Senin, 15 Februari 2010

Samuel Moerdiono: kepastian masa lalu kebahagiaan masa depan

Dear sahabat blogger,

Maafkan saya karena lama absen dari blog. Banyak kesibukan yang menyebabkan badan terasa amat penat. Kepenatan menyebabkan pikiran agak buntu. Ingin menulis tetapi pikiran dan gagasan tak berjalan sempurna. Daripada dipaksakan dan hasilnya mengecewakan, lebih baik diendapkan saja dahulu. Siapa tahu karena kelamaan tidak mem-posting lalu timbul inspirasi-inspirasi baru. Lamo indak basuo lantas timbul kerinduan. Lalu dalam kerinduan yang membuncah timbulah gagasan yang akan mengalir deras menabrak semua hambatan dan kebuntuan. Dan, begitulah, jadilah tulisan ini. Tetapi benarkah sebuah kerinduan dapat membangkitkan kreativitas? Saya menjawab ya. Mau bukti? Silakan saja ditanya satu-satu kepada para penggemar jejaring sosial yang amat gemar mencari-cari dimana kawan-kawan lama mereka. Sekali bertemu, serasa dunia berguncang. Kenangan lama diputar kembali dan ... wow .. kata berlari, ucapan bertaburan dan lalu semuanya kembali normal. Kreativitas kembali lancar. Dan memang adalah kerinduan kepada para sahabat blogger yang sudah saya tinggalkan 1 bulan lamanya, yang mendorong kembalinya saya ke dalam blog. Tidak hanya itu, sayapun punya satu ceritera yang mungkin menarik untuk dibagikan kepada semua sahabat blogger guna membuktikan bahwa betapa kerinduan dapat menjadi sumber inspirasi. Apa itu? Ikuti saja tulisan ini baik-baik.

Dahulu kala, seumuran masa SMA saya memiliki beberapa sahabat baik. Seingat saya ada beberapa nama, di antaranya adalah Andre Pitanuki, Tom Fono, Edi Sugiarto, Frans Sapa, Adrianus Wenipada, dan...wah masih banyak lagi. Teman-teman ini agak khusus karena sudah teramat lama sejak masing-masing kita berpisah, lalu tak pernah lagi berjumpa. Beberapa nama sahabat lama semenjak SMP-SMA seperti Oris Ballo, Agus Nalle, Matheos Lalus, Edwin Lazarus, Papi Telupere dan yang semacam mereka tidaklah menimbulkan kerinduan karena nyaris tiap hari bertemu. Bahkan bertemu dengan manusia seperti Mister Agus Nalle cenderung membosankan. Betemu dengan Oris Ballo malah menakutkan karena sekarang dia menjadi atasan yang berkewenangan memberi penilaian kinerja saya sebagai Dosen PNS. Bertemu DR. Papi Telupere juga tergolong membosankan karena kami malah tinggal bertetangga. Lagi pula tingkah lakunya suka bikin susah ha ha ha ha (sori mister Papi he he he). Nah, semua sahabat lama yang menghilang itu ternyata menimbulkan kerinduan. Diam-diam ada kerinduan akan suasana bersama-sama seperti dahulu ketika sama-sama masih “polos” dan “naif”. Kami mengira dunia amat luas nyatanya cuma seputaran rumah, sekolah dan angkot. Dunia serasa luas kendati nyatanya cuma seputaran mencabut singkong yang tumbuh di halaman orang lain atau, bahkan, “mencuri” ayam milik guru sendiri...ha ha ha ha....Banyak ketengilan yang terjadi. Memalukan memang tetapi indah.

Salah satu di antara banyak nama itu adalah Samuel Moerdiono. Dia sahabat baik saya. Bukan sekedar sahabat, kami pernah terlibat dalam beberapa pekerjaan bersama-sama. Kami mengamen berdua ke mana-mana. Mula-mula kami kompak tapi saya berulah. Saya menjadi tak begitu fokus dengan pekerjaan bersama itu lalu saya pergi begitu saja. Tetapi tak lama kemudian, kami bertemu kembali dan proyek dilanjutkan lagi bersama-sama. Kali ini, di tengah jalan, saya merasa gantian Samuel yang tak fokus. Dia tak fokus lagi kepada komitmen kita berdua. Bahkan, sekali waktu, saya merasa, Samuel menghina saya. Di depan saya Samuel “tega” berkata begini: “lagumu sudah tak enak lagi” ... “aransemenmu sudah tak menarik lagi”..."kamu kampungan". Merespons "penghinaan" dari Samuel, sayapun bersikap: "Baiklah, jikalau kamu mulai menghina maka kamu bukan lagi teman”....”kamu adalah musuh”....Lalu, ...zzzzppppp....kami berpisah.... tak mau lagi saya berkomitmen apapun dengan dia .... korelasi kami terhenti total .... bukan cuma setahun dua tetapi puluhan tahun lamanya. Saya menutup buku untuk kisah persahabatan kami. Saya balik ke Kupang. Dia entah kemana. Sesudah itu, tak ada lagi rekam jejak dia yang saya dengar. Saya sungguh tak perduli. Diapun mungkin begitu. Cuma sekali waktu sempat terdengar kabar bahwa Samuel terus menetap di di luar NTT tetapi karir seninya tak ada apa-apanya lagi ... ”rasain lu” ... ”Su rasaaaa” ... “Bodo’” .... “ke laut sajalah” .... demikian saya membatin. Saya lalu melupakan salah satu cita-cita saya dan fokus hanya untuk dunia pendidikan. Dan jadilah saya dosen. Sampai hari ini. Sekali dua masih menyanyi. Hanya untuk bikin senang hati.

Lalu, tak disangka dan tak dinyana, datanglah Desember 2009. Waktu itu ada kegiatan pertemuan Nasional di Jakarta. Saya hadir karena diundang sebagai peserta dan juga pembicara. Ketika mendaftar, di dalam formulir pendaftaran peserta, kami diminta untuk menulis nama, alamat, pekerjaan dan nomor HP. Saya taat urusan itu. Lalu, masuk ke kamar beristirahat di hotel jangkung dan hebat mewah. Menikmati fasilitas kamar yang luxury (maklum orang kampung masuk kota he he he he...). Ketika sedang diam di kamar Hotel sambil mempersiapkan bahan presentasi, tiba-tiba HP saya berbunyi. Heiii...ada SMS di HP. Bunyinya begini .... “salam hangat untuk orang Kupang” .... Ada apa ini? Siapa ini? Nomor ini tak saya kenal ... Saya membalas : “mohon maaf, ini dengan siapa?” .... Tak lama kemudian SMS saya berbalas calling ...”turunlah ke lobby, kita ketemu. Kita teman lama, lu pasti tahu siapa beta” ... lalu ... click.... HP ditutup ... Saya bingung, rasanya dari Kupang cuma saya yang diundang. Mengapa ada yang tahu saya di sini? Atau barangkali ada orang lain atau kebetulan ada orang Kupang yang melihat saya di lobby lalu menelepon...saya tengok jam tangan saya...he he he...sudah mendekati jam makan malam...siapa tahu “si mister gelap” adalah teman yang mau mengajak makan malam...wuuiiihhh ... kesempatan ... mumpung panitia belum menanggung makan malam. Naluri oportunis merangkak diam-diam.

Dengan tanpa beban sayapun turun ke lobby hotel melalui lift. Ketika pintu kift ke arah lobby terbuka, saya berpikir untuk mengetahui terlebih dahulu..siapa gerangan “mistery caller” tadi...hmh..sayapun membuka HP dan melakukan pemanggilan. Lalu, mata saya awas ke kiri dan ke kanan. Barang siapa yang mengangkat HP, maka kemungkinan besar itulah si mister mistery caller...huuuppp...satu dua tiga....dan saya ulang 3 kali upaya miscall dan ... nah itu dia...ada seorang pria berambut panjang, berbaju merah dan menyandang ransel hitam besar yang 3 kali mengangkat HP lalu menurunkannya lagi ... diam-diam saya mendekatinya...dan ketika berjarak sekitar 5 meteran.....wuuuuzzzzzz.....saya bisa memastikan bahwa si mistery caller itu adalah sabahat sekaligus musuh saya selama puluhan tahun lamanya....anda sudah bisa menebak siapa dia ... ya, dialah Samuel Moerdiono ... tapi drama belum berakhir... dalam jarak sekitar 1 meter darinya saya pun mengangkat HP lalu melakukan calling....”Hallo Kawan, saya sudah di lobby, anda di mana? ...dia menjawab: heeeiii...posisi di mana??? Saya menjawab perlahan: .... balikkan badanmu kawan, saya tepat berada di belakang mu...dan blammmm....saya melihat dia terpana sejenak, sayapun demikian, dan, akhirnya ... kami berdua berpelukan.....kami berdua sama terharu....ternyata, sahabat sejati adalah sahabat yang selalu saling merindu .... sekali sahabat tetaplah sahabat ... kebencian di antara kami ternyata adalah kerinduan yang dipendam. ..

Saya: Sam, dari mana kamu tahu bahwa saya ada di sini?

Samuel : dari buku regisitrasi peserta....hei ada nama L. Michael Riwu Kaho....itu cara teman lama saya kalau menuliskan identitas...lalu saya periksa....ho ho ho ... berasal dari Kupang ...tak mungkin salah...pasti si mike, sahabat yang saya benci tetapi diam-diam saya rindukan....saya memastikan ke petugas bahwa memang LMRK adalah peserta dari Kupang...

Saya : ha ha ha ha ... masih cerdik seperti dahulu ya....

Samuel : ha ha ha ia lah .... lalu saya mencatat no HP mu...begitulah kawan...hei...kamu tidur di kamar mana?....saya akan minta ke panitia untuk pindah ke kamar itu ... (begitulah, sampai acara berakhir saya dan Samuek sekamar)......Mike...masih marah kah kamu? .... maafkan kesalahan saya dahulu....saya menyesal telah menghina kamu ...

Saya : Sam, kita sudah tua dan tak pantas menambah musuh....saya memaafkan kamu dan saya harap kamupun memaafkan saya ..... kita sahabatan lagi ya....

Lalu kami berdua sekamar dan di kamar kami nyaris tak tidur...ngobrol ke sana ke mari dan di antaranya adalah ini....

Saya : Sam, saya tak bermimpi lagi jadi penyanyi. Cukup jadi dosen saja. Pahalanya banyak.....

Samuel : Mike, sayapun tak bermusik lagi...saya menjadi .... (petinggi di LSM yang berurusan dengan orang-orang luar negeri)...tetapi saya bangga juga bahwa kamu looking smart kendati cahig mu masih mirip dukun ... seperti dahulu... hei kamu Ph.D holder kan? Saya tidak ...

Saya : iya, tetapi apalah saya ini .... cuma punya ilmu .... tidak kaya seperti kamu ...

.... dan memang saya melihat Samuel hidupnya makmur.. Tajir.banget die. Harumnya adalah harum berkelas sedangkan semprotan anti BB saya adalah barang dengan kelas yang jika saya semprotkannya, isteri sayapun akan protes keras...hei, bikin batuk saja ha ha ha ha .... Kendati begitu ternyata kami berdua adalah orang-orang gagal untuk satu cita-cita tetapi berhasil untuk mimpi yang lain. Aha, semangat karena bertemu sahabat lama menyebabkan kami berdua sangat produktif. Dalam kelompok diskusi, kami berdua meluncurkan banyak ide-ide gila dan anehnya diterima. Lalu, dia bersepakat untuk men-support pekerjaan saya dengan peluang-peluang pendanaan yang bisa dia usahakan...(Ah, sahabat baikku Sam, saya tak memerlukan kucuran danamu ... mengetahui bahwa kita bisa berteman kembali cukuplah sudah).

Sahabat blogger terkasih, demikianlah dramaturgi kisah pertemuan kembali antara saya dan mister Samuel. Aneh, lucu dan mengharukan tetapi juga produktif. Pertanyaannya adalah mengapa saya, anda dan juga banyak manusia lain selalu merindukan suasana-suasana lama ketika hidup harus terus berlari ke masa depan. Mengapa absen 1 bulan dari blog menimbulkan kerinduan? Lihatpula apa yang dibicarakan di antara sahabat-sahabat lama di facebook misalnya. Tengok pula acara musik memori 60-an, 79-an dan 90-an. Jawabannya ternyata sangat filosofis. Begini.

Manusia terdiri atas materi dan roh. Materi bersifat terbatas. Jika anda berada di Kupang, tak mungkin anda berada di Jakarta pada saat yang bersamaan. Tetapi dengan roh yang ada, anda yang sedang rapat kerja di Jakarta, bisa menghampiri isteri atau suami anda di rumah masing-masing pada saat yang sama. Tangan anda baru saja menandatangani tanda terima uang lelah rapat tetapi pikiran anda melayang....”aha, isteri saya akan tertawa senang melihat tumpukan uang ini”. Dengan demikian terjadilah paradoks manusia dalam urusan “adanya”. Manusia materi adalah “tingkat ada yang lebih rendah” ketimbang manusia roh yang merupakan "tingkat ada yang lebih tinggi". Secara metafisis kita akan menyebutkannya sebagai “unfolding of being”. Dalam filsafat Tuhan kita bisa menggunaan urusan “unfolding of being” ini guna menemukan jalan menuju Tuhan. Tetapi saya belum akan ke sana kali ini. Saya masih mau berbicara tentang manusia.

Dalam urusan manusia, prinsip “unfolding of being” akan membawa kita kepada kesadaran bahwa manusia adalah manusia hidup dalam situasi serba terbatas (faktisitas) tetapi di dalam keterbatasannya itu, terbuka banyak kemungkinan (atau kebebasan). Coba kita telusuri kisah orang yang menerima uang rapat tadi. Selain yang sudah saya tulis, ada kemungkinan lain bahwa seterimanya uang di tangannya dia malah berpikir tentang nikmatnya makan nasi goreng atau ... jangan-jangan ...ehmmm....membeli mobil maksud saya (jangan ngeres ya...ha ha ha ha...). Singkat kata, bersebelahan dengan keterbatasan adalah tersedianya banyak kebebasan. yang ditawarkan oleh aneka kemungkinan. Kemungkinan yang banyak itu menyebabkan manusia bisa terlepas dari keterbatasannya tetapi sayang, itu cuma sejenak. Ketika semua kemungkinan ingin diwujudkan sekaligus, manusia akan menemukan diri bahwa dia adalah terbatas. Apakah cukup uang Rp. 500.000,- untuk membeli mobil mewah kecuali sekrupnya doang???? Kata Snijders (1994) alasan itulah yang menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk “tak sampai”. Selalu mau kemana-mana tetapi tak sampai-sampai. Selalu banyak maunya tetapi hanya sedikit yang bisa diraih. Dengan wawasannya, manusia ingin meraih sebanyak mungkin cita-cita ke masa depan....kata Bung Karno: “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit” ... tetapi makhluk tak sampai ini kerap putus asa karena tidak semua cita-cita bisa diraihnya. Lalu, afeksi manusia memerintahkan begini ...”ketimbang putus asa melihat masa depan yang tak semuanya indah maka lebih baik kamu melihat apa-apa yang sudah kamu miliki, maka kamu akan lebih tenteram”. Bagaimana cara untuk mengusir duka masa depan? Caranya adalah berbahagialah dengan apa yang kamu miliki di masa lampau. Itulah titik atau modal awalmu. Lalu, kita bisa memulai perjalanan lagi dari titik awal itu untuk menggapai masa depan?. Oh, manusia ternyata mencari kepastian dan itu hanya dimiliki oleh apa yang ada di masa lalu. Ya, masa lalu menjanjikan kepastian. Morning has broken like the first morning. “Marilah kita memulai hari baru seperti ketika kita memulainya pertama kali dahulu”. Begitulah, ke masa lalu itulah, manusia akan menengok ketika dia bimbang menatap masa depan. Anda tahu kini mengapa kita suka menengok masa lalu?

Ya, saya mengenang Samuel Moerdiono karena dia mengingatkan saya bahwa menghadapi masa depan yang serba tak pasti saya masih memiliki kepastian di masa lalu. Di situ saya menemukan ispirasi-inspirasi baik untuk tak ragu terus berjalan menuju masa depan. Mungkin ke depan tubuh saya akan makin renta tetapi bukankah ketika masih muda badan saya tegap, langsing , sehat dan gagah? Ah, jikalau begitu mari coba saya hidup lebih sehat supaya bisa tetap energik kendati usia bertambah. Sayapun harus mengenang masa ketika saya sangat aktif memposting artikel-artikel baru dan akhirnya saya bersemangat untuk memposting lagi artikel baru hari ini. Alasan yang sangat rasional untuk mengenang masa lalu bukan?. Maka, jangan malu mengenang masa lalu. Semua bisa kita pakai sebagai modal untuk perjalanan memasuki masa depan. Nah bagi anda yang tertarik untuk mengenang masa lalu demi energi positif ke masa depan maka ijinkan saya menemani perjalanan wisata anda ke masa lalu dengan sebuah lagu cantik dari Julio Iglesias dan Willie Nelson berikut ini.


Tabe Tuan Tabe Puan

Selasa, 05 Januari 2010

dolly, gus dur, ibunda tien, dan tahun baru: hati dan hari yang tak terselami

Dear Sahabat Blogger,

SELAMAT TAHUN BARU 2010. Semoga sahabat semua yang budiman dan budiwati sehat dan penuh berkat pada tahun yang baru ini. Itu dulu yang saya harus kasi ucap pada kesempatan pertama kali. Mengapa demikian? Oh ya, supaya saya tidak "didamprat" oleh sahabat blogger yang budiman. Apakah ada pengalaman untuk itu? Ya, ada dong dan hal itu akan saya ceriterakan sehubungan dengan nama pertama dalam judul posting ini. Begini,

Tanggal 28 Desember lalu, dolly, ya nama ini tak lain dan tak bukan adalah isteri saya yang kinyis-kinyis, tepat berulang tahun ke 45. Saya pikir ada banyak harapan dan pergumulan dalam hatinya. Salah satunya, mungkin saja, adalah adanya perhatian ekstra dari suami terkasihnya. Ya, saya sendirilah. Tetapi ya ampyuuuunnnn.... sang suami, saya sendiri, mengawali hari dengan biasa-biasa saja. Semua berjalan normal kecuali 1 kecupan di kening...selamat HUT ya isteriku....sudah dan hanya itu. Rupanya dolly kecewa. Dia berangkat ke kantor dan .... wuuuussszzzzz .... sejak siang sampai petang HP-nya dimatikan. Tak bisa dihubungi. Lalu saya tak tahu dia ada di mana. Setelah ke sana-kemari tak ketahuan juntrungan, tiba-tiba saya bisa mengontak dia dan...brrrrrrr...... berhamburan kata-kata keras dari dolly ... "lu terlalu sibuk"....."lu tidak punya waktu untuk beta".... "lu urus saja diri sendiri" ... waaaaaaa ... dolly marah. Dia bertiwikrama. Intinya, dia protes keras karena HUT berjalan nyaris tanpa perhatian dari suami. Kejam oh kejam. Tetapi apa benar begitu? Heeiittt, jangan terburu-buru melancarkan vonis buruk kepada saya wahai bung dan soez. Hari itu, sebenarnya, saya tidak abai begitu saja kepada dolly dan HUT-nya. Sepintas memang saya tampak biasa-biasa saja tetapi diam-diam saya sedang menyiapkan kejutan untuknya. Ada hadiah khusus yang saya siapkan untuk mengejutkan dia. Tetapi sayang, sebelum saya mengejutkan dolly, saya sudah terlebih dahulu dikejutkan olehnya....wuuueellleeeeehhhh....emosi saya terpancing dan kami ribut besar hari itu ... bla bla blaaa brrrr brrrr breketek wuuuhhgg heeeeghhh waaaawww wwwoowwww ... Tetapi apakah dengan begitu hari itu kami berdua kehilangan cinta? Oh, tidak juga. Kami berdua akhirnya bisa menutup hari itu dengan damai. Cinta kami tidak hilang. Lha, cinta kok ya bertengkar hebat??? Dalamnya laut dapat diduga tetapi isi hati wanita? Tak ada yang tahu. Sayapun tidak dan cuma bisa bilang I love u full, dolly. Itulah hati yang tak terselami.

Bicara soal hati yang tak terselami adalah Gus Dur, sang Guru Bangsa yang sudah pergi ke negeri abadi, merupakan satu teladan yang lain. Ketika dia pergi, semua kita tetap saja kaget kendati sudah mahfum bahwa Gus Dur lama sakit-sakitan. Dia adalah tokoh ulama Muslim yang humanis, nasionalis, demokrat dan sekaligus kontroversial. Saya kira kita semua sepakat tentang itu. Gus Dur adalah dedengkot NU. Gus Dur adalah pembela yang fanatik terhadap golongan minortas di negeri ini. Franky Sahilatua menyatakan dengan amat baik ketika menggambarkan sosok Gus Dur dalam hal itu..."Gus Dur adalah alamat. Gus Dur adalah addres bagi kami kaum minoritas. Dia mau mendengar. Dia mau dan berani membela". Gus Dur juga pernah mengejutkan banyak orang di tahun 1980-an ketika dia menganjurkan untuk saling menyapa "selamat pagi" ketimbang mengucapkan uluk salam yang Islami. "Kita orang Indonesia" katanya. Dengan mengatakan begitu jelas dia adalah seorang Nasionalis tetapi sekaligus kontroversial. Cilakanya Gus Dur tak perduli dengan cap kontroversialnya itu. Mbah Soeharto almarhum pernah amat tersinggung gara-gara ucapan Gus Dur bahwa si mbah adalah orang bodoh. Akibatnya, Gus Dur mengalami kesulitan yang luar biasa besar ketika balas dikerjain si mbah. Puncak sikap kontroversial Gus Dur adalah ketika dia menyediakan diri dan mau menjadi presiden RI padahal seharusnya "hak itu" ada pada Megawati. Pada "tikungan terakhir" Megawati, sohibnya sendiri, disalip dan jadilah Gus Dur sebagai Presiden RI ke-4. Humanis kok meelikng teman sendiri? Lalu, kapal Indonesia disetir bagai "the drunken master". Julukan yang diberikan oleh Rizal Ramli, menterinya Gus Dur ketika itu. Kapal RI oleng ke kiri dan ke kanan sementara Gus Dur enak saja keluyuran ke luar negeri sambil mengatakan..."gitu aja kok repot". Lalu kita sama tahu pada tanggal 23 Juli 2001, tanpa repot-repot Gus Dur dijatuhkan. Saya yang amat mengagumi Gus Dur sejak tahun 1980-an sering teramat bingung dengan pola tingkah lakunya. Ketika perilaku demokratisnya seolah tidak terbantahkan eh.....dengan enak Gus Dur mengatakan bahwa..."jikalau kyai anu sudah memerintah saya akan saya pasti aka melakukan. Lha, demokrat ko malah eksklusif? Di lain waktu situasi terbalik..."biar saya diperintah kyai polan tetapi demi masyarakat saya tak perduli". Lha, humanis kok mencla-mencle? Tetapi di hari ketika Gus Dur pergi, saya termasuk orang pertama yang menaikkan bendera 1/2 tiang bahkan ketika belum ada pengumuman resmi untuk itu. Ternyata saya mengasihi orang ini. Banyak gagasannya baru dapat saya mengerti belakangan. Ah, Gus Dur sayang, selamat jalan. Sampeyan memang memiliki hati yang tak terselami.

Tanggal 2 Januari 2010, persis sudah 1 tahun ibunda saya, Agustine Sabartinah, terkasih pergi menyusul kekasih hatinya, ayahanda SGT, ke negeri abadi. Ada sejuta kepedihan di hati saya tentang keprgiannya itu. Satu di antaranya harus saya akui hari ini, yaitu saya merasa "dibohongi ibunda". Dia berjanji hanya pergi 2-3 bulan saja selama bulan hujan. "Nanti jikalau musim kemarau saya akan pulang", demikian ibunda berjanji. "Kamu pulang dan bersihkan rumah supaya ketika saya pulang dia dalam keadaan bersih", demikian perintahnya. Tetapi apa yang terjadi? Ibunda tidak pulang ke Kupang, dia malah berangkat ke negeri abadi. Berbohongkah ibunda? Tak sayangkah dia kepada anak dan cucunya yang amat mencintainya? Saya kira tidak juga tetapi itulah hati yang tak terduga. Saya kira suda memahamnya luar dalam tetapi nyatanya tidak juga. Ibunda sayang, I love you full. Selamat damai bersama ayahanda dan Tuhan. Engkau memiliki hati yang tak terselami.

Tahun 2009 sudah kita tinggalkan. Semua yang terjadi sudah kita ketahui. Sudah tercatat dan menjadi sejarah. Tingal kita adalah mencari hikmahnya saja. Lalu, tahun 2010 sudah kita masuki. Apakah anda tahu apa yang akan terjadi di tahun 2010. Gelap Bung. Gelap Soez. Tak seorangpun tahu. Mama Loren dan Deddy Corbuzier-pun lebih banyak keliru ketimbang benarnya ketika mencoba meramal hari esok. Lalu apakah dengan demikian kita perlu untuk menghentikan perjalanan kita? Saya kira tidak perlu dan nyatanya tidak mungkin perjalanan kedepan terhenti. Hidup harus terus berlanjut bahkan ketika di depan kita adalah kepekatan kabut yang tak jelas. Hari di depan adalah hari yang samar-samar. Hari yang tak terselami.

Manusia adalah makhluk paradoks. Pertama, dia adalah makhluk yang hanya akan bertindak ketika dia tahu. Saya makan karena saya tahu bahwa saya akan lapar jika tidak makan. Karena hari besok adalah gelap maka manusia memerlukan cara untuk menduga-duga hari besok. Cara baheula adalah dengan meramal menggunakan jasa para dukun. Cara moderen adalah dengan membuat visi dan misi lalu membuat perencanaan. Yang kedua, manusia selalu mau tahu lebih jauh lagi. Seolah-olah manusia sudah tahu semua hal lalu dia bertindak dan bersikap sok tahu akan segala perkara. Manusia adalah makhluk yang sebenarnya berpengetahuan terbatas tetapi memiliki wawasan yang tak terbatas. Singkat kata, manusia adalah makhluk yang tidak tahu tetapi sok tahu. Benturan keduanya membuat banyak hal menjadi tidak terselami. Cilakanya, manusia sering terlalu jumawa dan sok tahu. Dolly pikir bahwa suaminya sudah tidak punya perhatian. Nyatanya tidak begitu. Saya pikir dolly pasti suka dengan kejutan saya. Nyatanya dolly malah merasa kehilangan perhatian. Gus Dur berpikir semua orang harus memahami dia. Orang Indonesia pikir, mereka tahu semuanya tentang Gus Dur. Apa yang anda dan pikir tentang hari esok. Tahu atau sok tahu?

Secara filosofis, ketimbang bersikap sok tahu lebih baik adalah belajar dengan penuh kerendahan hati. Jangan malu mengakui bahwa ..."saya tak tahu banyak dan oleh karena itu saya perlu belajar banyak". Manusia dengan keluasan wawasannya akan selalu mau tahu lalu bermimpilah dia. Marthen Luther King Jr. mengatakan bahwa ...."i have a dream". Bagaimana mewujudkan mimpinya itu? Marten Luther Kin Jr. belajar dan bekerja. Dengan belajar maka impian tentang harapan hati dan cita-cita hari esok bukan cuma mimpi. Maka, saya mau terus belajar tentang Dolly, Gus Dur, Ibunda dan hari-hari mendatang. Andapun seharusnya begitu. Itulah yang harus dilakukan manusia guna memahami hati yang tak terselami. Hari yang tak terselami. So, BELAJAR-lah. Selamat menempuh perjalanan hati dan hari. Tuhan memberkati anda di tahun yang baru. That's all dear folks.


Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 24 Desember 2009

natal, hanacaraka dan masmenyanmur

Dear Sahabat Kristiani,

Malam ini adalah malam tanggal 24 Desember 2009. Malam ini sungguh spesial bagi anda dan saya. Ya, bagi umat Kristiani, malam seperti ini memang tidak ada duanya. Ada banyak hari raya Gerejawi tetapi malam tanggal 24 Desember tetaplah sesuatu yang berbeda. Bahkan nuansa hari raya natal yang tanggal 25 itupun seakan kalah perbawa ketimbang tanggal 24. Di mana letak ke-khas-an tanggal 24 Desember itu? Saya pikir adalah ini, jika pada tanggal 25 yang mengemuka adalah suasana pesta maka pada tanggal 24 adalah kontemplasi dan perenungan. Di benak umat Kristiani melintas pikiran bahwa "seandai malam ini, YESUS tidak lahir maka besok tidak ada pesta". Maka malam kelahiran menjadi sang prima. Selanjutnya adalah urusan kedua, ketiga dan seterusnya. Ya, yang pertama sungguh berkesan kendati mungkin bukan yang terbaik dan terbesar. Bukankah kita mengenal ungkapan bahwa cinta pertama serasa di surga, cinta berikutnya cuma di emperannya doang. Atau yang ini "kesan pertama menentukan, selanjutnya terserah anda". Nah, sahabat seiman, saya kira itu dan tentang perenungan itupula saya ingin mengajukan jalan pikiran saya berikut ini.

Natal atau Nativity of JESUS adalah titik awal. Konon, YESUS lahir di sebuah kandang ternak tagal ruang yang lebih layak tak lagi tersedia. Fakta ini ironis karena bagi umat Kristiani, YESUS adalah raja sejak di dala kandungan ibunya. DIA adalah Imanuel. Allah yang berada bersama-sama manusia. Lha sudah tentu aneh, raja kok ya lahir dikandang? Tetapi itulah yang terjadi di malam natal. Suka atau tidak.

Hanacaraka adalah salah satu filsafat orang Jawa yang luar biasa indahnya. Konon Ajisaka, si pencipta huruf Jawa, memiliki 2 orang prajurit utusan yang setia dan gagah berani, yaitu Dora dan Sembada. Keduanya rela mati demi tegaknya prinsip hidup. Tak ada kompromi selain komitmen terhadap tugas. Setia sampai mati. Untuk mengenang Dora dan Sembada yang mati justru karena setia kepada perintahnya maka Ajisaka menciptakan huruf Jawa "hanacara". Selengkapnya begini:

hana caraka = ada utusan yang setia
da ta sawala = yang menolak sawala atau berunding
pada jayanya = kedua-duanya sama jayanya
maga batanga = telah gugur demi kebenaran

Perhatikan sekali lagi arti kata-kata itu dan saya kira kata kuncinya adalah kesetiaan menjalankan tugas kendati nyawa menjadi taruhannya. Setia dan oleh karena itu nyawa menjadi taruhan? Pada titik ini, ketika membaca kisah hanacaraka, saya teringat akan pribadi sang Bayi Natal di kelak 30-an tahun kemudian setelah nativity. Demi sebuah tugas, YESUS tak gentar ketika palang kayu menantinya untuk mati "di sana". Di kayu Salib. Lalu, sebagai orang setengah Jawa, saya ingin mengenang YESUS secara paralel dengan filsafat leluhur saya itu. Untuk itu, dengan diinspirasi oleh adik Imanuel Riwu Kaho, saya ingin mengembangkan makna hanacara ka ke arah pribadi dan pekerjaan YESUS (cara yang mirip pernah dilakukan oleh pastor Johannes Pujasumarta, Pr yang menulis tentang tafsir Kristiani hanacaraka). Hasil aransemen saya lalu menjadi begini,

hana caraka = Sang Hyang HANA (sang Maha ADA) mengirim UTUSAN

data sawala = yang terpanggil atau yang dipanggil atau yang disebut UTUSAN tersebut adalah seorang duta yang TAAT (yang tidak mengelak = sewala) pada perintah sang Hyang HANA. Utusan itu adalah YESUS

Pada Jayanya = namum demikian baik yang mengutus maupun yang diutus adalah SEHAKEKAT atau SANG MAHA ADA DAN YESUS KRISTUS ADALAH SATU

Maga bathanga = sang UTUSAN berkarya dan setia SAMPAI MATI DI ATAS BATANG/PALANG/SALIB;

Dalam kerangka pikir hanacaraka, saya menemukan pribadi YESUS yang ternyata adalah utusan ALLAH YANG SETIA. Tidak sekedar utusan melainkan DIA dan ALLAH sehakekat adanya. Kata Alkitab:

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14)"

Judul posting natal kali ini adalah natal, hanacaraka dan masmenyanmur. Natal dan hanacara sudah dibahas. Di mana masmenyanmurur-nya? Begini: kata itu adalah penggabungan begitu yang saya lakukan saja demi efiiensi ruang dari 3 buah kata, yaitu emas, kemenyan dan mur. Tiga barang ini adalah persembahan yang diberikan diberikan oleh 3 para majus dari Persia yang mencari YESUS yang diramalkan sebagai sang Raja (ramalan yang kemudian sangat tepat). Coba anda membayangkan, bagaimana perasaan anda jika diberi hadiah emas? pasti senang karena emas adalah logam mulia berharga mahal. Teapi bagamana dengan kemenyan? Pelu lu bau menyan, mau???? he he he...Terlebih lagi dengan mur, yaitu bahan pembalse mayat...wuuiiihhh sereeeeemmm boookkkk. Tetapi ternyata persembahan 3 majusi itu bukan sembarangan karena sesungguhnya memberikan petunjuk tentang jati diri dan nasib sang bayi YESUS.

Emas adalah jenis logam mulia yang sejak dahulu kala bernilai tinggi. Emas adalah lambang kejayaan dan kekuasaan. Ya, YESUS memang benar seorang raja - raja di raja - dan mahakaya. Kemenyan dibuat dengan memotong sebatang pohon Arbor thurisfrom yang ada di Persia, Arab, dan India. Kemenyan ini seperti getah yang dikumpulkan dan kemudian dikeringkan selama tiga bulan sehingga menjadi seperti damar yang keras atau permen karet. Kemenyan digunakan sebagai wangi-wangian, tetapi kebanyakan ditimbun sebagai bau-bauan yang harum selama penyembahan. Dalam Keluaran, Harun akan membakar kemenyan di altar sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan. Oh ternyata kemenyan adalah sarana yang diperlukan dalam menciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya manunggaling kawula dan gusti. Ya, YESUS adalah penghubung manusia dan Allah. Terakhir adalah mur. Murjuga merupakan getah dari pohon yang dikeraskan dan kemudian digunakan. Namun, tidak sama dengan kemenyan yang wangi, mur rasanya pahit. Mur sering kali digunakan untuk membalsam orang mati. Syeet dachhhh. Mur adalah lambang kematian yang akan dialami YESUS supaya hubungan antara ALLAH dan manusia dapat bersifat abadi. YESUS memang akhirnya mati, tetapi bangkit kembali, dan mendamaikan ALLAH dengan manuisia. Yang oleh karenanya kita layak datang ke hadirat Tuhan.

Jadi, bagaimana merangkum ketiga frasa yang ada di dalam judul posting ini? Natal adalah kelahiran YESUS yang raja sekaligus yang mskin dan papa. DIA adalah utusan tetapi sehakekat dengan SANG PENGUTUS. Pekerjaan YESUS adalah mendamaikan manusia degan ALLAH dengan jalan mati memikul dosa manusia. Hanya dengan itu manusia, anda dan saya, mempunyai harapan baru dalam hidup. Dalam dunia yang terus berubah, setiap perubahan tanpa kepastian akan membawa anda dan saya menuju keputusasaan dan kematian. Teralienasi dari dunia dan lebih cilaka, teralienasi dari ALLAH. YESUS adalah jawaban untuk masalah gawat itu. Dan dia sudah tunai melaksanakan sema kewajibannya. Bagaimana dengan anda dan saya wahai sahabat Kristiani? Menjawab ia, adalah gampang tetapi melaksanakannya adalah hal berikutnya. Jon Anderson menyanyikan itu dengan baik bagi kita. Dengarlah sahabat,

Ngomong sih enak, lakukan? walah, atuuuutttt.....tetapi jangan takut sahabat, karena sesungguhnya JESUS selalu akan menolong. Jon Anderson juga menyanyikan dengan amat baik bagi kita. Simaklah sahabatku,


Ya, YESUS bagai lilin yang akan memberi cahaya bagi kita kendati DIA sendiri menderita. Cahaya itu adalah kekuatan kita. Jika kita tak ragu lagi menjalankan tugas itu maka marilah bersama-sama Jon Anderson serta Kenny Rogers & Dolly Parton menyanyikan lagu dahsyat berikut ini,

Minggu, 06 Desember 2009

the fearless robert "SGT" riwu kaho (dia berani bilang bahwa orang sabu dan orang jawa bersaudara)

Dear Sahabat Blogger,

Saya sebenarnya sedang mempersiapkan 1 bahan posting untuk mengenang almarhum ayahanda saya, robert "SGT" riwu kaho. Bahannya adalah tentang konsep "tri bajik eka cita". Konsep lama yang diltulis sendiri oleh "SGT: sebagai buku saku bagi tiap warga pendidikan di NTT. Ketika itu, SGT masih berdinas aktif sebagai "kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan NTT" dan sedang getol-getolnya berjuang bagi peningkatan mutu pendidikan di NTT. Guna melecut semangat aparat pendidikan di NTT yang dipimpinya, SGT menulis konsep tersebut. Pada saat saya membaca kembali buku kecil itu, dahulu saya tidak terlalu memperhatikannya, barulah saya sadar bahwa yang ditulis oleh SGT tidak sekedar sebuah buku saku melainkan sebuah pemikiran yang berisikan prinsip filsafat manusia. Konsep TBEC ditulis bertumpu pada visi dan misi SGT mengenai kehidupan, pengalaman hidup dia, dan harapan-harapannya akan masa depan. Saya kira, itu adalah master piece dari SGT melebihi karya-karya tulis lainnya. Akan tetapi, sayang sekali, saya belum dapat menurunkan tulisan itu sekarang. Naskahnya masih "mentah" dan memerlukan beberapa pendalaman dan tautan referensi. Mudah-mudahan "tri bajik eka cita" sudah bisa saya tulis pada posting berikut.

Kendati begitu, saya ingin tetap mengenang SGT melalui karya-karyanya. Salah satu karyanya yang di tulis beberapa tahun sebelum SGT menempuh perjalanan abadi adalah tentang asal-usul Gadjah Mada di dalam bukunya yang berjudul: "orang Sabu dan budayanya". Dalam buku tersebut SGT menulis sebuah dugaan yang, menurut hemat saya, cukup kontroversial. Tentang hal ini saya sebenarnya pernah menulisnya di blog ini pada blulan Agustus 2008 yang lalu, yaitu dugaan bahwa Gadjah Mada berasal dari Pulau Sabu. Posting ketika itu mendapat tanggapan yang amat beragam. Pro dan kontra dan masih terus berlanjut hingga kini. Beberapa timbal balik pendapat yang dapat saya kumpulkan melalui surfing di dunia maya, di antaranya adalah sebagai berikut (sekalian saya minta ijin kepada para penulis di Face Book dan beberapa situ lainnya yang pendapatnya saya kutip di sini:

Ma Kuru Paidjo (Maret 2009): Beta sering dengar beberapa teman di sini bilang Patih Gadjah Mada berasal dari Sabu. Beta sonde mengerti itu barang dong. Mungkin ada yang bisa jelaskan sediki ko argumen pro dan kontra tentang Patih Gadjah Mada berasal Sabu? Singkat sa. Kemarin beta sempat ke Dompu (di pulau Sumbawa - NTB) dan di sana mereka juga menganggap bahwa Patih Gadjah Mada berasal dari Dompu (di pulau Sumbawa - NTB).

Angela (Maret 2009): woooe ma kuru, beta dengar UGM sudah nulis buku khusus bahas asal-usul sang patih. Dari sumber yg dekat dengan ugm, katanya sang patih memang berasal dari timur tetapi bukang bali, ntb, sabu dan lain nya (indonesia bagian timur). sang patih berasal dari bagian timur pulau jawa. Menarik kalu ada org sabu disini yg bisa cek buku tsb dan mengulasnya disini.

Victor (Maret 2009) : Kalo menyimak syair2 kuno yg dilantunkan pd saat upacara2 adat di Namata, ada terucap nama Gaja Med'o yg disebutkan sbg perantau asal Sabu yg menjadi Tuan Besar di tanah Jawa dan menjadi Panglima Bala tentara nusantara. Disamping itu, ada hal lain yaitu keputusan Majapahit utk menjadikan Sabu-Raijua sbg pangkalan utama angkatan laut Majapahit utk mengontrol pintu gerbang selatan nusantara. Disamping pertimbangan strategis, tentu ada unsur psikologis yg mjd pendorong bg si Decision Maker. Krn harusnya ada kep Rote yg lbh di selatan lagi. Hal2 diatas itu membuat Bapa Robert (alm) memberanikan diri menuliskan dugaan kuat bhw Gajah Mada berasal dr Sabu dalam bukunya "Orang Sabu dan Budayanya".

Ferdinand (Oktober, 2009): Helama Ma Kuru, saya menilai ini satu tema yang cukup menarik untuk didiskusikan bersama. Jumat, 2 Oktober kemarin, baru saja kita diajak pake batik, dalam rangka pengakuan dunia bahwa batik adalah warisan budaya dari Indonesia. Kaiatannya dengan tema,(1) coba kita perhatikan busana do Hawu : ikat kepala (destar) harus batik, sedangkan selendangnya tetap tenun ikat sabu. (2) Dalam sejarah Indonesia, Patih Gajah Mada dengan sumpah Palapa nya ingin mempersatukan Nusantara.(3) Saya sependapat dgn Ama VRK bahwa do Hawu itu tipe orang pengembara/perantau. Kesimpulannya : bisa jadi Patih Gajah Mada adalah do Hawu.

Ki Aji Laksono (Juli 2009) : Sebenernya byk versi ini salah satu versi yang saya baca: Bahwa ia berasal dari daerah Modo (Lamongan), karena di daerah ini banyak ditemukan prasasti-prasasti yang diduga kuat peninggalan Majapahit, termasuk adanya beberapa makam kuno prajurit dan makam kuno yang diduga masyarakat setempat sebagai makam ibunda Gajah Mada, yaitu Nyai Andong Sari. Selain itu daerah ini teratur rapi, sehingga seperti suatu bekas tanah perdikan.

Ary Anglerboy (September 2009) : Ada jg yg yg bilang beliau berasal dari Mongolia. tp susah utk dibuktikan.. namanya jg sejarah masa lampau..

Dodi Sutanto (Oktober 2009) : bapak nya seorang demang dan ibu nya keturunan khayangan

Aji Iskandar Zulkarnain (November 2009) : Beliau bukan bangsa Nusantara , beliau adalah bangsa Mongol !!

Begitulah sahabat, ternyata apa yang ditulis oleh SGT masih ramai diperdebatkan "di luar sana". Lalu, apa kesimpulan saya? Saya blm berani menyimpulkan apa-apa. Entahlah mister Gadjah Mada adalah orang Sabu atau yang lainnya. Saya membayangkan bahwa seandainya SGT masih hidup, mungkin dia akan rajin membuka internet dan menjawab atau berdebat sesuatu tentang pendapatnya.

Sebenarnya, dalam buku itu SGT juga menulis sesuatu yang juga tak kalah kontroversialnya, yaitu orang jawa dan orang sabu masih satu keluarga. Berkakak-adik, bahkan. Orang Sabu adalah keturunan sang kakak, yaitu Sabu Miha, sedangkan orang jawa adalah keturunan sang adik, yaitu Jawa Miha. Lengkapnya, robert "SGT" riwu kaho menuliskan begini:

Dari informasi turun-temurun disebutkan pada zaman generasi ke-7 ada seorang leluhur orang Sabu bernama Miha Ngara. Beliau mempunyai 5 orang anak yaitu Hawu Miha (cikal-bakal orang Sabu), Huba Miha (orang Sumba), Tie Miha (orang Tie Rote), Ede Miha (orang Ende), dan Jawa Miha (orang Jawa). Orang Sabu mengetahui kira-kira pada abad pertama Masehi, `Jawa Miha meninggalkan Sabu untuk menetap di Jawa. Di kemudian hari kontak antar keturunan dan keluarga tidak lagi terpelihara. Pengetahuan tentang adanya relasi ini diperoleh melalui syair-syair dan cerita para tetua dan pemangku adat di Sabu. Migrasi' dari Asia Tenggara diakui telah berlangsung sekitar 500 tahun SM, dan kira-kira 200 tahun SM terjadi lagi migrasi dari India Selatan. Migrasi ini juga sampai ke Sabu. Pada gelombang ketiga disebutkan, ketika kaum pendatang yang jumlahny lebih sedikit (di Pulau Jawa) mulai diperangi oleh penduduk asli, sehingga posisinya terdesak.

Untuk itu mereka meminta bantuan kepada kerabatnya yang telah menetap di timur' untuk membantu mereka. Kala itu yang berkuasa di Sabu adalah Miha Ngara, dan mengutus kedua anaknya Hawu Miha dan Jawa Miha untuk membantu kerabatnya kaum pendatang di Jawa. Keduanya mendarat di pantai selatan Jawa Barat di suatu tempat berbukit karang, lalu diberi nama `Karang Hawu', letaknya kira-kira 1 km dari sebelah barat pantai Pelabuhan Ratu. Setelah peperangan berhasil dimenangkan, kedua kakak-beradik itu berpamitan untuk kembali ke Sabu. Kerabat di Jawa meminta agar salah seorang dari mereka untuk tinggal menetap di Jawa. Permintaan itu ditampung namun harus dilaporkan dan diputuskan oleh ayahnya di Sabu. Akhirnya diputuskan bila Jawa Miha yang berangkat ke Jawa sedangkan Hawu Miha tetap tinggal di Sabu. Ketika keberangkatan, didirikan sebuah batu peringatan yang diberi nama `Wowadu `Jawa Miha' di Namata. Pada waktu `Jawa Miha berangkat ke Jawa ia diberi bibit beberapa jenis tanaman untuk ditanam di sana yaitu cengkeh, wilahege, jahe, pala, pohon pandan; dengan pesan bahwa sejak saat itu jenis tanaman tersebut tidak boleh ditanam oleh Hawu Miha dan keturunannya di Sabu.

Seberapa jauh keakuratan dugaan robert "SGT" riwu kaho? Saya tak bisa memprediksikannya karena saya sama sekali tidak menguasai metode dan data-datanya. Apakah SGT punya kedua-duanya? Saya juga tidak yakin begitu. Mengapa? Karena setahu saya, SGT adalah pelajar ekonomi waktu kuliah di UGM, Jogja, dahulu lantas bekerja sebagai guru sebelum menjadi pejabat di bidang pendidikan. Lalu, setahu saya, referensi SGT adalah ceritera-ceritera turun temurun yang berkembang di kalangan "mone ama" di Sabu dimana SGT bagian dari keluarga besar kaum "Mone Ama" itu. Metode ilmu pengetahuan membutuhkan langkah-langkah verifikasi guna validasi data-data seperti itu. Sayangnya, SGT sudah berada di negeri abadi dan tidak bisa lagi menyelidiki dan beradu argumen guna melakukan verifikasi data yang dimilikinya. Jadi, apakah SGT "asbun"? Teralu gegabah untuk menyebutkan begitu. Mengapa? Di kepala dan perilaku ilmuwan biasanya tersimpan beberapa hal sebagai modal dasar sebagai sebagai ilmuwan tangguh. Dua di antaranya adalah kemampuan melakukan inovasi dan berani mengajukan hipotesis. Robert "SGT" sudah melakukannya berdasarkan data-data yang dimilikinya. Seberapapun mutu data yang dimilikinya. Lalu, pada butir itulah catatan saya tentang SGT yang patut saya, anak dan cucu-nya meneladani SGT, yaitu keberanian menempuh hidup.

SGT adalah anak seorang petani dan tukang yang miskin tetapi dia berani menempuh perjalanan ribuan kilometer mencapai Jogjakarta untuk mengejar ilmu. Di Jogja, hdiupnya juga terbatas. Makan minumnya berhemat betul. Tetapi dia tetap berani dan tidak cengeng. Di Jawa juga dia berani memutuskan menikahi seorang wanita dari golongan yang "tidak miskin" dan "berdarah hampir biru". Dia berani dan tidak rendah diri. Lalu, dia berani untuk berada di urutan terdepan ketika harus "berkelahi" dengan orang-orang yang berasal dari golongan penganut komunisme. Sekali dua, dia terpaksa berperkara sampai di pengadilan berhadapan dengan orang-orang itu. Bersama beberapa orang teman, dia menjelajahi daratan Timor yang keras guna mencegah masyarakat Gereja di Timor untuk tidak terbuai oleh bujuk rayu kaum komunis. Bahan dia terancam dibunuh tagal perkara itu. Tetapi dia tetap berani berbekal prinsip "setia sampai akhir". Setia kepada siapa? Dia setia pada TUHAN-nya. Untuk apa semua itu dia lakukan" Untuk Tuhan dan sesamanya (masa ketika dia harus "bertarung" berhadapan dengan orang-orang komunis adalah masa di mana beliau "menghilang" dari pandangan isteri dan anak-anaknya berbulan lamanya). Dia berani karena ada kebenaran yang harus dibela. Dia berani karena sebuah prinsip. Dia berani sambil mengorbankan dirinnya sendiri. Dia berani dan rela berkorban ketika ingin menolong seseorang yang diyakininya perlu ditolong. Keberanian SGT mirip dengan keberanian seorang Samaria yang menolong sesamanya yang tidak dikenalnya (the good samaritan). Jikalau menghadapi berbagai tantangan keras seperti yang saya kemukakan di atas SGT berani, saya membayangkan, apapula hanya untuk suatu hipotesis tentang pertalian orang Sabu dan Jawa?

Sahabat terkasih, saya tidak sedang mengkultuskan ayanda saya almarhum. SGT adalah manusia biasa yang ada juga kurang-kurangnya yang tak perlu docontohi. Tetapi sungguh saya bersaksi bahwa soal "keberanian" itulah yang sementara ini masih membedakan SGT dan saya. Jikalau berani hanyalah soal naik darah dan "gemar berkelahi", saya pikir tidaklah mesti saya terlalu jauh terpisah dari ayahanda "SGT". Tetapi jika keberanian sudah menyangkut kesetianya pada TUHAN dan kesediannya untuk mengorbankan dirinya sendiri maka jarak antara SGT dan saya sejauh Sabu dan Jawa. Jarak inilah yang akan saya usahakan untuk dipangkas. Seinci demi seinci. Selangkah demi selangkah. Lalu, jarak keberanian antara kami berdua makin lama makin dekat. Apakah anda punya pengalaman yang sama soal keberanian?


Tabe Tuan Tabe Puan

Senin, 30 November 2009

Jikalau ayahanda masih ada, 1 Desember dia 76 tahun (sebuah catatan dari dina rade)

Dear sahabat Blogger,

Di masa lalu, sebelum April 23, 2008, setiap tanggal 1 Desember adalah hari yang menyenangkan bagi kami, keluarga ayahanda robert "SGT" riwu kaho dan ibunda agustine "tin" riwu kaho-soerdarjat. Mengapa demikian? Ya, hari begitu tanggal begitu adalah hari baik di bulan baik. Bulan Desember adalah bulan spesial. Bulan di mana ada hari Natal dan tahun baru...dan ahaaaaa...kami bakal punya baju baru dan sepatu baru. Bekal untuk bergaya lenggak lenggok. Asyik punya wuaaaaahhh. Sekali waktu kami bersorak-sorai menertawakan saudara sulung kami yang bergaya menggunakan sepatu baru, tebal dan tinggi ala tahun 1970-an. Tak lama dia pergi, eh balik lagi ke rumah...wueee...apa gerangan? Hak sepatu tingginya copot sebelah....waaaaa....ha ha ha ha ha...Serunya bulan Desember. Itu dulu. Dulu.

Mengawali bulan desember adalah tanggal 1. Itu adalah HUT ayahanda robert. Wuuuiiiiuuuhh...rumah kami pasti ramai dengan sanak saudara dan kerabat. Karena dia dituakan dalam suku namata-Sabu, keluarga besar lai-tallo, dan riwu kaho, dan lagi pula amat banyak sobat kenalan-nya maka selalu saja ada yang memaksa beliau untuk merayakan HUT-nya. Ya, dia adalah bunga matahari bagi kami. Lalu, ..waaaaarrr weeerrrrr woorrr wiiiiirr....sejak pagi hari, berbunyi sudah dandang, periuk, centong, gelas dan piring dan lain sebagainya. Lantas, amboi, beterbangan sudah semerbak harumnya aroma sate bakar, kuah asam ikan...hhhmmmm....sedaaapp. Lalu, malamnya ada pesta ramai. Banyak yang datang. Ada yang membawa kado. Ada yang tidak. Ya, tidak semua membawa kado tetapi semua membawa doa. Ada yang bernyanyi. Ada yang membaca sajak. Kami kenyang. Makan enak mak nyussss. Rumah ramai kedatangan tamu dan saudara. Riuh rendah kami berpesta...hurraaaaa.......Tapi itu dulu. Dulu. Sekarang tak lagi begitu. Mengapa? Sejak 2008, 1 Desember adalah hari pedih...aahhhh seandainya bapa robert masih ada..... seandainya....

Kepedihan di awal desember semakin bertambah pedih karena 1 desember 2008, dengan amat bersemangat ibunda kami berangkat ke jakarta..."mau nengok anak cucu sebulan dua" ...demikian katanya...."ludji, kamu jaga rumah baik-baik yaaa"... demikian dia berpesan ......." heeiii....saya akan pulang bulan maret atau april kalau tidak lagi banyak hujan.....demikian janjinya...tetapi janji tinggal janji....3 januari 2009 dia memang pulang tetapi cuma badan. Rohnya sudah disatukan dengan kekasih hatinya, robert "SGT"...aaaahhh bunda, saya masih di sini terus menjaga rumah tetapi engkau tak bakal kembali. Tibalah saatnya, 1 dan dua jam menjelang tanggal 1 desember....tanggal itu dan bulan itu tidak lagi sama.... Semua ceritera yang saya utarakan di awal posting adalah gambar lama dan gambar lama harus disimpan. Saya, dia, mereka dan kami - anak cucu mereka berdua - harus membuat gambar baru . Gambar kami sendiri tentang tanggal 1 di bulan desember. Cuma itu dan hanya itu yang kami bisa. Saya merenung...."bapa robert dan mama tin, ada di spektrum gelombang radiasi yang mana engkau berdua berada sekarang?"

Saya terperanjat dari termenung. Handphone saya berbunyi dan sebuah sms masuk ... "kakak, tolong muatkan isi hati saya tentang bapa robert"...ohhh...sebuh pesan dari dina rade. Si bungsu dalam urutan kelahiran di antara kami ber-12 tetapi sulung di dalam hal berhemat. ...."beta terkenang bapa".....baiklah adik-ku sayang....berikut saya muat pesan isi hati-mu dan biarkan saya tetap di pojok ruang kerja bapa almarhum...menyendiri...mengetik...dan menangis...

Sahabat blogger yang terkasih, mohon maaf jika posting kali ini agak subyektif. Ijinkan saya menikmati kesedihan hati saya melalui posting ini. Toh, perasaan sedih ada karena ada kerterarahan hati. Dan siapa lagi yang bisa menciptaan keterarahan hati jika bukan Tuhan Seru Semesta Alam itu. Inilah ungkapan hati dina rade...

Nov 30 2009 4:29pm

Besok….. Kalo memang masih di ijinkan oleh Tuhan Yesus pastilah merupakan hal yang sangat berbahagia bagi kita semua karena itu adalah tanggal "keramat" atau hari ulang tahun dari bapa kita tercinta, bapa Robert Riwu Kaho. Kalo dijinkan oleh Tuhan Yesus, pastilah besok hari ulang tahun bapa yang ke 76, hmmmm suatu perjalanan hidup yang panjang buat kita sebagai manusia. Tapi kenyataannya, sejak tanggal 23 April 2008 yang lalu, bapa sudah kembali ke Surga kembali pada Sang Khalik yang sangat mengasihi bapa lebih daripada istri, anak-anaknya, saudara-suadaranya dan juga, semua handai-tolannya.

Saat ini, aku sebagai anak yang paling bungsu hanya bisa merenung ke masa-masa yang telah lewat bersama dengan bapa. Suka,senang duka, kesal, kagum, bangga menjadi salah seorang ank dari bapa. Suka,senang? Pasti!!!, karena setiap hari natal aku mendapat baju dan sepatu baju ^_^, kesal? Pasti!!!, karena tidak lepas dari habokan bapa, kagum & bangga? Pasti!!! karena siapa tidak kagum dan bangga akan hasil kerja dan prestasi yang dia buat.

Di hari yang tinggal menghitung jam untuk menuju hari ulangtahunnya, saya hanya bisa membayangkan betapa senangnya bapa saat ini bersama istri tersayang, bersama orangtua yang menghasihinya dirumah Bapa di Surga. Menjelang ulang tahunnya, saya hanya bisa berterimakasih pada Tuhan Yesus diberikan bapa yang baik, bapa yang sangat menghargai kejujuran, bapa yang sangat menghargai waktu dan yang pasti bapa yang sangat mengasihi anak-anaknya menurut cara dan jalannya sendiri. Menjelang ulang tahunnya saya hanya bisa berkata dan berdoa dalam hati, selamat ulang tahun bapaku tersayang……selamat merayakan bersama Bapa di Surga dan menikmati tuaiannya yang sudah engkau tabur selama bersama kami yang masih harus menyelesaikan tugas kami.

Tabe Tuan Tabe Puan

Minggu, 22 November 2009

berpisah dan kembali satu: ternyata memberi hidup

Dear Sahabat Blogger,

Makan, minum dan bernafas, sama kita tahu, adalah aktivitas biologis standard semua makhluk hidup termasuk anda, saya, dan mungkin si Cecilia. Tak ada makhluk hidup, termasuk manusia, yang akan bertahan hidup tanpa proses makan, minum dan bernapas. Bahkan dinosaurus nan perkasa yang menguasai bumi di antara 125 juta - 65 juta tahun yang lalu harus punah karena tidak dapat makan, minum dan bernapas.

Konon, sebuah meteorid besar di 65 juta tahun lampau (nenek moyang si Cecilia dan Paul Simon pasti belum ada tuh...he he he), menghantam planet bumi kita ini menyebabkan ledakan dahsyat. Amat dahsyat, yang setara dengan ledakan 3 trilyun kg bahan peledak TNT. Ledakan tersebut menimbulkan gelombang besar yang menyapu daratan. Kebakaran besar menghanguskan kehidupan. Debu-debu beterbangan ke atmosfir dan menutupi langit lantas menghalangi sinar matahari. Kegelapan itu mematikan tumbuhan sehingga hewan pemakan tumbuhan (herbivora) ikutan mati. Matinya hewan pemakan tumbuhan menyebabkan hewan pemakan daging (carnivora) kehilangan bahan makanannya. Maka matilah si carnivora. Sudah barang tentu si pemakan segala (omnivora) ikutan mati. Atmosfir yang diselimut debu-debu itu lalu membentuk udara beracun yang mematikan ketika terhirup. Guguran debu yang menyatu dengan turunnya hujan meyebabkan sumber air tercemar oleh racun asam dan mematikan bagi yang meminumnya.

Sekarang kita lihat, amboi, tanpa makan, minum dan bernafas secara layak maka kehidupan akan musnah. Jika dunia jagad hiburan film di Indonesia sekarang ini sedang dihebokan oleh film Hollywood "2012" tentang hari kiamat maka peristiwa di saat 65 juta tahun lampau itu memberi petunjuk bahwa kiamat adalah keniscayaan. Sekali waktu, tidak perlu menunggu 2012, kehidupan pernah menjadi nyaris nihil dan tiada. Pada waktu itu, konon, yang bertahan hidup ketika itu adalah jenis-jenis makhluk hidup kecil-kecil seperti rumput yang menyembunyikan titik tumbuhnya dipermukaan tanah (cryptofita) dan beberapa insekta yang dorman serta mamalia kecil yang dapat hidup dengan bahan makanan yang tersisa. Ya, merekalah yang meneruskan kehidupan di bumi sampai dengan hadirnya homo sapiens sapiens, yaitu manusia moderen sekitar 5-10 juta tahun yang lalu.

Kita petik satu pelajaran dari sini, yaitu jangan sombong menjadi yang kuat karena sejarah bumi membuktikan bahwa bukan yang terkuat yang bertahan melainkan yang paling pas. Yang paling mampu menyesuaikan diri. Dinosaurus punah, rumput bertahan. Makanya, buaya jangan sombong di depan cicak. Jangan kecil hati kendati kecil dan lemah. Lelaki Paul Simon yang perkasa jangan sombong di depan perempuan Cecilia yang klemar-klemar lemah gemulai. Kata lagu lawas Indonesia: ... "pria tak berdaya, bertekut lutut di sudut kerling wanita" .... Setuju? Tetapi bukan tentang kerlang- kerling dan tekak-tekuk itu yang menjadi fokus tulisan ini melainkan, kembali ke laptop: makan, minum dan bernapas. Apa gerangan? Begini:

Makan, menurut kamus, adalah kegiatan memasukkan makanan atau sesuatu ke dalam mulut untuk menyediakan nutrisi bagi binatang dan makhluk hidup, dan juga energi untuk bergerak dan juga untuk pertumbuhan, yaitu dengan memakan organisme. Makhluk karnivora memakan binatang, makhluk herbivora memakan tumbuhan, sedangkan omnivora memakan keduanya (Wikipedia). Masih dari sumber yang sama, minum diartikan sebagai kegiatan mengkonsumsi cairan melalui mulut. Air, misalnya, diperlukan untuk membantu proses fisiologis kehidupan. Kelebihan atau kekurangan air dalam tubuh juga berpengaruh terhadap masalah kesehatan manusia. Perhatikanlah bahwa makan adalah kegiatan memasukkan sesuatu. Apa sesuatu itu? Bahan makanan. Dari mana bahan makanan diperoleh? Tumbuhan dan hewan. Apa makanan hewan? berasal dari tumbuhan. Dari mana tumbuhan memperoleh makanan? Dia membuatnya sendiri dengan mencampur-campur bahan-bahan baku dari tanah, air dan dari udara. Oalaaahh ya amplop, lagi-lagi anda lihat bahwa adalah tumbuhan yang terkesan lemah dan statis itu adalah kekuatan dasar. Tak ada tumbuhan tak ada makhluk lain yang memakannya. Lantas bagaimana tumbuhan mengolah bahan makanannya. Ini dia: fotosintesis.

Apa Fotosintesis itu? Ringkasnya begini, fotosintesis adalah proses biokimia pada tumbuhan, alga dan beberapa jenis bakteri untuk mengolah bahan makanan dengan menggunakan energi cahaya. Apa bahan makanan untuk tumbuhan? Yang paling mendasar adalah karbohidrat dan lalu proses-proses atas karbohidrat itulah yang akan menghasilkan aneka bahan lainnya seperti protein, asam lemak, dan lan sebagainya. Bagaimana jalan ceriteranya? Saya ceriterakan secara ringkas: mula-mula adalah tumbuhan menarik air (H2O) dari dalam tanah bersamaan dengan terbukanya mulut daun (stomata). Simultan dengan itu, melalui stomata yang terbuka tersebut masuklah karbondioksida (CO2). Dengan bantuan energi radiasi sinar matahari (dari sinilah asal muasal istilah foto sintesis karena dalam bahasa sono foto artinya sinar), senyawa H2O dipecah menjadi H2 dan O2 (oksigen). Sebagian besar oksigen dilepas kembali ke atmosfir dan supaya tahu saja, oksigen inilah yang menjadi somber oksigen bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Kemana H2? Melalui proses enzimatik, H2 disatukan dengan karbondiosida (CO2) membentuk bahan dasar hidup, yaitu karbohidrat atawa glukosa (C6H12O6). Inilah hasil terpenting dari proses fotosintesis. Selesaikah ceritera? Belum bung dan zoes. Kita lanjutkan. Lebih cepat lebih baik. Demi persahabatan.

Karbohidrat masih harus diproses lebih lanjut untuk membentuk bahan-bahan lain seperti asam amino, protein, asam lemak dan banyak lainnya, termasuk kerja seperti pernafasan di satu tempat di dalam sel tumbuhan, yaitu mitokondria. Jadi, karbohidrat harus dipecah-belah terlebih dahulu sebelum mendatangkan guna yang lebih besar lagi. Proses ini disebut sebagai respirasi. Prosesnya begitu rumit dan melibatkan berbagai macam tahap tetapi hasil akhir dari proses ini adalah persis berketerbalikan dengan proses foto sinesis, yaitu dihasilkanya CO2 dan H2O. Karbondioksida dan air kembali dibebaskan ke atmosfir. Mari kita lihat rumus berikut ini untuk memperlihatkan apa yang saya nyatakan itu:

fotosintesis
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2

respirasi
C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O

Sekarang perhatikan baik-baik bahwa jika pada peristiwa fotosintesis H2O terpaksa berpisah menjadi H2 dan O2 tetapi pada saat respirasi keduanya disatukan kembali. dan dilepaskan kembal ke atmosfir sebagai uap air. Dan kita semua tahu bahwa uap air inilah yang dalam prosesnya di atmosfir akan turun kembali ke tanah sebagai hujan. Dari hujan kita mendapatkan air untuk minum, mandi dan lain sebagainya. Oh ya sebelum saya lupa: dalam kehidupan sehari-hari kata respirasi disebut juga sebagai pernafasan.

Lalu, apa pelajaran yang dapat kita petik dari dunia tumbuh-tumbuhan itu tadi. Adalah ini, dalam hidup kita, pertengkaran dan perbedaan pendapat dan bahkan perpisahan adalah wajar. Hegel menggunaan aforisme "dialektika". Bukankah ketika kita mandi, bahkan pakaian yang terbagus yang kita milikipun harus pisahkan dari badan kita dan kita copoti satu-satu, supaya badan kita bersih benar ketika dibilas. Pakaian bagus itupuan satu per satu kita cuci sebersih-bersihnya. Lalu, ketika kita satukan kembali dengan badan kita maka kilau semaraknya akan menambah keren tampilan kita? Jadi, jangan takut pada perbedaan. Perbedaan pendapat bukan kiamat dan harus dilarang-larang bila perlu menggunakan kekuatan dan kekuasaan. Pembungkaman terhadap perbedaan adalah melanggar ketentuan alam dan dapat berakibat tidak baik. Ingat masa ORBA? Ketika perbedaan pendapat diberangus maka malapeteka menanti dengan tangan terbuka. Oleh karena itu, saya amat prihatin terhadap perkembangan mutakhir bangsa kita. Ketika cicak bertindak, buaya ingin membungkamnya. Ketika pers bersuara keras mewakil perasaan rakyat, ada yang "memanggil mereka". Ketika para facebookers beraksi ada yang mengata-ngatai .."waaahhh itu rekayasa"...bahkan ada yang tega hati untuk mengusulkan bahwa ... "woooiiii, haramkan dan larang facebook" ..... Ada apa ini? Mungkin jawabannya terletak di sini: yaitu ketakutan yang begitu rupa terhadap perpecahan karena kita sendiri sering lupa untuk menyatukannya kembali. Amat sangat sering kita ingin berdebat karena sudah hobi kita untuk berdebat. Tidak jarang kita berdebat hanya untuk mengalahkan lawan debat kita. Kita berdebat untuk debat itu sendiri.

Oleh karena itu, penting untuk diingat bahwa sebenarnya kita tidak boleh berhenti pada sekadar berbeda pendapat. Perkara terpenting adalah bagaimana menyatukan kembali perbedaan pendapat yang terjadi lalu meletakannya ke dalam kesepakatan-kesepakatan baru guna mendapat hidup yang lebih lega di kelak kemudian hari. Dunia tumbuhan memperlihatkan bahwa pemecahan unsur-unsur yang dikuti dengan penyatuan kembali ternyata mendatagan makanan, minuman dan bernapas. Ya, perpecahan yang diikuti dengan penyatuan kembali ternyata mendatangkan dan memberi hidup. Apakah kita lebih bodoh dari tumbuhan? Saudaraku terkasih, jawaban atas pertanyaan itu tidak akan terletak hanya pada kata-kata melainkan juga pada perbuatan. Hidup adalah pelaksanaan kata-kata. That's all my friends.

Kita nikmati lagu bagus berikut ini,


Tabe Tuan Tabe Puan

Kamis, 12 November 2009

cecilia dan dialektika: dialog dan bukan dia loe gue

Dear Sahabat Blogger,

Tahun dulu, sekitar tahun 1980-an, masa ketika saya masih imut-imut, belum amit-amit seperti sekarang ini, pernah saya menyaksikan wawancara antara Eddy Soed (ES - sekarang sudah almarhum) sebagai host acara (Kamera Ria Safari di TVRI) bersama seorang penyanyi pria nan kesohor. Ya, saya menyebutannya saja sebagai penyanyi tersohor (PT). Percakapan di dalam wawancara itu kurang lebih begini (saya cukup ingat):

ES: wah suara Bung xx bagus sekali dan masih terjaga dengan baik sampai sekarang. Apa sih resepnya?
PT : wah terima kasih tetapi resepnya sederhana saja. Berdoa.
ES: iya sudah barang tentu kita harus berdoa tetapi maksud saya apakah ada upaya lain?
PT: tidak, cuma ya itu tadi, berdo'a.
ES: iya Bung xx, tapi apakah tidak perlu latihan rutin, menjaga stamina atau menjaga tidak makan sembarangan misalnya?
PT: iya, berdo'a
ES: ya sudah, tepuk tangan yang meriah untuk Bung xx

(prok prok prok prok keeepppprrrooookkkk, begitulah suara tepuk tangan membahana)
Saya bingung dan sekaligus "eneg" dengan cara PT menjawab. Apa iya, cukup dengan berdoa? Soalnya, saya menyaksikan sendiri bahwa ada banyak orang yang tiap hari rajin berdoa tetapi suaranya tetap saja tidak bagus-bagus amat kalau tidak mau dibilang pas-pasan. Singkat kata, sebagai pemirsa saya gondok karena tidak bisa belajar sesuatu tentang cara bernyanyi yang baik. Kendati saya satu agama dengan mister PT, dan oleh karena itu saya juga rajin berdoa seperti dia juga tetapi suara saya tidak merdu-merdu amat, saya dongkol berat. Memalukan. Tidak cukup hal positif yang bisa saya petik dari situ. Seandainya saja ketika itu lalu lintas omongan di antara kedua orang itu berjalan seperti ini:

ES: wah suara Bung xx bagus sekali dan masih terjaga dengan baik sampai sekarang. Apa sih resepnya?
PT : Waaah, terima kasih tetapi resepnya sederhana saja. Berdoa.
ES: Ah, apa iya cuma berdoa, saya toh juga berdoa tetapi suara saya nggak bagus tuh?
PT: iya mas, tetapi yang saya maksudkan adalah sambil berdoa, saya juga rajin berlatih saban hari.....
ES: Ok, tetapi saya tidak yakin hanya begitu saja karena apakah suara akan tetap baik jika tenggorkan saya sering terkena radang gara makan sembarangan?
PT: Oh iya juga sih Bung, anda saja yang tidak sabar karena saya tadi pas saya mau ngomong begitu, sampeya sudah main potong ucapan saya...ya, saya selain berlatih tetapi juga tidak sembarangan maka katak, ular, cicak, buaya dan lain-lainnya itu Mas... tapi ya...jangan lupa.....rajin berdoa juga yaaaaa.....
ES: he he he ...baiklah ...ayoooo semuanya saja .... tepuk tangan yang meriah untuk Bung xx

(prok prok prok prok keeepppprrrooookkkk, begitulah suara tepuk tangan membahana)
Sahabat terkasih, apakah anda melihat perbedaan di antara dua skenario wawancara di atas? Tak perlu repot-repot. Saya kasih tahu saudara bahwa ada perbedaan di antara keduanya. Wawancara pertama tidak menambah ilmu apa-apa bagi saya sedngkan pada wawancara kedua saya mendapat pengetahuan baru bahwa agar suara menjadi indah maka perlu beraltih, menjaga pola konsumsi dan juga rajin berdoa. Wawancara kedua menghasilkan hal yang amat positif. Tetapi lihatlah, pada wawancara kedua. Di situ terjadi proses saling menyangkal terlebih dahulu sebelum tiba pada konklusi positif pada akhirnya. Anda lihat, positivitas dihasilkan melalui proses yang penuh negativitas. Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengatakan hal itu sebagai dialektika. Ya, kita bisa menemukan kebaikan setelah sebelumnya kita terlibat dalam suatu proses yang saling menyangkal, menyakitkan dan negatif.

Pada titik ini, teringat akan sebuah lagu, yang menurut saya teramat keren, yang dinyanyikan oleh duet fenomenal favorit saya, "Simon & Garfunkel". Lagu itu berjudul "Cecilia". Coba dengarkan ini:

Paul Simon -- Cecilia
dan berikut ini versi aslinya
Paul Simon & Art Garfunkel - Cecilia

Mula-mula saya menyukai lagu ini karena beat dan sinkup lagunya yang luar biasa dan dinyanyikan dalam harmoni yang tak kalah luar biasanya. Dan saya tidak berbohong kepada sauara-saudara tetang hebatnya lagu ini karena lagu yang diciptakan oleh Paul Simon pada tahun 1970 ini menduduki tangga lagu # 4 di US chart. Sesudahnya tercatat lusinan pemusik dan penyanyi merekam kembali lagu ini dalam interpretasi mereka sendiri. Group Ace of Base, Madness, Faith No More dan Counting Crows adalah beberapa di antaranya. Lagu ini juga dimasukkan sebagai lagu thema di beberapa film Hollywood misalnya The Sopranos dan The Right Place Time. Oh iya, saya juga ingin mengatakan bahwa judul lagu ini sebenarnya mengingatkan saya kepada seorang sahabat masa kecil saya, ketika masih di bangku SD. Dia adalah tetangga saya yang juga bernama Cecilia. Entah di mana dia berada kini. Tak tahu lagi di mana rimbanya. Singkat kata, lagu ini adalah lagu yang bagus dan keren.

Belakangan baru saya sadari bahwa lagu ini bagus bukan semata-mata karena beat dan harmonisasi-nya saja yang hebat tetapi ada kekuatan tersendiri di balik lirik-liriknya. Salah satu interpretasi makna liriknya mengatakan bahwa lirik lagu ini berceritera tentang seorang kekasih yang berperilaku tidak menentu (capricious lover) yang mendatangkan kesedihan yang amat sangat (anguish) dan sekaligus kegirangan, yang juga teramat sangat, (jubilation) bagi pasangannya. Bayangkan saja, baru saja si penyanyi kegirangan karena selesai bercinta eeehhhhh si Cecilia lenyap ketika ditinggal sebentaran ke kamar mandi. Cecilia melompat ke pelukan orang lain. Pada muanya si penyanyi membayangkan kekasih yang baik. Cecilia menjawab ... sorry sir, i'm not. Gue kabur acchhh .... Si penyanyi berharap dan memohon... c'mon home Cecilia .... dan ...wwwoouuw .... jubilation....Cecilia pulang kerumah dan ... heii ... loves him again. Gilaaaa. Si penyanyi tertawa berguling-guling di lantai. Luar biasa. Amazing. Ternyata, ada juga dialektika di dalam dunia percintaan. Thheeerrrrrrllaallhhhuuuu.....

Lalu, apa ada hubungan antara Cecilia, capricious lover, anguish, jubilation dan dilektika. Untuk memahami hubungan ini, karang saya mencoba untuk meletakannya secara bersamaan dengan dinamika politik dan hukum kontemporer di Indonesia. Hari-hari belakangan ini kita di Indonesia dipusingkan dengan dampak perseteruan di antara cicak VS buaya VS godzilla VS kadal dan entah apa lagi namanya itu. Pada awalnya adalah pesoalan hukum lalu merembet ke soal-soal politik. Mula-mula polisi dan jaksa mengatakan Bibit dan Chandra (BC) tersangka dalam kasus korupsi lalu ditahan. Satu juta Facebookers marah. BC menyangkal dan memberikan perlawanan. Mahkamah konstitusi membuka rekaman hasil sadapan KPK dan....bbrrrrrrgghhhh.....Satu juta Facebookers marah. SBY bingung. Semula belia mengataan bahwa .... "saya tidak bisa campur tangan"...eeehhh...2 hari kemudian, menghadapi tekanan politik dari publik, beliau membentuk tim 8 dan lalu seminggu kemudian tim 8 menyimpulkan: "perkara BC tak bisa diteruskan karena bukti-bukti lemah". Eh, Polri dan Kejakgung menyangkal kesimpulan komisi 8. Komisi III DPR "bersimpati" kepada Polri dan Kejakgung lalu bertepuk tangan dan berfoto bersama-lah mereka bareng tamu-tamunya yang menyambangi gedung DPR/MPR. Pengacara BC menyangkal bukti-bukti dari Polisi. Pengacara Anggodo mengatakan bahwa kliennya idak bersalah. Tiba-tiba Wiliardi Wizard berteriak di pengadilan Antasari Azhar ... "gue cabut BAP karena sudah diskenariokan oleh petinggi Polri"... "Antasari memang sudah disasar untuk ditumbangkan Polisi". Antasari menangis karena merasa terdzolimi. Tetapi besoknya Polisi menyangkal....walaahhh...si WW dan AA bohong tuh, buktinya nih liat videonya waktu diperiksa, mereka cuma ketawa-ketawa tuh.... Adnan Buyung mengataan bahwa "ada gerakan operasi intelijen di balik pelemahan KPK". Begitulah terjadi setiap hari. Satu pihak menyatakan sesuatu, besoknya dibantah oleh pihak lainnya. Ah, entahlah besok pernyataan dan bantahan terhadap pernyataan apa lagi. Lalu, rakyat dibuat bingung dan bengong. Di mana kebenaran. Adakah kebenaran bisa ditemukan dari ceritera yang saling menyangkal itu? Jangan-jangan semua ini adalah dialektika hari ini, yang memang harus terjadi, sebelum Indonesia berubah menjadi lebih baik besok hari.

Jujur saja, sayapun bingung tetapi dari pada bingung berkepanjangan maka baiklah saya mengajak, jikalau sahabat sudi, marilah kita coba menumpang pada filsafat kritis dari Hegel. Kebaikan bisa lahir karena ada saling menyangkal. Filsafat, sejak Aristoteles, amat memuja ketenangan. Hidup adalah untuk mengejar kebaikan dan menghindarkan penderitaan. Jauhkan pertentangan dan sangkal-menyangkal. Itu adalah penderitaan. Akan tetapi Hegel berpikir bahwa manusia adalah sebuah proses pencarian dan pembentukan. Di dalam proses itu manusia harus terus bergerak menuju kebahagiaan. Di situ, mau tidak mau ketidak tenangan harus dihadirkan guna menghindarkan kemapanan. Tesis harus dilawan dengan antitesis. Kritik mengeritik dan sangkal menyangkal diperlukan guna menghindari kemapanan. Mengapa demikian? Ya, karena ketika kritik ditiadakan maka yang terjadi adalah kebahagiaan dan ketenangan yang palsu dan artifisial. Ketika kritik ditiadakan maka kebaikan bisa datang semata-mata hasil tafsiran sekelompok orang yang disebut sebagai penguasa. Baik menurut sang penguasa haruslah baik untuk semua rahayat. Besar maupun kecil.

Pengalaman empirik Bangsa Indonesia di masa ORBA menunjukan bukti kuat untuk itu. Semua yang menurut Soeharto baik adalah baik juga untuk semua orang. Jikalau menurut Tutut, Bambang dan Tommy berdagang dengan cara makelar adalah yang tebaik bagi Indonesia maka memang harus begitulah adanya tak perduli seberapa korupnya sistem itu. Toh Indonesia mengalami swasembada pangan, ketenangan dan keteraturan keamanan. Betulkah demikian? Mohon maaf, jawabannya adalah tidak. Ketika krisis besar di tahun 1997 datang menerpa, jatuhlah Indonesia kedalam malapetaka hutang dan krisis. Imbasnya masih terasa sampai hari ini. Inilah harga yag harus dibayar oleh minimnya kritik. Nihilnya dialektika. Kemapanan ternyata membawa celaka. Oleh karena itu, kritiklah kemapanan. Saling mengkritiklah kita. Hiduplah dalam situasi saling sangkal menyangkal. Pertarungan di antara tesis dan anti-tesis memaksa orang untuk terus menemukan tesis yang lebih baik. Lantas dari sana, kebenaran dan ketenangan sejati, yang tidak semu, dapat ditemukan. Bukan oleh segelintir orang, yang disebut elit, melainkan oleh kesepakatan banyak orang. Kebenaran tak boleh dimonopoli elit. Kebenaran milik semua orang.

Sedemikian perlukah dialektika? Tak pasti juga tetapi marilah kita tengok apa kata Hegel tentang keutamaan dialektika. Dia bilang begini: "dengan demikian yang benar adalah kegilaan dari tari kemabukan dari dewa bakhantik" (bakhantik - yang berasal dari kata Dewa Bacchus yang adalah dewa anggur atau disebut juga dewa mabuk). Apa maksudnya ini? Franz Magnis Suseno membuat penafsiran yang sangat elok, yaitu berproseslah secara bersemangat bak orang mabuk dalam mencari kebenaran, bila perlu bertengkar dan saling menyangkal. Pada akhirnya adalah ketenangan bak orang mabuk yang tertidur lelap dalam kelelahan setelah menari-nari tak keruan. Setelah pertengkaran panjang dan melelahkan, percayalah akan ada hal-hal benar dan benar yang berhamburan yang dapat kita petik. Dan dunia menjadi tenang. Kedamaian datang setelah bertengkar.

Persoalannya adalah sangkal menyangkal dan bertengkar seperti apa yang dapat mendatangkan kebaikan? Merujuk kepada Hegel, jawabannya adalah berpikir kritis. Apa esensi berpikir kritis? Ini dia Bung dan Zoes: dialog zonder pakai kekerasan. Ya jelas terang benderang: dialog dan bukannya "dia loe gue". Dialog adalah komunikasi 2 arah yang sedangkan dia log gue adalah komunikasi suka-suka sendiri lantas berantem terus menerus tak keruan. Saling gampar, saling bunuh dan atau saling meniadakan. Maka itu, biarkan KPK, Polisi, Jaksa, Pengacara, Hakim, para tertuduh dan tersangka, Facebookers dan juga kita semua bertengkar tetapi jangan saling me-negasi. Silakan saling berdialog sekritis mungkin karena sesudah itu semua akan tenang kembali. Kebenaran akan datang memunculkan dirinya di ujung pertengkaran. So, ikuti saja semua pertengkaran sembari menarik hikmah dan menghindarkan perilaku destruktif. Percayalah. Tuhan tidak tidur. Ada waktunya Dia menunjukkan kebenaran dihadapan para pemabuk yang lelah itu. Habis bertengkar datanglah damai. Habis gelap terbitlah terang. Apakah Hegel benar? Silakan anda nilai sendiri. Kalau saya memilih untuk percaya bahwa Tuhan adalah benar. Kata-NYA: "sehabis hujan akan tampak pelangi nan indah". Nah lho, apakah dengan percaya kepada Tuhan maka berpikir kritis harus ditiadakan? Ya, tidak juga. Bagaimana caranya percaya kepada Tuhan tetapi tetap kritis? Eh, nanti lain kali saya posting. Sekarang cukup ini saja dahulu. Itu saja Brote' and Sista'.

Tabe Puan Tabe Tuan

Minggu, 01 November 2009

cicak dan buaya dan kita semua: belajarlah dari ebony & ivory

Dear Sahabat Blogger,

Satu dua hari belakangan ini, kita di Indonesia disibukkan dengan hingar bingar berita seputar "polisi VS KPK", yang pernah dimetaforaka sebagai "cicak VS buaya". Cicak adalah KPK sedangkan Buaya adalah polisi. Konon, Susno Duadji, seorang petinggi di jajaran kepolisian, pernah mengatakan begitu dan sudah barang tentu cicak bukanlah tandingan sang buaya. Pernah mendengar lagu "cicak di dinding"?. Ah, anda yang pernah kecil pasti kenal betul lagu itu. Hafal liriknya. Dalam kontek barang perkara "cicak VS buaya", liriknya mungkin perlu diubah menjadi begini:

Cicak cicak di dinding
diam-diam menyadap
datang seekor buaya
haaaaaapppp....
cicak pun pingsan

Bagaimana, setujukah? Mungkin anda kurang setuju tetapi maaf dalam dunia nyata di Indonesia hari-hari belakangan ini, itulah kenyataannya. Polisi dengan berbagai dalih akhirnya menangkap Bibit dan Chandra. Dua petinggi KPK yang sebelumnya telah dilucuti kekuasaannya alias di non-aktifkan. Polisi dan juga, Presiden SBY dan juga Deny Indrayana yang jauh hari sebelum diangkat menjadi staf khusus presiden terkenal bermulut tajam terhadap berbagai kisah korupsi tetapi belakangan berubah manis, yakin betul bahwa penahanan itu adalah konsekuensi logis dari pelaksanaan proses hukum. Akan tetapi banyak pihak di luar "dia-dia orang" yang, kendati meyakini kebenaran proses hukum, berpendapat bahwa proses penaanan Bibit dan Chandra amat bertentangan dengan perasaan keadilan masyarakat. Konon para facebooker sejumlah hampir 200.000 orang memilih untuk berada di belakang Bibit dan Chandra yang dianggap sebagai "simbol perlawanan" terhadap upaya kriminalisasi dan pelemahan KPK. Kegeraman sebagian orang semakin meninggi ketika mister Anggodo Wijaya, sang penelepon yang tersadap KPK mendatangi Mabes Polri guna melaporkan KPK karena merasa tercemar nama baiknya. Entahlah, apakah sebelumnya mister Anggodo terkenal memiliki reputasi bernama baik atau tidak.

Begitulah, sahabat blogger terkasih, situasi Indonesia di akhir bulan Oktober dan memasuki bulan November. Panas dan Panas. Mungkin terpengaruh kondisi iklim Indonesia yang amat panas di musim kemarau panjang yang diperkuat oleh munculnya fenomena "EL Nino". Saya tak mau ikut-ikutan latah melakukan analisis siapa benar dan siapa salah. Silakan anda membuka lembar koran dan atau membuka halaman-halaman berita di dunia internet untuk membaca dan menganalisinya sendiri. Simpulkan sendiri dan lalu katakan kepada hati nurani anda, kemana rasa keadilan anda akan berpihak. Saya cuma sekedar heran mengapa polisi dan KPK harus terlibat dalam perseteruan seperti itu. Banyak pihak mengatakan bahwa yang bertengkar adalah oknum dan bukan lembaga. Pernyataan itu benar tetapi pertanyaan saya adalah apakah lembaga jika bukan terdiri atas oknum-oknumnya? Setahu saya polisi dan KPK adalah produk hukum resmi milik semua warga bangsa. Polisi ada untuk menjalankan ketertiban umum dengan motto "to protect and to serve". Bukankah KPK diadakan oleh kita semua agar kesejahteraan umum sebagaimana yang dimaksudkan di dalam Pembukaan UUD 1945 dapat berjalan tanpa "dicuri" oleh penyelenggaranya? Lalu, mengapa keduanya bertentangan? Atau jangan-jangan pemberi metafora "Buaya VS Cicak" terinspirasi oleh proses liar di dalam ekosistem alami, yaitu tingkat memakan (trophic level) rantai makan (food chain) dan jejaring makan (food web).

Di alam, adalah tikus makan padi, ular makan tikus, ular dimakan elang dan seterusnya sampai ke puncak piramida tingkat makan-memakan, yaitu pemangsa terbesar adalah dia yang memakan semua yang berada di level bawahnya. Lawan dihancurkan. Bila perlu cukup dengan sekali kremus-an. Lalu, bagaimana dengan kelangsungan hidup bagi mereka yang berada di tingkat memakan pada level di bawah? Gampang! Makan saja semua yang berada pada level yang berada di bawahnya lagi. Beres. Dengan demikian, tingkat makan memakan di dalam ekosistem alam itu dipahami sebagai upaya bertahan hidup dengan cara saling memangsa menurut ukuran kekuatan tiap-tiap organisme. Yang kuat adalah predator dan yang lemah adalah mangsa (prey). Oh ya, lantas bagaimana dengan mereka yang terlalu lemah untuk bertindak sebagai pemangsa? Mudah lenyapkah? Tidak juga. Supaya tetap survive maka mereka-mereka ini mengembangkan aneka taktif defensif antara lain mekanisme penghindaran (avoidance). Tumbuhan kaktus yang tidak bisa memakan kambing lalu mengembangkan duri untuk melindungi dirinya dari pemangsa. Kembang Mawar yang cantik tetapi lemah itupun memilih jalan serupa kaktus untuk melindungi dirinya. Rumput kecil lemah itupun sebenarnya tak berdaya ditelan si sapi dan si api. Sekali ragut habislah dedaunannya. Benar begitu? Belum tentu. Dengan "amat licik", si rumput menyembunyikan titik tumbuhnya di bawah permukaan tanah sehingga kendati daunnya habis ditelan mangsa tetapi rumput tetap hidup. Bekerja sama dengan semua organ renik pengurai, lalu si rumput diam-diam memperkaya diri di dalam tanah dan ...ccccuurrrrrr....begitu datang guyuran hujan, tumbuhlah dia kembali dan tampil penuh gaya di padang hijau. Begitulah di dalam alam, semua memakan semua dan semua berupaya menipu semua. Dalam konteks ini, buaya memang pemangsa yang lebih tangguh ketimbang cicak tetapi awas....cicak bisa menipu. Ketika datang bahaya, ekorpun diputuskannya dan heeeeiiii...cicakpun lari bersembunyi sembari mengintip peluang untuk memakan nyamuk. Lihatlah, si cicakpun ternyata adalah predator juga bukan?

Jadi bagaimana? Pertama, polisi dan KPK dan kita semua tidak hidup di dalam rimba raya tempat berlangsungnya proses makan memakan secara bebas demi kelangsungan hidup; Kedua, Polisi dan KPK dan kita semua ada dalam keunikan struktur dan fungsi sendiri-sendiri tetapi sekaligus dengan itu kita semua terpanggil oleh suatu keterarahan untuk berbuat baik, yaitu apa yang disebut sebagai panggilan hati nurani; Ketiga, jikalau benar bahwa kita memiliki nurani maka apa yang seharusnya kita lakukan adalah bekerja dalam semua tugas dan fungsi kita masing-masing, sebaik-baiknya, dalam harmoni yang sama agar terpancar kebaikan, kemuliaan dan kasih sayang. Untuk itu kita bisa belajar dari gading Ivory yang di dalam deretan tuts piano berfungsi untuk menghasilkan nada-nada mayor. Lalu berdampingan dengannya adalah potongan bilah kayu Ebony yang bertugas untuk menghasilkan titi nada minor. Di tangan seorang komposer atau artist yang baik maka perpaduan antara Ivory dan Ebony menghasilnya nada-nada merdu yang menyuarakan keindahan, kebaikan dan kasih sayang. Thomas Aquinas mengatakan bahwa "kita satu pada diri sendiri (unum in se)" dan sekaligus "kita juga satu dalam keterarahan tujan yang sama (unum ordinis)". So, belajarlah kawan, untuk hidup berdampingan secara harmonis kendati kita berbeda. Saya mau mengasihi anda justru karena anda berbeda dari saya. Jikalau Ebony dan Ivory bisa, mengapa kita tidak?