Tampilkan postingan dengan label lingkungan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan hidup. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Maret 2010

NTT: kritis sudah, penggurunan di depan mata, lalu apa lagi?

Dear Sahabat Blogger,

Pada awalnya adalah kedatang seorang tamu, yaitu Pak Frans Sarong, wartawan Kompas, yang menanyakan kepada saya tentang beberapa hal terkait isu Hutan Cagar Alam Mutis, Timau, TTS, NTT dan proses penggurunan di Sumba Timur. Lalu, seperti biasa, sayapun "berpidato panjang kali lebar, kesana dan kemari, kesitu dan kesini dan kemana-mana". Tak disangka dan tak dinanya, beliau tertarik atas isi "khotbah" saya itu. Katanya: ... adik ... buatlah dalam bentuk tulisan...nanti akan saya publikasikan. Sayapun menulis...kecek kecek etret etret tak tik tuk....jadilah sebuah tulisan. Tak beapa lama kemudian, saya membaca kutipan tulisan saya itu di Kompas.com. Eh, Ternyata tulisan itu juga dikutip oleh LKBN Antara, kantor berita milik republik kit. Lantas dicopy ke mana-mana oleh berbagai harian dan juga layanan berita on line. Wuueeeeelllleeeeeeehhhh. Senangkah saya? Ya iyalah. Banggakah saya? So Pasti Bung en Zoes. Puaskah saya? Tidak. Lho?????? Ya, sudah baranhg tentu tidak karena sejatinya saya adalah manusia dan menurut filsafatnya manusia itu adalah "makhluk tak sampai". Oleh karena itu, manusia sebenarnya adalah makhluk yang tidak akan terpuaskan. Saya juga begitu. Di mana ltak ketidakpuasan itu? Tulisan itu baik tetapi cara memenggalnya yang kurang pas sehingga tak seluruh pesan dalam tulisan tersampaikan dengan baik. Akibatnya, sudah 2 minggu lebih ini saya di sapa di mana-mana di Kuoang sebagai "mister gurun". Ya, tak apalah, toh pekerjaan saya adalah guru. DItambah 1 huruf "n" menjaid gurun, lumayanlah he he he he...

Tapi bukan "bangga-banggi" (bahasa indonesia opoooooo iki????? xi xi xi xi..) itu yang menjadi fokus tulisan itu tetapi diam-diam ada perasaan nelangsa yang teramat sangat setelah membaca kembali tulisan saya itu. Propinsi tempat saya dilahirkan, dan oleh karena itu disebut tanah air saya, ternyata adalah propinsi yang "sangat bermasalah" kondisi lingkungannya. Untuk teman-teman setanah air NTT dengan saya dengarkan ini: saya, anda, kita semua sering teramat membanggakan tanah air kita NTT kita initetapi tahukah anda bahwa menurut citra satelit pada tahun 2007, dari total luas lahan daratan NTT 4,7 juta ha, terdapat 4,3 juta ha lahan kritis? NTT kita adalah juara "kakorek" jika berurusan dengan tingkat kesejahteraan tetapi adalah "kampiun" dalam urusan kerusakan sumberdaya lahan. Dengan curah hujan sekitar 1500 mm/tahun, tanah air kita diberkati Tuhan dengan potensi air sebesar 18 milyar meter kubik tiap tahun. Lalu kita memakainya sebanyak 6 milyar meter kubik. Wah, ada sisa 12 milyar meter kubik. Bagus bukan? Bukaaaaannn eeehh....Tidak. Ternyata kita tidak pernah mengalami surplus air. Nyata Ter....ternyata ....faktanya .... kita selalu mengalami defisit air sebesar 2,82 milyar meter kubik tiap tahun. Lho, kok bisa? Ya bisa dong. Hutan kita yang seharusnya berfungsi untuk menahan air hujan lebih lama di tanah, dalam bentuk "water table" kita tebangi terus menerus. Kita bakar terus menerus. Dahulu, pada sekitar tahun 1960 - 1970-an hutan NTT masih sekitar 20-an persen. Sekarang tinggal sekitar 11%. Di Pulau Sumba, hutan tinggal 6 - 7% dari total luas lahan. Data dari UNCCD tahun 2007 menunjukkan bahwa ada 3 daerah di Indonesia yang terancam proses penggurunan, yaitu NTT, NTB dan Sulawesi Tangah. Lalu dalam kontes "gurun idol" tersebut, pemenang nomor wahidnya adalah NTT..... horeeeeee...hip hip huraaaaaa. Hal ini bukan gosip atau isu murahan karena penlitian saya di Wairinding, Pandawai, Sumba Timur membuktikan hal itu. Proses penggurunan sudah menghadirkan "semerbak-nya" di NTT.

Menyedihkan. Nasib kita ternyata memang tak menentu. NTT = Nasib Tak Tentu. Tapi anehnya, tiap-tiap tahun selalu ada proyek atau program (yang isinya adalah proyek juga). El Tari dahulu bilang: tanam tanam sekali lagi tanam. Ben Mboi dulu berkicau: operasi nusa hijau. Fernandez omong: gerakan menanam 100 juita pohon. Lebu Raya berpidato: tanam dan rawatlah. Departemen Kehutanan bertekad: OMOT (one man one tree). Berhasilkah? Fakta yang ada menunjukkan bahwa seruan di masa lalu telah gatot. Gagal Total. Bagaimana dengan seruan terbaru? NTT. Nanti Tunggu Tahun-Tahun yang datang. Tapi maaf, melihat cara-cara berpikir dan cara bertindak kita semua, sampai dengan diskusi saya yang terakhir bersama beberapa stajeholder di Hoitel Sasando, Kupang, saya tidak begitu yakin. Betapa tidak, dalam bayangan para pengelola lingkungan hidup kita di NTT, termasuk rakyat itu sendiri, masih memandang orang hanya sebatas obyek. Lingkungan hidup masih semacam obyek seksi yang layak jual demi menglairnya proyek dan program. Cilakanya, sayapun ternyata sedang berkubang dalam "jebakan lumpur" yang sama. Lalu bagaimana? Menurut hemat saya, kita rubah cara berpikir kita. Kita ikuti cara berpikir dalam filsafat manusia. Rubah perilaku dahulu keterampilan dan kekayaan mengukuti kemudian. Bahkan, saya mengutip Alkitab, Tuhan membangunkan terlebih dahulu kesadara manusia. Tanggungjawab manusia ..... "semua boleh kau makan kecuali yang satu ini"....

Bisakah kita memetakan persoalan hutan dan penggurunan di NTT dengan lebih baik dan lalu menggerakan hati dan pikiran kita bahwa ... ini tanggungjawab kita semua .... Dalam keadaan begini saya teringat akan seorang petani di Desa Nenas, Timor Tengah Selatan kaki puncak tertinggi G. Mutis yang merupakan hulu 2 DAS paling besar di Timor Barat dan merupakan suatu desa yang amat sangat terpencil. Setelah diadvokasi oleh saya dan kawan-kawan dari ForDAS NTT, beliau amat gemar menanam. Ketika kami mengidentifikasikan bahwa mutu hutan di desanya mulai terdegradasi lalu mencarikan anakan tanaman bambu sebanyak 20.000 anakan untuk ditanam tanpa ragu semua anakan itu ditanam habis di sepanjang daerah aliran sungai yang melintasi desa itu. Yang mengejutkan adalah beliau grima kasih keemar menaman kembail setiap anakan yang ditemukan sudah mati mengering padahal masyarakat di sekitarnya hanya diam berpangku tangan. Pak Simon Sasi, begitu namanya. Saya pribadi memberi arti SASI sebagai sarjana ahli segala ilmu dan beliau tersipu tiap saya panggil begitu. Mengapa hal itu dilakukan oleh Pak Simon? Jawabnya adalah ....."Saya hanya punya cinta kepada Tuhan yang sudah menciptakan semua yang saya perlu. Saya cuma mau berterima kasih kepada Tuhan". Kawan setanah air Nusa Tenggara Timur yang terkasih, maukah kita belajar dari moralitas yang dimiliki Pak Simon?.

Untuk semua usaha Pak Simon yang tak kenal lelah untuk terus menanam dan merawat, sekaligus menghimbau semua anak negeri NTT melakukan hal yang sama, saya hadiahkan lagu cantik dari John Denver. Salah satu dewa musik bergenre Country. Lagu ini berjudul Garden Song yang berceritera tentang menanam seinci demi seinci. Sebaris demi sebaris. lalu rawatlah dengan penuh kasih. Iringi usaha itu dengan doa karena kita memerlukan pohon-pohon itu demi masa depan bumi kita. Masa depan kita sendiri. Dapatkah? Seharusnya bisa.

The Garden Song

Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 30 Maret 2009

doea tanda mata, ataoe lebih, dari sitoe gintoeng

Dear Sahabat Blogger,

Di tengah hiruk pikuknya masa kampanye pemilu, yang ternyata tetap saja nggak ada maju-majunya (mungkin penggemar dian pishesa ya???....aku masih seperti yang dulu.....), tragedi Situ Gintung membetot perhatian kita di Indonesia. "Tsunami kecil" kata sebagian pemberitaan. "Tsunami Air Tawar" kata yang lainnya. Lalu ingatan orang di bawa kembali ke horor tsunami Aceh 2004. Jika di Aceh yang tewas sekitar 100.000 jiwa maka di Situ Gintung yang tewas 100 orang. Nggak seberapa? Ya, jika anda adalah penggemar berat matematika maka terang benderang bahwa 100 lebih kecil dari 100.000. Maka apalah artinya 100 berbanding 100 ribu? Begitukah? Apakah nyawa manusia cukup dikalkulasi secara matematis? Dan karena belum ada satupun manusia yang mampu menciptakan nyawa manusia maka tak bisa lain kecuali ini: KAMI BERDUKA.

Dalam posting-posting lama, saya pernah menggunakan tinjauan filsafat manusia untuk memberikan beberapa ciri manusia sebagai makhluk idup. Dua di antaranya adalah membaca dan belajar. Dua cara ini yang menyebabkan manusia memiliki beberapa daya kognisi (menjadi tahu), afeksi (menjadi lebih bisa merasa) dan psikomotorik (menjadi terampil) dibandingkan dengan makhlk hidup tertentu. Dua cara itu pula yang membuat nalar manusia berkembang dan terus berkembang lalu...wuuiiiihhh.....jadilah manusia sebagai makhluk hidup yang mampu mengatasi makhluk hidup lainnya. Manusia berada pada tingkat yang paling tinggi dalam piramida makan-memakan (bukankah hanya manusia yang bisa memakan rupiah dan dolar sedangkan monyet tidak....xi xi xi xi xi...). Tagal kelebihan-kelebihannya itu, sekaligus ini cilakanya, manusia merasa berkuasa di dalam alam. Sekali lagi membaca dan belajar adalah kado dari Tuhan" untuk manusia yang oleh karenanya (principe d'etre) manusia dapat memenuhi harkat hidupnya. Apa yang saya tulis kali ini adalah tentang kado itu, membaca dan belajar. Apa yang dapat kita baca dari tragedi Situ Gintung? Apa yang dapat kita pelajari dari tragedi tersapunya orang-orang dan benda-benda yang ada di sekitar Situ Gintung ketika waduk ini jebol dan menumpahkan air mautnya?

Jaman dahulu, jadoel, setiap pertemuan penting dua pihak selalu di akhiri dengan saling bertukar simbol kenangan. Cendera mata atau tanda mata. Apa tanda mata dari Situ Gintung untuk kita? Kepala yang lain mungkin dapat mengidentifiikasikan banyak cendera mata tetapi saya cuma punya 2. Dan inilah doea tanda mata dari Situ Gintung.

Tanda m
ata 1: perilaku manusia
Apa yang paling ramai diberitakan di warta-warta tentang Situ Gintung bertalian dengan manusia? Paling pertama adalah jumlah korban. Berapa yang tewas. Berapa yang hilang dan berapa yang cedera dan dirawat di rumah sakit. Berikutnya apa? ceritera dari warga yang selamat. Lantas, apalagi? ceritera tentang operasi pelaksanaan evakuasi korban bencana Di sini saya ingin membuat catatan. Berita di KORAN JAKARTA edisi Sabtu 28 Maret 2009. berbunyi begini:

....proses evakuasi terhambat oleh lalu lalang orang-orang yang datang menonton ......ddddooooohhh........bencana ternyata dapat menjadi obyek wisata karena bencana adalah obyek tontonan.....awesome....
Lalu, ... masih kata berita....di sana-sini bermunculan pedagang-pedagang dadakan yang menjajakan kebutuhan para pengunjung.....ddddooooohhhhh lagi......bencana ternyata juga menciptakan peluang bisnis.....that's great....

Lalu, saya tercenung dan berpikir:...jika bencana makin banyak dan makin sering....sudah barang tentu wisatawan akan semakin banyak. Lalu, uang berputar makin banyak dan lalu....hmmmhhhhh... lumayan....ekonomi Indonesia yang terguncang karena krisis global mendapat salah satu bentuk solusi. Kalau begitu bagaimana jika kita menciptakan makin banyak bencana supaya tercipta BB (Bisnis Bencana). Masuk akal. Logis secara matematis. Tetapi apakah Etis? Inilah soal saya. Inilah tanda mata itu. Apakah menonton bencana tanpa berbuat apa-apa selain menonton lalu menghambat proses evakuasi korban lalu memanfaatkan situasi bencana untuk berbisnis adalah tindakan etis? Saya tidak akan mengulasnya. Andalah yang bertugas untuk itu dan saya tolong diberitahu. Tetapi inilah tanda mata dari Situ Gintung.

Masih tentang tanda mata perilaku manusia. Menurut data dari warta Situ Gintung adalah danau buatan yang dibikin oleh Belanda pada tahun 1932 dan kelar pada tahun 1933. Mengapa itu dibuat? Belanda membuatnya untuk membantu mengelola air permukaan agar tidak terlalu banyak air limpasan yang dapat menjadi beban bencana bagi kota Jakarta. Setelah Merdeka, dan sinyo-sinyo Belanda itu pergi, sampai sekarang Situ Gintung tetap ada seperti apa adanya. Situ Gintung tetap dibiarkan sebagai bangunan Dam .... tanpa dirawat. Di warta dapat dibaca juga bahwa pada tahun 2002 ketika terlihat adanya retakan-retakan, datanglah beberapa orang dari PU lalu periksa sana sini dan lalu ... pergi tak pernah datang lagi. Sementara itu, di sepanjang sempadan waduk, yaitu daerah berjarak 100 - 300 m dari tubuh waduk dan saluran outletnya yang seharusnya berupa ruang terbuka hijau yang padat ditumbuhi vegetasi malah padat ditumbuhi oleh rumah-rumah pemukiman. Bahkan, masih menurut warta, di titik yang seharusnya ada bangunan pintu air yang pernah dibangun oleh Belanda sekarang malah berdiri bangunan rumah. Akibatnya ketika debit air bertambah dan terjadi luberan (overtopping) maka air luberannya ini bergerak lambat dan memberikan waktu yang cukup untuk menggerus atau menimbulkan erosi pada tanggul, yang konon dibuat hanya dari urugan tanah biasa. Tanggul yang tererosi itulah yang menyebabkan "tsunami air tawar" seperti yang telah diberitakan. Lihatlah juga perilaku manusia di sepanjang sempadan outlet air buangan dari Situ Gintung. Dari foto-foto yang ada terlihat bahwa di kiri-kanan outlet selebar 5 meteran itu, penuh ditumbuhi rumah padahal secara teoritis seharusnya daerah itu harus disediakan sebagai daerah sabuk. Ketika ada kebutuhan untuk memperlebar outlet air limpasan maka daerah sabuk yang bebas bangunan akan memudahkan upaya itu. Pertanyaannya adalah siapa yang memberikan ijin mendirikan bangunan di kiri-kanan outlet itu? Pahamkah masyarakat dan pemberi ijin akan konsekuensi-konsekuensi ekologis dan teknis dari hadirnya pemukiman di dekat waduk? Legal tidak bangunan-bangunan itu?

Ada pendapat yang saya kutip dari berita-berita bahwa sebaiknya warga di situ dipindahkan. Memindahkan warga dan membongkar rumah warga? Waaaaaaaaoooooowwwwww........yang berpikir demikian harap bersiap dengan berjuta persoalan baru. Ganti rugi yang tidak masuk akal. HAM-lah. Korupsilah.....pokoknya bakal ketiban bejibun dan seabrek-abrek persoalan yang menhgabiskan banyak energi. Lalu, ini salah satu ciri khas bangsa kita, semua dibiarkan seperti apa adanya saja. Semua semau-mau. Semua orang, semua pihak dan semua hal dibiarkan berlangsung semau-maunya sendiri.......preketeeeeekkkkkk.....mblegedhesssss......

So, jika demikian ketidak perduliannya maka seharusnya semua saja maklum ketika Situ Gintung dan air simpanannya juga bertindak semau-maunya sendiri untuk jebol dan tumpahan airnya melanda habis semua yang dilaluinya Pertanyaannya adalah: "apakah etis tindakan tidak merawat waduk selama berpuluh tahun, membangun pemukiman semau-maunya di sepanjang sempadan waduk dan outlet air, serta penutupan beberapa pintu perlolosan air. Sekali lagi, etiskah perilaku demikian? Sekali lagi, anda tolong merenungkannya dan sesudah itu harap saya juga dibagi hasil perenungan itu. Tetapi apapun juga, inilah tanda mata 1.

Tanda Mata 2: belajarlah mengelola alam
Setelah bencana terjadi dan Situ Gintung menjadi kering maka diskusi teknisnya adalah apakah Situ Gintung dibiarkan kering selamanya ataukah waduk tersebut perlu dibangun kembali. Seorang blogger tangguh di http://www.rovicky.wordpress.com setelah mengulas berbagai alasan geologis dengan sangat memukau menyimpulkan bahwa "keringkan saja danau ini dan jangan dibendung lagi"....wwwwhooooopppsssssss.....Di lain pihak, sebagaimana dikutip oleh www.kompas.com, seorang pengamat perkotaan Nirwono Joga mengatakan bahwa "Situ Gintung penting bagi Jakarta" karena jasanya sebagai pengendali banjir bagi Jakarta Selatan. Lha, lantas yang mana yang kita pilih? Jujur saja, saya tidak berpretensi mengusulkan apa-apa dan bahkan menurut hemat saya inilah kado kedua dari Situ Gintung untuk kita semua. Bacalah tanda-tanda (manusia adalah pembaca simbol kata Louis Leahy) dan lalu, belajarlah. Setelah itu ambil keputusan dengan tepat. Mau diapakan Situ Gintung pasca bencana. Bekerja di dalam alam, memanfaatkan dan mengelolanya tidaklah dapat dilakukan sambil lewat apalagi dilakukan tanpa memahami apa-apa. Ingatlah ini: di luar anda, terdapat alam dan hukum-hukumnya tersendiri yang jika anda mengabaikannya maka anda akan "dihukumnya". Tarushah sedikit respek kepada alam. Bukan hanya wanita, alampun butuh untuk dimengerti. Bagaimana memahami alam? Bacalah dan belajarlah. Sekarang juga jangan ditunda.

Lalu, apa sebenarnya saran saya? Saya ingi ikut urun pendapat tetapi ada 2 kendala besar, yaitu saya bukanlah ahli geologi atau ahi tata kota. Saya cuma sedikit punya tahu (tempe juga ada di meja makan he he he) tentang hutan dan hidrologi hutan. Saya juga kadang-kadang berbicara tentang kronika daerah tangkapan air dalam konteks pengelolan daerah aliran sungai karena saya adalah ketua Forum DAS NTT. Ya cuma itu dan tak tega daku mempermalukan diriku sendiri dengan usulan yang ngawur ...cieeeeeeehhhh....Kendala lain adalah, saya tidak memiliki data yang lebih lengkap dan komprehensif tentang kondisi Situ Gintung kecuali data-data di surat kabar dan gambar peta dari Mister Google. Tetapi biar kentara sedang belajar maka saya beranikan diri juga untuk membuat sedikit catatan. Sekaligus inilah tanda mata dari saya. Begini:

Dam kecil buatan seperti Situ Gintung yang berupa tubuh air hasil perangkap air permukaan adalah hal yang jamak bagi kami di NTT yang kering dengan struktur tanah yang bersifat tanah kartz. Di NTT, sejak awal tahun 1980-an banyak dibangun dam-dam air penampung kecil yang disebut sebagai embung. Banyak di antara embung itu yang sebenarnya tidak ideal menurut struktur geologinya tetapi hanya itu caranya untuk menyiapkan cadangan air bagi penduduk di masa kemarau yang bisa berlangsung 6-7 bulan. Maksud saya, danau buatan seperti Situ Gintung wajar ada jika alasannya kuat. Apakah Situ Gintung harus ada yang oleh karenanya (principe d'etre) keadaan bisa lebih buruk jika tidak ada? Jikalau jawabannya adalah YA maka pilihannya adalah lakukanlah konservasi terhadap Situ Gintung.

Kata konservasi amat penting karena jika Situ Gintung dipertahankan maka hanya ada satu alasannya yaitu sebagai daerah upstream atau daerah tangkapan air dengan aneka fungsinya. Jika begitu maka UU No. 7/2004 tentang Sumberdaya Air mengamanatkan bahwa daerah upstream adalah daerah konservasi. Maka pilihan cuma 1: tegakkan semua kaidah-kaidah konservasi tanpa syarat. Maka, bangunan waduk harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip sipil keteknikan yang tepat dan akurat. Maka, perawatan yang reguler harus dilakukan. Maka, ruang terbuka hijau di sekitar waduk, outlet air dan sempadan wajib diadakan. Jika untuk itu hutan kota harus didirikan ya lakukanlah. Maka, pemukiman di sepanjang sempadan waduk dan outletnya tidak boleh ada. Maka, pengelolaan daerah upstream, transportasi dan downstream, yang bila perlu melibatkan pihak pengelola sungai Pesanggrahan. Pengelolaan ini harus bersifat terpadu dan didasarkan atas prinsip-prinsip eksternalities: lintas wilayah adminsitrasi, lintas sektoral dan lintas bidang ilmu. Maka, insentif dan disinsentif perlu dipikirkan. Jasa lingkungan bagi yang memelihara ekosistem adalah perlu. Tegakan hukum seadil-adilnya tanpa pandang bulu sekalipun penduduknya botak nggak punya rambut. Relokasi penduduk? Apa boleh buat jika hal itu memang suatu keharusan.

Dalam ilmu pengelolan bencana dikatakan bahwa resiko bencana = bahaya x kerentanan x ketidakmampuan. Anda lihat bahwa ketidakmampuan adalah faktor determinan yang dapat mereduksi kerentanan dan bahaya yang pada ujungnya akan mereduksi resiko bencana. Memanfaatkan alam, apakah itu di Situ Gintung ataupun dimana saja tak pernah lepas dari resiko dan semua tentang mengelola alam secara cermat adalah bagaimana hidup berdampingan secara damai dengan resiko bencana. Bagimana cara agar memiliki kemampuan dalam mengelola alam dan sekaligus mengurangi resiko bencana? Tak lain dan tak bukan: BACALAH DAN BELAJARLAH. Inilah sejatinya 2 tanda mata yang diberikan oleh Allah lewat tragedi Situ Gintung.

Kita tidak bisa bernegosiasi, dan sebaiknya tidak berpikir untuk melakukan discount tentang pentingnya, belajar mengelola alam guna mereduksi resiko bencana jika Situ Gintung ingin tetap dipertahankan. Saudaraku, ingatlah bahwa di hari Jumat pagi buta, pada tanggal 27 Maret 2009, Situ Gintung dan air yang ada di dalamnya tidak bernegosiasi dengan siapapun ketika mereka memutuskan untuk jebol dan mengirimkan "tsunami air tawar" yang mematikan itu. Anda maoe tanda mata seperti itoe? Saya memoetoeskan TIDAK.

Tapi saya berharap anda soeka dengan doea tanda mata dari saya berikoet ini:


Tabe Tua
n Tabe Puan

Selasa, 24 Maret 2009

dapatkah kita bersahabat dengan mereka? thom pace bilang: "may be"

Dear Sabahat Blogger.

Sahabat saya yang baru, sudah barang tentu sahabat kita bersama: MR HASTU (lihat link), memposting 2 artikel berturut-turut tentang kohabitasi antara manusia dan alam. Posting sejenis sudah pernah saya buat di blog musik saya kira-kira 1 bulan lalu. Sekarang, saya rasa perlu untuk memindahkan artikel itu ke “blog induk” untuk 2 tujuan: pertama, bahan renungan tentang interaksi kita dengan alam. Dan kedua, ….supaya ada bahan posting untuk blog bigmike …. ha ha ha ha….Silakan disimak dan dinikmati.

Tahun 1980-an awal, di layar TVRI - ketika itu stasiun TV lain tidak ada - diputar sebuah serial TV yang legendaris, yaitu “the live and times of grizzly adams”. Serial televisi ini berceritera tentang seseorang yang bernama Grizzly Adams yang melarikan diri dari tuntutan hukum karena diduga terlibat dalam suatu perkara pembunuhan. Adams melarikan diri karena merasa tidak pernah berbuat kesalahan apapun. Adams melarikan diri ke arah pegunungan (mountain). Bersembunyi dan sekaligus mencoba bertahan hidup di sana sedapat-dapatnya. Dalam satu kesempatan, Adams bertemu seekor beruang grizzly yang sendirian (orphans), belakangan diberi nama Ben. Alkisah, Adam mencoba untuk bersahabat dengan Ben. Dan itulah yang terjadi kendati sulit di awalnya karena si beruang, bagaimanapun, adalah hewan liar (wildlife) dengan naluri membunuh yang besar. Keduanya bersama-sama bertualang menelusuri gunung, hutan, sungai dan berbagai kehidupan liar lainnya sembari melindungi dan memelihara alam yang ada. Berteman bersama mereka adalah seorang pedagang tua, the Mad Jack, dan seorang native american - pria Indian - Nakoma.

Begitulah film cantik itu dan saya tak pernah melewatkan satupun serial itu. Memandang gambar-gambar alam nan asli, asri dan cantik adalah degup jantung tersendiri. Salah satu penjelasan tentang “hobi” saya yang kendati selalu belajar disiplin ilmu yang berbeda tetapi semuanya berkaitan dengan alam bebas - peternakan range, ekologi tanaman dan perlindungan hutan - antara lain terinspirasi oleh film TV ini. Menonton persahabatan yang tulus di antara dua spesies yang berbeda mengusik rasa kemanusiaan (afeksi) saya. Salah satu adegan yang paling menggetarkan adalah tatapan mata nanar si Ben ketika harus menyaksikan Adams yang akhirnya ditangkap oleh seorang pemburu hadiah (bonty hunter) dan kembali dimasukkan ke dalam penjara. Tak kalah dahsyatnya dengan itu adalah adegan ketika kedua sahabat itu bertemu kembali karena setelah melewati proses hukum, Adams tidak terbukti bersalah. Kedua sahabat itu bertemu kembali dan melanjutkan persahabatan sembari terus mengembara di alam liar menebar kebaikan. Entah bagaimana cara pembuatan film itu tetapi ketika itu saya belajar 1 hal, yaitu persahabatan dengan siapa dan apapun adalah mutiara yang sepatutnya dijaga.

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita bahwa di Sumatera Selatan dalam 1 tahun terakhir ini sudah 9 orang tewas diterkam harimau. Di Kupang, 2 orang tewas diterkam buaya muara. Kemanusiaan kita tergerak karena perasaan iba mendengar ada manusia yang mati diterkam binatang buas. Apa solusinya? Musnahkan si binatang buas? Mungkin begitu tetapi nanti dulu karena faktanya Harimau Sumatera adalah binatang liar yang dalam status dilindungi karena nyaris punah. Buaya Timor tergolong hewan yang juga nyaris punah dan terpaksa dilindungi. Begitupula nasib berbagai spesies lainnya. Hiu yang menakutkan, Ikan Paus yang berukuran raksasa, Kuda Nil yang dahsyat “kremusannya”, Komodo yang meski eksotik tapi liar dan amat ganas, dan banyak lagi hewan perkasa lainnya yang pada faktanya adalah jenis-jenis yang nyaris punah. Mengapa demikian? Siapa penyebab kepunahan spesies-spesies “gahar” itu? Adalah ini: MANUSIA. Perburuan oleh manusia dan perusakan habitat hewan-hewan liar itu guna alih fungsi lahan adalah force majeur.

Atas nama sesama spesies manusia kita patut bersedih atas matinya orang yang diterkam binatang buas. Akan tetapi obyektivitas tak boleh berheti di situ. Kita harus jujur mengakui bahwa ……manusia ternyata lebih buas dari binatang terbuas sekalipun….memang manusia kalah otot dan tenaga kebanding hewan-hewan liar itu tetapi manusia punya satu senjata yang lebih hebat, yaitu NALAR. Taufik Ismail pernah mengatakan bahwa “jika harimau Jawa punya nalar maka past manusia Jawa-lah yang harus dikonservasi”. Dengan akalnya itu manusia berpotensi menjadi monster yang paling menakutkan. Seorang diri, Ryan van Jombang mampu menghabisi 11 orang. Hanya demi ambisi 1 orang Hitler, 6 juta otang Yahudi harus meregang nyawa. Hanya karena ambisi berkuasa manusia mengkreasikan perang, yang menghabiskan jutaan nyawa sepanjang sejarah manusia. Dengan alasan perjuangan suci, manusia berani menabrakan pesawat ke twin tower di New Yor. Ribuan orang mati seketika. Demi memenangkan perang, hanya manusia yang mampu mengkreasikan bom atom. Cukup dengan sekali menjatuhkannya di Hiroshima, matilah ratusan ribu nyawa sekaligus. Tanpa ampun. Tanpa kasihan. Jawablah saudaraku: ….. siapa predator sesungguhnya? Siapa yang sesungguhnya berada pada posisi teratas dalam rantai makanan?

Di tengah kesusahan hati itu, saya kembali teringat Adams dan Ben. Manusia dan binatang. Entah jikalau si Darwin benar, bahwa kita masih sedulur dengan binatang-binatang. maka persahabat itu mudah dimengerti. Tetapi baiklah, terlepas benar tidaknya Darwin, yang pasti adalah kita dan alam merupakan 2 obyek yang berbeda. Lalu, apakah karena kita berbeda maka kita boleh menusnahkannya? Mengapa kita dan mereka harus saling membunuh? Mengapa harus saling menghancurkan? Kemana rasa cinta kita? Dimana? Bukankah cinta bersifat merangkum semua?

Marilah kita belajar dari Adam dan Ben. Lalu, Thom Peace menciptakan sebuah lagu cantik, “maybe” yang merupakan theme song dari serial TV itu. Lagu ini tidak saja indah dalam harmonisasinya tetapi juga liriknya yang membuat terkesima. Buktikan sendiri dan selamat menimba kearifan dari lagu ini.

Thom Pace Song Maybe “The Life and Times of Grizzly Adams
(versi audio recording)

(versi televisi)