Jumat, 16 Mei 2008

Kasih Itu Kuat. Kuat Belum Tentu Kasih. Lemah Lembut Merupakan Gambaran Kasih. Kasih Tidak Berarti Lemah Lunglai. Kasih Kok Repot? (Part II)

Yesus berkata, ”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39).

Inilah kata-kata yang sangat terkenal yang dikatakan oleh Yesus kepada pengikut-pengikut-Nya. Inilah pula frasa kata yang kerap disalah-artikan oleh pembaca Alkitab. Friedrich Nietzsche (1844-1900), seoarang filsuf raksasa asal Jerman, yang berayahkan seorang Pendeta Gereja Lutheran, mengecam tradisi Kristiani yang menurutnya adalah tradisi kaum penakut. Para pecundang. Sebuah tradisi yang dibangun dari Iman yang lemah karena didasarkan pada kepercayaan terhadap adanya kehidupan setelah mati. Oleh karena itu, bersifat anti terhadap kehidupan. Pesimis terhadap kehidupan sambil bertamengkan Kasih. Lihatlah, betapa bodoh, konyol dan penakutnya manusia yang diajarkan untuk menyerahkan pipi kiri dan kanannya kepada musuhnya untuk ditampar tanpa melawan. Diam saja menunggu nasib untuk mati. Nietzsche mengatakan bahwa sikap lemaH seperti itu adalah sikap bunuh diri (suicidal). Mula-mula menghancurkan diri sendiri. Akhirnya, meluluh-lantakkan seluruh peradaban dunia.

Oleh karena itu, Nietzsche memprovokasi masyarakat di Barat, ketika itu, dengan filsafat: Tuhan Sudah Mati (Gott ist Tot = God is Dead). Ungkapan ini pertama kali muncul dalam bukunya Die fohhliche Wissenschaft dan juga dimunculkan kembali dalam buka lainnya, Also Sprach Zarathrustra. Gagasan ini disampaikan melalui narasi tokoh rekaan dalam bukunya, yaitu The Madman.


Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri.... Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu (pembunuhan Tuhan)?

Tagal gagasanya ini maka Nietzsche dijuluki sebagai sang pembunuh Tuhan. Nietzsche, yang menyebut dirinya sendiri sebagai bukan manusia tetapi dinamit, mengajarkan bahwa dunia yang punya banyak problem ini tidak memerlukan orang lemah tetapi Uebermensch atau Super-human. Orang-orang perkasa ini diperlukan untuk menghadapi hantaman badai dunia. Bahkan,
bila perlu, membunuh Tuhan yang amat perkasa itu. Manusia super ini sudah pasti bukan golongan sontoloyo yang nrimo meskipun dikuyo-kuyo. Mereka adalah antitesis dari manusia lemah yang diam saja meski ditindas dan malah minta untuk ditampar lagi pipi kirinya setelah pipi kanannya ditabok dan diludahi. Tragis. Masih ingat kelakuan sebagian terbesar masayrakkat Indonesia di Zaman Orde Baru-nya Bang Harto? Mereka diam dan tiarap saja tatkala di tindas. Tetapi, lihatlah ...amboooiiii....mamma miaaaa......ketika Mas Harto jatuh, atau dijatuhkan, mereka yang tiarap tadi , bangkit dengan tegak lalu membalas dendam. Dendam dibayar lunas sekalian dengan bunga plus bonusnya. Kejam dan bengis.


Budaya seperti itulah yang amat dibenci Nietzsche. Mau jadi apa dunia ini kalau dunia dipenuhi orang-orang dengan mental pecundang itu? Bayangkan, bila di tengah persaingan usaha yang tajam tiba-tiba seorang pengusaha datang dan berkata: ah, saya mengalah saja. Ambilah proyek itu untuk anda? Atau, di tengah kancah pertempuran yang dahsyat tiba-tiba, tanpa ada hujan dan angin, seorang panglima pasukan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan berkata: ambil saja wilayah kami. Kami mau pergi. Ah, kacau. Lebih kacau lagi, jika di tengah kemelut tekanan kejahatan, orang percaya berujar: ah, biar saja kejahatan berpesta pora. Mari kita masuk ke dalam kamar, berdoa dan bernyanyi saja. Kejahatan tidak usah dilawan. Bukankah hal ini cocok dengan prinsip Kasih? Bukankah ini sesuai dengan kata Yesus soal tampar-tamparan? Jika Nietshe geram dengan kelemahan, dan mungkin kita juga tidak setuju dengan sikap manda atau nrimo atau ia bae, maka apa alternatif kita? Mungkin kita terpaksa bergabung dengan Nietzsche. Lawan setiap tekanan dengan intensitas yang sama, dan bila perlu lebih dahsyat. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kekuatan dikedepankan. Bahwa kekerasan bisa menjadi efek dari pameran kekuatan, pusing amat. Itukan cuma soal konsekuensi. Si vis pacem parra belum. Barang siapa mau memiliki damai bersiaplah untuk berperang. Cocok? Belum tentu.


Charles Darwin, ilmuwan yang teorinya amat sangat kontroversial sampai hari ini, mengemukakan dalam buku The Origin of Species bahwa: berdasarkan hasil pengamatan empiris maka harus dikatakan bahwa ciri kehidupan yang terpenting adalah persaingan. Untuk bisa survive atau bertahan hidup, semua makhluk mesti berjuang. Dan siapa yang berhasil survive? Kata Darwin, yang survive adalah makhluk yang paling pas. Paling cocok. Paling paling fit dengan kondisi lingkungannya. Survival of the fittest. Bukan survival of the strongest. Yang bertahan hidup adalah yang paling bisa menyesuakan diri supaya cocok dengan lingkungan. Bukan yang paling kuat. Bumi pada masa jurassic dipenuhi oleh jenis-jenis yang paling kuat dan besar. Tapi hal itu tidak selamanya karena digantikan oleh zaman, di mana kuat dan besar justru merupakan kelemahan. Ketika atmosfir dipenuhi debu akibat bumi dihantam meteorit sehingga suhu bumi menjadi dingin berakhirlah masa kejayaan makhluk-makhluk raksasa dan perkasa, sejenis dinosaurus, brontosaurus, mastodon, dan sebagainya. Sebaliknya, justru makhluk-makhluk kecil dan lebih lemah sebangsa kura-kura, buaya, dan biawak — dan sudah barang tentu, manusia, yang lebih fit – lebih mampu bertahan karena lebih mampu menyesuaikan diri. Pertanyaannya adalah makhluk macam apa yang paling fit, atau paling memenuhi syarat untuk mampu bertahan. Bervariasi sesuai hukum Ekologi. Dalam teladan Hukum Toleransi Shelford, orang bule lebih tahan di iklim dingin. Sedang orang keling lebih nyaman di daerah panas. Tanaman teh tumbuh subur di Puncak, di daerah pegunungan Tapi jangan harap bisa bertahan di Kupang, di daerah pantai. Jadi, daya hidup jenis sangat ditentukan kemampuannya untuk bertoleransi dan beradaptasi. Yang dibutuhkan adalah kelincahan dan kecerdikan.

Mengapa mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang paling mampu bertoleransi dan berdapatasi? Dalam ilmu Ekologi, daya toleransi menuju adaptasi dari suatu spesies dibangun melalui 3 sistem respons organisme, yaitu penghindaran (avoidance), merubah bentuk (ameliorasi) dan adaptasi (sama sekali menjadi amat mirip dengan lingkungan). Species seperti ini disebut sebagai species cerdik (percetive species). Ketika terjadi masalah maka jangan dihadapi tetapi hindari. Ketika ada masalah maka rubahlah sedikit anatomi anda supaya cocok dengan situasi. Ketika di dalam masalah maka hilangkan jati diri anda sama sekali biar tidak kelihatan berbeda. Kemungkinan besar Simon Petrus yang menyangkal Yesus sedang mempraktekan mekanisme respons penghindaran. Hal yang sangat manusiawi dan kodrati karena apapun juga, Simon Petrus adalah spesies jua. Dan harus kita akui bahwa dia sungguh cerdik. Lalu, apakah model Iman Kasih seperti ini paling ideal?

Pada titik ini, perkatan Yesus yang lain, yaitu yang meminta kita untuk tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular bisa dijadikan landasan justifikasi. Cilakanya, menurut Almarhum Pdt. DR. Ekadarmaputera, iman model begini, yaitu iman yang cerdik dan sibuk mencari jalan penyesuaian diri, sering termanifestasi menjadi Iman yang oportunis. Meminjam logika (almarhum) DR. Ekadarmaputera, saya harus memberikan ilustrasi bahwa iman oportunis adalah iman yang begitu cerdiknya beradaptasi sehingga ketika anda berada di kandang kambing anda akan mengembik lalu di kandang sapi anda melenguh. Usaha adaptasi ini berjalan begitu rupa sehingga pada akhirnya orang tidak bisa lagi membedakan apakah anda itu tergolong orang atau seekor kambing atau seekor sapi atau....mungkin monyet. Huueeebaaaatttt euuuyyyy......

Ah, saya agak demam dan badan menjadi berasa capek. Dan hal ini manusiawi lho. Lagian, supaya artikel tidak terlalu panjang dan anda menjadi dongkol membacanya maka saya hentikan dulu di sini. Saya mohon permisi. Besok saya sambung lagi....maka ...Tabik Tuan Tabik Puan ........(Bersambung)

Kamis, 15 Mei 2008

Kasih Itu Kuat. Kuat Belum Tentu Kasih. Lemah Lembut Merupakan Gambaran Kasih. Kasih Tidak Berarti Lemah Lunglai. Kasih Kok Repot? (Part I)

Agak aneh juga kalau ada orang meminta maaf sampai empat kali. Tapi saya akan melakukannya. Saya masih menunda memposting “sesuatu” yang menjadi bahan perenungan saya tentang hidup dan kehidupan. Jika pada penundaan sebelumnya saya beralasan karena bertepatan dengan perayaan Pentakosta maka kali ini alasannya adalah adanya permintaan dari sahabat blogger, sebut saja –nk—, agar saya “mempertanggungjawabkan “ tulisan yang ada di dalam renungan saya tentang Pentakosta. Khususnya pada frasa kalimat…. sayang sekali, karena kefanaan, kebebalan dan kedegilan kita maka prinsip KASIH yang mudah itu ternyata sulit dikerjakan ….KASIH dianggap sebagai suatau kelemahan…..

Frasa kata ini lalu menjadi bahan percakapan yang hangat dan konstruktif di antara beberapa sahabat blogger, antara lain: - nk-, wilmana, -nrk- dan erick. Sejujurnya, beberapa pikiran sahabat blogger, yang terungkap dalam diskusi di antara mereka, sungguh mengejutkan saya. Beberapa pikiran mereka tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Ada yang terpikir juga tetapi tidak saya anggap penting. Belakangan, ternyata hal yang menurut saya kurang penting itu menjadi vital dalam percakapan mereka. Dan lalu, salah seorang di antara peserta diskusi, Erick, meminta saya untuk memposting percakapan yang indah tersebut. Ah, sahabat blogger yang luar biasa. Maka, posting Part 1 ini berisikan petikan percakapan para sahabat dimaksud.

Berikut ini adalah kutipan diskusi sahabat blogger:

NK:
Menjadi benar sekali ketika bigmike menulis "...sayang sekali, karena kefanaan, kebebalan dan kedegilan kita maka ... KASIH dianggap sebagai suatau kelemahan." Menarik untuk direnungkan--mungkin juga untuk diposting--fenomena iman Kekristenan yang sontoloyo spt ini. Org Kristen dengan kasihnya menjadi tidak berdaya dalam, misalkan, kejujuran dan bersikap adil.

Wilmana :
jgn blame ur self, krn yg tjd dg ente di USA itu, justru menujukkan ente makin hebat dlm "menahan diri" sesuai hukum kasih itu sendiri. Biarlah Yesus membela diri-Nya dan kita2 yg tertindas oleh kaum liberal dan terlalu over confindence itu.

NK:
mohon pencerahan, bagaimana Yesus membela diriNya sendiri???

Wilmana:
Tentang Yesus membela diri sendiri, Ama bisa amati sejarah Gereja-nya paling tidak hingga saat ini, tetap eksis menghadapi gelombang badai penolakan dunia bahkan yang paling kejam sekalipun. Jgn lupa doktrin kita bhw Gereja sebagai "tubuh Kristus". Simak jg kesaksian mengenai para Martir di segala abad. Mat 26:53-54 sdh mengingatkan kita bhw segala kesulitan, penghinaan, penderitaan, bahkan pembunuhan harus kita hadapi dengan tabah, karena memang begitulah kehendak Allah bagi kita agar upah bagi kita menjadi benar2 sempurna pada ahirnya. Krnnya, penghinaan di USA itu tdk berarti Yesus lemah, tdk mampu membela diri tmsk gereja-Nya, kan?

NK:
Saya berangkat dari pemahaman literal statement sdr Wilmana, saya kutip lgsg, "Biarlah Yesus membela diri-Nya ..." Tentu sdr Wilmana tidak sedang katakan Yesus akan turun dari tahtaNya dan membela diriNya sendiri dibumi. Saya awalnya berharap sdr Wilmana dpt menangkap ini apalagi dalam konteks yg sudah terang benderang yaitu ketika ada badai menerjang, banyak diantara kita hanya 'diam.' Lihat komentar saya pertama! Dus... Menyikapi ini dengan mengatakan 'biarlah Yesus membela diriNya menjadi jawaban amat teologis tetapi tidak dapat dilihat/diraba/dll. Tidak praktis/nyata.

NRK:
Kalo menurut beta pung versi Yesus ini sosok yang "ajaib". kenapa?? karna KASIH. mau bukti paling ekstrem?? Kalo lu kena tampar pipi kiri na kasi ju pipi kanan. Aduh kalo beta sih mana mau ke begitu. ah beta su agak lari jauh dari topik tapi yang ingin beta kasi pendapat bahwa Yesus sendiri "seakan-akan" tidak membela diri-Nya sendiri karena KASIH. jadi jangan dibalas dengan perbuatan tapi marilah didoakan saja. mau bukti lai ko?? bagaimana peristiwa di taman getesemani saat Yudas menghianati Yesus. apakah Yesus ju pegang parang ko iko Petrus potong orang pung telinga?? sonde kan. malah Bpatua dengan kuasa-Nya menyembuhkan itu prajurit Roma pung telinga.

ERICK:
Aha, ada perdebatan menarik di sini. Gw enggak ikutan tapi rasanya baik juga kalo ni' percakapan ikut diposting ((Eric, JKT) (inilah alasanya bosZ, makanya diskusi ini saya posting)

NK:
Sdr katakan kasih itu 'tampar pipi kiri, kasihkan yg kanan juga.'
Buat saya, inilah Kasih yang lemah, bukan lemah lembut.
Silahkan nrk dan yg lain merenung perintah ini ttp buat saya, sebelum ditampar hendaknya kita menhindar karena siapa tahu 1 tamparan saja sudah buat kita mati. Lha terus bagaimana mau kasih pipi yg kanan kalau sudah mati?

ERICK:
HA HA HA HA,,,,ini namanya kasih tampar tamparan.....ahhh....nrk kalau ingin yg berdebat harus punya persiapan yg cukup dong. Lalu, nk ingat ngga' bhw kata-kata itu diucapkan sendiri oleh Yesus? Berani ngelawan kata-kata Yesus? Syalom (Eric, JKT)

NK:
Membaca komentar sdr (maksudnya Erick) , , saya pun kemudian melamun dan berandai-andai apa yg dipikirkan Yesus kalau Dia membaca komentar sdr, begini:
"Hal tampar pipi kiri-kanan itu betul, tetapi anak-anakKu ini kok bebal -meminjam isltilah bigmike. Mosok mau-maunya ditampar. Mbok ya sebelum ditampar minta maaf gitu lho, siapa tahu yang mau menampar jadi luluh hatinya. Atau kalau dia masih marah juga dan mau menampar, ya lari dulu, beri dia waktu untuk 'cooling down dulu."

@Bigmike (inilah permintaan dari NK kepada saya): Agaknya sdr harus 'terbeban' untuk menjelaskan dalam posting mendatang perihal kasih yg dianggap sebagian org lemah yg menurut sdr sebagai bentuk kebebalan dan kedegilan. Anyway, saya setuju ttg iman sontoloyo spt ini. "Kasih itu lemah lembut, tetapi dia tidak lemah."

Nah, tagal permintaan NK ini maka saya (Bigmike) lalu berkomentar:

Lalu, "nk" mencoba menjelaskan bahwa yg dimaksudkan oleh dia adalah kasih boleh lemah lembut tetapi tidak boleh fatalistis. Saya setuju tp enggak enaknya "nk" kasikan tugas tambahan buat saya...ha ha ha...ini namanya merenung-renung sambil pesan es teh...merenungnya tidak di gua tetapi di cafe ha ha ha..

Aha, sampai di sini dulu karena saya harus bersiap-siap mengikuti Ibadat Rumah Tangga mingguan Rayon yang diselenggarakan di rumah saya. Dalam Ibadat ini akan hadir Ibunda saya tercinta yang telah ditinggal pergi oleh Sang Guru Tua 3 minggu lalu menuju negeri KASIH ABADI.

Sampai Jumpa Besok…Kali ini janji saya bisa dipegang….Besok…..BEEESSSSOOOOOKKKKK…….

Senin, 12 Mei 2008

Roh Yang Turun Itu adalah Roh Yang Membawa Kasih. Maukah Anda Mengerjakan KASIH?


Lagi-lagi saya kurang setia pada janji. Semula saya bermaksud menulis “sesuatu” setelah saya memposting sebuah puisi panjang, yang lalu ditafisrkan bermaca-macam oleh sahabat bolgger. Di akhir posting itu, saya meminta kita semua merenung. Mungkin ada yang merenungkannya baik-baik tetapi ada pula yang merenungkannya secara sangat baik, yaitu merenungkan sambil bertengkar. Terima kasih. Lalu di titik ini, justru, saya ingin mengucapkan kata maaf karena posting saya kali ini belum merupakan pemenuhan janji saya. Anda marah? Itu hak anda dan saya menghormatinya. Tetapi saya sangat terpaksa melakukannya karena saya baru tersadar, bahwa tepat di hari minggu ini, kami umat Kristiani merayakan salah satu hari besar Gerejawi, yaitu Hari Raya Pentakosta (harap jangan dikelirukan dengan Pantekosta).

Kepada yang tidak merayakan perayaan ini ijinkan saya mengucap maaf yang kedua. Tidak tersimpan maksud untuk memaksa anda membaca tulisan ini. Anda punya pilihan lain dan saya menghormati itu. Tetapi jika anda ingin membacanya juga saya tidak bisa melarang. Anggap saja hal ini merupakan suatu perjalanan wisata untuk mengenali apa yang dimiliki atau dilakukan oleh “tetangga” sebangsa dan setanah air. Cukup mengenalnya saja tanpa ada paksaan untuk meyakininya. Hal itu berarti bahwa tidak juga anda harus frontal menolak apa yang tetangga anda yakini. Karena suka atau tidak suka, kita semua yang beraneka keyakinan ini hidup dalam NKR yang satu, Indonesia.

Baiklah, saya ingin memberikan penekanan khusus pada kalimat saya sendiri di atas, yaitu …..karena saya baru tersadar bahwa …..kami umat Kristiani merayakan….Pentakosta. Mengapa tidak sadar? Ya, karena Perayaan Gerejawi yang satu ini mungkin merupakan perayaan yang paling kurang terkenal. Berbeda dengan perayaan Natal yang dalam beberapa contoh seakan sudah menjadi milik semua golongan di luar umat Kristiani. Di laporkan bahwa di Jepang, Chrismas Day dirayakan sebagai hari perayaan besar. Kristiani ataupun bukan Kristiani. Lebih celaka lagi, Christmas dewasa ini, saking meriahnya dirayakan, lalu menjadi salah satu ikon dunia perniagaan. Ada banyak keuntungan finansial yang dipetik oleh perusahaan-perusahaan terkait perayaan yang satu ini. Terkadang, Christmas kehilangan “roh” aslinya yang sederhana dan trasendens berganti roh hedonis dan kemewahan nan imanen. Paskah, termasuk perayaan yang mudah diingat umat Kristiani karena dirayakan secara besar-besaran, Paskah yang kadang diidentik dengan ornamen telur paskah itupun, dalam beberapa kasus dapat di katakan sudah di bawa keluar juga dari roh trasendensnya menjadi roh imanen. Setelah Paskah, adalah Kenaikan Yesus ke Surga. Perayan yang satu ini biasanya kalah ngetop dibandingkan dengan Paskah. Apalagi jika dibandingkan dengan Natal. Nah, lalu Pentakosta atau Perayaan Keturunan Roh Kudus adalah yang paling tidak ngetop. Biasa-biasa saja. Sambil lalu saja. Tidak ada persiapan khusus oleh panitia khusus untuk dirayakan seara khusus. Boleh dirayakan dan boleh juga tidak dirayakan. Sekali lagi: biasa-biasa saja. Dan karena biasanya itu maka perayaan Pentakosta sangat mudah dilupakan. Sayapun baru menyadarinya tepat di hari ini. Di hari minggu ini. Bayangkan: saya adalah seorang Penatua Gereja sekaligus Wakil Ketua Majelis Jemaat Harian di GMIT Paulus. Dus itu berarti, Pejabat Gereja. Sungguh keterlalaun, Pejabat Gereja melupakan Perayaan Gereja. Jadi, saya haru tripel minta maaf. Kali ini malah minta ampun. Ampunkan saya Tuhan, saya lupa mengingat-MU dengan baik hari ini. Hanya karena masih sedih. Hanya karena sakit. Hanya karena….ya sekedar lupa…..

Lalu, apa itu hari raya Pentakosta?. Secara harfiah, kata Pentakosta (Inggris = Pentecost) yang berasal dari bahasa Yunani pentekostē (πεντηκοστή) berarti "hari ke-50". Kata ini merupakan terjemahan Yunani terhadap kata Shavuot yang merupakan salah satu di antara 3 perayaan besar orang Yahudi sesuai hukum Musa (Three Pilgrimage Festivals), yang juga disebut sebagai the Shalosh Regalim, yaitu: Pesach (Passover), Shavuot (Pentecost), dan Sukkot (Tabernacles). Bagi orang Yahudi, hari Pentakosta merupakan perayaan yang teramat penting dan merupakah sebuah keharusan, sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan kepada mereka. Tibanya hari Pentakosta berarti berakhirnya tradisi perayaan selama tujuh minggu, di mana umat Israel merayakan Paskah. "Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum…….haruslah kau rayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun (Kel.34:22)……. Perlu kita perhatikan bahwa dari sekian banyak perayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi, maka hari raya Pentakosta merupakan perayaan terbesar, di mana pada saat itu merupakah hari yang penuh sukacita dan di mana mereka bersyukur kepada Allah atas segala kasih dan pemeliharaanNya, termasuk akan hasil panen tuaian gandum dan jelai. Karena itu, mereka akan datang kepada Allah dengan membawa korban syukur yang merupakan persembahan mereka kepada Allah, sekaligus menyatakan pengakuan mereka bahwa segala yang baik yang mereka terima, berasal dari Allah (Ul.16:11 dan Im.23:17-20).

Karena secara tradisi Pentakosta merupakan perayaan 7 minggu, berarti 49 hari, maka diperlukan satu hari lagi untuk merayakan genapnya hari ke 50. Dalam tradisi Gereja-Gereja di Indonesia, hari ke 49 yang jatuh pada hari minggu disebut sebagai perayaan Petakonsta I. Dan pada hari senin keesokan harinya, dirayakan sebagai hari Pentakosta II. Di United Kingdom, Pentakosta dikenal juga sebagai Whitsun (atau Whit Sunday). Minggu atau usbu dimana dimulai dengan Whitsun disebut sebagai Whitsuntide atau tidak jarang disebut juga sebagai Whitsontide atau Whitsun Week. Diduga etimologi ini berasal dari kata Wit atau Wisdom Sunday, yaitu hari ketika para Rasul Yesus dipenuhi dengan pengetahuan-pengetahuan dan kebijakan-kebijakan (wisdom) oleh Roh Kudus (the Holy Spirit). Dengan ini maka jelas bahwa Pentakosta, meskipun berasal dari tradisi Yahudi tetapi penting bagi orang-orang Kristen.

Dalam Perjanjian Baru terdapat narasi dari Kisah Para Rasul bahwa hari Pentakosta merupakan hari turunnya Roh Kudus, di mana sejak hari Raya Pentakosta, Alkitab menunjukkan bahwa Roh Kudus bekerja secara penuh di dalam GerejaNya. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus belum bekerja sebelum hari raya Pentakosta. Dalam Injil Sinoptik dan Yohanes dapat dibaca bahwa Roh Kudus sudah bekerja sebelum itu, baik pada waktu pembaptisan Yesus, pencobaan di padang gurun, dan lain-lain (Mat.3:16; Mark.1:10; Luk.3:21-22; Yoh.1:32-33; Mat.4:1; Luk.4:1). Di dalam Perjanjian Lama, kita juga membaca bagaimana Roh memimpin para nabi pada saat tertentu dan ketika mengerjakan tugas tertentu. Namun demikian, Alkitab menjelaskan bahwa kehadiran dan peran Roh Kudus tidak pernah dialami oleh umat Allah secara penuh sebagaimana terjadi pada hari Pentakosta, yaitu hari SETELAH Yesus menyelesaikan karya penyelamatan melalui kematian dan kebangkitannya. Dalam pemahaman inilah kita memahami pernyataan Injil Yohanes berikut: "... sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum DIMULIAKAN" (7:39b). Kata "dimuliakan" sangat menonjol di dalam Injil Yohenes, di mana istilah itu mengacu kepada kematian Yesus (band. Yoh.12:23-24). Dengan perkataan lain, Yohanes menegaskan relasi yang erat yang tidak terpisahkan antara karya Yesus yang telah diselesaikan melalui kematianNya dengan turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta.

Jikalau begitu maka apa pentingnya Pentakosta bagi kita? Anda dapat merumuskannya sendiri tetapi saya ingin menawarkan yang satu ini: melalui Pentakosta kita diingatkan bahwa tugas setiap kita adalah pergi ke segala penjuru dunia untuk bersaksi bahwa keresahan, kekacauan, dan kedosaan dunia telah memiliki penangkalnya, yaitu YESUS. Dia datang denga misi damai. Lalu, melalui Kematian dan Kebangkitan-Nya Dia menawarkan 1 alternatif dari cara hidup, yaitu hidup dalam KASIH. Kita harus menghasihi Tuhan. Dan hanya ada 1 cara untuk membuktikan bahwa kita mengasihi Tuhan, yaitu mengasihi sesama kita.
Siapa sesama kita? Mereka adalah: isteri kita. Anak-anak kita. Orang tua kita. Saudara-saudara kita. Tetangga kita. Orang yang sekampung, sekecamatan, sekabupaten, sepropinsi, senegara, dan satu planet dengan kita. Alien sekalipun, jika mereka memang ada. Kita wajib mengasihi mereka tanpa kecuali. Apapun warna kulitnya. Bentuk matanya. Rupa hidungnya. Model rambutnya. Suku bangsanya. Dan juga...apapun juga agamanya. Cukup? Belum. Karena kita dan sesama kita hidup jika dan hanya jika tersedia sumberdaya alam dan lingkungan maka KASIH kepada sesama harus diekstensikan juga sampai kepada ranah mengasihi lingkungan hidup kita. Tanpa lingkungan hidup yang baik takkan ada kehidupan, baik untuk kita maupun sesama kita.

Dalam prinsip KASIH, apapun perbedaan di antara kita, jangan diselesaikan dengan cara saling memaki, bertengkar, berkelahi, percederaan, membunuh dan atau berperang. KEMATIAN YESUS jelas merupakan contoh telak untuk prinsip yang satu ini. Korbankan dirimu jika itu perlu. Hal ini jauh lebih mulia dibandingkan dengan harus mengorbankan orang lain.

Sayang sekali, karena kefanaan, kebebalan dan kedegilan kita maka prinsip KASIH yang mudah itu ternyata sulit dikerjakan (salah satu sebab mengapa prinsip KASIH sulit dikerjakan ada hubungannya dengan apa yang seharusnya saya posting.....Apa itu? Nanti saja...tunggu saja....). KASIH dianggap sebagai suatau kelemahan. Dan lebih kacau lagi, KASIH dianggapnya hanya milik orang Kristen. Monopoli orang Kristen. Benarkah? Tidak!!! Kasih ada untuk semua. Oleh karena itu, Kasih dapat dan harus dilakukan oleh semua. Sulit??? Yeeesssss, Sir. Confirm, Sir. Tetapi, jangan kuatir, ada Roh Kudus yang sudah turun dari Surga dan sekarang selalu bersama kita untuk memampukan kita mengerjakan KASIH. Lihatlah, DIA sedang berdiri tepat di depan pintumu. Dia sedang mengetuk pintu hatimu. Bersediakah anda membuka hati dan mempersilakan Dia masuk?

Rabu, 07 Mei 2008

Ada Yang Ingin Saya Bahas Tetapi Nikmati Dahulu Pendahuluannya...Asyik Ngga' Tuh....

Sahabat Blogger....

Saya ingin membahas sesuatu tentang apa yang saya alami, apa yang saya rasakan, apa yang saya banggakan, apa yang saya pedihkan, apa yang saya tulis dan apa yang saya renungkan...
Akan tetapi sesuatu itu memerlukan perenungan yang mendalam dari kita semua karena, jujur saja, saya sendiri mungkin cuma ingin menuliskan apa yang saya rasa. Bukan apa yang saya tahu.

Nah, lalu setelah anda membaca ujar-ujaran berikut ini (bukan karya saya. Saya cuma mengutip dari -nk- dan seorang sahabat lainnya), mohon ditanyakan dalam hati anda...apa yang anda rasa....(jangan terburu-buru berusaha mengemukakan: ...apa yang anda tahu....)
Selamat menikmati wisata reflektif ini...Semoga Tuhan membisikan sesuatu bagi anda...dan juga saya:

The paradox of our time in history is that we have taller buildings but shorter tempers, wider freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but
have less, we buy more, but enjoy less. We have bigger houses and smaller families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too little, watch TV too much, and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too much, love too seldom, and hate too often. We've learned how to make a
living, but not a life. We've added years to life not life to years. We've been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbour. We conquered outer space but not inner space. We've done larger things, but not better things. We've cleaned up the air, but
polluted the soul. We've conquered the atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We've learned to rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to produce more copies than ever, but we communicate less and less.

Dewasa ini kita memiliki rumah lebih besar dan keluarga yang lebih kecil; lebih banyak
kenyamanan, tetapi kurang waktu;

Kita memiliki lebih banyak gelar, tetapi lebih sedikit nalar; lebih banyak pengetahuan,
tetapi kurang memahami yang namanya tahu;

Kita memiliki lebih banyak ahli, tetapi lebih banyak masalah; lebih banyak obat-obatan,
tetapi kurang sehat.

Kita terlalu ceroboh berbelanja, terlalu sedikit ketawa, berkendaraan teralu cepat,
terlalu mudah marah, kurang tidur, bangun dalam keadaan terlalu lelah, sedikit membaca, nonton TV terlalu banyak, jarang berdoa.

Kita telah melipatgandakan harta kita, tetapi mengurangi nilai-nilai kita. Kita ngomong
terlalu banyak, mencintai terlalu sedikit dan terlalu sering berbohong.

Kita telah belajar bagaimana mencari nafkah, tetapi bukannya kehidupan; kita telah
menambahkan tahun demi tahun ke dalam kehidupan kita, bukannya nilai kehidupan yang ditambahkan ke dalam setiap tahunnya.

Kita memiliki gedung-gedung bertingkat yang lebih tinggi, tetapi emosi amarah yang lebih pendek (spontan); jalan bebas hambatan yang lebih lebar, tetapi sudut pandang yang lebih sempit.

Kita menghabiskan lebih banyak, tetapi memiliki lebih sedikit; kita membeli lebih
banyak, tetapi lebih sedikit menikmatinya.

Kita telah melakukan perjalanan pulang pergi ke bulan, tetapi bermasalah untuk
menyeberangi jalan guna menemui tetangga baru kita.

Kita telah menjelajahi ruang angkasa, tetapi bukannya ruang di dalam diri (hati nurani)
kita sendiri. Kita telah memilah atom, tetapi bukannya kebijakan kita.

Kita menulis lebih banyak, tetapi lebih sedikit belajar; lebih banyak berencana, tetapi
lebih sedikit merealisasikannya.

Kita telah belajar untuk cepat, bukannya belajar untuk menunggu; kita memiliki
pendapatan yang lebih tinggi, tetapi moral yang lebih rendah.

Kita membuat lebih banyak komputer untuk menyimpan lebih banyak informasi lagi,
memproduksi lebih banyak salinan, tetapi kurang berkomunikasi. Kuantitas kita berjibum, tetapi kualitas kita sedikit.

Kini masanya makanan cepat saji dan pelahan dalam mencerna; orang-orang yang tinggi dan berkarakter pendek; keuntungan yang meningkat dan persahabatan yang dangkal.

Lebih banyak kesenangan dan kurang canda ria; lebih banyak ragam makanan, tetapi kurang bergizi; pendapatan dari 2 sumber, tetapi lebih banyak perceraian; rumah yang lebih indah, tetapi rumah tangga yang berantakan.

Oleh karenanya, sejak hari ini, janganlah menyimpan segala sesuatunya untuk hal-hal yang istimewa, karena setiap harinya yang anda jalani adalah hal-hal yang istimewa.

Carilah pengetahuan, membacalah lebih banyak lagi, duduklah di teras anda dan nikmati
pemandangan yang ada tanpa memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anda.

Luangkan waktu lebih banyak untuk keluarga anda dan teman-teman anda, makanlah apa yang menjadi kesukaan anda, kunjungilah tempat-tempat yang anda sukai.

Kehidupan adalah sebuah rangkaian kenikmatan, bukan hanya tentang bertahan untuk hidup.

Pakailah gelas kristal anda (kalau punya). Jangan menyimpan parfum terbaik anda,
gunakanlah setiap saat anda ingin untuk memakainya.

Hilangkan frasa atau istilah “dalam beberapa hari ini” dan “kelak”. Sesegeralah di saat
ini disini kita menulis surat yang kita ingin lakukan “dalam beberapa hari in.

Marilah kita mengatakan kepada keluarga dan teman-teman kita betapa kita mencintai
mereka. Jangan menunda apapun yang bisa menambah kenikmatan dan tawa ke dalam kehidupan anda.

Setiap hari, setiap jam, setiap menit adalah istimewa. Dan anda tidak tahu kapan itu
akan merupakan saat terakhir anda.

Jika anda terlalu sibuk untuk meluangkan waktu anda untuk membaca dan merenungkan ini, cobalah untuk berpikir “dalam beberapa hari ini”, maka anda tidak akan pernah merenungkannya.

(.....terima kasih kepada --NK-- atas ide yang diberikan melalui komentar anda serta seorang kawan blogger lainnya yang tidak ingin disebutkan nama-nya.....)

Jumat, 02 Mei 2008

Hari Ini Adalah Hari Pendidikan Nasional....Ingatkah Anda?

Hari ini seperti biasanya hari-hari lain. Seperti minggu lalu, maka hari ini adalah hari Jumat. Seperti di Bulan April lalu yang punya tanggal 2 maka bulan Mei juga memiliki tanggal 2. Apa bedanya? Tidak ada. Apa istimewanya? Yah, tanggal segini sih adalah tanggal gajian bosZ. Itu istimewanya. Lalu, masihkah banyak di antara kita yang mengingat dengan baik-baik bahwa pada tanggal 2 Mei, setiap tahun, adalah hari Pendidikan Nasional? Saya tidak yakin.

Sejak bangun tidur semua terasa biasa-biasa saja. Di rumah saya, kesibukan yang memberi pertanda bahwa hari ini adalah hari pendidikan Nasional hanyalah ditunjukan oleh isteri saya yang ambtenaar di Dinas Pendidikan Nasional NTT. Pagi-pagi amat si doski yang kepala seksi di salah satu unit di Dinas Pendidikan Propinsi NTT sudah ribut sama baju putih, jas abu-abu, sepatu hitam dan dasi abu-abu. Semua itu diperlukannya sebagai uniform guna mengikuti perayaan Hari Pendidikan Nasional di kantornya. Anak-anak saya cuma sibuk mengurus diri mereka sendiri pergi ke sekolah atau ke kampus. Cuma itu.

Satu jam kemudian saya juga ikutan keluar rumah menuju kampus. Di kampus saya bertemu dengan satu dua gelintir pegawai administrasi kampus dan para pejabat teras Universitas yang berpakaian seragam Korpri. Mengapa demikian? Baru selesai apel Hari Pendidikan Nasional. Lalu, tengok kanan dan kiri, ah...semuanya saja, pegawai, dosen dan mahasiswa mayoritas berpenampilan "freeman". Iseng-iseng saya bertanya kepada 4 orang mahasiswa, 4 orang rekan dosen, 1 orang tenaga satpam dan 1 orang staf adminsitrasi di kampus. Pertanyaan saya begini: apakah anda ingat bahwa hari ini adalah hari Pendidikan Nasional? Hasilnya, luar biasa: hanya 3 orang dari total 10 responden tersebut mengatakan ia. Sisanya, tidak menjawab dan atau nyengir kuda. Gejala apa ini?

Sejujurnya saya tidak memiliki jawaban apapun tentang pertanyaan tadi. Apakah ketidak ingatan 70% responden (sorry saya mengunakan istilah itu biar kelihatan gaya), disebabkan ketidak perdulian? Apakah dengan demikian dapat diartikan bahwa mereka sudah tidak memiliki apresiasi baik tentang pendidikan? Apakah pendidikan sudah tidak berarti apapun lagi bagi mereka? Apakah pendidikan bagi mereka adalah proses nyata dan bukannya ritual belaka? Ah, saya kira jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu akan terasa sumir juga. Sekali lagi, saya tidak memiliki jawaban pasti. Bahkan sayapun bertanya, pantaskah pertanyaan seperti itu dilontarkan?

Lalu, sayapun menjalani rutinitas hari ini sesuai rencana, yaitu menyelesaikan training GIS yang diselenggarakan oleh Charles Darwin University, Australia yang bekerja sama dengan Undana dan Pemda NTT. Selesai acara, maka rutinitas lainnya menyusul, yaitu menerima sertifikat dan uang duduk 5 hari kegiatan. Lumayan. Tapi ya cuma itu. Hanya itu. Sayapun tidak lagi terlalu ingat akan keisengan saya pagi-pagi setibanya di kampus yang sibuk bertanya apakah anda mengingat dengan baik bahwa hari ini adalah hari Pendidikan Nasional Indonesia?

Malam menjelang istirahat baru saya renungkan kembali. Apakah saya dapat menjadi Doktor tanpa proses pendidikan? Apakah saya dapat dibesarkan dengan baik jika Ayahanda saya almarhum tidak bekerja sebagai guru? Apakah saya dapat memberikan makanan bagi mulut isteri dan anak saya jika saya tidak bekerja sebagai guru (dosen=doisere = guru, Perancis). Apakah saya dapat mengajar dan mendidik anak-anak saya sendirian tanpa bantuan dari para bapak & ibu guru? Saya segera bangun dari tempat tidur dan bergegas menunuju laptop saya untuk menulis artikel yang berlevel S3 (sungguh sangat sederhana) ini.

Ah, untuk semua guru saya dan semua guru di mana saja di Indonesia saya ingin mengucapkan permohonan maaf. Maaf kan saya bapak dan ibu guru karena sudah mangabaikan hari ini: hari Jumat, tanggal 2 Mei 2008. Hari Pendidikan Nasional.

Kamis, 01 Mei 2008

The Ascension of Jesus

Berbicara tentang Kematian Yesus bukan perkara gampang. Tentang Kebangkitan, sungguh sulit. Tetapi tentang Kenaikan Yesus, nah ini dia....paling sulit. Kematian Yesus, meskipun beberapa kalangan menolak faktanya, tetapi sebagai fenomena alami mudah diterangkan. Kematian Yesus dapat dikonfirmasi oleh berbagai kesaksian, bahkan oleh mereka yang tidak menyukai Yesus dan pekerjaan-Nya. Kebangkitan Yesus, meskipun sulit diterangkan secara ilmiah tetapi bagi kita tersedia keakuratan kesaksian beberapa ahli sejarah paling awal. Bagaimana dengan peristiwa Kenaikan Yesus ke Surga? Peristiwa ini menjadi sulit dijelaskan karena konsep kenaikan itu sendiri. Kalau benar Yesus naik maka bagaimana konsep ruang dan waktu dari sesuatu yang namanya Surga.? Apakah Surga itu letaknya di atas? Sampai di mana batas yang disebut atas itu? Dalam semesta (universe) yang mega luas, bisa mencapai ratusan juta tahun cahaya jarak antara galaksi dan bahkan terus berkembang, di mana letak Surga? Apakah Surga lalu mirip planet tempat tinggalnya para Alien? Apakah Allah dan seisi Surga tergolong Alien? Wah, repot dan membingungkan.

Jika Kematian dan Kebangkitan-Nya memiliki beberapa sumber kesaksian maka gilirannya Kenaikan Yesus, kita mungkin hanya punya kesaksian para penulis Perjanjian Baru. Sekadar catatan bahwa sejak membicarakan rangkaian peristiwa Kematian, Kebangkitan dan sekarang, Kenaikan Yesus, saya berusaha meletakan kesaksian Alkitab pada bagian akhir. Bukan karena pengabaian. Tidak dan tidak mungkin saya melakukan itu tetapi justru untuk mencari sumber-sumber lain yang dapat memperkuat kesaksian Alkitab. Maksudnya: saya ingin menunjukan bahwa tentang peristiwa-peristiwa itu, penulis Alkitab tidak sendirian. Namun hal ini, kelihatannya tidak dapat saya lakukan sekarang. Sekarang saatnya saya harus membiarkan Alkitab bersaksi dan membela kesaksiannya sendiri. Menyerahkah saya? Tidak. Sebagai ilmuwan saya sangat paham tentang langkah-langkah ilmiah dalam menemukan kebenaran. Jika catatan Alkitab tentang kenaikan Yesus ke Surga adalah suatu teori ilmiah maka ia hanya akan dianggap sepanjang belum ditemukan suatu teori baru yang mematahkan kebenaran teori yang lama. Teori baru tersebut bukan saja memenuhi syarat pengajuan tetapi juga harus memenuhi syarat penerimaan oleh publik. Lha, kalau teori tentang Kenaikan Yesus, meskipun sudah diajukan berbagai teori baru, tetapi jika faktanya sampai hari ini masih dipercaya oleh paling kurang 2.1 milyar penduduk dunia yang beragama Kristen (Protestan maupun Katolik) dan populasi ini dominan, maka dalam perspektif kerangka pikir proses ilmiah harus dikatakan bahwa teori Kenaikan Yesus ke Surga masih benar. Itu saja.

Sebenarnya, apa sih yang dimaksudkan dengan peristiwa Kenaikan Yesus? Lalu, seberapa penting peristiwa itu bagi kemanusiaan?

Dari Wikipedia, the free encyclopedia, kita memperoleh informasi sebagai berikut:

The general and most common understanding of the Christian doctrine of Ascension holds that Jesus bodily ascended to heaven in the presence of his apostles, forty days following his resurrection. It is narrated in Mark 16:19, Luke 24:51, Acts 1:1-12,[1] and mentioned in John 20:17, Ephesians 4:7-13, Romans 10:5-7, 1 Timothy 3:16, 1 Peter 3:21-22. This is affirmed by Christian liturgy in the Apostles' Creed and the Nicene Creed.

Lalu, dari Wikipedia edisi Bahasa Indonesia diperoleh informasi tambahan sebagai berikut:

Mikraj Isa Almasih adalah nama alternatif untuk hari raya umat Kristen, Kenaikan Yesus Kristus atau kadangkala juga disebut Kenaikan Isa Almasih. Hari ini selalu jatuh pada hari Kamis, 40 hari setelah Paskah. Kisah ini ditemukan dalam Kisah Para Rasul 1:4-12. Setelah hari Paskah (kebangkitan Yesus dari kematian), para murid Yesus digambarkan masih belum memahami benar arti seluruh peristiwa yang mereka alami. Banyak dari mereka yang masih berharap bahwa Yesus akan memulihkan kerajaan Daud yang telah runtuh (Kisah 1:6).
Tetapi Yesus mempunyai misi lain yang bukan dari dunia. Ia berpesan kepada murid-muridnya: "... kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (ay. 8). Dan sesudah meninggalkan pesan itu, Kisah Para Rasul melukiskan Yesus terangkat ke sorga, sambil disaksikan oleh murid-muridnya. Peristiwa itu membuat mereka tercengang. Namun dua malaikat Tuhan menampakkan diri dan mengingatkan mereka akan pesan yang telah diberikan Yesus kepada mereka. Mereka menunggu sepuluh hari lagi di Yerusalem hingga datangnya hari Pentakosta, kemudian mereka mulai memberitakan Injil ke seluruh dunia.


Dari informasi di atas terlihat jelas bahwa dogma Kenaikan Yesus menunjukan adanya suksesi pekerjaan yang dilakukan Yesus. Sebagai Allah, Dia telah menunaikan semua misi-Nya di dunia. Setelah tugas itu selesai maka saatnya tiba untuk-Nya kembali ke kemuliaan asali-Nya. Lalu, manusia yang telah diselamatkanNya itu harus mulai bekerja untuk dirinya sendiri dan bagi dunia, dengan kekuatan yang diberikan Allah. Manusia harus bekerja sebagai utusan Allah ke seluruh penjuru dunia guna mengabarkan ceritera baik, yaitu Yesus telah mendamaikan manusia dengan Allah, Dalam perspektif lain, peristiwa Kenaikan Yesus berarti bahwa Allah memperkenankan manusia menjadi mitra kerja-Nya di dunia ini. Si pendosa ini, sekarang diberikan kesempatan oleh Allah untuk bekerja bersama-sama-Nya dalam merawat dunia ciptaan-Nya. Dalam perspektif lainnya, peristiwa Kenaikan Yesus dapat juga bermakna bahwa Allah telah melakukan pendelegasian kewenangan bagi manusia guna, di bawah bimbingan-Nya, melakukan hal-hal baik bagi dunia cipataan-Nya.

Jika benar demikian maka dalam peristiwa Kenaikan Yesus, Allah memberi pertanda bahwa manusia harus merupakan pekerja aktif bagi dunia. Hidupnya harus bermakna bagi dunia. Tidak bisa hanya untuk dirinya sendiri. Sebagai rekan sekerja Allah, manusia wajib merawat bumi, memajukan kesejahteraan, mengusahakan perdamaian, mengatasi kemiskinan dan masih banyak lagi merupakan hal-hal yang didelegasikan Allah kepada Manusia. Perhatikan bahwa, setelah Kenaikan Yesus, murid-muridnya lalu berkelling dunia untuk memberitakan Kabar Baik (Injil). Logikanya, Allah tidak mendelegasikan kewenangan untuk menciptakan tragedi bagi dunia apapun juga alasannya. Allah tidak mengajarkan tentang perusakan kehidupan. Allah tidak mengajarkan ketidak perdulian. Allah tidak meminta kita untuk menjadi raja korupsi, raja penyamun, rajanya pelanggar aturan dan raja-raja berbagai tindakan jahat. Allah tidak menginginkan kita menjadi bandit.

Allah juga tidak pernah mengajarkan kita untuk bertingkah laku mengambil peran Allah dalam menafsirkan perintah-Nya lalu menjadi jaksa, polisi, hakim dan sekaligus eksekutor bagi ajaran-Nya. Sekali lagi: Allah menginginkan Manusia mengerjakan hal-hal baik. Oleh karena itu, jangan menjadi jahat dengan alasan membela-Nya, mempertahankan kemurnian Ajaran-Nya, mempertahankan Kemuliaan-Nya dan lain-lain alasan yang sumir. Tidak perlu. Karena Allah, maha perkasa. Terlalu perkasa. Dia tidak perlu dibela oleh kita yang kecil. kerdil, picik dan hina dina ini. Sebaliknya, kitalah yang perlu dibela Allah karena kita lemah. Nah, bagi mereka yang gandrung akan kabar baik ini, saya ucapkan Selamat merayakan hari Kenaikan Yesus ke Surga. Tuhan Yesus Memberkati.
Keterangan: Gambar diperoleh melalui Googke Search

Kamis, 24 April 2008

Artikel Yang Ditulis Dengan Butir Air Mata

The Old Soldier Never Die They Are Just Fade Away (Douglas Mc Arthur)


The Old Teacher Never Die, They Are Just Sleep Away (With Their Dream About Virtue)

Kemarin, telah berpulang ke Rumah Bapa di Surga:

Robert Riwu Kaho (01 Desember 1933 – 23 April 2008),

seorang guru tua yang hidupnya dipenuhi mimpi besar tentang:

  • Hidup kekeluargaan yang bersatu, erat, hangat, dan saling tolong menolong. Oleh karena itu dia menjadi seorang suami, ayah, opa, saudara dan kerabat yang tegas namun tulus dan penuh dengan cinta kasih;
  • Manusia yang selalu harus paham dan menghargai konteks sosial dan budaya masyarakat di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Oleh karena itu dia sangat menaruh hormat dan mempraktekkannya secara serius berbagai bentuk kearifan lokal, teristimewa budaya orang Sabu (karena dia memang datang dari kelompok etnolinguistik ini). Kearifan-kearifan lokal tersebut disintesanya menjadi caranya untuk memandang dan menjalani hidup secara positif dan produktif;
  • Hidup pandai sebagai orang yang tinggi ilmu. Maka dia adalah pembaca ribuan judul buku yang tersimpan dengan rapi di dalam perpustakaan pribadinya. Dia juga telah menulis 5 buah buku sebagai pertanda kuatnya naluri keilmuan yang dimilikinya;
  • Hidup bermanfaat bagi sesama dalam hal apa saja, (dan dia sangat menyukai dunia pengobatan tradisional dan di dalam bidang ini pula dia mengabdikan dirinya bagi kemanusiaan bagi ribuan pasiennya di dalam maupun di luar negeri);
  • Hidup bermanfaat bagi bangsa dan negara, dan untuk ini dia mengbdikan dirinya sebagai seorang guru dan manajer di dalam dunia pendidikan di NTT for whole time of his carrier; Terkulainya dia di dalam ruang rapat Yayasan Pendidikan Kristen GMIT yang membawanya pada kematiannya merupakan bukti terkuat betapa mimpinya di bidang pendidikan ingin direalisasikannya.
  • Hidup bermanfaat bagi Tuhan, dan oleh karena itu, dia mengabdikan dirinya selama 45 tahun lebih bagi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), yaitu gereja di NTT dan NTB dengan populasi sekitar 1.5 juta jiwa. Kematian yang merangkulnya yang berawal dari ruang rapat Yayasan milik GMIT menjadi bukti kecintaannya tersebut.
  • Dan dia bukan hanya bermimpi tetapi bekerja keras untuk mewujudnyatakan semua mimpinya itu. Sebagian mimpinya gagal terwujud tetapi lebih banyak yang berhasil.

Dia memang bukan pahlawan besar, dia juga bukan pempimpin besar,

Dia, sekali lagi, hanyalah seorang guru tua………

Tetapi dia adalah bapak, ayah, pater, father, teladan bagi saya….

Pembaca yang budiman: ijinkanlah saya menangis untuk kepergian sang guru tua itu…….

Selamat Jalan Robert, Tuhan Yesus Menantimu....

L. Michael Riwu Kaho - Kupang

Minggu, 20 April 2008

Mama, Emak, Inang, Ibu, Si Mbok e, Bunda, Mamma, Mummy, Mater, Mother......Earth

(Jangan Menangis Lagi Di sini Ada Kartini dan mungkin...... Megawati, Katrina Koni Ki’i, Nana Firman, Fazedha Nasution, Christin Wulandari, Lusi Jowinstianti, Gayatri Binchoutan, Ibu Guru Martosudarmo, Bunda Agustin Sabartinah, Dolly Ballo dan masih banyak lagi)

Kemarin saya menjanjikan untuk melanjutkan perenungan menjelang hari bumi (earth day). Sekarang mungkin saya ingkar janji tetapi tidak seluruhnya. Karena saya tergolong orang optimis, maka saya ingin menyebutkan: saya memenuhi janji ½. Ada alasannya. Begini:

Menyebutkan earth (atawa bumi) selalu sangat manis jika digandengkan dengan kata lain, yaitu mother (mama). Lengkapnya, Mother Earth. Orang Indonesia menyebutkannya sebagai Ibu Pertiwi. Mengapa bukan Bapak Bumi. Mengapa bukan Paman Bumi? Mengapa bukan Om Bumi. Mengapa bukan Kakek Bumi. Mengapa bukan Abang Bumi. Mengapa bukan Sinyo Bumi? Mengapa earth atau bumi tidak diasosiasikan dengan maskulinitas?

Sebagai Kristiani, saya sejak kecil diajarkan tentang Do’a Bapak Kami. Lalu, kalau tidak salah ingat, pada tahun 1990 almarhum Pendeta DR. Ekadarmaputera, menawarkan alternatif lain dari Do’a tersebut (dan dipraktekan oleh beliau), yaitu Ibu Kami. Saya, dan kebanyakan kami umat Kristiani mengalami shock berat (meskipun belakangan saya bisa memahami DR. Eka, setelah lebih jernih mempelajarinya). Kekagetan kami tampaknya bukan pada substansinya tetapi niveau-nya. Allah, kami pahami sebagai sang Perkasa. Dan, bagi kami, itu pasti bukan sosok Ibu. Saya pikir, kekagetan semacam itu, sekarang ini, akan terjadi juga tatkala ada yang menawarkan semacam etimologi baru bagi bumi, yaitu Bapak Bumi. Father Earth. Lagi-lagi masalahnya bukan pada substansinya. Masalahnya, bumi yang kita akrabi bukanlah sosok garang dan gahar yang ditawarkan figur Bapak. Bumi adalah pemberi hidup. Tempat kita berlindung. Tempat kita berteduh. Tempat kita menimba air. Tempat kita mengambil makanan. Tempat kita berbaring dan dipangku. Bahkan, pada hari ketika nyawa pergi dari badan maka bumilah yang akan memeluk jasad kita. Selamanya. Dan bumi seperti itu bukanlah sosok Bapak. It must be: Mother. Mama. Inang. Bunda.

Dari mana bermulanya etimologi seperti itu. Mother Earth. Ibu Pertiwi. Ini: kata Earth originates dari etnolingustik Anglo-Saxon abad ke 8, yaitu Erda yang berati permukaan (ground) atau tanah (soil). Lalu, di sekitar tahun 1400-an kata Earth digunakan untuk menamakan bulatan bumi ini. Inilah satu-satunya nama planet dalam tatasurya yang diberi nama tidak berasal dari mitologi Greco-Roman. Lantaran dipahami sebagai ground atau soil maka imajinasi kebanyakan budaya dan religious beliefs tentang earth atau bumi adalah kekuatan ilahi pemberi kesuburan. Earth has often been personified as a deity in particular a goddes (dewi-dewi). Dalam konteks ini maka kata Mother Goddes adalah goddes yang digambarkan sebagai Earth Mother. Earth Mother adalah sosok pemberi kelimpahan bagi kehidupan di bumi. Orang Aztec, menyebut bumi sebagai Tonantzin (mama kami-our mother). Orang-orang Inca menyebutnya sebagai Pachamama (mother earth). Orang Hindustan menyebut sebagai Bhuma Devi (Goddes of Earth). Dalam mitologi Skandinavia, dewa besar mereka adalah Thor. Nah, ibunda dari Thor adalah Jord (dewi bumi). Orang Indonesia, meminjam kosa kata dari bahasa Sansekerta Prativi, menyebutkan bumi sebagai Ibu Pertiwi. Dan, jangan main-main, dalam budaya Sanskrit, Pertiwi disebut juga sebagai Dhra, Dharti, atau Dhrthri yang artinya kurang lebih adalah yang memegang semuanya. Wow…..(Dalam tradisi dunia perguruan tinggi, kampus adalah Alma Mater atau mama kandung).

Nah, sekarang mari coba kita gandengkan ceritera hari ini dengan bayangan saya tentang Sang Pencipta Bumi yang bersedih melihat ciptaannya dirusak oleh makhluk cipataan-Nya yang lain (manusia). Apa yang dapat kita simpulkan? Adalah ini: Ibu Pertiwi yang kita tempati ini, yang memberi kita air, yang memberi kita makanan, yang memberi kita perlindungan dan yang memeluk kita dalam pangkuannya adalah karunia Sang Pencipta bagi Manusia. Lalu, kita merusaknya. Lalu, kita mengacaukannya. Lalu kita menduhakainya. Kita telah bersikap tidak pantas kepada ibu kita. Mendiaminya tetapi merusaknya. Lalu, melihat penderitaan utusan-Nya tersebut (ibu Pertiwi), sang Pencipta menangis. Lalu, meskipun telah lama menahan penderitaan, sang Bunda-pun ikut menangis. Ya, sang Bunda menangis karena melihat sanga Pencipta Menangis. Masih tegakah kita?

Ketika artikel ini saya tulis, dari layar televisi terlihat sekelompok anak yang mengikuti Pentas Idola Cilik. Mereka beramai-ramai menyanyikan lagu. Ibu Kita Kartini. Lalu, disambung dengan syair lain dari lagu lain....kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.....Lalu, disambung lagi dengan syair lainnya.....waktu ku kecil hidup ku amatlah senang, bunda piara akan daku....Lalu, saya pun perlahan bersenandung.....kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang...... Duh, mama. inang, emak, mbok e, bunda, mother......maafkan saya. Maafkan dia. Maafkan mereka. Maafkan kami semua. Hapuslah air matamu, Bunda. Jangan lagi menangis. Meskipun mungkin Bunda Pertiwi masih berduka, sudilah Bunda bangkit dan mendoakan kami. Kami memerlukan doamu sebagai pendorong bagi kami supaya kami juga mulai berani jujur kepada sang Pencipta bahwa kami bersalah. Kami berjanji akan berubah untuk membalas semua kebaikan bunda sebagai bentuk ungkapan syukur kami kepada sang Pencipta.

Di sini, di Indonesia, pernah hadir seorang perempuan, seperti juga Bunda Pertiwi, yaitu Kartini yang mengajarkan kami teladan bersikap santun terhadap Pertiwi. Lalu, ketika Kartini berlalu, masih ada banyak lagi perempuan-perempuan Indonesia, seperti Kartini, yang mencoba mengikuti jejaknya. Untuk semua perempuan ”perkasa” itu saya, dan mungkin banyak lagi, ingin berterima kasih. Selamat hari Kartini. bangkitlah Perempuan Indonesia. Katakan pada Mother Earth: Kami Ada.....

Keterangan:

  • Kartini: masih ada yang belum kenal? (teeerrrlllaaaallllluuuu jika demikian)
  • Megawati: perempuan Indonesia yang memberi petunjuk bahwa defenisi tidak mungkin bisa diterabas oleh perempuan Indonesia.
  • Katrina Koni Ki’i adalah perempuan Sumba 66 tahun pemenang Kalpataru Award tahun 2005 yang dijuluki Ibu Ribuan Pohon di tanah Sumba yang tandus (coba cari tahu sendiri bagaimana kedudukan kaum perempuan dalam konteks budaya lokalnya. Anda niscaya akan kagum akan mama Katrina).
  • Nana Firman, Fazedha Nasution, Christin Wulandari, Lusi Jowinstianti adalah perempuan-perempuan tegar pejuang lingkungan hidup yang bekerja di WWF Indonesia dan pernah di WWF tetapi berpindah ke CARE Indonesia. Mungkin banyak juga selain mereka tetapi mereka ini saya kenal secara pribadi.
  • Gayatri Bincohutan: perempuan muda santun yang dalam survei saya di dunia blog tampak tidak pernah ragu mencoba berbagai trik blog lalu tidak pernah kikir membagi ilmunya kepada siapa saja yang memerlukan.
  • Ibu Guru Martosudarmo (almarhum): perempuan guru yang memberi inspirasi bagi saya bahwa menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia.
  • Bunda Agustin: perempuan Jawa yang melahirkan dan membesarkan saya. Menjadi guru berhitung (plus rotannya) bagi saya yang jejaknya kemudian membuat saya mampu menemukan sistem index untuk menduga cuaca kebakaran savana (early warning system).
  • Dolly Ballo: ehm...ehm... (eh dua perempuan terakhir ini agak narsis ya? Biarin, EGP he he)
  • Semua gambar bersumber dari: Google Search

Sabtu, 19 April 2008

Seandainya Sang Pencipta Menanyakan Bumi Ciptaan-Nya yang Kita Diami (Jelang Earth Day, April 22 2008)





Berapa usia bumi? Tidak ada yang tahu pasti. Bagi kaum fisikawan materialis, bumi dan sebenarnya seluruh semesta ini (universe), tidaklah memiliki awal. Dan oleh karena itu, tidak akan pula memiliki akhir. Kata Sir Fred Hoyle: alam semesta berukuran tak terhingga dan kekal selama-lamanya (teori steady state). Jadi, menurut kelompok ini: jangan tanyakan berapa umur bumi. Ngga’ urusan gua.

Di lain pihak, berdiri kelompok yang percaya bahwa bumi memiliki umur nol (0). Alam semesta diciptakan dari ketiadaan (big bang theory). Di titik ini, berdasarkan nalar teori big bang, kalangan agamawan dan ilmuwan (dua kelompok ini lebih sering terlibat “tawuran” ketimbang bersetuju) ) bersepakat bahwa bumi diciptakan. Sudah barang tentu, tercipta pula seluruh semesta. Karena semesta, termasuk bumi, memiliki awal maka dapatlah dihitung umur si kang mas bumi ini. Nih dia, antara 10 – 15 milyar years oldaalllaaaammmaaaaakkkk….tuir bhuuaaanggggeetsssss.….

Santo Agustinus: …kita harus ingat bahwa siapa yang membuat segala sesuatu terjadi atau siapa yang membangun mekanisme sehingga semuanya bisa terjadi. Pastilah Tuhan….

Harun Yahya: …begitulah, materi dan waktu diciptakan oleh sang Pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, Dialah Penguasa langit dan bumi….

Stephen W. Hawking:…orang masih dapat percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta pada saat terjadi dentuman besar (big bang theory). Tuhan bahkan dapat menciptakan dunia pada suatu waktu jauh setelah dentuman besar ……

Saya tidak ingin memperpanjang story tentang bagaimana bumi dibuat, dan seterus-nya, and so on and so on, etc., dlsb., blaa blaa blaaa ciluuuuuk blaaaaaa…..no. Bukan itu point pembicaraan saya. Saya menulis frase di atas hanya untuk mengingatkan bahwa bumi yang kita diami ini memiliki sejarah penciptaan. Dan oleh karena itu, dia pasti memiliki Pencipta. Jadi, sesungguhnya Sang Pencipta inilah yang empunya bumi. Bukan milik mama’ moyang gue. Juga bukan titipan anak cucu ente as well). Kita orang extrimis heechh….eh sorry….kita orang cuma indekos. Sekadar menumpang.

Sekarang coba bayangkan, bagaimana jikalau sang Pencipta itu datang hari ini dan menanyakan kepada setiap kita tentang keadaan bumi milik-Nya yang kita diami. Mungkin banyak di antara kita terpaksa jujur mengatakan kira-kira begini: bahwa bumi ini sudah kami kapling-kapling berdasarkan ikatatan-ikatan etnik atau alasan-alasan tertentu lalu dilegalkan dan disebut sebagai negara, kerajaan, propinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, desa, RT/RW dan seterusnya seenak udhele dhewek. Maka, Indonesia dan Malaysia berantem soal Ambalat. Lalu, karena kami kadang suka saling tidak suka maka kami kerap kali saling melakukan perseteruan, yang dalam bahasa bumi, disebut sebagai perang, tawuran, keroyokan, geng motorz dst…..dst….. sambil merusak lingkungan seperti di Hiroshima-Nagasaki, Jepang. Lalu, demi pembangunan ekonomi maka pohon-pohon, semak-semak, rumput-rumput, burung-burung, ular-ular, cacing-cacing dan kodok-katak sudah kami eksploitasi habis-habisan. Kami tebang habis. Kami jual habis. Kami bakar habis. Demi pembangunan pula (sesuai petunjuk bapak Presiden: Hidup Pembangunan), kami membakar habis semua bahan bakar fosil dan asapnya kami kirim ke langit. Lalu, kami ciptakan istilah yang bagus untuk dampak dari kejahatan ini, yaitu efek rumah kaca (green house effect)…woowww keereeennn….

Dahulu, karena masih banyak pohon-nya, udara kami segar dan nikmat. Hujan-nya lancar. Matahari-nya bagus untuk fotosintesis. Sungainya bersih dan teratur. Sekarang, karena sudah pada gundul itu hutan-hutan maka udara menjadi lebih panas, kalo dateng hujan maka pada banjir semua tempat. Jakarta sih kagak useh (atau kagak usep bararudak ti bandung) dihitung. Selalu kelelep tiap musim hujan. Kalo pas musim kemarau, sungai-sungai pada kering. Orang di Timor yang jarang ngeliat hujan itu skarang tiap tahun selalu kena bencana kelaparan karena jagungnya enggak mau tumbuh lantara kurang air (teeerrllllaaallllluuu kata Rhoma Irama). Burung-burung pada enggak kelihatan karena udah ditembakin satu-satu atau dijepret pake katapel atau memang pohon tempatnya hinggap dan berkicau sudah dijual.

Syair lagu burung kakatua kontemporer jadi begini nih:

burung kakak tua sekarang tinggal dua, bumi sudah tua pohon-nya tinggal dua….

Sekarang kota Bandung kalau hujan yang turun bukan air tetapi es (es batu zonder pake sirup). Masih mending Bandung, di tempat lain badai tornado makin sering whhussszzzz….wwwhhusssszzzz…. permukaan laut semakin meningkat karena es di kutub pada meleleh. Tagal perkara yang satu ini, diperkirakan pada tahun 2040 ada 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Nah, lu.

Saya membayangkan, cuma membayangkan lho, bahwa setelah mendengar penuturan orang-orang bumi ini, sang Pencipta sambil mendengus dongkol, mata berkilat-kilat menahan marah, tangan mengepal karena geram lalu menggeleng-geleng kepala menggigit bibir kesal membatin: ini orang dunia pada enggak tahu diri ya. Sudah mengaku-ngaku tanah sebagai miliknya, hutan, pohon dan lingkungan yang Gua bikin malah dirusak, sungai yang ada dibiarkan rusak dan ditaburi sampah betumpuk-tumpuk…eh sudah begitu mereka malah sonta-santai mikir pilkada, pilpres, dan pileg, Anggota DPR di negara yang bernama Indonesia malah menerima suap guna menghabiskan hutan. Cowboy Bush ngirim tentara nembak-nembak sok jago. Bule Belonda bikin film Fitna lalu mereka orang dunia ribut sendiri….dan….hhmmmm…….Mereka bukannya bersyukur atas alam yang Aku ciptakan malah sebaliknya mereka menganiayanya. Mereka mendhzolimi-nya. Gue jadi’in kambing baru nyaho….Akan tetapi, Karena Sang Pencipta itu Maha Baik dan Maha Sabar maka Dia diam-diam meneteskan air mata kesedihan melihat betapa celakanya kelakuan makhluk ciptaan-Nya yang, katanya, paling mulia itu (dapatkah anda membayangkan betapa marahnya sang Pencipta?).

Beruntunglah, masih ada orang setipe senator Gaylord Nelson di USA yang memprakarsai peringatan Hari Bumi (earth day) pertama yang dirayakan pada tanggal 22 April 1970. Selama bertahun-tahun tuan Gaylord ‘bergerilya’ dari kampus ke kampus, dari komunitas ke komunitas, mengkampanyekan tentang kesadaran lingkungan, dan bagaimana bersusaha merubah pandangan pemerintah Amerika Serikat yang saat itu ‘menomorduakan’ isu-isu lingkungan. Padahal di seluruh penjuru Amerika Serikat saat itu, tanda-tanda penurunan lingkungan telah terlihat. Sejarah kemudian mencatat aksi damai yang diikuti oleh 20 juta orang di seluruh Amerika Serikat pada tanggal 22 April 1970, berhasil menekan pemerintah USA saat itu, untuk memasukan masalah-masalah lingkungan sebagai agenda politik yang juga harus diperhatikan. Beberapa tahun sebelum Mr. Gaylord, isu kesadaran lingkungan juga sudah dilakukan oleh Rachel Carlson yang pada tahun 1962 menulis buku berjudul Silent Spring. Buku yang mempengaruhi sikap etis masyarakat Amerika terhadap lingkungan hidup.

Sekarang, di tahun 2008, setelah 38 tahun berselang, Hari Bumi tidak lagi hanya diperingati oleh masyarakat Amerika, tapi oleh masyarakat di berbagai negara di seluruh dunia sebagai sebuah komunitas global. Tercatat dari data Earthday Network, Hari Bumi tahun 2004 lalu dirayakan di 175 negara, oleh sekitar 15.000 organisasi, dan diikuti oleh lebih dari 500 juta orang! Almarhum tukang musik ex The Beatles John Lenon membayangkan dan bermimpi bahwa untuk urusan-urusan kebaikan, mudah-mudahan dia tidak sendiri. Angka partisipan dalam peringatan hari bumi di atas memberi petunjuk bahwa sekarang ini we are definietly not alone!

Lalu, apakah bumi menjadi lebih baik?

Silakan setiap pembaca yang budiman merenungkannya sendiri jawabanya. Saya will think very cook cook and very good good lantas, besok akan saya kasi tau apa pendapat saya. Karena saya masih harus menanam pohon di halaman rumah saya maka tidak bisa lain: Tabik Tuan. Tabik Puan.

Keterangan: semua gambar diperoleh melalui Google Search