Tampilkan postingan dengan label renungan kebangsaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan kebangsaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

from savu with love: to indonesia

Dear Sahabat Blogger,

Agustus datang kembali dan itu berarti, bagi orang Indonesia, adalah bulannya Hari Kemerdekaan Republik Indonesia terkasih. Kendati banyak diperbincangkan secara kurang baik (kerajaan korupsi-lah, negara gagal-lah, negara-nya para cicak dan buaya-lah, negaranya para preman ber-ayat-lah serta masih banyak sebutan sinis lainnya) tapi toh di negara inilah saya dilahirkan. Sampai hari ini masih menjadi warga negara yang sah - dan akan terus begitu, dan di sinilah saya akan menua dan lalu menghilang. Mau kemana? Mau bagaimana lagi? Inilah negara saya (dan anda juga). sudah garis tangan. So, terima saja dengan penuh syukur. Karena itu pada tempat pertama ini saya ingin mengucapkan DIRGAHAYU INDONESIA. JAYALAH KAMU SELAMANYA. TUHAN MEMBERKATI. Tetapi bagaimana memberikan makna kepada Hari Raya nasional ini supaya dia tidak berlalu begitu saja tanpa kesan? Ijinkanlah saya untuk menceriterakan Indonesia dari perspektif negeri liliput di bagian selatan Indonesia, di antara samudera raya Pasifik dan Hindia, tempat nenek moyang dari garis ayah saya berasal: Sabu.

Negeri Sabu, biar kecil, tetapi adalah bagian sah dari NKRI. Sabu adalah salah satu kabupaten di propinsi NTT. Ada apa dengan suku bangsa ini sehingga tentang Indonesia perlu diberikan perspektif Sabu? Apa hebatnya? Menurut saya tidak ada yang terlalu hebat. Biasa saja. Apalagi ukuran pulaunya juga tergolong kecil saja. Lalu apa? Ini jawaban saya: Indonesia hari ini tidak lengkap jika 1 saja pulau di antara ratusan ribu buah pulaunya hilang. Dengan perkataan lain, tanpa Sabu maka Indonesia yang ada bukanlah Indonesia yang seperti hari ini. Titik. Anda setuju atau tidak, saya memaksa untuk setuju karena aturan silogismenya memang sudah seperti itu. Lha, apa itu silogisme? Gak urusan, pokoknya saya sudah bilang begitu ya begitulah .... ha ha ha ha.....Lalu, apa prespektif Sabu yang saya sebut-sebutkan tadi yang dapat digunakan untuk meneropong Indonesia hari ini? Pada bagian pertama ini adalah yang berkaitan dengan asal-usul Orang Sabu.

Dari mana asal-usul orang Sabu? Saya mengutuip dari tulisan Riwu Kaho yang lebih senior dari saya, yaitu Robert Riwu Kaho (almarhum ayahanda) dalam bukunya "Orang sabu dan Budayanya" (2005). Pada pengetahuan tradisi yang umum dipercaya di Sabu, nenek moyang Oran Sabu berasal dari suatu negeri di bagian barat dari Pulau Sabu. Entah dimana pastinya karena tabu bagi orang Sabu untuk menyebutkan daerah asal nenek moyang mereka. Namun demikian, jika merujuk kepada kepercayaan bahwa leluhur I orang sabu adalah seseorang yang bernama Kika Ga yang berasal dari ufuk barat Pulau Sabu, yaitu negeri yang bernama Jawa Ae (India Selatan) maka asal usul dimaksud lebih bisa diperkirakan. Konon, Kika Ga berasal dari wilayah Hurat, Kerajaan Gujarat, India bagian selatan. Jika kita membaca di peta India bagian selatan maka kita akan bertemu dengan kota Surat yang terletak di sebelah utara kota Bombay di teluk Cambay. Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa identifikasi ini 100% pasti begitu tetapi ijinkan saya mengajukan 1 fakta lain yang diungkapkan juga oleh Ayahanda Robert.

Di katakan oleh para tetua di Pulau Sabu, yang adalah folklore turun temurun, bahwa ciri-ciri fisik orang Sabu yang mula-mula adalah ba'bae kae, meddi kuri, keporo rukettu, bella dillu, bella ka'bajela, nga bella ta'be yang artinya berukuran tubuh pendek, berkulit hitam, rambut keriting, telinga lebar, telapak kaki lebar dan juga berdahi lebar. Jika benar demikian maka terdapat paradoks di antara kedua pendapat di atas. Ciri-ciri fisik yang disebut belakangan ini bukan merupakan gambaran orang-orang yang berasal dari India yang umumnya tinggi besar melainkan merupakan gambaran orang dari manusia awal Indonesia seperti Meganthropus atau Pithecanthropus atau Homo sapiens sapiens (manusia moderen). Apakah kelompok ini berasal dari Afrika selatan (out of Africa) atau asli Indonesia (orang Wajak, Trinil dan Solo) atau bahkan asli manusia purba di sabu kita tidak tahu pasti tetapi jika benar bahwa tetua di Sabu memastikan bahwa orang awal di Sabu berciri fisik seperti di atas lalu 2 opsi tentang orang Sabu asli adalah apakah manusia purba ataukah pendatang Homo sapiens sapiens yang datang dari daerah lain maka mereka pasti tidak sekelompok dengan Kika Ga yang beriasal dari India. Apapun juga, dalam ceritera para tetua di Sabu, penduduk asli Pulau Sabu ini menghilang ketika datang orang-orang melayu yang berasal dari Indochina terus ke Malaka dan terus menelusuri Jawa, Bali, NTB, Ende, Flores Timur dan Timor.

Pergerakan migrasi orang-orang Melayu yang berasal dari Indochina memasuki daerah-daerah di Nusantara (Olson, 1996 dan Dahler, 2000) sebenarnya merupakan gambaran pergerakan gelombang II migrasi bangsa-bangsa manusia yang bersebaran di Nusantara lalu tiba di Pulau Sabu. Ditulis oleh Robert "Ayahanda" Riwu Kaho bahwa sekitar 500 tahun SM datanglah orang-orang yang berasal dari daerah Yunan dan wilayah Indochina, yang berhenti sementara di daerah Malaka dengan membawa Budaya Dongson yang mendominasi Indonesia sampai hari ini. Kelmpok ini sangat dominan di Nusantara sekarang yang berasal dari ras Mongoloid. Donselaar (1872) dan beberapa penulis yang jauh lebih ke belakang seperti Bere Talo yang mengutip Lubis menguraikan bahwa sekelompok Melayu (Hindia Muka) berlayar dari negeri Cina putih Malaka (Sina Mutin Malaka) mengarungi laut Jawa menyinggahi P. Ninobe, Kusu, Kae, Api, LoE dan Larantuka Baboe. Dari persinggahan terakhir ini sebagian kelompok terus berlayar sampai ke Pulau Timor di satu tempat yang bernama Halileon Lumamar di muara Sungai Loes, Timor Timur. Sebagian tinggal dan mengisi Pulau Timor ke arah Barat dan sebagian terus berlayar menuju Rote dan menetap di Thie. Dari Thie, sebagian lagi berlayar terus dan tiba di Pulau Sabu. Kisah berpisahnya orang-orang Timor, Thie dan Sabu di Pulau Timor bagian Timur ini menghasilkan kisah legendaris tentang Belu Mau, Thie Mau dan Sabu Mau yang masih diyakin hingga hari ini. Orang-orang Melayu ini memiliki keterampuilan bertani yang memadai dan tanda-tanda ini begitu kuat melekat di orang-oran Sabu sampai hari ini. Dipercaya bahwa sebagain terbesar orang Sabu sekarang adalah keturunan mereka yang berasal dari gelombang migrasi ke II. Jika ini benar demikian maka kelompok yang berperawakan sedang ini (kebanyak orang Sabu berperawakan seperti ini) pastilah bukan sekelompok dengan Kika Ga yang, sekali lagi konon, berasal dari India.

Lalu dari mana datangnya Kika Ga? Seperti yang telah dikatakan tadi bahwa Kika Ga diyakini berasal dari Gujarat, India selatan. Oleh karena itu, kemungkinan besar Kika Ga dan kelompoknya (sebab hampir tidak mungkin terjadi pelayaran seorang diri dalam persebaran manusia) berasal dari gelombang migrasui ke III yang memasuki Nusantara dan tiba di Sabu. Berawal dari pertikaian antar kerajaan di India antara abad 2 dan 3 Masehi amaka banyak kelompok di bagian Selatan yang ditaklukan oleh kerajaan besar di India Utara terpaksa berlayar meninggalakan negeri mereka menuju tempat baru. Orang-orang Keling dengan perawakan yang besar dan berhidung mancung ini dalam pelayarannya singgah diberbagai tempat di Nusantara dan salah satunya tiba dan menetap di Sabu. Akan tetapi perlu diingat bahwa kedatanagn mereka tidaklah tiba di pulau yang kosong melainkan sudah berpenduduk. Dapat dibayangkan bahwa kemungkinan besar penduduk Sabu ketika itu adalah keturunan dari mereka yang datang pada gelombang migrasi II (siapa tahu bercampur pula dengan gelombang migrasi I atau orang asli Sabu - Sabunensis). Lalu mengapa kendati para tetua Sabu mengakui adanya beberapa gelombang migrasi orang-orang ke Sabu tetapi yang diakui sebagai leluhur orang Sabu adalah Kika Ga yang berasal dari gelombang ke III migrasi?

Dalam hipotesis saya, pengakuan tentang Kika Ga sebagai leluhur orang Sabu terutama disebabkan faktor bahwa dia dan kelompoknyalah yang pada akhirnya berkuasa atas teritori Sabu. Saya menduga demikian karena orang-orang India Selatan sudah memiliki budaya kerajaan, yaitu entitas yang tersusun atas kekuasaan. Pada lapisan paling atas struktur sosial kerajaan adalah "raja". Seperti biasa, pemenang adalah penulis sejarah atau sejarah ditentukan oleh pemenang. Dugaan ini semakin kuat mengingat latar belakang orang-orang India selatan itu keluar dari negeri mereka lalu tiba di Sabu, yaitu peperangan. Setibanya di Sabu, ada kemungkinan mereka menaklukan para penduduk Sabu yang datang dari gelombang migrasi sebelumnya, entah lewat perang atau negosiasi. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa para pendatang di sabu yang berasal daro gelombang migrasi II umumnya berbudaya petani dan hidup tanpa struktur sosial yang tersusun atas derajat kekuasaaan teritori kecuali, mungkin, pemukiman dan ladang. Di kalangan tetua di Sabu sering beredar ceritera turun temurun tentang watak pemberani leluhur mereka yang merupakan ciri khas para panglima perang atau paling kurang serdadu tentara. Hal ini merupakan verifikasi terhadap dugaan bahwa paling kurang penduduk yang berasal dari migrasi II rela dipimpin oleh mereka yang lebih kuat dan terstruktur yang berasal dari India Selatan. Sampai hari ini mitos tentang elite pula Sabu yang selalu dikaitkan dengan daya kesaktian dan kedigdayaan bukan merupakan hal aneh sebagai simbol kepemimpinan dan kekuasaan. Saya tidak bisa memastikan bahwa hipotesis saya ini benar tetapi demikianlah yang saya ajukan.

Sampai di sini, saya ingin menghentikan ceritera dan dugaan tentang kisah perjalanan berbagai-bagai gelombang para leluhur orang Sabu yang ada di Pulau Sabu. Saya ingin membuat perspektif dari kisah saya di atas. Terdapat paling kurang 3 pelajaran yang bisa saya petik dari kisah-kisah di atas, yaitu:
  1. Klaim sebagai orang asli dan tidak asli di Sabu dan juga di Nusantara sebenarnya sangat relatif. Karena itu, kesenangan melakukan klaim bahwa Sabu atau Indonesia adalah milik orang asli atau anak daerah setempat kurang patut. Kita semua adalah pendatang, minimal adalah pendatang yang "dikirim Tuhan dari Surga" lewat aneka rupa kemungkinan hukum biologis, sejarah dan lain sebagainya. Karena itu, aforisme bahwa Presiden harus orang asli atau Gubernur dan Bupati harus anak daerah adalah melawan sejarah. Jas merah kata Bung Karno sang proklamator NKRI.
  2. Namun demikian, kita harus maklum jika klaim-klaim seperti itu sangat mungkin terjadi manakala "realm"-nya adalah elit. Sudah dari sono-nya elite terbiasa "membajak" fakta. Maka, kendati menjengkelkan, kita terpaksa harus memahami klaim seperti yang dilakukan oleh mister Rhoma Irama tentang Gubenur DKI Jakarta. Tetapi harap dicatat bahwa memahami tidak identik dengan membenarkan tetapi belajar memahami adalah pelajarn kedua. Selanjutnya, pelajaran ke tiga yang saya petik adalah ini:
  3. Sebenarnya semua yang dikisahkan di atas adalah hipotesis di atas aneka ragam probabilita yang sebagian kebenarannya masih tersembunyi dan harus terus menerus dikaji sampai akhirnya mendekati kebenaran. Apa pelajaran ke tiga itu? belajar.
Singkatnya, Sabu dan Indonesia adalah milik kita semua, asli maupun tidak asli. Mayoritas ataupun minoritas. Indonesia adalah milik beragam-ragam kita semua yang adalah satu bangsa satu negara satu Ibu Pertiwi. Bhineka Tunggal Ika. Dalam sintesa hidup berkeragaman bersama sudah pasti akan ada timbul aneka problem. Mana ada hidup tanpa problema? Cara mengatasi problema bukan dengan bertengkar, berkelahi atau tawuran barbar melainkan belajar saling menerima. Filsafat manusia mengajarkan bahwa "I'm called to realized my self in the world, but for you". Saya berarti jika itu terkait anda. Filsafat Orang Sabu mengajarkan bahwa "ie tallo wewini do me mu'de pa dara jarru" yang berarti "jika banyak sahabatmu maka hidupmu pasti lebih mudah". Sahabat Indonesia, tentang apa semua ini? CINTA. Teruslah berlajar saling mengasihi agar hidup berkebangsaan makin baik, hari demi hari. DIRGAHAYU INDONESIA. MERDEKA.

Nyanyian TANAH MERDEKA -Leo Kristi


Tabe Tua Tabe Puan

Jumat, 01 Juni 2012

unhappiness di negeri pancasila

Dear Sahabat Blogger,

Sembari menyiapkan satu makalah untuk suatu pertemuan ilmiah saya membuka daftar HDI (human development index) tahun 2011 yang dirilis oleh UNDP pada tahun 2012. HDI adalah alat ukur untuk menilai derajat kesejahteraan suatu wilayah berdasarkan variabel pendapatan, pendidikan dan kesehatan. Cepat sekali mata saya tertuju pada negara-negara yang berada pada urutan 10 besar. Dan, seperti biasa, saya tak menemukan nama negara terkasih saya, NKRI, di dalam daftar urutan atas itu. Negara-negara yang berada pada urutan 10 besar adalah sebagai berikut:
  1. Norwegia, HDI 0.943
  2. Australia, HDI 0.929
  3. Belanda, HDI 0.910
  4. Amerika Serikat, HDI 0.910
  5. Selandia Baru, HDI 0.908
  6. Kanada, HDI 0.908
  7. Irlandia, HDI 0.908
  8. Lichtenstein, HDI 0.905
  9. Jerman, HDI 0.905
  10. Swedia, HDI 0.904
OK lah kalau begitu but, where's my beloved country position in that list? naik turun jari telunjuk saya mencari di daftar dan akhirnya ketemu juga....astagaaaaaaaa....ada di nomor urut ke 124 dengan HDI sebesar 0.617 yang setara dengan negara vanuatu, sebuah negeri liliput di Asia Pasific dengan angka HDI yang sama. Demi alasan harga diri saya mencoba mencari dimana posisi negeri tetangga terdekat yang satu lagi, karena Australia sudah ada di urutan atas, Singapura juga demikian, - ya anda benar, saya mencari posisi negara Timor Leste, ....naaaahhhhh...dia ada di posisi 147, tidak jauh-jauh amat dari Indonesia tetapi lumayanlah, Indonesia masih di atas.

Masih penasaran dengana daftar HDI, saya menelusuri daftar lain tentang negara-negara paling bahagia di dunia yang disusun oleh pakar ekonomi Jeffry Sachs dkk. (2012) dengan variabel pendidikan, kesehatan, pendapatan, tenaga kerja, harapan hidup dan jumlah jam lembur. Makin sedikit lembur, tetapi pekerjaan selesai, maka makin bahagia. Di daftar ini saya menemukan data 10 negara paling bahagia, yaitu:
  1. Denmark dengan indeks kepuasan (IK) 7.8
  2. Norwegia dengan IK 7.6
  3. Belanda, IK 7.5
  4. Swiss, IK 7.5
  5. Austria, K 7.5
  6. Finlandia, IK 7.4
  7. Australia, IK 7.4
  8. Kanada, IK 7,3
  9. Swedia, IK 7.3
  10. Irlandia, IK 7.2

lhhhoooooo....koq ga ada Indonesia di daftar itu? Saya segera coba mencari daftar lengkapnya di www.latimes.com dan ...hmmmmm....eurekaaaa, ini dia ....syyyuuuuuuttttttt.....nangkring di urutan 83.....kesal bercampur tersipu tapi agak lega karena posisi ini jauh di atas sang juru kunci, yaitu Togo yang berada di urutan 156. Lagi-lagi mencoba menghibur diri.

Setelah menaruh data-data di atas dalam makalah dan bahan presentasi yang sedang saya kerjakan, pikiran saya berhamburan kemana-mana. Salah satu hal yang akhirnya saya sadari adalah hari ini tepat 1 Juni. Hari lahirnya Pancasila. Mengapa tepat dihari besar rekipliek ini koq ya data yang saya dapat sangat mengganngu perasaan? Mengapa seolah-0lah Pancasila yang keren itu amat berjarak dengan fakta kehidupan sehari-hari di Indonesia. Bagaimana mungkin negara yang orang-orangnya sejak bangun bagi sudah basah kuyup disirami rohani-nya oleh kuliah-kuliah subuh di hampir semua stasiun televisi adalah negeri yang kurang bahagia? bagaimana bisa di negara yang para orang hebatnya sangat yakin akan kesucian negaranya lalu menolak kedatangan Lady Gaga berkonser di Indonesia nasibnya apes begini? Jangan-jangan kita memang negeri yang tidak suci seperti dugaan elite hebat tersebut? Entahlah. Saya cuma ingin merenungkan masalah ini mulai dari titik dimana Pancasila disebut sebagai filsafat bangsa dan negara. Konon, filsafat Pancasila ini digali dari puncak-puncak budaya adiluhung bangsa Indonesia. Benarkah Pancaasila itu filsafat?

Secara etimologis kata ”filsafat“ (Inggris - philosophy) berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang dimengerti sebagai “cinta kearifan”. “Philos” artinya cinta dan “sophia” artinya kearifan. Maka, filsafat adalah cinta kearifan, “wisdom” atau kebijaksanaan. Dalam terang defenisi ini maka pencarian orang Indonesia akan Tuhan yang esa, kemanusiaan, persatuan, bermusyawarah dan keadilan genap memenuhi defenisi filsafat. Ya, orang Indonesia mengidealkan dalam hidupnya mencari kearifan atau kebijaknsanaan. Mencari hikmat. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan ini maka saya mengutip Hegel yang menyatakan bahwa pada hakikatnya filsafatnya ialah suatu sintese pikiran yang lahir dari antitese pikiran. Dari pertentangan pikiran lahirlah paduan pendapat yang harmonis. Inilah yang disebut Hegel sebagai dialektika berpikir.

Kalimat pertama dan Mukadimah UUD Republik Indonesia 1945 berbunyi "bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu penjajahan harus dihapusakan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan". Perhatikanlah bahwa kalimat pertama dari pernyataan di atas adalah sintesa antara penjajahan dan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pada saat sintese menghilang akan lahir kemerdekaan.Hal inipun dengan amat jelas dikemukakan dalam Mukadimah Konstitusi R.I. 1950 itu yang berbunyi "maka dengan ini kami menyusun kemerdekaan kami itu, dalam suatu Piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan berdasarkan ajaran Pancasila". Dalam dokumen ini, pancasila merupakan cara untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan dan perdamaian dunia serta kemerdekaan. Kalimat ini memperlihatkan dengan jelas terang benderang frasa antitesa dalam dialektika bangsa Indonesia dalam bernegara. Terbukti sah bahwa memang Pancasila adalah filsafat bangsa Indonesia untuk hidup bahagia. Bahagiakah kita hari ini?

Data menunjukan bahwa bangsa-bangsa yang tidak punya pancasila malah hidupnya lebih bahagia ketimbang kita? Kita yang memiliki Pancasila malah kurang beruntung. Apa yang salah. Ada apa denganmu? Jangan-jangan dialektika kita hanyalah hasil olah pikir para founding fathers belaka dan tidak berakar secara nyata dalam memori kolektif kita? Jangan-jangan pancasila hanyalah wacana tanpa bentuk dan ketika ingin diberi bentuk malah terjadi pembelokan kemana-mana. Ada demokrasi terpimpin nan Pancasila ala penggali Pancasila itu sendiri, yaitu Bung Karno. Si Bung Besar. Ada demokrasi Pancasila ala Pak Harto. Bapak Pembangunan. Semua upaya ini, sayang-nya berakhir dalam tragedi. Lalu dimana letak masalahnya? Socrates sang filsuf besar Yunani itu mengatakan bahwa "jika kita mengetahui apa itu kebaikan maka kita harus mengerjakannya". Seorang Filsuf Agung, Yoshua Hamasia, mengatakan bahwa "isi doa-mu harus terlihat di dalam kerjamu". Terlihat sudah bahwa antara pikiran dan perkataan serta perbuatan bisa tidak sejalan. Belum tentu yang bisa dipikirkan akan berhasil dikerjakan. Nah, supaya pikiran baik dapat dikerjakan juga dengan baik, kita memerlukan 1 alat. Alat itu adalah pengetahuan empiris tentang fakta-fakta yang relevan lalu membuat prediksi berdasarkan pemahaman terhadap fakta tersebut (Ewing, 2010). Inilah yang disebut sebagai belajar, Belajar secara sistematis adalah proses dalam sistem ilmu pengetahuan. Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengerjakan pikiran baiknya. Orang yang cuma mampu omdo (omongan doang) adalah orang-orang cilaka nan murung. Maka, relasi antara indeks HDI dan derajat kebahagiaan bangsa dapat dipahami. Mengertilah kita bahwa dengan HDI yang rendah, pantaslah Indonesia kurang bahagia hidupnya. Bagaimana memahaminya secara gampang? Begini bro en sista....

Di Indonesia Raya ini, mulut kita bilang Tuhan Yang Maha Esa tetapi yang kita kerjakan adalah men-tuhankan materi, kekayaan, kemolekan, ketersohoran dan seterusnya. Di mulut kita bilang kemanusiaan tetapi hanya karena kita tidak setuju dengan ajaran Ahmadiyah, membunuhlah yang dilakukan. Di mulut kita bilang. Di mulut kita bilang persatuan Indonesia, yang kita lakukan adalah pemekaran daerah nyaris tanpa batas berbasis etnis, suku, dan kepentingan elit. Di mulut kita bilang demokrasi musyawarah yang kita buat adalah meneriakan kata "bangsat" di dalam sidang DPR kepada lawan politik. Di mulut kita bilang keadilan sosial bagi semua tetapi yang kita lakukan adalah bagi-bagi apel malang dan apel washington di antara orang separtai, satu korps, satu grup bermain golf dan seterusnya. Di mulut bilang filosofia tetapi kaki dan tangan kita mengerjakan kejahatan. Maka, mengkuti logika Yoshua Hamasia, haruslah kita duga: ada tipu di antara doa dan perbuatan kita. Maka sial sudah kita seumur-umur. Unhappiness. Tragedi 1948 terjadi, diulang di tahun 1965, diulang lagi di tahun malari 1973, terjadi lagi di tahun 1998, terjadi lagi ratusan dan mungkin ribuan kali perkelahian dan perbunuhan sesama anak bangsa karena beda agama, beda suku dan beda kepentingan. Kita tidak pernah belajar dari pengalaman empirik kita. Tak heran, sudah lebih 60 tahun kita merdeka tetapi perilaku kita tetap sama seperti pola pikir orang-orang yang satu jaman dengan Ken Arok. jauh sudah perjalanan kebangsaan kita tetapi tampaknya kita tidak kemana-mana. Kita seperti terbenam dalam lubang dan tak bisa (atau tak mau) keluar. TRAGIS. Kata orang tua "keledai tidak jatuh dalam lubang yang sama 2 kali". Kita jatuh ribuan kali dalam comberan yang sama. Maka, ketimbang keledai, kita ini lebih......(anda lanjutkan saja saudara ku sebangsa dan setanah air). HIDUP PANCASILA. MERDEKA!!!!!

Bee Gees - tragedy

Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 02 Oktober 2011

tentang pancasila (1 x lagi)

Dear Sahabat Blogger,

Berikut ini kutipan berita dari HU Timor Express, Kupang (merupakan anak perusahaan Jawa Pos Grup) yang terbit pada hari Minggu tanggal 02 Oktober 2011.

Sehari jelang penutupan Sidang Sinode GMIT XXXII suasana sidang cukup memanas begitu memasuki agenda pemilihan Kertua Majelis Sinode (MS) GMIT. Lewat proses pemilihan yang cukup demokratis akhirnya Pendeta Robert Stevanus Litelnoni yang akrab disapa Bobby Litelnoni unggul atas dua calon Ketua Sinode GMIT lainnya, Pendeta Merry Kolimon dan Pendeta Mesakh Dethan. Pendeta Bobby meraup 155 suara, Pendeta Merry 97 suara dan Pendeta Mesakh Dethan 22 suara. Jumlah pemilih yang menyalurkan hak pilihnya sebanyak 274 pemilih, terdiri atas 261 dari jemaat-jemaat dan sisanya dari Majelis Sinode GMIT dan BPPPS. Selain ketua, untuk posisi wakil ketua, adalah pendeta Welmintje Kameli-Maleng, Sekretaris Pendeta Benyamin Naralulu, Wakil sekretaris Ince Ay-Touselak dan Bendahara Wem Nunuhitu. Sementara anggota-anggota adalah Bidang Pendidikan Ayub Titu Eki, Bidang Hukum Inche Sayuna, Bidang Ekonomi Sofia Malelak-de Haan, dan Bidang Politik Paul Liyanto.

Apa yang istimewa dari berita itu sehingga dijadikan sebagai pembuka posting? Sebenarnya tidak istimewa amat kecuali bahwa berita itu berkaitan dengan Sidang Sinode GMIT ke 32 yang diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Banyak agenda, ini dan itu, salah satunya tentang Rencana Induk Pengembangan (RIP) GMIT periode 2011 - 2020 dan Haluan Kebijakan Umum Pelayanan (HKUP) GMIT 2011 - 2015. Kedua dokumen ini adalah dokumen perencanaan, yaitu yang berjangka panjang (RIP) dan berjangka menengan (HKUP). Saya sebagai warga GMIT yang baik, terlibat sangat aktif pada perkara RIP dan HKUP tersebut. Saya adalah koordinator tim penulis draft kedua dokumen itu - harap maklum, koordinator artinya "jongos" paling besar. Jika untuk menulis naskah seperti itu pada urusan "sekuler" saya dibayar ber-jut-jut maka tidak untuk RIP dan HKUP GMIT. Itulah perpuluhan saya untuk GMIT. Semua demi Tuhan dan Jemaat-NYA. Oh, ya tentang dokumen perencanaan ini tidak banyak perdebatan. Pleno untuk pembahasannya cuma memerlukan waktu sekitar 30 menit. Saya mencatat reaksi seorang peserta sidang ..."dokumen yang berat dan bikin kepala sakit, karena itu tidak usah lama-lama dibahas, terima saja"....whussszzzz....itukah istimewanya berita dalam TIMEX di atas? TIDAK. Bukan itu melainkan ini.

Perhatian saya ada pada komposisi para petinggi GMIT yang terpilih. Ketua MS GMIT adalah seorang warga GMIT keturunan Tiongkok. Demikian juga untuk nama Inche Sayuna dan Paul Liyanto. GMIT adalah gereja yang tidak punya persoalan dalam urusan pembauran. Semua yang ada adalah milik Sang Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus. Tak perduli dari mana engkau berasal. Selanjutnya dalam susunan di atas terdapat 3 orang dari suku Rote (Messakh Dethan , Ince Ay-Touselak dan Sofian de Haan), 1 orang bersuku Timor (Ayub Titu Eki), 1 orang bersuku Sabu (Benyamin Naralulu), 1 orang bersuku Alor (Welimince Kameli - Maleng) dan 1 orang campuran Sabu + Rote (Wem Nunuhitu). Komposisi di atas mewakili kelompok etnolingusitik yang berbeda yang merupakan mayoritas anggota GMIT. Mantap dan asik. Indonesia banget. Indonesia? Ya iya memang begitu. Agama, dalam hal GMIT adalah Kristen Protestan, terbukti mampu menyatukan keberagaman menjadi 1. Bhineka Tunggal Ika. Jayalah Indonesia. Jayalah Pancasila. Benar begitu? Jangan terburu-buru. Perhatikan yang berikut ini.

Di Kupang, pada November 1998 pernah pecah kerusuhan yang bernuansa agama dan etnik sealigus. Agak aneh ketika itu karena kendati mereka yang menjadi sasaran amarah massa memang adalah kelompok beragama yang berbeda dari mayoritas penduduk Kupang tetapi yang tergolong kaum pendatang yang berbeda etnik. Hampir tidak serangan massa kepada mereka yang beragama berbeda tetapi dari kelompok etnik yang sama. Kesannya ketika itu adalah anti Bugis dan Jawa. Di Makassar nyaris saban bulan kita membaca dan melihat siaran televisi bahwa mahasiswanya gemar berpukul-pukulan hanya karena beda fakultas padahal dalam suku yang kemungkinan besr sama dan agama yang juga kemungkinan besar sama. Di Papua, saban tahun kita mendengar dan melihat orang dari suku yang berbeda pada agama yang sama saling berperang sedemikian rupa sehingga baru akan berhenti jika jumlah yang mati berimbang antar 2 kubu. Selesai berperang, batu dibakar untuk perdamaian. Dua atau tiga tahun kemuduan ehh.....berperang kembali. Bakar batu lagi. Kasihan si batu, dibakar-bakar. Di Jakarta, orang yang tinggal bersebelahan kampung pada kelompok yang mungkin berlatar belakang etnik yang sama atau berbeda tetapi pada agama yang kemungkinan besar bisa tawuran secara berkala bertahun-tahun lamanya. Di Jakarta orang pada kelompok etnik betawi yang sama dan agama yang hampir pasti sama bisa saling tawuran hanya gara-gara berebutan "lahan garapan". Di Ambon, kerusuhan antar orang-orang dari kelompok agama yang berbeda kumat kembali dan nyaris membesar. Di Cikeusik, perbedaan keyakinan menyebabkan orang bisa membunuh sesamanya pada kelompok etnik yang sama. Di Bogor, walikotanya sama sekali tidak takut akan pelanggaran hukum dan HAM karena dia berbeda keyakinan dengan orang-orang yang bergereja di GKI Yasmin. Di Solo, sebuah gereja kesusupan orang yang lalu meledakan bom bunuh diri dimana orang ini jelas-jelas mengusung faham radikal dari agama yang berbeda dari jemaat yang beribadah di GBIS, Solo. ... silakan perpanjang daftar yang saya buat....kita akan tercengang dan tidak bisa mengerti bahwa di negeri yang berpancasila ini semua tindakan fasis seperti itu bisa terjadi.

Maka, maaf saja, Bung Karno dan para founding fathers republik ini masih tidak bisa tenteram di negeri atas angin karena Pancasila dan aforisme Bhineka Tunggal Ika-nya itu dikuyo-kuyo nyaris setiap seolah-olah negara tidak ada. Bahkan ketika sekelompok orang yang menamakan gerakan tertentu rajin melakukan pawai massal sambil menerikan slogan "ganti pancasila dengan prinsip negara khalafah", negara cuma bisa diam. Ketika sekelompok orang rajin melakukan sweeping dan kekersan atas nama syariah tertentu, negara juga diam tak banyak ambil tindakan. Presiden SBY mengancam membubarkan tetapi Kapolri dan Mendagri malah bertetangan dengan presidennya. Pancasila kelihatannya kurang sakti lagi belakangan ini. Mengapa demikian?

Saya menawarkan 3 faktor penyebab yang saling bertaut sebagai hipotesis: 1) materialisme dan materialistik telah menggurita di negara pancasila ini sehingga tak ada cukup ruang bernafas bagi perkara-perkara spiritualitas seperti pancasila. Kehormatan, keterkenalan, kekayaan dan kekuasaan yag bersifat money oriented telah menggerus semangat pancasila dari pikiran warga bangsa; 2) Demokrasi transaksional telah memberikan ruang yang besar bagi perilaku materialistik. Di mulut dan slogan para elit berteriak tentang idealisme karena nilai agama, nilai budaya dan demokrasi itu sendiri tetapi perilakunya adalah hedonis sejati. Mana ada partai yang bebas korupsi dewasa ini?; 3) Politik aliran simpang siur yang akhirnya menyimpang terlalu jauh dari mainstream jiwa politik pancasila yang diusung negara. Adalah wajar jika dalam dunia perpolitikan terdapat 3 aliran besar, yaitu politik garis kiri, politik garis tengah dan politik garis kanan. Tetapi dalam praktek sebenarnya semua aliran politik akan bergerak mendekat ke arah tengah sesuai dengan ideologi negara. Tetapi tidak di Indonesia, mereka yang mengaku kiri tiba-tiba berada di tengah sembari mencuri. Lihat saja tokoh-tokoh yang di awal reformasi mengaku kiri nyatanya sekarang bergabung ke pusat kekuasaan dan akhirnya mencuri. Lihat pula mereka yang katanya di kanan tetapi tiba-tiba bergabung bersama yang di tengah. Mencuri juga akhirnya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang di tengah? Sami mawon mencurinya. Lalu semua mereka itu, guna mencari muka ke konstituennya, pura-puralah menutup mata ketika tuntutan aneh-aneh dari konstituennya merebak di ruang publik. Inilah politik aliran simpang siur tidak keruan dan melemahkan negara. Elitnya lebih sibuk memikirkan koalisi strategis dan melupakan Pancasila. Saya melihat di televisi dengan amat sedih ketika baik masyarakat umum maupun para pejabat serta selebritas sampai berlepotan mulut ketika diminta untuk menghafalkan rumusan pancasila. Amburadul. Pathing kranthil. Tidak keruan. Kacau. Rotsooi segh. Overdomez....ha ha ha.....

Saya tiba-tiba kembali terkenang almahum Franky Sahilatua yang berpulang beberapa bulan yang lewat. Dia menuliskan sebuah lagu dengan judul "Pancasila Rumah Kita". Beberapa waktu yang lalu saya sudah menyertakan lagu ini dalam posting saya. Sekarang, tanpa ragu sedikitpun, saya mempostingnya kembali. Denagn begitu saya mengingatkan diri saya sendiri dan lalu juga kepada sahabat semua bahwa Pancasila masih amat perlu bagi kita di Indonesia. Pancasila adalah nilai dasar bagi Indonesia. Tanpa pancasila maka kita bukan lagi Indonesia. Percayalah Bung en Zoes.

Sekarang nikmatilah lagu "Pancasila Rumah Kita" karya Franky Sahilatua tetapi dinyanyikan oleh kelompok banyak orang dari Jakarta dan Jogjakarta (terima kasih banyak untuk malasbanget.com yag membuat video ini).

Pancasila Rumah Kita - Versi Kolosal #17an


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 07 Agustus 2011

1 gubug 1 tikar 1 periuk: INDONESIA MERDEKA (perjalanan imajiner bersama Bung Karno)

Saudaraku sebangsa dan setanah air,

Siang itu suhu udara Kota Kupang terasa panas. Amat sangat panas. Dan juga berangin. Maklum, cuaca bulan Agustus di daerah tropika kering seperti di NTT. Tanggal 17 Agustus 2011 tinggal beberapa hari lagi ke depan. Di simpang jalan para penjual bendera merah putih kecil mulai bersliweran ...."bendera ko om?"... "bendera ko tante?"..."beli 1 dapat dua bos". "Indonesia merdeka ni"......luar biasa, nasionalisme dan naluri saudagar bercampur baur jadi satu...luar biasa....dan saya beli satu bendera kecil itu, ....5000 rupiah .... dan huuuppp...saya tempelkan di kaca mobil. Hanya dengan modal kecil, saya merayakan HUT Indonesia ke-66. Hanya lima ribu untuk sebuah bendera plastik Keciiiiillll.....cukupkah????? Saya kaget ketika mendengar sebuah suara menyapa saya (Heeii siapa ini? Bung Karno kah?). Ya, Bung Karno (BK) ada dan duduk di bagian kiri jok depan mobil. Sambil tersenyum beliau berkata...."bung mike, cukuplah itu".....

Lalu, sambil menemani perjalanan saya ke kampus, BK berceritera tentang untuk apa Indonesia Merdeka. Beliau mengutip sebuah pidatonya di depan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai pada tanggal 1 Juni 1945 (ahaaa... ketika saya bilang..."eh bung, itukan pidato anda yang kami kenang sebagai pidato kelahiran Pancasila?"....kata BK, " bung mike benar") berbunyi begini:

Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji f500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai meja kursi, yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu set, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu “meja makan”, lantas satu sitje, lantas satu tempat tidur. Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin.

Begitulah saudara ku sebangsa dan setanah air, Indonesia - yaitu saudara, saya, mereka, kita semua - mencapai kemerdekaannya. Kata BK, untuk merdeka yang diperlukan adalah tekad untuk merdeka. Lalu apa itu merdeka? BK memberikan jawaban telak, yaitu "political independence". Ya, kita hanya perlu untuk bertekad lalu mewujudnyatakan bebas untuk mengurusi diri sendiri di rumah kita, Indonesia, dengan pilar adanya bumi, adanya rakyat, adanya pemerintahan dan adanya pengakuan bahwa kita memang sudah merdeka. That's all about declaration of independence. Dan itulah yang dilakukan oleh BK dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia pada hari 17 bulan Agustus tahun 1945 Masehi. Hanya dengan modal tekad, mesin ketika tua untuk mengetik naskah proklamasi, dan bendera rajutan tangan seadanya kitapun merdeka. Dimulailah suatu proyek mega raksasa bersama seluruh nation yang ada di bekas daerah jajahan Belanda yang dinamakan Indonesia. Adalah kumpulan bangsa-bangsa Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian, Bali, Timor dengan modal apa adanya berani mengataan merdeka. Lalu dalam merdeka itulah, seperti kata BK, "kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal, dan abadi". BK juga memberikan perumpamaan lain yang sejalan dengan perkawinan tentang kemerdekaan. Menurut BK, kemerdekaan adalah jembatan ya sebuah jembatan emas menuju Indonesia yang jaya (ketika mobil melaju meilntasi jembatan Liliba, Kupang, BK menjawil lengan saya..."bung mike, seperti jembatan inilah kemerdekaan itu, tetapi lebih lagi karena terbuat dari emas)". Kosntruksi berpikirnya adalah jika perkawinan terjadi di antara 2 orang yang berbeda maka sesungguhnya perkawinan adalah juga seperti jembatan antara 2 orang. Itulah merdeka menurut BK. Lalu, di sinilah persoalan kita bermula.

Proyek bersama membentuk Indonesia, yang dianalogikan oleh BK sebagai suatu lembaga perkawinan atau jembatan, bukanlah proses pasti akan berhasil. Bukanlah barang yang kekal. Indonesia ada karena ada parapihak yang bersepakat. untuk ini dan itu dengan modal masing yang digabungkan. Indonesia ada karena semua nation sepakat menggabungkan modal mereka. sebagai saham. Semuanya saja memiliki modal. Tidak ada yang zonder punya apa-apa. Ada yang bermodal besar ada pula yang kecil. Si Panjul punya 1 gubug adalah pemilik proyek. Tetapi si Sartinem juga adalah juga pemilik proyek kendati cuma membawa 1 tikar dan 1 periuk (BK kembali mensiuti saya..."sssstttttt bung mike, dalam pidato saya nama mereka itu adalah Samiun dan Sarinem lho......", saya jawab...:lho Bung, katanya suka lihat kemerdekaan, nah boleh dong saya merdeka menggunakan nama?...BK tertawa dan bilang...."sontoloyo, dasar koppig"...). Melalui merdeka mereka sekarang dapat berkarya. Bersama-sama memperbaiki gubug, mengisi periuk mereka dengan makanan lalu tidur berpelukan penuh kasih di atas tikar yang 1 itu. Mereka bebas menjalankan rumah tangga mereka. Siapa tahu karena kerajinan dan kekompakan mereka lalu 1 gubug itu diubah menjadi gedung megah, tikar berganti tempat tidur mental mentul, dan alat memasak mereka berubah menjadi kitchen set yang lengkap dan megah. Bisa saja begitu jika perkawinan itu berhasil, yaitu ketika semua bekerjasama dan bermitra secara inklusif nan adil. Tidak saling mengklaim sebagai yang terpenting. Setara. Sebaliknya, perkawinan ini akan gagal manakala Panjul tidak mengijinkan Sartinem berteduh di dalam gubug, cukup di emperan saja. Sartinem membalas dengan tidak mengijinkan Panjul tidur di tikar dan makan dari hasil tanakan nasi dari periuk. Cukup sebulan dua, rumah tangga Panjul dan Sartinem pasti bubar. Jembatan dirusak karena ada yang merasa sebagai penguasa besar di situ, yang lain tidak boleh lewat. Apa point penting kebehasilan proyek Indonesia?Kesetaraan sebagai pemilik proyek. Tak boleh ada pihak yang merasa lebih istimewa dari yang lainnya lalu memonopoli kemerdekaan. Jangan karena merasa besar di NKRI lalu anda boleh merampas kemerdekaan pihak yang lebih kecil. Jangan ada penjajahan anak negeri oleh anak negeri yang lainnya. Jangan memperlakukan anak negeri yang satu berbeda dari anak negeri yang lainnya. Jangan ada monopoli kebenaran. Bandingkanlah dengan kondisi Indonesia kontemporer. Sebagian masyarakat merasa memiliki hak eksklusf untuk men-sweeping warga lain yang berbeda cara pandangnya. Ketika si A mencuri 2 buah kakao di kebun tetangga, cepat sekali dia di proses dan masuk bui sekian bulan lamanya. Sementara ketika si B yang membobol bank atau mencuri uang proyek untuk membiayai hasrat politik dibiarkan bebas menebar sms melalu HP mewah dari negeri antah berantah.

Singkat kata, ketika Indonesia berubah menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal maka jangan heran jika jembatan emas kemerdekaan itu tidak lebih dari jembatan kayu dari bahan kapuk randu yang rapuh. Ketika satu pihak merasa lebih berkuasa dari yang lainnya, lebih superior di dalam republik ini atau merasa memiliki hak paling istimewa di Indonesia maka percayalah selalu ada pihak yang akan berpikir bahwa ... "ok, baiklah kalau begitu maumu maka marilah kita berpisah baik-baik. Tidak baik-baik juga apa boleh buat". Timor Timur, yang berdasarkan fakta sejarahnya memang bukan bagian eks Belanda, memilih untuk bercerai. Aceh memilih jalan perkawinan dengan 2 kesetiaan. Irian, dan belakangan disebut Papua, merasa jika bercerai mereka akan lebih bahagia. Ben Anderson pada tahun 1999 memberikan catatan bahwa Orde Baru pernah memangsa pihak-pihak yang bersepakat dalam proyek indonesia menurut ukuran yang dibuatnya sendiri. Orde baru menganak emaskan pihak-pihak tertentu dan membuat yang lainnya cuma sekedar tas plastik kresek. Hasilnya adalah kekacauan. Sesuatu yang terus saja terjadi dalam versi yang berbeda di masa reformasi sekarang ini dan kareanya kekacauan terus saja terjadi. Lagunya sama, aransemen berbeda. Mengapa demikian? Jelas dan tegas: Indonesia belum mampu menempatkan para pemegang saham proyek besar bersama ini dalam kedudukan yang setara. Demkorasi terpimpin hanya menghasilkan pertengkaran 3 pilar, yaitu BK, TNI dan PKI dengan meninggalkan korban jiwa yang amat besar akibat perseteruan itu (saya mendengar BK batuk-batuk...uhuuk uhuuukkk). Demokrasi Pancasila ala Soeharto hanya menghasilkan berkuasanya sistem Jawa sentrisme dengan pilar militer, Golkar dan saudagar yang rajin bertandang ke Istana. Demokrasi di masa reformasi hanya menghasilkan tukang pesolek yang egois di cetrum politik nasional dan raja-raja kecil narsis di daerah. Pancasila terjepit dan keselip entah kemana. Ada yang hanya bisa menghafalkannya tapi tak mampu melaksanakannya. Ada yang sudah tidak menghafal tidak pula menampakan semangat pancasila. Ada pula yang bersliweran di jalan raya membaya spanduk yang yang berisikan niat mereka untuk menggantikan pancasila dengan ideologi lain tetapi tidak diapa-apakan oleh pihak yang berwajib.

Parameter BK tentang keberhasilan kemerdekaan sangat jelas, yaitu Indonesia yang gagah, kuat, sehat, dan kekal abadi. Tiliklah diri dan dan lingkungan di sekitar kiri dan kanan anda lalu jawablah secara jujur sudahkah impian BK tentang Indonesia yang merdeka itu tercapai? Bendera merah putih kecil yang menempel di kaca depan mobil yang saya kendarai berbisik: .."bung mike, Indonesia memang merdeka tetapi sebagian besar rakyat kelimpungan hidupnya dan tidak gagah. Rumah Indonesia tidak begitu kuat karena tikus-tikus koruptor memakan tiang induknya. Bangsa Indoensia tidak terlalu sehat karena biaya kesehatan amat mahal. Jika rakyat berkeluh kesah maka ...gampaaaaang....di-Pritha-kan saja. Beres. Alam Indonesia amat permai tetapi tidak lagi lestari karena hutannya digunduli oleh maling-maling kayu' Lahannya berlubang dan rusak digali penambang zonder tau malu. Ketika saya melirik ke samping kiri untuk meminta pendapat BK, saya melihat beliau sedang tertunduk sambil menitikkan air mata. Katanya lirih dan nyaris tidak terdengar ..."bung mike, bukan Indonesia yang macam begini yang saya perjuangkan kemerdekaannya".....

"Indonesia Pusaka"(Broery)


MERDEKA TUAN MERDEKA PUAN

Minggu, 16 Agustus 2009

saudaraku sebangsa dan setanah air: INDONESIA (bagian I)

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Hari ini, Republik Indonesia kita genap berusia 64 tahun. Dulu, Soekarno dan Hatta berteriak keras atas nama Rakyat Indonesia menyatakan bahwa KITA MERDEKAT. Lalu, para rahayat Indonesia melanjutkan teriakan itu MERDEKA ATAU MATI. Dahulu, rahayat Indonesia bangga dengan kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu. Selamat Sejahtera. Sekarang, masihkah kita berbahagia dengan HUT Proklamasi ini? Saya berbahagia, tak tahulah anda. Tetapi ada pertanyaan yang berlari-lari di kepala saya.

Siapakah saya dan siapakah anda sehingga kita saling menyapa sebagai saudara sebangsa. Saudara setanah air. Dari mana asalmu? Keturunan siapakahkah anda? saya mau bertanya? dan Saudara juga bertanya, dari mana asal saya? Apakah betul kita ini orang Indonesia? Indonesia itu apa?

Kata orang cerdik pandai, di antara 2 juta tahun lalu sampai 500.000 tahun yang lalu, hiduplah sekelompok primata tegak yang disebut sebagai kelompok Homo erectus di Pulau Jawa. Oleh karena itu, para ahli antopologi menyebutnya sebagai Manusia Jawa. Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern (Homo sapiens sapiens) berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Dari sana mereka meyebar ke segala penjuru dunia. Jika Wilson benar maka manusia moderen ternyata berasal dari 1 tempat, yaitu Afrika. Tak pelak lagi, Homo erectus yang ada di Pulau Jawa adalah species yang punah dan digantikan oleh pendatang dari Afrika. Tak bisa Tak.

Lalu, apakah mereka nenek moyang kita? Jika pendapat benar maka bagi saudara-saudara yang orang Jawa ada kemungkinan besar begitu tetapi bagaimana dengan saya yang bernenek moyang orang Sabu. Bagaimana anda yang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Flores, Rote, Sumba, Maluku, Papua dan seterusnya. Siapakah nenek moyang kita? Sama ataukah berbeda?

Sebagian pakar menyebutkan bahwa di antara rentang waktu antara 160.000 sampai 100.000 tahun datanglah orang-orang, yang merupakan bagian dari migrasi manusia purba "out of Africa", yaitu orang-orang dari ras Austolomelanesia (Papua). Mereka memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). Ras apakah ini? kata orang pintar: “Melanesia (berasal dari bahasa Yunani, μέλας black, νῆσος island) yang seara literalis berarti "islands of the black-skinned people". Orang-orang Melanesia kini berdiam di daerah Bismarck archipelago, Fiji, Kepulauan Maluku, New Caledonia, New Guinea (termasuk orang Papua di bagian Barat), Norkfolk Island, Solomon Island, Torres Strait Island, Vanuatu, Flores, Nauru, Sumba, Timor (termasuk Timor Leste), Halmahera, Alor dan Pantar.

Semenjak sekitar 2000-an SM orang-orang Melanesia terdesak dan berpindah ke arah Timur karena kedatangan orang-orang yang berasal dari ras Austronesia, yaitu bangsa Yunan yang diduga berasal dari daratan Asia, kendati belakangan ditemukan bukti bahwa ras ini berasal dari daratan Formosa (Taiwan). Kaum migran baru yang mendesak orang-orang Melanesia ke arah timur ini datang dalam 2 gelombang migrasi, yaitu pada tahun 2500 dan pada tahun 1500 SM. Ras ini diduga telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin. Di antara tahun 2500 SM dan 1500 SM tersebut, berdasarkan bukti-bukti antropoligis diketemukan adanya sat ras lain, yaitu ras Mongoloid yang pandai bertani dan berniaga.

Lantas, pada akir-akhir abad sebelum Masehi, di tanah yang sekarang disebut Indonesia ini, kedatangan kaum imigran baru yang berasal dari India. Mereka memperkenalkan kepada masyarakat yang telah ada terlebih dahulu suatu sistem tata pemerintahan yang lebih maju, yaitu kerajaan.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air,

Berdasarkan bukti-arkeologis dan antropologis ditemukan fakta bahwa pada 1-2 tahun sebelum Masehi, di Lubuk Jambi berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kandis. Semenjak itu, tak kurang dari 76 buah kerajaan pernah berdiri bertebaran di seluruh wilayah archipelago yang belakangan di sebut Indonesia. Paling kurang terdapat 2 kerajaan yang sangat fenomenal, yaitu kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatera dan Kerajaan Majapahit di Jawa. Dikatakan fenomenal karena dua kerajaan tersebut wilayahnya lintas pulau dan lautan. Sriwijaya menguasai perniagaan di seluruh Selat Malaka sedangan wilayah Majapahit meliputi luas Indonesia sekarang ini. Bahkan, kokon, sampai Madagaskar. Konon pula, di masa Majapahit inilah isitlah Nusantara pertama kali di kenal yang berasal dari sumpah Sang Mahapatih, Gadjah Mada. Kerajaan-kerajaan yang pernah hidup di Indonesia pada umumnya selalu dapat dikaitkan dengan kegiatan perniagaan intetinsulair (lintas pulau) dan atau Agama. Sebagai contoh, kerajaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan kerajaan Maritim nan perkasa yang menguasai perniagaan di seluruh Nusantara dengan pengaruh agama Budha dan Hindu.

Akibat adanya arus prniagaan yang terbuka maka dari Arab dab Persia, melalui Gujarat, datanglah kaum pedagang yang membawa serta agama Islam. Terctat juga pelaut-pelaut dari Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam yang juga selain berniaga, melakukan syiar Islam.

Ketika orang-orang Eropa pada awal abad ke-16 melakukan perniagaan jauh kearah Selatan untuk mencari sumber rempah-rempah maka bertemulah mereka dengan beberapa kerajaan. Beberapa pustaka menyebutkan bahwa kedatangan orang-orang yang berasal dari Britania Raya, Portugal dan Belanda itu tidak semata berniaga tetapi mengusung semangat 3 G (bukan ”triji-nya ponsel lho bung en soes), yaitu Gold, Glory and Gospel. Pada masa ini pula, kendati beberapa bukti menunjukkan bahwa agama Kristen sudah hadir di Nusantara jauh sebelum abad ke-16, agama Kristen dianggap masuk ke Indonesia sebagai bagian dari ”barat yang menjajah”. Stigma Agama Barat yang menjajah ini, bagi sebagian kalangan, ditempelkan begitu kuat bagi Agama Kristen di Indonesia terutama melihat fakta bahwa Agama Kristen mendapat tempat di beberapa kerjaan di bagian Timur Indonesia yang dikuasai oleh, mula-mula oleh Portugal, lalu VOC dan akhirnya pada abad ke-19 oleh pemerintah Belanda (India-Belanda).

Di masa penjajahan India-Belanda ini muncul nama Indonesia. Pertama kali digunakan oleh dua orang Inggris, yaitu George Samuel Windsor Earl, seorang pengacara kelahiran London, yang bersama James Richardson Logan, seorang pengacara kelahiran Scotlandia, menulis artikel sebanyak 96 halaman di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia No. 4, tahun 1850 dengan judul "The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders."

Mereka menamakan penduduk India-Belanda bagian barat yang berasal Proto-Malaya (Melayu tua) dan Deutero-Malaya (Melayu muda), sebagai Indunesians (Indu, bahasa Latin, artinya: India; Nesia, asal katanya adalah nesos, bahasa Yunani, artinya: kepulauan). Sedangkan penduduk di wilayah India-Belanda bagian timur masuk ke dalam kategori Melanesians (Mela = hitam. Melanesia = kepulauan orang-orang hitam). Oleh karena itu, Earl sendiri kemudian cenderung menggunakan istilah Melayu-nesians, untuk menamakan penduduk India-Belanda bagian barat. Kemudian Logan merubah Indunesia menjadi Indonesia (Indos dan Nesos, keduanya berasal dari bahasa Yunani) dalam tulisan-tulisannya di Journal tersebut.

Adalah Adolf Bastian, seorang dokter dan sekaligus etnolog Jerman, yang mempopulerkan nama Indonesia ketika menerbitkan laporan perjalanan dan penelitiannya di Berlin, yang diterbitkan dalam karya 5 jilid (1864 – 1894) dengan judul “Indonesien, oder die Inseln des malaysischen Archipels” (bahasa Jerman, artinya: “Indonesia, atau Pulau-Pulau dari Kepulauan Malaya”). Jilid I berjudul Maluku, jilid II Timor dan Pulau-Pulau Sekitarnya, jilid III Sumatera dan Daerah Sekitarnya, jilid IV Kalimantan dan Sulawesi, jilid V Jawa dan Penutup.

Eduard Douwes Dekker, dalam bukunya “Max Havelaar” menyebut India-Belanda dengan nama Insulinde, variasi bahasa Belanda untuk Kepulauan India. Ketika Indische Partij (Partai India) yang didirikan oleh keponakannya dilarang oleh Pemerintah India Belanda tahun 1913, para anggotanya mendirikan Partai Insulinde. Baik Indunesian, Indonesien atau Insulinde semua artinya adalah Kepulauan India, untuk menunjukkan identitas pribumi yang hidup di bagian barat wilayah India- Belanda, sedangkan yang hidup di wilayah timur –Flores, Timor, Maluku dan Papua-sebenarnya adalah orang-orang Melanesia (Kepulauan orang-orang hitam).

Yang termasuk pertama menggunakan kata Indonesia pada awal tahun 20-an adalah Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sam Ratu Langie dan Partai Komunis Indonesia. Jadi kata Indonesia artinya tak lain adalah: Kepulauan India.

Akhirnya, adalah tagal perkara situasi perniagaan dunia maka negara Jepang melirik sumber minyak yang berlimpah di wilayah yang disebut sebagai Indonesia sebagai modal potensial guna mengembangkan diri sebagai negara adidaya. Maka, Hindia Belanda diserbu pada tahun 1942. Jepang, yang mula-mula mengaku sebagai saudara tua dari Timur yang akan membebaskan saudara mudanya, Indonesia, dari tangan ”bangsa barat”, ternyata menjajah Indonesia secara lebih kejam dibandingkan dengan penjajah sebelumnya. Tetapi syukurlah, mereka tak lam di sini. Cuma 3,5 tahun lalu terusir dari bumi Indonesia, mula-mula sebagai konsekuensi kekalahannya dalam Perang Dunia II lalu, juga karena lalu karena Bangsa Indonesia menyatakan bahwa ”KAMI MERDEKA” pada tanggal 17 Agustus 1945. Suatu pernyataan yang sederhana tetapi berkonsekuensi besar karena jika tidak demikian maka Indoensie hanyalah sebangsa daerah taklukan sekutu pada PD II lalu harus diserah terimakan dari Jepang kepada Sekutu.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Sejak 17 Agustus 1945 itulah Indonesia resmi dinyatakan sebagai Bangsa yang merdeka. Bangsa -bangsa yang mendiami daerah yan dahulunya dijajah Belanda dan Jepang secara resmi bersepakat membentuk sebuah Negara, yaitu Indonesia. Indonesia punya modal, yaitu Wilayah dan Rakyat yang berdaulat. Lalu Rakyat yang berdaulat itulah yang bersepakat siapa di antara mereka yang pantas memimpin mereka sebagai suatau pemerintahan, Semenjak itu, kita punya Soekarno, Soharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY sebagai Presiden.

Tetapi lihatlah wajah kita sejak 1945 sampai hari ini: “revolusi belum selesai” kata Bung Karno, lalu sejak 1945 – 1967 pertikaian terus saja terjadi di antara kita. Ada Pembernontakan PKI Muso di Madiun, PRRI-Permesta, Kartosuwiryo, RMS dan Kahar Musakar. “Ekonomi Yes Politik No”, kata Soeharto tetapi peristiwa tahun 1965 yang menelan ratusan ribu korban nyawa rahayat Indonesia masih saja terus menjadi misteri sampai saat ini. Lalu, ada Malari 1974, Penembakan misterius kepada kelompok preman, Peristiwa Tanjung Priok, Kudatuli 1996, Kerusuhan Mei 1998, Ambon, Poso dan terakhir tak berhentinya teror Noordin M Top. Apa yang terjadi dengan kita? Apa yang terjadi dengan rahayat Indonesia. Benarkah kita bersaudara di bangsa yang sama dan tanah air yang sama?

Saya masih ingin terus mengulas tetapi mohon maaf saya akan berhenti dahulu di sini karena saya ingin berdiri sejenak, mengepalkan tangan kana saya lalu saya acungkan tinju ke udara sambil berteriak MERDEKA. Dirgahayu Indonesia. Salam Sejahtera. (posting dilanjutkan pada bagian II)


Tabe Tuan Tabe Puan