Selasa, 25 Agustus 2009

saudaraku sebangsa dan setanah air (bagian II): from africa with love

Saudara-saudara, sebangsa dan setanah air,

Dalam posting sebelumnya, beberapa sahabat di Kupang menanyakan kepada saya...heiii michael...sejak kapan lu belajar jadi doktor sejarah???? ... lu pung gaya macam ke ahli sejarah sa eee ... (bahasa Melayu Kupang yang berpadanan dengan ..."michael, kamu bergaya bagai ahli sejarah). Saya cuma tersenyum simpul tidak mendebat apapun kata-kata sahabat saya itu. karena saya memang bukan seorang ahli sejarah. Hanya sekedar gemar membaca sejarah. Kata orang pandai, "sejarah adalah kaca spion yang dipakai untuk menengok sejenak ke belakang agar selamat sampai tujuan di depan". Jadi, saya cuma seorang penengok cermin sejarah. Tak lebih tak kurang.Dalam kapasitas itu, saya ingin mengajak saudara-saudara sekalian agar berkenan, bersama-sama saya, menjadi penengok kaca spion sejarah. Ini Sejarah. Sejarah adalah cermin hidup yang perlu ditengok sekali sekala agar engkau berbahagia. Mau?

Seharusnya, posting kali ini berisikan perenungan saya terhadap hasil tengokan sejarah yang sudah saya lakukan sebelumnya. Itu sudah saya janjikan kepada anda tetapi saya menundanya sejenak karena ada "gambar" baru yang saya peroleh dari hasil tengokan melalui kaca spion sejarah tersebut. Gambar itu begitu menarik dan terlalu sayang jika saya menyimpannya untuk saya sendiri. Sekarang saya berbagi.

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah buku yang berkudul "Mapping Human History" yang ditulis oleh Steven Olson (2002). Beliau adalah seorang peneliti Amerika Serikat yang bekerja pada The National Academy of Science, The White House Office of Science and Technology Policy dan The Institute for Genomic Reserach. Lembaga-lembaga keilmuwan yang sangat berwibawa di Negerinya mister Obama itu. Melalui bukunya ini, Olson ingin memberitahukan kepada khalayak bahwa kendati secara sosi0-kultural dan antropologi umat manusia di muka bumu ini berbeda-beda tetapi sesunguhnya adalah satu pada awalnya. Hal ini merupakan antiteori terhadap teori multi-regional yang percaya bahwa manusia moderen berkembang di beberapa tempat sekaligus di dunia dan menurunkan ras-ras yang berbeda. Merujuk kepada teori Olson, saya teringat kisah di dalam Bible bahwa nenek moyang manusia itu satu yang berawal dari Adam dan Hawa. Sayapun teringat semboyan Negara Indonesia, negaranya sohib ==ANAK NKRI==, Pace Ruben, Mister Proxy73, Mbakyu Elizahayu, Bung Eman, dan sudah barang tentu negeri saya juga, BHINEKA TUNGGAL IKA.

Argumen Olson berangkat dari ribuan hasil penelitian pola-pola persebaran gen, chromosom dan DNA mitokondria berbagai ras di seluruh dunia. Olson mengatakan bahwa "Adam dan Hawa" sebagai representasi penyebutan manusia moderen adalah manusia yang berasal dari kelompok orang yang hidup di semak-semak di bagian Selatan Afrika (saya harap kita tidak usah mendebat pendapat Olson tentang hal ini dengan menggunakan referensi Alkitab dan atau kitab suci lainnya. Kita ikuti saja potret mister Olson). Orang-orang ini disebut sebagai "orang semak" (bushman) yang hidup pada masa di antara 150 - 200 ribu tahun yang lalu (tuir banget ya???). Bagi yang sulit membayangkan oraang-orang semak maka coba ditonton kembali film lawas "God's Must be Crazy". That's they are.

Kemudian, sekitar 100.000 tahun lalu kelompok manusia Afrika ini, melakukan "gerakan" apa yang disebut sebagai "out of Africa". Salah satunya, yang terkonfirmasi melalui beberapa bukti antropologi, adalah kelompok yang meninggalkan tanduk Afrika menggunakan rakit menyeberangi Laut Merah sampai ke Jazirah Arab. Lalu, mengitari Teluk Persia menyusuri garis pantai Iran dan Pakistan, ke selatan berjalan di sepanjang pantai India, kembali ke utara menuju muara-muara sungai Gangga dan akhirnya tiba di Asia Tanggara. Mereka terus bergerak. Sebagian orang berada di Asia Tanggara ini bermigrasi ke arah utara menuju Asia Timur mencapai Jepang. Sebagian bermigrasi ke arah Pulau-Pulau Formosa (sekarang Taiwan). Sebagian lagi meneruskan perjalanan ke timur dan mendarat di daerah yang sekarang disebut sebagai Indonesia. Sebahagiannya lagi meneruskan perjalanan ke arah selatan dan berdasarkan bukti-bukti hasil analisis DNA mitokondria terkini, pada sekitar 65.000 tahun yang lalu kelompok manusia yang berasal dari Afrika mendarat di Australia. Merekalah nenek moyang orang-orang Aborigin. Orang-orang ini belakangan disebut sebagai "orang-orang Melanesia".

Fakta DNA dan antropologis lainnya juga menunjukkan bahwa terdapat gelombang migrasi kedua dari kelompok "out of africa" menuju Asia. Pada sekitar 40.000 tahun yang lalu. sekelompok orang yang berdiam di Asia Barat, yang tadinya telah ditinggal pergi oleh mereka yang telah mencapai Australia, bermigrasi menuju Asia Timur. Sebelum mereka mencapai Asia Timur, mereka membentuk kelompok-kelompok di Asia Tengah. Di belakang hari sebagian dari mereka bergerak menuju Siberia dan sebagian lainnya terus berpindah ke arah Timur. Di sana mereka bertemu dengan kelompok orang yang berasal dari Australia lalu bercampur baur. Kelompok hasil pembauran ini kemudian bergerak kembali ke barat menuju Asia Tengah, terutama di daerah yang sekarang dikenal sebagai Tiongkok. Dan seperti yang telah dikemukakan pada tulisan terdahulu, kelompok yang belakangan disebut sebagai ras Mongoloid dan ras Austronesia, adalah kelompok orang yang bermigrasi menuju Asia Tenggara dan terus ke Indonesia sekarang ini dalam dua gelombang migrasi. Di Nusantara bagian Barat, mereka mendominasi dan memaksa orang-orang yang disebut sebagai ras Melanesia untuk berpindah ke arah lebih timur Nusantara. Dan, sejarah Indonesiapun dimulai.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Membaca uraian Olson, saya tertegun. Jika Olson benar, dan sampai sekarang teori ini belum terbantahkan, maka pertanyaannya adalah siapakah yang disebut sebagai orang Indonesia asli yang paling berhak mengklaim diri sebagai pemilik Indonesia?

Dilihat dari urut-urutan kedatangan maka seharusnya yang berhak mengklaim diri sebagai orang Indonesia adalah kawan-kawan yang disebut sebagai keturunan ras Melanesia. Mengapa demikian? Ya, karena merekalah yang eksis di Nusantara Pasca punahnya kelompok Homo erectus yang pernah hidup di Jawa yang terjadi sebelum kedatangan manusia moderen (Homo sapiens sapiens) dari Afrika itu. Jika begitu maka, mengapa orang Papua harus merasa sebagai "orang menumpang" di Indonesia dan oleh karena itu merasa perlu untuk memisahkan diri dari Indonesia? Bukankah merekalah sebenarnya yang pertama kali berada di Nusantara ini? Tetapi nanti dulu, jika ditarik lebih ke belakang lagi maka bukankah orang yang belakangan disebut sebagai ras Melanesia, sebenarnya adalah orang yang berasal dari Jazirah Arab. Tetapi, itupun masih nanti dulu, karena bukankah mereka yang berada di Jazirah Arab itu adalah orang yang berasal dari Savana Afrika Selatan - bushman? Bahkan jika orang-orang Austronesia yang berhasil menekan orang Melanesia berpindah ke timur maka merekapun adalah orang yang dahulunya berasal dari Jazirah Arab dan dahulunya lagi berasal dari Savana Afrika Timur-Selatan. Jika semua hal betul begitu maka tak pelak lagi seharusnya Indonesia dapat diklaim sebagai wilayah hasil temuan orang -orang Afrika dan Indonesia adalah milik orang Afrika. Orang Asli Indonesia ternyata adalah orang Afrika. Dari sana kita berasal. From Africa we are come from. From Africa with love. Anda mungkin tidak suka dengan kesimpulan ini tetapi logika dan hasil temuan ilmiah dari data-data DNA mitokondria yang diolah oleh Olson membuktikan itu.

Pada akhirnya, hal yang paling membuat saya tertegun adalah kesimpulan akhir dari Olson, yaitu sebenarnya yang dikatakan sebagai perbedaan ras adalah tidak ada. karena kata ras itu sendiri tidaklah signifikan. Semua kita berasal dari asal-usul DNA mitokondria yang sama yang hidup pada sekitar 200.000 tahun yang lalu di Savana Afrika bagian Selatan. Adalah perubahan tertentu yang dialami oleh gen-gen mitokondria - mutasi - dan pengalam dalam perjalanan orang-orang yang bermigrasi keluar dari Afrika itulah yang membuat kita berbeda-beda sekarang ini. Saya ingin mengutip secara literalis apa yang dikatakan oleh Olson di bagian akhir tulisannya untuk kita renungkan bersama.

Jika seseorang masuk ke sebuah ruangan yang berisikan orang-orang Palestina dan Israel dari Timur Tengah, atau orang-orang Serbia dan Albania dari Balkan, atau orang-orang Katolik dan Protestan dari Irlandia, atau orang-orang Muslim dan Hindu dari India Utara, atau orang-orang Dayak dan Madura dari Indonesia, kemudian memberi mereka pakaian yang sama dan memotong rambut mereka dengan model yang sama, dan melarang mereka untuk berbicara atau menunjukkan isyarat tertentu, maka Anda tidak dapat menentukan asal-usul kelompok mereka - setidaknya sampai anda mengamati mereka secara saksama. Pihak-pihak yang saling yang terlibat dalam konflik-konflik keras ini mempunyai etnisitas yang berbeda tetapi sebenarnya mereka sebenarnya memiliki hubungan biologi yang sangat erat dalam sejarah ketika manusia belum melahirkan perbedaan-perbedaan fisik.

Saudara-saudaraku, sebangsa dan setanah air.

Demikianlah kutipan literal itu saya lakukan untuk kita pikirkan dan renungkan bersama-sama maknanya. Sekarang, saatnya saya harus berhenti sampai disini dahulu. Akan saya sambung dalam posting berikutnya dengan hutang-hutang yang masih banyak. Saya belum melnjelaskan apa makna tulisan Olson dalam konteks ke-Indonesiaan. Saya juga masih berhutang jawaban kepada saudara-saudara terhadap pertanyaan yang saya ajukan: ..."benarkah kita ini sebangsa dan setanah air?"...Saya, bahkan, sekarang memiliki hutang baru, yaitu kewajiban untuk menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan DNA mitokondria, mutasi gen, pembentukan etnisitas, budaya dan bahasa - paling kurang menurut perspektif saya. Begitulah, saya selesaikan saja dahlu bagian ini. See you next posting. God Bless Indonesia.

Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 16 Agustus 2009

saudaraku sebangsa dan setanah air: INDONESIA (bagian I)

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Hari ini, Republik Indonesia kita genap berusia 64 tahun. Dulu, Soekarno dan Hatta berteriak keras atas nama Rakyat Indonesia menyatakan bahwa KITA MERDEKAT. Lalu, para rahayat Indonesia melanjutkan teriakan itu MERDEKA ATAU MATI. Dahulu, rahayat Indonesia bangga dengan kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu. Selamat Sejahtera. Sekarang, masihkah kita berbahagia dengan HUT Proklamasi ini? Saya berbahagia, tak tahulah anda. Tetapi ada pertanyaan yang berlari-lari di kepala saya.

Siapakah saya dan siapakah anda sehingga kita saling menyapa sebagai saudara sebangsa. Saudara setanah air. Dari mana asalmu? Keturunan siapakahkah anda? saya mau bertanya? dan Saudara juga bertanya, dari mana asal saya? Apakah betul kita ini orang Indonesia? Indonesia itu apa?

Kata orang cerdik pandai, di antara 2 juta tahun lalu sampai 500.000 tahun yang lalu, hiduplah sekelompok primata tegak yang disebut sebagai kelompok Homo erectus di Pulau Jawa. Oleh karena itu, para ahli antopologi menyebutnya sebagai Manusia Jawa. Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern (Homo sapiens sapiens) berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Dari sana mereka meyebar ke segala penjuru dunia. Jika Wilson benar maka manusia moderen ternyata berasal dari 1 tempat, yaitu Afrika. Tak pelak lagi, Homo erectus yang ada di Pulau Jawa adalah species yang punah dan digantikan oleh pendatang dari Afrika. Tak bisa Tak.

Lalu, apakah mereka nenek moyang kita? Jika pendapat benar maka bagi saudara-saudara yang orang Jawa ada kemungkinan besar begitu tetapi bagaimana dengan saya yang bernenek moyang orang Sabu. Bagaimana anda yang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Flores, Rote, Sumba, Maluku, Papua dan seterusnya. Siapakah nenek moyang kita? Sama ataukah berbeda?

Sebagian pakar menyebutkan bahwa di antara rentang waktu antara 160.000 sampai 100.000 tahun datanglah orang-orang, yang merupakan bagian dari migrasi manusia purba "out of Africa", yaitu orang-orang dari ras Austolomelanesia (Papua). Mereka memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). Ras apakah ini? kata orang pintar: “Melanesia (berasal dari bahasa Yunani, μέλας black, νῆσος island) yang seara literalis berarti "islands of the black-skinned people". Orang-orang Melanesia kini berdiam di daerah Bismarck archipelago, Fiji, Kepulauan Maluku, New Caledonia, New Guinea (termasuk orang Papua di bagian Barat), Norkfolk Island, Solomon Island, Torres Strait Island, Vanuatu, Flores, Nauru, Sumba, Timor (termasuk Timor Leste), Halmahera, Alor dan Pantar.

Semenjak sekitar 2000-an SM orang-orang Melanesia terdesak dan berpindah ke arah Timur karena kedatangan orang-orang yang berasal dari ras Austronesia, yaitu bangsa Yunan yang diduga berasal dari daratan Asia, kendati belakangan ditemukan bukti bahwa ras ini berasal dari daratan Formosa (Taiwan). Kaum migran baru yang mendesak orang-orang Melanesia ke arah timur ini datang dalam 2 gelombang migrasi, yaitu pada tahun 2500 dan pada tahun 1500 SM. Ras ini diduga telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin. Di antara tahun 2500 SM dan 1500 SM tersebut, berdasarkan bukti-bukti antropoligis diketemukan adanya sat ras lain, yaitu ras Mongoloid yang pandai bertani dan berniaga.

Lantas, pada akir-akhir abad sebelum Masehi, di tanah yang sekarang disebut Indonesia ini, kedatangan kaum imigran baru yang berasal dari India. Mereka memperkenalkan kepada masyarakat yang telah ada terlebih dahulu suatu sistem tata pemerintahan yang lebih maju, yaitu kerajaan.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air,

Berdasarkan bukti-arkeologis dan antropologis ditemukan fakta bahwa pada 1-2 tahun sebelum Masehi, di Lubuk Jambi berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kandis. Semenjak itu, tak kurang dari 76 buah kerajaan pernah berdiri bertebaran di seluruh wilayah archipelago yang belakangan di sebut Indonesia. Paling kurang terdapat 2 kerajaan yang sangat fenomenal, yaitu kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatera dan Kerajaan Majapahit di Jawa. Dikatakan fenomenal karena dua kerajaan tersebut wilayahnya lintas pulau dan lautan. Sriwijaya menguasai perniagaan di seluruh Selat Malaka sedangan wilayah Majapahit meliputi luas Indonesia sekarang ini. Bahkan, kokon, sampai Madagaskar. Konon pula, di masa Majapahit inilah isitlah Nusantara pertama kali di kenal yang berasal dari sumpah Sang Mahapatih, Gadjah Mada. Kerajaan-kerajaan yang pernah hidup di Indonesia pada umumnya selalu dapat dikaitkan dengan kegiatan perniagaan intetinsulair (lintas pulau) dan atau Agama. Sebagai contoh, kerajaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan kerajaan Maritim nan perkasa yang menguasai perniagaan di seluruh Nusantara dengan pengaruh agama Budha dan Hindu.

Akibat adanya arus prniagaan yang terbuka maka dari Arab dab Persia, melalui Gujarat, datanglah kaum pedagang yang membawa serta agama Islam. Terctat juga pelaut-pelaut dari Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam yang juga selain berniaga, melakukan syiar Islam.

Ketika orang-orang Eropa pada awal abad ke-16 melakukan perniagaan jauh kearah Selatan untuk mencari sumber rempah-rempah maka bertemulah mereka dengan beberapa kerajaan. Beberapa pustaka menyebutkan bahwa kedatangan orang-orang yang berasal dari Britania Raya, Portugal dan Belanda itu tidak semata berniaga tetapi mengusung semangat 3 G (bukan ”triji-nya ponsel lho bung en soes), yaitu Gold, Glory and Gospel. Pada masa ini pula, kendati beberapa bukti menunjukkan bahwa agama Kristen sudah hadir di Nusantara jauh sebelum abad ke-16, agama Kristen dianggap masuk ke Indonesia sebagai bagian dari ”barat yang menjajah”. Stigma Agama Barat yang menjajah ini, bagi sebagian kalangan, ditempelkan begitu kuat bagi Agama Kristen di Indonesia terutama melihat fakta bahwa Agama Kristen mendapat tempat di beberapa kerjaan di bagian Timur Indonesia yang dikuasai oleh, mula-mula oleh Portugal, lalu VOC dan akhirnya pada abad ke-19 oleh pemerintah Belanda (India-Belanda).

Di masa penjajahan India-Belanda ini muncul nama Indonesia. Pertama kali digunakan oleh dua orang Inggris, yaitu George Samuel Windsor Earl, seorang pengacara kelahiran London, yang bersama James Richardson Logan, seorang pengacara kelahiran Scotlandia, menulis artikel sebanyak 96 halaman di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia No. 4, tahun 1850 dengan judul "The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders."

Mereka menamakan penduduk India-Belanda bagian barat yang berasal Proto-Malaya (Melayu tua) dan Deutero-Malaya (Melayu muda), sebagai Indunesians (Indu, bahasa Latin, artinya: India; Nesia, asal katanya adalah nesos, bahasa Yunani, artinya: kepulauan). Sedangkan penduduk di wilayah India-Belanda bagian timur masuk ke dalam kategori Melanesians (Mela = hitam. Melanesia = kepulauan orang-orang hitam). Oleh karena itu, Earl sendiri kemudian cenderung menggunakan istilah Melayu-nesians, untuk menamakan penduduk India-Belanda bagian barat. Kemudian Logan merubah Indunesia menjadi Indonesia (Indos dan Nesos, keduanya berasal dari bahasa Yunani) dalam tulisan-tulisannya di Journal tersebut.

Adalah Adolf Bastian, seorang dokter dan sekaligus etnolog Jerman, yang mempopulerkan nama Indonesia ketika menerbitkan laporan perjalanan dan penelitiannya di Berlin, yang diterbitkan dalam karya 5 jilid (1864 – 1894) dengan judul “Indonesien, oder die Inseln des malaysischen Archipels” (bahasa Jerman, artinya: “Indonesia, atau Pulau-Pulau dari Kepulauan Malaya”). Jilid I berjudul Maluku, jilid II Timor dan Pulau-Pulau Sekitarnya, jilid III Sumatera dan Daerah Sekitarnya, jilid IV Kalimantan dan Sulawesi, jilid V Jawa dan Penutup.

Eduard Douwes Dekker, dalam bukunya “Max Havelaar” menyebut India-Belanda dengan nama Insulinde, variasi bahasa Belanda untuk Kepulauan India. Ketika Indische Partij (Partai India) yang didirikan oleh keponakannya dilarang oleh Pemerintah India Belanda tahun 1913, para anggotanya mendirikan Partai Insulinde. Baik Indunesian, Indonesien atau Insulinde semua artinya adalah Kepulauan India, untuk menunjukkan identitas pribumi yang hidup di bagian barat wilayah India- Belanda, sedangkan yang hidup di wilayah timur –Flores, Timor, Maluku dan Papua-sebenarnya adalah orang-orang Melanesia (Kepulauan orang-orang hitam).

Yang termasuk pertama menggunakan kata Indonesia pada awal tahun 20-an adalah Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sam Ratu Langie dan Partai Komunis Indonesia. Jadi kata Indonesia artinya tak lain adalah: Kepulauan India.

Akhirnya, adalah tagal perkara situasi perniagaan dunia maka negara Jepang melirik sumber minyak yang berlimpah di wilayah yang disebut sebagai Indonesia sebagai modal potensial guna mengembangkan diri sebagai negara adidaya. Maka, Hindia Belanda diserbu pada tahun 1942. Jepang, yang mula-mula mengaku sebagai saudara tua dari Timur yang akan membebaskan saudara mudanya, Indonesia, dari tangan ”bangsa barat”, ternyata menjajah Indonesia secara lebih kejam dibandingkan dengan penjajah sebelumnya. Tetapi syukurlah, mereka tak lam di sini. Cuma 3,5 tahun lalu terusir dari bumi Indonesia, mula-mula sebagai konsekuensi kekalahannya dalam Perang Dunia II lalu, juga karena lalu karena Bangsa Indonesia menyatakan bahwa ”KAMI MERDEKA” pada tanggal 17 Agustus 1945. Suatu pernyataan yang sederhana tetapi berkonsekuensi besar karena jika tidak demikian maka Indoensie hanyalah sebangsa daerah taklukan sekutu pada PD II lalu harus diserah terimakan dari Jepang kepada Sekutu.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Sejak 17 Agustus 1945 itulah Indonesia resmi dinyatakan sebagai Bangsa yang merdeka. Bangsa -bangsa yang mendiami daerah yan dahulunya dijajah Belanda dan Jepang secara resmi bersepakat membentuk sebuah Negara, yaitu Indonesia. Indonesia punya modal, yaitu Wilayah dan Rakyat yang berdaulat. Lalu Rakyat yang berdaulat itulah yang bersepakat siapa di antara mereka yang pantas memimpin mereka sebagai suatau pemerintahan, Semenjak itu, kita punya Soekarno, Soharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY sebagai Presiden.

Tetapi lihatlah wajah kita sejak 1945 sampai hari ini: “revolusi belum selesai” kata Bung Karno, lalu sejak 1945 – 1967 pertikaian terus saja terjadi di antara kita. Ada Pembernontakan PKI Muso di Madiun, PRRI-Permesta, Kartosuwiryo, RMS dan Kahar Musakar. “Ekonomi Yes Politik No”, kata Soeharto tetapi peristiwa tahun 1965 yang menelan ratusan ribu korban nyawa rahayat Indonesia masih saja terus menjadi misteri sampai saat ini. Lalu, ada Malari 1974, Penembakan misterius kepada kelompok preman, Peristiwa Tanjung Priok, Kudatuli 1996, Kerusuhan Mei 1998, Ambon, Poso dan terakhir tak berhentinya teror Noordin M Top. Apa yang terjadi dengan kita? Apa yang terjadi dengan rahayat Indonesia. Benarkah kita bersaudara di bangsa yang sama dan tanah air yang sama?

Saya masih ingin terus mengulas tetapi mohon maaf saya akan berhenti dahulu di sini karena saya ingin berdiri sejenak, mengepalkan tangan kana saya lalu saya acungkan tinju ke udara sambil berteriak MERDEKA. Dirgahayu Indonesia. Salam Sejahtera. (posting dilanjutkan pada bagian II)


Tabe Tuan Tabe Puan

Rabu, 12 Agustus 2009

dina rade mengirimkan sebuah PENSIL sebagai kado HUT bagi IBUNDA (andai ibunda "masih ada")

Dear Sahabat Blogger,

Sejak bulan Januari 2009, saya dan 9 orang bersaudara lainnya, telah menjadi yatim dan piatu. Ibunda kami, Agustine Sabartinah, telah berangkat menuju negeri abadi bertemu Tuhan-nya. Mungkin oleh Tuhan, Ibunda telah dipertemukan dengan Ayahanda kami, Robert "SGT" Riwu Kaho, yang telah setahun lebih dahulu menempuh perjalanan abadi yang sama. Sejatinya kedua orang itu telah "menghilang" dari mata fana kami. Benar belaka begitu. Akan tetapi, filsafat manusia mengajarkan tentang sisi lain dari manusia selain badan, yaitu jiwa. Dan di dalam kesatuan badan dan jiwa itulah bersemayam sesuatu yang sangat Ilahiat, sebenarnya, yaitu KASIH. Dan di dalam KASIH itulah, kami diyakinkan bahwa "mereka ada bersama dengan Tuhan". Dan karena Tuhan itu Maha Ada maka mereka yang dekat dengan DIA-pun seharusnya masih tetap ada. Demikianlah, Agustine dan Robert sesungguhnya masih ada, kendati sudah tiada, karena kami punya KASIH.

Dalam terang KASIH itulah ketika pagi-pagi benar saya membuka e-mail, saya melih
at di sana ada kiriman artikel yang sangat bagus yang dikirim oleh seseorang yang bernama DINA RADE RIWU KAHO. Siapa dia? Ya, tak lain dan tak bukan adalah si Bungsu di antara kami. Setelah saya membaca artikel kirimannya, segera saja saya mengirim SMS kepadanya..."Dina, kasi ijin beta untuk memuat artikelmu dalam blog". "Bagus sekali" ....Dina setuju.... saya berbahagia....karena inilah kado yang amat indah untuk mama Tien tersayang yang besok akan berulang tahun yang ke-61. Hadiah dari Dina terasa indah karena substansi artikel itu berbicara tentang sesuatu yang sudah dilakukan oleh Agustine dan Kekasih hatinya, Robert, semasa masih bersama kami semua, yaitu menjadi sebatang PENSIL. ...whaaaaattttt????? pensil?????? apa bagusnya?????....ah sabar dulu....baca dahulu artikel dari Dina, si bungsu dalam urutan kelahiran tetapi adalah si sulung dalam hal ... perhitungan.....

SEBUAH PENSIL

Seorang pembuat pensil sebelum mengutus pensilnya ke dunia memberikan empat pesan.
  1. Kamu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya jika kamu mau berada di tangan seseorang;
  2. Kamu akan menderita setiap kali kamu diruncingkan, tetapi kamu perlu itu untuk menjadi pensil yang baik;
  3. Bagian yang terpenting dari hidupmu adalah bagian yang ada di dalam, bukan bagian luarnya;
  4. Pada permukaan mana pun juga, selalu tinggalkan jejakmu dan teruslah menulis.

Ilustrasi di atas menyimpan kebenaran filsafat dan rohani yang luar biasa. Pertama, kita memiliki potensi yang luar biasa dan mampu melakukan hal yang besar. kendati kita hanyalah sebuah pensil kecil. Syaratnya adalah jika kita membiarkan diri berada di tangan Sang Ilahi. Kedua, ada kalanya kita akan mengalami proses-proses pengeratan dan peruncingan yang sangat menyakitkan. Itu membuat kita sangat menderita, tetapi mau tidak mau kita harus melewati proses itu demi kebaikan kita sendiri. Proses pengeratan kedagingan kita akan membuat karakter Ilahi muncul dalam hidup kita. Ketiga, bagian yang terpenting dalam hidup kita adalah bagian yang ada di dalam. Jangan pernah terjebak dengan hal-hal yang hanya merupakan penampilan luar saja. Sang Pencipta Agung tidak pernah tergiur dengan topeng-topeng kita. Tuhan lebih melihat kedalaman hati kita. Keempat, di mana pun Sang Pencipta meletakkan kita di dunia ini, selalu harus kita meninggalkan jejak atau "tulisan-tulisan" yang benar-benar bisa memengaruhi orang yang "membacanya." Jadilah manusia yang berpengaruh dan selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap orang yang bertemu dengan kita. Ketika rekam jejak kita bagus maka nama Sang Pencipta, yang membuat pensil-pensil itu, akan semakin harum dan dicintai oleh banyak orang

SUDAHKAH KITA MENJADI PENSIL
YANG MENINGGALKAN GORESAN MENDALAM?

Begitulah sahabat blogger yang budiman. Kiriman hadiah dari Dina, yang dia dan kami persembahkan bukan saja untuk Ibunda terkasih kami, Agustine Sabartinah - di gelombang radiasi manapun dia berada saat ini - tetapi juga untuk kita semua. Semoga bermanfaat.

Ini Pensil
Pensil untuk menulis di buku
Mau?????

Untuk Ibunda terkasih, saya persembahan sebuah lagu yang diciptakan Oleh Guruh Soekarno Putra bagi Ibundanya, yaitu "melati suci" (bunga melati adalah bunga kesayangan Ibunda). Damailah bunda. Damai.....


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 09 Agustus 2009

renungan kristiani, sebuah ratapan pada TUHAN

Ya Tuhan yang maha baik,
Ya Allah yang Akbar
Ya Bapa yang saya kenal
dalam karya penyelamatan Yesus Kristus
dalam karya penyertaan Roh Kudus

Mohon ampun,
pagi ini saya tidak dapat ke Gereja-MU
untuk bersekutu dan berbakti

Saya sakit, Tuhan
(sedih sekali)

Tuhan yang maha baik,
Segala daya sudah diupayakan
tetapi mengapa sakit penyakit ini terus saja ada?
Tak mau pergi
(betah banget)

Sebentar tampak seperti sembuh
Sejurus kemudian sakit lagi

Sakit penyakit ini kok malah mirip lagunya Mbah Sirup...eh mbah Surip
bangun lagi tidur lagi

"sakit lagi sembuh lagi ...sembuh....saaakiiittt lagi....uuuyyeeeee..."

Sakit penyakit ini juga mirip lagu mbah Surip yang satu lagi,
(yang katanya hasil njiplak itu)
tak gendong

Saya merasa digendong sakit penyakit kemana-mana
Saya merasa ditertawai si penyakit

"tak gendong ke mana-mana ...enak dong...asik dong...
...waaaaaa hhhaaaaaaa waaaaaaaa........."

Sakit penyakit ini kok mirip ucapan mbah Surip
I love you full

waddduuhhhh Tuhan,
bagaimana ini
kok si penyakit mengejek saya,
(padahal saya wakil ketua majelis jemaat harian lho Tuhan)
katanya:

"i love you full...michael"

Lalu, saya harus bagaimana Tuhan?

berobat, sudah
stop berobat, sudah
pantang makan (sampe lapaaarrr banget), sudah
makan rakus, ...eh maaf Tuhan...itu sih ..sering....
berbuat baik, sudah
berbuat jahat, ...he he he he...yang ini sih, aduuuhhh ....
malu ngomongnya.....maaf, Tuhan...
berdoa, sudah
stop berdoa....lagi-lagi, ampunkan saya Tuhan...ini juga amat sering...

Lalu, Saya harus bagaimana?
apakah Tuhan tidak menyayangi saya?
apakah Tuhan sudah tak perduli lagi pada saya?
apakah Tuhan sudah meninggalkan saya?

(Lalu, bersamaan dengan
desir angin dingin minggu pagi ini
datanglah "suara Tuhan")

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku : "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. SEBAB JIKA AKU LEMAH, MAKA AKU KUAT." (2 Kor:12: 9-10)


(Lalu, bersamaan dengan desir gelombang hot spot internet
Dikau menyapa saya dengan sebuah lagu
"Tuhan Pasti Sanggup")


(Sanggup Apa, Tuhan?)

"YA UNTUK MEBUAT KAMU KUAT, MICHAEL ANAKKU YANG BENGAL"
(tapi jangan lupa bertobat ya........)

.........................
Ia, Baik Tuhan
Ia, Baik Allah
Ia, Bae Tete Manis
Terima Kasih...

Amin

Minggu, 02 Agustus 2009

michael

Dear Sahabat Blogger,

Nama lengkap saya adalah Ludji Michael Riwu Kaho. Semua sudah tahu itu. Sapaan saya di dunia maya adalah Bigmike. Semua sahabat juga sudah paham tentang itu. Tak ada yang baru. Zonder ada perkara aneh. Akan tetapi...eeeeiiittttssssss.....jangan terburu-buru dulu. ....Justru di antara barang-barang biasa itu saya menemukan satu keunikan, yaitu yang bertalian dengan nama MICHAEL. Gerangan apa? Begini:

Pertama, baru saya sadari bahwa nama Michael adalah juga nama salah seorang malaikat surga. Nama ini disebut baik di Alkitab maupun di Al-Quran. Di dalam Perjanjian Lama, yaitu di dalam Kitab Daniel, (Dan 10:13,21; 12:1). Nabi Daniel menyebut nama Michael lebih dari sekali sebagai "Pemimpin", Michael adalah malaikat pelindung surgawi bagi umat/bangsa Israel. Oh ternyata Michael adalah Sang Penghulu Malaikat atau semacam "Pemimpin malaikat atau kepala para malaikat." Di Perjanjian Baru, tepatnya di Kitab Wahyu (Wah 12:4,7) digambarkan tentang sebuah peperangan pada akhir zaman, dimana Michael memimpin para bala tentara malaikat Surga bertempur melawan Naga, Ular Tua, dan Setan pimpinan lucifer yang diperkuat 1/3 para malaikat surga yang mejadi pemberontak mengikuti lucifer. Di dalam Al-Quran, nama Michael disebut bersama dengan malaikat nama malaikat Jibril (Gabriel/Jibrael), yaitu “Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mika-il, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah : 98). Di dalam satu web (www.duwex,wordpress.com) saya mendapat keterangan bahwa tugas Mikail adalah sebagai "pengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan dimana semua rizki di dunia ini berkaitan erat dengan keduanya". Mana yang benar di antara kedua versi di atas bukanlah menjadi perhatian saya. Hal terpenting adalah ... ahaaaaaaa .... Michael ternyata ORANG PENTING. Dan saya juga bernama michael. Maka apakah saya juga tergolong orang penting? Entahlah, tetapi rasa-rasanya....mungkin juga ya.....wkwkwkwkkw.....

Kedua, mungkin anda mengamatinya juga, yaitu betapa banyaknya para pesohor yang bernama michael. Saya cuma bisa mengingat beberapa di antaranya, yaitu michael Faraday ahli fisika yang dijuluki "bapak listrik", michael jordan, si masetro basket, michael jackson si "king of pop", michael phelps jawara olah raga renang dengan rekor raihan 8 medali emas dalam 1 olimpiade, michael "mick" philips jagger, vokalis the rolling stones , si panjang lidah dan bibir ndower yang masih terus mengelinding dan ... rasanya masih banyak lagi. Point saya di sini adalah michael merupakan nama orang-orang "kerbek" alias keren dan beken. ... wahahahahaaaaa...apakah saya juga keren dan beken? Saya tidak tahu persis tetapi rasa-rasanya....hhmmmmhhhhh.......(narsis-lah itu!!!!!)....

Nah, lalu apakah tentang "semangat narsis" semacam itu yang menjadi inti posting kali ini? Ya tidaklah Bung en Zoes...tidak....kali ini saya ingi berbicara tentang seseorang dengan nama michael .... sumpe abis bukan tentang saya pribadi melainkan tentang sesosok michael yang lain . Ada sesuatu dari si Michael yang satu ini yang bisa kita pelajari dan kita timba keteladanan sekaligus ketidakteladanan-nya. Siapa dia? Michael Schumacher.

Bagi yang masih bertanya siapa Michael Schumacher maka, bagi saya, orang itu kemungkinan besar tidak pernah membaca koran dan tidak pernah menonton televisi. Ya, siapa lagi jikalau bukan si maestro balapan jet darat F1. Mungkin banyak yang tidak setuju tetapi saya yakin lebih banyak lagi yang setuju bahwa michael schmacher, yang kerap disapa juga sebagai "schumi" adalah pembalap F1 terbaik sepanjang masa. Delapan di antara 10 pooling yang pernah diadakan guna menanyakan "who's the best formula one drivers ever?" menempatkan schumi pada urutan teratas. Coba lihat daftar rekord si "record man" ini:

Schumi telah menjuarai 91 balapan Formula 1 dan tujuh kali merebut gelar juara dunia (1994, 1995, 2000, 2001, 2002, 2003, 2004) sepanjang 15 tahun karir balapannya. Pole 68 kali. Pada tahun 2002 terdapat 1 rekor "gila" dari michael schumacher, yaitu ketika race dalam msuim itu masih tersisa 6 balapan tetapi dia sudah memastikan sebagai juara dunia. Rasanya rekor semacam itu sulit terulang kembali di masa depan. Dimana letak kehebatan shumi? Menurut Ross Brawn, mantan orang kepercayaan schumi di Benneton dan, kemudian di Ferrari, terdapat 3 kelebihan schumi, yaitu kemampuannya menganalisis situasi sirkuit dan kondisi balapan, kemampuannya mengenali dan mengembangkan mobil balapnya serta amat nekad. Ross Brawn menunjukkan alasan-alasan itulah yang membuat schumi mampu menjadi juara kendati tidak mengendarai mobil yang terbaik. Tim Ferrari yang lama terbenam mampu dikembangkan Todt dan Brawn, dengan mendapat masukan dari schumi, kemudia merajai arena F1 sejak 2000 sampai 2004 tanpa perlawanan berarti dari lawan-lawannya. Demikianlah kehebatan schumi. Dia adalah pemenang. Dialah sang juara yang susah ditandingi.

Akan tetapi di balik kehebatannya, schumi menyimpan stori tersendiri berkaitan dengan tabiat dan perilakunya. Ross Brawn menyebutkan bahwa manusia ini adalah orang nekad. Tentang kenekadannya ini kadang-kadang menimbulkan masalah lain, yaitu perilaku arogan, mau menang sendiri, dan, bila perlu curangnya. Pada tahun 1994, ketika pertama kali schumi manjadi juara dunia, dia terlibat tabrakan dengan Damon Hill. Dari analisis video tampak jelas bahwa tabrakan itu disebabkan ulah schumi sendiri yang sengaja menabrak mobil Damon. Tabrakan yang menyebaban Damon gagal menjadi juara dunia, dengan mobil terbaiknya kala itu, dan schumi menjadi juara dunia. Pada tahun 1997 tindakan memalukan seperti itu dilulangi lagi di sirkuit Jerez, Sapanyol. Schumi secara sengaja menabrak Jacques Villeneuve, guna menghalangi Villeneuve menjadi juara dunia. Akibat oerilaku lajaknya ini, FIA menghukum schumi dengan manghapus sama sekali seluruh pointnya di tahun itu. Hukuman masih ditambah dengan kewajibannya untuk bekerja secara sosial selama 60 jam. Di tahun 1998, dia sengaja menabrak David Coulthard yang sudah ketinggalan 1 lap dari schumi lantara shumi beranggapan bahwa Coluthard ingin membantu Hakkinen menjadi juara dunia. Insiden berlanjut di pit ketika Schumi menantang Coulthard untuk berkelahi. Untung beberapa orang menghalang-halanginya. Tahun 1999 ketika schumi mengalami kecelakaan dan patah kaki, dia mendatangi Paus Paulus II di Vatikan bersama Jean Alesi padahal dia adalah seorang penganut Protestan. Sebagian orang mengecam kelakuannya yang berpura-pura itu. Ya, kenekadan schumi kadang berbuah hal-hal yang memalukan. Tetapi itulah schumi. Manusia hebat sekaligus manusia biasa yang bisa nakal, curang dan culas. Perilaku lajak dan tengil.

Setelah masa-masa gemilangnya berlalu dan schumi digerogoti usia, pada tahun 2006 schumi menyatakan pensiun dari dunia balap Formula satu. Di sirkuit balapnnya yang terakhir, yaitu di Brazil, baik mereka yang menyukai maupun yang tidak menyukainya meratapi pensiunnya itu. Sejak saat itu dunianya adalah dunia pekerjaan sosial, (schumi enjadi salah satu donatur besar berbagai kegiatan sosial), bersenang-senang dan menjadi penasihat tim Ferrari. Pada tahuhn 2007 schumi pernah berkata bahwa "masa terbaik dalam hidup adalah pensiun dari dunia balapan". Apakah selesai di sini kisah ini schumi? Belum tetapi maris kita belajar 1-2 hal dari schmui.

Di luar urusan balapan yang gilang gemilang itu kita belajar bahwa schumi adalah manusia paradoks biasa. Dia jagoan tetapi bisa juga curang. Dia baik sekali waktu dan di lain waktu schumi amat arogan. Ya, schumi adallah manusia biasa seperti juga anda dan saya. Akan tetapi saya memiliki 1 indikator penting untuk menilai siapa schumi sesungguhnya. Pertama, pada tahun 2006 schumi masih punya peluang untuk memperpanjang kontraknya dengan Ferrari dan membalap lagi pada tahun 2007. Ketika itu, Raikonen sudah dikontrak dan jika schumi mau maka Felippe Massa yang akan dicoret. Tetapi Schumi menolak dan mengatakan begini .... "saya harus berhenti karena jika tidak anak muda ini (Massa) akan kehilangan masa depan padahal dia sangat berbakat". "Saat ini dia lebih memerlukan mobil Ferrari ketimbang saya" ... Schumi ternyata seorang yang memiliki rasa persahabatan yang kuat dan dia mengekspresikannya secara tepat. Dia tahu kebutuhan Massa dan itulah yang diberikannya. "Friend in need is friend indeed".

Kedua, tak disangka dan tak dinyana malapetaka itu datang. Felipe Massa mengalami kecelakaan di sirkuit Hungaroring, Hungaria Juli 2009 lalu dirawat di RS dan tak bisa membalap untuk beberapa waktu ke depan. Ferrari kehilangan seorang pembalap dan mereka membutuhkannya. Bahkan, di tengah berbagai kasus kontroversial di F1 belakangan ini, dunia jet darat ini membutuhkan seseorang yang mampu menaikkan kembali pamor F1. Felipe Massa juga membutuhkan seseorang untuk meyakinkan dia bahwa dia masih punya masa depan. Dan schumacher menjawab semua "tantangan" itu. Katanya .... "saya kembali bukan untuk saya sendiri tetapi untuk Ferrari, untuk F1 dan untuk Felipe" .... Schumacher telah melakukan apa yang harus dia lakukan dan bukan apa yang yang dia suka lakukan. Secara fisik, dia tidak lagi muda. Sudah 40 tahun usianya. Pun secara fisik, dia baru saja berpulih pasca kecelakaan sepeda motor beberapa bulan berselang. Secara psikologis, dia tidak lagi memiliki "api" kompetisi yang kuat. Tak ada yang perlu dibuktikan lagi. Dia juara dan bukan pecundang. Dia adalah yang terbaik. Apa lagi yang harus dibuktikan? Membalap ketika kondisi fisik dan psikis tidak prima sama dengan mencari perkara. Belum lagi jika dia kalah maka reputasinya dikuaitrkan akan merosot. Tetapi, sekali lagi, "friend in need is friend indeed". Schumi rela berkorban untuk semua yang dia cintai di Ferrari, Formula One dan Felipe Massa. Ternyata persahabatan memerlukan pengorbanan bukan mengorbankan orang lain.

Maka, apa yang dilakukan oleh schumi adalah demonstrasi tentang cinta, yaitu suatu afeksi positif yang sepenuhnya datang dari sobyek, lurus tertuju kepada obyek dan berani mengorbankan kepentingan diri sendiri. Cinta itu merangkul. Cinta itu loyal. Cinta itu tulus. Cinta itu butuh pengorbanan. Cinta itu tidak menggunakan banyak perhitungan kecuali KEBAIKAN. Pesan moral dari kisah ini adalah "jangan berhenti berbuat baik tiap hari kendati kita, anda dan saya, tidaklah manusia sempurna". "Satu hari satu kebaikan, satu orang satu kebaikan, 1000 hari seribu kebaikan dan 1000 orang seribu kebaikan". Jika kita semua adalah sahabat dan semuanya saling mengerjakan kebaikan maka .... ahaaaaaa.....kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Pasti. Percayalah. Michael sudah membuktikan itu. Michael gitu loooohhh ..... Anda bagaimana? Mau?

Mari kita nikmati salah satu aksi overtaking hebat yang dilakukan schumi terhadap kimi raikonnen di Brazil 2006

Michael Schumacher overtakes Kimi R. Brazil 2006

Dan nikmatilah sebuah tembang lawan yang dinyanyikan oleh another Michael, yaitu Michael W. Smith dalam judul "Friends".

FRIENDS by Michael W Smith

Saya tidak dapat menahan diri untuk ikut menempelkan di sini satu versi dahsyat dari lagu tua "michael row the boat ashore". Tepatnya versi gospel jazz. Lagu ini adalah sebuah lagu yang aslinya dinyanyikan oleh seorang budak afro-afrika di masa perang sipil USA dahoeloe kala. Dan kita tahu, adalah kebaikan dan kasih sayang yang pada akhirnya mengantar seorang afro-asia menjadi presiden USA di hari ini: "barrack obama". So, jangan ragu dengan kebaikan. Selamat menikmati sobat.....

Jumat, 24 Juli 2009

biarkan cinta itu mengalir

Dear Sahabat Blogger,

Satu dua waktu terakhir ini adalah waktu-waktu yang sangat melelahkan. Kerja ini dan itu. Bepergian ke sana, ke situ dan ke sini. Tak cukup waktu untuk mengistirahatkan pikiran guna bersenang-senang kendati sempat bepergian ke Tuamese yang indah. Bahkan 3 kali kembola-kembali ke Bali dalam tempo 2 minggu. Dua kali menginap persis di tepi pantai Sanur dan 1 kali menginap di Hotel Mercure tepat di tepian pantai Kuta. Dua pantai yang legendaris dan banyak orang. Ada yang putih nyaris tak berbaju. Ada pula yang kuning, hitam dan coklat. Tumpah ruah orang mencari kesenangan. Dan saya harus sibuk terus bekerja demi serupiah dua. Tidak banyak tetapi perlu untuk menghidupkan nyala kompor di dapur. ..... ooooo laaaa laaaa.... saya merasa teralienasi di tengah kebahagiaan banyak orang.

Di tengah kepungan kelelahan tiba-tiba ..."bbbuuummmm" ... Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta meledak. Tepatnya diledakan. Waaaaooooo....kegilaan itu masih ada tak mau pergi juga. Apakah ada kebaikkan yang ditegakan atas dasar ketidakbaikkan? Bolehkah kebahagiaan didirikan di atas genangan darah dan air mata sesama? Situasi kesedihan itu ternyata dibikin lebih runyam oleh adanya perdebatan yang sungguh tidak perlu. Perdebatan kusir di kalangan para "dewa-dewa" timbul akibat pernyataan SBY dan komapanyon-nya yang, .... alaamaaaakkk. ... ternyata tidak punya cukup roti sebagaimana yang pernah dibuat oleh Aristoteles (bukan tidak ada tetapi mungkin tidak cukup banyak untuk dibagikan). Betap tidak, di tengah tuntutan untuk bersatu, malahan SBY melakukan pemilahan anak bangsa hanya atas dasar info yang sungguh masih mentah. Jelas-jelas dalam pidatonya dikatakan bahwa ada yang ingin menduduki KPU, ada yang ingin berdemo, ada yang ingin menggalkan pelantikan dirinya ebagai Presiden. Howcome my Presidente????? Ledakan bom adalah fakta. Info tentang ketidak terimaan atas hasil pilpres mungikin juga fakta tetapi apa hubungannya? Memaklumkan sesuatu yang masih sumir di tengah keterkejutan dan kesedihan bangsa adalah sungguh keterlaluan. Apalagi ternyata data-data yang dijadikan dasar adalah data-data usang dan data-data yang masih harus diuji. Berkatalah Andi Malarangeng..."heeiiii semua harus dibuka dan diuji" ... "mengapa harus dilarang ini dan itu????". Baiklah pak Andi tetapi jika begitu logika berpikirnya maka mengapa jenis kemungkinan dibatasi hanya yang berkaitan dengan pilpres? Mengapa tidak semua kemungkinan dibuka di atas meja?

Dan tiba-tiba horor berganti menjadi humor ketika SBY berpesan....."hei ada yang memelintir ucapan saya"...."periksa baik-baik pidato saya"...dan saya memeriksanya, persis seperti kata SBY, yaitu kata demi kata.....Seumpama kata: pada bagian tertentu SBY betul dan tepat sekali ketika kutipan itu berbunyi "2 x 2 = 4". Anehnya beliau melupakan atau sengaja melupakan bahwa di bagian lain pidatonya ada yang berbunyi "2 x 2 = 16".....Enggan bertanggung jawab? Entahlah. Satu hal yang pasti adalah beliau dan CS-nya masih harus bekerja keras untuk memperbesar roti-roti Aristoteles. Tak ada kebaikan di balik kesombongan. Tak mungkin ada kebersamaan di balik pengucilan. Tidak ada keteladanan di balik ketergesaan dan kekurang hati-hatian.

Demikianlah, wahai sahabatku, waktu belakangan ini adalah waktu-waktu yang melelahkan secara fisik dan juga pikiran. Demikian buruk-kah hari-hari ini? Ya tidak juga. Seperti yang saya yakini bahwa setiap terbit matahari selalu ada kuantum energi yang dipancarkan. Dan di setiap kuantum energi itu selalu ada peluang untuk menjadi ini dan itu. Ada peluang bagi ketidakbaikkan tetapi selalu ada peluang untuk kebaikan. Maka, jangan kalah dengan kepicikan dan kesombongan. Lakukanlah sesuatu yang jauh lebih baik dari itu, yaitu nyalakan cinta kasihmu. Lalu, biarkan cinta itu bergelora dan bergerak bagai berkas gelombang energi kuantum dalam radiasi sinar surya. Biarkan pula cinta kasih itu bergerak seperti arus sungai yang mengalir jernih dan menghidupkan. Hidup saya, dan pasti anda semua, adalah saksi dari kuatnya gelombang cinta kasih itu. Tepat hari begini di 46 tahun yang lampau SGT dan kekasihnya menghadirkan saya dalam aliran kasih mereka berdua. Hari ini saya ada di sini untuk juga berusaha menyebarkan cinta kasih semacam itu. Ada banyak cinta kasih yang sudah saya peroleh dari SGT, ayahanda saya, dan kekasih hatinya, Ibunda saya. Itu adalah kekayaan saya. Dan tugas saya adalah membagikan kekayaan itu. Tak selalu berhasil memang tetapi jangan kalah karena kegagalan. Gagal adalah fakta tetapi bangkit kembali dan berjuang adalah juga fakta lainnya. Maka, Mengalirlah Cinta. Mengalirlah Kasih. Hanyutkan kesedihan dan kegundahan. Mengalirlah penuhi hati. Mengalirlah genangi jiwa. Tuhan Memberkati!!!

Senin, 13 Juli 2009

kami perlu 3 roti, pinjamkanlah

Dear Sahabat Blogger,
"If any of you has a friend, and goes to him in the middle of a the night and says, 'Lend me three loaves, my dear fellow,"
Agak berbeda dari posting-posting sebelumnya, saya memulainya kali ini dengan memberikan sebuah kutipan bagi sahabat budiman sekalian. Bagi saya, suasana yang ada di dalam kutipan itu terasa aneh. Amat aneh. Bayangkan saudaraku, di tengah malam ketika saya, anda dan kita semua sedang menikmati lelapnya tidur, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan, mungkin lebih dari 1 buah ketukan lagipula keras dan berdentam, ...tok tok tok....TOK TOK TOOOKKK.....terganggukah tidur anda? Hampir pasti ya. Tak percaya saya jika anda mengatakan "tidak". Belum hilang rasa dongkol tagal ketukan itu, saya jamin anda akan semakin kesal mendengar maksud ketukan itu. Betapa tidak jika yang terdengar adalah..."pinjamkanlah 3 roti bagi saya"...alaaaaamaaaaakkkkkk....."roti kau bilang????" ... "lha guwa makannya lalu apa?" ..."3 lagi mintanya".... "enak ajaaaahhhh".....

Begitulah sahabat sekalian, tak jarang dalam hidup kita, ketika situasi sedang tidak mengenakkan, datang sebuah atau beberapa buah ketukan permintaan tolong....."pinjamkanlah roti"..... Marah to. Kesal to. Dongkol to....arrrggghhhh.....brrrrrrrr......tak tahu malu amat si lu.....tengah malam minjam...ahaaaaa....sayapun harus sampai menggunakan 2 alinea untuk menuliskan ketidak nyamanan situasi ketika permintaan tolong itu datang. Lihatlah acara reality show di stasiun TV swasta kita, yaitu acara "minta tolong".....betapa kurang sukannya orang-orang itu yang di tengah jalan, sedang berjualan, sedang panas-panasan menunggu kendaraan, sedang pusing mikirin isteri sakit tetapi kok ada yang minta tolong......wwwwwwrrrhhhh.....tak tahu malu si peminta tolong itu.......sssttttttt...cukup di sini saja dahulu kegeraman saya untuk situasi yang tidak nyaman itu. Tetapi ijinkan saya mengajukan 2 pertanyaan ini:
  1. Siapakah kita yang tidak pernah menerima permintaan tolong dalam situasi "tengah malam"?
  2. Siapakah kita yang tidak pernah meminta tolong?
Pemilu Presiden baru saja lewat. Hasil perhitungan cepat menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memilih untuk "melanjutkan" hidup berbangsa dan bernegara di dalam perahu NKRI yang dinakhodai leh SBY-Boediono. Dengan mengabaikan barang sedikit tentang perasaan suka-tidak suka, kerumitan kerja KPU yang tak beres-beres, protes-protes dari psangan yang kalah, maka tak ada pilihan lain bagi kita, temasuk saya, selain mengucapkan "selamat terpilih" bagi SBY-Berboedi. Silakan merancang cara terbaik untuk mengemudikan perahu NKRI milik kita bersama dalam mengarungi ganasnya perikehidupan berbangsa dan bernegara sampai 5 tahun ke depan. Sekali lagi selamat. Tetapi untuk anda berdua tolong dengarkan kami, yaitu rahayat jelata di negeri ribuan pulau ini, kendati hari masih gelap dan belum lagi subuh, pinjamkan kepada kami 3 buah roti. Roti-roti apakah saja itu?

Kami perlu 3 roti seperti yang pernah dibuat oleh Aristoteles 2400 tahun yang lalu. Roti-roti itu adalah roti kenikmatan, roti politik dan roti filsafat. Apa pula itu? Begini.

Menyambung tulisan saya kali lalu tentang tujuan hidup, Aristoteles mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengejar kebahagiaan. Saya setuju. Kawan-kawan juga tampak setuju, Tetapi masalahnya adalah hidup macam apa? Sikap hidup macam mana? Aristoteles mengajukan 3 perkara, yaitu mengejar kenikmatan, berpolitik dan berfilsafat. Menerangkan maksudnya yang pertama, Aristoteles mengingatkan bahwa jangan terjebak kepada asal mengejar kenikmatan dan menjauhi rasa sakit semata karena jika demikian harafiah anda memaham maka hidup demikian adalah cara hidup seekor kambing. Cara hidup binatang. Kambing hanya tahu berkelana, makan, minum, buang air, mengembik, kawin, tidur, bangun dan begitulah seterusnya. Hanya itu. Cuma itu. Betapa memalukannya. Oleh karena itu, yang seharusnya dicari adalah hidup yang berasa nikmat karena berbuat baik dan berasa sakit ketika berbuat kejahatan. Itulah roti Aristoteles yang pertama. Selanjutnya, supaya anda dapat disebut berbahagia maka berpolitiklah anda, yaitu kejarlah kebaikan secara bersama-sama. Maka, anda memerlukan kerja untuk bernegosiasi, bersepakat, dan bersepaham. Bekerjalah dan bersahabatlah dengan hidup demi kebaikan. Itulah roti kedua warisan Arstoteles. Dan, roti ketiga Aristoteles adalah berfilsafatlah karena dengan itu anda akan terus menerus mengembangkan diri supaya semakin hari semakin bijaksana. Anda gemar mencari kebaikan, anda rajin mengembangkan kebaikan dan ahaaa ... andapun akan menjadi tauladan. Itulah roti merek Aristoteles, yaitu kebaikan, persahabatan dan kasih sayang. Maka, wahai SBY-Boediono berikanlah, eh pinjamkanlah kami 3 roti itu. Punyakah kalian?

Baiklah jikalau roti-roti Aristoteles itu tidak anda punyai maka punyakah anda 3 roti lainnya? Roti apakah itu? Ini: roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Apa pula ini?

Seorang Teolog besar, sebut saja sebagai mister Paul dari Tarsus, pernah mengatakan bahwa ada 3 roti paling penting bagi manusia, yaitu roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Tetapi ingatlah, katanya, jika anda punya 1 saja dari antara ketiganya maka anda akan berbahagia karena roti yang 1 itu adalah yang terbesar, ternikmat, tergurih dan paling bergizi, yaitu roti cinta kasih. Roti kepercayaan adalah bagaimana saya dapat mengandalkan seseorang guna menolong saya ketika saya memerlukan pertolongan. Roti keyakinan adalah bagaimana saya dapat begitu optimis dalam harapan saya bahwa anda yang saya andalkan itu betul-betul dapat menolong saya ketika saya membutuhkannya. Akhirnya adalah roti cinta kasih, yaitu bahwa percaya dan berharap adalah satu perkara tetapi dapatkah anda yang saya percayai dan saya harapkan itu mau bertindak karena anda mencinta saya. Jangan-jangan bagi anda saya hanyalah sekedar angka, yaitu 60% rakyat yang memilih anda sebagai pemimpin saya. Lebih celaka lagi jika bagi anda saya adalah orang yang berada di luar 60% itu. Jangan-jangan bagi anda saya cuma 1 di antara 230 juta orang Indonesia. Atau malah, bagi anda, saya hanya sekedar angka 1. Tak lebih dan tak kurang yang kehadirannya dapat dianggap nol (0). Tak ada apa-apanya. Jika demikian maka tak ada gunanya sama sekali saya punya dua roti, yaitu kepercayaan dan harapan karena roti ketiga, yaitu cinta kasih dari anda,tak saya miliki. Tanpa punya cinta kasih maka sama artinya dengan tidak punya apa-apa. Percaya adalah kepercayaan yang hampa. Harapan adalah harapan yang kosong. Wahai Bung SBY-Boediono, punyakah anda ketiga roti itu? Jika ada, tolong berikanlah, eh pinjamkanlah, kepada saya. Saya sangat membutuhkannya sekarang.

Begitulah sahabat blogger terkasih. Roti-roti yang saya perlukan dalam hidup saya. Mungkinkah anda juga memerlukan roti-roti itu? Ya pasti. Paling kurang begitulah menurut Aristoteles dan Paul Van Tarsus karena roti-roti itu adalah roti bagi jiwa. Roti bagi hidup. Roti bagi semangat. Roti bagi badan. Bisakah badan anda berasa sehat tanpa kasih sayang? Jika jawaban anda adalah "tidak" maka ijinkan saya kasi tahu ya...itulah sebabnya kita semua memerlukan roti-roti itu...itulah sebabnya, saking butuhnya orang-orang akan roti-roti itu maka kendati "di tengah malam-pun" pintu kita akan berbunyi diketuk berulang-ulang dan terdengar suara meratap...pinjamkan 3 roti Bung.... 3 roti saja Soezs...

Maka, sekali lagi. Adakah roti-roti itu pada SBY-Berboedi? Adakah roti-roti itu pada anda semua wahai sahabat blogger terkasih? Apa? Anda semuanya juga, sama seperti saya, sedang berburu roti yang sama?.... walaaaaahhhhh....ya sudah saya tahu kemana saya, dan sahabat saya semua di blog ini harus mencarinya, yaitu kepada sumbernya. Siapa DIA? Sang Khalik.
Ya, Khalik-ku terkasih, di tengah malam pekat ini, sudikah meminjamkan 3 ketul roti milik-MU kepada kami?
Sambil menunggu jawaban Sang Khalik, yang kadang tampak diam bak Megawati, maka mari kita menghibur diri dengan sebuah lagu yang dibikin oleh Iwan Fals yang di masa ORBA pernah meminta roti kepada penguasa, yaitu roti "pesawat tempur". Bagaimana rasanya? Asiiiiiiiiiiik toooooooooooo uuueenak tooooooooo haaaaaaa haaaaaaaaaaaa haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 05 Juli 2009

inilah calon presiden pilihan saya (posting iseng - ih seneng)

Dear sahabat blogger,

Masa edar posting lama hampir habis. Saya sedang menyiapkan sebuah posting baru tetapi masih belum "layak tayang" tagal masih ada yang harus diperiksa kembali. Tetapi keinginan untuk membuat posting baru amatlah kuat....sooo....so what giiicyyyuuu loohhh ...... hhmmhhhhhh .... Naaaaahhhh, ada jalan, begini:

Masa kampanye pilpres sudah selesai. Ke-tiga pasangan Capres/Cawapres sudah unjuk gigi, unjuk kebolehan, termasuk unjuk janji dan unjuk bohong (walaaahh....supaya konsisten dengan posting lama saya saya ganti saja menjadi...), .... unjuk kompetensi lupa-lupa ingat...lupa kelakuan diri sendiri tetapi ingat betul kesalahan orang lain....wwwrrrrrrrr.......capeeeek deh....maka, jujur saja: saya bosan. Betapa tidak, Mega-Pro (sebenarnya saya menyukai pasangan ini tapi...) agak membosankan. SBY-Berboedi paling suka ja'im tapi mamma miaaaa,... justru paling gemar "mengolok-olok orang lain. SBY pernah mengaku dikeroyok padahal entah apa namanya jumlah koalisi pro SBY yang amat banyak itu ketimbang lawan-lawannya. Lebih tidak nyaman lagi bagi saya adalah ketika dalam debat terakhir SBY terlihat "cuci tangan " dihadapa isu iklan "pilpres 1 putaran". Kasiha Denny JA karena tidak "diakui" oleh SBY. "Dia bukan bagian dari tim kampanye saya", begitu kata SBY. JK-Win, sebenarnya paling atraktif, Lucu dan menggemaskan. Tapi ya itu loh....lupa-lupa ingatnya amat kuat...ingat kesalahan SBY lupa bahwa dia juga bagian dari pemerintahan SBY.......Kesimpulannya? Saya masih harus menunggu hari-hari terakhir menjelang d-day, 08 Juli 2009....itupun jika pemilu jadi dilaksanakan 8 Juli karena...konon...Mega-Pro dan JK-Win masih mempersoalkan DPT (daftar pemilih terkacau) yang tetap amburadul. Kata berita di www.tempo interaktif.com "Dikhawatirkan 30 Juta Orang Tak Bisa Memilih" ..... bujuuuu buneeenggg....mamma tana yaaaeeeeeee.....

Jikalau berita itu benar, mohon maaf, dengan keyakinan bahwa pemilu adalah wadah ekspresi kedulatan rakyat dan ketika partisipasi rakyat dicedarai maka, bagis saya, pilpres 2009 adalah sebuah "perselingkuhan". Perbuatan serong yang merampas kedaulatan rakyat. Kata pemerintah...waaah, itu urusan KPU. Kata KPU...walaaaahhh....DPT berasal dari Mendagri. Siapa salah siapa benar? Hanya Tuhan yang tahu. Tetapi saya masih berbaik sangka. Sebelum berita itu terbukti benar maka masih ada 1-2 hari ke-depan bagi saya untuk memutuskan ikut tidaknya dalam proses pilpres 2009. But, time is running out. Bagaimana jika masalah itu kembali tidak berujung pangkal atau pangkalnya dianggap tiada lalu ujungnya dipaksa juga untuk ditegakan...sebelum diduga macam-macam, maksud saya adalah: ...akar masalah DPT diabaikan lalu tanggal 8 Juli 2009 pemilu berjalan bagai business as usual. Benakah? Ya, mbuh. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu. Jikalau benar skenario buruk itu yang terjadi maka mohon dimaafkan karena saya terpaksa memilih capres-capres lain. Dan inilah mereka:

1. Bob Dylan
2. Iwan Fals
3. Mick Jagger dan the Rolling Stones-nya

haaaaaaaaaa??????? apa-apaan ini???? ... ya begitulah keinginan saya... ini blog saya dan saya berdaulat di blog ini kan???? .... ha ha ha ha.....Maksud saya, dari pada pusing-pusing mikirin pilpres yang kurang bermutu ini lebih baik saya mendengar lagu-lagu ciamik dari 3 tokoh musik yang paling mendekati warna suasana hati saya. Apa saya ini? Sudah barang tentu untuk menguraikan siapa saya ada filsafatnya (dan akan saya postingkan nanti) tetapi mungkin di balik semua "kedogolan" saya, maka saya sebenarnya adalah "orang dengan semangat anti kemapanan yang amat kuat". Betulkah itu adalah saya seluruhnya? TIDAK JUGA karena sesungguhnya saya adalah manusia paradoks dan oleh karena itu....uuuupsssss stop sampai di sini saja dahulu karena saya tidak ingin banyak bacot tentang perkara ini...lain kali saja.....

Sekarang, back to the laptop, mengapa 3 manusia di atas saya pilih sebagai caprem ...eh ini bukan salah ketik...CAPREM (calon presiden musik...wkwkwkwkwk....).

Pertama, semua ketiganya punya semangat anti kemapanan yang amat kuat. Bagi mereka, hidup bukanlah hal statis dan establish. Hidup harus terus bergerak dan berubah. Jagger dan The Rolling Stones adalah pelopor generasi bunga yang menghantam kemapanan yang dibawa oleh the Beatles. Jika the Betales tampil rapih maka Jagger dkk. urakan. Mereka menjadi pioner generasi hipies dalam dunia musik. Jangan salah, idea yang dibawa oleh flower generation bukan hanya melanda kaum pemusik tetapi juga merasuki hampir semua budaya mapan di dunia. Lalu bagaimana Bob Dylan? Robert Zimmerman, nama asli Bob Dylan, sejatinya adalah pengikuti The Rolling Stones tetapi spesialisasinya lain. Bagi Bob Dylan, bermusik adalah alat yang digunakan sebagai media penyampai aspirasi politik dari young flower generation yang menentang ketidakberesan politik negara. Bob Dylan berani, amat berani, mengkritik negaranya sendiri USA dalam urusan Perang Vietnam yang memang tak jelas moralitasnya itu. Musik protes semacam ini menjaid trend besar di akhir 1960-an dan mereka berhasil. Nixon memutuskan berhenti berperang di Vietnam. Lalu, bagaimana Iwan Fals? Tak diragukan lagi. Kota Bandiung yang amat Stones Mania di tahun 1970-an rasanya ikut membentuk ide-idenya bemusik. Lalu, bukan cuma itu, menuut pengakuannya sendiri di tahun 1980-an, Bob Dylan menjadi inspirasinya. Keberanian Iwan tidak main-main, ketika semua pemusik, dan bahkan kebanyakan masyarakat tidur tiarap di hadapan pemerintah ORBA yang anti demokrasi itu, Iwan Fals berteriak keras.....BONGKAR....dan dia dimusuhi pemerintah ORBA serta kaki tangannya. Lalu, saya ingat betul dalam salah satu wawancara di TV bersama seorang tokoh pergerakan mahasiswa di tahun 1998 yang mengkui bahwa lagu-lagu Iwan Fals menjadi salah satu sumber semangat bagi perjuangan mereka. Dan, mereka berhasil. Ya, mereka adalah generasi penikmat Iwan Falz yang tegar melawan ketidakadilan. Iwan Fals bukan bertipe penyanyi oportunis bayaran yang dengan mudah mendendangkan lagus setipe jingle indomie-SBY. Mental Iwan bukan mental lunak sepert itu.

Kedua, selain beridealisme anti kemapanan (...sama seperti saya ehemmm...), adalah persistensi mereka dalam bermusik. Caprem pilihan saya adalah orang yang terus berkarya bertahun-tahun tak ada hentinya. Elvis berjaya antara 1957 - 1977 setelah itu frustrasi dan mati. Jacko berjaya antara 1968 - 1990-an. Sepuluh tahun terakhir sudah tidak ada lagi karyanya yang gemilang. Hidupnya digerogoti skandal skandal. Lalu, frustrasi dan mati. Freddy Mercury dimana? Bercinta overdosis membuat dia meregang nyawa tagal AIDS. Nah, tiga caprem saya itu, memang tidak bebas dari perkara kontroversial, tetapi lihatlah: Jagger dkk, berkarya sejak 1962 - hari ini. The Rolling Stones masih terus merekam dan menguasai panggung konser sebagai group dengan bayaran termahal. Penonton konsernya di Brazil yang berjumlah 2.5 juta orang di tahun 2007 adalah sebuah rekor dunia yang belum terpecahkan. Album terakhir Bob Dylan dengan mudah menempati anak tangga # 1 di chart lagu dan album, baik di Amerika maupun di Inggris padahal dia sudah berkarya sejak tahun 1964. Iwan Fals masih amat disegani di Indonesia dan masih terus memproduksi lagu-lagu hits yang baru kendati dengan tema yang lebih soft. Berkali-kali diajak terlibat dalam politik praktis tetapi Iwan menolak. Komitmentnya hanya untuk bermusik. Iwan pantas dihormati atas sikapnya itu.

Ketiga, jika diperhatikan amat sangat, suara ketiga caprem saya tersebut sesungguhnya tidaklah merdu-merdu amat. Bahkan menurut saya, Bob Dylan tidak sedang bernyanyi melainkan menggerutu. Iwan Fals lebih sering kedengaran sedang berteriak dan bukannya bernyanyi. Suara Mick Jagger yang melayang ringan itu sebenarnya terdengar seperti sekedar aliran udara yang didesak keluar dari tenggorok lalu melintasi lidah panjangnya dan akhirnya tersebar kemana-mana melalui bibir super ndower-nya itu. Nggak merdu.

Lalu, mengapa 3 variabel itu, yaitu anti kemapanan, persistensi bermusik dan suara yang biasa-biasa menjadi tolok ukur? Ada jawaban yang amat filosofis tetapi mohon maaf, saya simpan saja dahulu. Mudahnya begini: tak pernah mau diam adalah wujud manusia yang harus selalu berbuat. Bekerja dan membuat perubahan. Persistensi adalah hal yang bertalian dengan konsistensi dan komitmen. Akhirnya, suara yang biasa-biasa menggambarkan bahwa sesungguhnya kita adalah manusia biasa. Manusia fana yang mudah keliru. Manusia rata-rata tetapi adalah Rahmat-NYA maka kita diberkati Tuhan dengan talenta. Sukuri lah talenta dari Tuhan (bandingkan dengan MJ yang "menolak berkulit hitam" - Quincy Jones). Bekerja secara konsisten guna mewujudkannyatakan rasa sukur kita. Sisanya adalah "C'est La Vie". God Will Bless Us

Mari bantu saya menikmati musik-musik anti kemapanan dan persisten dari 3 caprem pilhan saya.


Please
listen and have enjoy, my friends


Tabe Tuan Tabe Puan