Tuamese dekat Atambua, Laut luas ada di sana
Lama kita tidak bersua, Kesibukan jadi sebab jua
Kota Kupang panas udaranya, Tidur malam berkipas-kipas
Kalau bicara tentang bicara, mulut lidah diulas-ulas
ah satu fenomen manusia berbeda dengan, misalnya, monyet. Dengan berbicara manusia bertanya. Dengan bertanya manusia menemukan pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia berbudaya dan dengan cara itu manusia menemukan ilmu. Akhirnya, ilmu pengetahuan membuat kita bisa terhubung seperti ini. Dimanapun anda berada di ujung bumi saat ini. Ada laptop. Ada internet. Jika anda perlu bepergian jauh, don't worry, tingal beli tiket dan lalu ...weeeerrrrrr...."burung besi" menerbangkan anda. Ingin pegang uang, segar? Tinggal menggenggam selembar tipis kartu plastik yang namanya kartu ATM lalu...weeerrresekesekiskrrrrgggg....keluarlah uang dari kotak besi yang kita sebut sebagai mesin ATM. Pokoknya, ilmu pengetahuan sudah membawa kita dalam situasi hari ini. Dan harap ingat, semua kemajuan ini berawal dari "bicara". Tahukah anda bagaimana proses fisiologis bicara itu? (berikut saya kutipkan sebuah artikel dari dunia maya, di http://luv2dentisha.wordpress.com/).Percakapan digunakan untuk berkomunikasi antar individu. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut.
Nah, lalu tentang proses yang terjadi di mulut dsk...dan sekitarnya.... yang dikategorikan sebagai bagian dari organ artikulasi, dalam artikel ini terbaca sebagai berikut:
Organ artikulasi tersusun atas bibir dengan fungsi untuk membendung udara pada pembentukan suara letup. palatum mole-durum yang merupakan permukaan sensitif bagi lidah untuk mengawasi proses artikulasi, menghalangi dan membentukaliran udara turbulen dan sebagai kompas bagi lidah bahwa suara terbaik sudah dihasilkan, lidah berfungsi membentuk suara dengan mengangkat, menarik, menyempit, menipis, melengkung, menonjol, atau mendatar, pipi membendung udara di bagian bukal, gigi berfungsi menahan aliran udara dalam membentuk konsonan labio-dental dan apiko-alveolar dan akhirnya, mandibula yang membuka dan menutup waktu bicara. Selanjutnya dikatakan bahwa ketika suara dasar dihasilkan oleh vocal tract, suara tersebut dimodifikasi untuk menghasilkan suara yang jelas dengan proses artikulasi dan resonansi. Suara yang penting terbentuk adalah pengucapan konsonan, yang ditekankan sebagai iringan suara oleh gesekan bunyi. Konsonan dibentuk dari gelombang udara yang berkontak dari arah yang berlawanan. Misalnya pada kontak antara dua bibir saat pengucapan huruf “p” dan “b”. Contoh lainnya juga pada lidah yang menyentuh gigi dan palatum saat pengucapan huruf “t” dan “d”.
Rumitkah kutipan di atas? Bisa jadi begitu tapi untuk mudahnya begini: lidah adalah bagian penting dari proses berbicara karena membentuk konsonan, yaitu bunyi-ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan. Dapat dikatakan bahwa tanpa lidah tidak ada bicara. Tapi lidah yang bagaimana? apakah lidah yang kaku atau lidah yang lentur? Penjelasannya adalah bahwa organ artikulasi harus cukup lentur karena dalam fungsi penghalangan lidah harus bergerak dengan cara menyentuh organ lainnya, berputar, mengaduk, menggeser dan lain sebagainya. Karena itu, dari lidah yang kaku akan dihasilkan suara yang monoton dan bisa kehilangan arti. Cobalah anda mengucapkan dua kata berturutan "titik" dan "didih" dengan mengencangkan dan mengkakukan lidah. Bisa? Saya tidak yakin.
Jelas sudah bahwa lidah yang berfungsi baik adalah lidah yang lentur. Tidak boleh kaku. Tak boleh ada tulang. Dalam dunia nyatapun kata-kata yang dikeluarkan dari rongga mulut, yang di dalamnya terdapat si lidah, ternyata harus lentur dan fleksibel. Apa lagi di negeri tercinta Indonesia Raya. Saking lenturnya lidah tak jarang makna asli suatu kata bisa hilang tak tentu rimba. Contoh, tidak ada jaksa yang korupsi tapi oknum. Bukan polisi yang menembak demonstran melainkan oknum. Kalau begitu di Indonesia, penjahat itu bernama sama, yaitu oknum. Salah satu prestasi terbesar orde baru adalah tidak pernah menaikkan harga BBM karena yang terjadi adalah penyesuaian harga BBM. Mungkin karena itu pernah diusulkan untuk tidak lagi menggunakan istilah kenaikan kelas melainkan penyesuaian kelas. Menyesuaikan diri dengan mobil bukan menaiki mobil. Meniru Orde Baru, kabinetnya Mister SBY mulai mengupayakan istilah "pembatasan pemakaian BBM bersubsidi" sebagai bentuk "lidah lentur" dari menaikkan istilah "menaikkan harga BBM". Maka di masa Orde Reformasi ini para suami dan isteri harus mulai melakukan "pembatasan pemakaian waktu yang berlebihan" sebagai ganti istilah "kumpul-kumpul bikin anak" (ha ha ha...istilah inipun susdah merupakan hasil lidah entur dari penulis). Apakah lebih mudah memahami istilah hasil pelenturan lidah?
Apapun juga, ternyata pelenturan lidah atau disebut juga gejala eufemisme dalam berbahasa komunikasi, menghasilkan ketidak mengertian baru. Atau paling kurang diperlukan "kejeniusan lebih" untuk memahami maksud kata yang asli. Lalu mungkin karena "kelebihan kejeniusan" atau sebaliknya "kekurangan kejeniusan" atau keduanya terjadi sekaligus maka "kelenturan lidah" lalu lebih mirip "putar lidah" yang sering memancing "silat lidah". Dalam bentuk perkataan lain "kelenturan lidah" sering berubah menjadi "putar balik" yang memancing "kekacauan, kerusuhan, dan tawuran". Anda tidak percaya? Mari kita lihat kasus mutakhir, yaitu Jogja, Sultan, Monarki, Demokrasi, SBY dan seterusnya.
Tanggal 26-11-2010, tak dinyana SBY berbicara tiga hal substansial, yaitu 1) Reformasi mengharuskan demokrasi, hal ini diatur di dalam konstitusi; 2) Jogja memiliki peran sejarah dan oleh karenanya dia istimewa, hal ini juga diatur di dalam kosntitusi; 3) Sistem monarki di Jogjakarta bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi (democratic values). Gara-gara "lidah lentur" ini maka orang Jogja tersinggung lalu marah. Mereka paham betul maksud kata-kata SBY yang menurut mereka "menghina" nilai-nilai kearifan budaya orang Jawa Jogja. Akibatnya wong Jogja marah...."referendum"...teriak mereka...."bambu runcing kami siapkan" ...kata mereka dengan mata merah berkilat dan nafas dengus amarah.....Menter Dalam Negeri bolak-balik mengatakan bahwa Jogja istimewa tapi untuk urusan menjadi gubernur sebaiknya Sultan tak perlulah menjadi, "pararadhya" sajalah. Ruhut Sitompul menambah tidak jelas masalahnya dalam wawancara di TV. Dan orang Jogja tetap marah. Lalu, kamis 2-12-2010, SBY berpidato ... "isi pidato saya pada tanggal 26 November digeser", "2 kali Sultan mengatakan tidak mau lagi menjadi Gubernur", Saya sangat menghormati Sultan", "untuk 5 tahun ke depan Sultan akan tetap jadi Gubernur, "urusan keistimewaan Jogja selanjutnya menjadi urusan DPR".....Hwwwwaaaaaa......
Presiden SBY ternyata telah menggeser substansi pidatonya sendiri yang diucapkan pada tanggal 26 November. Bahkan perhatikan baik-baik petikan kutipan pernyatan SBY berikut ini yang saya kutip dari Vivanews.com:
"Saya berpendapat, apa pun model dan opsi yang dipilih, jangan lupa memberikan hak dan peran pada para pewaris Kesultanan dan Pakualaman. Sejarah mengatakan, keistimewaan Yogyakarta bisa ditarik dari sisi itu," kata SBY. Karena itu, Presiden menyatakan Pemerintah memperhatikan pandangan dan masukan dari berbagai pihak di negeri ini. "Baik dari saudara kita di Yogya atau pun saudara kita bangsa Indonesia secara keseluruhan," katanya. "Tentu Pemerintah akan memperhatikan ini semua untuk diajukan ke DPR untuk dilakukan pembahasan bersama. Pada akhirnya nanti, apa pun yang menjadi kesepakatan bersama, Pemerintah akan tunduk, akan menjalankannya," kata SBY.
Apakah dengan ini saya ingin mengatakan bahwa "lidah meleleh" monopoli milik petinggi Republik Indonesia? Saya tegaskan tidak begitu. Menurut hemat saya kita semua adalah pelaku lidah lentur, lidah berputar, lidah bersilat, dan ya itu tadi...lidah meleleh.....lihat saja aktor-aktor seputar kasus Gayus, ingat saja kasus bank century, jangan lupa kasus Susno Duadji, lihat saja diskusi di TV, lihat saja ketua PSSI Nurdin Halid, lihat saja janji kampanye pemilihan umum di segala level, lihat saja perdebatan di DPR dan DPRD, lihat saja kelakuan para "bonek" sepak bola, perha
tikan ulah mereka yang menduduki tanah milik negara dan membangunnya dengan bangunan kumuh tetapi selalu minta ganti rugi jika kena gusuran dan masih banyak lagi. Di negeri ini, saudaraku sebangsa dan setanah air, lidah memang lentur. Amat lentur lalu meleleh. Selaku anak bangsa, saya pribadi mengaku bahwa kerap lidah saya juga bertekak-tekuk. Dan bagi kawan-kawan yang merasa tidak tergolong lidah meleleh maka silakan unjuk rasa...eh...unjuk tangan ke udara. Sobat terkasih, jadi, bangsa apa kita ini? So pasti, bangsa yang lidahnya meleleh....."He's a Liar" - Bee Gees
Tabe Puan Tabe Tuan












