Selasa, 02 November 2010

bangsa apa ini? negeri bencana negara letoy lebay

Dear Sahabat Blogger,

Dalam memori kolektif orang-orang tempoe doeloe yang tinggal di Kupang, bulan Oktober disebut sebagai bulan "panas". Ada dua makna, yaitu suhu atmosfir Kupang di bulan oktober adalah yang terpanas dalam setahun. Beberapa data menunjukkan suhu ambient rata-rata Kota Kupang sekitar 34.7oC. Jika suhu diukur pada areal jalan raya maka angka tersebut bisa melonjak mencapai 40-42oC......wwwaaaallllaaaahhh...panas amat. Makna kedua, mungkin karena pengaruh suhu udara yang panas, kasus-kasus rumah tangga yang bercerai mencapai jumlah terbesar dalam setahun. Sebagai kontras, bulan Juli adalah bulan terdingin di Kupang dan lalu di bulan itulah statistik jumlah pasangan menikah yang tercatat di Kantor Catatan Sipil selalu yang tertinggi. Ujar-ujaran orang Kupang doeloe lalu menjadi ... bulan Juli menikah bulan Oktober bercerai.....benar begitu? tak pasti juga tetapi demikianlah mitos dalam memori kolektif orang Kupang. Pokoknya, jika bulan Oktober maka heeeiiii...hati-hati...bakal ada kejadian memilukan. Dan tahun ini, mitos seperti itu menjadi nyata. Bukan di Kupang tetapi di Indonesia. Gerangan apakah?

Pagi hari masih baru, banjir bandang menyapu Kota Wasior. Luluh lantak. Hancur lebur. 29 orang mati 103 lainnya hilang. Harta benda lenyap disapu air.... Air yang amat banyak termasuk air mata. Tetapi .... amboooiiii .... lihatlah, Pemda Kab. Manokwari bingung, Pemda Papua Barat tak tau mau bikin apa dan pemerintah pusat malah sibuk mengurusi isu....siapa yang mau menggulingkan SBY...korban tak tertangani dengan baik berjam-jam lamanya. Lalu menteri kehutanan berteriak ... "wooooiii illegal logging tuh" ...eh belakangan diralat... "eeehhhmmmm...maaf ya, itu bukan illegal logging tetapi karena daerah aliran sungai (DAS) yang tidak dikelola dengan baik" . Mana yang benar bapak????? Karena berlarut-larut maka isunya menjadi tidak karuan dan yang bikin malu adalah ini....wah korban Wasior kurang diangani dengan baik karena kebanyakan mereka bukan penduduk asli....wuuuueeehehhh, gila... gilaaaa .... gilaaaaaaaa.....negeri apa ini?

Luka di Wasior belum kering benar ketika kita dikagetkan oleh bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada tanggal 26 Oktober 2010. Menyusul gempa bumi berkekuatan 7 SR, gelombang tsunami setinggi 8 m menyapu Mentawai ...lintang pukang ..... remuk redam....hancur lebur....berita terkini (02-11-2010), 450 meninggal 200-an hilang. Apakah penanganan bencana lebih baik? Ga juga bro. Bayangkan, setelah kejadian, dengan alasan tengah malam dan komunikasi buruk, status peluang tsunami tidak lagi disebarkan. Setelah tsunami terjadi, barulah 12 jam kemudian penanganan dilakukan...terlanjur mati-lah mereka yang keleleran tapi mungkin masih bernyawa. Setelah 4 hari kemudian barulah helikopter 4 biji dipindahkan dari padang ke Muko-Muko yang lebih dekat ke Mentawai. Hermawan Sulistyo dalam wanacara di Metro TV mengherankan begitu lambatnya penanganan. Beliau juga merasa heran karena kesiap-siagaan di Padang, mungkin belajar dari gempa setahun silam, amat baik. Tapi mengapa tidak di Mentawai? SBY datang dari luar negeri menengok sebentaran ke Mentawai, bertangis-tangisan lalu...eh, kembali ke Vietnam. Pertemuan ASEAN. Dan selama ketidak hadirannya itulah penanganan begitu buruk. Kasihan Mentawai. Mereka ada tetapi seolah-olah tiada. Lalu merebak isu...Ah Mentawai kan berbeda dari rata-rata oran Sumatera Barat....mammmma miiiiia...gelo.....gilaaa.....maczhammm mannnaaaa negeri kita ini?

Masih terbengong-bengong dengan apa yang terjadi di Mentawai, kita kembali tertunduk merunduk sakit...amat sakit bung en zoes......merapi mengamuk di tanah Jawa. Wedhus gembel mengudara lalu mencari mangsa dan...23 orang meninggal termasuk mbah "rosa" Marijan yang setia, jantan, pemberani, tegar hati dan penuh komitmet tetapi sayang terlalu berkubang dalam sindrom inertia. Merapi ternyata sudah berubah. Dia tidak lagi bisa diprediksi seperti yang dipotret oleh pengetahuan lokal. Ilmu pengetahuan seharusnya tidak di tolak begitu saja karena alasan tradisi. Tetapi duka adalah duka, Jangan diperdebatkan. Karena itu, banyak pejabat berseliweran ke Merapi. Ebiet G. Ade menyanyi langsung di tenda duka. Kali ini tanpa isu gawat kecuali penangannya yang tetap saja tidak karuan. Bahwa masyarakat lebih mengkuatirkan khewan peliharaanya ketimabng nyawa sendiri adalah pertanda bahwa negara tidak berfungsi dengan benar. Bukankah di tangan negara diberi mandat untuk "memaksa"? Tetapi baiklah, di luar perkara itu ada satu peristiwa di Merapi yang mungkin akan menolong kita membebaskan diri dari prasangaka buruk seperti yang terjadi di Wasior dan Mentawai. Apa itu?

Jenazah Mbah Marijan ditemukan dalam keadaan bersujud menunaikan kewajiban agama yang diyakininya. Kita menjadi tahu bahwa orang tua yang satu ini adalah seorang Muslim yang baik dan taat, Tahniah untuk itu. Selamat. Tetapi tidak kurang mengharukan adalah seorang wartawan Vivanews.com, yaitu almarhum Yuniawan "Wawan" Wahyu Nugroho. Berikut saya kutipkan berita dari Vivanews.com:

Sebenarnya, Wawan--nama sapaan Yuniawan--dan Tutur, sudah sempat mengungsi dari Kinahrejo, bersama Agus Wiyarto (asisten dan kerabat Mbah Maridjan), anggota keluarga si Mbah, dan beberapa penduduk desa. Akan tetapi, sesampainya di pengungsian Umbulharjo, dengan mengendarai minibus Suzuki APV, Tutur dan Wawan berkeras kembali untuk menjemput Mbah Maridjan yang memilih bertahan di rumahnya. Di tengah hari yang mulai gelap, mereka tanpa ampun disergap bara wedhus gembel.

Kita tahu kini bahwa Wawan akhirnya "menjadi korban dari kebaikan hatinya sendiri". Apakah dia bersalah? Kita juga tidak tahu persis apakah sikap etis Mbah Marijan dengan bertahan di kampungnya lalu dengan itu seolah-olah mengajak yang lainnya ikut tewas bersama-sama adalah suatu kesalahan yang lain. Tuhan seru semesta alam yang maha mengetahui tetapi kita bisa belajar bahwa begitulah bentuk cinta kasih. Mbah Marijan mencintai Merapi dan tugasnya. Dan, mati karena keyakinan akan tanggung jawab sembari menjalankan tugas adalah pameran tentang 1 kata dan perbuatan. Wawan mau berkorban untuk orang lain. Nyawa taruhannya. Orang lain cuma bisa bicara Wawan melakukannya.....luar biasa. Dan inilah dia jasa 2 orang itu secara bersama-sama, si Mbah dan Wawan, yaitu mereka membebaskan kita dari kepicikan berpikir lalu menuding dan akhirnya menyebar gosip. Kita tahu dari gambar televisi ketika pemakaman Wawan. Ternyata dia Kristani. Anda bayangkan Si Mbah yang Muslim baik ingin ditolong oleh Wawan yang Kristiani. Perbedaan ternyata tidak menghalangi kasih sayang. Maka, hentikanlah omong kosong di Wasior dan Mentawai. Jangan lagi tega hati menambah susah Ibu Pertiwi yang ketika sedang tertimpa bencana masih juga dikuyo-kuyo isu perpecahan, Nurani Mbah Marijan dan Wawan memberikan petunjuk telak bahwa anak Bangsa ini tahu menempatkan diri. Masalah persatuan dan kesatuan di tingkat akar rumput ternyata bukan problem yang terlalu besar. Lalu, di mana letak masalahnya?

Masalah negeri ini ada pada elite yang tak tahu mengelola negara. Suka plesir ke mana-mana. Gubernur Sumatera Barat, Iwan Prayitno, malah memilih berkunjung ke Jerman ketika penanganan Mentawai masih amburadul. Politisi kita amat gemar berdebat berpanjang-panjang di TV pamer ilmu akal-akalan zonder ada tindakan nyata. Lalu ada si Marzuki Ali yang ketua DPR yang malah tega "mengata-ngatai" orang Mentawai bahwa "sudah tahu kepulauan Mentawai berisiko bencana kok orang Mentawai masih mau tinggal di sana". Lho, kalo mereka gak tinggal di Mentawainya lalu apa dong nama etnolinguistik mereka? Waduuuhhh...saya pikir, Marzuki lebih baik diam saja ketimbang ketahuan bodohnya. Pemimpin bangsa ini sibuk ja'im alias jega image. Negeri ini juga adalah negerinya para para pemain sandiwara berkelas penghargaan citra. Tak heran jika pencitraan menjadi model impian pemimpin kita dewasa ini. Berita kemarin adalah petugas sibuk mencopoti spanduk para pemberi bantuan di Merapi karena umbul-umbul itu menghalangi kelancaran gerak mobli ambulans. Umbul-umbul itu juga berisikan aneka iklan produk jasa dan kelompok partai. Kemalangan dikapitalisasi secara berlebihan.

Negeri dikepung oleh 4 lempeng bumi yang bergerak-gerak dan berpotensi menyebabkan bencana. Negeri ini terletak pada barisan "ring of fire" volcano yang siap meletus dan menghancurkan. Sebagian besar wilayah negeri ini ada di daerah tropika basah yang berpotensi menerima hujan dalam jumlah yang luar bisa besar dan mebawa banjir bandang. Semenjak tsunami Aceh, sudah banyak bencana berskala mega terjadi terjadi susul menyusul di Negeri ini. Undang-undang dan aneka aturan telah dibuat tetapi mengapa penanganan bencana selalu saja buruk. Semua berjalan seolah tanpa perencanaan. Kita tidak pernah serius belajar dari pengalaman. Bangsa dan negeri ini, ternyata, dikelola dengan amat tidak pantas. Kita letoy dalam aksi nyata tetapi sangat lebay dalam perkara pasang aksi kucing via sandiwara pencitraan. Mau jadi apa kita ini? Bangsa apa kita ini? Kesian .... eeehhh ... Sekian.

BERITA KEPADA KAWAN/EBIET G.ADE

Tabe Puan Tabe Tuan

Kamis, 30 September 2010

bangsa apa ini? (part I)

Dear Sahabat Blogger,

Dulu kala, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya diajarkan oleh bapak/ibu guru untuk bersikap bangga sebagai bangsa Indonesia. Kita, Bangsa Indonesia terkenal sampai ke seluru penjuru mata angin sebagai bangsa yang sangat santun, ramah, suka membantu, pandai membawa diri dan sangat bermartabat. Kata bapak/ibu guru, tagal perkara keramahannya ini maka orang-orang luar negeri sangat gemar berkunjung ke Indonesia. Para wisatwawan manca negara sangat sengan karen di mana-mana mereka akan disambut dengan senyum manis penuh persahabata. Dan benar saja, dahulu ketika kecil, setiap bertemu orang asing berkulit putih, saya dan juga kawan-kawan sebaya akan berteriak-teriak mengucapkan selamat...hei mester...selamat pagi/siang/sore....si orag asing tertawa, kami juga tertawa kembali, riuh rendah.

Tetapi cobalah diperhatikan kisah-kisah di seputar peristiwa G 30 S. Jenderal dan prajurut dibunuh. Lalu Indonesia seperti masuk dalam gerbang neraka pertumpahan darah. Sebagian sumber mencatat bahwa diperkirakan 1 juta orang mati sia-sia pasca G 30 S. Sumber lain mencatat sekitar 500.000 jiwa meregang. Lihatlah pula kasus tanjung priok di tahun 1980-an. "Petrus" yang membunuh para penjahat "gal" sonder pake permisi. Pertumpahan darah di Aceh. Kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan di Ketapang Jakarta tahun 1998. Kerusuhan di Kupang, di Ambon, dan di Poso. Bom Bali I dan II. Bom di Kedubes Australia 2004. Di hotel JW Marriot 2009. Penatua HKBP yang ditikam. Kerusuhan di Sampit, Kalimantan. Kerusuhan di Tarakan Kalimantan. Keributan di Jalan Ampera Jakarta Selatan. Jangan lupa pula, ada si msiter Ryan si jagal van jombang yang sendirian menhbisi belasan nyawa. Ada mister babe yang mensodomi dan menebas habis tubuh anak-anak kecil geandangan kota. Suadaraku, genangan darah...darah ...dan, ... darah ..... membajiri dan menggenangi tanah republik ini...

Sahabat terkasih,

Untuk apa semua itu? Atas nama apa darah itu ditumpahkan? Atas nama perut lapar. Atas nama dorongan sexual. Atas nama kelompok primordial tertentu. Atas nama keadilan. Dan, yang paling gila...atas nama TUHAN...(entah Tuhan yang mana yang gemar melihat darah yang bertumpahan) ....Lalu, masih berapa banyak lagi darah yang harus ditumpahkan? Masihkah kita dengan bangga menyebut diri kita sebagai bangsa yang ramah dan sopan? Sekolah SD - perguruan tinggi dibangun di mana-mana. Gedung-gedung ibadah dibangun dimana-mana. Kelompok-kelompok keagamaan berkembang berlipat-lipat. Sejak subuh, telinga dan mata kita sudah dipenuhi dengan siaran penuntun jiwa di layar-layar TV. Tetapi mengapa perilaku barbar masih gemar dipertontonkan tanpa segan dan tanpa rasa malu. Ada apa ini? Maaf saudara, dalam posting kali ini, saya hanya mau mengungkakan fakta dan bertanya. Cuma itu yang bisa saya lakukan saat ini. Bertanya dan merenung....bangsa apa ini?

Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 13 September 2010

antara jakarta dan bekasi

Dear Sahabat Blogger,

Dua bulan "menghilang" dan baru hari ini kembali. Ada yang protes. Ada yang biasa-biasa saja. Apapun, maafkan saya. Tetapi jeda dua bulan ini, bagi saya pribadi, memang perlu. Saya jenuh dan hilang rasa kepingin menulis. Kenapa jenuh? Lelah karena terlalu banyak janji pekerjaan yang harus saya tunaikan. Semoga dipahami. Semoga dimengerti. Kita masih sahabat-kan?

Hari ini saya memutuskan untuk kembali menulis. Pertama-tama karena saya merindukannya .... ya untuk menulis itulah...tetapi hal berikutnya adalah, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya...apa itu? antara jakarta dan bekasi...wheeeladhalalllahhh...apa-apaan nih? dulu chairil anwar menulis tentang antara krawang dan bekasi...apakah ada kaitannya dengan hal ichwal itu? bisa saja begitu kendati lain nuansanya...bagaimana???? begini ...

Di hari Lebaran I 2010, terbetik berita .... Johny Malela, pengemis buta yang mengangsurkan dirinya di Istana Negara, Jakarta, berharap rejeki Lebaran diberitakan rebah berkalang bumi .... mengenaskan, sangat mengenaskan ... bayangkan, belum lama ini diberitakan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia sudah menurun ... keberhasilan SBY, katanya tetapi Johni dan banyak yang lainnya yang berdiri di antrean para peminta sedekah rela mati hanya demi serupiah dua rupiah ... jikalau kemiskinan di hitung berdasarkan pengeluaran per hari 10.000 rupiah...maka Johni dan kawan-kawan itu apa namanya???? Pertanyaan lain adalah, Johni mati karena apa? Terinjak-injak. Oleh siapa? Sesama pengharap sedekah....ternyata orang miskin mati terinjak mereka yang juga miskin. Di mana mereka yang berpunya? Dalam setiap berita seperti itu, tak pernah dinyatakan bahwa si pemberi sedekah mati terinjak-injak...si kaya ternyata punya keistimewaan, yaitu amat kecil peluang untuk mati terinja-injak si miskin....hati-hati dengan si miskin karena mereka adalah pembunuh sekaligus korbannya .... mammma miaaaaaaa.....

Di hari kedua Lebaran 2010, kita mendengar berita lain yang tak kalah tragis .... di bekasi, kota di sebelahnya Jakarta, seorang Jemaat HKBP ditusuk seorang durjana dan kawaan-kawannya. Tertembus perutnya sampai mencapai organ hati. Lalu, setelah jatuh rebah ke tanah, si Asia, begitu si tertusuk hendak ditolong seorang polisi dan seorang pendeta perempuan. Baru beberapa meter berjalan si pendeta dihajar menggunakan sebatang kayu papan...praaaaaakkkkggghhhhh gedubraghhhhh...roboh juga si ibu Pendeta .... aaahhhh kasihaaaaaannn...tagal perkara apa ini? Oh, ternyata ada kaitannya dengan tak bisanya Si Asia dkk. Jemaat Gereja HKBP beribadah secara leluasa.... ooohhhhh .... di mana kejadiannya??? Di bekasi. Di Negara manakah kota bekasi itu berada? Di Indonesia. Negara Pancasila katanya. Siapa pelakunya? "Masih dicari", kata pak Polisi kendati gambar video kekerasan di tempat yang sama yang dilakukan oleh yang bersangkutan pada tanggal 18 Agustus sudah ada di tangan Pak the Police. Ooooaaaalaaaahhhh....hati-hati menjadi orang seperti si Asia di Negeri Pancasila ini karena di mana dan kapan saja anda bisa ditusuk karena anda berbeda dari dari mayoritas lainnya ...

Tapi, kegelisahan saya berakar bukan pada hal-hal yang sangat kentara seperti itu ttapi lebih mendasar lagi, yaitu .... DI PANDANG SEBAGAI APA ORANG SEPERTI JOHNI MALELA DAN ASIA + IBU PENDETA BAGI SI PEMBERI SEDEKAH, SI PENGINJAK DAN SI PENUSUK DAN BAHKAN BAGI ANDA DAN SAYA? Sesama manusiakah atau cuma sekedar seonggok barang?

Saya lalu teringat 3 jenis relasi yang bisa terjadi di antara orang-orang atawa manusia, yaitu relasi "aku-itu", "aku-dia" dan "aku-engkau". Dalam pola relasi "aku-itu" sesama adalah obyek. Sesama dipandang dari segi pragmatis. "Si itu saya perlu sepanjang dia ada gunanya, uangnya banyak, kedudukannya tinggi, atau wajahnya cantik". Jika semua yang saya perlukan sudah tak ada lagi maka tamatlah si itu bagi saya Mati sajalah. Sartre mengatakan bahwa relasi "aku-itu" adalah kebencian. "Bencilah semua orang maka kau akan hidup. Bencilah Tuhan supaya kau jadi Tuhan", begitu amanat Sartre si Ateis besar. Maukah anda sepaham dengan Sartre? Apakah si penusuk Asia bukan golongan ini?

Pola relasi berikutnya adalah "aku-dia". Dalam pola ini, sesama bukan obyek tetapi subyek. "Saya subyek dia juga subyek". "Sesama bus kita jangan saling mendahului". " Sesama subye tak perlu salig mengobyekan". "Urusanmu adalah urusanmu sendiri". "Kau mau mati, mau hidup, mau sakit, mau bahagia, adalah urusanmu sendiri". "Jangan dekati aku karena aku tak mendekati anda". Aku dan dia netral. Acuh tak acuh. Sidang pembaca, andakah golongan itu? Jangan-jangan Johni Malela dkk. ada di kelompok ini.

Pola relasi yang satunya lagi adalah "aku-engkau". "Aku ini unik, engkau juga unik jikalau dua keunikan digabung dan ber-koeksistensi damai maka dunia punya dua makhluk unik dan membawa bahagia". "Ini kelebihanku dan di sana kelemahanku, manfaatkanlah kelebihanku dan tutupilah kelemahanku dengan kelebihanmu, maka indahlah hidup". Relasi ini adalah relasi sosial antara manusia.

Bagaimana anda melihat hubungan antara anda dengan sesamamu yang se kampung, se Gereja, se Mesjid, se Pura, satu nusa, satu bangsa? Yang mana di antara 3 pola relasi yang saya uraikan yang benar-benar sedang anda jalani. Jika anda, dan juga saya, adalah si pembenci dan si acuh tak acuh maka .... ke laut saja loe karena loe bukan orang tapi, mungkin, .... monyet .... ya, kera yang berpendar antara jakarta dan bekasi lalu ke segala penjuru mata angin sambil menebar kebencian. Tanpa malu.

Cuma itu, sidang pembaca yang budiman. Cuma itu yang bisa saya tulis kali ini


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 18 Juli 2010

norman tulis tulis tentang "NUSA TABOLAk taBALEK"

Dear Sahabat Blogger,

Dua tahun lalu persis, di bulan Juli 2008 Mister Norman berangkat  menuju Jogjakarta. Dia ingin melanjutkan sekolah ke tingat pascasarjana dalam bidang ilmu Kehutanan. Waktu itu, beramai-ramai kami mengantarnya. Di antara para pengantarnya adalah Oma Tien tercinta. Tahun  ini di bulan yang sama, tepatnya tanggal 28 Juli, dia akan diwisuda karena urusan sekolah S2-nya  kelar sudah.  Cita-cita Opa dan Omanya, sebagian, tercapai sudah.  Sayang, sekarang Oma dan Opa Robert-nya tak ada lagi untuk melihat Norman secara kasat mata. Berdua, mereka sudah berbahagia di "negeri seberang sana". Oh, ya masih ingat Norman? Ya anda betul, dia adalah penerus DNA saya yang sulung. Dan ini adalah tulisan hasil olah pikirnya. Dan jika saya mempostinnya maka ini adalah kado wisuda dari saya. Selamat membaca dan berkomentar. 

Howdy Bung en Soes pembaca blog 

Apabila biasanya saya menulis dengan tema lingkungan di blog ini, maka kali ini sedikit berbeda, saya kali ini ingin menulis mengenai tanah kelahiran saya, Nusa Tenggara Timur. Sebelum memulai isi tulisan ini, ijinkan saya untuk sedikit bercerita latar belakang mengapa saya memilih tema ini. Begini ceritanya, pada jaman dahulu kala di suatu kerajaan hiduplah seorang putri yang cantik jelita...... Ups.... Maaf saya barusan salah bercerita. Cerita barusan biasanya saya dongengkan untuk anak saya. HiHiHi. Begini cerita yang sebenarnya Bung en Soes, ilham dalam menulis bagi saya itu bisa datang darimana saja. Kebanyakan dari membaca atau mengamati kejadian sekitar. Tulisan ini dibuat segera setelah saya membaca tulisan pada salah satu koran harian terkemuka, Kompas edisi kamis, 8 Juli 2010. Tulisan pada koran ini sebenarnya tidak spesifik mengenai NTT, bahkan hanyalah tulisan kecil hasil opini pembaca, tetapi saya menangkap inti tulisan tersebut cukup menohok dan menggelitik pikiran saya mengenai yang terjadi di NTT. Apa itu? Nanti akan kita simak dalam tulisan ini lebih lanjut.

NTT = Nusa Tenggara Timur. Itu singkatan resminya. Namun ada pula anekdot yang mengatakan NTT adalah singkatan dari Nasib Tak Tentu, Nanti Tuhan Tolong, de es be. Anekdot ini sebenarnya bukan tanpa alasan ataupun muncul secara tiba-tiba, namun bisa pula berangkat dari kejadian faktual di NTT sendiri. Kita sudah mengenal NTT bukanlah daerah yang berlimpah – meminjam judul lagu Koes Plus - kolam susu. Bukan daerah yang subur. Bahkan karena sifat klimatik, maka fenomena kekeringan bukanlah suatu hal yang baru. Semua tahu itu. Mungkin pula dari situ muncul anekdot mengenai singkatan NTT tadi. Mungkin. Tetapi apa relevansi ini dengan judul yang saya pilih? Begini Bung en Soes, NTT saya beri lagi satu singkatan baru yaitu Nusa Tabolak Tabalek atau dalam bahasa Indonesianya adalah nusa terbolak-balik. Jangan marah dulu apabila saya memberi satu singkatan baru ini karena seperti apa yang saya katakan bahwa ini berangkat dari apa yang terjadi di NTT sendiri. Apa yang terbolak-balik di NTT? Saya akan menerangkan dengan menggunakan beberapa contoh berikut. Tanah di NTT pada umumnya kurang subur, topografi yang berbukit-bukit ditambah dengan ariditas iklim sehingga hasil tanaman pangan kita tidak melimpah laiknya di daerah lain. Itu tak bisa dipungkiri, tetapi apa anda bisa memungkiri bahwa NTT di saat yang sama juga memiliki lahan penggembalaan yang luas di Indonesia sehingga sangat potensial sebagai gudang ternak? Namun apakah produksi ternak di NTT berbanding lurus dengan luas lahan penggembalaan tersebut? Kita sering atau bahkan teramat sering mendengar berita kekeringan melanda NTT sehingga hasil pangan menurun, tetapi di saat yang sama kita melupakan fakta bahwa sebenarnya NTT memiliki laut yang luas dengan potensi hasil bahari yang menjanjikan. Namun apa yang terjadi? Kita tidak menjadi tuan di tanah sendiri. Tolong koreksi apabila saya salah, tetapi pernahkan pemerintah daerah kita membuat suatu program untuk lebih memanfaatkan hasil laut kita selain gemala (gerakan masuk laut) yang nyatanya tidak efektif? Coba bayangkan saja luas daratan NTT yang begitu kecil, yakni 47.349,9 km2 atau 23,7 persen jika dibandingkan luas lautan yang mencapai 200.000 km2. Di sisi lain pemanfaatan sumberdaya ikan laut hanya sekitar 30% dan budidaya laut hanya 8,74%. Yang ada dan terdengar selama ini hanya program intensifikasi dan ekstensifikasi jagung, tanaman pangan, de el el yang notabene ada di darat, tetapi laut yang luas dan di depan mata malah terlupakan. Program-program pemanfaatan hasil laut biasanya hanya ada saat kampanye-kampanye, namun ketika terpilih maka “janji tinggal janji” begitu syair lagu. Atau mau contoh lain, silahkan lihat kejadiaan “nahas” yang menimpa tanaman cendana (sandalwood). Meski ada yang mengatakan cendana berasal dari Gujarat, India, namun beberapa sumber dengan jelas mengatakan cendana berasal dari NTT. Tetapi apa yang terjadi? Produksi cendana di NTT dewasa ini tidak bisa dikatakan mencerminkan sebagai asal tanaman itu sendiri. Tidak percaya? Bisa anda tanyakan langsung pada pemilik blog ini selaku konsultan ITTO yang saat ini sedang gencar-gencarnya ingin menghidupkan kembali NTT sebagai gudang cendana. Satu pertanyaan menggelitik adalah selama ini pemerintah daerah NTT buat apa saja? Semoga tidak ada lagi kebijakan fatal seperti tahun 70-an sehingga cendana dijuluki sebagai kayu setan atau kayu milik pemerintah oleh masyarakat sebagai dampak kebijakan yang tidak berpihak tersebut. Semoga.

Saya memiliki pengalaman menarik ketika kuliah di Fakultas Kehutanan UGM beberapa waktu lalu. Ketika membahas mengenai luasan hutan, maka teman-teman dari jawa, Sumatera, Kalimantan atau Papua amat sangat “digdaya”. Yah tentu saja, daerah mereka memiliki luas hutan yang lebih daripada NTT. Namun ketika membahas mengenai luas kawasan penggembalaan, maka maaf-maaf saja teman, saya serta merta membusungkan dada. Ya iyalah.... NTT memiliki luas lahan penggembalaan sekitar 653.983 ha. Angka tersebut yang tercatat resmi, tapi dalam kenyataannya di lapangan, savana yang merupakan tipe formasi dominan di NTT biasanya juga digunakan sebagai kawasan penggembalaan. Kemudian bila mempertimbangkan kebiasaan masyarakat dalam melepas ternak dalam kawasan hutan dalam sistem agrosilvopastoral, maka kawasan hutan bisa juga dapat juga dihitung sebagai kawasan penggembalaan. Coba hitung saja berapa total semuanya? Cukup fantastis bukan? Sombong juga rasanya saya saat itu. Namun apa yang terjadi kemudian? Ketika dosen saya mengatakan bahwa meski NTT memiliki lahan penggembalaan yang luas, namun di saat yang sama produksi ternak justru menurun dari tahun ke tahun. Oh.... Betapa malunya. Kepala yang tadinya terangkat gagah menjadi tertunduk malu. Lahan penggembalaan luas tetapi produksi ternak menurun. Paradoks bukan? Terbolak-balik bukan? Bagi saya pribadi beberapa contoh di atas membuktikan bahwa pemerintah daerah kita cenderung tidak belajar dari pengalaman terdahulu. Setiap pergantian tampuk kepemimpinan, maka ganti pula program-program dengan yang baru. Tapi apa bisa dikatakan berhasil? Tergantung dari sisi mana kita melihat. Kalau saya melihat dari sisi output yang dihasilkan seperti beberapa contoh di atas, maka bagi saya pemerintah daerah NTT bisa saya katakan gagal. Contoh lain datang dari dunia pendidikan. Beberapa tahun terakhir tahun NTT selalu menduduki rangking satu atau dua dalam hal kelulusan siswa. Rangking satu atau dua dari belakang maksudnya. Itu berarti setiap tahun selalu terulang, terulang dan terulang lagi. Orang boleh baru, Gurbenur sebagai top manager boleh baru, kepala dinas boleh baru, dan program boleh baru tetapi hasil akhirnya yah itu-itu juga. Sami mawon. Sama saja. Seorang teman saya yang berprofesi sebagai guru di Sumba mengatakan program pendidikan boleh banyak, tetapi eksekusi di lapangan sangat lemah. Wah NAPO juga nih namanya. No Action Programs Only. Dalam beberapa tulisan terdahulu dalam blog ini sedikit banyak telah menyiratkan apa yang saya katakan tersebut. Sedari tadi kelihatannya saya hanya menyalahkan pemerintah, oleh karena itu, pertanyaan yang penting sekarang adalah apakah yang salah hanya pemerintah? Yang salah hanya si pemimpin saja? Ataukah semua stakeholder yang berarti mereka dan kita, anda dan saya? Bisa anda membantu saya menjawab pertanyaan tersebut? Saya hanya ingin agar semua menjadi obyektif. Jangan sampai terjadi satu jari menunjuk orang lain, tetapi tanpa kita sadari jemari yang lain sedang menunjuk ke arah kita sendiri. Kalau itu yang terjadi artinya saya dan anda juga memiliki andil dalam membuat NTT sebagai Nusa Tabolak Tabalek dong? Wagat eh.... gawat maksudnya.

Saya cukupkan tulisan ini sampai disini dengan maksud agar Bung en Soes semua mau melengkapinya apa yang kurang. Menambahkan apa yang belum saya sampaikan. Atau malah mau mengoreksi tulisan ini. Monggo. Silahkan. Karena saya juga masih perlu banyak belajar. Namun tolong jangan salah artikan isi tulisan ini karena saya juga tidak bermaksud menjelek-jelekan NTT karena sesungguhnya saya amat sangat mencintai tanah kelahiran saya ini. Tetapi apakah cinta mesti diartikan diam saja melihat sesuatu yang salah terjadi di sekitar kita? Tidak. Bagi saya kritik bisa berarti ungkapan cinta saya bagi NTT. Tulisan ini bukti saya mencintai NTT. Jadi apabila saya ditanya setuju NTT adalah Nusa Tabolak Tabalek? Sambil bersenandung saya akan menjawab “tanyakan saja pada rumput yang bergoyang”.
Tabe Puan Tabe Tuan 

Selasa, 06 Juli 2010

ijinkan saya mendongeng tentang bola yang disepak kian kemari

Dear Sahabat Blogger,

Semua penggemar sepak bola dunia pasti menikmati betul pertandingan sepak bola Piala Dunia 2010 di Negeri "Waka-Waka" Afrika Selatan. Negerinya Paman Mandela. Satu bulan lamanya penggemar soccer dimanja habis-habisan. Tapi lihatlah, kendati semuanya menggemari sepak bola yang sama tetapi reaksi orang-orang itu bisa berbeda-beda terhadap tayangan yang sama. Apa yang membedakan mereka? Ada banyak alasan tetapi saya ingin melihat dari 1 sudut, yaitu tergantung siapa kesebelasan favorit mereka atau siapa pemain favoritnya.


Bagi penggemar kesebelasan Belanda maka sampai posting ini diturunkan pastilah sedang bersukacita abis. Sebaliknya bagi penggemar berat kesebelasan Brazil atau Inggris, Piala Dunia mungkin tinggal sekedar tontonan yang tak punya impresi apa-apa lagi. Konon, di Nerete, Haiti, seorang penggemar kesebelasan Brazil, pemuda 18 tahun, bunuh diri setelah Brazil dikalahkan Belanda 1 - 2. Kendati tak setragis itu tetapi seorang adik saya harus menghabiskan nyaris 5 pak kertas tisu untuk membersihkan airmatanya setelah Kesebelasan favoritnya, Argentina, dikalahkan Jerman 0 - 4. Saya malah sempat menawarinya, jika persediaan tisu di kios sekitar rumahnya habis, saya bersedia mengirimkan bagia dia barang 1-2 pak tambahan. Seorang adik yang lainnnya, kebetulan penggemar berat kesebelasan Jerman, berbeda lagi kelakuannya. Ketika saya menelefon dia malam-malam setelah selesai pertandingan Argentina VS Jerman, hampir 2 menit saya tidak mendengar suara apa-apa selain suara tawa girangnya yang teramat keras....waaaaalllaaaaahhh .... "kasihan juga adik saya itu. Barusan dilantik jadi pejabat kok malah jadi gila gara-gara sepak bola". Begitulah sahabat, Lalu bagaimana dengan anda? Bagaimana dengan saya? Nah ini.

Seperti juga posting saya 2 tahun lalu ketika kesebelasan Jerman dikalahkan Spanyol 0-1 pada Piala Eropa, saya secara tradisional adalah penggemar Kesebelasan Jerman. Mula-mula alasanya adalah sangat tidak masuk akal, yaitu karena Jerman, ketika itu Jerman Barat, adalah negeri asal Marten Luther sang Reformator Gereja. Belakangan baru saya bisa bersikap lebih rasional. yaitu saya menyukai Jerman karena semangat juang dan ketertiban organisasi permainannya. Mereka tidak selalu bagus, bahkan cenderung tampil menjemukan, tetapi begitu memasuki sebuah turnamen, mereka dapat sangat berbahaya. Saya menemukan "wajah" saya dalam kesebelasan Jerman. Bukan yang terbaik tetapi mati-matian berusaha menjadi baik. Berhasil sukur. Gagal ya dicoba lagi lain kali. Bagaimana reaksi saya dengan hasil-hasil yang dicapai kesebelasan Jerman? Jika menang maka saya akan mencari semua koran yang memberitakan itu lalu saya baca habis semuanya. Bagaimana jikalau kalah? Biasa saja. Paling-paling saya tidak lagi mau menonton kelanjutan turnamen. Bahkan anak-anak saya sering saya usir agar supaya tidak membuka televisi dan menonton pertandingan sepak bola lanjutan turnamen.... ha ha ha ha...(ternyata saya juga tak kalah irrasionalnya dengan adik-adik saya itu tadi ya???? ...ha ha ha ha). Tapi itu dulu. Sekarang tak lagi begitu. Jika Jerman menang OK. Kalah? Ya tidak apa. Lain kali Jerman akan mencoba dan bagus lagi.

Siapa pemain kesukaan saya? Dahulu kala, bagi saya pemain terhebat di dunia adalah Franz Beckenbauer dan Gerd Muller. Pertama-tama karena mereka adalah pemain kesebelasan Jerman (Barat). Kedua, tidak ada pemain lain di dunia yang bisa menciptakan 1 posisi yang khas dan lalu ditiru oleh banyak kesebelasan lain selain Franz. Posisi itu adalah Libero, yaitu pemain bebas di jantung bertahanan yang dapat berfungsi sebagai back bahkan sweeper, gelandang bertahan dan gelandang menyerang sekaligus. Saat-saat tertentu, sang Libero dapat bergerak naik menusuk sampai ke jantung pertahanan lawan dan membuat gol. Adalah olah pikir Franz bersama pelatih Jerman (Barat) ketika itu, Helmut Schoen, yang menghasilkan posisi unik itu. Franz juga memiliki semangat juang khas Jerman. Dalam salah satu pertandingan di Piala Dunia tahun 1970, dia tetap bermain sampai selesai pertandingan kendati harus dengan kondisi cedera berat. Salah satu tangannya patah setelah bertabrakan dengan pemain lawan dan harus yang diikat dengan badannya. Cedera dan kesakitan tetapi tak mau diganti. Terus bermain. Jantan. Lalu, Gerd Muller adala bomber Jerman yang pendek dan gempal. Bantet kata anak Jakarta. Ukuran kakinya aneh karena kaki kirinya lebih kecil dibandingkan kaki kanannya. Kaki yang tidak normal. Tetapi, coba cari pemain lain yang ketika membela tim nasional, mencetak gol lebih banyak dari jumlah pertandingan yang dimainkannya. Gerdhard tampil di Timnas Jerman Barat sebanyak 62 kali dan mencetak gol sebanyak 69 buah. Sampai sekarang belum ada pemain seperti dia. Dia bomber oportunis sejati. Dia punya killer instinck yang teramat hebat di kota penalti.

Belakangan saya menjadi lebih terbuka menerima kesebelasan lain di luar kesebelasan Jerman dan pemain terbaik lain di luar pemain-pemain yang berasal dari Jerman. Saya juga menyukai Brazil karena merekalah kumpulan seniman sepakbola sejati. Jujur saja, nyaris tak ada kesebelasan lain yang dapat tampil seindah Brazil, kecuali mungkin kesebelasan Belanda jika mereka memainkan total football. Dengan bagitu anda menjadi tahu bahwa sayapun menyukai kesebelasan Belanda. Total football adalah konsep permainan sepakbola paling jenius yang bisa dipikirkan oleh manusia. Semua bergerak untuk semua posisi. Rinus Mitchel menemukan dan Johan Cruyff mempraktekannya dengan sangat elegan. Saya sudah menyebutkan nama meneer Johan Cruyff, yang lentur bak penari balet di lapangan hijau, oleh karena itu saya juga akan menyebutkan pemain-pemain lain yang saya sukai. Pertama adalah Pele. Penari sepak bola sejati yang santun dan rendah hati. Pele telah mengemas 1281 gol dalam 1363 pertandingan. Tidak ada pemain yang melebihi rekor ini. Saya juga menyukai Maradonna. Visi permainan dan dribllingnya nyaris seng ada lawang. Sendirian, pertahanan lawan bisa dibuat pontang panting tak keruan. Kesebelasan Inggris merasakan betul hal itu pada Piala Dunia di Mexico tahun 1986. Umpan-umpannya ..alaaaamaaaaakk.... jitu alis natok (kata anak Kupang). Kakinya seperti punya mata. Dia jenius. Saking jeniusnya dia telah memaksa orang sedunia setuju dengan dia bahwa gol yang dibuatnya dengan menggunakan tangan ke gawang Peter Shilton (Inggris) 1986, Mexico adalah gol tangan tuhan (hands of god goal). Padahal kita tahu itu adalah perbuatan curang. Culas. Tapi itulah Maradonna. Dia juga adalah biang kerok dan biang onar dengan tingkah lakunya. Lantas, heeiii, lihatlah orang-orang Inggriss itu, kendati dicurangi oleh Maradona (dan Argentina) tetapi mereka menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Wow, mereka sangat gentlemen. Dan, saya juga suka kesebelasan Inggris, selain gentlemen, karena bermain bola gaya Inggirs bola di lapangan dialirkan secara sangat cepat bak bajir bandang di sungai Benenain, Timor Barat yang suka bajir mendadak itu. Sedap dipandang. Dan akhirnya, saya jatuh suka berat sama Lionell Messi. Dia adalah murni titisan Maradonna. Dia juga adalah penari sepak bola sejati. Liukan dan dribllingnya persis sama dengan Maradonna. Tembakan membuat goalnya luar biasa. Hal yang membedakan Messi dan Maradonna adalah Messi santun dan rendah hati. Sayang sekali di PD Afsel, Messi tak mendapat pelatih sehebat Pep Guadiola di Barcelola, sehingga Argentina gagal. Melihat Maradonna menangis ketika dikalahkan Jerman di PD tahun 1990 di Italia yang timbul adalah perasaan ...rasain loe....tetapi melihat Messi keluar lapangan dan menangis setelah dikalahkan Jerman di Afsel 2010, hati saya jatuh. Tak tega. Ikut sedih. Lalu, mengapa saya bersikap ambigu? Suka Jerman tetapi sedih melihat Messi menangis? Jawabannya adalah ini.

Sepakbola, pertama-tama, adalah hasil olahan individu-individu. Makin pandai kamu mengolah bola dan mengarahkannya ke gawang lawan maka kamu adalah pesepakbola ulung. Tetapi pada akhirnya sepakbola adalah permainan hasil olahan individu-individu yang hadir bersama dalam ruang dan waktu yang sama. Anda tidak boleh bermain untuk kepentingan anda semata. Di dapan, di belakang, di samping dan nun jauh di ujung lapang sana ada orang lain yang harus anda perdulikan. Anda harus bekerjasama dengan orang lain itu demi tercapainya tujuan bersama. Pertanyaannya adalah lebih penting mana di antara individu dan teamwork di dalam sepakbola? Jawabannya adalah jadilah dirimu sendiri tetapi kesejatian dirimu itu hanya dapat kamu temukan di dalam sesamamu. Dalam filsafat manusia disebutkan bahwa manusia adalah makhluk eksentrik yang artinya adalah makhluk yang terarah dan mencari eksistensinya ke arah luar (eks artinya terarah keluar). "Aku menemukan diriku hadir di dunia ini dan diriku ini terarah kepada sesama". "Tidak ada aku tanpa dunia dan tidak ada aku tanpa sesama". Manusia yang eksis adalah manusia yang berelasi. Supaya aku dan sesamaku dapat berelasi dan lalu eksis demi kebaikan bersama maka ada 1 prasyarat yang harus kami penuhi, yaitu ketertiban. Saya suka Messi karena dia adalah gambaran eksistensi diriku individual yang terampil tetapi saya suka Jerman karena menggambarkan ketertiban hubungan dengan sesama. Jadi, individu dan kebersamaan adalah perlu tetapi kebersamaan yang tertib adalah yang paling perlu. Setuju?

Sambil merenungkan dongeng saya di atas, silakan menikmati permainan gitar yang dimainkan oleh salah sau master gitar ternama Joe Striani yang beriksah tentang makna persahabatan. Manusia hanya bermakna ketika dia bersahabat dengan sesama. Yeeeaaaaacchhh.....


Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 10 Juni 2010

tri bajik eka cita: the last

Dear Sahabat Blogger,

Sampailah saya pada bagian akhir posting tentang "tri bajik eka cita" yang merupakan falsafah hidup Ayahanda saya almarhum (Robert "SGT" Riwu Kaho) dalam bekerja. Bahkan lebih dari itu, jika diteliti lebih saksama, akan terlihat bahwa sebenarnya falsafah "tri bajik eka cita" adalah falsafah hidup Robert. Cara pandang dia tentang bagaimana hidup itu harus dijalani. Kamudian barulah prinsip ini diekstrapolasikan oleh Ayahanda ke dalam dunia pengabdiannya, yaitu dunia pendidikan.

Menyadari bahwa "tri bajik eka cita" adalah prinsip hidup Ayahanda almarhum membuat saya menjadi tidak mudah begitu saja menulisnya. Dia menjadi sulit bukan karena substansinya tetapi karena konsekuensinya. Maksud saya begini, jika di antara pengagum almarhum Bung Karno terjadi silang sengkrut pengertian antara "anak biologis" dan "anak ideologis" maka bagi saya pertanyaannya adalah, apakah cukup bagi saya mengatakan kepada dunia bahwa .. "hei saya ini adalah anak Robert Riwu Kaho" .. dan apakah juga cukup saya mengatakan bahwa ... "hei saya tahu apa prinsip hidup Robert". ...cukupkah itu? TIDAK. Mengapa demikian? Saya masih harus bisa membuktikan bahwa "menjadi anak Robert" berarti harus memenuhi 2 prasyarat, yaitu principe d'etre-nya dan apa la condition humaine-nya? Opo maning? Leahy menyatakan bahwa principe d'etre manusia selalu dua sisi, yaitu siapa dirimu dan untuk apa dirimu. Sisi pertama menunjukkan identitas diri yang khas dan unik. Sisi lainnya menunjukkan keberartian seseorang bagi sesamanya dalam arti yang amat luas. Inilah yang disebut sebagai la condition humaine-nya. Ayahanda adalah pribadi yang unik. Dia pendidik, pengurus Gereja puluhan tahun, penghusada tradisional, bagian dari klan Mone Ama dari Namata, Sabu dan lain-lain. Cuma 1 dia. Tak ada yang lain. Di lain pihak, jejak hidupnya menjadi panutan banyak orang karena budi pekertinya yang masuk di dalam norma umum manusia yang baik. Dia amat berbudaya.

Saya selalu bertanya, sudahkah saya menemukan jalan untuk dikenal sebagai anak Robert dalam identitas yang berbeda tetapi memiliki budi pekerti yang setara? Saya harus unik dan khas. Bukan fotocopy semata dari Robert. Akan tetapi sekaligus dengan itu saya dituntut paling kurang menapaki jalan hidupnya yang amat berguna bagi sesama. Hidup yang tidak memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri. Secara kasat mata, academic achievement menunjukkan bahwa saya berhasil "keluar" dari bayang-bayang identitas Ayahanda. Kami memang sama-sama berprofesi Guru tetapi saya Guru di bidang Ilmu Kehutanan. Beliau pernah menjadi Kakanwil tetapi saya Ketua Umum ForDAS NTT. Robert unik sayapun unik. Masalahnya adalah, apakah saya sudah memiliki budi pekerti yang setara dia? Jawaban saya, belum.

Jika begitu maka apa untungnya menulis tentang "tri bajik eka cita", yang adalah falsafah hidup Ayahanda, jika tidak mampu melakukannya? Pandai berteori tetapi tak satupun tamak dalam perilaku hidup setiap hari. Bukankah itu sama artinya dengan fenomena ironis di negara kita tercinta? Mengaku wakil rakyat-nya tetapi nasib rakyat hanya urusan sekunder. Rajin beribadah tetapi amat gemar menista orang lain. Mengaku menghafal Pancasila tetapi perilaku amat primodial. Lalu saya berketetapan hati bahwa dari pada tidak lebih baik jika saya menuntaskan saja tulisan tentang "tri bajik eka cita". Bukan untuk apa-apa melainkan justru yang oleh karenanya, principe d'etre, saya harus terus belajar, dengan pertolongan Tuhan, supaya saya tidak memalukan sebagai anak Robert Riwu Kaho. Lalu apa itu "tri bajik eka cita"?.

Secara etimologi, Robert memberi makna bahwa tri berarti tiga, bajik berarti perbuatan baik yang mendatangkan keselamatan, eka artinya satu atau tunggal dan cita adalah cita-cita, yaitu tujuan yang luhur, mulia dan sempurna yang harus dikejar. Lalu, tri bajik eka cita adalah tiga perbuatan baik yang mendatangkan keberuntungan dan keselamatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai satu tujuan yang sempurna. Dari pengertian ini saja kita bisa belajar bahwa setiap hidup harus memiliki tujuan yang baik. Pernah menonton film Rambo II? Di akhir ceritera John Rambo menjawab pertanyaan Trautman, mantan bossnya tentang "bagimana kau hidup", dengan mengatakan begini "i'm living day by day". Hidup ala John Rambo tidak sesuai dengan prinsip Robert. Hidup harus memiliki tujuan dan tujuan itu harus yang bersifat mulia. Lalu, apa eka cita itu? Adalah: BERKAT. Robert memberikan defenisi bagi tujuan hidupnya, yaitu menjadi berkat bagi sesama. Dengan cara itulah dia akan layak mengaku sebagai ciptaan sang Pengada yang Maha Baik. Bagimana Robert dapat mencapai cita-citanya itu? Adalah dengan melakukan 3 perkara, yang disebut sebagai tri bajik, yaitu BERDOA, BEKERJA DAN BERBUAH. Jelas dan clear bukan? Jangan buru-buru. Mari kita perhatikan uraian Robert lebih terperinci.

  1. Berdoa adalah berkomunikasi dengan Tuhan Maha Kuasa yag berlandaskan Iman. Di dalam doa, anda harus melakukan 3 hal terpenting, yaitu mengaku berdosa dan memohon pengampunan, mengucap syukur atas semua yang sudah diterima dan memohon anugerah kekuatan, kesehatan, hikmat dan apa saja yang baik sebagai modal bekerja. Jadi, si sombong yang merasa selalu benar, pendendam, dan tukang komplain atas apa yang ada padanya adalah orang yang tidak berdoa. Berdoa dilakukan setiap saat. Dengan berdoa, menurut pengalaman Robert, orang akan mampu menghargai orang lain sebagai sesama ciptaan, tidak melakukan diskriminasi, gemar menolong mereka yang lemah terutama anak didik, peka terhadap penderitaan orang lain dan mampu melayani.
  2. Bekerja adalah adalah esensi hidup itu sendiri. Karena itu bagi Robert kaum pemalas dan tukang berharap gampang dalam hidup bukanlah seorang pekerja. Bekerja juga merupakan panggilan hidup sebagai manifestasi iman. Oleh karena itu hal yang dikerjakan haruslah yang bersifat baik. Mencuri dan menipu bukanlah bekerja karena dalam Iman tidak pernah boleh ada bekerja yang sifatnya jahat. Bekerja yang baik, bagi Robert adalah, bekerja secara tekun, setia, tak mudah menyerah dan produktif dari waktu ke waktu.
  3. Berbuah adalah adalah kepastian bahwa semua yang didoakan dan dikerjakan harus benar-benar halal. Tak boleh anda mengorbankan orang lain dalam bekerja. Tak boleh anda mendoakan celaka bagi orang lain. Harta yang kamu miliki benar-benar harus merupakan keringatmu sendiri dan tidak merampas hak-hak orang lain.
Akhirnya, resultante dari tiga kebajikan itu adalah akan datangnya tujuan luhur dari hidup, yaitu berkat. Bagaimana ciri hidup yang penuh berkat itu? Robert merincinya ke dalam 10 indikator, yaitu iman baik, punya harga diri, selalu ingin maju, etos kerja yang tinggi dan berdisiplin, bekerja berorientasi pada prestasi, jujur, secara individu harus pandai, terampil dan kreatif, memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi dan tegas, mampu berkomunikasi dengan orang lain tetapi berdikari dan rendah hati.

Begitulah gambaran ringkas tentang "tri bajik eka cita" itu. Melihat deskripsinya, saya menjadi miris sendiri. Dapatkah saya mencapai derajat budi pekerti seperti itu? Saya tak begitu yakin tetapi .... hei sabar dahulu .... dengan mata kepala sendiri saya menjadi saksi bahwa Ayahanda almarhum mampu melaksanakan semua yang telah didefenisikannya itu. Ayahanda tidak sedang berhipotesis melainkan menuliskan pengalaman empirik hidupnya sebagai suatu hipotesis bagi banyak orang. Dalam mempraktekkan teorinya, dia amat berhasil. Prestasinya sebagai pendidik menjadi saksi. Maka, kalau dia bisa mengapa saya tidak? Bukankah saya memiliki DNA yang sama dengan dia? Kalaupun tidak sama-sama amat, paling kurang saya bisa belajar untuk mulai melakukannya. Hari ini lebih baik dari kemarin. Besok lebih baik dari hari ini. Makin lama makin baik. Saya cukupkan tulisan ini sampai di sini. Lalu, apakah anda terilhami oleh cara hidup Robert Riwu Kaho?.

Untuk semua Guru yang baik di mana saja anda berada, saya kirimkan lagu Oemar Bakri dari Iwan Falz. Bapak dan Ibu, dedikasi anda di catat di Surga.


Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 13 Mei 2010

gagasan toean robert: tri bajik eka cita, sebuah preambule (2)

Dear Sahabat Blogger,

Sedih membaca dan mendengar hasil Ujian Nasional (UN) yang dicapai oleh sekolah-sekolah menengah di Propinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2010. Tingkat kelulusan UN di NTT untuk "putaran pertama" sangat memprihatinkan. Cobalah berita di bawah ini (www.tempointeraktif.com Senin, 26 April 2010) disimak baik-baik:

Persentase kelulusan ujian nasional (UN) di Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya mencapai 47,92 persen dan berada pada peringkat terakhir angka kelulusan dari 33 provinsi di Indonesia. "Kita memang berada pada peringkat terakhir prosentase kelulusan ujian nasional tahun 2010 ini," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahrga (PPO), Thobias Uly di Kupang, Senin (26/4). Jika dibandingkan dengan 2009 yang persentase kelulusannya mencapai 69,23 persen, maka persentase kelulusan tahun ini mengalami penurunan sebesar 21,31 persen.

Ketika giliran pengumuman hasil UN SMTP, berita yang saya kutip dari www.ujiannasional.org adalah sebagai berikut:

Hasil ujian nasional (UN) pada 10 dari 691 SLTP di Nusa Tenggara Timur (NTT) amat memprihatinkan karena mencapai nol persen. Kenyataan itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Nusa Tenggara Timur (NTT), Thobias Uly di Kupang.

Dalam situasi seperti itu, saya teringat ayahanda saya almarhum, Robert "SGT" Riwu Kaho. Pengalaman dan pengabdiannya bagi dunia pendidikan di NTT, nyaris paripurna. Beliau pernah menjadi orang nomor 1 di NTT dalam urusan Pendidikan di NTT, khususnya Pendidikan Dasar, Menengah, Luar Sekolah dan Kepemudaan. Dedikasinya diakui banyak orang. Seluruh karier PNS-nya dihabiskan dalam urusan Pendidikan di NTT. Beberapa kali beliau diminta untuk pindah bekerja dan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi ke Jakarta (1977), ke Jogjakarta (1980), dan Ke Papua - Irian Jaya ketika itu - (1987), beliau selalu menolaknya. Katanya: "jika semua orang NTT pindah ke luar NTT lalu siapa yang akan membangun NTT?". Bahkan, pada tahun 1968, beliau pernah ditawari oleh Gubernur NTT agar bersedia menjadi Bupati di Alor. Beliau menolaknya. Pada tahu 1971 beliau terpilih sebagai anggota DPR Pusat hasil pemilu 1971 dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo), beliau malah meminta kawan lain untuk menggantikannya. Katanya: "dunia pendidikan adalah panggilan hidup".

Setelah menamatkan pendidikan di UGM, Jogjakarta tahun 1959, pada tahun 1960 Robert Riwu Kaho diangkat sebagai seorang Guru di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Tahun 1963 ditarik sebagai Pjs. Inspektorat Daerah Pendidikan Ekonomi (IDPE) yang mengurusi SMEP (Skolah Menengah Ekonomi Pertama). Pada tahun 1970 terjadi perubahan struktur kantor dan IDPE berubah nama menjadi Kantor Pembinaan (Kabin) Pendidikan Ekonomi. Ayahanda menjadi Kepalanya. Pada tahun 1975 kembali terjadi perubahan struktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional mengakibatkan semua pendidikan yang bersifat Kejuruan seperti, SMEP, SMEA, SKKP, SKKA, STP dan STM digabungkan menjadi Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur). Robert ditugaskan sebagai Kepala Bidang itu.

Pada tahun 1973, Robert yang memiliki bakat khusus di dalam hal perencanaan pendidikan, diminta oleh atasannya untuk mengembangkan unit perencanaan pendidikan di Kantornya dan lalu ditunjuk untuk memimpin unit dimaksud. Mungkin karena melihat kinerjanya amat baik dalam urusan perencanaan tersebut maka pada tahun 1974 itu, ketika unit perencanaan ditingkatkan menjadi Bagian Perencanaan, beliau ditugaskan merangkap jabatan. Selain sebagai Kabid Dikmenjur juga sekaligus Kepala Bagian Perencanaan (Kabagren). Lebih luar biasa lagi, karena tertarik dengan kinerja sistem perencanaan pendidikan di Kantor Perwakilan P dan K NTT, Rektor Universitas Nusa Cendana merekrut Robert Riwu Kaho, seijin atasannya, dan diminta untuk mengembangkan Badan Perencanaan dan Pengembangan Undana (BPPU). Robert menerima tantangan itu, mendirikan BPPU dan mengepalainya selama jak tahun 1975 - 1987. Salah satu karya BPPU yang monumental adalah berdirinya kompleks kampus baru Undana yang megah sekarang ini. Setiap saya berdiri mengagumi lanskap Undana yang memilik view yang indah ke arah Teluk Kupang, saya pasti teringat ayahanda. Kampus itu merupakan buah tangannya.

Pada tahun 1987, beliau diangkat sebagai Koordinator urusan Administrasi (Kormin) di Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan, NTT. Jabatan yang sering disebut sebagai orang nomor 2 di kantor itu. Pada saat itu, Kepala Kantornya adalah Drs. Piet Syauta. Hanya beberapa bulan menjabat sebagai Kormin, Robert ditunjuk oleh Menteri P dan K untuk melaksanakan tugas Kepala Kantor karena Drs. Syauta mengalami sakit keras dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1989. Tak lama kemudian di tahun 1989 itulah Robert resmi ditetapkan sebagai Kepala Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Robertlah orang nomor 1 di lingkup pekerjaan yang amat dicintanya itu. Gara-gara kesibukannya di Kanwil P dan K NTT itulah yang menyebabkan Robert mengajukan pengunduran diri sebagai Pejabat Kepala BPP Undana pada tahun 1987.

Bagaimana situasi pendidikan di NTT kala itu? Tidak jauh berbeda dari situasi sekarang ini, level pendidikan NTT ketika itu amatlah memprihatinkan. Mutu pendidikan NTT, yang diukur berdasarkan angka NEM (nilai ebta murni) hasil ujian, berada di urutan 26 di Indonesia. Pendidikan NTT hanya lebih baik dari Timtim sebagai Propinsi termuda di Indonesia kala itu. Ketika menduduki jabatan Kakanwil P dan K NTT, bahkan sudah dimulai semenjak beliau masih menjadi Plt. Kakanwil P dan K NTT, Robert meluncurkan program "Peningkatan Mutu Pendidikan di NTT". Berbekal keterampilannya di bidang perencanaan maka semua Program di rancang matang dan konsep perencanaan tersebut dituangkan ke dalam berbagai buku pedoman yang disebutnya sebagai "buku biru" dan "buku kuning". Dalam implementasinya, Robert meluncurkan program supervisi yang dipimpinnya secara langsung. Hampir semua kecamatan di NTT telah dikunjunginya dalam rangka itu guna memastikan bahwa semua tahap perencanaan telah diselenggarakan oleh seluruh jajaran pendidikan NTT. Semua hal dinilai mulai dari kurikulum sampai proses belajar mengajar. Kunjunganya di kelas-kelas sekolah sampai di pelosok-pelosok NTT dilakukan bukan sekedar simbolis tetapi adalah sebuah sampling dalam supervisi. Tak ada jajaran P dan K di NTT yang tidak gentar dengan langkah Robert ini karean dia terkenal dengan kekerasan prinsipnya. Kesalahan akan langsung dikoreksi secara lugas di lapangan. Teguran, bentakan dan bahlan tamparan bukan hal yang aneh di masa itu.

Hasilnya adalah semua jajaran pendidikan di NTT mulai dari pejabat sampai Guru dan Murid bekerja keras untuk memenuhi target-target yang telah ditetapkan di dalam dokumen perencanaan. Semua bergairah dan bersemangat. Pada tahun 1989/1990 peringkat pendidikan NTT berdasarkan NEM SMTA berada pada urutan 18, pada tahun 1991/1992 berada pada urutan 14 dan pada tahun 1993, beberapa bulan menjelang Robert "SGT" pensiun, kami membaca berita di beberapa koran Nasional ketika itu yang memberitakan bahwa tingkat pendidikan NTT berada pada urutan nomor 7 untuk bidang IPA dan nomor 11 13 di bidang IPS. Secara keseluruhan, peringkat NEM NTT berada pada urutan nomor 8 di antara 27 Propinsi di Indonesia. Prestasi yang membanggakan karena sesudah masa itu, sesudah Robert pensiun pada Desember 1993, prestasi itu tak pernah terulang kembali. Secara pasti pendidikan NTT kembali terdegradasi menuju posisinya yang sekarang, yaitu yang terbaik dalam hal mutu rendah di Indonesia. Dengan pekataan lain, mutu pendidikan NTT adalah yang terendah di Indonesia seperti yang sudah dikutipkan di awal posting ini.

Apa rahasia sukses seorang Robert "SGT" Riwu Kaho? Dalam buku Biografinya yang ditulis pada tahun 2003 Robert menguraikan kunci suksesnya. Banyak hal tetapi saya peras menjadi 3 hal terpenting, yaitu:

  1. Bekerja dan jabatan adalah "calling" atau "panggilan dari Tuhan" yang harus dijawab dengar bekerja keras. Bekerja adalah panggilan Ilahi dan kita harus menjawab ia lalu setia di dalam bekerja;
  2. Bekerja keras sebagai wujud jawaban terhadap "calling Ilahiat" yang diterima adalah bekerja secara terstruktur, sistmatis dan strategis. Bekerja yang terencana;
  3. Bekerja yang terstruktur haruslah merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak orang atau stakeholder. Oleh karena itu memelihara persatuan dan kesatuan guna team work yang produktif merupakan keharusan.

Dalam pola pikir alur "logical frame work", mengapa 3 hal ini harus ditempuh oleh Robert dan faktanya memang demikian, dan fakta lain lagi menunjukkan bahwa dia berhasil? Jawabannya adalah: Robert menginginkan agar hidup dan pekerjaanya menghasilkan buah. Sahabat terkasih, lagi-lagi kita melihat bahwa Robert bekerja dalam pola "jalankanlah 3 macam kebajikan guna mencapai 1 tujuan akhir yang baik". Hal ini membentuk pola seperti apa yang disebut di judul posting ini, yaitu "tri bajik eka cita". Robert Riwu Kaho akan dikenang oleh masyarakat pendidikan di NTT sebagai pengingat falsafah tersebut.

Apakah tentang semua itu karya Robert tentang "tri bajik eka cita". Ya untuk sebagian tetapi belum seluruhnya. Semua yang saya tulis ini baru preambule-nya. Pembukaannya saja. Dalam serial terakhir "tri bajik eka cita" akan saya ulas tuntas tentang barang perkara itu. Sabarlah Tuan. Sabarlah Puan.

Tabe Tuan Tabe Puan

Jumat, 23 April 2010

3 bajik 1 cita (part I): doea tahoen soeda dia pergi

Dear Sahabat Blogger,

Tepat hari ini dua tahun lalu, saya dan 9 orang saudara - laki dan perempuan - tiba-tiba menjadi anak-anak Yatim. Bapak Robert "SGT" Riwu Kaho pergi sudah ke "negeri seberang sana". Saya masih ingat betul kenangan 1-2 hari sebelumnya.

Tanggal 20 April 2008 pagi-pagi saya, berdua besama isteri, berangkat ke Gereja untuk beribadah karena hari itu adalah hari minggu. Seusai kebaktian, sambil berjalan menuju mobil, saya berkata pada isteri saya : "saya kepingin membeli mobil baru yang lebih layak pakai, mudah-mudahan dalam tahun ini juga". Isteri saya tampak diam saja tetapi saya lirik ada binar senang di matanya. Lantas, dari gedung Gereja saya singgah sebentar ke "rumah induk". yaitu rumah kediaman bapa Robert dan mama Tien. Setibanya di sana, Ayahanda Robert sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca Alkitab. Lalu, seperti umumnya orang Sabu yang bertemu saya melakukan ritual "Ciom Sabu" kepada Ayahanda. Oh ya, sudah pasti ritual itu di sambutnya dengan hangat. Lantas, kami terlibat percakaan yang pada awalnya ringan-ringan-ringan saja tetapi berkembang ke arah yang amat serius. Ayahanda berceritera panjang lebar tentang kisah hidupnya yang pernah amat menderita. Menurut beliau, hidupnya bisa membawa guna bagi banyak orang semata-mata hanya karena TUHAN. Beliau juga kembali memberi catatan panjang tentang hidup dalam ikatan keluarga besar yang memerlukan banyak pengorbanan. Saya ingat betul kata-kata berikut ini:

Dalam hidup berkeluarga jangan lu hitung untung rugi secara material karena kalo lu bekin begitu lu akan liat lebe banyak ruginya. Karena itu yang harus lu lihat adalah kebahagiaan dari hidup dalam keluarga yang rukun,. Tidak ada uang untuk membeli kerukunan.

Kemudian, Ayahanda mulai mengeluarkan beberapa catatan tentang kami ber-10, anak-anaknya. Satu-satu dibahas. Ada kegetiran tertentu. Tetapi ada juga kebahagiaannya. Hampir 2 jam kami berdiskusi, akhirnya saya mohon permisi untuk kembali ke rumah. Di akhir percakapan kami adalah tukar kata seperti ini:

Saya: ini bapa hari mau pi mana, beta siang nanti mau pi berenang di pantai
Ayahanda: eh, bapa ikot pi pantai eeee tapi abis acara paguyuban Bagelen Purworejo
Saya: Bapa, beta ada rencana beli mobil ni, karmana eeeee....
Ayahanda: Eh, sonde usah. Pake bapa punya saja Kalo bapa mati sapa yang urus bapa punya mobil...hemat-hemat .... rasa-rasa kalo mau mengeluarkan uang...hitung baik-baik ....

Akhirnya, saya ke pantai. Lalu, tunggu punya tunggu Ayahanda tidak datang juga bergabung bersama saya di pantai. Sayapun menelepon Ayahanda:

Saya: bapa di mana ni? jadi berenang ko sonde?
Ayahanda: eh, kelar acara paguyuban,sopir minta ijin ada acara. Bapa juga merasa cape' ni...bapa istirahat saja dahulu ya.....

Malam itu, saya membuat 1 buah posting di blog tentang "mother earth" menjelang peringatan hari bumi. Di dalam posting itu, antara lain saya menulis sebagai berikut:

Bumi adalah pemberi hidup. Tempat kita berlindung. Tempat kita berteduh. Tempat kita menimba air. Tempat kita mengambil makanan. Tempat kita berbaring dan dipangku. Bahkan, pada hari ketika nyawa pergi dari badan maka bumilah yang akan memeluk jasad kita. Selamanya.

Hari senin tangal 21 April 2008, saya amat sibuk dengan berbagai urusan pekerjaan dan tidak sempat menengok Ayahanda dan Ibunda.

Hari selasa, 22 April 2008, sejak pagi sampai sore saya juga amat sibuk dan tidak sempat menengok atau mengontak Ayahanda dan Ibunda. Akan tetapi sekitar pukul 7 malam, tepat setelah saya selsai melantunkan doa safaat pada Ibadat di Rayon, saya dijemput Norman, anak sulung saya, yang menyampaikan pesan Ibunda agar saya segera pergi ke rumah sakit menegok Ayahanda. Dia baru saja jatuh pingsan di dalam rapat Yayasan Pendidikan milik GMIT dan dirawat di RSU dalam keadaan koma...."waduh TUHAN, gawat nih"....dan benar saja, setibanya saya di rumah sakit, Ayahanda sudah tidak bisa apa-apa lagi.

Tanggal 23 April Malam hari. Setelah 1 hari dirawat tanpa kemajuan apa-apa, akhirnya malam hari itu juga .....TUHAN menjemput Ayahanda kembali ke rumah asalnya, yaitu RUMAH BAPA DI SURGA ..... Saya, dan kami semua, tak lagi punya bapak di muka bumi ini. Kami Yatim. Delapan bulan kemudian, Ibunda "pergi juga menyusul Ayahanda". Kami Yatim Piatu..

Sahabat terkasih, tentang Ayahanda saya tidak ingin mengulang-ulang hal-hal lama yang pernah saya tulis di blog ini tetapi ijinkan saya untuk mengenang bahwa "sebenarnya" apa yang akan saya alami pada tanggal 23 April 2008, yaitu "kepergian" Ayahanda, sudah ada tanda-tanda sebelumnya. Mengapa dia harus berbicara panjang dan lebar tentang kisah hidupnya dan kebahagiaan serta kegetiran di saat-saat akhir hidupnya?. Mengapa dia harus berpesan bahwa di dalam hidup, pengunaan rasio tak kalah penting dibandingan dengan perasaan?. Mengapa dia menyampaian pesan yang amat jelas bahwa ada batas kekuatan manusia dan di batas itu dia perlu beristirahat?. Mengapa saya harus menulis bahwa adalah "mother earth" yang akan memeluk anak-anaknya di dalam dekapanya di akhir setiap kehidupan jasmani?

Di dalam ilmu filsafat dikenal 3 jenis obyek kajian, yaitu apa hakikat kenyataan, bagaimana kita dapat mengetahui kenyataan dan apa yang harus kita lakukan di dalam kenyataan. Lalu untuk apa semua hal itu dikaji? Jawabannya cuma 1, yaitu menemukan kebahagiaan. Sekarang, perhatikanlah 3 episode terakhir pertautan saya dengan Ayahanda almarhum di saat-saat terakhir hidupnya:

  1. Ketika Ayahanda berusaha menguraikan kisah hidupnya, yang terjadi adalah dia berusaha mencari makna atau hakekat dari kenyataan hidupnya.
  2. Ketika Ayahanda berusaha memperingatkan saya agar berhitung dalam pengeluaran, yang terjadi adalah dia sedang berusaha menjelaskan tentang penggunaan akal dan rasa dalam upaya mengetahui kenyataan
  3. Ketika Ayahanda mengabarkan bahwa dia tak bisa ikut berenang dan harus beristirahat, yang terjadi adalah dia sedang mengatakan bahwa hanya dengan mengenali batas-batas diri, kita akan mengetahui apa-apa yang dapat kita lakukan dalam hidup

Pada saat masih aktif sebagai Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di antara tahun 1987 - 1993, Ayahanda pernah menulis sebuah buku yang berjudul "tri bajik eka cita" atau 3 tindakan baik guna 1 tujuan. Tentang buku ini akan saya ulas pada seri kedua tulisan ini. Tetapi apa yang dilakukan di saat terakhir hidupnya ternyata adalah bahwa beliau kembali menulis 1 buah buka, khusus dipersembahkan kepada saya, yang berisi pesan bahwa "pahamilah hidupmu, gunakanlah rasa dan akal dalam menjalni hidupmu serta capailah kesadaran diri supaya dapatlah kita menjadi berarti di dalam hidup". "Dengan semua itu kamu akan berbahagia". Ya, Ayahanda Robert "SGT" Riwu Kaho telah menyelesaikan karya terakhirnya, yaitu 3 bajik 1 cita. Terima kasih Ayahanda Tercinta. Damailah kamu bersama Ibunda di dekat TUHAN.

Terima Kasih TUHAN karena di satu masa ENGKAU pernah mengirimkan seseorang yang begitu hebat guna bertindak sebagai Ayahanda bagi saya. Amin.

Tabe Tuan Tabe Puan

Sabtu, 03 April 2010

JESUS, cinta yang tak bertepi

Dear Sahabat Blogger,

Seorang sahabat saya yang rajin membaca tulisan saya di blog ini mengatakan kepada saya...'

Mike, tulisanmu indah dan harus saya akui sulit untuk dibantah tetapi mohon maaf, jika yang kau tulis adalah tentang Yesus, maaf sekali lagi maaf, saya telah kehilangan iman kepada DIA. Cobalah dipahami bahwa saya hanya bisa mempercayai sesuatu yang dapat saya pahami dengan akal saya. Dan, soal kematian dan kebangkitan-Nya, saya tak bisa lagi percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi. Yesus mungkin orang baik. Yesus mungkin guru agung tetapi jikalau yang kamu maksudkan adalah bahwa dia itu Ilahi, saya tidak sepakat.

Saya terdiam cukup lama. Lalu saya memutuskan untuk tidak mendebat dia apa-apa. kecuali 1-2 kalimat percakapan sederhana. Sesudahnya, saya berkata bahwa .."itu adalah hak mu, kawan tetapi ijinkan saya untuk tetap percaya dan menulis untuk bersaksi tentang Dia. Kita tetap berkawan bukan? Nah, ikuti saja tulisan -tulisan saya, mudah-mudahan ada yang bisa saya katakan sesuatu di sana". Lalu, di dalam hati saya berdoa...."Ya Yesus, Tuhanku yang hidup, biarlah kasih-Mu yang tak bertepi itu menghampiri sahabat saya kendati dia tak percaya pada-Mu, sebagaimana Engkau setiap hari sudi menghampiri saya kendati saya tiap hari berbuat kejahatan di depan-Mu"....

Begitulah sahabat, saya melalui dan merayakan Jumat Agung, Perjamuan Malam Kudus dan Paskah Tahun ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Lelah karena terlalu sibuk, urusan di rumah yang seperti tidak ada habis-habisnya menempa kesabaran, kecemasan akan kondisi kesehatan, kerinduan akan saudara-saudara yang jauh dan ahhhh....apa lagi yang tersisa untuk Tuhan yang saya kasihi selain keluhan dan rintihan? Apakah DIA sudi mendengar? Apakah DIA mendengar? Apakah DIA ada, seperti komplain sahabat saya tadi??????

Ya, seberapapun besarnya derajat penolakan orang terhadap-NYA, Yesus adalah tokoh yang teramat besar. Milyaran orang memuja DIA. Tak kurang pula milyaran orang yang menolak DIA. Banyak yang mengaku bahwa DIA adalah Tuhan Yang Ilahi. Tak kurang pula mereka yang percaya bahwa Yesus cuma manusia biasa. Tak ada tokoh yang diteliti dari berbagai sudut pandang sebanyak Yesus. Ada jutaan penyelidikan ilmiah dengan kaidah-kaidah metode ilmiah yang amat mengandalkan rasionalitas empirik. Tak kurang pula mereka yang mencoba memahami Yesus hanya semata-mata secara supranatural. Hasilnya adalah orang-orang seperti DR. Eka Darmaputera yang percaya sampai mati bahwa Yesus sungguh adalah Tuhan dan Juru Selamat. Tetapi adapula orang-orang seperti Nietszche yang mengatakan..."Tuhan sudah mati".... Ada pula Imanuel Kant yang mengatakan bahwa .... "tetang Tuhan kita tak bisa berteori karena DIA berada di luar pengalaman empirik". Adapula Ravi Zacahrias yang dengan cerdas membuktikan bahwa ada keteraturan yang luar bisa dalam dunia dan kehiduan yang bisa membuktikan bahwa Tuhan itu sungguh ada dan Yesus adalah realitas. Ada orang sejenis Dan Brown yang kaya raya karena bukunya The "Davinci Code" yang amat menghina Yesus, laku keras. Adapula Francis Coppola yang memvisualisasikan, di dalam filimnya, Yesus berhubungan seks dengan Maria Magdalena. Ada pula orang sejenis Mel Gibson yang secara detil mengungkapkan Iman dan Kepercayaannya kepada Yesus melalui film "The Passion of Christ". Atas nama-NYA, sekali waktu, orang bersedia saling membunuh. Atas Nama-NYA, Gereja-NYA dipecah-pecah menjadi ratusan, mungkin ribuan aliran dan denominasi, sambil sang pemecah belah yakin bahwa aliran dan denominasi bikinannya itu adalah yang paling benar. Lalu, siapa sesungguhnya Yesus ini?

Saya cuma ingin mengatakan ini: tentang DIA, saya punya pendapat dan berteori. Bukan karena saya lebih hebat dari Imanuel Kant tetapi KARENA DIA YANG MEMAMPUKAN SAYA UNTUK BERPIKIR TENTANG DIA. Mengapa saya harus dimampukan DIA? Karena saya sesungguhnya tidak mampu berpikir tentang DIA. Mengapa saya tidak mampu berpikir tentang DIA? Karena saya terbatas. Mengapa saya terbatas? Karena saya fana dan berdosa. Lho, mengapa pada akhirnya DIA mau memampukan orang berdosa seperti saya? Ya, untuk itulah dahulu DIA datang. Yesus memang datang untuk menolong yang lemah dan berdosa. Dan kita layak dipeluk-NYA. Kita layak menyapa Allah, sang Maha Pengada. Apakah betul Allah adalah maha pengada? Jawaban kawan saya yang telah kehilangan rasa percayanya kepada Tuhan, jelas terang benderang, yaitu Allah tidak ada. Jikalau Allah tidak ada maka memang kepercayaan kepada Yesus adalah absurd. Benarkah demikian?

Dalam Alkitab dikatakan bahwa Allah menciptakan dunia dalam 6 hari tetapi Teman saya membantah itu karena menurut teori ilmu, jagad raya, termasuk bumi kita tercipta di antara 13-14 milyar tahun lalu pasca ledakan besar (teori big bang). Siapa yang menciptakan ledakan besar itu? Jawaban "hipotesis ilmiah"-nya adalah singularitas. Siapa yang menciptaan singularitas? Hal ini harus dijawab karena sifat mekanistis dari ilmu pengetahuan menuntut bahwa tidak boleh ada sesuatu yang terjadi karena kenihilan mutlak. Teman saya terdiam sejenak tetapi cepat sekali dijawab bahwa hal itu adalah misteri. Rupa-rupanya jagad raya, termasuk bumi kita diciptakan oleh sesuatu yang misterius. ...... ahaaaaa.... saya mengatakan kepada kawan saya tadi bahwa ...."nah kalau begitu saya lebih beruntung dari kamu karena saya punya sapaan kepada Sang Pengada yang misterius, yaitu Allah". Saya merasa lebih beruntung karena saya punya kepastian sedangkan kawan saya hanya bisa hidup dalam misteri terus menerus. Jikalau saya percaya bahwa Sang Pengada, yang tak berawal dan tak berakhir itu, sedemikian berkuasanya maka mengapa DIA tidak bisa menyatakan diri-NYA sebagai YESUS SANG ANAK DOMBA YANG MATI DI SALIB TETAPI BANGKIT SEBAGAI RAJA DAN MENINGGALKAN KUBUR YANG KOSONG? Mengapa DIA mau menciptakan jagad raya, termasuk dunia, kehidupan dan segala pernak-perniknya? Mengapa untuk dunia yang diciptakan-NYA itu DIA harus mati di salib? Jawabnya sangat sederhana, yaitu bahwa DIA ingin menunjukkan bahwa kita tak boleh kehilangan harapan akan kasih sayang. Di dunia yang kejam dan brutal ini dan di tengah arus kasih sayang yang partikular tetap ada KASIH SEJATI YANG AM DAN TIDAK BERTEPI. Itulah KASIH ALLAH. Itulah KASIH YESUS.

SELAMAT PASKAH PUAN. SELAMAT PASKAH TUAN

Jumat, 19 Maret 2010

NTT: kritis sudah, penggurunan di depan mata, lalu apa lagi?

Dear Sahabat Blogger,

Pada awalnya adalah kedatang seorang tamu, yaitu Pak Frans Sarong, wartawan Kompas, yang menanyakan kepada saya tentang beberapa hal terkait isu Hutan Cagar Alam Mutis, Timau, TTS, NTT dan proses penggurunan di Sumba Timur. Lalu, seperti biasa, sayapun "berpidato panjang kali lebar, kesana dan kemari, kesitu dan kesini dan kemana-mana". Tak disangka dan tak dinanya, beliau tertarik atas isi "khotbah" saya itu. Katanya: ... adik ... buatlah dalam bentuk tulisan...nanti akan saya publikasikan. Sayapun menulis...kecek kecek etret etret tak tik tuk....jadilah sebuah tulisan. Tak beapa lama kemudian, saya membaca kutipan tulisan saya itu di Kompas.com. Eh, Ternyata tulisan itu juga dikutip oleh LKBN Antara, kantor berita milik republik kit. Lantas dicopy ke mana-mana oleh berbagai harian dan juga layanan berita on line. Wuueeeeelllleeeeeeehhhh. Senangkah saya? Ya iyalah. Banggakah saya? So Pasti Bung en Zoes. Puaskah saya? Tidak. Lho?????? Ya, sudah baranhg tentu tidak karena sejatinya saya adalah manusia dan menurut filsafatnya manusia itu adalah "makhluk tak sampai". Oleh karena itu, manusia sebenarnya adalah makhluk yang tidak akan terpuaskan. Saya juga begitu. Di mana ltak ketidakpuasan itu? Tulisan itu baik tetapi cara memenggalnya yang kurang pas sehingga tak seluruh pesan dalam tulisan tersampaikan dengan baik. Akibatnya, sudah 2 minggu lebih ini saya di sapa di mana-mana di Kuoang sebagai "mister gurun". Ya, tak apalah, toh pekerjaan saya adalah guru. DItambah 1 huruf "n" menjaid gurun, lumayanlah he he he he...

Tapi bukan "bangga-banggi" (bahasa indonesia opoooooo iki????? xi xi xi xi..) itu yang menjadi fokus tulisan itu tetapi diam-diam ada perasaan nelangsa yang teramat sangat setelah membaca kembali tulisan saya itu. Propinsi tempat saya dilahirkan, dan oleh karena itu disebut tanah air saya, ternyata adalah propinsi yang "sangat bermasalah" kondisi lingkungannya. Untuk teman-teman setanah air NTT dengan saya dengarkan ini: saya, anda, kita semua sering teramat membanggakan tanah air kita NTT kita initetapi tahukah anda bahwa menurut citra satelit pada tahun 2007, dari total luas lahan daratan NTT 4,7 juta ha, terdapat 4,3 juta ha lahan kritis? NTT kita adalah juara "kakorek" jika berurusan dengan tingkat kesejahteraan tetapi adalah "kampiun" dalam urusan kerusakan sumberdaya lahan. Dengan curah hujan sekitar 1500 mm/tahun, tanah air kita diberkati Tuhan dengan potensi air sebesar 18 milyar meter kubik tiap tahun. Lalu kita memakainya sebanyak 6 milyar meter kubik. Wah, ada sisa 12 milyar meter kubik. Bagus bukan? Bukaaaaannn eeehh....Tidak. Ternyata kita tidak pernah mengalami surplus air. Nyata Ter....ternyata ....faktanya .... kita selalu mengalami defisit air sebesar 2,82 milyar meter kubik tiap tahun. Lho, kok bisa? Ya bisa dong. Hutan kita yang seharusnya berfungsi untuk menahan air hujan lebih lama di tanah, dalam bentuk "water table" kita tebangi terus menerus. Kita bakar terus menerus. Dahulu, pada sekitar tahun 1960 - 1970-an hutan NTT masih sekitar 20-an persen. Sekarang tinggal sekitar 11%. Di Pulau Sumba, hutan tinggal 6 - 7% dari total luas lahan. Data dari UNCCD tahun 2007 menunjukkan bahwa ada 3 daerah di Indonesia yang terancam proses penggurunan, yaitu NTT, NTB dan Sulawesi Tangah. Lalu dalam kontes "gurun idol" tersebut, pemenang nomor wahidnya adalah NTT..... horeeeeee...hip hip huraaaaaa. Hal ini bukan gosip atau isu murahan karena penlitian saya di Wairinding, Pandawai, Sumba Timur membuktikan hal itu. Proses penggurunan sudah menghadirkan "semerbak-nya" di NTT.

Menyedihkan. Nasib kita ternyata memang tak menentu. NTT = Nasib Tak Tentu. Tapi anehnya, tiap-tiap tahun selalu ada proyek atau program (yang isinya adalah proyek juga). El Tari dahulu bilang: tanam tanam sekali lagi tanam. Ben Mboi dulu berkicau: operasi nusa hijau. Fernandez omong: gerakan menanam 100 juita pohon. Lebu Raya berpidato: tanam dan rawatlah. Departemen Kehutanan bertekad: OMOT (one man one tree). Berhasilkah? Fakta yang ada menunjukkan bahwa seruan di masa lalu telah gatot. Gagal Total. Bagaimana dengan seruan terbaru? NTT. Nanti Tunggu Tahun-Tahun yang datang. Tapi maaf, melihat cara-cara berpikir dan cara bertindak kita semua, sampai dengan diskusi saya yang terakhir bersama beberapa stajeholder di Hoitel Sasando, Kupang, saya tidak begitu yakin. Betapa tidak, dalam bayangan para pengelola lingkungan hidup kita di NTT, termasuk rakyat itu sendiri, masih memandang orang hanya sebatas obyek. Lingkungan hidup masih semacam obyek seksi yang layak jual demi menglairnya proyek dan program. Cilakanya, sayapun ternyata sedang berkubang dalam "jebakan lumpur" yang sama. Lalu bagaimana? Menurut hemat saya, kita rubah cara berpikir kita. Kita ikuti cara berpikir dalam filsafat manusia. Rubah perilaku dahulu keterampilan dan kekayaan mengukuti kemudian. Bahkan, saya mengutip Alkitab, Tuhan membangunkan terlebih dahulu kesadara manusia. Tanggungjawab manusia ..... "semua boleh kau makan kecuali yang satu ini"....

Bisakah kita memetakan persoalan hutan dan penggurunan di NTT dengan lebih baik dan lalu menggerakan hati dan pikiran kita bahwa ... ini tanggungjawab kita semua .... Dalam keadaan begini saya teringat akan seorang petani di Desa Nenas, Timor Tengah Selatan kaki puncak tertinggi G. Mutis yang merupakan hulu 2 DAS paling besar di Timor Barat dan merupakan suatu desa yang amat sangat terpencil. Setelah diadvokasi oleh saya dan kawan-kawan dari ForDAS NTT, beliau amat gemar menanam. Ketika kami mengidentifikasikan bahwa mutu hutan di desanya mulai terdegradasi lalu mencarikan anakan tanaman bambu sebanyak 20.000 anakan untuk ditanam tanpa ragu semua anakan itu ditanam habis di sepanjang daerah aliran sungai yang melintasi desa itu. Yang mengejutkan adalah beliau grima kasih keemar menaman kembail setiap anakan yang ditemukan sudah mati mengering padahal masyarakat di sekitarnya hanya diam berpangku tangan. Pak Simon Sasi, begitu namanya. Saya pribadi memberi arti SASI sebagai sarjana ahli segala ilmu dan beliau tersipu tiap saya panggil begitu. Mengapa hal itu dilakukan oleh Pak Simon? Jawabnya adalah ....."Saya hanya punya cinta kepada Tuhan yang sudah menciptakan semua yang saya perlu. Saya cuma mau berterima kasih kepada Tuhan". Kawan setanah air Nusa Tenggara Timur yang terkasih, maukah kita belajar dari moralitas yang dimiliki Pak Simon?.

Untuk semua usaha Pak Simon yang tak kenal lelah untuk terus menanam dan merawat, sekaligus menghimbau semua anak negeri NTT melakukan hal yang sama, saya hadiahkan lagu cantik dari John Denver. Salah satu dewa musik bergenre Country. Lagu ini berjudul Garden Song yang berceritera tentang menanam seinci demi seinci. Sebaris demi sebaris. lalu rawatlah dengan penuh kasih. Iringi usaha itu dengan doa karena kita memerlukan pohon-pohon itu demi masa depan bumi kita. Masa depan kita sendiri. Dapatkah? Seharusnya bisa.

The Garden Song

Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 15 Februari 2010

Samuel Moerdiono: kepastian masa lalu kebahagiaan masa depan

Dear sahabat blogger,

Maafkan saya karena lama absen dari blog. Banyak kesibukan yang menyebabkan badan terasa amat penat. Kepenatan menyebabkan pikiran agak buntu. Ingin menulis tetapi pikiran dan gagasan tak berjalan sempurna. Daripada dipaksakan dan hasilnya mengecewakan, lebih baik diendapkan saja dahulu. Siapa tahu karena kelamaan tidak mem-posting lalu timbul inspirasi-inspirasi baru. Lamo indak basuo lantas timbul kerinduan. Lalu dalam kerinduan yang membuncah timbulah gagasan yang akan mengalir deras menabrak semua hambatan dan kebuntuan. Dan, begitulah, jadilah tulisan ini. Tetapi benarkah sebuah kerinduan dapat membangkitkan kreativitas? Saya menjawab ya. Mau bukti? Silakan saja ditanya satu-satu kepada para penggemar jejaring sosial yang amat gemar mencari-cari dimana kawan-kawan lama mereka. Sekali bertemu, serasa dunia berguncang. Kenangan lama diputar kembali dan ... wow .. kata berlari, ucapan bertaburan dan lalu semuanya kembali normal. Kreativitas kembali lancar. Dan memang adalah kerinduan kepada para sahabat blogger yang sudah saya tinggalkan 1 bulan lamanya, yang mendorong kembalinya saya ke dalam blog. Tidak hanya itu, sayapun punya satu ceritera yang mungkin menarik untuk dibagikan kepada semua sahabat blogger guna membuktikan bahwa betapa kerinduan dapat menjadi sumber inspirasi. Apa itu? Ikuti saja tulisan ini baik-baik.

Dahulu kala, seumuran masa SMA saya memiliki beberapa sahabat baik. Seingat saya ada beberapa nama, di antaranya adalah Andre Pitanuki, Tom Fono, Edi Sugiarto, Frans Sapa, Adrianus Wenipada, dan...wah masih banyak lagi. Teman-teman ini agak khusus karena sudah teramat lama sejak masing-masing kita berpisah, lalu tak pernah lagi berjumpa. Beberapa nama sahabat lama semenjak SMP-SMA seperti Oris Ballo, Agus Nalle, Matheos Lalus, Edwin Lazarus, Papi Telupere dan yang semacam mereka tidaklah menimbulkan kerinduan karena nyaris tiap hari bertemu. Bahkan bertemu dengan manusia seperti Mister Agus Nalle cenderung membosankan. Betemu dengan Oris Ballo malah menakutkan karena sekarang dia menjadi atasan yang berkewenangan memberi penilaian kinerja saya sebagai Dosen PNS. Bertemu DR. Papi Telupere juga tergolong membosankan karena kami malah tinggal bertetangga. Lagi pula tingkah lakunya suka bikin susah ha ha ha ha (sori mister Papi he he he). Nah, semua sahabat lama yang menghilang itu ternyata menimbulkan kerinduan. Diam-diam ada kerinduan akan suasana bersama-sama seperti dahulu ketika sama-sama masih “polos” dan “naif”. Kami mengira dunia amat luas nyatanya cuma seputaran rumah, sekolah dan angkot. Dunia serasa luas kendati nyatanya cuma seputaran mencabut singkong yang tumbuh di halaman orang lain atau, bahkan, “mencuri” ayam milik guru sendiri...ha ha ha ha....Banyak ketengilan yang terjadi. Memalukan memang tetapi indah.

Salah satu di antara banyak nama itu adalah Samuel Moerdiono. Dia sahabat baik saya. Bukan sekedar sahabat, kami pernah terlibat dalam beberapa pekerjaan bersama-sama. Kami mengamen berdua ke mana-mana. Mula-mula kami kompak tapi saya berulah. Saya menjadi tak begitu fokus dengan pekerjaan bersama itu lalu saya pergi begitu saja. Tetapi tak lama kemudian, kami bertemu kembali dan proyek dilanjutkan lagi bersama-sama. Kali ini, di tengah jalan, saya merasa gantian Samuel yang tak fokus. Dia tak fokus lagi kepada komitmen kita berdua. Bahkan, sekali waktu, saya merasa, Samuel menghina saya. Di depan saya Samuel “tega” berkata begini: “lagumu sudah tak enak lagi” ... “aransemenmu sudah tak menarik lagi”..."kamu kampungan". Merespons "penghinaan" dari Samuel, sayapun bersikap: "Baiklah, jikalau kamu mulai menghina maka kamu bukan lagi teman”....”kamu adalah musuh”....Lalu, ...zzzzppppp....kami berpisah.... tak mau lagi saya berkomitmen apapun dengan dia .... korelasi kami terhenti total .... bukan cuma setahun dua tetapi puluhan tahun lamanya. Saya menutup buku untuk kisah persahabatan kami. Saya balik ke Kupang. Dia entah kemana. Sesudah itu, tak ada lagi rekam jejak dia yang saya dengar. Saya sungguh tak perduli. Diapun mungkin begitu. Cuma sekali waktu sempat terdengar kabar bahwa Samuel terus menetap di di luar NTT tetapi karir seninya tak ada apa-apanya lagi ... ”rasain lu” ... ”Su rasaaaa” ... “Bodo’” .... “ke laut sajalah” .... demikian saya membatin. Saya lalu melupakan salah satu cita-cita saya dan fokus hanya untuk dunia pendidikan. Dan jadilah saya dosen. Sampai hari ini. Sekali dua masih menyanyi. Hanya untuk bikin senang hati.

Lalu, tak disangka dan tak dinyana, datanglah Desember 2009. Waktu itu ada kegiatan pertemuan Nasional di Jakarta. Saya hadir karena diundang sebagai peserta dan juga pembicara. Ketika mendaftar, di dalam formulir pendaftaran peserta, kami diminta untuk menulis nama, alamat, pekerjaan dan nomor HP. Saya taat urusan itu. Lalu, masuk ke kamar beristirahat di hotel jangkung dan hebat mewah. Menikmati fasilitas kamar yang luxury (maklum orang kampung masuk kota he he he he...). Ketika sedang diam di kamar Hotel sambil mempersiapkan bahan presentasi, tiba-tiba HP saya berbunyi. Heiii...ada SMS di HP. Bunyinya begini .... “salam hangat untuk orang Kupang” .... Ada apa ini? Siapa ini? Nomor ini tak saya kenal ... Saya membalas : “mohon maaf, ini dengan siapa?” .... Tak lama kemudian SMS saya berbalas calling ...”turunlah ke lobby, kita ketemu. Kita teman lama, lu pasti tahu siapa beta” ... lalu ... click.... HP ditutup ... Saya bingung, rasanya dari Kupang cuma saya yang diundang. Mengapa ada yang tahu saya di sini? Atau barangkali ada orang lain atau kebetulan ada orang Kupang yang melihat saya di lobby lalu menelepon...saya tengok jam tangan saya...he he he...sudah mendekati jam makan malam...siapa tahu “si mister gelap” adalah teman yang mau mengajak makan malam...wuuiiihhh ... kesempatan ... mumpung panitia belum menanggung makan malam. Naluri oportunis merangkak diam-diam.

Dengan tanpa beban sayapun turun ke lobby hotel melalui lift. Ketika pintu kift ke arah lobby terbuka, saya berpikir untuk mengetahui terlebih dahulu..siapa gerangan “mistery caller” tadi...hmh..sayapun membuka HP dan melakukan pemanggilan. Lalu, mata saya awas ke kiri dan ke kanan. Barang siapa yang mengangkat HP, maka kemungkinan besar itulah si mister mistery caller...huuuppp...satu dua tiga....dan saya ulang 3 kali upaya miscall dan ... nah itu dia...ada seorang pria berambut panjang, berbaju merah dan menyandang ransel hitam besar yang 3 kali mengangkat HP lalu menurunkannya lagi ... diam-diam saya mendekatinya...dan ketika berjarak sekitar 5 meteran.....wuuuuzzzzzz.....saya bisa memastikan bahwa si mistery caller itu adalah sabahat sekaligus musuh saya selama puluhan tahun lamanya....anda sudah bisa menebak siapa dia ... ya, dialah Samuel Moerdiono ... tapi drama belum berakhir... dalam jarak sekitar 1 meter darinya saya pun mengangkat HP lalu melakukan calling....”Hallo Kawan, saya sudah di lobby, anda di mana? ...dia menjawab: heeeiii...posisi di mana??? Saya menjawab perlahan: .... balikkan badanmu kawan, saya tepat berada di belakang mu...dan blammmm....saya melihat dia terpana sejenak, sayapun demikian, dan, akhirnya ... kami berdua berpelukan.....kami berdua sama terharu....ternyata, sahabat sejati adalah sahabat yang selalu saling merindu .... sekali sahabat tetaplah sahabat ... kebencian di antara kami ternyata adalah kerinduan yang dipendam. ..

Saya: Sam, dari mana kamu tahu bahwa saya ada di sini?

Samuel : dari buku regisitrasi peserta....hei ada nama L. Michael Riwu Kaho....itu cara teman lama saya kalau menuliskan identitas...lalu saya periksa....ho ho ho ... berasal dari Kupang ...tak mungkin salah...pasti si mike, sahabat yang saya benci tetapi diam-diam saya rindukan....saya memastikan ke petugas bahwa memang LMRK adalah peserta dari Kupang...

Saya : ha ha ha ha ... masih cerdik seperti dahulu ya....

Samuel : ha ha ha ia lah .... lalu saya mencatat no HP mu...begitulah kawan...hei...kamu tidur di kamar mana?....saya akan minta ke panitia untuk pindah ke kamar itu ... (begitulah, sampai acara berakhir saya dan Samuek sekamar)......Mike...masih marah kah kamu? .... maafkan kesalahan saya dahulu....saya menyesal telah menghina kamu ...

Saya : Sam, kita sudah tua dan tak pantas menambah musuh....saya memaafkan kamu dan saya harap kamupun memaafkan saya ..... kita sahabatan lagi ya....

Lalu kami berdua sekamar dan di kamar kami nyaris tak tidur...ngobrol ke sana ke mari dan di antaranya adalah ini....

Saya : Sam, saya tak bermimpi lagi jadi penyanyi. Cukup jadi dosen saja. Pahalanya banyak.....

Samuel : Mike, sayapun tak bermusik lagi...saya menjadi .... (petinggi di LSM yang berurusan dengan orang-orang luar negeri)...tetapi saya bangga juga bahwa kamu looking smart kendati cahig mu masih mirip dukun ... seperti dahulu... hei kamu Ph.D holder kan? Saya tidak ...

Saya : iya, tetapi apalah saya ini .... cuma punya ilmu .... tidak kaya seperti kamu ...

.... dan memang saya melihat Samuel hidupnya makmur.. Tajir.banget die. Harumnya adalah harum berkelas sedangkan semprotan anti BB saya adalah barang dengan kelas yang jika saya semprotkannya, isteri sayapun akan protes keras...hei, bikin batuk saja ha ha ha ha .... Kendati begitu ternyata kami berdua adalah orang-orang gagal untuk satu cita-cita tetapi berhasil untuk mimpi yang lain. Aha, semangat karena bertemu sahabat lama menyebabkan kami berdua sangat produktif. Dalam kelompok diskusi, kami berdua meluncurkan banyak ide-ide gila dan anehnya diterima. Lalu, dia bersepakat untuk men-support pekerjaan saya dengan peluang-peluang pendanaan yang bisa dia usahakan...(Ah, sahabat baikku Sam, saya tak memerlukan kucuran danamu ... mengetahui bahwa kita bisa berteman kembali cukuplah sudah).

Sahabat blogger terkasih, demikianlah dramaturgi kisah pertemuan kembali antara saya dan mister Samuel. Aneh, lucu dan mengharukan tetapi juga produktif. Pertanyaannya adalah mengapa saya, anda dan juga banyak manusia lain selalu merindukan suasana-suasana lama ketika hidup harus terus berlari ke masa depan. Mengapa absen 1 bulan dari blog menimbulkan kerinduan? Lihatpula apa yang dibicarakan di antara sahabat-sahabat lama di facebook misalnya. Tengok pula acara musik memori 60-an, 79-an dan 90-an. Jawabannya ternyata sangat filosofis. Begini.

Manusia terdiri atas materi dan roh. Materi bersifat terbatas. Jika anda berada di Kupang, tak mungkin anda berada di Jakarta pada saat yang bersamaan. Tetapi dengan roh yang ada, anda yang sedang rapat kerja di Jakarta, bisa menghampiri isteri atau suami anda di rumah masing-masing pada saat yang sama. Tangan anda baru saja menandatangani tanda terima uang lelah rapat tetapi pikiran anda melayang....”aha, isteri saya akan tertawa senang melihat tumpukan uang ini”. Dengan demikian terjadilah paradoks manusia dalam urusan “adanya”. Manusia materi adalah “tingkat ada yang lebih rendah” ketimbang manusia roh yang merupakan "tingkat ada yang lebih tinggi". Secara metafisis kita akan menyebutkannya sebagai “unfolding of being”. Dalam filsafat Tuhan kita bisa menggunaan urusan “unfolding of being” ini guna menemukan jalan menuju Tuhan. Tetapi saya belum akan ke sana kali ini. Saya masih mau berbicara tentang manusia.

Dalam urusan manusia, prinsip “unfolding of being” akan membawa kita kepada kesadaran bahwa manusia adalah manusia hidup dalam situasi serba terbatas (faktisitas) tetapi di dalam keterbatasannya itu, terbuka banyak kemungkinan (atau kebebasan). Coba kita telusuri kisah orang yang menerima uang rapat tadi. Selain yang sudah saya tulis, ada kemungkinan lain bahwa seterimanya uang di tangannya dia malah berpikir tentang nikmatnya makan nasi goreng atau ... jangan-jangan ...ehmmm....membeli mobil maksud saya (jangan ngeres ya...ha ha ha ha...). Singkat kata, bersebelahan dengan keterbatasan adalah tersedianya banyak kebebasan. yang ditawarkan oleh aneka kemungkinan. Kemungkinan yang banyak itu menyebabkan manusia bisa terlepas dari keterbatasannya tetapi sayang, itu cuma sejenak. Ketika semua kemungkinan ingin diwujudkan sekaligus, manusia akan menemukan diri bahwa dia adalah terbatas. Apakah cukup uang Rp. 500.000,- untuk membeli mobil mewah kecuali sekrupnya doang???? Kata Snijders (1994) alasan itulah yang menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk “tak sampai”. Selalu mau kemana-mana tetapi tak sampai-sampai. Selalu banyak maunya tetapi hanya sedikit yang bisa diraih. Dengan wawasannya, manusia ingin meraih sebanyak mungkin cita-cita ke masa depan....kata Bung Karno: “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit” ... tetapi makhluk tak sampai ini kerap putus asa karena tidak semua cita-cita bisa diraihnya. Lalu, afeksi manusia memerintahkan begini ...”ketimbang putus asa melihat masa depan yang tak semuanya indah maka lebih baik kamu melihat apa-apa yang sudah kamu miliki, maka kamu akan lebih tenteram”. Bagaimana cara untuk mengusir duka masa depan? Caranya adalah berbahagialah dengan apa yang kamu miliki di masa lampau. Itulah titik atau modal awalmu. Lalu, kita bisa memulai perjalanan lagi dari titik awal itu untuk menggapai masa depan?. Oh, manusia ternyata mencari kepastian dan itu hanya dimiliki oleh apa yang ada di masa lalu. Ya, masa lalu menjanjikan kepastian. Morning has broken like the first morning. “Marilah kita memulai hari baru seperti ketika kita memulainya pertama kali dahulu”. Begitulah, ke masa lalu itulah, manusia akan menengok ketika dia bimbang menatap masa depan. Anda tahu kini mengapa kita suka menengok masa lalu?

Ya, saya mengenang Samuel Moerdiono karena dia mengingatkan saya bahwa menghadapi masa depan yang serba tak pasti saya masih memiliki kepastian di masa lalu. Di situ saya menemukan ispirasi-inspirasi baik untuk tak ragu terus berjalan menuju masa depan. Mungkin ke depan tubuh saya akan makin renta tetapi bukankah ketika masih muda badan saya tegap, langsing , sehat dan gagah? Ah, jikalau begitu mari coba saya hidup lebih sehat supaya bisa tetap energik kendati usia bertambah. Sayapun harus mengenang masa ketika saya sangat aktif memposting artikel-artikel baru dan akhirnya saya bersemangat untuk memposting lagi artikel baru hari ini. Alasan yang sangat rasional untuk mengenang masa lalu bukan?. Maka, jangan malu mengenang masa lalu. Semua bisa kita pakai sebagai modal untuk perjalanan memasuki masa depan. Nah bagi anda yang tertarik untuk mengenang masa lalu demi energi positif ke masa depan maka ijinkan saya menemani perjalanan wisata anda ke masa lalu dengan sebuah lagu cantik dari Julio Iglesias dan Willie Nelson berikut ini.


Tabe Tuan Tabe Puan