Tampilkan postingan dengan label Renungan Kristiani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kristiani. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2012

maunya manusia ya selamat

Dear Sahabat Kristiani,

Bagi anda dan saya dan juga mereka yang tinggal di Indonesia, besok adalah hari Mingu. Oleh karena itu, sudah barang tentu, hari ini adalah hari Sabtu. Dalam tradisi Yahudi, Sabtu atau Sabat adalah hari ke tujuh yang diistimewakan. Seorang sahabat buku muka (FB) saya yang bernama "mister anu" rajin mengirimkan kepada saya inbox yang menyatakan betapa pentingnya hari Sabtu ketimbang hari lain dalam 1 minggu. Namanya juga keyakinan ya saya persilakan saja sahabat saya itu meyakini apa yang diyakini. Saya lalu merelakan inbox saya diisi dengan keyakinannya itu. Tak saya tolak tak saya hapus. Biar saja begitu, tidak saya komentari, kendati saya punya pendapat lain. Pendapat saya yang berbeda itupun saya pikir tidak harus saya konfirmasikan kepada dia karena saya menghormati sahabat saya itu.. Sebaliknya, saya berharap si sahabat juga menaruh hormat terhadap pilihan saya untuk berbeda dari dia. Apakah tentang masalah hari Sabat isi posting ini? Tidak. Bukan itu melainkan ini.

Salah satu alasan orang bergirang hati saban kali bertemu dengan hari Sabtu adalah peluang untuk memilih tidak repot bekerja keras....heeeeiiiii, it is saturday, the day of weekend.....lalu bersenang-senanglah kita sepanjang hari lalu disambung besok, hari minggu.......badan dan pikiran kita diistirahatkan dari rutinitas kerja keras sepanjang minggu. Badan perlu itu, pikiran juga. Benar bukan? Benar belaka. Tetapi di titik ini saya bertanya, apakah benar itu kebutuhan kita? Tentang hal ini saya ingin memndiskripsikan paling kurang 2 teori tentang kebutuhan dasar manusia:
  1. Teori Maslow yang dengan piramidanya menguraikan kebutuhan manusia mulai dari yang paling mendasar sampai ke kebutuhan tertinggi. Urutannya adalah kebutuhan fisiologi, kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan cinta kasih dan memiliki, kebutuhan harga diri serta kebutuhan aktualisasi diri. Silakan anda dan saya merenungkan baik-baik teori ini dan kita akan sepakat bahwa Maslow benar belaka;
  2. Teori Jean Watson yang mendeskripsikan bahwa kebutuhan manusia terdiri atas kebutuhan biofisikal (makan, minum, eliminasi dan ventilasi), kebutuhan psikofisikal (aktivitas, istirahat dan seksual), kebutuhan psikososial (berprestasi dan berorganisasi) dan kebutuhan intra-inter personal (aktualisasi diri). Lagi-lagi, jika direnungkan benar maka sulit untuk menolak teori ini.
Tetapi ijinkan saya untuk menyampaikan barang sedikit kebutuhan mendasar manusia dilihat dari perspektif Kristiani atau, secara lebih khusus dalam perspektif "Doa Bapa Kami". 
  1. Bapa kami yang di Surga : naluri dasar manusia adalah bertahan hidup dan manusia yang bernaluri untuk mencari aman dan selamat akan memerlukan kepastian, penyertaan dan cinta. Manusia membutuhkan Tuhan sebagai sesuatu yang lebih besar darinya di alam semestaraya ini. Dirinya selalu cemas jika merasa sendiri di semesta yang dinamis, berubah dan tidak pasti ini. Adalah Tuhan sang pasti menjadi pemberi ketenteraman dan cinta kasih. Manusia memerlukan Tuhan. Selanjutnya, Kata "kami" mengindikasikan  bahwa manusia memerlukan orang lain. Dia memerlukan sesama sebagai rekan senasib seperjuangan di dunia yang fana ini. Selain cinta dari Allah dia juga memerlukan cinta dari sesama. Manusia memang makhluk relijius dan sosial sekaligus;
  2. Dikuduskanlah nama-Mu : manusia memerlukan relasi yang damai. Di dalam relasi yang damai manusia dapat mengaktualisasikan dirinya sepuasnya. Manusia si fakir di depan Sang Maha Pengada perlu diberi jaminan keselamatan dan keamanan. Hanya Maha Kuasa yang penuh kasih yang mampu menyediakan itu. Manusia juga sadar bahwa antara dia dan sesama bisa terjadi sesuatu yang dapat bersifat destruktif dan hal ini mengancam persaaan aman dan pasti. Karena itu, antara dia dan si sesama perlu ada yang lain yang kudus dan disegani atau ditakuti bersama. Itu adalah Tuhan. Ya, Tuhanlah yang menghubungkan manusia dengan sesama. Tagal dua perkara ini maka manusia akan berseru "kuduslah nama-Mu" yang oleh karenanya dia selamat;
  3. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga : manusia  beranekaragam itu memerlukan suatu desain atau perencanaan tentang bagaimana dia harus  hidup. kemarin adalah kepastian, hari ini adalah perjuangan dan besok sama sekali gelap gulita. Di atas ketidakpastian, manusia sangatlah gemetar maka dia memerlukan rencana sebagai pelita menuju gelapnya besok. Rencananya sendiri tidak paten karena belum tentu disetujui sesamanya apatah lagi sang Mahakuasa. Karena itu supaya aman si manusia butuh untuk berseru...."ya Allah, biarkan aku menjadi bagian di dalam rencana-Mu itu";
  4. Berilah kami makanan kami yang secukupnya : manusia adalah makhluk material dan sebagai itu dia mempunyai kebutuhan mendasar sebagai makhluk fisik dan biokimia. Energi harus ada materi harus berputar supaya sel-sel manjadi hidup dan menjalankan jutaan proses bikoima. Setiap hari. Setiap saat. Dan hal itu dimungkinkan jika ada transformasi energi yang dialami oleh manusia sebagai makanan. Bahkan sebenarnya makanan hanyalah ikon bagi kata yang lebih besar, yaitu rejeki : pangan, sandang dan papan serta atribut material lainnya;
  5. Ampunilah kami seperti kami juga mengampuni: manusia memerlukan hidup bebas bahkan kebebasan ini menjadi hakekat manusia sebagai anugerah Tuhan. Dengan kehendak bebas manusia dapat hidup sebagaimana layaknya makhluk yang dapat tunduk dan mengatasi hukum-hukum alam. Jika ini bisa didapat maka harga diri dan aktualisasi diri diperolehnya. Bahkan kehendak bebas ini dikaruniakan juga kepada manusia untuk apakah percaya atau tidak percaya kepada DIA. Kebebasan hanya ada jika manusia terbebas dari tekanan dan hukuman. Kehendak bebas hanya akan ada jika ada pengampunan. Ya, pengampunan adalah kebutuhan  manusia;
  6. Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat : secara probabilita kesenangan dan penderitaan dapat menghampiri manusia silih berganti. Hal ini merupakan konsekuensi logis manusia sebagai makhluk biologi yang memiliki kehendak bebas. Bahkan dalam kemewahan kehendak bebas itu manusia masih juga cemas..."kalau boleh jauhkan saya dari cawan pahit dan dekatkan saya pada cawan anggur yang manis". Ternyata manusia membutuhkan kesenangan yang mengatasi penderitaan;
  7. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, Kuasa dan Kemuliaan : manusia yang makhluk ego dan alter ego ternyata memiliki kebutuhan akan kerendahatian. Tanpa sifat rendah hati keselamatan dan keamanan tidak pernah bisa dijamin. Sikap tinggi hati akan memancing bahaya. Bahaya berati tidak aman dan hal ini tidaklah manusiawi. Dari dirinya sendiri, kerendahatian adalah barang mewah yang sulit. Dari Allah dimintanya kerendahan hati itu. Semua yang aku punya sebenarnya punya DIKAU-lah itu
Jika kita tidak menolak teori Maslow dan Jean Watson maka bahagialah kita. Akan tetapi jika kedua teori itu digunakan untuk melengkapi teori Doa Bapa Kami maka menuju selamatlah kita. Anda, saya dan kita semua sungguh memerlukan keselamatan, tanpa kecuali. Percayalah. Happy Sunday, JBU.


Tabe Puan Tabe Tuan

Jumat, 28 Oktober 2011

entropi yang meningkat, ALLAH yang kekal

Dear Sahabat Kristiani,

Berkegiatan bersama komunitas masyarakat dan organisasi masyarakat non-pemerintah perduli bencana selama 2 hari terakhir (25-26 Oktober 2011) di Hotel Kristal, Kupang memberikan pengalaman tersendiri. Bukan karena sebelumnya tidak pernah berbicara dalam topik pengurangan resiko bencana seperti itu....bukan.....sudah sering gitu-gitu......tetapi ada hal yang menggelitik terkait 2 pernyataan dalam acara tersebut:

.... "bencana selalu ada, kita harus waspada, seperti kami di Noebesa tahun ini kurang sekali panen karena terlalu kering. Dahulu waktu bencana banjir bah di jaman Perjanjian Lama, untung ada Nabi Noh yang bikin kapal besar. Itu bukti bahwa pengurangan resiko bencana sudah ada dari dulu" .... (mantan kepala desa Noebesa, TTS yang desanya terancam longsor) ...

... "ada berita orang di Noebesa mati karena kelaparan, tapi waktu pak Gubernur dan kami berkunjung ke sana ternyata biar masyarakat mengalami kekeringan tetapi mereka masih bisa kasi kita makan ubi yang mereka simpan" ... (pejabat badan penanggulangan bencana daerah, NTT) ...

Di mana menariknya? Pertama-tama, tampaknya terjadi 2 tolok ukur atau variabel indikator bencana. Masyarakat desa menanggap bahwa dengan kegagalan panen mereka terancam lapar sementara bapak pejabat berpikir bahwa selama masih ada yang dimakan maka belum terjadi kelaparan. Supaya lebih jernih maka saya ingin memberikan 2 pertanyaan kepada masing-masing tokoh tersebut. Kepada bapak mantan kades Noebesa saya akan bertanya: "mengapa harus merasa terancam jika nyatanya masih ada ubi untuk dimakan?". Kepada bapak pejabat daerah saya akan bertanya: "apakah bapak bisa memastikan ubi yang dimakan oleh bapak gubernur dan rombongan bukan ubi terakhir yang mereka punya?". Saya sendiri, dalam acara itu, lalu memberikan jawaban sebaik-baiknya menurut perspektif ilmiah tentang resiko bencana, kerentanan, kapasitas, adaptasi, mitigasi dan cara menilai suatu ekosistem. Tapi posting saya kali ini bukan tentang jawaban-jawaban saya seperti yang dimaksud tadi. Saya ingin berbicara hal yang lain. Sama sekali tidak ada hubungan dengan percakapan 2 orang di atas? Ada. Sedikit. Sadiiikiiiii sa. Sapo'ong, kata anak Kupang. Bagaimana ini? ya beginilah:

Pak mantan kades sudah berbicara tentang keadaan dahulu dan sekarang yang tetap saja sama. "Ada ancaman tetapi ada tindakan berjaga-jaga". Bapak pejabat daerah juga berbicara tetang sesuatu yang menunjuk suatu situasi "ada ancaman tetapi jangan kuatir karena dari dulu sudah biasa begitu". Kedua orang itu telah bericara tentang sesuatu yang sifatnya tetap. Sambil menunggu sesi berikutnya, saya melamunkan satu hal, yaitu hukum kekekalan energi dan entropi sistem. Hukum I dan II thermodinamika. Hukum bak Abang dan adik.

Tentang kekekalan energi, hukum yang mengaturnya dikenal sebagai hukum I thermodinamika. Bunyi hukum tersebut adalah sebagai berikut: "Perubahan energi internal dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan perbedaan antara panas dipasok ke sistem dan jumlah kerja yang dilakukan oleh sistem pada sekitarnya". Ruwet? mungkin tidak tetapi biasanya hukum ini akan dibaca juga sebagai energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan hanya dapat ditransformasikan. Energi dari radiasi matahari diubah menjadi energi biokimia di dalam tubuh tumbuhan yang berfotositesis. Makhluk hidup yang memamakan tumbuhan akan mentransformasikan senergi di tumbuhan menjadi dalam tubuhnya maisng-masing. Energi yang terbuang karena panas misalnya akan ditransformasikan menjadi energi lingkungan. Inilah kekekalan energi. Hukum ini, pada awalnya sangat ditentang oleh gereja di masa pencerahan sebab jika benar demikian maka tidak akan ada kiamat. Dan hal ini bertentangn dengan ajaran gereja. Belakangan, kelompok ateis menggunakan juga hukum ini untuk menolak adanya penciptaan karena energi bersifat kekal maka tidak diperlukan pencipta. Semesta raya dan energinya sudah ada dan akan selalu ada. Waduuuuhhh.......

Datanglah kemudian hukum II thermodinamika yang mengatakan bahwa "Panas tidak dapat secara spontan mengalir dari lokasi yang lebih dingin ke lokasi lebih panas". Maksudnya apa nih? Jika anda punya 1 buah benda yang panas dan 1 buah benda yang dingin, misalkan anda punya 1 gelas berisi air panas dan 1 gelas lainnya berisi air dingin. Jika anda campurkan air di gelas-gelas itu maka anda tak lagi memiliki air panas dan air dingin. Air yang panas kehilangan sebagian panasnya karena ditransformasikan ke dalam air yang dingin. Lalu, air yang dingin mendapatkan kenaikan suhu akibat transformasi itu. Mereka bertemu pada satu titik suhu rata-rata yang tidak panas tetapi juga tidak dingin. Hangat (kalau pesan minuman di warung selalu saya bilang ....."teh hangat 1"... wkwkwk). Mengapa demikian? Efek perataan. Apakah suhu hangat air tadi sudah merupakan suhu panas + suhu dingin dibagi 2? Tidak begitu. Ada panas yang hilang karena menguap selama proses pencampuran. Inilah yang, dimaksudkan dengan, kurang lebih, entropi. Bagaimana membayangkan yang dimaksudkan dengan entropi? Jika kedua gelas tadi anda letakkan berjauhan maka kemungkinan hanya sedikit panas yang berpindah dari gelas berair panas ke gelas berair dingin karenan sebagian besar akan diuapkan menuju lingkungan. Akibatnya, hanya sedikit panas yang tersedia di gelas-gelas itu. Maka, dikatakan bahwa sistem panas di gelas-gelas tadi dalam keadaan kacau (entropi) karena tidak lagi panas. Semakin anda menjauhkan gelas-gelas itu (mengisolirnya) maka makin sedikit panas yang tersedia. Dapat dikatakan juga entropi dikedua gelas tadi meningkat menuju maksimal. Implikasi hukum II thermodinamika cukup menyenangkan bagi kaum teistik karena memberikan pintu kemungkinan adanya kiamat (kalo Ki Amat sih banyak di Bogor dan sekitarnya.....ha ha ha).

Bagaimana hubungan di antara hukum I dan II thermodinamika? Menurut info yang saya peroleh, hubungan keduanya baik-baik saja (kemarin keduanya terlihat sedang ngobrol minum kopi bareng dech...wkwkwk...). Jika diperhatikan baik-baik, tetapi salah dalam mengintepretasikannya, kita mungkin akan mengatakan bahwa keduanya saling bertolak belakang. Hukum I mengatakan bahwa energi itu kekal lha mengapa kok adiknya, si hukum II, berani-beraninya memberikan petunjuk bahwa energi bisa hilang....nakal banget kamu itu ya.... Betul begitu? Sebenarnya tidak. Posisinya tetap, yaitu energi itu kekal adanya (hukum I) tetapi preferensinya adalah aliran energi itu menuju 1 arah dan tidak bisa kembola-kembali (irreversible). Sepeda motor anda ketika dijalankan harus diisi energi (bensin) kan? Di dalam mesin motor anda, bensin tadi diubah (dikonversi) menjadi tenaga (kenceng dah jalannya motor anda itu) dan juga .... asap. Nah, dititik ini hukum II thermodinamika berperan, yaitu bahwa tenaga motor dan asap tidak bisa diubah kembali menjadi bensin (saya tantang Deddy Corbuzier untuk mengubahnya secara hitam putih kalo dia bisa....wheeeeaaaa ha ha ha...). Makin kenceng dan makin berasap maka bensin makin cepat habis. Entropi meningkat. Jika tidak ada penambahan energi maka mesin motor anda akan mati. Rencana menjemput pacar kocar-kacir sudah tuh. Entropi maksimal.

Lalu apakah tentang entropi ini adalah maksud posting ini? Tidak persis begitu. Yang ingin saya katakan adalah berikut ini. Perhatikan baik-baik ya sobat.....kesan bahwa hukum I dan II thermodinamika saling bertentangan sebenarnya karena disebabkan kesalahan dalam memberikan intepretasi. Hukum I thermodinamika sering disebut sebagai energi itu kekal, tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Padalah yang dimaksudkan sebenarnya adalah sekali energi itu diciptakan maka, menurut pengamatan, energi aktual itu konstan. Mengapa dikatakan demikian? karena ilmu pengetahuan selalu harus bertumpu pada pengamatan sedangkan pengamatan belum sama sekali membuktikan kata "tidak dapat" dan atau sebaliknya, "dapat". Dengan demikian sejatinya tidak ada kekekalan dalam pengertian akan selalu ada selama-lamanya (itu sebabnya ilmuwan memprediksikan bahwa mungkin sekitar 8 - 10 milyar tahun lagi matahari akan kehabisan energinya dan pada saat itu tamatlah galaksi bima sakti kita). Kalau begitu konstruksi permasalahannya maka hukum II thermodinamika, si adik, terhubung dengan hukum I, si abang. Energi potensial yang konstan itu akan dikonversi menjadi aneka rupa energi kinetik tetapi di dalam proses konversinya selalu akan terbentuk energi yang tidak bisa dimanfaatkan lagi. Karena itu pemakaian energi akan menyebabkan kekurangan energi dalam bentuk yang bisa dipakai dan anda akan mengalami "kekacauan sistem" kecuali anda menciptakan energi baru. Anda, saya dan kita semua selalu membutuhkan penciptaan energi.

Jika konstruksi tadi dapat diterima maka pertanyaannya adalah siapakah pencipta energi? Teistik maupun ateistik bisa berdebat tetapi 1 hal yang disepakati adalah selalu diperlukan energi yang konstan. Dan selama ini diakui bahwa tidak ada 1 pun mesin yang bisa bekerja secara konstan dan efisien KECUALI adanya sesuatu yang MISTERI yang berfungsi sebagai PENGADA (the first uncaused cause - Bertrand Russel). Dalam perspektif kaum teistik, kita akan menyapa Sang Maha Pengada itu sebagai TUHAN yang tidak memerlukan pengada lainnya. Saya membaca kesaksian di dalam Alkitab bahwa:
Even before the mountains came into existence, 1 or you brought the world into being, you were the eternal God (Psalm 90:2 - Nett Bible)

Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah (Mazmur 90:2 - Alkitab, TB, LAI, 1974)

Sadèrèngipun redi-redi katitahaken, inggih sadèrèngipun Paduka ngawontenaken bumi lan alam jembar, wiwit kelanggengan dumugi kelanggengan, Paduka jumeneng Allah (Mazmur 90:2, Injil Bahasa Jawa, 1994)

Happy Sunday. God bless you all,


Tabe Tuan Tabe Puan

Sabtu, 23 April 2011

di Getsemani: Jesus bukan penakut, dia sahabat

Dear Sahabat Kristiani,

Berbahagialah kita, anda dan saya karena Tuhan masih berkenan mempertemukan setiap kita dengan satu lagi Hari Raya Jumat Agung, Perayaan Perjamuan Kudus dan Paskah, di tahun 2011. Ayanda dan Ibunda saya, misalnya, tak lagi merayakan hari-hari besar umat Kristiani ini dalam situasi yang sama dengan yang saya alami. Ayahanda "Robert SGT" dan Ibunda "Tien" mungkin merayakannya di dimensi lain dengan cara yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Penyanyi lagu-lagu balada kecintaan saya, Franky Sahilatua juga tak lagi merayakan Paskah seperti kita. Dia telah berangkat meninggalkan "perahu retak" dunia ini menuju Rumah Allah. Apapun juga, bagi semua sahabat Kristiani saya ingin mengucapkan SELAMAT JUMAT AGUNG. SELAMAT PASKAH. TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA (dan juga saya).

Berkenan dengan perayaan Jumat Agung dan Paskah kali ini, ada yang ingin saya renungkan setelah sebelumnya saya gumuli secara serius. Apa yang saya gumulkan dan renungkan itu. Adalah ini:

„Ya, BapaKu, jikalu Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu: tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.“... Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik darah yang bertetesan ke tanah.“ (Luk.22:42-44)
Ayat di atas menunjukkan secara kronologis detik-detik ketika Tuhan Yesus sedang menunggu "saat-NYA" sebagaimana yang telah ditentukan oleh Sang Bapa. Setelah melaksakan perjamuan kudus di kamar loteng sebuah rumah pengikut-NYA, Tuhan Yesus lalu berjalan menuju Taman Getsemani ditemani 3 orang murid-Nya. Di sana Tuhan Yesus mengambil sewaktu dua waktu untuk berdoa menggumuli "saat-NYA" tersebut. Hampir semua tafsir Alkitab mengatakan bahwa ayat-ayat itu menujukkan sisi manusiawi Yesus yang memiliki rasa takut. Sudah barnag tentu, saya memahaminya di balik "ketakutan-NYA" itu tersembunyi teladan Ilahiat, yaitu ketaatan di hadapan Bapa. Tuhan Yesus takut tetapi di taat. Saya bersetuju dengan tafsir. Akan tetapi ijinkan saya untuk mengatakan bahwa saya memiliki masalah pada penggunaan kata "takut" dalam ayat di atas. Benarkah Yesus "ketakutan" dan lalu berusaha "menghindar dari Salib"? Benarkah begitu? Saya kuatir jika memang benar demikian karena beberapa konsekuensi logis dari homili seperti itu. Karena itu saya berusaha memahami benar arti kata "ketakutan" yang dipakai di Lukas 22: 44.

Kata "takut" pada kutipan ayat di atas kelihatannya merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Yunani "αγωνία" atau "agwnia" atau "agonia". Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka kata itu akan menjadi "agony" yang memang berarti takut. Akan tetapi hasil penelusuran saya secara berhati-hati menemukan arti lain terkait kata "agoni". Saya menemukan bahwa kata "agony" dalam bahasa Inggris ternyata berpadanan dengan lebih dari satu kata Yunani. Kata "agony" selain berpadanan dengan "αγωνία" ternyata juga berpadanan dengan kata "μαρτύριο" atau "martyrio" yang berarti penderitaan yang amat dalam. Karena itu saya tak heran jika dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ayat ke 44 dari Kitab Lukas pasal 22 berbunyi

"Yesus sangat menderita secara batin sehingga Ia makin sungguh-sungguh berdoa. Keringat-Nya seperti darah menetes ke tanah"

Perhatikan pula terjemahan dalam versi lainnya sebagai berikut:
  • Sedang ia dalam sengsara, maka ia meminta doa dengan lebih bertekun; maka peluhnya pun menjadi seperti titik-titik darah gugur ke bumi (Shellabear Draft, 1912)
  • Dan waktu dia ada dalam sngsara, dia minta do'a dngan lbeh tkun: dan dia punya ploh jadi sperti titek-titek darah mnitek di tanah (Melayu BABA, 1913)
  • Maka dalam sangsara jang besar itoe makin radjin ija meminta-doa dan peloehnja pon mendjadi saperti titik-titik darah jang besar berhamboeran kaboemi (Klinkert, 1879)
  • Dan sedang 'ija kene parang pajah, maka makin radjin munadjatlah 'ija. Maka pelohnja djadilah saperij titikh 2 darah kantal, jang malileh turon kabumi (Leydekker Draft, 1733)
Berdasarkan pemahaman arti kata itu maka saya lalu memiliki 3 opsi perspektif dalam memahami makna ayat dalam Lukas 22: 44.

Dalam banyak naskah-naskah renungan saya sering menangkap kesan bahwa Lukas 22: 42-44 memberi petunjuk bahwa Yesus takut. Yesus, dalam sisi manusiawinya, ternyata ketakutan menghadapi Penyaliban yang dahsyat dan mengerikan itu. Begitu takutnya Yesus, lalu Dia berusaha mencari jalan selamat untuk diri-NYA. Pada titik ini saya tertegun. Benarkah Yesus yang saya kagumi luar dalam itu adalah seorang yang penakut? Bukan cuma takut, lebih lanjut tampak Yesus mengusahakan sesuatu yang lainnya seperti yang terlihat pada kutipan ayat tersebut berikut ini ..... "ambillah cawan ini dari-KU" .... Sekarang ada 3 opsi konsekuensi jika do'a Yesus agar Bapa setuju mengambil "cawan" itu dari-NYA: pertama, Allah kehilangan sifat adil. Bukankah penghukuman harus dijatuhkan karena kesalahan sudah terjadi? Kedua, Allah ingkar janji. Bukankah Penyaliban sudah dinubuatkan sejak perjanjian lama? Ketiga, jika Allah memang adil dan tidak berbohong maka kepada siapa "cawan" harus dialihkan? Siapa yang harus dikambing hitamkan? Siapa yang harus dikorbankan menggantikan Yesus? Benarkah Tuhan Yesus dalam doanya berpikir tentang "bagaimana mengorbankan orang lain"? Nah lihatlah, konsekuensi logis dari perspektif Yesus ketakutan dan berusaha melarikan diri diri dari "cawan" ternyata berdampak sangat serius terhadap kesejatian Allah dan Yesus. Hal ini juga tidak main-main karena di beberapa blog yang kontennya sangat sisnis terhadap Yesus saya membaca bahwa perkara ketakutan Yesus ini ternyata digunakan sebagai dasar argumen menolak dimensi Ketuhanan-NYA..."heeeiiii, lihatlah...Yesus yang penakut itu pasti bukan Tuhan karena tak masuk akal Tuhan itu penakut". Betulkah Tuhan Yesus ketakutan lalu diam-diam berusaha bernegosiasi dengan sang Bapa guna berusaha mencari selamat bagi diri-NYA sendiri sembari mengorbankan orang lain? Jujur saja, saya tak yakin. Mengapa demikian?

Saya memiliki beberapa referensi yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sama sekali bukanlah penakut dan juga bukan pencari keselamatan untuk diri-NYA sendiri lalu tega mengorbankan orang lain. Kisah Yesus Tuhan Yesus menghadapi pencobaan di padang gurun; ceritera Tuhan Yesus yang mengusir roh jahat; bagaimana cara Tuhan Yesus menghadapi angin topan di tengah lautan yang nyaris mengaramkan kapal yang ditumpanginya; Bagaimana pilihan etis Tuhan Yesus menghadapi banyak orang yang marah dan ingin merajam si perempuan pezinah...dan wwwooowwww...masih amat banyak lagi referensi sejenis yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bukanlah penakut. Tidak pula seorang pencari keselamatan bagi diri-NYA sendiri. Tuhan Yesus juga tidak sedang bernegosiasi dengan Bapa untuk tega mengirimkan orang lain ke Kayu Salib ganti Dia. Jika benarlah Yesus memilih sikap seperti begitu maka, maaf, ke-Kristenan saya akan saya tanggalkan menit ini juga karena bukan Yesus seperti itu yang saya sembah. Dalam perspektif ini Yesus adalah penakut dan berusaha lari sejauh-jauhnya dari penghukuman. Sulit saya membayangkan bahwa ibarat menghadapi kapal yang karam Tuhan Yesus sedang berusaha berenang secepat-cepatnya supaya tidak ikut terbawa tenggelam terseret arus kapal karam lalu tidak perduli apakah si anu dan si polan sedang termenggah-menggeh klelep mau mati tenggelam. "Walah kalo nulungin situ bisa-bisa gw ikutan klelep dunk, tak us-us aja ya". Maaf, saya tidak yakin bahwa Yesus bertindak seperti itu. Itu bukan tipenya dech. Kalau tidak begitu lalu apa? Ada alternatif perspektif kedua.

Saya mendapat sedikit kelegaan ketika mengetahui bahwa ayat ke 44 Kitab hasil tulisan dokter Lukas pada pasal ke 22 ternyata dapat berbunyi dalam pemaknaan yang berbeda...."Tuhan Yesus amatlah sengsara" ... Oh, ternyata peristiwa doa di taman Getsemani tidaklah harus ditafsirkan bahwa Yesus adalah si penakut yang sedang berusaha mengelak dari Salib dan meletakkan salib pada bahu manusia. Tuhan Yesus ternyata amat menderita. Apa yang membuat Tuhan Yesus menderita? Bayangan dahsyatnya Salib dan penyalibankah? Bisa jadi begitu tetapi Yesus tak sedang mengupayakan penghindaran dari penghukuman. Yesus yang sehakekat dengan Allah itu tahu persis bahwa Salib tetap ditancapkan dan Dia akan tergantung di situ. Yesus juga paham bahwa tak boleh ada sesiapaun yang lain yang dapat menggantikan Dia sebagai yang tergantung di Salib. Yesus tahu bahwa "cawan harus diminum" tetapi "bolehkah cawan itu ditukar"? Saya membayangkan Yesus bergumul dalam pikiran-NYA dan berbisik ..."Bapa, masih bolehkan ada solusi lain dari penghukuman yang akan aku tanggung"..... Terhadap kemungkinan ini, saya sedikit lega tetapi belum seluruhnya karena masih terasa "bau" upaya meluputkan diri dari "cawan". Yesus mengelez? Saya pikir tidak kendati Yesus sebenarnya bisa saja mengambil jalan lain bukan? Saya teringat pengalaman saya beberapa waktu yang lalu sebagai salah satu pengurus dalam organisasi x. Salah satu petinggi di organisasi ini jelas-jelas bersalah menyalahgunakan kuasa dan melakukan korupsi. Mula-mula musyawarah pengurus memutuskan untuk memecat yang bersangkutan tetapi lalu dengan alasan "kasih" maka keputusan itu diubah hanya menjadi penundaan kenaikan gaji berkala. Hukuman tetap djatuhkan tetapi bentuknya dirubah dan bahkan lebih ringan. Bisa jadi model inilah yang "dinegosiasikan" oleh Yesus kepada sang Bapa. Boleh-boleh saja tafsir seperti itu tetapi - sekali lagi menurut hemat saya - itu juga bukan tipe Yesus.

Sampailah saya pada alternatif perspektif yang berikutnya yang saya yakini jauh lebih mendekati kebenaran Firman Tuhan tentang jati diri Yesus. Begini: Tuhan Yesus sadar bahwa Salib dan Penyaliban pasti terjadi karena keadilan Allah. Hukuman sudah dijatuhkan dan itu harus terjadi. Compromise no more. Tidak ada pilihan lain. Betuk penghukumannya juga sudah pasti seperti nubuat para Nabi. Ya, penyaliban yang adalah hukum yang amat mengerikan dan menghina itu tak boleh berubah. Tak bisa diubah. Harus seperti itu. Tuhan Yesus juga tahu bahwa manusia si pecundang tak akan mampu menanggung Salib yang nista itu kecuali DIA. Lalu apa yang membuat Yesus amat menderita? Menurut saya, Yesus amat menderita justru karena keterlibatan manusia dalam proses penghukuman itu. Tangan Bangsa Israel sebagai ruang budaya kehidupan Yesus sekali lagi akan berlumuran darah dan kali ini adalah darah Mesias mereka sendiri. Mesias yang dinanti-nantikan begitu lama. Tangan umat pilihan ini kembali harus berlumuran darah bahkan kali ini darah anggota komunitasnya sendiri. Ingat bahwa Yesus terlahir dan sampai mati adalah seorang Yahudi. Dalam hukum Yahudi, amat terlarang "jeruk makan Jeruk" atau "Jahudi makan Jahudi".

Yesus yang mau memahami perilaku dan kedosaan manusia dengan segala konsekuensinya itu rupanya memasuki taman Getsemani dengan beban itu. Dia akan mati di Salib tetapi bagaimana dengan nasib manusia si pecundang yang membunuh-Nya itu? Jika kematian-NYA adalah bentuk ultimat terhadap penebusan dosa bagaimana dengan tanggung darah oleh kaum pembunuh-NYA? Yesus tahu betul bahwa jawaban terhadap dosa akan segera dimiliki oleh manusia melalui Kematian dan Kebangkitan-NYA tetapi bukankah manusia bebas memilih ataukah selamat ataukah maut. Apakah si degil manusia mau belajar dari kesalahan mereka tentang penyaliban. Apakah jauh setelah penyaliban, manusia tak lagi gemar menebar kebencian? Yesus tahu betul bahwa Dia sudah menyiapkan jembatan emas Keselamatan menuju Allah, yaitu diri-NYA sendiri tetapi apakah pendewaan terhadap diri sendiri, kekuasaan, keterkenalan dan kekayaan tidak lagi menjadi pilihan hidup manusia? Saya membayangkan dalam pergumulan batinnya yang dahsyat mungkin Tuhan Yesus berkata dalam hati-NYA

..."mengapa ya Bapa, aku digariskan harus mati oleh tangan manusia yang aku cintai itu? Tak adakah jalan lainkah? Aku adalah harapan bangsa degil ini .... Akulah harapan sebenarnya bangsa sesat ini.....jika aku harus mati, siapakah harapan mereka? Ya Bapa, mengapa aku harus mati di tangan mereka? Karena keadilan MU, adakah mereka diloloskan dari hutang darah atas kematian KU? ... Ya Bapa, mengapa, hanya karena berbeda visi dan klaim kebenaran sepihak, Penyaliban ini harus terjadi....Ya Bapa, mengapa siklus pertumpahan darah atas nama perbedaan visi dan klaim kebenaran masih harus terjadi lama setelah Penyaliban ini?
Tentang ini saya mengajak anda semua untuk mengingat kisah Kain yang harus menerima hukuman atas pembunuhan yang dilakukan terhadap adiknya Habel. Anda juga tak boleh menutup mata terhadap fakta sejarah bahwa 40-50 tahun setelah penyaliban Yesus, Bangsa Israel dihancur leburkan oleh Romawi dan diserakan ke seluruh penjuru dunia. Kisah kelam bangsa Israel masih akan terus berlangsung amat lama sampai masa tangan berdarah si Monster Hitler yang membunuh 6 juta orang Yahudi. Apakah ini bukan bentuk hukuman tanggung darah terhadap kejahatan mereka membunuh Mesisnya sendiri? Anda juga jangan melupakan konsteks sosial, politik dan historis bahwa dalam peristiwa Penyaliban Yesus terpaut banyak aspek yang menunjukkan intrik politik, intrik kekuaasaan, intrik keagamaan dan bahkan intrik pengkhianatan. Ya, Yesus adalah korban tak berdosa dari intrik-intrik yang terjadi. Fakta menunjukkan bahwa korban tak berdosa dan sia-sia dalam berbagai sengketa di dunia begitu amat luar biasa banyaknya. Ratusan juta nyawa meregang percuma selama perang Salib, perang antara kaum Protestan dan Katolik, di Eropa, WW I, WW II, Perang Vietnam, Perang Teluk, kerusuhan Mei 1998 di Indonesia, peristiwa 9-11 di New York dan ribuan peritiwa berdarah lainnya. Yesus mengetahui itu. Yesus mengenal betul kedegilan hati manusia kesayangannya itu. Pasti. Salib memang diperlukan tapi Yesus ragu akan kemauan manusia untuk belajar dari Salib. Dan karenanya Dia menderita. Dia menangis.

Dalam perspektif yang saya tawarkan ini pusat perhatian saya bukanlah upaya Yesus untuk bernegosiasi dengan Sang Bapa tentang keluputan-NYA dari Penyaliban melainkan CINTA KASIHNYA YANG AMAT MURNI DAN TAK TERBATAS BAGI MANUSIA. Sisi inilah yang mengejutkan dari Yesus seperti yang dikatakan oleh Tim Stafford (2010) dalam bukunya "Surprised by Jesus" bahwa pribadi Yesus adalah pribadi yang sugguh sangat mengejutkan bagi banyak orang yang mengaku mengenal Dia. Salah satu ciri khas Tuhan Yesus adalah beliau selalu berpikir dalam suatu kesatuan persekutuan. Itulah penjelasannya mengapa Yesus yang sama sekali tidak memiliki dosa tetapi malah menyerahkan diri-NYA untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dia melakukan itu karena Dia solider dengan manusia yang berdosa dan membutuhkan pembaptisan. Itu pula penjelasannya mengapa Tuhan Yesus amat sering bergaul dengan mereka yang terpinggirkan, yaitu si pezinah, si pemungut cukai dan yang lainnya. Setiap tindak-tanduk Yesus selalu memberi petunjuk bahwa...."hei, aku mencintai kalian dan karena itu aku mau masuk dalam penderitaanmu, dalam kesusahanmu, dan bahkan .... dalam dosamu. Bayangkan, di tengah ancaman Salib yang akan dikenakan kepada-NYA, Yesus malah memikirkan manusia. Jelas sudah, siapa yang digumulinya dengan penuh penderitaan di Getsemani. Siapa yang di tangisi-NYA di Getsemani. Bukan diri-NYA sendiri melainkan Manusia. Luar biasa.

Berkali-kali saya membaca Lukas 22: 42-44 dan saya selalu cemas akan "ketakutan" Yesus. Tetapi syukurlah, kali ini saya memahaminya dari perspektif yang berbeda. Yesus boleh saja menderita, cemas, gelisah atau takut sekalipun tetapi saya tahu kini bahwa obyek ketakutan-NYA bukanlah diri-NYA sendiri. Yesus pertama-tama tidak sedang berpikir kepentingan diri-NYA sendiri. Manusialah yang ada dibenak-NYA sepanjang hidup dan karya_nya bahkan ketika DIA berada begitu dekat dengan dengus napas seringai jahat sang maut. Itulah demonstrasi Cinta Kasih Yesus yang tak tertandingi. Di zaman ketika semangat mementingkan diri sendiri begitu merebak bukankah teladan YESUS terasa amat luar biasa? Ketika di Libya semua berperang melawan semua, ketika para pelaku teror bom di Indonesia hanya memikirkan isi kepalanya sendiri, dan ketika para petinggi DPR sibuk mencari-cari alasan pembenaran dalam pemborosan pembangunan gedung DPR yang baru, dan ketika para penggemar George Toisuta dan Arifin Panigoro sibuk memikirkan kepentingan diri mereka sendiri di PSSI maka teladan Yesus adalah oase penyejuk di tengah padang pasir kepentingan diri itu.

Sahabat Kristiani, jika perspektif ini bisa diterima maka jelaslah sudah Tuhan Yesus bukanlah pecundang nan penakut melainkan adalah sumber mata air cinta kasih yang teramat luas dan dalam. Inilah Yesus Tuhanku. Penebusku yang hidup. Kepada-NYA layak saya mempertaruhkan hidup dan peruntungan hidup. Ketika saya tak memperdulikan Dia malah sebaliknya, Dia berpikir tentang saya. Dia menangis untuk saya. Dia gelisah karena saya. Dia takut karena memikirkan saya. Yesus memang Tuhan tapi Dia juga sungguh sahabat saya. Kepada saya dan anda YESUS telah menawarkan Syalom Allah itu. Maukah anda dan saya? Anda mau Yesus yang penakut atau Yesus yang bersahabat. Saya sudah membuat pilihan. Terserah anda. SELAMAT PASKAH


Shalom Tuan Shalom Puan

Selasa, 11 Januari 2011

ini kata pendeta lho.."rubah cara pikir rubah cara bersikap"

Dear Sahabat Blogger,

Sekarang kita sudah di hari 11 bulan 1 tahun 2011, ah sungguh sebuah tanggal cantik, salah seorang di antara sahabat blogger berkenan mengirimkan sebuah artikel. Ternyata apa yang mau disampaikan sungguh amat berharga. Kita meneghendaki hidup bahagia di tahun 2011 bukan? Nah, dalam perspektif sahabat yang satu ini, semua bisa kita capai jika kita mampu "merubah cara berpikir merubah cara bersikap". Benar belaka. Karena itu silakan mengikuti artikel lengkapnya, Oh ya, sebelum lupa, beliau adalah seorang pendeta. oleh karenanya..sssstttt...kalo mau berdiskusi dengan pendeta maka sikap harus santun ya (jika tidak...woooiii...berkat bisa tidak sampai....ha ha ha ha..)


Seorang sahabat berkata:

Ketika aku tertidur aku bermimpi bahwa hidup ini menyenangkan, tetapi ketika aku bangun aku tahu bahwa hidup ini perjuangan.
Kalau kita berpikir kita kalah, kita kalah
Kalau kita berpikir kita tidak berani,kita tidak berani
Kalau kita ingin menang tetapi kita berpikir kita tidak bisa, hampir dapat dipastikan kita tidak bisa
Perjuangan hidup tidak selalu dimenangkan oleh orang yang lebih kuat atau lebih cepat
Tetapi cepat atau lambat,orang yang menang adalah orang yang berpikir bahwa ia bisa menang…..

Bunyi penggalang kalimat bijak diatas terus terngiang ditelinga dibarengi dengan bunyi petasan dan kembang api yang menggelegar membelah langit malam. Hiruk pikuk suara manusia dan kendaraan yang berseliweran, ditambah celoteh riuh rendah saudara dan sahabat yang begitu bersemangat menanti detik-detik pergantian tahun…hhmmm…lengkaplah sudah. Sangat menyenangkan memang saat-saat seperti itu. Kita kumpul sama-sama untuk lewati detik-detik pergantian tahun dengan gembira. Semua begitu antusias menunjukkan betapa begitu pentingnya moment tutup tahun ini. Saya ikut gembira. Walau pikir saya sebenarnya ini hanya sebuah selebrasi yang sudah biasa-selalu berulang begitu-tak banyak berubah dari tahun ketahun, tapi tetap saja tak kehilangan daya tariknya.

Sedikit menepi dari eforia itu saya coba renungi dan ingat beberapa hal yg sudah lewat. Beberapa peristiwa sedih muncul. Ada air mata karena kehilangan orang-orang yang saya kasihi, yg telah terekam begitu jauh & dalam dihati. Lalu ada kegembiraan dan tawa karena keberhasilan beberapa sahabat dan saudara. Pula ada kekecewaan karena beberapa kegagalan, penyesalan karena kesalahan dan kekeliruan yang pernah dibuat. Semua campur aduk malam itu tersaji didepan mata seperti sebuah slide film. Kegembiraan,eforia, dan antusiasme yang kita alami jelang malam pergantian tahun merupakan makanan pembuka saja dalam sebuah jamuan makan sebelum makanan utamanya datang. Makan yang sebenarnya adalah terletak pada makanan utamanya bukan pada makanan pembuka. Seperti itu kira-kira apa yang kita rayakan pada malam ganti tahun. Kegembiraan sesaat ini akan segera pergi karena esok punya cerita tersendiri. The show must go on. Seorang saudara yang tinggal jauh mengirimkan ucapan selamat tahun baru kepada kami pas malam pergantian tahun katanya, ….Happy New Year to all family….wish you happy…tapi disertai sebuah peringatan, don’t party to hard……….! Saya tersenyum membaca penggalan ucapannya yang terakhir itu. Beberapa saudara dan sahabat, lalu mengajak kami duduk berkelompok dan menuliskan resolusi apa yang akan dibuat tahun depan. Harapan, niat, keinginan yang perlu dicapai ditahun yang akan datangpun ditulis. Jujur saya sebenarnya belum bisa bergabung disitu sebab rasanya masih banyak PR yang belum saya selesaikan di tahun yang lalu. Yang lama saja belum selesai gimana mau buat sesuatu yang baru. Diselesaikan saja dulu. Lagipula menurut hemat saya, membuat resolusi baik tapi jika tanpa disertai metanoia maka hasilnya tak banyak.

Metanoia adalah sebuah perubahan cara pikir atau paradigma karena suatu kebenaran yang diketahui, diterima atau diperoleh. Berasal dari bahasa Yunani metamorphoo yg berarti transformed or transfigured by a supernatural cange. This change is by a renewing of the mind or spirit. Dari itu saya kemudian tahu bahwa saya perlu metanoia. Itu pasti. Bagaimana dengan sahabat ? Perlu jugakah sahabat ? Karena saya perlu maka sebagai upaya kearah itu saya berusaha terus belajar untuk menyelesaikan apa yang belum selesai, termasuk menunaikan hutang saya kepada pemilik blog,dengan try to share something here. Tidak hanya untuk sahabat tapi sayapun perlu, bila tidak maka saya sudah ambil posisi sebagai orang farisi dan ahli taurat yang telah menerima pukulan telak dari Sang Maha Guru…”celakah kamu hai orang-orang munafik.…kamu seperti kuburan yang dilapur putih yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran” (membayang wajah orang farisi dan ahi taurat saat itu yang merah, hijau, kuning…kelabu karena pukulan telak….apa jadinya bila pukulan itu didaratkan kewajah saya…)
Itulah bagian pendahuluan tulisan ini (yang mungkin kepanjangan) dan……supaya sahabat tidak keburu bosan dan ngantuk…so mari kita masuk pada intinya saja.

Sahabat yang kekasih, karena hidup dipalanet ini hanya sekali dan sementara. Lagipula apa yang kita lakukan dialam yang sementara ini bakal nentukan hidup kita dialam kekekalan nanti maka amat penting bagi kita untuk bangun kehidupan yg baik dan berkualitas sekarang disini. Sebab sekali lagi, apa yang kita lakukan sekarang adalah investasi untuk kehidupan nanti. Kalau kehidupan kita ditahun yang baru ini diibaratkan sebuah bangunan maka fondasinya harus kuat-kokoh. Ketika kita akan membangun sebuah bangunan, setelah proses rancang gambar dan design kelar, maka dimulailah pembangunannya. Pada fase pembangunan fisik inilah fondasi merupakan urusan paling penting yang harus mendapat perhatian primer. Kondisi stabil dan kekuatan suatu bangunan akan sangat bergantung pada kedalaman dan kwalitas bahan dasar yang akan kita pakai didalamnya. Jika yang kita letakkan berupa eforia, yang menyala sesaat dengan warna-warni indah seperti kembang api, tapi tak lama lalu mati, maka kemungkinan akan seperti itulah kwalitas hidup kita nantinya. Bila yang kita letakkan adalah pesta pora dan kesenangan sementara, maka dapat dipastikan apa yang akan kita temui dihari-hari kedepannya.

Ketika media masa ramai membicarakan mengenai gempa dibeberapa daerah di Indonesia beberapa waktu lalu, saya baca sebuah artikel yang menarik, judulnya”Tekhnologi Pondasi Menentukan Kekuatan Bangunan Terhadap Gempa” Disitu dijelaskan bahwa ketahanan sebuah bangunan akan sangat ditentukan oleh tekhnologi yang digunakan pada pondasi. Tekhnologi yang canggih dan sesuai dengan keadaan tanah suatu bangunan akan membuat bangunan itu tahan gempa. Kondisi bangunan tsb. akan sangat bergantung pada pondasinya. Jadi untuk berhasil dan mencapai kesuksesan dalam bidang apapun ditahun baru ini sobat, urusan fondasi hidup itu sangat penting. Bahan apa yang kita pakai sebagai peletak dasar rumah kehidupan kita menentukan kwalitas atau daya tahan bangunan hidup kita. Jika tidak maka mungkin hidup kita bisa naik tapi kita tidak mampu untuk tetap ada diatas. Berapa banyak dari kita yang bisa menjaga kelakuannya bersih ketika sudah memegang atau menduduki suatu jabatan penting? Bangunan yg dibangun diatas fondasi yg labil ketika kena goncangan akan roboh. Jadi, mari sahabat sama-sama kita pikir,…kira-kira bahan apa yang akan kita pakai untuk bangun rumah kehidupan kita yang baru ditahun 2011 ini ? Karena saya yang nulis postingan ini maka mohon diperkenankan saya jabarkan sesuai versi saya,
(mohon simak saja dulu sahabat… jangan dulu protes, ha..ha..)

Kalau katong mau baomong tentang fondasi untuk bangun ini rumah kehidupan, itu berarti mari baomong tentang :

Yang pertama, ubah pemikiran yang lama.

Tidak terbantahkan bawa peranan pikiran dalam suatu keberhasilan sangat penting. Seringkali kita mengetahui atau mengenal seseorang dari cara dia berpikir. Saya mengenal siapa pemilik blog ini dari pemikiran-pemikirannya. Kita tahu dan mengenal Hegel, Aristoteles, Rasul Paulus, bahkan Karl Max dari pemikirannya. Dapat dipastikan pemikiran seseorang akan menentukan tindakannya. Setuju kah ? Karena itu tidak perduli siapapun kita…. pikiran saya dan sahabat perlu selalu dibaharui. Kita perlu perubahan. seperti metamorphoste atau allasso. Saya pilih dua kata ini karena lebih dekat artinya dengan maksud sebenarnya. Kata Allasso dalam bahasa Yunani berarti mengubah atau membuat berbeda ( change or to make different ). Kata allasso menunjuk kepada perubahan tingkah laku secara individu sampai kepada komunitas dimana individu-individu berada. Kemudian kata metamorphoste, itu berarti berubah bentuk secara bertahap. Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan diperbaharui atau diubahkan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan akal budi atau perubahan pikiran secara bertahap. Day by Day. seperti yang dimaksud didalam Roma 12:2…..“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, supaya kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik,yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Kata budi dalam teks aslinya adalah nous yang berarti pikiran atau understanding. Dalam Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan mind. Ketika Rasul Paulus bicara mengenai perubahan watak atau kehidupan pribadi orang yang diperbaharui ia menggunakan kata ini. Lalu kata metamorphoste juga menunjuk pada perubahan tingkah laku dari seorang berdosa menjadi memiliki sifat (nature )nya Tuhan. What’s got your mind, has got you….Apa yang menguasai pikiran kamu; menguasai kamu. Kata pikiran dalam Roma 12:2 dalam teks aslinya juga menggunakan kata nous yaitu yang berhubungan dengan kesadaran ( consciousness ) terhadap kebenaran yang membangun pemahaman akan makna hidup yang benar, dengan membuka kesadaran,memberi pengertian dan melahirkan persepsi-persepsi. Pembaharuan seperti inilah yang mengubah pola pikir atau mind set ( cara berpikir ) kita. Basicly pembaharuan pikiran menyebabkan pembaharuan mind set. Jadi maksudnya adalah : berubahlah didalam pikiran dan pengertianmu, berubah juga watakmu, ubah juga pola tingkah lakumu. Lalu miliki kesadaran akan sebuah kebenaran, bangunlah pemahamanmu akan makna hidup ini, bukalah kesadaranmu dan berilah pengertian padanya, dan mari lahirkan persepsi-persepsi baru yang baik dan benar yang datang dari sebuah pengetahuan yang benar.

Bertahun-tahun kebanyakan kita biasa berpikir bahwa perayan tahun baru harus dirayakan kalo perlu dengan pesta pora dan kembang api, karena dengan demikian melampiaskan rasa senang kita karena telah lewati tahun yang lama dan akan memasuki tahun yang baru. Akibatnya saya merasa bahwa kita telah membakar uang ratusan juta juta rupiah dinegeri ini untuk satu malam saja-malam tahun baru. Padahal masih ada begitu banyak orang yang melewati tahun ini dengan tanpa makan, minum dan pakaian yang memadai. Saya terpaksa berhenti menulis sebentar karena hati saya sedih membayangkan ada begitu banyak orang dibangsa ini yang untuk makan hari-hari, dan supaya dapat tetap bertahan hidup, harus mengais makanan di tong sampah. Masih ada banyak saudara setanah air kita dikampung yang jangankan menyaksikan gemerlapnya kembang api-melihat nyala listrik saja tak pernah. ( saya saksikan sendiri kalo pergi ke daerah). Pakaian mereka kumal dan kulit mereka berdaki, badan mereka kotor karena untuk beli sabun buat mandi saja sulit. Anak-anak mereka buta huruf sejak lahir dan tak bisa sekolah karena hidup dikondisi yang selalu minim, sementara kita disini dapat melakukan segala bentuk kesenangan, apapun yang kita mau,karena kita bisa !

Sahabatku, apa gunanya memasuki tahun yang baru tetapi membawa pola dan perilaku yang tetap lama. Pejabat dan pemerintah selalu menyampaikan ucapan selamat tahun baru, tetapi adakah perubahan baru yang dibuat bagi masyarakatnya. Gereja selalu merancang acara yang megah mewah didalam tapi didekat gerbang gereja masih ada orang yang lapar dan kekurangan. Dirumah kita, berdiri pohon natal besar dan seabrek hiasan yang mahal, sementara disekitar kita masih ada orang yg tidak punya beras untuk dimasak. Kita berkumpul dengan keluarga dalam kebahagiaan dan kecukupan, tetapi ada tetangga kita yang jauh dari keluarganya dan kesepian. Lalu apa yang berubah ? apa yang baru ? Bajukah, Mobil, Rumah ? Dengan kemegahan dan kemeriahan pesta kembang api malam itu apakah dapat membuat saya yang juga ada disitu malam itu serta merta berubah jadi the new one? Apakah dengan memasuki tahun baru lalu saya/kita juga punya pemikiran baru, mind set baru, sikap dan perilaku baru. Yang dulunya suka marah sekarang jadi lebih sedikit marah. Dulunya malas jadi sedikit lebih rajin. Dulunya pesimis menjadi lebih optimis. Dulunya suka mengkritik sekarang lebih pilih tunjukkan karya nyata. Dulunya suka kelebihan bersolek habiskan banyak waktu dan duit untuk dandan, sekarang lebih pilih yang sederhana dan alami, dulunya agak sombong sekarang lebih rendah hati, dulunya selfis sekarang lebih bisa nerima orang lain, dulunya gatek sekarang belajar untuk bisa lebih canggih dikit…knapa? dulunya old style sekarang lebih fashionable, dulunya mata keranjang sekarang belajar menjadi lebih setia ? dsb..dsb…

Lalu kalau bukan untuk sebuah perubahan, lantas untuk apa ibadah-ibadah kita ? Untuk apa kegereja setiap minggu, untuk apa berdoa menangis-nangis, sembahyang teriak-teriak. Untuk apa sekolah setinggi langit, belajar sampai tua, untuk apa memperoleh jabatan dan status ?
Sahabatku, Tuhan mau setiap orang yang mengaku percaya, semakin hari semakin menjadi lebih baik didalam pemikiran, perkataan dan perbuatannya. Ada sebuah kisah yang menunjukkan kepada kita betapa ngefek-nya hasil dari perubahan cara pikir. kisah ini mengenai seorang janda di Sarfat. Seorang janda miskin. Tuhan memakai Nabi Elia untuk menemuinya dan memintanya menyerahkan adonan roti terakhir yang dia punyai. Pada mulanya janda itu melihat bahwa permintaan Nabi Elia sangat tidak pantas ditujukan kepadanya, mengingat betapa miskinnya dirinya. Namun ia melakukan juga apa yang diminta Elia. Akhirnya mujizat yang memulihkan hidupnyapun terjadi. Tepung dalam tempayannya tidak habis-habis dan minyak didalam buli-bulinyapun tidak berkurang. Sejak saat itu dia tidak pernah kekurangan lagi. Apa sebenarnya yang terjadi ? Apakah itu terjadi dengan sendirinya ? Kalau kita pelajari baik-baik kisah ini maka kita akan dapati bahwa sebelum Tuhan buat mujizat melalui tepung ditempayan dan minyak dibuli-bulinya, Tuhan lebih dulu ubahkan alam pikiran janda Sarfat dari mental yang miskin ( poverty mentality ) yang melihat dirinya sebagai orang yang kekurangan dan mustahil memberikan sesuatu kepada orang lain, menjadi mental yang makmur ( prosperity mentality ). Janda Sarfat ini mengubah mind setnya yang lama kepada cara pikirnya yang baru. Ketika mentalnya diubahkan ia bersedia berikan adonan rotinya kepada Elia. Perubahan dalam alam dan cara berpikir itulah yang jadi titik awal perubahan hidupnya. Janda Sarfat itu telah membuka pintu berkat dan kuasa Tuhan didalam hidupnya, melalui kesediaannya mengubah cara pikirnya.

Sahabat, perubahan hidup dan nasib kita tergantung sepenuhnya dari seberapa banyak cara berpikir kita dijadikan selaras dengan cara berpikir Tuhan. Hal ini terjadi dengan mulai mengganti pengertian dan nilai-nilai hidup yang salah yang ada didalam pikiran kita yang sudah beranak pinak karena telah lama dipelihara disitu - renewing itu dengan nilai-nilai kebenaran melalui pemahaman Firman Tuhan. Dalam bentuk kepercayaan apapun, selama yang kita sembah itu Tuhan yang benar dan hidup maka pastilah “ rancangan yang baik dan sempurna itu yang disediakan bagi kita” termasuk untuk tahun yang baru ini. Karena itu sahabat : Ubahlah Pikiranmu.

Yang kedua : Ubah sikap yang salah.

Sikap adalah pola pikir atau kondisi mental yang menentukan interpretasi dan tanggapan kita terhadap lingkungan kita. Itu merupakan cara berpikir kita. Hal penting yang harus dimengerti adalah sikap merupakan produk alami dari integrasi atau gabungan antara rasa berharga, gambar diri, percaya diri dan rasa penting didalam diri kita. Intinya, sikap adalah perwujudan dari siapa kita menurut pikiran kita. Kesimpulannya, kita adalah sikap kita dan sikap kita adalah kita. Charles Swindol berkata…”…jika sikap saya benar, tidak ada batas untuk menjadi tinggi, tidak ada lembah yang terlalu dalam, tidak ada mimpi yang terlalu ekstrim dan tak ada tantangan yang terlalu besar. Sikap kita harus diperbaharui hari lepas hari, sebab :
• Sikap menentukan cara pandang.
Sebenarnya kita tidak melihat dengan mata kita tetapi dengan otak kita. Sikap kitalah yang menginterpretasikan atau menilai sebuah “image”. Setelah itu kita mengambil makna dari apa yang kita lihat. Kita ingin melihat apa yang kita lihat
• Sikap menunjukkan sejarah hubungan pribadi.
Sikap yang kita munculkan ternyata berkaitan erat dengan pengalaman masa lalu kita. Bagaimana hubungan kita dengan orang tua, teman, dan orang-orang yang dekat dengan kita akan membawa dampak yang mendalam dalam hidup kita.
• Sikap menarik perhatian orang lain
Kita menarik perhatian orang lain atau menolak mereka bukan dengan penglihatan kita tapi dengan sikap kita.
• Sikap mempengaruhi kenyataan
Sikap bukan hanya berbicara bagaimana kita menilai apa yang terjadi dengan cara yang benar, sikap mampu mengubah dunia kita. Sikap bukan hanya didalam tetapi juga interaksi dengan masyarakat, melalui respon, emosi dan perilaku kita.

Mari evaluasi sikap kita ditahun baru ini,apakah sikap kita sudah menyenangkan Tuhan dan sesama ? Kalau saya. sepenuhnya belum. Sebab itu saya mau ambil keputusan untuk ubah beberapa sikap saya yang belum benar dan ubah pola pikir saya yang keliru, karena…. apa yang jadi perhatian kita didalam pikiran kita akan menentukan tindakan kita. Tindakan kita itulah yang nentukan keberhasilan kita, ditahun yang baru ini.

Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,pikirkanlah itu. Kemudian mari kita kembangkan sikap yang benar dengan cara, jangan selalu mengulang–ulang tindakan yang salah tapi selalu mengulang tindakan dan kebiasaan yang baik.

Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu…..Apa yang diperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan,apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang didahimu dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. Jean Dominique Bauby, pemimpin redaksi majalah ELLE,sebuah majalah Fashion terkemuka di Perancis,pada tanggal 9 Maret 1997 meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoir dirinya yang “ditulisnya” secara sangat istimewa dan diberi judul “The Diving Bell and the Butterfly”. Ia meninggal 13 hari setelah bukunya diterbitkan. Sebelumnya, pada tanggal 8 Desember 1995 ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut “locked in syndrome” sebuah kelumpuhan total yang mnyebabkan dirinya tidak bisa berbicara maupun bergerak. Bahkan Jean sampai tidak mampu lagi menelan air liur dimulutnya karena seluruh tubuhnya lumpuh. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya untuk bergerak adalah kelopak mata kiri. Hanya dengan cara mengedipkan kelopak mata kirinya ia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya. Seseorang akan menunjukkan huruf demi huruf alphabet secara perlahan dan Jean akan mengedipkan mata kirinya bila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. Buku yang ditulisnya dengan mengedipkan mata tadi kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kisah hidup dan sikap hidupnya yang penuh semangat membuat banyak orang kembali memiliki pengharapan dan mulai mengevaluasi sikap dan perilaku mereka didalam menghadapi tantangan kehidupan ini. Bahkan film tentang kisah hidupnya mendapat penghargaan Cannes. Ini semua dicapai oleh orang yang sudah tidak mampu menelan airliurnya dan hanya bisa mengedipkan mata kirinya.

Jean menunjukkan kepada kita bahwa masalah kehidupan seberat apapun dapat diatasi dan kita akan keluar sebagai pemenang, ditentukan dari sikap dan perilaku kita dalam menghadapinya. Bisa dibayangkan bila sikap yang diambil Jean adalah marah, putus asa dan depresi, dijamin ia pasti mati dan dikubur dengan sakit hati dan kekecewaannya. Namun Jean memilih sikap hidup yang benar. Dengan optimis, bersemangat dan pantang menyerah ia akhirnya mengakhiri pertandingannya dengan baik dan keluar sebagai seorang pemenang kehidupan.Dibandingkan dengan Jean yang menderita kelumpuhan total, sampai saat ini saya belum bisa menulis satu bukupun yang mampu menginspirasi banyak orang seperti Jean, walaupun organ tubuh saya lengkap.

Sobat semua, tahun baru telah datang membawa tantangan yang baru, dan kita tidak harus kalah. Karena itu kehidupan harus kita bangun diatas dasar yang benar. Jika tidak maka bangunan kita bakal runtuh. Dua hal yang bisa saya titip lewat media ini : ubah pemikiran kita dan ubahlah tingkah laku kita.
kalau kita berpikir kita kalah, kita kalah
Kalau kita berpikir kita tidak berani, kita tidak berani
Kalau kita ingin menang tetapi kita berpikir kita tidak bisa, hampir dapat dipastikan kita tidak bisa
Perjuangan hidup tidak selalu dimenangkan oleh orang yang lebih kuat atau lebih cepat
Tetapi cepat atau lambat, orang yang menang adalah orang yang berpikir bahwa ia bisa menang…..



Selamat tahun baru sahabat, God Bless You

Tabe Tuan Tabe Puan

Sabtu, 03 April 2010

JESUS, cinta yang tak bertepi

Dear Sahabat Blogger,

Seorang sahabat saya yang rajin membaca tulisan saya di blog ini mengatakan kepada saya...'

Mike, tulisanmu indah dan harus saya akui sulit untuk dibantah tetapi mohon maaf, jika yang kau tulis adalah tentang Yesus, maaf sekali lagi maaf, saya telah kehilangan iman kepada DIA. Cobalah dipahami bahwa saya hanya bisa mempercayai sesuatu yang dapat saya pahami dengan akal saya. Dan, soal kematian dan kebangkitan-Nya, saya tak bisa lagi percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi. Yesus mungkin orang baik. Yesus mungkin guru agung tetapi jikalau yang kamu maksudkan adalah bahwa dia itu Ilahi, saya tidak sepakat.

Saya terdiam cukup lama. Lalu saya memutuskan untuk tidak mendebat dia apa-apa. kecuali 1-2 kalimat percakapan sederhana. Sesudahnya, saya berkata bahwa .."itu adalah hak mu, kawan tetapi ijinkan saya untuk tetap percaya dan menulis untuk bersaksi tentang Dia. Kita tetap berkawan bukan? Nah, ikuti saja tulisan -tulisan saya, mudah-mudahan ada yang bisa saya katakan sesuatu di sana". Lalu, di dalam hati saya berdoa...."Ya Yesus, Tuhanku yang hidup, biarlah kasih-Mu yang tak bertepi itu menghampiri sahabat saya kendati dia tak percaya pada-Mu, sebagaimana Engkau setiap hari sudi menghampiri saya kendati saya tiap hari berbuat kejahatan di depan-Mu"....

Begitulah sahabat, saya melalui dan merayakan Jumat Agung, Perjamuan Malam Kudus dan Paskah Tahun ini dengan perasaan yang bercampur aduk. Lelah karena terlalu sibuk, urusan di rumah yang seperti tidak ada habis-habisnya menempa kesabaran, kecemasan akan kondisi kesehatan, kerinduan akan saudara-saudara yang jauh dan ahhhh....apa lagi yang tersisa untuk Tuhan yang saya kasihi selain keluhan dan rintihan? Apakah DIA sudi mendengar? Apakah DIA mendengar? Apakah DIA ada, seperti komplain sahabat saya tadi??????

Ya, seberapapun besarnya derajat penolakan orang terhadap-NYA, Yesus adalah tokoh yang teramat besar. Milyaran orang memuja DIA. Tak kurang pula milyaran orang yang menolak DIA. Banyak yang mengaku bahwa DIA adalah Tuhan Yang Ilahi. Tak kurang pula mereka yang percaya bahwa Yesus cuma manusia biasa. Tak ada tokoh yang diteliti dari berbagai sudut pandang sebanyak Yesus. Ada jutaan penyelidikan ilmiah dengan kaidah-kaidah metode ilmiah yang amat mengandalkan rasionalitas empirik. Tak kurang pula mereka yang mencoba memahami Yesus hanya semata-mata secara supranatural. Hasilnya adalah orang-orang seperti DR. Eka Darmaputera yang percaya sampai mati bahwa Yesus sungguh adalah Tuhan dan Juru Selamat. Tetapi adapula orang-orang seperti Nietszche yang mengatakan..."Tuhan sudah mati".... Ada pula Imanuel Kant yang mengatakan bahwa .... "tetang Tuhan kita tak bisa berteori karena DIA berada di luar pengalaman empirik". Adapula Ravi Zacahrias yang dengan cerdas membuktikan bahwa ada keteraturan yang luar bisa dalam dunia dan kehiduan yang bisa membuktikan bahwa Tuhan itu sungguh ada dan Yesus adalah realitas. Ada orang sejenis Dan Brown yang kaya raya karena bukunya The "Davinci Code" yang amat menghina Yesus, laku keras. Adapula Francis Coppola yang memvisualisasikan, di dalam filimnya, Yesus berhubungan seks dengan Maria Magdalena. Ada pula orang sejenis Mel Gibson yang secara detil mengungkapkan Iman dan Kepercayaannya kepada Yesus melalui film "The Passion of Christ". Atas nama-NYA, sekali waktu, orang bersedia saling membunuh. Atas Nama-NYA, Gereja-NYA dipecah-pecah menjadi ratusan, mungkin ribuan aliran dan denominasi, sambil sang pemecah belah yakin bahwa aliran dan denominasi bikinannya itu adalah yang paling benar. Lalu, siapa sesungguhnya Yesus ini?

Saya cuma ingin mengatakan ini: tentang DIA, saya punya pendapat dan berteori. Bukan karena saya lebih hebat dari Imanuel Kant tetapi KARENA DIA YANG MEMAMPUKAN SAYA UNTUK BERPIKIR TENTANG DIA. Mengapa saya harus dimampukan DIA? Karena saya sesungguhnya tidak mampu berpikir tentang DIA. Mengapa saya tidak mampu berpikir tentang DIA? Karena saya terbatas. Mengapa saya terbatas? Karena saya fana dan berdosa. Lho, mengapa pada akhirnya DIA mau memampukan orang berdosa seperti saya? Ya, untuk itulah dahulu DIA datang. Yesus memang datang untuk menolong yang lemah dan berdosa. Dan kita layak dipeluk-NYA. Kita layak menyapa Allah, sang Maha Pengada. Apakah betul Allah adalah maha pengada? Jawaban kawan saya yang telah kehilangan rasa percayanya kepada Tuhan, jelas terang benderang, yaitu Allah tidak ada. Jikalau Allah tidak ada maka memang kepercayaan kepada Yesus adalah absurd. Benarkah demikian?

Dalam Alkitab dikatakan bahwa Allah menciptakan dunia dalam 6 hari tetapi Teman saya membantah itu karena menurut teori ilmu, jagad raya, termasuk bumi kita tercipta di antara 13-14 milyar tahun lalu pasca ledakan besar (teori big bang). Siapa yang menciptakan ledakan besar itu? Jawaban "hipotesis ilmiah"-nya adalah singularitas. Siapa yang menciptaan singularitas? Hal ini harus dijawab karena sifat mekanistis dari ilmu pengetahuan menuntut bahwa tidak boleh ada sesuatu yang terjadi karena kenihilan mutlak. Teman saya terdiam sejenak tetapi cepat sekali dijawab bahwa hal itu adalah misteri. Rupa-rupanya jagad raya, termasuk bumi kita diciptakan oleh sesuatu yang misterius. ...... ahaaaaa.... saya mengatakan kepada kawan saya tadi bahwa ...."nah kalau begitu saya lebih beruntung dari kamu karena saya punya sapaan kepada Sang Pengada yang misterius, yaitu Allah". Saya merasa lebih beruntung karena saya punya kepastian sedangkan kawan saya hanya bisa hidup dalam misteri terus menerus. Jikalau saya percaya bahwa Sang Pengada, yang tak berawal dan tak berakhir itu, sedemikian berkuasanya maka mengapa DIA tidak bisa menyatakan diri-NYA sebagai YESUS SANG ANAK DOMBA YANG MATI DI SALIB TETAPI BANGKIT SEBAGAI RAJA DAN MENINGGALKAN KUBUR YANG KOSONG? Mengapa DIA mau menciptakan jagad raya, termasuk dunia, kehidupan dan segala pernak-perniknya? Mengapa untuk dunia yang diciptakan-NYA itu DIA harus mati di salib? Jawabnya sangat sederhana, yaitu bahwa DIA ingin menunjukkan bahwa kita tak boleh kehilangan harapan akan kasih sayang. Di dunia yang kejam dan brutal ini dan di tengah arus kasih sayang yang partikular tetap ada KASIH SEJATI YANG AM DAN TIDAK BERTEPI. Itulah KASIH ALLAH. Itulah KASIH YESUS.

SELAMAT PASKAH PUAN. SELAMAT PASKAH TUAN

Minggu, 06 September 2009

renungan Kristiani: haleluya atau

Dear Sahabat Blogger,

Karena hari ini adalah hari minggu maka ucapan yang paling tepat adalah "selamat hari minggu" dan bukan selamat hari selasa. Tak cocoklah itu. Tagal ini hari adalah hari minggu maka saya mohon ijin untuk sejenak "beristirahat" dari serial posting "saudaraku sebangsa dan setanah air" guna menyapa sahabat-sahabat saya yang Kristiani. Bagi kami, umat Kristiani, hari Minggu adalah hari beribadah dan karenanya saya ingin sekali menyapa dengan pertanyaan ini: "sudahkah hari ini anda melakukan HALELUYA?

Kata “haleluya” umumnya diterjemahkan orang sebagai “puji TUHAN”. Di sebagian kalangan Kristiani kata haleluya menjadi semaca "aforisme wajib" dalam saling menyapa.....

+ hoooiiii michael, apa kabarmu hari ini???
- baik,
+ Halleluya, .... amin michael????
+ Amin sudaraku. Amin....

Maka penuhlah bibir dan mulut orang-orang Kristen dengan kata ini....haleluya...haleluya...haleluya....begitu berulang-ulang. Jika tidak diucapkan rasanya belum afdol. Belum genap sebagai orang Kristen. Apakah ada masalah bagi saya dalam hal ini? TIDAK. Normal dan biasa saja. Sayapun acap kali demikian. Hal ini baru terasa menjadi masalah ketika saya terpaksa harus terbata-bata menjelaskan arti kata haleluja kepada salah seorang sahabat yang bertanya. Mengapa demikian? Bukankah kata haleluya berarti "puji Tuhan"? Oh ya memang itu dan itulah yang saya tahu sejauh ini. Namun saya terpaksa pontang-panting menjelaskan mengapa dari 1 buah kata "haleluya" terjemahannya menjadi "puji Tuhan"? Mana kata yang berpadanan dengan kata "Puji" dan "Tuhan" yang ada di dalam kata "haleluya?." So, carilah saya beberapa referensi dan saya memperoleh 3 macam pengertian yang lebih memadai tentang kata "haleluja. Inilah yang ingin saya bagi di hari ini. Hari Minggu. Harinya Tuhan.

Kata “haleluya” umumnya memang diterjemahkan sebagai “puji Tuhan". Alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1974 yang dicetak ulang pada tahun 2007 juga menterjemahkannya sebagai “puji Tuhan”. Hal ini amat wajar karena kata haleluja merupakan pengbungan dari 2 kata ibrani, yaitu "hallel" yaitu memuji (praise) dan "Ya-H" (Yahwe atau Tuhan). Jadi, "haleluya" adalah "Puji Tuhan". Penelusuran lebih jauh memberikan informasi tambahan bahwa "haleluya" berasal dari gabungan verb "halal" (+u), yaitu "bersinar" (to shine) dan "Ya-H". Jadi, "haleluya" artinya "shine with god". Bersinar bersama Tuhan. Indah bukan? Tapi sabarlah barang sedikit karena dari hasil penelusuran terhadap akar kata memberikan tambahan informasi yang amat berharga tentang makna kata "haleluya".

Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani, kata “haleluya” sebenarnya terdiri atas 2 kata, yaitu “halelu” dan “yah”. Kata “yah” menunjuk kepada YHWH atau TUHAN. Sedangkan kata “halelu” berasal dari akar kata yang terdiri dari dua huruf “he” dan “lamed”. Huruf “he” pada awalnya adalah gambar seorang laki-laki dengan tangan yang terangkat ke atas melihat ke arah suatu vision yang menakjubkan. Sedangkan huruf “lamed” merujuk kepada gambaran sebuah tongkat gembala yang biasa dipakai seorang gembala guna menggerakkan kawanan ternak menuju suatu arah tertentu. Dengan demikian penggabungan dua huruf “he” dan “lamed” itu berarti “melihat ke arah”.

Lantas, apa maksudnya frasa “melihat ke arah”? Di jaman dahulu, aforisme ini merujuk kepada keharusan bagi setiap pejalan kaki atau peziarah untuk melihat kepada tanda-tanda tertentu yang dijadikan sebagai pedoman orientasi arah dan tujuan. DI jaman sekarang tanda-tanda itu sudah digantikan oleh alat-alat seperti kompas, GPS dan lain sebagainya. Peziarah zaman doeloe, umpamanya, biasa menggunakan bintang utara, karena letaknya di atas kutub utara, sebagai pemandu. Bintang itu berbeda dengan bintang yang lain. Bintang lain terus beredar karena rotasi bumi. Bintang utara terus berada di tempatnya dan menjadi titik pusat dari gerakan bintang-bintang yang lain. Karenanya, bintang itu bisa menjadi penentu arah bagi kaum peziarah.

Dari penejelasan di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa secara etimologis kata "haleluya" dapat diartikan sebagai pedoman atau petunjuk atau kompas ke arah Yahwe. Haleluya adalah pentunjuk ke arah Tuhan. Haleluya berarti melihat ke arah Tuhan. Dan inilah yang saya tanyakan kepada semua sahabat Kristiani di awal posting ini. ....Sudahkah di hari ini, sampai hari ini, dan juga nanti besok perjalanan hidup anda "haleluya" dan akan terus "haleluya"?..... Pertanyaan ini sesungguhnya adalah juga pertanyaan kepada diri saya sendiri...heeeeiii michael riwu kaho...sudah-kah hidupmu "haleluya"????? Mudah-mudahan jawaban anda, dan saya, tidak keliru. Mudah-mudahan kita masih ingat apa tujuan hidup kita. Mudah-mudahan kita semua tidak lupa: kepada siapa hidup kita seharusnya diarahkan dan dilabuhkan. Mudah-mudahan "haleluya" dan bukan "halelupa". Kedua kata ini dibedakan hanya oleh 1 huruf tetapi memiliki arti yang ekstrim berbeda.

Pada tahun 1741 seorang komposer terkenal, George Fredrich Handel, menulis sebuah oratorium yang amat sangat tersohor, yaitu "messiah". Pada bagian chorusnya, terdapat penggalan oratorium yang paling terkenal dari "messiah", yaitu "haleluja". Kepada anda, baik yang "haleluya" maupun "halelupa", saya persembahkan chorus dahsyat itu. Tuhan Memberkati.



Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 09 Agustus 2009

renungan kristiani, sebuah ratapan pada TUHAN

Ya Tuhan yang maha baik,
Ya Allah yang Akbar
Ya Bapa yang saya kenal
dalam karya penyelamatan Yesus Kristus
dalam karya penyertaan Roh Kudus

Mohon ampun,
pagi ini saya tidak dapat ke Gereja-MU
untuk bersekutu dan berbakti

Saya sakit, Tuhan
(sedih sekali)

Tuhan yang maha baik,
Segala daya sudah diupayakan
tetapi mengapa sakit penyakit ini terus saja ada?
Tak mau pergi
(betah banget)

Sebentar tampak seperti sembuh
Sejurus kemudian sakit lagi

Sakit penyakit ini kok malah mirip lagunya Mbah Sirup...eh mbah Surip
bangun lagi tidur lagi

"sakit lagi sembuh lagi ...sembuh....saaakiiittt lagi....uuuyyeeeee..."

Sakit penyakit ini juga mirip lagu mbah Surip yang satu lagi,
(yang katanya hasil njiplak itu)
tak gendong

Saya merasa digendong sakit penyakit kemana-mana
Saya merasa ditertawai si penyakit

"tak gendong ke mana-mana ...enak dong...asik dong...
...waaaaaa hhhaaaaaaa waaaaaaaa........."

Sakit penyakit ini kok mirip ucapan mbah Surip
I love you full

waddduuhhhh Tuhan,
bagaimana ini
kok si penyakit mengejek saya,
(padahal saya wakil ketua majelis jemaat harian lho Tuhan)
katanya:

"i love you full...michael"

Lalu, saya harus bagaimana Tuhan?

berobat, sudah
stop berobat, sudah
pantang makan (sampe lapaaarrr banget), sudah
makan rakus, ...eh maaf Tuhan...itu sih ..sering....
berbuat baik, sudah
berbuat jahat, ...he he he he...yang ini sih, aduuuhhh ....
malu ngomongnya.....maaf, Tuhan...
berdoa, sudah
stop berdoa....lagi-lagi, ampunkan saya Tuhan...ini juga amat sering...

Lalu, Saya harus bagaimana?
apakah Tuhan tidak menyayangi saya?
apakah Tuhan sudah tak perduli lagi pada saya?
apakah Tuhan sudah meninggalkan saya?

(Lalu, bersamaan dengan
desir angin dingin minggu pagi ini
datanglah "suara Tuhan")

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku : "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. SEBAB JIKA AKU LEMAH, MAKA AKU KUAT." (2 Kor:12: 9-10)


(Lalu, bersamaan dengan desir gelombang hot spot internet
Dikau menyapa saya dengan sebuah lagu
"Tuhan Pasti Sanggup")


(Sanggup Apa, Tuhan?)

"YA UNTUK MEBUAT KAMU KUAT, MICHAEL ANAKKU YANG BENGAL"
(tapi jangan lupa bertobat ya........)

.........................
Ia, Baik Tuhan
Ia, Baik Allah
Ia, Bae Tete Manis
Terima Kasih...

Amin

Sabtu, 11 April 2009

doea skandal satoe nama: khianat (part 2)

Dear Sahabat Blogger,

Beberapa sahabat menulis di kolom komentar pada posting terdahulu, 2 skandal 1 nama: khianat bahwa: "tak sabar menunggu part 2". Ok, baiklah ...eeeeng...iiiinnggggg.....eeeennnggggggg......sabar dahulu. Saya ingin membuat pengantarnya terlebih dahulu

Beberapa waktu yang lalu, menjelang pemilu legislatif, dunia politik Indonesia menghangat dengan terbitnya buku kisah perjuangan Jenderal Sintong Panjaitan....war wer wir wuurrrrrr......ramai dibicarakan orang ..dan lalu...kesan yan amat mengemuka adalah...siapa itu Sintong? Pahlawan atau bukan? Siapa itu Prabowo? prajurit yang berniat makar atau pahlawan?....Lalu, semua tenang kembali....people are back to the bussines as usual....kembali ke laptop.....jangankan Sintong VS Prabowo, sebelumnya Prabowo VS Wiranto sudah tidak diperdulikan orang lagi. Sebelumnya lagi wacana apakah Bung Karno pahlawan ataukah pengkhianat sudah lama berada di wilayah abu-abu. Demikian juga, Soharto, apakah Pahlawan atau penjahat sudah lama terpendam bersama jasad orang besar Indonesia ini. Mengapa ini bisa terjadi? Ataukah, seperti kata seorang sahabat, semua itu hanyalah perbedaan sudut pandang semata. Oh baiklah. Bisa jadi begitu. Tapi, bisakah kejahatan dan kebaikan dipegang secara simultan dalam satu pribadi? Dapatkah afeksi positif dan negatif terjadi seketika dalam satu pikiran? Penjelasan Leahy dalam bukunya yang berjudul "Human Being" adalah....TIDAK.

Jadi setiap afeksi harus bisa dibedakan. Setiap orang, seberapapun abu-abunya, harus diperjelas afeksinya sekalipun "warna" afeksinya adalah abu-abu atawa afeksi oportunis. Tak boleh ada sejarah abu-abu. Dan itulah gunannya ilmu sejarah. Hanya dari tokoh-tokoh yang jelas "warna"nya kita bisa belajar. Apakah orang itu baik? apakah orang itu tidak baik? apakah orang itu kadang-kadang baik dan kadang-kadang tidak baik? Semua harus jelas. Ketidak jelasan adalah skandal. Apalagi upaya untuk mengaburkan sesuatu yang jelas agar tidak jelas. Itu super skandal namanya. Lha, apa itu skandal? Menurut kamus, skandal adalah kata benda yang berarti ...perbuatan yang memalukan....

Lalu, sahabat terkasih, tentang upaya mengubah status seorang pengkhianat menjadi pahlawan itulah ceritersa saya kali ini

Skandal 2: pengkhianat diubah menjadi pahlawan

Adalah seorang yang bernama Yudas, terjemahan Yunani dari kata Ibrani Yehuda yang berarti "pujian", yang menjadi sorotan kali ini. Siapa dia? Ahaaaa...anda mungkin benar jikalau menebak bahwa tokoh kita kali ini adalah salah seorang murid Yesus yang hidup kira-kira 2000 tahun yang lalu. Yudas yang mana? oh, untuk membedakannya dari Yudas murid Yesus yang lainnya maka Yudas yang ini adalah yang berasal dari Kota Kerioth. Sebuah kota di selatan Yehuda yang terkenal karena perkebunan anggurnya. Konon sampai hari ini kota Kerioth masih dinamai demikian. Demikian juga hasil bumi utamanya itu. Maka, Yudas van Kerioth itu amat terkenal dengan nama Yudas Iskariot. Mudah-mudahan anda pernah mendengar nama ini. Konon, dalam kosa kata Bahasa Indonesia, nama ini amat terkenal karena digunakan untuk menyebut perilaku orang yang tidak tulus.....huuuuuhhhh...dasar "judes" lu......"judes" banget sih loooo....he he he he he....

Yudas dan Judes dua kata yang begitu diucapkan dan didengar maka asosiasinya adalah sikap culas, curang dan khianat. Mengapa demikian? Dalam literatur Kristiani, si Yudas dikenal karena "ciuman mautnya" pada saat dia menyerahkan Yesus kepada kaum Farisi di taman Getsemane. Dari sini, Yesus dibawa kepengadilan agama Yahudi dan diteruskan ke pengadilan Romawi. Akhirnya dijatuhi hukum mati. Di gantung di Kayu Salib di bukit tengkorak. Bukit Golgota. Kisah penyaliban Yesus, Kematian dan Kebangkitan Yesus merupakan kisah terbesar dalam tradisi dan kepercayaan Kristiani. Bahkan secara teologis, tanpa trilogi ini, tidak ada Gereja. Tidak ada Kristianitas, yaitu religi yang dianut oleh mayoritas penduduk planet bumi ini.

Dalam kisah Alkitab, Pahlawan tunggal trilogi Penyaliban, Kematian dan Kebangkitan Yesus adalah Allah itu sendiri yang terejawantahkan dalam pribadi Yesus Kristus. Di mana posisi Yudas dari Kerioth? Adalah ini: pengkhianat dan pengecut. Mengapa Yudas dikatakan pengkhianat? Demi ambisi pribadinya, entah apa itu, Yudas tega menawarkan jasa kepada tua-tua farisi untuk menghantar Yesus kepada mereka agar mudah diangkap. Sebagai imbal jasanya, Yudas dibayar uang sejumlah 30 keping perak. Yudas sampai hati "menjual"Guru dan sahabatnya sendiri. Sebagai manusia kita berpikir keras apa arti persahabatan bagi Yudas? Bersama Yesus dan 11 orang murid lainnya, Yudas selama kurang lebih 3 tahun berkelana kesana-kemari memberitakan kabar baik. Susah sengsara beberkelana memberitakan kabar baik. Senasib sepenanggungan. Bahkan oleh Yesus, Yudas bukan sekedar murid dan sahabat biasa. Yudas dipercayakan sebagai bendahara kelompok 12, yaitu murid-murid Yesus yang selalu ada bersama-sama DIA. Entah kurang apa baiknya Yesus pada Yudas. Saya tak melihat ada satupun kekurangan terkecuali pada si Yudas yang mengalami 1 jenis kekurangan, yaitu kurang ajar.

Ya, kekurangnnya yang satu itulah, menurut literatur Alkitabiah, yang menuntun Yudas melakukan pekerjaan "menggunting dalam lipatan". Yudas menjadi "musuh dalam selimut". bagi Yesus. Tak tahukah Yesus akan perilaku Yudas itu? Dalam banyak ayat kita bisa mengetahui bahwa Yesus sebenarnya amat mengenal watak khianat si Yudas sang Judes. Yudas adalah bendahara yang curang yang menyimpan untung bagi dirinya sendiri. Yudas adalah si pengiri hati sewaktu dia mencela sikap perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal itu. Ya, Yesus tahu betul, siapa Yudas. Dan puncaknya adalah ketika di Perjamuan Malam Paskah, yaitu malam menjelang Yesus ditangkap. Setelah membasuh kaki semua murid-murid-NYA, termasuk Yudas si Judes dan lalu membagi-bagikan roti tak beragi dan anggur...Yesus berbisik kepada Yudas......"apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah segera" (Yohanes 13:27).... Lantas, pergilah Yudas menghilang di kegelapan malam menuju imam-imam Yahudi untuk menjalanan rencana khianatnya. Dan semua umat Kristiani tahu persis kisah selanjutnya: tentang nasib Yesus yang harus mati di Salibkan di Golgota itu.

Sampai di titik ini, kelakuan Yudas adalah suatu kejahatan. Menjual Guru dan sahabatnya sendiri adalah suatu perbuatan tak senonoh. Skandal. Tafsir umum yang saya pahami sejak masih di bangku Sekolah Minggu, tindakan Yudas adalah keculasan dengan motif ekonomi. Menjual Yesus demi 30 keping perak. Akan tetapi ketika beranjak dewasa, saya sempat berpikir bahwa berapalah 30 keping perak itu. Apa mungkin Yudas tega menjual Yesus begitu murahnya taga 30 keping perak itu? Nonsens. Lalu, suatu saat saya membaca sebuah tafsir yang agak berbeda tentang motif Yudas. Menurut referensi ini, ditulis oleh almarhum Pdt. DR. Eka Darmaputera, Yudas adalah anggota kelompok nasionalis Yahudi Zealot yang amat anti penjajajahan Romawi. Garis perjuangan mereka adalah "garis keras". Kurang lebih, mirip prinsip Israel di Jalur Gaza di masa kini.

Orang-orang Zealot ini terbukti beberapa kali melakukan pemberontakan bersenjata. Namun asa mereka selalu gagal karena tentara Romawi sigap memberangus mereka. Lalu, peluang itu ada, yaitu hadirnya seseorang yang diramalkan di dalam Perjanian Lama akan bertindak sebagai Mesias bagi orang Israel. Pembebas dari penjajahan Romawi. Dalam tafsiran kaum Zealot, sang Mesias akan menadi pemimpin gerakan politik massa dan sekaligus penglima perang yang akan menumpas oran-orang Romawi. Nah, Yudas yang merupakan anggota kelompok Zealot mendapat kesempatan bergabung dengan sang Mesias itu, yaitu Yesus. Dari waktu ke waktu Yudas mengikuti Yesus dan amatlah gembira hatinya karena pengikut Yesus secara cepat menjadi berlipat-lipat ganda. Inilah modal perjuangan. Akan tetapi sesuai perjalan waktu, Yudas menjadi cemas karena Yesus bukannya berbicara tentang perjuangana politk dan bersenjata malah terus menerus asik berbicara tentang KASIH, KASIH dan KASIH. Lha, kapan perangnya? pikir Yudas. Maka, timbullah "otak politk" Yudas....ahaaaa....mumpung Yesus sedang dicari-cari salahnya oleh Imam-Imam Yahudi, apa salahnya Yudas melakukan politicking?.....well, Yesus diserahkan dan lalu....ketika dalam keadaan terdesak...Yesus akan memerintahkan massanya, bila perlu bala tentara dari Surga, untuk membasmi pasukan Romawi.....dan....Israelpun merdeka.

Apapun motif Yudas, kita tahu bahwa satu skandal sudah terjadi, yaitu Yudas tega menjual Guru dan Sahabatnya. Sayangnya skandal itu tidak berhenti di situ. Jika mengikuti alur pikir bahwa Yudas menjual Yesus karena naluri ekonomi maka literatur Alkitabiah mengatakan bahwa menyesal-lah Yudas karena telah mengkhianati orang yang tidak bersalah. dengan amat murah Jika mengikuti alur pikir bahwa motif Yudas adalah motif politik maka ketika sama sekali tidak terjadi pemberontakan massa maka menyesal-lah Yudas karena sudah terlanjur mengkhianati Guru dan sahabatnya sendiri ehhh....tujuan politisnya tak tercapai. Yesus tidak memimpin suatu gerakan pemberontakan menyusul penangkapannya. Apa tindakan Yudas berikutnya? Yudas sebenarnya masih cukup peka rasa. Hancur hatinya dan menyesal setelah melihat Yesus teraniaya begitu rupa gara-gara pengkhianatanya. Sayang sekali penyesalannya itu tidak membawanya kepada pertobatan. Penyesalannya itu coba ditanggungnya sendiri. Dikiranya dengan cara itu dia akan selamat dan rasa malunya akan terobati. Nyatanya tidak. Ya, Yudas begitu pengecut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Yudas terlalu pengecut untuk mensukuri hidup yang dimilikinya. Dalam keputusasaannya Yudas memilih untuk bertindak bodoh dan sekaligus konyol: bunuh diri. Yudas melakukan skandal nomor kesekian.

Saya berpikir, bagaimana seandainya Yudas bertobat? Bukankah Simon Petrus juga bersalah karena menyangkal Yesus. Bukankah Simon juga menyesal? Tapi beruntunglah Simon Petrus atau Kefas itu karena dia tidak membuat skandal baru. Simon memilih untuk bertobat dan hingga sekarang, nama Simor Petrus dikenang sebagai salah satu tokoh Gereja yang bernama harum. Sedangkan Yudas? Tak lain tak bukan adalah Yudas si Judes. Cuma itu. Hanya itu. Di akhir drama trilogi Salib, Kubur dan Kebangkitan kita tahu ada 2 kematian yang amat terkenal. Pertama, Kematian Yesus yang penuh KASIH nan Agung. Pada saat Kebangkitan-NYA kita tahu bahwa Kemenangan merupakan hadiah bagi kerelaan KASIH semacam yang didemonstrasikan YESUS. Kedua, adalah kematian Yudas si pengkhianat dan sekaligus si pengecut yang konyol. Kematian yang tidak menyisakan apa-apa kecuali kehinaan.

Selesaikah kisah ini? Sayangnya belum. Akan saya sambung pada part 3. Tetapi sebelum mengakhiri part 2 ini, ijinkanlah saya untuk membuat beberapa butir relfleksi sebagai pesan PASKAH. Bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk saya sendirii. Jika sahabat merasa ada kemanfaatannya maka silakan dibaca juga.

Apa pesan dari kisah Yudas si Judes?
  1. Tak ada KASIH dalam sikap berkhianat. Kasih adalah afeksi positif. Khianat adalah afeksi negatif. Tak mungkin terang dan gelap disatukan karena hanya akan mendatangkan temaram yang tak jelas. Persahabatan, kebaikan dan kasih sayang adalah afeksi positif. Sedikit saja semua itu dikotori dengan fitnah, dendam, amarah, khianat dan atau afeksi negatif lainnya maka musnah semua KASIH. Mau baik ya baik saja. Tidak ada kebaikan dalam pura-pura jahat karena jahat akan menguasai anda. Tidak ada kebaikan dalam pura-pura baik karena sejatinya adalah kejahatan. Sahabat Kristiani, trilogi Salib, Kubur dan Kebangkitan Yesus mengajarkan bahwa setia dalam perkara KASIH adalah harga mati, yaitu harga yang bila perlu ditebus dengan kematian. Bisakah?
  2. Mengaku percaya kepada Sang Khalik konsekunsinya ada 1, yaitu percaya dan ikuti semua apa yang DIA mau. Janganlah apa yang kita mau. Mengikuti Sang Khalik artinya tunduk kepada kehendak sang Khalik. Jalankan agenda sang Khalik bukan agenda kita sendiri. Pergi ker rumah Ibadah ya temui lah Sang Khalik di sana bukan untuk bertemu teman bisnis, pacar, mantan pacar ..... Ingin memuj Tuhan dengan bernyanyi dalam ibadah ya lakukanlah demi Sang Kahlik bukan supaya anda dipuji dan diajak rekaman. Pokoknya, janganlah di mulut mengatakan .....ya saya ikut Dikau tetapi.....agenda sebenarnya adalah....ya Tuhan ikutilah kemauan saya. Janganlah di mulut kita mengaku ...terpujilah nama-Mu tetapi diam-diam kita menambahkan di bait 2: terpujuilah namaku sendiri......Jangan pernah mengatakan .... Jadilah kehendak-MU tetapi yang kita kerjakan adalah...jadilah kehendakku sendiri. Anda tidak mau berakhir seperti Yudas si Judes kan?
  3. Sebagai manusia, saya dan juga anda sekalian adalah makhluk-makhluk fana yang banyak salahnya. Atas kesalahan hendaknya kita tidak cukup hanya menyesal. Penyesalan harusnya diikuti dengan pertobatan. Jangan berpikir anda mampu menanggulangi sendiri kesalahan anda. Jangan mudah putus asa. Pengalaman Yudas si Judes membuktikan itu. Selalu tersedia orang yang akan mendengar keluhan anda. Selalu ada jalan pengampunan. Dan andai kata semua orang meninggalkan anda, ada satu bahu yang mampu menanggung pertobatan anda, dan juga saya, yaitu Bahu Sang Khalik. Maukah?

Oh, ya ketika menyiapkan tulisan ini saya mencari tahu apa arti kata Yudas. Ternyata, seperti yang sudah saya katakan tadi, artinya adalah "pujian". Teringat saya bahwa ketika ujian promosi doktor saya dahulu, status yudicium saya adalah "cum laude" artinya dengan pujian. Jika dibaca dalam bahasa Yunani maka yudicium saya akan dibacakan dan berbunyi seperti ini....saudara Doktor Ludji Michael.....anda dinyatakan lulus dengan predikat.....Yudas......ha ha ha ha ha....tak mau saya.....ha ha ha ha ha ha...


Selamat PASKAH. Gloria Inexelcis Deo. Tuhan Memberkati,

In The Garden by Glen Campbell

bagi sahabat yang ingin mengerti betapa kacaunya jika mengikuti Jesus dengan hati yang khianat, coba dengarlah lagu dari Bellamy Brothers berikut ini:


Tabe Tuan Tabe Puan