Tampilkan postingan dengan label kemanusiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemanusiaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2011

koes plus bonus fideles

Dear Sahabat Blogger,

"Apalah arti sebuah nama" demikain Shakespeare berseru dan, kita, ada yang setuju tak kurang pula yang tidak setuju dengan itu. Kawan saya yang berasal dari daerah Manggarai diberi nama "Nganggur" karena ketika dia dilahirkan ayahandanya sedang tidak punya pekerjaan selain sebagai petani. Entah mengapa petani tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Saya diberi nama "Ludji" oleh almarhum Ayahanda Robert "SGT" Riwu Kaho secara serius dengan maksud untuk mengingatkan bahwa sekali dan seterusnya saya adalah orang Sabu dari suku Namata. Saya tak boleh menjadi orang Australia misalnya biar kata nama babtis saya adalah "michael". Adik saya, Vicktor Riwu Kaho, mula-mula memberi nama "Haga" kepada anak sulungnya. Belakangan dia merasa perlu untuk berjauh-jauh dari Jakarta ke Pulau Sabu hanya untuk melakukan ritual budaya Sabu guna mengganti nama "Haga" menjadi "Lobo". Hebat. So, bagi sebagian orang nama bukanlah sembarangan perkara. Nama harus memiliki makna. Demikian juga judul sebuah buku misalnya. Jangan memberi judul "mangga" ketika isi buku anda mengulas tentang "sapu lidi". Tak cocok itu bukan? Haaalaaahhhh...begitulah adab kita. Budaya kita. Maka untuk sebuah nama bila perlu tumpeng merah putih dibikin dan ..slaman slumun...jadilah baik.

Tapi saya punya 1 pengalaman yang mirip. Tahun dulu semasa duduk di bangku SMP di kota KUpang (SMPN 2) saya pernah dimarahi oleh seorang guru, Ibu Guru. Beliau adalah wali kelas II E kelas dimana saya berada. Ibu Messkah namanya. Saya ditegur gara-gara ada nama "ludji" di absensi kelas. Beliau menghardik saya dan bilang..."kamu jangan pake nama ludji lagi ya sebab itu adalah halaik, pake saja nama babtismu, michael"...halaik adalah kosa kata di Kupang untuk menyebutkan orang-orang yang tidak beragama sesuai dengan peraturan yang berlaku. Walah, saya malu tagal hardikan Ibu Guru dan semenjak itu saya berusaha mengaburkan nama "ludji". Sekali waktu nama "ludji" saya ganti dengan "rudy" (kebetulan waktu itu rudy hartono adalah sebuah nama yang sedang ngetop abiz). Giliran Ayahanda saya yang menghardik. Kebiasaan mengaburkan nama "Ludji" tanpa sadar masih saja berlanjut sampai sekarang. Jikalau saya harus menuliskan nama saya di daftar hadir atau yang sejenisnya. maka pastilah saya akan menulis "L. Michael Riwu Kaho". Jelas sudah bahwa aforisme "what is a name" tertolak oleh budaya di sekitar saya. Tak tahu jikalau anda. Ungkapan itu mungkin tepat untuk orang-orang barat. Orang Belanda menggunakan nama "Van de Kerkhoff" padahal itu artinya "kuburan". Dulu ada pemain sepak bola Belanda yang kembar bernama Rene dan Willie Van de Kerkhoff yang artinya Rene dan Willie dari kuburan...waallaaahhhhh.....

"What is a name", kata Shakespeare. Saya pikir yang dimaksudkan oleh Shakespeare adalah substansi. Mawar tetaplah mawar yang indah biar berganti nama menjadi kapuk. Nama boleh berganti dari "Ludji" menjadi "Michael" tetapi jikalau malas ya tetap saja malas bukan? Lihat saja para teroris yang diburu dan ditangkap oleh Densus 88. Nama aliasnya banyak banget tapi apakah mereka berubah menjadi sesuatu yang lain? Ya tidak juga. Kelakuan mereka ya tetep itu ke itu juga. Jikalau begitu maka kendati nama memang cuma sebuah atribut tanda identitas tetapi sesungguhnya hal yang terpenting adalah nilai intrinsik yang terkandung di dalam substansi. Kata emas menjadi berarti karena nilai karatnya bukan? Lalu judul tulisan di atas ingin mengingatan tentang substansi intrinsik di maksud. Koes Plus adalah nama grup band. Bonus fideles artinya mereka itu baik. Apanya yang baik dari Koes Plus? Lagu baru dapat diciptakan lebih bagus dari lagu Koes Plus dan memang sudah banyak lagu yang secara teknis artistik lebih indah ketimabang lagu-lagu Koes Plus yang umumnya bersifat "3 jurus" itu. Kalau begitu apa?

Koes Plus adalah sebuah grup band fenomenal di Indonesia. Di masa saya masih duduk di bangku SD, memegang buku tulis yang ada gambar Koes Ploes adalah "kewajiban". Lagunya wajib dihafal dan di senandungkan. Grup ini memang amat sangat hebat. Konon merekalah yang menjadi peletak dasar perkembangan musik pop di Indonesia. Di masa mereka, grup band lain seperti Favourites, The Mercy's, D'Loyd dan yang lain-lainnya terasa cuma varians dari Koes Plus. Grup band di masa sekarang dianggap mengerjakan sesuatu yang merupakan pengembangan Koes Plus. Siapa mereka ini? Saya pikir kebanyakan kita tahu bahwa grup ini digawangi oleh bersaudara Koeswoyo, yaitu Koestoni (Tony), Koesroyo (Yok), Koesyono (Yon) + 1 orang pemain drum yang bukan berasal dari klan Koeswoyo, yaitu Murry. Dominasi klan Koeswoyo sangat wajar karena sesungguhnya Koes Ploes adalah terusan dari Koes Bersaudara dimana Koesnomo (Nomo) ada posisi yang ditempati Murry sebagai drummer. Mengapa demikian? Pada mulanya adalah Koes Bersaudara yang eksis terlebih dahulu dengan formasi Toni, Yok, Yon, Nomo dan Koesdjono (John) pada tahun 1960. Lagu-lagu seperti “Bis Sekolah”, Di Dalam Bui, “Telaga Sunyi”, dan “Laguku Sendiri”. Pada masa-masa di antara 1960-1965 gaya bermusik mereka amat dipengaruhi oleh gaya the "everly brothers" (yang kondang dengan lagu antara lain "let it be me") dan "the bee gees".

Pada tahun 1965, 1 Juli, mereka ditangkap oleh KOTI dan mengurung mereka di rumah tahanan Glodok dengan tuduhan bermusik "ngak ngik ngok" yang bukan budaya dhewek. Penahanan tersebut tak lama karena pada tanggal 29 September 1965 tapi ternyata ikut berpengaruh terhadap kisah grup mereka dan sekaligus dunia musik Indonesia. Bertahun-tahun kita memahaminya sebagai bentuk represif dari pemerintah Orla pimpinan Bung Karno. Tapi pada saat wawancara di acara "Kick Andy", Metro TV, mereka membuka rahasia bahwa sebenarnya penangkapan mereka itu hanyalah sebuah sandiwara "operasi rahasia" yang diperintahkan oleh Bung Karno guna mendukung operasi "ganyang malaysia". Jadi mereka sebenarnya berkolaborasi dengan pemerintah. Entahlah mana yang benar tapi yang pasti ada masa mereka terpaksa berhenti bermusik. Pasca kebebasan dari penjara, iklim perpolitikan di Indonesia ternyata kurang mendukung perkembangan dunia kesenian di Indonesia umumnya. Konstruksi politik Indonesia di awal Orba yang dikuasai oleh Soeharto dan Tentara, yang menggantikan Bung Karno dan Orla-nya, menciptakan banalitas yang masif. Penangkapan dan pelenyapan orang-orang yang dideeksi atau dicurigai terkait PKI menciptaan ketakutan kolektif dan suasana saling curiga mencurigai. Banyak ketika pastian dan di masa inilah John keluar dari formasi. Koes Bersaudara.

Sekali waktu, ketika Koes Bersaudara sedang melakukan pertunjukan di daerah Tony mendapat kabar bahwa suasana Jakarta memanas. Terjadi penangkapan besar-besaran. Beberapa teman dari Tony menghilang begitu saja tak tentu rimbanya. Jakarta tidak aman dan Tony diperingatkan oleh teman-temannya bahwa, mungkin. karena kedekatannya dengan rezim Bung Karno maka Koes Bersaudara terancam. Terjadi dilema, kembali ke Jakarta atau tidak? Situasi mencekam seperti itu menyebabkan Nomo memutuskan untuk keluar dari grup. Dia memilih menjadi pedagang besi-besi bekas. Tapi Tony dan adik-adik yang lain menetapkan 1 tekad, harus kembali ke Jakarta dan harus terus bermusik. Tidak ada pilihan lain selain bermusik karena itulah cinta mereka. Tony dan adik-adik memilih untuk setia pada pilihan hidup mereka. Maka kembalilah mereka ke Jakarta meski apapun yang akan terjadi. Balada ini mereka tuangkan dalam lagu "kembali ke Jakarta" dan dimunculkan pada rekaman perdana grup Koes Plus. Lho, mengapa Koes Plus? Ya, Koes Bersaudara dalam formasi Toni, Yon, Yok dan Nomo hanya bertahan sampai 1968. Setelah Nomo keluar masuklah Murry yang bukan Koeswoyo itu. Pada saat rekaman pertama kali. Yok yang kurang sreg dengan adanya orang luar ke dalam formais band memutuskan solider dengan Nomo lalu keluar dari Koes Plus. Akibatnya, posisi sebagai basist kosong dan beberapa pemain tamu mengisi posisi yang ditinggalkan Yok. John Koeswoyo sering masuk formasi untuk tujuan show panggung. Dan pada saat rekaman album perdana Koes Plus, pemain tamu yang masuk formasi adalah Totok A.R. Inilah formasi dalam rekaman perdana Koes Plus, yakni Tony, Yon, Murry dan Totok A.R.

Album perdana itu memuat beberapa lagu seperti Derita (Tonny), Awan Hitam (Tonny), Tiba Tiba Aku Menangis (Tonny), Bergembira (Tonny), Tjintamu Telah Berlalu (Tonny), Dheg Dheg Plas (Tonny), Manis Dan Sajang (Tonny), Hilang Tak Berkesan (Tonny), Kembali Ke Djakarta (Tonny), Biar Berlalu (Yon) dan Lusa Mungkin Kau Datang (Tonny). Perhatikanlah deretan lagu-lagu tersebut. Semuanya indah dan hebat. Beberapa di antaranya bahkan rekam kembali berulang-ulang oleh berbagai penyanyi lainnya. Menjadi legenda. Tapi jangan salah, album perdana itu setelah direkam ternyata pada awalnya ditolak dimana-mana. Bahkan ada toko kaset yang menertawakan lagu seperti "Kelelawar". Lagu aneh kata mereka. Maklumlah ketika itu Koes Plus sedang bertransformasi dari keterpengaruhan "everly brothers" dan " bee gees" menjadi "lebih Indonesia". Akibat tidak lakunya album perdana mereka maka Murry kabur. Totok A.R. keluar. Adalah Tonny yang terus memupuk semangat anggota Koes Plus yang lainnya lalu membujuk Yok dan Murry agar masuk kembali dalam formasi band. Nasib baik memihak mereka dan pada tahun 1970 akhir lagu mereka meledak di mana-mana. Dan kesuksesan mengalir bersama mereka bertahun-tahun sampai meniggalnya Tony pada tahun 1987. Koes Plus pun surut sesuai tuntutan jaman tetapi lagu-lagu mereka abadi sampai hari ini. Inilah Grup tersukses di Indonesia. Apa tolok ukurnya? belum ada Band di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, yang mampu merekam hampir 22 album dalam 1 tahun seperti yang dilakukan Koes Plus pada tahun 1974-1975. Tidak ada pula grup band yang mampu merekam lagu dalam genre yang sangat berbeda. Anda mau tahu musik jenis apa yang pernah dimainkan oleh Koes Plus dan semuanya sukses? Pop, Rock n Roll, Rohani Natal, Qasidahan, Pop Jawa, Instrumentalia, Dangdut, Keroncong dan kompulasi the best. Jangankan band dalam negeri bahkan The Beatless, The Rolling Stones ataupun Led Zepplin tak tercatat melakukan itu. Seorang editor wikipedia mengatakan bahwa "Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan menggeser popularitas Beatles"

Anda tahu apa rahasia mereka? Filsafat manusia mengajarkan tentang 3 bentuk kebaikan, yaitu kebaikan karena ada gunannya (bonum utile), kebaikan karena menyenangkan (bonum delectabile) dan kebaikan karena memang baik atau kebaikan yang sesungguhnya (bonum honestum). Orang bisa saja berlaku baik kepada kita karena kita punya sesuatu yang dia perlukan atau dia butuhkan dari kita. Kita menerima kebaikan sejauh kita mendatangkan manfaat bagi oarng lain. Ada uang abang sayang tak ada uang abang aku buang. Bisa juga terjadi orang bisa baik kepada kita karena kita menyenangkan hatinya. Suami dan isteri sering memutuskan bercerai karena tidak lagi saling menemukan kesenangan. "Tak ada kecocokan lagi" katanya. Tetapi syukurlah ada kebaikan jenis ketiga dimana orang bisa baik kepada kita karena memang dia orangnya baik. Kita mungkin tidak berguna dan tidak menyenangkan bagi dia tetapi dia memang mau mencintai kita. Bonum begini adalah Bonum milik Allah yang mengasihi kita secara sepihak. Tanpa memperhotungkan dosa dan kedegilan kita, DIA mau memberi CINTA-NYA bagi kita. Bonum seperti ini bersifat Ilahiat. Dan yang asik adalah bahwa bonum ini ditawarkan oleh Sang Pencipta kepada manusia untuk memilikinya juga. Saya tak tahu anda dan saya memilih yang mana tapi Koes Plus jelas memilih bonum honestum. Ketika bermusik ternyata mendatang petaka, ketakutan dan kemiskinan mereka tetap setia pada pilihan hidupnya. Dalam nama apapun grup mereka, ataukah Koes Bersaudara ataukah Koes Plus, adalah Tony dan adik-adik telah mendemonstrasikan makna kesetiaan. Mereka tak bergeming kendati dicekam situasi. Berkarya dan terus berkarya kendati dizalimi, dicemooh dan miskin. Itulah cinta. Itulah kesetiaan. Hal ini nyata sekali dalam lagu mereka "kembali ke djakarta". Apapun boleh terjadi tetapi "di djakarta" tetapi langkah kaki tak akan berhenti untuk selalu kembali "kesana". Tony dan saudara dan kawan mungkin tidak kaya raya karena pilihan ini tetapi mereka telah membuat saya, mungkin anda dan jutaan orang lainnya berbahagia. Sungguh mereka orang baik. Sayapun bermimpi sekali waktu saya bisa juga akan di sapa, entah sebagai "Ludji" atau "Michael" atau "ludji michael:..."eh si Ludji Michael tuh ... orangnya ... bonus fideles lho. Orang baik tuh". Ahaaaaa, alangkah bahagianya.

Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 12 Maret 2009

someday never comes adalah damai yang tak pernah mau datang

Dear sahabat blogger,

2 - 3 hari belakangan ini dunia politik Indonesia, yang memang sudah "ramai" menjelang PEMILU, mendadak diguncang "gempa volkalinok taktiktronik dengan skala 007 pada skala ribet"....wwwwuuuuaaaaahhhhhh......SBY-JK pecah kongsi, JK merapat ke Megawati, SBY sakit dan.....di episentrumnya gempa itu bernama "perang opini " antara 2 mantan Danjen Kopassus (ingat ya, ini tentang tentara betulan bukan "kopi panas sampur sedikit susu" hi hi hi hi hi). Sintong Panjaitan mengeluarkan sebuah buku yang berjudul "perjalanan seorang prajurit para komando". Banyak hal dibicarakan dalam buku ini berkaitan dengan pengalaman jenderal Sintong semisal seputar ketika penumpasan G30S (terserah deh, para sahabat mo nambah kata PKI atau nggak), penumpasan gerombolan pembajak pesawat Garuda Woyla, Kerusuhan di pekuburan Santa Cruz Timtim (dahulunya), ....dan.....ahaaaaa.....peristiwa rivalitas Prabowo VS Wiranto + Habibie (bukan Hari-hari bikin bingung lho ya...ha ha ha ha).

Pada titik itu, Prabowo "angkat bicara" (nggak ngerti angkatnya pake tangan atau kaki xi xi xi xi.....). Berikut saya kutip dari www.okezone.com


daaaaaaaammmmmmmmmmhhhh.......weezzzzzzz......so pasti Prabowo en his gang was-was karena opini yang agak bengkok tentang paitua (kosa kata Kupang untuk menyebutkan beliau laki-laki) bisa bikin peluangnya menjadi Presiden RI berkurang satu-dua dikit (mending segitu bagaimana kalo 1000 dikit, ya nggak?). Nah, sahabat terkasih: sampai di sini saja informasi saya tentang "gempa volkalinok taktiktronik nan pemiluik" di belantara politik Indonesia kontemporer. Silakan anda baca sendiri beritanya lalu dicerna sebaik-baiknya (jangan sejelek-jeleknya). Ocheeeeee????? Tapi tidak secepat itu saya hentikan posting ini. Berangkat dari kisah di atas, saya ingin menceriterakan kembali suatu kisah nyata yang lain untuk memberi tali pengikat antara kisah Sintong VS Prabowo dengan kisah lainnya itu dengan satu pesan moral: "ketika nafsu kebencianmu jauh melebihi kadar kasih sayang yang ada dalam dirimu maka ..awas.......yang tinggal nanti hanyalah kehancuran. Damai akan pergi dan tak mau datang kembali". Begini kisa lain itu:

Pernah mendengar Perang Vietnam? Pastilah sudah. Ya, perang ini adalah perang yang brutal. Amat brutal untuk tujuan yang amat sumir. Adalah serial penjajahan, perang, pembebasan dan permufakatan ganjil yang menyebabkan bangsa dan negara Vietnam Raya terbelah 2. Di Bagian Utara berdiri negara Republik Demokratik Vietnam atau Vietnam Utara yang komunis serta berafliasi ke China dan Soviet. Sementara itu di bagian Selatan berdiri Republik Vietnam yang ditongkrongi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Dua saudara satu kandung itu berperang dengan sangat hebatnya. Dan mudah ditebak, era perang dingin yang merupakan arena persaingan Rusia VS Amerika Serikat memperburuk semuanya. Hawa kematian membaui di mana-mana. Killing fields tercipta di sana.

Setelah perang yang berkepanjangan selama hampir 20 tahun, akhirnya semangat rakyat Vietnam untuk tegak berdiri kembali sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan tercapai. juga. Meski dengan "harga" yang amat mahal. Di satu sisi, jika di lihat dari adagium bahwa perang adalah perpanjangan medan pertarungan politik maka jelas dan terang benderang Vietnam Utara dan Soviet adalah pemenangnya. Tentara Vietnam Utara menang. Tentara Vietnam Selatan menjadi pecundang. Komunisme berkuasa di Vietnam dan mempersatukan kembali negara yang terpecah belah itu. Inilah perang yang akan dikenang, secara politis, sebagai kekalahan si Cowboy Yankee, Amerika Serikat. Beres? Belum. Sebab ada fakta yang harus ditelisik dari sisi yang lainnya lagi.

Jika kemenangan dalam peperangan diukur melalui besarnya kehancuran yang dialami oleh pihak musuh maka perhatikan data berikut ini:
  • Jumlah tentara Ameriksa Serikat yang tewas: 58.226 jiwa dan 153.303 cedera/cacat;
  • Jumlah tentara Vietnam Selatan yang tewas : 200.000 jiwa;
  • Jumlah total tentara di pihak utara yang tewas mencapai 1,1 juta jiwa (menurut data Vietnam Utara) dan 3,2 juta jiwa (menurut data AS);
  • Jumah penduduk Vietnam, utara maupun selatan, yang tewas selama 2 periode perang di antara tahun 1957 - 1974 mencapai 4 juta jiwa.
  • Jutaan hektar hutan Vietnam terbakar dan rusak selama masa operasi “rolling thunder” dengan bom-bom napalm yang dahsyat itu;
  • Jutaan penduduk cidera, cacat permanen dan trauma akibat penggunan senyawa kimia beracun sebagai substansi bom.

Siapa menang siapa kalah? Vietnam Selatan memang kalah dan AS keluar dari tanah Vietnam tapi lihatlah "warisan" yang ditinggalkan AS. Kematian dan kehancuran dalam skala yang dahsyat yang dialami pihak lawan. Sulit untuk menilai siapa pemenang sesungguhnya. Secara militer AS sulit untuk dikatakan kalah. Bahkan sampai saat Richard Nixon membuat keputusan untuk menarik diri dari Vietnam dan membiarkan Vietnam Selatan berusaha mempertahankan dirinya sendiri, secara umum mesin tempur USA “baik-baik saja”. Bahkan kata banyak analis, perang Vietnam digunakan oleh AS untuk melakukan ujicoba beberapa sistem persenjataannya. Ini adalah perang yang aneh, setiap kali dihantam AS dan kemudian terdesak, Vietnam Utara dan kompatriotnya mengajak masuk meja perundingan. Setelah jeda sejenak, mereka mundur dari meja perundingan dan berperang lagi. Di lain waktu, setelah capek menembak dan mengebom AS juga mengajak Vietnam Utara masuk meja perundingan. Setiap kali Vietnam Utara berulah dan enggan masuk meja perundingan maka tentara AS menggunakan kekuatannya militer dalam skala yang lebih besar dari biasanya untuk memaksa.

Bagi tentara AS, perundingan adalah bencana" karena semua rencana dan taktik militernya harus diubah Tak jarang, ketika pasukan AS tinggal melumpuhkan musuhnya, mereka dipaksa untuk kembali ke barak. Mereka diperintahkan untuk berhenti beroperasi meski situasi di lapangan menunjukkan seharusnya serangan tidak boleh dihentikan. Ketika Vietnam Utara “mutung” dan mundur dari meja perundingan maka kampanye militer USA dijalankan lagi tetapi seolah-olah semuanya harus mulai dari awal. Cilakanya permulaan serangan selalu dimulai dengan parade serangan berskala besar dan terjadilah pembataian. Bagi tentaea AS, makin lama makin banyak musuh yang dibunuh tetapi mereka tidak bisa mencapai satupun tujuan militer yang dirancang. Situasi “maju tidak mundur tidak”, tetapi terpaksa terus menerus membantai orang membuat goncangan batin yang hebat di kalangan tentara AS. Lagian, meski lebih sedikit jumlahnya tetapi korban di pihak AS juga terus berjatuhan. Dua hal yang terjadi secara simultan itu membuat militer AS mengalami frustrasi dan depresi berat. Tentara AS, yang bagaikan anjing galak yang maunya mengiggit tetapi lehernya dirantai. Lama-kelamaan mereka mengalami demoralisasi nilai-nilai kemanusiaan yang luar biasa besar. Umumnya mereka bertanya: "untuk apa perang?". "Mengapa kami menjadi pembunuh?". "Kapan selesai perang ini?". Dala situasi gamang seperti itu tak jarang tentara AS berubah menjadi "gila". Membunuh para tawanan yang menurut hukum perang seharusnya tidak boleh dibunuh, membunuh teman sendiri atau membunuh diri sendiri.

Sementara itu, nun jauh dari daratan hutan Vietnam, masyarakat AS mulai ribut mempertanyakan moralitas peperangan yang terjadi di Vietnam. Demo anti-perang Vietnam mulai marak. Lama-kelamaan gelombang demonstrasi semakin meluas dan rakyat AS bukan cuma ribut tetapi mulai berteriak keras dan menuntut: “mengapa kita menjadi pembunuh di Vietnam?”. “STOP PEMBANTAIAN di Vietnam”. Rupa-rupanya parade gambar orang-orang yang mati akibat kampanye militer AS ditonton bagai horor di televisi. Hal ini mengusik rasa kemanusiaan orang AS. Satu persatu tentara AS yang tewas dan cacatpun mulai menimbulkan histeria massa: “untuk apa anak-anak kami terbunuh untuk tujuan yang tidak jelas itu”. “Amerika sedang tidak dijajah lalu mengapa berperang dan membunuh?”……

Salah satu aspek psikologi massa yang mengemuka adalah betapa banyaknya anak-anak yang kehilangan ayahnya yang berangkat sebagai prajurit dan lalu mati atau tewas di Vietnam. Pagi-pagi ayahanda mereka pamit berangkat ke suatu suatu tujuan yang tidak diketahui si anak dimana tempat itu. Ketika sang anak bertanya: untuk apa berangkat? Ayahnya menjawab: “nanti engkau akan tahu sendiri suatu hari nanti”. Someday. Tetapi hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sang Ayah tak pernah kembali. Hanya ibunya yang dijumpai setiap hari dan juga sedang bersedih hati. Lalu menangislah sang anak…someday never comes, papa……

Super Group asal AS, Creedence Clearwater Revival (CCR) yang fenomenal itu menangkap secara persis fenomena psikologi anak-anak korban perang yang kehilangan ayanda mereka itu. Lalu dibuatkanlah sebuah lagu. Lagu dari CCR itu kemudian menjadi salah satu lagu wajib kaum anti perang Vietnam. Dan menurut saya seharusnya substansi lagu itu dipahami oleh kita sekarang ini. Di sini. Di Indonesia. Untuk apa semua peperangan ini? Untuk apa semua perkelahian, pertentangan, dan pembantaian yang kita lakukan sekarang ini? Untuk apa Gaza, Irak, Afghanistan, Ambon, Poso, Aceh, Papua, Prabowo, Wiranto, Sintong, Kivlan? Untuk apa? Untuk masa depankah?

Ataukah, jangan-jangan semua ini hanya karena “kita” berbeda dari “mereka” dan oleh karena itu “mereka” harus dilenyapkan supaya “kita” berkuasa? Apakah ketika “mereka” lenyap maka masa depan itu otomatis menjadi milik “kita?. Apa hak kita untuk bertingkah bagai pemilik tunggal untuk apa yang disebut sebagai masa depan? Oh, semua itu saudara, hanya akan membawa kita kepada satu situasi saling membantai yang tak berujung. Jadi, siapa pemenang dan siapa pecundang dari setiap peperangan? "Kita" atau "mereka"? Menurut hemat saya tidak begitu saudaraku. Pemenang peperangan adalah kebencian dan sang pecundang adalah rasa kemanusiaan kita yang tak lain dan tak bukan adalah afeksi positif kita, yaitu kasih sayang. "Menang jadi arang kalah jadi abu". Apa saya salah? Renungkanlah sobat sambil mengingat bahwa CCR, lewat vokalisnya yang dahsyat John Fogerty yang sekaligus pencipta hampir semua lagu-lagu CCR, pernah “menjerit” dan “berpesan”… heeeeiiiii ….. dalam setiap permusuhan .... someday will never comes …..