meraup untung besar karena sebagian besar anggota kongres mampir kesana walah2 jan wis ora bener...”
Apakah benar semua "anak buah" Megawati adalah preman pasar pencopet, penjudi, pemabuk dan pelacur? Saya tidak yakin meskipun bisa saja ada anak buah Megawati yang berperilaku dan atau berprofesi seperti itu. Mungkin saja tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa di "tempat lain" keadaannya steril?. Akan tetapi, maafkan saya, bukan hal itu yang merisaukan benar pikiran saya. Titik fokus saya ada pada logika di balik komentar itu, yaitu...tolaklah semua orang yang berprofesi preman pasar, pencopet, penjudi, pemabuk dan pelacur.....jangan mau berhubungan dengan orang-orang seperti itu....jangan mau berkawan dengan mereka...singkirkan mereka.....penjarakan mereka...bencilah mereka. Jangan mau berteman dengan orang yang berteman dengan para outlaw itu. Kita boleh bersahabat tetapi jika situ gabung bareng para berengsek itu...maafkan saya....jangan lagi situ dekat-dekat ke sini. Nggak sudi.

Jika anda menyangka nalar saya tidak setuju dengan hal nalar "menolak" seperti itu maka anda keliru. Ya, para penjahat itu adalah musuh masyarakat beradab. Orang-orang itu tidak memiliki cinta. Ketikacinta seharusnya memiliki kemauan untuk terus memberi secara tulus (rencontre aimantree'), kelompok the outlaw tersebut tak memiliki kerelaan semacam itu. Sebalik dari memberi, mereka adalah para pengambil sejati. Mereka adalah kelompok orang egois. Mereka jahat dan oleh karena itu disebut sebagai pejahat. Bukan penjahit. Mereka sepatutnya dijauhi. dan dsingkirkan. Mereka adalah musuh. Musuh masyarakat (public enemy).

Saya mau tanya kepada sahabat sekalian, apakah setuju dengan pendapat saya? Haqul yakin, semua bakal setuju. Dengan begitu tak ada yang aneh dari kutipan komentar tajam tentang kelompok musuh masayarakat itu. Betul begitu? Ya, memang begitu seharusnya SEANDAINYA saya tidak mengingat dan lalu membaca kembali guna melakukan konfirmasi, kata-kata yang pernah diucapkan seorang TOKOH BESAR, AMAT BESAR., yaitu Guru dari Sang Guru Tua saya...Ya, Dialah Sang Maha Guru. Apa katanya? KASIHILAH MUSUH MU. ....whaaaaatttttt?????? apaaaaaaaaa?????? ga masuk di akal. Nonsens. Musuh kok dikasihi???? enak ajaaaaa....Yang namanya musuh ya harus dilawan, dikalahkan dan dihancurkan. Iya kan???? Iya, seharusnya begitu tetapi .... amboooiiiii...tengoklah apa yang dilakukan Sang Maha Guru saya ini....eaaaallllaaaahhhh....DIA bukan saja tidak menjauhi para musuh masyarakat itu melainkan mau bergaul dengan mereka. Merangkul mereka. Lebih gawat lagi adalah tuturan-NYA pada lain kesempatan : "mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu"...ck ck ck ck ck ck ck...aya aya wae ...ada-ada saja Sang Maha Guru saya ini. Apa maunya DIA sih?.

Ternyata adalah ini: jika mengasihi sesama dan membenci musuh adalah sifat dan naluri manusiawi maka sifat Ilahi tidaklah seperti itu. Semua milik-NYA. Tak ada satupun yang terbuang. Mereka yang akan terbuang adalah mereka yang membuang diri mereka sendiri. Tidak oleh NYA. Bahkan DIA bersedia memungut kembali mereka yang membuang diri itu, sepanjangn mereka mau dipungut. Apakah dengan begitu, DIA bertoleransi terhadap kejahatan? Oh, NO WAY. Tidak. Kejahatan adalah kejahatan. Tak boleh ditoleriri. Persoalannya bukan pada sikap etis dalam berhadapan dengan kejahatan tetapi pada cara menghadapi kejahatan. Menurut Sanga mHa Guru, kejahatan tidak harus diperangi dengan kekerasan. Tidaklah an eye for an eye. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kejahatan tidak doleh diperangi dengan cara-cara manusiawi melainan cara-cara Ilahiat. Kata Sang Maha Guru: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!". Oiiiiihhhh, amat jelas dan amat tegas. Kalahkan kejahatan tetapi lakukanlah dengan KEBAIKAN.

Pernahkah anda membaca tulisan dari Arswendo Atmowiloto yang dibuatnya semasa dia berada di penjara. Katanya begini (saya sederhanakan): ... "semua abal-abal (penjahat) yang ada di dalam penjara adalah orang-orang yang merasa tak memiliki kawan di luar. Oleh karena itu, setelah bebas, mereka akan melakukan kejahatan lagi supaya kembali masuk ke penjara guna bertemu ...... kawan-kawannya. Sahabat-sahabatnya yang bisa memahami siapa dirinya." .... Perhatikanlah sahabatku semua, siapa sahabat para penjahat itu.? Tak lain dan tak bukan adalah sesama penjahat. Mengapa demikian? ya, karena yang bukan penjahat akan menolak mereka. Jika seumur-umur, sahabat penjahat adalah penjahat juga maka apa yang dibagi-bagikan di antara mereka? Apalagi jika pikiran-pikiran jahat. Lalu, kapan kejahatan di dunia akan berkurang dengan cara itu? Maka, benarlah logika sang Maha Guru. Amat benar. Jikalau mau kejahatan diperangi, janganlah mereka disingkirkan melainkan rangkul-lah mereka. Jangan ragu untuk bergaul dengan mereka tetapi jangan turuti pikiran jahat mereka melainkan ajarlah mereka untuk berbuat kebaikan. Tunjukan kepada mereka bagaimana seharusnya kebaikan itu bekerja. Dan lalu lihatlah hasilnya.

Sehari 1 kebaikan dikerjakan. Dua hari 2 kebaikan. Seribu hari, seribu kebaikan. Seribu tahun milyaran kebaikan. Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Oooooohhhh, itulah KASIH yang sejati itu. KASIH yang Ilahiat. KASIH semacam iitu keluar dari subjek dan lurus tertuju kepada objek. KASIH sejati tidaklah seperti ini: keluar lurus dari subjek dan berbeloklah sedikit ketika bertemu objek yang tidak disenangi. Kasih model berbelok adalah kasih yang khas manusia. Kasih yang memilih-milih makanya ada pomeo "pilih kasih." Hanya dengan KASIH yang Ilahiat kita tak akan memiliki musuh. Tak boleh ada satupun perbedaan di antara kita yang boleh menghalangi KASIH kita kepada sesama. Kita bisa berbeda pendapat tetapi kita tetap sahabat. Saya memilih mengenakan baju putih, anda berbaju hijau tetapi kita adalah teman. Anda memilih untuk melanjutkan perjalanan, dia memilih untuk berjalan lebih cepat lebih baik sedangkan saya memilih untuk tidak memilih yang dua itu tetapi kita bukanlah kumpulan para musuh-musuh. Kita adalah sahabat. Kita saling menerima perbedaan karena bukan perbedaan itu yang membuat kita bersahabat. Kita bersahabat karena kita memiliki KASIH. Persahabat hanya ada jika ada KASIH dan KASIH memang tidak pernah boleh berbelok.

Lalu, datanglah contoh pamungkas dari Sang Maha Guru di suatu ketika. Pada saat itu ramai orang berkumpul dengan wajah ganas dan dengus nafas amarah. Oiiiii....lihatlah....di tangan kumpulan orang-orang itu tergenggam beberapa butir batu yang siap dirajamkan kearah tubuh seorang penjahat perempuan yang berprofesi sebagai pelacur. Lalu, Sang Maha Guru mengatakan ....hhhoooooiiiii......bagi yang merasa tak memiliki salah .... silakan mulai merajam perempuan ini .... Lalu, semua diam. Semua membisu. Perlahan-lahan kerumunan orang itu bubar tanpa sempat melemparkan batu di tangan mereka. Mengapa? tampaknya tak seorangpun yang nekad mengaku bahwa mereka adalah orang yang suci tanpa dosa. Mereka sama berdosanya dengan perempuan pelacur itu dalam bentuk yang lain. Ketika kerumunan orang itu berlalu maka DIA berkata begini ..... pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi ....

Ada 3 perkara di situ. Pertama, tak ada orang yang tidak pernah bersalah. Perempuan pelacur dan kerumunan orang itu ternyata semuanya adalah orang yang ada salahnya. Kedua, hanya kebaikan yang mampu membuat orang bersalah tidak melakukan kesalahan baru. Teguran yang konstruktif tanpa tindakan destruktif yang dilakukan S angMaha Guru telah mencegah kerumunan orang-orang terjebak dalam kesalahan baru, yaitu merajam orang sampai mati. Ketiga, permintaan tegas bahwa kejahatan harus dihentikan. ak boleh diulangi lagi. Enough is enough. Kesalahan yang berulang-ulang adalah dosa. Sahabatku sekalian, begitulah cara bekerja KASIH yang benar, yaitu KASIH yang didasarkan atas kebaikan. Kasih yang didasarkan atas kesediaan saling menerima dna bukan saling menyingkirkan. Rangkul-lah mereka yang bersalah. Jangan membuang mereka. Nyatakanlah KASIH anda secara lurus. Jangan berbelok. Dalam persahabatan, sekali waktu, pasti terjadi perselisihan. Tetapi, dari pada menyingkirkan sahabat, mungkin lebih baik kita saling memaafkan. Saling mengampuni. Saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Avatar A'ang ketika dia menolak untuk membunuh raja api Ozai yang durjana itu dalam pertarungan pamungkas mereka, ketika raja jahat itu terkulai tak berdaya .... "saya ingin menghancurkanmu tetapi tidak akan saya lakukan karena lebih baik dari menghancurkan adalah mengampuni". Nah, sahabat sekalian, sudahkah anda memaafkan saya? Catatlah: memaafkan itu enak rasanya.


Tabe Tuan Tabe Puan

108 komentar:

mikerk mengatakan...

Dear sahabat,

Mohon maaf, agak lama baru posting kembali. Terima kasih atas semua e-mail dan komen. Positif atau negatif, saya anggap positif semuanya. Terlalu banyak yang saya pikirkan sehingga melemahkan semangat saya melakukan posting. Semoga ke depan saya kembali teratur mengunjungi sahabat semua. GBU

mikerk mengatakan...

"kalian dengar keluhan ku"

Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama
demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya
Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga
seperti hendak telanjangi dan kulit jiwaku

Apakah buku diri ini selalu hitam pekat?
Apakah dalam sejarah orang mesti jadi pahlawan?
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum
dengan sinar mataNya yang lebih tajam dari matahari

Kemanakah sirnanya nurani embun pagi
yang biasanya ramah kini membakar hati?
Apakah bila terlanjur salah
akan tetap dianggap salah?
Tak ada waktu lagi benahi diri
Tak ada tempat lagi untuk kembali

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab
ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang
Tuhan, bimbinglah batin ini agar tak gelap mata
dan sampaikanlah rasa inginku kembali bersatu

Ke manakah sirnanya nurani embun pagi
yang biasanya ramah kini membakar hati?
Apakah bila terlanjur salah
akan tetap dianggap salah?
Tak ada waktu lagi benahi diri
Tak ada tempat lagi untuk kembali

Anonim mengatakan...

wuaaaaaaaaha ha ha ha ha ha ha...si Bosz lama ngilang ...sekalinya datang bicara hal yang sulit...he he he he....mo minta pengampunan untuk Prabowo emang????? wkwkwkwkwkwk....

BTW, it's still a verry good posting (Proxy73)

Anonim mengatakan...

eh iya, legu ebiet emang bagus tapi gimana kalo ditambahin "please forgive me nya bryan adams"...nah top abiez dach....gimana???? (Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ BM,

Met balik ke blog...kirain udah ga mo ngeposting lagi...subuh-subunh nyari bahan makalah eehhh...BM udah ngeposting lagi. Thanx dech yaaa...?//Pritha//

Anonim mengatakan...

wwwoiiiii.....ini pritha yang didkawa melanggar UU ITE itu bukan?....wkwkwkwkwk....t pagbukan dech.....ha ha ha ha...met pagi ya eneng...(Proxy73)

Anonim mengatakan...

Eh...ada mister Proxy....ga lah...GW Pritha yang masih imut...hi hi hi hi...but jgn2 jakasa ma the police kasus mbak pritha orangnya mabok kayak mister proxy ... iya dech...ha ha ha ha...

Anonim mengatakan...

sori //Pritha//

Anonim mengatakan...

yiaaaaaaaaaa......ha ha ha ha ha....marah ni yeeeee......sori dech sori...pan BM bilang..maapin...minta forgive ya eneng geulis.....kalo ga dimaafin ntar gw dituntut pasal 310pencemaran nama baik......wkwkwkwkwkwk ....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

eh iya BM, jaksa ma the police kasus mbak Pritha Tanggerang kayaknya punya cinta yang ga lurus dech...dibengkokkan ma itu tuh...ha ha ha ha ...kan zamannya maju tak gentar membela yang bay....ern munchen aja dech...wkwkwkwkwkwk....(Proxy73)

Anonim mengatakan...

@ Dear all,

Jujur saya akui...3 minggu lebih rutinitas aya seperti ada yang terasa berkurang, yaitu membaca posting baru BM. Sebagai pelepas rindu, saya membolak-balik arsip lama blog BM. Semua saya baca bahkan sampe ke posting pertama BM.

Pagi ini, sembari nyiapin segala macem ke kantor, ketika gw mengecek e-mail dan ...facebook.....di blog gw dah tampil notification...new post from BM, buruan GW baca dan....Puji Tuhan...kerinduan itu terbayar tuntas....Great posting...thanx BM....

Substansi posting bagi saya luar biasa karena di tengah hingar bingar politik "lupa-lupa ingat" di Indonesia sekarang, bangsa kita tampaknya mmerlukan satu hal itu, yaitu pengampunan.

Saya punya sebuah artikel di blog pribadi tentang hal itu dan ingin saya bagikan kepada sahabat semua.

Anonim mengatakan...

Sorry, komen di atas gw bikin terburu-buru dan belum. Ntar di kantor gw lanjutin.

@ BM,

Gw juga harus jujur.....ketidak hadiranmu menimbulkan rindu...keep on posting my man. We love U (Elizahayu)

Anonim mengatakan...

@ Pak Mke

Amin Pak Mike. Artikelyang teramat sangat bagus. Belum saya komentari karena baru membaca seklias. Selamat memasuki usbu yang baru. JBU (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

sesuatu mudah tapi SULIIIIIIIT untuk bisa melakukannya... ha ha ha ini fakta bukan sekedar fenomena belaka..
dan ini merupakan bukti kasih yang aktif bukan sekadar kasih yang pasif, apa lagi Sang Maha Guru memberikan Contoh tentang bukti bagaimana kasih yang aktif...
Salut buat tulisan BM, ha ha bisa jadi referensi bahan Renungan nihhh...

DTN

alice mengatakan...

Hello Dear All,

Saya ingin menepati janji saya untuk sharing something di sini. Tema saya adalah tentang ampuhnya pengampunan.

Nelson Mandela, presiden pertama Afrika Selatan yang terpilih melalui pemilu demokratis tahun 1994, mengajarkan pengampunan kepada dunia. Negeri itu sebelumnya koyak-moyak oleh apartheid, dan ia sendiri mesti meringkuk di penjara selama 27 tahun akibat politik rasial itu. Kini ia bertekad untuk membangun Afrika Selatan yang baru. Ia mengawalinya dengan cara yang amat khas: ia meminta sipir penjaranya ikut naik ke panggung pada saat pelantikannya.

Selama memimpin negeri itu, ia antara lain membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC), dengan ketua Uskup Agung Desmond Tutu. Mandela berusaha mengelakkan pola balas dendam yang dilihatnya di sekian banyak negara, yang terjadi sewaktu ras atau suku yang semula tertindas mengambil alih pemerintahan.

alice mengatakan...

Selama dua setengah tahun berikutnya, penduduk Afrika Selatan menyimak berbagai laporan kekejaman melalui pemeriksaan TRC. Peraturannya sederhana: bila seorang polisi atau perwira kulit putih secara sukarela menemui pendakwanya, mengakui kejahatannya, dan mengakui sepenuhnya kesalahannya, ia tidak akan diadili dan dihukum untuk kejahatan tersebut. Penganut garis keras mencela pendekatan ini dan menganggapnya tidak adil karena melepaskan si penjahat begitu saja. Namun, Mandela bersikukuh bahwa negeri itu jauh lebih memerlukan kesembuhan daripada keadilan.

Sebuah kisah mengharukan dituturkan Philip Yancey dalam buku Rumours of Another World (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003). Pada sebuah pemeriksaan, seorang polisi bernama van der Broek mengakui perilaku kejinya. Ia dan beberapa perwira lain menembak seorang anak laki-laki delapan tahun dan membakar tubuh anak itu seperti sate untuk menghilangkan bukti. Delapan tahun kemudian van de Broek kembali ke rumah yang sama dan menangkap ayah si anak. Isterinya dipaksa menyaksikan para polisi mengikat suaminya pada tumpukan kayu, mengguyurkan bensin ke tubuhnya, dan menyalakannya.

alice mengatakan...

Ruang pemeriksaan menjadi hening saat seorang perempuan lansia, yang telah kehilangan anak dan kemudian suaminya, diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. "Apa yang Anda inginkan dari Tn. van de Broek?" tanya hakim. Ibu itu menjawab, ia ingin van der Broek pergi ke tempat mereka dulu membakar tubuh suaminya dan mengumpulkan abunya, agar ia dapat melakukan pemakaman yang layak. Dengan kepala tertunduk, polisi itu mengangguk.

Kemudian ibu itu mengajukan permintaan tambahan, "Tn. van der Broek telah mengambil seluruh keluarga saya, dan saya masih memiliki banyak kasih yang ingin saya bagikan. Dua kali sebulan, saya ingin dia datang ke kampung saya dan menghabiskan waktu satu hari bersama saya, agar saya dapat menjadi ibu baginya. Dan saya ingin Tn. van der Broek tahu bahwa ia telah diampuni oleh Tuhan, dan bahwa saya juga mengampuninya. Saya ingin memeluknya, sehingga ia dapat mengetahui bahwa pengampunan saya ini sungguh-sungguh."

alice mengatakan...

aduuuuuhhhh sori....gw nahan narik napas dulu dech ya....keharuan selalu melanda begitu berisah pada bagian ini....sori ya

alice mengatakan...

Secara spontan, beberapa orang di ruang itu mulai menyanyikan Amazing Grace saat perempuan lansia itu melangkah menuju tempat saksi, namun van der Broek tidak mendengarkan nyanyian itu. Ia terjatuh tak sadarkan diri.

Nelson Mandela menyadari bahwa sewaktu kejahatan terjadi, hanya satu tanggapan yang dapat mengalahkannya. Pembalasan dendam hanya akan melanggengkan kejahatan itu. Keadilan hanya akan menghukumnya. Kejahatan hanya akan dikalahkan oleh kebaikan bila pihak yang disakiti bersedia menyerapnya, mengampuninya, dan menolak untuk membiarkannya menyebar lebih jauh.

Itulah yang diajarkan Mandela kepada bangsanya, dan kepada dunia.

alice mengatakan...

Dear sahabat,

Dalam artikel itu, seolah Mandela adalah tokoh yang mengajarkan tentang pengampunan. Dalam tulisan BM, saya dan mungkin sekarang kita semua tahu bahwa Mandela cuma pengikut dari sesorang, yaitu Maha Gurunya BM.

Kita sekarang menjadi tahu bahwa ternyata pengampunan adalah kekuatan. Inilah alternatif terbaik daripada kita terus menerus menebar kebencian, dan kejahatan kendati dibungkus dengan pidato sebagus apapun juga pidato itu.

Anonim mengatakan...

Saya termasuk yang tidak pernah meragukan BM. Jika tidak posting, pasti BM sedang sibuk atau sakit. Maka bagi saya tak perlu BM meminta maaf.

Hal luar biasa adalah kejujuran BM dalam pilihan politiknya. Tetapi bersamaan dengan itu, BM juga mengajak bahwa kendati berbeda, kita tak perlu menjadi bermusuhan. Saya mengenal beberapa akademisi di Kupang yang bersikap malu-malu kambing. Sangat terlibat politik praktis bahkan sampai terlibat amat jauh dalam urusan kepemerintahan dan mengakibatkan kekacauan.

Akan tetapi tiap ditanya selalu menyangkal. Lalu, kalo saya pikir dmana kekuatan BM? Ada pada pemahamannya yanag memadai tentanag imannya itu sendiri. Mungkin BM termasuk yang beruntung karena dibesarkan di dalam keluarga yang kendati amat relijius tetapi juga sangat nasionalis.

Di sinilah kekuatan posting BM yang membuat kita menjadi rindu jika lama tidak ada posting baru. Tegas dalam mengambil sikap tetapi juga tidak ingin kehilangan satupun kawan. Saya angkat topi. DI CN, ada beberapa teman yag "berpisah" semenjak pileg. Dan semakin tajam dalam pilpres. Semuanya adalah penggemar blog BM. Maka anjuran saya, nyong dan nona. bung dan susi, bacalah tulisan BM ini. Semoga segera ada damai dalam hatimu karean saling memaafkan (Eman, CN, TDM)

Anonim mengatakan...

Salut dan angkat topi juga untuk mbak Eliz. Komentarnya sangat melengkapi posting BM. Mengharukan. Luar biasa. GBU

Anonim mengatakan...

sori (Eman, CN, TDM)

anna mengatakan...

Welcome back BM. Postingmu emang dirindu dan ditunggu. Saya setuju dengan pendapat bahwa ditengah karut marutnya perikehidupan berbangsa dan bertanah air kita sekarang ini, nuansa saling memaafkan mungkin merupakan obat mujarab.

Bagi yang memaafkan kesalahan orang lain, Allah SWT menyediakan pahala utama sebagai balasan atas kemuliaan sikap mereka. ''Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.'' (QS Asy-Syuura [42]: 43).

anna mengatakan...

Namu demikian, maaf-memaafkan sebenarnya bukan hal yang gampang walaupun mudah diucapkan.

Ketika seseorang telah atau akan dicelakai, maka yang tertanam biasanya perasaan dendam dan ingin membalas. Perasaan seperti itu adalah wajar dalam diri orang biasa.

Namun, sikap memaafkan hanya ada pada diri orang yang luar biasa. Memaafkan butuh kematangan diri dan kecakapan spiritual. Kematangan
diri hanya bisa didapatkan melalui keterbukaan hati dan pikiran akan segala pengalaman hidup yang dialami. Sementara kecakapan spiritual hanya bisa diperoleh ketika telah memiliki rasa penghambaan yang tinggi hanya kepada Allah SWT semata.

anna mengatakan...

Nah, supaya bisa memperoleh hidayah saling memaafkan maka ada 3 cara, yaitu:

Pertama, memperbanyak silaturahim kepada tetangga, sanak kerabat, dan kawan-kawan. Sikap ini
akan membuka hati terhadap segala karakter orang, sehingga kita pun tidak mudah marah atau tersinggung atas sikap orang lain.

Kedua, memperbanyak dzikir kepada Allah SWT di waktu pagi dan petang. Berdzikir di waktu pagi akan menjernihkan hati dan pikiran kita sebelum beraktivitas. Berdzikir di waktu petang akan kembali menjernihkan hati dan pikiran setelah kita sibuk seharian beraktivitas.

Ketiga, memperbanyak berdua-duaan (berkhalwat) dengan Allah SWT di waktu orang lain sedang terlelap tidur. Ini akan menumbuhkan kesabaran serta rasa penghambaan dan pengharapan yang tinggi hanya kepada Allah SWT serta menjauhkan dari ketergantungan terhadap manusia.

.....''Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.'' (QS Fushshilat [41]: 35).

anna mengatakan...

Akhirnya, cobalah direnungkan ayat berikut ini dan katakanlah kepada saya apakah ini bukan modal bagi nagsa ini supaya hidup berdampingan secara damai?

......''Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.'' (QS Fushshilat [41]: 34).

Salam Indonesia. MERDEKA

anna mengatakan...

@ Bigmike,

Pilihan lagu yang tepat untuk posting ini. Tapi mungkin akan lebih indah jika ditampilkan versi yang telah diaransemen oleh Djadug Ferianto. BTW, Thanx

Anonim mengatakan...

Ueeeeee....ama Ludji pulang tapaleuk dari Jember langsugn dapat ide posting baru eeee.....ha ha ha ha ha...isi posting ..wadoooohhhh....2 jempol ankta tinggi-tinggi. Mantap JBU

Anonim mengatakan...

Wadooooh sori (A9ust)

johanes mengatakan...

@ Sahabat Penatua Bigmike,

Saya pikir, posting ini merupakan salah satu yang terbaik terutama karena keberanian rekan Penatua dalam mengungkapkan keyakinan Imannya, yaitu kuasa pengampunan. Kendati demikian, warna nasionalisme tetap tidak luntur. Sekali lagi saya salut. Dan hal ini yang membuat sangat menyukai posting-posting Bigmike. GBU

johanes mengatakan...

Berikutnya, saya ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran saya tentang topik posting Bigmike.

Selama berabad-abad salah satu misteri kekristenan terbesar adalah sabda Tuhan Yesus dalam Matius 5:44,

...."Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."...

"Itu tidak praktis," pendapat beberapa orang. Yang lebih ekstrim lagi berkata, "Itu gila!"

Sebagai permbanding, ketika Confucius ditanya oleh seorang muridnya, "Apakah kita harus berbuat baik pada musuh kita?" Dia menjawab tegas bahwa kita harus membalas kebaikan dengan kebaikan dan kejahatan dengan keadilan.

Saya juga menggemari serial kartun Avatar (he he he he kenapa ya kita yang tua-tua masih juga suka film kartun???...ah...nikmati saja berkat Tuhan kan? ha ha ha)....saya ingat betul ketika dalam kegamanagnnya dalam menghadapi raja api Ozai, semua avatar terdahulu mengnjurkan agar avatar aang bertindak adil, tegas, keras, agar kejhatan jangan sampai berkembang biak.

johanes mengatakan...

Tetapi, apa pilihan avatar? Dia ingin melakukan pengampunan. Inilah kemuskilan itu, yaitu TIDAK MUNGKIN MANUSIA MENGASIHI MUSUHNYA....

Dan Bigmike benar, justru dalam ketidak muskilan itulah KASIH yang Ilahiat akan menunjukkan keunggulannya. Mengasihi musuh?

Memang, mana mungkin kita bisa mengasihi musuh kita? Jika seseorang sudah menipu kita, sombong, tidak tahu aturan, egois, lebih-lebih mau mencelakakan kita; tukang sulap dari mana yang bisa membuat kita mengasihi dia? Apa Yesus tidak asal omong? Jawabnya jelas tidak. Tuhan tahu apa yang diucapkan-Nya. Dia mengerti sungguh-sungguh dan mau membantu kita melaksanakan perintah-Nya ini.

johanes mengatakan...

Kenapa kita perlu mengasihi musuh kita? Yang pertama, seperti yang tertulis dalam Matius 5:46-47, semua orang dapat membalas kebaikan dengan kebaikan. Kebaikan dibalas dengan kebaikan itu sudah lumrah. Boss Mafia juga berbuat demikian. Pemungut cukai yang paling serakah juga berbuat demikian. Tidak ada yang aneh. Demikianlah sifat dunia. Yang bukan sifat dunia adalah bila kita bisa mengasihi musuh kita. Tuhan berkali-kali menekankan dalam Alkitab bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Kita ciptaan Tuhan Mahasuci yang bukan dari dunia ini -- bahkan dunia ini diciptakan oleh-Nya. Oleh sebab itu, janganlah menuruti arus dunia yang merupakan ciptaan. Turutilah kehendak Sang Pencipta.

Yang kedua, dalam Roma 5:8 ditekankan bahwa Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Bukan setelah kita bertobat, Kristus mati buat kita, tetapi Tuhan sendiri telah memberi contoh dengan mati bagi musuh-musuh-Nya, yaitu kita, manusia berdosa. Kita musuh Tuhan? Ya! Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, saat itulah kita telah menjadi musuh Tuhan. Saat itulah seluruh diri kita berontak tak mau mendekati Tuhan. Paulus menegaskan dalam Roma 8:7,

...."Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah; karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.".....

johanes mengatakan...

Sepanjang sejarah Perjanjian Lama kita membaca pengkhianatan umat manusia yang tak terhitung banyaknya terhadap Tuhan, sampai sekarang! Tapi Tuhan mau membalas kejahatan manusia itu dengan cinta kasih-Nya. Tidak mudah bagi seorang untuk bersedia mati bagi orang benar, kata Paulus, apalagi sangat amat sukar bagi seseorang untuk mati bagi musuhnya. Inilah perwujudan kasih Allah yang tak terbatas bagi manusia. Dapatkah kita sekarang mewujudkan kasih Allah itu terhadap sesama kita? Mengapa Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus berkata bahwa di antara iman, pengharapan, dan kasih, yang terbesar adalah kasih? Dengan iman kita menerima Yesus; dengan pengharapan kita menantikan Dia, tetapi dengan kasih kita dapat menyatakan bahwa Tuhan telah hidup dalam hati kita.

johanes mengatakan...

Pertanyaannya sekarang adalah: Dapatkah kita mengasihi musuh-musuh kita, apalagi mendoakan mereka? Kalau Saudara bertanya pada diri Saudara sendiri, "Dapatkah saya dengan kemampuan saya sendiri mengampuni bahkan mengasihi musuh saya?" Jawabannya tentu tidak atau tidak mungkin. Tidak percaya? Silakan mencobanya. Lalu, bagaimana? Kita memang tak bisa mengampuni dan mengasihi dengan usaha kita sendiri, tetapi dalam Roma 5:5 dikatakan bahwa

......"Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.".....

Kalau kita begitu terbatas hingga tak dapat mengasihi musuh kita, gunakanlah kasih Allah yang telah dicurahkan bagi kita itu. Dengan rendah hati kita datang ke hadirat Tuhan, minta Dia membantu kita. Tuhan pasti mendengar doa kita. PASTI. SYALOM

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Top Pak Top Sekali posting ini. Kejahatan memang harus diatasi dengan kebaikan sebab kejahatan yang berbalas kejahatan hanya akan menghasilkan perbanyakan kejahatan-kejahatan baru.

Saya teringat posting Pak Mike tentang Dolly dan Megawati serta Los Campesinos. Jelas sekali, tanpa pengampunan kejahatan hanya akan menghasilkan penjahat baru yang berpikir bahwa dia adalah pahlawan. Saya beri nilai 100 untuk posting ini (Julius)

Anonim mengatakan...

Oh ya, sebelum lupa...lagu yang diposting memang baik tetapi rasanya bisa dicarikan yang lebih baik lagi. Atau, paling tidak, ditambahkan. Soal lagunya apa? wah, Pak Mike yang jago menyanyi pasti tahu lagu yang pas. Tabe (Julius)

mikerk mengatakan...

Tuan dan Puan terkasih,

Saya amat gembira karena mula-mula saya mengira tak ada Tuan atau Puan yang mau menengok blog ini setelah 3 minggu lebih saya telantarkan. Ternyata cukup banyak sahabat yang masih mengingat saya. Tengkyu. Lebih tengkyu lagi, bagi Tuan dan Puan yang sudah berkomentar. Semuanya bagus dan positif. GBU

mikerk mengatakan...

Ada Tuan yang mengusulkan mengganti lagu...yaaaaa....saya juga berpikir bahwa lagu dari Ebiet memang cocok tetapi rasanya masih bisa disisipkan lagi 1 bah lagu lain. Saya masih mencari-carinya. Thanx atas usulan yang bagus itu. GBU

embun777 mengatakan...

Ruuarr biasa...!!!Posting yg Cantik ,dan semakin berbobot dg refferensi nasehat "Sang Maha Guru..." yg membuat saya merinding...
SUKSES BUNG.
GBU

Anonim mengatakan...

@ Dear BM,

Welkambek setelah menghilangkan diri 3 minggu lebih. Mungkin mempersiapkan posting ini ya? Makanya posting ini terasa amat mengasyikan dan luar biasa.

Pengampunan bersifat universal dan milik semua orang tak perduli apa agamanya, sukunya dan bangsanya. Masalahnya adalah apakah kita mau atau tidak? (Ryan)

Anonim mengatakan...

Hello Bigmike, jangan ngilang lama lagi yaaaaaaa...sometimes we miss yo a lot...(PrettyMelia)

Anonim mengatakan...

Mbak Eliz benar banget, bicara pengampunan kita inget ma Manusia fenomenal, yaitu Nelson Mandela.

Bagi sebagian besar warga dunia, Nelson Mandela adalah seorang warga favorit. Para bintang dunia pernah membuat pesta berkenaan dengan usia ke-90 tahun Mandela di Hyde Park, London. Mengapa Mandela? Karena dua hal, yaitu Mandela adalah contoh sosok pengampun dan juga sosok pemimpin yang sukarela menyerahkan kekuasaan kepada yang lebih muda (PM)

Anonim mengatakan...

Hi Mbak PM,

Saya setuju tuh jika dikatakan bahwa Nelson Mandela adalah manusia fenomenal. Dua contoh yang mbak kemukakan adalah dua contoh perbuatan yang sangat langka. Tidak usah jauh-jauh. Di Indonesia, pengampun merupakan barang sangat langka. Membakar, membunuh, dan bertikai tetap saja marak, dengan berbagai alasan yang kadang sangat sederhana. Laluu, jangankan menyerahkan kekuasaan, tidak ada yang mau mengalah meski jelas kalah dalam pemilu. Menghina ras, suku dan agama dianggap barang biasa saja asal bisa jadi presiden atau anggota legislatif. Dapatkah kita meniru Nelson Mandela? (Ryan)

Anonim mengatakan...

@ Mas Ryan,

Hallo juga. Thanx atas apresiasinya. Mari kita doakan agar di Indonesia lahir orang-orang seperti Mandela (PM)

Anonim mengatakan...

Kisah Nelson Mandela adalah kisah seorang Murid yang taat pada Gurunya. Pengampunan adalah ajaran besar dari Sang Maha Gurunya Mandela juga Bigmike.

Ajaran tentang pengampunan, sebaliknya adalah kelemahan menurut cara pandang manusia seperti Nietszche. Bagi Nietszche, pengampunan adalah KASIH dan KASIH adalah kelemahan. Kelemahan adalah candu peradaban yang akan memusnahkan peradaban itu sendiri. Lebih penting dari pengampunan adalah keadilan dan keadilan adalah ketegasan. Ktegasan = kekerasan. Jika ini pilihannya maka 1 kekerasan akan menghasilkana kekerasan baru. Bagi penyuka filam silat Kungfu, lihatlah, dendam akan menghasilkan kekerasan bari. Kekerasan akan menimbulkan dendam baru. Ini saya sebut sebagai lingkaran setan. Nah, kekerasan adalah siklus milik setan. Mau? (Larry)

ihin mengatakan...

@ Bigmike,

Menurut saya posting ini cukup baik. Masalahnya adalah bagaimana melakukan harmonisasi di antara pengampunan dan keadilan. Jikalau mengikuti logika pengampunan maka penjara bakal kosong dong?

Bagi saya yang terpenting adalah adil dan sejahtera. Ketika perikehidupan bersama terjadi maka harus ada aturtan yang mengikat hubungan di antara orang-orang itu. Lalu aturan itu haruss ditegakan SEADIL-ADILNYA. Hanya dengan cara itu orang-orang itu bisa SEJAHTERA.

Bagaimana tanggapan Bigmike?

ihin mengatakan...

Eh, lagunya ga usah diganti. Lagu Ebiet udah pas. Enak dan liriknya mengena

HASTu W mengatakan...

emang, klo mau hidup enak, aman, damai... jangan suka menyinggung n jangan mudah tersinggung ma singgungan2 musuhmu

Anonim mengatakan...

Mengampuni itu enak? menurut saya tidak. Bahkan bikin hati dan perasaan tambah sengasara. Tetapi itulah "syarat" agar dapat mengampuni, yaitu lawanlah dirimu sendiri. Apakah bisa? pengalaman Nelson Mandel menunjukkan bahwa BISA. Lihatlah NM, sekarang dia hidup terhormat. Bukan Presiden tetapi pemimpin yang sesungguhnya di hati orang Afrika Selatan. Bahkan menjadi model pengampunan di sluruh dunia. 3 bulan lalu, saya berada di Johanesburg, 6 dari orang Afrika Selatan yang saya ajak ngobrol mengatakan bahwa NM adalah pemimpin mereka yag sesungguhnya (YeWe)

Anonim mengatakan...

ha ha ha surprise bahwa BM ikut dalam barisan MP. Rasanya, Desember tahun kemarin ketika berada di "Menara Peninsula" BM masih mengecam mister Prabowo dalam kaitannya dengan HAM. Ini gejala "lupa-lupa ingat" atau "pengampunan" ha ha ha ha ha....

BTW, ini posting yang amat bagus. Komen-komen juga konstruktif. Dan, sebelum lupa, NM adalah pengagum batik. Selama bebrapa kali ketemu BM, selalu mengenakan batik. Hidup Batik...ha ha ha ha ha (YeWe)

Anonim mengatakan...

oh iya, saya suka lagu Ebiet ini. Menurut saya ngga usah ditambahin atau diganti. Syairnya udah kokoh mendampingi isi posting (YeWe)

Anonim mengatakan...

@ Dear Mang Ihin,

Sebelum BM menjawab pertanyaan anda saya ingin bertanya kepada anda: mengapa keadilan dan pengampunan harus didikotomikan? (Julius)

Anonim mengatakan...

wooooiiii BM, ngeliat banyaknya komen di postig ini kliatannya situ dah diamapin....wkwkwkwkw....gw lanjut nyari makan dulu nich.....(Proxy73)

poempuisi mengatakan...

@ Bigmike,

waaahh...emang BM ngilangnya kemana aje???? bertaapa nyari inspirasi baru ya???? ha ha ha ha BTW, gw seneng coz si bosz udah balik ngeposting lagi. Jgn kabur lagi yeeee.....ha ha ha

@ Mbak Eliz,

Kisah tentang Nelson Mandela emang dahsyat. Ini contoh salah satu manusia utama yang pernah ada dalam peradaban. Saya ingin ngepostibng komen berupa 1 buah puisi yang juga menggetarkan jiwa tentang Nelson Mandela

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
poempuisi mengatakan...

"Nelson Mandela"

Our greatest fear is not that we are inadequate,
but that we are powerful beyond measure.

It is our light, not our darkness, that frightens us.
We ask ourselves, Who am I to be brilliant,
gorgeous, handsome, talented and fabulous?

Actually, who are you not to be?
You are a child of God.

Your playing small does not serve the world.
There is nothing enlightened about shrinking
so that other people won't feel insecure around you.

We were born to make manifest the glory of God within us.
It is not just in some; it is in everyone.

And, as we let our own light shine, we consciously give
other people permission to do the same.
As we are liberated from our fear,
our presence automatically liberates others.

I have walked that long road to freedom.
I have tried not to falter;
I have made missteps along the way.
But I have discovered the secret
that, after climbing a great hill,
one only finds that there are many more hills to climb.
I have taken a moment here to rest,
to steal a view of the glorious vista that surrounds me,
to look back on the distance I have come.
But I can only rest for a moment,
for with freedom comes responsibilities,
and I dare not linger,
for my long walk is not ended.

If you talk to a man
in a language he understands,
that goes to his head.
If you talk to him
in his own language,
that goes to his heart.

Let freedom reign.
The sun never set
on so glorious a human achievement.

Let there be work,
bread, water and salt
for all.

There is no easy walk to freedom anywhere,
and many of us will have to pass
through the valley of the shadow of death
again and again
before we reach the mountaintop of our desires.

I am not a saint,
unless you think of a saint
as a sinner who keeps on trying.

There is nothing like returning
to a place that remains unchanged
to find the ways
in which you yourself have altered.

Money won't create success,
the freedom to make it will.

Only free men can negotiate;
prisoners cannot enter into contracts.
Your freedom and mine
cannot be separated.

The greatest glory in living
lies not in never falling,
but in rising every time we fall.

There can be no keener revelation
of a society's soul
than the way in which it treats its children.

We must use time wisely
and forever realize
that the time is always ripe
to do right.

A good head and a good heart
are always a formidable combination.

If there are dreams
about a beautiful South Africa,
there are also roads
that lead to their goal.
Two of these roads
could be named Goodness
and Forgiveness.

When the water starts boiling
it is foolish to turn off the heat.

To be free
is not merely to cast off one's chains,
but to live in a way
that respects and enhances
the freedom of others.

mikerk mengatakan...

Dear sahabat,

Thanx atas banyak komentar yang sudah masuk. Pertanda saya dimaafkan. OK, GBU

mikerk mengatakan...

@ Mang Ihin,

Pertanyaan yang bagus dan akan saya buatkan beberapa catatan tetai sekarang belum bisa karean cuma sekedar ngintip blog. Saya masih harus melanjutkan beberapa pekerjaan. Sabar ya mang. GBU
@ Poempuisi,

Mohoh maaf, saya menghapus 1 kotak komentar anda karea kelihatannya terjadi pengulangan, Tidak berkebaratn bukan? Tnahx atas puisinya yang amat bagus. Luar biasa. GBU

poempuisi mengatakan...

@ Bigmke,

Seneng banget bisa interaksi langsung nih...kebetulan masih OL. Ya ga pa2 dihapus coz emang rada berantakan karena banyak salah ketik....Keep on posting ya bro!!!!!!

wildan mengatakan...

Ha ha ha ha ha BM, merasa feeling guilty ya????aaahh biasa aja bosz....emang agak perasaan ga sabaran nunggu posting baru tapi apa sih hak kita "menagih" ke BM? Iya kan? ga usah terpengaruh provokasi Proxy73. Manusia edan tu emang begitu. Kalo dia berutang aja, pura-pura ga ingat. Begitu punya piutang orang dikejar-kejar ha ha ha ha....udah gen tuh...wkwkwkwkwk...

BTW, gw seneng banget ma posting ini. Pengampunan emang ga memandang agama, suku, bangsa dan alasan-alasan primordial lainnya. Tapi gw pengen beri komen untuk hal yang mengharukan tentang kompleks kejiwaan para the outlaws yang berada di penjara berulang kali alias residivis.

wildan mengatakan...

GW mengutip ini dari kisah yang ditulis Arswendo Atmowiloto dalam bukunya "surkumur, mudukur dan plekenyun (Menghitung Hari)". Mari disimak:

Surkumur mudukur bebas besok. Malamnya direncanakan , seperti yang sudah menjadi tradisi "upacara perpisahan". Meskipun itu hanyalah minta dikunci lebih malam dikit, joget-joget dan tertawa-tawa. Surkumur yang jadi bintang harusnya senang. Tetapi sore itu dikirim ke sel...

..."Ribut apalagi lo. Besok tinggal pulang saja maish cara perkara"...

"Bukan begitu bokap, saya kesel, tak bisa nahan diri, jadi berantem lagi".

...Itu sudah alasan kuno. Saya tak mau dengar lagi. Soalnya pasti kena stress, tersinggung, emosi...."

wildan mengatakan...

"Ini sama kakak saya"

'...Lhoooo...

"Dia ditangkap dan sekarang dikirim kemari. Tadi barusan bertemu."

"....kenapa harus berantem sama kakak sendiri?".....

" Kalo dia ketangkep pasti dia ngembet. asti dia ceritera temannya nodong. Pasti nama saya disebut-sebut. Berarti besok belum bisa pulang. Kena MAP (masih ada perkara)"

Biasanya yang beginian, begitu keluar pintu penjara, sudah ditunggui polisi dan langsung dibawa kembali.....

wildan mengatakan...

Kisah itu lucu tetapi perih karena kita bisa melihat bahwa lingkungan penjahat tidak lain dari itu ke itu juga. Dan dalam lingkungan itu mereka belajar. Bukan untuk menjadi baik tetapi belajar makin lama makin jahat. Mengapa lingkungan mereka cenderung dari itu ke itu? jawabannya mudah, karena mereka ditolak oleh mereka yang "di luar" mereka. Ebiet tepat sekali mengungkapkan di dalam lagnya. Dan BM memberikan perspektif baru tentanag pengampunan. Walah, bagus benar.

wildan mengatakan...

@ Eliz,

Yang anda ceriterkan itu betul-betul menghunjam jantung. Mengharukan. Bravo

Anonim mengatakan...

@ Mas wildan,

Thanx for ur appreciation (Elizahayu)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Kunjungan dan komen dari para sahabat memberi pertanda bahwa ur always diterima ha ha ha (Eliz)

tuaksatu mengatakan...

2 Bigmike,

welkombek bosz....janghan ngilang lama ya...kita jadi kurang bersemangat nich....wkwkwk..

Posting ini bagus bukan karena apa-apa tapi menjadi penyejuk ketika hati kita panas ato dipanas-panasain oleh provokator politik ngawur sebangsa ruhut sitompul ato RS Omni....ya posting BM sering menjadi penyejuk hati...thanx lah

tuaksatu mengatakan...

Mbak Eliz, komentamu ruaaarrr biasa...bikin terharu ajah...indahnya pengampunan dapat dibaca dalam kisah itu. Thanx juga....

Anonim mengatakan...

Dear All,

Pemberian maaf dan pengampunan mengandung nilai kasih dan nilai welas asih. Dan di mana kasih berada di sana Allah sendiri berada. Karena esensi dan substansi Allah adalah cinta kasih.

Where there is love there is God. Ubi caritas est Deus ibi est.

Maka setiap usaha manusia untuk menghancurkan dan membinasakan pihak manapun yang berseberangan aliran dengan kelompok sendiri pasti bukan terinspirasi oleh kasih dan welas asih. Karena itu jalan tersebut pasti selalu dan akan tidak disukai oleh Allah (Wied, JG)

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Sekali lagi saya menawarkan diri untuk mengumpulkan, mengedit dan menerbitkan tulisan-tulisan BM di blog ini.Banyak mutiara di sini yang sayang jika tidak disebarluaskan (Wied)

Anonim mengatakan...

There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness, artinya tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilah tanpa kasih pengampunan,
Dalam kitab tua yang BM percayai (Luk 23:34) disitu Sang Guru berkata,”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat “ , demikian doa Sang Guru bagi mereka yang menyalibkan-Nya, sesuai juga dengan apa yang pernah Ia ajarkan: ”Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Luk 6:27). Dalam kehidupan sering muncul permusuhan dan kebencian di antara kita dalam aneka bentuk perbedaan baik itu beda pendapat/pikiran, beda selera, beda SARA, beda jabatan atau fungsi, dst. Tapi perlu kita catat dan sadari juga bahwa laki-laki dan perempuan saling berbeda satu sama lain namun saling tergerak untuk saling mendekat, bersahabat dan mengasihi. Dalam dunia fisika unsur plus (+) bertemu dengan minus (-) menjadi sinar terang yang membahagiakan. Dengan kata lain bahwa apa yang berbeda menjadi daya tarik untuk saling mengenal, mendekat dan mengasihi serta bersahabat atau bersatu.

Anonim mengatakan...

Lewat apa yang BM sampaikan yaitu makna ajaran mengasihi musuh ada 2 hal yang dapat kita pelajari : Pertama, membenci musuh akan merugikan diri sendiri; tidak ada orang yang hidupnya bahagia kalau terus dikuasai kebencian terhadap orang lain. Kedua,melawan kebencian dengan kebencian sama dengan melipatgandakan kebencian. Seperti gelap yang tidak bisa dilawan dengan gelap, tetapi harus dengan terang. Terang, walau hanya secercah, akan sanggup menembus kegelapan.

Dengan memahami makna "mengasihi musuh", kita bisa melihat luka tanpa dendam; kepahitan tanpa amarah; kekecewaan tanpa geram. Kita memandangnya sebagai kesempatan untuk mengasihi orang lain; untuk berbuat kebaikan. Seperti kata Alfred Plummer, "Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah tabiat Iblis; membalas kebaikan dengan kebaikan adalah tabiat manusiawi; membalas kejahatan dengan
kebaikan adalah tabiat ilahi" (Adek)

Anonim mengatakan...

BM,...Mat kembali lagi,...lain kali jangan kelamaan ninggalin blog (Adek)

Anonim mengatakan...

@ Adek,

Komentar yang teramat bagus. Klop sudah dengan posting BM. Terutama kutipan dari Plummer itu...

..."Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah tabiat Iblis; membalas kebaikan dengan kebaikan adalah tabiat manusiawi; membalas kejahatan dengan kebaikan adalah tabiat ilahi"...

Luar biasa....Proficiat. Keep on comment (Eman)

Anonim mengatakan...

Saya ingin menjawab Mang Ihin tetapi jika diijinkan BM. Gimana? (Eman, CN, TDM)

Anonim mengatakan...

Bung Eman
Trims atas tanggapannya.Tuhan memberkati Bung Eman dan keluarga. (Adek)

Anonim mengatakan...

Posting yang bagus. Bahkan ini blog yang teramat bagus. Baru membaca 2 artikel langsung jatuh cinta. Terusin baca dulu dech. Salam kenal (eyecatchingwomen)

ruben mengatakan...

@ Pace Bigmike/mikerk,

Ko pu ramalan betul suda. Persipura juara. Boaz Pemain terbaik ISL 2009 dan top skor. Hebat. Terima kasi karena ko slalu dukung Persipura. Di blog Persipura ko kasi komentar bahwa BOAZ pantas main di liga Eropa. Sa setuju cuma anak itu agak susah kasi tinggal keluarga. Viva Persipura. Thanx BM. Puji Sukur pada Tuhan Yesus Kristus. GBU

ruben mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
ruben mengatakan...

@ Pace mikerk,

Knapa Boaz jadi pemain terbaik? Selain karena memang talentanya di atas rata-rata ada yang berubah dari Boaz sesudah cedera panjang. Ini adalah kata Boaz waktu diwawancara TV Papua.

1. Boaz merasa ditegur TUHAN YESUS. Maka Boaz sekarang menjadi Takut Tuhan;

2. Sebelum cedera Boaz pernah diskors karena pukul pemain lawan. Pernah juga pukul wasit karena sering dikasari sedangkan wasit kadang-kadang tidak perduli. Setelah cedera Boaz jadi pemaaf. Katanya "saya belajar MENGAMPUNI".

Nah, liat apa hasilnya? TUHAN memberikan yang terbaik buat Boaz. Jadi apa yang kita bisa belajar dari kisah Boaz? BELAJARLAH MENGAMPUNI dan KEMAMPUAN MENGAMPUNI HANYA AKAN KITA MILIKI JIKA KITA TAKUT AKAN TUHAN.

Bagaimana Pace? Mantap bukan?. Cocok suda dengan ko punya posting yang teramat bagus. Saya Copas ke file saya posting ini. Salam dari Papua. Kaonak. JBU.

ruben mengatakan...

Oh ya, Pace mikerk,

Coba nyanyikan dan renungkan lagu dari Kidung Jemaat berikut ini.

KJ. 467 TUHANKU, BILA HATI KAWANKU

1. Tuhanku, bila hati kawanku terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku, ampunilah.

2. Jikalau tuturku tak semena dan aku tolak orang berkesah,
pikiran dan tuturku bercela, ampunilah.

3. Dan hari ini aku bersembah serta padaMu, Bapa, berserah,
berikan daku kasihMu mesra. Amin, amin.

Ternyata KASIH BAPA baru akan kita dapat jika KITA DIAMPUNI. Shalom

Anonim mengatakan...

@ Bigmike dan Pace Ruben,

Ko berdua jadi sahabat karena sa pu jasa. Na, imbalannya, TUHAN jawab sa pu doa: PERSIPURA JUARA....ha ha ha ha mantap ka tidak???? JBU (Pace Noge)

Anonim mengatakan...

@ Pace mikerk dan Pace Ruben,

Kalo mo blajar pengampunan tra usa repot. Baca saja dan lakukan DOA BAPA KAMI.

Bapa kami yang ada di surga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di sorga
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan
dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya
Amin.]

SHALOM

Anonim mengatakan...

wa wa wa wa sor, (PaceNoge)

Anonim mengatakan...

@ Pak Mike,

Wah, hampir 1 bulan Pak Mike absen posting sehingga sayapun ikutan absen dari blog. Senang sekali membaca kembali posting dari Pak Mike. Saya lihat posting ini sudah hampir 1 minggu. Tapi karena saya baru baca sore ini, bagi saya ini adalah posting baru. Cocok dengan suasana hati menyongsong kebaktian hari minggu besok pagi. Terima kasih. Selamat mempersiapkan diri untuk memasuki ibadat hari minggu. JBU (Yes, BTN)

Anonim mengatakan...

Kata “mengampuni” berarti menghapus sampai bersih, memaafkan, membatalkan hutang. Ketika kita bersalah terhadap seseorang, kita minta pengampunan dari orang tsb. supaya relasi kita dapat dipulihkan kembali.

Pengampunan bukan diberikan karena orang yang minta ampun pantas untuk diampuni. Tidak seorangpun yang pantas untuk diampuni. Pengampunan adalah tindakan kasih, kemurahan dan anugerah. Pengampunan adalah keputusan untuk tidak mendendam untuk apapun yang orang lakukan terhadap diri Anda (Yes)

Anonim mengatakan...

Alkitab memberitahukan kita bahwa kita semua membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Kita semua telah berdosa. Pengkhotbah 7:20 mengatakan, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” 1 Yohanes 1:8 mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Semua dosa pada dasarnya adalah pemberontakan terhadap Tuhan (Mazmur 51:6) Akibatnya, kita sangat membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Jikalau dosa-dosa kita tidak diampuni, kita semua akan melewatkan kekekalan dalam penderitaan sebagai konsekwensi dari dosa-dosa kita (Matius 25:46; Yohanes 3:36) (Yes)

Anonim mengatakan...

Kita bersyukur, Tuhan adalah Pengasih dan Pemurah, rindu untuk mengampuni dosa-dosa kita. 2 Petrus 3:9 mengatakan, “Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Tuhan ingin mengampuni kita, maka Dia menyediakan jalan pengampunan bagi kita.

Shalom (Yes, BTN)

tuaksatu mengatakan...

@ BM,

Kutipan berita JK VS SBY berikut ini bisa kita golongin ke orang yg ngerti pengampunan ga ya???? wkwkwkwk....

tuaksatu mengatakan...

Ya Ampun... JK "Telanjangi" SBY

Laporan wartawan KOMPAS Suhartono

BANDA ACEH, KOMPAS.com — Calon Presiden Muhammad Jusuf Kalla, yang juga Wakil Presiden RI, "menelanjangi" peranan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, baik di saat perundingan damai Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), maupun di masa sebelumnya saat menjadi Menko Politik dan Keamanan.

Dalam kampanye dialogis di hadapan sekitar 1.000 pendukung dan kader Partai Golkar di gedung Sarana Kebudayaan Anjung Monmata di Jalan SA Mahmudsyah, Banda Aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sabtu (13/6) siang tadi, tanpa menyebut dan juga menyebut "presiden" atau "pemimpin" saja, Kalla menceritakan hal itu dengan gamblang tentang peranan Presiden SBY.

Meskipun tanpa menyebut nama, publik bisa mengetahui siapa yang dimaksud oleh Kalla. Saat Kalla memaparkan tanpa menyebut nama, tetapi hanya menyebut "pemimpin" dan "presiden", Kalla menggambarkan penolakan presiden untuk menandatangani setiap masalah yang dirundingkan dalam perdamaian damai, seperti soal pendirian partai lokal.

"Coba periksa, tidak ada tanda tangan siapa pun kecuali tanda tangan saya di dalam perjanjian perdamaian Helsinki itu. Saya pernah minta untuk ditandatangani soal pendirian partai lokal, akan tetapi presiden tidak mau. Akhirnya, saya yang menandatangani dengan segala risiko setelah 10 kali membacakan Surat Yassin bersama istri saya," ungkapnya.

tuaksatu mengatakan...

Kemudian, Kalla juga menyatakan soal presiden yang disebutnya hanya manggut-manggut saat dilapori soal perkembangan perundingan damai Aceh. "Semua yang saya lakukan terkait perundingan damai Aceh itu, sepengetahuan Presiden. Dan, itu saya laporkan. Waktu saya laporkan, beliau biasanya manggut-manggut. Pemimpin itu cukup mengangguk-angguk saja. Presiden kita bagus karena tidak pernah menolak, meskipun juga tidak pernah memberikan pengarahan (soal perundingan)," ungkap Kalla.

Kalla selanjutnya juga menceritakan peranan SBY di kala pemberlakuan Darurat Sipil di Aceh. Sebaliknya, ia juga seperti mengklarifikasi siapa yang menandatangani Darurat Sipil di Aceh pada waktu itu. "Bukan kami (yang keluarkan). Kami waktu itu Menko Kesra. Ada teman saya yang meneken darurat sipil waktu itu. Kalau Pak Wiranto (pasangannya sebagai cawapres), justru yang mencabut Daerah Operasi Militer (DOM), dan minta maaf atas Aceh," lanjut Kalla.

tuaksatu mengatakan...

Pada bagian lain, Kalla juga menyinggung tentang hadiah nobel yang diharapkan seseorang terkait dengan perundingan damai di Aceh. "Hadiah yang tertinggi dari perundingan damai itu adalah yang datang dari Allah SWT. Bukan nobel. Tidak tahu, kalau ada orang yang mengharapkan hadiah nobel itu," demikian dikatakan Kalla.

tuaksatu mengatakan...

Kesimpulan:

1. Politik kita emang politik lupa-lupa temen ingat-ingat permusuhan;

2. Politisi kita belon ngerti pengampunan. Kalam ma Mandela. Doski di Afrika Selatan hobi pake Batik kita. SO, nyang bagus cuma batik kita doang. Kalakuan sih payaaaahhh...

2 seri posting BM banyak benarnya. Bravo BM

mikerk mengatakan...

@ Mang Ihin yang baik,

Saya pikir anda bisa betul bahwa "pengampunan" dapat berlawanan dengan keadilan. Tamsil anda bahwa, "penjara bakal kosong jika semua penjahat diampuni", benar belaka. Saya setuju dengan anda.

Jika kita membaca berbagai referensi tentang keadilan, tahulah kita bahwa keadilan adalah suatu konsep kebenaran moral. Sayangnya konsep ini tidaklah mudah didefenisikan dalam 1 pngertian tunggal karena defenisi keadilan ternyata ditentukan oleh banyak hak sekaligus, yaitu etik, rasionalitas, law, hukum alam, fairness, agama dan atau kesetaraan.

Di lain pihak, katanya, keadilan diperlukan untuk menata hubungan antara benda dan orang di dalam masyarakat. Apa maknanya? Keadilan yang semula direncanakan untuk menata hubngan yang simpel antara orang dan barang dalam masyarakat ternyata didekati dengan pendekatan yang amat rumit. Mang Ihin masih ngat perdebatan panjang tentang substansi UU Pornografi? Ya, itulah satu contoh baik tentang bagaimana keadilan dipahami, dimengerti dan dikerjakan oleh masyarakat yang beranekaragam latar belakang.

Mengatasi kerumitan itu maka diperlukan instrumen lain dalam tata kehidupan bersama itu. Dan hal itu adalah pengampunan. Jika benar begitu maka apakah pengampunan dapat diobral kapan dan di mana saja? apakah pengampunan adalah barang murahan yang bisa diucapkan sembarang waktu dan tempat? Oh ya tidak.

mikerk mengatakan...

Di dalam kamus "The Oxford English Dictionary" pengampunan atau forforgiveness didedenisikan sebagai .....'to grant free pardon and to give up all claim on account of an offence or debt'....

Dari defenisi itu kita belajar bahwa pengampunan hanya bisa diberikan JIKA DAN HANYA JIKA ada pengakuan bersalah. Proses untuk mendapatkan pengakuan bersalah itulah yang disebut sebagai proses pengadilan. Jadi, pengampunan hanya boleh diberikan setelah ada proses untuk pencarian keadilan. Entah keadilan yang mana, distributif komutattif atau yang lainnya. Jelas, bahwa pengampuan bukanlah barang murahan. Ada ongkosnya, yaitu pengadilan untuk mendapatkan keadilan.

mikerk mengatakan...

Untuk memudahkan kita, mari kita lihat teladan yang diberikan lewat ceritera mbak Elizahayu. Pengampunan yang dilakukan oleh Mandela dan berbagai pihak lain di Afrika Selatan hanya diuberikan setelah ditemouhnya proses pengadilan. Ditemukan dahlu kesalahannnya dan barulah kesalahan itu diampuni. Model Mandela dan Afsel menjadi contoh proses pengampunan yang baik.

Kita kembali teringat kasus kerusuhan Timor Timur. Ternyata proses itu tidak berjalan karena Indonesia selalu menolak proses pencarian keadilan untuk menemukan kesalahan jenis apa dan siapa yang melakukan kesalahan. DAlam hal ini, pengampunan tidak bisa diberikan karena unsur siapa dan salah apanya, tidak diketahui secra legal.

Demikian pula kasus almarhum mantan presiden Soeharto. Banyak orang menyerukan pengampuan tetapi apa kesalahan Soeharto yang secara sah terbukti dilakukan olehnya yang oleh karenanya dia diberi pengampunan? Selama kesalahan Soeharto tidak pernah jelas karena dia tidak pernah diadili maka tidak ada pengampunan yang bisa diberikan kepadanya.

mikerk mengatakan...

Dalam perspektif kisah yang saya ajukan dalam posting saya...kisah dari Sang Maha Guru yang Ilahi itu (SMGI)...pengampunan yang diterima oleh si perempuan terjadi setelah si perempuan dinyatakan sebagai bersalah. Perhatiakna katapkata bahwa....barang siapa yang merasa tidak memiliki salah maka...artinya dalam logika SMGI ... semua orang termasuk si perempuan adalah orng bersalah. Jika ceritera itu saya tuliskan secara lengkap maka akan ditemukan frasa ucapan SMGI yang menyatakan kepada si perempuan bahwa ...perglah dan jangan berbuat dosa lagi...Ya, SMGI tegas menyatakan bahwa...hei anda sudah berslaah tetapi saya ampuni, dengan syarat...jangan diulangi lagi...

Terang benderang sudah bahwa keadilan dan pengampunan bukanlah 2 hal yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling mengisi. Lalu, di situlah keutamaan pengampuan yang Ilahi karena sama sekali tidak ada dendam, tidak ada prinsip an eye for an eye...

Mudah-mudahan menjadi jelas duduk persoalannya. Tabe Mang

mikerk mengatakan...

@ Bung Eman,

Saya sudah mencoba menjawab Mang Ihin. Silakan menambahkan apa saja karena saya yakin apa yang saya jelaskan masih jauh dari sempurna.

@ Dear sahabat yang sudah mengunjungi blog dan berkomentar. Thanx. GBU

Esther mengatakan...

My Dear mikerk,

I love this posting so much. Great Job. Mmmmmuuuuaaaahhhhh....I love u

Esther mengatakan...

"Nine Steps to Forgiveness"


1. Know exactly how you feel about what happened and be able to articulate what about the situation is not OK. Then, tell a trusted couple of people about your experience.

2. Make a commitment to yourself to do what you have to do to feel better. Forgiveness is for you and not for anyone else.

3. Forgiveness does not necessarily mean reconciliation with the person that hurt you, or condoning of their action. What you are after is to find peace. Forgiveness can be defined as the "peace and understanding that come from blaming that which has hurt you less, taking the life experience less personally, and changing your grievance story."

4. Get the right perspective on what is happening. Recognize that your primary distress is coming from the hurt feelings, thoughts and physical upset you are suffering now, not what offended you or hurt you two minutes - or ten years -ago. Forgiveness helps to heal those hurt feelings.

5. At the moment you feel upset practice a simple stress management technique to soothe your body's flight or fight response.

6. Give up expecting things from other people, or your life , that they do not choose to give you. Recognize the "unenforceable rules" you have for your health or how you or other people must behave. Remind yourself that you can hope for health, love, peace and prosperity and work hard to get them.

7. Put your energy into looking for another way to get your positive goals met than through the experience that has hurt you. Instead of mentally replaying your hurt seek out new ways to get what you want.

8. Remember that a life well lived is your best revenge. Instead of focusing on your wounded feelings, and thereby giving the person who caused you pain power over you, learn to look for the love, beauty and kindness around you. Forgiveness is about personal power.

9. Amend your grievance story to remind you of the heroic choice to forgive.

Esther mengatakan...

The practice of forgiveness has been shown to reduce anger, hurt depression and stress and leads to greater feelings of hope, peace, compassion and self confidence. Practicing forgiveness leads to healthy relationships as well as physical health. It also influences our attitude which opens the heart to kindness, beauty, and love.

erick mengatakan...

@ Bigmike,

Syalom. Selamat hari minggu. Setelah lama menghilang, posting barunya sangat menyejukan. Ya, pengampunan adalah "kunci: kedamaian di dalam hati. Pengalaman saya menunjukkan bahwa "di jalanan" terlalu banyak dendam dan cuma pengampunan yang dapat membuat jiwa kami tenteram. Thanx atas postingnya. JBU

erick mengatakan...

Kali ini GW ngirim puisi. Boleh ya bosz???!!!

KAPAN KITA MAU MEMAAFKAN?

kapan?

kataku...

kapan-kapan lah

katamu...

dia dulu lah yang minta maaf...

dia sudah bersalah...

dia mengkhianatiku...

katamu...

kesalahannya sangat fatal

menusuk hati dan tidak terampuni...

dia itu sangat keji

dan tega berbuat demikian...

kepadaku

katamu...

mari aku kenalkan pada seseorang

yang masih hidup

kataku...

Selvin Bungge, 8 tahun

asal Poso, kota konflik...

keahlian: menyembuhkan ratusan orang

bahkan mungkin ribuan...

syarat: berdoa Bapa Kami

dan menyanyi lagu rohani...

tapi...

kau harus pulang dulu

minta maaf pada musuhmu!

berdamai dengan dia...

baru kau kemari lagi

dan sembuh...

katanya...

mari kuperkenalkan pada seseorang

yang mati, bangkit dan hidup selamanya...

bagimu, bagiku, dan

bagi semua orang percaya...

Yesus Kristus Tuhan...

70 kali 7 kali

mengampuni... kata-Nya

ditampar pipi kiri

berikan pipi kanan... kata-Nya

beri makan dan minum seterumu

seru-Nya...

Lalu DIA berkata lirih...

Bapa, ampunilah mereka

karena mereka tidak tahu

apa yang mereka perbuat...

di atas kayu salib

pusing, meriang, demam,

kehabisan darah, sangat lelah...

sangat kesakitan...

dan sangat tersiksa...

oleh dosa kita...

Lalu dengan bangga kita

menerima roti dan anggur Perjamuan Kudus

tanpa berdamai dulu

dengan musuh kita...

Ampunilah maka kau akan diampuni oleh Bapa...

ujar-Nya...

lewat perumpamaan tentang orang yang berhutang...

lalu dengan bangga kita berkata...

seumur hidup

aku tak mau bicara lagi padanya...

bagaimana...

jika Bapa

tak mau bicara lagi padamu

seumur hidupmu...

berdamailah

maafkanlah

ampunilah

lebih dulu...

Kiranya darah Yesus tidak tertumpah sia-sia

Kiranya kita tidak menyalibkan-Nya lagi

untuk kedua kalinya...

Hey...

Yesus mati mengampuni dosa-dosa kita

yang banyak itu.... LUNAS terbayar! Habis!

tidak ada lagi!!!

Lalu...

mengapa kita susah mengampuni?

kenapa kita susah memaafkan?

..........................................

KAPAN?

Anonim mengatakan...

@ Bigmike and all,

Gw ga brani nyampur substansi pengampunan yang dikaitkan ma "ayat-ayat"...Gw mah awam (ga tau tuh si Erick 'dah mirip pendeta ...wkwkwkwkwkwk....'jak kapan rick???? ha ha ha ha ha)...tapi gw mo bersaksi bahwa manusia bangsa Erick lebih dari pantes ngomongin pengampunan.

Sejak 1999 orang ini hadirnya di jalan...baju bergambar che guevara, kantong berisi rokok 2 batang dan catatan orasi. Kalo ditanya, gimana makannya bosz? jawabnya...ntar di dalam ajah...gratis...tis....tis...semua presiden ga ada benernya di otak manusia ini....tapi "sakit" dan "keasikan" yang dia dapat di jalanan membuat si Erick tetep Erick kecuali...makin mirip pendeta .... wkwkwkwkw....

So, kalo dia ngomong pengampunan...gw percaya....

Rick, salam hormat 4 u man, lama enggak ketemu, rindu ngaco mu...Juzzzyyyyy....(Proxy73)

tuaksatu mengatakan...

Yeach, GW juga salut ma bang Erick...nama besar di dunia aktivis mahasiswa....(mash ga boleh buka rahasia yaaa???? ha ha ha ha)....Salut bung, salut

@ BM,

Posting baru doooooongkkkkk.....

Anonim mengatakan...

@ Bigmike,

Saya c7. Kita sepakat. Pengampunan harus didahului proses pencarian keadilan. Thanks. (Ihin Solichin)