Sabtu, 24 Maret 2012

kasih yang tak bertepi, DIA-lah itu

Dear Sahabat Blogger,

Selamat hari baru. Selamat menikmati berkat baru pada hari ini. Sesuai janji saya, dan saya ingin memenuhi janji itu, maka hari ini saya haturkan sebuah posting baru. Tak perduli kualitasnya seperti apa yang penting dia hadir. Pokoknya, saya ada apa adanya dan tidak mengada-ada supaya ada tanda bahwa saya ada. Semoga anda sepakat dengan saya mengenai hal ikhwal ini.

Posting ini dibikin dalam suasana hingar bingar yang amat riuh. Seminggu lagi, kalau semuanya lancar, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan dinaikan. Sialnya, sebelum kenaikan harga BBM dimaksud resmi diumumkan sudah banyak perkara yang terjadi. Saban hari kita di Indonesia, sukur anda yang tinggal di luar negeri, disuguhkan dengan berbagai keributan tagal perkara yang bertalian dengan kenaikan harga BBM. Demonstrasi terjadi dimana-mana dengan skala yang makin lama makin masif. Jikalau cuma sekedar demonstrasi ya tak apalah tetapi hampir semua demonstrasi berakhir ricuh. Mahasiswa sulit dibedakan dengan provokator. Provokator tampil layaknya mahasiswa. Aparat Kepolisian didesak dan digebug lalu balas mendesak dan menggebuk. Berita terkini, aparat TNI akan keluar barak untuk menghadapi. Siapa yang dihadapi? Rakyat Indonesia itu sendiri karena diduga akan terjadi demonstrasi massal dan masif lalu mengancam obyek-obeyk vital milik negara. Para pengamat berbeda pendapat lalu tawuran kata-kata, di televisi, di radio maupun di surat kabar. Sebagian pro kenaikan BBM. Sebagian lagi bilang..."bohong lu...BBM tak perlu naik". Para politisi lintang pukang. PDIP dan yang sepikiran menolak (tapi Gubernur NTT yang ketua DPD PDIP NTT malah menyatakan setuju kenaikan BBM). Demokrat cs so pasti pro kenaikan tapi...heeiitttt, nanti dulu.....ada PKS yang kompanyonnya Demokrat menolak kenaikan BM. "Koalisi ikan teri" kata Sutan Bathoegana dari Demokrat. Rektor-rektor dikumpulkan di Jakarta supaya memahami mengapa BBM perlu naik. Di koran lokal, konon, Rektor Undana bilang: ..."mahasiswa di larang demo"...(entah dianya bilang begitu ato hasil penafsiran para juru berita). Sebagian aktivis mahasiwa dikirim plesir ke negeri China (kendati ada yang menolak). Entah apa maksudnya tapi isu terlanjur berkembang "mulut mereka sedang disuruh diam karena disuap nikmatnya plesiran"...walllaaahhhh... Di tengah isu yang berloncatan tidak keruan itu muncul lagi isu serangan hama "tomcat" di pulau Jawa. Mister Dahlan Iskan mengamuk di pintu tol Semanggi, Jakarta karena kerja Jasa Marga yang amburadul. Datang pula berita bahwa 5 teroris ditembak mati di Denpasar. PSSI berubah menjadi kembar. Versi pohon "djohar" dan versi api yang bernyala "La Nyalla". .... "wooooiiiiittttt, pengalihan isu...pengalihan isuuuuu". Gaduh. Ribut. Riuh......itulah Indonesia tanah air beta....

Di tengah hingar bingar yang amat gaduh dan riuh itu hadirlah perayaan Nyepi yang dirayakan para sahabat yang beragama Hindu Bali. Suasana mendadak hening sejenak dan terasa lumayan sejuknya Indonesia 1 hari itu. Happy Nyepi bagi sahabat Hindu. Jadi teringat syair lagu Ebiet G. Ade, saksikan bahwa sepi,berikut ini:

Dengarlah suara gemercik air
di balik rumpun bambu di sudut dusun
Lihatlah pancuran berdansa riang
Menyapa batuan, menjemput bulan
...
Ada perempuan renta menimba
Terbungkuk namun sempat senandungkan tembang
...
saksikan bahwa sepi lebih berarti dari keriuhan
....
Indah bukan? menurut hemat saya, tidak sekedar indah syairnya tetapi ada kebenaran di dalam syair itu. Ketika semua hal rasanya harus dibicarakan lalu diributkan dan dikacaukan maka menepi untuk menyepi rasanya sebuah opsi yang berharga. Mengapa? Karena dalam diam dan dalam sepi, terbuka peluang bagi "hati yang berbicara". Leahy (1989) menjelaskan bahwa ketika manusia perlu sekali waktu melepaskan diri dari kekakuan, kecongkakan dan prasangka-prasangka yang merupakan resultante dari proses bertanya, berbicara dan mendengar suara sendiri. Dengan melepaskan itu semua maka manusia akan dituntun pada kemurahan hati yang lebih luhur. makin dekat kearah cinta kasih yang adiluhung. Itulah yang akan dicapai ketika manusia memasuki suasana suci (sacrum facere). Ketika memasuki sacrum facere inilah manusia akan memiliki cinta murni yang tidak mengambil untung bagi diri sendiri. Cinta yang berbelas kasihan dan menghidupkan. Saya, yang berlatar belakang Kristiani, punya 1 contoh tentang hal ini, yaitu ketika Yesus merasa perlu berdoa sendirian di Taman Getsemani menjelang penangkapan-NYA. Apa hasilnya? adalah ini: keteguhan hati dan kerelaan yang luar biasa untuk memenuhi "panggilan" dari sang Ilahi. Pertanyaannya adalah: apakah sacrum facere dapat dicapai dalam keriuhan? jawab saya tegas: tidak. Hanya dalam sepi dan hening suara hati nurani anda akan bergema keras dan menuntun anda menuju sacrum facere. Frans Suseno mengatakan bahwa Tuhan bekerja di dalam hati nurani manusia.

Saya teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca yang dikisahkan oleh Sindhunata, seorang imam Katolik yang bertugas di lereng Gunung Merapi. Dalam bukunya "mata air bulan" Sindhunata menceriterakan pengalaman seorang perempuan tua, miskin dan cacat buta. Mbok Tukinem dia punya nama. Tukinem miskin sejak dilahirkan. Ayahnya buruh tani. Ibunya bakul gerabah. Pada usia 7 tahun, Tukinem kecil tiba-tiba buta. Pada umur 10 tahun dibaptis menjadi Katolik. Biar buta, dia harus membantu ibunya mencari nafkah. Jogja - Semarang ditempuh dengan berjalan kaki sambil memanggul gerabah. Bisa 1 bulan mereka, ibu dan anak, ada di jalanan. Ketika dewasa, Tukinem menikah dengan seorang yang juga buta dan memperoleh anak 3 orang. Tetapi semuanya meninggal. Belakangan suaminya terkena kanker ganas dan tak bisa apa-apa lagi. Mbok Tukinem hanya bisa mendampingi dan merawat sang suami sambil terus berdoa dan bertasbih. Lalu Imam Sindhunata bertanya bagaimana mungkin Si Mbok bisa begitu tahan menderita. Di masa muda susah, di masa tua tetap saja menderita. Sindhunata tertegun ketika hal ini ditanyakan kepada si Mbok Tukinem dan dijawab "sakersanipun Gusti, kula nampi mawon", yang artinya "terserah Tuhan, saya hanya menerima". Mamma Miiiiaaaaa..... tak ada perlawanan sama sekali kendati kesusahan terus mendera. Tak mengeluh sembari terus mengabdi pada hidup dan Tuhannya. Si Mbok Tukinem ada dalam situasi sacrum facere. Dia mampu mengasihi dalam penderitannya sendiri.

Anda mungkin akan berpikir bahwa sacrum facere sepenuhnya hanya dapat dilakukan oleh yang Ilahiat. Anda benar karena KASIH adalah kuasa Ilahiat tetapi justru karena kuasa itulah maka sang Ilahi berkenan agar sifat ini dimiliki oleh manusia. Seumpama presiden Obama punya USAF One sebagai pesawat kepresidenan di AS tetapi dia berkehendak agar semua rakyat AS memilikinya juga. Persoalannya adalah apakah mereka itu mau atau tidak? demikian pula KASIH. Sang Ilahi mau kita memilikinya. Saban kali diulang-ulangnya keinginanNYA itu. Sayangnya, sabankali pula manusia menolak memiliki kasih. Kalaupun dimilikinya maka itu cuma sekedar lips service. Mengapa demikian? ternyata manusia tak mau membayar harganya kendati mampu. Ya benar belaka bahwa untuk memiliki KASIH ada bea-nya, yaitu mengalahkan diri kita. Menyangkal kehendak diri sendiri. Mencopot kecongkakan dan rasa utama diri sendiri. Dapatkah kita? Saya ragu kita mau karena adanya kecenderungan ke-aku-an yang tinggi pada diri setiap manusia. Perhatikan jalannya diskusi di TV-TV kita. Si Poltak bicara A, Si Anu menimpali dengan sangat keras lalu saling memaki. Kebenaran lalu ditentukan oleh kemahiran bersilat lidah. Kebenaran juga kerap ditentukan oleh kerasnya suara dan makian massa pendukung. dapat dimengerti sekarang, mengapa para demonstran perlu membawa pelantang suara dengan kekuatan yang berlipat-lipat dan dengan jumlah massa yang tak kalah berlipat-lipatnya? Supaya gema suaranya makin besar dan makin besar dan mengalahkan suara yang lain. Supaya anda mudah kali dikalahkan karena kalah jumlah. Maka tak heran, ketika mister SBY bicara naik BBM, Si Fulan menimpalinya dengan ancaman. Mister SBY curhat. Dibalas dengan tertawaan. Dan akhirnya mister SBY mememerintahkan: tentara siap keluar barak......nah lu.....Mereka semua, mungkin termasuk saudara dan saya, tak mau menyangkal keinginan kita sendiri.

Kemana arah posting ini? Apakah saya pro kenaikan BBM, lalu menyuarakan penerimaan ikhlas tanpa reserve kepada keinginan pemerintah? Apakah saya anti kenaikan BBM? Tidak begitu sob. Saya bukan siapa-siapa yang suaranya patut didengar. Sudah terlalu biasa suara orang seperti kami-kami ini diabaikan. Diberi harga kalo situ punya mau. Di anggap angin lalu kalo ga cocok sama situ punya kehendak. Karenanya, saya memilih untuk bersikap seperti Mbok Tukinem, yaitu menyerahkan kepada sang Ilahi (ingat bukan menyerahkan kepada SBY) ...."sakersanipun Gusti, kula nampi mawon". Mau kau naikkan itu harga BBM, apa boleh buat. Mau kau batalkan, ya monggo. Ya, kepada Tuhan sajalah saya mengadu. Jika DIA berkenan maka tak naiklah harga BBM itu. Tetapi jika DIA tak menghalang-halangi ya silakan saja naik itu harga BBM (dan semua harga-harga lainnya). Saya cuma ingin memiliki 1 kekuatan seperti yang dimiliki Mbok Tukinem kendati saya tahu itu amat sulit. Dalam diri saya selalu kuat semangat memikirkan diri sendiri. Ya, saya ingin terus berjuang agar memiliki cinta yang tak bertepi. Cinta yang sepenuhnya datang dari diri saya lurus terarah ke luar mengalahkan semua keinginan-keinginan pribadi. Cinta yang menghidupkan. Cinta yang hanya dimiliki DIA tetapi DIA mau saya, anda, kita semua memilikinya juga. Jika untuk mendapatkan kemampuan mengasihi dalam sacrum facere lalu menepi dan menyepi (agar dapat memahami rancangan DIA) adalah harga yang harus dibayar: saya bersedia dan mau. BBM: benar-benar mau?

Endless Love - Lionel Richie feat Shania Twain

Tabe Puan Tabe Tuan

Rabu, 29 Februari 2012

28 atau 29 tetaplah hari tetaplah waktu

Dear Sahabat Blogger,

Ketemu lagi kita di hari Rabu tanggal 29 Februari tahun 2012. Tanggal yang tidak diketemukan saban tahun karena fenomena tahun kabisat. Tentang hal ini saya kutipkan dari wikipedia: .... "29 Februari adalah hari ekstra yang ditambahkan pada akhir bulan Februari pada setiap tahun kabisat, yang merupakan hari ke-60 pada tahun kabisat dalam kalender Gregorian. Tanggal ini hanya ada pada tahun yang angkanya habis dibagi 4 seperti 1992, 1996, 2004, 2008, 2012, serta pada tahun abad (kelipatan 100) yang angkanya habis dibagi 400 seperti 1600 dan 2000. Tahun 1800 dan 1900 bukan tahun kabisat karena walaupun angkanya habis dibagi 4 namun merupakan tahun abad yang tidak habis dibagi 400". ... Begitulah sahabat, hari ini memang unik. Tetapi sesungguhnya mana ada hari yang tidak unik? Apakah ada hari yang sama persis? Jika jawaban anda tidak ada maka memang betul setiap hari sesungguhnya memang unik. Kalau begitu bagaimana dengan tanggal 29 Fabruari? Ya kita bilang saja unik pangkat 2. Beres.

Tetapi bukan hal ini benar yang ingin saya renungkan. Saya hanya ingin bermenung tentang bagaimana seharusnya kita berdiri di hadapan waktu yang kita beri tanda dalam satuan detik, menit, jam, hari, bulan tahun dan seterusnya. Saya mau mulai dari pertanyaan ini: apakah ada pengaruh panjangng tanggalan sebulan yang 28 hari atau 29 hari atau 30 hari atau 31 hari bagi kehidupan saya, anda, mereka dan kita semua? Anda pasti punya perspektif tersendiri tetapi bagi saya koq ya tidak signifikan selain bahwa kalau bulan dengan hari makin sedikit maka tempo mendapatkan gaji makin cepat. Sebaliknya jika bulan dengan hari yang banyak maka tempo mendapat gaji terasa sangat lama. Bikin susah. Maklum orang upahan rekipliek...ha ha ha ha....Dengan demikian kerumitan hitung-hitungan waktu dalam kalender Masehi baik baik Julian maupun Gregorian atau siapa tahu akan ada sistem baru lagi di masa depan bagi saya tidak begitu penting. Bukankah tanggal seperti sekarang akan datang lagi di masa depan seperti juga dia sudah pernah ada di masa lalu? Maka, hal terpenting adalah bagaimana mengisi waktu dengan berbuat ini dan itu atau itu dan ini. Mengisi waktu?

Di sinilah persoalannya, yaitu apakah waktu bisa diisi? Kalau begitu, apakah waktu itu? Benda apa itu: padat, cair ataukah gas? Pengertian umum memberi petunjuk bahwa waktu memilik 3 dimensi, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Akan tetapi perhatikan defenisi waktu menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses perbuatan atau keadaan berlangsung atau berada. Menurut defenisi tersebut, waktu adalah masa sekarang dan tidak berkaitan dengan masa lalu atau masa yang akan datang. Hal ini cocok dengan pendalapat fisikawan Australia, Paul Davies, bahwa waktu adalah keadaan sekarang. Kemarin dan besok hanyalah perspektif. Perasaan kita. Besok adalah sekarang yang belum terjadi. Kemarin adalah sekarang yang sudah terjadi. Jika waktu bagi kalangan awam adalah fenomena siklik yang bergerak dan berulang maka dalam konsep fisika, waktu sebenarnya statis. Ya, waktu tak pernah berubah dan kitalah yang berputar-putar mengelilingi waktu yang tetap itu. Tiap kali berputar mengelilingi waktu kita akan mengitung 1, 2, ..12...24, .. 28, 29 dan seterusnya. Bukan waktu yang baru melainkan kitalah. Bingung? Ya, antara ia dan tidak tetapi begitulah kebenaran menurut matematika dan fisika. Benar -benar begitu?

Ya, terserah andalah mau menerima konsep fisika waktu seperti itu atau tidak. Bagi kita, malam adalah waktu tidur. Besok pagi adalah saatnya untuk bangun dan bekerja. Telat masuk kantor maka hukuman atasan menunggu kita. Telat pulang rumah, isteri anda sudah menanti dengan wajah hitam merah ungu tak karuan. Kemarin dan hari ini Angelina Sondakh (kita duga) adalah "saksi dusta" siapa tahu besok dia kembali menjadi malaikat persis seperti namanya. Siapa yang perduli tentang filsafat waktu? Tak usah pusing bahwa 28 hari + 1 = hari ke - 29. Yang terpenting adalah bagaimana bersikap terhadap kenyataan waktu. Yang paling penting adalah teruslah bekerja di hadapan waktu. Bekerjalah sekarang agar bahagia hidupmu. Berbuatlah sesuatu supaya besok tidak perlu akan ada penyesalan dan kemarin adalah ceritera yang membanggakan. Bagaimana Boeng en Zoes?????


Tabe Puan Tabe Tuan

Jumat, 13 Januari 2012

bagaikan sandal kiri sandal kanan

Dear Sahabat Blogger,

Lama tidak ngeposting ternyata menimbulkan kerinduan untuk menulis. Apakah selama 2 bulan tidak menulis bahan posting baru sama artinya dengan saya tidak menulis sama sekali? Oh ya tidak begitu. Ada saja pekerjaan yang harus dilaporkan dalam bentuk tulisan panjang bahkan berhalaman-halaman. Semua saya kerjakan dalam "scientific realm". Sangat ilmiah: data, analisis, tafisr, bahas, simpulan, saran dan lalu, implikasi. Begitulah, berulang-ulang. Tagal tulis-menulis seperti ini bukan saja kapasitas akademisi dan keilmuan saya tetap tetapi dengan itu saya juga bisa melanglang buana ke sana kemari. Kemari kesana (bahkan sampai terkatung-katung beberapa hari di bandara Juanda, Surabaya). Tagal perkara ini pula saya bisa punya sedikit rejeki akhir tahun yang cukup untuk mengasapi dapur rumah. Cukupkah? Puaskah? Sejujurnya: tidak. Ada sisi lain dalam hati dan pikiran yang rindu untuk menulis sesuatu yang tak perlu ilmiah-ilmiah banget. Sesuatu yang ringan-ringan saja. Sesuatu yang bermula dari khlayalan dan lamunan semata lalu...whhuzzzz ...sreeeettt esret esret criiiing....jadilah sebuah tulisan sebagai bahan berbagi lewat posting di blogger.com ini. So, kedua naluri tersebut, yaitu untuk menulis ilmiah dan tidak ilmiah, tumbuh bersama dan bersisian. Tak ada yang lebih penting. Semua equal. Sejajar. Keduanya datang dari subyek yang sama. Orang yang sama (ya, saya inilah). Keduanya diperlukan. Dan, begitulah: jadilah tulisan ini

Di pagi hari ini, saya membuka hari dengan menulis 1 buah naskah untuk tujuan legislasi tatakelola tanaman cendana (Santalum album) di NTT. Sebuah naskah akademik. Saya menuliskan antara lain begini:

"....di masa lalu cendana dikelola sangat eksklusif, baik sejak masa abad I Masehi, masa penjajajahan, masa orde baru, bahkan sampai masa orde reformasi. Rakyat kehilangan hak atas cendana, bahkan yang tumbuh di lahan miliknya sendiri. Hasilnya adalah menghilangnya cendana dari lahan-lahan milik negara. Cendana diklaim hampir musnah. Dalam red list IUCN, sejak tahun 2006, cendana dikelompokkan sebagai jenis yang terancam punah. Cendana tidak lagi vital. Lalu apa solusinya? Berdasarkan hasil studi tahun 2010 dan 2011, cendana memerlukan sinergi antara pemerintah, swasta dan masyarakat supaya dia kembali vital. Mengapa semua pihak itu perlu terlibat? Jawabannya adalah karena kita memang memerlukan semuanya...."

Akan tetapi pagi ini juga, saya menyempatkan diri untuk menulis sesuatu di wall FB-nya Dolly Ballo, isteri saya, sehubungan dengan HUT perkawinan kami yang ke 26. Tepat hari ini. Tulisan itu sangat tidak ilmiah dan bunyinya begini:

Isteriku sayang, pernikahan kita ibarat sandal atau sepatu. Engkau bagian kiri (atau kanan), aku bagian kanan (atau kiri)-nya. Sebagai bagian kanan, engkau cenderung bergerak ke kanan. Sebagai bagian kiri, aku cenderung ke kiri. Kita ternyata tidak sama. Ketidaksamaan yang tidak mungkin di satukan bahkan oleh apapun dan siapapun juga. Bahkan oleh Penciptanya, kita berdua memang sudah dibikin secara terpisah. Engkau adalah sandal (atau sepatu) kiri (atau kanan) sedangkan aku adalah sandal (atau sepatu) yang kanan (atau kiri). Kita nyata-nyata berbeda. Mungkin itu sebabnya dalam namaku yang Riwu Kaho kita sering Ribut Kacau. Engkau adalah Ballo yang bisa dibaca sebagai Balau. Jika digabungkan maka nama kita berdua adalah Ribut Kacau Balau. Aneh dan memang kacau.....tetapi, hmmmm...nanti dulu...bukankah setiap pabrik akan memproduksikan sandal (atau sepatu) memang harus berbeda antara kiri dan kanan? Pabrik yang bikin hanya kiri atau kanan saja pastilah pabrik yang didirikan hanya untuk ditutup kembali karena merugi. Siapa mau beli hanya bagian kiri atau kanan saja? Bukankah setiap pemakai sandal (atau sepatu) selalu memakai sekaligus sepasang sandal kan? Yang kiri di kaki kiri dan yang kanan di kaki yang kanan. Mana ada pemakai sandal (atau sepatu) yang memakai salah satu saja karena pasti akan dianggap gila. Bukankah setiap pemakai sandal (atau sepatu) akan memakai sandal kiri dan sandal bersama-sama kan? Mana bisa orang pakai sandal hanya untuk kaki yang satu saja? Dia akan dianggap bodoh. Lalu, bukankah setiap pemakai sandal (atau sepatu) akan menggunakannya menuju satu tujuan tertentu? Ke kantor, ke pasar, dan kemana saja, bahkan bisa saja tanpa arah tertentu. Sandal dipakai bisa untuk melindungi kaki dan bisa pula sebagai aksesori penarik perhatian. Maka....lihatlah di Kaki Pemilik-Nya, kita berdua yang berbeda dipakai sepasang. Engkau di kaki-Nya yang satu, aku di kaki-NYA yang lain. Di Kaki Sang Pemilik, secara kompak, kita berdua selalu digerakan secara bersama-sama ...srok srok tok tok...menuju Tujuan-NYA...srok sroookkk tok toookkkk. Kita memang berbeda tetapi sudah ditakdirkan untuk dipasangkan secara bersama-sama. Hari ini, kita diingatkan bahwa sudah 26 tahun kita dipasangkan dan dipakai-NYA untuk mewujudkan Tujuan-NYA....bersukurlah wahai sandal (atau sepatu) kanan (atau kiri)....terima kasih karena 26 tahun sudah kita bergerak berpasangan sama-sama.....Terima Kasih kepada-NYA karena kita dipasangkan.....teruslah melangkah ke depan kendati ribut kacau balau...srok sroookkk tok tookkk.....

Begitulah sahabatku sekalian yang budiman dan budiwati. Saya sudah menulis 2 perkara yang berbeda dengan pendekatan yang berbeda. Tetapi, seperti umpama tentang sandal dalam kutipan saya yang kedua di atas, saya memerlukan keduanya. Jikalau begitu maka saya ingin berbagi lebih lanjut. Ringkas saja:

Saya memilih untuk mengucapkan selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012 bagi semua yang merayakanya menurut keyakinan dan kesukaan masing-masing. Saya memilih untuk berucap telat karena saya memang ingin berbeda. Lho kok harus berbeda? ya tidak apa karena keinginan untuk berperilaku normal rerata dan ingin eksis eksentrik sama-sama ada dalam diri saya. Saya memerlukan keduanya. Tidak mungkin saya berangkat bertugas sebagai Majelis di Gereja memaka celana pendek. Gila itu namanya. Tetapi tahun lalu saya mempersentasikan sesuatu di antara deretan para petinggi Kementerian Kehutanan dan pakar-pakar pengelolaan DAS di Indonesia (yang tampil wangi, berdasi dan ber-jas) cukup dengan memakai jeans, jacket + topi kupluk. Saya disiuti dan ditertawakan oleh para hadirin dengan memanggil saya dukun atau preman. Saya cengar cengir saja dan tertawa saya semakin lebar ketika di akhir sesi adalah kesimpulan saya yang dipakai sebagai kesimpulan utama forum tersebut. Saya ternyata suka kedua-duanya. Yang rapih dan sekaligus agak urakan.

Mengawali tahun baru 2012, saya demam sakit panas tinggi. Lalu terdengar kabar seorang kerabat, Pak John Manulangga (salah seorang saksi pernikahan saya) berpulang pada tanggal 31 Desember 2011. Pada tanggal 1 Januari 2012 juga berpulang sahabat saya sekantor, Dr. Vincentius Tarus dan Dr. Jeremias Bunganaen (yang ini juga pernah menjadi dosen saya semasa S1 tahun 1981 yang mengajar matakuliah Fisika). Sebelumnya pada tanggal Pada tanggal 11 Desember 2011, rekan dosen saya Ibu Merry Kondi, MP berpulang. Kemudian, pada tanggal 11 Januari kemarin, pagi-pagi benar, saya mendapat sms dari Om saya (Stef Ratoe Oedjoe) yang mengabarkan bahwa seorang Tante saya, tante Mada Ratoe Oedjoe, berpulang. Tak lama kemudian datang pula sms dari sahabat saya di fakultas peternakan memberitakan bahwa sudah berpulang rekan dosen Ella Herewila Likadja, M.Sc. Waduh, semuanya berita buruk serta mendukakan dan menggetarkan hati. Tetapi pagi ini saya dibangunkan isteri saya untuk mengingatkan bahwa..."heiiii, ini hari HUT perkawinan kita". Perkara menggembirakan bukan? Lalu, apa yang bisa saya hindari dari barang perkara yang silih berganti seperti itu? Tidak ada dan tidak bisa menghindar. Saya harus menerima fakta bahwa kematian adalah resiko kalau mau hidup. Jika kematian adalah berita duka maka hidup adalah berita bahagia. Saya memang harus hidup bersisian dengan baik dan buruk. Sebuah lagu Kidung Jemaat berkata "..suka duka dipakai-NYA untuk kebaikanku....".....

Seorang sahabat saya menulis begini di e-mail saya "...jangan anda memaksakan sesuatu yang tidak nyata sebagai kebenenaran, anda mengkhianati nilai-nilai kebenaran ilmiah...". Oh rupanya dia keberatan dengan posting saya sebelumnya. Bagi teman ini, agama tidak rasional. Tuhan tidak ada. Saya teringat 2 tokoh besar dalam ilmu fisika, yaitu Albert Einstein dan Stephen Hawking. Einstein menemukan teori relativitas yang salah satu implikasinya adalah pernyataan bahwa ruang dan waktu itu relatif. Paul Davies, seorang fisikawan Australia, yang mendasarkan diri pada teori Eisntein menyatakan bahwa waktu tidak pernah bergerak melainkan obyek seperti kita. Waktu hanyalah persepsi dan imajinasi manusia. Maka Tuhan yang berbuat baik dan kekal selama-lamanya, dan itu pastilah Tuhan yang temporal, sulit diterima. Mula-mula, Hawking menulis dalam bukunya "a brief history of time" bahwa masih ada ruang bagi kemungkinan adanya sang pencipta. Belakangan, dalam buku mutakhirnya, yaitu "grand design", dia menegaskan bahwa tidak diperlukan tuhan sebagai pencipta karena semesta terbentuk karena peluang. Semesta hanyalah soal kerumitan probability fisika yang dapat dibuktikan melalui penelitian-penelitian di laboratorium dan pengamatan ruang angkasa dengan teleskop yang makin lama makin canggih. Einstein sendiri menjadi penganut agama kosmis yang menolak agama tradisi dan histori tetapi meyakini adanya "tuhan yang tidak pernah bermain dadu". Hawking murni atheis dan Davies kerjanya berusaha membuktikan bahwa Tuhan tidak ada (atau ada) dengan pendekatan fisika baru.

Masalah terbesar dari pendekatan induktif matematika dan fisika dalam berusaha "membuktikan" ada dan tidak ada Tuhan adalah fakta empirik. Ilmu pengetahun berkembang dengan 2 jalan sekaligus, yaitu deduktif dan induktif. Hal-hal besar diturunkan menjadi kesimpulan kecil dan dalam arah yang berbeda perkara-perkara kecil dipakai untuk menggeneralisasi perkara-perkara. Dengan perkataan lain, ilmu pengetahuan berkembang karena ada teori yang diverifikasi oleh pengamatan dan hasil pengamatan yang dikembangkan menjadi teori. Dalam pendekatan deduktif (jenis pengetahuan empiris - sesuatu benar karena teramat berulang-ulang), Tuhan akan dikatakan tidak terbukti ada karena tidak pernah terverifikasi melalui pengamatan. Tidak ada orang yang pernah melihat Tuhan. Seorang atheis pernah menyatakan bahwa "pizza yang lezat ini dapat saya ketemukan pembuatnya tetapi semesta yang diciptakan tuhan sulit diterima karena saya tidak pernah menemukan tuhan". Perhatikanlah bahwa dengan demikian hasil pengamatan adalah hasil "perabaan" panca indra dan panca indra adalah hal ichwal yang nyata-nyata ada. Bisa dilihat atau diraba atau diukur. Sementara itu dalam pendekatan induktif (pola berpikir a priori) adalah ilmu berkembang karena sekedar berpikir, membuat model atau rumus atau formula dan mengajukan hipotesis. Matematika adalah contoh terbaik pendekatan induktif yang tidak memerlukan bukti apa-apa. Nah, dalam kerumitan perhitungan matematika dan fisika, tidak ada sama sekali faktor Tuhan. Semua hal ada karena memang itulah yang bisa dipikirkan dan dirumuskan. Singkat kata, "karena Tuhan tidak dapat di rumuskan maka Dia tidak ada". Begitulah "nasib" Tuhan di tangan ilmu pengetahuan. Sudah tak bisa dirumuskan, tak bisa pula diverifikasi melalui pengamatan. DIA tidak ada. Betulkah?

Kaum atheis jangan senang dahulu karena saya ingin mengutip ucapan Stephen Hawking (SH) menyikapi kondisi sakitnya bertahun-tahun .... "Saya sangat beruntung, kondisi saya berlanjut lebih lambat dari kasus yang biasa terjadi. Tapi (situasi) ini juga menunjukkan bahwa orang tidak boleh cepat hilang harapan.".... Jikalau kata beruntung merujuk kepada probability (dan hal ini sesuai teori beliau) maka bagaimana dengan kata "harapan"?. Terbuat dari zat apa lalu terverifikasi dengan jalan apa sesuatu yang disebut "harapan"?. Dalam pernyataan beliau ketika berulang tahun ke 70, SH mengatakan bahwa "saya senang karena keluar sebagai pemenang dalam situasi saya". Hal yang sama ingin saya tanyakan: "senang" itu bahan yang terbuat dari apa? berapa berat, massa, kadar, CC, tinggi dll dll...???? Jikalau dikatakan bahwa umur alam semesta sekitar 14 milyar tahun yang ditandai dengan peritiwa "the big bang", maka apakah SH dan fisikawan hadir pada saat kelahiran semesta supaya benar-benar kesimpulan bahwa ada atau tidak adanya Tuhan datang dari pengamatan panca indra yang sah dan terpercaya. Jika dikatakan bahwa pola-pola bekerjanya alam semesta dapat diterangkan melalui "teori segala sesuatu" maka apakah di dalam kerumitan rumus-rumus matematika dan fisika yang digunakan sama sekali tidak terdapat asumsi? Harap tahu saja bahwa sejatinya matematika itu adalah hasil imajinasi manusia untuk merumuskan fakta-fakta. Bahkan senadaninyapun tidak ada fakta sepanjang bisa dirumuskan maka imajinasi adalah benar. Pertanyaananya adalah apakah imajinasi dan asumsi itu bebas dari bias? Bagaimana dengan formulasi bahwa setiap data rasio harus memiliki tingkat kepercayaan tertentu dan pada setiap tingkat kepercayaan selalu diamanatkan adanya batas-batas toleransi?

Jika banyak pengamatan kosmologi di dasarkan atas hasil penelitian kecil yang dapat dibandingan (seperti mencobakan obat untuk manusia kepada tikus terlebih dahulu) maka hampir pasti validitas dan reabilitasnya tergantung pada keyakinan. Mengapa demikian? Ya karena sesungguhnya dalam perspektif statistika inferensia (ilmu yang menyandarkan diri pada probabilitas) tidak ada data yang bebas bias. Selalu saja ada 1 - 5% yang kebenaran datanya tidak dapat ditentukan. Artinya, selalu ada kemungkinan 5 - 1% data itu salah kendati di lain pihak 95-99%nya diyakini pasti benar. Contoh, berdasarkan perhitungan Einstein dapatlah diciptakan mesin waktu yang dapat dipakai manusia untuk berselancar dalam ruang dan waktu. Sepanjgan anda dapat menemukan mesin yang mampu bergerak secepat kecepatan cahaya maka anda bisa pesiar ke masa lampau atau ke masa depan. Pembuat film di Hollywood pernah membius dunia dengan film yang berjudul "back to the future". Ternyata sampai hari ini mesin waktu itu belum dapat diciptakan. Kata pemuja ilmu pengetahuan yang atheis, aaaahhhh... itu soal waktu saja. Tentang ini, Stephen Hawking pernah menyatakan bahwa "jika perjalanan mengarungi waktu dapat dilakukan maka mengapa kita tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang berasal dari 1 milyar tahun yang akan datang". SH berasumsi bahwa di masa depan mesin yang bergerak dalam kecepatan cahaya sudah dapat dibuat. Kita pun menjadi tahu, kisah-kisah tantang adanya perjalanan waktu hanya signifikan di layar film. Tidak di dunia nyata. Demikian pula dengan ceritera tentang bertemunya orang-orang dengan makhluk alien atau UFO. Kebanyakan adalah dongeng yang dijual di layar bikinan aktor hollywood. Ajaibnya, banyak orang masih saja percaya bahwa semua hanya soal waktu. Jika belum ditemukan hari ini ya pasti besoknya besok besok besok besok. Yakin. Hakkul Yakkin. Ternyata ilmu pengetahuan mengandalkan diri juga pada kaya "keyakinan" yang tidak lain dan tidak bukan adalah kata standard kaum teistik dalam memahami adanya Tuhan. Agar sampai pada keyakinan maka yang diperlukan adalah imajinasi. Dalam ilmu pengetahuan imajinasi itu doformulasikan dalam angka-angka. Angka adalah simbol. Dalam religiusitas, imajinasi itu dirumuskan ke dalam ideal-ideal lalu ideal-ideal tersebut disimbolkan dalam kata-kata atau gambar-gambar. Harap diingat bahwa angka, kata dan gambar adalah datum atau data, yang artinya adalah informasi. Angka adalah data kuantitatif. Informasi adalah data kualitatif. Dalam hidup anda tidak mungkin hanya memilih 1 saja informasi. Menyenangkan jika anda tahu bahwa anda memiliki anak sebanyak 5 orang tetapi sangat membahagiakan ketika ke 5 orang itu adalah anak yang taat dan dengar-dengaran terhadap perintah anda. Lima orang menunjuk kepada aspek kuantitatif sedangkan taat adalah perkara kualitatif. Tak layak anda mempertantangkan hal tersebut karena setiap hari anda pasti berurusan dengan hal-hal kualitatif dan kuantitatif sekaligus. Mengutamakan yang satu sambil meremehkan yang lain berarti anda tidak utuh sebagai manusia. Anda hanya setengah manusia. Setengahnya? Jawab sendiri. Lalu, katakanlah kepadaku wahai sahabat terkasih, di antara ilmu pengetahuan dan religiusitas, siapa yang mengkhianati siapa? Siapa menghujat siapa? Siapa menertawakan siapa?

Maka, sekarang kita menjadi tahu bahwa dalam diri saya, anda, dan semua manusia hidup akan selalu ada secara bersisian hal-hal yang bersifat imanen (akal budi - filsafat kritis) dan trasendens (metafisika - filsafat spekulasi). Yang berpikir dan bernalar jangan menghina yang trasendens. Sebaliknya yang beriman dan berkeyakinan jangan merendahkan akal budi atau perkara-perkara imanen. Semuanya ada dalam diri kita kendati kedua hal itu berbeda bagai bumi dan langit. Seperti juga sandal yang kiri dan kanan yang dibikin bersamaan supaya dipakai secara serasi maka gunakanlah naluri imanen dan trasendens ada secara serasi. Itu manusiawi namanya karena manusia adalah makhluk paradoks yang tak sampai-sampai. Dia selalu ingin memahami sesuatu dengan semua potensi yang ada dalam dirinya, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Manusia suka berkhayal tetapi juga suka mengukur dan atau menimbang. Manusia bisa memahami dengan melihat dan meraba tetapi bisa juga tanpa melihat. Manusia bisa tertawa ketika melihat dan mendengar Sule beraksi di acara OVJ. Tetapi saya bisa tertawa hanya dengan membayangkan wajah "rada blo'on"nya pelawak Kadir. Saya menggunakan daya lihat dan daya dengar tetapi saya juga menggunakan daya berkhayal untuk mencapai tujuan tertawa senang. Persis seperti tamsil sepasang sandal, kiri dan kanan yang dipakai berpasangan oleh pemiliknya ke mana-mana. Sebuah Kitab Tua di dalamnya dapat dibaca begini "...kasihilah Tuhanmu dengan segenap hati dan segenap akal budi...". Itu keyakinan saya. Bagaimana anda? Ya terserah kamulah Boeng dan Zoes......

Tabe Puan Tabe Tuan

Jumat, 28 Oktober 2011

entropi yang meningkat, ALLAH yang kekal

Dear Sahabat Kristiani,

Berkegiatan bersama komunitas masyarakat dan organisasi masyarakat non-pemerintah perduli bencana selama 2 hari terakhir (25-26 Oktober 2011) di Hotel Kristal, Kupang memberikan pengalaman tersendiri. Bukan karena sebelumnya tidak pernah berbicara dalam topik pengurangan resiko bencana seperti itu....bukan.....sudah sering gitu-gitu......tetapi ada hal yang menggelitik terkait 2 pernyataan dalam acara tersebut:

.... "bencana selalu ada, kita harus waspada, seperti kami di Noebesa tahun ini kurang sekali panen karena terlalu kering. Dahulu waktu bencana banjir bah di jaman Perjanjian Lama, untung ada Nabi Noh yang bikin kapal besar. Itu bukti bahwa pengurangan resiko bencana sudah ada dari dulu" .... (mantan kepala desa Noebesa, TTS yang desanya terancam longsor) ...

... "ada berita orang di Noebesa mati karena kelaparan, tapi waktu pak Gubernur dan kami berkunjung ke sana ternyata biar masyarakat mengalami kekeringan tetapi mereka masih bisa kasi kita makan ubi yang mereka simpan" ... (pejabat badan penanggulangan bencana daerah, NTT) ...

Di mana menariknya? Pertama-tama, tampaknya terjadi 2 tolok ukur atau variabel indikator bencana. Masyarakat desa menanggap bahwa dengan kegagalan panen mereka terancam lapar sementara bapak pejabat berpikir bahwa selama masih ada yang dimakan maka belum terjadi kelaparan. Supaya lebih jernih maka saya ingin memberikan 2 pertanyaan kepada masing-masing tokoh tersebut. Kepada bapak mantan kades Noebesa saya akan bertanya: "mengapa harus merasa terancam jika nyatanya masih ada ubi untuk dimakan?". Kepada bapak pejabat daerah saya akan bertanya: "apakah bapak bisa memastikan ubi yang dimakan oleh bapak gubernur dan rombongan bukan ubi terakhir yang mereka punya?". Saya sendiri, dalam acara itu, lalu memberikan jawaban sebaik-baiknya menurut perspektif ilmiah tentang resiko bencana, kerentanan, kapasitas, adaptasi, mitigasi dan cara menilai suatu ekosistem. Tapi posting saya kali ini bukan tentang jawaban-jawaban saya seperti yang dimaksud tadi. Saya ingin berbicara hal yang lain. Sama sekali tidak ada hubungan dengan percakapan 2 orang di atas? Ada. Sedikit. Sadiiikiiiii sa. Sapo'ong, kata anak Kupang. Bagaimana ini? ya beginilah:

Pak mantan kades sudah berbicara tentang keadaan dahulu dan sekarang yang tetap saja sama. "Ada ancaman tetapi ada tindakan berjaga-jaga". Bapak pejabat daerah juga berbicara tetang sesuatu yang menunjuk suatu situasi "ada ancaman tetapi jangan kuatir karena dari dulu sudah biasa begitu". Kedua orang itu telah bericara tentang sesuatu yang sifatnya tetap. Sambil menunggu sesi berikutnya, saya melamunkan satu hal, yaitu hukum kekekalan energi dan entropi sistem. Hukum I dan II thermodinamika. Hukum bak Abang dan adik.

Tentang kekekalan energi, hukum yang mengaturnya dikenal sebagai hukum I thermodinamika. Bunyi hukum tersebut adalah sebagai berikut: "Perubahan energi internal dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan perbedaan antara panas dipasok ke sistem dan jumlah kerja yang dilakukan oleh sistem pada sekitarnya". Ruwet? mungkin tidak tetapi biasanya hukum ini akan dibaca juga sebagai energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan hanya dapat ditransformasikan. Energi dari radiasi matahari diubah menjadi energi biokimia di dalam tubuh tumbuhan yang berfotositesis. Makhluk hidup yang memamakan tumbuhan akan mentransformasikan senergi di tumbuhan menjadi dalam tubuhnya maisng-masing. Energi yang terbuang karena panas misalnya akan ditransformasikan menjadi energi lingkungan. Inilah kekekalan energi. Hukum ini, pada awalnya sangat ditentang oleh gereja di masa pencerahan sebab jika benar demikian maka tidak akan ada kiamat. Dan hal ini bertentangn dengan ajaran gereja. Belakangan, kelompok ateis menggunakan juga hukum ini untuk menolak adanya penciptaan karena energi bersifat kekal maka tidak diperlukan pencipta. Semesta raya dan energinya sudah ada dan akan selalu ada. Waduuuuhhh.......

Datanglah kemudian hukum II thermodinamika yang mengatakan bahwa "Panas tidak dapat secara spontan mengalir dari lokasi yang lebih dingin ke lokasi lebih panas". Maksudnya apa nih? Jika anda punya 1 buah benda yang panas dan 1 buah benda yang dingin, misalkan anda punya 1 gelas berisi air panas dan 1 gelas lainnya berisi air dingin. Jika anda campurkan air di gelas-gelas itu maka anda tak lagi memiliki air panas dan air dingin. Air yang panas kehilangan sebagian panasnya karena ditransformasikan ke dalam air yang dingin. Lalu, air yang dingin mendapatkan kenaikan suhu akibat transformasi itu. Mereka bertemu pada satu titik suhu rata-rata yang tidak panas tetapi juga tidak dingin. Hangat (kalau pesan minuman di warung selalu saya bilang ....."teh hangat 1"... wkwkwk). Mengapa demikian? Efek perataan. Apakah suhu hangat air tadi sudah merupakan suhu panas + suhu dingin dibagi 2? Tidak begitu. Ada panas yang hilang karena menguap selama proses pencampuran. Inilah yang, dimaksudkan dengan, kurang lebih, entropi. Bagaimana membayangkan yang dimaksudkan dengan entropi? Jika kedua gelas tadi anda letakkan berjauhan maka kemungkinan hanya sedikit panas yang berpindah dari gelas berair panas ke gelas berair dingin karenan sebagian besar akan diuapkan menuju lingkungan. Akibatnya, hanya sedikit panas yang tersedia di gelas-gelas itu. Maka, dikatakan bahwa sistem panas di gelas-gelas tadi dalam keadaan kacau (entropi) karena tidak lagi panas. Semakin anda menjauhkan gelas-gelas itu (mengisolirnya) maka makin sedikit panas yang tersedia. Dapat dikatakan juga entropi dikedua gelas tadi meningkat menuju maksimal. Implikasi hukum II thermodinamika cukup menyenangkan bagi kaum teistik karena memberikan pintu kemungkinan adanya kiamat (kalo Ki Amat sih banyak di Bogor dan sekitarnya.....ha ha ha).

Bagaimana hubungan di antara hukum I dan II thermodinamika? Menurut info yang saya peroleh, hubungan keduanya baik-baik saja (kemarin keduanya terlihat sedang ngobrol minum kopi bareng dech...wkwkwk...). Jika diperhatikan baik-baik, tetapi salah dalam mengintepretasikannya, kita mungkin akan mengatakan bahwa keduanya saling bertolak belakang. Hukum I mengatakan bahwa energi itu kekal lha mengapa kok adiknya, si hukum II, berani-beraninya memberikan petunjuk bahwa energi bisa hilang....nakal banget kamu itu ya.... Betul begitu? Sebenarnya tidak. Posisinya tetap, yaitu energi itu kekal adanya (hukum I) tetapi preferensinya adalah aliran energi itu menuju 1 arah dan tidak bisa kembola-kembali (irreversible). Sepeda motor anda ketika dijalankan harus diisi energi (bensin) kan? Di dalam mesin motor anda, bensin tadi diubah (dikonversi) menjadi tenaga (kenceng dah jalannya motor anda itu) dan juga .... asap. Nah, dititik ini hukum II thermodinamika berperan, yaitu bahwa tenaga motor dan asap tidak bisa diubah kembali menjadi bensin (saya tantang Deddy Corbuzier untuk mengubahnya secara hitam putih kalo dia bisa....wheeeeaaaa ha ha ha...). Makin kenceng dan makin berasap maka bensin makin cepat habis. Entropi meningkat. Jika tidak ada penambahan energi maka mesin motor anda akan mati. Rencana menjemput pacar kocar-kacir sudah tuh. Entropi maksimal.

Lalu apakah tentang entropi ini adalah maksud posting ini? Tidak persis begitu. Yang ingin saya katakan adalah berikut ini. Perhatikan baik-baik ya sobat.....kesan bahwa hukum I dan II thermodinamika saling bertentangan sebenarnya karena disebabkan kesalahan dalam memberikan intepretasi. Hukum I thermodinamika sering disebut sebagai energi itu kekal, tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Padalah yang dimaksudkan sebenarnya adalah sekali energi itu diciptakan maka, menurut pengamatan, energi aktual itu konstan. Mengapa dikatakan demikian? karena ilmu pengetahuan selalu harus bertumpu pada pengamatan sedangkan pengamatan belum sama sekali membuktikan kata "tidak dapat" dan atau sebaliknya, "dapat". Dengan demikian sejatinya tidak ada kekekalan dalam pengertian akan selalu ada selama-lamanya (itu sebabnya ilmuwan memprediksikan bahwa mungkin sekitar 8 - 10 milyar tahun lagi matahari akan kehabisan energinya dan pada saat itu tamatlah galaksi bima sakti kita). Kalau begitu konstruksi permasalahannya maka hukum II thermodinamika, si adik, terhubung dengan hukum I, si abang. Energi potensial yang konstan itu akan dikonversi menjadi aneka rupa energi kinetik tetapi di dalam proses konversinya selalu akan terbentuk energi yang tidak bisa dimanfaatkan lagi. Karena itu pemakaian energi akan menyebabkan kekurangan energi dalam bentuk yang bisa dipakai dan anda akan mengalami "kekacauan sistem" kecuali anda menciptakan energi baru. Anda, saya dan kita semua selalu membutuhkan penciptaan energi.

Jika konstruksi tadi dapat diterima maka pertanyaannya adalah siapakah pencipta energi? Teistik maupun ateistik bisa berdebat tetapi 1 hal yang disepakati adalah selalu diperlukan energi yang konstan. Dan selama ini diakui bahwa tidak ada 1 pun mesin yang bisa bekerja secara konstan dan efisien KECUALI adanya sesuatu yang MISTERI yang berfungsi sebagai PENGADA (the first uncaused cause - Bertrand Russel). Dalam perspektif kaum teistik, kita akan menyapa Sang Maha Pengada itu sebagai TUHAN yang tidak memerlukan pengada lainnya. Saya membaca kesaksian di dalam Alkitab bahwa:
Even before the mountains came into existence, 1 or you brought the world into being, you were the eternal God (Psalm 90:2 - Nett Bible)

Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah (Mazmur 90:2 - Alkitab, TB, LAI, 1974)

Sadèrèngipun redi-redi katitahaken, inggih sadèrèngipun Paduka ngawontenaken bumi lan alam jembar, wiwit kelanggengan dumugi kelanggengan, Paduka jumeneng Allah (Mazmur 90:2, Injil Bahasa Jawa, 1994)

Happy Sunday. God bless you all,


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 02 Oktober 2011

tentang pancasila (1 x lagi)

Dear Sahabat Blogger,

Berikut ini kutipan berita dari HU Timor Express, Kupang (merupakan anak perusahaan Jawa Pos Grup) yang terbit pada hari Minggu tanggal 02 Oktober 2011.

Sehari jelang penutupan Sidang Sinode GMIT XXXII suasana sidang cukup memanas begitu memasuki agenda pemilihan Kertua Majelis Sinode (MS) GMIT. Lewat proses pemilihan yang cukup demokratis akhirnya Pendeta Robert Stevanus Litelnoni yang akrab disapa Bobby Litelnoni unggul atas dua calon Ketua Sinode GMIT lainnya, Pendeta Merry Kolimon dan Pendeta Mesakh Dethan. Pendeta Bobby meraup 155 suara, Pendeta Merry 97 suara dan Pendeta Mesakh Dethan 22 suara. Jumlah pemilih yang menyalurkan hak pilihnya sebanyak 274 pemilih, terdiri atas 261 dari jemaat-jemaat dan sisanya dari Majelis Sinode GMIT dan BPPPS. Selain ketua, untuk posisi wakil ketua, adalah pendeta Welmintje Kameli-Maleng, Sekretaris Pendeta Benyamin Naralulu, Wakil sekretaris Ince Ay-Touselak dan Bendahara Wem Nunuhitu. Sementara anggota-anggota adalah Bidang Pendidikan Ayub Titu Eki, Bidang Hukum Inche Sayuna, Bidang Ekonomi Sofia Malelak-de Haan, dan Bidang Politik Paul Liyanto.

Apa yang istimewa dari berita itu sehingga dijadikan sebagai pembuka posting? Sebenarnya tidak istimewa amat kecuali bahwa berita itu berkaitan dengan Sidang Sinode GMIT ke 32 yang diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Banyak agenda, ini dan itu, salah satunya tentang Rencana Induk Pengembangan (RIP) GMIT periode 2011 - 2020 dan Haluan Kebijakan Umum Pelayanan (HKUP) GMIT 2011 - 2015. Kedua dokumen ini adalah dokumen perencanaan, yaitu yang berjangka panjang (RIP) dan berjangka menengan (HKUP). Saya sebagai warga GMIT yang baik, terlibat sangat aktif pada perkara RIP dan HKUP tersebut. Saya adalah koordinator tim penulis draft kedua dokumen itu - harap maklum, koordinator artinya "jongos" paling besar. Jika untuk menulis naskah seperti itu pada urusan "sekuler" saya dibayar ber-jut-jut maka tidak untuk RIP dan HKUP GMIT. Itulah perpuluhan saya untuk GMIT. Semua demi Tuhan dan Jemaat-NYA. Oh, ya tentang dokumen perencanaan ini tidak banyak perdebatan. Pleno untuk pembahasannya cuma memerlukan waktu sekitar 30 menit. Saya mencatat reaksi seorang peserta sidang ..."dokumen yang berat dan bikin kepala sakit, karena itu tidak usah lama-lama dibahas, terima saja"....whussszzzz....itukah istimewanya berita dalam TIMEX di atas? TIDAK. Bukan itu melainkan ini.

Perhatian saya ada pada komposisi para petinggi GMIT yang terpilih. Ketua MS GMIT adalah seorang warga GMIT keturunan Tiongkok. Demikian juga untuk nama Inche Sayuna dan Paul Liyanto. GMIT adalah gereja yang tidak punya persoalan dalam urusan pembauran. Semua yang ada adalah milik Sang Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus. Tak perduli dari mana engkau berasal. Selanjutnya dalam susunan di atas terdapat 3 orang dari suku Rote (Messakh Dethan , Ince Ay-Touselak dan Sofian de Haan), 1 orang bersuku Timor (Ayub Titu Eki), 1 orang bersuku Sabu (Benyamin Naralulu), 1 orang bersuku Alor (Welimince Kameli - Maleng) dan 1 orang campuran Sabu + Rote (Wem Nunuhitu). Komposisi di atas mewakili kelompok etnolingusitik yang berbeda yang merupakan mayoritas anggota GMIT. Mantap dan asik. Indonesia banget. Indonesia? Ya iya memang begitu. Agama, dalam hal GMIT adalah Kristen Protestan, terbukti mampu menyatukan keberagaman menjadi 1. Bhineka Tunggal Ika. Jayalah Indonesia. Jayalah Pancasila. Benar begitu? Jangan terburu-buru. Perhatikan yang berikut ini.

Di Kupang, pada November 1998 pernah pecah kerusuhan yang bernuansa agama dan etnik sealigus. Agak aneh ketika itu karena kendati mereka yang menjadi sasaran amarah massa memang adalah kelompok beragama yang berbeda dari mayoritas penduduk Kupang tetapi yang tergolong kaum pendatang yang berbeda etnik. Hampir tidak serangan massa kepada mereka yang beragama berbeda tetapi dari kelompok etnik yang sama. Kesannya ketika itu adalah anti Bugis dan Jawa. Di Makassar nyaris saban bulan kita membaca dan melihat siaran televisi bahwa mahasiswanya gemar berpukul-pukulan hanya karena beda fakultas padahal dalam suku yang kemungkinan besr sama dan agama yang juga kemungkinan besar sama. Di Papua, saban tahun kita mendengar dan melihat orang dari suku yang berbeda pada agama yang sama saling berperang sedemikian rupa sehingga baru akan berhenti jika jumlah yang mati berimbang antar 2 kubu. Selesai berperang, batu dibakar untuk perdamaian. Dua atau tiga tahun kemuduan ehh.....berperang kembali. Bakar batu lagi. Kasihan si batu, dibakar-bakar. Di Jakarta, orang yang tinggal bersebelahan kampung pada kelompok yang mungkin berlatar belakang etnik yang sama atau berbeda tetapi pada agama yang kemungkinan besar bisa tawuran secara berkala bertahun-tahun lamanya. Di Jakarta orang pada kelompok etnik betawi yang sama dan agama yang hampir pasti sama bisa saling tawuran hanya gara-gara berebutan "lahan garapan". Di Ambon, kerusuhan antar orang-orang dari kelompok agama yang berbeda kumat kembali dan nyaris membesar. Di Cikeusik, perbedaan keyakinan menyebabkan orang bisa membunuh sesamanya pada kelompok etnik yang sama. Di Bogor, walikotanya sama sekali tidak takut akan pelanggaran hukum dan HAM karena dia berbeda keyakinan dengan orang-orang yang bergereja di GKI Yasmin. Di Solo, sebuah gereja kesusupan orang yang lalu meledakan bom bunuh diri dimana orang ini jelas-jelas mengusung faham radikal dari agama yang berbeda dari jemaat yang beribadah di GBIS, Solo. ... silakan perpanjang daftar yang saya buat....kita akan tercengang dan tidak bisa mengerti bahwa di negeri yang berpancasila ini semua tindakan fasis seperti itu bisa terjadi.

Maka, maaf saja, Bung Karno dan para founding fathers republik ini masih tidak bisa tenteram di negeri atas angin karena Pancasila dan aforisme Bhineka Tunggal Ika-nya itu dikuyo-kuyo nyaris setiap seolah-olah negara tidak ada. Bahkan ketika sekelompok orang yang menamakan gerakan tertentu rajin melakukan pawai massal sambil menerikan slogan "ganti pancasila dengan prinsip negara khalafah", negara cuma bisa diam. Ketika sekelompok orang rajin melakukan sweeping dan kekersan atas nama syariah tertentu, negara juga diam tak banyak ambil tindakan. Presiden SBY mengancam membubarkan tetapi Kapolri dan Mendagri malah bertetangan dengan presidennya. Pancasila kelihatannya kurang sakti lagi belakangan ini. Mengapa demikian?

Saya menawarkan 3 faktor penyebab yang saling bertaut sebagai hipotesis: 1) materialisme dan materialistik telah menggurita di negara pancasila ini sehingga tak ada cukup ruang bernafas bagi perkara-perkara spiritualitas seperti pancasila. Kehormatan, keterkenalan, kekayaan dan kekuasaan yag bersifat money oriented telah menggerus semangat pancasila dari pikiran warga bangsa; 2) Demokrasi transaksional telah memberikan ruang yang besar bagi perilaku materialistik. Di mulut dan slogan para elit berteriak tentang idealisme karena nilai agama, nilai budaya dan demokrasi itu sendiri tetapi perilakunya adalah hedonis sejati. Mana ada partai yang bebas korupsi dewasa ini?; 3) Politik aliran simpang siur yang akhirnya menyimpang terlalu jauh dari mainstream jiwa politik pancasila yang diusung negara. Adalah wajar jika dalam dunia perpolitikan terdapat 3 aliran besar, yaitu politik garis kiri, politik garis tengah dan politik garis kanan. Tetapi dalam praktek sebenarnya semua aliran politik akan bergerak mendekat ke arah tengah sesuai dengan ideologi negara. Tetapi tidak di Indonesia, mereka yang mengaku kiri tiba-tiba berada di tengah sembari mencuri. Lihat saja tokoh-tokoh yang di awal reformasi mengaku kiri nyatanya sekarang bergabung ke pusat kekuasaan dan akhirnya mencuri. Lihat pula mereka yang katanya di kanan tetapi tiba-tiba bergabung bersama yang di tengah. Mencuri juga akhirnya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang di tengah? Sami mawon mencurinya. Lalu semua mereka itu, guna mencari muka ke konstituennya, pura-puralah menutup mata ketika tuntutan aneh-aneh dari konstituennya merebak di ruang publik. Inilah politik aliran simpang siur tidak keruan dan melemahkan negara. Elitnya lebih sibuk memikirkan koalisi strategis dan melupakan Pancasila. Saya melihat di televisi dengan amat sedih ketika baik masyarakat umum maupun para pejabat serta selebritas sampai berlepotan mulut ketika diminta untuk menghafalkan rumusan pancasila. Amburadul. Pathing kranthil. Tidak keruan. Kacau. Rotsooi segh. Overdomez....ha ha ha.....

Saya tiba-tiba kembali terkenang almahum Franky Sahilatua yang berpulang beberapa bulan yang lewat. Dia menuliskan sebuah lagu dengan judul "Pancasila Rumah Kita". Beberapa waktu yang lalu saya sudah menyertakan lagu ini dalam posting saya. Sekarang, tanpa ragu sedikitpun, saya mempostingnya kembali. Denagn begitu saya mengingatkan diri saya sendiri dan lalu juga kepada sahabat semua bahwa Pancasila masih amat perlu bagi kita di Indonesia. Pancasila adalah nilai dasar bagi Indonesia. Tanpa pancasila maka kita bukan lagi Indonesia. Percayalah Bung en Zoes.

Sekarang nikmatilah lagu "Pancasila Rumah Kita" karya Franky Sahilatua tetapi dinyanyikan oleh kelompok banyak orang dari Jakarta dan Jogjakarta (terima kasih banyak untuk malasbanget.com yag membuat video ini).

Pancasila Rumah Kita - Versi Kolosal #17an


Tabe Tuan Tabe Puan

Rabu, 21 September 2011

maunya puisi

aku, kau dan mereka bilang

Ketika kau bilang lanjutkan
aku bilang: sebaiknya tidak
tapi mereka yang banyak itu setuju dengan anda
: lanjutkan
Ya terserah

Ketika kau bilang tak perlu marah sama Malaysia
Aku bilang: sombonglah dikit
Tapi tampaknya mereka yang banyak itu setuju dengan saya:
: marahlah sedikiiit saja pun bolehlah....(betul betul betuuuuulllll.....)
Yaaaaaaa…..begitulah

Ketika kau bilang orang miskin berkurang
Aku bilang: betul begitukah bos?
Tampaknya mereka yang banyak itu setuju dengan yang saya lihat
: …hoooiiiiiii….banyak yang rebutan angpao lebaran sampe keinjek-injek tuh….
Yaaaaaaa…..mau bagaimana lagi

Ketika kau bilang akan memimpin perang melawan korupsi
Aku bilang: setuju banget 2011%, bukan cuma 100%
Tampaknya mereka yang banyak itu melihat:
…lho si anu si inu si fulan si koplo ... koq nyuri terus….koq diberi remisi terus
Yaaaaaaaa……aku bingung bos…….

Ketika kau bilang mau reshuffle…..
............?????
Ya terserahlah bagimana baiknya
Karena mereka yang tadinya banyak itu hanya bersisa 39% ….
Lanjutkan ………

Rio Febrian - SUDAH KU BILANG


Tabe Puan Tabe Tuan

Sabtu, 27 Agustus 2011

mudik! udik?

Dear Sahabat Blogger,

Salam, selamat pagi, siang, sore atau malam. Tergantung kapan waktunya anda membaca posting ini. Kali ini saya ingin mengobrol ringan tentang satu fenomena berskala nasional di Indonesia, yaitu mudik. Kata mudik sering tidak berdiri sendiri melainkan selalu didekatkan dengan Lebaran - hari raya besar kaum dan sahabat Muslim pasca Puasa - menjadi mudik lebaran. Konon kata tradisi ini hanya ada di Indonesia. Lalu karena pengaruhnya tidak hanya dirasakan terbatas internal sahabat Muslim melainkan juga seluruh bangsa maka tradisi mudik dianggap juga sebagai budaya bangsa Indonesia. Khas Indonesia. Tapi tahukah anda, apa arti kata mudik itu sendiri? Nah, untuk anda saya kutipkan beberapa persangkaan umum tentang arti kata mudik.

Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia (www.id.wikipedia.org)

Orang udik itu dulunya adalah sebutan orang betawi untuk pendatang2 yg kebanyakan berasal dari Jawa (sebelah timur jakarta). Biasanya kaum pendatang yg kebanyakan dari Jawa itu selalu pulang ke kampung halamannya saat hari raya, bila ada keperluan penting, atau karena pekerjaannya di jakarta sdh selesai. Dan para pendatang itu menyebut dengan istilah pulang kampung. Jadi itulah yg mungkin menyebabkan ada istilah orang kampung disebut sebagai orang udik. Yaitu karena mereka pergi ke kampung halamannya yg ada di timur (udik). Sampai sekarang istilah Mudik (menuju ke udik) sering dipakai untuk orang2 yg pulang ke kampung halamannya. Dan istilah mudik sekarang tidak terbatas hanya untuk orang yg berasal dari Jawa saja, tapi juga orang2 yg berasal dari daerah lain (Prast, 2008, www.id.answer.yahoo.com)

Mudik artinya hulu kalau di sungai, yaitu daerah disekitar mata air tempat darimana sungai itu berawal. jadi kalau orang mudik bisa diartikan kembali ke tempat darimana dia berasal. Karena banyak orang kota yang asalnya dari desa, maka kalau kembali ke desa disebut mudik (Chiprut, 2008, www.id.answer.yahoo.com)

udik=kampung=desa (Stovena, 2008, www.id.answer.yahoo.com)

Karena memang orang kampung itu Udik2.. mau bukti? udik itukan salah satu artinya NORA. tul ga?... Nah, coba lihat dan perhatikan...kalo ada orang dari kampung datang kekota besar (Jakarta,misalnya)...pasti noranya amat sangat. Bahkan ada juga orang kota yang udik, nah liat aja...(contoh ye..) ABG2 yang dari kota, kalo bawa HP..pasti digantungin dileher. apa itu ga nora (udik)? terkesan pamer...."nih, gw punya HP cuy..." (mending kalo HPnya bagus,nah kalo sudah Jadul banget...?) Udikkkkk.... (Rulland Y, 2008, www.id.answer.yahoo.com)
Begitulah sahabat blogger. Ada yang memahami mudik secara serius, ada yang terkesan di-smart-smart-kan, ada yang terkesan asal-asalan (mungkin agak menghina tuh....he he he). Ramai, seramai aktivitas mudik itu sendiri yang riuh rendah, lintang pukang, tak keruan dan heboh itu. Karena itu, supaya agak lebih "sunyi" maka saya mencoba mencari arti kata mudik di dalam KUBI (kamus umum bahasa Indonesia). Mudik adalah kegiatan meng-udik atau kembali menuju udik. Lalu, apa arti kata udik? Ternyata kata udik bersinonim dengan kata culun, desa, dusun, kampung, kampungan, lugu, pedalaman, dan pelosok. Antonim-nya adalah "kota". Dengan demikian kata "udik" memang agak negatif terutama bagi generasi "haree geneeeee". Lha busyeeeetttt ...... bener dong si Rulland dalam kutipan yang agak negatif tentang "mudik" seperti dikutipkan di atas. Benarkah? Mari kita lihat lagi hasil penelusuran lebih lanjut. Kata "udik" ternyata memiliki 3 arti, yaitu: sebagai bentuk kata benda maka udik bisa berarti hulu sungai. Jadi, mudik artinya kembali ke hulu sungai. Sebagai noun, "udik" juga berarti kampung. Dengan demikian mudik artinya kembali ke kampung. Tetapi sebagai kata sifat, adjectiva, "udik" berarti kurang tahu sopan santun, kaku dan canggung tingkah lakunya, serta bodoh. Nah lu, mudik bisa berarti kembali menjadi tidak sopan atau kembali menjadi bodoh....whaaaa ha ha ha...opo tumon?????

Begitulah sahabat, ternyata kata udik dan mudik, yang dalam dalam praktek kontemporer dewasa ini dimaknai sebagai budaya bangsa yang menunjukkan semangat guyub tinuyub itu, ternyata bisa bermakna sebaliknya. Dalam pengertian yang positif, mudik adalah budaya baik bangsa, yaitu ketika menjelang hari-hari baik orang-orang pulang kampung atau menuju "hulu" (asal muasal) mereka. Tali temali kasih sayang keluarga-keluarga yang terputus karena waktu dan jarak bisa bertautan kembali. Lama berpisah, tak terlihat muka lalu eeeallaaaa, nongol lagi dieee....ssiiipppp.....Silahturahmi terbangun kembali. Semua kembali menjadi satu (kecuali Bang toyibby yang sudah 3 lebaran gak mau pulang-pulang...wkwkwk..).

Tetapi ...heeiiii, perhatikanlah bahwa budaya mudik bisa juga bermakna sebaliknya, yaitu mudik hanya menunjukkan bahwa sebagai bangsa kita sangat gemar kembali dan kembali lagi pada ketidaksopanan dan kebodohan. Kita amat gemar berlarat-larat dengan kedegilan kita. Capek-capek belajar sampai menjadi insinyur, master dan doktor toh suka kembali menjadi bodoh dan tidak sopan. Capek-capek meniti karier mulai dari sekedar aktivis atau pedagang kecil lalu menjadi petinggi negeri alias pejabat eaaaalllaaaa koq ya ujung-ujungnya kembali menjadi maling nan bodoh dan tak sopan. Itulah kita. Begitulah wajah kita. Anda marah dengan hal ini? Boleh dan silakan saja tetapi lihatlah apa yang dilakukan oleh mister Gayus dan belakangan mister Nazarudin + kompatriotnya. Memalukan. Lihatlah berbalas "surat cinta" di antara penyamun dan presiden-nya. Sungguh tak sopan mereka tuh. Lihat pula bagaimana wacana penghapusan badan anggaran DPR tagal dugaan korupsinya. Sembarangan. Lihatlah si Profesor yang banyak menulis buku lhaaaa, tau-tau hasil jiplakan doang. Bikin mual perut saja. Udik banget. Lalu, lihatlah betapa tidak tahu malunya pejabat di Kementrian Nakertrans RI yang kok ya tega-teganya di hari baek, bulan baek begini, bulan puasa, masiiiiiihhhh juga nekad korupsi menerima suap dan tertangkap tangan oleh KPK...Sontoloyo.....dasar udik. Masih mau lagi? Nih gue kasikan deh. Coba liat tayangan investigasi di beberapa stasiun televisi yang menunjukkan betapa teganya kita..uuupppp kali ini bukan oleh para penggede tapi hhmmmm betapa hampir semua panganan jajajan yang kita makan, hampir pasti bercampur boraks, pewarna kimia buatan dan aneka racun lainnya hanya agar supaya awet dan atau enak dilihat. Jangan anda kaget jika sekali waktu anda makan di warung kaki lima di jakarta yang anda makan adalah daging bekas yang di daur ulang. Kita benar-benar menjadi bangsa pemakan bangkai...woooowwww jorok, tega, sadis dan ueeediiiiikkkkk banget .....sekali udik tetap udik...wkwkwkwkwk.....

Tapi sudahlah, kita ambil baiknya saja karena ini memang sekarang adalah hari baik bulan baik. Mudik adalah kebaikan. Karena itu, bagi semua sahabat yang mudik menuju kampung, tempat asal-usul mereka, saya ucapkan SELAMAT MUDIK. Jangan sampe tidak sopan dan bodoh di jalanan yaaaa ...... Semoga selamat, sehat dan sejahtera merayakan hari raya Lebaran di tempat tujuan, yaitu di Udik. Eh, omong-omong sebagai praktisi pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), ternyata sungguh memalukan bahwa baru hari ini saya tahu bahwa kata "udik" adalah sinonim kata "hulu". Kalau benar begitu maka daerah tangkapan air di hulu DAS adalah udik. So, pengelolaan DAS adalah urusan hilir dan udik duuunnkkk. Saya juga baru sadar apa sebabnya kosa kata Indonesia untuk menunjukan akivitas pergerakan lalu-lalang, yang terkadang bersifat tidak keruan, adalah hilir mudik. Pantas saja kalau pas saya sedang pusing memikirkan DAS yang rusak tak keruan, isteri saya suka berteriak....."woooiiii, jangan cuma hilir-mudik dong, mengganggu saja lu" ...... adddooohhhhhh, ternyata udik bener saya nih.....ghuuooblooogggg tenan......whaa ha ha ha ..... dasar udik ....


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 07 Agustus 2011

1 gubug 1 tikar 1 periuk: INDONESIA MERDEKA (perjalanan imajiner bersama Bung Karno)

Saudaraku sebangsa dan setanah air,

Siang itu suhu udara Kota Kupang terasa panas. Amat sangat panas. Dan juga berangin. Maklum, cuaca bulan Agustus di daerah tropika kering seperti di NTT. Tanggal 17 Agustus 2011 tinggal beberapa hari lagi ke depan. Di simpang jalan para penjual bendera merah putih kecil mulai bersliweran ...."bendera ko om?"... "bendera ko tante?"..."beli 1 dapat dua bos". "Indonesia merdeka ni"......luar biasa, nasionalisme dan naluri saudagar bercampur baur jadi satu...luar biasa....dan saya beli satu bendera kecil itu, ....5000 rupiah .... dan huuuppp...saya tempelkan di kaca mobil. Hanya dengan modal kecil, saya merayakan HUT Indonesia ke-66. Hanya lima ribu untuk sebuah bendera plastik Keciiiiillll.....cukupkah????? Saya kaget ketika mendengar sebuah suara menyapa saya (Heeii siapa ini? Bung Karno kah?). Ya, Bung Karno (BK) ada dan duduk di bagian kiri jok depan mobil. Sambil tersenyum beliau berkata...."bung mike, cukuplah itu".....

Lalu, sambil menemani perjalanan saya ke kampus, BK berceritera tentang untuk apa Indonesia Merdeka. Beliau mengutip sebuah pidatonya di depan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai pada tanggal 1 Juni 1945 (ahaaa... ketika saya bilang..."eh bung, itukan pidato anda yang kami kenang sebagai pidato kelahiran Pancasila?"....kata BK, " bung mike benar") berbunyi begini:

Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji f500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai meja kursi, yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu set, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu “meja makan”, lantas satu sitje, lantas satu tempat tidur. Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin.

Begitulah saudara ku sebangsa dan setanah air, Indonesia - yaitu saudara, saya, mereka, kita semua - mencapai kemerdekaannya. Kata BK, untuk merdeka yang diperlukan adalah tekad untuk merdeka. Lalu apa itu merdeka? BK memberikan jawaban telak, yaitu "political independence". Ya, kita hanya perlu untuk bertekad lalu mewujudnyatakan bebas untuk mengurusi diri sendiri di rumah kita, Indonesia, dengan pilar adanya bumi, adanya rakyat, adanya pemerintahan dan adanya pengakuan bahwa kita memang sudah merdeka. That's all about declaration of independence. Dan itulah yang dilakukan oleh BK dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia pada hari 17 bulan Agustus tahun 1945 Masehi. Hanya dengan modal tekad, mesin ketika tua untuk mengetik naskah proklamasi, dan bendera rajutan tangan seadanya kitapun merdeka. Dimulailah suatu proyek mega raksasa bersama seluruh nation yang ada di bekas daerah jajahan Belanda yang dinamakan Indonesia. Adalah kumpulan bangsa-bangsa Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian, Bali, Timor dengan modal apa adanya berani mengataan merdeka. Lalu dalam merdeka itulah, seperti kata BK, "kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal, dan abadi". BK juga memberikan perumpamaan lain yang sejalan dengan perkawinan tentang kemerdekaan. Menurut BK, kemerdekaan adalah jembatan ya sebuah jembatan emas menuju Indonesia yang jaya (ketika mobil melaju meilntasi jembatan Liliba, Kupang, BK menjawil lengan saya..."bung mike, seperti jembatan inilah kemerdekaan itu, tetapi lebih lagi karena terbuat dari emas)". Kosntruksi berpikirnya adalah jika perkawinan terjadi di antara 2 orang yang berbeda maka sesungguhnya perkawinan adalah juga seperti jembatan antara 2 orang. Itulah merdeka menurut BK. Lalu, di sinilah persoalan kita bermula.

Proyek bersama membentuk Indonesia, yang dianalogikan oleh BK sebagai suatu lembaga perkawinan atau jembatan, bukanlah proses pasti akan berhasil. Bukanlah barang yang kekal. Indonesia ada karena ada parapihak yang bersepakat. untuk ini dan itu dengan modal masing yang digabungkan. Indonesia ada karena semua nation sepakat menggabungkan modal mereka. sebagai saham. Semuanya saja memiliki modal. Tidak ada yang zonder punya apa-apa. Ada yang bermodal besar ada pula yang kecil. Si Panjul punya 1 gubug adalah pemilik proyek. Tetapi si Sartinem juga adalah juga pemilik proyek kendati cuma membawa 1 tikar dan 1 periuk (BK kembali mensiuti saya..."sssstttttt bung mike, dalam pidato saya nama mereka itu adalah Samiun dan Sarinem lho......", saya jawab...:lho Bung, katanya suka lihat kemerdekaan, nah boleh dong saya merdeka menggunakan nama?...BK tertawa dan bilang...."sontoloyo, dasar koppig"...). Melalui merdeka mereka sekarang dapat berkarya. Bersama-sama memperbaiki gubug, mengisi periuk mereka dengan makanan lalu tidur berpelukan penuh kasih di atas tikar yang 1 itu. Mereka bebas menjalankan rumah tangga mereka. Siapa tahu karena kerajinan dan kekompakan mereka lalu 1 gubug itu diubah menjadi gedung megah, tikar berganti tempat tidur mental mentul, dan alat memasak mereka berubah menjadi kitchen set yang lengkap dan megah. Bisa saja begitu jika perkawinan itu berhasil, yaitu ketika semua bekerjasama dan bermitra secara inklusif nan adil. Tidak saling mengklaim sebagai yang terpenting. Setara. Sebaliknya, perkawinan ini akan gagal manakala Panjul tidak mengijinkan Sartinem berteduh di dalam gubug, cukup di emperan saja. Sartinem membalas dengan tidak mengijinkan Panjul tidur di tikar dan makan dari hasil tanakan nasi dari periuk. Cukup sebulan dua, rumah tangga Panjul dan Sartinem pasti bubar. Jembatan dirusak karena ada yang merasa sebagai penguasa besar di situ, yang lain tidak boleh lewat. Apa point penting kebehasilan proyek Indonesia?Kesetaraan sebagai pemilik proyek. Tak boleh ada pihak yang merasa lebih istimewa dari yang lainnya lalu memonopoli kemerdekaan. Jangan karena merasa besar di NKRI lalu anda boleh merampas kemerdekaan pihak yang lebih kecil. Jangan ada penjajahan anak negeri oleh anak negeri yang lainnya. Jangan memperlakukan anak negeri yang satu berbeda dari anak negeri yang lainnya. Jangan ada monopoli kebenaran. Bandingkanlah dengan kondisi Indonesia kontemporer. Sebagian masyarakat merasa memiliki hak eksklusf untuk men-sweeping warga lain yang berbeda cara pandangnya. Ketika si A mencuri 2 buah kakao di kebun tetangga, cepat sekali dia di proses dan masuk bui sekian bulan lamanya. Sementara ketika si B yang membobol bank atau mencuri uang proyek untuk membiayai hasrat politik dibiarkan bebas menebar sms melalu HP mewah dari negeri antah berantah.

Singkat kata, ketika Indonesia berubah menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal maka jangan heran jika jembatan emas kemerdekaan itu tidak lebih dari jembatan kayu dari bahan kapuk randu yang rapuh. Ketika satu pihak merasa lebih berkuasa dari yang lainnya, lebih superior di dalam republik ini atau merasa memiliki hak paling istimewa di Indonesia maka percayalah selalu ada pihak yang akan berpikir bahwa ... "ok, baiklah kalau begitu maumu maka marilah kita berpisah baik-baik. Tidak baik-baik juga apa boleh buat". Timor Timur, yang berdasarkan fakta sejarahnya memang bukan bagian eks Belanda, memilih untuk bercerai. Aceh memilih jalan perkawinan dengan 2 kesetiaan. Irian, dan belakangan disebut Papua, merasa jika bercerai mereka akan lebih bahagia. Ben Anderson pada tahun 1999 memberikan catatan bahwa Orde Baru pernah memangsa pihak-pihak yang bersepakat dalam proyek indonesia menurut ukuran yang dibuatnya sendiri. Orde baru menganak emaskan pihak-pihak tertentu dan membuat yang lainnya cuma sekedar tas plastik kresek. Hasilnya adalah kekacauan. Sesuatu yang terus saja terjadi dalam versi yang berbeda di masa reformasi sekarang ini dan kareanya kekacauan terus saja terjadi. Lagunya sama, aransemen berbeda. Mengapa demikian? Jelas dan tegas: Indonesia belum mampu menempatkan para pemegang saham proyek besar bersama ini dalam kedudukan yang setara. Demkorasi terpimpin hanya menghasilkan pertengkaran 3 pilar, yaitu BK, TNI dan PKI dengan meninggalkan korban jiwa yang amat besar akibat perseteruan itu (saya mendengar BK batuk-batuk...uhuuk uhuuukkk). Demokrasi Pancasila ala Soeharto hanya menghasilkan berkuasanya sistem Jawa sentrisme dengan pilar militer, Golkar dan saudagar yang rajin bertandang ke Istana. Demokrasi di masa reformasi hanya menghasilkan tukang pesolek yang egois di cetrum politik nasional dan raja-raja kecil narsis di daerah. Pancasila terjepit dan keselip entah kemana. Ada yang hanya bisa menghafalkannya tapi tak mampu melaksanakannya. Ada yang sudah tidak menghafal tidak pula menampakan semangat pancasila. Ada pula yang bersliweran di jalan raya membaya spanduk yang yang berisikan niat mereka untuk menggantikan pancasila dengan ideologi lain tetapi tidak diapa-apakan oleh pihak yang berwajib.

Parameter BK tentang keberhasilan kemerdekaan sangat jelas, yaitu Indonesia yang gagah, kuat, sehat, dan kekal abadi. Tiliklah diri dan dan lingkungan di sekitar kiri dan kanan anda lalu jawablah secara jujur sudahkah impian BK tentang Indonesia yang merdeka itu tercapai? Bendera merah putih kecil yang menempel di kaca depan mobil yang saya kendarai berbisik: .."bung mike, Indonesia memang merdeka tetapi sebagian besar rakyat kelimpungan hidupnya dan tidak gagah. Rumah Indonesia tidak begitu kuat karena tikus-tikus koruptor memakan tiang induknya. Bangsa Indoensia tidak terlalu sehat karena biaya kesehatan amat mahal. Jika rakyat berkeluh kesah maka ...gampaaaaang....di-Pritha-kan saja. Beres. Alam Indonesia amat permai tetapi tidak lagi lestari karena hutannya digunduli oleh maling-maling kayu' Lahannya berlubang dan rusak digali penambang zonder tau malu. Ketika saya melirik ke samping kiri untuk meminta pendapat BK, saya melihat beliau sedang tertunduk sambil menitikkan air mata. Katanya lirih dan nyaris tidak terdengar ..."bung mike, bukan Indonesia yang macam begini yang saya perjuangkan kemerdekaannya".....

"Indonesia Pusaka"(Broery)


MERDEKA TUAN MERDEKA PUAN