Tampilkan postingan dengan label Hidup Berkebangsaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup Berkebangsaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Mei 2008

Bigmike yang terhormat: .....Boleh saya menulis di sini?. Nggak minta bayaran kok. Gratis. Boleh yaaa.....

Ke Kiri? ’Nggak Ah, Serem.
Ke Kanan
? Ogah Ah
, ...atttuuuuttttt....
Jadi
? (ppssstttt....tidur ajaaahhh yuuuukkkk....)

Sahabat blogger yang terhormat,

Saya senang. Amat senang karena hari ini, untuk pertama kali, hadir sudah seorang penulis tamu. Sesuatu yang sudah lama saya rindukan karena, pertama-tama, blog ini pada dasarnya adalah milik kita juga. Saya hanyalah salah seorang pemegang saham. Dan Anda, para sahabat sekalian, adalah pemilik saham yang lainnya. Kedua, saya paham betul bahwa antara ide dan mengekspresikan ide adalah 2 hal yang berbeda kendati keduanya berhubungan erat. Soal ide, jangan anda kuatir. Saya punya banyak. Segudang. Tetapi untuk mengubah ide tersebut menjadi tulisan yang dapat dibaca orang lain maka harus ada prasyarat lain seperti waktu, kondisi kesehatan, kesibukan dan seterusnya-dan seterusnya. Nah, perkara-perkara itulah yang terkadang membatasi saya untuk bisa secara lancar mem-posting artikel ke dalam blog kesayangan kita bersama ini. Oleh karena itu, saya menyambut dengan gembira dan tangan terbuka kehadiran penulis-penulis tamu untuk menghiasi lembar blog bigmike-savannaland. Hari ini, harapan lama itu terwujud sudah.


Siapa penulis tamu kali ini? Dia bukan orang lain. Sahabat anda juga. Dia merupakan salah satu pengunjung paling setia Cafe Permenungan kita ini. Anda bisa menemukan dia hampir di setiap posting saya. Khususnya pada kolom komentar. Ah, anda tidak salah kalau menduga dia adalah salah satu di antara Wilmana atau NK (nyong kupang). Tetapi itu baru 50% benar. Anda baru benar 100% jika menebak NK sebagai penulisnya. Sayangnya, yang bersangkutan tidak ingin namanya disebut secara lugas. Katanya: biarkan saya dikenal sebagaimana apa adanya. OK Broer. But, let’s I say it: NK sekarang bermukim di Brisbane, Australia setelah baru saja melanglang buana ke Amerika Serikat hampir 3 tahun lamanya. Perjumpaannya dengan budaya Barat adalah perjumpaan yang intensif. Dia memang tinggal tidak di Indonesia setamatnya dari SMA 1 Kupang. Lalu, mari kita simak baik-baik apa yang mau dikatakan oleh NK kali ini. INI DIA


Ini akhir pekan, tidak ada kegiatan yang berarti. Untuk itu, saya ingin meluangkan waktu di sini menulis tentang beberapa pokok pikiran yang saya harapkan bisa didiskusikan, bahkan perdebatkan. Dalam pokok pikiran saya ini saya hendak mengkaitkan 2 hal sekaligus, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan moralitas 'kiri-kanan' dengan perubahan 'lahan persemaian' yang dapat menjadi tempat bertumbuhnya nilai-nilai baru positif. Pokok pikiran ini sangat revelan dengan tema wacana hidup berkebangsaan di blog ini.

Karena saya tidak paham artian terminologi kiri-kanan dalam konteks ke-Indonesiaan, maka saya memakai model Amerika sebagai sample yang mana dari-padanya saya berharap kita bisa belajar.
Begini.

'Lahan persemaian' Amerika memiliki 2 unsur moralitas, moralitas kiri dan kanan. Kiri kita sebut liberal sedangkan kanan, konservatif. Konservatisme ala Amerika berbeda dengan konservatisme di Inggris. Seperti yg saya sampaikan dalam komentar sebelumnya, konservatisme Inggris adalah paham yg berkiblat pada nilai-nilai lama, yaitu tahta dan altar, monarki dan gereja.
Konservatisme Amerika pada dasarnya merupakan bentuk revolusi dari konservatisme ala Inggris. Imigran Inggris di tanah yang baru -New England- muak dengan nilai-nilai lama mereka dan merindukan kebebasan.

Tradisi moralitas kiri-kanan Amerika dari mulanya sangat kuat dan gaungnya hingga sekarang masih terdengar. Saat ini rakyat Amerika sedang bersiap-siap memasuki masa kampanye pemilihan Presiden yang baru.
Dus, perdebatan sengit 2 moralitas ini, kiri dan kanan, begitu terasa. Partai Republik berbasis nilai-nilai kanan, konservatif, sedang bertarung melawan Partai Demokrat yang berbasis nilai-nilai kiri, liberal.

Dalam sejarahnya, moralitas kanan adalah yang paling tua. Nilai-nilai kanan/konservatif yang menekankan pada security negara dari ancaman dalam maupun luar negeri pada gilirannya 'melahirkan' paham kiri/liberal yg memberi penakanan sangat kuat pada kebebasan individu. Yang kiri berkata kepada yg kanan, 'elu boleh-boleh aja mengawasi setiap warga negara tetapi tidak boleh menganggu kebebasan individu kami.' Luar biasa! Inilah nilai-nilai klasik konservatisme dan liberalisme ala Amerika. Dan dari sini kita bisa tahu bahwa kiri dan kanan tidak berarti pertarungan antara si 'jahat' dan si 'baik' seperti yang saya tangkap dalam konteks kiri-kanan ke-Indonesiaan. Yang kanan katanya konservatif -saya tidak tahu nilai-nilainya- sedang yg kiri revolutif cenderung tanpa arah.

Dalam kaitannya dengan 'lahan persemaian,' lahan Amerika jelas unggul karena dari jaman ke jaman, perbaikan negara berdasar pada debat 2 moralitas ini. Rakyat Amerika diberi kebebasan memilih salah satu -atas dasar keunggulan- dari 2 moralitas ini. Mengatur hidup orang banyak, maka perdebatan kita tidak bisa tidak adalah perdebatan moralitas. Bagaimana dengan 'lahan' ke-Indonesiaan? Apakah kami beri 'pupuk' moralitas atau pupuk keculasan seperti yang disampaikan salah satu sahabat blogger disini? Jawabnya adalah dari 'buah-buahnya' kami tahu bahwa bukan pupuk moralitas melainkan pupuk culas, dengki, angkuh dll.....dlsb.......

Pertanyaan amat penting, bagaimana menyiapkan lahan persemaian yang bermoral sehingga benih-benih Indonesia Baru yg dicita-citakan itu bertumbuh? Dalam sistem demokrasi, kami, rakyatlah, yang berkuasa. Rakyat harus mulai menuntut debat-debat publik menjadi debat moral bukan debat kosong. Kebijakan publik haruslah berdasar pada moralitas yg jelas. Moralitas apa dan yang bagaimana? Karena tidak jelas apakah ada moralitas kiri-kanan ala Amerika, maka mungkin moralitasnya adalah, misalkan saja, Islam dan Nasionalisme. Apapun, sebuah kebejakan publik HARUS dipertanggungjawabkan, bermoral demi kepentingan rakyat atau tidak bermoral.

Terakhir, mari kita lihat salah satu debat moral yg paling sengit dalam debat publik Amerika. Silahkan nanti sdr/sdri menilainya sendiri. Ini juga bisa menjadi semacam tes, apakah sdr/sdri berada di paham kiri atau kanan. Salah satu debat yg paling sengit di Amerika adalah soal pajak. Buat orang-orang berpaham kanan, pajak haruslah kecil. Dengan pajak yang kecil, bisnis akan tumbuh pesat karena ada banyak tabungan yang dapat dipakai untuk memperlebar usaha yang gilirannya akan memberi lapangan kerja luas bagi rakyat. Bagi orang-orang kiri, pajak harus tinggi karena dalam negara harus menanggung beban derita org-org miskin dan orang-orang yang kurang beruntung lainnya. Analoginya begini.

Skenario 1: Bayangkan anda sedang berjalan sambil makan pisang goreng. Lalu datanglah seorang pengemis dan meminta pisang goreng anda. Anda beri dengan sukarela.
Skenario ke-2: Datanglah si pengemis itu dan memaksa anda untuk memberi pisang goreng anda. Dengan terpaksa anda berikan juga pisang goreng anda.

Dari dua skenario ini, jelas anda memberi pisang goreng anda kepada si pengemis, tetapi menurut anda, manakah yg sebut kebaikan (virtue) itu? Bagi orang konservatif, kebaikan (virtue) yg dipaksa adalah bukan kebaikan namanya. Demikian juga dengan hal pajak. Kalau penghasilan seseorang dipajak tinggi oleh negara, maka org tersebut, hakekatnya, dipaksa untuk berbagi, dus kebijakan pajak tinggi oleh orang kiri dianggap tidak bermoral oleh orang kanan.
Apa moralitas anda ???

Tarakhir... nasionalisme 'right or wrong my country' ala 'anak NKRI' masuk ke dalam moralitas kanan walau ia adalah bagian ektrim dari paham kanan itu.

Selamat berdebat.

-nyong kupang-

Brisbane, Sabtu, 31 Mei, 2008


Keterangan:

Artikel ini telah melewati proses editing untuk perbaikan tanda baca, kelangkapan kata dan kesalahan pengetikan. Tidak ada pengubahan substansi apapun-Bigmike. Judul tulisan dan insert gambar dilakukan oleh Bigmike. Sumber gambar: google search

atuuuttt = takut

Kamis, 29 Mei 2008

Internasional.....Inter Milan.....eeehhh........INTERUPSI BOssZZZ........

@d@ Y@ng H@ru$ DiJel@$k@n

Tak disangka, tak dinyana. Para pengunjung Cafe Permenungan saya ternyata permintaannya banyak, macam-macam dan bikin repot. Dihidangkan teh manis, minta di tambah gula. Sudah gulanya ditambah, ehhhh....minta ditambah susu krim. Busyeeetttt deeechhh...baru saja dihidangkan teh manis pake susu sekarang mereka pada minta dicampur kopi lagi. Tidak tanggung-tanggung, kopinya haruslah kopi Alaska (eeehhh, di Alaska ada kebun kopi nggak yaaa????). Wuuuuuaaaaahhhh.....dan yang bikin gondok...selesai minum, itu tamu-tamu pada ngeloyor pergi zondern mau bayar.... Begitu ditagih...ramai ramai mengatup 2 tangan rapat-rapat lalu diacungkan ke depan wajahnya. Bangkit dari duduk, lantas kaki melangkah perlahan berputar-putar sambil mulutnya komat-kamit mengujarkan mantra........sedang merenung.....sedang merenung......sedang.........merenung.....sedang merenung kok ditagih biaya......sedang merenung....sedang merenung.......ha ha ha ha....

Tapi tak apalah, inilah gambaran sahabat blogger saya. Menjengkelkan tetapi tanpa mereka Cafe saya akan bangk
rut. Pasti bangkrut. Karena sesungguhnya komentar-komentar mereka itulah yang merupakan bayaran atas penatalayanan yang saya kerjakan dalam Cafe saya ini. Tak apalah. Tak apalah. Sabar. Sabar. Sabar. Tagal perkara permintaan yang macam-macam itu maka terpaksa saya harus memposting beberapa penjelasan yang perlu agar supaya sahabat blogger menjadi jelas tentang preposisi saya dalam menulis. Terutama pada topik posting terakhir: Indonesia Negara Gagal. Besar harapan saya, terlepas dari setuju tidaknya sahabat-sahabat atas penjelasan saya, sudilah kiranya pakuda ...eehh keliru ding...paduka tuan sahabat sekalian tidak lagi mempersalahkan saya ketika "bertengkar".

Pasca posting terakhir (Negara Gagal) saya menuai badai kecaman. Dikatakan bahwa saya tidak memberikan sesuatu yang baru. Saya setuju, tetapi harap dimaafkan karena bagi saya istilah negara gagal (failed state) adalah topik hangat di kalangan pemerhati politik se Nusantara. Sayapun terhisab dalam pusaran wacana yang sama dan kagetlah saya ketika di suatu kala saya ditanyakan tentang apa itu negara gagal. Dalam keadaan gelagapan, ketika itu, saya berusaha menjawab sekenanya. Ngalor ngidul tak keruan. Si penanya terlihat men
ganggukkan kepala, entah mengerti entah heran sambil berpikir: .....heiii...si bigmike sedang teeeepuuuutttaaarrrr...(kosakata Melayu Kupang untuk menyatakan berbohong). Sayapun merasa ketidakpercayaan di mata orang itu dan cepat-cepat saya memindahkan topik pembicaraan mengenai isu kebakaran hutan dan lahan kritis di NTT yang sangat tinggi. Nah, kalau menyangkut topik yang satu ini maka percakapan selama sehari semalampun akan saya lakoni. Anda silakan bercakap-cakap, saya tidur ngorok sebagai musik pengiring percakapan....ha ha ha....

Ya, sudahlah: karena negara gagal adalah isu baru bagi saya maka saya memaksakan diri juga untuk mempelajarinya. Dan momentum untuk menulis, sekaligus pamer pengetahuan baru itupun datang. Ya, ketika peringatan 1 abad Kebangkitan Nasional dan Hari Jadi Pancasila. Pasca posting tulisan tersebut saya mendapat masalah baru lagi. Saya diduga telah membuat ukuran-ukuran sendiri tentang negara gagal lalu mendiskreditkan Indonesia dengan menyebutkannya sebagai Indonesia yang gagal. Jika disingkat menjadi Indonesial. Agar supaya saya terhindarkan dari kesalahapahaman maka ijinkan saya untuk menjelaskan bahwa pengkategorian Indonesia sebagai negara gagal bukan dilakukan oleh saya. Saya cuma mengutip....sekali lagi....cuma mengutip....hasil survei yang dilakukan oleh majalah Amerika Serikat, Foreign Policy, tentang peringkat negara-negera di dunia berdasarkan keberhasilan dan atau kegagalan mereka.

Mengapa saya tertarik mengutip publikasi ini? Begini: agak berbeda dari kebiasaan para politisi praktis yang sering membuat pernyataan asbun tanpa ukuran yang jelas, dalam survai ini saya menemukan adan
ya ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif. Sesuatu yang sudah menjadi habit saya sebagai ilmuwan kelompok bidang ilmu eksakta. Apa ukuran-ukuran dan bagaimana cara mengukurnya, kita sebut saja sebagai metode survei, disampaikan secara jelas. Nah, saya coba menguraikan langkah-langkah dalam metode yang dilakukan sampai dihasilkannya kesimpulan Indenesia sebagai negara gagal.


1. Penentuan indikator-indikator penilaian berdasarkan gagasan tentang teori tata kelola bernegara. Hasilnya adalah tersusunnya 12 kriteria indikator tingkat kegagalan suatu negara. Berikut adalah terjemahan bebas dari indikator-indikator tersebut:

I. Social indicators

1.Tekanan masalah demografi

2.masalah pengungsi;

3.Konfliks sosial/SARA;

4.Arus orang yang mencari suaka keluar;

II.Economic indicators

5.Ketimpanangan;

6.Tajam tidaknya penurunan ekonomi;

III.Political indicators

7.Kriminalitas dan ketidakmampuan negara mengontrol rakyatnya;

8.Kemerosotan pelayanan publik;

9.Penegakan hukum atas pelanggaran atau kejahatan terhadap hak azasi manusia;

10.Kesewenangan aparat militer dan lembaga-lembaga non-sipil;

11.Meningkatnya perpecahan elit;

12.Intervensi pihak luar dalam urusan dalam negeri.

2. Mengumpulkan data dari 12 variabel di atas yang bersumber dari sumber0sumber resmi milsanya dari badan statistik nasional dan sumber resmi lainnya;

3. Memberikan skor terhadap setiap variabel dalam skala interval 0 – 10. Pada kedaan tanpa masalah pada suatu variabel tertentu maka suatu negara akan mendaptkan nilai 0. Sebaliknya jika terjadi total bermasalah dan negara gagal mengatasinya maka skor yang diberikan adalah 10. Semakin tinggi skor, semakin gagal. Sebaliknya, semakin kecil skor berarti semakin berhasil. Contoh, pada variabel nomor 3, yaitu konflik karena isu SARA. Jika jumlah kasus SARA suatu negara sangat besar maka skor yang diperoleh akan besar mendekati 10. Sebaliknya, jika penduduk suatu negara hampir tidak pernah terlibat perkelahian karena perbedaan SARA maka skornya akan kecil mendekati 0;

4. Setelah semua variabel diberikan skor dengan cara yang sama maka akan dilakukan perhitungan total skor dari semua (12 buah) variabel. Contoh: jika semua variabel mendapat skor 10 maka total skor adalah 10+10+10+10+10+10+10+10+10+10=120;

5. Skor yang diperoleh suatu negara di susun ke dalam suatu satu tabel dan diurutkan berdasarkan besar kecilnya skor. Negara dengan skor paling besar diletakkan pada bagian atas tabel yang berarti negara tersebut adalah negara gagal. Sebaliknya, negara-negara dengan skor yang rendah tertera pada bagian bawah tabel yang berarti bahwa negara tersebut adalah negara yang tidak gagal.

Karena soal ukuran tabel dan ketersediaan ruang blog maka saya tidak dapat memasukkan tabel yang berisikan daftar 177 negara hasil survei tentang negara gagal. Tapi, lihatlah gambar peta sebaran negara gagal di seluruh dunia. Di situ akan terlihat bahwa 177 negera yang disurvei dikelompokkan ke dalam 4 kategori yang dibedakan berdasarkan warna arsiran pada peta. Kategori berbahaya (alert) diarsir warna merah tua/merah hati, peringatan (warning) diarsir berwarna orange, biasa-biasa saja (moderate) berwarna kuning dan mantap/berkelanjutan (sustainable) berwarna hijau. Dua kelompok, yaitu kelompok berbahaya dan peringatan dikategorikan sebagai negara gagal. Sedangkan kelompok moderat dan berkelanjutan terkategori sebagai bukan negara gagal. Dari peta terlihat jelas bahwa Indonesia diarsir dengan warna orange (atau coklat sih ya????). Artinya, Indonesia tergolong negara gagal. Indonesia gagal = INDONESIAL. Anda mungkin tidak suka, sayapun tidak, tetapi itulah fakta analisis.

Hal berikut yang perlu saya jelaskan adalah apa yang saya maksudkan dengan negara. Lalu mengapa saya mengatakan kegagalan negara harus merupakan tanggungjawab seluruh bangsa dan tidak sekedar negara. Pertama-tama harus dipahami bahwa dalam 12 variabel indikator negara gagal terdapat beberapa variabel yang menunjukkan bahwa yang berperan terhadap kegagalan bukan cuma negara atau pemerintah tetapi juga seluruh masyarakat. Misalnya, perpecahan elit, demografi dan SARA. Kedua, konsekuensi defenisi. Begini bossZZ....

Negara: terdapat 2 pengertian, yaitu: 1) wilayah yang harus memiliki organisasi yang berkuasa dalam bidang politik, milter, ekonomi, sosial dan budaya; dan 2) organisasi yang terdiri atas wilayah sebagai lokus negara, rakyat yg menerima keberadaan organisasi negara, dan keadulatan dimana rakyat mengakui adanya negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka di lokus tertentu.
Pemerintah
: organisasi yang ada di dalam negara yang memiliki kekuasaan untuk mengatur jalannya organisasi negara (wilayah, masyarakat dan kedaulatan).
Bangsa
:kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama dan memiliki kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya dan/atau sejarah. Berdasarkan asumsi/anggapan bahwa manusia dapat dibeda-bedakan atas kelompok bangsa-bangsa maka salah satu ciri lain dari bangsa adalah adanya kesamaan keturunan. Pengajaran atau keyakinan atau doktrin bahwa suatu bangsa tersusun atas ciri-ciri kesamaan tersebut disebut sebagai ideologi nasionalisme yg berakar dari suatu tatasistem ideologi dan filsafat tertentu.

Dari defenisi di atas terlihat sudah apa preposisi saya tentang bangsa gagal. Ya, karena wilayah dan kedaulatan sebagai elemen negara bukanlah benda-benda biotik yang memiliki niat, kehendak, nalar dan kerja yang dapat membawanya kepada posisi sebagai subyek hukum. Hanya orang Indonesia yang suka mengatakan bahwa kegagalan panen disebabkan kekeringan sementara orang Israel mampu memproduksikan anggur dan buah-buahan lainnya, yang berkualitas kelas satu dan dieksport ke Eropa, dari ......padang gurun. Ingatkah anda bahwa dahulu ketika bertindak sebagai pembela Akbar Tandjung, duo pengacara the Sitompul’s (Hotma dan Ruhut) pernah mengatakan begini.....heiiiii.....pemberian uang ke Bang Akbar memang terjadi tetapi ketika itu Bang Akbar tidak menerimanya. Uang itu diletakkan oleh si pemberi di atas meja.....Whhuuuiiihhhh....apa maunya si Raja Minyak dari Medan ini dengan mengatakan itu........Ya, rupa-rupanya the Si Tompul’s ingin agar Si Meja yang ditetapkan sebagai tersangka, terdakwa, terpenjara dan lain sebagainya? Dapatkah anda membayangkan bahwa si Meja terpenjara? Jika tidak maka anda tampaknya harus menerima penilaian bahwa kegagalan yang terjadi di Indonesia bukan sekadar kegagalan negara melainkan kegagalan seluruh bangsa. Sekali lagi, bangsa INDONESIAL

Tabe' Tuan. Tabe' Puan

(mengenai Etika Protestan dan yang sejenisnya itu akan saya masukkan sebagai bagian integral dalam lanjutan posting tentang Indonesia Bangkit)

Senin, 26 Mei 2008

Indonesia Bangkit. Indonesia Bisa. Indonesia Bisa Bangkit? (Episode Negara Gagal)

Entah mimpi apa dokter Sutomo dkk. Pada tahun 1908. Entah salah apa yang dibuat oleh Bung Karno dkk. pada tahun 1945. Rasanya menjadi tidak berguna ketika beberapa orang mahasiswa di tahun 1998 berkalang tanah. Mati dihajar peluru, tak tahu peluru siapa, ketika memperjuangkan apa yang belakangan kita sebut sebagai reformasi. Ketika itu, para pendahulu itu, membayangkan lahirnya Indonesia yang Merdeka karena adanya jiwa dan badan yang bangkit. Adanya Indonesia yang Jaya dalam kemerdekaannya. Adanya Indonesia yang bermartabat karena sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bertanah air telah direformasi. Semua menjadi tak karuan lagi karena Indonesia yang terwujud hari ini per 26 Mei 2008, adalah Indonesia yang berantakan. Indonesia yang kacau dalam kemelut. Pemerintahnya adalah pemerintah yang gamang. Tidak ke sini tidak pula ke situ. Maju 2 langkah mundurnya-pun 2 langkah. Ketika dikritik oleh Megawati sebagai pemerintahan yang sedang menari poco-poco, malah marah. Parlemennya hobi main ancam atas nama hak interpelasi, hak angket dan hak-hak yang lainnya. Beringasnya bukan kepalang ketika Pemerintah memutuskan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak udel-nya parlemen. Tetapi begitu diajak pertemuan bareng pemerintah, melalui lobi-lobi di hotel, di istana atau dimana-mana, ehhh yaaa ammpuuunnn....keberingasan itu lenyap tak berbekas. Kembali ke titik nihil. Anggota parlemen bukannya melakukan proses legislasi dengan baik... eeealaaahhh.....malah menerima suap untuk konversi hutan, main perempuan, main narkoba...pokoknya......main-main saja-lah para bos itu dengan tugas legislasi mereka. Swastanya adalah swasta yang tetap didominasi oleh para pelaku swasta kroni yang terus mengemplang hutang BLBI. Swasta yang menyebabkan bencana lumpur di Porong, Sidoarjo zonder suka bertanggungjawab. Bencana nasional, kata mereka, sambil meminta pemerintah yang menanggulangi. Tak jelas lagi siapa penguasa siapa pengusaha. Menko + pengusaha = penguasaha ha ha ha ha.....

Masyarakatnya adalah masyarakat yang pasrah narimo ing pandum. Bahkan ketika sudah ditempiling habis-habisan sampai bonyok. Anehnya, inilah masyarakat narimo tetapi amat gemar mengumbar kemunafikan dan kemarahan. Suka mengaku miskin ketika ada BLT (bantuan langsung tunai). Bayangkan, ini terjadi di kampung saya di Kupang, ada pemilik bengkel yang asetnya jutaan rupiah tetapi saya ketemukan sedang mengantri di kantor Pos.
Woooiii, bekin apa di sini ni. Lagi terima BLT, jawabnya. Ketika BLT dibagikan ....eeeellaaaddhhhaaallhhhh....BLT-nya segera berubah menjadi Bantuan Langsung Tawuran karena terjadi rebut-rebutan untuk dulu-duluan menerima. Insani, injak sana injak sini. Setelah diterima BLT-nya, maka BLT berubah lagi menjadi Bantuan Langsung Tapaleuk, yaitu kosa kata bahasa Melayu Kupang yang artinya take pleasure. Gilaaaaa....uang BLT-nya dipakai untuk cuci mata ke Mall. Di lain waktu terjadi juga hal-hal berikut ini. Aliran agama berbeda disikapi dengan sikap: tumpas. Bakar. Bunuh. Pendapat berbeda: ancam dan maki. Saya melakukan survei kecil-kecilan di portal-portal berita seperti di detik.com, okezone.com, kompas.com dan lain sebagainya. Hasilnya, 83.2% pemberi komentar selalu menyertakan kata-kata makian ketika terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Bahkan hanya karena berbeda jagoan Moto GP atau Formula 1 atau Liga Inggris. Bertengkarnya begitu serius, sambil memaki-maki, meskipun Si Rossi tidak mengenal mereka. Hamilton mana tahu mereka. Christiano Ronaldo sama sekali enggak pernah liat batang hidung mereka. Sungguh-sungguh masyarakat yang lucu. Aneh. Ajaib. Konyol. Tragis.

Lalu, dalam suasana euforia p
esta peringatan 1 abad HARKITNAS (entah artinya hari kebangkitan nasional atau hari kesakitan nasional) prseiden SBY dengan gagah berteriak: moto kita, slogan kita adalah INDONESIA BISA. Nah lho, bisa ape emangnyeeeee?????? Nah, sekarang mari kita coba menyimak pendapat beberapa pihak tentang Indonesia dewasa ini. Apa kata dunia-lah kata si Naga Bonar.

Prof. Dr. Budi Winarno (UGM)
:
Untuk bisa
survive, dan sekaligus tidak menjadi pecundang (the looser), negara harus kuat dan tangguh dalam pengertian memiliki power and wealth. Namun dalam kenyataannya, Indonesia telah menjadi negara yang sangat lemah (a very weak state), padahal mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah. I
ni karena buruknya kinerja sistem politik dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa dan negara. Dalam pandangan Chomsky, Indonesia bisa dimasukkan ke dalam apa yang disebutnya sebagai negara yang gagal atau a failed state.

Prof Dr. Meutia Gani-Rochman (UI)
:

Negara gagal sangat potensial mengembangkan lebih lanjut wilayah ekonomi ilegal. Muasalnya, penegakan hukum gagal melakukan pekerjaannya. Dengan keadaan inilah pelaku ekonomi ilegal menancapkan kukunya, yang jika dibiarkan kelamaan akan mendistorsi perencanaan pembangunan nasional dan merusak moralitas ekonomi bangsa. Rakyat miskin akan sangat tergoda untuk membeli barang serta jasa maupun bekerja di wilayah ekonomi ilegal. Jika semakin besar, terciptalah kultur hubungan ekonomi yang didasarkan pada kerangka ilegalitas. Misalnya, tidak membayar pajak, pemerasan dan bukan persaingan produk, ketidakpercayaan yang tinggi hingga menciptakan batas-batas sempit fleksibilitas membuat hubungan baru (eksklusivisme), profesionalisme yang tidak berkembang, dan sebagainya. Yang mengerikan adalah dalam situasi kegagalan yang berlanjut, pelaku ekonomi ilegal bisa mentransformasi dirinya masuk ke dalam ekonomi legal serta memberi warna dominan pada lingkungan (niche) perekonomian. Itulah yang melatarbelakangi fenomena mengapa pada situasi kegagalan negara yang berkepanjangan, batas-batas antara yang legal dan ilegal menjadi kabur. Salah satu contoh yang kuat adalah cara-cara premanisme yang dipakai bank-bank terkemuka dalam penagihan utang. Contoh lain, berkembangnya bisnis keamanan dan bisnis intel (Tempo, 24/3/ 2008).


Cukup????? Ah, jangan dululah. Mari kita simak lagi fakta berikut ini:

Majalah AS (Amerika Serikat), Foreign Policy, menerbitkan Indeks Negara Gagal 2007. Indeks ini menggunakan 12 indikator instabilitas politik, ekonomi, militer, dan sosial sebagai alat ukur. Menurut studi yang dilakukan oleh majalah ini, karakteristik negara gagal, antara lain, adalah tingginya angka kriminalitas dan kekerasan, korupsi yang merajalela, miskinnya opini publik, serta suasana ketidakpastian yang tinggi. Negara gagal pada awalnya banyak karena kegagalan di bidang ekonomi, yaitu ketidakefisienan yang parah dalam mengatur modal dan tenaga kerja dan ketidakmampuan melakukan distribusi/pengadaan pelayanan dan barang dasar bagi penduduk ekonomi lemah. Akibat selanjutnya adalah kemiskinan dan pengangguran yang berkepanjangan.

Dalam daftar Indeks dimaksud terdapat daftar 177 negara dengan peringkat kegagalannya masing-masing. Makin ke arah atas dari daftar indeks, maka kedudukan suatau negara disebut makin gagal. Sebaliknya, jika kedudukan suatu negara dalam daftar indeks semakin kearah bawah maka negara tersebut disebut makin kurang gagal atau disebut juga sebagai negara berhasil. Lima negara yang disebut paling gagal adalah seperti ini. Negara dengan nomor urut 1 sebagai negara gagal adalah Sudan dengan skor 113.7. Lalu menyusul, Irak (111.4), Somalia (111.1), Zimbabwe (110.1) dan Chad (108.8). Sekelompok dengan negara-negara super gagal ini adalah Timor Leste yang berada pada urutan ke 20 dengan skor 94.9.


Di mana posisi Indonesia dalam daftar ini? Ini nih: RI berada di urutan 55 dengan skor 84,4 sekelompok dengan negara yang namanya jarang terdengar, yaitu Guinea Ekuatorial, Kirgistan, Turkmenistan, Eritrea, atau Moldova. Di ASEAN RI sekelompok dengan negara ASEAN gagal lainnya, yaitu Myanmar (97.0), Laos (87.2) dan Filipina (83.2). Banyak persamaan kultural antara bangsa gagal RI, Myanmar, Laos dan Filipina.


Bagaimana jika posisi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara yang tergolong kurang gagal. Mari kita amati di mana posisi Amerika Serikat, Australia, dan negeri kecil tetangga kita, Singapura di dalam daftar indeks dimaksud. Amerika Serikat berada di urutan 160 (skor 33.6). Australia lebih hebat lagi, di urutan 169 (23.3). Singapura berada di urutan 161 yang berarti satu tingkat lebih baik dibandingkan Amerika Serikat (skor 33.0). Dan akhirnya, 3 negara yang paling berhasil adalah Norwegia (177 dengan skor paling rendah, 17.1), Finlandia (176 dengan skor 18.5), dan Swedia (175 dengan skor 19.3). (Dalam konteks diskursus antara Wilmana dan NK, saya memberi catatan khusus bahwa 3 negara paling berhasil ini adalah negara-negara yang menetapkan Agama Kristen Protestan sebagai Agama Negara).

Sekarang, apa komentar kita terhadap fakta-fakta yang dikatakan oleh dunia ini? Terserah anda. Tetapi saya sendiri berpendapat, dengan mengutip penyanyi asal NTT Obie Messkah: .....maluuuu akuuu maluuuuu pada semut merahhhh........... oooouuuoooouuuuoooo......What’s up????? Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap ketidaksenonoh-an ini?

Kegagalan negara bukanlah semata kegagalan pemerintah, melainkan semua aktor yang terlibat dalam distorsi kebijakan publik (pemerintah, swasta dan masayarakat) yang dibutuhkan untuk menyejahterakan masyarakat. Merekalah yang memberikan kemiskinan kepada rakyat dan mengembangkan ketidakadaban (Meutia Ganie-Rochman, 2008). Singkat kata: semua elemen bangsa telah membuat bangsa ini gagal. Jadi, kegagalan yang terjadi bukan sekedar kegagalan negara Indonesia mengingat defenisi negara gagal adalah negara di mana pemerintah pusat tidak mampu mengontrol atau menguasai seluruh wilayahnya. Kegagalan yang terjadi sekarang ini melebihi defenisi itu karena telah berada pada tahap: kegagalan seluruh bangsa. Bangsa Indonesia.

Jika semuanya benar maka, dengan berlinang air mata, saya harus mengatakan ini: Indonesia kita Tercinta sungguh-sungguh telah berubah menjadi sebuah bangsa gagal yang bernama INDONESIAL.

Tabik Tuan. Tabik Puan

(To Be Continued)

Keterangan gambar peta:
Failed States according to the "Failed States Index 2007" of Foreign Policy

██ Alert ██ Warning ██ No Information / Dependent Territory ██ Moderate ██ Sustainable

Selasa, 20 Mei 2008

Indonesia Bangkit. Indonesia Bisa. Indonesia Bisa Bangkit? (Part 1)

Sahabat Blogger yang terhormat,

Hari ini, selasa 20 Mei 2008, genap 1 abad atau 100 tahun, Kebangkitan Nasional Indonesia. Seharusnya saya gegap gempita mensyukurinya. Tetapi, entahlah. Rasanya, ada sesuatu yang membuat saya lebih baik menahan diri dari euforia. Ada yang terasa mengganjal di dalam hati dan pikiran. Ada yang ingin saya katakan. Tetapi sebelumnya, mungkin ada baiknya jika sahabat bloggers mengijinkan saya untuk memposting sebuah tulisan lama. Tulisan ini sudah pernah dimuat di koran lokal (H.U. Timor Express, 18 Agustus 2007) di Kupang. Di situ, ada yang ingin saya keluhkan. Dan, ini penting: sebenarnya posting tentang Kasih dan juga Indonesia Bangkit, sudah merupakan bagian dari "sesuatu" yang ingin saya renungkan. Sejak awal.

Sahabat blogger yang budiman, nikmati dahulu tulisan lama saya tersebut. Oh, iya, menyangkut tulisan ini, ada kenangan yang ingin saya ceriterakan. Ketika membaca tulisan ini, Ayahanda saya almarhum, sang Guru Tua itu, secara khusus menelepon saya yang ketika itu berada di Jakarta dan mengatakan bahwa: "saya sangat bangga dan terharu dengan tulisan mu. Inti tulisanmu adalah tentang HARGA DIRI. Sesuatu yang menjadi pegangan dan sikap hidup saya serta seluruh ba'i leluhur mu". Turun temurun. Posting ini juga untuk mengenang sang Guru Tua.

Di Depan Kain Merah Putih Nan Lusuh itu Saya Tercenung:

Apakah Kami, Orang NTT, Sudah Tidak Punya Apa-Apa Lagi?

(Renungan 62 Tahun Republik Indonesia Tercinta)

Ludji Michael Riwu Kaho[1]

Sidang pembaca yang terkasih, kejadian yang saya tulis dalam artikel ini adalah sungguh sebuah kisah nyata. Pengalaman pribadi saya. Bukan rekayasa atau yang sejenisnya. Hari itu, tanggal 15 Agustus 2007. Pagi-pagi sekali saya sudah dibangunkan oleh isteri saya untuk menyiapkan diri berangkat ke tempat tugas. Ada janji untuk bertemu dengan orang-orang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk bersama-sama menuju ke tempat penangkaran Rusa Timor dan melihat perkembangan tanaman cendana yang ditanam di kampus Universitas Nusa Cendana. Setelah mempersiapkan diri seperlunya maka berangkatlah saya ke tempat tujuan dan bertemu dengan tamu-tamu terhormat tersebut. Sambil melihat-lihat dan berdiskusi, berceriteralah kami kesana-kemari tentang rusa Timor, tanaman cendana dan segala kekayaan yang dimiliki oleh nusa archipelago NTT tercinta. Setelah sehari sebelumnya (14 Agustus 2007) kami berlokakarya bersama-sama tamu dari LIPI tersebut tentang potensi tumbuhan gewang yang luar biasa maka diskusi lepas pada pagi hari tanggal 15 Agustus itu menghasilkan kesepakatan intelektual di antara kami bahwa NTT adalah negeri semi ringkai (semi arid) yang pola-pola ekosistemnya unik. Satu-satunya di Indonesia. Ada banyak daerah kering di Indonesia tetapi daerah kering yang berpulau-pulau dengan tipologi klimatik, edafik dan lanskap seperti di NTT memang Cuma NTT. Saya teringat pengalaman ketika menjalani ujian Disertasi di depan Dewan Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Jogjakarta. Seorang Guru saya, Profesor dalam Bidang Ilmu Kehutanan membisikan kepada saya: dik, saya itu belum pernah lho melihat savana dan ketika gambar penelitianmu tadi ditayangkan saya segera menjadi jatuh cinta karena dahsyatnya. Ada banyak kekayan di savana NTT seperti komodo, rusa Timor, cendana, lontar, gewang, kayu merah, tanaman obat, rumput kakirik mahappu dan Sorghum timorensis dan banyak lagi. Bukan main, dan memang bukan main-main rasa hati kami dan kawan-kawan dari Undana mendengar kesimpulan intelektual seperti itu walaupun diiringi dengan tantangan bagi kami yang ada di NTT. Bagaimana mengembangkan semua itu sehingga bukan hanya sebatas potensi sumberdaya alam tetapi dapat diubah menjadi kesejahteraan masyarakat NTT seluruhnya. NTT yang kuat adalah Indonesia yang mantap. Merdeka. Puji Tuhan.

Sekitar pukul setengah 10, pertemuan usai sudah. Kami lalu berpisah dengan beberapa janji dan agenda ke depan. Saya lalu dipanggil oleh DR. Fred Benu, ketua Lembaga Penelitian Undana, untuk meminta kesediaan saya mewakili beliau, yang sebelumnya sudah mendapat disposisi dari Rektor Undana agar mewakili institusi kami menghadiri pertemuan di kantor Setda NTT. Pertemuan itu adalah untuk membahas evaluasi pelaksanaan program Gerhan tahun-tahun yang lewat dan rencana kerja program keja Gerhan tahun 2007. Setelah mendengar permintaan Dr Fred maka saya menyatakan kesediaan dan berangkatlah saya. Lalu, sampailah saya di tempat pertemuan dimaksud. Kemudian, dengan takzim dan masih diliputi rasa berbunga-bunga pascapertemuan dengan sahabat-sahabat dari LIPI, saya mengikuti pembicaraan dalam pertemuan dimaksud. Normal saja. Seperti biasa. Evaluasi diberikan dan rencana kerja ke depan dibahas. Dan, sampailah saat yang sangat mendongkolkan hati saya. Saya tidak tahu dan memang ketika itu bersikap tidak mau tahu mengenai suasana hati peserta rapat lainnya yang terhormat. Pokoknya, hati saya dongkol karena tersinggung. Entah yang lain. Kacau sudah kebahagiaan yang saya dapatkan sebelumnya. Saya terpekur sejenak. Lalu, saya mengucapkan dalam hati: Maha Benar Engkau Tuhanku ketika engkau mengingatkan kami bahwa hidup kami ini ibarat perjalanan melintasi padang berumput hijau dan air tenang tetapi dapat segera berganti situasi untuk berada dalam lembah kekelaman (Mazmur 23).

Gerangan apa sehingga hati saya menjadi tidak lagi tenteram Begini sidang pembaca. Salah seorang di antara beberapa bos-bos yang hadir dan berbicara dalam rapat menyatakan begini Terus terang saja, NTT ini tidak punya apa-apa di sektor kehutanan. Beruntung Departemen Kehutanan (dalam hal ini pihak pusat) menyediakan dana ratusan milyar yang berasal dari dana reboisasi yang diberikan kepada NTT (tidak persis begitu akan tetapi itulah intisarinya). Oh my God. Betulkah kami di NTT tidak punya apa-apa? Lalu, dana besar dari Pusat itu harus dimengerti sebagai apa: hadiah dari pusat-kah?. Kemurahan hati dari pusat-kah? Pak Boss tadi su batul ko? Sidang pembaca yang terhormat, seketika niat saya untuk duduk berlama-lama di ruang itu terbang melayang entah ke mana. Mula-mula karena sedih. Lalu berkembang menjadi rasa dongkol dan akhirnya berubah menjadi marah. Tetapi saya tetap diam KDH (kalongko dalam hati) saja. Dan, beruntunglah siksaan itu tidak berlangsung lama karena pimpinan rapat tak lama kemudian menutup rapat itu dengan beberapa kesimpulan. Dan pulanglah saya menenteng 1 kotak snack, 1 kotak nasi + lauk pauknya dan uang rapat. Semua yang ditenteng tersebut saya syukuri sebagai berkat saya hari itu. Tengkyu Tete Manis.

Meskipun demikian rasa tersinggung, dongkol dan marah itu masih saja ada. Betapa tidak. Pagi-pagi saya masih membanggakan NTT yang unik dan kaya dalam keunikannya tersebut. Eh, ya ampuuunnn kok ya tega amat kebahagian itu disapu oleh kata-kata bahwa: NTT tidak punya apa-apa dan semua yang diberikan dari pusat seolah-olah hadiah dan belas kasihan pusat kepada kami di NTT yang tidak punya apa-apa ini. Pak Boss tadi sonde bisa mangarti ko bahwa kekayaan hutan di NTT jangan dibayangkan tangible (bisa dihitung) macam ke hutan di Kalimantan sana. Pak Boss lupa ko bahwa memang kayu hebat-hebat seperti di Sumatera deng Irian sonde ada di sini tetapi karmana deng cendana, lontar, gewang, ampupu, kabesak putih dan kabesak hitam, rumput kume dan kakirik mahappu, aneka tumbuhan obat (pharmaceutical plants), komodo, rusa Timor, ikan di laut, paus, penyu hijau, burung bayan, burung kol ulan dan lain sebagainya yang kalo pi taro harga maka dia pung nilai tafi’i nae pi udara. Pak Boss mungkin sonde ingat bahwa biar kata NTT sonde punya apa-apa tetapi NTT punya tanah, punya air, punya pohon dan punya orang. Dan, NTT adalah bagian yang sah dari NKRI tercinta. Oleh karena itu, jangankan ratusan milyar, ratusan trilyun rupiahpun adalah sah diberikan kepada NTT karena itulah harga yang harus dibayar oleh Republik untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan congkak dengan bantuan, hadiah atau kemurahan hatimu itu. Lihatlah yang terjadi di Timor-Timur. Belajarlah dari sana. Ketika harga yang dibayarkan dianggap sebagai hadiah dan kemurahan hati semata maka yang terjadi adalah bangkitnya harga diri orang-orang yang merasa dihina karena hadiah yang diberikan.

Haru biru logika seperti itu menghantar perjalanan pulang saya dari kantor Gubernur. Dari bagian belakang kantor gubernur, saya berputar ke arah depan kantor yang sama. Sampailah saya di depan larikan kain merah putih yang diikatkan di pagar-pagar deretan kantor yang ada di sepanjang jalan El Tari itu. Tersedaklah tenggorokan saya karena menyadari adanya pemandangan yang sama dari larikan panjang kain-kain itu. Bukan warna merah putihnya. Bukan itu. Melainkan lusuhnya larikan kain tersebut. Sekali lagi, merah putih yang tergantung di sana tampak lusuh. Amat lusuh. Maka, menepilah saya di situ dan menghampiri larikan kain itu. Sambil menyentuh kain lusuh itu, sayapun tercenung. Tidak adakah kain yang lebih baik dari ini? Pragmatisme-kah? Anti-simbolisme-kah? Anti-totemistik-kah? Penghematan-kah? Kurang perduli-kah? Apa adanya-kah? Keprihatinan-kah? Atau, jangan-jangan memang benar seperti yang dikatakan orang di dalam rapat yang baru saja berlalu bahwa kita di NTT memang tidak punya apa-apa lagi. Wahai merah putih, entah berapa ribu nyawa yang meregang karena mu. Cukup-kah kain lusuh ini dipakai untuk mengenang mereka? Wahai merah putih tercinta, apakah engkau sendiri merasa cukup untuk dipajang lusuh seperti ini? Jangan-jangan memang karena kelusuhan mu ini sehingga di Maluku orang ingin menggantikan mu dengan bendera RMS. Di Papua, ada orang yang lebih bangga mengibarkan bendera bintang kejora. Orang di Aceh melucuti dan menurunkanmu ketika engkau dikibarkan untuk memperingati HUT negeri yang engkau simbolkan ini.

Tanpa terasa, sekitar 5 menit saya berada di situ dan menangislah saya di dalam hati. Hilang sudah rasa tersinggung dan marah. Lalu, berlalulah saya sambil mencoba memberikan makna kepada apa yang saya alami sepanjang pagi sampai siang itu. Senang ketika pagi, marah ketika lewat pagi dan menangis menjelang tengah hari. Nusa Tenggara Timut adalah Indonesia di letak lintangnya. Dia sama dengan Sumatera, Jawa, Kalimantan. Sulawesi, Maluku, Irian, Bali dan daerah lain di letak lintangnya masing-masing dalam wilayah Indonesia. NTT ada sebagaimana apa adanya. Lalu, kalau ingin Indonesia menjadi kuat maka semua yang berada di letak lintang ini harus bekerja sekeras mungkin. Jangan bekerja seadanya, malas, harap gampang sambil mengintip peluang untuk bertindak korupsi. Bekerja sebaik-baiknya. Bekerja sekeras-kerasnya. Bekerja sepintar-pintarnya. Bekerja sejujur-jujurnya. Bekerja setulus-tulusnya. Itulah harga yang harus dibayar agar NTT menjadi lebih maju dan sejahtera. Dengan demikian maka Indonesia akan maju dan jaya. Seumpama empat kaki sebuah kursi maka lemah salah satu kakinya akan melemahkan tumpuan kursi tersebut. Putra-putri Indonesia yang lahir, hidup dan akan mati di bumi savana ini bekerjalah kuat supaya tidak dipandang sebelah mata oleh siapapun juga. Duduklah sama rendah dan berdirilah sama tinggi dengan saudara-saudara Indonesiamu yang berasal dari letak lintang lain. Tegakkan harga dirimu, bukan dengan tersinggung dan marah. Tak berguna itu. Tunjukkanlah prestasi terbaikmu. Dari sanalah penghargaan itu akan datang. Kain kita boleh lusuh tetapi harga diri kita mengkilat. Prestasi kita menjulang. Gampang? Tidak. Tetapi jika kita sungguh bekerja maka Tuhan akan berbelas kasih kepada kita.

Sesampainya di rumah, saya menghampir laptop dan menulis artikel ini. Di luar dugaan, anak saya yang sulung menghidupkan lagu dari mesin pemutar musik. Samar-samar terdengarlah sebuah. Lagu itu adalah lagu Bendera gubahan Eros (gitaris Sheila on 7) yang dinyanyikan oleh kelompok Band Coklat dengan vokalisnya Kikan yang memiliki suara khas. Lirik lagu yang terdengar berulang-ulang dan mengiringi artikel ini berbunyi demikian:

Merah Putih teruslah kau berkibar

di tiang tertinggi di Indonesiaku ini

Merah Putih teruslah kau berkibar

Aku akan selalu menjagamu

Sambil terus mengetik, diam-diam saya ikut berdendang di dalam hati lagu itu menurut versi saya sendiri:

Merah Putih teruslah kau berkibar

di pagar jalan El Tari meskipun engkau lusuh

Merah putih teruslah kau berkibar

Aku akan selalu menjagamu
Selamat HUT Indonesia. Merdeka. Tuhan Memberkati.

BERSAMBUNG.....


[1] Dosen Undana. Doktor dalam Bidang Ilmu Kehutanan