Saya sebenarnya sedang mempersiapkan 1 bahan posting untuk mengenang almarhum ayahanda saya, robert "SGT" riwu kaho. Bahannya adalah tentang konsep "tri bajik eka cita". Konsep lama yang diltulis sendiri oleh "SGT: sebagai buku saku bagi tiap warga pendidika
n di NTT. Ketika itu, SGT masih berdinas aktif sebagai "kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan NTT" dan sedang getol-getolnya berjuang bagi peningkatan mutu pendidikan di NTT. Guna melecut semangat aparat pendidikan di NTT yang dipimpinya, SGT menulis konsep tersebut. Pada saat saya membaca kembali buku kecil itu, dahulu saya tidak terlalu memperhatikannya, barulah saya sadar bahwa yang ditulis oleh SGT tidak sekedar sebuah buku saku melainkan sebuah pemikiran yang berisikan prinsip filsafat manusia. Konsep TBEC ditulis bertumpu pada visi dan misi SGT mengenai kehidupan, pengalaman hidup dia, dan harapan-harapannya akan masa depan. Saya kira, itu adalah master piece dari SGT melebihi karya-karya tulis lainnya. Akan tetapi, sayang sekali, saya belum dapat menurunkan tulisan itu sekarang. Naskahnya masih "mentah" dan memerlukan beberapa pendalaman dan tautan referensi. Mudah-mudahan "tri bajik eka cita" sudah bisa saya tulis pada posting berikut.Kendati begitu, saya ingin tetap mengenang SGT melalui karya-karyanya. Salah satu karyanya yang di tulis beberapa tahun sebelum SGT menempuh perjalanan abadi adalah tentang asal-usul Gadjah Mada di dalam bukunya yang berjudul: "orang Sabu dan budayanya". Dalam buku tersebut SGT menulis sebuah dugaan yang, menurut hemat saya, cukup kontroversial. Tentang hal ini saya sebenarnya pernah menulisnya di blog ini pada blulan Agustus 2008 yang lalu, yaitu dugaan bahwa Gadjah Mada berasal dari Pulau Sabu. Posting ketika itu mendapat tanggapan yang amat beragam. Pro dan kontra dan masih terus berlanjut hingga kini. Beberapa timbal balik pendapat yang dapat saya kumpulkan melalui surfing di dunia maya, di antaranya adalah sebagai berikut (sekalian saya minta ijin kepada para penulis di Face Book dan beberapa situ lainnya yang pendapatnya saya kutip di sini:
Ma Kuru Paidjo (Maret 2009): Beta sering dengar beberapa teman di sini bilang Patih Gadjah Mada berasal dari Sabu. Beta sonde mengerti itu barang dong. Mungkin ada yang bisa jelaskan sediki ko argumen pro dan kontra tentang Patih Gadjah Mada berasal Sabu? Singkat sa. Kemarin beta sempat ke Dompu (di pulau Sumbawa - NTB) dan di sana mereka juga menganggap bahwa Patih Gadjah Mada berasal dari Dompu (di pulau Sumbawa - NTB).
Angela (Maret 2009): woooe ma kuru, beta dengar UGM sudah nulis buku khusus bahas asal-usul sang patih. Dari sumber yg dekat dengan ugm, katanya sang patih memang berasal dari timur tetapi bukang bali, ntb, sabu dan lain nya (indonesia bagian timur). sang patih berasal dari bagian timur pulau jawa. Menarik kalu ada org sabu disini yg bisa cek buku tsb dan mengulasnya disini.
Victor (Maret 2009) : Kalo menyimak syair2 kuno yg dilantunkan pd saat upacara2 adat di Namata, ada terucap nama Gaja Med'o yg disebutkan sbg perantau asal Sabu yg menjadi Tuan Besar di tanah Jawa dan menjadi Panglima Bala tentara nusantara. Disamping itu, ada hal lain yaitu keputusan Majapahit utk menjadikan Sabu-Raijua sbg pangkalan utama angkatan laut Majapahit utk mengontrol pintu gerbang selatan nusantara. Disamping pertimbangan strategis, tentu ada unsur psikologis yg mjd pendorong bg si Decision Maker. Krn harusnya ada kep Rote yg lbh di selatan lagi. Hal2 diatas itu membuat Bapa Robert (alm) memberanikan diri menuliskan dugaan kuat bhw Gajah Mada berasal dr Sabu dalam bukunya "Orang Sabu dan Budayanya".
Ferdinand (Oktober, 2009): Helama Ma Kuru, saya menilai ini satu tema yang cukup menarik untuk didiskusikan bersama. Jumat, 2 Oktober kemarin, baru saja kita diajak pake batik, dalam rangka pengakuan dunia bahwa batik adalah warisan budaya dari Indonesia. Kaiatannya dengan tema,(1) coba kita perhatikan busana do Hawu : ikat kepala (destar) harus batik, sedangkan selendangnya tetap tenun ikat sabu. (2) Dalam sejarah Indonesia, Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapa nya ingin mempersatukan Nusantara.(3) Saya sependapat dgn Ama VRK bahwa do Hawu itu tipe orang pengembara/perantau. Kesimpulannya : bisa jadi Patih Gajah Mada adalah do Hawu.
Ki Aji Laksono (Juli 2009) : Sebenernya byk versi ini salah satu versi yang saya baca: Bahwa ia berasal dari daerah Modo (Lamongan), karena di daerah ini banyak ditemukan prasasti-prasasti yang diduga kuat peninggalan Majapahit, termasuk adanya beberapa makam kuno prajurit dan makam kuno yang diduga masyarakat setempat sebagai makam ibunda Gajah Mada, yaitu Nyai Andong Sari. Selain itu daerah ini teratur rapi, sehingga seperti suatu bekas tanah perdikan.
Ary Anglerboy (September 2009) : Ada jg yg yg bilang beliau berasal dari Mongolia. tp susah utk dibuktikan.. namanya jg sejarah masa lampau..
Dodi Sutanto (Oktober 2009) : bapak nya seorang demang dan ibu nya keturunan khayangan
Aji Iskandar Zulkarnain (November 2009) : Beliau bukan bangsa Nusantara , beliau adalah bangsa Mongol !!
Begitulah sahabat, ternyata apa yang ditulis oleh SGT masih ramai diperdebatkan "di luar sana". Lalu, apa kesimpulan saya? Saya blm berani menyimpulkan apa-apa. Entahlah mister Gadjah Mada adalah orang Sabu atau yang lainnya. Saya membayangkan bahwa seandainya SGT masih hidup, mungkin dia akan rajin membuka internet dan menjawab atau berdebat sesuatu tentang pendapatnya.
Sebenarnya, dalam buku itu SGT juga menulis sesuatu yang juga tak kalah kontroversialnya, yaitu orang jawa dan orang sabu masih satu keluarga. Berkakak-adik, bahkan. Orang Sabu adalah keturunan sang kakak, yaitu Sabu Miha, sedangkan orang jawa adalah keturunan sang adik, yaitu Jawa Miha. Lengkapnya, robert "SGT" riwu kaho menuliskan begini:
Dari informasi turun-temurun disebutkan pada zaman generasi ke-7 ada seorang leluhur orang Sabu bernama Miha Ngara. Beliau mempunyai 5 orang anak yaitu Hawu Miha (cikal-bakal orang Sabu), Huba Miha (orang Sumba), Tie Miha (orang Tie Rote), Ede Miha (orang Ende), dan Jawa Miha (orang Jawa). Orang Sabu mengetahuikira-kira pada abad pertama Masehi, `Jawa Miha meninggalkan Sabu untuk menetap di Jawa. Di kemudian hari kontak antar keturunan dan keluarga tidak lagi terpelihara. Pengetahuan tentang adanya relasi ini diperoleh melalui syair-syair dan cerita para tetua dan pemangku adat di Sabu. Migrasi' dari Asia Tenggara diakui telah berlangsung sekitar 500 tahun SM, dan kira-kira 200 tahun SM terjadi lagi migrasi dari India Selatan. Migrasi ini juga sampai ke Sabu. Pada gelombang ketiga disebutkan, ketika kaum pendatang yang jumlahny lebih sedikit (di Pulau Jawa) mulai diperangi oleh penduduk asli, sehingga posisinya terdesak.
Untuk itu mereka meminta bantuan kepada kerabatnya yang telah menetap di timur' untuk membantu mereka. Kala itu yang berkuasa di Sabu adalah Miha Ngara, dan mengutus kedua anaknya Hawu Miha dan Jawa Miha untuk membantu kerabatnya kaum pendatang di Jawa. Keduanya mendarat di pantai selatan Jawa Barat di suatu tempat berbukit karang, lalu diberi nama `Karang Hawu', letaknya kira-kira 1 km dari sebelah barat pantai Pelabuhan Ratu. Setelah peperangan berhasil dimenangkan, kedua kakak-beradik itu berpamitan untuk kembali ke Sabu. Kerabat di Jawa meminta agar salah seorang dari mereka untuk tinggal menetap di Jawa. Permintaan itu ditampung namun harus dilaporkan dan diputuskan oleh ayahnya di Sabu. Akhirnya diputuskan bila Jawa Miha yang berangkat ke Jawa sedangkan Hawu Miha tetap tinggal di Sabu. Ketika keberangkatan, didirikan sebuah batu peringatan yang diberi nama `Wowadu `Jawa Miha' di Namata. Pada waktu `Jawa Miha berangkat ke Jawa ia diberi bibit beberapa jenis tanaman untuk ditanam di sana yaitu cengkeh, wilahege, jahe, pala, pohon pandan; dengan pesan bahwa sejak saat itu jenis tanaman tersebut tidak boleh ditanam oleh Hawu Miha dan keturunannya di Sabu.
Seberapa jauh keakuratan dugaan robert "SGT" riwu kaho? Saya tak bisa memprediksikannya karena saya sama sekali tidak menguasai metode dan data-datanya. Apakah SGT punya kedua-duanya? Saya juga tidak yakin begitu. Mengapa? Karena setahu saya, SGT adalah pelajar ekonomi waktu kuliah di UGM, Jogja, dahulu lantas bekerja sebagai guru sebelum menjadi pejabat di bidang pendidikan. Lalu, setahu saya, referensi SGT adalah ceritera-ceritera turun temurun yang berkembang di kalangan "mone ama" di Sabu dimana SGT bagian dari keluarga besar kaum "Mone Ama" itu. Metode ilmu pengetahuan membutuhkan langkah-langkah verifikasi guna validasi data-data seperti itu. Sayangnya, SGT sudah berada di negeri abadi dan tidak bisa lagi menyelidiki dan beradu argumen guna melakukan verifikasi data yang dimilikinya. Jadi, apakah SGT "asbun"? Teralu gegabah untuk menyebutkan begitu. Mengapa? Di kepala dan perilaku ilmuwan biasanya tersimpan beberapa hal sebagai modal dasar sebagai sebagai ilmuwan tangguh. Dua di antaranya adalah kemampuan melakukan inovasi dan berani mengajukan hipotesis. Robert "SGT" sudah melakukannya berdasarkan data-data yang dimilikinya. Seberapapun mutu data yang dimilikinya. Lalu, pada butir itulah catatan saya tentang SGT yang patut saya, anak dan cucu-nya meneladani SGT, yaitu keberanian menempuh hidup.
SGT adalah anak seorang petani dan tukang yang miskin tetapi dia berani menempuh perjalanan ribuan kilometer mencapai Jogjakarta untuk mengejar ilmu. Di Jogja, hdiupnya juga terbatas. Makan minumnya berhemat betul. Tetapi dia tetap berani dan tidak cengeng. Di Jawa juga dia berani memutuskan menikahi seorang wanita dari golongan yang "tidak miskin" dan "berdarah hampir biru". Dia berani dan tidak rendah diri. Lalu, dia berani untuk berada di urutan terdepan ketika harus "berkelahi" dengan orang-orang yang berasal dari golongan penganut komunisme. Sekali dua, dia terpaksa berperkara sampai di pengadilan berhadapan dengan orang-orang itu. Bersama beberapa orang teman, dia menjelajahi daratan Timor yang keras guna mencegah masyarakat Gereja di Timor untuk tidak terbuai oleh bujuk rayu kaum komunis. Bahan dia terancam dibunuh tagal perkara itu. Tetapi dia tetap berani berbekal prinsip "setia sampai akhir". Setia kepada siapa? Dia setia pada TUHAN-nya. Untuk apa semua itu dia lakukan" Untuk Tuhan dan sesamanya (masa ketika dia harus "bertarung" berhadapan dengan orang-orang komunis adalah masa di mana beliau "menghilang" dari pandangan isteri dan anak-anaknya berbulan lamanya). Dia berani karena ada kebe
naran yang harus dibela. Dia berani karena sebuah prinsip. Dia berani sambil mengorbankan dirinnya sendiri. Dia berani dan rela berkorban ketika ingin menolong seseorang yang diyakininya perlu ditolong. Keberanian SGT mirip dengan keberanian seorang Samaria yang menolong sesamanya yang tidak dikenalnya (the good samaritan). Jikalau menghadapi berbagai tantangan keras seperti yang saya kemukakan di atas SGT berani, saya membayangkan, apapula hanya untuk suatu hipotesis tentang pertalian orang Sabu dan Jawa?Sahabat terkasih, saya tidak sedang mengkultuskan ayanda saya almarhum. SGT adalah manusia biasa yang ada juga kurang-kurangnya yang tak perlu docontohi. Tetapi sungguh saya bersaksi bahwa soal "keberanian" itulah yang sementara ini masih membedakan SGT dan saya. Jikalau berani hanyalah soal naik darah dan "gemar berkelahi", saya pikir tidaklah mesti saya terlalu jauh terpisah dari ayahanda "SGT". Tetapi jika keberanian sudah menyangkut kesetianya pada TUHAN dan kesediannya untuk mengorbankan dirinya sendiri maka jarak antara SGT dan saya sejauh Sabu dan Jawa. Jarak inilah yang akan saya usahakan untuk dipangkas. Seinci demi seinci. Selangkah demi selangkah. Lalu, jarak keberanian antara kami berdua makin lama makin dekat. Apakah anda punya pengalaman yang sama soal keberanian?
Tabe Tuan Tabe Puan




































