
Dear sahabat blogger,Hari begini, Februari 24 2005, di ruang besar PPS UGM itu, saya mengingat dengan baik kata-kata lembut, perlahan dan amat tenang yang keluar dari sosok seorang profesor tua yang teramat sederhana. Kalimat yang tak dapat saya lupakan itu berbunyi begini:
...... dengan memperhatikan semua nilai dan proses yang sudah ditempuh maka dengan ini kami nyatakan bahwa saudara ludji michael riwu kaho dinyatakan lulus dengan predikat cum laude......doktor ludji, begitulah saudara akan dipanggil dan dengan perasaan bangga, sayalah orang pertama yang memanggil saudara dengan nama itu .......
Seingat saya ........ saya langsung mengepalkan tinju tangan kanan saya dan ....wwwaaaooooo.......sambil meloncat tinggi ke udara saya b
erteriak keras.....YeSSSSSSSS........ha ha ha ha ha .... saya kira sikap yang ganjil dan belum pernah terjadi sebelumnya. di UGM yang berwibawa dan penuh unggah-ungguh itu .......lalu .... saya melirik ke samping kanan saya ...... ibunda terlihat terisak menangis ...... di mana "SGT", sang ayahanda tercinta berada? beliau tidak lagi terlihat berada di kursinya ........ waaaaallllaaaaaahhhh....beliau tampak sedang tersungkur sujud sukur sambil mencium lantai aula itu sambil menangis ...... dan ketika pandangan saya alihkan kembali ke depan tampaklah .....waaaduuuhhhhh......para guru besar penguji itu beramai-ramai tertawa melihat tingkah laku saya......dan........wuuuiihhhh......prof Sulthoni dengan senyum kecil......tetap tenang....menepuk-nepuk tangan dan..... menatap saya sambil, seolah-olah, berkata ....... bocah iki edan tenan ...... ha ha ha ha ha ha ha ha.....takkan akan saya lupakan semua itu....tak mungkin saya lupa kan tingkah laku saya yang agak katrox, ibunda yang menatap terisak dan haru, dan ayahanda yang...hhhhmmhhhh.... rasanya tak kalah katrox dibandingkan anak lelaki nomor duanya .... ha ha ha ha....dan sudah barang tentu senyum simpul profesor Sulthoni.....
Sekarang, 24 Februari 2009, persis 4 tahun setelah episode yang saya ceriterakan di atas, apa yang tersisa? SGT pergi sudah. Ibunda menyusulnya. Dan, beberapa hari lalu saya mendengar dan membaca berita berikut ini:
...... dengan memperhatikan semua nilai dan proses yang sudah ditempuh maka dengan ini kami nyatakan bahwa saudara ludji michael riwu kaho dinyatakan lulus dengan predikat cum laude......doktor ludji, begitulah saudara akan dipanggil dan dengan perasaan bangga, sayalah orang pertama yang memanggil saudara dengan nama itu .......
Seingat saya ........ saya langsung mengepalkan tinju tangan kanan saya dan ....wwwaaaooooo.......sambil meloncat tinggi ke udara saya b
erteriak keras.....YeSSSSSSSS........ha ha ha ha ha .... saya kira sikap yang ganjil dan belum pernah terjadi sebelumnya. di UGM yang berwibawa dan penuh unggah-ungguh itu .......lalu .... saya melirik ke samping kanan saya ...... ibunda terlihat terisak menangis ...... di mana "SGT", sang ayahanda tercinta berada? beliau tidak lagi terlihat berada di kursinya ........ waaaaallllaaaaaahhhh....beliau tampak sedang tersungkur sujud sukur sambil mencium lantai aula itu sambil menangis ...... dan ketika pandangan saya alihkan kembali ke depan tampaklah .....waaaduuuhhhhh......para guru besar penguji itu beramai-ramai tertawa melihat tingkah laku saya......dan........wuuuiihhhh......prof Sulthoni dengan senyum kecil......tetap tenang....menepuk-nepuk tangan dan..... menatap saya sambil, seolah-olah, berkata ....... bocah iki edan tenan ...... ha ha ha ha ha ha ha ha.....takkan akan saya lupakan semua itu....tak mungkin saya lupa kan tingkah laku saya yang agak katrox, ibunda yang menatap terisak dan haru, dan ayahanda yang...hhhhmmhhhh.... rasanya tak kalah katrox dibandingkan anak lelaki nomor duanya .... ha ha ha ha....dan sudah barang tentu senyum simpul profesor Sulthoni.....Sekarang, 24 Februari 2009, persis 4 tahun setelah episode yang saya ceriterakan di atas, apa yang tersisa? SGT pergi sudah. Ibunda menyusulnya. Dan, beberapa hari lalu saya mendengar dan membaca berita berikut ini:
Jumat 20 Februari 2009, Keluarga Besar UGM melepaskan salah satu Guru Besar terbaiknya yang telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Pada pukul 13.30 WIB, bertempat di Balairung UGM, Keluarga besar Universitas Gadjah Mada melepaskan Guru Besar Emeritus Fakultas Kehutanan (FKT) UGM Prof. Dr. Ir. Achmad Sulthoni, M.Sc yang meninggal dunia di usia 76 tahun pada kamis malam (19/2) pukul 21.35 WIB di rumah sakit Dr Sardjito, Yogyakarta. Mantan Dekan Fakultas Kehutanan UGM ini, dimakamkan hari itu juga pukul 14.00 WIB di peristirahatan terakhir Makam Keluarga UGM Sawitsari, Sleman, Yogyakarta . Sebelumnya, jenazah terlebih dahulu disemayamkan di Balairung UGM untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari Keluarga Besar UGM.
Prof Dr Ir Achmad Sulthoni M.Sc lahir di Wonodadi, Banjarnegara, 31 agustus 1932, menempuh pendidikan SR VI Banjarnegara 1946, SMPN Banjar Negara 1950, SMAN Purwokerto tahun 1953. Lulus sebagai Sarjana FKT UGM 1962, raih Master di Michigan State University, Amerika, tahun 1962, dan mendapat gelar Doktor di FKT UGM tahun 1988.
Semasa hidupnya, pernah menjabat Pembantu Dekan II tahun 1960-1962, Sekretaris Fakultas 1969, Dekan tahun 1975, Ketua Seksi Perlindungan Hutan 1976, Ketua Jurusan Pembinaan Hutan 1978, dan Sekretaris Senat Fakultas 1985. Almarhum pernah juga meraih penghargaan Adiyuswa Entomologiwan Indonesia dari Pengurus Pusat Perhimpunan Entomologi Indonesia di tahun 1997, Satyalancana Karya Satya Kelas II dari Presiden RI di tahun 1993 dan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden RI di tahun 1998. (Humas UGM/Gusti Grehenson)
Ya, Profesor Achmad Sulthoni sudah pergi. Beliau adalah Promotor saya dalam meraih gelar Doktor dalam bidang ilmu Kehutanan. Mula-mula hubungan kami murni profesional antara guru dan murid. Saya memerlukan transfer ilmu kehutanan, khususnya Perlindungan Hutan, dari Prof. Sulthoni. Lebih khusus lagi ilmu dalam bidang keahlian forest fire management. Akan tetapi lama-kelamaan hubungan itu berkembang menjadi semacam hubungan batin yang lebih erat. Layaknya bapak dan anak. Beliau terlibat cukup intens mengamati perilaku saya yang menurut beliau...ahaaaaa....agak grusa grusu, sedikit bandel dan cenderung berpakaian seenaknya. Keadaan ini amata terasa terutama setelah saya sempat berkeluh kesah tentang situasi "kehabisan sumber daya".
Pak Sulthoni lalu mulai secara aktif mengkomunikasikan masalah saya ke semua ko-promotor, penilai dan pihak-pihak di Fakultas Kehutanan dan PPS UGM. Tertolong nama besar beliau di Fakultas Kehutanan dan Program Pascasarajana UGM maka banyaklah kelancaran yang saya alami. Jadwal pemeriksaan draft, ujian komprehensif, ujian tertutup, dan ujian terbuka berlangsung tanpa hambatan berarti. Saya pun menanggapi usaha beliau dengan bekerja sangat keras. Draft disertasi saya siapkan secepatnya. Perbaikan draft demi draft saya kerjakan tidak pernah lebih dari 2-3 hari saja. Pak Sul, begitu saya menyapanya secara akrab, bahkan memberikan catatan khusus bahwa ...apakah saya tidak merasa lelah? apakah semua saran perbaikan sudah dikerjakan sebaik-baiknya? .... memang harus diakui, sekiranya saya sekarang diminta untuk mengulangi proses mengejar waktu ujian disertasi maka jawab saya adalah NO WAY....terlalu lelah....saya nyaris tak pernah tidur selama hampir 2 bulan dan...coba anda bayangkan.....draft disertasi 638 halaman harus saya selesaikan dan lalu harus saya kutak-katik kembali mengakomodir berbagai saran perbaikan dari 9 orang guru besar sampai diperoleh bentuk akhir yang siap untuk diujikan.
Dan yang mengharukan adalah hampir setiap hari Pak Sul menyempatkan diri untuk menelefon saya untuk memantau pekerjaan saya dan mengingatkan .... jagalah kesehatan. dan jangan lupa beristirahatlah sejenak ....... padahal beliau sendiri sebenarnya tergolong kurang sehat karena 2 kali dirawat di RS karena sakit jantungnya. Satu minggu sebelum pelaksanaan ujian terbuka (promosi) saya dipanggil oleh beliau. Saya berpikir akan mendapatkan beberapa tambahan saran atau koreksi guna menyempurnakan Disertasi. Tapi ternyata bukan itu melainkan ini.....saudara Ludji, saya mohon perhatian dari saudara ... kalau bisa berpakaianlah yang agak rapih pada saat Promosi nanti. ...... Saya harap saudara tidak mengenakan celana jeans dan sepatu boot....saya mohon, sekali ini berpenampilan lebih rapih yaaaa.......huaaaaa ha ha ha ha ha ha....saya tertawa sekaligus agak malu karena memang tampilan keseharian saya adalah persis seperti amata Prof Sulthoni.....amburadul.....ha ha ha ha ha......Saya pun terharu atas perhatian beliau yang begitu akrab terhadap saya. Dan, terjadilah yang sudah terjadi pada tanggal 24 Februari 2005 itu. Satu tonggak sejarah dalam hidup saya tertulis sudah.
Lalu, apa makna semua ini? Ada banyak cara untuk mengatakannya tetapi saya memilih yang berikut ini:
Hampir semua mereka yang paling berjasa mengantar saya hinga dapat memasuki dunia akademik dengan derajat tertinggi tak ada lagi di dekat saya. Ayahanda "SGT", Ibunda dan Pak Sul sudah pergi. Tinggal saya di sini. Saya menafsirkan bahwa memang saya "dikaderkan dan dipersiapkan" oleh semua yang terkasih itu untuk bekerja melanjutan semua apa yang mereka kerjakan. Saya dipersiapkan untuk menjadi pelari estafet berikutnya yang harus menerima tongkat tugas:
SGT yang terobsesi dengan dunia pendidikan dan Gereja.
Ibunda yang memberi teladan tulus nrimo ing pandum.
Pak Sulthoni yang bercita-cita agar dunia pendidikan Kehutanan di Indonesia mulai memikirkan paradigma konservasi sebagai sokoguru
Bagaikan pelari estafet, semua mereka telah menyelesaikan tugasnya masing-masing. termasuk menempa saya agar dapat berfungsi sebagai pelari berikutnya. Dan saatnya sekarang, bagi saya yang tak lagi didampingi mereka, untuk terus berlari.....berlari.......berlari ...dan berlari. ... guna menyelesaikan semua tugas mereka sembari memperiapkan pelari estafet berikutnya. Apakah ada pilihan lain bagi saya? Tampaknya tidak. Hanya ada 1 tindakan, yaitu mulailah saya menggenggam erat tongkat estafet lalu berlari kencang di lintasan hidup sambil berdoa meminta pertolongan Tuhan agar tercapai apa yang diniatkan. Saya akan berlari dan memang harus terus berlari sambil mengenang kembali pidato Pak Sul pada saat inagurasi gelar Doktor bagi saya, di tanggal 24 Februari 2005 itu...
Doktor adalah orang yang memikirkan apa yang tidak dipikirkan oleh orang lain...

Doktor adalah orang yang mengerjakan apa yang hanya dilihat oleh orang lain setiap hari...
Terima Kasih Pak Sul....
Selamat Jalan....
Tabe Tuan Tabe Puan
