Selasa, 08 April 2014

memilih itu bebas

Dear Sahabat Blogger,

"JADI, benarkah Allah yang bertanggung jawab atas penderitaan dan kesakitan manusia? Jelaslah bahwa Allah sendiri melakukan pilihan. Dan Ia mengambil keputusan, termasuk segala risikonya, yaitu menciptakan alam dengan "hukum kodrat" yang pasti, sekaligus menciptakan manusia dengan "kehendak bebas".

Kayu misalnya diciptakan oleh Allah keras dan padat. Ini "hukum kodrat"nya. Manusia tidak bisa mengubah "kodrat" ini. Tapi "kehendak bebas" manusia, memberinya pilihan untuk memanfaatkan kayu yang keras itu untuk membangun rumah atau untuk melukai sesamanya.

Tentu saja Allah bisa-mengetahui maksud jahat manusia-lalu mengubah kayu yang keras itu menjadi seperti spons. O, bisa! Tapi ini sengaja tidak dilakukan-Nya. Pertama, karena Ia menghormati "hukum kodrat" yang Ia tetapkan sendiri. Dan kedua, karena Ia juga mau menghormati "kehendak bebas" manusia, yang risikonya memang adalah bebas melakukan kebaikan tapi bebas pula melakukan kejahatan"

(Dunia Tanpa Kesakitan?, Dr. Eka Darmaputera)

posting kali ini dibuka dengan kutipan dari renungan Dr. Eka Darmaputera alm. yang intinya ingin mengatakan bahwa manusia itu memiliki kebebasan yang justru berasal dari Allah. Silakan menggunakannya karena dengan begitu manusia boleh menggunakannya dalam menghadapi "hukum kodrati" yang alamiah dan pasti itu. Catatan pentingnya adalah jika benar kebebasan itu berasal dari Allah maka tak pelak lagi kebebasan bersifat ilahiat. Luar biasa kan? 

Tulisan ini dibikin pada tanggal 8 april 2014. Sehari menjelang pemilihan umum bagi anggota legislatif baik yang berada di DPR RI, DPRD I, DPRD II dan DPD. Adagium lama yang terkenal dalam kaitannya dengan pemilu adalah "suara rakyat adalah suara Tuhan". Kebanyakan orang setuju dengan adagimum ini tetapi tak semuanya. Misalnya, kebanyakan orang Kristen ketika membaca kisah penyaliban Yesus Kristus pasti menolak adagium ini. Bagaimana mungkin suara Tuhan jika orang banyak memilih menyalibkan Yesus yang tak bersalah itu sembari membebaskan barabas yang jelas-jelas penjahat. Tak mungkin itu suara Tuhan kan? Mutlak begitu? belum tentu karena ada pula orang Kristen yang berpandangan lain, yaitu memang sudah harus begitu supaya "genap" grand design Allah bagi dunia. Bukankah jikalau Yesus tak mati di Salib, gagal pula skenario yang bahkan sudah disebut sejak Perjanjian Lama. Lalu, dari mana untuk teks yang pasti, orang-orang masih saja berdebat membela pandangannya masing-masing? jawabnya ini: karena manusia tanpa kecuali memiliki "kehendak bebas". Itu asazi. Hegel sang filsif jerman mengatakan sejarah dunia adalah sejarah mencari kebebasan. Sartre mengatakan bahwa manusia "dikutuk" untuk menjadi bebas kendati dia sendiri takut untuk bebas.

Itu pegangan pertama bagi saya bahwa pemilu adalah wahana yang di dalamnya ada kebebasan saya seberapapun besar kewajiban saya. Saya bebas untuk mencoblos atau tidak. Saya bebas memilih si anu dan si inu sembari tidak memilih si polan dan si fulan. Tetapi ada hal kedua yang jadi pegangan saya yang justru berasal dari pandangan tentang kebebasan itu sendiri. Saya mulai dari pertanyaan, apa itu kebebasan? Saya mengutip beberapa filsuf dan pendapatnya tentang bebas:

  • Aristoteles: tujuan hidup manusia adalah mencapai eudaimonia, atau kepenuhan diri . atau kebahagiaan sejati. Jika orang sudah mendapatkannya, maka ia tidak akan menginginkan apapun lagi. Hidupnya sudah penuh dengan sendirinya. kebebasan adalah upaya untuk bahagia. Bagaimana caranya? Aristoteles bilang: dengan menajamkan akal budinya. Dengan begitu kebebasan bukanlah sesuatu yang netral, melainkan mengarah pada penajaman akal budi manusia guna mengembangkan keutamaan-keutamaan dirinya, seperti sikap berani, adil, jujur, siap berkorban, dan lain sebagainya. Kebebasan bukanlah tujuan pada dirinya sendiri.
  • Agustinus berpendapat bahwa kebebasan bukanlah perilaku ataupun tindakan, melainkan kehendak. Kebebasan paling murni adalah kehendak bebas. Manusia memang ciptaan Tuhan. Namun manusia memiliki status istimewa, karena ia memiliki kehendak bebas di dalam dirinya. Tuhan pun tidak bisa ikut campur mempengaruhi kehendak bebas manusia. Tuhan bisa memerintah namun manusia bisa menolak, karena ia memiliki kehendak bebas. Kejahatan lahir bukan karena Tuhan menciptakannya, tetapi karena manusia bisa memilih yang jahat dan yang baik di dalam hidupnya. Dengan kehendak bebasnya manusia bisa memutuskan, apakah ia akan menjadi orang yang baik, atau tidak. 
  • Immanuel Kant kebebasan adalah otonomi moral, yaitu kemampuan orang untuk menentukan dirinya sendiri. Dengan akal budinya orang bisa secara rasional menentukan, apa yang baik dan apa yang jahat. (Kant, Critique of Practical Reason) Ada beberapa kriteria etika yang dirumuskannya. Pertama, dengan kebebasannya orang bisa menentukan, apakah suatu tindakan bisa dijadikan hukum universal atau tidak. Kedua, juga dengan kebebasannya, orang bisa menentukan, apakah tindakannya menjadikan orang sebagai tujuan pada dirinya sendiri, atau semata alat bagi kepentingannya. Bagi Kant manusia memiliki martabat yang tinggi. Ia tidak bisa dijadikan alat untuk kepentingan apapun. Dan yang ketiga, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Dengan kebebasannya ia bisa memilih, apakah akan mengikuti kewajiban moralnya, atau tidak. 

Apa yang bisa kita simpulkan dari pernyataan para raksasa filsafat di atas? Kebebasan itu sejatinya adalah kehendak untuk mewujudkan keutamaan diri agar dapat mengikuti kewajiban moralnya. Itulah kebebasan jika saya bersetuju bahwa kebebasan adalah kehendak untuk mengikuti teladan sang pemberinya, Tuhan. Saya dapat saja memilih jalan sebaliknya, yaitu tak perlu memilik budi yang utama sembari mengacuhkan kewajiban moral. Itu juga kebebasan tetapi pasti tidak sesuai dengan teladan pemberi. Dasar apa saya bilang begitu? Meminjam wacana dalam kajian filsafat tubuh, jiwa dan roh maka saya mendapatkan konstruksinya. Begini:

Dalam setiap manusia hidup terdapat 3 bagian besar komponen, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Tubuh adalah materi biofisik-kimiawi kita yang dengannya kita mampu menyentuh, membaui, mendengar, melihat dan merasa. Jiwa adalah immaterial tempat kita berkehendak (afeksi), beremosi, berlogika, berimaginasi, beralasan dan lain sebagainya. lalu, roh adalah spirit immortal yang konon merupakan tempat dimana Sang Maha Ada meniupkan dan membisikan kebaikan bagi kita. Dengan demikian, kebebasan adalah bisikan Ilahi yang dimengerti roh saya dan hal ini menggerakan jiwa kehendak saya yang lalu menuntun tubuh saya bertindak memilih kebebasan. Maka, saat saya berada di dalam ruang memilih, saat itulah seluruh akal budi saya akan saya tajamkan untuk memilih sebaik-baiknya berdasarkan referensi  yang tepat. Saya tak bakal memilih atas dasar "serangan fajar", keterpaksaan primordialisme, intimidasi pimpinan kantor, eksploitasi kemiskinan dan ketidak berdayaan dan atau kedekatan perkawanan semata. Itulah penindasan terhadap kebebasan saya. Dan jika itu saya lakukan maka sebenarnya saya tidak memilih secara bebas. Saya tidak akan begitu. Itulah pegangan saya yang kedua: memilih secara bebas, yaitu dengan ketajaman akal budi.

Memilih adalah kebebasan dan itu top merkotop, sip merkuzips....


Bee Gees - One [HD] 3D

 
Selamat Memilih Puan dan Tuan

Kamis, 20 Maret 2014

dari mana hendak kemana: quo vadis

Dear Sahabat Blogger,

Tak terasa sudah 3 bulan kita berada di tahun yang baru, 2014. Agak menyedihkan bagi saya dan blog ini. Terlantar, tak diurus dan tak ada entri baru. Beberapa sahabat memprotes keras. Keasikan maen FB luh. Jawab saya, mungkin saya begitu. Bisa juga tidak persis begitu. Satu hal yang pasti, di saat HUT blog ini yang ke 6, karena saya memulainya pada 20 maret 2008, semangat saya untuk menulis sesuatu yang agak panjang menurun drastis. Bisa karena saya kelelahan dengan laporan penelitian dan aktivitas lain yang panjang-panjang dan memakan banyak pikiran dan juga waktu. Bisa pula karena saya semakin menua 6 tahun lamanya. Saya sendiri berpikir, masalah saya dan blog ini ada pada faktor usia tadi. Bagaimana bisa begitu? Ya, sekarang saya semakin mudah jatuh sakit dan, cilakanya, sekali jatuh sakit bisa berhari-hari dampaknya. Akibatnya, proses berpikir mendalam perlahan lenyap digantikan dengan hal-hal kecil yang lebih ringan yang kebetulan formatnya cocok dengan format FB. Campur aduk tak keruan itulah yang membuat produktivitas saya menurun jauh dalam menelurkan tulisan di blog ini. 

Mudah ditebak, blog ini secara perlahan mulai ditinggalkan para sahabat. Menurut statistik blog, sehari paling banyak dikunjungi hanya oleh 10-20 orang saja. Jauh menurun ketimbang di saat saya sangat aktif dimana dalam 1 hari, blog ini bisa dikunjungi oleh paling kurang 50-an orang. Begitulah, Kurang perhatian akan berbalas kurang perhatian juga. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Saya tak perlu sedih karena itu sudah hukum dunia. Bahkan sayapun bertanya dalam hati, pas di saat HUT ke-6 blog ini...."quo vadis", mau kemana. Dan itulah pertanyaan ultimat pada setiap manusia hidup...."setelah semua yang terjadi sampai hari ini, quo vadis, so what, bade tindhak pundhi, pi mana woe, hendak kemana". lalu, tentang hal ini saya ingin sedikit berbagi kesusahan a.k.a kegalauan. Begini bos dan bis....

Bulan-bulan belakangan ini, saya kehilangan beberapa orang saudara, sahabat dan kerabat....whusz, whesz, whooossszzz....hilang dibawa angin. Saya resah, apalagi sakit bertubi-tubu menghajar, dan lalu sering terbawa mimpi. Puncaknya semalam. Dalam tidur saya bermimpi sedang dikejar burung malam yaang menakutkan. Saya berlari dan terus berlari. Sampai di tepi jurang nan dalam tak kelihatan dasar, habis jalan saya. Dan si burung dengan sorot mata yang tajam dan paruh yang berdarah segera saja menyergap kearah saya. Habislah. Begitu? Tidak. Tiba-tiba saya punya kekuatan dan keberanian untuk melawan. Si burung saya tangkap lalu, entah dari mana, ada pistol di tangan saya dan lalu....baaaaaaaaaang...saya menembaknya 3 kali. Matilah si burung. Selesai? belum. Tak dinyana, dari bangaki burung itu keluarlah bayangan yang sangat besar dan tertawa terkekeh-kekeh dan berkata........"mampus kau kali ini, kau pikir urusanmu selesai dengan si burung mati? tidak. Kau sekarang membebaskan saya dari jasad si burung. kau tahu siapa aku, akulah lucifer mimpi buruk setiap manusia hidup dan sekarang saatnya kau aku musnahkan"....dengan menggerang keras durjana itu mulai melahap saya, asap hitamnya mulai meliputi saya dan perlahan saya kehilangan penglihatan dan juga mulai kehilamgan kesadaran. Tamat? belum bro en sist. Tiba-tiba datang sinar terang dari langit, sangat ternag dan menyilaukan dan lalu....si asap hitam hilang lenyap, saya tersadara tetapi sama sekali tak mampu melihat sinar itu dan.....saya pun terbangun tak mampu dan tau mau tidur kembali...ada apa? mau kemana?

Catatan kecil saya mengakhiri posting ini. Semua manusia hidup akan mengalami hukum biologis "generation and corruption". Ada saat kamu lahir dan saatnya ada pula untuk semuanya terhenti, terpotong, dikorupsi oleh ruang dan waktu. Waktu mudamu adalah manusia perkasa tapi jangan terlena karena akan datang masa kupingmu kehilangan pendengaran, matamu mulai merabun, tulangmu mulai berkapur dan kau mulai bersahabat dengan tongkat, jaket, kain panas dan tempt tidur. Bermula di tempat tidur, ujungnya kembali ke tempat tidur. Selesai? belum. Saat akhir akan tiba, tak begitu lama.....begitulah. So, ingatlah rumus hukum biologi ini "generation and corruption". Setelah itu, quo vadis? Itu pertanyaan saya dan anda juga baik kemarin, hari ini dan besok. Dan ini catatan kecil itu: yang bisa dibuktikan oleh fakta empiris adalah kematian biologis. Ketidakmatian bagaimana? Tak ada satupun metode empiris bisa membuktikan ini. Maka, jangan menyimpulkan bahwa kehidupan abadi itu tidak ada. Ilmu hanya bisa bilang, sejauh pengamatan tidak ada manusia hidup secara biologi terus menerus. Nietzsche bilang, hidup lalu nihil. Marx bilang dinamika dialektik akan sampai di satu titik dan selesai ketika manusia menjadi sempurna. Apa itu nihilisme dan apa itu sempurna. Kedua orang ini tak punya jawaban ultimat. Pemuja dan penentang keduanyalah yang bertengkar hingga hari ini. Heeeeiiii, untuk apa keributan mirrip orang indonesia kampanye pemilu itu? tak jelas. Tak tahu kemana ujungnya. Quo vadis...

Selesai? belum. Ada titik yang masih harus kita tuju. Hidup itu proses menuju. Hidup adalah mampir minum, setelahnya berjalan kembali menuju ke satu titik. Apa itu? Omega. Dimana itu? hanya Allah yang tahu, kita cuma peziarah yang berjalan. So, jalanlah terus tuan dan puan. Berbuatlah kebaikan. Lho emangnya kau pengen punya musuh semasih hidup biologis? kesian eh sekian.....

Celine Dion & Bee Gees- Immortality In The Recording Studio


Tabe Tuan Tabe Puan

Selasa, 13 Agustus 2013

(saia tak suka) 3 bukti bahwa manusia keturunan kera

Dear Sahabat Blogger,

Lama menghilang, dengan alasan yang sudah saya ungkapkan di posting terdahulu, membuat rindu. Kebetulan hari ini diberi ijin untuk bedrest oleh boss saya di kantor maka posting ini dibuat. Pada mulanya ada pilihan posting: apakah tentang kemerdekaan ataukah tentang evolusi? Tentang kemerdekaan pastilah akan banyak perbincangan lalu saya kuatir menjadi seperti "menggarami air dilaut". Lagi pula, banyak hal ichwal di sekitar kita yang bertautan dengan negara yang membangkitkan rasa "emosi jiwa", kendati 2 ganda bulutangkis kita menang, jadi juara dunia. Itu terlalu sedikit. Bayangkan, baru saja 2 hari setelah lebaran, warga di DKI dan di Lamongan berperang tanding. "Apa itu tidak edhaaaaan" kata Gombloh yang sudah awarahum (minjem Asmuni Sri Mulat yang juga telah awarahum). So, ketimbang posting tentang merdeka lalu hanya menjadi cacimaki untuk negeri (ada sahabat blogger saya yang bernama "anak NKRI" yang siap mencomel saban kali saya marah-marah kepada rekipliek) mending saya menulis tentang evolusi saja. Lalu, inilah tulisan itu:

Selama liburan 9 hari, saya menuntaskan membaca 1 buah buku berjudul "Evolusi" karya Ernst Mayr (2010, edisi asli 2001). Ernst Mayr adalah seorang biologist dan lalu merintis berkembangnya bidang filsafat biologi. Zoologist ini pernah meneliti tentang burung-burung di Papua yang menuntun beliau pada penemuan teori spesies biologis dan cara peembentukan spesies baru. Asal tahu saja, 2 konsep temuannya ini menjadi penopang yang kuat bagi konsep biologi evlolusi-nya Darwin. Dan asal diingat saja, teori Darwin adalah teori yang dianggap sebagai penemuan terbaik manusia terhadap rahasia alam. Teori ini bahkan dianggap lebih hebat ketimbang teori Eisntein, Newton, Hawking, Thomas Edison dengan listriknya dan setumpuk para raksasa lainnya. Asal pula dicatat bahwa teori evolusi Darwin telah hampir memutuskan keterkaitan antara ilmu dan agama wahyu. Ini bikin repot karena kadang kala perdebatan berubah menjadi kerusuhan. Singkat kata, Ernst Myar sungguh-sungguh contoh guru besar sejati yang terkenal karena karya ilmiahnya, bukan omong kosongnya. Tentang ini, saya harus malu. Lalu, apa kata beliau tentang evolusi. Banyak dan tak mungkin habis dibahasa di halaman ini. Karena itu saya ingin fokus pada pendapat beliau tentang evolusi manusia. Lengkapnya begini:

Tentang evolusi beliau berpendapat "bahwa evolusi telah terjadi sudah luas diakui". Selanjutnya, dikatakan bahwa kehidupan berasal dari satu asal, yaitu kumpulan makromolekul yang bisa memperoleh zat dan energi dari molekul tak bernyawa di sekitarnya dan juga dari energi radiasi matahari.Sekitar 3.8 milyar tahun lalu, kehidupan pertama muncul di bumi dalam bentuk prokariot (bakteri, tanpa isi sel) sampai sekitar 1 milyar tahun lalu. Setelah masa ini, muncul eukariot (organisme dengan inti sel). Dari titik ini, kehidupan beringsut berevolusi menjadi tumbuhan dan hewan. Pada sauatu masa antara 33-24 juta tahun lalu muncul primata kera dan Proconsul pada antara 23-15 juta tahun lampau adalah nenek moyang manusia.Kera Australopithecus ada sekitar 3,8 - 2,8 juta tahun lalu. Lalu perubahan drastis dari savana pohon menjadi savana semak di Afrika memaksa kera turun ke tanah dan membentuh Homo. Secara tiba-tiba bermunculan Homo hamabilis pada 2 juta tahun lalu lalu belakangan dirubah sebutanya menjadi Homo Rudolfensis. Pada saat yang bersamaan muncul Homo erectus (ditemukan fosil paling tua di Jawa dan China, bukan di Afrika).

Akhirnya, 1 juta tahun lalu hadir Homo sapiens yang adalah manusia moderen yang tercatat menyebar keluar daari Afrika antara 200 - 150 ribu tahun lalu dan, antara lain, mencapai Nusantara antara 60 - 5- ribu tahun lalu. Dengan meyakinkan Mayr berpendapat, inilah nenek moyang manusia termasuk nenek moyangnya dia, kakeknya, buyutnya dan juga saya (anda juga dong). Benar begitu? Probabilitas. Kemungkinan. Terlalu banyak uraian Mayr yang menggunakan pilihan kata "kemungkinan" dan "tiba-tiba muncul". Ketika menyatakan bahwa 3.8 M tahun lalu hadir prokariot, seketika pula dinyatakan bahwa tidak ada bukti fosil. Dari mana bisa disimpulkan begitu? Ya karena ada temuan fosil eukariot, makhluk sesudah prokariot, maka sudah seharusnya ada prokariot. Hipoteis tanpa bukti tetaplah hipotesis bukan? Lagian, agak aneh, jika kehidupan pertama adalah bakteri, mengapa tidak sekalian menyebutkan bahwa nenek moyang Ernst dan kita semua adalah bakteri? Apa karena dengan begitu setiap buang air besar, kita tidak dituduh membunuh nenek moyang kita sendiri manakala kita memebersihkan tubuh kita dengan sabun? Entahlah...

Akhirnya, guna meyakinkan bahwa manusia sungguh-sungguh keturunan kera, Profesor Erns mengajukan 3 buah bukti, yaitu:
  1. Bukti anatomis : semua struktur anatomi manusia sampai rinciannya sama dengan anatomi kera Afrika. Segelintir perbedaan manusia dengan kera hanyalah perbandingan ukuran lengan dan tungkai, keluwesan ibu jari, rambut tubuh, pigmentasi kulit dan ukuran syaraf pusat, khususnya otak depan.
  2. Bukti fosil : banyak bukti fosil bahwa antara  pada 5 juta tahun lalu terjadi perubahan dari simpanse menjadi manusia. Sayangnya belum ditemukan bukti fosil dari 8 - 5 juta tahun lalu yang menunjukan percabanagn garis keturunan kera menjadi simpanse dan manusia.
  3. Bukti evolusi molekuler : pengetahuan bio-molekuler menunjukan bahwa ada kemiripan yang luar biasa antara molekul kera dan manusia. Beberapa enzim dan protein seperti hemoglobin amatlah mirip di antara manusia dan simpanse. Perbedaan yang ada sangat kecil.
Demikianlah Mayr berpendapat lalu percayakah saya? Saya tidak ingin masuk sejauh itu, yaitu soal percaya dan tidaknya. Ada yang saya tidak suka dari cara pembuktian di atas. Perhatikanlah bahwa Mayr selalu meyakinkan bahwa semua argumennya itu dibangun atas bukti yang amat kuat. Hanya sedikit beda anatomis, hanya sekedar tidak ada bukti fosil pada masa sebelumnya dan akhirnya, hanya sedikit sekali beda antara molekul manusia dan simpanse. Dengan begitu, Mayr berpendapat "sangat tidak rasional" menolak fakta bahwa manusia memang berasal dari kera. Bukti bertumpuk. Masalah saya ada di situ, yaitu apakah perbedaan yang amat sedikit itu adalah alasan bahwa kera dan orang itu sama? Kata "penjahat" dan "penjahit" amat mirip, hanya sedikiiiiiit banget bedanya, yaitu pada huruf a dan i setelah huruf h dan t yang sama yang menjepit a dan i. jangan sekali-sekali anda bilang bahwa ...ah itu soal lain....karena semuanya ini menggenai fakta empirik. Bukankah Mayr dkk ingin agar evolusi kera menjadi manusia diterima sebagai fakta? Jika begitu terima juga dong bahwa penjahat dan penjahit harus sama karena 2 buah kata itu adalah fakta. Bukan hayalan saya. Anda setuju dengan Mayr? Saya tidak.

Lalu, dapatkah kita mengandalkan fakta beda yang amat sedikit itu guna membenarkan fakta berikut ini. Pesepak bola Messi dari Barcelona tendangannya ke gawang real madrid gagal menjadi goal karena meleset sekitar 0.25 cm dari tiang gawang.  Dapatkah kita menganggap bahwa real madrid kalah 1-0 dari barcelona karena 0.25 cm itu jarak yang amat kecil? Fakta adalah apa yang menjadi kenyataan dan bukan kira-kira. Tendangan Messi fakta tidak menjadi goal karena terkena tiang gawang lalu tempias kekuar, out. Okeilah jika persoalannya dibawa ke area statistika probabilitas. Karena bukti sudah setumpuk, frekuensi bukti kemiripan berulang sangat banyak maka kumpulan data itu harus dianggap benar. Masalahnya, dalam teori probabilitas terdapat konsep alfa, yaitu ruang yang sangat sedikit bagi terjadinya galat atau eror. Tetapi teori probabilitas baru dianggap valid jika persebaran data normal, teracak dan seterusnya. Bagaimana mungkin hilangnya data selama 3 juta tahun dianggap sepele? Padahal 3 juta tahun itu ingin menunjukan terjadinya percabanagn antara kera dan orang. Karena itu, kehilangan data pada periode itu menurunkan tingkat keprecayaan terhadap kesimpulan bahwa manusia berasal dari kera. Jika dalam fakta, eror sekecil 1 persen bisa dianggap mengaburkan kesimpulan apalagi ketika eror menjadi 10, 20 30 dan ata anga lebih tinggi lagi. Filsafat manusia mengajarkan bahwa menjadi manusia itu adalah pengalaman asasi. Saya tidak mungkin mengira-ngira bahwa isteri saya itu manusia karena dengan begitu saya membuka kemungkinan bahwa isteri saya itu adalah kera. Menjadi manusia dan tidaknya adalah fakta 100%. Dan akhirnya, jika probalbilitas mengijinkan kesalahan, sekalipun itu 1%, maka bagimana kalau saya percaya sebesar 1% bahwa Darwin dan Mayr salah. Oh, tentang ini Mayr menyiapkan pendapat begini: ..."tak perlu menyajikan dengan tuntas fakta bukti evolusi karena fakta demikian tidak akan membuat yakin mereka yang tidak mau diyakinkan". Astaga, kalau tidak yakin bahwa penjahat dan penjahit itu sama ya sudahlah. Jika begini caranya maka itulah masalah teori evolusi kera menjadi orang. Anda tak bisa menari lantai yang dibilang terjungkit-jungkit. Alamaaakkk...

So, Bapak Ernst silakan percaya bahwa mak moyang anda adalah bakteri dan kera. tetapi mohon jangan bilang saya goblok nan pandir manakala saya percaya ada teori lain yang bisa menjelaskan siapa nenek moyang saya yang sebenarnya. Tak dijelaskankan pun tak mengapa koq. Faktanya adalah Ibu saya adalah seorang perempuan Jawa yang manis budi dan penyabar. Entah enzim apa budi baik itu tetapi saya sungguh percaya bahwa dari Ibunda itulah DNA budi baik yang saya punya....cchieeeeeehhhh...begitulah kali ini...

Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 20 Juni 2013

from zero still zero

Dear Sahabat Blogger,

Beberapa waktu lalu, saya menulis sesuatu di media sosial Facebook. Adalah kesaksian bahwa di atas semua apa yang saya ada pada hari ini adalah TUHAN sebagai prima causa-nya. Tentang  apa kesaksian itu? Tentang ihwal transformasi dalam hidup saya mulai dari tak tahu apa-apa sampai akhirnya di-bisa-kan Tuhan supaya berlaku sebagai utusan-NYA dalam perkara ini dan itu. From zero to still zero but God has promoting me as my self to be HIS disciples. Begitulah sobat, setelah lama menghilang dari blog, lalu pengalaman itulah yang ingin saya tulis ulang.

Saya terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Ayahanda saya seorang Guru di SMEA Negeri Kupang, NTT. Bapak Robert Riwu Kaho. Ibunda, Agustine Riwu Kaho-Soedarjat adalah mantan guru semasa di Jawa tetapi semenjak menikah dengan Ayah saya, beliau lalu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kami bersaudara 12 orang, dua meninggal semasa masih bayi. Yang tersisa 10 orang hidup, kakak beradik, rukun dan ribut. Dahulu begitu, sekarang masih begitu juga. Semua saudara saya sekarang sudah menjadi "orang". Sebagaian besar tidak lagi tinggal di Kupang. Hanya saya dan adik laki-laki yang nomor 11 yang tersisa dan "menjaga kampung". Sekarang pejabat dia di salah satu Universitas Swasta di Kota Kupang. Makmur dia. Saya bagaimana? biasa-biasa saja sebagaimana halnya keluarga saya yang adalah keluarga biasa-biasa saja. Tetapi ada sedikit pembeda bagi kami, yaitu kami semua dibekali Ayahanda kami suatu semangat, yaitu tidak gampang menyerah dalam hidup. Inilah "sharing" saya di Facebook, ketika itu. Selamat menikmati.

So, sekali lagi, kami adalah keluarga biasa tetapi selalu diajarkan bapa Robert untuk jangan mudah menyerah terhadap kesulitan. Jurus yg selalu diingatkan bapa adalah bersandarlah kepada Allah. Bekerjalah keras tapi jujur. Setelah keduanya dilakukan maka terimalah dengan bersukur terhadap apa yang diberikan Tuhan. Kami keluarga yang juga tidak selalu lurus dan tegak perkasa dalam hidup. Selalu saja ada kisah jatuh dan bangun dalam hidup, terpuruk dan ditertawakan. Tetapi 3 jurus teladan bapa robert sungguh ampuh. Saya mau sharing barang sedikit. pengalaman hidup saya. Sebenarnya saya ini seumur umur tergolong bodoh. Di bangku SD, sejak kelas 1 - 4 status kenaikan kelas saya adalah kenaikan. percobaan. Di smp 2, raport semester 1 merah s3mua dan naik ke kelas 2 juga berstatus percobaan. Di sma 1 kupang, nilai matematika 3 pernah tertera di buku raport saya padahal anak ipa. Sewaktu kuliah semester 1 ip cuma 2, 39. Disaat s2 di bogor saya dipanggil wakil direktur pasca ipb yg menyarankan saya mengundurrkan diri ketimbang di DO karna ip di bawah 3. Saya ketika itu pindah studi dr peternakan ke agronomi dan saya buta kenop soal agronomi. Ketika s3 saya pindah studi lagi ke ilmu kehutanan, buta kenop lagi, masih belum sembuh benar dari serangan stroke ringan dimana bagian kiri badan saya kaku dan berjalan masih ditarik tarik, krn satu dan lain hal saya tidak punya beasiswa, di tengah masa kuliah malah gaji saya dihentikan oleh kantor dan diancam dipecat....luaaaarrrr biasa sulitnya.....tapi ketika selesai kuliah saya takjub dengan pencapaian saya, rikuliah dibawah standard wkt normal, menemukan 9 varian savana di zona iklim semi arid, menemukan sistem p3ndugaan bahaya kebakaran hutan dalam sistem kalender dasarian setahun berskala statistik ordinal, membuat sendiri model matematika aditif linear dalam design experimen, semua pencapaian ini diganjar dengan status cumlaude. Setelah itu saya malah mengajar matakuliah statistika di progam pascasarjana padahal dulunya goblok matematika, saya juga asik dengan isu pengelolaan Daerah aliran sungai (das) dan membuat sejarah dimana ntt adalah daerah pertama di indonesia yg punya perda pengelolaan das bahkan ketika aturan di atasnya belum ada. Saya juga mendesign model rpdast yg pertama yg aplicable di indonesia. Untuk 2 upaya ini 2 penghargaan pemerintah pusat diberikan bagi NTT. Dari pengalaman itu saya mendapat kesempatan untuk membantu dit PEPDAS Kemenhut untuk bicara ttg pengelolaan DAS kemana mana di seluruh indonesia...dst ..dst....APA KARENA SAYA DAN KELUARGA HEBAT???? tegas sekali, TIDAK. Saya harus bicara jujur bahwa hingga sekarang, saya tetap bodoh cenderung bebal, keras kepala, agak malas, hidup kurang tertib, semberonoan dan sakit sakitan. Di sinilah teladan bapa dan mama almarhum berperan sangat kuat, yaitu mengandalkan ALLAH, bekerja keras keras tapi jujur dan ikhlas.......

Sharing saya jauuuuhhhhh dari niat memegahkan diri. Ceritera hidup saya adalah kesaksian tentang kehebatan kuasa ALLAH PENGASIH, yaitu ALLAH MAMPU MENGATASI KETIDAK MAMPUANMU. Inilah teladan hidup bapa dan mama. Ini pula dasar posting di status saya hari ini.....mohon dimaafkan kalao keliru, tidak pantas dan terkesan memegahkan diri padahal apa yang dilakukan teman, sahabat, orangtua atau siapa saja  jauuuuhhhh melebihi saya,..sekali lagi, ini tentang teladan mengasihi Allah yang diberi bapa mama yg karenanya hari kematiannya kami peringati dalam doa...semoga ada gunanya bagi kita semua....GBY'ALL...

Tabe Tuan Tabe Puan

maaf maafkan maaf

Dear All,

mohon saya dimaafkan karena lama tidak posting. Ada gangguan di blog dan baru berhasil di "bersihkan".  Selanjutnya akan saya buatkan postingan baru as soon as possible. Saya berjanji tapi mohon para sahabat juga berjanji, jangan memaki, jangan memfitnah. Blog ini saya bikin untuk kebaikan. Bagi yang tidak suka terhadap saya secara pribadi, jangan menggunakan blog ini untuk pengumbaran amarah. Silakan mencari saya di Universitas Nusa Cendana. Janji juga ya he he he...Permisi Tuan Permisi Puan...

Minggu, 30 Desember 2012

takut en damai (selamat natal selamat tahoen baroe)

Dear Sahabat Blogger,

Satu hari menjelang berakhirnya si 2012 akhirnya terbitnya juga semangat untuk melakukan posting baru. Bukan karena apa bukan karena sesiapa tetapi kesibukan yang luar biasa menyebabkan celah waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk memposting sesuatu malah teralihkan untuk istirahat dan atau aktivitas lain menjelang akhir tahun anggaran dan atau menjelang Natal dan Tahun Baru. Lalu tentang dua hal ikhwal terakhir inilah, Natal dan tahun Baru, saya memposting. Saya ingin mempercakapkan sesuatu dan hal itu adalah ini: 

Di tengah kesibukan yang luar biasa, tepatnya di saat menunggu keberangkatan menuju Kupang  dari Bandara Soekarno-Hatta, saya tercenung. Untuk apa semua capai lelah ini? Mengapa di saat sanak-saudara di Kupang tengah menyiapkan hati untuk merayakan Natal, saya masih harus antri check-in di sini (Bandara Soetta). Sesuatu yang hampir menjadi rutin setiap minggu sekali dalam 2 3 bulan terakhir? Saya menyimpulkan sendiri bahwa saya ada di sini karena takut. Lha koq takut? Ada geranga apa dengan takut? Mengapa takut?  Berdasarkan defenisi, takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Pakar psikologi juga menjelaskan bahwa manusia senantiasa akan selalu takut terhadap hal yang tidak diketahuinya. Dengan begitu, takut adalah salah satu dari emosi dasar manusia, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan. Jelaslah, bahwasanya saya takut adalah normal. Manusiawi saja. Sepanjang saya manusia normal maka takut dan lain sebagainya pasti akan timbul entah dimana dan dalam waktu apa. Maka, berhati-hatilah bagi anda yang suka sok jago lalu bilang...."weeeeiiiii saya ini tidak punya rasa takut"....hhhmmmmmmm, awaslah, jangan-jang anda bukan orang tetapi alien....ckckckckck......

Kembali kepada situasi saya, apa yang membuat saya takut? Jujur saja adalah ini: saya takut tidak punya cukup uang untuk mengurusi keluarga saya. Lalu dengan itu saya menerima tawaran kerja dari mana mana, utara-selatan, barat-timur, barat daya, timur tak berlaut, dari segala penjuru mata angin lalu....wwwhhaaaszzzzz....wwwhheesszzzzz....whhiissszzzzz....whuszzzzz....terbanglah saya kesana kemari. Bekerja. Pidato ..... abla abla abla bla bla bleeehhh...lalu ...sreseetttttt, tanda tangan, honorpun penuh di kantung kanan dan kiri.  Karena saya takut tidak bisa eksis sebagai ilmuwan maka ...teliti sana sini, presentasi sini sana dan lalu ...sreeeessseeetttttttt ...... tanda tangan lagi, uang lagi. Cukup? tidak. Masih saja takut lalu hidup gampang sakit, gampang tersinggung, mudah ngambek dan berasa tak punya apa-apa di antara banyak apa-apa. Iya benarlah sudah, saya kehilangan damai sejahtera. Itulah situasi akhir saya. Semua agenda terpenuhi, sibuk, eksis, punya uang tetapi saya seperti kehilangan diri sendiri.

Damai adalah situasi aman tenteram (noun), menenangkan (verba) dan atau tenteram, tenang dan tidak ada permusuhan (adjektiva). Damai adalah afeksi positif. Lalu, apa itu sejahtera? adalah ini: aman, sentausa, makmur dan selamat (adjective) dan atau hal dalam keadaan selamat, aman, atau sejahtera (noun). Sejahterapun ternyata afeksi positif. Perhatikanlah sekarang, tagal takut (afeksi negatif) maka hasilnya adalah tidak damai dan tidak sejahtera (afeksi negatif). Sebenarnya salahkan saya menjadi takut? Jika merujuk pada teori psikologi seperti yang saya kutip di atas maka sebenarnya tidak ada salah-salah amat. Menurut teori eko-fisiologi, setiap makhluk hidup memiliki mekanisme internal dalam menghadapi cekaman (stress).  Ketika stresor itu datang maka makhluk hidup akan bereaksi dalam 3 cara, yaitu menghindar (avoidance), merubah diri (ameliorasi) dan beradaptasi total (total adaptation). Jangan berjalan di gelap jika anda takut kegelapan (avoidance), karena tubuh anda tidak bisa mengeluarkan sinar pakailah senter ketika melewati kegelapan dengan resiko tangan anda repot memegang senter (ameliorasi) dan akhirnya tetaplah bernafas dan bergerak kendati gelap (adaptasi total). Kata kuncinya adalah menyesuaikan dan itu berarti dinamis atau berubah. Kata yang disukai banyak orang terutama memasuki tahun baru atau ulang tahun. Berubah. Di kandang domba mengembiklah. Di kandang macan mengaumlah dikau. Dansalah dengan gangnam style jangan menari cerana kalau tidak ingin terlihat kampungan. Pakailah CU (celana umpan - kata anak kupang untuk celana yang sangat pendek dan ketat sehingga ketika adipakai rasanya seluruh paha dan pangkal paha bisa dilihat banyak orang) karena hal itu moderen. Baik? Oh ya sudah barang tentu baik tetapi (nah kembali ada tetapinya), teori Darwin mengatakan bahwa yang makhluk bio yang bertahan eksis adalah yang paling sesuai. Sesuaikanlah dirimu begitu rupa bila perlu kau tidak tampak seperti dirimu sendiri. Jangan cuma mengembik tetapi jika memang supaya selamat jadilah kau kambing maka jadilah begitu. Tagal itu,  konon begitulah logika Darwin, manusia adalah monyet yang berubah. Monyet hilang menjadi manusia. Lha, kalau manusia ketakutan dan secara perlahan berubah, lalu menjadi apa dia? Di titik inilah ketercenungan saya di bandara Soetta itu bermakna. Setelah semua yang saya peroleh, apakah semua masih akan berlanjut di masa depan? Apakah saya masih adalah saya seperti biasanya? jangan-jangan saya adalah alien hasil mutasi gen dari yang bermasalalukan dosen, suami, bapak, ketua forum DAS NTT dan.....ahaaa, jangan-jangan......begitu banyak jangan-jangan-nya lalu kembalilah saya pada siklus ketakutan.......

Dan, pas sudah, datanglah berita Natal....."hoooooiiiiiiiii jangan kamu takut, sebab bagimu sudah ada Damai Sejahtera yang tinggal bersamamu"......wow, saya tersentak girang dan sambil begitu saya koprol 5 kali. Saya sungguh memerlukan kepastian itu terutama karena, kendati cuma persepsi manusia, tahun 2013 menjelang. Satu masa baru akan datang. Apakah di tahun yang baru ini saya akan cukup punya uang? Apakah akan punya kesempatan eksis? Apakah saya masih akan menjadi sekertaris lemlit? Apakah, apakah, dan apakah......Ada banyak ketidak pastian. Ada jutaan kecemasan. lalu, ada milyaran ketakutan. Ampun deh, saya tak mau ketakutan secara kontinyu lalu kehilangan damai sejahtera dan lalu ..... menjadi alien. So help me God. Jawabnya ya itu tadi di atas..."jangan takut, karena damai sejahtera sudah tinggal bersamamu"....ahaaaaaaa......tapi bagaimana saya memahami dan belajar tentang rasa takut itu? Saya belajar dari orang kecil berikut ini:

Adalah seorang yang bernama Dessy. Seorang pekerja di sektor informal. Pembantu rumah tangga, kata mudahnya. Asisten kata kerennya. Orangnya baik, rata-rata. Kendalanya cuma 1, yaitu soal kepandaian. Nah untuk yang satu ini saya punya banyak persoalan. Si Dessy, ampun-ampun, di suruh bikin A dia kerjakan B. Diminta tolong membuatkan teh, memang dia bikin tehnya tetapi lalu diminumnya sendiri. Pernah sekali waktu saya panggil dia, .."Dessy...kau tolong ke apotik ya, eh kau tau apotik tidak?". Dessy menjawab dengan tegas: .."tau bapak, itu yang di depan rumah tempat jual ikan tu"...wkwkwkwkwkw, kacau sekali......Isteri saya suka kehilangan kesabaran dan lalu bersuara keras. Saya cuma kasi ingat dia bahwa .."weits, kalo dia pintar-pintar amat maka yang jadi boss adalah si Dessy, kita berdua adalah pembantunya". Manjur, biasanya isteri saya lalu tertawa. Lain kali kalau saya yang hilang sabar, isteri saya mengingatkan kembali apa kata saya itu. Tapi sungguh mati, ada yang asik dari nona Dessy kita ini, yaitu dicomelin seperti apapun dia tenang-tenang saja. Seolah tidak ada apa-apa lalu ...... kucluk, kucluk, kueeecccllluuukkkk...terus bekerja. Entah beres entah tidak. Saban kali ditegur dia diam dan kelihatan cemas tetapi itu cuma semenit dua. Sejurus kemudian dia sudah tertawa kembali. Melanjutkan bekerja, ramah kembali dan..."bapa, mau angkat tas pigi oto ko???", tanya Dessy sambil senyam senyum. Lalu, lihatlah kamar saya makin hari makin lebih bersih dan rapih ditata oleh Dessy...wooooooiiiiiiiii, Tuhan eeeee........menurut saya inilah orang yang punya takut tetapi lebih banyak rasa damai dan rasa sejahteranya. Entah di masa depan tetapi, sungguh mantri nama dokter, per hari ini Dessy-lah petunjuk dari Allah bagi saya tentang bagaimana hidup yang lebih memperbanyak rasa damai sejahtera ketimbang melebih-lebihkan rasa takut. Saya dipaksa belajar dari hidup orang-orang kecil seperti Dessy: punya sedikit ketakutan, punya banyak damai sejahtera dan perlahan dia berubah bukan dalam hal fisik melainkan dia mau sedikit belajar dari kesalahan. Berubahlah karena pembaruan budi-mu.....

Dan, begitulah sobat blogger, apa yang saya mau bilang bahwa dalam waktu-waktu menjelang akhir 2012 ini saya punya banyak peristiwa membahagiakan: kesibukan sebagai orang yang sedikit paham tentang Pengelolaan DAS, terbitnya buku karya saya, Otep berulang tahun, Dolly berulang tahun, Hari Natal dan persiapan Tahun Baru. Akan tetapi di balik semua hal gemilang itu selalu muncul rasa takut: apakah semua itu akan begitu di tahun depan? saya tak tahu. Semua masih gelap tetapi saya mau takut sedikit saja. Damai sejahtera lebih banyak. Saya kepingin perubahan karena budi pekerti yang dibarui. Itu saya. Bagaimana anda, sahabat blogger ku? SELAMAT NATAL bagi yang merayakan dan SELAMAT TAHUN BARU bagi semuanya. Tuhan Memberkati....

The Times They Are A-Changin' - Bob Dylan


Tabe Tuan Tabe Puan

Sabtu, 06 Oktober 2012

maunya manusia ya selamat

Dear Sahabat Kristiani,

Bagi anda dan saya dan juga mereka yang tinggal di Indonesia, besok adalah hari Mingu. Oleh karena itu, sudah barang tentu, hari ini adalah hari Sabtu. Dalam tradisi Yahudi, Sabtu atau Sabat adalah hari ke tujuh yang diistimewakan. Seorang sahabat buku muka (FB) saya yang bernama "mister anu" rajin mengirimkan kepada saya inbox yang menyatakan betapa pentingnya hari Sabtu ketimbang hari lain dalam 1 minggu. Namanya juga keyakinan ya saya persilakan saja sahabat saya itu meyakini apa yang diyakini. Saya lalu merelakan inbox saya diisi dengan keyakinannya itu. Tak saya tolak tak saya hapus. Biar saja begitu, tidak saya komentari, kendati saya punya pendapat lain. Pendapat saya yang berbeda itupun saya pikir tidak harus saya konfirmasikan kepada dia karena saya menghormati sahabat saya itu.. Sebaliknya, saya berharap si sahabat juga menaruh hormat terhadap pilihan saya untuk berbeda dari dia. Apakah tentang masalah hari Sabat isi posting ini? Tidak. Bukan itu melainkan ini.

Salah satu alasan orang bergirang hati saban kali bertemu dengan hari Sabtu adalah peluang untuk memilih tidak repot bekerja keras....heeeeiiiii, it is saturday, the day of weekend.....lalu bersenang-senanglah kita sepanjang hari lalu disambung besok, hari minggu.......badan dan pikiran kita diistirahatkan dari rutinitas kerja keras sepanjang minggu. Badan perlu itu, pikiran juga. Benar bukan? Benar belaka. Tetapi di titik ini saya bertanya, apakah benar itu kebutuhan kita? Tentang hal ini saya ingin memndiskripsikan paling kurang 2 teori tentang kebutuhan dasar manusia:
  1. Teori Maslow yang dengan piramidanya menguraikan kebutuhan manusia mulai dari yang paling mendasar sampai ke kebutuhan tertinggi. Urutannya adalah kebutuhan fisiologi, kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan cinta kasih dan memiliki, kebutuhan harga diri serta kebutuhan aktualisasi diri. Silakan anda dan saya merenungkan baik-baik teori ini dan kita akan sepakat bahwa Maslow benar belaka;
  2. Teori Jean Watson yang mendeskripsikan bahwa kebutuhan manusia terdiri atas kebutuhan biofisikal (makan, minum, eliminasi dan ventilasi), kebutuhan psikofisikal (aktivitas, istirahat dan seksual), kebutuhan psikososial (berprestasi dan berorganisasi) dan kebutuhan intra-inter personal (aktualisasi diri). Lagi-lagi, jika direnungkan benar maka sulit untuk menolak teori ini.
Tetapi ijinkan saya untuk menyampaikan barang sedikit kebutuhan mendasar manusia dilihat dari perspektif Kristiani atau, secara lebih khusus dalam perspektif "Doa Bapa Kami". 
  1. Bapa kami yang di Surga : naluri dasar manusia adalah bertahan hidup dan manusia yang bernaluri untuk mencari aman dan selamat akan memerlukan kepastian, penyertaan dan cinta. Manusia membutuhkan Tuhan sebagai sesuatu yang lebih besar darinya di alam semestaraya ini. Dirinya selalu cemas jika merasa sendiri di semesta yang dinamis, berubah dan tidak pasti ini. Adalah Tuhan sang pasti menjadi pemberi ketenteraman dan cinta kasih. Manusia memerlukan Tuhan. Selanjutnya, Kata "kami" mengindikasikan  bahwa manusia memerlukan orang lain. Dia memerlukan sesama sebagai rekan senasib seperjuangan di dunia yang fana ini. Selain cinta dari Allah dia juga memerlukan cinta dari sesama. Manusia memang makhluk relijius dan sosial sekaligus;
  2. Dikuduskanlah nama-Mu : manusia memerlukan relasi yang damai. Di dalam relasi yang damai manusia dapat mengaktualisasikan dirinya sepuasnya. Manusia si fakir di depan Sang Maha Pengada perlu diberi jaminan keselamatan dan keamanan. Hanya Maha Kuasa yang penuh kasih yang mampu menyediakan itu. Manusia juga sadar bahwa antara dia dan sesama bisa terjadi sesuatu yang dapat bersifat destruktif dan hal ini mengancam persaaan aman dan pasti. Karena itu, antara dia dan si sesama perlu ada yang lain yang kudus dan disegani atau ditakuti bersama. Itu adalah Tuhan. Ya, Tuhanlah yang menghubungkan manusia dengan sesama. Tagal dua perkara ini maka manusia akan berseru "kuduslah nama-Mu" yang oleh karenanya dia selamat;
  3. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga : manusia  beranekaragam itu memerlukan suatu desain atau perencanaan tentang bagaimana dia harus  hidup. kemarin adalah kepastian, hari ini adalah perjuangan dan besok sama sekali gelap gulita. Di atas ketidakpastian, manusia sangatlah gemetar maka dia memerlukan rencana sebagai pelita menuju gelapnya besok. Rencananya sendiri tidak paten karena belum tentu disetujui sesamanya apatah lagi sang Mahakuasa. Karena itu supaya aman si manusia butuh untuk berseru...."ya Allah, biarkan aku menjadi bagian di dalam rencana-Mu itu";
  4. Berilah kami makanan kami yang secukupnya : manusia adalah makhluk material dan sebagai itu dia mempunyai kebutuhan mendasar sebagai makhluk fisik dan biokimia. Energi harus ada materi harus berputar supaya sel-sel manjadi hidup dan menjalankan jutaan proses bikoima. Setiap hari. Setiap saat. Dan hal itu dimungkinkan jika ada transformasi energi yang dialami oleh manusia sebagai makanan. Bahkan sebenarnya makanan hanyalah ikon bagi kata yang lebih besar, yaitu rejeki : pangan, sandang dan papan serta atribut material lainnya;
  5. Ampunilah kami seperti kami juga mengampuni: manusia memerlukan hidup bebas bahkan kebebasan ini menjadi hakekat manusia sebagai anugerah Tuhan. Dengan kehendak bebas manusia dapat hidup sebagaimana layaknya makhluk yang dapat tunduk dan mengatasi hukum-hukum alam. Jika ini bisa didapat maka harga diri dan aktualisasi diri diperolehnya. Bahkan kehendak bebas ini dikaruniakan juga kepada manusia untuk apakah percaya atau tidak percaya kepada DIA. Kebebasan hanya ada jika manusia terbebas dari tekanan dan hukuman. Kehendak bebas hanya akan ada jika ada pengampunan. Ya, pengampunan adalah kebutuhan  manusia;
  6. Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat : secara probabilita kesenangan dan penderitaan dapat menghampiri manusia silih berganti. Hal ini merupakan konsekuensi logis manusia sebagai makhluk biologi yang memiliki kehendak bebas. Bahkan dalam kemewahan kehendak bebas itu manusia masih juga cemas..."kalau boleh jauhkan saya dari cawan pahit dan dekatkan saya pada cawan anggur yang manis". Ternyata manusia membutuhkan kesenangan yang mengatasi penderitaan;
  7. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, Kuasa dan Kemuliaan : manusia yang makhluk ego dan alter ego ternyata memiliki kebutuhan akan kerendahatian. Tanpa sifat rendah hati keselamatan dan keamanan tidak pernah bisa dijamin. Sikap tinggi hati akan memancing bahaya. Bahaya berati tidak aman dan hal ini tidaklah manusiawi. Dari dirinya sendiri, kerendahatian adalah barang mewah yang sulit. Dari Allah dimintanya kerendahan hati itu. Semua yang aku punya sebenarnya punya DIKAU-lah itu
Jika kita tidak menolak teori Maslow dan Jean Watson maka bahagialah kita. Akan tetapi jika kedua teori itu digunakan untuk melengkapi teori Doa Bapa Kami maka menuju selamatlah kita. Anda, saya dan kita semua sungguh memerlukan keselamatan, tanpa kecuali. Percayalah. Happy Sunday, JBU.


Tabe Puan Tabe Tuan

Rabu, 15 Agustus 2012

from savu with love: to indonesia

Dear Sahabat Blogger,

Agustus datang kembali dan itu berarti, bagi orang Indonesia, adalah bulannya Hari Kemerdekaan Republik Indonesia terkasih. Kendati banyak diperbincangkan secara kurang baik (kerajaan korupsi-lah, negara gagal-lah, negara-nya para cicak dan buaya-lah, negaranya para preman ber-ayat-lah serta masih banyak sebutan sinis lainnya) tapi toh di negara inilah saya dilahirkan. Sampai hari ini masih menjadi warga negara yang sah - dan akan terus begitu, dan di sinilah saya akan menua dan lalu menghilang. Mau kemana? Mau bagaimana lagi? Inilah negara saya (dan anda juga). sudah garis tangan. So, terima saja dengan penuh syukur. Karena itu pada tempat pertama ini saya ingin mengucapkan DIRGAHAYU INDONESIA. JAYALAH KAMU SELAMANYA. TUHAN MEMBERKATI. Tetapi bagaimana memberikan makna kepada Hari Raya nasional ini supaya dia tidak berlalu begitu saja tanpa kesan? Ijinkanlah saya untuk menceriterakan Indonesia dari perspektif negeri liliput di bagian selatan Indonesia, di antara samudera raya Pasifik dan Hindia, tempat nenek moyang dari garis ayah saya berasal: Sabu.

Negeri Sabu, biar kecil, tetapi adalah bagian sah dari NKRI. Sabu adalah salah satu kabupaten di propinsi NTT. Ada apa dengan suku bangsa ini sehingga tentang Indonesia perlu diberikan perspektif Sabu? Apa hebatnya? Menurut saya tidak ada yang terlalu hebat. Biasa saja. Apalagi ukuran pulaunya juga tergolong kecil saja. Lalu apa? Ini jawaban saya: Indonesia hari ini tidak lengkap jika 1 saja pulau di antara ratusan ribu buah pulaunya hilang. Dengan perkataan lain, tanpa Sabu maka Indonesia yang ada bukanlah Indonesia yang seperti hari ini. Titik. Anda setuju atau tidak, saya memaksa untuk setuju karena aturan silogismenya memang sudah seperti itu. Lha, apa itu silogisme? Gak urusan, pokoknya saya sudah bilang begitu ya begitulah .... ha ha ha ha.....Lalu, apa prespektif Sabu yang saya sebut-sebutkan tadi yang dapat digunakan untuk meneropong Indonesia hari ini? Pada bagian pertama ini adalah yang berkaitan dengan asal-usul Orang Sabu.

Dari mana asal-usul orang Sabu? Saya mengutuip dari tulisan Riwu Kaho yang lebih senior dari saya, yaitu Robert Riwu Kaho (almarhum ayahanda) dalam bukunya "Orang sabu dan Budayanya" (2005). Pada pengetahuan tradisi yang umum dipercaya di Sabu, nenek moyang Oran Sabu berasal dari suatu negeri di bagian barat dari Pulau Sabu. Entah dimana pastinya karena tabu bagi orang Sabu untuk menyebutkan daerah asal nenek moyang mereka. Namun demikian, jika merujuk kepada kepercayaan bahwa leluhur I orang sabu adalah seseorang yang bernama Kika Ga yang berasal dari ufuk barat Pulau Sabu, yaitu negeri yang bernama Jawa Ae (India Selatan) maka asal usul dimaksud lebih bisa diperkirakan. Konon, Kika Ga berasal dari wilayah Hurat, Kerajaan Gujarat, India bagian selatan. Jika kita membaca di peta India bagian selatan maka kita akan bertemu dengan kota Surat yang terletak di sebelah utara kota Bombay di teluk Cambay. Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa identifikasi ini 100% pasti begitu tetapi ijinkan saya mengajukan 1 fakta lain yang diungkapkan juga oleh Ayahanda Robert.

Di katakan oleh para tetua di Pulau Sabu, yang adalah folklore turun temurun, bahwa ciri-ciri fisik orang Sabu yang mula-mula adalah ba'bae kae, meddi kuri, keporo rukettu, bella dillu, bella ka'bajela, nga bella ta'be yang artinya berukuran tubuh pendek, berkulit hitam, rambut keriting, telinga lebar, telapak kaki lebar dan juga berdahi lebar. Jika benar demikian maka terdapat paradoks di antara kedua pendapat di atas. Ciri-ciri fisik yang disebut belakangan ini bukan merupakan gambaran orang-orang yang berasal dari India yang umumnya tinggi besar melainkan merupakan gambaran orang dari manusia awal Indonesia seperti Meganthropus atau Pithecanthropus atau Homo sapiens sapiens (manusia moderen). Apakah kelompok ini berasal dari Afrika selatan (out of Africa) atau asli Indonesia (orang Wajak, Trinil dan Solo) atau bahkan asli manusia purba di sabu kita tidak tahu pasti tetapi jika benar bahwa tetua di Sabu memastikan bahwa orang awal di Sabu berciri fisik seperti di atas lalu 2 opsi tentang orang Sabu asli adalah apakah manusia purba ataukah pendatang Homo sapiens sapiens yang datang dari daerah lain maka mereka pasti tidak sekelompok dengan Kika Ga yang beriasal dari India. Apapun juga, dalam ceritera para tetua di Sabu, penduduk asli Pulau Sabu ini menghilang ketika datang orang-orang melayu yang berasal dari Indochina terus ke Malaka dan terus menelusuri Jawa, Bali, NTB, Ende, Flores Timur dan Timor.

Pergerakan migrasi orang-orang Melayu yang berasal dari Indochina memasuki daerah-daerah di Nusantara (Olson, 1996 dan Dahler, 2000) sebenarnya merupakan gambaran pergerakan gelombang II migrasi bangsa-bangsa manusia yang bersebaran di Nusantara lalu tiba di Pulau Sabu. Ditulis oleh Robert "Ayahanda" Riwu Kaho bahwa sekitar 500 tahun SM datanglah orang-orang yang berasal dari daerah Yunan dan wilayah Indochina, yang berhenti sementara di daerah Malaka dengan membawa Budaya Dongson yang mendominasi Indonesia sampai hari ini. Kelmpok ini sangat dominan di Nusantara sekarang yang berasal dari ras Mongoloid. Donselaar (1872) dan beberapa penulis yang jauh lebih ke belakang seperti Bere Talo yang mengutip Lubis menguraikan bahwa sekelompok Melayu (Hindia Muka) berlayar dari negeri Cina putih Malaka (Sina Mutin Malaka) mengarungi laut Jawa menyinggahi P. Ninobe, Kusu, Kae, Api, LoE dan Larantuka Baboe. Dari persinggahan terakhir ini sebagian kelompok terus berlayar sampai ke Pulau Timor di satu tempat yang bernama Halileon Lumamar di muara Sungai Loes, Timor Timur. Sebagian tinggal dan mengisi Pulau Timor ke arah Barat dan sebagian terus berlayar menuju Rote dan menetap di Thie. Dari Thie, sebagian lagi berlayar terus dan tiba di Pulau Sabu. Kisah berpisahnya orang-orang Timor, Thie dan Sabu di Pulau Timor bagian Timur ini menghasilkan kisah legendaris tentang Belu Mau, Thie Mau dan Sabu Mau yang masih diyakin hingga hari ini. Orang-orang Melayu ini memiliki keterampuilan bertani yang memadai dan tanda-tanda ini begitu kuat melekat di orang-oran Sabu sampai hari ini. Dipercaya bahwa sebagain terbesar orang Sabu sekarang adalah keturunan mereka yang berasal dari gelombang migrasi ke II. Jika ini benar demikian maka kelompok yang berperawakan sedang ini (kebanyak orang Sabu berperawakan seperti ini) pastilah bukan sekelompok dengan Kika Ga yang, sekali lagi konon, berasal dari India.

Lalu dari mana datangnya Kika Ga? Seperti yang telah dikatakan tadi bahwa Kika Ga diyakini berasal dari Gujarat, India selatan. Oleh karena itu, kemungkinan besar Kika Ga dan kelompoknya (sebab hampir tidak mungkin terjadi pelayaran seorang diri dalam persebaran manusia) berasal dari gelombang migrasui ke III yang memasuki Nusantara dan tiba di Sabu. Berawal dari pertikaian antar kerajaan di India antara abad 2 dan 3 Masehi amaka banyak kelompok di bagian Selatan yang ditaklukan oleh kerajaan besar di India Utara terpaksa berlayar meninggalakan negeri mereka menuju tempat baru. Orang-orang Keling dengan perawakan yang besar dan berhidung mancung ini dalam pelayarannya singgah diberbagai tempat di Nusantara dan salah satunya tiba dan menetap di Sabu. Akan tetapi perlu diingat bahwa kedatanagn mereka tidaklah tiba di pulau yang kosong melainkan sudah berpenduduk. Dapat dibayangkan bahwa kemungkinan besar penduduk Sabu ketika itu adalah keturunan dari mereka yang datang pada gelombang migrasi II (siapa tahu bercampur pula dengan gelombang migrasi I atau orang asli Sabu - Sabunensis). Lalu mengapa kendati para tetua Sabu mengakui adanya beberapa gelombang migrasi orang-orang ke Sabu tetapi yang diakui sebagai leluhur orang Sabu adalah Kika Ga yang berasal dari gelombang ke III migrasi?

Dalam hipotesis saya, pengakuan tentang Kika Ga sebagai leluhur orang Sabu terutama disebabkan faktor bahwa dia dan kelompoknyalah yang pada akhirnya berkuasa atas teritori Sabu. Saya menduga demikian karena orang-orang India Selatan sudah memiliki budaya kerajaan, yaitu entitas yang tersusun atas kekuasaan. Pada lapisan paling atas struktur sosial kerajaan adalah "raja". Seperti biasa, pemenang adalah penulis sejarah atau sejarah ditentukan oleh pemenang. Dugaan ini semakin kuat mengingat latar belakang orang-orang India selatan itu keluar dari negeri mereka lalu tiba di Sabu, yaitu peperangan. Setibanya di Sabu, ada kemungkinan mereka menaklukan para penduduk Sabu yang datang dari gelombang migrasi sebelumnya, entah lewat perang atau negosiasi. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa para pendatang di sabu yang berasal daro gelombang migrasi II umumnya berbudaya petani dan hidup tanpa struktur sosial yang tersusun atas derajat kekuasaaan teritori kecuali, mungkin, pemukiman dan ladang. Di kalangan tetua di Sabu sering beredar ceritera turun temurun tentang watak pemberani leluhur mereka yang merupakan ciri khas para panglima perang atau paling kurang serdadu tentara. Hal ini merupakan verifikasi terhadap dugaan bahwa paling kurang penduduk yang berasal dari migrasi II rela dipimpin oleh mereka yang lebih kuat dan terstruktur yang berasal dari India Selatan. Sampai hari ini mitos tentang elite pula Sabu yang selalu dikaitkan dengan daya kesaktian dan kedigdayaan bukan merupakan hal aneh sebagai simbol kepemimpinan dan kekuasaan. Saya tidak bisa memastikan bahwa hipotesis saya ini benar tetapi demikianlah yang saya ajukan.

Sampai di sini, saya ingin menghentikan ceritera dan dugaan tentang kisah perjalanan berbagai-bagai gelombang para leluhur orang Sabu yang ada di Pulau Sabu. Saya ingin membuat perspektif dari kisah saya di atas. Terdapat paling kurang 3 pelajaran yang bisa saya petik dari kisah-kisah di atas, yaitu:
  1. Klaim sebagai orang asli dan tidak asli di Sabu dan juga di Nusantara sebenarnya sangat relatif. Karena itu, kesenangan melakukan klaim bahwa Sabu atau Indonesia adalah milik orang asli atau anak daerah setempat kurang patut. Kita semua adalah pendatang, minimal adalah pendatang yang "dikirim Tuhan dari Surga" lewat aneka rupa kemungkinan hukum biologis, sejarah dan lain sebagainya. Karena itu, aforisme bahwa Presiden harus orang asli atau Gubernur dan Bupati harus anak daerah adalah melawan sejarah. Jas merah kata Bung Karno sang proklamator NKRI.
  2. Namun demikian, kita harus maklum jika klaim-klaim seperti itu sangat mungkin terjadi manakala "realm"-nya adalah elit. Sudah dari sono-nya elite terbiasa "membajak" fakta. Maka, kendati menjengkelkan, kita terpaksa harus memahami klaim seperti yang dilakukan oleh mister Rhoma Irama tentang Gubenur DKI Jakarta. Tetapi harap dicatat bahwa memahami tidak identik dengan membenarkan tetapi belajar memahami adalah pelajarn kedua. Selanjutnya, pelajaran ke tiga yang saya petik adalah ini:
  3. Sebenarnya semua yang dikisahkan di atas adalah hipotesis di atas aneka ragam probabilita yang sebagian kebenarannya masih tersembunyi dan harus terus menerus dikaji sampai akhirnya mendekati kebenaran. Apa pelajaran ke tiga itu? belajar.
Singkatnya, Sabu dan Indonesia adalah milik kita semua, asli maupun tidak asli. Mayoritas ataupun minoritas. Indonesia adalah milik beragam-ragam kita semua yang adalah satu bangsa satu negara satu Ibu Pertiwi. Bhineka Tunggal Ika. Dalam sintesa hidup berkeragaman bersama sudah pasti akan ada timbul aneka problem. Mana ada hidup tanpa problema? Cara mengatasi problema bukan dengan bertengkar, berkelahi atau tawuran barbar melainkan belajar saling menerima. Filsafat manusia mengajarkan bahwa "I'm called to realized my self in the world, but for you". Saya berarti jika itu terkait anda. Filsafat Orang Sabu mengajarkan bahwa "ie tallo wewini do me mu'de pa dara jarru" yang berarti "jika banyak sahabatmu maka hidupmu pasti lebih mudah". Sahabat Indonesia, tentang apa semua ini? CINTA. Teruslah berlajar saling mengasihi agar hidup berkebangsaan makin baik, hari demi hari. DIRGAHAYU INDONESIA. MERDEKA.

Nyanyian TANAH MERDEKA -Leo Kristi


Tabe Tua Tabe Puan

Jumat, 01 Juni 2012

unhappiness di negeri pancasila

Dear Sahabat Blogger,

Sembari menyiapkan satu makalah untuk suatu pertemuan ilmiah saya membuka daftar HDI (human development index) tahun 2011 yang dirilis oleh UNDP pada tahun 2012. HDI adalah alat ukur untuk menilai derajat kesejahteraan suatu wilayah berdasarkan variabel pendapatan, pendidikan dan kesehatan. Cepat sekali mata saya tertuju pada negara-negara yang berada pada urutan 10 besar. Dan, seperti biasa, saya tak menemukan nama negara terkasih saya, NKRI, di dalam daftar urutan atas itu. Negara-negara yang berada pada urutan 10 besar adalah sebagai berikut:
  1. Norwegia, HDI 0.943
  2. Australia, HDI 0.929
  3. Belanda, HDI 0.910
  4. Amerika Serikat, HDI 0.910
  5. Selandia Baru, HDI 0.908
  6. Kanada, HDI 0.908
  7. Irlandia, HDI 0.908
  8. Lichtenstein, HDI 0.905
  9. Jerman, HDI 0.905
  10. Swedia, HDI 0.904
OK lah kalau begitu but, where's my beloved country position in that list? naik turun jari telunjuk saya mencari di daftar dan akhirnya ketemu juga....astagaaaaaaaa....ada di nomor urut ke 124 dengan HDI sebesar 0.617 yang setara dengan negara vanuatu, sebuah negeri liliput di Asia Pasific dengan angka HDI yang sama. Demi alasan harga diri saya mencoba mencari dimana posisi negeri tetangga terdekat yang satu lagi, karena Australia sudah ada di urutan atas, Singapura juga demikian, - ya anda benar, saya mencari posisi negara Timor Leste, ....naaaahhhhh...dia ada di posisi 147, tidak jauh-jauh amat dari Indonesia tetapi lumayanlah, Indonesia masih di atas.

Masih penasaran dengana daftar HDI, saya menelusuri daftar lain tentang negara-negara paling bahagia di dunia yang disusun oleh pakar ekonomi Jeffry Sachs dkk. (2012) dengan variabel pendidikan, kesehatan, pendapatan, tenaga kerja, harapan hidup dan jumlah jam lembur. Makin sedikit lembur, tetapi pekerjaan selesai, maka makin bahagia. Di daftar ini saya menemukan data 10 negara paling bahagia, yaitu:
  1. Denmark dengan indeks kepuasan (IK) 7.8
  2. Norwegia dengan IK 7.6
  3. Belanda, IK 7.5
  4. Swiss, IK 7.5
  5. Austria, K 7.5
  6. Finlandia, IK 7.4
  7. Australia, IK 7.4
  8. Kanada, IK 7,3
  9. Swedia, IK 7.3
  10. Irlandia, IK 7.2

lhhhoooooo....koq ga ada Indonesia di daftar itu? Saya segera coba mencari daftar lengkapnya di www.latimes.com dan ...hmmmmm....eurekaaaa, ini dia ....syyyuuuuuuttttttt.....nangkring di urutan 83.....kesal bercampur tersipu tapi agak lega karena posisi ini jauh di atas sang juru kunci, yaitu Togo yang berada di urutan 156. Lagi-lagi mencoba menghibur diri.

Setelah menaruh data-data di atas dalam makalah dan bahan presentasi yang sedang saya kerjakan, pikiran saya berhamburan kemana-mana. Salah satu hal yang akhirnya saya sadari adalah hari ini tepat 1 Juni. Hari lahirnya Pancasila. Mengapa tepat dihari besar rekipliek ini koq ya data yang saya dapat sangat mengganngu perasaan? Mengapa seolah-0lah Pancasila yang keren itu amat berjarak dengan fakta kehidupan sehari-hari di Indonesia. Bagaimana mungkin negara yang orang-orangnya sejak bangun bagi sudah basah kuyup disirami rohani-nya oleh kuliah-kuliah subuh di hampir semua stasiun televisi adalah negeri yang kurang bahagia? bagaimana bisa di negara yang para orang hebatnya sangat yakin akan kesucian negaranya lalu menolak kedatangan Lady Gaga berkonser di Indonesia nasibnya apes begini? Jangan-jangan kita memang negeri yang tidak suci seperti dugaan elite hebat tersebut? Entahlah. Saya cuma ingin merenungkan masalah ini mulai dari titik dimana Pancasila disebut sebagai filsafat bangsa dan negara. Konon, filsafat Pancasila ini digali dari puncak-puncak budaya adiluhung bangsa Indonesia. Benarkah Pancaasila itu filsafat?

Secara etimologis kata ”filsafat“ (Inggris - philosophy) berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang dimengerti sebagai “cinta kearifan”. “Philos” artinya cinta dan “sophia” artinya kearifan. Maka, filsafat adalah cinta kearifan, “wisdom” atau kebijaksanaan. Dalam terang defenisi ini maka pencarian orang Indonesia akan Tuhan yang esa, kemanusiaan, persatuan, bermusyawarah dan keadilan genap memenuhi defenisi filsafat. Ya, orang Indonesia mengidealkan dalam hidupnya mencari kearifan atau kebijaknsanaan. Mencari hikmat. Untuk membuktikan kebenaran pernyataan ini maka saya mengutip Hegel yang menyatakan bahwa pada hakikatnya filsafatnya ialah suatu sintese pikiran yang lahir dari antitese pikiran. Dari pertentangan pikiran lahirlah paduan pendapat yang harmonis. Inilah yang disebut Hegel sebagai dialektika berpikir.

Kalimat pertama dan Mukadimah UUD Republik Indonesia 1945 berbunyi "bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu penjajahan harus dihapusakan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan". Perhatikanlah bahwa kalimat pertama dari pernyataan di atas adalah sintesa antara penjajahan dan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pada saat sintese menghilang akan lahir kemerdekaan.Hal inipun dengan amat jelas dikemukakan dalam Mukadimah Konstitusi R.I. 1950 itu yang berbunyi "maka dengan ini kami menyusun kemerdekaan kami itu, dalam suatu Piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan berdasarkan ajaran Pancasila". Dalam dokumen ini, pancasila merupakan cara untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan dan perdamaian dunia serta kemerdekaan. Kalimat ini memperlihatkan dengan jelas terang benderang frasa antitesa dalam dialektika bangsa Indonesia dalam bernegara. Terbukti sah bahwa memang Pancasila adalah filsafat bangsa Indonesia untuk hidup bahagia. Bahagiakah kita hari ini?

Data menunjukan bahwa bangsa-bangsa yang tidak punya pancasila malah hidupnya lebih bahagia ketimbang kita? Kita yang memiliki Pancasila malah kurang beruntung. Apa yang salah. Ada apa denganmu? Jangan-jangan dialektika kita hanyalah hasil olah pikir para founding fathers belaka dan tidak berakar secara nyata dalam memori kolektif kita? Jangan-jangan pancasila hanyalah wacana tanpa bentuk dan ketika ingin diberi bentuk malah terjadi pembelokan kemana-mana. Ada demokrasi terpimpin nan Pancasila ala penggali Pancasila itu sendiri, yaitu Bung Karno. Si Bung Besar. Ada demokrasi Pancasila ala Pak Harto. Bapak Pembangunan. Semua upaya ini, sayang-nya berakhir dalam tragedi. Lalu dimana letak masalahnya? Socrates sang filsuf besar Yunani itu mengatakan bahwa "jika kita mengetahui apa itu kebaikan maka kita harus mengerjakannya". Seorang Filsuf Agung, Yoshua Hamasia, mengatakan bahwa "isi doa-mu harus terlihat di dalam kerjamu". Terlihat sudah bahwa antara pikiran dan perkataan serta perbuatan bisa tidak sejalan. Belum tentu yang bisa dipikirkan akan berhasil dikerjakan. Nah, supaya pikiran baik dapat dikerjakan juga dengan baik, kita memerlukan 1 alat. Alat itu adalah pengetahuan empiris tentang fakta-fakta yang relevan lalu membuat prediksi berdasarkan pemahaman terhadap fakta tersebut (Ewing, 2010). Inilah yang disebut sebagai belajar, Belajar secara sistematis adalah proses dalam sistem ilmu pengetahuan. Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengerjakan pikiran baiknya. Orang yang cuma mampu omdo (omongan doang) adalah orang-orang cilaka nan murung. Maka, relasi antara indeks HDI dan derajat kebahagiaan bangsa dapat dipahami. Mengertilah kita bahwa dengan HDI yang rendah, pantaslah Indonesia kurang bahagia hidupnya. Bagaimana memahaminya secara gampang? Begini bro en sista....

Di Indonesia Raya ini, mulut kita bilang Tuhan Yang Maha Esa tetapi yang kita kerjakan adalah men-tuhankan materi, kekayaan, kemolekan, ketersohoran dan seterusnya. Di mulut kita bilang kemanusiaan tetapi hanya karena kita tidak setuju dengan ajaran Ahmadiyah, membunuhlah yang dilakukan. Di mulut kita bilang. Di mulut kita bilang persatuan Indonesia, yang kita lakukan adalah pemekaran daerah nyaris tanpa batas berbasis etnis, suku, dan kepentingan elit. Di mulut kita bilang demokrasi musyawarah yang kita buat adalah meneriakan kata "bangsat" di dalam sidang DPR kepada lawan politik. Di mulut kita bilang keadilan sosial bagi semua tetapi yang kita lakukan adalah bagi-bagi apel malang dan apel washington di antara orang separtai, satu korps, satu grup bermain golf dan seterusnya. Di mulut bilang filosofia tetapi kaki dan tangan kita mengerjakan kejahatan. Maka, mengkuti logika Yoshua Hamasia, haruslah kita duga: ada tipu di antara doa dan perbuatan kita. Maka sial sudah kita seumur-umur. Unhappiness. Tragedi 1948 terjadi, diulang di tahun 1965, diulang lagi di tahun malari 1973, terjadi lagi di tahun 1998, terjadi lagi ratusan dan mungkin ribuan kali perkelahian dan perbunuhan sesama anak bangsa karena beda agama, beda suku dan beda kepentingan. Kita tidak pernah belajar dari pengalaman empirik kita. Tak heran, sudah lebih 60 tahun kita merdeka tetapi perilaku kita tetap sama seperti pola pikir orang-orang yang satu jaman dengan Ken Arok. jauh sudah perjalanan kebangsaan kita tetapi tampaknya kita tidak kemana-mana. Kita seperti terbenam dalam lubang dan tak bisa (atau tak mau) keluar. TRAGIS. Kata orang tua "keledai tidak jatuh dalam lubang yang sama 2 kali". Kita jatuh ribuan kali dalam comberan yang sama. Maka, ketimbang keledai, kita ini lebih......(anda lanjutkan saja saudara ku sebangsa dan setanah air). HIDUP PANCASILA. MERDEKA!!!!!

Bee Gees - tragedy

Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 22 April 2012

our mother

"The 23rd Psalm"

(bobby mcferrin version)


The Lord is my Shepherd, I have all I need,
She makes me lie down in green meadows,
Beside the still waters, She will lead.

She restores my soul, She rights my wrongs,
She leads me in a path of good things,
And fills my heart with songs.

Even though I walk, through a dark & dreary land,
There is nothing that can shake me,
She has said She won't forsake me,
I'm in her hand.

She sets a table before me, in the presence of my foes,

She anoints my head with oil,
And my cup overflows.

Surely, surely goodness & kindness will follow me,
All the days of my life,
And I will live in her house,
Forever, forever & ever.

Glory be to our Mother, & Daughter,
And to the Holy of Holies,
As it was in the beginning, is now & ever shall be,
World, without end. Amen

(untuk mama tien dan bapa robert, ibu se indonesia dan ibu bumi-mother's earth day)

Psalm 23 - Bobby McFerrin


Tabe Tuan
Tabe puan

(medan, 22 april 2012)

Sabtu, 24 Maret 2012

kasih yang tak bertepi, DIA-lah itu

Dear Sahabat Blogger,

Selamat hari baru. Selamat menikmati berkat baru pada hari ini. Sesuai janji saya, dan saya ingin memenuhi janji itu, maka hari ini saya haturkan sebuah posting baru. Tak perduli kualitasnya seperti apa yang penting dia hadir. Pokoknya, saya ada apa adanya dan tidak mengada-ada supaya ada tanda bahwa saya ada. Semoga anda sepakat dengan saya mengenai hal ikhwal ini.

Posting ini dibikin dalam suasana hingar bingar yang amat riuh. Seminggu lagi, kalau semuanya lancar, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan dinaikan. Sialnya, sebelum kenaikan harga BBM dimaksud resmi diumumkan sudah banyak perkara yang terjadi. Saban hari kita di Indonesia, sukur anda yang tinggal di luar negeri, disuguhkan dengan berbagai keributan tagal perkara yang bertalian dengan kenaikan harga BBM. Demonstrasi terjadi dimana-mana dengan skala yang makin lama makin masif. Jikalau cuma sekedar demonstrasi ya tak apalah tetapi hampir semua demonstrasi berakhir ricuh. Mahasiswa sulit dibedakan dengan provokator. Provokator tampil layaknya mahasiswa. Aparat Kepolisian didesak dan digebug lalu balas mendesak dan menggebuk. Berita terkini, aparat TNI akan keluar barak untuk menghadapi. Siapa yang dihadapi? Rakyat Indonesia itu sendiri karena diduga akan terjadi demonstrasi massal dan masif lalu mengancam obyek-obeyk vital milik negara. Para pengamat berbeda pendapat lalu tawuran kata-kata, di televisi, di radio maupun di surat kabar. Sebagian pro kenaikan BBM. Sebagian lagi bilang..."bohong lu...BBM tak perlu naik". Para politisi lintang pukang. PDIP dan yang sepikiran menolak (tapi Gubernur NTT yang ketua DPD PDIP NTT malah menyatakan setuju kenaikan BBM). Demokrat cs so pasti pro kenaikan tapi...heeiitttt, nanti dulu.....ada PKS yang kompanyonnya Demokrat menolak kenaikan BM. "Koalisi ikan teri" kata Sutan Bathoegana dari Demokrat. Rektor-rektor dikumpulkan di Jakarta supaya memahami mengapa BBM perlu naik. Di koran lokal, konon, Rektor Undana bilang: ..."mahasiswa di larang demo"...(entah dianya bilang begitu ato hasil penafsiran para juru berita). Sebagian aktivis mahasiwa dikirim plesir ke negeri China (kendati ada yang menolak). Entah apa maksudnya tapi isu terlanjur berkembang "mulut mereka sedang disuruh diam karena disuap nikmatnya plesiran"...walllaaahhhh... Di tengah isu yang berloncatan tidak keruan itu muncul lagi isu serangan hama "tomcat" di pulau Jawa. Mister Dahlan Iskan mengamuk di pintu tol Semanggi, Jakarta karena kerja Jasa Marga yang amburadul. Datang pula berita bahwa 5 teroris ditembak mati di Denpasar. PSSI berubah menjadi kembar. Versi pohon "djohar" dan versi api yang bernyala "La Nyalla". .... "wooooiiiiittttt, pengalihan isu...pengalihan isuuuuu". Gaduh. Ribut. Riuh......itulah Indonesia tanah air beta....

Di tengah hingar bingar yang amat gaduh dan riuh itu hadirlah perayaan Nyepi yang dirayakan para sahabat yang beragama Hindu Bali. Suasana mendadak hening sejenak dan terasa lumayan sejuknya Indonesia 1 hari itu. Happy Nyepi bagi sahabat Hindu. Jadi teringat syair lagu Ebiet G. Ade, saksikan bahwa sepi,berikut ini:

Dengarlah suara gemercik air
di balik rumpun bambu di sudut dusun
Lihatlah pancuran berdansa riang
Menyapa batuan, menjemput bulan
...
Ada perempuan renta menimba
Terbungkuk namun sempat senandungkan tembang
...
saksikan bahwa sepi lebih berarti dari keriuhan
....
Indah bukan? menurut hemat saya, tidak sekedar indah syairnya tetapi ada kebenaran di dalam syair itu. Ketika semua hal rasanya harus dibicarakan lalu diributkan dan dikacaukan maka menepi untuk menyepi rasanya sebuah opsi yang berharga. Mengapa? Karena dalam diam dan dalam sepi, terbuka peluang bagi "hati yang berbicara". Leahy (1989) menjelaskan bahwa ketika manusia perlu sekali waktu melepaskan diri dari kekakuan, kecongkakan dan prasangka-prasangka yang merupakan resultante dari proses bertanya, berbicara dan mendengar suara sendiri. Dengan melepaskan itu semua maka manusia akan dituntun pada kemurahan hati yang lebih luhur. makin dekat kearah cinta kasih yang adiluhung. Itulah yang akan dicapai ketika manusia memasuki suasana suci (sacrum facere). Ketika memasuki sacrum facere inilah manusia akan memiliki cinta murni yang tidak mengambil untung bagi diri sendiri. Cinta yang berbelas kasihan dan menghidupkan. Saya, yang berlatar belakang Kristiani, punya 1 contoh tentang hal ini, yaitu ketika Yesus merasa perlu berdoa sendirian di Taman Getsemani menjelang penangkapan-NYA. Apa hasilnya? adalah ini: keteguhan hati dan kerelaan yang luar biasa untuk memenuhi "panggilan" dari sang Ilahi. Pertanyaannya adalah: apakah sacrum facere dapat dicapai dalam keriuhan? jawab saya tegas: tidak. Hanya dalam sepi dan hening suara hati nurani anda akan bergema keras dan menuntun anda menuju sacrum facere. Frans Suseno mengatakan bahwa Tuhan bekerja di dalam hati nurani manusia.

Saya teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca yang dikisahkan oleh Sindhunata, seorang imam Katolik yang bertugas di lereng Gunung Merapi. Dalam bukunya "mata air bulan" Sindhunata menceriterakan pengalaman seorang perempuan tua, miskin dan cacat buta. Mbok Tukinem dia punya nama. Tukinem miskin sejak dilahirkan. Ayahnya buruh tani. Ibunya bakul gerabah. Pada usia 7 tahun, Tukinem kecil tiba-tiba buta. Pada umur 10 tahun dibaptis menjadi Katolik. Biar buta, dia harus membantu ibunya mencari nafkah. Jogja - Semarang ditempuh dengan berjalan kaki sambil memanggul gerabah. Bisa 1 bulan mereka, ibu dan anak, ada di jalanan. Ketika dewasa, Tukinem menikah dengan seorang yang juga buta dan memperoleh anak 3 orang. Tetapi semuanya meninggal. Belakangan suaminya terkena kanker ganas dan tak bisa apa-apa lagi. Mbok Tukinem hanya bisa mendampingi dan merawat sang suami sambil terus berdoa dan bertasbih. Lalu Imam Sindhunata bertanya bagaimana mungkin Si Mbok bisa begitu tahan menderita. Di masa muda susah, di masa tua tetap saja menderita. Sindhunata tertegun ketika hal ini ditanyakan kepada si Mbok Tukinem dan dijawab "sakersanipun Gusti, kula nampi mawon", yang artinya "terserah Tuhan, saya hanya menerima". Mamma Miiiiaaaaa..... tak ada perlawanan sama sekali kendati kesusahan terus mendera. Tak mengeluh sembari terus mengabdi pada hidup dan Tuhannya. Si Mbok Tukinem ada dalam situasi sacrum facere. Dia mampu mengasihi dalam penderitannya sendiri.

Anda mungkin akan berpikir bahwa sacrum facere sepenuhnya hanya dapat dilakukan oleh yang Ilahiat. Anda benar karena KASIH adalah kuasa Ilahiat tetapi justru karena kuasa itulah maka sang Ilahi berkenan agar sifat ini dimiliki oleh manusia. Seumpama presiden Obama punya USAF One sebagai pesawat kepresidenan di AS tetapi dia berkehendak agar semua rakyat AS memilikinya juga. Persoalannya adalah apakah mereka itu mau atau tidak? demikian pula KASIH. Sang Ilahi mau kita memilikinya. Saban kali diulang-ulangnya keinginanNYA itu. Sayangnya, sabankali pula manusia menolak memiliki kasih. Kalaupun dimilikinya maka itu cuma sekedar lips service. Mengapa demikian? ternyata manusia tak mau membayar harganya kendati mampu. Ya benar belaka bahwa untuk memiliki KASIH ada bea-nya, yaitu mengalahkan diri kita. Menyangkal kehendak diri sendiri. Mencopot kecongkakan dan rasa utama diri sendiri. Dapatkah kita? Saya ragu kita mau karena adanya kecenderungan ke-aku-an yang tinggi pada diri setiap manusia. Perhatikan jalannya diskusi di TV-TV kita. Si Poltak bicara A, Si Anu menimpali dengan sangat keras lalu saling memaki. Kebenaran lalu ditentukan oleh kemahiran bersilat lidah. Kebenaran juga kerap ditentukan oleh kerasnya suara dan makian massa pendukung. dapat dimengerti sekarang, mengapa para demonstran perlu membawa pelantang suara dengan kekuatan yang berlipat-lipat dan dengan jumlah massa yang tak kalah berlipat-lipatnya? Supaya gema suaranya makin besar dan makin besar dan mengalahkan suara yang lain. Supaya anda mudah kali dikalahkan karena kalah jumlah. Maka tak heran, ketika mister SBY bicara naik BBM, Si Fulan menimpalinya dengan ancaman. Mister SBY curhat. Dibalas dengan tertawaan. Dan akhirnya mister SBY mememerintahkan: tentara siap keluar barak......nah lu.....Mereka semua, mungkin termasuk saudara dan saya, tak mau menyangkal keinginan kita sendiri.

Kemana arah posting ini? Apakah saya pro kenaikan BBM, lalu menyuarakan penerimaan ikhlas tanpa reserve kepada keinginan pemerintah? Apakah saya anti kenaikan BBM? Tidak begitu sob. Saya bukan siapa-siapa yang suaranya patut didengar. Sudah terlalu biasa suara orang seperti kami-kami ini diabaikan. Diberi harga kalo situ punya mau. Di anggap angin lalu kalo ga cocok sama situ punya kehendak. Karenanya, saya memilih untuk bersikap seperti Mbok Tukinem, yaitu menyerahkan kepada sang Ilahi (ingat bukan menyerahkan kepada SBY) ...."sakersanipun Gusti, kula nampi mawon". Mau kau naikkan itu harga BBM, apa boleh buat. Mau kau batalkan, ya monggo. Ya, kepada Tuhan sajalah saya mengadu. Jika DIA berkenan maka tak naiklah harga BBM itu. Tetapi jika DIA tak menghalang-halangi ya silakan saja naik itu harga BBM (dan semua harga-harga lainnya). Saya cuma ingin memiliki 1 kekuatan seperti yang dimiliki Mbok Tukinem kendati saya tahu itu amat sulit. Dalam diri saya selalu kuat semangat memikirkan diri sendiri. Ya, saya ingin terus berjuang agar memiliki cinta yang tak bertepi. Cinta yang sepenuhnya datang dari diri saya lurus terarah ke luar mengalahkan semua keinginan-keinginan pribadi. Cinta yang menghidupkan. Cinta yang hanya dimiliki DIA tetapi DIA mau saya, anda, kita semua memilikinya juga. Jika untuk mendapatkan kemampuan mengasihi dalam sacrum facere lalu menepi dan menyepi (agar dapat memahami rancangan DIA) adalah harga yang harus dibayar: saya bersedia dan mau. BBM: benar-benar mau?

Endless Love - Lionel Richie feat Shania Twain

Tabe Puan Tabe Tuan

Rabu, 29 Februari 2012

28 atau 29 tetaplah hari tetaplah waktu

Dear Sahabat Blogger,

Ketemu lagi kita di hari Rabu tanggal 29 Februari tahun 2012. Tanggal yang tidak diketemukan saban tahun karena fenomena tahun kabisat. Tentang hal ini saya kutipkan dari wikipedia: .... "29 Februari adalah hari ekstra yang ditambahkan pada akhir bulan Februari pada setiap tahun kabisat, yang merupakan hari ke-60 pada tahun kabisat dalam kalender Gregorian. Tanggal ini hanya ada pada tahun yang angkanya habis dibagi 4 seperti 1992, 1996, 2004, 2008, 2012, serta pada tahun abad (kelipatan 100) yang angkanya habis dibagi 400 seperti 1600 dan 2000. Tahun 1800 dan 1900 bukan tahun kabisat karena walaupun angkanya habis dibagi 4 namun merupakan tahun abad yang tidak habis dibagi 400". ... Begitulah sahabat, hari ini memang unik. Tetapi sesungguhnya mana ada hari yang tidak unik? Apakah ada hari yang sama persis? Jika jawaban anda tidak ada maka memang betul setiap hari sesungguhnya memang unik. Kalau begitu bagaimana dengan tanggal 29 Fabruari? Ya kita bilang saja unik pangkat 2. Beres.

Tetapi bukan hal ini benar yang ingin saya renungkan. Saya hanya ingin bermenung tentang bagaimana seharusnya kita berdiri di hadapan waktu yang kita beri tanda dalam satuan detik, menit, jam, hari, bulan tahun dan seterusnya. Saya mau mulai dari pertanyaan ini: apakah ada pengaruh panjangng tanggalan sebulan yang 28 hari atau 29 hari atau 30 hari atau 31 hari bagi kehidupan saya, anda, mereka dan kita semua? Anda pasti punya perspektif tersendiri tetapi bagi saya koq ya tidak signifikan selain bahwa kalau bulan dengan hari makin sedikit maka tempo mendapatkan gaji makin cepat. Sebaliknya jika bulan dengan hari yang banyak maka tempo mendapat gaji terasa sangat lama. Bikin susah. Maklum orang upahan rekipliek...ha ha ha ha....Dengan demikian kerumitan hitung-hitungan waktu dalam kalender Masehi baik baik Julian maupun Gregorian atau siapa tahu akan ada sistem baru lagi di masa depan bagi saya tidak begitu penting. Bukankah tanggal seperti sekarang akan datang lagi di masa depan seperti juga dia sudah pernah ada di masa lalu? Maka, hal terpenting adalah bagaimana mengisi waktu dengan berbuat ini dan itu atau itu dan ini. Mengisi waktu?

Di sinilah persoalannya, yaitu apakah waktu bisa diisi? Kalau begitu, apakah waktu itu? Benda apa itu: padat, cair ataukah gas? Pengertian umum memberi petunjuk bahwa waktu memilik 3 dimensi, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Akan tetapi perhatikan defenisi waktu menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses perbuatan atau keadaan berlangsung atau berada. Menurut defenisi tersebut, waktu adalah masa sekarang dan tidak berkaitan dengan masa lalu atau masa yang akan datang. Hal ini cocok dengan pendalapat fisikawan Australia, Paul Davies, bahwa waktu adalah keadaan sekarang. Kemarin dan besok hanyalah perspektif. Perasaan kita. Besok adalah sekarang yang belum terjadi. Kemarin adalah sekarang yang sudah terjadi. Jika waktu bagi kalangan awam adalah fenomena siklik yang bergerak dan berulang maka dalam konsep fisika, waktu sebenarnya statis. Ya, waktu tak pernah berubah dan kitalah yang berputar-putar mengelilingi waktu yang tetap itu. Tiap kali berputar mengelilingi waktu kita akan mengitung 1, 2, ..12...24, .. 28, 29 dan seterusnya. Bukan waktu yang baru melainkan kitalah. Bingung? Ya, antara ia dan tidak tetapi begitulah kebenaran menurut matematika dan fisika. Benar -benar begitu?

Ya, terserah andalah mau menerima konsep fisika waktu seperti itu atau tidak. Bagi kita, malam adalah waktu tidur. Besok pagi adalah saatnya untuk bangun dan bekerja. Telat masuk kantor maka hukuman atasan menunggu kita. Telat pulang rumah, isteri anda sudah menanti dengan wajah hitam merah ungu tak karuan. Kemarin dan hari ini Angelina Sondakh (kita duga) adalah "saksi dusta" siapa tahu besok dia kembali menjadi malaikat persis seperti namanya. Siapa yang perduli tentang filsafat waktu? Tak usah pusing bahwa 28 hari + 1 = hari ke - 29. Yang terpenting adalah bagaimana bersikap terhadap kenyataan waktu. Yang paling penting adalah teruslah bekerja di hadapan waktu. Bekerjalah sekarang agar bahagia hidupmu. Berbuatlah sesuatu supaya besok tidak perlu akan ada penyesalan dan kemarin adalah ceritera yang membanggakan. Bagaimana Boeng en Zoes?????


Tabe Puan Tabe Tuan