Tampilkan postingan dengan label Artikel Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Februari 2009

sebuah posting dari norman di penghujung bulan februari tentang....kita yang merusak

Dear Sahabat Blogger

Tanggal 28 hari ini. Hari terakhir di bulan Februari. Sebenarnya saya ingin menutup bulan ini dengan sebuah refleksi tentang ...what's going on with sorrow.....tapi tak apalah....Norman mengirim sebuah SMS, katanya......bapa, Norman ingin posting sebuah artikel.....sayapun mengalah....Lalu, Norman mengirim bahan postingnya lewat E-mail....ooohhhhh....masih tentang ilmu barunya....hutan dan kehutanan....tapi aaahhhhhh.....ada juga kecocokannya dengan gagasan saya.......what's going on with sorrow......

Dalam posting ini Norman ingin mengatakan bahwa kerusakan hutan, apapun alasanya, adalah kita pula yang menjadi prima causa-nya....itu pula inti gagasan saya pada posting yang tidak jadi itu. Dalam pikiran saya, berkat dan karunia Tuhan cukup dan bahkan berlimpah bagi siapa saja . Lalu, kitalah yang berpikir dan bertindak begitu rupa sehingga berkat dan karunia Tuhan itu menjadi sia-sia. Kita sengsara tetapi kitalah yang mengundang kesengsaraan itu. Bukankah hutan adalah karunia Tuhan? Bukankah hutan berguna bagi kita? ....dan....bukankah kita pula yang merusaknya? Heiiiii...bukan cuma hutan....bacalah berita hari-hari terakhir ini....kasus aborsi di Jakarta, badai video perkelahian antara pelajar, guru membanting murid, dan bahkan...wuuuuuiiiiiiihhhhh....masih banyak lagi......what's going on with sorrow.......

Sobat-sobat terkasih, bacalah artikel dari Norman. Masalah hutan dan kehutanan hanyalah contoh. Lalu, simpulkan sendiri esensi tulisan ini dan cobalah setiap kita bertanya pada diri kita sendiri .... what's going on with sorrow ...... Di bagian akhir posting ini saya menyertakan sebuah tembang lawas dari duo legendaris "Simon & Garfunkel", yaitu lagu "leaves that are green" yang esensinya mengatakan kepada kita....alam menyediakan bagi kita tetapi tangan kitalah yang menghancurkannya......Selamat membaca dan selamat menikmat musik indah. Tuhan Memberkati Anda sekalian.

Ibarat Telur atau ayam?? Sektor kehutanan atau Pertanian???

Di mana salahnya??


Bingung dengan judul diatas?? Itu sudah pasti.. Tapi dari judulnya pasti bapak/ibu/om/tante/ama/ina semua bisa mereka-reka apa yang ingin saya tulis. Yah..yah benar, saya ingin menulis sesuatu yang ada hubungannya dengan kehutanan dan pertanian di Indonesia. Tapiiiiiii… tentu saja, saya tidak ingin menyajikan tulisan ini seperti tulisan berita di Koran atau berita di televisi yang tiap hari anda dengar atau baca. Wah itu bukan saya banget tuh…. Jujur saja saya malah lebih senang membaca berita olahraga khususnya niat PSSI yang mengajukan proposal sebagai tuan rumah piala dunia. Ahhhh bagaikan “dream daylight hole” alias mimpi siang bolong (bahasa inggrisnya sudah betul gak yah??) atau berita gossip artis-artis Indonesia (sssstttt… si dewi persik itu beneran udah kawin??) Hihihi. Cukup ah saya ngebanyol… kali ini serius.. yang jelas saya mengalami sedikit kebingungan ketika kuliah di fakultas kehutanan karena ternyata alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dituding menjadi salah satu alasan deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia diantara berbagai-bagai masalah lainnya. Padahal menurut saya, kurang tepat seperti itu.. STOOOPPPP…. Sampai sini kira-kira Menarik tulisan saya ini?? Kalau menarik ayo lanjuuuutttt..


Seperti yang saya kemukakan tadi, saya cukup bingung, terkejut, terpana, “tanganga” (bengong) saat mengikuti satu mata kuliah di semester lalu. Kebingungan ini bermula pada mata kuliah tersebut, dosen saya dengan lantang menyebutkan alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian menjadi salah satu penyebab diantara berbagai masalah lain yang mengakibatkan laju deforestasi hutan semakin meningkat dari tahun ke tahun sehingga Indonesia saat ini merupakan Negara nomer 2 di dunia dengan laju deforestasi hutan tertinggi, setelah Negara ole ole ole ole ehhh Negara Brasil (lebih jelasnya lihat Tulisan saya terdahulu). Lho???? Hal ini bertentangan dengan apa yang saya pelajari ketika masih kuliah s1 di pertanian dimana saya diajarkan salah satu tantangan pertanian saat ini adalah lahan pertanian semakin menipis dari tahun ke tahun. Nah lho, kok sekarang dibilang pertanian yang dibilang sebagai salah satu penyebab?? Kehutanan bilang “Lahan pertanian mengambil sebagian lahan hutan” TAPIII dari pertanian bilang “Lahan untuk bertani semakin berkurang”. Padahal kalau kita ikut logika berpikir maka jelas seharusnya tidak ada keluhan mengenai kurangnya lahan pertanian kan??? Ah…. Ini bagai ibarat telur atau ayam yang lebih dahulu. Mau percaya mana, Pertanian atau Kehutanan ?? Hati nurani saya pada saat itu tidak membenarkan apa yang dikatakan dosen saya itu.. Tapi apa daya. Coba tuan puan pembaca semua bayangkan, kuliah jam 1 siang sambil menahan rasa kantuk, perut lapar karena belum makan sedari pagi. Kira-kira masih adakah tenaga sekedar untuk membantah apa yang dikatakan dosen tersebut?? Malah sudah untung apabila masih sanggup menahan kelopak mata ini untuk tidak tertutup. Nah, kurang lebih, saya waktu itu dalam keadaan seperti yang saya sebutkan tadi. Jadi terpaksa saya cuma bisa diam… diam… di ….. ia… zzzzzzzzzzzzzz (wah malah saya tertidur) Hehehehehe.


Sesampai di rumah, saya mencoba membuka buku materi perkuliahan tadi untuk menemukan jawaban pertanyaan saya tadi itu, oohhhhhh….. betapa terkejutnya saya ternyata pengarang buku tersebut pun mengatakan hal yang sama seperti dosen saya sebutkan tadi.. Ah, saya semakin terasa penasaran.. Hmm.. Sebenarnya hal yang saya alami ini cukup beralasan. Kalau tidak percaya, coba bapa/ibu/om/tante semua cari di google tentang bagaimana dari sector pertanian pun berteriak karena kurangnya lahan. Coba pula di baca Koran. Saya yakin hal ini pasti sama saja. Semakin bertambah bingunglah saya karena di satu sisi orang hutan ehhhh… orang kehutanan berkata bahwa alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian itu salah, akan tetapi orang pertanian malah mengatakan hal yang sebaliknya bahwa mereka pun kekurangan lahan pertanian. nah, berarti ada sesuatu yang salah disini.. kira-kira apa yah?? Saya harus menemukan jawabannya. Harus. Dan setelah melewati proses perenungan berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun masih juga belum ketemu jawabnya… akhirnya aku bertanya pada rumput yang bergoyang……. Eiittssss ……. saya tadi cuma sekedar mendramatisir suasana saja. Hihihihi.. Tapi sebelum lanjut, saya berikan data yang cukup kontras yah. Begini ceritanya ehh begini datanya.


1. Data Greenomics Indonesia tahun 2006-2008 menunjukkan di Provinsi Sumatera Utara, ada sekitar 40 kasus perambahan kawasan hutan untuk perkebunan dan budi daya pertanian lainnya yang mencapai luas 195.000 hektar. Selain itu, sedikitnya 143.000 hektar kawasan hutan lindung dan hutan konservasi di Provinsi Riau secara ilegal telah berubah fungsi menjadi areal perkebunan dan budi daya pertanian lahan kering. Sementara Provinsi Kalimantan Barat, sedikitnya 286.000 hektar hutan lindung telah berubah fungsi menjadi areal pertanian dan secara nasional, data Departemen Kehutanan tahun 2007 menunjukkan perubahan peruntukan hutan lindung dan hutan konservasi secara ilegal yang telah dijadikan areal perkebunan, pertambangan, lahan terbuka, semak belukar, dan budidaya pertanian lainnya mencapai angka 10 juta hektar.

2. Dari total luas lahan Indonesia, tidak terrnasuk Maluku dan Papua (tidak ada data),sekitar 64.783.523 ha lahan digunakan untuk pekarangan, tegalan/kebun/ladang/huma, padang rumput, lahan sementara tidak diusahakan, lahan untuk kayu-kayuan, perkebunan dan sawah (BPS, 2001). Data statistik lahan pertanian selama 15 tahun terakhir (BPS, 1986-2000) memperlihatkan bahwa perluasan lahan pertanian berkembang sangat lambat. Terutama lahan sawah sebagai penghasil utama pangan ; berkembang dari 7,77 juta ha pada tahun 1986 menjadi 8,52 juta ha pada tahun 1996, dan selanjutnya cenderung menyusut menjadi 7,79 juta ha pada tahun 2000.


Akhirnya saya menemukan jawabannya.. ternyata bukan alih fungsi hutan yang salah, bukan pula lahan pertanian yang salah. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut karena bagi saya yang salah adalah pembangunan.. nah lho?? Apa-apaan lagi nih?? Yah, saya berani berkata bahwa sebenarnya yang salah adalah pembangunan karena lahan hutan, lahan pertanian sudah dirubah menjadi “hutan” gedung-gedung yang menyebabkan semakin menipisnya ruang atau lahan untuk hutan dan pertanian. Laju konversi lahan pertanian tanaman pangan, termasuk sawah, yang terus melaju tanpa dapat dibendung. Menurut informasi Real Estat Indonesia (REI), selama tiga tahun terakhir, di Pulau Jawa, pembangunan perumahan telah menggusur seluas 4.891 hektar lahan, termasuk lahan pertanian pangan yang produktif. Belum lagi konversi lahan untuk industri dan pembangunan infrastruktur… eehhh maafkan saya…. sebenarnya lebih tepat bukan pembangunan tapi orang di balik pembangunan itulah yang bersalah menurut saya. Siapakah mereka?? PEMERINTAH. Sekali lagi, PEMERINTAH. Kok pemerintah??? Kenapa?? Tentu saja, ketika lahan hutan dialihfungsi menjadi lahan pertanian itu siapa yang memberi ijin?? Ketika hutan lindung yang seharusnya dikonservasi tapi dibuat menjadi hutan produksi itu siapa yang memberikan ijin?? Hasil-hasil pertanian itu untuk siapa? Masyarakat?? Ataukah hasil pertanian tersebut dijual kepada masyarakat lalu sebagian besar uang hasil penjualan tersebut masuk ke kantong-kantong para pejabat pemerintah yang taunya cuma tidur di ruang sidang, yang taunya jalan-jalan dengan alasan “dinas luar”, yang taunya terima uang suap supaya lolos suatu proyek besar.. hhhmmmmm….. bau kapitalisme terasa sekali disini.. padahal jelas-jelas di pancasila butir ke empat mengatakan “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia”… yah keadilan social.. berarti bukan hanya “adil” bagi penjabat saja kan?? Bukan pula hanya “adil” bagi pemerintah saja kan?? Seharusnya di buku-buku tertulis dengan jelas, bahwa pemerintah menjadi salah satu penyebab berkurangnya lahan hutan.. harusnya begitu. Tapi siapa yang berani???


Selain itu, masyarakyat kita sudah terbuai iklan “Bensin telah turun 3 kali (dan ada kemungkinan mau turun lagi), masyarakat miskin semakin berkurang, dll… Malah yang konyol ada Capres yang mengatakan telah berhasil swasembada beras. Swasembada beras tapi dari lahan hutan yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian. Sukses di bidang pertanian tapi hutan menjadi rusak. Jadi itu lebih tepat dikatakan sukses atau tidak yah?? Aya aya wae.. ada-ada saja.. Rakyat kita telah terbuai hal tersebut. Saya tidak mengatakan hal yang diiklankan itu salah. Saya tidak mengatakan demkian. Saya tidak cukup kompatibel untuk membantah atau mengiyakan. Bisa saja benar atau bahkan bisa salah juga kan?? Akan tetapi, Saya mengatakan bahwa rakyat kita terbuai dengan hal tersebut sehingga melupakan apa yang menyebabkan tiap hujan selalu banjir, tiap musim kemarau kekeringan dimana-mana, siklus cuaca dan iklim yang semakin tidak dapat diprediksi, berita-berita di televise selalu menayangkan bencana banjir dimana-mana yang lucunya berita-berita bencana tersebut bersading dengan iklan “keberhasilan” pemerintah tadi. HiHiHi… Kita sering latah atau dengan gampangnya kita mengatakan ini efek global warming. Tapi kita kembali ke pertanyaan, apa yang menyebabkan global warming terjadi?? Jawabnya lingkungan atau alam yang rusak, dimana salah satunya adalah hutan yang seharusnya menjadi filter atau penyaring atau bahkan penyangga rusak. Hutan yang rusak itu kenapa?? Salah satu alasan adalah alih fungsi hutan menjadi pertanian. kenapa di alih fungsi????? Kenapa dan kenapa. Saya sengaja banyak bertanya dalam tulisan ini supaya pembaca semua dapat menjawab merenungkan apa yang saya tanyakan tadi. Kira-kira ada yang bisa membantu saya memberikan jawaban lain??


Click judul lagu di bawah ini


Tabe Tuan Tabe Puan

Rabu, 28 Januari 2009

yang berubah pada iklim global adalah perubahan itu sendiri

Dear sahabat blogger,

Sekedar mengingatkan sahabat blogger nan bijak bestari bahwa saya pernah memposting artikel berjudul "http://www.Per.uB-@h.an. COM//: mAukah anda BERUBAH?" Masihkah diingat? I'm hope so.....Ketika itu saya mengutip sebuah paradigma filsafat tentang perubahan, yaitu "satu-satunya yang tidak berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri". Sampai akhir masa edar tulisan itu, semua komentar yang masuk tak satupun yang menolak paradigma itu. Paling banter mempertanyakan apa itu perubahan. Singkat kata, perubahan adalah realitas yang tak tertolakan. Dia ada dan kita harus menghadapinya. Sekali kita lengah maka kita akan ditelan monster dahsyat yang bernama PERUBAHAN. Saya cukupkan pendahuluan ini. Selanjutnya, saya ingin mengajak para sahabat untuk masuk ke sequenze berikutnya.

Minggu kemarin, saya diundang untuk menyampaikan makalah dalam sebuah seminar tentang kesiagaan bencana. Topik yang diminta untuk dibahas adalah perubahan iklim (climate change). Oh, saya dengan suka cita membahasnya karena memang ada satu dan dua dikit pengetahuan dalam perkara itu. Dan sudah barang tentu.....honornya bung en sus......honor........bisa untuk menyambung hidup sebulan penuh. Maklum PNS. Penghasilan Nggak cukup Sebulan ......ha ha ha ha ha ha.......Audiens acara itu adalah LSM-LSM se daratan Timor yang perduli bencana, institusi pemerintah, pers dan tokoh masayarakat. Lengkap. Tak lebih tak kurang. Sambil menunggu giliran berbicara, saya mengikuti secara saksama niveau yang berkembang dalam sesi-sesi sebelumnya......

heiiii.....ada pemanasan global......
ada gas rumah kaca......
apakah itu karena rumah yang banyak kacanya? (hi hi hi hi....yang bertanya nggak mengerti tuh......)
ya, rumah kita sekarang sudah terlalu banyak kacanya.......dinding kayu diganti kaca.....atap daun diganti seng (ha ha ha ha yang menjawab juga enggak kalah sontoloyonya....)
ada lubang ozon......
Kekeringan....
Banjir.....
CO2 jadi gara-gara semua itu.......
STOP PEMANASAN GLOBAL......
caranya....... tanam pohon sebanyak-banyaknya biar bisa menyerap CO2......bikin pulau Timor hutan semuanya.....
Bisa berhasil dengan hutan: PASTI....
NTT ....Nanti Tuhan Tolong......
waaaaaaallllaaaaaaahhhhhhh........

Sampailah giliran saya. Dan ini yang saya katakan.

Dahulu kala, sekitar 600 juta tahun yang lalu, bumi kita atau planet terkasih ini terdiri atas dua benua (continent) besar, yaitu Laurasia di utara dan Goodwanaland di selatan. Lalu, sekitar 300 - 250 juta tahun terjadi perubahan yang dramatik. Dua benua tadi bergabung membentuk 1 daratan besar yang disebut pangaea. Benua tungal ini dikelilingi oleh samudera luas yang disebut panthalassa. Pada sekitar 100 juta tahun lampau (engkong situ udah ade belon ya????? he he he), benua besar yang satu itu kembali berubah menjadi benua-benua yang terpisah seperti sekarang, yaitu Afrika, Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Antartika. Peristiwa ini disebut sebagai pergerakan benua. Dalam bahasa dou Gree (Inggris dalam bahasa Sabu) dikenal sebagai continental drift theory. Apa hubungannya dengan pemanasan global? Penghanyutan benua menyebabkan adanya kolom udara yang mengalami pemanasan. Hal ini mendorong terjadinya proses adiabatik. Lalu, kolom udara dengan proses adiabatiknya itu melepaskan panas perlahan-lahan ke lingkungannya. Gampangnya begini, karena benua bergerak maka udara menjadi lebih panas. Jadilah pemanasan global. Berapa suhu atmosfer selama proses ini terjadi? Nih saya kasi tau: 30-50 oC atau 5-9 oC lebih tinggi dari suhu bumi sekarang. Selesai? belum. Gerakan permukaan bumi bukan cuma itu. Entah masuk angin entah kena apa tapi bumi juga sering batuk-batuk. Erupsi. Peristiwa vulkanik itu menyebabkan peningkatan aerosol di udara dan menyebabkan suhu meningkat antara 3-4 oC.

Apakah proses penghanyutan benua sudah terhenti sekarang? Apakah bengeknya dan batuknya bumi sudah tiada? No Sir. No Sor (No madame maksudnya hi hi hi ). Proses-proses itu sedang dan akan terus terjadi. So? ya soook atuuuuhhhh.....ha ha ha ha..... Dan saya terus mendongeng di ruang seminar itu. Yang ber AC dan berhonor itu hi hi hi.....

Pemanasan global terjadi bukan dalam skenario di atas itu saja (geological theory). Bumi yang makin panas juga bisa terjadi karena situasi astronomi - astronomical theory - (ingat lho ya buka astrologinya mama Lauren). Pertama, ada seorang ahli berkebangsaan Serbia bernama Milancovitch yang mengemukakan teori tentang Daur Milancovitch. Mister Milan (yang bukan Inter Milan atau AC Milan itu) mengatakan bahwa bumi kita akan mengalami perubahan orbit setiap 105.000 tahun. Sudut bumi akan berubah dari 23,5 derajat yang berbentuk elips menjadi 21,1 derajat yang berbentuk lingkaran. Pada saat berbentuk lingkaran, suhu bumi akan meningkat 20-30% lebih tinggi dibandingkan ketika berbentuk elips. Dengan cara ini terjadilah pemanasan global. Kedua, pemanasan suhu global menurut teori astronomi juga dapat terjadi karena adanya noda di matahari (sunspot theory). Entah si matahari selingkuh atau apa sehingga terjadi noda tak berampun itu ha ha ha ha. Makin banyak noda di matahari (sunspot) suhu makin rendah. Peningkatan jumlah noda akan terjadi setiap 11, 22 dan 80 tahun. Jadi, naik turunnya suhu bumi linear dengan siklus ini.......Wuuuuuiiiiuuuhhhh......diam-diam saya mengamati wajah peserta......mereka tampak terpana......diam seribu ongkos. Merasa mendapat angin segar, saya meneruskan aksi pidato saya.

Skenario terakhir penyebab pemanasan global adalah emisi karbondioksida. Disebut juga sebagai teori karbondioksida. Inilah skenario yang paling dikenal oleh publik. Mantan Vice President USA, Al Gore, merupakan salah satu pendekar terdepan dari teori ini. Karbondioskida atau CO2 dari BBM fosil, pabrik, pembukaan lahan pertanian, deforestasi de el el, adalah penyebab. CO2 dan gas-gas yang bersifat antropogenik itu menyebabkan peningkatakan jumlah komponen gas rumah kaca, yaitu gas yang berfungsi layaknya kaca di glass house. Meloloskan radiasi gelombang pendek yang masuk ke bumi dan menahan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh permukaan bumi yang seharusnya meninggalkan permukaan. Radiasi gelombang panjang ini yang kita rasakan sebagai panas. Karena manusia makin aktif menghamburkan CO2 dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfir maka makin banyak pula panas yang terperangkap di situ. So what git loh???? Panaslah atmosfir kita. Secara global. Dibandingkan masa pra industri, suhu bumi meningkat hampir mencapai 4 oC di atas suhu rerata bumi. Kenaikan sebesar itu disinyalir sudah mendekati besarnya peningkatan suhu yang terjadi ketika terakhir kali es di kutub mencair, yaitu sekitar 18.000 tahun yang lalu (engkong gw belon lahir tuh). Dewasa ini, es di kutub terdeteksi mulai mencair, permukan laut naik (kata Glenn Fredly - Ambon akan tenggelam), el Nino dan la Nina silih berganti, kekeringan, banjir en so on, so on, en on, en on yang merupakan bukti signifikan terjadinya pemanasan global dalam skenario karbondioksida. Teori ini top markotop. Disetujui banyak orang. Dan Al Gore mendapat reward: Nobel Prize. Videonya diganjar hadiah oscar....woooowww.....

Lalu, mana teori yang benar? Sejujurnya penyebab pemanasan global masih ramai diperdebatkan. Ada Al Gore dkk. (2006, An Inconvenient Truth: the Planetary Emergency of Global Warming and What We Can Do about It - Rodale, New York) di satu pihak dan ahli seperti Sorokhin (2007, Global Warming and Global Cooling : Evolution of Climate on Earth - Elsevier Amsterdam), di lain pihak. Bagi Al Gore dan kawan-kawan peyebab pemanasan global bersifat man-made (antropogenic). Oleh karena itu pemanasan gobal dapat dicegah. Bagi Sorokhin dan kawan-kawan, terutama kelompok geologist, pemanasan global bersifat alami (natural). Global warming tak bisa dicegah. Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Pasrah dan menerima nasib. Bagi Al Gore dkk. mengurangi emisi gas rumah kaca merupakan jalan keluar. Bagi Sorokhin dkk. reduksi emisis gas rumah kaca BUKAN SATU-SATUNYA jalan. Dalam ternag teori CO2, menanam pohon guna mereduksi CO2 adalah obat manjur. Sebaliknya, jika mengikuti logika teori natural maka apakah anda menanam pohon atau tidak, global warming pasti akan terjadi. Kehidupan akan tersapu habis dilandanya. Kiamat (bukan Ki Amat). Dan....heeiiii, saya melihat....sepintas......di mata peserta seminar ada terkilat cahaya ketakutan....

Sekarang saatnya saya berpendapat, menurut hemat saya, diluar perdebatan tentang penyebabnya, ada satu hal yang telah disepakati, yaitu pemanasan global adalah realitas. Mempercakapkan penyebabnya adalah sah-sah saja. Menduga-duga penyebab dan solusinya benar semata-mata. Tetapi sejarah bumi mengajarkan bahwa berpegang kepada 1 jawaban solusi adalah bukan jawaban. Menuding CO2 sebagai satu-satunya biang kerok pemanasan global adalah simplifikasi permasalahan yang berbahaya. Anda mengira penyebab mobil anda mogok karena ban kempes. Mungkin benar mungkin pula tidak. Nyatanya ada penyebab lain. Bensin habis misalnya. Simplifikasi masalah akan menuntun pada solusi yang bersifat in-complete. Kurang komprehensif. Di lain pihak, tagal ada teori lain bahwa penyebab pemanasan global bukan cuma CO2, lalu menertawakan usaha orang adalah juga naif. Bukan cara yang baik mengatasi masalah. Menertawakan usaha orang lain menambal ban sementara anda sendiri, sebagai penumpang mobil mogok yang sama, hanya diam berpangku tangan adalah sikap konyol dan tak bertanggung jawab.

Ada satu cara untuk memahami persoalan dengan baik, yaitu semua yang terjadi adalah konskuensi hidup. Apa itu? PERUBAHAN. Siapa bisa menahan perubahan? Sejarah bumi mengajarkan bahwa global warming adalah perubahan. Bumi pernah hanya terdiri atas satu daratan besar. Pangaea. Sekarang berpencaran membentuk 6 benua dan anak-anak benua. Es Kutub pernah mencair sesudah itu kembali membeku. Jika sekarang mencair kembali, itulah perubahan. Tidak mungkin mencegah perubahan. "Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri". Cukupkah sikap ini? Tidak. Kita tidak bisa berhenti hanya dengan memandang perubahan dengan ternganga. Tidak boleh hanya menakut-nakuti orang tentang dampak Global Warming yang tak bisa bisa dicegah itu. Tunggu kiamat. Terima nasib. Tidak bisa begitu. Harap diingat, semua perubahan iklim global di masa lampau, sampai ketika es mencair 18.000 tahun lalu, terjadi pada situasi tanpa peradaban manusia. Belum ada peradaban manusia yang dilanda habis. Tsunami Aceh 2004 saja sudah menggetarkan hati apalagi bencana global dengan miliaran nyawa sebagai pertaruhannya. Tidakkah tergetar hati anda? Perdulilah Bung. Perdulilah Sus. Apa? What? PERDULI. Jangan abai tentang bahaya besar ini.

Kita bisa mulai dengan aforisme ini: if we can not fight it, let adapt to it. Semua makhluk hidup akan melakukan 3 taktik biologi berikut ini jika terjadi cekaman, yaitu avoidance (menghindar), ameliorate (mengubah) dan adapt (menyesuaikan). Menghindarlah ketika masih mungkin. Ubahlah sikap dan cara hidup anda jka tak mungkin menghindar. Dan, berdamailah dengan semua yang terjadi. Lakukanlah semua itu. Mulai dari diri sendiri. Dari rumah sendiri. Lalu keluarlah dari rumah. Ajaklah semua orang untuk beramai-ramai perduli akan perubahan. Ya betul, hadapilah perubahan apapun resikonya. secara bersama-sama. Karena bumi ini milik kita bersama. Dahulu saya lengkap memiliki Ayahanda, Ibunda, dan 10 orang bersaudara. Sekarang saya yatim piatu. Saudara berpencaran. Menghindari situasi ini? Tidak mungkin. Yang perlu saya lakukan adalah mengubah kebiasaan agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Hiduplah berdamai dengan perubahan supaya jangan tersapu habis oleh perubahan. That's all my friends.

Bagi sahabat yang pengen ngeliat bukti nyata telah terjadinya proses pemanasan global, saya persilakan melihat secara saksama gambar berikut ini. Dan akhirnya, saudara-saudara ku terkasih......ini dadaku......mana dadamu......ini seminarmu......mana honorku .......ha ha ha ha.....

Tabe Tuan Tabe Puan
Bagi sahabat yang ingin menikmati lagu tentang indahnya dunia karunia Tuhan ini jika bisa kita rawat sebaik-baiknya maka silakan click judul lagu dari Louis Armstrong di bawah ini

Selasa, 09 Desember 2008

lingkungan yang lestari = menanam pohon?

Dear Sahabat Blogger,
Bulan Desember telah ditetapkan pemerintah sebagai bulan menanam nasional.

Apa yang ditanam?
Pohon...
Mengapa pohon?
Ya karena yang punya gagasan adalah Departemen Kehutanan.
Gagasan apa?
Memperbaiki kualitas lingkungan.
Apakah dengan menaman pohon, lingkungan hidup akan lebih baik?
NTT...... Ndak Tentu Terbukti.....
Lho kok? Iki doktor kehutanan kok ngomong begitu?
Yo, ben. Iki lambe ku dhewe kok.....Sak karepku ngomong....
Lho kok gitu?
Ahhhhhhh, kalau mendesak, biar asisten saya,.... eh ...sori kleru.....mahasiswa saya...eh...kleru meneh....adik saya, DTN alias Uli membuat penjelasan.
Lha kok enak? lalu sampeyan mau kemana? Lari dari tanggungjawab?

Ora....ora......aku yang tanggung, dia sing njawab-ke....
......ha ha ha ha ha ha ha ha.......

husssshhhh......
iya .....iya..........

Keadaan Lingkungan

Dulu, Indonesia dikenal sebagai sebuah negeri yang subur. Negeri kepulauan yang membentang di sepanjang garis katulistiwa yang ditamsilkan ibarat untaian zamrud berkilauan sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur. Tanaman apa saja bisa tumbuh di sana. Bahkan, tongkat dan kayu pun, menurut versi Koes Plus, bisa tumbuh jadi tanaman yang subur.


Namun, seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi. Sementara itu, pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, penebangan liar, bahkan juga illegal loging (nyaris) tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironisnya, para elite negeri ini seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat.


Mengapa bencana demi bencana terus terjadi? Bukankah negeri ini sudah memiliki perangkat hukum yang jelas mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup? Bukankah Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional telah membangun kesepakatan bersama tentang pendidikan lingkungan hidup? Namun, mengapa korban-korban masih terus berjatuhan akibat rusaknya lingkungan yang sudah berada pada titik nadir? Siapa yang mesti bertanggung jawab ketika bumi ini tidak lagi bersikap ramah terhadap penghuninya? Siapa yang harus disalahkan ketika bencana dan musibah datang beruntun menelan korban orang-orang tak berdosa?


Saat ini agaknya (nyaris) tidak ada lagi tanah di Indonesia yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat. Mulai pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Di pelosok-pelosok dusun, berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya. Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.


Degradasi berbagai sumberdaya, pemanasan global dan konflik global telah mengakibatkan goncangan pada lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup merupakan dan aaahhh menjadi masalah yang mlti sumber, multi pnyebab dan multi dampak. Kita dapat sebutkan beberapa yang sangat krusial, yaitu permasalahan sampah domestik dan perkotaan, limbah industri, menurunnya kualitas ekosistem, pencemaran di perairan dan terestrial, perang, pemanasan global dan isu perubahan iklim global dan ha ha ha akibat serangan teroris turut mngganggu lingkungan hidup. Namun persoalan yang yang sangat substansional sebenarnya adalah kenyataan bahwa betapa rendahnya kesadaran perilaku dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.


Satu hal yang sangat mengganjal dan menjadi hal yang memunculkan keheranan sekaligus keprihatinan saya, dan saya kira hal ini juga ada di otak kepala kita semua adalah bagaimana mengatasi atau menjawab masalah-masalah lingkungan hidup yang ada? Seperti hal di atas, ketika hukum dan undang-undang telah dibuat, konferensi tingkat tinggi sudah dilakukan, berbagai kebijakan telah dicanangkan, tetapi masalah lingkungan terus saja berlangsung dengan skala yang makin meningkat hingga sekarang. Sebagaimana contoh kasus sebuah kegiatan yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Kota Kupang untuk menghijaukan lingkungan dengan MANGGARISASI kota kupang. COCOK???? Ha ha ha kata Walikota kupang sih cocok, tetapi buat saya .......eitsss …. nanti dulu. Pak walikota apa dalam melakukan program ini sudah menggunakan analisis yang holistik dan komprehensif tentang lingkungan hidup????? Kalau menurut saya, beliau mimpinya malam tentang mangga, besoknya langsung suruh warganya tanam mangga. Pertanyaan singkat oleh beberapa orang yang saya temui menanyakan, apakah mangga cocok dengan kondisi lingkungan alam di kota kupang?? Pertanyaan seterusnya apa nanti kalau semua mangga berbuah semua orang kupang berjualan mangga atau hanya makan mangga saja??? Bagaimana kalau pohon mangga itu terserang penyakit, apakah pemerintah kota menyiapkan dana untuk pemeliharaan dan perawatan??? Ahhh masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang saya temui. Untuk semua itu oleh pemerintah kota harus menjawabnya secara holistik dan komprehensif.


Untuk persoalan menanam saya sangat setuju, tetapi tentang jenis pohon serta pola dan cara serta dalam sosialisasi untuk meminta masyarakat untuk menanam perlu ditinjau kembali. Mari sekarang kita kembali ke LAPTOP, melihat dan menyadari betapa kompleksnya masalah lingkungan, maka usaha apapun untuk mengatasinya tidak akan pernah berhasil hanya dengan semata-mata mengandalkan pada satu disiplin ilmu, satu paradigma berpikir atau satu aspek saja apalagi hanya mengandalkan “mimpi” semalam saja ( ha ha ha ha), melainkan haruslah merupakan sebuah upaya holistk dan komprehensif antar disiplin terkait dan antar sektor (interdisciplinary effort). Lantas semesta pengetahuan yang seperti apa yang perlu ditawarkan atau tersedia dalam ilmu lingkungan?


Dalam benak saya ilmu lingkungan adalah suatu ilmu yang lintas displin, yang membahas tentang interaksi sangat kompleks yang terjadi antar ekosistem darat, air, udara dan kehidupan hayati dan manusia sebagai elemen penting yang ada di dalamnya. Menurut saya ilmu lingkungan mencakup aspek ekonomi,sosbud, agama, politik, hukum, sains dan teknologi, pembangunan, manajemen, komuniksi, ekologi dll. Di dalamnya tidak ada hirarki disiplin ilmu apa yang utama, setiap memiliki kedudukan yang sama sebab ada keterkaitan (interrelatedness) dan ketersalinghubungan (interconetedness) antar disipin tersebut yang menggambarkan bahwa itulah yang sesungguhnya yang terjadi di alam atau di lingkungan hidup. Langkah ini serius dan akan berhasil di dalam menjawab problem-problem lingkungan yang ada.


Saya khawatir dan seperti apa yang pernah di sampaikan oleh Doktor Michael Riwu kaho (sebagai dosen saya), bahwa krisis lingkungan akan menjadi krisis PERADABAN. Karena itu, satu kata kunci jawabannya adalah melakukan pendekatan holistik dan bukannya pendekatan parsial. Harapannya adalah dengan penerapan ilmu lingkungan diharapkan akan membantu tumbuhnya masyarakat yang sadar lingkungan hidup, masyarakat yang menemukan jati diri sebagai ecoself dimana kehidupan kita sangat bergantung dari lingkungan air, udara, tanah, bumi, tumbuhan dan fauna serta semesta. Jadikan wawasan dan pengetahuan mendasar tentang ekologi sebagai Ecoliteracy.


Mulai saat ini dan kedepan peranan ilmu lingkungan (sudah pasti beserta seluruh pihak pemerintah, akademisi dan masyarakat) di Indonesia idealnya bisa membawa peradaban bangsa saat ini dari hanya semata-mata berorientasi pada peradaban industri tetapi yang lebih penting adalah kepada peradaban ekologis. Dengan demikian setiap manusia akan terbentuk keadaran secara mandiri untuk menjaga lingkungannya untuk keterlangsungan dan keberlajutan alam ini.


-- "" --

nuwun sewu mas......udah ngerti? ....
ndak tuh.....tulisannya agak ngawur....hi hi hi hi hi hi hi hi
hussssssshhhhhhhh......
iya....iyaaaaaa.....

Minggu, 12 Oktober 2008

Hutan-KU. Hutan-MU. HUTAN KITA. Omong-omong, apa Indonesia masih punya Hutan? (SelAMat HUT 24 NORMAN)

Dear sahabat blogger,

Hari ini saya ingin menyuguhkan menu (posting) berupa sebuah artikel yang dikirim oleh Norman dari Jogakarta. Ya, anda betul dialah si penerus DNA saya yang saat ini sedang belajar tentang la condition humaine di UGM Jogjakarta. Universitas yang juga telah menghasilkan alumni dari DNA yang sama dengan Norman, yaitu SGT almarhum dan saya. Posting ini saya lakukan karena tepat hari ini, Norman bertemu dengan HUT-nya yang ke 24. Menurut salah seorang Pak Lik-nya, Vecky RK alias Wilmana, usia yang sudah mendakati 1/4 abad. Maka tanpa editing yang neko-neko, inilah Norman dan hutan-nya. Silakan dikritisi karena kemungkinan isinya cuma 1/2 benar he he he he he. Talk-talk apakah forest di Indonesia masih ada? Ya, begitulah. Masa' begitu-dong?

HUTAN INDONESIA
DIANTARA HPH, UUD’45 PASAL 33 ATAUKAH MORALITAS?? (serta masalah-masalah lainnya)

Hmmmm..... dari judul di atas pasti langsung terbaca apa yang ingin saya sajikan. Betul, saya ingin berbicara mengenai hutan di Indonesia. Pertama-pertama, tentu sebagai orang beriman kita patut mengucap syukur ke hadirat.... eh maksud saya adalah pertama-tama tentu saya harus bilang kenapa saya mengangkat topik ini, setelah sebelumnya saya berbicara mengenai pertanian dan global warming. Tapi sebelum saya menjawab pertanyaan tadi, coba berapa di antara anda, yang secara jujur, menganggap hutan itu penting? Hmmm.. masih belum ada yang menjawab yah? Begini saja, yang menganggap hutan itu penting segera acungkan tangan ke atas.. Ayo... anak-anak... He..he. maksud saya apakah di antara kanjeng mas-mas atau mbak-mbak pembaca blog ini ada yang berpikiran sama seperti pemerintah kita yang “tak mau peduli” dengan kondisi hutan kita dan hanya melihat hutan itu sebagai “tambang hijau” penghasil uang. Sedih sekali.

Lho, dari tadi saya ngomong ngalor ngidul tapi belum memberikan alasan why topik ini dirasa penting. Begini, hutan itu punya arti penting (yah iyalah). Banyak sekali nanti selanjutnya baru akan saya jabarkan tapi pada intinya hutan itu penting. Please, tanamkan itu di pikiran anda sekalian maka kita akan selangkah lebih maju dibanding dengan pemerintah kita. Oleh karena sedemikian pentingnya sehingga hutan menjadi salah satu tertuduh ketika terjadi pemanasan global di bumi ini. Hmm... bagaimana menarikkah topik ini? Ataukah topik ini menjadi basi karena sudah sering sekali didengar? Eitssss... jangan dijawab dulu yah.. mari kita lanjut baca tulisan saya “Seri Selamat” jilid ketiga (saya mencontek apa yang dilakukan penulis idola saya Pendeta Andar Ismail dengan buku Seri Selamat jadi tulisan saya ini juga tentang Seri Selamat-Kan Hutan) Yuukkkk.......

Hutan di Indonesia identik dengan pola pengelolaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Pola ini sudah berlangsung sejak lama. Kalau saya tidak salah, pola HPH ini sudah berlangsung sejak tahun 1968 atau 40 tahun tahun yang lalu. Awiiiii.... jauh lebih tua dari umur saya sendiri. Tapi apakah pola ini berhasil jika kita melihat dari sisi seberapa banyak keuntungan yang disumbangkan pola HPH ini dan kondisi terkini hutan kita di lapangan. Sebagai info saja, hutan di Indonesia (merupakan tipe hutan tropis) dalam angka Statistik yang dikeluarkan FAO (2006) dimana laju deforestasi dari tahun 2000 hingga 2005 mencapai 1.8 juta hektar per tahun. Jumlah ini malah lebih sedikit dari jumlah yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan yaitu sebesar 2.8 juta hektar per tahun. Hal ini setara dengan US$4 miliar atau 40 triliun rupiah per tahun. Sekarang anda tinggal pilih mau saya sampaikan berita baik atau berita buruk duluan terkait data ini?? Oke, saya kasih berita baiknya dulu bahwa Untungnya….. Huffff (saya menarik nafas lega karena ada kata untungnya) Kita masih di urutan 2 di bawah Brazil dengan jumlah 3.1 juta hektar hutan hilang tiap tahunnya. Trus berita buruknya??? Namun demikian, luas hutan kita jauh lebih kecil dari Brazil. Sehingga laju penghancuran hutan kita jauh di atas Brazil yaitu 2% untuk kita dan 0.6% buat Brazil. and the result is kitalah yang tercepat untuk urusan rusak-merusak hutan. Olee… Oleee. Hidup Indonesia. Upssss…. Jujur saya dulu selalu berpikir bahwa masalah kehutanan hanya berkutat dengan masalah kebakaran hutan, illegal logging (pembalakan liar), dsb seperti yang saya sering baca di Koran. Ternyata belum berhenti disitu saja “nasib buruk” hutan Indonesia, ternyata ada lagi “kejahatan terselubung” yang sedihnya dilakukan pemerintah kita. saya berani bilang “kejahatan terselubung” karena sudah banyak sekali contoh. Neh, saya kasih sebagian “jab-jab ringan” (eman, 2008). Maksudnya saya kutip istilah jab-jab ringan ini dari komentar @eman dalam posting sebelum tulisan ini. Om eman beta pinjam ini istilah do eee. Hi..hi. HPH (Hak Pengusahaan Hutan) ini merupakan bentuk kerjasama pemerintah dengan pengusaha yang akan menggunakan hutan sebagai “lahan pekerjaan” mereka. Oleh karena itu, lahan hutan yang telah disepakati boleh dikonversi menjadi lahan hutan produksi. Nah, sampai disini semua kayaknya normal-normal saja, gak ada yang salah tuh. Ah ini bisa-bisanya Norman aja nih. Eittssss, Nanti dulu.

Dari konversi hutan diketahui, 15,9 juta hektar hutan alam tropis dibabat. Konversi hutan yang ditujukan untuk pembangunan kelapa sawit merupakan salah satu faktor peningkatan deforetasi di Indonesia. Sejak menjadi primadona, hutan seluas 15,9 juta hektar hutan alam tropis dibabat. Berbanding terbalik dengan luas lahan, konsesi yang telah ditanami justru tidak mengalami peningkatan berarti. Dari 3,17 juta ha pada tahun 2000, hanya mengalami peningkatan menjadi 5.5 jt ha pada tahun 2004. Lebih dari 10 juta hektar hutan ditinggalkan begitu saja setelah hasilnya “dipanen”. Tak jauh berbeda, persoalan lain muncul dari industri pulp dan paper. Industri ini membutuhkan setidaknya 27,71 juta meter kubik kayu setiap tahunnya (Departemen Kehutanan, 2006). Dengan kondisi Hutan Tanaman Industri untuk pulp yang hanya mampu menyuplai 29,9 persen dari total kebutuhannya, industri ini akan meneruskan aktivitas pembalakan di atas hutan alam dengan kebutuhan per tahun mencapai 21,8 juta meter kubik. Kayu ini diperoleh dari hutan alam milik afiliasinya maupun dari konsesi mitranya. Belum termasuk plywood dan industri pertukangan lainnya yang kemampuan HTI nya hanya mampu menyuplai 25 persen. Deskripsi di atas bertutur tentang dampak negatif kejahatan kehutanan di Indonesia. Jika dikalkuasi, akibat kejahatan kehutanan, seperti pembalakan liar, konversi hutan alam, dan sebagainya, Indonesia menderita kerugian ekonomis sebesar 200 triliun rupiah. Kerugian ini tak mencakup bencana ekologis yang ditimbulkan oleh kegiatan pembalakan liar, seperti banjir dan longsor yang kerap terjadi di pelbagai sudut Nusantara. Oleh karena kondisi ini maka diramalkan bahwa hutan dataran rendah non rawa akan hilang di Sumatera pada tahun 2010 dan jangan lupa bahwa 3 (tiga) daerah yang diramalkan akan terjadi penggurunan di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan yaitu : (1) Sulawesi Tengah, (2) NTB dan………….. yang………… ketiga………. adalah NTT atau kurang puas Provinsi Nusa Tenggara Timur biar ko mata tabuka lebar. Coba bayangkan NTT yang kalau musim kemarau sa su macam ke “gurun” apalai kalau betul-betul terjadi penggurunan?? (coba tutup mata anda dan saya berikan waktu 1 menit untuk membayangkan…….. Aduh beta suruh membayangkan bukan ko tutup mata terus tidur He..He)

Apakah cukup “jab-jab” ringan tadi??? Nih saya kasih “hook dan uppercut”. Presiden SBY baru –baru ini menandatangani PP No 2 Tahun 2008 yang memperkenankan penyewaan hutan lindung untuk berbagai kegiatan. Gila benar, hutan kita yang sudah rusak parah, kok hutan yang masih tersisa masih juga akan digadaikan? Apakah bencana ekologis yang terjadi susul menyusul belum juga akan menyadarkan kita semua? Termasuk Presiden yang nota bene dikelilingi para pakar (dan “dibisiki” kiri kanan) Haruskan hutan kita yang tinggal se-ucrit akan tetap dihancurkan? Haruskah anak cucu kita kelak hidup di negeri bencana? Parahnya lagi sewa hutannya juga sangat murah hanya Rp 300 per meter. Saya ulangi lagi, HANYA Rp. 300 PER METER. Wah jaman ayah saya masih bersekolah dasar mungkin Rp 300 itu sudah mewah nah kalau sekarang???? Beli permen sebiji pun gak cukup dengan uang segitu. Walah kita tinggal di negeri apa yah, kok yah hari gini yang udah porak poranda akibat bencana masih juga belum sadar-sadar juga. Hanya Gubernur Kalimantan Selatan dan Gubernur Kalimantan tengah dan sejumlah bupati di wilayah itu pada waktu itu yang menyatakan menolak pelaksanaan PP itu. Alasannya jelas, membiarkan hutan dirusak berarti bencana yang akan datang dan dampak itu akan langsung dirasakan oleh orang di daerah, bukan Presiden yang mengeluarkan kebijakan. Ada perkembangan baru nih, setelah rame-rame ribut dan ada penolakan dari berbagai pihak termasuk adanya pengumpulan 5000 tanda tangan dalam upaya menggugat keputusan itu, SBY mengklarifikasi, katanya PP itu ditujukkan untuk 13 perusahaan yang telah terlanjur memiliki hak kelola dikawasan Hutan Lindung, pasca keluarnya Kepres 41 tahun 2004. SBY bersikukuh kalau dia hanya meneruskan Kepres yang dikeluarkan zaman Megawati itu. Namun persoalannya di PP 2 Tahun 2008 itu sendiri sama sekali tidak disebutkan kalau PP itu hanya dibatasi untuk 13 perusahaan. Klarifikasi yang disampaikan lisan, mana mungkin mengikat?

Makanya seharusnya Presiden harus segera melakukan revisi, jangan hanya ngomong saja, tapi naskah tertulisnya masih bersifat terbuka. jangan biarkan timbul wilayah abu-abu yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang memang menginginkan adanya wilayah abu-abu itu.Nah.. Itu baru “hook” dan “uppercut”, nih saya kasih pukulan “seribu bayangan” untuk menutup “pertarungan” ini, setelah diselediki oleh Walhi ternyata dalam kenyataan di lapangan, hutan kita telah “diperkosa” tidak hanya 13 perusahaan yang nota bene memiliki ijin resmi tadi tapi LEBIH DARI 128 PERUSAHAAN yang datang tak dijemput pulang tak diantar (he..He), entah datang darimana surat ijinnya (darimana o??) ikut-ikutan memporak-porandakan hutan kita. Aduh.. ternyata nasib hutan Indonesia bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga plus-plus (plus diinjak, plus diludahi, plus dimaki-maki, dan plus lainnya Hi..Hi). Selain itu, ternyata hutan sudah disadari banyak pihak sebagai “tambang hijau” oleh karena itu, banyak pihak kemudian “memanfaatkannya”. Seakan-akan jika kita berbicara hutan, ini sudah menjadi wilayah abu-abu bagi banyak pihak. Saya berikan contoh kecil apa yang mendasari sehingga saya ngomong seperti ini..Pada Operasi anti pembalakan liar di Propinsi Papua (Maret 2005) gagal menjerat para cukong kelas kakap dan para pelindungnya di kepolisian dan militer. Dari operasi ini, berhasil ditangkap 186 tersangka. Tetapi, hingga Januari 2007, hanya 13 tersangka yang berhasil diamankan dan tak seorang pun pimpinan sindikat yang terjaring. Dari 18 kasus utama yang sampai ke pengadilan, seluruh terdakwa divonis bebas. Adanya Ketimpangan proses peradilan yang disebabkan oleh virus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang berkait-kelindan dengan kepentingan sesaat aparat penegak hukum (bahkan pejabat birokrasi) di seluruh jenjang peradilan, mulai polisi, jaksa, hingga hakim. Artinya sudah muncul Artalyta Artalyta (tapi belum ketangkap) baru nih. Wah… saya malah berpikir, kalau untuk kasus maling ayam saja dalam tempo waktu paling lambat 1 hari sudah tertangkap polisi dan diadili tapi kok untuk “kasus-kasus istimewa” seperti ini kok para penegak hukum di negeri ini seakan-akan mandul yah?? Apa iya suatu waktu semua kasus dari kasus maling sandal, maling ayam, sampai kasus-kasus “kelas berat” harus ditangani KPK yah?? Payah….

Saya lanjut lagi, pola perspektif hidup dan tata nilai yang dipijak oleh masyarakat, Perhutani, pemerintah (baik lokal maupun pusat) menjadi faktor lain kian derasnya laju kejahatan kehutanan. Dalam perspektif masyarakat, hutan memiliki fungsi melindungi pemukiman mereka dari angin ribut, kekeringan, dan erosi. Senada dengan itu, Perhutani juga meyakini fungsi ekologis hutan. Uniknya, perambahan dan pembalakan liar terus terjadi seiring kalkulasi ekonomis yang dianut Perhutani. Tak jauh berbeda, pemerintah pun bertolak dari aspek ekonomis hutan ketimbang fungsi ekologisnya. Bagi mereka, hutan adalah sumber daya yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah-ruah. Karenanya, amat diperlukan bagi pemerolehan pendapatan nasional. Sayangnya, kebijakan pembangunan yang dijalankan tak berpihak pada keberlanjutan hutan. Ruarrr biasa sekali yah hutan kita ini. Malah hutan kita akan masuk Guiness Book Of world record. HAHHHH Kok Bisa??? Bisa sajalah lah karena baru-baru ini, Greenpeace Asia Tenggara mendaftarkan Indonesia ke Guinness Book of World Records sebagai negara penghancur hutan tercepat di seluruh dunia. Woww…. Mari kita berikan aplaus untuk hutan kita yang penuh “prestasi”. Prok..Prok..Prok. Yang lebih menyedihkan lagi, Negara kita entah buta atau tidak peduli dengan keadaan ini tapi malah gak ngurus masalah yang nyata-nyata ada di depan mata tapi malah sibuk ngurus “merokok itu haram”, padi Super Toy (istilah saya bukan super toy tapi super gagal), dsb. Benar-benar Negara yang aneh. Oleh karena itu, Negara kita ini “seharusnya patut bersyukur dan berterima kasih” dengan adanya pencurian kayu (illegal logging) atau kebakaran hutan. Lho kok??? Gampang saja, jadi kalau ditanyakan kenapa hutan di Negara sampeyan gitu? Yah tinggal jawab saja, ohh… yang merusak hutan itu para maling kayu sama kebakaran hutan. Jadi dengan adanya illegal logging dan kebakaran hutan berarti ada yang disalahkan.. Ini dalam bahasa jawa bisa dikatakan Opo iki?? bingung apa maksudnya kan?? Bagus…. karena saya juga bingung (sebagai info saya ± baru sebulan berada di tanah jawa ini jadi tadi saya hanya sok-sokan berbahasa jawa. Hi..Hi).

Trus apa hubungannya dengan UUD’45 pasal 33 yang saya sampaikan di atas yah? Pasti ada yang bertanya seperti itu kan? Begini, ingatkah saudara-saudari semua tentang bunyi UUD 45 pasal 33? Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk kasus hutan ini apa iya?? Masihkah relevan bunyi pasal ini dengan kenyataan di lapangan?? Ataukah diganti huruf yang dicetak tebal tadi dengan kata “dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran penguasa??”Eitts... Jangan dijawab dulu. Simpan sebentar.. terus apalagi hubungan tulisan ini dengan moralitas? Dalam tulisan saya sebelumnya tentang global warming ada komentar dari bos nk yang mengatakan jika bisa diambil garis besar maka setiap masalah yang terjadi di bumi khususnya di Indonesia tercinta ini selalu berkaitan dengan moralitas. Jujur, saya pada saat itu kurang sependapat dengan “bule” NR (nyong kupang atau nyong rasis. Hi..Hi. sori bos). Tapi saat ini saya malah mengiyakan ide/pendapat nk tersebut. Jadi apakah masalah hutan ini pada ujung-ujungnya juga terkait dengan moralitas?? Betulkah dalam kasus hutan ini harus dilihat dalam perspektif moralitas?? Ataukah ada yang ingin menjawab selain itu?? Ah, saya tidak mau menjawab (enak saja... saya capek-capek ngetik sedangkan saudara-saudari cuman membaca doang. Yah... harus ikut mikir juga lah. Hi..Hi), oleh karena itu sengaja saya menyimpan semua pertanyaan-pertanyaan tadi dan mengharapkan saudara-saudari semua untuk ikut menjawab atau bisa juga untuk direnungkan oleh kita semua Tapi saya ingin bilang, dengan kondisi hutan yang demikian maka ada ramalan dalam 50 tahun kedepan maka hutan di negara kita ini hanya akan tinggal sejarah. Kita hanya akan menemukan hutan dalam buku-buku sejarah. Atau jangan-jangan, bukan hanya hutan tapi kita, anda dan saya serta, bangsa Indonesia ini, hanya bisa diketemukan di buku sejarah sebagai bangsa perusak hutan yang “pernah” mendiami bumi. Mau???

Selasa, 22 Juli 2008

EKORELIGI: Kombinasi ekologi plus agama, atau Apa?

Dear sahabat bloggers,

Saya ingin sahabat membaca posting dari Wilmana berikut ini yang merupakan kelanjutan dari postingnya Norman. Dua orang ini adalah sosok yang berbeda.....ssssuuuweeeeerrrrr.......Norman adalah penerus DNA saya sedangkan Wilmana adalah ......sahabat blogger...... sekaligus tokoh yang sebentar tampil .........protagonis........sebentar .....antagonis.......ha ha ha ha....(herannya, saya yang malah dituduh Wilmana dkk. sebagai pemabuk ha ha ha ha) . Apa yang ditawarkan Wilmana kali ini? Jikalau di posting Norman si Wilmana berbicara tentang moralitas maka di posting inilah akan terkuak apa maunya Wilmana. Mau tahu? ....ya baca sendiri dooooonggggggg......(Judul dan isi tulisan tidak saya ubah apapun).

Beberapa waktu yang lalu, sekilas saya menonton acara di salah satu TV swasta yang menayangkan kilas lomba film dokumenter. Satu Peserta mengangkat tema yang menarik yaitu, “ekoreligi”. Wah apalagi nih? Jadi ingat ajaran NASAKOM oleh Bung Karno, nasionalisme-agama-komunisme, sebagai jalan tengah terhadap pertikaian tiga ideologi yang menguasai peta perpolitikan di era orde lama. Ternyata bukan!!

Dalam penjelasannya, Peserta tersebut kurang lebih menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ekoreligi adalah langkah-langkah praktis dalam ritual-ritual keagamaan yang menunjukkan keberpihakan pada likungan. Nah, menarik kan? Dalam tayangannya, film tersebut memperlihatkan adegan ijab kabul, di mana mahar yang diajukan oleh mempelai laki-laki adalah bibit pohon berjumlah 40 yang akan ditanam di lahan terbuka dan tentu, dipelihara hingga tumbuh dan berkembang baik.

Ini ide yang sungguh menggugah, karena benar-benar sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam konsepnya. Bayangkan, dalam adegan tersebut, semua pihak terutama keluarga mempelai perempuan dengan enteng memperlihatkan sikap yang ikhlas dapat menerima sebagian harta mahar yang harusnya diterima sebagai “upah” capek-lelah melahirkan dan membesarkan anak perempuannya, diganti dengan bibit tanaman. Ide yang cerdas, sayangnya ketika diganggu oleh Juri bahwa jika di kemudian hari sang mempelai pria ingin melangsungkan perkawinan kedua hingga keempat, apakah masih harus menanam pohon juga, dan kira-kira berapa banyak pohon? Sayangnya juga, tidak ada penjelasan dari si Konseptor mengenai dalil yang pas sebagai landasan bagi kemungkinan ide tersebut direalisasikan. Padahal inilah yang menurut saya paling penting dari suatu ide atau konsep. Karena ide yang baik, tidak boleh hanya sebatas ide, tapi harus bisa direalisasikan dengan mudah.

Karena itu lewat tulisan ini, saya ingin memicu kita untuk mencari tahu, sejauhmana agama bisa turut lebih aktif mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan. Tentu dari kacamata awam, karena saya ini bukan seorang teolog. Lalu, karena saya seorang penganut agama kristen, maka tentu kasus yang saya angkat adalah kasus agama kristen.

Para sahabat Pembaca, saya kira kita semua tahu bahwa agama manapun saat ini, pasti meletakkan dasar-dasar dogmanya pada kitab suci. Artinya, dari kitab suci kita dapat menemukan dalil-dalil yang menjadi dasar bagi keyakinan iman yang ingin dibangun oleh agama tersebut dan kemudian diajarkan kepada para penganutnya. Kitab suci biasanya berisi seribu satu macam hal yang terkait dengan tata kehidupan keagamaan dari para Penganutnya.

Kebanyakan kitab suci berisi hukum-hukum agama, prosedur ritual, dan kisah-kisah yang sarat dengan nilai-nilai kebajikan yang dapat juga dijadikan dasar bagi hukum agama. Kitab suci juga berbicara tentang TUHAN dan karya-Nya sepanjang sejarah, dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan negara, dan aspek-aspek kehidupan lainnya, termasuk alam dan sumberdaya alias lingkungan. Semuanya itu seringkali dirangkum dalam satu frasa terkenal, “JALAN KESELAMATAN”. Artinya, barang siapa yang dengan cerdas mengikuti informasi dalam kitab suci, maka dia pasti sedang berasa di jalan menuju keselamatan kekal. Selamat di segala alam.

Dalam kitab suci kristen, ada sekian banyak ayat suci yang terkait dengan lingkungan. Kitab suci menyampaikan bahwa Tuhanlah yang menciptakan langit-bumi dan segala isinya (bnd: Kej pasal 1). Karena itu, Tuhan berkuasa atas alam (bnd: Zakaria 10:1). Dan, rupanya Tuhan telah memberi kuasa kepada manusia untuk menjadi “Boss sekaligus Pelayan” atas alam dan sumberdaya. Dalam rangka itu, manusia boleh memanfaatkannya sesuai kebutuhan manusia (bnd: Kej 1:28-30; Kej 9:3). Memanfaatkan sesuai kebutuhan artinya, Tuhan melarang manusia untuk secara serampangan merusak lingkungan yang pada akhirnya berdampak buruk bagi manusia juga (bnd: Ulangan 20:19-20; Ulangan 22:6). Meski jelas sudah hubungan manusia dengan alam dan sumber daya, namun dalam perenungannya, Penulis kitab Mazmur bahkan terheran-heran sambil mempertanyakan soal pemberian kuasa atas alam kepada manusia.

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya (Mazmur 8:4-7). Demikianlah tulis Pemazmur.

Saya pikir, pertanyaan Pemazmur ini ada benarnya. Karena manusia, dalam kapasitasnya, justru dikenal paling bandel terhadap Tuhan, dibanding ciptaan lainnya. Tetapi, kok malah ditunjuk sebagai yang paling berkuasa? Bahkan rasanya tidak ada orang yang membantah jika saya katakan bahwa kerusakan lingkungan yang sekarang ini muncul dalam isu-isu global warming, adalah akibat penyalahgunaan kekuasaan yang Tuhan berikan kepada manusia.

Jika ikut logika keadilan manusia, paling tidak tumbuh-tumbuhan yang paling layak, karena paling “manis” sikapnya. Gak pernah bertindak aneh-aneh, bahkan dari hidup sampe mati gak pernah ke mana-mana. Tapi bisa jadi inilah yang menjadi handicap tanaman sehingga tidak dipilih sebagai yag berkuasa. Binatang juga punya handicap yaitu akal budinya kurang jalan, ketimbang manusia. Tapi, faktanya justru dengan akal budi itulah manusia terlibat banyak aksi-aksi merusak lingkungan. Dengan akal budinya, manusia mengeksploitasi alam untuk memenuhi nafsu manusiawi. Oh, berarti manusia melupakan hati-nurani yang Tuhan berikan sebagai kontrol terhadap mental manusiawi yang lebih bengis dari nafsu binatang. Binatang membunuh sekedar untuk dimakan, manusia dengan akalnya membunuh untuk bersenang-senang. Jadi, maunya Tuhan adalah akal budi dan hati nurani disinergikan, tapi manusia malah mensinergikan akal budi dengan nafsu egois.

Karena itu, manusia perlu senantiasa merevitalisasi perannya bagi alam ini dalam kapasitas dirinya sebagai umat TUHAN. Manusia perlu merefleksikan kembali secara terus-menerus akuntabilitasnya terhadap kelanjutan kehidupan di muka bumi ini. Agar rasa cinta bumi yang TUHAN taruh di hati nuraninya, tidak tertutup oleh nafsu angkara yang menjadikan dirinya sebagai pusat segalanya. Dalam konteks Umat TUHAN, manusia hanyalah satu dari sekian banyak ciptaan TUHAN. Sebagaimana ciptaan lainnya, manusia Tuhan taruh di bumi tentu ada peran dan fungsinya yang khas. Karena itu, TUHAN-lah yang menjadi pusat dari aktifitas dan kehidupan segala citpaan-Nya. Semua ciptaan, tidak terkecuali manusia harus menjalankan peran dan fungsinya demi memenuhi amanah dari TUHAN. Saya yakin, pencerahan seperti ini akan menjadi landasan bagi berkembangnya motive cinta bumi dalam diri manusia. Motive cinta bumi yang kuat ini saya yakini dapat membimbing manusia pada pemikiran dan tindakan yang ramah lingkungan. Jika alur berpikir ini dianggap OK, maka masalahnya tinggal menemukan metode bagi upaya menumbuhkan motive cinta bumi.

Baiklah, para sahabat Pembaca sekalian, kembali ke laptop. Dari kenyataan di atas, nampaknya ide untuk bikin konsep ekoreligi bukanlah sekedar mimpi kaum agamis yang ingin maksa dogma agamanya. Karena tidak ada salahnya jika dalil-dalil agama yang mengatur kewajiban umatnya bagi kelestarian lingkungan, diangkat dalam serial khotbah-khotbah secara berkala dengan tema cinta bumi. Bahkan diikuti dengan langkah-langkah nyata berupa aksi tanam pohon di rumah masing-masing, hemat energi di segala aras, mengubah sampah menjadi sahabat lingkungan, dan lain-lain.

Melenyapkan sampah dari muka bumi memang tidak mungkin. Di Jakarta saja, jika setiap kali makan setiap orang menyisakan 1 butir nasi di piring makannya, maka setiap hari ada 10,000,000 x 3 = 30,000,000 butir nasi sampah. Bayangkan jika setiap orang menyumbang 10 butir nasi terbuang di piring makannya. Ini baru sampah berupa butir nasi, blom lagi jenis sampah yang lainnya. Mengubah sampah menjadi kompos adalah cara yang sederhana dan mudah serta sangat bermanfaat. Bukan hal yang mustahil jika setiap rumah bersedia melakukan hal ini, kan? Tinggal niatnya aja.

Kembali lagi ke laptop. Penggunaan dalil-dalil agama untuk mendorong kesadaran cinta bumi, nampaknya bakal lebih efektif lagi bila diterapkan pada lingkungan masyarakat yang punya ciri gampang terpengaruh oleh jargon-jargon agama. Nah, kita tahu bahwa dalam kondisi masyarakat Indonesia yang belakangan ini selalu didera kesulitan dan badai kemiskinan serta ketidakpastian dalam segala aspek kehidupan yang terus meningkat, ada kecenderungan masyarakat menjadikan agama sebagai tempat pelarian. Hal ini bisa berdampak negatif tapi juga ada positifnya.

Karena itu, daripada kecenderungan ini dilarang atau sekedar disikapi secara sinis, maka mendingan dilakukan pendekatan dengan ide/konsep ekoreligi ini. Karena bukan hanya dalam kristen, tapi dalam agama lain, islam misalnya, kewajiban ramah lingkungan juga ada hukumnya. Karena islam punya doktrin untuk menjadi “rahmatan lil alamin”.

Kalo begitu, tunggu apa lagi? Kita ini kan akhirnya hanya punya dua pilihan. Pertama, mau berubah sekarang karena kesadaran sendiri atau; Kedua, tunggu sampai dipaksa oleh keadaan? Hati-hati!!

Yang terakhir itu ada risikonya yaitu, jika sudah terlambat maka biaya mahal yang dikeluarkan hanya untuk menunda kiamat, sehingga sesalpun tiada gunanya lagi.