
Yesus berkata, ”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39).
Inilah kata-kata yang sangat terkenal yang dikatakan oleh Yesus kepada pengikut-pengikut-Nya. Inilah pula frasa kata yang kerap disalah-artikan oleh pembaca Alkitab. Friedrich Nietzsche (1844-1900), seoarang filsuf raksasa asal Jerman, yang berayahkan seorang Pendeta Gereja Lutheran, mengecam tradisi Kristiani yang menurutnya adalah tradisi kaum penakut.
Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri.... Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu (pembunuhan Tuhan)?
Budaya seperti itulah yang amat dibenci Nietzsche. Mau jadi apa dunia ini kalau dunia dipenuhi orang-orang dengan mental pecundang itu? Bayangkan, bila di tengah persaingan usaha yang tajam tiba-tiba seorang pengusaha datang dan berkata: ah, saya mengalah saja. Ambilah proyek itu untuk anda? Atau, di tengah kancah pertempuran yang dahsyat tiba-tiba, tanpa ada hujan dan angin, seorang panglima pasukan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan berkata: ambil saja wilayah kami. Kami mau pergi. Ah, kacau. Lebih kacau lagi, jika di tengah kemelut tekanan kejahatan, orang percaya berujar: ah, biar saja kejahatan berpesta pora. Mari kita masuk ke dalam kamar, berdoa dan bernyanyi saja. Kejahatan tidak usah dilawan. Bukankah hal ini cocok dengan prinsip Kasih? Bukankah ini sesuai dengan kata Yesus soal tampar-tamparan? Jika Nietshe geram dengan kelemahan, dan mungkin kita juga tidak setuju dengan sikap manda atau nrimo atau ia bae, maka apa alternatif kita? Mungkin kita terpaksa bergabung dengan Nietzsche. Lawan setiap tekanan dengan intensitas yang sama, dan bila perlu lebih dahsyat. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kekuatan dikedepankan. Bahwa kekerasan bisa menjadi efek dari pameran kekuatan, pusing amat. Itukan cuma soal konsekuensi. Si vis pacem parra belum. Barang siapa mau memiliki damai bersiaplah untuk berperang. Cocok? Belum tentu.
Charles Darwin, ilmuwan yang teorinya amat sangat kontroversial sampai hari ini, mengemukakan dalam buku The Origin of Species bahwa: berdasarkan hasil pengamatan empiris maka harus dikatakan bahwa ciri kehidupan yang terpenting adalah persaingan. Untuk bisa survive atau bertahan hidup, semua makhluk mesti berjuang. Dan siapa yang berhasil survive? Kata Darwin, yang survive adalah makhluk yang paling pas. Paling cocok. Paling paling fit dengan kondisi lingkungannya. Survival of the fittest. Bukan survival of the strongest. Yang bertahan hidup adalah yang paling bisa menyesuakan diri supaya cocok dengan lingkungan. Bukan yang paling kuat. Bumi pada masa jurassic dipenuhi oleh jenis-jenis yang paling kuat dan besar. Tapi hal itu tidak selamanya karena digantikan oleh zaman, di mana kuat dan besar justru merupakan kelemahan. Ketika atmosfir dipenuhi debu akibat bumi dihantam meteorit sehingga suhu bumi menjadi dingin berakhirlah masa kejayaan makhluk-makhluk raksasa dan perkasa, sejenis dinosaurus, brontosaurus, mastodon, dan sebagainya. Sebaliknya, justru makhluk-makhluk kecil dan lebih lemah sebangsa kura-kura, buaya, dan biawak — dan sudah barang tentu, manusia, yang lebih fit – lebih mampu bertahan karena lebih mampu menyesuaikan diri. Pertanyaannya adalah makhluk macam apa yang paling fit, atau paling memenuhi syarat untuk mampu bertahan. Bervariasi sesuai hukum Ekologi. Dalam teladan Hukum Toleransi Shelford, orang bule lebih tahan di iklim dingin. Sedang orang keling lebih nyaman di daerah panas. Tanaman teh tumbuh subur di Puncak, di daerah pegunungan Tapi jangan harap bisa bertahan di Kupang, di daerah pantai. Jadi, daya hidup jenis sangat ditentukan kemampuannya untuk bertoleransi dan beradaptasi. Yang dibutuhkan adalah kelincahan dan kecerdikan.
Mengapa mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang paling mampu bertoleransi dan berdapatasi? Dalam ilmu Ekologi, daya toleransi menuju adaptasi dari suatu spesies dibangun melalui 3 sistem respons organisme, yaitu penghindaran (avoidance), merubah bentuk (ameliorasi) dan adaptasi (sama sekali menjadi amat mirip dengan lingkungan). Species seperti ini disebut sebagai species cerdik (percetive species). Ketika terjadi masalah maka jangan dihadapi tetapi hindari. Ketika ada masalah maka rubahlah sedikit anatomi anda supaya cocok dengan situasi. Ketika di dalam masalah maka hilangkan jati diri anda sama sekali biar tidak kelihatan berbeda. Kemungkinan besar Simon Petrus yang menyangkal Yesus sedang mempraktekan mekanisme respons penghindaran. Hal yang sangat manusiawi dan kodrati karena apapun juga, Simon Petrus adalah spesies jua. Dan harus kita akui bahwa dia sungguh cerdik. Lalu, apakah model Iman Kasih seperti ini paling ideal?
Pada titik ini, perkatan Yesus yang lain, yaitu yang meminta kita untuk tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular bisa dijadikan landasan justifikasi. Cilakanya, menurut Almarhum Pdt. DR. Ekadarmaputera, iman model begini, yaitu iman yang cerdik dan sibuk mencari jalan penyesuaian diri, sering termanifestasi menjadi Iman yang oportunis. Meminjam logika (almarhum) DR. Ekadarmaputera, saya harus memberikan ilustrasi bahwa iman oportunis adalah iman yang begitu cerdiknya beradaptasi sehingga ketika anda berada di kandang kambing anda akan mengembik lalu di kandang sapi anda melenguh. Usaha adaptasi ini berjalan begitu rupa sehingga pada akhirnya orang tidak bisa lagi membedakan apakah anda itu tergolong orang atau seekor kambing atau seekor sapi atau....mungkin monyet. Huueeebaaaatttt euuuyyyy......
Ah, saya agak demam dan badan menjadi berasa capek. Dan hal ini manusiawi lho. Lagian, supaya artikel tidak terlalu panjang dan anda menjadi dongkol membacanya maka saya hentikan dulu di sini. Saya mohon permisi. Besok saya sambung lagi....maka ...Tabik Tuan Tabik Puan ........(Bersambung)
























