Tampilkan postingan dengan label (maunya) filsafat manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (maunya) filsafat manusia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2011

hidup yang berkabut

Dear Sahabat Blogger,

Sekarang bulan Juli. Sudah setengah jalan hidup kita di tahun 2011. Januari sampai Juni adalah fakta yang sudah terjadi. Lantas, Juli dan sampai nanti Desember adalah prediksi, harapan dan kira-kira yang bisa saja benar bisa saja salah. Semua adalah probability yang pasti. Pasti karena hidup memang harus selalu terus maju ke depan. Probability karena tak ada satupun yang pasti. Kepastian adalah 1 per sekian. Sisanya adalah ketidakpastian. Uncertainty. Hampa. Fana. Sebuah Kitab tua memberi prespektif bahwa hidup mungkin seperti uap. Ada sebentar lalu lenyap. Hidup adalah kepastian adanya uap tetapi sekaligus probability karena bisa ada lalu tiada. Peluang ada 0.5 lalu 0.5 lainnya adalah tiada. ... hhhooouuugggfffffff.....

Maka tidak kamoe ketahoei entah apa akan djadi pada esoek itoe. Boetapakah hidoepmoe? Adalah ija-itoe laksana oewap, jang kalihatan sabentar sadja, kemoedian lennjaplah ija. (Yak. 4:14, Klinkert - 1863).

Sebuah tag status di jejaring sosial FB hari ini, yang diinput oleh Logo Riwu Kaho, adik saya yang sepupu, bunyinya seperti ini:

BERITA DUKA : Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, Adriana Bolla (Tanta Ana) , istri dari Paulus Para He (Om Para) pada Jumat, 01 Juli 2011 di Ponu (Wilayah Kab. TTU) akibat kecelakaan lalulintas. Jenasah saat ini sudah dibawa ke Atambua dan disemayamkan dirumah duka di Kampung Tini, Atambua. Kami keluarga besar Do Namata menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga penghiburan dari Tuhan Yesus akan selalu mewarnai hidup kita semua terutama bagi Om Para, Yuni, Chris, Rio dan Ina

Saya perkenalkan pelakon-pelakon dalam ceritera awal Juli 2011 ini seperti di atas. Logo Riwu Kaho adalah anak dari Bapak Yakob Riwu Kaho (bapa Ako) almarhum yang adalah kakak sulung dari Ayahanda saya, Robert "SGT" Riwu Kaho. Di antara kurun waktu 1968 - 1971, saya tinggal di Atambua, di rumah bapa Ako, dan pada saat yang sama tinggal pula di rumah itu Om Para He (Paulus Para He). Kerabat dekat keluarga Riwu Kaho yang berasal dari Namata, Sabu. Beberapa tahun kemudian, ketika saya sudah kembali tinggal bersama orang tua di Kupang, gantian Om Para He yang, karena urusan sekolah, pindah ke Kupang dan tinggal di rumah kami sampai menamatkan pendidikan SLTA-nya. Adalah bapa Robert Almarhum yang mengurusnya sampai mendapatkan pekerjaan dan lalu menguruskan pula pernikahan Om Para dengan Isterinya yang bernama Adriana He-Bolla. Dari pernikahan tersebut lahirlah 4 orang putra dan putri, yaitu Yuni, Chris, Rio dan Ina. Tante Ana itulah yang diberitakan meninggal.

Diberitakan bahwa pasangan Suami-Isteri tersebut berboncengan pulang dari acara keluarga di Ponu, suatu tempat yang berjarak sekitar 40 km arah timur Kota Atambua. Di tengah perjalanan kecelakaan terjadi. Sebuah dumptruck berukuran raksasa menabrak motor yang dikendarai mereka berdua lalu Om Para terlempar ke arah kiri, yaitu ke arah bahu jalan, sedangkan Tante Ana terlempar kearah kanan, yaitu ke arah punggung jalan. Karena dumptruck masih terus bergerak lurus ke depan maka tubuh Tante Ana-lah yang dijumpai oleh ban-ban besar itu. Lalu....RIP. Mari kita lihat drama tragis ini. Bayangkanlah suasansa sepanjang pagi sampai kedua kekasih itu bepergian ke arah tujuan lalu beracara di sana. Semua berjalan normal tanpa ada yang tahu bahwa hanya itulah saat-saat terakhir mereka bersama berpasangan hidup di dunia. Dalam hitungan beberapa jam, menit, dan detik ke depan mereka akan segera berpisah. Perpisahan yang ultimat final. Apa rasanya? Mengapa? Tak ada jawaban ultimat kecuali sejarah peluang. Seandainya tidak pergi. Seandainya pergi menumpang angkutan umum. Seandainya tidak buru-buru pulang. Seandainya tidak jatuh ke arah kanan. Sekali lagi, semua hanya tinggal probability. Lalu, apa itu hidup? Probability-kah? Kepastian-kah?

Ada banyak pintu untuk menemukan jawaban, dan sekaligus mungkin tidak ada pintu yang di dalamnya berisi jawaban. Mengapa demikian? Kata seorang guru saya semasa SD di Atambua, Belu - kalau tak salah nama beliau adalah Wilhelmus Wila Hida - bahwa kata manusia terdiri dari 2 suku kata, yaitu manu dan sia. Manu dalam bahasa Sabu adalah ayam lalu dengan demikian manusia adalah ayam yang sia-sia. Mendengar deskripsi itu saya tertegun dan kata-kata bapak guru saya itu terus melekat sampai sekarang ini. Manusia adalah ayam yang sia-sia. Sudah barang tentu deskripsi semacam itu tidaklah seluruhnya benar tetapi secara kategorial lihatlah kesamaannya dengan apa yng dikatakan oleh Nietszche bahwa hidup adalah nihilisme. Kita bisa berdebat bertahun-tahun tentang ini tetapi lihatlah kepastiannya. Ternyata adalah ketidakpastian. Lalu harus bagaimana, karena bukankah manusia selalu memastikan sesuatu supaya tidak gelisah? Tapi jikalau ini pertanyaannya maka pertanyaan lainnya adalah bukankah setelah menemukan jawaban atas pertanyaan, lalu manusia gemar mengajukan pertanyaan baru? Bukankah dengan demikian ketidakpastian selalu merupakan resultante pekerjaan manusia?

So, jalani saja hidup karena itulah hidup. C'est la vie.. Anda yang merasa memiliki pedoman hidup yang kuat dan karena itu tidak lagi perlu terlalu ragu-ragu ya jalankan saja. Anda yang mengatakan bahwa kepastian itu nihil maka hiduplah dengan cara anda. Cuma saja, menurut hemat saya, sebenarnya apakah kepastian ataukah ketidakpastian pada logikanya adalah kepastian, Begitu bukan? Jika kita mengikuti logika Kitab Tua, tahulah kita bahwa uap adalah eksis sebagai materi hasil pengubahan bentuk air yang dipanaskan. Selama ada air dan ada pula proses pemanasan maka uap akan selalu eksis. Ilmu fisika, kimia dan klimatologi mengkonfirmasi itu. Persoalannya adalah kadang uap air kasat mata terlihat, kadang tidak. Atau di sini kelihatan tetapi di sana tidak. Di sini uap tampak berlimpah membentuk kabut tetapi di sana hanya ada udara bening. Rumusannya lalu, uap itu pasti ada sepanjang syarat-syarat adanya ada. Tetapi soal kelihatan tidaknya adalah probabilitas tergantung syarat-syarat agar uap terlihat. Kemarin anda begitu terkenal dan populer. Besok luas anda tak lagi dikenal karena semua syarat-syarat untuk terkenal telah menunggalkan anda. Hari ini anda muda dan perkasa. Besok lusa tua, ringkih lalu menghilang.

Maka begitulah hidup itu. Akan selalu ada kecuali tak ada lagi sang Pengada yang mengadakan dan peluang kearah itu hampir pasti = 0 kendati Nietszche mengaku sudah membunuh sang Pengada. Atheis mengatakan sang Pengada itu sebagai misteri sedangkan Theistik menyapa Sang Pengada sebagai Tuhan. Soal bahwa apakah hidup anda itu tampak dan diperhatikan oranag lain ya itulah urusan pergumulan kita tiap-tiap hari. Anda rajin bekerja, tekun dan produktif maka mudahlah anda terlihat bahkan kenagan tentang anda akan hidup terus dalam kenangan orang-orang jauh setelah anda tak lagi kelihatan. Sebaliknya, jika anda adalah tumpukan kemalasan, pasif dan tak berdaya upaya ya jangan salahkan orang lain jika anda tidak dianggap ada kendati anda nyata-nyata ada. Uap yang bernama si ini dan si itu, termasuk Tante Anna He-Bolla kemarin lusa tampak tetapi hari ini tak nampak. Tetapi dia pasti masih ada. Percayalah. Jenderal Douglas McArthur mengatakan bahwa "the old soldier never die, they just fade away". Anda, saya, dan kita semua pada dasarnya ya begitu itulah: antara ada dan tiada laksana kabut. C'est la Vie.

manusia - koes plus


Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 13 September 2010

antara jakarta dan bekasi

Dear Sahabat Blogger,

Dua bulan "menghilang" dan baru hari ini kembali. Ada yang protes. Ada yang biasa-biasa saja. Apapun, maafkan saya. Tetapi jeda dua bulan ini, bagi saya pribadi, memang perlu. Saya jenuh dan hilang rasa kepingin menulis. Kenapa jenuh? Lelah karena terlalu banyak janji pekerjaan yang harus saya tunaikan. Semoga dipahami. Semoga dimengerti. Kita masih sahabat-kan?

Hari ini saya memutuskan untuk kembali menulis. Pertama-tama karena saya merindukannya .... ya untuk menulis itulah...tetapi hal berikutnya adalah, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya...apa itu? antara jakarta dan bekasi...wheeeladhalalllahhh...apa-apaan nih? dulu chairil anwar menulis tentang antara krawang dan bekasi...apakah ada kaitannya dengan hal ichwal itu? bisa saja begitu kendati lain nuansanya...bagaimana???? begini ...

Di hari Lebaran I 2010, terbetik berita .... Johny Malela, pengemis buta yang mengangsurkan dirinya di Istana Negara, Jakarta, berharap rejeki Lebaran diberitakan rebah berkalang bumi .... mengenaskan, sangat mengenaskan ... bayangkan, belum lama ini diberitakan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia sudah menurun ... keberhasilan SBY, katanya tetapi Johni dan banyak yang lainnya yang berdiri di antrean para peminta sedekah rela mati hanya demi serupiah dua rupiah ... jikalau kemiskinan di hitung berdasarkan pengeluaran per hari 10.000 rupiah...maka Johni dan kawan-kawan itu apa namanya???? Pertanyaan lain adalah, Johni mati karena apa? Terinjak-injak. Oleh siapa? Sesama pengharap sedekah....ternyata orang miskin mati terinjak mereka yang juga miskin. Di mana mereka yang berpunya? Dalam setiap berita seperti itu, tak pernah dinyatakan bahwa si pemberi sedekah mati terinjak-injak...si kaya ternyata punya keistimewaan, yaitu amat kecil peluang untuk mati terinja-injak si miskin....hati-hati dengan si miskin karena mereka adalah pembunuh sekaligus korbannya .... mammma miaaaaaaa.....

Di hari kedua Lebaran 2010, kita mendengar berita lain yang tak kalah tragis .... di bekasi, kota di sebelahnya Jakarta, seorang Jemaat HKBP ditusuk seorang durjana dan kawaan-kawannya. Tertembus perutnya sampai mencapai organ hati. Lalu, setelah jatuh rebah ke tanah, si Asia, begitu si tertusuk hendak ditolong seorang polisi dan seorang pendeta perempuan. Baru beberapa meter berjalan si pendeta dihajar menggunakan sebatang kayu papan...praaaaaakkkkggghhhhh gedubraghhhhh...roboh juga si ibu Pendeta .... aaahhhh kasihaaaaaannn...tagal perkara apa ini? Oh, ternyata ada kaitannya dengan tak bisanya Si Asia dkk. Jemaat Gereja HKBP beribadah secara leluasa.... ooohhhhh .... di mana kejadiannya??? Di bekasi. Di Negara manakah kota bekasi itu berada? Di Indonesia. Negara Pancasila katanya. Siapa pelakunya? "Masih dicari", kata pak Polisi kendati gambar video kekerasan di tempat yang sama yang dilakukan oleh yang bersangkutan pada tanggal 18 Agustus sudah ada di tangan Pak the Police. Ooooaaaalaaaahhhh....hati-hati menjadi orang seperti si Asia di Negeri Pancasila ini karena di mana dan kapan saja anda bisa ditusuk karena anda berbeda dari dari mayoritas lainnya ...

Tapi, kegelisahan saya berakar bukan pada hal-hal yang sangat kentara seperti itu ttapi lebih mendasar lagi, yaitu .... DI PANDANG SEBAGAI APA ORANG SEPERTI JOHNI MALELA DAN ASIA + IBU PENDETA BAGI SI PEMBERI SEDEKAH, SI PENGINJAK DAN SI PENUSUK DAN BAHKAN BAGI ANDA DAN SAYA? Sesama manusiakah atau cuma sekedar seonggok barang?

Saya lalu teringat 3 jenis relasi yang bisa terjadi di antara orang-orang atawa manusia, yaitu relasi "aku-itu", "aku-dia" dan "aku-engkau". Dalam pola relasi "aku-itu" sesama adalah obyek. Sesama dipandang dari segi pragmatis. "Si itu saya perlu sepanjang dia ada gunanya, uangnya banyak, kedudukannya tinggi, atau wajahnya cantik". Jika semua yang saya perlukan sudah tak ada lagi maka tamatlah si itu bagi saya Mati sajalah. Sartre mengatakan bahwa relasi "aku-itu" adalah kebencian. "Bencilah semua orang maka kau akan hidup. Bencilah Tuhan supaya kau jadi Tuhan", begitu amanat Sartre si Ateis besar. Maukah anda sepaham dengan Sartre? Apakah si penusuk Asia bukan golongan ini?

Pola relasi berikutnya adalah "aku-dia". Dalam pola ini, sesama bukan obyek tetapi subyek. "Saya subyek dia juga subyek". "Sesama bus kita jangan saling mendahului". " Sesama subye tak perlu salig mengobyekan". "Urusanmu adalah urusanmu sendiri". "Kau mau mati, mau hidup, mau sakit, mau bahagia, adalah urusanmu sendiri". "Jangan dekati aku karena aku tak mendekati anda". Aku dan dia netral. Acuh tak acuh. Sidang pembaca, andakah golongan itu? Jangan-jangan Johni Malela dkk. ada di kelompok ini.

Pola relasi yang satunya lagi adalah "aku-engkau". "Aku ini unik, engkau juga unik jikalau dua keunikan digabung dan ber-koeksistensi damai maka dunia punya dua makhluk unik dan membawa bahagia". "Ini kelebihanku dan di sana kelemahanku, manfaatkanlah kelebihanku dan tutupilah kelemahanku dengan kelebihanmu, maka indahlah hidup". Relasi ini adalah relasi sosial antara manusia.

Bagaimana anda melihat hubungan antara anda dengan sesamamu yang se kampung, se Gereja, se Mesjid, se Pura, satu nusa, satu bangsa? Yang mana di antara 3 pola relasi yang saya uraikan yang benar-benar sedang anda jalani. Jika anda, dan juga saya, adalah si pembenci dan si acuh tak acuh maka .... ke laut saja loe karena loe bukan orang tapi, mungkin, .... monyet .... ya, kera yang berpendar antara jakarta dan bekasi lalu ke segala penjuru mata angin sambil menebar kebencian. Tanpa malu.

Cuma itu, sidang pembaca yang budiman. Cuma itu yang bisa saya tulis kali ini


Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 15 Februari 2010

Samuel Moerdiono: kepastian masa lalu kebahagiaan masa depan

Dear sahabat blogger,

Maafkan saya karena lama absen dari blog. Banyak kesibukan yang menyebabkan badan terasa amat penat. Kepenatan menyebabkan pikiran agak buntu. Ingin menulis tetapi pikiran dan gagasan tak berjalan sempurna. Daripada dipaksakan dan hasilnya mengecewakan, lebih baik diendapkan saja dahulu. Siapa tahu karena kelamaan tidak mem-posting lalu timbul inspirasi-inspirasi baru. Lamo indak basuo lantas timbul kerinduan. Lalu dalam kerinduan yang membuncah timbulah gagasan yang akan mengalir deras menabrak semua hambatan dan kebuntuan. Dan, begitulah, jadilah tulisan ini. Tetapi benarkah sebuah kerinduan dapat membangkitkan kreativitas? Saya menjawab ya. Mau bukti? Silakan saja ditanya satu-satu kepada para penggemar jejaring sosial yang amat gemar mencari-cari dimana kawan-kawan lama mereka. Sekali bertemu, serasa dunia berguncang. Kenangan lama diputar kembali dan ... wow .. kata berlari, ucapan bertaburan dan lalu semuanya kembali normal. Kreativitas kembali lancar. Dan memang adalah kerinduan kepada para sahabat blogger yang sudah saya tinggalkan 1 bulan lamanya, yang mendorong kembalinya saya ke dalam blog. Tidak hanya itu, sayapun punya satu ceritera yang mungkin menarik untuk dibagikan kepada semua sahabat blogger guna membuktikan bahwa betapa kerinduan dapat menjadi sumber inspirasi. Apa itu? Ikuti saja tulisan ini baik-baik.

Dahulu kala, seumuran masa SMA saya memiliki beberapa sahabat baik. Seingat saya ada beberapa nama, di antaranya adalah Andre Pitanuki, Tom Fono, Edi Sugiarto, Frans Sapa, Adrianus Wenipada, dan...wah masih banyak lagi. Teman-teman ini agak khusus karena sudah teramat lama sejak masing-masing kita berpisah, lalu tak pernah lagi berjumpa. Beberapa nama sahabat lama semenjak SMP-SMA seperti Oris Ballo, Agus Nalle, Matheos Lalus, Edwin Lazarus, Papi Telupere dan yang semacam mereka tidaklah menimbulkan kerinduan karena nyaris tiap hari bertemu. Bahkan bertemu dengan manusia seperti Mister Agus Nalle cenderung membosankan. Betemu dengan Oris Ballo malah menakutkan karena sekarang dia menjadi atasan yang berkewenangan memberi penilaian kinerja saya sebagai Dosen PNS. Bertemu DR. Papi Telupere juga tergolong membosankan karena kami malah tinggal bertetangga. Lagi pula tingkah lakunya suka bikin susah ha ha ha ha (sori mister Papi he he he). Nah, semua sahabat lama yang menghilang itu ternyata menimbulkan kerinduan. Diam-diam ada kerinduan akan suasana bersama-sama seperti dahulu ketika sama-sama masih “polos” dan “naif”. Kami mengira dunia amat luas nyatanya cuma seputaran rumah, sekolah dan angkot. Dunia serasa luas kendati nyatanya cuma seputaran mencabut singkong yang tumbuh di halaman orang lain atau, bahkan, “mencuri” ayam milik guru sendiri...ha ha ha ha....Banyak ketengilan yang terjadi. Memalukan memang tetapi indah.

Salah satu di antara banyak nama itu adalah Samuel Moerdiono. Dia sahabat baik saya. Bukan sekedar sahabat, kami pernah terlibat dalam beberapa pekerjaan bersama-sama. Kami mengamen berdua ke mana-mana. Mula-mula kami kompak tapi saya berulah. Saya menjadi tak begitu fokus dengan pekerjaan bersama itu lalu saya pergi begitu saja. Tetapi tak lama kemudian, kami bertemu kembali dan proyek dilanjutkan lagi bersama-sama. Kali ini, di tengah jalan, saya merasa gantian Samuel yang tak fokus. Dia tak fokus lagi kepada komitmen kita berdua. Bahkan, sekali waktu, saya merasa, Samuel menghina saya. Di depan saya Samuel “tega” berkata begini: “lagumu sudah tak enak lagi” ... “aransemenmu sudah tak menarik lagi”..."kamu kampungan". Merespons "penghinaan" dari Samuel, sayapun bersikap: "Baiklah, jikalau kamu mulai menghina maka kamu bukan lagi teman”....”kamu adalah musuh”....Lalu, ...zzzzppppp....kami berpisah.... tak mau lagi saya berkomitmen apapun dengan dia .... korelasi kami terhenti total .... bukan cuma setahun dua tetapi puluhan tahun lamanya. Saya menutup buku untuk kisah persahabatan kami. Saya balik ke Kupang. Dia entah kemana. Sesudah itu, tak ada lagi rekam jejak dia yang saya dengar. Saya sungguh tak perduli. Diapun mungkin begitu. Cuma sekali waktu sempat terdengar kabar bahwa Samuel terus menetap di di luar NTT tetapi karir seninya tak ada apa-apanya lagi ... ”rasain lu” ... ”Su rasaaaa” ... “Bodo’” .... “ke laut sajalah” .... demikian saya membatin. Saya lalu melupakan salah satu cita-cita saya dan fokus hanya untuk dunia pendidikan. Dan jadilah saya dosen. Sampai hari ini. Sekali dua masih menyanyi. Hanya untuk bikin senang hati.

Lalu, tak disangka dan tak dinyana, datanglah Desember 2009. Waktu itu ada kegiatan pertemuan Nasional di Jakarta. Saya hadir karena diundang sebagai peserta dan juga pembicara. Ketika mendaftar, di dalam formulir pendaftaran peserta, kami diminta untuk menulis nama, alamat, pekerjaan dan nomor HP. Saya taat urusan itu. Lalu, masuk ke kamar beristirahat di hotel jangkung dan hebat mewah. Menikmati fasilitas kamar yang luxury (maklum orang kampung masuk kota he he he he...). Ketika sedang diam di kamar Hotel sambil mempersiapkan bahan presentasi, tiba-tiba HP saya berbunyi. Heiii...ada SMS di HP. Bunyinya begini .... “salam hangat untuk orang Kupang” .... Ada apa ini? Siapa ini? Nomor ini tak saya kenal ... Saya membalas : “mohon maaf, ini dengan siapa?” .... Tak lama kemudian SMS saya berbalas calling ...”turunlah ke lobby, kita ketemu. Kita teman lama, lu pasti tahu siapa beta” ... lalu ... click.... HP ditutup ... Saya bingung, rasanya dari Kupang cuma saya yang diundang. Mengapa ada yang tahu saya di sini? Atau barangkali ada orang lain atau kebetulan ada orang Kupang yang melihat saya di lobby lalu menelepon...saya tengok jam tangan saya...he he he...sudah mendekati jam makan malam...siapa tahu “si mister gelap” adalah teman yang mau mengajak makan malam...wuuiiihhh ... kesempatan ... mumpung panitia belum menanggung makan malam. Naluri oportunis merangkak diam-diam.

Dengan tanpa beban sayapun turun ke lobby hotel melalui lift. Ketika pintu kift ke arah lobby terbuka, saya berpikir untuk mengetahui terlebih dahulu..siapa gerangan “mistery caller” tadi...hmh..sayapun membuka HP dan melakukan pemanggilan. Lalu, mata saya awas ke kiri dan ke kanan. Barang siapa yang mengangkat HP, maka kemungkinan besar itulah si mister mistery caller...huuuppp...satu dua tiga....dan saya ulang 3 kali upaya miscall dan ... nah itu dia...ada seorang pria berambut panjang, berbaju merah dan menyandang ransel hitam besar yang 3 kali mengangkat HP lalu menurunkannya lagi ... diam-diam saya mendekatinya...dan ketika berjarak sekitar 5 meteran.....wuuuuzzzzzz.....saya bisa memastikan bahwa si mistery caller itu adalah sabahat sekaligus musuh saya selama puluhan tahun lamanya....anda sudah bisa menebak siapa dia ... ya, dialah Samuel Moerdiono ... tapi drama belum berakhir... dalam jarak sekitar 1 meter darinya saya pun mengangkat HP lalu melakukan calling....”Hallo Kawan, saya sudah di lobby, anda di mana? ...dia menjawab: heeeiii...posisi di mana??? Saya menjawab perlahan: .... balikkan badanmu kawan, saya tepat berada di belakang mu...dan blammmm....saya melihat dia terpana sejenak, sayapun demikian, dan, akhirnya ... kami berdua berpelukan.....kami berdua sama terharu....ternyata, sahabat sejati adalah sahabat yang selalu saling merindu .... sekali sahabat tetaplah sahabat ... kebencian di antara kami ternyata adalah kerinduan yang dipendam. ..

Saya: Sam, dari mana kamu tahu bahwa saya ada di sini?

Samuel : dari buku regisitrasi peserta....hei ada nama L. Michael Riwu Kaho....itu cara teman lama saya kalau menuliskan identitas...lalu saya periksa....ho ho ho ... berasal dari Kupang ...tak mungkin salah...pasti si mike, sahabat yang saya benci tetapi diam-diam saya rindukan....saya memastikan ke petugas bahwa memang LMRK adalah peserta dari Kupang...

Saya : ha ha ha ha ... masih cerdik seperti dahulu ya....

Samuel : ha ha ha ia lah .... lalu saya mencatat no HP mu...begitulah kawan...hei...kamu tidur di kamar mana?....saya akan minta ke panitia untuk pindah ke kamar itu ... (begitulah, sampai acara berakhir saya dan Samuek sekamar)......Mike...masih marah kah kamu? .... maafkan kesalahan saya dahulu....saya menyesal telah menghina kamu ...

Saya : Sam, kita sudah tua dan tak pantas menambah musuh....saya memaafkan kamu dan saya harap kamupun memaafkan saya ..... kita sahabatan lagi ya....

Lalu kami berdua sekamar dan di kamar kami nyaris tak tidur...ngobrol ke sana ke mari dan di antaranya adalah ini....

Saya : Sam, saya tak bermimpi lagi jadi penyanyi. Cukup jadi dosen saja. Pahalanya banyak.....

Samuel : Mike, sayapun tak bermusik lagi...saya menjadi .... (petinggi di LSM yang berurusan dengan orang-orang luar negeri)...tetapi saya bangga juga bahwa kamu looking smart kendati cahig mu masih mirip dukun ... seperti dahulu... hei kamu Ph.D holder kan? Saya tidak ...

Saya : iya, tetapi apalah saya ini .... cuma punya ilmu .... tidak kaya seperti kamu ...

.... dan memang saya melihat Samuel hidupnya makmur.. Tajir.banget die. Harumnya adalah harum berkelas sedangkan semprotan anti BB saya adalah barang dengan kelas yang jika saya semprotkannya, isteri sayapun akan protes keras...hei, bikin batuk saja ha ha ha ha .... Kendati begitu ternyata kami berdua adalah orang-orang gagal untuk satu cita-cita tetapi berhasil untuk mimpi yang lain. Aha, semangat karena bertemu sahabat lama menyebabkan kami berdua sangat produktif. Dalam kelompok diskusi, kami berdua meluncurkan banyak ide-ide gila dan anehnya diterima. Lalu, dia bersepakat untuk men-support pekerjaan saya dengan peluang-peluang pendanaan yang bisa dia usahakan...(Ah, sahabat baikku Sam, saya tak memerlukan kucuran danamu ... mengetahui bahwa kita bisa berteman kembali cukuplah sudah).

Sahabat blogger terkasih, demikianlah dramaturgi kisah pertemuan kembali antara saya dan mister Samuel. Aneh, lucu dan mengharukan tetapi juga produktif. Pertanyaannya adalah mengapa saya, anda dan juga banyak manusia lain selalu merindukan suasana-suasana lama ketika hidup harus terus berlari ke masa depan. Mengapa absen 1 bulan dari blog menimbulkan kerinduan? Lihatpula apa yang dibicarakan di antara sahabat-sahabat lama di facebook misalnya. Tengok pula acara musik memori 60-an, 79-an dan 90-an. Jawabannya ternyata sangat filosofis. Begini.

Manusia terdiri atas materi dan roh. Materi bersifat terbatas. Jika anda berada di Kupang, tak mungkin anda berada di Jakarta pada saat yang bersamaan. Tetapi dengan roh yang ada, anda yang sedang rapat kerja di Jakarta, bisa menghampiri isteri atau suami anda di rumah masing-masing pada saat yang sama. Tangan anda baru saja menandatangani tanda terima uang lelah rapat tetapi pikiran anda melayang....”aha, isteri saya akan tertawa senang melihat tumpukan uang ini”. Dengan demikian terjadilah paradoks manusia dalam urusan “adanya”. Manusia materi adalah “tingkat ada yang lebih rendah” ketimbang manusia roh yang merupakan "tingkat ada yang lebih tinggi". Secara metafisis kita akan menyebutkannya sebagai “unfolding of being”. Dalam filsafat Tuhan kita bisa menggunaan urusan “unfolding of being” ini guna menemukan jalan menuju Tuhan. Tetapi saya belum akan ke sana kali ini. Saya masih mau berbicara tentang manusia.

Dalam urusan manusia, prinsip “unfolding of being” akan membawa kita kepada kesadaran bahwa manusia adalah manusia hidup dalam situasi serba terbatas (faktisitas) tetapi di dalam keterbatasannya itu, terbuka banyak kemungkinan (atau kebebasan). Coba kita telusuri kisah orang yang menerima uang rapat tadi. Selain yang sudah saya tulis, ada kemungkinan lain bahwa seterimanya uang di tangannya dia malah berpikir tentang nikmatnya makan nasi goreng atau ... jangan-jangan ...ehmmm....membeli mobil maksud saya (jangan ngeres ya...ha ha ha ha...). Singkat kata, bersebelahan dengan keterbatasan adalah tersedianya banyak kebebasan. yang ditawarkan oleh aneka kemungkinan. Kemungkinan yang banyak itu menyebabkan manusia bisa terlepas dari keterbatasannya tetapi sayang, itu cuma sejenak. Ketika semua kemungkinan ingin diwujudkan sekaligus, manusia akan menemukan diri bahwa dia adalah terbatas. Apakah cukup uang Rp. 500.000,- untuk membeli mobil mewah kecuali sekrupnya doang???? Kata Snijders (1994) alasan itulah yang menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk “tak sampai”. Selalu mau kemana-mana tetapi tak sampai-sampai. Selalu banyak maunya tetapi hanya sedikit yang bisa diraih. Dengan wawasannya, manusia ingin meraih sebanyak mungkin cita-cita ke masa depan....kata Bung Karno: “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit” ... tetapi makhluk tak sampai ini kerap putus asa karena tidak semua cita-cita bisa diraihnya. Lalu, afeksi manusia memerintahkan begini ...”ketimbang putus asa melihat masa depan yang tak semuanya indah maka lebih baik kamu melihat apa-apa yang sudah kamu miliki, maka kamu akan lebih tenteram”. Bagaimana cara untuk mengusir duka masa depan? Caranya adalah berbahagialah dengan apa yang kamu miliki di masa lampau. Itulah titik atau modal awalmu. Lalu, kita bisa memulai perjalanan lagi dari titik awal itu untuk menggapai masa depan?. Oh, manusia ternyata mencari kepastian dan itu hanya dimiliki oleh apa yang ada di masa lalu. Ya, masa lalu menjanjikan kepastian. Morning has broken like the first morning. “Marilah kita memulai hari baru seperti ketika kita memulainya pertama kali dahulu”. Begitulah, ke masa lalu itulah, manusia akan menengok ketika dia bimbang menatap masa depan. Anda tahu kini mengapa kita suka menengok masa lalu?

Ya, saya mengenang Samuel Moerdiono karena dia mengingatkan saya bahwa menghadapi masa depan yang serba tak pasti saya masih memiliki kepastian di masa lalu. Di situ saya menemukan ispirasi-inspirasi baik untuk tak ragu terus berjalan menuju masa depan. Mungkin ke depan tubuh saya akan makin renta tetapi bukankah ketika masih muda badan saya tegap, langsing , sehat dan gagah? Ah, jikalau begitu mari coba saya hidup lebih sehat supaya bisa tetap energik kendati usia bertambah. Sayapun harus mengenang masa ketika saya sangat aktif memposting artikel-artikel baru dan akhirnya saya bersemangat untuk memposting lagi artikel baru hari ini. Alasan yang sangat rasional untuk mengenang masa lalu bukan?. Maka, jangan malu mengenang masa lalu. Semua bisa kita pakai sebagai modal untuk perjalanan memasuki masa depan. Nah bagi anda yang tertarik untuk mengenang masa lalu demi energi positif ke masa depan maka ijinkan saya menemani perjalanan wisata anda ke masa lalu dengan sebuah lagu cantik dari Julio Iglesias dan Willie Nelson berikut ini.


Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 12 November 2009

cecilia dan dialektika: dialog dan bukan dia loe gue

Dear Sahabat Blogger,

Tahun dulu, sekitar tahun 1980-an, masa ketika saya masih imut-imut, belum amit-amit seperti sekarang ini, pernah saya menyaksikan wawancara antara Eddy Soed (ES - sekarang sudah almarhum) sebagai host acara (Kamera Ria Safari di TVRI) bersama seorang penyanyi pria nan kesohor. Ya, saya menyebutannya saja sebagai penyanyi tersohor (PT). Percakapan di dalam wawancara itu kurang lebih begini (saya cukup ingat):

ES: wah suara Bung xx bagus sekali dan masih terjaga dengan baik sampai sekarang. Apa sih resepnya?
PT : wah terima kasih tetapi resepnya sederhana saja. Berdoa.
ES: iya sudah barang tentu kita harus berdoa tetapi maksud saya apakah ada upaya lain?
PT: tidak, cuma ya itu tadi, berdo'a.
ES: iya Bung xx, tapi apakah tidak perlu latihan rutin, menjaga stamina atau menjaga tidak makan sembarangan misalnya?
PT: iya, berdo'a
ES: ya sudah, tepuk tangan yang meriah untuk Bung xx

(prok prok prok prok keeepppprrrooookkkk, begitulah suara tepuk tangan membahana)
Saya bingung dan sekaligus "eneg" dengan cara PT menjawab. Apa iya, cukup dengan berdoa? Soalnya, saya menyaksikan sendiri bahwa ada banyak orang yang tiap hari rajin berdoa tetapi suaranya tetap saja tidak bagus-bagus amat kalau tidak mau dibilang pas-pasan. Singkat kata, sebagai pemirsa saya gondok karena tidak bisa belajar sesuatu tentang cara bernyanyi yang baik. Kendati saya satu agama dengan mister PT, dan oleh karena itu saya juga rajin berdoa seperti dia juga tetapi suara saya tidak merdu-merdu amat, saya dongkol berat. Memalukan. Tidak cukup hal positif yang bisa saya petik dari situ. Seandainya saja ketika itu lalu lintas omongan di antara kedua orang itu berjalan seperti ini:

ES: wah suara Bung xx bagus sekali dan masih terjaga dengan baik sampai sekarang. Apa sih resepnya?
PT : Waaah, terima kasih tetapi resepnya sederhana saja. Berdoa.
ES: Ah, apa iya cuma berdoa, saya toh juga berdoa tetapi suara saya nggak bagus tuh?
PT: iya mas, tetapi yang saya maksudkan adalah sambil berdoa, saya juga rajin berlatih saban hari.....
ES: Ok, tetapi saya tidak yakin hanya begitu saja karena apakah suara akan tetap baik jika tenggorkan saya sering terkena radang gara makan sembarangan?
PT: Oh iya juga sih Bung, anda saja yang tidak sabar karena saya tadi pas saya mau ngomong begitu, sampeya sudah main potong ucapan saya...ya, saya selain berlatih tetapi juga tidak sembarangan maka katak, ular, cicak, buaya dan lain-lainnya itu Mas... tapi ya...jangan lupa.....rajin berdoa juga yaaaaa.....
ES: he he he ...baiklah ...ayoooo semuanya saja .... tepuk tangan yang meriah untuk Bung xx

(prok prok prok prok keeepppprrrooookkkk, begitulah suara tepuk tangan membahana)
Sahabat terkasih, apakah anda melihat perbedaan di antara dua skenario wawancara di atas? Tak perlu repot-repot. Saya kasih tahu saudara bahwa ada perbedaan di antara keduanya. Wawancara pertama tidak menambah ilmu apa-apa bagi saya sedngkan pada wawancara kedua saya mendapat pengetahuan baru bahwa agar suara menjadi indah maka perlu beraltih, menjaga pola konsumsi dan juga rajin berdoa. Wawancara kedua menghasilkan hal yang amat positif. Tetapi lihatlah, pada wawancara kedua. Di situ terjadi proses saling menyangkal terlebih dahulu sebelum tiba pada konklusi positif pada akhirnya. Anda lihat, positivitas dihasilkan melalui proses yang penuh negativitas. Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengatakan hal itu sebagai dialektika. Ya, kita bisa menemukan kebaikan setelah sebelumnya kita terlibat dalam suatu proses yang saling menyangkal, menyakitkan dan negatif.

Pada titik ini, teringat akan sebuah lagu, yang menurut saya teramat keren, yang dinyanyikan oleh duet fenomenal favorit saya, "Simon & Garfunkel". Lagu itu berjudul "Cecilia". Coba dengarkan ini:

Paul Simon -- Cecilia
dan berikut ini versi aslinya
Paul Simon & Art Garfunkel - Cecilia

Mula-mula saya menyukai lagu ini karena beat dan sinkup lagunya yang luar biasa dan dinyanyikan dalam harmoni yang tak kalah luar biasanya. Dan saya tidak berbohong kepada sauara-saudara tetang hebatnya lagu ini karena lagu yang diciptakan oleh Paul Simon pada tahun 1970 ini menduduki tangga lagu # 4 di US chart. Sesudahnya tercatat lusinan pemusik dan penyanyi merekam kembali lagu ini dalam interpretasi mereka sendiri. Group Ace of Base, Madness, Faith No More dan Counting Crows adalah beberapa di antaranya. Lagu ini juga dimasukkan sebagai lagu thema di beberapa film Hollywood misalnya The Sopranos dan The Right Place Time. Oh iya, saya juga ingin mengatakan bahwa judul lagu ini sebenarnya mengingatkan saya kepada seorang sahabat masa kecil saya, ketika masih di bangku SD. Dia adalah tetangga saya yang juga bernama Cecilia. Entah di mana dia berada kini. Tak tahu lagi di mana rimbanya. Singkat kata, lagu ini adalah lagu yang bagus dan keren.

Belakangan baru saya sadari bahwa lagu ini bagus bukan semata-mata karena beat dan harmonisasi-nya saja yang hebat tetapi ada kekuatan tersendiri di balik lirik-liriknya. Salah satu interpretasi makna liriknya mengatakan bahwa lirik lagu ini berceritera tentang seorang kekasih yang berperilaku tidak menentu (capricious lover) yang mendatangkan kesedihan yang amat sangat (anguish) dan sekaligus kegirangan, yang juga teramat sangat, (jubilation) bagi pasangannya. Bayangkan saja, baru saja si penyanyi kegirangan karena selesai bercinta eeehhhhh si Cecilia lenyap ketika ditinggal sebentaran ke kamar mandi. Cecilia melompat ke pelukan orang lain. Pada muanya si penyanyi membayangkan kekasih yang baik. Cecilia menjawab ... sorry sir, i'm not. Gue kabur acchhh .... Si penyanyi berharap dan memohon... c'mon home Cecilia .... dan ...wwwoouuw .... jubilation....Cecilia pulang kerumah dan ... heii ... loves him again. Gilaaaa. Si penyanyi tertawa berguling-guling di lantai. Luar biasa. Amazing. Ternyata, ada juga dialektika di dalam dunia percintaan. Thheeerrrrrrllaallhhhuuuu.....

Lalu, apa ada hubungan antara Cecilia, capricious lover, anguish, jubilation dan dilektika. Untuk memahami hubungan ini, karang saya mencoba untuk meletakannya secara bersamaan dengan dinamika politik dan hukum kontemporer di Indonesia. Hari-hari belakangan ini kita di Indonesia dipusingkan dengan dampak perseteruan di antara cicak VS buaya VS godzilla VS kadal dan entah apa lagi namanya itu. Pada awalnya adalah pesoalan hukum lalu merembet ke soal-soal politik. Mula-mula polisi dan jaksa mengatakan Bibit dan Chandra (BC) tersangka dalam kasus korupsi lalu ditahan. Satu juta Facebookers marah. BC menyangkal dan memberikan perlawanan. Mahkamah konstitusi membuka rekaman hasil sadapan KPK dan....bbrrrrrrgghhhh.....Satu juta Facebookers marah. SBY bingung. Semula belia mengataan bahwa .... "saya tidak bisa campur tangan"...eeehhh...2 hari kemudian, menghadapi tekanan politik dari publik, beliau membentuk tim 8 dan lalu seminggu kemudian tim 8 menyimpulkan: "perkara BC tak bisa diteruskan karena bukti-bukti lemah". Eh, Polri dan Kejakgung menyangkal kesimpulan komisi 8. Komisi III DPR "bersimpati" kepada Polri dan Kejakgung lalu bertepuk tangan dan berfoto bersama-lah mereka bareng tamu-tamunya yang menyambangi gedung DPR/MPR. Pengacara BC menyangkal bukti-bukti dari Polisi. Pengacara Anggodo mengatakan bahwa kliennya idak bersalah. Tiba-tiba Wiliardi Wizard berteriak di pengadilan Antasari Azhar ... "gue cabut BAP karena sudah diskenariokan oleh petinggi Polri"... "Antasari memang sudah disasar untuk ditumbangkan Polisi". Antasari menangis karena merasa terdzolimi. Tetapi besoknya Polisi menyangkal....walaahhh...si WW dan AA bohong tuh, buktinya nih liat videonya waktu diperiksa, mereka cuma ketawa-ketawa tuh.... Adnan Buyung mengataan bahwa "ada gerakan operasi intelijen di balik pelemahan KPK". Begitulah terjadi setiap hari. Satu pihak menyatakan sesuatu, besoknya dibantah oleh pihak lainnya. Ah, entahlah besok pernyataan dan bantahan terhadap pernyataan apa lagi. Lalu, rakyat dibuat bingung dan bengong. Di mana kebenaran. Adakah kebenaran bisa ditemukan dari ceritera yang saling menyangkal itu? Jangan-jangan semua ini adalah dialektika hari ini, yang memang harus terjadi, sebelum Indonesia berubah menjadi lebih baik besok hari.

Jujur saja, sayapun bingung tetapi dari pada bingung berkepanjangan maka baiklah saya mengajak, jikalau sahabat sudi, marilah kita coba menumpang pada filsafat kritis dari Hegel. Kebaikan bisa lahir karena ada saling menyangkal. Filsafat, sejak Aristoteles, amat memuja ketenangan. Hidup adalah untuk mengejar kebaikan dan menghindarkan penderitaan. Jauhkan pertentangan dan sangkal-menyangkal. Itu adalah penderitaan. Akan tetapi Hegel berpikir bahwa manusia adalah sebuah proses pencarian dan pembentukan. Di dalam proses itu manusia harus terus bergerak menuju kebahagiaan. Di situ, mau tidak mau ketidak tenangan harus dihadirkan guna menghindarkan kemapanan. Tesis harus dilawan dengan antitesis. Kritik mengeritik dan sangkal menyangkal diperlukan guna menghindari kemapanan. Mengapa demikian? Ya, karena ketika kritik ditiadakan maka yang terjadi adalah kebahagiaan dan ketenangan yang palsu dan artifisial. Ketika kritik ditiadakan maka kebaikan bisa datang semata-mata hasil tafsiran sekelompok orang yang disebut sebagai penguasa. Baik menurut sang penguasa haruslah baik untuk semua rahayat. Besar maupun kecil.

Pengalaman empirik Bangsa Indonesia di masa ORBA menunjukan bukti kuat untuk itu. Semua yang menurut Soeharto baik adalah baik juga untuk semua orang. Jikalau menurut Tutut, Bambang dan Tommy berdagang dengan cara makelar adalah yang tebaik bagi Indonesia maka memang harus begitulah adanya tak perduli seberapa korupnya sistem itu. Toh Indonesia mengalami swasembada pangan, ketenangan dan keteraturan keamanan. Betulkah demikian? Mohon maaf, jawabannya adalah tidak. Ketika krisis besar di tahun 1997 datang menerpa, jatuhlah Indonesia kedalam malapetaka hutang dan krisis. Imbasnya masih terasa sampai hari ini. Inilah harga yag harus dibayar oleh minimnya kritik. Nihilnya dialektika. Kemapanan ternyata membawa celaka. Oleh karena itu, kritiklah kemapanan. Saling mengkritiklah kita. Hiduplah dalam situasi saling sangkal menyangkal. Pertarungan di antara tesis dan anti-tesis memaksa orang untuk terus menemukan tesis yang lebih baik. Lantas dari sana, kebenaran dan ketenangan sejati, yang tidak semu, dapat ditemukan. Bukan oleh segelintir orang, yang disebut elit, melainkan oleh kesepakatan banyak orang. Kebenaran tak boleh dimonopoli elit. Kebenaran milik semua orang.

Sedemikian perlukah dialektika? Tak pasti juga tetapi marilah kita tengok apa kata Hegel tentang keutamaan dialektika. Dia bilang begini: "dengan demikian yang benar adalah kegilaan dari tari kemabukan dari dewa bakhantik" (bakhantik - yang berasal dari kata Dewa Bacchus yang adalah dewa anggur atau disebut juga dewa mabuk). Apa maksudnya ini? Franz Magnis Suseno membuat penafsiran yang sangat elok, yaitu berproseslah secara bersemangat bak orang mabuk dalam mencari kebenaran, bila perlu bertengkar dan saling menyangkal. Pada akhirnya adalah ketenangan bak orang mabuk yang tertidur lelap dalam kelelahan setelah menari-nari tak keruan. Setelah pertengkaran panjang dan melelahkan, percayalah akan ada hal-hal benar dan benar yang berhamburan yang dapat kita petik. Dan dunia menjadi tenang. Kedamaian datang setelah bertengkar.

Persoalannya adalah sangkal menyangkal dan bertengkar seperti apa yang dapat mendatangkan kebaikan? Merujuk kepada Hegel, jawabannya adalah berpikir kritis. Apa esensi berpikir kritis? Ini dia Bung dan Zoes: dialog zonder pakai kekerasan. Ya jelas terang benderang: dialog dan bukannya "dia loe gue". Dialog adalah komunikasi 2 arah yang sedangkan dia log gue adalah komunikasi suka-suka sendiri lantas berantem terus menerus tak keruan. Saling gampar, saling bunuh dan atau saling meniadakan. Maka itu, biarkan KPK, Polisi, Jaksa, Pengacara, Hakim, para tertuduh dan tersangka, Facebookers dan juga kita semua bertengkar tetapi jangan saling me-negasi. Silakan saling berdialog sekritis mungkin karena sesudah itu semua akan tenang kembali. Kebenaran akan datang memunculkan dirinya di ujung pertengkaran. So, ikuti saja semua pertengkaran sembari menarik hikmah dan menghindarkan perilaku destruktif. Percayalah. Tuhan tidak tidur. Ada waktunya Dia menunjukkan kebenaran dihadapan para pemabuk yang lelah itu. Habis bertengkar datanglah damai. Habis gelap terbitlah terang. Apakah Hegel benar? Silakan anda nilai sendiri. Kalau saya memilih untuk percaya bahwa Tuhan adalah benar. Kata-NYA: "sehabis hujan akan tampak pelangi nan indah". Nah lho, apakah dengan percaya kepada Tuhan maka berpikir kritis harus ditiadakan? Ya, tidak juga. Bagaimana caranya percaya kepada Tuhan tetapi tetap kritis? Eh, nanti lain kali saya posting. Sekarang cukup ini saja dahulu. Itu saja Brote' and Sista'.

Tabe Puan Tabe Tuan

Minggu, 20 September 2009

senang, sedih, heran, sangsi dan keterbatasan

Dear Sahabat Blogger,

Hari ini adalah hari Minggu. Harinya Dominggo. Saya senang. Semakin senang karena bisa menyaksikan betapa sahabat-sahabat Muslim saya, yang amat banyak itu, merayakan hari kemenangannya pasca Puasa. Kemenangan menghadapi godaan dunia lalu kembali menjadi fitri. Semakin lengkap perasaan senang saya karena dalam keadaan Fitri, sahabat-sahata saya yang ber-Lebaran itu sudi menerima permintaan maaf saya atas semua kesalahan yang saya bikin selama ini kepada mereka. Kesalahan adalah hutang dan ketika hutang itu dihapuskan ...wwwwoooowwww....bahagia bukan? Aniway, saya senang hari ini.

Tetapi pada saat bersamaan saya harus menghadapi perasaan masgul. Sedih. Semalam, tepat pukul 20.00 WITA, mama besar (kosa kata Melayu Kupang untuk memanggil isteri dari om atau paman atau pakde) saya, yaitu mama Lin Riwu Kaho-Udju Edo telah menutup mata untuk selamanya. Dalam keadaan sekarang inilah saat terakhir saya bisa bertemu dengan beliau. Mulai besok, hanya angin dan kenangan. Selama 4 tahun tinggal di Atambua, Belu, NTT, saya tinggal bersama mama besar. Jauh dari bapa robert dan mama Agustine. Lalu, sedikit banyaknya, hidup saya ikut dibentuk oleh mama besar. Mengenang itu, saya sedih. Aneh? Mungkin tidak bagi kebanyakan anda tetapi aneh bagi saya. Mengapa demikian? Di laptop saya tersedia 2 sistem operasi, yaitu Windows Vista dan Windows XP. Ketika saya ingin membuka Vista misalnya maka XP tidak dapat dibuka. Begitu pula sebaliknya. Kedua sistem tak mau jalan bersama. Lalu, jika mampu membuka keduanya secara bersamaan pastilah perkara aneh. Dengan demikian, sudah barang tentu saya merasa aneh karena dalam 1 diri 1 pribadi tercetus 2 perasaan sekaligus hari ini. Senang dan sedih.

Keanehan itu menimbulkan keheranan. Ketika masih amat kecil, saya heran mengapa bintang kerlap kerlip di angkasa malam hari tidak pada siang hari. Plato mengatakan bahwa "mata kita memberikan pengamatan, dan kita takjub" Lalu, dari rasa takjub itu timbulah niat ingin menyelidiki. Mengapa bintang berkerlip malam hari? Ketika memulai penyelidikan, saya merasa ragu: "apakah yang saya lihat itu betul-betul bintang atau jangan-jangan kue semprong milik saya yang disimpan di lemari telah diambil seseorang lalu digantung di langit hitam pekat dan diberi nyala lilin?". Descrates mengatakan bahwa "bergerak dari perasaan heran manusia mulai meragukan pengamatan panca inderanya". Karena manusia cemas dalam ketidakpastian maka keraguannya perlu dibuktikan. Hasil penyelidikan dan pembuktian yang saya lakukan menunjukkan bahwa ternyata kue semprong yang ada di lemari masih utuh. "Heeeiiii.....masih anteru (kosa kata Melayu Kupang yang berpadanan dengan kata utuh) kue ku...tidak ada yang hilang". Maka, sudah pasti yang kerlap-kerlip di langit itu bukan kue semprong saya. Itu mungkin bintang. Dan itu harus saya buktikan tapi....wwwaaaalllllaaaahhhhh....tangan saya tidak sampai menjangkau langit. Bintang itu tak bisa kupegang. Ternyata saya terbatas. Kemampuan saya terbatas. Tagal keterbatasan itulah, maka saya terus tetap takjub menatap indahnya bintang yang gemerlapan di langit tinggi.

Bagitulah sahabat-sahabat budiman, mengapa sampai sekarang ini saya terus saja merasa takjub. Saya masih saja heran dan sangsi mengapa senang, mengapa sedih dan mengapa keduanya bisa terjadi bergantian dan bahkan...wow. terjadi bersamaan. Keseriusan berpikir kadang-kadang malah menuntun kepada kebingungan yang teramat sangat. Ada yang tidak dapat terpikirkan. There is something out of my mind while everything are done. Lalu, saya bilang kepada diri saya sendiri..."heeiiii mike, dari pada pusing-pusing mikirin jawaban atas segala sesuatu bagaimana jikalau kamu bersukur dahulu. Mungkin sesudah itu. jawaban" akan diberikan kepadamu". Maka, "selamat datang senang. Selamat datang sedih. Silakan bercampur aduk menjadi satu. Saya memikirkan kalian berdua tetapi terlebih dari pada hanya berpikir, saya mau bersukur".

Selamat hari Lebaran 1340 Hijriah. Minal Aidin wal Faidzin. Mohon dimaafkan lahir batin. Selamat jalan mama besar. Selamat berbahagia menuju negeri abadi. Sang Pencipta akan tersenyum menyambut engkau. Oh ya, titip salam untuk bapa besar, bapa robert dan mama agustine. Katakan pada mereka bahwa saya rindu. Kami rindu.

Bagi sahabat yang ingin menikmati segitiga: heran, ragu dan keterbatasan maka silakan menikmati sebuah lagu bagus dari Phill Collin berikut ini:


Tabe Puan Tabe Tuan

Senin, 13 Juli 2009

kami perlu 3 roti, pinjamkanlah

Dear Sahabat Blogger,
"If any of you has a friend, and goes to him in the middle of a the night and says, 'Lend me three loaves, my dear fellow,"
Agak berbeda dari posting-posting sebelumnya, saya memulainya kali ini dengan memberikan sebuah kutipan bagi sahabat budiman sekalian. Bagi saya, suasana yang ada di dalam kutipan itu terasa aneh. Amat aneh. Bayangkan saudaraku, di tengah malam ketika saya, anda dan kita semua sedang menikmati lelapnya tidur, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan, mungkin lebih dari 1 buah ketukan lagipula keras dan berdentam, ...tok tok tok....TOK TOK TOOOKKK.....terganggukah tidur anda? Hampir pasti ya. Tak percaya saya jika anda mengatakan "tidak". Belum hilang rasa dongkol tagal ketukan itu, saya jamin anda akan semakin kesal mendengar maksud ketukan itu. Betapa tidak jika yang terdengar adalah..."pinjamkanlah 3 roti bagi saya"...alaaaaamaaaaakkkkkk....."roti kau bilang????" ... "lha guwa makannya lalu apa?" ..."3 lagi mintanya".... "enak ajaaaahhhh".....

Begitulah sahabat sekalian, tak jarang dalam hidup kita, ketika situasi sedang tidak mengenakkan, datang sebuah atau beberapa buah ketukan permintaan tolong....."pinjamkanlah roti"..... Marah to. Kesal to. Dongkol to....arrrggghhhh.....brrrrrrrr......tak tahu malu amat si lu.....tengah malam minjam...ahaaaaa....sayapun harus sampai menggunakan 2 alinea untuk menuliskan ketidak nyamanan situasi ketika permintaan tolong itu datang. Lihatlah acara reality show di stasiun TV swasta kita, yaitu acara "minta tolong".....betapa kurang sukannya orang-orang itu yang di tengah jalan, sedang berjualan, sedang panas-panasan menunggu kendaraan, sedang pusing mikirin isteri sakit tetapi kok ada yang minta tolong......wwwwwwrrrhhhh.....tak tahu malu si peminta tolong itu.......sssttttttt...cukup di sini saja dahulu kegeraman saya untuk situasi yang tidak nyaman itu. Tetapi ijinkan saya mengajukan 2 pertanyaan ini:
  1. Siapakah kita yang tidak pernah menerima permintaan tolong dalam situasi "tengah malam"?
  2. Siapakah kita yang tidak pernah meminta tolong?
Pemilu Presiden baru saja lewat. Hasil perhitungan cepat menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memilih untuk "melanjutkan" hidup berbangsa dan bernegara di dalam perahu NKRI yang dinakhodai leh SBY-Boediono. Dengan mengabaikan barang sedikit tentang perasaan suka-tidak suka, kerumitan kerja KPU yang tak beres-beres, protes-protes dari psangan yang kalah, maka tak ada pilihan lain bagi kita, temasuk saya, selain mengucapkan "selamat terpilih" bagi SBY-Berboedi. Silakan merancang cara terbaik untuk mengemudikan perahu NKRI milik kita bersama dalam mengarungi ganasnya perikehidupan berbangsa dan bernegara sampai 5 tahun ke depan. Sekali lagi selamat. Tetapi untuk anda berdua tolong dengarkan kami, yaitu rahayat jelata di negeri ribuan pulau ini, kendati hari masih gelap dan belum lagi subuh, pinjamkan kepada kami 3 buah roti. Roti-roti apakah saja itu?

Kami perlu 3 roti seperti yang pernah dibuat oleh Aristoteles 2400 tahun yang lalu. Roti-roti itu adalah roti kenikmatan, roti politik dan roti filsafat. Apa pula itu? Begini.

Menyambung tulisan saya kali lalu tentang tujuan hidup, Aristoteles mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengejar kebahagiaan. Saya setuju. Kawan-kawan juga tampak setuju, Tetapi masalahnya adalah hidup macam apa? Sikap hidup macam mana? Aristoteles mengajukan 3 perkara, yaitu mengejar kenikmatan, berpolitik dan berfilsafat. Menerangkan maksudnya yang pertama, Aristoteles mengingatkan bahwa jangan terjebak kepada asal mengejar kenikmatan dan menjauhi rasa sakit semata karena jika demikian harafiah anda memaham maka hidup demikian adalah cara hidup seekor kambing. Cara hidup binatang. Kambing hanya tahu berkelana, makan, minum, buang air, mengembik, kawin, tidur, bangun dan begitulah seterusnya. Hanya itu. Cuma itu. Betapa memalukannya. Oleh karena itu, yang seharusnya dicari adalah hidup yang berasa nikmat karena berbuat baik dan berasa sakit ketika berbuat kejahatan. Itulah roti Aristoteles yang pertama. Selanjutnya, supaya anda dapat disebut berbahagia maka berpolitiklah anda, yaitu kejarlah kebaikan secara bersama-sama. Maka, anda memerlukan kerja untuk bernegosiasi, bersepakat, dan bersepaham. Bekerjalah dan bersahabatlah dengan hidup demi kebaikan. Itulah roti kedua warisan Arstoteles. Dan, roti ketiga Aristoteles adalah berfilsafatlah karena dengan itu anda akan terus menerus mengembangkan diri supaya semakin hari semakin bijaksana. Anda gemar mencari kebaikan, anda rajin mengembangkan kebaikan dan ahaaa ... andapun akan menjadi tauladan. Itulah roti merek Aristoteles, yaitu kebaikan, persahabatan dan kasih sayang. Maka, wahai SBY-Boediono berikanlah, eh pinjamkanlah kami 3 roti itu. Punyakah kalian?

Baiklah jikalau roti-roti Aristoteles itu tidak anda punyai maka punyakah anda 3 roti lainnya? Roti apakah itu? Ini: roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Apa pula ini?

Seorang Teolog besar, sebut saja sebagai mister Paul dari Tarsus, pernah mengatakan bahwa ada 3 roti paling penting bagi manusia, yaitu roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Tetapi ingatlah, katanya, jika anda punya 1 saja dari antara ketiganya maka anda akan berbahagia karena roti yang 1 itu adalah yang terbesar, ternikmat, tergurih dan paling bergizi, yaitu roti cinta kasih. Roti kepercayaan adalah bagaimana saya dapat mengandalkan seseorang guna menolong saya ketika saya memerlukan pertolongan. Roti keyakinan adalah bagaimana saya dapat begitu optimis dalam harapan saya bahwa anda yang saya andalkan itu betul-betul dapat menolong saya ketika saya membutuhkannya. Akhirnya adalah roti cinta kasih, yaitu bahwa percaya dan berharap adalah satu perkara tetapi dapatkah anda yang saya percayai dan saya harapkan itu mau bertindak karena anda mencinta saya. Jangan-jangan bagi anda saya hanyalah sekedar angka, yaitu 60% rakyat yang memilih anda sebagai pemimpin saya. Lebih celaka lagi jika bagi anda saya adalah orang yang berada di luar 60% itu. Jangan-jangan bagi anda saya cuma 1 di antara 230 juta orang Indonesia. Atau malah, bagi anda, saya hanya sekedar angka 1. Tak lebih dan tak kurang yang kehadirannya dapat dianggap nol (0). Tak ada apa-apanya. Jika demikian maka tak ada gunanya sama sekali saya punya dua roti, yaitu kepercayaan dan harapan karena roti ketiga, yaitu cinta kasih dari anda,tak saya miliki. Tanpa punya cinta kasih maka sama artinya dengan tidak punya apa-apa. Percaya adalah kepercayaan yang hampa. Harapan adalah harapan yang kosong. Wahai Bung SBY-Boediono, punyakah anda ketiga roti itu? Jika ada, tolong berikanlah, eh pinjamkanlah, kepada saya. Saya sangat membutuhkannya sekarang.

Begitulah sahabat blogger terkasih. Roti-roti yang saya perlukan dalam hidup saya. Mungkinkah anda juga memerlukan roti-roti itu? Ya pasti. Paling kurang begitulah menurut Aristoteles dan Paul Van Tarsus karena roti-roti itu adalah roti bagi jiwa. Roti bagi hidup. Roti bagi semangat. Roti bagi badan. Bisakah badan anda berasa sehat tanpa kasih sayang? Jika jawaban anda adalah "tidak" maka ijinkan saya kasi tahu ya...itulah sebabnya kita semua memerlukan roti-roti itu...itulah sebabnya, saking butuhnya orang-orang akan roti-roti itu maka kendati "di tengah malam-pun" pintu kita akan berbunyi diketuk berulang-ulang dan terdengar suara meratap...pinjamkan 3 roti Bung.... 3 roti saja Soezs...

Maka, sekali lagi. Adakah roti-roti itu pada SBY-Berboedi? Adakah roti-roti itu pada anda semua wahai sahabat blogger terkasih? Apa? Anda semuanya juga, sama seperti saya, sedang berburu roti yang sama?.... walaaaaahhhhh....ya sudah saya tahu kemana saya, dan sahabat saya semua di blog ini harus mencarinya, yaitu kepada sumbernya. Siapa DIA? Sang Khalik.
Ya, Khalik-ku terkasih, di tengah malam pekat ini, sudikah meminjamkan 3 ketul roti milik-MU kepada kami?
Sambil menunggu jawaban Sang Khalik, yang kadang tampak diam bak Megawati, maka mari kita menghibur diri dengan sebuah lagu yang dibikin oleh Iwan Fals yang di masa ORBA pernah meminta roti kepada penguasa, yaitu roti "pesawat tempur". Bagaimana rasanya? Asiiiiiiiiiiik toooooooooooo uuueenak tooooooooo haaaaaaa haaaaaaaaaaaa haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


Tabe Tuan Tabe Puan

Jumat, 26 Juni 2009

Sekarang Jacko. Dahulunya Elvis. Bahagiakah mereka?

Dear sahabat blogger,

Semalam, Kamis 25 Juni 2009, saya baru tiba kembali di Kupang pukul 11.30 WITA setelah bertugas 2 hari di Jakarta. Kendati mengantuk dan lelah tetapi tak bisa langsung tidur karena harus mempersiapkan bahan presentasi seminar tentang Rencana Pengembangan Kabupaten Sabu-Raijua. Saya kebagian materi tentang "daya dukung lingkungan guna pengembangan Sektor Pertanian". Rampung tepat pukul 04.00 AM WITA. Mengantuk berat tetapi masih sempat mengintip pertandingan sepak bola Piala Konfederasi antara Brazil VS Afrika Selatan. Tidak menarik dan lalu......click...tombol TV di tekan off. Tidur. Pukul 07.30 AM WITA bangun, dalam keadaan masih sangat mengantuk, menyiapkan diri ke tempat seminar. Sembari menghilangkan rasa kantuk,...click...tombol TV di tekan on, lalu......wwwuuuuuzzzzzzhhh......terdengar suara penyiar TV memberitakan......"mega bintang Michael Jackson dilaporkan oleh beberapa kantor berita telah meninggal dunia, diduga mengalami serangan jantung akibat komplikasi obat-obatan" ....... whaaaaattt???? ..... ngngngngngng...telinga berdenging...bukan karena apa-apa melainkan sekedar seekor nyamuk.yang pagi-pagi terbang di sekitar kuping dan berdenging ... lalu ... plaaaaaakkkkk.....tangan menepuk...tapi nyamuk lolos...tak jadi mati...tak bernasib seperti Michael Jackson.....Ya, Jacko telah mati...untuk setiap kematian selalu ada kesedihan dan saya juga tidak bisa bergembira karena Jacko mati. Ada perasaan solider karena bernama depan yang sama....michael...malaikat penjaga surga....Juga ada perasaan klangenan karena....Jacko mencapai puncak ketenaran di tahun 1980-an, yaitu dekade dimana saya masih imut-imut...kinyis-kinyis ....tampan (ehm....) dan penuh gaya vitalitas manusia berusia 20-an. Ya, ada unsur nostalgia di sana.

Lalu, apakah tentang diary dan atau nostalgia semacam ini posting kali ini? Bisa jadi begitu tetapi sebenarnya tidak. Bagi saya, jika benar kematian Jacko karena komplikasi obat-obatan maka hal itu adalah tragedi. Dahulu, pada tahun 1975, seorang bintang pujaan dunia Elvis Presley juga meninggal karena penggunaan obat-obatan yang over dosis. Lebih ke belakang lagi, super star gitar Jimmy Hendrix mati dalam ceritera yang mirip. Di Indonesia, kita kuga punya kisah serupa tapi tak sama yang berasal dari penanyi wanita Alda Risma. Semua mereka mati mengenaskan. setelah rangkaian ceritera hidup yang sungguh tak normal. Apa yang terjadi dengan mereka? "What's wrong ... kata mister Tukul Arwana....with them"? Uang punya. Nama besar punya. Apa yang mereka tak punya? Lalu mengapa begitu? Hidup jauh dari ukuran normal. Gaya hidup mereka bagai di dunia mimpi. Lalu, mereka seperti terjebak di sana dan tak mau, atau lebih tepat tak bisa keluar dari jebakan ketenaran mereka. Ketenaran yang gilang kemilau itu lalu berubah menjadi racun. Obat-obatan digunakan persis seperti racun yang meracuni hidup mereka sendiri. Ketenaran ternyata ada harganya, yaitu hidup yang tak biasa. Dan yang tak biasa itu ternyata adalah "racun". Racun dunia.

Saya lalu teringat akan Aristoteles. Filsuf besar Yunani, murid Plato, yang hidup 2400 tahun yang lalu. Manusia besar ini pernah menulis begini "setiap keterampilan dan ajaran, begitu pula tindakan dan keputusan, tampaknya mengejar salah satu nilai". Bicara apa mister Aristoteles ini? Memang tak mudah membaca pikiran para filsuf besar karena kerap kali bahasa yang digunakan berasal dari "planet lain". Akan tetapi dalam "kebodohan" saya mencoba memahami maksud Aristoteles. Semua tindakan manusia pasti ada maksudnya, pasti ada nilainya...ya, pasti ada tujuannya. Jika saya benar menafsirkan Aristoteles maka pertanyaannya adalah "apa tujuan manusia?". Aristoteles kemudian menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan akalnya guna mengamati fakta bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia pasti memiliki tujuan. Saya berangkat ke Jakarta pasti ada tujuannya/ Saya menulis naskah bahan presentasi pasti ada tujuannya. Saya mengintip pertandingan sepakbola di TV, bangun pagi-pagi, berusaha menepuk nyamuk, dan manulis posting ini selalu punya maksud. Sering kita mendengar orang berkata bahwa...."aaah, aya mengatakan itu sebenarnya tidak punya maksud apa-apa"....ahaaaaaa.....dalam kerangka pikir Aristoteles, orang yang mengatakan demikian pasti sedang berbohong. Lalu, apa maksudnya dia mengatakan kebohongan itu? Kebohongan itupun ternyata memikiki tujuan. Nah, lihatlah, Aristoteles tidak terbantahkan bukan?

Nah lalu, apa tujuan manusia? Aristoteles membedakannya atas tujuan sementara dan tujuan akhir. Lantas, dia mengatakan bahwa "tujuan sementara adalah sarana bagi pencapaian tujuan akhir". Contoh: saya dulu berkutat 2 tahun guna mendapatkan ijazah Doktor tetapi ijazah Doktor ternyata cuma tujuan sementara karena ijazah itu saya pergunakan gua meningkatkan kualifikasi keilmuan saya. Lalu apakah peningkatan kualifikasi keilmuan adalah tujuan akhir? Tidak juga bosz karena itupun cuma tujuan sementara agar supaya melaluinya saya bisa bekerja dalam bidang ilmu yang lebih luas lalu bisa bepergian ke sana kemari lalu bisa mengumpulkan uang honor berceramah lalu...lalu...lalu....Lalu, apa tujan akhir? Apakah ada tujuan akhir yang di dalamnya tidak ada lagi terkandung sebuah tujuan lainnya? Aristoteles menjawab: ada, yaitu KEBAHAGIAAN. Kata Aristoteles, "ketika manusia bertemu kebahagiaan maka dia akan menjadi puas". Mister Aristoteles menegaskan bahwa "jikalau kita sudah bertemu kebahagiaan maka tak ada lagi yang perlu dicari untuk ditambahkan". Ya, kebahagiaan adalah tujuan akhir. Selama manusia belum puas dengan apa yang dicapainya maka dia belum bahagia. Terlepas dari apakah anda setuju dengan Aritoteles atau tidak, satu hal yang pasti, mister kita ini telah mengemukakan landasan filsafat etisnya yang disebut sebagai "Etika Eudemonisme" (Yunani: eudaimonia) atau disebut juga Etika Kebahagiaan. Lalu, di sinilah kita bisa menggunakan etika Aristoteles untuk meneropong apa yang terjadi dengan para artis dunia hiburan yang di dalam dunia popularisme dapat disebut sebagai dewa-dewi itu.

Michael Jackson berkarir sejak kecil bersama saudara-saudaranya dalam group Jackson Five. Anggota pendiri kelompok, Jackie, Tito, Jermaine, Marlon dan Michael Jackson membentuk grup ini setelah mengganti nama menjadi The Jackson Brothers, yang pada awalnya terdiri dari 3 orang saudara tertua. Aktif dari 1966 sampai 1989, Jacksons bersaudara bereksperimen dalam musik R&B, soul, pop dan terakhir disko. Selama karir 6 tahun di Motown, Jackson 5 adalah salah satu fenomena pop terbesar di tahun 1970-an. Jackson 5 memulai merilis single ("I Want You Back", "ABC", "The Love You Save", dan "I'll Be There") yang mencapai puncak Billboard Hot 100 di tangga lagu Amerika Serikat. Beberapa single, seperti "Mama's Pearl", "Never Can Say Goodbye" dan "Dancing Machine", menduduki Top 5 hits lagu pop dan nomor satu di tangga lagu single R&B. Jadi, Jacko telah berkecimpung di dunia ketenaran seperti ini sejak berusia 6 tahun. Bukan sekeda leat seperti layaknay para penyanyi cilik Indonesia yang ngetop sebentaran lalu tenggelam ditelan bumi, Jacko terus berkembang.

Michael Joseph Jackson (lahir di Gary, Indiana, Amerika Serikat, 29 Agustus 1958 – wafat di California, Los Angeles, Amerika Serikat, 25 Juni 2009 pada umur 50 tahun)[1] adalah penyanyi dan penulis lagu dari Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai "Raja Pop" dan mempopulerkan gerakan dansa "moonwalk" yang telah menjadi ciri khasnya. Albumnya yang dirilis pada tahun 1982, Thriller, adalah album terlaris di dunia, dengan penjualan melebihi 104 juta kopi di seluruh dunia. Ia mulai karir bernyanyi pada usia lima tahun sebagai anggota kelompok vokal keluarga Jackson (kelak menjadi The Jackson 5) sebelum meluncurkan album solo pertamanya Got to Be There pada tahun 1971. Anak ketujuh dari keluarga Jackson, dia membuat debut di musik profesional pada umur 11 tahun sebagai anggota dari Jackson 5.

Pada awal tahun 1980-an, dia menjadi figur yang sangat dominan dalam musik pop and musisi Afrika-Amerika pertama yang mempunyai crossover kuat di MTV. Popularitas dalam musiknya menanjak saat ditayangkan di MTV, antara lain "Beat It", "Billie Jean" dan Thriller dianggap telah mengubah video klip menjadi sebuah bentuk karya seni dan sebagai alat promosi untuk mempopulerkan sebuah channel tv. Video-video seperti "Black or White" dan "Scream" membuat Jackson menjadi andalan utama MTV pada tahun 1990-an. Lewat penampilan panggung dan video-video klipnya, Jackson mempopulerkan sejumlah teknik menari seperti robot dan moonwalk. Suara dan gaya vocal Jackson mempengaruhi dan diikuti oleh banyak penyanyi hip hop, pop dan R&B. Penghargaan - penghargaan yang telah dia raih termasuk beberapa kali Guinness World Records—termasuk thriller sebagai album terlaris di dunia— 13 Grammy Awards, 13 buah single nomor 1 dalam solo karirnya dari musisi pria lainnya dalam Hot 100 era—dan penjualan 750 juta unit di seluruh dunia. Hidup Jackson sangat terkenal di seluruh dunia, didampingi dengan karirnya yang sangat sukses, membuatnya menjadi bagian dari kebudayaan pop selama 4 dekade. dalam beberapa tahun dia sering disebut - sebut sebagai salah satu pria paling terkenal di dunia.

Jelas sudah, tak ada yang bisa dibantah dari fakta itu bahwa Jacko adalah salah satu manusia dengan nama yang amat besar di dunia populer ini. Uangnya pol-polan. Kekayaannya diperkirakan mencapai 1 milyar dollar (sekitar 12 trilyun rupiah) ...wwwwwwwoooooowwww....apa kurangnya lagi? Tetapi mari kita tengok akhir tragis dari kehidupan gilang gemilang ini....(saya kutip dari CNN)....Penyebab kematian Michael Jackson akhirnya diketahui. Dia mengalami serangan jantung yang hebat. Raja musik pop itu meninggal dunia di rumahnya di Los Angeles, Kamis (26/6). Dia terkapar dan tak bisa lagi bernapas setelah mendapatkan injeksi penahan rasa sakit dengan daya tinggi bernama Demerol. Jackson, 50 tahun, disebut-sebut mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang itu. Demerol sendiri dikatakan setara dengan morfin. Ada kekhawatiran, dia mengalami overdosis. Petugas paramedis yang langsung berhamburan ke rumahnya setelah menerima panggilan darurat, menemukan nadinya sudah tak berdenyut lagi. Sejumlah upaya yang dilakukan pun tak menghasilkan apa-apa. Mengenaskan? Ya.

Bagaimana dengan kisah King of Rock 'n Roll Elvis Presley? Jelas tak kalah kelas dibandingkan dengan Jacko. Elvis Aaron Presley (8 Januari 1935–16 Agustus 1977) adalah seorang penyanyi rock 'n' roll legendaris Amerika Serikat. Ia juga adalah seorang produser musik dan aktor. Julukannya adalah "Raja Rock 'n' Roll". Berkat lagu-lagunya yang memadukan irama rock 'n' roll dengan lagu-lagu ballad, dunia rock 'n' roll memperoleh fondasi komersial yang selanjutnya dapat dikembangkan musisi rock 'n' roll penerusnya. Pada masa kejayaannya, konser-konser Elvis dihadiri massa (kebanyakan remaja) dalam jumlah yang sangat besar. Gaya, sifat, serta cara berpakaiannya menjadi simbol bagi musik rock 'n' roll dan banyak ditiru penggemarnya. Lahir di East Tupelo, Mississippi, dari pasangan Vernon Elvis Presley dan Gladys Love Smith, Elvis tumbuh besar di Memphis, Tennessee. Ia mulai bermain gitar dan bermain di beberapa acara di pusat-pusat perbelanjaan. Saat duduk di bangku sekolah menengah, ia bekerja menjadi supir truk bagi sebuah perusahaan listrik.

Pada musim panas pada tahun 1953, Elvis membayar $4 untuk merekam dua buah lagu di perusahaan rekaman Sun Studios sebagai hadiah ulang tahun bagi ibunya. Pendiri Sun, Sam Phillips, tertarik pada suaranya dan memanggilnya pada Juni 1954 untuk mengisi posisi penyanyi ballad yang sedang kosong. Sesi rekaman tersebut, yang dilakukan bersama dua musisi setempat, Scotty Moore dan Bill Black, awalnya tidak produktif, namun saat sedang istirahat dalam sebuah sesi rekaman pada 5 Juli 1954, Elvis mulai menyanyikan lagu blues karya Arthur Crudup berjudul That's All Right. Versi Elvis disukai Phillips dan diputarkan di radio di Memphis dan segera menjadi hit di daerah tersebut. Sejak itu ia mulai melakukan tur ke berbagai tempat, termasuk ke luar Tennessee.

Pada 16 Oktober 1954, ia tampil dalam siaran radio Louisiana Hayride dan menjadi hit bagi pendengar dalam jumlah yang besar. Ia kemudian menandatangani sebuah kontrak satu tahun dan bertemu dengan Tom Parker, yang kelak menjadi manajernya. Hampir setahun kemudian, Tom Parker mengambil alih seluruh tugas sebagai manajer Elvis dan tak lama kemudian, berhasil mendapatkan persetujuan kontrak dengan RCA Records bagi Elvis. Elvis juga menandatangani kontrak Hollywood. Melalui syarat-syarat dalam kontrak, Parker membangun nilai komersial serta citra Elvis yang menguntungkan, contohnya melalui lisensi penggunaan citra Elvis dalam segala macam produk, dari peralatan dapur hingga gitar. Pada Desember 1957, Elvis dipanggil untuk ikut tugas militer dengan Angkatan Bersenjata AS. Ia resmi masuk Angkatan Bersenjata pada 24 Maret 1958, kemudian ditugaskan di Jerman, dan dilepas tugaskan dengan hormat dua tahun kemudian. Sekembalinya dari wajib militer, karya Elvis mengalami penurunan dari segi kesuksesan, di mana salah satu penyebabnya adalah bangkitnya musik Britania/Inggris (British Invasion; The Beatles, The Rolling Stones, dan lain-lain).

Tetapi Elvis tidak menyerah, ia melakukan comeback yang sukses melalui penampilan televisi pada 3 Desember 1968 berjudul '68 Comeback Special. Karir musiknya yang sempat meredup akibat "diganggu" profesi lainnya sebagai aktor dan juga hilangnya peranan dia dalam memilih jenis lagu yang ia mainkan, kembali bersinar setelah ia mendapatkan kesempatan dalam acara tersebut untuk bermain dalam jalur yang paling ia sukai, rock 'n' roll. Pada tahun berikutnya, ia memulai penampilan live yang laris di berbagai tempat, diawali dari Las Vegas dan kemudian berlanjut ke sepanjang negara. Antara tahun 1969 dan 1977, ia tampil dalam 1.000 acara yang tiketnya terjual habis. Berapa kekayaan Elvis? Setelah matipun, harta Elvis terus bertambah dan sekarang, Elvis diduga merupakan penyanyi terkaya dengan total pendapatan sekitar 12 milyar dollar.....weleh weleh weleh......tapi perhatikan kutipan berikut ini.....Akibat kecanduan obat-obat dokter seperti obat tidur, kesehatannya dan penampilannya mengalami penurunan pada sekitar pertengahan 1970-an. Ia tampil untuk terakhir kalinya dalam sebuah konser di Market Square Arena di Indianapolis, Indiana pada 26 Juni 1977. Pada 16 Agustus 1977, Elvis ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Graceland di Memphis akibat serangan jantung. Saat itu ia berusia 42 tahun. Mengenaskan? Ya.

Apa yang salah dengan manusia-manusia bernama besar dan amat sangat kaya ini? Aristoteles menyiapkan jawabannya 2400 tahun yang lalu. Si Mister mengatakan bahwa jika kebahagiaan adalah tujuan akhir yang benar maka ada tujuan akhir yang salah dan keliru. Dua tujuan akhir yang salah itu adalah uang dan nama tersohor. Banyak orang menggunakan uang sebagai variabel tolok ukur kebahagiaan. Bahkan standard-standard penilaian kemiskinan di dasarkan atas pendapatan berupa uang. Kekayaan atau kemiskinan adalah diukur dari berapa jumlah uang yang dimiliki. Apakah uang adalah barang yang salah? Sudah barang tentu tidak tetapi harus ditegaskan bahwa uang bukan tujuan akhir. Di dalam uang masih tersimpan tujuan lainnya. Dengan uang, apa yang anda ingin dapatkan? Uang bisa dipakaii untuk membel mobil baru dan atau isteri baru tetapi uang tak bisa membeli kebahagiaan. Uang tidak menjamin kebahagiaan. Mereka yang menjadikan uang sebagai tujuan akhir sebenarnya justru tidak pernah sampai kepada tujuan akhir yang diinginkannya. Elvis dan Jacko yang kaya raya ternyata tidak bahagia. Kekayaan ternyata bisa menipu. Dikiranya bahagia punya uang nyatanya sengsara. Ingat Soeharto?

Bagaimana dengan ketenaran nama atau ketersohoran? Nama yang tersohor sepintas terlihat baik. Bahkan ada yang berkata begini "tak menjadi kaya tak apa yang penting aku punya nama yang terkenal". Namun demikian, Aristoteles mengatakan lain. "Tersohor adalah penilaian orang lain bukan dari diri sendiri". Orang bisa tersohor kendati mutunya rendah. Sumanto, si pemakan bangkai manusia, amatlah tersohor. Ryan, si jagal van Jombang, juga amat terkenal. Hitler...ah yang meragukan kesohoran orang ini, saya ragu akan nilai mata pelajaran sejarahnya. Mereka tersohor tetapi di mata orang lain, mereka tak lebih dari penyakit masyarakat. Hidupnya tak bermutu. Jika mutu menjadi persoalan maka sebenarnya itulah tujuan yang harus diusahakan. dengan nama tersohor. Lalu, dengan hidup yang bermutu itulah kebahagiaan diperoleh. Oh ya, hidup yang bermutu itulah yang tidak didapat oleh Elvis dan Jacko. kendatai amat tersohor. Nama mereka memang besar tetapi .... maaf....hidup mereka tidak berbahagia. Maukah anda seperti Elvis dan Jacko? (hmmmmhhmmm...saya lihat diam-diam beberapa sahabat mengatakan....uang, kaya dan ngetopnya mau juga seeeeehhh....wkwkwkwk....).

Jika hidup ala Jacko dan Elvis tidak membawa kebahagiaan maka sebenarnya hidup macam apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan? ...ooohhhh......lain kali baru saya posting....atau begini saja...silakan anda uraikan sendiri melalui komentar anda. Bagaimana Broer en Soesz????...otreeeee??????


Tabe Tuan Tabe Puan

NB. Sebagian bahan tulisan diambil dari wikipedia

Tuan Tuan dan Puan Puan, terutama yang meributkan siapa yang lebih pantas menjadi the King. Elvis atau Jacko? Saya cuma ingin bertanya begini: siapa Presiden Republik Indonesia? Soekarno-kah? Soeharto-kah? Jawabnya adalah "both of them. Keduanya adalah presiden pada masa yang berbeda. Nah, bagi saya, begitulah posisi Elvis dan Jacko.

Tetapi rasanya akan lebih menarik jika kita memeriksa sikap moralitas keduanya terhadap filsafat bahagia. Kasusnya adalah keduanya berhadapan dengan para "the outlaws". Perhatikan ini. Kata Jacko ...beat it....dan kata elvis...tenang aja bro....di penjara kita bisa ber-rock 'n roll ....jailhouse rock.... ha ha ha ha ha...(jangan terlalu serius bosz)

Elvis - Jail House Rock

Tabe lagi Puan dan Tuan