Tampilkan postingan dengan label All about me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All about me. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2011

24 jadi 48, TUHAN tinggal-lah serta.....

Dear Sahabat Blogge,

Hari ini, 23 Juli 2011. Hari Sabtu. Besok hari adalah tanggal 24 Juli 2011 waktu Indonesia, entah waktu apa di tempatnya mister Nazarudin ex bendahara partai demokrat berada. Yang pasti besok itu adalah hari Minggu, tanggal 24 Juli 2011. Agak spesial bagi beberapa orang karena itulah hari ulang tahunnya. Selamat berbahagialah sodara dan sodari yang berhari ulang tahun. Tuhan memberkati anda sekalian. Dan, saya juga. Saya? oh iya dong (dan juga iya lah.) Saya juga besok berulang tahun. Sudah 48 tahun umur yang saya punya. Ya, tanggal 24 Juli 2011 saya berusia 48 tahun maka 24 jadi 48.

Saya terpekur sejenak dan merenung. Oh ya tuhan, saya sudah tua. Sudah banyak yang saya punya. Punya ayah dan bunda yang hebat dan bisa dijadikan teladan. Punya 1 isteri yang cantik tapi tukang ribut (tak apalah karena saya mencintai dia). Punya 5 anak, yaitu 4 laki 1 perempuan, yang ganteng dan cantik tapi suka bikin miskin. Punya 2 cucu laki-laki yang asik tapi peeennniiing (mirip poltak raja minyak ...ahaaaa...). Punya abang dan adik yang hebat-hebat tapi interaksi di antara kami sering dalam situasi ribut tapi rukun benci tapi rindu (biasalah itu, karena semasa kecil malah kita sering saling pukul-pukulan ..wkwkwkwk....). Cukupkah daftar ini? BELUM

Saya sudah Sudah bergelar Doktor dalam bidang ilmu Kehutanan. Doktor adalah gelar akademik tertinggi sedangkan profesor adalah gelar jabatan akademik tertinggi (nah yang menyangkut profesor inilah yang sekarang belum menjadi prioritas dalam irama hidup saya. Saya akan sampai "di sana" juga, jika Tuhan berkenan, tetapi itu nanti saja). Saya sekarang ketua Forum DAS NTT, yaitu forum multipihak tentang pengelolaan DAS. Jangan main-main, ForDAS NTT sering dijadikan model di tingkat nasional untuk urusan perencanaan dan legislasi pengelolaan DAS. Saya diberi mandat menjadi pengurus pusat masyarakat konservasi tanah di Indonesia (MKTI) dimana untuk tingkat propinsi NTT saya adalah orang nomor 1-nya. Saya juga telah diberi mandat untuk mengembangkan working group REDD+ di NTT yang akan berperan besar dalam upaya-upaya global menurunkan emisi gas rumah kaca. Saya juga menjadi bagian dari kolaborasi masyarakat sipil untuk pulau-pulau kecil Sunda Kecil dan Maluku (SUKMA). Saya juga anggota dewan pakar Samanta (yayasan masyarakat nusa tenggara). Saya terlibat juga sebagai anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Propinsi NTT. Saya pernah dan sedang menjadi konsultan beberapa international agencies terutama untuk urusan yang bertalian dengan kehutanan dan lingkungan hidup. Di tingkat Undana, saya sedang menjabat sebagai kepala Puslitbang Arboretum, Lembaga Penelitian Undana. Saya sekarang sedang ditugaskan mempersiapkan pembentukan program studi kehutanan di Undana. Tugas yang baru saja rampung setelah bertahun-tahun karena saya bekerja nyaris sendirian dalam waktu yang lama. Saya punya banyak mahasiswa tingkat sarjana dan pascasarjana. Saya punya banyak penelitian akademik. Saya adalah wakil ketua Majelis Jemaat GMIT Paulus. Saya adalah Ketua II pengurus yayasan Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang. Oh, ya sebuah buku text book yang menggambarkan keahlian saya, yang lintas ilmu peternakan, pertanian dan kehutanan, yaitu tentang ekologi savana, sedang dalam tahap akhir editing menuju naik cetak.

Dari tangan saya, sudah barang tentu bersama beberapa orang lain, telah dihasilkan 1 Perda NTT tentang pengelolaan DAS terpadu (Perda No. 5/2008). Ini perda pertama di Indonesia pada isu pengeolaan DAS, yang bahkan belum ada PP-nya. Perda ini sudah ditiru oleh beberapa daerah propinsi dan kabupaen lain di Indonesia. Saya sudah menyelesaikan naskah akademik dan draft revisi perda cendana di TTS. Saya juga sedang menulis drfat naskah akademik Perda cendana tingkat propinsi dan perda insentif jasa lingkungan di propinsi. Saya aktif menjadi nara sumber dalam menghasilkan perda imbal jasa lingkungan di kabupaten TTS. Saya merupakan penulis utama dokumen HKUP GMIT 2007-2011 dan sekarang sedang menyiapkan dokumen RIP/HKUP GMIT yang baru. Saya punya pembaca setia di 2 buah blog yang saya kelola, yaitu blog untuk aneka rupa urusan (http://www.bigmike-savannaland.blogspot.com) dan blog yang satu lagi yang saya khususkan untuk membantu saya dalam proses belajar mengajar di Undana (http://www.makati24.blogspot.com). Ahaaaa, capek juga menuliskan daftar seperti ini satu per satu. Apakah narsis? sombong? Mungkin bagi sebagian orang ya iya memang begitu tetapi bagi saya tidak. Mengapa demikian? Begini....

Saya juga harus mengaku bahwa di balik segala macam angka positif yang sudah saya ungkapkan tadi, sebagai pribadi saya punya lebih banyak lagi angka negatif berwarna merah. Saya adalah pribadi yang cenderung cepat naik darah, sedikit pendendam, mutungan dan kadang-kadang suka menyimpan kesalahan orang lain. Saya juga agak sedikit arogan terutama jika berkaitan dengan keahlian yang ditekuni. Saya cenderung keras kepala terutama jika berkaitan dengan prinsip hidup dan kerja. Saya bukan seorang penjaga kesehatan diri yang baik. Saya juga cenderung suka menunda kerja till the last minute. Saya juga bukan seorang suami yang 100% bisa diandalkan. Ada saja bolong-bolong perilaku yang membuat isteri saya kadang-kadang tensinya naik beberapa strip. Saya tergolong ayah atau bapak yang kadang-kadang suka menimbulkan rasa tawar dalam hati mereka. Saya tahu kerap kali anak-anak menjadi tawar hati saban saya bertindak tidak patut. Saya juga tergolong sahabat yang kurang bisa berbagi waktu dengan mereka. Saya tergolong adik dan abang yang suka bertindak semau-maunya kepada abang dan adik-adik saya. Beberapa sahabat mengaku bahwa saya sebenarnya tergolong sahabat yag menyebalkan karena keisengan dan amat gemar berbala-bala. Saya juga dosen yang kadang-kadang terlalu keras kepada mahasiswa dan menuntut terlalu banyak dari mereka. Saya cenderung tidak bisa rapih dalam berpakaian dan menjengkelkan banyak pihak tagal urusan yang satu ini. Tertunda-tundanya kelahiran prodi Kehutanan di Undana antara lain karena sikap keras kepala saya yang cenderung tidak suka diperintah-perintah. Waduh, malu juga jika daftar ini diperpanjang. Sungguh mantri, daftar negatif ini aslinya amat panjang.

Lalu kalau bukan tagal naris, lalu tentang apa semua yang saya tulis ini? Dear sahabat, inilah pengakuan saya tentang apa yang terjadi selama 48 tahun usia hidup saya sampai hari ini. Amat panjang daftar KARUNIA TUHAN bagi saya yang ditandai dengan berbagai keberhasilan. Akan tetapi lebih panjang lagi, sebenarnya, kegagalan yang saya alami. Demikian pula tak kurang panjangnya daftar kelakuan buruk saya. Semua kegagalan dan kelakuan buruk itu memberi satu pertanda bahwa betapa kurang bersyukurnya saya atas berbagai berkat dari Tuhan. Itulah saya, suka bermegah atas kedigdayaan diri tetapi kerap lupa bahwa semua itu adalah pemberian Tuhan. Ya, saya KURANG BERSYUKUR ATAS KARUNIA TUHAN. Melalui posting ini, saya ingin mengungkapkan bahwa saya ingin bersyukur atas semua karunia Tuhan dan sekaligus jatuh tersungkur di depan-NYA memohon agar diampuni Tuhan atas perkara kurang baik yang saya lakukan selama ini. Bagimana selanjutnya? Adalah ini: jikalau Tuhan berkenan, maka masih banyak hal baik lain yang ingin saya kerjakan di masa depan sebagai wujud rasa syukur saya. Juga, jika Tuhan berkenan, saya akan memperbaiki atau mengkoreksi tindak-tanduk dalam adab hidup saya yang kurang terpuji. Hal ini sekaligus sebagai bentuk permohonan maaf saya kepada semua orang yang sudah saya sakiti hatinya.

Darimana datang keberanian saya yang hidup serba berdosa ini untuk datang ke depan Tuhan dan semua saudara, sahabat, handai tolan dan kerabat lalu mengoceh ini dan itu? Ya, saya mengaku banyak kekurangan dalam hidup saya sampai hari ini. Tagal itu, sebenarnya tidaklah layak saya untuk bermegah diri apalagi menyapa DIA yang maha tinggi itu. Sebenarnya malu juga untuk bicara ini dan itu di depan saudara-saudara, sahabat dan kerabat. Tetapi dalam keyakinan saya, TUHAN yang MAHA KASIH itu pasti MAU MENDENGAR keluh kesah baik mereka yang hidupnya bersih maupun yang berlumuran dosa seperti saya. Jikalau Tuhan bersedia mengampunkan saya maka bukan tidak mungkin para saudara, sahabat dan kerabat memaafkan saya. Bukan begitu saudara ku?

Apapun, tanggal 24 saya berulang tahun ke 48. Ada yang suka dan mungkin ada yang tidak suka akan hal ini. Begitu juga mungkin ada yang suka dan ada yang tidak suka akan posting kali ini. Terlalu narisis dan, mungkin, kurang tahu diri. Tak apa. Biar saja begitu. Hal yang terpenting yang ingin saya ungkapkan adalah saya bersyukur atas bertambahnya usia hidup saya, 1 tahun lagi. Saya bersaksi bahwa hal ini adalah berkat dari TUHAN. Doa saya di HUT ke 48 ini singkat saja.....Dear Tuhan, jikalau Engkau mau, maka tinggal-lah beserta ku. Amin.....

Abide With Me, Elton John

Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 02 Februari 2009

hari begini 1 bulan yang lalu

Dear sahabat blogger,

Dalam sebuah Kitab Tua ada tertulis dengan amat tepat dan akurat......"Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap".....2 Januari rasanya baru 2 hari yang lalu,. Riuh rendah orang berdatangan melayat masih belum hilang dari telinga. Tangis duka sedih masih terhunjam di jantung hati. Bahkan, tatapan mata nanar Ibunda ketika membisikkan kata .... kau pulang Kupang duluan dan bersihkan rumah ....... seperti baru 5 menit lewat terjadi......

2 Februari sekarang. Tiga puluh hari lewat sudah sejak tanggal 2 Januari 2009. Ya, hari ketika Ibunda pergi meninggalkan saya dan kami semua. Hari ketika dengan perih kami berucap lirih....bapa dan mama, kami yatim piatu sekarang.....Apa arti semua ini? Mengapa harus saya tulis sesuatu yang sangat pribadi ini di ruang publik. Mestinya bukan karena cengeng. Mestinya bukan karena ingin tampil menghiba-hiba. Tidak. Ada sesuatu yang perlu saya, kami dan kita semua belajar. Apa itu? Adalah ini: kematian mungkin bukan akhir tapi sebuah permulaan.

Sebuah buku yang menarik, jika bukan dahsyat, ditulis oleh oleh seorang Kanada pada tahun 1985 - Vadeboncoeur - dan diberi judul "L'absence. Essai a la Deuixieme Personne". Salah satu bab buku ini berbicara tentang "Kematian yang Ditantang". Di mana letak dahsyatnya buku ini? Begini:

Pada tahun 1973 masyarakat Amerika dan Eropa membaca sebuah buku best seller karangan Becker - The Denial of Death". Dalam buku ini dianalisis panjang lebar tentang bagaimana masyarakat barat berusaha melarikan diri dari masalah kematian. Membicarakan kematian adalah tabu. Berger (1987) menulis bahwa masyarakat Barat melakukan "penipuan diri " terhadap masalah kematian. Bahkan sebenarnya pada abad ke-17 Blaise Pascal sudah menulis bahwa "karena umat manusia tidak berhasil mengatasi kematian, kesengsaraan dan ketidak tahuan, mereka memutuskan untuk tidak memikirkan tentangnya, supaya bisa berbahagia". Apa inti dari untuaian teoritis yang saya kutip di atas? Tidak lain dan tidak bukan adalah....karena kematian adalah misterius dan mendatangkan kesengsaraan maka jangan berpikir tentangnya, JIKA ANDA INGIN BERBAHAGIA.....Dari untaian kata di atas jelas terlihat bahwa:
  1. Kematian adalah kengerian dan sengsara;
  2. Cilakanya, karena anda hidup maka suatu waktu kengerian dan kesengsaraan itu pasti datang.
  3. Membayangkan bahwa anda akan sengsara dan ngeri maka JANGAN BERPIKIR TENTANG KEMATIAN;
  4. Ketika anda tidak berpikir tentang kematian maka ANDA AKAN BERBAHAGIA.
Lalu, bagimana ketika kematian itu datang juga? Ya, tidak ada jalan lain selain berduka. Maka, anda lihat seluruh perangkat sosial dan budaya masyarakat, dimana saja, pada umumnya, memberi label DUKA ketika berhadapan dengan peristiwa kematian. Di Kupang, kerumuman orang yang menghadiri kebaktian pemakaman akan disebut sebagai Sidang Perkabungan. Sidang Duka. Karangan bunga yang dikirim untuk keluarga yang mengalami kematian, di atasnya ditulis kata ...turut berduka cita......Sekarang silakan anda mengumpulkan semua kosa kata yang bertalian dengan peristiwa kematian, hampir pasti selalu berhubungan dengan satu kata itu, yaitu duka. Duka cita. (Kecuali bagi sahabat-sahabat yang berasal dari Kepulauan Alor di NTT, yang memiliki marga Duka - sahabat saya dahulu bernama Eben Duka. Meski demikian saya jarang melihat dia suka berduka karena hobinya adalah: bernyanyi ......ha ha ha ha ha).

Di titik inilah hebatnyanya buku karangan Vadeboncoeur itu. Mengapa? Karena dia menulis bahwa kematian bukanlah kedukaan. Kematian hanyalah "lintasan upacara" menuju suatu perjumpaan hierofani antara dua pihak eksistensi, yaitu eksistensi yang ada sekarang dan eksistensi "ADA" di kekekalan. Eksistensi yang sekarang adalah being yang profan dan eksistensi yang kekal adalah being yang sakral. Bagaimana kedua being tadi bisa terhubung? Satu saja alatnya, yaitu KASIH. Jadi, kematian adalah prosesi pengubahan Kasih, yaitu dari kasih yang bersifat profan menuju kasih yang kudus. Vadeboncoeur mengatakan bahwa prosesi kematian, ditandai oleh adanya pancaran sinar benderang yang tiba-tiba datangnya. Menyergap dan membuang selubung being profan dan digantikan dengan being baru yang sakral. Siapa yang melakukan itu semua? Sesuatu yang disebut sebagai ADA, yaitu Sang Eksistensi yang kekal. Eksistensi yang murni ILAHI. Sekali kamu dipeluk Sang Maha Eksistensi maka tidak ada lagi kematian. Tak ada lagi sedih. Tak perlu lagi berduka.

Masalahnya, kemudian, adalah apakah ungkapan Vadeboncoeur adalah sebuah realitas atau ilusi semata-mata. Maka. Louis Leahy membandingkan tulisan itu dengan hampir dua lusin penulis kenamaan, di antaranya adalah Tolstoi, Dostoevski dan Carl Gustav Jung. Hasilnya, tulisan-tulisan itu sama persis esensinya dengan apa yang dikatakan Vadeboncoeur. Kematian adalah perjumpaan Ilahiat. Leahy juga membandingkannya dengan hasil analisis raksasa psikologi Amerika, Abraham Maslow, yang secara sistematis meneliti tentang peak experiences. Dan di akhir penelitiannya Maslow berkata bahwa "kematian hanyalah suatu proses hierofani". Michel Hulin (1985) yang mengumpulkan pengalaman ratusan orang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, jatuh di gunung dan rupa-rupa bahaya maut lainnya Hasilnya betul-betul paralel dengan tulisan Vadeboncoeur. dan berbagai penulis lainnya.

Pengalaman orang-orang yang pernah "mati tetapi kembali hidup" itu memberi gambaran bahwa ..... ketika mereka berada dalam suatu keadaan yang sangat kritis dan mereka menyadari bahwa bahaya maut tak bisa lagi dihindari, dan oleh karena itu mereka merasa tak perlu berjuang mempertahankan hidup maka mereka akan melewati suatu gerbang cahaya terang benderang. Ketakutan akan hilang dan secara aneh mereka menemukan dirinya tidak mungkin mati lagi. Mereka sekarang bertemu dan bercakap-cakap dengan semua yang mereka kasihi yang dahulu pernah meninggalkan mereka (Hulin menulis bahwa 100% responden terlihat oleh orang lain sedang berkomunikasi dengan "something" lewat aktivitas seperti bercakap-cakap, adanya aliran airmata, dan lain sebagainya. Dan akhirnya, mereka merasa bahwa inti dari diri mereka semata-mata adalah CINTA KASIH. Mengapa? Karena pada saat mereka melewati gerbang cahaya itu mereka merasa total diterima dan disambut oleh Sang MAHA EKSISTENSI YANG TERAMAT PENUH DENGAN CINTA KASIH.

Sebagian orang menduga bahwa pengalaman orang-orang yang menjadi responden Hulin bukanlah pengalaman obyektif melainkan pengalaman yang terjadi di bawah pengaruh neurofisiologis, farmakologis dan psikologis. Namun data Hulin menunjukkan bahwa semua responden tidak sedang berada dalam kondisi-kondisi tadi. Juga ada dugaan bahwa penelitian itu hanya berlaku dalam konteks masayarakat Amerika yang merupkan lokus penelitian Hulin. Tetapi laporan Bemerjo (1987) menunjukan bahwa pengalaman bertemu dengan cahaya terang dan dalam keadaan hierofani ternyata terdapat di segala penjuru dunia berdasarkan data dari India, China, Australia, Rusia, Inggris dan...ahaaa...Indonesia. Jadi, kesimpulan Hulin bahwa kematian adalah permulaan dari suatu perjalanan KASIH abadi tidak tertolakkan lagi. Dengan begitu Vadeboncoeur tidak sedang berilusi.

Woooooooowwwwww.......ketika menulis bagian di atas tanpa terasa sekujur tubuh saya merinding dan sekaligus ......anehnya ........merasa amat berbahagia ........ karena sekarang saya yakin - seyakin-yakinnya - SGT dan Ibunda tidak mungkin mati. Mereka ada dalam eksistensi Cinta Kasih yang Ilahi sesama mereka dan antara mereka dengan Sang Maha Eksistensi itu. Jika begitu maka Kitab Tua sekali lagi benar DIA mengatakan bahwa...mati itu untung bagiku....mengapa? Karena hidup selanjutnya adalah keabadian yang Ilahi. Kematian bukan persoalan. Ternyata.

Itukah pelajarannya? Mungkin ya tetapi bukan itu pamungkasnya. Sebab jika saya berhenti di situ maka saya tak lebih baik dari Almarhum Kurt Cobain, vokalis group Nirvana yang memuja kematian. Dipikirnya, dengan buru-buru mati maka hierofani cepat terjadi. Saya adalah saya yang masih hidup. Jika kematian bukan persoalan maka sudah pasti hidup itulah persoalannya. Realitas persoalan saya sekarang adalah hidup. Kematian itu urusan nanti. Sekarang, saya masih perlu makan. Masih perlu berobat. Masih perlu menghidupi anak dan isteri. Masih perlu merawat persaudaraan. Mengajar di Kampus. Memimpin kebaktian di Rayon sebagai Penatua. Masih banyak hal lagi yang menunjukkan bahwa hidup harus dijalani. Hari lepas hari. Jangan berlari dari hidup seperti juga jangan berpikir bisa menghindari kematian. (ah, teringat posting saya sebelumnya bahwa jika tidak bisa menghindari perubahan maka berdaptasilah. Berdamailah).

Jika benar demikian maka apa? Tulisan di atas mengisyaratkan satu hal penting, terpenting bahkan, yaitu: supaya kematian bukanlah kesengsaraan melainkan perjumpaan antar Eksistensi yang Ilahi maka sepanjang hayat dikandung badan HIDUPLAH DALAM CINTA KASIH. Hiduplah dengan cara mengasihi diri sendiri (rajin, cermat, cerdas, bekerja keras, menjaga kesehatan, hemat dan lain sebagainya). Hiduplah dengan cara mengasihi sesama (perduli, murah hati, panjang sabar, tidak sombong, tidak pemarah, tidak memendam dendam dan lain sebagainya. Hiduplah dengan cara mengasihi Sang Maha Eksistensi (hidup dalam kekudusan).

Saya bersaksi bahwa SGT dan Ibunda sepanjang hayat mereka, meski tidak sempurna sebagai manusia, mereka mempraktekkan hidup dalam kasih sebagai ideal realitas mereka. Tetangga mereka mengatakan begitu. Kolega mereka juga begitu. Ribuan pasien mereka setuju dengan itu, yaitu bahwa SGT dan Ibunda adalah ORANG BAIK. Untuk orang-orang yang mau hidup dalam KASIH pengalaman-pengalaman hierofani akan terjadi. Dalam percakapan sehari-hari kita sering mengatakan bahwa ....eh, mereka seperti sudah tahu bahwa mereka segera akan pergi menuju gerbang cahaya ..... Tak heran jika pada tanggal 30 Desember 2008 di sore hari, Ibunda berbisik kepada saya....bapakmu sudah menjemput saya ..... kau pulang duluan ke Kupang....bersihkan rumah. ....... Dan ketika ajal menjelang, tanggal 2 Januari 2009, adik saya DTN yang masih berada di RS PGI Cikini menyaksikan ...... SGT dengan senyum penuh kasih "menggendong" Ibunda, sahabat hati terkasihnya. Lalu, berdua mereka "terbang" menuju suatu kilatan cahaya. Cahaya apakah gerangan?.....KASIHILAH TUHAN MU. KASIHILAH SESAMAMU SEPERTI DIRIMU SENDIRI.....dan jika itu dilakukan maka gerbang cahaya itu adalah SURGA tempat bersemayam semua yang Ilahi. Sudah barang tentu SANG MAHA ILAHI.

Selamat Berbahagia Robert. Selamat Berbahagia Agustine. Damailah Bersama Sang Maha Ilahi. Doakan kami dari tempatmu berada agar kami mampu menjalankan perintah Sang Maha Kasih untuk hidup dalam KASIH.

Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 25 Januari 2009

ada banyak perang berkecamuk di hati, hari ini. Dan penghiburan itu dikirim lewat Dolly Parton

Dear sahabat blogger,

Saya tidak sanggup memposting sesuatu yang baru karena ...entahlah......ada yang mengganggu pikiran saya amat sangat, hari ini. Sejak subuh. Tapi menjelang sore, saya iseng membuka situs you tube untuk mencari-cari hiburan. Dan bertemu saya dengan sebuah lagu. Saya mulai mendengarkannya. Saya berdoa. Dan....thanx God......selalu ada penghiburan dari YANG DI ATAS JIKA KAMU MENCARINYA.....

Cuma itu dulu. Saat ini.

(silakan click judul lagu di bawah ini untuk bisa menikmati PENGHIBURAN yang dikirim TUHAN bagi saya hari ini)

Dolly Parton - Jesus & Gravity www.youtube.com

I'm to the point where it don't add up
I can't say I've come this far with my guitar on pure dumb luck
That's not to say I know it all
Cause everytime I get too high up on my horse I fall

Cause I've got
Somethin' lifting me up
Somethin' holding me down
Somethin' to give me wings and keep my feet on the ground
I've got all I need
Jesus and gravity

But I'm as bad as anyone
Taking all these blessings in my life for granted one by one
When I start to thinkin' it's all me
Well somethin' comes along and knocks me right back on my knees
And I've got...

Somethin' lifting me up
Somethin' holding me down
Somethin' to give me wings and keep my feet on the ground
I've got all I need, Jesus and gravity

He's my friend
He's my light
He's my wings
He's my flight

I've got somethin' lifting me up
Somethin' holding me down
Somethin' to give me wings and
Somethin' to keep my feet on the ground
I've got all I'm gonna need
I got Jesus, I got Jesus,

I got somethin' lifting me up
Somethin' holding me down
Somethin' to give me wings and keep my feet on the ground
I've got all I'll ever need
Cause I got Jesus and gravity

I got somethin' lifting me up
Somethin' holding me down
Somethin' to give me wings and keep my feet on the ground
I've got all I'll need
Cause I've got Jesus and gravity
Jesus, I've got Jesus, I've got Jesus
He's my everything
He lifts me up
He gives me wings
He gives me hope
And He gives me strength
And that's all I'll ever need

As long as He keeps lifting me up
He is my life
He is my God
He is my wings
He is my flight
Lift me
I've got Jesus, I've got Jesus
And that's all I need


Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 19 Januari 2009

berjalanlah terus meski takut

Dear sahabat blogger,

Di tengah kesibukan, saya berusaha menyempatkan diri memposting sesuatu. Mengapa? Oh, sangat simpel sahabat. Saya takut disebut sebagai pembohong. "Orang banyak mohong" kata Gabby keponakan saya nan lucu dan cerewet.
  • Lah, memangnya kenapa kalau dikatakan sebagai pembohong?
  • Nggak apa-apa juga sih...cuma saya kuatir....tir tir tir ...... dengan begitu saya akan mendapat cap baru, yaitu sebagai manusia yang berani malu. Nekad ketawa-ketiwi di depan blog padahal sudah membohongi sahabat blogger.
  • Lho lho lho lho........ini yang bener yang mana? takut atau berani? Atau takut tapi berani. Atau berani-berani takut......
  • wiiiiuuuuiihhhhh.....ribet dah.....

Ada apa dengan takut, berani, takut-takut berani dan seterusnya itu? Baiklah, saya memulainya dari yang satu ini

Semalam saya membaca sebuah buku yang amat bagus yang berjudul "menguak fakta, menata karya nyata" yang sebenarnya merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh 3 orang, yaitu Pdt. Dr. Rijnardus A. Van Kooij (UKDW, Jogjakarta), Pdt. Sri Agus Patnaningsih, M.Th (Pendeta Jemaat GKI Ressud, Surabaya) dan seorang jemaat awam, yaitu Yam'ah Tsalata A., SIP. Buku ini berisikan uraian tentang model-model pembangunan Jemaat dengan menggunakan metode perencanaan yang baik. Tentang hal ini saya tidak akan menuliskannya di sini. Tetapi ada hal lain yang menarik yang membuat saya memutuskan untuk siang ini juga melakukan. Eurekaaaaa. Saya menemukan bahan posting.

Apa bahan itu? ini. Sekumpulan data dari sejumlah 2600-an responden, yang berasal dari seluruh Indonesia. Ada aneka pertanyaan dan juga terdapat aneka ragam jawaban. Di antaranya adalah ini:
  • Apakah anda pernah merasa kesepian di tengah keramaian? 42,7% menyatakan tidak pernah tetapi 57,3% menyatakan selalu, sangat sering, cukup sering, kadang-kadang dan pernah;
  • Apakah anda pernah merasa takut dalam hidup ini? 26,4% menyatakan tidak pernah tetapi 74,6% menyatakan selalu, sangat sering, cukup sering, kadang-kadang dan pernah.
  • Apakah anda merasa asing dengan budaya moderen? hanya 33,9% yang menyatakan tidak pernah. Mayoritas, 66,1%, mengatakan merasa asing.

Apa yang dapat saya simpulkan dari data di atas? Dengan mengabaikan bagaimana tingkat keterujian signifikansi statistiknya, maka adalah ini: di jaman milenium 3 ini, ternyata, masih terdapat mayoritas orang dari sekumpulan populasi yang merasa teralienasi dalam dunia nyata . Bukan hanya merasa teralienasi tetapi juga takut untuk hidup di dalamnya? Benarkah? mari kita verifikasi dengan data lainnya:
  • 82% responden meninggalkan rumah di bawah 5 jam/hari dan di antara 6-10 jam/hari;
  • 97% hidup bersama keluarga. Hanya 1,3% yang hidup seorang diri;
  • 62,0% responden bekerja dalam radius 01 - 5 km dari rumah;

Lihatlah sekarang, mayoritas responden ternyata adalah orang yang lebih suka tinggal bersama keluarga, bekerja dekat-dekat rumah dan sebisa-bisanya cepat-cepat kembali ke rumah. Nah lo.....ternyata memang keterasingan dari dunia ramai (alienasi) dan takut menghadapi hidup masih sangat dominan. Maka, selamat bagi saudara-saudara saya yang jauh-jauh merantau ke Jawa dan, bahkan ke luar negeri. Anda semua adalah pemberani. Sementara saya, yang tinggal dekat keluarga besar, bekerja dekat-dekat rumah, dan selalu ingin cepat kembali ke rumah adalah manusia penakut. Ada beberapa cara untuk menolak logika ini tetapi saya tidak ingin melakukannya sekali ini. Mengapa? Sebab, ini mungkin merupakan penjelasan paling masuk akal bahwa saya adalah anak yang "paling terpukul" dengan kembali pulangnya SGT dan Ibunda ke Rumah Bapa di Surga.

Apa arti semua ini? Saya sebenarnya masih berbicara tentang makna hidup di dunia yang merupakan tempat mampir minum ini. Louis Leahy (1989) menyatakan begini "terhadap pertanyaan apa tujuan manusia hidup di dunia ini ada 3 jawaban pilihan di mana setiap orang dipaksa untuk memilih satu di antaranya. Tidak boleh mendua karena ketika anda memilih salah satu maka dua yang lainnya akan tertolak". Apa jawaban yang disediakan oleh Leahy itu?
  • Saya hidup mengikuti seluruh tuntutan kehidupan. Apa saja yang ditawarkan hidup, diterima saja apa adanya. Jangan ditolak. Jangan dipilah. Que sera-sera, What ever will be will be. Carpe Diem. Jangan takut. Hidup mengalir seperti air. Ikuti saja. Jadilah pemberani. Jadilah makhluk bebas yang tak tertundukkan oleh apapun juga sekalipun itu adalah hal-hal ideal dan ilahi. Mengapa demikian? Karena hal-hal ideal adalah penindas kebebasan. Hidup tidak memerlukan pakem tertentu sebab sang pakem akan menerjang balik kebebasan. Prinsip ini disebut sebagai penegasan hidup. Nietszche adalah salah seorang penganjur makna hidup tipe ini. Karena itu dia menyerukan....mari membunuh tuhan karena tuhan mengekang kebebasan menikmati hidup apa adanya. Sikap ini umumnya dipandang sebagai sikap hidup. yang berani. Jalani hidup sebagai suatu hak tanpa perlu dibebani kewajiban Ketika Ibunda dan Ayahanda pergi ke seberang sana, jangan tunduk kepada rasa pedih. Tertawa saja sesukanya karena kesedihan adalah penindas kebebasan. Tertawa saja meski orang lain datang melayat dan menangis. Anda terlihat aneh karena jauh dari kepatutan norma sosial? Ah, preketek. Apakah sikap semacam ini mutlak benar? Sayangnya tidak karena hidup pada dasarnya terbatas. Dapatkah kita makan terus menerus tanpa berhenti? Hidup semacam ini sepintas terlihat berani tetapi sebenarnya takut menghadapi fakta. Lalu, hidup dengan menipu diri sendiri.
  • Hidup adalah terbatas oleh karena itu tolaklah semua gagasan tentang hal yang ideal. Mengapa? Karena kita manusia sangat terbatas dan jangan mau cari perkara dengan hal-hal ideal karena dia akan memperbudakmu seumur-umur. Tuhan adalah gagasan yang ideal oleh karena itu, jauhkan diri dari padanya. Jangan turuti kemauannya karena kebebasanmu akan terenggut oleh tuntutan-tuntuan Sang Ideal itu. Kita yang terbatas ini seharusnya bertuankan diri sendiri. Di sinilah letak ironinya pemaknaan hidup cara ini yang disebut sebagai eksistensi yang memberontak. Di satu pihak mengakui adanya keterbatasan dirnya sendiri tetapi di lain pihak menganggap dirninya, yang terbatas itu, dijadikan tuan atas dirinya sendiri. Ideal yang ditoka itu ternyata ada juga, yaitu dirinya sendiri. Manusia-manusia seperti ini adalah golongan peziarah di tempat mampir minum yang egois. Menyadari bahwa dirinya terbatas maka segala sumberdaya apa yang bisa ditelan akan disikat semuanya. Sendirian. Tak perlu berbagi karena akan mengurangi jatah sumberdaya untuk diri sendiri. Lagian, bukankah sah bahwa seorang tuan harus rules everything. Ibunda dan Ayahanda yang meninggal harap menguburkan dirimu sendiri karena saya terlalu sibuk untuk diri sendiri. Apakah sikap hidup yang anti sosial ini adalah pemaknaan hidup yang baik? Dalam posting terdahulu saya menyebutkan ”yang tidak menangis tak punya hati”. Orang-orang tipe ini terlihat berani karena terus memberontak kepada hal-hal ideal tapi sayangnya mereka terlalu takut menghadapi masa depan. Takut tak punya apa-apa di masa depan. Takut tidak punya uang. Takut tidak punya mobil bagus. Takut tak memiliki rumah megah. Terlihat berani tetapi sesunguhnya penakut.
  • Hidup adalah bebas mengalir mengikuti arus. Tetapi sebagai makhluk tidak sempurna saya memiliki batas-batas daya serap seluruh fakta hidup. Mengatasi keterbatasan itu maka saya perlu bekerja keras meski terasa melelahkan dan menyakitkan. Saya harus mau berbagi ruang dengan orang lain karena tanpa dia saya tak punya apa-apa selain diri saya sendiri. Pemaknaan hidup seperti ini menuntut kesadaran yang terus menerus akan kondisi dan keadaan. Bekerjalah sekeras-kerasnya agar hidup tetapi katakan tidak kepada dirimu sendiri ketika hal itu berarti memakan habis hak orang lain. Hidup harus memilih dan memilah. Kapan bekerja. Kapan beristirahat. Kapan serius dan kapan bersantai. Kapan sendirian kapan kita memerlukan teman. Kapan lantang berteriak dan kapan berdiam diri. Dengan bersantai mungkin kita kehilangan kesempatan mengumpul sumberdaya sebesar-besarnya tetapi dengan begkti kita mengistirahatkan badan dan pikiran kita. Dengan berteman mungkin ada privacy yang terganggu tetapi kita memiliki relasi-relasi baru. Pilihan pemaknaan hidup ini adalah pilihan yang terlihat berani dalam takut. Sikap ini adalah berani dalam ketakutan. Takut dalam keberaniannya. Memang betul saya kuatir berbicara dengan si Achmad karena kita berbeda tetapi karena dia adalah teman sekampus saya maka saya tak punya pilihan lain selain harus berbicara dengan dia. Saya berani berbicara lantang tentang hak azasi manusia tetapi saya takut melanggar aturan. Sikap ini adalah sikap hidup yang paling berani, yaitu meski takut tetapi berani terus bekerja. Untuk kebaikan.

Dear sahabat blogger, tentang apa semua ini? Omong kosong besar saya di atas hanya untuk mengatakan bahwa memang menakutkan mengawali tahun 2009 yang serba tidak pasti. Ketika akan memulainya saya sudah harus bertemu dengan fakta bahwa saya sekarang yatim piatu. Bagaimana saya harus mengarahkan perahu hidup saya ketika rekan seperahu saya berkurang 1-2 individu? Baru saja akan memulai tahun 2009 dengan riang gembira, kebebasan saya sudah terenggut oleh banyaknya deretan tugas yang menanti di depan. Saya takut berjalan sendiri. Saya sungguh takut jika kebebasan saya diambil. Jadi bagaimana? Apa ada pilihan lain? Tampaknya tidak.

Tak ada jalan lain, saya harus terus berjalan meski takut. Saya harus terus berjalan dengan penuh keyakinan bahwa meskipun saya terbatas dan tidak sempurna, saya sesungguhnya tidak sendirian. Ada banyak saudara. Cukup banyak sahabat. Dan .....heiiiiii......ada sesuatu dari luar sana yang menyapa saya ......mungkin DIA, Sang Maha Ideal, sedang berbisik melalui angin yang berhembus......."AKU tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. AKU datang kembali kepadamu".......

Maka, ......tu ....wa .....ga .....'mpat.....langkah harus terus diayun......terus bergerak......terus berjalan......terus dan terus......... di negeri tempat mampir minum ini. Kemana? ya, kemana saja Sang Maha Ideal itu menghendaki saya pergi melangkah.

Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 11 Januari 2009

di tempat kami mampir minum ini, sekarang: kami yatim piatu. haruskah begitu?

Dear sahabat blogger,

Delapan bulan lalu. Lebih 1 minggu. Ayahanda saya, SGT, "pergi". Dia berangkat begitu saja meninggalkan kami semua. Atas ijin Allah, dia berpelukan dengan malam. Tanpa sakit. Tanpa keluhan. Tanpa pesan. Kami terguncang. Kami bersedih. "Kaki tumpuan kami tinggal sebelah". Oleh karenanya kami berusaha merawat yang tinggal satu itu dengan hal terbaik yang bisa kami lakukan. Bahagialah mama. Bahagialah.

Tetapi seiring datangnya sang Fajar tahun baru 2009, Ibunda ternyata tak mampu lagi menahan keinginan hatinya. Dia rindu untuk segera berkumpul kembali dengan belahan jiwanya. Dan, Allah mengijinkannya. Pagi itu di pukul 8.42 WIB, Ibunda pergi juga. Berhenti sudah sakit. Tak perlu lagi menderita. Tinggal kami yang menangis (bagi yang tak menangis adalah mereka yang tak punya perasaan).Tinggalah kami sendirian di sini. Tak ada lagi bapak. Ibupun pergi. Ya, kami Yatim-Piatu. Kata yang biasa kami dengar tetapi ketika merasakannya sendiri, amat pedih ternyata. Semua sayap kami patah sudah. Menangislah badan. Merataplah jiwa.

Salah satu falsafah hidup orang Jawa berbunyi begini, "sejatine urip iku mung mampir ngombe". Setiap orang pada dasarnya selalu berada dalam suatu kisah panjang tentang perjalanan. Hidup, hanyalah salah satu episode singkat di dalam perarakan panjang itu, yaitu mampir minum. Waktu yang singkat tapi menentukan. Tanpa minum, perjalanan akan terhenti. Untuk apa perjalanan itu dilakukan? De Finance (1980) menulis bahwa manusia adalah Citoyen de Deux Mondes (warga dua dunia). Manusia adalah petualang mencari kesempurnaan tetapi senyatanya dia tak pernah menemukan kesempurnaan itu. Manusia tak pernah selesai. Dialah yang "diselesaikan" oleh kematian. Itulah dua dunia. Dua kutub.

Lalu, apa makna hidup jikalau begitu? Seorang pesimis mengatakan bahwa "untuk apa mendaki gunung jika pada waktunya harus turun kembali". Tak jelas benar apakah lalu sang pesimis juga bertindak dengan melakukan "untuk apa makan kalau pada akhirnya lapar kembali". Jika begitu maka pertanyaannya adalah apa makna perjalanan manusia itu?

Setelah mampir minum, kemana harus pergi?
Setelah mati, lalu apa?
Adakah kematian adalah akhir segalanya?

Saya ingin menemukan jawabannya tetapi jawaban apa yang dapat ditemukan tatkala air mata menggenang di pipi? Jawaban mana yang bisa ditemukan oleh pikiran yang dikuasai kesedihan. Maka, saat ini, saya berhenti. Dilanjutkan nanti.

Atau, .......... dapatkah anda, wahai sahabat blogger terkasih nan bijak bestari, membantu menemukan jawaban yang saya cari itu?

Tabe Tuan Tabe Puan

Sabtu, 01 November 2008

Sabartinah nama Ibunda. Tidak seharusnya saya kehilangan sabar

Dear sahabat blogger.


Selamat bulan baru. Sudah November. Sebulan lagi Desmber. Dua bulan lagi saya, anda dan kita semua akan punya tahun yang baru. Woooiiiii......heeeehhhh.....waktu berlalu. Sangat cepat. Amat cepat. Hidup dalam waktu yang terasa bergerak begitu cepat, ternyata menjadi beban berat bagi saya. Banyak hal, bahkan semua hal, serasa datang secepat badai tornado melintas .......wuuuzzzzz.....wwwwuuuuusssszzzzzzz.......menyapu hampir semua sisa daya tahan dan....minggu ini adalah minggu yang teramat berat bagi saya.


Saya memulai minggu dengan menggenggam "makian" entah dari siapa tetapi menghujani HP saya nyaris tanpa henti. Entah apa salah saya. Beban tugas memberikan bahan kuliah datang bertubi-tubi karena beberapa teman yang seharusnya bertugas, absen begitu saja tanpa pesan. Beberapa tugas laporan penelitian harus segera diselesaikan dan saya merasa seolah sendirian mengerjakan tugas-tugas itu. Ada kabar kurang menyenangkan dari Norman di Jogja. Kondisi Ibunda saya up and down. Seorang keponakan jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit sementara saya "terbelenggu" tugas dan deal sehingga nyaris tidak dapat memberikan perhatian seperti yang seharusnya. Dalam seminar dan workhsop pengurangan resiko bencana di mana seharusnya saya hadir hanya sebagai peserta, tiba-tiba dipaksa berubah peran menjadi seseorang dengan beban tugas bambahan, bahkan ketika "tamu-tamu" lain telah nyenyak tidur di rumah masing-masing. Tugas pembuatan renstra sebuah institusi seolah-olah menjadi beban saya sendirian. Ruang hidup saya dalam minggu ini adalah ruang kemudi mobil dan ruang kerja. Saya berpendar ke sana dan kemari. Rumah bagi saya, dalam minggu ini, hanya menjadi semacam wisma tempat tidur di tengah malam. Dan dua hari terakhir, kondisi kesehatan saya drop. Tangan dan kaki bagian kiri amat sulit digerakan dan karena terpaksa harus terus bekerja maka saya harus menahan sakit yang termat sangat setiap bergerak.....wwwaaaaauuuuu.........

Dan dalam tekanan berat seperti itu, saya kehilangan kesabaran. Saya menjadi pemarah. Amat pemarah. Kata-kata kasar dan sergahan nan gahar mudah terlontar dari mulut saya. Saya menjadi amat sinis. Semua orang serasa musuh bagi saya. Dan, malam ini , ketika saya nyaris tak punya keinginan melakukan apapun selain mengkonsumsi obat tidur, sebuah buku lama saya baca kembali. Buku itu berjudul:
Jesus the Son of Man. Dan di dalamnya terdapat sebuah puisi yang amat bagus. Membaca puisi ini, saya yang tadinya nyaris kehilangan kendali diri, kembali teringat bahwa Ibunda saya bernama Sabartinah. Sesuai namannya, Beliau terkenal kesabarannya. Saya belum mau kehilangan sabar. Dan saya berharap semua sahabat lain jangan mudah hilang kesabaran karena akan terasa sangat buruk. Maafkan saya karena tidak punya posting bahagia yang saya bagikan kepada sahabat semua. Hanya keluh kesah. Maafkan saya. Ce'est La Vie. Itulah hidup. Tapi memang Tuhan Tidak Tidur. Malam ini disodorkan kepada saya sebuah puisi yang berjudul Yesus yang Tidak Sabar. Saya membaca dan mendapatkan hikmah di dalamnya. Bagaimana dengan anda?


Yesus yang Tidak Sabar
(Khalil Gibran)

Yesus sabar terhadap orang bodoh dan dungu,

laksana musim dingin menantikan musim bungan

Ia sabar laksana gunung diterpa angin.

Ia menjawab dengan ramah pertanyaan-pertanyaan kasar dari musuh-musuh-Nya.

Ia malah bisa berdiam diri terhadap umpatan dan pertengkaran,
karena Dia orang kuat dan orang kuat tahu menahan diri.


Tapi Yesus juga tidak sabar.

Ia tidak memaafkan seorang munafik.

Ia tidak membiarkan orang-orang licik dan pemutar balik kenyataan.

dan amarah-Nya tak dapat ditahan.

Ia tidak sabar terhadap orang yang enggan percaya akan terang sebab mereka berada dalam kegelapan,
terhadap orang yang lebih suka mencari tanda-tanda di langit daripada dalam hatinya sendiri.

Ia tidak sabar terhadap orang yang menakar dan mengukur siang dan malam
sebelum mereka mempercayakan impiannya kepada fajar atau senja.


Yesus seorang yang sabar

Namun Dialah manusia yang paling tidak sabar.

Ia ingin engkau menenun kain biarpun kauhabiskan waktu bertahun-tahun dalam alat tenunmu.

Tetapi ia tidak mau seseorang mencabut sehelai benang pun dari tenunan itu.


Tabe Tuan Tabe Puan