Rabu, 01 Juni 2011

sila yang ada 5 itu, jati diri manusia

Dear Sahabat Blogger,

Bagi kita warga Negara Republik Indonesia, setiap tanggal 1 Juni sebenarnya adalah hari yang khusus. Hari istimewa. Karena doeloe kala pada 1 Juni 1945 pada rapat BPUPKI, Bung Karno berpidato tentang dasar negara yang akan lahir, Indonesia. Dengan susunan yang tidak sama persis dengan rumusan yang ada sekarang, beliau mengusulkan hasil penggaliannya, yaitu PANCASILA. Selengkapnya, Pancasila itu adalah:

  1. Ketuhanan yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
  3. Persatuan Indonesia:
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Begitulah Pancasila. Cuma itu. Sesederhana itu rumusannya tetapi ternyata tidak sesederhana itu konsekuensinya. Ribuan nyawa telah meregang tagal urusan anti dan mempertahankan Pancasila. Ada DI/TII Kartosuwiryo, ada PKI tahun 1948 di Madiun, Ada PRRI/Permesta, dan ada pula G30S yang bukan saja membuat pertumpahan darah yang misterius di tahun 1965 dan beberapa waktu sesudahnya tetapi juga menamatkan sama sekali karir politik sang Penggali Pancasila. Terhentikah? tidak juga. Di masa reformasi ini, muncul aneka rupa gerakan yang terang-terangan menyatakan anti-pancasila. Ada gerakan yang menyerukan dasar negara khalafah seperti yang di usung oleh hizbut tahrir Indonesia, ada pula gerakan yang ikut didomplengi oleh Noordin M. Top yang orang Malaysia itu. Terakhir ini muncul pula new NII yang tak jelas juntrungannya sampai saat ini. Tantangan bagi Pancasila bukan cuma secara ideologis tetapi juga oleh penyelewengan dalam menyelenggarakan negara oleh pengurus-pengurusnya. Di mulut mengaku Pancasilasis tetapi korupsi besar-besaran seperti kasus Bank Century, Gayus Tambunan dan yang mutakhir masalah pemberian uang oleh Nazarudin dari Partai Demokrat kepada sekjen MK dilakukan. Di mulut mengaku Pancasilais tetapi di depan sidang DPR dan ditontong jutaan rakyat tega memaki ...bang (sensor) ... Ketika anda mencuri uang milik rakyat maka sudah pasti anda mengingkari sila ke dua, ke tiga, ke empat dan ke lima .... dan jangan lupa, kejahatan seperti itu sama saja dengan anda mengingkari pengkauan Iman anda sendiri karena Tuhan tidak pernah mengajarkan untuk mencuri. So, sila pertama pun dilanggar oleh koruptor dan para bandit.

Apapun juga, Pasca 1998, Pancasila seperti kehilangan gigi. Tidak diajarkan di kurikulum sekolahpun semua seperti diam saja. Bermnculan UU dan peraturan daerah yang bertenang dengan Pancasilapun tak ada yang perduli. Pancasila hanya digaungkan di sekitar tanggal 1 Juni. Setelah itu habislah dalam sunyi. Sunyi tetapi tidak sepi karena di balik kesunyian Pancasila, orang gaduh mencuri, merusak acara pentas seni budaya yang tidak sesuai dengan hukum agama tertentu, menusuk pendeta yang konon gedung gerejanya tidak berizin, merazia tempat hiburan malam tanpa perduli hukum positif, membunuhi polisi dengan bom dan senjata hasil rampasan, mencuri, korupsi, memaksakan kehendak di PSSI hanya karean telah medapat bayaran, mencoblos dalam pemilu hanya karena sekantung kreses sembako....masih banyak lagi daftar kegaduhan itu..... Ya, di balik kesunyian Pancasila, hingar bingarlah kejahatan di republik tercinta ini. Bagi kaum penjahat dan egoisi ini, rumusan, Pancasila mungkin diganti seperti ini:

  1. Keuangan yang maha esa;
  2. Kemanusiaan yang tak perlu adil dan, bila perlu, biadab;
  3. Persatuan suku saya, ras saya, pulau saya, partai saya;
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh ketidak hormatan dan kekurang ajaran dalam adu jumlah pendukung, demonstrasi dan pengerahan massa bayaran serta kemampuan melakukan tawuran;
  5. Keadilan sosial bagi seluruh keluarga saya, pendukung saya dan tim sukses saya.

Jika benar begitu maka, sepatutnya mereka itu kita tangisi beramai-ramai. Mengapa? Karena mereka, para bandit itu, telah kehilangan begitu banyak nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalam Pancasila. Mereka sesungguhnya telah kehilangan sebagain sisi kemanusiaanya. Franz Magnis Suseso dalam wawancaranya di televisi, menjelang pidato 2 mantan Presiden RI dan SBY sebagai Presidan RI hari ini dalam rangka peringatan pidato Bung Karno 1 Juni 1945 mengatakan bahwa di dalam Pancasila terselip begitu banyak dimensi kemanusiaan. Saya bergerak cepat dan lalu menemukan fakta bahwa paling kurang tiap Sila mengandung 1 dimensi manusia.

Dalam sila pertama terkandung dimensi manusia sebagai makhluk religius. Manusia selalu gelisah dan bertanya bahwa siapa aku yang berhubungan dengan sesama. Dari mana aku dan mereka berasal. Lalu manusia tunduk dan menyadari bahwa di luar aku dan mereka adalah sebuah misteri yang mengadakan sebagai pengada. Orang beragama mengatakan yang misteri itu adalah TUHAN.

Dalam sila kedua, dimensinya adalah bahwa manusia makhluk dinamis. Manusia aktif berhubungan dengan segala sesuatu yang eksistensial yang berbeda dengan benda lain di alam. Jika benda lain bereaksi karena hubungan sebab akibat dan karena ada keperluan maka manusia tidak memerlukan itu. Dinamika manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Dia berhubungan bukan hanya karena dia perlu tetapi kehendak bebasnya yang mendorongnya. Salah satu kehendak bebas itu adalah membangun relasi dengan sesama secara etis, yaitu sehakekat, satu derajat dan satu martabat, dimana saja manusia itu berada, siapapun dia. Manusia selalu rindu untuk mengasihi sesama.

Dalam sila ketiga terkandung dimensi filsafati yaitu manusia adalah makhuk multidimensional. Manusia adalah makhluk yang eksis dengan aneka dimensi kehidupan. Manusia adalah makhluk badani tetapi juga rohani. Dia menginginkan bukti nyata tetapi juga suka berkhayal. Semua dimensi yang anekarupa itu bersatu di dalam diri satu manusia. Maka secara sadar manusia itu adalah makhluk yang rindu akan persatuan.

Dalam sila keempat terkandung dimensi filsafat, yaitu manusia adalah makhluk yang bertanya. Manusia heran akan sekelilingnya lalu dia bertanya. Setiap bertanya dan mendapatkan jawaban maka selalu akan ada pertanyaan baru. Manusia bingung maka untuk itu dia memerlukan refleksi. Dalam refleksinya manusia berdiskusi baik dengan dirinya sendiri maupun juga dengan sesamanya. Dalam diskursus itu manusia bersepakat tentang jawaban-jawaban. Jadi, manusia sejak awal adalah makhluk yang berdiskusi, bermusyawarah dan bersepakat.

Dalam sila kelima terdapat dimensi filsafat lainnya, yaitu manusia adalah makhluk sosial yang berbudaya. Manusia dan sesama mula-mula bersepakat lalu membentuk kebudayaan. Budaya adalah proses humanisasi kesepakatan-kesepakatan yang intinya adalah apa yang kamu punya miliklah, apa yang aku punya kumiliki. Ketika aku kekurangan maka kemana lagi aku berlari jikalau bukan kepada engkaulah. Ketika engkau menderita, jangan kemana-mana tapi datanglah padaku. Hidup adalah saling memberi dan menerima. Adil bagi semua. Itulah dasar dari socius atau berteman. Teman dalam satu budaya boleh saja membikin negara. Jikalau dalam negara diperlukan pengurus-pengurus maka saya pilih kamu sebagai pengurus yang wajib menjamin ke-socius-an kita harus terus berjalan.

Dear sahabat,

Begitulah seharusnya Pancasila. Itulah sebabnya mengapa Pancasila amat sangat relevan bagi kita yang ditakdirkan untuk bersepakat hidup bersama-sama dalam keragaman di negeri indah bak Zamrud khatulistiwa ini. Negeri Nusa antara ini. Pertanyaannya adalah mengapa sekarang Pancasila terpuruk begini rupa? Ada banyak cara menjawab tapi saya memilih yang satu ini. Begini: yaitu Pancasila adalah visi kita bersama di Indonesia. Kita manusia yang memiliki visi ini adalah makhluk memiliki jiwa. Dalam konteks berbangsa, Pancasila mengenyangkan jiwa kita. Itulah jasa Bung Karno dan angkatannya. Tetapi angkatan ini lupa bahwa jiwa ada di dalam badan sedangkan badan memerlukan makanan. Memang kita adalah bangsa besar yang disegani sampai kemana-mana. Malaysia dan Singapura sampai merasa perlu meminta perlindungan Inggris karena begitu takutnya mereka pada Indonesia. Tapi sayang, apa daya, perut kita kosong. Kita lapar. Datanglah angkatan Soeharto yang rajin memberi makan bagi badan kita dan patutlah kita berterima kasih tetapi sayang urusan jiwa diabaikan. Kita hanya boleh tahu bahwa kita kenyang sedangkan jiwa kita hanya boleh seukuran yang ditentukan negara. Jiwa kita dikosongkan. Pragmatisme menjebak pada situasi perut kenyang tetapi tak lagi punya mimpi selain bagaimana menjadi kaya secepat-cepatnya. Pancasila yang adalah jiwa kita itu direduksi hanya menjadi rumus hafalan. Rusaklah jiwa kita. Di tahun 1997-1998 kita akhirnya tahu bahwa kita bukan cuma kehilangan jiwa tetapi perut kitapun kembali kosong. Di masa reformasi, demokrasi yang amat baik itu dijalankan tetapi ternyata hanya pada tataran prosedural. Esensinya hilang, yaitu kesejahteraan dan kesetaraan. Kita sering bergaduh sendiri. Jiwa seolah-olah terisi badan seolah-olah kenyang. Nyatanya tidak. Dalam keadaan demikian, segolongan orang yang menumpang pada prosedur demokrasi berusaha menyeragamkan Indonesia. Maka, pingsanlah Pancasila. Pancasila ditikam dari belakang. Pancasila dikhianati. Kitalah sekarang korbannya juga akhirnya. Sudah perut tidak kenyang-kenyang amat, jiwa kita compang camping tidak keruan.

Karena itu, kembalilah kepada jiwa bangsa yang benar karena di lima sila itu semua dimensi kita sebagai manusia disatukan. Anda boleh putih, saya biru kehijauan, dan mereka merah jingga tapi kita satu adanya. Jangan karena putih adalah atribut kebenaranmu maka kamu merasa berhak memakasakan bagi yang lainnya. Biarlah kita tetap dalam kamar yang berbeda tetapi rumah kita tetap satu jua akhirnya. Rumah Kita itu punya 5 kamar, yaitu Pancasila. Rumah kita itu akta hukumnya bernama UUD 1945. Rumah kita itu halamannya adalah Bhineka Tunggal Ika tempat semua bunga beraneka warna hidup lalu semerbak mewangi dan indah. Alamat Rumah Kita adalah Negara Kesatuan Republik INDONESIA. Meerrrdeeekkaaaaaaaaa.

Franky S. - Pancasila Rumah Kita


Tabe Tuan Tabe Puan

Rabu, 11 Mei 2011

korupsi adalah racunnya preman

Dear Sahabat Blogger,

Bulan Mei di tahun 2011 sekarang ini. Tanpa terasa. Semua serba cepat...waktu berjalan begitu cepat .....war wer wir wur wer wor...byaaaarrr....sampailah kita di sini. Saat ini. Dengan keadaan begini dan begitu. Ada baikkah semuanya? I hope so.

Terbetik berita bahwa adalah seorang sekertaris kementerian di rekipliek tercinta ditahan yang berwajib. Doski tertangkap tangan menerima suap ldalam proyek pembangunan gedung anu dalam rangka kegiatan inu ....was wis wus wes wos...chuuusszzzz... KPK bergerak cepat (herannya untuk persoalan Bank Century KPK lambat mirip keong..ah kasihan si keong tuh...) ......si ini diperiksa dan si itu ditahan.....lalu...karena sudah lebih dari 1 orang yang terperiksa maka bernanyilah mereka membentuk paduan suara atawa koor yang bunyinya...ehmm si bendahara partai anu terlibat, si anggota dpr nan cantik yang namanya si fulan terlibat....watatitaaahhhh...apaaaaaaa????? lho bukannya si fulan orang top merkotop yang terlihat sangat alim tuuuhh????? Bukankah si fulan sedang ini dan itu tuhuuhhh?????? Mula-mula angin gosip bergerak perlahan semilir...wwwuuusssss......tiba-tiba ....guussraakkkkkk....."enggak koq, aqyu ga terlibat, demi sandalku dech, sumpah pocong geth00oooo looohhhh"...

Mengapa orang-orang yang hidupnya sudah "di atas angin"masih harus korupsi? Kurang apa mereka huuh? (mungkin ga ada kurangnya kecuali kurang ajar). Kita masih bisa memaklumi jika yang melakukan "pencurian" adalah "orang kecil". Alasan bisa aneka macam:...susu untuk si kecil...sudah 8 hari ga makan....untuk biaya nikah.....khas alasan orang-orang kecil di pinggiran. Kendati semua itu adalah kejahatan akan tetapi masih make sense-lah itu. Masih masuk diakal, kendati dikit. Lha jikalau pelaku penilepan itu orang-orang penggede dan para petinggi waaahhh...itu namanya ...therlalllluuuuu...kata bang haji Oma Irama. Kata anak Kupang, "kalo orang karmencong (orang kecil jelata) mencuri dapat dimengerti, mungkin karena terpaksa coz kampung tenga (perutnya) keroncongan". Akan tetapi kalo yang raksasa mencuri?????

Diskursus dalam pikiran kita mungkin akan seperti itu atau mungkin juga tidak begitu. Paling tidak, saya berpikiran begitu. Mengapa mereka masih juga suka mencuri kendati berkecukupan. Saya tak punya ilmu khusus untuk menjawab itu tetapi pikiran saya teringat akan salah satu hukum dasar ilmu nutrisi. Hukum itu adalah "the law of diminishing return" atau "hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang". Gerangan apa dan apa hubungannya dengan yang tadi itu loh..."sumpah pocong"? Begini: Jika tumbuhan anda memerlukan nutrisi maka dia pasti dalam keadaan "kekurangan". Maka berikanlah nutrisi a, b atau c. Jumlah pemberian akan meningkat sesuai kebutuhan untuk terus bertumbuh. Semakin cepat pertumbuhan, kebutuhan nutrisi semakin meningkat. Tapi awaslah, pada satu titik tertentu, tumbuhan anda akan memasuki masa "sudah cukup". Jika anda masih saja terus memberikan nutrisi maka pertumbuhan memang masih meningkat tetapi dengan kecepatan yang berkurang. Penambahan nutrisi yang anda berikan tidak lagi diutamakan untuk percepatan pertumbuhan melainkan guna mendukung kebutuhan untuk bermewah-mewahan (luxury consumption) yang dalam dunia tumbuhan berarti menambah nilai nutrisi tumbuhan. Tetapi ...heeiiiitt waspadalah...tanda merah mulai menyala, jika tumbuhan telah melewati batas "kecukupan" maka fase yang tersisa adalah "keracunan". Pemberian nutrisi akan mematikan tumbuhan. Jadi, kata baopak./ibu dosen ilmu nutrisi tanaman, hentikan penambahan nutrisi pada tahap "keracunan" tersebut. Begitulah kira-kira keterangan bebas dari hukum "the law of diminshing return".

Jika saya analogikan dalam kehidupan sehari-hari urusan makan memakan oleh anda dan saya maka logika hukum di atas dapat seperti ini: pada saat anda kelaparan setelah tak makan 3 hari 3 malam makanlah 1 piring nasi. Pastilah dalam waktu singkat isi piring akan tandas tuntas licin bersih. Jika masih lapar makanlah makanan yang ada pada piring ke 2 atau ke 3. Akan tetapi awaslah ketika anda memakan isi piringan ke 4 dan kecepatan makan anda makin berkurang maka itu pertanda bahwa sebenarnya kelapran anda sudah terobati. Berhentilah makan karena jika anda menambahkan isi piringan ke 5 dan seterusnya ke dalam perut anda maka anda akan saluran pencernaan anda akan "tercekik" dan lalu anda akan mati kekenyangan. Bagi sohib yang ingin mecoba rumusan di atas ya silakan saja...wkwkwkwkwk....saya tidak.

Ketika terbetik kabar seorang nenek tua terancam penjara karena memetik 1 - 2 buah tanaman pisang maka terenyulah hati kita, Mengapa demikian? Kita patut menduga bahwa dia akhirnya nekad mencuri karena lapar. Dia berkekurangan. Siapa yang salah? Moralitaskah? Bisa jadi begitu tetapi bukankah di rekiliek ini ada yang namanya konstitusi yang kita kenal sebagai UUD 1945 (yang diamandemen) yang di bagian preambulenya mengatakan bahwa "negara wajib mensejahterakan masyarakatnya"? Pada titik ini kita harus mengatakan bahwa "negara harus bertanggungjawab terhadap orang-orang miskin itu karena anda dihadirkan antara lain untuk mengurus itu. Siapkan cara agar setiap warga negara bisa makan tanpa harus mencuri. Pelik? ya iya lah tapi bukankah negara punya pengurus-pengurus yang dibayar rakyat? Anda dimana wahai pengurus negara?

Akan tetapi kita juga menjadi tahu bahwa ada sebagian kelompok masayarakat lain yang sudah tidak lagi berada dalam "zona kekurangan" karena telah berada di posisi "zona berkecukuan". Menambah-nambah kekayaan hanyalah memberikan arti bagi naluri narsis dan berkemewahan. Penambahan kekayaan sebenarnya sudah tak memberikan arti lagi. Memang betul bahwa dalam filsafat, manusia adalah makhluk tak sampai. Tak pernah puas tetapi hukum "the law of dimisnhing returns" memberikan petunjuk bahwa ada saatnya kita harus tahu kata cukup. Enogh is enough. Melewati batas itu, racun namanya. Upaya guna terus saja menumpuk kepuasan melalui kekayaan dapat ditafsirkan sebagai KESERAKAHAN. Dan keserakahan tak punya makna apa-apa lagi kecuali akan menuntun kepada keracunan yang mematikan. Apa enaknya hidup enak sekarang tetapi lalu harta anda habis hanya untuk mengurus perkara, membiayai perawatan kesehatan, membayar uang panas kepada pengurus-pengurus negara yang curang dan lain sebagainya. Pada saat-saat genting di zona keracunan, tak ada uang apapun juga yang mampu menolong anda untuk membeli kebahagiaan. Kejatuhan Marcos di Filipina, Soeharto di Indonesia dan Mubarak di Mesir adalah contoh perkara itu. Nama mereka akan dikenang sebagai kumpulan para manusia serakah. Uang berapapun tak bisa lagi memberli nama baik. Sumpah pocong demi sandal kesayangan pun tak ada artinya lagi. Siapa yang harus bertanggunjawab kalau sudah begini? Ada 2 pihak, yaitu moralitas pribadi dan keteguhan negara dalam menegakan hukum secara adil dan jujur. Negara jangan curang. Pencuri pisang ditangkap dan diinjak. Pencuri raksasa disayang-sayang. Jangan begitulah boss. Pesan moralnya adalah berhentilah hidup curang. Racun tuh. Preman tuh. Kesian eh Sekian.

Preman - Superkid


Tabe Tuan Tabe Puan

Sabtu, 23 April 2011

di Getsemani: Jesus bukan penakut, dia sahabat

Dear Sahabat Kristiani,

Berbahagialah kita, anda dan saya karena Tuhan masih berkenan mempertemukan setiap kita dengan satu lagi Hari Raya Jumat Agung, Perayaan Perjamuan Kudus dan Paskah, di tahun 2011. Ayanda dan Ibunda saya, misalnya, tak lagi merayakan hari-hari besar umat Kristiani ini dalam situasi yang sama dengan yang saya alami. Ayahanda "Robert SGT" dan Ibunda "Tien" mungkin merayakannya di dimensi lain dengan cara yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Penyanyi lagu-lagu balada kecintaan saya, Franky Sahilatua juga tak lagi merayakan Paskah seperti kita. Dia telah berangkat meninggalkan "perahu retak" dunia ini menuju Rumah Allah. Apapun juga, bagi semua sahabat Kristiani saya ingin mengucapkan SELAMAT JUMAT AGUNG. SELAMAT PASKAH. TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA (dan juga saya).

Berkenan dengan perayaan Jumat Agung dan Paskah kali ini, ada yang ingin saya renungkan setelah sebelumnya saya gumuli secara serius. Apa yang saya gumulkan dan renungkan itu. Adalah ini:

„Ya, BapaKu, jikalu Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu: tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.“... Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik darah yang bertetesan ke tanah.“ (Luk.22:42-44)
Ayat di atas menunjukkan secara kronologis detik-detik ketika Tuhan Yesus sedang menunggu "saat-NYA" sebagaimana yang telah ditentukan oleh Sang Bapa. Setelah melaksakan perjamuan kudus di kamar loteng sebuah rumah pengikut-NYA, Tuhan Yesus lalu berjalan menuju Taman Getsemani ditemani 3 orang murid-Nya. Di sana Tuhan Yesus mengambil sewaktu dua waktu untuk berdoa menggumuli "saat-NYA" tersebut. Hampir semua tafsir Alkitab mengatakan bahwa ayat-ayat itu menujukkan sisi manusiawi Yesus yang memiliki rasa takut. Sudah barnag tentu, saya memahaminya di balik "ketakutan-NYA" itu tersembunyi teladan Ilahiat, yaitu ketaatan di hadapan Bapa. Tuhan Yesus takut tetapi di taat. Saya bersetuju dengan tafsir. Akan tetapi ijinkan saya untuk mengatakan bahwa saya memiliki masalah pada penggunaan kata "takut" dalam ayat di atas. Benarkah Yesus "ketakutan" dan lalu berusaha "menghindar dari Salib"? Benarkah begitu? Saya kuatir jika memang benar demikian karena beberapa konsekuensi logis dari homili seperti itu. Karena itu saya berusaha memahami benar arti kata "ketakutan" yang dipakai di Lukas 22: 44.

Kata "takut" pada kutipan ayat di atas kelihatannya merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa Yunani "αγωνία" atau "agwnia" atau "agonia". Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka kata itu akan menjadi "agony" yang memang berarti takut. Akan tetapi hasil penelusuran saya secara berhati-hati menemukan arti lain terkait kata "agoni". Saya menemukan bahwa kata "agony" dalam bahasa Inggris ternyata berpadanan dengan lebih dari satu kata Yunani. Kata "agony" selain berpadanan dengan "αγωνία" ternyata juga berpadanan dengan kata "μαρτύριο" atau "martyrio" yang berarti penderitaan yang amat dalam. Karena itu saya tak heran jika dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) ayat ke 44 dari Kitab Lukas pasal 22 berbunyi

"Yesus sangat menderita secara batin sehingga Ia makin sungguh-sungguh berdoa. Keringat-Nya seperti darah menetes ke tanah"

Perhatikan pula terjemahan dalam versi lainnya sebagai berikut:
  • Sedang ia dalam sengsara, maka ia meminta doa dengan lebih bertekun; maka peluhnya pun menjadi seperti titik-titik darah gugur ke bumi (Shellabear Draft, 1912)
  • Dan waktu dia ada dalam sngsara, dia minta do'a dngan lbeh tkun: dan dia punya ploh jadi sperti titek-titek darah mnitek di tanah (Melayu BABA, 1913)
  • Maka dalam sangsara jang besar itoe makin radjin ija meminta-doa dan peloehnja pon mendjadi saperti titik-titik darah jang besar berhamboeran kaboemi (Klinkert, 1879)
  • Dan sedang 'ija kene parang pajah, maka makin radjin munadjatlah 'ija. Maka pelohnja djadilah saperij titikh 2 darah kantal, jang malileh turon kabumi (Leydekker Draft, 1733)
Berdasarkan pemahaman arti kata itu maka saya lalu memiliki 3 opsi perspektif dalam memahami makna ayat dalam Lukas 22: 44.

Dalam banyak naskah-naskah renungan saya sering menangkap kesan bahwa Lukas 22: 42-44 memberi petunjuk bahwa Yesus takut. Yesus, dalam sisi manusiawinya, ternyata ketakutan menghadapi Penyaliban yang dahsyat dan mengerikan itu. Begitu takutnya Yesus, lalu Dia berusaha mencari jalan selamat untuk diri-NYA. Pada titik ini saya tertegun. Benarkah Yesus yang saya kagumi luar dalam itu adalah seorang yang penakut? Bukan cuma takut, lebih lanjut tampak Yesus mengusahakan sesuatu yang lainnya seperti yang terlihat pada kutipan ayat tersebut berikut ini ..... "ambillah cawan ini dari-KU" .... Sekarang ada 3 opsi konsekuensi jika do'a Yesus agar Bapa setuju mengambil "cawan" itu dari-NYA: pertama, Allah kehilangan sifat adil. Bukankah penghukuman harus dijatuhkan karena kesalahan sudah terjadi? Kedua, Allah ingkar janji. Bukankah Penyaliban sudah dinubuatkan sejak perjanjian lama? Ketiga, jika Allah memang adil dan tidak berbohong maka kepada siapa "cawan" harus dialihkan? Siapa yang harus dikambing hitamkan? Siapa yang harus dikorbankan menggantikan Yesus? Benarkah Tuhan Yesus dalam doanya berpikir tentang "bagaimana mengorbankan orang lain"? Nah lihatlah, konsekuensi logis dari perspektif Yesus ketakutan dan berusaha melarikan diri diri dari "cawan" ternyata berdampak sangat serius terhadap kesejatian Allah dan Yesus. Hal ini juga tidak main-main karena di beberapa blog yang kontennya sangat sisnis terhadap Yesus saya membaca bahwa perkara ketakutan Yesus ini ternyata digunakan sebagai dasar argumen menolak dimensi Ketuhanan-NYA..."heeeiiii, lihatlah...Yesus yang penakut itu pasti bukan Tuhan karena tak masuk akal Tuhan itu penakut". Betulkah Tuhan Yesus ketakutan lalu diam-diam berusaha bernegosiasi dengan sang Bapa guna berusaha mencari selamat bagi diri-NYA sendiri sembari mengorbankan orang lain? Jujur saja, saya tak yakin. Mengapa demikian?

Saya memiliki beberapa referensi yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sama sekali bukanlah penakut dan juga bukan pencari keselamatan untuk diri-NYA sendiri lalu tega mengorbankan orang lain. Kisah Yesus Tuhan Yesus menghadapi pencobaan di padang gurun; ceritera Tuhan Yesus yang mengusir roh jahat; bagaimana cara Tuhan Yesus menghadapi angin topan di tengah lautan yang nyaris mengaramkan kapal yang ditumpanginya; Bagaimana pilihan etis Tuhan Yesus menghadapi banyak orang yang marah dan ingin merajam si perempuan pezinah...dan wwwooowwww...masih amat banyak lagi referensi sejenis yang menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bukanlah penakut. Tidak pula seorang pencari keselamatan bagi diri-NYA sendiri. Tuhan Yesus juga tidak sedang bernegosiasi dengan Bapa untuk tega mengirimkan orang lain ke Kayu Salib ganti Dia. Jika benarlah Yesus memilih sikap seperti begitu maka, maaf, ke-Kristenan saya akan saya tanggalkan menit ini juga karena bukan Yesus seperti itu yang saya sembah. Dalam perspektif ini Yesus adalah penakut dan berusaha lari sejauh-jauhnya dari penghukuman. Sulit saya membayangkan bahwa ibarat menghadapi kapal yang karam Tuhan Yesus sedang berusaha berenang secepat-cepatnya supaya tidak ikut terbawa tenggelam terseret arus kapal karam lalu tidak perduli apakah si anu dan si polan sedang termenggah-menggeh klelep mau mati tenggelam. "Walah kalo nulungin situ bisa-bisa gw ikutan klelep dunk, tak us-us aja ya". Maaf, saya tidak yakin bahwa Yesus bertindak seperti itu. Itu bukan tipenya dech. Kalau tidak begitu lalu apa? Ada alternatif perspektif kedua.

Saya mendapat sedikit kelegaan ketika mengetahui bahwa ayat ke 44 Kitab hasil tulisan dokter Lukas pada pasal ke 22 ternyata dapat berbunyi dalam pemaknaan yang berbeda...."Tuhan Yesus amatlah sengsara" ... Oh, ternyata peristiwa doa di taman Getsemani tidaklah harus ditafsirkan bahwa Yesus adalah si penakut yang sedang berusaha mengelak dari Salib dan meletakkan salib pada bahu manusia. Tuhan Yesus ternyata amat menderita. Apa yang membuat Tuhan Yesus menderita? Bayangan dahsyatnya Salib dan penyalibankah? Bisa jadi begitu tetapi Yesus tak sedang mengupayakan penghindaran dari penghukuman. Yesus yang sehakekat dengan Allah itu tahu persis bahwa Salib tetap ditancapkan dan Dia akan tergantung di situ. Yesus juga paham bahwa tak boleh ada sesiapaun yang lain yang dapat menggantikan Dia sebagai yang tergantung di Salib. Yesus tahu bahwa "cawan harus diminum" tetapi "bolehkah cawan itu ditukar"? Saya membayangkan Yesus bergumul dalam pikiran-NYA dan berbisik ..."Bapa, masih bolehkan ada solusi lain dari penghukuman yang akan aku tanggung"..... Terhadap kemungkinan ini, saya sedikit lega tetapi belum seluruhnya karena masih terasa "bau" upaya meluputkan diri dari "cawan". Yesus mengelez? Saya pikir tidak kendati Yesus sebenarnya bisa saja mengambil jalan lain bukan? Saya teringat pengalaman saya beberapa waktu yang lalu sebagai salah satu pengurus dalam organisasi x. Salah satu petinggi di organisasi ini jelas-jelas bersalah menyalahgunakan kuasa dan melakukan korupsi. Mula-mula musyawarah pengurus memutuskan untuk memecat yang bersangkutan tetapi lalu dengan alasan "kasih" maka keputusan itu diubah hanya menjadi penundaan kenaikan gaji berkala. Hukuman tetap djatuhkan tetapi bentuknya dirubah dan bahkan lebih ringan. Bisa jadi model inilah yang "dinegosiasikan" oleh Yesus kepada sang Bapa. Boleh-boleh saja tafsir seperti itu tetapi - sekali lagi menurut hemat saya - itu juga bukan tipe Yesus.

Sampailah saya pada alternatif perspektif yang berikutnya yang saya yakini jauh lebih mendekati kebenaran Firman Tuhan tentang jati diri Yesus. Begini: Tuhan Yesus sadar bahwa Salib dan Penyaliban pasti terjadi karena keadilan Allah. Hukuman sudah dijatuhkan dan itu harus terjadi. Compromise no more. Tidak ada pilihan lain. Betuk penghukumannya juga sudah pasti seperti nubuat para Nabi. Ya, penyaliban yang adalah hukum yang amat mengerikan dan menghina itu tak boleh berubah. Tak bisa diubah. Harus seperti itu. Tuhan Yesus juga tahu bahwa manusia si pecundang tak akan mampu menanggung Salib yang nista itu kecuali DIA. Lalu apa yang membuat Yesus amat menderita? Menurut saya, Yesus amat menderita justru karena keterlibatan manusia dalam proses penghukuman itu. Tangan Bangsa Israel sebagai ruang budaya kehidupan Yesus sekali lagi akan berlumuran darah dan kali ini adalah darah Mesias mereka sendiri. Mesias yang dinanti-nantikan begitu lama. Tangan umat pilihan ini kembali harus berlumuran darah bahkan kali ini darah anggota komunitasnya sendiri. Ingat bahwa Yesus terlahir dan sampai mati adalah seorang Yahudi. Dalam hukum Yahudi, amat terlarang "jeruk makan Jeruk" atau "Jahudi makan Jahudi".

Yesus yang mau memahami perilaku dan kedosaan manusia dengan segala konsekuensinya itu rupanya memasuki taman Getsemani dengan beban itu. Dia akan mati di Salib tetapi bagaimana dengan nasib manusia si pecundang yang membunuh-Nya itu? Jika kematian-NYA adalah bentuk ultimat terhadap penebusan dosa bagaimana dengan tanggung darah oleh kaum pembunuh-NYA? Yesus tahu betul bahwa jawaban terhadap dosa akan segera dimiliki oleh manusia melalui Kematian dan Kebangkitan-NYA tetapi bukankah manusia bebas memilih ataukah selamat ataukah maut. Apakah si degil manusia mau belajar dari kesalahan mereka tentang penyaliban. Apakah jauh setelah penyaliban, manusia tak lagi gemar menebar kebencian? Yesus tahu betul bahwa Dia sudah menyiapkan jembatan emas Keselamatan menuju Allah, yaitu diri-NYA sendiri tetapi apakah pendewaan terhadap diri sendiri, kekuasaan, keterkenalan dan kekayaan tidak lagi menjadi pilihan hidup manusia? Saya membayangkan dalam pergumulan batinnya yang dahsyat mungkin Tuhan Yesus berkata dalam hati-NYA

..."mengapa ya Bapa, aku digariskan harus mati oleh tangan manusia yang aku cintai itu? Tak adakah jalan lainkah? Aku adalah harapan bangsa degil ini .... Akulah harapan sebenarnya bangsa sesat ini.....jika aku harus mati, siapakah harapan mereka? Ya Bapa, mengapa aku harus mati di tangan mereka? Karena keadilan MU, adakah mereka diloloskan dari hutang darah atas kematian KU? ... Ya Bapa, mengapa, hanya karena berbeda visi dan klaim kebenaran sepihak, Penyaliban ini harus terjadi....Ya Bapa, mengapa siklus pertumpahan darah atas nama perbedaan visi dan klaim kebenaran masih harus terjadi lama setelah Penyaliban ini?
Tentang ini saya mengajak anda semua untuk mengingat kisah Kain yang harus menerima hukuman atas pembunuhan yang dilakukan terhadap adiknya Habel. Anda juga tak boleh menutup mata terhadap fakta sejarah bahwa 40-50 tahun setelah penyaliban Yesus, Bangsa Israel dihancur leburkan oleh Romawi dan diserakan ke seluruh penjuru dunia. Kisah kelam bangsa Israel masih akan terus berlangsung amat lama sampai masa tangan berdarah si Monster Hitler yang membunuh 6 juta orang Yahudi. Apakah ini bukan bentuk hukuman tanggung darah terhadap kejahatan mereka membunuh Mesisnya sendiri? Anda juga jangan melupakan konsteks sosial, politik dan historis bahwa dalam peristiwa Penyaliban Yesus terpaut banyak aspek yang menunjukkan intrik politik, intrik kekuaasaan, intrik keagamaan dan bahkan intrik pengkhianatan. Ya, Yesus adalah korban tak berdosa dari intrik-intrik yang terjadi. Fakta menunjukkan bahwa korban tak berdosa dan sia-sia dalam berbagai sengketa di dunia begitu amat luar biasa banyaknya. Ratusan juta nyawa meregang percuma selama perang Salib, perang antara kaum Protestan dan Katolik, di Eropa, WW I, WW II, Perang Vietnam, Perang Teluk, kerusuhan Mei 1998 di Indonesia, peristiwa 9-11 di New York dan ribuan peritiwa berdarah lainnya. Yesus mengetahui itu. Yesus mengenal betul kedegilan hati manusia kesayangannya itu. Pasti. Salib memang diperlukan tapi Yesus ragu akan kemauan manusia untuk belajar dari Salib. Dan karenanya Dia menderita. Dia menangis.

Dalam perspektif yang saya tawarkan ini pusat perhatian saya bukanlah upaya Yesus untuk bernegosiasi dengan Sang Bapa tentang keluputan-NYA dari Penyaliban melainkan CINTA KASIHNYA YANG AMAT MURNI DAN TAK TERBATAS BAGI MANUSIA. Sisi inilah yang mengejutkan dari Yesus seperti yang dikatakan oleh Tim Stafford (2010) dalam bukunya "Surprised by Jesus" bahwa pribadi Yesus adalah pribadi yang sugguh sangat mengejutkan bagi banyak orang yang mengaku mengenal Dia. Salah satu ciri khas Tuhan Yesus adalah beliau selalu berpikir dalam suatu kesatuan persekutuan. Itulah penjelasannya mengapa Yesus yang sama sekali tidak memiliki dosa tetapi malah menyerahkan diri-NYA untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dia melakukan itu karena Dia solider dengan manusia yang berdosa dan membutuhkan pembaptisan. Itu pula penjelasannya mengapa Tuhan Yesus amat sering bergaul dengan mereka yang terpinggirkan, yaitu si pezinah, si pemungut cukai dan yang lainnya. Setiap tindak-tanduk Yesus selalu memberi petunjuk bahwa...."hei, aku mencintai kalian dan karena itu aku mau masuk dalam penderitaanmu, dalam kesusahanmu, dan bahkan .... dalam dosamu. Bayangkan, di tengah ancaman Salib yang akan dikenakan kepada-NYA, Yesus malah memikirkan manusia. Jelas sudah, siapa yang digumulinya dengan penuh penderitaan di Getsemani. Siapa yang di tangisi-NYA di Getsemani. Bukan diri-NYA sendiri melainkan Manusia. Luar biasa.

Berkali-kali saya membaca Lukas 22: 42-44 dan saya selalu cemas akan "ketakutan" Yesus. Tetapi syukurlah, kali ini saya memahaminya dari perspektif yang berbeda. Yesus boleh saja menderita, cemas, gelisah atau takut sekalipun tetapi saya tahu kini bahwa obyek ketakutan-NYA bukanlah diri-NYA sendiri. Yesus pertama-tama tidak sedang berpikir kepentingan diri-NYA sendiri. Manusialah yang ada dibenak-NYA sepanjang hidup dan karya_nya bahkan ketika DIA berada begitu dekat dengan dengus napas seringai jahat sang maut. Itulah demonstrasi Cinta Kasih Yesus yang tak tertandingi. Di zaman ketika semangat mementingkan diri sendiri begitu merebak bukankah teladan YESUS terasa amat luar biasa? Ketika di Libya semua berperang melawan semua, ketika para pelaku teror bom di Indonesia hanya memikirkan isi kepalanya sendiri, dan ketika para petinggi DPR sibuk mencari-cari alasan pembenaran dalam pemborosan pembangunan gedung DPR yang baru, dan ketika para penggemar George Toisuta dan Arifin Panigoro sibuk memikirkan kepentingan diri mereka sendiri di PSSI maka teladan Yesus adalah oase penyejuk di tengah padang pasir kepentingan diri itu.

Sahabat Kristiani, jika perspektif ini bisa diterima maka jelaslah sudah Tuhan Yesus bukanlah pecundang nan penakut melainkan adalah sumber mata air cinta kasih yang teramat luas dan dalam. Inilah Yesus Tuhanku. Penebusku yang hidup. Kepada-NYA layak saya mempertaruhkan hidup dan peruntungan hidup. Ketika saya tak memperdulikan Dia malah sebaliknya, Dia berpikir tentang saya. Dia menangis untuk saya. Dia gelisah karena saya. Dia takut karena memikirkan saya. Yesus memang Tuhan tapi Dia juga sungguh sahabat saya. Kepada saya dan anda YESUS telah menawarkan Syalom Allah itu. Maukah anda dan saya? Anda mau Yesus yang penakut atau Yesus yang bersahabat. Saya sudah membuat pilihan. Terserah anda. SELAMAT PASKAH


Shalom Tuan Shalom Puan

Sabtu, 02 April 2011

koes plus bonus fideles

Dear Sahabat Blogger,

"Apalah arti sebuah nama" demikain Shakespeare berseru dan, kita, ada yang setuju tak kurang pula yang tidak setuju dengan itu. Kawan saya yang berasal dari daerah Manggarai diberi nama "Nganggur" karena ketika dia dilahirkan ayahandanya sedang tidak punya pekerjaan selain sebagai petani. Entah mengapa petani tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Saya diberi nama "Ludji" oleh almarhum Ayahanda Robert "SGT" Riwu Kaho secara serius dengan maksud untuk mengingatkan bahwa sekali dan seterusnya saya adalah orang Sabu dari suku Namata. Saya tak boleh menjadi orang Australia misalnya biar kata nama babtis saya adalah "michael". Adik saya, Vicktor Riwu Kaho, mula-mula memberi nama "Haga" kepada anak sulungnya. Belakangan dia merasa perlu untuk berjauh-jauh dari Jakarta ke Pulau Sabu hanya untuk melakukan ritual budaya Sabu guna mengganti nama "Haga" menjadi "Lobo". Hebat. So, bagi sebagian orang nama bukanlah sembarangan perkara. Nama harus memiliki makna. Demikian juga judul sebuah buku misalnya. Jangan memberi judul "mangga" ketika isi buku anda mengulas tentang "sapu lidi". Tak cocok itu bukan? Haaalaaahhhh...begitulah adab kita. Budaya kita. Maka untuk sebuah nama bila perlu tumpeng merah putih dibikin dan ..slaman slumun...jadilah baik.

Tapi saya punya 1 pengalaman yang mirip. Tahun dulu semasa duduk di bangku SMP di kota KUpang (SMPN 2) saya pernah dimarahi oleh seorang guru, Ibu Guru. Beliau adalah wali kelas II E kelas dimana saya berada. Ibu Messkah namanya. Saya ditegur gara-gara ada nama "ludji" di absensi kelas. Beliau menghardik saya dan bilang..."kamu jangan pake nama ludji lagi ya sebab itu adalah halaik, pake saja nama babtismu, michael"...halaik adalah kosa kata di Kupang untuk menyebutkan orang-orang yang tidak beragama sesuai dengan peraturan yang berlaku. Walah, saya malu tagal hardikan Ibu Guru dan semenjak itu saya berusaha mengaburkan nama "ludji". Sekali waktu nama "ludji" saya ganti dengan "rudy" (kebetulan waktu itu rudy hartono adalah sebuah nama yang sedang ngetop abiz). Giliran Ayahanda saya yang menghardik. Kebiasaan mengaburkan nama "Ludji" tanpa sadar masih saja berlanjut sampai sekarang. Jikalau saya harus menuliskan nama saya di daftar hadir atau yang sejenisnya. maka pastilah saya akan menulis "L. Michael Riwu Kaho". Jelas sudah bahwa aforisme "what is a name" tertolak oleh budaya di sekitar saya. Tak tahu jikalau anda. Ungkapan itu mungkin tepat untuk orang-orang barat. Orang Belanda menggunakan nama "Van de Kerkhoff" padahal itu artinya "kuburan". Dulu ada pemain sepak bola Belanda yang kembar bernama Rene dan Willie Van de Kerkhoff yang artinya Rene dan Willie dari kuburan...waallaaahhhhh.....

"What is a name", kata Shakespeare. Saya pikir yang dimaksudkan oleh Shakespeare adalah substansi. Mawar tetaplah mawar yang indah biar berganti nama menjadi kapuk. Nama boleh berganti dari "Ludji" menjadi "Michael" tetapi jikalau malas ya tetap saja malas bukan? Lihat saja para teroris yang diburu dan ditangkap oleh Densus 88. Nama aliasnya banyak banget tapi apakah mereka berubah menjadi sesuatu yang lain? Ya tidak juga. Kelakuan mereka ya tetep itu ke itu juga. Jikalau begitu maka kendati nama memang cuma sebuah atribut tanda identitas tetapi sesungguhnya hal yang terpenting adalah nilai intrinsik yang terkandung di dalam substansi. Kata emas menjadi berarti karena nilai karatnya bukan? Lalu judul tulisan di atas ingin mengingatan tentang substansi intrinsik di maksud. Koes Plus adalah nama grup band. Bonus fideles artinya mereka itu baik. Apanya yang baik dari Koes Plus? Lagu baru dapat diciptakan lebih bagus dari lagu Koes Plus dan memang sudah banyak lagu yang secara teknis artistik lebih indah ketimabang lagu-lagu Koes Plus yang umumnya bersifat "3 jurus" itu. Kalau begitu apa?

Koes Plus adalah sebuah grup band fenomenal di Indonesia. Di masa saya masih duduk di bangku SD, memegang buku tulis yang ada gambar Koes Ploes adalah "kewajiban". Lagunya wajib dihafal dan di senandungkan. Grup ini memang amat sangat hebat. Konon merekalah yang menjadi peletak dasar perkembangan musik pop di Indonesia. Di masa mereka, grup band lain seperti Favourites, The Mercy's, D'Loyd dan yang lain-lainnya terasa cuma varians dari Koes Plus. Grup band di masa sekarang dianggap mengerjakan sesuatu yang merupakan pengembangan Koes Plus. Siapa mereka ini? Saya pikir kebanyakan kita tahu bahwa grup ini digawangi oleh bersaudara Koeswoyo, yaitu Koestoni (Tony), Koesroyo (Yok), Koesyono (Yon) + 1 orang pemain drum yang bukan berasal dari klan Koeswoyo, yaitu Murry. Dominasi klan Koeswoyo sangat wajar karena sesungguhnya Koes Ploes adalah terusan dari Koes Bersaudara dimana Koesnomo (Nomo) ada posisi yang ditempati Murry sebagai drummer. Mengapa demikian? Pada mulanya adalah Koes Bersaudara yang eksis terlebih dahulu dengan formasi Toni, Yok, Yon, Nomo dan Koesdjono (John) pada tahun 1960. Lagu-lagu seperti “Bis Sekolah”, Di Dalam Bui, “Telaga Sunyi”, dan “Laguku Sendiri”. Pada masa-masa di antara 1960-1965 gaya bermusik mereka amat dipengaruhi oleh gaya the "everly brothers" (yang kondang dengan lagu antara lain "let it be me") dan "the bee gees".

Pada tahun 1965, 1 Juli, mereka ditangkap oleh KOTI dan mengurung mereka di rumah tahanan Glodok dengan tuduhan bermusik "ngak ngik ngok" yang bukan budaya dhewek. Penahanan tersebut tak lama karena pada tanggal 29 September 1965 tapi ternyata ikut berpengaruh terhadap kisah grup mereka dan sekaligus dunia musik Indonesia. Bertahun-tahun kita memahaminya sebagai bentuk represif dari pemerintah Orla pimpinan Bung Karno. Tapi pada saat wawancara di acara "Kick Andy", Metro TV, mereka membuka rahasia bahwa sebenarnya penangkapan mereka itu hanyalah sebuah sandiwara "operasi rahasia" yang diperintahkan oleh Bung Karno guna mendukung operasi "ganyang malaysia". Jadi mereka sebenarnya berkolaborasi dengan pemerintah. Entahlah mana yang benar tapi yang pasti ada masa mereka terpaksa berhenti bermusik. Pasca kebebasan dari penjara, iklim perpolitikan di Indonesia ternyata kurang mendukung perkembangan dunia kesenian di Indonesia umumnya. Konstruksi politik Indonesia di awal Orba yang dikuasai oleh Soeharto dan Tentara, yang menggantikan Bung Karno dan Orla-nya, menciptakan banalitas yang masif. Penangkapan dan pelenyapan orang-orang yang dideeksi atau dicurigai terkait PKI menciptaan ketakutan kolektif dan suasana saling curiga mencurigai. Banyak ketika pastian dan di masa inilah John keluar dari formasi. Koes Bersaudara.

Sekali waktu, ketika Koes Bersaudara sedang melakukan pertunjukan di daerah Tony mendapat kabar bahwa suasana Jakarta memanas. Terjadi penangkapan besar-besaran. Beberapa teman dari Tony menghilang begitu saja tak tentu rimbanya. Jakarta tidak aman dan Tony diperingatkan oleh teman-temannya bahwa, mungkin. karena kedekatannya dengan rezim Bung Karno maka Koes Bersaudara terancam. Terjadi dilema, kembali ke Jakarta atau tidak? Situasi mencekam seperti itu menyebabkan Nomo memutuskan untuk keluar dari grup. Dia memilih menjadi pedagang besi-besi bekas. Tapi Tony dan adik-adik yang lain menetapkan 1 tekad, harus kembali ke Jakarta dan harus terus bermusik. Tidak ada pilihan lain selain bermusik karena itulah cinta mereka. Tony dan adik-adik memilih untuk setia pada pilihan hidup mereka. Maka kembalilah mereka ke Jakarta meski apapun yang akan terjadi. Balada ini mereka tuangkan dalam lagu "kembali ke Jakarta" dan dimunculkan pada rekaman perdana grup Koes Plus. Lho, mengapa Koes Plus? Ya, Koes Bersaudara dalam formasi Toni, Yon, Yok dan Nomo hanya bertahan sampai 1968. Setelah Nomo keluar masuklah Murry yang bukan Koeswoyo itu. Pada saat rekaman pertama kali. Yok yang kurang sreg dengan adanya orang luar ke dalam formais band memutuskan solider dengan Nomo lalu keluar dari Koes Plus. Akibatnya, posisi sebagai basist kosong dan beberapa pemain tamu mengisi posisi yang ditinggalkan Yok. John Koeswoyo sering masuk formasi untuk tujuan show panggung. Dan pada saat rekaman album perdana Koes Plus, pemain tamu yang masuk formasi adalah Totok A.R. Inilah formasi dalam rekaman perdana Koes Plus, yakni Tony, Yon, Murry dan Totok A.R.

Album perdana itu memuat beberapa lagu seperti Derita (Tonny), Awan Hitam (Tonny), Tiba Tiba Aku Menangis (Tonny), Bergembira (Tonny), Tjintamu Telah Berlalu (Tonny), Dheg Dheg Plas (Tonny), Manis Dan Sajang (Tonny), Hilang Tak Berkesan (Tonny), Kembali Ke Djakarta (Tonny), Biar Berlalu (Yon) dan Lusa Mungkin Kau Datang (Tonny). Perhatikanlah deretan lagu-lagu tersebut. Semuanya indah dan hebat. Beberapa di antaranya bahkan rekam kembali berulang-ulang oleh berbagai penyanyi lainnya. Menjadi legenda. Tapi jangan salah, album perdana itu setelah direkam ternyata pada awalnya ditolak dimana-mana. Bahkan ada toko kaset yang menertawakan lagu seperti "Kelelawar". Lagu aneh kata mereka. Maklumlah ketika itu Koes Plus sedang bertransformasi dari keterpengaruhan "everly brothers" dan " bee gees" menjadi "lebih Indonesia". Akibat tidak lakunya album perdana mereka maka Murry kabur. Totok A.R. keluar. Adalah Tonny yang terus memupuk semangat anggota Koes Plus yang lainnya lalu membujuk Yok dan Murry agar masuk kembali dalam formasi band. Nasib baik memihak mereka dan pada tahun 1970 akhir lagu mereka meledak di mana-mana. Dan kesuksesan mengalir bersama mereka bertahun-tahun sampai meniggalnya Tony pada tahun 1987. Koes Plus pun surut sesuai tuntutan jaman tetapi lagu-lagu mereka abadi sampai hari ini. Inilah Grup tersukses di Indonesia. Apa tolok ukurnya? belum ada Band di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, yang mampu merekam hampir 22 album dalam 1 tahun seperti yang dilakukan Koes Plus pada tahun 1974-1975. Tidak ada pula grup band yang mampu merekam lagu dalam genre yang sangat berbeda. Anda mau tahu musik jenis apa yang pernah dimainkan oleh Koes Plus dan semuanya sukses? Pop, Rock n Roll, Rohani Natal, Qasidahan, Pop Jawa, Instrumentalia, Dangdut, Keroncong dan kompulasi the best. Jangankan band dalam negeri bahkan The Beatless, The Rolling Stones ataupun Led Zepplin tak tercatat melakukan itu. Seorang editor wikipedia mengatakan bahwa "Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles"

Anda tahu apa rahasia mereka? Filsafat manusia mengajarkan tentang 3 bentuk kebaikan, yaitu kebaikan karena ada gunannya (bonum utile), kebaikan karena menyenangkan (bonum delectabile) dan kebaikan karena memang baik atau kebaikan yang sesungguhnya (bonum honestum). Orang bisa saja berlaku baik kepada kita karena kita punya sesuatu yang dia perlukan atau dia butuhkan dari kita. Kita menerima kebaikan sejauh kita mendatangkan manfaat bagi oarng lain. Ada uang abang sayang tak ada uang abang aku buang. Bisa juga terjadi orang bisa baik kepada kita karena kita menyenangkan hatinya. Suami dan isteri sering memutuskan bercerai karena tidak lagi saling menemukan kesenangan. "Tak ada kecocokan lagi" katanya. Tetapi syukurlah ada kebaikan jenis ketiga dimana orang bisa baik kepada kita karena memang dia orangnya baik. Kita mungkin tidak berguna dan tidak menyenangkan bagi dia tetapi dia memang mau mencintai kita. Bonum begini adalah Bonum milik Allah yang mengasihi kita secara sepihak. Tanpa memperhotungkan dosa dan kedegilan kita, DIA mau memberi CINTA-NYA bagi kita. Bonum seperti ini bersifat Ilahiat. Dan yang asik adalah bahwa bonum ini ditawarkan oleh Sang Pencipta kepada manusia untuk memilikinya juga. Saya tak tahu anda dan saya memilih yang mana tapi Koes Plus jelas memilih bonum honestum. Ketika bermusik ternyata mendatang petaka, ketakutan dan kemiskinan mereka tetap setia pada pilihan hidupnya. Dalam nama apapun grup mereka, ataukah Koes Bersaudara ataukah Koes Plus, adalah Tony dan adik-adik telah mendemonstrasikan makna kesetiaan. Mereka tak bergeming kendati dicekam situasi. Berkarya dan terus berkarya kendati dizalimi, dicemooh dan miskin. Itulah cinta. Itulah kesetiaan. Hal ini nyata sekali dalam lagu mereka "kembali ke djakarta". Apapun boleh terjadi tetapi "di djakarta" tetapi langkah kaki tak akan berhenti untuk selalu kembali "kesana". Tony dan saudara dan kawan mungkin tidak kaya raya karena pilihan ini tetapi mereka telah membuat saya, mungkin anda dan jutaan orang lainnya berbahagia. Sungguh mereka orang baik. Sayapun bermimpi sekali waktu saya bisa juga akan di sapa, entah sebagai "Ludji" atau "Michael" atau "ludji michael:..."eh si Ludji Michael tuh ... orangnya ... bonus fideles lho. Orang baik tuh". Ahaaaaa, alangkah bahagianya.

Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 17 Maret 2011

republik oh rekipliek, apa mau mu? che sara

Dear Sahabat Blogger,

Sebenarnya saya sudah bersusaha untuk menghindari posting sesuatu yang sekedar ikut-ikutan. Jika hari ini isunya adalah bla bla bla, saya ikutan bla bla bla. Mirip bebek pengekor. Bisa jadi lebih gawat karena bunyinya yang saya keluarkan dapat menyimpang dari aslinya menjadi ble ble ble atau blo blo blo trus go...blog....waaahhh. Tapi kali ini saya melanggar "pakem" yang saya buat sendiri. Tak apalah, wong otak ku sendiri. Tanganku dhewek. Preketheeeekkk lah. Saya tak tahan untuk tidak mengomentari apa yang terjadi di rekipliek tersayang akhir-akhir ini. Saya menjadi gelisah dan meluncurlah tulisan ini. Tagal kegelisahan itu maka posting ini tidak seperti biasa. Posting ini reaktif tapi sejujurnya kehilangan kedalaman. Terhadap satu isu biasanya saya mengendapkan dahulu. Berusaha memahami persoalan dan barulah bercakap-cakap bla bla dan blaaaaaaa......tapi kali ini, tidak. Apa boleh buat, namanya juga sedang jengkel.

Ada perkara yang ingin saya sampaikan tetapi saya sendiri belum tahu how to overcome-nya. Glap gulita bak kota Kupang kehilangan cahaya listrik PLN yang suka byar pet suka-suka, mana suka, su ba suka. Byar untuk urusan tagihan rekening dan pet ketika urusannya adalah servis. Karena itu, sekali lagi Bung dan Zoes, substansi posting ini melulu adalah keluh kesah dan tidak terstruktur dengan baik. Bagian I adalah pendahuluan (ya yang sekarang ini). Bagian II adalah tempat saya akan "mengomel" suka-suka, su ba suka, dan mana suka (lihat saja nanti). Bagian III adalah "yo wis" terserah. What ever will be will be. Che Sara. Lantas dimana perspektif solusi? Tidak ada karena ya itu tadi: what ever will be will be. Si Ever su pi bet ju pi . Che Sara. Sengsara. Apa gerangan bro en sist?

Satu dua hari belakangan saya dibuat terheran-heran sekaligus bingung dengan peristiwa-peristiwa yang ber-sliweran di sekitar kita. Aneka peristiwa ini tampaknya berkorelasi negatif dengan martabat bangsa. Bukan cuma itu, beberapa peristiwa memberikan indikasi dan atau pesan yang amat jelas bahwa masa depan NKRI sungguh sangat terancam. Tapi anehnya, semua berjalan like business as ussual seperti kesan saya pada posting tentang sindroma lemming.

  1. Perda dan pergub di beberapa daerah yang "melarang gerakan Ahmadiyah" seolah-olah anggota Ahmadiya bukan WNI. Perda atau pergub yang diterbitkan belakangan secara langsung bertentangan dengan Pancasil dan UUD 1945 tapi malah dengan amat bersemangat digelorakan oleh sebagian warga negara yang mayoritas lantas pemeriintah pusat diam. Anehnya, terhadap perda seperti itu Pak SBY en cs diam tapi begitu ada berita dari koran kecil di Australia - The Age - memberitakan dugaan kelakuan SBY en his famili en all the president man wuuuuaaaahhhh....Istana geger. Ibu Ani SBY, konon katanya, nangis-nangis. Untuk siapa Ibu menangis? Apakah Ibu Ani juga menangisi nasib anggota Ahmadiyah yang terancam kehilangan sebagian hak azasinya dan atau hak sipilnya untuk berkeyakinan dan bahkan beberapa anggotanya terbunuh di Cukeusik?
  2. Penutupan tempat beribadah orang-orang Kristen terus saja terjadi. Terakhir kita dengar kejadian di kota Bogor. Apakah orang Kristen hanya boleh beribadah di daerah mayorita Kristen? Jikalau benar begitu maka masihkah negara ini bisa kita sapa sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia?
  3. Pengiriman paket bom buku yang menurut sebagian pakar adalah paket bom yang hanya bisa dirakit oleh mereka yang terlatih. Kata Pak Hendropriyono.: "ini pekerjaan pemain lama, kelompok teroris yang memanipulasi agama". Bom ini sudah makan korban di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur ketika dialamatkan kepada mister Ullil sang tokoh JIL. Hampir semua analis mengatakan bahwa dilihat dari pola-polanya maka jelas "pesan" paket bom ini adalah ... "matilah dikau wahai pluralisme". Jika memang itu pesannya maka patut diduga bahwa pesan besar yang sebenarnya adalah ... "matilah dikau wahai NKRI". Is that right sir en sor? (tuan dan puan maxud-nya).
  4. Ada gejala TNI mulai "kehilangan kesabaran" melihat "masyarakat reformasi" pasca 1998. Demokrasi menghasilkan keriuhan dan TNI yang terbiasa dengan perintah siap grak hormat grak lalu, mungkin saja, bernostalgia dengan "ketertiban" masa dwi fungsi yang membikin mereka amat sangat berkuasa di republik ini. Apa indikatornya? saya beri 2 contoh: 1) ketika TNI ikut secara aktif terlibat dalam "operasi sajadah" yang mengurusi orang-orang Ahmadiyah di Jawa Barat. Tidakkah hal ini bertentangan dengan UU. No. 34/2004 tentang TNI? Apakah sudah ada kebijakan dan keputusan politik negara untuk tugas selain perang perang, sebagaimana yang diamanatkan dalam ayat (3) pasal 7, yatu bahwa TNI ikut mengurusi Amadiyah?; 2) Matinya anak remaja di Atambua karena dianiaya oleh anggota TNI tagal teman satu corps dipalak oleh si remaja dkk. Pertanyaan yang sama adalah apakah hal ini tidak bertentangan dengan UU No. 34/2004.
  5. Jepang dilanda 3 bencana sekaligus. Gempa bumi 8.9 SR, tsunami pascagempa dan rusaknya rektor nuklir di Fukushima pasca tsunami. Apa yang diperlihatkan oleh bangsa Jepang? Mereka tetap tenang, tetap menjalankan order sipil (tidak ada huru-hara orang ngamuk), dan cukup rendah hati mengaku memerlukan bantuan internasional. Kesulitan dihadapi dengan penuh martabat. Saya teringat pengalaman bangsa yang lainnya yang pernah tertimpa bencana gempa dan tsunami di tahun 2004. Dalam kesulitan masih ada saja huru-hara, ada aktivis LSM yang tertangkap "menjarah" barang batuan lalu ramai-ramai dikepruki tentara, di sana-sini terdengar teriakan ... "hei, bantuan asing perlu dicurigai karena ada agenda tertentu" (sudah dibantu malah curiga), saling komplain soal proyek-proyek rehab-rekon dll dll. Bangsa ini yang saya maksudkan ini juga pernah "mengusir pergi" para relawan asing yang membantu sewaktu terjadi gempa di kota mereka yang dijuluki kota pelajar. Ibu kota negara dari bangsa yang saya maksudkan tesebut pernah mengalami bencana banjir yang parah. Ketika itu perahu bantuan malah disewakan oleh petugas kepada para korban banjir. Anda tahu bangsa yang saya maksudkan? Ya, bangsa kita inilah. All about dignity of nation. Belum cukupkan gambaran itu? Lihatlah dan coba berikan makna ketika FIFA ingin menegur PSSI, skaligus menampar nurdin halid, dilakukan di Timor Leste Negeri bekas teritori Indonesia. Malunya jadi berlipat ganda. Kita suka bicara bahwa kita bangsa besar dengan harga diri yang tinggi tapi bagaimana faktanya? Tak tega saya mengatakannya.
  6. NTT adalah propinsi kelautan yang sarana - prasarana tarnsportasinya sering menjadi faktor kendala dalam mobilitas antara pulau. Pemerintah pusat lalu mengirim bantuan sebuah kapal motor penyeberangan (KMP). Bukannya dipakai malah oleh Pemda - katanya sudah berkonsultasi dengan pemerintah pusat - lalu menyewakan KMP ini kepada pemerintah Timor Leste. Lucu? Ya, sangat.
Sooooo what gitu loh?????? Republik ini maunya apa toh? saya sungguh tak tahu tapi saya lalu teringat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh Jose Feliciano yang pertama kali saya dengar di tahun 1970-an semasa di bangu SMA.

Lagu itu berjudul "Che Sara". Saya ingat lagu ikarena ada memori tersendiri. Doeloe kala lagu ini pernah saya nyanyikan sambil bermain gitar guna "mengetest" kemampuan bernyanyi saya. Lho mengapa demikian? Saya ceritera sedikit. Pada waktu itu, di antara tahun 1978 - 1981, Kota Kupang dilanda demam anak-anak muda yang berlomba-lomba mendirikan grup vokal - vocal group. Bermodalkan 1 atau dua buah gitar + beberapa orang yang asal menyanyi tidak fales, jadilah sudah VG. Nah, saya kebetulan punya sedikit kemampuan bermain gitar. Tagal itu, jadilah saya anggota VG di SMA 1 Kupang. Sekolah saya. Di luar sekolah, sayapun ikutan VG yang sering mengisi liturgi puji-pujian di beberapa Gereja di Kota Kupang. Wah, top markotop-lah itu. Tapi posisi sebagai pemain gitar belumlah memuaskan hati saya benar. Diam-diam saya juga mengincar posisi sebagai leading vocalis yang adalah the front man dalam grup dengan segala macam "keuntungan". Keuntungan macam mana? Jualan. Lah jualan apa? Jual tampang....wkwkwkwkwk....Sebagai pemain gitar, saya merasa agak terhalangi oleh the front man sebagai pusat perhatian....narsis memang, itu saya akui. he he he he....Karena "niat luhur" ini maka saya lalu belajar menyanyikan lagu che sara-nya Jose Feliciano (sebenarnya terinspirasi oleh seorang teman SMA - kalau tidak salah ingat namanya adalah Ary Leo - yang suaranya terdengar indah jika menyanyikan lagu ini). Agak ribet syairnya karena bahasanya terasa aneh tapi sikat terus. Mau jadi apa jadilah sudah, begitu tekad saya (ternyata belakangan saya baru tahu bahwa itulah artinya che sara). Lalu di depan tape recorder saya menyanyikan an merekam lagu itu + 1 lagu dari Koes Plus - kisah sedih di hari minggu. Bagaimana hasilnya? Luar biasa, beberapa orang yang mendengarkan hasil kerjaan saya mengomentari bahwa...he, lu pung suara bagus juga eeee.....wwwhhhuuaaaaaiiiihhhh.....melenting sudah ke langit ke tujuh. Saya bisa menyanyi. Saya bisa menyanyi. Begitu saya membatin. dan memuji diri sendiri. Apa "pesan" dari balada saya dan lagu che sara? Ini dia: nekad, agak ngawur dan lalu...narsis.

Dear sahabat, begitulah bagian penutup dari posting ini, yaitu saya ingin kasi tau - kalau kasih tahu nanti ada yang tanya tempe - sama anda semua bahwa terhadap berbagai fenomen sosial politik bangsa ini saya sedang tidak punya gagasan apa-apa. Kalo begitu saya maka jalani saja hidup sebagai anak bangsa ini dengan modal nekad - bondo nekad alias bonek. Mungkin itu modal kita dalam bernegara. Seperti kata Bung Karno dulu...."merdeka dulu, urusan lain menyusul".

Bagi Bung Karno, kemerdekaan itu dia analogikan dengan kawin. Ada yang berani kawin, lekas kawin, dan ada yang takut kawin. Ada yang berani kawin “kalau sudah punya rumah gedung, sudah ada permadani, lampu listrik, dan tempat tidur mental-mentul”. Ada yang berani kawin “kalau sudah mempunyai meja satu, kursi empat, dan tempat tidur”. Beda dengan orang Marhaen, yang “kalau punya satu gubug, satu tikar, satu priuk : dia kawin”. “Sang Klerk dengan satu meja, empat kursi, dia kawin”. Jadi, yang jadi soal adalah : “kita ini berani merdeka atau tidak?” karena kalau masih menunggu ini itu selesai sebelum merdeka, atau menunggu tiap-tiap dari 70 juta rakyat Indonesia merdeka dulu jiwanya, maka “sampai lobang kubur pun Indonesia tidak akan pernah merdeka”. (Bung Karno dalam persidangan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, Juni 1945)

Begitulah Bung dan Zoes, kadang-kadang terlalu njemlimet denga persoalan kita bisa mandeg. Bisa tidak bekerja apa-apa. Sekali-sekali ayo kita tidak usah berpikir terlalu rumit - mersangsek saja dahulu, maju dahulu dan persoalan ditangi belakangan. Mujarabkah metode ala Bung Karno ini? Tak tahulah awak ni. Sejarah rekiliek dan Bung Karno membuktikan bahwa nekad bisa membawa kita kepada tujuan tetapi lalu ketika telah beada di tempat yang dituju kita bisa ngawur dan kehilangan arah. Ajaibnya kita kerap bangga dengan keanehan itu dan lalu narsis. Benarkah saya? Suka-suka. Mana suka. Su ba suka. Che sara.

Che Sara - Jose Feliciano


Jose Feliciano adalah penyanyi Amerika Serikat yang lahir di Puerto Rico. Dia memiliki jejak karir dan diskografi yang panjang dan cemerlang. Sejak berusia 3 tahun Jose telah menyanyi. Pada tahun 1963, ketika dia berumur 18, dia dikontrak oleh perusahaan rekaman RCA Victor. Sejak itu ratusan lagu, baik yang berbahasa Inggris maupun Spanish-Latin, telah direkam Jose Feliciano. Puluhan di antaranya "meledak" di tangga-tangga lagu dunia. Lagu "che sara" direkam oleh Jose dan mendapatkan kepopuleran yang luar biasa di Eropa dan Asia. Jose mencapai puncak ketenarannya. Enam (6) buah Grammy Awards serta puluhan penghargaan lainnya menjadi bukti "kesaktian" Jose.

Lagu dengan tema "terserah" seperti ini pernah pula dinyanyikan oleh penyanyi perempuan Doris Day di tahun 1950 - 1960-an. Silakan dengar. Bagus juga.

Doris Day - Que sera sera


Nah, supaya jangan terlalu jadul, bagaimana dengan che sara ala Indonesia yang dinyanyikan Glenn Fredly di bawah judul "terserah"
Di antara 3 "model" che sara di atas anda suka yang mana? Che Sara. Que Sera. Terserah. What Ever Will Be Will Be (si ever pi bet ju pi - terjemahan seenaknya dalam bahasa kupang xi xi xi)

Tabe Tuan Tabe Puan

Rabu, 02 Maret 2011

anak ku perempuan sudah jadi sarjana

Dear Sahabat Blogger,

Seorang Teolog dari Gereja Lutheran, Jerman dalam bukunya yang berjudul "Earth Community Earth Ethics", menuliskan bahwa bumi kita ini adalah sebuah rahim yang lambat. Amat lambat. Bukan cuma lambat, tetapi proses pembentukan kehidupan dalam rahim Bumi adalah sebuah proses yang kasar, traumatik, penuh sentakan-sentakan, kesekaratan, kepunahan dan mulai dari awal lagi.

Betapa tidak, 15 milyar tahun yang lalu universe dibentuk hanya melalui sebuah ledakan dari gas yang berukuran kecil tak terhingga yang berpendar dengan kecepatan tak terhingga. Bersamaan dengan kilatan ledakan itu, tata surya dan semua benda langit dihamparkan begitu saja. Lima (5) milyar tahun setelah ledakan besar itu barulah terbentuk bintang-bintang penting dan galaksi-galaksi. Setelah itu diperlukan 5 milyar tahun lagi barulah terbentuk galaksi bima sakti, yaitu galaksi kita, dengan matahari sebagai pusat dan planet-planet- antara lain bumi kita - berputar mengelilingi matahaari. Ketika itu, Bumi kita hanyalah batuan lebur yang secara terus menerus mengalami gempuran hujan meteor. Setelah gempuran meteor mereda barulah sel hidup pertama terbentuk. Lantas, 3,9 milyar tahun lampau proses fotosintesis untuk membentuk karbohidrat untuk pertama kalinya terjadi. 2 milyar tahun yang lalu sel-sel yang lebih kompleks, dan terampil menggunakan oksigen, menyebar memenuhi bumi.

Di antara 2 milyar sampai 570 juta tahun yang lalu kehidupan berkembang tenang. Dimulai dari terbentuknya makhluk hidup bersel banyak di dasar laut lalu kehidupan berjalan cepat tetapi tidak dramatik. Ada erupsi-erupsi yang menyuburkan permukaan tanah lalu hadirlah hewan-hewan tanah seperti cacing dan cs-nya. Akan tetapi memasuki 400 -300 juta tahun lalu tiba-tiba semua kehidupan itu menghilang secara dramtis dalam kemusnahan besar Cambrian. 300 juta tahun lalu kehidupan terbentuk lagi. Ikan-ikan bersirip, binatang melata, binatang bertulang belakang dan pohon-pohon bersebaran. Tetapi 245 juta tahun lalu terjadi lagi kemusnahan besar dimana 70-95% spesies musnah dan tak pernah muncul lagi. Namun demikian 200 juta tahun lalu kehidupan muncul lagi. Dinosaurus, burung, bunga, semak dan pohon mereba semerbak sampai masa jurassik. Setelah itu dinosaurus dan berbagai spesies lainnya musnah. Datanglah spesies baru. Kucing, anjing, kera dan beberapa mamalia lain hadir di antara 40-30 juta tahun lalu. Beruang, babi dan unta terlihat pada 4,5 tahun yang lalu. Pada masa itu, tanah berumput bertebaran. Sekitar 2,6 juta tahun lalu kera besar Homo habilis eksis dalam wilayahnya dengan menggunakan peralatan dari batu.

Pada 1,5 juta tahu lalu Homo erectus sang pemburu muncul bersamaan dengan domba, bison dan aneka mamalia lainnya. Lantas, di antara 400.000 - 200.000 tahun yang lalu Homo sapiens, bapak/mamak moyang kita, berjalan tegak (konon Homo sapiens pertama yang turun dari pohon dan berjalan tegak bernama Lucy ... bukan Ludji ... he he he he...). Pertanian teridentifikasi dipraktekan pada 12-000 - 10.000 SM. Ternak dijinakan pada 8000 SM. Petani di Cina menanam padi 7500 SM. Roda dan tulisan hadir dan berkembang, bersamaan dengan peradaban Mesopotamia, hadir pada 3500 SM. Dengan modal tulisan lalu orang Yunani berfilsafat 600 tahun SM. Yesus adalah penanda tahun Masehi. sekitar 2000 tahun yang lalu. Bangsa moderen muncul 400 tahun yang lalu. Revolusi industri 200 tahun lalu. Robert Riwu Kaho lahir 1933 dan menjadi penanda klan Riwu Kaho tagal perkara guru HIS-nya yang mencampurkan begitu saja nama ayahanda Robert, yaitu Riwu dan kakek ayahandanya, yaitu Kaho. Tahun 1960 anak Robert yang pertama, bernama Dari Riwu Kaho hadir sebagai bayi. Tahun 1963 lahirlah adiknya Dari, yaitu Ludji Michael. Pada tahun 1984 lahir cucu pertama Robert, yaitu Norman, yang adalah anak pertama Ludji Michael. Tahun 1987 lahirlah anak ke-3 Ludji. Seorang anak perempuan. Pertama dan satu-satunya yang perempuan dari total 5 orang anak. Dan pagi itu, pukul 08.00 WITA bertempat di Aula Universitas Nusa Cendana. Si anak perempuan itu diwisuda. Pembaca nama wisudawan asal Fakultas Hukum memanggil namanya: Joan Patricia Walu Sudjiati Riwu Kaho, SH dengan indeks prestasi kumulaif 3,46. Dia maju ke depan meja Anggota senat dan diwisuda. Saya hadir di situ. Tertegun dengan mata yang berkaca-kaca.

Sahabat Blogger terkasih, anda sungguh tidak salah jika menebak bahwa lewat posting ini saya ingin membicarakan tentang Puput. Oh iya, nama Puput berasal dari kata Putri karena dia adalah anak perempuan saya. Seingat saya, Oma Tien almarhum juga menyapa dia sebagai Putri. Tetapi kemungkinan besar anda akan salah menebak jika berpikir bahwa ketertegunan saya dan keharuan saya pada peristiwa wisuda Puput adalah karena wisuda itu sendiri. Sejujurnya harus saya katakan bahwa bukan peristiwa wisuda itu sendiri yang membuat saya tertegun dan terharu. Bukan. Peristiwa wisuda bagi saya nyaris merupakan peristiwa biasa. Saya sendiri pernah diwisuda 1 kali, yaitu pada saat menyelesaikan pendidikan sarjana strata 1 saya pada tahun 1986, 1 April. Tetapi jauh sebelum itu, sejak tahun 1982 saya sudah sangat berpengalaman memakai baju toga wisudawan sebagai petugas "pedel" dalam acara wisuda. Tugas itu saya emban terus menerus dan terhenti hanya ketika saya sendiri diwisuda. Bahkan pada saat saya diwisuda saya masih saja bertugas juga sebagai pembaca janji alumni. Setelah diangkat sebagai dosen PNS di Undana, tugas pemegang "pedel" saya lanjutkan lagi sampai tahun 1990 ketika saya melanjutkan studi strata 2 di IPB, Bogor. Kembali dari IPB, saya kembali bertugas sebagai MC dan baru terhenti sama sekali pada tahun 2000. Saya bosan dan tidak mau lagi terlibat dalam acara wisuda sebagai panitia.

Hadir dalam acara wisuda-an masih saja berlanjut ketika isteri saya, Dolly, diwisuda sarjana pada tahun 1990 dan pasca sarjana tahun 2005. Semasa masih mengabdi di Universitas PGRI NTT, setiap wisuda saya hadir di panggung anggota senat Universitas karena saya pejabat di sana. Tahun 2007 saya menghadiri upacara wisuda sarjana anak saya yang pertama, Norman ,di Undana. Lalu pada tahun 2010 saya sekali lagi menghadiri acara wisuda s2-nya Norman di UGM. Singkat kata, acara wisuda tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa bagi saya. Mungkin karena itu, saya sendiri hanya mau diwisuda 1 kali saja, yaitu pada saat s1. Selanjutnya saya tidak merasa perlu mengikuti acara wisuda yang cenderung bertele-tele dan membosankan itu. Tetapi mengapa pada saat wisuda Puput, saya harus tertegun dan berkaca-kaca? Jawabnya sederhana, yaitu kenangan atas kejadian masa lalu dan ketidak pastian di masa depan. bagaimana jelasnya? Begini:

Memang tidak selambat rahim bumi yang memerlukan 15 milyar tahun sebelum sampai ke bentuknya yang sekarang tetapi kelahiran Puput adalah kelahiran yang amat terlambat. Jika waktu hamil sampai bersalin secara normal adalah 9 bulan 9 hari maka lamanya Puput dalam rahim mamanya hampir 10 bulan. Melebihi waktu normal dan berbahaya secara medis. Tawaran operasi cesar terpaksa diabaikan karena saya tidak punya uang. Karena itu, kami suami dan isteri amatlah gundah gulana. Tapi tak disangka, pada tanggal 18 Februari 1987 malam, saya ingat betul tentang hal ini, mamanya dan saya sedang menonton acara aneka ria safari di TVRI. Giliran penyanyi Johni Iskandar dan grupnya "orkes melayu pengantar minum racun" terdengarlah syair lagu yang bunyinya ..."ku sentuh jari lembut mu". Ketika divisualisasi eh yang ditunjukkan adalah gambar singkong bakar yang hangus kehitaman. Saya hanya nyengir kuda tetapi tak saya duga mamanya Puput tertawa terpingkal-pingkal lalu sejurus kemudian ..... masih sambil tertawa .... dia berlari ke kamar mandi....saya bertanya "kenapa?. Dolly menjawab ..... "saya tidak tahan mau pipis karena kebanyakan tertawa". Tak lama kemudian mamanya Puput keluar sambil setengah berteriak mengatakan bahwa "saya sudah dapat tanda mau melahirkan". Besok paginya, 19 Februari 1987 Puput lahir.....luar biasa, anak ini hanya mau melihat dunia kalau sudah mendengar musik dangdutnya Johni Iskandar. Puput memang spesifik.

Ketika berumur 10 bulan, Puput mengalami sakit demam yang hebat. Berkali-kali kejang dan pingsan. Opa dan Omanya cuma bisa menangis. Saya juga tak berdaya. Puput bergumul dengan maut 1 hari penuh sejak subuh sampai subuh kembali. Kami serumah berkumpul dan berdoa menyerahkan semua perkara hanya kepada Tuhan. Kami kohon kesembuhan tetapi jika Tuhan berkehendak yang lain maka biarla jadi menurut kehendak-Nya. Harapan kami tipis. Tetapi besok paginya, Puji Tuhan, dia sembuh kembali. Sejak itu Puput tumbuh dan berkembang dengan watak yang keras bagaikan anak lelaki. Memanjat pohon adalah hobinya. Dialah yang mengajarkan kepada 2 kakak laki-lakinya tentang teknik berpindah dari 1 pohon ke pohon lainnya jika 2 batang pohon tumbuh berdekatan. Adik laki-lakinya yang dua orang amat takut pada gamparan si Puput. Olahraganya adalah Karate, Taekwondo dan olah tenaga dalam. Hobinya bermain musik dan istrumen yang dikuasainya adalah drum. Ya, Puput adalah drummer band Nobita di Kupang. Aneh memang anak ini. Tidak berkembang sesuai keinginan saya yang cuma punya 1 anak perempuan. Sambil bergurau saya sering mengatakan bahwa jumlah anak saya ada;ah 4.5 laki-laki dan 0.5 perempuan. Hanya sebegitukah kisa masa lalu Puput sebagai modal keharuan saya? Belum semuanya.

Masih ada satu peristiwa lagi yang lalu berkaitan dengan kegamangan tentang masa depan. Persitiwa itu adalah peristiwa yang amat mengecewakan hati saya dan lalu saya selalu mengalami "ketakutan" akan masa depan Puput. Menjelang tamat SMA Puput menyampaikan niatnya untuk menjadi Pendeta dan karenanya akan kuliah di Fakultas Teologi. Saya sangat bersukacita mendengar niatnya ini karena diam-diam saya memimpikan bahwa salah satu anak saya bisa menjadi pendeta. Mamanya serta Opa dan Omanya almarhum juga tak kalah bergirang hati. Kami semua bedoa dan bernazar pada Tuhan semoga kiranya Tuhan berkenan atas rencana Puput. Tetapi saya menjadi kecewa kareana pada masa pendaftaran testing kami diberitahu oleh Puput bahwa dia tidak lulus test kesehatan. Puput tak bisa kuliah di Fakultas Teologia. Kami sedih tapi masih berpikr bahwa mungkin ada rencana Tuhan yang lain. bagi dia. Tetapi kekecewaan itu berubah menjadi kegeraman dan amarah yang amat besar sampai-sampai saya nyaris hilang kontrol diri dengan jalan meminu obat penenang jauh melebihi dosis - tetapi sampai tulisan ini dibuat, Puput, mamanya dan semuanya tidak pernah saya beritahu tentang kemarahan saya itu. Mengapa saya marah besar? Ternyata menurut salah satu sahabat saya yang adalah staf dosen di Fakultas Teologia, yang ikut mengetest, Puput sebenarnya diterima di Fakultas Teologia tetapi dialah yang memutuskan untuk mundur. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Luar biasa mengecewakan. Anak yang sudah kami nazarkan agar dapat menjadi pelayan Tuhan, penerus jabatan orang-orang Lewi, malah tega menghancurkan impian kami semua. Bukan cuma itu, saya menjadi ketakutan karena dengan begitu Puput "telah melarikan diri" dari Rancangan Tuhan. Pencobaan bagi saya sebagai orang tua Puput belum kelar. Sebagai ganti "ngancirnya" Puput dari Fakultas Teologia dia mendaftar ke Fakultas Ekonomi, UKAW. Cuma betah 1 tahun, dia pindah ke Fakultas Hukum Undana. Buang waktu Buang uang dan, sebagai pelipur lara hati, saya bergumam "buang sial" he he he...

Demikianlah alasan mengapa ketika Puput diwisuda saya malah tertegun dan berkaca-kaca. Ceritera hidup Puput sering membawa kami ke tepian kegalauan. Tidak persis benar tetapi kisah hidup Puput dapat dilihat dalam perspektif kekasaran yang terjadi dalam rahim bumi yang amat lambat itu. Proses penciptaan bumi adalah proses yang berliku-liku, dan keras serta mematikan dan menghidupkan silih berganti. Menurut kacamata ateis, semua itu terjadi karen misteri hukum-hukum alam. Menurut kami, termasuk saya, yang teistik, semua itu adalah karya Tuhan. Sebagai Kristiani saya mengenal Mazmur 23 yang memberi gambaran bahwa hidup memang silih berganti antara kesukaran dan kebahagiaan. Puput juga demikian. Ketika kami berpikir bahwa sentakan hidupnya akan berakhir ternyata dia masih ada sampai saat wisuda. Ketika kami bersuka cita bahwa dia sudah ada dalam perjalanan menjadi pelayan Tuhan, Puput malah membelokan sendiri arah jalannya. Saya tertegun akan hikmah dari semua itu, yaitu ketika anda ingin berbahagia ingatlah ada kesusahan mengintip di balik punggung kebahagiaan itu. Ketika anda berkesusahan janganlah hilang harapan karena ada kebahagiaan menanti di depan. Saya memahami betul itu dan lalu di situlah saya tertegun. Kalau benar bahwa Tuhan hadir dalam semua rancangan baik lalu Tuhan itu maunya apa? Tuhan itu mau kita bahagia atau tidak? Tuhan punya rencana apa ketika yang DIA ciptakan lalu dimusnahkan dahulu sebelum kehidupan baru ditumbuhkan? Mengapa Puput akhirnya diwisuda sebagai sarjana hukum dan bukan sarjana Teologia?

Setelah hari wisuda yang membahagiakan bagaimana hidup Puput selanjutnya. Dia yang pernah dinazarkan agar dapat menjadi pelayan lalu menolak apakah ada hari baik baginya? Hari yang menggembirakan Puput lalu hari bagaiman yang akan menyusahkan bagi Puput? Saya sunggu tak tahu. Puput tak tahu. Tak seorangpun yang tahu. Rancangan Tuhan sungguh tak terselami. Bahagia kah? Kesusahan kah? Kapan bahagia? Kapan susah? Apakah masih perlu ada kesusahan dalam rancangan Tuhan karena bukankah Tuhan itu Maha Baik? Pertanyaan yanag sama sahihnya dengan pertanyaan pada fenomena sejarah bumi bahwa mengapa harus ada penderitaan jikalau ada tertulis bahwa "semua baik adanya". Itulah kembimbangan atas ketidak pastian. Lalu manusia memang selalu bimbang ketika bertemu dengan ketidakpastian dan hal itu menyusahkan hatinya. Saya mengalami itu tepat ketika Puput diwisuda. Saya teringat bahwa tagal perkara kebimbangan antara bahagia dan penderitaan maka beberapa filsuf menyatakan bahwa hal ketidakpastian itu membuat manusia tidak merdeka dan lalu berpikir bahwa Tuhan sebenarnya tidak ada. Sartre mengatakan bahwa "jika Tuhan itu ada maka manusia kehilangan kebebasannya dan karena itu kehilangan eksistensinya. Jadi Tuhan harus tiada supaya kitalah yang akan menentukan sendiri kapan bahagia kapan menderita. Eksistensi manusia ada keputusan bebasnya itu". Nietszche lalu mengatakan bahwa "Tuhan sudah Mati", kita yang membunuhnya". Yang lainnya bertanya, jikalau DIA ada mengapa masih harus ada kesusahan di bumi dan bukan cuma kebahagiaan. Kisah bumi mengkonformasi hal itu. yaitu dibalik kehidupan ada kemusnahan. Lalu harus bagaimana Puput? bagimana pula saya? Tetapi saya lalu teringat akan percakapan antara 2 orang. Yang 1 ateistik dan yang lainnya teistik.

Ateis : apakah kamu mengenal secara persis Tuhan yang kamu sembah
Teis : oh....tidak seluruhnya. Saya hanya memahami apa yang bisa yang saya pahami
Ateis : Lha, jikalau begitu mengapa kamu masih harus menyembah DIA yang tidak bisa kamu pahami itu?
Teis : Justru karena tidak memahaminya itulah saya menjadi gentar, takjub dan tak berdaya di depan-NYA. Lalu, saya memilih untuk menyembah-NYA

Dear sahabat, Anda bebas memilih sikap apapun karena anda terlahir bebas. Anda boleh memilih bahwa masa depan anda seluruhnya adalah urusan anda sendiri dan tidak ada urusan dengan Tuhan. Tetapi ijinkan saya dan Puput dan seisi rumah saya, dengan penuh rasa gentar, takjub dan tak berdaya lalu tertegun dan berkaca-kaca, memilih untuk percaya bahwa wisuda Puput dimungkinkan oleh Tuhan dan karena itu masa depan yang indah juga bukan hal yang mustahil bagi Puput karena Tuhan akan memungkinkannya. Yang diperlukan cuma ini: "percayalah dan karena itu bekerjalah karena percaya adalah bekerja itu sendiri".


Tabe Tuan Tabe Puan

Sabtu, 05 Februari 2011

sindroma lemming: went on until finally you're exhausted

Dear Sahabat Blogger,

Sekarang bulan Februari. Bulan kedua dalam tahun 2011. Selamat bulan baru wahai Tuan dan juga Puan. Kita sudah di sini. Sampai di sini Tuhan sudah berjalan bersama kita. Anda sehat sejahtera? Saya sejahtera kendati kurang sehat. Tak Apa. C'est La Vie. That's the life. Itulah hidup. Jalani saja.

Sebagian sahabat baru saja merayakan hari raya Tahun Baru Imlek 2562. Shio kelinci logam., kata mereka yang paham. Kelinci si cerdas nan banyak teman tapi sangat berhati-hati. Gong Xi Fa Cai. Semoga kemakmuran dan kesejahteraan beserta anda. Benarkah anda memperoleh kemakmuran? Benarkah anda sejahtera? Mungkin ya dan mungkin pula tidak. Probability is fifty. Di Shio kelinci ini semua bisa terjadi. Ada yang bahagia. Ada yang berduka. Nurdin Khalid bahagia karena pertemuan PSSI di Bali memberikan jaminan bahwa si do'i masih berkesempatan memimpin PSSI lagi kendati miskin prestasi dan banyak musuh. Presiden Mesir, Husni Mubarak,pasti tidak sedang berbahagia karena kursi empuk seusia 30 tahun digoyang ke kiri dan ke kanan. Pasti pusing dia kendati tentara masih melindungi dia. Ahaaaaaa....ternyata tidak semua hal berjalan sesuai harapan kita bukan? Tapi mau bagaimana lagi. Tak Apa. C'est La Vie. That's the life. Itulah hidup. Jalani saja.

Ya jalani saja terus karena hidup memang harus terus berlanjut apapun yang terjadi. Hakekat dari berjalan adalah dinamika. Hakekakat dari dinamika adalah perubahan. Ya perubahan memang terjadi karena kita memang harus terus berjalan. Atau bisa juga dibaca sebagai teruslah berjalan karena dengan demikian anda, saya, dia dan kita semua akan menemukan perubahan. Jangan berhenti di satu titik jika ingin berubah. atau berubahlah dengan cara teruslah berjalan. Sahabat Pendeta Sussy memberikan tips: "berubahlah dalam pola pikir dan perilaku". Simpel. Gampang . Benarkahkah? Ya benar belaka tetapi sekaligus dengan itu kita bertemu dengan kesulitan yang tidak kecil. Amat besar bahkan. Berubah yang bagaimana? Berubah sampai batas mana? Berjalan terus ke arah mana? Mari kita belajar dari kisah yang satu ini.

Di daerah bioma tundra di pegunungan Arktik Scandinavia dan atau Skotlandia berhabitatlah hewan liar yang disebut Lemming (Lemmus lemmus). Hewan ini tergolong hewan herbivora pengerat seperti tikus besar, lemur atau hamster. Tampangnya mirip-mirip kelinci. Salah satu sifat dasar dari hewan pengerat adalah cepat sekali berkembang biak. dan si Lemming juga demikian adanya. Karena itu populasi Lemming secara berkala mengalami booming lalu secara cepat menghabiskan sumberdaya pakannya. Dalam situasi seperti ini, biasanya setiap 3-4 tahun sekali, populasi Lemming menunjukan perilaku yang aneh. Ketika populasi Lemming booming, hewan ini berkumpul lalu memulai perjalanan menuruni pegunungan menuju ke arah laut secara bersama-sama. Sekali mereka bergerak maka tak ada kuasa apapun juga yang mampu menghentikan ata membelokan arah pergerakan gerombolan Lemming ini kendati ada yang mati kelelahan, diterkaman elang, diinjakan sapi, dihanyutkan arus deras sungai yang dilintasi, serta berbagai ancaman serta hambatan lainnya. Anehnya lagi, sembari terus bergerak ke arah laut, mereka melanjutkan kebiasaan mereka sehaari-haari. Lemming-lemming ini tetap berlari kian kemari, mencari makan dan terus berkembang biak. Hidup seperti biasa dan terus bergerak menuju laut. Tepi lautpun ternyata bukan akhir perjalanan kelompok besar Lemming ini. Secara beramain-ramai gerombolan ini menceburan diri kedalam laut. Jika tepi laut adalah tebing karam, kelompok Lemming tidak ragu untuk meloncat dari atas tebing seberapapun curam dan tingginya tebing tersebut. Di lautpun Lemming akan terus bergerak dengan cara berenang. Kemana? Tak ada tujuan lain selain maju terus bergerak ke depan dengan cara berenang. Ya, mereka terus berenang, berenang dan berenang sampai kehabisan tenaga. Sampai Lemming terakhir mati. Sungguh fenomena yang dahsyat dan aneh. Disebut dahsyat karena gerak migrasi tanpa kompromi menuju kematian itu jelas bertentangan dengan naluri setiap makhluk hidup untuk bertahan hidup. Mengapa Lemming malah menjemput kematian. dengan begitu bersemangat? Sampai sekarang, alasan Lemming melakukan migrasi bersama menuju kematian tersebut belum sepenuhnya bisa dimengerti oleh para ahli. Sebagian pakar menyebutnya sebagai upaya altruism Lemming dalam mengendalikan populasi. Sebagian menyebutkannya sebagai fenomena bunuh diri Lemming. Ada perusahaan game on line mengkreasikan game dengan tema bagaimana menghentikan perjalanan Lemming. Anda harus mengupayakan agar Lemming yang pandai itu terhenti perjalanannya. Perusahaan game lainnya menciptakan game untuk menolong Lemming yang bodoh agar terhindar dari marabahaya dalam perjalannya. Apakah anda akan memenangkan Lemming yang pandai atau bodoh, saya tak pasti. Satu hal yang pasti, gerak maju Lemming tak terhentikan. Sekali memutuskan bergerak maka Lemming akan berjalan, terus berjalan dan terus sampai akhirnya berarak-arak menuju kematian. Fenomena ini disebut sebagai sindroma Lemming (Lemming Migration Along the Norwegian Coast).

Apa yang mau saya sampaikan dari kisah di atas adalah bahwa perubahan dan perjalanan ternyata tidak selamanya berakhir positif. Ternyata adapula perjalanan yang berakhir pada kematian nan tragis. Karenanya saya mengusulkan hendaknya pergerakan, perjalanan dan perubahan harus memiliki defenisi yang jelas. Tanpa itu dinamika dapat berakhir tragis. Dalam kaitan itu, dalam khasanah ilmu pengetahuan ekologi dikenal apa yang disebut sebagai ambang batas, yaitu daya dukung lingkungan terhadap semua bentuk pemanfaatan sumberdaya lingkungan. Manfaatkanlah lingkungan hidup anda sampai batas tertentu. Ketika anda melewati batas itu ...... watch out....lingkungan akan menampar balik anda. Bencana. Ketika ambang batas daya dukung lahan kehutanan atau aerah aliran sungai dilewati maka yang tersisa adalah bencana longsor, kekeringan dan banjir. Ketika ambang batas daya dukung atmosfir dalam mengendalikan emisi gas-gas rumah kaca terlewati maka berubahlah iklim. Belakangan dunia diancam oleh iklim yang berubah secara global dan mengancam kehidupan manusia. Pertanyaannya siapa yang melanggar daya dukung itu? Manusia dan prinsif antroposentrimenya, yaitu ambil sebanyak-banyaknya, manfaatkan sepuas-puasnya, habiskan setandas-tanasnya dan buang sampahnya. Alam dikeruk habis-habisan melampaui ambang batas dan lalu sistem lingkungan alam itu ambruk. Alam yang semula adalah pelayan kehidupan lalu berubah menjadi predator bagi kehidupan. Ketika bencana terjadi, semua terperangah lalu tiba-tiba semua berubah menjadi alim. Di mana-mana dibikin acara doa bersama. Dimana-mana bermncuan posko peduli bencana degan bendera partai atau bendera promosi produk tertentu....eeealaaahhhh, bencana koq malah dipolitisasi dan dikomersialisasikan..... theerrrlallluuuu...kata bang haji oma irama. Tapi lihatlah, gejala alim tersebut berlangsung tak akan lama. Ketika bencana berlalu, kehidupan kembali berjalan normal. Business as usual. Ambil, manfaatkan, habiskan dan buang sampahnya. Bencana demi bencana seolah tbukan pelajaran. Pada titik ini, terlihatlah bahwa ternyata ras Manusia mengidap sindrom Lemming yang kronis. Semua terus bergerak bersama-sama ke arah 1 tujuan, yaitu lautan luas lalu habis tenggelam di sana. Peringatan, halangan, hadangan, dan becana tak menggoyahkan arah pergerakan ini, yaitu menuju kebinasaan.

Jangan anda mengira bahwa sindroma Lemming hanya dapat digunakan untuk menerangkan fenomen kerusakan lingkungan. Oh, tidak. Perhatikan perkara berikut ini. Sejak dahulu kala gejala korupsi itu sudah ada. Referensi saya yang bersal dari Alkitab mencatatkan bahwa Judas Iskariot adalah bendahara kelompok murid Yesus yang curang dan korup. Itu 2000 tahu yang lalu tapi lihatlah, masa sekarang ini kita punya Gayus, mafia hukum, mafia peradilan, penipu-penipu di Wallstreet dan koruptor-koruptor lainnya. Orang tahu bahwa korupsi itu jahat dan salah tetapi mengapa hal itu terus dilakukan? Kata Lord Acton: "power tend to corrupt". Kita lalu tahu bahwa akar korupsi adalah kekuasaan. Kekuasaan yang bagaimana? Lihatlah ontoh berikut ini. Kerajaan Romawi, Kerajaan Mongol-nya si Genghiz Khan, Napoleon Bonaparte di Perancisd dan atau Kerajaan 1000 tahunnya Hittler meluaskan imperium mereka dengan cara menebar kekerasan. Di bawah rezin kezaliman kekerasan, intimidasi dan pembunuhan para penguasa haus darah ini menjajah hampir seluruh dunia. Tapi semua kita juga tahu apa nasib imperium-imperium itu. Semuanya habis ditelan samudera sejarah. Tapi perilaku fasisme kekuasaan ternyata amat menggoda. Prinsip antropsenstrisme, yaitu ambil, manfaatkan, habiskan dan buang sampahnya terus saja dipraktekkan berulang-ulang sampai sekarang. Polisi, jaksa, hakim (dalam konteks sekarang di Indonesia ada Komisi III DPR RI dan KPK dan satgas pemerantasan mafia hukum) dihadirkan oleh peradaban tetapi kekuasaan yang serong terus saja dipraktekkan. Seperti barang biasa saja dan tak terhentikan. Business as usual.

Seperti yang kita tahu bahwa dalam teorinya kekuasaan itu dapat diselenggarakan melalui 3 cara, yaitu intimidasi rakyat dan ciptakan ketakutan agar kekuasaan efektif dan efisien (Machiavellian), institusionalkan kekuasaan dalam bentuk negara absolut (Hobbesian) dan jalankan kekuasaan dengan mengedepankan moralitas (morality of power). Cara 1 dan 2 sering digunakan dan membawa bencana tetapi terus saja diulang-ulang dalam aneka varian. Cara ke 3 sering efektif tetapi tidak efisien dan karenanya, kendati baik, malas dikerjakan. Lalu bagaiman dalam prakteknya? Ketiga cara bisa dilakukan secara campur aduk lalu ditampilkan citra seolah semua sudah berlandaskan moral. Apa yang dilakukan kroni-kroni Soeharto di masa ORBA dahulu adalah ambil sebanyak-banyaknya lalu bikinlah 1 atau 2 yayasan sosial untuk membantu anak yatim, membanganu mesjid, membangun gereja dan sejensinya. Apa akibatnya? Adalah tatanan maasyarakat yang kehilangan orientasi moralitas. Batas-batas antara yang baik dan buruk atau yang salah dan yang benar sungguh dikaburkan. Anehnya, semua dijalankan secara berjamaah tanpa ragu tanpa malu layaknya business as usual. Inilah wajah dunia kemarin yang dipenuhi penguasa despot dan korup. Ini juga wajah dunia hari ini yang munafik dan kejam dan nyaris total dikendalikan oleh hukum besi pasar bebas. Korupsi, perang dan ancaman bencana perubahan iklim global adalah sahabat kita hari-hari ini. Tidak belajarkah dunia? Begitu tololkah dunia? Atau jangan-jangan semua sedang berjalan mengikuti pola sindroma Lemming yang mengerikan itu........"went on until finally you're exhausted"....

Pada titik inilah kita harus jujur mengatakan bahwa dinamika, pergerakan, perubahan dan perjalanan harus diberi batas. Batas itu adalah, izinkan saya memilih menggunakan kata ini, yaitu moralitas. Moralitas yang bagaimana? Saya usulkan adalah moralitas yang mengarah pada keadilan sosial. Sederhananya begini. Kita memang harus terus bergerak tetapi arah pergerakan kita harus menuju kepada area yang disebut sebabagi lautan keadilan. Dalam hal ini bukan keadilan yang diberi defenisi secara individual personal melainkan suatu keadilan yang dapat diterima oleh semua orang. Bukan cuma itu, keadilan dimaksud juga harus berlaku bagi alam semesta ini. Supaya bisa hidup dengan berkeadilan maka moralitas itulah pemandunya. Apa yang dimaksudkan dengan hidup yang dituntun oleh moralitas. Saya mengusulkan hal yang sederhana, yaitu hiduplah menurut martabat kita sebagai manusia. Lalu bagiamana yang dimaksudkan dengan martabat manusia? Saya mengusulkan lagi, yaitu hiduplah sebagaimana layaknya citra Sang Pencipta. Apa itu citra Sang Pencipta? Dalam diri setiap manusia ada citra Illahi yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta. Dalam diri fana kita ada kuasa Ilahi. Itulah, yang dalam posting lama, saya menyebutkannya sebagai KASIH. Diri kita terbatas tetapi KASIH sungguh amat tak terbatas.

Kerjakanlah KASIH dalam hidup kita setiap hari. Siapapun kita karena KASIH adalah bahasa universal yang tidak boleh dimonopoli oleh 1 kelompok tertentu. KASIH adalah bahasa bersama karena itu adalah pengalaman bersama. Bukankah semua bayi dihidupkan oleh benda yang sama, yaitu air susu? Bagaimana air susu bisa diperoleh bayi-bayi itu jika bukan karena ada KASIH kerelaan dari si empunya? Dengan KASIH maka prinsip antropsentris dapat diubah menjadi...ambil sesuai kebutuhan, manfaatkan secara efektif dan efisien, konservasi nilai-nilai kehidupan dan jangan meninggalkan sampah karena kita mendaurulangkan kebaikan....Dengan cara ini perjalanan kehidupan manusia bukanlah tiruan dari sindroma Lemming melainkan suatu perjalanan menebarkan keadilan yang dilakukan dengan penuh kasih sayang. Saya pikir hidup berkeadilan dan penuh kasih adalah mudah diucapkan tetapi sunguh tidak mudah dilaksanakan. padahal apalah hidup jika bukan pelaksanaan kata-kata. Tapi jangan kuatir, kita bisa belajar dan itu bisa dimulai dari sekarang. Tetap sulit? Ya iyalah (bukan iya dong) tapi mau bagaimana lagi. Tak Apa. C'est La Vie. That's the life. Itulah hidup. Jalani saja (karena hidup adalah sesuatu yang baik).

Van Halen - Feels So Good



Tabe Tuan Tabe Puan