Jumat, 24 Juli 2009

biarkan cinta itu mengalir

Dear Sahabat Blogger,

Satu dua waktu terakhir ini adalah waktu-waktu yang sangat melelahkan. Kerja ini dan itu. Bepergian ke sana, ke situ dan ke sini. Tak cukup waktu untuk mengistirahatkan pikiran guna bersenang-senang kendati sempat bepergian ke Tuamese yang indah. Bahkan 3 kali kembola-kembali ke Bali dalam tempo 2 minggu. Dua kali menginap persis di tepi pantai Sanur dan 1 kali menginap di Hotel Mercure tepat di tepian pantai Kuta. Dua pantai yang legendaris dan banyak orang. Ada yang putih nyaris tak berbaju. Ada pula yang kuning, hitam dan coklat. Tumpah ruah orang mencari kesenangan. Dan saya harus sibuk terus bekerja demi serupiah dua. Tidak banyak tetapi perlu untuk menghidupkan nyala kompor di dapur. ..... ooooo laaaa laaaa.... saya merasa teralienasi di tengah kebahagiaan banyak orang.

Di tengah kepungan kelelahan tiba-tiba ..."bbbuuummmm" ... Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton di Jakarta meledak. Tepatnya diledakan. Waaaaooooo....kegilaan itu masih ada tak mau pergi juga. Apakah ada kebaikkan yang ditegakan atas dasar ketidakbaikkan? Bolehkah kebahagiaan didirikan di atas genangan darah dan air mata sesama? Situasi kesedihan itu ternyata dibikin lebih runyam oleh adanya perdebatan yang sungguh tidak perlu. Perdebatan kusir di kalangan para "dewa-dewa" timbul akibat pernyataan SBY dan komapanyon-nya yang, .... alaamaaaakkk. ... ternyata tidak punya cukup roti sebagaimana yang pernah dibuat oleh Aristoteles (bukan tidak ada tetapi mungkin tidak cukup banyak untuk dibagikan). Betap tidak, di tengah tuntutan untuk bersatu, malahan SBY melakukan pemilahan anak bangsa hanya atas dasar info yang sungguh masih mentah. Jelas-jelas dalam pidatonya dikatakan bahwa ada yang ingin menduduki KPU, ada yang ingin berdemo, ada yang ingin menggalkan pelantikan dirinya ebagai Presiden. Howcome my Presidente????? Ledakan bom adalah fakta. Info tentang ketidak terimaan atas hasil pilpres mungikin juga fakta tetapi apa hubungannya? Memaklumkan sesuatu yang masih sumir di tengah keterkejutan dan kesedihan bangsa adalah sungguh keterlaluan. Apalagi ternyata data-data yang dijadikan dasar adalah data-data usang dan data-data yang masih harus diuji. Berkatalah Andi Malarangeng..."heeiiii semua harus dibuka dan diuji" ... "mengapa harus dilarang ini dan itu????". Baiklah pak Andi tetapi jika begitu logika berpikirnya maka mengapa jenis kemungkinan dibatasi hanya yang berkaitan dengan pilpres? Mengapa tidak semua kemungkinan dibuka di atas meja?

Dan tiba-tiba horor berganti menjadi humor ketika SBY berpesan....."hei ada yang memelintir ucapan saya"...."periksa baik-baik pidato saya"...dan saya memeriksanya, persis seperti kata SBY, yaitu kata demi kata.....Seumpama kata: pada bagian tertentu SBY betul dan tepat sekali ketika kutipan itu berbunyi "2 x 2 = 4". Anehnya beliau melupakan atau sengaja melupakan bahwa di bagian lain pidatonya ada yang berbunyi "2 x 2 = 16".....Enggan bertanggung jawab? Entahlah. Satu hal yang pasti adalah beliau dan CS-nya masih harus bekerja keras untuk memperbesar roti-roti Aristoteles. Tak ada kebaikan di balik kesombongan. Tak mungkin ada kebersamaan di balik pengucilan. Tidak ada keteladanan di balik ketergesaan dan kekurang hati-hatian.

Demikianlah, wahai sahabatku, waktu belakangan ini adalah waktu-waktu yang melelahkan secara fisik dan juga pikiran. Demikian buruk-kah hari-hari ini? Ya tidak juga. Seperti yang saya yakini bahwa setiap terbit matahari selalu ada kuantum energi yang dipancarkan. Dan di setiap kuantum energi itu selalu ada peluang untuk menjadi ini dan itu. Ada peluang bagi ketidakbaikkan tetapi selalu ada peluang untuk kebaikan. Maka, jangan kalah dengan kepicikan dan kesombongan. Lakukanlah sesuatu yang jauh lebih baik dari itu, yaitu nyalakan cinta kasihmu. Lalu, biarkan cinta itu bergelora dan bergerak bagai berkas gelombang energi kuantum dalam radiasi sinar surya. Biarkan pula cinta kasih itu bergerak seperti arus sungai yang mengalir jernih dan menghidupkan. Hidup saya, dan pasti anda semua, adalah saksi dari kuatnya gelombang cinta kasih itu. Tepat hari begini di 46 tahun yang lampau SGT dan kekasihnya menghadirkan saya dalam aliran kasih mereka berdua. Hari ini saya ada di sini untuk juga berusaha menyebarkan cinta kasih semacam itu. Ada banyak cinta kasih yang sudah saya peroleh dari SGT, ayahanda saya, dan kekasih hatinya, Ibunda saya. Itu adalah kekayaan saya. Dan tugas saya adalah membagikan kekayaan itu. Tak selalu berhasil memang tetapi jangan kalah karena kegagalan. Gagal adalah fakta tetapi bangkit kembali dan berjuang adalah juga fakta lainnya. Maka, Mengalirlah Cinta. Mengalirlah Kasih. Hanyutkan kesedihan dan kegundahan. Mengalirlah penuhi hati. Mengalirlah genangi jiwa. Tuhan Memberkati!!!

Senin, 13 Juli 2009

kami perlu 3 roti, pinjamkanlah

Dear Sahabat Blogger,
"If any of you has a friend, and goes to him in the middle of a the night and says, 'Lend me three loaves, my dear fellow,"
Agak berbeda dari posting-posting sebelumnya, saya memulainya kali ini dengan memberikan sebuah kutipan bagi sahabat budiman sekalian. Bagi saya, suasana yang ada di dalam kutipan itu terasa aneh. Amat aneh. Bayangkan saudaraku, di tengah malam ketika saya, anda dan kita semua sedang menikmati lelapnya tidur, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan, mungkin lebih dari 1 buah ketukan lagipula keras dan berdentam, ...tok tok tok....TOK TOK TOOOKKK.....terganggukah tidur anda? Hampir pasti ya. Tak percaya saya jika anda mengatakan "tidak". Belum hilang rasa dongkol tagal ketukan itu, saya jamin anda akan semakin kesal mendengar maksud ketukan itu. Betapa tidak jika yang terdengar adalah..."pinjamkanlah 3 roti bagi saya"...alaaaaamaaaaakkkkkk....."roti kau bilang????" ... "lha guwa makannya lalu apa?" ..."3 lagi mintanya".... "enak ajaaaahhhh".....

Begitulah sahabat sekalian, tak jarang dalam hidup kita, ketika situasi sedang tidak mengenakkan, datang sebuah atau beberapa buah ketukan permintaan tolong....."pinjamkanlah roti"..... Marah to. Kesal to. Dongkol to....arrrggghhhh.....brrrrrrrr......tak tahu malu amat si lu.....tengah malam minjam...ahaaaaa....sayapun harus sampai menggunakan 2 alinea untuk menuliskan ketidak nyamanan situasi ketika permintaan tolong itu datang. Lihatlah acara reality show di stasiun TV swasta kita, yaitu acara "minta tolong".....betapa kurang sukannya orang-orang itu yang di tengah jalan, sedang berjualan, sedang panas-panasan menunggu kendaraan, sedang pusing mikirin isteri sakit tetapi kok ada yang minta tolong......wwwwwwrrrhhhh.....tak tahu malu si peminta tolong itu.......sssttttttt...cukup di sini saja dahulu kegeraman saya untuk situasi yang tidak nyaman itu. Tetapi ijinkan saya mengajukan 2 pertanyaan ini:
  1. Siapakah kita yang tidak pernah menerima permintaan tolong dalam situasi "tengah malam"?
  2. Siapakah kita yang tidak pernah meminta tolong?
Pemilu Presiden baru saja lewat. Hasil perhitungan cepat menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memilih untuk "melanjutkan" hidup berbangsa dan bernegara di dalam perahu NKRI yang dinakhodai leh SBY-Boediono. Dengan mengabaikan barang sedikit tentang perasaan suka-tidak suka, kerumitan kerja KPU yang tak beres-beres, protes-protes dari psangan yang kalah, maka tak ada pilihan lain bagi kita, temasuk saya, selain mengucapkan "selamat terpilih" bagi SBY-Berboedi. Silakan merancang cara terbaik untuk mengemudikan perahu NKRI milik kita bersama dalam mengarungi ganasnya perikehidupan berbangsa dan bernegara sampai 5 tahun ke depan. Sekali lagi selamat. Tetapi untuk anda berdua tolong dengarkan kami, yaitu rahayat jelata di negeri ribuan pulau ini, kendati hari masih gelap dan belum lagi subuh, pinjamkan kepada kami 3 buah roti. Roti-roti apakah saja itu?

Kami perlu 3 roti seperti yang pernah dibuat oleh Aristoteles 2400 tahun yang lalu. Roti-roti itu adalah roti kenikmatan, roti politik dan roti filsafat. Apa pula itu? Begini.

Menyambung tulisan saya kali lalu tentang tujuan hidup, Aristoteles mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengejar kebahagiaan. Saya setuju. Kawan-kawan juga tampak setuju, Tetapi masalahnya adalah hidup macam apa? Sikap hidup macam mana? Aristoteles mengajukan 3 perkara, yaitu mengejar kenikmatan, berpolitik dan berfilsafat. Menerangkan maksudnya yang pertama, Aristoteles mengingatkan bahwa jangan terjebak kepada asal mengejar kenikmatan dan menjauhi rasa sakit semata karena jika demikian harafiah anda memaham maka hidup demikian adalah cara hidup seekor kambing. Cara hidup binatang. Kambing hanya tahu berkelana, makan, minum, buang air, mengembik, kawin, tidur, bangun dan begitulah seterusnya. Hanya itu. Cuma itu. Betapa memalukannya. Oleh karena itu, yang seharusnya dicari adalah hidup yang berasa nikmat karena berbuat baik dan berasa sakit ketika berbuat kejahatan. Itulah roti Aristoteles yang pertama. Selanjutnya, supaya anda dapat disebut berbahagia maka berpolitiklah anda, yaitu kejarlah kebaikan secara bersama-sama. Maka, anda memerlukan kerja untuk bernegosiasi, bersepakat, dan bersepaham. Bekerjalah dan bersahabatlah dengan hidup demi kebaikan. Itulah roti kedua warisan Arstoteles. Dan, roti ketiga Aristoteles adalah berfilsafatlah karena dengan itu anda akan terus menerus mengembangkan diri supaya semakin hari semakin bijaksana. Anda gemar mencari kebaikan, anda rajin mengembangkan kebaikan dan ahaaa ... andapun akan menjadi tauladan. Itulah roti merek Aristoteles, yaitu kebaikan, persahabatan dan kasih sayang. Maka, wahai SBY-Boediono berikanlah, eh pinjamkanlah kami 3 roti itu. Punyakah kalian?

Baiklah jikalau roti-roti Aristoteles itu tidak anda punyai maka punyakah anda 3 roti lainnya? Roti apakah itu? Ini: roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Apa pula ini?

Seorang Teolog besar, sebut saja sebagai mister Paul dari Tarsus, pernah mengatakan bahwa ada 3 roti paling penting bagi manusia, yaitu roti kepercayaan, roti keyakinan dan roti cinta kasih. Tetapi ingatlah, katanya, jika anda punya 1 saja dari antara ketiganya maka anda akan berbahagia karena roti yang 1 itu adalah yang terbesar, ternikmat, tergurih dan paling bergizi, yaitu roti cinta kasih. Roti kepercayaan adalah bagaimana saya dapat mengandalkan seseorang guna menolong saya ketika saya memerlukan pertolongan. Roti keyakinan adalah bagaimana saya dapat begitu optimis dalam harapan saya bahwa anda yang saya andalkan itu betul-betul dapat menolong saya ketika saya membutuhkannya. Akhirnya adalah roti cinta kasih, yaitu bahwa percaya dan berharap adalah satu perkara tetapi dapatkah anda yang saya percayai dan saya harapkan itu mau bertindak karena anda mencinta saya. Jangan-jangan bagi anda saya hanyalah sekedar angka, yaitu 60% rakyat yang memilih anda sebagai pemimpin saya. Lebih celaka lagi jika bagi anda saya adalah orang yang berada di luar 60% itu. Jangan-jangan bagi anda saya cuma 1 di antara 230 juta orang Indonesia. Atau malah, bagi anda, saya hanya sekedar angka 1. Tak lebih dan tak kurang yang kehadirannya dapat dianggap nol (0). Tak ada apa-apanya. Jika demikian maka tak ada gunanya sama sekali saya punya dua roti, yaitu kepercayaan dan harapan karena roti ketiga, yaitu cinta kasih dari anda,tak saya miliki. Tanpa punya cinta kasih maka sama artinya dengan tidak punya apa-apa. Percaya adalah kepercayaan yang hampa. Harapan adalah harapan yang kosong. Wahai Bung SBY-Boediono, punyakah anda ketiga roti itu? Jika ada, tolong berikanlah, eh pinjamkanlah, kepada saya. Saya sangat membutuhkannya sekarang.

Begitulah sahabat blogger terkasih. Roti-roti yang saya perlukan dalam hidup saya. Mungkinkah anda juga memerlukan roti-roti itu? Ya pasti. Paling kurang begitulah menurut Aristoteles dan Paul Van Tarsus karena roti-roti itu adalah roti bagi jiwa. Roti bagi hidup. Roti bagi semangat. Roti bagi badan. Bisakah badan anda berasa sehat tanpa kasih sayang? Jika jawaban anda adalah "tidak" maka ijinkan saya kasi tahu ya...itulah sebabnya kita semua memerlukan roti-roti itu...itulah sebabnya, saking butuhnya orang-orang akan roti-roti itu maka kendati "di tengah malam-pun" pintu kita akan berbunyi diketuk berulang-ulang dan terdengar suara meratap...pinjamkan 3 roti Bung.... 3 roti saja Soezs...

Maka, sekali lagi. Adakah roti-roti itu pada SBY-Berboedi? Adakah roti-roti itu pada anda semua wahai sahabat blogger terkasih? Apa? Anda semuanya juga, sama seperti saya, sedang berburu roti yang sama?.... walaaaaahhhhh....ya sudah saya tahu kemana saya, dan sahabat saya semua di blog ini harus mencarinya, yaitu kepada sumbernya. Siapa DIA? Sang Khalik.
Ya, Khalik-ku terkasih, di tengah malam pekat ini, sudikah meminjamkan 3 ketul roti milik-MU kepada kami?
Sambil menunggu jawaban Sang Khalik, yang kadang tampak diam bak Megawati, maka mari kita menghibur diri dengan sebuah lagu yang dibikin oleh Iwan Fals yang di masa ORBA pernah meminta roti kepada penguasa, yaitu roti "pesawat tempur". Bagaimana rasanya? Asiiiiiiiiiiik toooooooooooo uuueenak tooooooooo haaaaaaa haaaaaaaaaaaa haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 05 Juli 2009

inilah calon presiden pilihan saya (posting iseng - ih seneng)

Dear sahabat blogger,

Masa edar posting lama hampir habis. Saya sedang menyiapkan sebuah posting baru tetapi masih belum "layak tayang" tagal masih ada yang harus diperiksa kembali. Tetapi keinginan untuk membuat posting baru amatlah kuat....sooo....so what giiicyyyuuu loohhh ...... hhmmhhhhhh .... Naaaaahhhh, ada jalan, begini:

Masa kampanye pilpres sudah selesai. Ke-tiga pasangan Capres/Cawapres sudah unjuk gigi, unjuk kebolehan, termasuk unjuk janji dan unjuk bohong (walaaahh....supaya konsisten dengan posting lama saya saya ganti saja menjadi...), .... unjuk kompetensi lupa-lupa ingat...lupa kelakuan diri sendiri tetapi ingat betul kesalahan orang lain....wwwrrrrrrrr.......capeeeek deh....maka, jujur saja: saya bosan. Betapa tidak, Mega-Pro (sebenarnya saya menyukai pasangan ini tapi...) agak membosankan. SBY-Berboedi paling suka ja'im tapi mamma miaaaa,... justru paling gemar "mengolok-olok orang lain. SBY pernah mengaku dikeroyok padahal entah apa namanya jumlah koalisi pro SBY yang amat banyak itu ketimbang lawan-lawannya. Lebih tidak nyaman lagi bagi saya adalah ketika dalam debat terakhir SBY terlihat "cuci tangan " dihadapa isu iklan "pilpres 1 putaran". Kasiha Denny JA karena tidak "diakui" oleh SBY. "Dia bukan bagian dari tim kampanye saya", begitu kata SBY. JK-Win, sebenarnya paling atraktif, Lucu dan menggemaskan. Tapi ya itu loh....lupa-lupa ingatnya amat kuat...ingat kesalahan SBY lupa bahwa dia juga bagian dari pemerintahan SBY.......Kesimpulannya? Saya masih harus menunggu hari-hari terakhir menjelang d-day, 08 Juli 2009....itupun jika pemilu jadi dilaksanakan 8 Juli karena...konon...Mega-Pro dan JK-Win masih mempersoalkan DPT (daftar pemilih terkacau) yang tetap amburadul. Kata berita di www.tempo interaktif.com "Dikhawatirkan 30 Juta Orang Tak Bisa Memilih" ..... bujuuuu buneeenggg....mamma tana yaaaeeeeeee.....

Jikalau berita itu benar, mohon maaf, dengan keyakinan bahwa pemilu adalah wadah ekspresi kedulatan rakyat dan ketika partisipasi rakyat dicedarai maka, bagis saya, pilpres 2009 adalah sebuah "perselingkuhan". Perbuatan serong yang merampas kedaulatan rakyat. Kata pemerintah...waaah, itu urusan KPU. Kata KPU...walaaaahhh....DPT berasal dari Mendagri. Siapa salah siapa benar? Hanya Tuhan yang tahu. Tetapi saya masih berbaik sangka. Sebelum berita itu terbukti benar maka masih ada 1-2 hari ke-depan bagi saya untuk memutuskan ikut tidaknya dalam proses pilpres 2009. But, time is running out. Bagaimana jika masalah itu kembali tidak berujung pangkal atau pangkalnya dianggap tiada lalu ujungnya dipaksa juga untuk ditegakan...sebelum diduga macam-macam, maksud saya adalah: ...akar masalah DPT diabaikan lalu tanggal 8 Juli 2009 pemilu berjalan bagai business as usual. Benakah? Ya, mbuh. Lagi-lagi hanya Tuhan yang tahu. Jikalau benar skenario buruk itu yang terjadi maka mohon dimaafkan karena saya terpaksa memilih capres-capres lain. Dan inilah mereka:

1. Bob Dylan
2. Iwan Fals
3. Mick Jagger dan the Rolling Stones-nya

haaaaaaaaaa??????? apa-apaan ini???? ... ya begitulah keinginan saya... ini blog saya dan saya berdaulat di blog ini kan???? .... ha ha ha ha.....Maksud saya, dari pada pusing-pusing mikirin pilpres yang kurang bermutu ini lebih baik saya mendengar lagu-lagu ciamik dari 3 tokoh musik yang paling mendekati warna suasana hati saya. Apa saya ini? Sudah barang tentu untuk menguraikan siapa saya ada filsafatnya (dan akan saya postingkan nanti) tetapi mungkin di balik semua "kedogolan" saya, maka saya sebenarnya adalah "orang dengan semangat anti kemapanan yang amat kuat". Betulkah itu adalah saya seluruhnya? TIDAK JUGA karena sesungguhnya saya adalah manusia paradoks dan oleh karena itu....uuuupsssss stop sampai di sini saja dahulu karena saya tidak ingin banyak bacot tentang perkara ini...lain kali saja.....

Sekarang, back to the laptop, mengapa 3 manusia di atas saya pilih sebagai caprem ...eh ini bukan salah ketik...CAPREM (calon presiden musik...wkwkwkwkwk....).

Pertama, semua ketiganya punya semangat anti kemapanan yang amat kuat. Bagi mereka, hidup bukanlah hal statis dan establish. Hidup harus terus bergerak dan berubah. Jagger dan The Rolling Stones adalah pelopor generasi bunga yang menghantam kemapanan yang dibawa oleh the Beatles. Jika the Betales tampil rapih maka Jagger dkk. urakan. Mereka menjadi pioner generasi hipies dalam dunia musik. Jangan salah, idea yang dibawa oleh flower generation bukan hanya melanda kaum pemusik tetapi juga merasuki hampir semua budaya mapan di dunia. Lalu bagaimana Bob Dylan? Robert Zimmerman, nama asli Bob Dylan, sejatinya adalah pengikuti The Rolling Stones tetapi spesialisasinya lain. Bagi Bob Dylan, bermusik adalah alat yang digunakan sebagai media penyampai aspirasi politik dari young flower generation yang menentang ketidakberesan politik negara. Bob Dylan berani, amat berani, mengkritik negaranya sendiri USA dalam urusan Perang Vietnam yang memang tak jelas moralitasnya itu. Musik protes semacam ini menjaid trend besar di akhir 1960-an dan mereka berhasil. Nixon memutuskan berhenti berperang di Vietnam. Lalu, bagaimana Iwan Fals? Tak diragukan lagi. Kota Bandiung yang amat Stones Mania di tahun 1970-an rasanya ikut membentuk ide-idenya bemusik. Lalu, bukan cuma itu, menuut pengakuannya sendiri di tahun 1980-an, Bob Dylan menjadi inspirasinya. Keberanian Iwan tidak main-main, ketika semua pemusik, dan bahkan kebanyakan masyarakat tidur tiarap di hadapan pemerintah ORBA yang anti demokrasi itu, Iwan Fals berteriak keras.....BONGKAR....dan dia dimusuhi pemerintah ORBA serta kaki tangannya. Lalu, saya ingat betul dalam salah satu wawancara di TV bersama seorang tokoh pergerakan mahasiswa di tahun 1998 yang mengkui bahwa lagu-lagu Iwan Fals menjadi salah satu sumber semangat bagi perjuangan mereka. Dan, mereka berhasil. Ya, mereka adalah generasi penikmat Iwan Falz yang tegar melawan ketidakadilan. Iwan Fals bukan bertipe penyanyi oportunis bayaran yang dengan mudah mendendangkan lagus setipe jingle indomie-SBY. Mental Iwan bukan mental lunak sepert itu.

Kedua, selain beridealisme anti kemapanan (...sama seperti saya ehemmm...), adalah persistensi mereka dalam bermusik. Caprem pilihan saya adalah orang yang terus berkarya bertahun-tahun tak ada hentinya. Elvis berjaya antara 1957 - 1977 setelah itu frustrasi dan mati. Jacko berjaya antara 1968 - 1990-an. Sepuluh tahun terakhir sudah tidak ada lagi karyanya yang gemilang. Hidupnya digerogoti skandal skandal. Lalu, frustrasi dan mati. Freddy Mercury dimana? Bercinta overdosis membuat dia meregang nyawa tagal AIDS. Nah, tiga caprem saya itu, memang tidak bebas dari perkara kontroversial, tetapi lihatlah: Jagger dkk, berkarya sejak 1962 - hari ini. The Rolling Stones masih terus merekam dan menguasai panggung konser sebagai group dengan bayaran termahal. Penonton konsernya di Brazil yang berjumlah 2.5 juta orang di tahun 2007 adalah sebuah rekor dunia yang belum terpecahkan. Album terakhir Bob Dylan dengan mudah menempati anak tangga # 1 di chart lagu dan album, baik di Amerika maupun di Inggris padahal dia sudah berkarya sejak tahun 1964. Iwan Fals masih amat disegani di Indonesia dan masih terus memproduksi lagu-lagu hits yang baru kendati dengan tema yang lebih soft. Berkali-kali diajak terlibat dalam politik praktis tetapi Iwan menolak. Komitmentnya hanya untuk bermusik. Iwan pantas dihormati atas sikapnya itu.

Ketiga, jika diperhatikan amat sangat, suara ketiga caprem saya tersebut sesungguhnya tidaklah merdu-merdu amat. Bahkan menurut saya, Bob Dylan tidak sedang bernyanyi melainkan menggerutu. Iwan Fals lebih sering kedengaran sedang berteriak dan bukannya bernyanyi. Suara Mick Jagger yang melayang ringan itu sebenarnya terdengar seperti sekedar aliran udara yang didesak keluar dari tenggorok lalu melintasi lidah panjangnya dan akhirnya tersebar kemana-mana melalui bibir super ndower-nya itu. Nggak merdu.

Lalu, mengapa 3 variabel itu, yaitu anti kemapanan, persistensi bermusik dan suara yang biasa-biasa menjadi tolok ukur? Ada jawaban yang amat filosofis tetapi mohon maaf, saya simpan saja dahulu. Mudahnya begini: tak pernah mau diam adalah wujud manusia yang harus selalu berbuat. Bekerja dan membuat perubahan. Persistensi adalah hal yang bertalian dengan konsistensi dan komitmen. Akhirnya, suara yang biasa-biasa menggambarkan bahwa sesungguhnya kita adalah manusia biasa. Manusia fana yang mudah keliru. Manusia rata-rata tetapi adalah Rahmat-NYA maka kita diberkati Tuhan dengan talenta. Sukuri lah talenta dari Tuhan (bandingkan dengan MJ yang "menolak berkulit hitam" - Quincy Jones). Bekerja secara konsisten guna mewujudkannyatakan rasa sukur kita. Sisanya adalah "C'est La Vie". God Will Bless Us

Mari bantu saya menikmati musik-musik anti kemapanan dan persisten dari 3 caprem pilhan saya.


Please
listen and have enjoy, my friends


Tabe Tuan Tabe Puan

Jumat, 26 Juni 2009

Sekarang Jacko. Dahulunya Elvis. Bahagiakah mereka?

Dear sahabat blogger,

Semalam, Kamis 25 Juni 2009, saya baru tiba kembali di Kupang pukul 11.30 WITA setelah bertugas 2 hari di Jakarta. Kendati mengantuk dan lelah tetapi tak bisa langsung tidur karena harus mempersiapkan bahan presentasi seminar tentang Rencana Pengembangan Kabupaten Sabu-Raijua. Saya kebagian materi tentang "daya dukung lingkungan guna pengembangan Sektor Pertanian". Rampung tepat pukul 04.00 AM WITA. Mengantuk berat tetapi masih sempat mengintip pertandingan sepak bola Piala Konfederasi antara Brazil VS Afrika Selatan. Tidak menarik dan lalu......click...tombol TV di tekan off. Tidur. Pukul 07.30 AM WITA bangun, dalam keadaan masih sangat mengantuk, menyiapkan diri ke tempat seminar. Sembari menghilangkan rasa kantuk,...click...tombol TV di tekan on, lalu......wwwuuuuuzzzzzzhhh......terdengar suara penyiar TV memberitakan......"mega bintang Michael Jackson dilaporkan oleh beberapa kantor berita telah meninggal dunia, diduga mengalami serangan jantung akibat komplikasi obat-obatan" ....... whaaaaattt???? ..... ngngngngngng...telinga berdenging...bukan karena apa-apa melainkan sekedar seekor nyamuk.yang pagi-pagi terbang di sekitar kuping dan berdenging ... lalu ... plaaaaaakkkkk.....tangan menepuk...tapi nyamuk lolos...tak jadi mati...tak bernasib seperti Michael Jackson.....Ya, Jacko telah mati...untuk setiap kematian selalu ada kesedihan dan saya juga tidak bisa bergembira karena Jacko mati. Ada perasaan solider karena bernama depan yang sama....michael...malaikat penjaga surga....Juga ada perasaan klangenan karena....Jacko mencapai puncak ketenaran di tahun 1980-an, yaitu dekade dimana saya masih imut-imut...kinyis-kinyis ....tampan (ehm....) dan penuh gaya vitalitas manusia berusia 20-an. Ya, ada unsur nostalgia di sana.

Lalu, apakah tentang diary dan atau nostalgia semacam ini posting kali ini? Bisa jadi begitu tetapi sebenarnya tidak. Bagi saya, jika benar kematian Jacko karena komplikasi obat-obatan maka hal itu adalah tragedi. Dahulu, pada tahun 1975, seorang bintang pujaan dunia Elvis Presley juga meninggal karena penggunaan obat-obatan yang over dosis. Lebih ke belakang lagi, super star gitar Jimmy Hendrix mati dalam ceritera yang mirip. Di Indonesia, kita kuga punya kisah serupa tapi tak sama yang berasal dari penanyi wanita Alda Risma. Semua mereka mati mengenaskan. setelah rangkaian ceritera hidup yang sungguh tak normal. Apa yang terjadi dengan mereka? "What's wrong ... kata mister Tukul Arwana....with them"? Uang punya. Nama besar punya. Apa yang mereka tak punya? Lalu mengapa begitu? Hidup jauh dari ukuran normal. Gaya hidup mereka bagai di dunia mimpi. Lalu, mereka seperti terjebak di sana dan tak mau, atau lebih tepat tak bisa keluar dari jebakan ketenaran mereka. Ketenaran yang gilang kemilau itu lalu berubah menjadi racun. Obat-obatan digunakan persis seperti racun yang meracuni hidup mereka sendiri. Ketenaran ternyata ada harganya, yaitu hidup yang tak biasa. Dan yang tak biasa itu ternyata adalah "racun". Racun dunia.

Saya lalu teringat akan Aristoteles. Filsuf besar Yunani, murid Plato, yang hidup 2400 tahun yang lalu. Manusia besar ini pernah menulis begini "setiap keterampilan dan ajaran, begitu pula tindakan dan keputusan, tampaknya mengejar salah satu nilai". Bicara apa mister Aristoteles ini? Memang tak mudah membaca pikiran para filsuf besar karena kerap kali bahasa yang digunakan berasal dari "planet lain". Akan tetapi dalam "kebodohan" saya mencoba memahami maksud Aristoteles. Semua tindakan manusia pasti ada maksudnya, pasti ada nilainya...ya, pasti ada tujuannya. Jika saya benar menafsirkan Aristoteles maka pertanyaannya adalah "apa tujuan manusia?". Aristoteles kemudian menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan akalnya guna mengamati fakta bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia pasti memiliki tujuan. Saya berangkat ke Jakarta pasti ada tujuannya/ Saya menulis naskah bahan presentasi pasti ada tujuannya. Saya mengintip pertandingan sepakbola di TV, bangun pagi-pagi, berusaha menepuk nyamuk, dan manulis posting ini selalu punya maksud. Sering kita mendengar orang berkata bahwa...."aaah, aya mengatakan itu sebenarnya tidak punya maksud apa-apa"....ahaaaaaa.....dalam kerangka pikir Aristoteles, orang yang mengatakan demikian pasti sedang berbohong. Lalu, apa maksudnya dia mengatakan kebohongan itu? Kebohongan itupun ternyata memikiki tujuan. Nah, lihatlah, Aristoteles tidak terbantahkan bukan?

Nah lalu, apa tujuan manusia? Aristoteles membedakannya atas tujuan sementara dan tujuan akhir. Lantas, dia mengatakan bahwa "tujuan sementara adalah sarana bagi pencapaian tujuan akhir". Contoh: saya dulu berkutat 2 tahun guna mendapatkan ijazah Doktor tetapi ijazah Doktor ternyata cuma tujuan sementara karena ijazah itu saya pergunakan gua meningkatkan kualifikasi keilmuan saya. Lalu apakah peningkatan kualifikasi keilmuan adalah tujuan akhir? Tidak juga bosz karena itupun cuma tujuan sementara agar supaya melaluinya saya bisa bekerja dalam bidang ilmu yang lebih luas lalu bisa bepergian ke sana kemari lalu bisa mengumpulkan uang honor berceramah lalu...lalu...lalu....Lalu, apa tujan akhir? Apakah ada tujuan akhir yang di dalamnya tidak ada lagi terkandung sebuah tujuan lainnya? Aristoteles menjawab: ada, yaitu KEBAHAGIAAN. Kata Aristoteles, "ketika manusia bertemu kebahagiaan maka dia akan menjadi puas". Mister Aristoteles menegaskan bahwa "jikalau kita sudah bertemu kebahagiaan maka tak ada lagi yang perlu dicari untuk ditambahkan". Ya, kebahagiaan adalah tujuan akhir. Selama manusia belum puas dengan apa yang dicapainya maka dia belum bahagia. Terlepas dari apakah anda setuju dengan Aritoteles atau tidak, satu hal yang pasti, mister kita ini telah mengemukakan landasan filsafat etisnya yang disebut sebagai "Etika Eudemonisme" (Yunani: eudaimonia) atau disebut juga Etika Kebahagiaan. Lalu, di sinilah kita bisa menggunakan etika Aristoteles untuk meneropong apa yang terjadi dengan para artis dunia hiburan yang di dalam dunia popularisme dapat disebut sebagai dewa-dewi itu.

Michael Jackson berkarir sejak kecil bersama saudara-saudaranya dalam group Jackson Five. Anggota pendiri kelompok, Jackie, Tito, Jermaine, Marlon dan Michael Jackson membentuk grup ini setelah mengganti nama menjadi The Jackson Brothers, yang pada awalnya terdiri dari 3 orang saudara tertua. Aktif dari 1966 sampai 1989, Jacksons bersaudara bereksperimen dalam musik R&B, soul, pop dan terakhir disko. Selama karir 6 tahun di Motown, Jackson 5 adalah salah satu fenomena pop terbesar di tahun 1970-an. Jackson 5 memulai merilis single ("I Want You Back", "ABC", "The Love You Save", dan "I'll Be There") yang mencapai puncak Billboard Hot 100 di tangga lagu Amerika Serikat. Beberapa single, seperti "Mama's Pearl", "Never Can Say Goodbye" dan "Dancing Machine", menduduki Top 5 hits lagu pop dan nomor satu di tangga lagu single R&B. Jadi, Jacko telah berkecimpung di dunia ketenaran seperti ini sejak berusia 6 tahun. Bukan sekeda leat seperti layaknay para penyanyi cilik Indonesia yang ngetop sebentaran lalu tenggelam ditelan bumi, Jacko terus berkembang.

Michael Joseph Jackson (lahir di Gary, Indiana, Amerika Serikat, 29 Agustus 1958 – wafat di California, Los Angeles, Amerika Serikat, 25 Juni 2009 pada umur 50 tahun)[1] adalah penyanyi dan penulis lagu dari Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai "Raja Pop" dan mempopulerkan gerakan dansa "moonwalk" yang telah menjadi ciri khasnya. Albumnya yang dirilis pada tahun 1982, Thriller, adalah album terlaris di dunia, dengan penjualan melebihi 104 juta kopi di seluruh dunia. Ia mulai karir bernyanyi pada usia lima tahun sebagai anggota kelompok vokal keluarga Jackson (kelak menjadi The Jackson 5) sebelum meluncurkan album solo pertamanya Got to Be There pada tahun 1971. Anak ketujuh dari keluarga Jackson, dia membuat debut di musik profesional pada umur 11 tahun sebagai anggota dari Jackson 5.

Pada awal tahun 1980-an, dia menjadi figur yang sangat dominan dalam musik pop and musisi Afrika-Amerika pertama yang mempunyai crossover kuat di MTV. Popularitas dalam musiknya menanjak saat ditayangkan di MTV, antara lain "Beat It", "Billie Jean" dan Thriller dianggap telah mengubah video klip menjadi sebuah bentuk karya seni dan sebagai alat promosi untuk mempopulerkan sebuah channel tv. Video-video seperti "Black or White" dan "Scream" membuat Jackson menjadi andalan utama MTV pada tahun 1990-an. Lewat penampilan panggung dan video-video klipnya, Jackson mempopulerkan sejumlah teknik menari seperti robot dan moonwalk. Suara dan gaya vocal Jackson mempengaruhi dan diikuti oleh banyak penyanyi hip hop, pop dan R&B. Penghargaan - penghargaan yang telah dia raih termasuk beberapa kali Guinness World Records—termasuk thriller sebagai album terlaris di dunia— 13 Grammy Awards, 13 buah single nomor 1 dalam solo karirnya dari musisi pria lainnya dalam Hot 100 era—dan penjualan 750 juta unit di seluruh dunia. Hidup Jackson sangat terkenal di seluruh dunia, didampingi dengan karirnya yang sangat sukses, membuatnya menjadi bagian dari kebudayaan pop selama 4 dekade. dalam beberapa tahun dia sering disebut - sebut sebagai salah satu pria paling terkenal di dunia.

Jelas sudah, tak ada yang bisa dibantah dari fakta itu bahwa Jacko adalah salah satu manusia dengan nama yang amat besar di dunia populer ini. Uangnya pol-polan. Kekayaannya diperkirakan mencapai 1 milyar dollar (sekitar 12 trilyun rupiah) ...wwwwwwwoooooowwww....apa kurangnya lagi? Tetapi mari kita tengok akhir tragis dari kehidupan gilang gemilang ini....(saya kutip dari CNN)....Penyebab kematian Michael Jackson akhirnya diketahui. Dia mengalami serangan jantung yang hebat. Raja musik pop itu meninggal dunia di rumahnya di Los Angeles, Kamis (26/6). Dia terkapar dan tak bisa lagi bernapas setelah mendapatkan injeksi penahan rasa sakit dengan daya tinggi bernama Demerol. Jackson, 50 tahun, disebut-sebut mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang itu. Demerol sendiri dikatakan setara dengan morfin. Ada kekhawatiran, dia mengalami overdosis. Petugas paramedis yang langsung berhamburan ke rumahnya setelah menerima panggilan darurat, menemukan nadinya sudah tak berdenyut lagi. Sejumlah upaya yang dilakukan pun tak menghasilkan apa-apa. Mengenaskan? Ya.

Bagaimana dengan kisah King of Rock 'n Roll Elvis Presley? Jelas tak kalah kelas dibandingkan dengan Jacko. Elvis Aaron Presley (8 Januari 1935–16 Agustus 1977) adalah seorang penyanyi rock 'n' roll legendaris Amerika Serikat. Ia juga adalah seorang produser musik dan aktor. Julukannya adalah "Raja Rock 'n' Roll". Berkat lagu-lagunya yang memadukan irama rock 'n' roll dengan lagu-lagu ballad, dunia rock 'n' roll memperoleh fondasi komersial yang selanjutnya dapat dikembangkan musisi rock 'n' roll penerusnya. Pada masa kejayaannya, konser-konser Elvis dihadiri massa (kebanyakan remaja) dalam jumlah yang sangat besar. Gaya, sifat, serta cara berpakaiannya menjadi simbol bagi musik rock 'n' roll dan banyak ditiru penggemarnya. Lahir di East Tupelo, Mississippi, dari pasangan Vernon Elvis Presley dan Gladys Love Smith, Elvis tumbuh besar di Memphis, Tennessee. Ia mulai bermain gitar dan bermain di beberapa acara di pusat-pusat perbelanjaan. Saat duduk di bangku sekolah menengah, ia bekerja menjadi supir truk bagi sebuah perusahaan listrik.

Pada musim panas pada tahun 1953, Elvis membayar $4 untuk merekam dua buah lagu di perusahaan rekaman Sun Studios sebagai hadiah ulang tahun bagi ibunya. Pendiri Sun, Sam Phillips, tertarik pada suaranya dan memanggilnya pada Juni 1954 untuk mengisi posisi penyanyi ballad yang sedang kosong. Sesi rekaman tersebut, yang dilakukan bersama dua musisi setempat, Scotty Moore dan Bill Black, awalnya tidak produktif, namun saat sedang istirahat dalam sebuah sesi rekaman pada 5 Juli 1954, Elvis mulai menyanyikan lagu blues karya Arthur Crudup berjudul That's All Right. Versi Elvis disukai Phillips dan diputarkan di radio di Memphis dan segera menjadi hit di daerah tersebut. Sejak itu ia mulai melakukan tur ke berbagai tempat, termasuk ke luar Tennessee.

Pada 16 Oktober 1954, ia tampil dalam siaran radio Louisiana Hayride dan menjadi hit bagi pendengar dalam jumlah yang besar. Ia kemudian menandatangani sebuah kontrak satu tahun dan bertemu dengan Tom Parker, yang kelak menjadi manajernya. Hampir setahun kemudian, Tom Parker mengambil alih seluruh tugas sebagai manajer Elvis dan tak lama kemudian, berhasil mendapatkan persetujuan kontrak dengan RCA Records bagi Elvis. Elvis juga menandatangani kontrak Hollywood. Melalui syarat-syarat dalam kontrak, Parker membangun nilai komersial serta citra Elvis yang menguntungkan, contohnya melalui lisensi penggunaan citra Elvis dalam segala macam produk, dari peralatan dapur hingga gitar. Pada Desember 1957, Elvis dipanggil untuk ikut tugas militer dengan Angkatan Bersenjata AS. Ia resmi masuk Angkatan Bersenjata pada 24 Maret 1958, kemudian ditugaskan di Jerman, dan dilepas tugaskan dengan hormat dua tahun kemudian. Sekembalinya dari wajib militer, karya Elvis mengalami penurunan dari segi kesuksesan, di mana salah satu penyebabnya adalah bangkitnya musik Britania/Inggris (British Invasion; The Beatles, The Rolling Stones, dan lain-lain).

Tetapi Elvis tidak menyerah, ia melakukan comeback yang sukses melalui penampilan televisi pada 3 Desember 1968 berjudul '68 Comeback Special. Karir musiknya yang sempat meredup akibat "diganggu" profesi lainnya sebagai aktor dan juga hilangnya peranan dia dalam memilih jenis lagu yang ia mainkan, kembali bersinar setelah ia mendapatkan kesempatan dalam acara tersebut untuk bermain dalam jalur yang paling ia sukai, rock 'n' roll. Pada tahun berikutnya, ia memulai penampilan live yang laris di berbagai tempat, diawali dari Las Vegas dan kemudian berlanjut ke sepanjang negara. Antara tahun 1969 dan 1977, ia tampil dalam 1.000 acara yang tiketnya terjual habis. Berapa kekayaan Elvis? Setelah matipun, harta Elvis terus bertambah dan sekarang, Elvis diduga merupakan penyanyi terkaya dengan total pendapatan sekitar 12 milyar dollar.....weleh weleh weleh......tapi perhatikan kutipan berikut ini.....Akibat kecanduan obat-obat dokter seperti obat tidur, kesehatannya dan penampilannya mengalami penurunan pada sekitar pertengahan 1970-an. Ia tampil untuk terakhir kalinya dalam sebuah konser di Market Square Arena di Indianapolis, Indiana pada 26 Juni 1977. Pada 16 Agustus 1977, Elvis ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Graceland di Memphis akibat serangan jantung. Saat itu ia berusia 42 tahun. Mengenaskan? Ya.

Apa yang salah dengan manusia-manusia bernama besar dan amat sangat kaya ini? Aristoteles menyiapkan jawabannya 2400 tahun yang lalu. Si Mister mengatakan bahwa jika kebahagiaan adalah tujuan akhir yang benar maka ada tujuan akhir yang salah dan keliru. Dua tujuan akhir yang salah itu adalah uang dan nama tersohor. Banyak orang menggunakan uang sebagai variabel tolok ukur kebahagiaan. Bahkan standard-standard penilaian kemiskinan di dasarkan atas pendapatan berupa uang. Kekayaan atau kemiskinan adalah diukur dari berapa jumlah uang yang dimiliki. Apakah uang adalah barang yang salah? Sudah barang tentu tidak tetapi harus ditegaskan bahwa uang bukan tujuan akhir. Di dalam uang masih tersimpan tujuan lainnya. Dengan uang, apa yang anda ingin dapatkan? Uang bisa dipakaii untuk membel mobil baru dan atau isteri baru tetapi uang tak bisa membeli kebahagiaan. Uang tidak menjamin kebahagiaan. Mereka yang menjadikan uang sebagai tujuan akhir sebenarnya justru tidak pernah sampai kepada tujuan akhir yang diinginkannya. Elvis dan Jacko yang kaya raya ternyata tidak bahagia. Kekayaan ternyata bisa menipu. Dikiranya bahagia punya uang nyatanya sengsara. Ingat Soeharto?

Bagaimana dengan ketenaran nama atau ketersohoran? Nama yang tersohor sepintas terlihat baik. Bahkan ada yang berkata begini "tak menjadi kaya tak apa yang penting aku punya nama yang terkenal". Namun demikian, Aristoteles mengatakan lain. "Tersohor adalah penilaian orang lain bukan dari diri sendiri". Orang bisa tersohor kendati mutunya rendah. Sumanto, si pemakan bangkai manusia, amatlah tersohor. Ryan, si jagal van Jombang, juga amat terkenal. Hitler...ah yang meragukan kesohoran orang ini, saya ragu akan nilai mata pelajaran sejarahnya. Mereka tersohor tetapi di mata orang lain, mereka tak lebih dari penyakit masyarakat. Hidupnya tak bermutu. Jika mutu menjadi persoalan maka sebenarnya itulah tujuan yang harus diusahakan. dengan nama tersohor. Lalu, dengan hidup yang bermutu itulah kebahagiaan diperoleh. Oh ya, hidup yang bermutu itulah yang tidak didapat oleh Elvis dan Jacko. kendatai amat tersohor. Nama mereka memang besar tetapi .... maaf....hidup mereka tidak berbahagia. Maukah anda seperti Elvis dan Jacko? (hmmmmhhmmm...saya lihat diam-diam beberapa sahabat mengatakan....uang, kaya dan ngetopnya mau juga seeeeehhh....wkwkwkwk....).

Jika hidup ala Jacko dan Elvis tidak membawa kebahagiaan maka sebenarnya hidup macam apa yang dapat mendatangkan kebahagiaan? ...ooohhhh......lain kali baru saya posting....atau begini saja...silakan anda uraikan sendiri melalui komentar anda. Bagaimana Broer en Soesz????...otreeeee??????


Tabe Tuan Tabe Puan

NB. Sebagian bahan tulisan diambil dari wikipedia

Tuan Tuan dan Puan Puan, terutama yang meributkan siapa yang lebih pantas menjadi the King. Elvis atau Jacko? Saya cuma ingin bertanya begini: siapa Presiden Republik Indonesia? Soekarno-kah? Soeharto-kah? Jawabnya adalah "both of them. Keduanya adalah presiden pada masa yang berbeda. Nah, bagi saya, begitulah posisi Elvis dan Jacko.

Tetapi rasanya akan lebih menarik jika kita memeriksa sikap moralitas keduanya terhadap filsafat bahagia. Kasusnya adalah keduanya berhadapan dengan para "the outlaws". Perhatikan ini. Kata Jacko ...beat it....dan kata elvis...tenang aja bro....di penjara kita bisa ber-rock 'n roll ....jailhouse rock.... ha ha ha ha ha...(jangan terlalu serius bosz)

Elvis - Jail House Rock

Tabe lagi Puan dan Tuan

Selasa, 16 Juni 2009

takut, taattuuttt, atuuutttt...emang enak????

Dear Sahabat Blogger,

Berikut ini ingin saya menceriterakan sebuah kisah yang saya sadur dari tulisan karya almarhum Pendeta Dr. Eka Darmaputera. Seorang Teolog Kristen Indonesia yang amat saya kagumi lantaran kejernihannya berpikir. Mau tau ceriteranya? Baiklah. Ini:

Suatu ketika, meninggal seseorang yang bernama Pak Meda'u. Semasa hidup, almarhum adalah seorang wakil direktur sebuah perusahaan swasta yang amat besar. Bukan itu saja, beliau juga seorang tokoh di Gereja tempat dia dan keluarganya beribadah. Di situ beliau pernah bertahun-tahun ikut melayani sebagai seorang Majelis Gereja. Dalam perjalannya menuju meja penghakiman terakhir, Pak Meda'u terlebih dahulu harus mengisi kartu register di depan pintu Surga. Di situ, di depan pintu gerbang itu, berdirilah seorang penjaga yang bertugas untuk melakukan wawancara pendahuluan guna memastikan kategori orang macam apa yang akan menghadap meja penghakiman terakhir. Dan terjadilah percakapan berikut ini:

+ Nama????
(karena suasana agak bising, Pak Meda'u tak begitu jelas mendengar dan akibatnya cuma celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan)
+ Hoooiiiii....NAMA.....
- Eh, maaf Pak...
+ Ya, anda. NAMA?????
- Eh, anu, eeeeehhh....Meda'u pak....maaf....
+ Nah, gitu dong. Baiklah. Coba ceritakan secara rongkas ...(eh maaf...keliru....itu nama adik ipar saya ...isteri si DTN...he he he he....)...coba ceritakan secara ringkas....bagaimana anda hidup selama di dunia
- Wah, saya ini Kristiani yang baik selama hampir 70 tahun...kecil dulu, rajin sekolah minggu...lalu, aktif di kebaktian remaja...lalu, aktif mengikuti paduan suara....lalu, pernah menjadi majelis 4 periode...lalu, eeehhh....sampai waktu ke sini, tercatat sangat aktif di persekutuan doa lho pak....cukup???? (Pak Meda'u mencoba pamer jasa sambil diam-diam melirik air muka si penjaga...waddduuuuhhhh...kelihatannya si penjaga belum terkesan dan masih saja merengut....)
- Oh, tolong juga dicatat pak....saya rajin memberi persembahan.....perpuluhan selalu pol-polan tidak pernah kurang ...aktif juga di panitia Natal....eeehhh....(Pak Meda'u mencoba merayu sambil melirik lagi...waaaahhhh...cilaka nih...si penjaga tetap saja manyun...nggak tertarik sama kisah Pak Meda'u....)
- Oh, eeeh...aaaahhhhaaaa....jangan lupa dicatet pak....tiap tahun saya menyumbangkan pakain-pakaian bekas yang masih bagus pak....kan pakaian saya kebanyakan belinya di butik-butik terkenal atau dijahitkan pada desainer-desainer top....lalu 3 bulan sebelum ini, saya juga menyumbangkan 1 truk gula...beras....supermi...kepada para korban banjir....
(tanpa memberi reaksi positif sedikitpun kepada laporan pak Meda'u, si Penjaga bertanya kepada Pak Meda'u)
+ Mengapa dengan uangmu yang banyak itu, kamu tidak menyantuni anak-anak miskin yang hidup di kolong-kolong jembatan supaya mereka bisa bersekolah?????
- Ooohhh, yang itu...begini Pak,...mau sih mau tetapi saya takut ...uang saya cepat habis dan tidak cukup untk biaya hidup saya dan keluarga.....(Pak Meda'u memberikan alasan)
+ Mengapa anda mau begitu saja disuruh bos anda untuk melakukan pemalsuan pembuakuan perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi negara trilyunan rupiah????
- Waduuuhh Pak, sebetulnya, waktu itu saya bergumul sekali pak...Bahkan saya bawa dalam doa dan nazar tapi...anu pak....saya kan takut dipecat pak...kalo sampe dipecat siapa yang memberi makan anak isteri saya pak....saya takut masa depan mereka bakal suram.....anak isteri jadi gelandangan....
+ Mengapa anda diam saja ketika tetangga anda, si rajateganas, menggebuk isterinya sampai hampir mati????
- Maaf Pak, waktu itu saya mau menegurnya tetap saya takut diberi cap sebagai tetangga yang suka mencampuri urusan orang lain.....lagian .... pak sirajateganas kan orangnya tinggi besar dan eks atlet beladiri kan pak??? wah, bisa-bisa saya dihajar mampus juga pak,,,saya takut pak...
+ OOOOOO, ....Meda'u...Meda'u.....sayang sekali ya.....anda itu terlalu dikuasai rasa takut...takut ini...takut itu....berbuat baikpun anda takut...ck ck ck ck ck ck..raportmu bakal merah nih....
- (sambil gemetar)...Pak...Pak... supermi tadi
enggak ngaruh yaaaaaa.????
Begitulah Sahabat Blogger, kisah sekali-sekala hasil reka-reka saya yang menyadur Dr. Eka Darmaputera almarhum. Kelihatannya, Pak Meda'u adalah contoh orang yang terlalu dikuasai rasa takut sebegitu rupa sehingga menghalanginya berbuat baik. Bagaimana anda? Dan sudah barang tentu bagaimana saya? Terus terang saja, saya sebenarnya manusia penakut. Sekali kala, sewaktu kecil, saya ingin diadu oleh abang saya dan temannya yang sebaya (konon teman si abang saya tersebut, sekarang sudah menjadi seorang pendeta ha ha ha ha) untuk menantang berkelahi seseorang yang tubuhnya jauh lebih besar dari saya. Sebut saja si bongsor. Saya ingat betul kata-kata si abang dan temannya...pergilah dan tantanglah si anu untuk berkelahi dengan kau .... jangan kuatir ..... nanti kalau dia menghajarmu ... kami akan pergi dan mengeroyok dia ... habis dia nanti. Saya sebenarnya takut pada si bongsor...tetapi lebih takut lagi kepada si abang dan temannya itu ...maka saya pun pergi menghampiri si bongsor dan.....wuuuuuzzzzhhhh....saya melakukan salto bolak-balik di dekat dia.....ha ha ha ha...datanglah si abang dan temannya....

+ hoooiii...kenapa bukannya menantang berkelahi malah kau salto bolak-balik?????
- Eh.....sengaja saya salto bolak-balik...nanti kalo dia lihat aksi saya...baru saya pukul dia...
+ Ya sudah ..... sekarang pergi dan pukul dia...
- waaaaahhhh....tidak bisa lagi...terlanjur capek salto bolak balik.....

Saya takut. Anda tidak takut? bisa ya bisa tidak tetapi mohon maaf...saya ragu jika anda tidak punya rasa takut...kecuali anda tidak normal....Lho????? Ya, seorang psikolog (Lewis, 2007) mengatakan bahwa setiap manusia normal pasti sekali waktu mengalami proses fisiologi normal, mekanisme hormonal yang amat normal, yang menimbulkan perasaan takut. Ya, takut adalah emosi. Dan hal itu normal. Bahkan menurut Lewis, Takut memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Emosi takut membuat seseorang mampu menghindari bahaya karena memberikan peringatan darurat. Adanya takut membuat seseorang mampu berlari menjauh dari bahaya. Fobia sebagai antisipasi takut juga sangat penting. Fobia terhadap tempat dan hal-hal berbahaya membuat orang tidak menceburkan diri ke dalam bahaya yang mungkin mengancam jiwanya. Ada dua mekanisme yang membuat takut bisa menghindarkan seseorang dari bahaya. Pertama, takut berfungsi mengatur tubuh untuk kabur dan memfokuskan perhatian pada upaya untuk kabur tersebut. Dengan perkataan lain, saat seseorang takut, fokusnya hanyalah untuk kabur semata. Kedua, takut dapat memutuskan kesadaran, gerak refleks dicegah dan bahkan menyebabkan pingsan. Dalam kondisi pasif ini, seseorang bisa juga terhindar dari bahaya.

Jikalau benar bahwa emosi takut adalah perkara normal dan manusiawi maka apa masalah dengan Pak Meda'u? Kata Lewis, orang-orang yang disebut sebagai pemberani adalah orang-orang yang mampu belajar guna mengatasi perasaan takut. Dalam keadaan takut yang teratasi maka takut tidaklah menguasai diri sesorang dan lalu menghalang-halangi dia untuk berbuat apa yang harus dikerjakannya. Apa yang baik dan apa yang benar. Bagimana mengatasi rasa takut? Kata Lewis, kenalilah alasan-alasan anda menjadi takut dan dia memberi 4 kategori alasan untuk takut, yaitu
  1. Takut pada kejadian interpersonal. Misalnya takut dikritik, ditolak, berkonflik, dan diserang orang lain;
  2. Takut karena permasalahan eksistensial. Misalnya takut pada kematian, luka badan, darah, pembedahan, dan penyakit;
  3. Takut pada binatang. Misalnya takut pada binatang buas, pada berbagai jenis serangga, dan pada beragam jenis reptil, seperti ular;
  4. Takut yang berhubungan dengan tempat. Misalnya takut pada keramaian, takut pada ketinggian, takut pada tempat tertutup, takut melakukan perjalanan sendirian, dan lainnya.
Kendati begitu, Branislaw Malinowsky, seorang Psikolog, Sosiolog dan Teolog sekaligus (walaaaahhh, ramai amat keahlian orang ini) mengatakan bahwa penyebab hakiki dari seseorang menjadi takut adalah "ketidakpastian". Dalam keadaan sesulit apapun, selama ada kepastian, manusia tidak akan menjadi takut. Lalu apa itu kepastian? Kata Malinowsky adalah jawaban yang selalu tersedia untuk pertanyaan apa saja. Dengan perkatan lain, kepastian adalah ketika di kepala anda sama sekali tidak pernah ada kekosongan informasi apapun. Apakah hal ini bisa dan pernah terjadi? Jawabnya adalah TIDAK. Eisntein yang kesohor pandai itupun terpaksa merasa kuatir bahwa postulatnya tentang determinisme alam raya terpatahkan oleh teori ketidaktentuan oleh Bohr dan kawan-kawan. Saking kuatirnya, Eisntein merasa perlu membawa-bawa Tuhan dalam wacananya...si Tua tidak pernah bermain dadu...Oh ya harap dicatat juga teori dari Malinowsky yang mengatakan bahwa rasa takut inilah yang menyebabkan orang-orang beragama. Dengan beragama orang mencoba untuk mereduksi ketidak pastian. Entah seberapa benar teori tuan Malinowsky ini.

Jadi, sekali lagi, takut atau emosi takut adalah normal dan manusiawi karena ketidakpastian adalah normal dan juga manusiawi. Kembali ke kasus Pak Meda'u. Apa masalahnya? Ya, anda benar menebaknya, yaitu Pak Meda'u terlalu takut akan ini dan itu lalu membiaran perasaan takutnya mengalahkan semua pikiran jernihnya. Bukan hanya itu, perasaan takutnya ternyata menguasai dirinya bergitu rupa sehingga menghalangi nuraninya untuk mengkreasikan perbuatan-perbuatan baik, benar dan bertanggungjawab. Pak Meda'u ternyata diperhadapkan pada 2 pilihan, yaitu berbuat yang seharusnya dan menerima resikonya. Pak Meda'u tahu persis apa yang seharusnya dia perbuat tetapi tidak mau memiku resikonya. Anda dan saya tahu bahwa memasak makanan berarti harus mulai menyalakan kompor tetapi tidak berani menerima resiko terkena pancaran energi panas. Lalu, kita memilih untuk tidak memasak dan lapar dan sakit dan ..... KO. Anda dan saya tahu persis bahwa kerabat kita sedang menderita sakit dan perlu dibawa ke dokter tetapi kita tak mau menerima resikonya, yaitu kemungkinan uang kita berkurang karena ikut membantu dia pergi ke dokter dan berobat. Lalu, kerabat kita menderita dan mati. Lalu, kita hidup dalam penyesalan seumur hidup. Konyol bukan? Ya, begitulah tetapi cobalah diperiksa betul-betul, apakah benar anda dan saya lebih baik dari Pak Meda'u? Saya tidak taahu apa jawaban saudara tetapi kalau salah mau jujur: saya tidak kalah konyolnya kebanding Pak Meda'u.

Bagaimana solusinya? Saya bukan ahli psikologi dan oleh karena itu saya kuatir bahwa usulan saya tidak ada gunanya tetpai baiklah saya mencoba mengatasi rasa takut saya lalu memberanikan diri mengusulkan 2 perkara ini. Apa itu? Pertama, hadapilah ketakutan. Jangan berlari darinya. Ketika ketakutan itu datang, tataplah dia dengan tajam. Kenalilah dia sebaik-baiknya. Bagaimana simpelnya? jangan malu untuk mengaku takut karena itulah kecenderungan yang manusawi, yaitu berbohong untu menutupi rasa takut. Mengaku takut adalah memalukan dan oleh karena itu, jangan mengakui perasaan takut. Kita malu tertangkap basah sedang merasa takut. Malu mengakui rasa takut mungkin baik tetapi heeeeiii....ingatlah...hal itu hanya sejenak karena selanjutnya anda harus bersiap untuk menjadi pembohong seumur-umur sembari selalu hidup di dalam cengkeraman perasaan takut. Akibatnya? Anda tidak pernah berani mengambil resiko apapun. Dan lalu, anda hidup bagai katak dalam tempurung. Tempurung itu bernama "ketakutan". Apakah saya tampak jumawa dengan prinsip ini? tidak juga karena dahulu kala, ada seseorang yang dengan tidak malu-malu mengatakan bahwa ...Aku merasa takut dan gentar. Seperti mau mati rasanya....Orang ini takut menghadapi penderitaan-nya tetapi Ia tidak berlari. Dia menghadapi penderitaannya dengan amat berani kendati tinggi bayarannya. Besar resikonya, yaitu nyawa-NYA sendiri. Dan saya mau kasi tau anda, bagaimana nasib akhir orang ini: He is the Winner. Nilai-nilai yang dibawa-Nya, menguasai peradaban dunia. Dan semuanya berawal dari satu perkara kecil, yaitu berani mengakui perasaan takut dan lalu mengatasinya.

Hal kedua adalah ini: berani menghadapi ketakutan adalah satu perkara tetapi mengalahkan perasaan takut adalah perkara berikutnya. Ketika perasaan takut itu datang dan kita telah mengakui serta berusaha mengatasinya, kadang-kadang perasaan takut itu terlalu besar dan kita tak mampu menghilangkannya sama sekali. Ketika itu anda memerlukan orang lain untuk berbagi dan saling memberikan penguatan. Inilah gunanya persahabatan. Friend in need is friend indeed. Beres? Bisa ya dan bisa pula tidak. Tokoh saya, ketika menghadadi ketakutan, merasa perlu membawa 2-3 orang sahabatnya untuk duduk berjaga-jaga bersama dengan-NYA tetapi amboiiii...sahabat-sahabatnya tertidur dan Dia kembali sendirian dalam ketakutan. Apa yang dilakukannya kemudian adalah teladan bagi kita, yaitu bawalah persoalan kita kepada sang Khalik. Ya, anda benar. Berdoa. Berdoalah dengan cara apapun yang anda yakini yang pada hakekatnya, anda sedang "mengadukan " masalah ketakutan anda kepada sang Khalik. Mujarab? So pasti, Ya. Dan sesudah itu...walaaaaahhhh....enak sekali rasanya karena .... bukankah perkara ketidakpastian yang membuat kita menjadi takut telah kita adukan kepada sang Maha Pasti? Ya, Sang Maha Pasti itu akan mengangkat beban ketidakpastian lalu kita menjadi tidak dikuasai takut lagi. Pergilah takut dan lakukanlah kebaikan dan kasih sayang.

Nah, Supaya tambah enak, silakan dengarkan tembang dahsyat dari salah satu grup band kesukaan saya dengan corak musik art rock yang amat kesohor, yaitu YES: Lift Me Up.


Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 07 Juni 2009

kasihilah musuhmu!!!!! emang enaaaaakkkk?????

Dear Sahabat Blogger,

Haruslah diakui bahwa apa yang saya lakukan kali ini telah menimbulkan kekecewaan di hati banyak sahabat. Tiga (3) minggu menghilang dari blog dan absen membuat posting sudah barang tentu bukanlah hal yang tepat sebagai pembuktian janji saya untuk selalu setia menemui sahabat semua melalui tulisan-tulisan saya. Sampai dengan malam hari ini, sudah sebanyak 27 buah e-mail yang saya terima dan semuanya menyatakan "protes" terhadap "istirahat" panjang yang saya lakukan. Salah satu email bahkan menuliskan begini (ehm..saya takkan memberitahukan siapa sahabat ini - sudah deal he he he ): .... rupanya BM bukan saja sering tidak menepati janji atas lanjutan seri tulisan tertentu tetapi, bahkan, tega tak memperdulikan sahabat yang datang berkunjung menengok blog ...BM ternyata mengidap penyakit yang bM tulis sendiri, yaitu penyakit lupa-lupa ingat ......walllllaaaaaahhhhhh ..... membaca hal ini mula-mula saya berpikir...heiiii....sedemikian buruknya kulitas janjinya saya kah????? ... tercenung saya di pertanyaan itu..dan lalu...ini jawabannya:....saya telah berjanji dan tak pantas saya mengingkari....OK baiklah. Saya keliru...maafkan saya...hari ini saya posting kembali....dapatkah permohonan maaf saya diterima? Masihkah mau sahabat sekalian mengunjungi saya di blog ini? Masihkah dapat saya diterima?????

Berbicara tentang perihal "terima menerima", saya memiliki sebuah kutipan komentar yang saya ambil dari artikel tentang koalisi Capres/Cawapres Megawati - Prabowo di www.kompas.com beberapa waktu yang lalu. Begini isi kutipan itu (sengaja saya kutipkan apa adanya tanpa mengeditnya sama sekali):

“… Ya saya sebagai petani jg kecewa knp Pak Prab memilih jadi wapres, parahnya jd wapresnya Megawati yg nyata2 tidak becus memerintah, semasa Mega apa sih yang bisa kita banggakan? Ekonominya amburadul, aset negara banyak dijual, illegal logging merajalela, polisinya ga beres, ya mendingan sekarang kalau begitu. Pak Prab jadi presiden saja, jangan ikut Mega yang anak buahnya preman pasar, pencopet, penjudi, dan pemabuk. Ingat saat kongres PDI-P di Bali para pelacur sukses meraup untung besar karena sebagian besar anggota kongres mampir kesana walah2 jan wis ora bener...”
Apa yang menarik dari kutipan di atas? Bahwa saya cenderung bersimpati kepada Megawati, tidak akan saya pungkiri. Saya merasa tak perlu munafik tentang hal ini. Lihat saja arsip lama yang saya posting pada tanggal 28 Desember 2008 dengan judul "saya suka megawati, tapi saya punya dolly. ya sudah, selamat HUT ke 44". Di sana terbaca jelas "pilihan warna politik saya". Mau lebih jelas lagi, dan supaya supaya saya tidak dianggap munafik, cobalah sahabat membaca berita yang ada di www.kompas.com pada hari ini (minggu, 7 Juni 2009) dalam judul "Pendukung Mega-Prabowo NTT Rapatkan Barisan". Untuk memudahkan para sahabat, berikut ini saya kutipkan sedikit berita di kompas.com yang saya maksudkan itu.

"Kami sejenak istirahat dari sosialisasi pasangan Mega-Pro dan bertemu dengan tim kerja lain untuk mengenang kelahiran Bung Karno, sang Proklamator 108 tahun lalu, pada Sabtu malam kemarin," kata Dr Michael Riwu Kaho di Kupang, Minggu. Bagi Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (F-DAS) Provinsi NTT itu, Soekarno merupakan sosok marhaen sekaligus penggagas aliran marhaenisme. "Paham itu dianut karena cocok dengan latar belakang rakyat Indonesia yang adalah kaum buruh, tani, nelayan yang termarginalisasikan, miskin dan tertindas pada saat itu. Karena itu, sangat layak bila setiap tahun jasa dan perjuangannya itu dikenang di seluruh Indonesia," kata dosen Fakultas Pertanian Undana Kupang ini. Ia melihat jaringan yang muncul secara sporadis setelah pasangan Mega-Pro dideklarasikan secara nasional itu, bukti bahwa kharisma Bung Karno masih terus merasuki sanubari masyarakat Indonesia.
wueeeleeeehhhhh......saya sendiri tersenyum kecut atas berita di kompas.com itu terutama menyangkut keakuratan informasi data. Tetapi sama sekali saya tidak berkeberatan nama saya digunakan di situ karena, ya itu tadi.....saya memang salah satu pengagum BK sejak lama. Tetapi sejujurnya, kutipan komentar yang saya kutipkan memang tidak untuk tujuan 'kampanye" Mega-Pro karena sikap saya sebenarnya sudah jelas (lihat posting lalu): .... Mega sebaiknya tidak lagi mencalonkan diri.... Lalu, jika bukan untuk membela Mega-Pro, untuk apa kutipan komentar itu saya posting di sini.? Apa perkaranya? Dalam hemat saya ada sesuatu yang bersentuhan dengan nilai-nilai yang saya pegang teguh. Ada sesuatu yang harus saya renungkan jika saya konsisten pada prinsip kebaikan dan kasih sayang. Inilah perenungan saya dan itupula yang ingin saya bagikan kepada semua sahabat terkasih.

Mari kita perhatikan kembali kutipan di atas dan kali ini saya tampilkan secara lebih khusus bagian yang "mencolok mata saya dan menyebabkan perih"

"Pak Prab jadi presiden saja, jangan ikut Mega yang anak buahnya preman pasar, pencopet, penjudi, dan pemabuk. Ingat saat kongres PDI-P di Bali para pelacur sukses meraup untung besar karena sebagian besar anggota kongres mampir kesana walah2 jan wis ora bener...”
Apakah benar semua "anak buah" Megawati adalah preman pasar pencopet, penjudi, pemabuk dan pelacur? Saya tidak yakin meskipun bisa saja ada anak buah Megawati yang berperilaku dan atau berprofesi seperti itu. Mungkin saja tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa di "tempat lain" keadaannya steril?. Akan tetapi, maafkan saya, bukan hal itu yang merisaukan benar pikiran saya. Titik fokus saya ada pada logika di balik komentar itu, yaitu...tolaklah semua orang yang berprofesi preman pasar, pencopet, penjudi, pemabuk dan pelacur.....jangan mau berhubungan dengan orang-orang seperti itu....jangan mau berkawan dengan mereka...singkirkan mereka.....penjarakan mereka...bencilah mereka. Jangan mau berteman dengan orang yang berteman dengan para outlaw itu. Kita boleh bersahabat tetapi jika situ gabung bareng para berengsek itu...maafkan saya....jangan lagi situ dekat-dekat ke sini. Nggak sudi.

Jika anda menyangka nalar saya tidak setuju dengan hal nalar "menolak" seperti itu maka anda keliru. Ya, para penjahat itu adalah musuh masyarakat beradab. Orang-orang itu tidak memiliki cinta. Ketikacinta seharusnya memiliki kemauan untuk terus memberi secara tulus (rencontre aimantree'), kelompok the outlaw tersebut tak memiliki kerelaan semacam itu. Sebalik dari memberi, mereka adalah para pengambil sejati. Mereka adalah kelompok orang egois. Mereka jahat dan oleh karena itu disebut sebagai pejahat. Bukan penjahit. Mereka sepatutnya dijauhi. dan dsingkirkan. Mereka adalah musuh. Musuh masyarakat (public enemy).

Saya mau tanya kepada sahabat sekalian, apakah setuju dengan pendapat saya? Haqul yakin, semua bakal setuju. Dengan begitu tak ada yang aneh dari kutipan komentar tajam tentang kelompok musuh masayarakat itu. Betul begitu? Ya, memang begitu seharusnya SEANDAINYA saya tidak mengingat dan lalu membaca kembali guna melakukan konfirmasi, kata-kata yang pernah diucapkan seorang TOKOH BESAR, AMAT BESAR., yaitu Guru dari Sang Guru Tua saya...Ya, Dialah Sang Maha Guru. Apa katanya? KASIHILAH MUSUH MU. ....whaaaaatttttt?????? apaaaaaaaaa?????? ga masuk di akal. Nonsens. Musuh kok dikasihi???? enak ajaaaaa....Yang namanya musuh ya harus dilawan, dikalahkan dan dihancurkan. Iya kan???? Iya, seharusnya begitu tetapi .... amboooiiiii...tengoklah apa yang dilakukan Sang Maha Guru saya ini....eaaaallllaaaahhhh....DIA bukan saja tidak menjauhi para musuh masyarakat itu melainkan mau bergaul dengan mereka. Merangkul mereka. Lebih gawat lagi adalah tuturan-NYA pada lain kesempatan : "mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu"...ck ck ck ck ck ck ck...aya aya wae ...ada-ada saja Sang Maha Guru saya ini. Apa maunya DIA sih?.

Ternyata adalah ini: jika mengasihi sesama dan membenci musuh adalah sifat dan naluri manusiawi maka sifat Ilahi tidaklah seperti itu. Semua milik-NYA. Tak ada satupun yang terbuang. Mereka yang akan terbuang adalah mereka yang membuang diri mereka sendiri. Tidak oleh NYA. Bahkan DIA bersedia memungut kembali mereka yang membuang diri itu, sepanjangn mereka mau dipungut. Apakah dengan begitu, DIA bertoleransi terhadap kejahatan? Oh, NO WAY. Tidak. Kejahatan adalah kejahatan. Tak boleh ditoleriri. Persoalannya bukan pada sikap etis dalam berhadapan dengan kejahatan tetapi pada cara menghadapi kejahatan. Menurut Sanga mHa Guru, kejahatan tidak harus diperangi dengan kekerasan. Tidaklah an eye for an eye. Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kejahatan tidak doleh diperangi dengan cara-cara manusiawi melainan cara-cara Ilahiat. Kata Sang Maha Guru: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!". Oiiiiihhhh, amat jelas dan amat tegas. Kalahkan kejahatan tetapi lakukanlah dengan KEBAIKAN.

Pernahkah anda membaca tulisan dari Arswendo Atmowiloto yang dibuatnya semasa dia berada di penjara. Katanya begini (saya sederhanakan): ... "semua abal-abal (penjahat) yang ada di dalam penjara adalah orang-orang yang merasa tak memiliki kawan di luar. Oleh karena itu, setelah bebas, mereka akan melakukan kejahatan lagi supaya kembali masuk ke penjara guna bertemu ...... kawan-kawannya. Sahabat-sahabatnya yang bisa memahami siapa dirinya." .... Perhatikanlah sahabatku semua, siapa sahabat para penjahat itu.? Tak lain dan tak bukan adalah sesama penjahat. Mengapa demikian? ya, karena yang bukan penjahat akan menolak mereka. Jika seumur-umur, sahabat penjahat adalah penjahat juga maka apa yang dibagi-bagikan di antara mereka? Apalagi jika pikiran-pikiran jahat. Lalu, kapan kejahatan di dunia akan berkurang dengan cara itu? Maka, benarlah logika sang Maha Guru. Amat benar. Jikalau mau kejahatan diperangi, janganlah mereka disingkirkan melainkan rangkul-lah mereka. Jangan ragu untuk bergaul dengan mereka tetapi jangan turuti pikiran jahat mereka melainkan ajarlah mereka untuk berbuat kebaikan. Tunjukan kepada mereka bagaimana seharusnya kebaikan itu bekerja. Dan lalu lihatlah hasilnya.

Sehari 1 kebaikan dikerjakan. Dua hari 2 kebaikan. Seribu hari, seribu kebaikan. Seribu tahun milyaran kebaikan. Kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Oooooohhhh, itulah KASIH yang sejati itu. KASIH yang Ilahiat. KASIH semacam iitu keluar dari subjek dan lurus tertuju kepada objek. KASIH sejati tidaklah seperti ini: keluar lurus dari subjek dan berbeloklah sedikit ketika bertemu objek yang tidak disenangi. Kasih model berbelok adalah kasih yang khas manusia. Kasih yang memilih-milih makanya ada pomeo "pilih kasih." Hanya dengan KASIH yang Ilahiat kita tak akan memiliki musuh. Tak boleh ada satupun perbedaan di antara kita yang boleh menghalangi KASIH kita kepada sesama. Kita bisa berbeda pendapat tetapi kita tetap sahabat. Saya memilih mengenakan baju putih, anda berbaju hijau tetapi kita adalah teman. Anda memilih untuk melanjutkan perjalanan, dia memilih untuk berjalan lebih cepat lebih baik sedangkan saya memilih untuk tidak memilih yang dua itu tetapi kita bukanlah kumpulan para musuh-musuh. Kita adalah sahabat. Kita saling menerima perbedaan karena bukan perbedaan itu yang membuat kita bersahabat. Kita bersahabat karena kita memiliki KASIH. Persahabat hanya ada jika ada KASIH dan KASIH memang tidak pernah boleh berbelok.

Lalu, datanglah contoh pamungkas dari Sang Maha Guru di suatu ketika. Pada saat itu ramai orang berkumpul dengan wajah ganas dan dengus nafas amarah. Oiiiii....lihatlah....di tangan kumpulan orang-orang itu tergenggam beberapa butir batu yang siap dirajamkan kearah tubuh seorang penjahat perempuan yang berprofesi sebagai pelacur. Lalu, Sang Maha Guru mengatakan ....hhhoooooiiiii......bagi yang merasa tak memiliki salah .... silakan mulai merajam perempuan ini .... Lalu, semua diam. Semua membisu. Perlahan-lahan kerumunan orang itu bubar tanpa sempat melemparkan batu di tangan mereka. Mengapa? tampaknya tak seorangpun yang nekad mengaku bahwa mereka adalah orang yang suci tanpa dosa. Mereka sama berdosanya dengan perempuan pelacur itu dalam bentuk yang lain. Ketika kerumunan orang itu berlalu maka DIA berkata begini ..... pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi ....

Ada 3 perkara di situ. Pertama, tak ada orang yang tidak pernah bersalah. Perempuan pelacur dan kerumunan orang itu ternyata semuanya adalah orang yang ada salahnya. Kedua, hanya kebaikan yang mampu membuat orang bersalah tidak melakukan kesalahan baru. Teguran yang konstruktif tanpa tindakan destruktif yang dilakukan S angMaha Guru telah mencegah kerumunan orang-orang terjebak dalam kesalahan baru, yaitu merajam orang sampai mati. Ketiga, permintaan tegas bahwa kejahatan harus dihentikan. ak boleh diulangi lagi. Enough is enough. Kesalahan yang berulang-ulang adalah dosa. Sahabatku sekalian, begitulah cara bekerja KASIH yang benar, yaitu KASIH yang didasarkan atas kebaikan. Kasih yang didasarkan atas kesediaan saling menerima dna bukan saling menyingkirkan. Rangkul-lah mereka yang bersalah. Jangan membuang mereka. Nyatakanlah KASIH anda secara lurus. Jangan berbelok. Dalam persahabatan, sekali waktu, pasti terjadi perselisihan. Tetapi, dari pada menyingkirkan sahabat, mungkin lebih baik kita saling memaafkan. Saling mengampuni. Saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Avatar A'ang ketika dia menolak untuk membunuh raja api Ozai yang durjana itu dalam pertarungan pamungkas mereka, ketika raja jahat itu terkulai tak berdaya .... "saya ingin menghancurkanmu tetapi tidak akan saya lakukan karena lebih baik dari menghancurkan adalah mengampuni". Nah, sahabat sekalian, sudahkah anda memaafkan saya? Catatlah: memaafkan itu enak rasanya.


Tabe Tuan Tabe Puan

Jumat, 15 Mei 2009

politik lupa lupa ingat politik satu dua jurus

Dear Sahabat Blogger,

Hari ini sudah tanggal 15 Mei 2009. Waktu pendaftaran Capres/Wapres Republik Indonesia periode 2009 - 2014 ke KPU Pusat tinggal satu hari lagi. Siapa yang sudah mendaftar sampai detik ketika saya memposting artikel ini? Belum ada!!! Waoooooo....sepi dooooonggggg....semua kita maklum bahwa tidak seperti itu. Di luar urusan mendaftarkan diri maka perkara capres cawapres adalah urusan yang sangat bising, mutakhir, dahsyat, meledak, sensasional, mencekam, mendebarkan, menjengkelkan dan ...... memalukan....lhoo kook bisaaaa?????

Ya sudah barang tentu tiap orang berhak memilih kesannya sendiri akan tetapi ijinkan saya memilih kesan saya sendiri tentang proses pen-capres/cawapres-an. Mari kita lihat, SBY dan partainya adalah pemenang pemilu legislatif dan lalu cukup kuat untuk melaju ke dalam proses pemilu presiden. Lalu, ...brrrrrrrrr ..... ramai sudah laron-laron beterbangan di sekitar SBY dan demokrat. Bukan sekedar terbang berkitar ngider tetapi juga sambil melemparkan nama cawapres pendampingnya. Ada kelompok laron yang berapat dahulu trus nama yang diajukan dimasukan ke dalam amplop. Kelompok laron yang lain mula-mula saling gontok-gontokan dahulu sebelum mengajukan satu nama melalui ketua perkumpulan laron atau melalui keputusan rapat para laron....wwwwuuzzzzzz.....semua sama yakinnya bahwa nama ajuan merekalah yang akan dipilih SBY. Dan ketika SBY memilih cawapres menurut kesukaan dia sendiri,,...wwwuuurrrrchhh,,,,abracadabraaaaaaa....ngamuk ngambek-lah para laron itu. Macam-macam komentar dongkol mereka. Tidak cocok dengan kesepakatan-lah. Tidak memenuhi etika bekerja-sama-lah. Warna cawapres yang dipilih tidak cocok-lah....bla bla bla...blu blu blu....hicks .... hicks....Di Bandung tiba-tiba muncul spanduk yang bertuliskan kata-kata .... lebih baik BudiAnduk (manusia terganteng sedunia itu) ketimbang BoediOno.....ya amploooopppp....Di mana-mana timbul demo tetapi jika dilihat siapa pendemonya...alamaaaaak...dia-dia juga. Nggak jauh dari kelompoknya laron-laron ngambek itu.

Di seberang sana, adalah lagi drama lucu lainnya. Sebelum pemilu, JK dan partainya terlebih dahulu "gondok berat" ke SBY dan partainya karena merasa dilecehkan...."hhooiii., Golkar cuma bakal dapet 2.5% suara".... kata seorang petinggi PD. Sesudah pileg, JK masih berusaha sir-siran ke SBY tapi SBY sudah terlanjur mengatakan...tak sudi lagi daku berdua dengan mu......Lantas, tiba-tiba JK and his gang, yang baru saja diberi talak 3 oleh SBY ngeluruk ke kandang banteng Megawati. Mau ijab katanya. Lebih dari Ijab Kabul kata mister TK si paitua-nya Megawati.. Bukan cuma JK, tiba-tiba kerumunan orang di kandang banteng bertambah banyak. Koalisi besar katanya. Eh, hari ini tanda tangan kesepakatan berkoalisi, besoknya JK-Wiranto melangkah sendiri mbikin koalisi JK-Win. Ada lagi mister Prabowo yang jelas-jelas partainya cuma mendapatkan jatah 26 kursi di DPR RI tetapi ketika mau berkoalisi dengan PDIP .... lhaaaaaaadhalaaahhh....kok minta jatah jadi Capresnya.....opo tumoooonnnn???? Trus, carane piye untuk menekan Megawati??? Gampang, si mister mantan Panglima Kostrad di jamannya Mbah Harto itu mengumpulkan belasan partai "nol koma" yang nggak populer di masyarakat zonder perduli bahwa platforma partai-partai "nol koma" itu saling silang dan saling tunjang ke sana di mari tak keruan dan...woooaaaaa....nih gua punya modal belasan persen....ane capres ya!!!! Julie jadi cawapres aja ya!!!!. Akibat perilaku rekan-rekan koalisi besarnya, yang sontoloyo itu, maitua Megawati jadi pusing 7 keliling. TK ambruk KO dan dilarikan ke rumah sakit. Lalu, amboiiii ... ada kejutan .... lihatlah di sana.....siapa itu yang datang bertamu ke kandang banteng???...ahaaaa...itu adalah mister Hatta Radjasa yang adalah calon wapres yang diajukan mister Amien Rais dari PAN (sambil menyikut KO mister Sutrisno Bachir yang lalu mutung karena rencananya mo ikutan nyalon bareng Prabowo pupus sudah). Apa mau ada koalisi PAN + PDIP? No no no no...rupa-rupanya HR adalah utusan SBY guna mendekati Megawati dan mengajak koalisian PD + PDIP. Luar biasa....saling marah 5 tahun saling tidak berbicara 5 tahun tiba-tiba duduk 1 meja mencari jalan koalisi. Ada apa? Kita tidak mengetahui persis tetapi dengan melihat beberapa fakta terakhir, saya menduga berikut ini adalah agenda kongko-kongko bareng itu:

  1. SBY menawarkan kerja sama bareng PDIP karena SBY enggan mengambil cawapres yang berasal dari partai-partai sejenis PKS, PAN,dan PPP. Entah takut terulangnya pengalaman 5 tahun yang lewat dimana capres dari parpol kerap membuat tekanan-tekanan tertentu dan menjadi ganjalan psikologi bagi SBY sebagai presiden. Entah pula karena warna partai-partai-partai itu yang "terlalu hijau" yang mungkin tidak disukai oleh "another green". Nggak boleh dong hijau makan hijau.
  2. Formulasinya adalah cawapres SBY bukanlah orang partai tetapi seseorang profesional yang dapat diasosiasikan sebagai "orang dekat partai". Orang dekat partai itu adalah Prof. Boediono yang "dekat" dengan PDIP.
  3. Jikalau PDIP setuju maka ada dua jalan: pertama, Kalau bisa PDIP segera menyatakan berkoalisi dengan PD dan SBY. Biar top markotop. Kedua, silakan PDIP maju terus dalam Pilpres entah berpasangan dengan siapa. Tetapi jika kalah (SBY hakul yakin dapat mengalahkan siapa saja capres/cawapres lainnya) dalam pilpres maka hendaknya PDIP ikut mendukung SBY karena toh yang menjadi cawapres adalah Boediono yang orang dekat PDIP itu. Nah melalui kedua jalan ini SBY tidak perlu takut berhadapan dengan sohib-sohib lamanya seperti PKS, PAN, PPP yang mutung. Bagaimana PKB? itu sih sudah bench mark-nya SBY jadi tidak perlu dipersoalkan. Tetapi sebenarnya ada hal lain yang lebih ditakutkan oleh SBY. Apa itu? Inilah kira-kira agenda lain pembicaraan antara HR dan orang-orang di Teuku Umar.
  4. Masyarakat yang salah melakukan pencontrengan dalam pileg kemarin berjumlah 17.488.581 pemilih. Lantas, mereka yang tidak dapat memilih atau Golput berjumlah sekitar 49 juta orang. Jadi total rakyat yang tidak berpartisipasi sekitar 67 juta jiwa. Seandainya Megawati gagal memperoleh deal untuk pen-capresan-an lalu mundur sebagai capres, diduga sekitar 10 juta pemilih PDIP akan memutuskan diri ikut dalam gerbong Golput. Maka, potensi golput menjadi sekitar 80 juta jiwa. Jika total jumlah pemilih adalah 171 juta jiwa maka dapatkah dibayangkan nasib apa yang akan menimpa seorang presiden yang proses pemilihannya hanya diikuti oleh 50% penduduk. Jika terjadi fenomena mega-golput dalam pilpres maka sekalipun SBY terpilih sebagai presiden, dia bukanlah presiden yang legitimate. Tinggal dipicu sedikit kekacauan sosial maka usia kepresidenan SBY mungkin bertahan 1-2 tahun saja. Lalu kita terpaksa membuat pemilihan umum baru. Menurut hemat saya, inilah yang sebenarnya ditakutkan oleh SBY. Maka kedatangan utusan SBY ke Teuku Umar pastilah meminta dengan amat sangat agar Megawati jangan sampai menyatakan tidak berpartisipasi dalam pilpres. Mega boleh maju sendiri atau disiapkan sekenario lain, yaitu mendukung Boediono. Menurut hemat saya, Megawati sendiri sudah tidak begitu pusing lagi urusan pencapresan Semangat berapi-apinya untuk maju dalam pilpres tidak lagi besar karena fakta kekalahan PDIP dalam pileg. Jika saya boleh mengusulkan, memang sebaiknya Megawati mundur saja. Berikan saja dukungan untuk mereka yang terbaik jika itu memang dikehendaki oleh wong cilik, yaitu kelompok orang yang sering diatasnamakan oleh Megawati.

Nah, apakah sahabat blogger bisa menangkap maksud saya dalam omong kosong di atas. Saya tidak yakin. Sama tidak yakinnya dengan saya terhadap ulasan saya sendiri. Mengapa demikian? Itulah model perpolitikan di Indonesia yang kabur, tidak jelas dan tidak meyakinkan. PKS dan PAN menolak SBY-Boediono karena katanya tidak mewakili aspirasi umat Islam. Lha, apa sih agama SBY dan Boediono? Prabowo ngotot harus jadi capres. Lho, partai Gerindra punya berapa kursi di DPR sih? Hobi main paksanya nggak hilang-hilang juga si mister Prabowo ini. Jika Prabowo terpilih, apakah dia cukup memiliki ingatan yang panjang bahwa itulah masalah terbesar SBY selama 5 tahun ini. Berkuasa tetapi terpaksa harus banyak melakukan konsesi politik di DPR sebagai kompensasi kecilnya jumlah kursi PD di DPR? SBY nyaris tak berdaya ketika partai-partai kompanyonnya di DPR ngotot mengegolakan anek Undang-Undang yang berpotensi merusak kebhinekaan Indonesia. SBY juga tak berdaya sama sekali ketika di daerah ini dan itu terbit perda-perda exklusif. Jikalau nanti terpilih dan Prabowo terpaksa melakukan konsesi politik juga maka apa bedanya Indonesia di masanya dengan masa SBY-JK sekarang ini yang persis seperti kata Megawati: "maju mundur bak tarian poco-poco?".

JK maju sebagai capres tetapi tidak mau mundur sebagai wapres. Setia menalankan sumpah setia katanya tetapi lalu sibuk menyiapkan pantun berbalas dengan sang Presiden sementara rakyat dibuat ternganga denga keributan itu. JK berkolalisi dengan Wiranto sambil lupa bahwa baru sehari bersepakat bersama kawan-kawan lain membentuk koalisi besar. JK-Wiranto berkoalisi sambil lupa bahwa hampir setahun terakhir Golkar dan Hanura saling mencerca. Wiranto, dan juga Prabowo yang saling amat membenci pasca Mei 1998 seolah-olah mengalami amnesia sejarah. Lupa bahwa perseteruan mereka tempo hari membawa serta ribuan jiwa yang melayang sia-sia ditelan Jakarta yang membara. Pemilihan capres/cawapres berjalan begitu saja sambil lupa bahwa kasus DPT yang adalah skandal terbesar pemilu 2009. Proses berkoalisi berjalan sambil tidak ingat bahwa platform antar partai kerap tidak nyambung. Bagaimana mungkin PKS yang pro jalan syariah bisa berdamai dengan PD yang mengatakan bahwa NKRI adalah harga mati. SBY memberi talak kepada JK sambil tidak ingat bahwa 5 tahun lalu mereka berteriak kencang bahwa bersama kita bisa. SBY mengutus HR ke Mega dan lupa bahwa baru 1 bulan lalu dia membalas kritik Mega atas BLT dengan menyindir Mega sebagai pemimpin yang tidak punya hati. Mega mau saja berkoalisi dengan JK sambil lupa bahwa dahulu JK dan SBY sebagai menteri menelikung dia sebagai presiden. TK yang selalu mengatakan ke mana-mana ijab, ijab, ijab sambil lupa menjelaskan apa bentuk konkrit dari ijabnya itu. Koalisi yang pura-pura lupa platform itu bisa saja berjalan tapi di dalamnya akan penuh muslihat, taktik jahat, kawan menebas kawan, sahabat membanting sahabat, jeruk makan jeruk dan aneka ketidak ikhlaasan lainnya. Rakyat jadi sengsara. Persatuan Bangsa ini adalah korban terbesarnya.

Lalu, kata-kata apa yang paling lugas dan pantas untuk menggambarkan situasi politik Indonesia seperti yang digambarkan oleh situasi hari-hari terakhir ini? Menurut saya ada 2 hal, yaitu pertama, politik Indonesia masih bersifat politik lupa-lupa ingat. Lupa platform tetapi ingat kursi besar. Lupa rakyatnya tetapi ingat kekuasaannya. Kedua, politik Indonesia pada dasarnya adalah politik 1-2 jurus semata. Dari luar tampak ribet tetapi sebenarnya cuma sedikit jurusan, yaitu kekuasaan, oportunistik, dan semangat eksklusivisme kelompok. Anda menganalisis seperti apapun hasilnya akan ke situ-situ juga. Lalu saya teringat sebuah lagu Grup Musik Indonesia yang bernama Kuburan (dari luar tampak seram tetapi isinya .... walaaaahhhh itu-itu juga) dengan sebuah lagunya yang berjudul "lupa-lupa ingat" yang di bagian akhirnya berulang-ulang disenandungkan... ce a minor de minor ke ge ke ce lagi....Itulah gambaran politk Indonesia. Lupa-lupa ingat dan jalannya cuma berputar-putar dari situ ke situ lagi. Ya, politik Indonesia adalah politik 1 jurusan asal berkuasa karena lupa diri siapa mereka sebenarnya. Pemerintahan hasil politik lupa ingat 1 jurus ini adalah pemerintahan yang tidak maju-maju. Rakyat makin terdesak. Orang miskin semakin dekat ke kuburan .... Lanjutkan kata SBY... Lebih cepat lebih baik kata JK........mau lebih cepat bung en sus? Pake ajah Mega-Pro......yang lain makin ketinggalan.......weleh weleh weleh......


Tabe Tuab Tabe Puan